Anda di halaman 1dari 26

TUGAS KMB III

ANATOMI FISIOLOGI SISTEM IMUN


&
ASKEP TEORI REUMATIK

Nama Kelompok 5 :

Kadek Sri Handayani (17C10056)


Luh Ade Oka Pujastuti (17C10057)
Ni Made Wirastuti Shanti (17C10058)
Ni Luh Putu Fumika Venaya Dewi (17C10059)
Ida Ayu Putu Mourdani (17C10060)
Ni Made Sintya Indriantari (17C10061)
Ni Luh Putu Noviyanti (17C10062)
Putu Leli Anggreni (17C10063)
Desak Yunitha Dewi (17C10064)
Made Dwita Pertiwi (17C10065)
Komang Ayu Trisna Oktaviani (17C10066)
Kadek Ayu Riska Citra Pratiwi (17C10067)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


INSTITUT TEKNOLOGI DAN KESEHATAN BALI
2019
A. ANATOMI FISIOLOGI SISTEM IMUNOLOGI

1. SISTEM IMUNOLOGI
1.1. Pengertian
Imunologi adalah suatu ilmu yang mempelajari antigen, antibodi, dan fungsi
pertahanan tubuh penjamu yang diperantarai oleh sel, terutama berhubungan imunitas terhadap
penyakit, reaksi biologis hipersensitif, alergi dan penolakan jaringan.
Sistem imun adalah sistem pertahanan manusia sebagai perlindungan terhadap infeksi
dari makromolekul asing atau serangan organisme, termasuk virus, bakteri, protozoa dan
parasit. Sistem kekebalan juga berperan dalam perlawanan terhadap protein tubuh dan molekul
lain seperti yg terjadi pada autoimunitas dan melawan sel yang teraberasi menjadi tumor.
1.2 Letak Sistem Imun
1.3 Fungsi Sistem Imun
a. Sumsum Tulang
Semua sel sistem kekebalan tubuh berasal dari sel-sel induk dalam sumsum tulang.
Sumsum tulang adalah tempat asal sel darah merah, sel darah putih, (termasuk limfosit dan
makrofag) dan platelet. Sel-sel dari sistem kekebalan tubuh juga terdapat di tempat lain.
b. Thymus
Glandula thymus memproduksi dan mematurasi/mematangkan T limfosit yang
kemudian bergerak ke jaringan limfatik yang lain,dimana T limfosit dapat berespon
terhadap benda asing. Thymus mensekresi 2 hormon thymopoetin dan thymosin yang
menstimulasi perkembangan dan aktivitas T limfosit.
1) Limfosit T sitotoksik
limfosit yang berperan dan imunitas yang diperantarai sel. Sel T sitotoksik
memonitor sel di dalam tubuh dan menjadi aktif bila menjumpai sel dengan antigen
permukaan yang abnormal. Bila telah aktif sel T sitotoksik menghancurkan sel
abnormal.
2) Limfosit T helper
Limfosit yang dapat meningkatkan respon sistem imun normal. Ketika
distimulasi oleh antigen presenting sel sepeti makrofag, T helper melepas faktor yang
yang menstimulasi proliferasi sel B limfosit.
3) Limfosit B
Tipe sel darah putih ,atau leukosit penting untuk imunitas yang diperantarai
antibodi/humoral. Ketika di stimulasi oleh antigen spesifik limfosit B akan berubah
menjadi sel memori dan sel plasma yang memproduksi antibodi.
4) Sel plasma
Klon limfosit dari sel B yang terstimulasi. Plasma sel berbeda dari limfosit lain
,memiliki retikulum endoplamik kasar dalam jumlah yang banyak ,aktif memproduksi
antibodi
c. Getah Bening
Kelenjar getah bening berbentuk kacang kecil terbaring di sepanjang perjalanan limfatik.
Terkumpul dalam situs tertentu seperti leher, axillae, selangkangan, dan para- aorta daerah.
d. Nodus limfatikus
Nodus limfatikus (limfonodi) terletak sepanjang sistem limfatik. Nodus limfatikus
mengandung limfosit dalam jumlah banyak dan makrofag yang berperan melawan
mikroorganisme yang masuk ke dalam tubuh. Limfe bergerak melalui sinus,sel fagosit
menghilangkan benda asing. Pusat germinal merupakan produksi limfosit.
e. Tonsil
Tonsil adalah sekumpulan besar limfonodi terletak pada rongga mulut dan nasofaring.
Tiga kelompok tonsil adalah tonsil palatine, tonsil lingual dan tonsil pharyngeal.
f. Limpa
Limpa mendeteksi dan merespon terhadap benda asing dalam darah ,merusak eritrosit tua
dan sebagai penyimpan darah. Parenkim limpa terdiri dari 2 tipe jaringan: pulpa merah dan
pulpa putih
1) Pulpa merah terdiri dari sinus dan di dalamnya terisi eritrosit
2) Pulpa putih terdiri limfosit dan makrofag
Benda asing di dalam darah yang melalui pulpa putih dapat menstimulasi limfosit .

1.4 Mekanisme Pertahanan


a. Mekanisme Pertahanan Non Spesifik
Dilihat dari caranya diperoleh, mekanisme pertahanan non spesifik disebut juga
respons imun alamiah. Terdiri dari kulit dan kelenjarnya, lapisan mukosa dan enzimnya,
serta kelenjar lain beserta enzimnya, contoh kelenjar air mata. Kulit dan silia merupakan
system pertahan tubuh terluar.
Demikian pula sel fagosit (sel makrofag, monosit, polimorfonuklear) dan
komplemen merupakan komponen mekanisme pertahahan.
b. Mekanisme Pertahanan Spesifik
Bila pertahanan non spesifik belum dapat mengatasi invasi mikroorganisme,
maka imunitas spesifik akan terangsang. Mekanisme pertahanan spesifik adalah
mekanisme pertahanan yg diperankan oleh limfosit, dengan atau tanpa bantuan
komponen sistem imun lainnya seperti sel makrofag dan komplemen. Dilihat dari cara
diperolehnya, mekanisme pertahanan spesifik disebut juga sebagai respons imun
didapat.
1) Imunitas humoral adalah imunitas yg diperankan oleh limfosit B dengan atau tanpa
bantuan dari imunokompeten lainnya. Tugas sel B akan dilaksanakan oleh
imunoglobulin yg disekresi oleh plasma. Terdapat 5 kelas imunoglobulin yg kita
kenal, yaitu IgG, IgM, IgA, IgD, dan IgE.
Pembagian Antibody (Imunoglobulin)
Antibodi (antibody, gamma globulin) adalah glikoprotein dengan struktur
tertentu yang disekresi dari pencerap limfosit-B yang telah teraktivasi menjadi sel
plasma, sebagai respon dari antigen tertentu dan reaktif terhadap antigen tersebut.
Pembagian Immunglobulin.
a) Antibodi A (Immunoglobulin A, IgA) adalah antibodi yang memainkan peran
penting dalam imunitas mukosis.
b) Antibodi D (Immunoglobulin D, IgD) adalah sebuah monomer dengan fragmen
yang dapat mengikat 2 epitop.
c) Antibodi E (antibody E, immunoglobulin E, IgE) adalah jenis antibodi yang
hanya dapat ditemukan pada mamalia.
d) Antibodi G (Immunoglobulin G, IgG) adalah antibodi monomeris yang terbentuk
dari dua rantai berat dan rantai ringan, yang saling mengikat dengan ikatan
disulfida, dan mempunyai dua fragmen antigen-binding.
e) Antibodi M (Immunoglobulin M, IgM, macroglobulin) adalah antibodi dasar
yang berada pada plasma B.
2) Imunitas seluler didefinisikan sbg suatu respon imun terhadap suatu antigen yg
diperankan oleh limfosit T dg atau tanpa bantuan komponen sistem imun lainnya.

CARA KERJA IMUNOGEN


Adakalanya suatu imunogen merangsang respons imun tanpa melibatkan limfosit T
tetapi langsung merangsang limfosit B. Imunogenimunogen itu disebut dengan antigen T-
independent. Antigen semacam ini mungkin terdiri atas beberapa unit, yang masing-masing
mempunyai susunan molekul yang sama. Misalnya ; polisakharida pada pneumokokus,
beberapa jenis polimer protein dan PVP. Respons imun yang ditimbulkan oleh antigen T-
independent, terutama antibody Ig M atau mungkin hanya Ig M saja (Abbas,1991; Kresno,
1991
PENGELOMPOKKAN ANTIGEN
Secara umum antigen dapat digolongkan menjadi antigen eksogen dan antigen
endogen. Antigen eksogen adalah antigen yang berasal dari luar tubuh individu, misalnya
berbagai jenis bakteri, virus dan obat-obatan. Sedangkan antigen endogen adalah antigen
yang berasal dari dalam tubuh sendiri, misalnya; antigen xenogenic atau heterolog yang
terdapat dalam spesies yang berlainan. Antigen autolog atau idiotipik yang merupakan
komponen dari tubuh sendiri, dan antigen allogenic atau homolog yang membedakan satu
individu dari individu yang lain dalam satu spesies. Contoh determinant antigen homolog
adalah antigen yang terdapat pada eritrosit, leukosit, trombosit, protein serum dan major
histocompatibility complex (MHC) (Kresno, 1991; Abbas, 1991; Roitt dkk., 1993).
B. ASKEP TEORI
BAB II
DASAR TEORI
Defenisi.
Istilah rheumatism berasal dari bahasa Yunani, rheumatismos yang berarti mucus, suatu
cairan yang dianggap jahat mengalir dari otak ke sendi dan struktur klain tubuh sehingga
menimbulkan rasa nyeri atau dengan kata lain, setiap kondisi yang disertai kondisi nyeri dan kaku
pada sistem muskuloskeletal disebut reumatik termasuk penyakit jaringan ikat.

Klasifikasi.
Reumatik dapat dikelompokkan atas beberapa golongan, yaitu :
1. Osteoartritis.
2. Artritis rematoid.
3. Polimialgia Reumatik.
4. Artritis Gout (Pirai).

1. Osteoartritis.
Penyakit ini merupakan penyakit kerusakan tulang rawan sendi yang berkembang lambat
dan berhubungan dengan usia lanjut. Secara klinis ditandai dengan nyeri, deformitas, pembesaran
sendi, dan hambatan gerak pada sendi – sendi tangan dan sendi besar yang menanggung beban.

2. Artritis Rematoid.
Artritis rematoid adalah suatu penyakit inflamasi sistemik kronik dengan manifestasi utama
poliartritis progresif dan melibatkan seluruh organ tubuh. Terlibatnya sendi pada pasien artritis
rematoid terjadi setelah penyakit ini berkembang lebih lanjut sesuai dengan sifat progresifitasnya.
Pasien dapat juga menunjukkan gejala berupa kelemahan umum cepat lelah.
3. Polimialgia Reumatik.
Penyakit ini merupakan suatu sindrom yang terdiri dari rasa nyeri dan kekakuan yang
terutama mengenai otot ekstremitas proksimal, leher, bahu dan panggul. Terutama mengenai usia
pertengahan atau usia lanjut sekitar 50 tahun ke atas.

4. Artritis Gout (Pirai).


Artritis gout adalah suatu sindrom klinik yang mempunyai gambaran khusus, yaitu artritis
akut. Artritis gout lebih banyak terdapat pada pria dari pada wanita. Pada pria sering mengenai usia
pertengahan, sedangkan pada wanita biasanya mendekati masa menopause.

OSTEOARTRITIS
Defenisi
Osteoartritis adalah penyakit peradangan sendi yang sering muncul pada usia lanjut. Jarang
dijumpai pada usia dibawah 40 tahun dan lebih sering dijumpai pada usia diatas 60 tahun.

Etiologi
Penyebab dari osteoartritis hingga saat ini masih belum terungkap, namun beberapa faktor resiko
untuk timbulnya osteoartritis antara lain adalah :
1. Umur.
Dari semua faktor resiko untuk timbulnya osteoartritis, faktor ketuaan adalah yang terkuat.
Prevalensi dan beratnya orteoartritis semakin meningkat dengan bertambahnya umur.
Osteoartritis hampir tak pernah pada anak-anak, jarang pada umur dibawah 40 tahun dan sering
pada umur diatas 60 tahun.
2. Jenis Kelamin.
Wanita lebih sering terkena osteoartritis lutut dan sendi , dan lelaki lebih sering terkena
osteoartritis paha, pergelangan tangan dan leher. Secara keeluruhan dibawah 45 tahun frekuensi
osteoartritis kurang lebih sama pada laki dan wanita tetapi diatas 50 tahun frekuensi oeteoartritis
lebih banyak pada wanita dari pada pria hal ini menunjukkan adanya peran hormonal pada
patogenesis osteoartritis.
3. Genetic
Faktor herediter juga berperan pada timbulnya osteoartritis missal, pada ibu dari seorang
wanita dengan osteoartritis pada sendi-sendi inter falang distal terdapat dua kali lebih sering
osteoartritis pada sendi-sendi tersebut, dan anakanaknya perempuan cenderung mempunyai tiga
kali lebih sering dari pada ibu dananak perempuan dari wanita tanpa osteoarthritis.
4. Suku.
Prevalensi dan pola terkenanya sendi pada osteoartritis nampaknya terdapat perbedaan
diantara masing-masing suku bangsa, misalnya osteoartritis paha lebih jarang diantara orang-
orang kulit hitam dan usia dari pada kaukasia. Osteoartritis lebih sering dijumpai pada orang –
orang Amerika asli dari pada orang kulit putih.
Hal ini mungkin berkaitan dengan perbedaan cara hidup maupun perbedaan pada frekuensi
kelainan kongenital dan pertumbuhan.
5. Kegemukan
Berat badan yang berlebihan nyata berkaitan dengan meningkatnya resiko untuk timbulnya
osteoartritis baik pada wanita maupun pada pria. Kegemukan ternyata tak hanya berkaitan
dengan osteoartritis pada sendi yang menanggung beban, tapi juga dengan osteoartritis sendi
lain (tangan atau sternoklavikula).
Patofisiologi.

UMUR JENIS KELAMIN GENETIK SUKU KEGEMUKAN

Kerusakan fokal tulang rawan pembentukan tulang baru pada sendi yang
progresif tulang rawan, sendi dan tepi sendi

Perubahan metabolisme tulang

Peningkatan aktivitas enzim yang merusak makro molekul


matriks tulang rawan sendi

Penurunan kadar proteoglikan

Berkurangnya kadar proteoglikan

Perubahan sifat sifat kolagen

Berkurangnya kadar air tulang rawan sendi


Permukaan tulang rawan sendi terbelah pecah dengan robekan

Timbul laserasi

OSTEOARTRITIS
Menifestasi klinis
Gejala-gejala utama ialah adanya nyeri pada sendi yang terkena, terutama waktu bergerak.
Umumnya timbul secara perlahan-lahan, mula-mula rasa kaku, kemudian timbul rasa nyeri yang
berkurang saat istirahat. Terdapat hambatan pada pergerakan sendi, kaku pagi , krepitasi,
pembesaran sendi, dan perubahan gaya berjalan.

Penatalaksanaan
Obat obatan
Sampai sekarang belum ada obat yang spesifik yang khas untuk osteoartritis, oleh karena
patogenesisnya yang belum jelas, obat yang diberikan bertujuan untuk mengurangi rasa sakit,
meningkatkan mobilitas dan mengurangi ketidak mampuan. Obat-obat anti inflamasinon steroid
bekerja sebagai analgetik dan sekaligus mengurangi sinovitis, meskipun tak dapat memperbaiki
atau menghentikan proses patologis osteoartritis.

Perlindungan sendi
Osteoartritis mungkin timbul atau diperkuat karena mekanisme tubuh yang kurang baik.
Perlu dihindari aktivitas yang berlebihan pada sendi yang sakit. Pemakaian tongkat, alat-alat listrik
yang dapat memperingan kerja sendi juga perlu diperhatikan. Beban pada lutut berlebihan karena
kakai yang tertekuk (pronatio).

Diet
Diet untuk menurunkan berat badan pasien osteoartritis yang gemuk harus menjadi program
utama pengobatan osteoartritis. Penurunan berat badan seringkali dapat mengurangi timbulnya
keluhan dan peradangan.

Dukungan psikososial
Dukungan psikososial diperlukan pasien osteoartritis oleh karena sifatnya yang menahun
dan ketidakmampuannya yang ditimbulkannya. Disatu pihak pasien ingin menyembunyikan
ketidakmampuannya, dipihak lain dia ingin orang lain turut memikirkan penyakitnya. Pasien
osteoartritis sering kali keberatan untuk memakai alat-alat pembantu karena faktor-faktor
psikologis.

Persoalan Seksual
Gangguan seksual dapat dijumpai pada pasien osteoartritis terutama pada tulang belakang,
paha dan lutut. Sering kali diskusi karena ini harus dimulai dari dokter karena biasanya pasien
enggan mengutarakannya.

Fisioterapi
Fisioterapi berperan penting pada penatalaksanaan osteoartritis, yang meliputi pemakaian
panas dan dingin dan program latihan ynag tepat. Pemakaian panas yang sedang diberikan sebelum
latihan untk mengurangi rasa nyeri dan kekakuan. Pada sendi yang masih aktif sebaiknya diberi
dingin dan obat-obat gosok jangan dipakai sebelum pamanasan. Berbagai sumber panas dapat
dipakai seperti Hidrokolator, bantalan elektrik, ultrasonic, inframerah, mandi paraffin dan mandi
dari pancuran panas.
Program latihan bertujuan untuk memperbaiki gerak sendi dan memperkuat otot yang biasanya
atropik pada sekitar sendi osteoartritis. Latihan isometric lebih baik dari pada isotonic karena
mengurangi tegangan pada sendi. Atropi rawan sendi dan tulang yang timbul pada tungkai yang
lumpuh timbul karena berkurangnya beban ke sendi oleh karena kontraksi otot. Oleh karena otot-
otot periartikular memegang peran penting terhadap perlindungan rawan senadi dari beban, maka
penguatan otot-otot tersebut adalah penting.

Operasi
Operasi perlu dipertimbangkan pada pasien osteoartritis dengan kerusakan sendi yang nyata
dengan nyari yang menetap dan kelemahan fungsi. Tindakan yang dilakukan adalah osteotomy
untuk mengoreksi ketidaklurusan atau ketidaksesuaian, debridement sendi untuk menghilangkan
fragmen tulang rawan sendi, pebersihan osteofit.
BAB III
KONSEP DASAR KEPERAWATAN DASAR DATA PENGKAJIAN PASIEN

AKTIVITAS/ISTIRAHAT
Gejala: Nyeri sendi karena gerakan, nyeri tekan, memburuk dengan stress pada sendi : kekakuan
pada pagi hari.
Keletihan
Tanda: Malaise
Keterbatasan rentang gerak ; atrofi otot, kulit : kontraktur atau kelainan pada sendi dan otot

KARDIOVASKULER
Gejala : Jantung cepat, tekanan darah menurun

INTEGRITAS EGO
Gejala: Faktor-faktor stress akut atau kronis : Misalnya finansial, pekerjaan, ketidakmampuan,
factor-faktor hubungan
Keputusasaan dan ketidak berdayaan
Ancaman pada konsep diri, citra tubuh, identitas pribadi misalnya ketergantungan pada orang lain

MAKANAN ATAU CAIRAN


Gejala: Ketidakmampuan untuk menghasilkan/ mengkonsumsi makanan/ cairan adekuat : mual.
Anoreksia
Kesulitan untuk mengunyah
Tanda: Penurunan berat badan
Kekeringan pada membran mukosa
HIGIENE
Gejala: berbagai kesulitan untuk melaksanakan aktivitas pribadi, ketergantungan pada orang lain.

NEUROSENSORI
Gejala: kebas/kesemutan pada tangan dan kaki, hilangnya sensasi pada jari tangan
Tanda: Pembengkakan sendi

NYERI / KENYAMANAN
Gejala: fase akut dari nyeri
Terasa nyeri kronis dan kekakuan

KEAMANAN
Gejala: Kesulitan dalam menangani tugas/pemeliharaan rumah tangga
Kekeringan pada mata dan membran mukosa

INTERAKSI SOSIAL
Gejala: kerusakan interaksi dan keluarga / orang lsin : perubahan peran: isolasi
ASUHAN KEPERAWATAN

DIAGNOSA 1: Nyeri b/d penurunan fungsi tulang


Kriteria hasil: nyeri hilang atau tekontrol
INTERVENSI RASIONAL

mandiri
membantu dalam menentukan
- kaji keluhan nyeri, catat lokasi -
kebutuhan managemen nyeri dan
dan intensitas (skala 0 – 10).
keefektifan program
Catat factor-faktor yang
mempercepat dan tanda-tanda
rasa sakit non verbal matras yang lembut/empuk, bantal
-
- berikan matras atau kasur yang besar akan mencegah

keras, bantal kecil. Tinggikan pemeliharaan kesejajaran tubuh yang

linen tempat tidur sesuai tepat, menempatkan setres pada sendi

kebutuhan yang sakit. Peninggian linen tempat


tidur menurunkan tekanan pada sendi
-
yang
terinflamasi / nyeri

- biarkan pasien mengambil pada penyakit berat, tirah baring

posisi yang nyaman pada mungkin diperlukan untuk membatasi


-
waktu tidur atau duduk di nyeri atau cedera sendi.

kursi. Tingkatkan istirahat di


tempat tidur sesuai indikasi Mencegah terjadinya kelelahan umum
- dorong untuk sering mengubah dan kekakuan sendi. Menstabilkan
posisi. Bantu pasien untuk - sendi, mengurangi gerakan/rasa sakit
bergerak di tempat tidur, pada sendi
sokong sendi yang sakit di atas
dan di bawah, hindari gerakan Panas meningkatkan relaksasi otot dan
yang menyentak mobilitas, menurunkan rasa sakit dan
- anjurkan pasien untuk mandi melepaskan kekakuan di pagi hari.
air hangat atau mandi pancuran - Sensitifitas pada panas dapat
pada waktu bangun. Sediakan dihilangkan dan luka dermal dapat
waslap hangat untuk disembuhkan
-
mengompres sendi-sendi yang
sakit beberapa kali sehari. Meningkatkan elaksasi/mengurangi
Pantau suhu air kompres, air tegangan otot
mandi
- berikan masase yang lembut Meningkatkan relaksasi, mengurangi

kolaborasi

- beri obat sebelum aktivitas tegangan otot, memudahkan untuk ikut


atau latihan yang direncanakan serta dalam terapi
sesuai petunjuk seperti asetil
salisilat
(aspirin)
DIAGNOSA 2 : Intoleran aktivitas b/d perubahan otot.
Kriteria Hasil : Klien mampu berpartisipasi pada aktivitas yang diinginkan.
INTERVENSI RASIONAL

• Perahankan istirahat tirah • Untuk mencegah kelelahan dan


baring/duduk jika diperlukan. mempertahankan kekuatan.
• •
Bantu bergerak dengan bantuan Meningkatkan fungsi sendi,
• seminimal mungkin. kekuatan otot dan stamina umum.

Dorong klien mempertahankan Memaksimalkan fungsi sendi dan
• postur tegak, duduk tinggi, berdiri mempertahankan mobilitas.
dan berjalan. •
Menghindari cedera akibat
• Berikan lingkungan yang aman dan
kecelakaan seperti jatuh.
menganjurkan untuk •
menggunakan alat bantu. Berikan Untuk menekan inflamasi
obat-obatan sesuai sistemik akut.
indikasi seperti steroid.
DIAGNOSA 3 : Resiko tinggi cedera b/d penurunan fungsi tulang. Kriteria Hasil :
Klien dapat mempertahankan keselamatan fisik.
INTERVENSI RASIONAL

• Kendalikan lingkungan dengan : • Lingkungan yang bebas bahaya


Menyingkirkan bahaya akan mengurangi resiko cedera
yang tampak jelas, dan membebaskan keluaraga dari
mengurangi potensial kekhawatiran yang konstan.
cedera akibat jatuh ketika tidur
misalnya menggunakan

• penyanggah tempat tidur,

• usahakan posisi tempat tidur


Hal ini akan memberikan pasien
rendah, gunakan pencahayaan
• merasa otonomi, restrain dapat
malam hari,
meningkatkan agitasi,
siapkan lampu panggil Memantau
mengegetkan pasien akan
regimen medikasi
meningkatkan ansietas.
Izinkan kemandirian dan
kebebasan maksimum dengan
memberikan kebebasan dalam
lingkungan yang aman, hindari
penggunaan restrain,
ketika pasien melamun
alihkan perhatiannya
ketimbang
mengagetkannya.
DIAGNOSA 4 : Perubahan pola tidur b/d nyeri
Kriteria Hasil : Klien dapat memenuhi kebutuhan istirahat atau tidur.
INTERVENSI RASIONAL

Ma diri n Mengkaji oerlunya dan


• Tentukan kebiasaan tidur biasanya • mengidentifikasi intervensi yang
dan perubahan yang terjadi tepat.
• Meningkatkan kenyamaan tidur
• Berikan tempat tidur yang serta dukunmgan
nyaman • fisiologis/psikologis
Bila rutinitas baru mengandung
aspek sebanyak kebiasaan lama,
• Buat rutinitas tidur baru yang stress dan ansietas yang
••
dimasukkan dalam pola lama berhubungan dapat berkurang.
dan lingkungan baru Membantu menginduksi tidur
Meningkatkan efek relaksasi

• Dapat merasakan takut jatuh


• Instruksikan tindakan relaksasi karena perubahan ukuran dan
• Tingkatkan regimen kenyamanan tinggi tempat tidur, pagar tempat
waktu tidur, misalnya mandi tidur memberi keamanan untuk
hangat dan massage. membantu mengubah posisi
Tidur tanpa gangguan lebih
menimbulkan rasa segar, dan
• Gunakan pagar tempat tidur sesuai pasien mungkin tidak mampu
indikasi: rendahklan tempat tidur • kembali tidur bila terbangun.
bila mungkin.

• Hindari mengganggui bila


mungkin, misalnya Mungkin diberikan untuk
membangunkan untuk obat atau membantu pasien tidur atau
terapi. istirahat.
Kolaborasi
• Berikan sedative, hipnotik sesuai
indikasi
DIAGNOSA 5 : Defisit perawatan diri b/d nyeri
Kriteri Hasil : Klien dapat melaka sanakan aktivitas er p awatan sendiri secaea mandiri.
INTERVENSI RASIONAL

• Kaji tingkat fungsi fisik • Mengidentifikasi tingkat


bantuan /dukungan yang

Pertahankan mkobilitas, kontrol • diperlukan


• terhadap nyeri dan progran latihan Mendukung kemandirian

Kaji hambatan terhadap partisipasi fisik/emosional

dalam perawatan diri, identifikasi Menyiapkan untuk
untuk modifikasi lingkungan • meningkatkan kemandirian
yang akan meningkatkan
• Identifikasi untuk perawatan yang harga diri
diperlukan, misalnya;lift, Memberikan kesempatan untuk
peninggiandudukan toilet, kursi dapat melakukan
aktivitas seccara mandiri
roda.
DIAGNOSA 6 : Gangguan citra tubuh/ perubahan penampilan peran b/d perubahan kemampuan
untuk melakukan tugas-tugas umum.
Kriteria hasil : mengungkapkan peningkatan rasa percaya diri dalam kemampuan Untuk
menghadapi penyakit, perubahan gaya hidep dan kemungkinan keterbatasan.
INTERVENSI RASIONAl
Mandiri Beri kesempatan untuk
o Dorong pengungkapan mengenai • mengidentifikasi rasa
masalah mengenai proses penyakit, takut/kesalahan konsep dan
harapan masa depan. menghadapinya secara
langsung.

Mengidentifikasi bagaimana
o Diskusikan arti dari penyakit mempengaruhi
kehilangan/perubahan pada persepsi diri dan interaksi
pasien/orang terdekat. Memastikan dengan orang lain akan
bagaiamna pandangan pribadi psien • menentukan kebutuhan terhadap
dalam memfungsikan gaya hidup intervensi atau konseling lebih
sehari-hari termasuk aspek-aspek lanjut.
seksual. • Isyarat verbal/nonverbal orang
o Diskusikan persepsi pasien mengenai terdekat dapat mempunyai
bagaiman orang terdekat menerima pengaruh mayor pada
keterbatasan •
bagaimana pasien memandang
dirinya sendiri.
Nyeri konstan akan melelahkan,
o Akui dan terima perasaan berduka, • dan perasaan marah,
bermusuhan, ketergantungan.
bermusuhan umum terjadi.
Dapat menunjukkan emosional
o Perhatikan perilaku menarik diri, •
atau metode koping
penguanan menyangkal atau terlalu
maladaptive, membutuhkan
memperhatikan tubuh/perubahan.
intervensi lebih lanjut atau
dukungan psikologis.
Membantu pasien untuk
o Susun batasan pada prilaku •
mempertahankan kontrol diri
maladaptive. Bantu pasien untuk me
yang dapat meningkatkan
ngidentifikasi perilaku positif yang
perasaan harga diri.
dapat membantu koping.
Meningkatkan perasaan
kompetensi/harga diri,
o Ikut sertakan pasien dalam mendorong kemandirian, dan
merencanakan perawatan dan mendorong partisipasi dan
membuat jadwal aktivitas. terapi.

Pasien/orang terdekat mungkin


Kolaborasi membutuhkan dukungann
• Rujuk pada konseling psikiatri selama berhadapan dengan
proses
jangka

• Berikan obat-obat sesuai petunjuk

• panjang/ketidakmampuan.
Mungkin dibutuhkan pada saat
munculnya depresi hebat
sampai pasien
mengembangkan kemampuan
koping yang lebih efektif.
DAFTAR PUSTAKA
Latifah,E.2015.Anatomi dan Fisiologi Sistem Imun.
https://www.scribd.com/doc/270045585/ANATOMI-FISIOLOGI-SISTEM-IMUN-DAN-
HEMATOLOGI-docx. Diakses pada 17 September 2019

Ardin,D.2016. ASKEP Gerontik Pasien Dengan REMATIK (OSTEOARTRITIS).


https://www.academia.edu/15354576/ASKEP_Gerontik_Pasien_Dengan_REMATIK_OSTEO
ARTRITIS. Diakses pada 17 September 2019