Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Pada perkembangannya dalam melayani pasien di rumah sakit, perawat nampaknya


belum begitu terpapar dengan pemahaman tentang aspek hukum kesehatan khususnya yang
menyangkut aturan-aturan hukum yang mengatur praktik keperawatan. Peningkatan kesadaran
masyarakat terhadap hak untuk mendapatkan pelayanan keperawatan yang bermutu, mendorong
profesi perawat untuk lebih meningkatkan kualitas pelayanannya.Perkembangan masyarakat
terhadap pemahaman hukum harus diikuti oleh pemahaman perawat terhadap konsekuensi
hukum dari semua tindakan keperawatan. Perawat harus menyadari perubahan yang terjadi pada
masyarakat saat ini terkait kesadaran akan hak-haknya. Perawat sebagai salah satu anggota dari
health provider harus mengantisipasi dirinya dengan meningkatkan pemahaman dan kesadaran
tentang aspek-aspek hukum yang berhubungan dengan jasa pelayanan/praktik keperawatan,
demikian juga kesadaran untuk melakukan tugas sesuai dengan standar profesi. Salah satu
tenaga kesehatan yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan adalah tenaga profesi
perawat. Perawat merupakan tenaga profesional yang memiliki body of knowledge yang khusus
dan spesifik dan dalam menjalankan praktik profesinya memiliki tanggung jawab dan tanggung
gugat, sehingga perawat juga sangat terikat oleh atauran-aturan hukum yang mengatur praktik
tenaga kesehatan. Aspek hukum praktik keperawatan merupakan perangkat hukum atau aturan-
aturan hukum yang secara khusus menentukan hal-hal yang seharusnya dilakukan atau larangan
perbuatan sesuatu bagi profesi perawat dalam menjalankan profesinya. Aspek hukum yang
terkait langsung dengan praktik keperawatan diantaranya adalah UU 23/1992 tentang kesehatan,
PP 32/1996 tentang tenaga kesehatan, Kep.Men.Pan/II/2001 tentang jabatan fungsional perawat
dan angka kreditnya, Kep.Men.Kes 1239/XI/2001 tentang registrasi dan praktik perawat;
Keputusan Direktur Jendral Pelayanan Medik No. Y.M.00.03.2.6.956 tentang hak dan kewajiban
perawat. Sampai saat ini profesi keperawatan di Indonesia belum memiliki aturan hukum khusus
tentang praktik perawat setingkat Undang-Undang.

1
1.2 RUMUSAN MASALAH
1. Apakah prinsip-prinsi legal dalam praktik keperawatan?
2. Apakah aspek dan dasar hukum dalam praktik keperawatan?
3. Bagaimanakah perlindungan hukum dalam praktik keperawatan?
4. Bagaimanakah pengambilan keputusan legal etis dalam konteks keperawatan?
1.3 TUJUAN
1. Untuk menerapkan prinsip-prinsip legal dalam praktik keperawatan
2. Untuk mengetahui aspek dan dasar hukum dalam keperawatan
3. Untuk mengetahui pengambilan keputusan legal etis dalam konteks keperawatan
1.4 MANFAAT
1. Mahasiswa mampu menerapkan prinsip-prinsip legal etis pada pengambilan keputusan
dalam konteks keperawatan
2. Mahasiswa mampu mengetahui aspek dan dasar hukum dalam keperawatan

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Prinsip-prinsip legal dalam praktek keperawatan

1. Malprakte
Malpraktek adalah praktek kedokteran yang salah atau tidak sesuai dengan standar profesi
atau standar prosedur operasional.Untuk malpraktek kedokteran juga dapat dikenai hukum
kriminal.Malpraktek kriminal terjadi ketika seorang dokter yg menangani sebuah kasus telah
melanggar undang -undang hukum pidana.perbuatan ini termasuk ketidakjujuran, kesalahan
dalam rekam medis, penggunaan ilegal obat-obatan, pelanggaran dalam sumpah dokter,
perawatan yang lalai dan tindakan pelecehan seksual pada pasien.Malpraktek adl kelalaian
bertindak yang di lakukan seseorang terkait profesi atau pekerjaannya yang membutuhkan
keterampilan profesional dan tekhnikal yang tinggi.Malpraktek adl kelalaian seorang tenaga
kesehatan untuk mempergunakan tingkat keterampilan dan ilmu pengetahuan yang lazim di
pergunakan untuk merawat klien atau orang yang terluka menurut ukuran lingkungannya yang
sama. (Hanafiah dan Amir, 1999).
 Tindakan yang termasuk malpraktek:
a. Kesalahan diagnose
b. Penyuapan
c. Penyalahgunaan alat-alat kesehatan
d. Pemberian dosis obat yang salah
e. Salah pemberian obat kepada pasien
f. Alat-alat yang tidak memenuhi standar kesehatan atau tidak steril
g. Kesalahan prosedur operasi

 Dampak malpraktek
a. Merugikan pasien terutama pada fisiknya bisa menimbulkan cacat yang permanen
b. Bagi petugas kesehataan mengalami gangguan psikologisnya, karena merasa bersalah
c. Dari segi hukum dapat dijerat hukum pidana

3
d. Dari segi sosial dapat dikucilkan oleh masyarakat
e. Dari segi agama mendapat dosa
f. Dari etika keperawatan melanggar etika keperawatan bukan tindakan profesional

2. Kelalaian
Kelalaian bukanlah suatu kejahatan. Seorang dokter dikatakan lalai jika ia bertindak tak acuh,
tidak memperhatikan kepentingan orang lain sebagaimana lazimnya. Akan tetapi jika kelalaian
itu telah mencapai suatu tingkat tertentu sehingga tidak memperdulikan jiwa orang lain maka hal
ini akan membawa akibat hukum, apalagi jika sampai merenggut nyawa, maka hal ini akan
digolongkan sebagai kelalaian berat.Adapun yang menjadi tolak ukur dari timbulnya kelalaian
dapat ditinjau dari beberapa hal :
a. Tidak melakukan kewajiban dokter yaitu tidak melakukan kewajiban profesinya untuk
mempergunakan segala ilmu dan keterampilanya.
b. Menyimpang dari kewajiban yaitu menyimpang dari apa yang seharusnya dilakukan.
c. Adanya hubungan sebab akibat yaitu adanya hubungan langsung antara penyebab dengan
kerugian yang dialami pasien sebagai akibatnya.
Untuk menentukan kelalaian. Standar asuhan di penuhi dengan penjelasan apakah
seseorang beralasan akan atau melakukan sesuatu pada situasi yang sama. Setiap perawat
bertanggung jawab untuk mengikuti standar asuhan keperawatan dalam praktek. Dalam kasus
atau gugatan civil malpraktek pembuktianya dapat dilakukan dengan dua cara:
a. Cara langsung
Taylor membuktikan adanya kelalaian memakai tolak ukur.
 Kewajiban
 Penyimpangan dari kewajiban
 Penyebab langsung
 Kerugian

b. Cara tidak langsung


Cara pembuktian yang mudah pasien, yakni dengan mengajukan fakta-fakta yang diderita oleh
sebagai hasil layanan perawatan yang dapat diterapkan, apabila fakta-fakta yang ada memenuhi
kriteria :

4
 Fakta tidak mungkin ada/terjadi apabilatenaga perawatan tidak lalai
 Fakta itu terjadi memang berada dalam tanggung jawab tenaga perawatan.
 Fakta itu terjadi tanpa ada konstribusi dari pasien dengan perkataan lain tidak ada
gugatan pasien

2.2 Aspek dasar dan hukum dalam keperawatan

1. Hubungan Hukum Dengan Profesi Keperawatan

Masyarakat profesi dengan masyarakat umum telah mengadakan suatu kontrak ( social
contract) yang memberikan hak otonomi profesi untuk melakukan self regulation, self governing
dan self disciplining. Dengan kewajiban memberikan jaminan profesional yang kompeten dan
melaksanakan praktik sesuai etika dan standar profesinya. Profesi perawat memiliki kewajiban
untuk mampu memberikan jaminan pelayanan keperawatan yang profesional kepada masyarakat
umum. Kondisi demikian secara langsung akan menimbulkan adanya konsekuensi hukum dalam
praktik keperawatan. Sehingga dalam praktik profesinya dalam melayani masyarakat perawat
terikat oleh aturan hukum, etika dan moral. Di Indonesia salah satu bentuk aturan yang
menunjukan adanya hubungan hukum dengan perawat adalah UU No. 23 Tahun 1992 Tentang
Kesehatan, Pasal 1 angka 2 menyebutkan bahwa ”Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang
mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan atau keterampilan
melalui pendidikan di Jurnal Kesehatan Kartika Stikes A. Yani 11 bidang kesehatan yang untuk
jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan”. Berdasarkan PP No.
32/1996 Pasal 2 ayat (1) ayat (3) perawat dikatagorikan sebagai tenaga keperawatan. Undang-
undang No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan, merupakan UU yang memberikan kesempatan
bagi perkembangan profesi keperawatan, dimana dinyatakan standar praktik, hak-hak pasien,
kewenangan, maupun perlindungan hukum bagi profesi kesehatan termasuk keperawatan. UU
No. 23 tahun 1992 telah mengakui profesi keperawatan, namun dalam praktik profesinya, profesi
keperawatan harus berjuang untuk mendapat pengakuan dari profesi kesehatan lain, dan juga dari
masyarat. Profesi perawat dikatakan akuntabel secara hukum bila benar-benar kompeten dan
melaksanakan profesinya sesuai dengan etika dan standar profesinya. Standar profesi memiliki
tiga komponen utama yaitu standar kompetensi, standar perilaku dan standar pelayanan. Tugas
tenaga kesehatan yang didalamnya termasuk tugas perawat berdasarkan ketentuan Pasal 50 UU

5
No. 23 Tahun 1992 adalah menyelenggarakan atau melakukan kegiatan kesehatan sesuai dengan
bidang keahlian dan atau kewenangannya masing-masing. Agar tugas terlaksanakan dengan baik.
Pasal 3 PP No. 32 Tahun 1996 menentukan ”setiap tenaga kesehatan wajib memiliki keahlian
dan keterampilan sesuai dengan jenis dan jenjang pendidikannya yang dibuktikan dengan ijazah”
Dengan demikian, tugas dan kewenangan tenaga kesehatan/perawat akan ditentukan berdasarkan
ijazah yang dimilikinya. Ketentuan Pasal 53 ayat (2) UU No. 23 tahun 1992 jo. Pasal 21 ayat (1)
PP No. 32 tahun 1996 tenaga kesehatan dalam melaksanakan tugasnya diwajibkan untuk
memenuhi standar profesi dan menghormati hak pasien. Standar profesi merupakan pedoman
bagi tenaga kesehatan/perawat dalam menjalankan upaya pelayanan kesehatan, khususnya terkait
dengan tindakan yang harus dilakukan oleh tenaga kesehatan terhadap pasien, sesuai dengan
kebutuhan pasien, kecakapan, dan kemampuan tenaga serta ketersediaan fasilitas dalam sarana
pelayanan kesehatan yang ada.Bagi tenaga kesehatan jenis tertentu, yaitu yang berhubungan
langsung dengan pasien, seperti dokter dan perawat berdasarkan ketentuan Pasal 22 ayat (1) PP
No. 32 tahun 1996 dalam menjalankan tugas profesinya wajib untuk menghormati hak pasien,
menjaga kerahasiaan identitas dan data kesehatan pribadi pasien, memberikan informasi yang
berkaitan dengan kondisi dan tindakan yang akan dilakukan, meminta persetujuan terhadap
tindakan yang akan dilakukan, dan membuat dan memelihara rekam medis. Pelaksanaan tugas
tenaga kesehatan sesuai dengan standar profesi sekaligus memberikan perlindungan hukum bagi
tenaga kesehatan maupun pasien, sebagaimana ketentuan pada pasal 53 ayat (1) UU No. 23
tahun 1992, Pasal 24 ayat (1) PP No. 32 tahun 1996. Perlindungan hukum bagi pasien diatur
dalam Pasal 55 ayat (1) UU No. 23 tahun 1992,yaitu ”Setiap orang berhak atas ganti rugi akibat
kesalahan atau kelalaian yang dilakukan oleh tenaga kesehatan”, sedangkan perlindungan hukum
bagi tenaga kesehatan diatur dalam Pasal 23 ayat (1) PP No. 32 tahun 1996 yang menentukan
pemberian perlindungan hukum bagi tenaga kesehatan yang melaksanakan tugas sesuai dengan
standar profesinya. Dengan perkataan lain, pasien yang gagal untuk sembuh tidak berhak atas
ganti rugi, sepanjang pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan/perawat sudah
dilakukan sesuai dengan standar profesinya atau tenaga kesehatan yang sudah menjalankan
tugasnya sesuai dengan stadar profesinya tidak akan dapat digugat oleh pasien atas kegagalan
upaya pelayanan kesehatan yang dilakukannya.

Hubungan hukum antara perawat dengan pasien dan tenaga kesehatan di rumah sakit
dalam upaya mencari kesembuhan, dikonstruksikan dalam hubungan perikatan dalam upaya

6
pelayanan kesehatan di rumah sakit (Koeswadji, 1998 dalam Praptianingsih, 2006) khususnya
yang menyangkut perawat yaitu :

A. Hubungan antara rumah sakit dengan perawat diatur oleh perjanjian kerja dalam Pasal
1601 KUHP bagi rumah sakit swasta, sedangkan bagi perawat yang bekerja di rumah
sakit pemerintah tunduk pada ketentuan hukum kepegawaian. Berdasarkan Pasal 1601
KUHP1601a hubungan perawat dengan rumah sakit termasuk dalam perjanjian
perburuhan, yaitu persetujuan berdasarkan syarat tertentu pihak yang satu, dalam hal ini
perawat, mengikatkan dirinya untuk dibawah perintah pihak lain, rumah sakit, untuk
suatu waktu tertentu melakukan pekerjaan dengan menerima upah. Aspek keahlian dan
keterampilan yang dimiliki oleh perawat niscaya menentukan macam dan lingkup tugas
yang akan diberikan kepada perawat. Dalam melaksanakan tugasnya, perawat diikat oleh
standar pelayanan keperawatan dan Kode Etik Keperawatan.
B. Hubungan antara dokter dengan perawat, dalam suatu tindakan medik tertentu dokter
memerlukan bantuan perawat. Perawat dalam tindakan medis hanya sebatas membantu
dokter, karenanya yang dilakukan sesuai order dan petunjuk dokter. Perawat tidak
bertanggung jawab dan bertangung gugat atas kesalahan tindakan medis tertentu yang
dilakukan oleh dokter.Dalam melaksanakan intervensi keperawatan selain berpegang
pada kode etik keperawatan, perawat harus memperhatikan hal-hal penting yang dapat
melindungi perawat secara hukum. Grane (1983, dalam Kozier, Erb, 1990), mengatakan
bahwa dalam melaksanakan tugas perawat harus mengetahui pembagian tugas mereka.
Perawat harus bekerja sesuai dengan kebijakan dan prosedur yang ditetapkan di tempat
kerja. Dokumentasikan semua proses keperawatan yang diberikan dengan cepat dan
akurat. Pencatatan harus menunjukan bahwa perawat melakukan tindakan tersebut dan
melakukan supervisi pasien setiap hari. Dalam melakukan tindakan-tindakan
keperawatan perawat harus menerapkan informed consent, sebagai bagian dari
pertimbangan aspek hukum. Perawat juga harus mencatat kecelakaan yang terjadi pada
pasien, catatan ini segera dibuat untuk memudahkan analisa sebab kecelakaan dan
mencegah pengulangan kembali. Dalam melaksanakan tugasnya perawat harus
mempertahankan hubungan saling percaya yang baik dengan pasein. Pasien harus
mengetahui tentang diagnosa dan rencana tindakan, serta perkembangan keadaan pasien.
Menurut Priharjo (1995), beberapa masalah hukum yang sering terjadi di keperawatan

7
yaitu kecerobohan/Tort adalah kesalahan yang melanggar seseorang atau
kepunyaan/harta benda seseorang. Tort ada 2 yaitu :
1. Tort yang disengaja : menipu, melanggar privacy pasien, membuat dokumentasi
yang salah, tidak menerapkan informed consent, menyentuh pasien tanpa ijin

2. Tort tidak disengaja

 Kelalaian/Negligence adalah melakukan sesuatu yang oleh orang dengan


klasifikasi yang sama dapat dilakukan dalam situasi yang sama. Kelalaian
sering terjadi karena kegagalan dalam menerapkan pengetahuan dalam praktik
yang lain disebabkan karena kurang pengetahuan.
 Mal praktik yaitu kelalaian yang dilakukan oleh tenaga profesional yang
menyebabkan kerusakan, cidera atau kematian. Kegagalan ini dalam
melaksanakan suatu fungsi tertentu yang berkaitan dengan peran dalam
memberikan asuhan keperawatan.

Dalam perjuangan memajukan perawat di Indonesia, profesi perawat mempunyai


organisai profesi perawat yaitu Persatuan Perawat Nasional Indonesia/PPNI. Melalui PPNI
profesi perawat berjuang untuk meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan kepada
masyarakat. PPNI telah berhasil memperjuangkan legislasi dalam keperawatan. Yang terdiri dari
dua komponen yaitu registrasi dan lisensi keperawatan. Registrasi adalah upaya untuk menjamin
tingkat kemampuan tenaga keperawatan untuk dapat memberikan pelayanan yang memenuhi
standar profesi. Lisensi adalah pemberian ijin melaksanakan keperawatan sebelum
diperkenankan melakukan pekerjaan yang telah ditetapkan. Aturan yang berhasil diperjuangkan
oleh PPNI adalah Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No.
94/KEP/M.PAN/II/2001 tentang Jabatan Fungsional Perawat dan Angka Kreditnya; dan
Keputusan Menteri Kesehatan No. 1239/Menkes/SK/XI/2001 tentang Registrasi dan Praktik
Perawat. PPNI saaat ini sedang memperjuangkan adanya Undang-Undang Praktik Keperawatan,
yang prosesnya masih berjalan di DPR RI. Tujuan legislasi keperawatan adalah mengembangkan
peraturan atas dasar hukum yang berfungsi melindungi masyarakat dan profesi keperawatan dari
pihak yang melakukan praktik yang tidak bermutu. Legislasi keperawatan juga diharapkan
menjadi dasar bagi keperawatan untuk terlibat dalam penyusunan perundang-undangan yang
mempunyai kaitan dengan keperawatan, seperti bidang pendidikan, kesejahteraan,

8
ketenagakerjaan. Pada akhirnya nanti, perawat yang tidak mempunyai legislasi tidak
diperkenakan untuk menjalankan praktik keperawatan ( Astuti.W, 1996 ).

2. Instrumen Normatif Bagi Perawat Dalam Upaya Menjalankan Pelayanan


Keperawatan

Perawat dalam menjalankan proses keperawatan harus berpedoman pada Lafal Sumpah
Perawat, Standar Profesi Perawat, Standar Asuhan Keperawatan, dan Kode Etika Keperawatan.
Keempat instrumen tersebut berisi tentang norma-norma yang berlaku bagi perawat dalam
memberikan asuhan keperawatan. Ketentuan-ketentuan yang berlaku bagi perawat disebut
instrumen normatif, karena keempatnya meskipun tidak dituangkan dalam bentuk hukum
positif/Undang-Undang, tetapi berisi norma-norma yang harus dipatuhi oleh perawat agar
terhindar dari kesalahan yang berdampak pada pertanggungjawaban dan gugatan ganti kerugian
apabila pasien tidak menerima kegagalan perawat dalam memberikan asuhan keperawatan.

a. Lafal Sumpah Perawat

Lulusan pendidikan keperawatan harus mengucapkan janji/sumpah sesuai dengan


program pendidikannya, D3 atau S1. Lafal sumpah ada dua macam yaitu lafal Sumpah/Janji
Sarjana Keperawatan dan lafal Sumpah/Janji Ahli Madya Keperawatan

b. Standar Profesi Perawat

Pasal 24 ayat (1) PP 23/1996 tentang Tenaga Kesehatan menentukan bahwa perlindungan
hukum diberikan kepada tenaga kesehatan yang melakukan tugas sesuai dengan Standar Profesi
tenaga kesehatan. Standar profesi merupakan ukuran kemampuan rata-rata tenaga kesehatan
dalam menjalankan pekerjaannya (Praptianingsih, 2006). Dengan memenuhi standar profesi
dalam melaksanakan tugasnya, perawat terbebas dari pelanggaran kode etik.Sebagai tolak ukur
kesalahan perawat dalam melaksanakan tugasnya, dapat dipergunakan pendapat Leenen dalam
Koeswadji (1996) sebagai standar pelaksanaan profesi keperawatan, yang meliputi : terapi harus
dilakukan dengan teliti; harus sesuai dengan ukuran ilmu pengetahuan keperawatan; sesuai
dengan kemampuan rata-rata yang dimilki oleh perawat dengan kategori keperawatan yang
sama; dengan sarana dan upaya yang wajar sesuai dengan tujuan kongkret upaya pelayanan
yang dilakukan.

9
c. Standar Asuhan Keperawatan

Pelayanan keperawatan dalam upaya pelayanan kesehatan di rumah sakit merupakan


faktor penentu citra dan mutu rumah sakit. Di samping itu, tuntutan masyarakat terhadap
pelayanan perawatan yang bermutu semakin meningkat seiring dengan meningkatnya kesadaran
akan hak dan kewajiban dalam masyarakat. Oleh karena itu, kualitas pelayanan keperawatan
harus terus ditingkatkan sehingga upaya pelayanan kesehatan dapat mencapai hasil yang optimal.
Salah satu upaya untuk menjaga mutu kualitas pelayanan keperawatan adalah dipergunakannya
Standar Asuhan Keperawatan dalam setiap pelayanan keperawatan. Standar ini dipergunakan
sebagai pedoman dan tolak ukur mutu pelayanan rumah sakit. Didalamnya berisi tentang tahapan
yang harus dilakukan oleh perawat dalam memberikan asuhan keperawatan. Standar asuhan
keperawatan yang disusun oleh Tim Departemen Kesehatan Republik Indonesia diberlakukan
sebagai standar Asuhan Keperawatan di Rumah Sakit berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal.
Sistem Kesehatan Nasional dan UU No. 23 tahun 1992 yang pada pokoknya menentukan antara
lain bahwa tenaga kesehatan mempengaruhi keberhasilan pembangunan pada umumnya dan
pembangunan kesehatan khususnya, untuk itu perlu diupayakan tenaga kesehatan yang
berkualitas. Standar Asuhan Keperawatan terdiri dari delapan standar yang harus dipahami dan
dilaksanakan oleh perawat dalam memberikan pelayanan kesehatan,khsusunya pelayanan
keperawatan, yang terdiri dari :

1. Standar I berisi falsafah keperawatan


2. Standar II berisi tujuan asuhan keperawatan
3. Standar III menentukan pengkajian keperawatan
4. Standar IV tentang diagnosis keperawatan
5. Standar V tentang perencanaan keperawatan
6. Standar VI menentukan intervensi keperawatan
7. Standar VII menentukan evaluasi keperawatan
8. Standar VIII tentang catatan asuhan keperawatan.

d. Kode Etik Keperawatan

Kode Etik Keperawatan Indonesia terdapat dalam Keputusan Musyawarah Nasional


Persatuan Perawat Nasional Indonesia No. 09/MUNAS IV/PPNI/1989 tentang pemberlakuan

10
Kode Etik Keperawatan Indonesia (Kode etik dapat ditinjau dari empat segi, yaitu segi arti,
fungsi, isi, dan bentuk (Koeswadji, 1996).

1. Arti kode etik atau etika adalah pedoman perilaku bagi pengembangan profesi. Kode etik
profesi merupakan sekumpulan norma yang ditetapkan dan diterima oleh kelompok
profesi, yang mengarahkan atau memberi petunjuk kepada anggotanya bagaimana
seharusnya berbuat dalam menjalankan profesinya dan sekaligus menjamin mutu moral
profesi tersebut di mata masyarakat. Berkait dengan profesi, etika erat hubungannya
dengan perilaku yang berisikan hak dan kewajiban berdasarkan pada perasaan moral dan
perilaku yang sesuai dan /atau mendukung standar profesi.
2. Fungsi kode etik adalah sebagai pedoman perilaku bagi para pengemban profesi, dalam
hal ini perawat, sebagai tenaga kesehatan dalam upaya pelayanan kesehatan. Kode etik
merupakan norma etik yang mencerminkan nilai dan pandangan hidup yang dianut oleh
kalangan profesi yang bersangkutan. Kode etik merupakan norma etik yang dapat
berfungsi sebagai sarana kontrol sosial, sebagai pencegah campur tangan pihak lain,
sebagai pencegah kesalahpahaman dan konflik. Kode etik memuat hak dan kewajiban
profesional anggotanya sehingga setiap anggota profesi dapat mengawasi apakah
kewajiban profesi telah dipenuhi. Tentang bagaimana anggota profesi melaksanakan
kewajiban profesioanalnya, kode etik telah menentukan standarnya sehingga masayarakat
dan pemerintah tidak perlu campur tangan dalam hal ini. Kode etik sekaligus mencegah
kesalahpahaman dan konflik karena merupakan kristalisasi perilaku yang dianggap benar
menurut pendapat umum dan berdasarkan pertimbangan kepentingan profesi.
3. Isi kode etik. Kode etik bersisi prinsip-prinsip etik yang dianut oleh profesi tertentu.
Prinsip-prinsip etik yang terpenting dalam upaya pelayanan kesehatan adalah prinsip
otonomi yang berkaitan dengan prinsip veracity, nonmaleficence, beneficence,
convidentiality, dan justice (Sumaryono, 1995 ). Otonomi merupakan bentuk kebebasan
seseorang untuk bertindak berdasarkan rencana yang telah ditentukannya sendiri.
Didalam prinsip ini setidaknya terkandung tiga elemen yaitu kebebasan untuk
memutuskan, kebebasan untuk bertindak, kebebasan untuk mengakui dan menghargai
martabat dan otonomi pihak lain. Prinsip veracity mewajibkan kedua belah pihak,
perawat dan pasien, untuk menyatakan yang sebenarnya tentang kondisi pasien dan
pengobatannya yang dilakukan.Prinsip nonmaleficence berarti bahwa perawat dalam

11
memberikan upaya pelayanan kesehatan senantiasa dengan niat untuk membantu pasien
mengatasi masalah kesehatannya. Berdasarkan prinsip beneficence, perawat memberikan
upaya pelayanan kesehatan dengan menghargai otonomi pasien. Kode Etik Keperawatan
Indonesia terdiri dari mukadimah dan batang tubuh. Mukadimah berisi :
1. Pedoman kehidupan profesi keperawatan, bahwa masyarakat Indonesia membutuhkan
pelayanan keperawatan
2. Sifat dan dasar pelayanan keperawatan
3. Ruang lingkup pelayanan keperawatan
4. Kesiapan perawat untuk melaksanakan pelayanan keperawatan secara professional
5. Perawat berjiwa Pancasila dan UUD 1945, dalam melaksanakan pekerjaan
berpedoman kepada ketentuan kode etik. Sedangkan batang tubuh berisi sebagai
berikut :
a. Tanggung jawab perawat terhadap individu, keluarga, dan masyarakat
b. Tanggung jawab perawat terhadap tugas
c. Tanggung jawab perawat terhadap sesama perawat dan profesi kesehatan lain
d. Tanggung jawa perawat terhadap profesi keperawatan
e. Tanggung jawab perawat terhadap pemerintah, bangsa, dan tanah air.

Bentuk Kode Etik Keperawatan Indonesia adalah Keputusan Musyawarah Nasional IV


Persatuan Perawat Nasional Indonesia pada tahun 1989. Kode etik ini disusun oleh Komisi C
PPNI pada tahun 1989, yang kemudian dalam keputusan MUNAS IV PPNI NO : 09/MUNAS
IV/PPNI/1989 tentang pemberlakukan Kode Etik Keperawatan, kode etik ini menjadi materi/isi
keputusan musyawarah tersebut yang tertuang dalam bagian lampiran.Kode etik ini hanya
berlaku bagi perawat, jadi sifatnya intern. Kode etik harus mampu menjadi tolok ukur nilai dan
moral perawat dalam melaksanakan pekerjaannya.

4. Dasar hukum
 Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No.
94/KEP/M.PAN/11/2001 tentang Jabatan Fungsional Perawat dan Angka
Kreditnya.Keputusan Menteri Nomor 94/KEP/M.PAN/11/2001 (selanjutnya
disebut Kepmenpan 94/2001) berlaku bagi perawat, khususnya yang bertatus
sebagai pegawai negeri sipil, baik PNS pusat maupun PNS daerah, baik yang

12
bekerja di rumah sakit milik pemerintah maupun yang diperbantukan atau
dipekerjakan di rumah sakit swasta atau tempat lain yang ditentukan pemerintah,
meliputi baik perawat lulusan setingkat SLTA/sederajat, program diploma
maupun strata.
 Keputusan Menteri Kesehatan No. 1239/Menkes/SK/X1/2001 tentang Registrasi
dan Praktik Perawat Keputusan Menteri Kesehatan Nomor
1239/Menkes/SK/XI/2001(selanjutnya disebut Kepmenkes 1239/2001) berlaku
bagi seluruh perawat di Indonesia. Kepmenkes 1239/2001 aspek legal atau berisi
ketentuan prosedur registrasi yang harus dilakukan oleh perawat, baik yang akan
melakukan praktik perawat perorangan/kelompok maupun yang tidak berpraktik
(bekerja di sarana pelayanan kesehatan, dengan berstatus sebagai pegawai).
Perawat yang bermaksud untuk menjalankan praktik keperawatan baik
perorangan maupun kelompok, harus mengajukan permohonan kepada pejabat
berwenang, yang dalam hal ini adalah Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota,
dengan memenuhi syarat-syarat yang ditentukan.Permohonan tersebut diterima
atau ditolak harus disampaikan oleh pejabat berwenang kepada pemohon
selambatnya satu bulan sejak permohonan diterima. Permohonan yang diterima
harus segera diikuti dengan pemberian Surat Ijin Praktik Keperawatan, sedangkan
permohonan yang ditolak pejabat yang berwenang harus memberikan alasan
penolakan.Kewenangan pembinaan dan pengawasan terhadap praktik
keperawatan dan pekerjaan keperawatan berada pada Organisasi Profesi, Kepala
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota,dan Majelis Disiplin atau Majelis Pembinaan
dan Pengawasan Etika Pelayanan Medis.Pedoman lebih lanjut bagi perawat untuk
menerapkan kompetensi keperawatannya berdasarkan Kepmenkes 1239/2001,
Direktorat Jenderal Pelayanan Medik, Direktorat Pelayanan Keperawatan,
Departemen Kesehatan mengeluarkan Petunjuk Pelaksanaan Keputusan Menteri
Kesehatan Nomor 1239/Menkes/SK/XI/2001 tentang Registrasi dan Praktik
Perawat.

13
2.3 Perlindungan hukum dalam praktik keperawatan
A. Pengaturan Keperawaratan dalam Hukum Nasional yang Mencerminkan Prinsip
Perlindungan Hukum untuk Perawat dalam Menghadapi ASEAN Economic Community
(AEC).

Berdasarkan teori dari Philipus M.Hadjon menyatakan bahwa perlindungan hukum


adalah perlindungan akan harkat dan martabat, serta pengakuan terhadap hak-hak asasi manusia
yang dimiliki oleh subyek hukum berdasarkan ketentuan hukum dari kesewenangan. Dan
perlindungan hukum bagi rakyat terdiri dari perlindungan hukum preventif dan perlindungan
hukum represif.

Perlindungan hukum preventif adalah perlindungan hukum ini bertujuan untuk mencegah
terjadinya sengketa. Sehingga upaya yang dilakukan lebih difokuskan untuk meminimalisir
terjadinya masalah yang sekaligus untuk menghindari munculnya akibat dari suatu masalah.
Sedangkan perlindungan hukum repsresif adalah perlindungan yang bertujuan untuk
menyelesaikan permasalahan atau sengketa yang timbul. Perlindungan ini baru akan dilakukan
pada saat pelaksanaan perjanjian berlangsung.

1. Perlindungan hukum preventif

Perlindungan hukum preventif adalah perlindungan hukum ini bertujuan untuk mencegah
terjadinya sengketa. Sehingga upaya yang dilakukan lebih difokuskan untuk meminimalisir
terjadinya masalah yang sekaligus untuk menghindari munculnya akibat dari suatu masalah.
Dalam implementasinya bentuk perlindungan ini adalah dengan dibentuknya peraturan
perundang-undangan yang bersifat regulatif. Negara diharapkan mengaplikasikan tujuan
dibentuknya peraturan perundang-undangan yakni melindungi segenap bangsa Indonesia. Bentuk
perlindungan ini dapat ditemukan, di antaranya:

a. Perlindungan hukum dalam Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia


1945

Perlindungan terhadap perawat berlandaskan pada Undang_undang Dasar 1945,


Pembukaan, Alinea keempat berbunyi:

14
“Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi
segenap bangsa Indonesia”.

Umumnya, sampai saat ini orang bertumpu pada kata “segenap bangsa” sehingga diambil
sebagai asas tentang persatuan seluruh bangsa Indonesia. Akan tetapi dari kata “melindungi” di
dalamnya terkandung pula asas perlindungan hukum pada segenap bangsa yaitu bagi segenap
bangsa tanpa kecuali.Landasan hukum lainnya terdapat pada ketentuan termuat dalam Pasal 27
ayat 2 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945yang berbunyi:

“Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan”.

Dari dasar hukum diatas bahwa pada prinsipnya setiap warga negara Indonesia
mempunyai hak untuk memperoleh pekerjaan yang layak di Indonesia. Pekerjaan tersebut
merupakan hak dari warga negara dan hak semua orang dan merupakan hak dasar bagi rakyat
secara menyeluruh. Sehingga peran negara dalam menjamin dan melindungi pekerjaan setiap
warga negaranya khususnya terpenuhinya dan melindungi pekerjaan perawat Indonesia.
Penjelasan autentik pasal 27 ayat (2) UUD NRI 1945 ini berbunyi: “Telah Jelas, pasal-pasal ini
mengenai hak-hak warga negara”. Selanjutnya untuk melaksanakan amananat UUD NRI 1945
melindungi segenap bangsa, dalam hal ini khususnya pekerjaan perawat di Indonesia. Sehingga
sudah jelas bahwa dasar diatas merupakan pedoman dalam pembuatan kebijakan yang mengatur,
memenuhi dan melindungi pekerjaan warga negaranya khususnya perawat dalam menghadapi
ASEAN Economic Community (AEC) 2015.

b. Perlindungan hukum dalam Undang-undang Nomor 38 Tahun 2014 tentang


Keperawatan

Pada tanggal 17 Oktober 2014 Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2014 tentang


Keperawatan lahir. Undang-Undang ini berisi tentang sejumlah ketentuan yang bertujuan untuk
memberikan dan memenuhi perlindungan hukum pada perawat. Tujuan dari Undang-Undang
tersebut adalah untuk meningkatkan mutu Pelayanan Keperawatan, memberikan pelindungan
meningkatkan mutu Perawat, dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat serta kepastian
hukum kepada Perawat dan Klien.

15
Dalam tujuan tersebut dapat kita lihat bahwa ketentuan tersebut berfungsi untuk
melindungi setiap perawat yang ada di Indonesia. Khususnya untuk melindungi perawat
Indonesia menghadapi ASEAN Economic Community (AEC). Konsep perlindungan hukum
terhadap perawat Indonesia dalam peraturan ini diatur dalam Pasal 24, Pasal 25 dan Pasal 26
Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2014 tentang Keperawatan yaitu:9

Dalam ketentuan diatas dijelaskan bahwa setiap perawat berkewarganegaraan asing yang
nantinya akan melaksanakan praktek di Indonesia wajib mengikuti dan menjalankan evaluasi
kompetensi. Evaluasi kompetensi tersebut meliputi penilaian kelengkapan administratif dan
penilaian kemampuan untuk melakukan praktik. Dalam hal penilaian kelengkapan
pengadministrasian terdiri dari berbagai penilaian keasahan ijasah oleh menteri yang bergerak
dan menjalakan pemerintahan di sektor pendidikan, surat keterangan sehatfisik serta mental dan
surat pernyataan untuk melaksanakan dan mematuhi ketentuan dalam etika profesi.

Dari penjelasan diatas sudah jelas bahwa perawat asing yang nantinya akan bekerja di
Indonesia tidak semerta-merta dapat langsung menjalankan praktik di Indonesia akan tetapi
harus mengikuti persyaratan yang ada dalam ketentuan peraturan perundang-undangan ini yaitu
harus mengikuti evaluasi kompetensi. Evaluasi kompetensi tersebut dilakukan melalui penilaian
kemampuan untuk melakukan praktik yang nantinya penilaian tersebut dinyatakan dengan surat
keterangan telah mengikuti program evaluasi kompetensi dan sertifikat kompetensi. Sertifikat
kompetensi merupakan surat tanda pengesahan dari kompetensi setiap perawat yang dinyatakan
lulus dari uji kompetensi untuk melaksanakan praktik keperawatan. Sedangkan uji kompetensi
tahapan pengukuran atas pengetahuan, dan keterampilan, serta perilaku dari setiap peserta didik
dari perguruan tinggi yang menyelnggarakan setiap program studi Keperawatan.

Sehingga dalam hal ini terkait sertifikat kompetensi diberikan kepada mahasiswa
pendidikan vokasi perawat yang telah lulus ujian kompetensi. Artinya dalam peraturan ini
perawat asing yang nantinya bekerja di Indonesia harus mengikuti ujian kompetensi yang
diselenggarakan oleh perguruan tinggi di Indonesia. Sedangkan dalam Mutual Recognition
Arrangement on Nursing Services menyebutkan bahwa perawat dari suatu negara ASEAN
diperolehkan untuk praktek di negara-negara ASEAN yang lain dimana salah satunya memiliki
sertifikat izin praktek yang diterbitkan oleh NRA negara asalnya. Sehingga dalam hal ini dengan

16
ketentuan ini perawat asing dapat langsung praktik jika negara asalnya mengelurkan izin praktik
tersebut.

Akan tetapi dalam penerapan Hukum Internasional, yang berasal dari setiap Perjanjian
Internasional terdapat dua teori, adalah teori transformasi dan teori delegasi. Dari teori
transformasi, menyatakan bahwa hukum internasional yang bersasal dari setiap perjanjian
internasional bisa diterapkan pada setiap hukum nasional apabila sudah diterapkan
(ditransformasi) ke bagian dari Hukum Nasional, secara substansi dan formal. Teori transformasi
ini berpegang pada paham dualisme dan pandangan positivis bahwa kaidah-kaidah Hukum
Internasional tidak dapat secara langsung dan “ex proprio vigore” diterapkan dalam Hukum
Nasional. Dalam hal ini dapat diterapkan atau dimasukkan ke dalam Hukum Nasional
memerlukan tahapan inkorporasi khusus atau adopsi khusus.

Sehingga dengan teori tersebut terkait kebijakan sertifikat kompetensi untuk perawat
warga negara asing Indonesia dapat membuat kebijakan bahwa untuk mendapatkan sertifikat
kompetensi harus tunduk pada ketentuan peraturan perundang-undangan di Indonesia dimana
untuk mendapatkan sertifikat kompetensi harus melalui ujian kompetensi sebagai bentuk
perlindungan hukum terhadap perawat yang ada di Indonesia.

Dalam ketentuan diatas dijelaskan bahwa setiap perawat berkewarganegaraan asing yang
tekah dan sudah melalui proses evaluasi kompetensi dan serta yang akan melaksanakan praktek
di Indonesia wajib memiliki SIPP dan STR sementara. STR sementara untuk perawat
berkewarganegaraan asing hanya berlaku sampai satu tahun dan akan dapat diperpanjang untuk
satu tahun yang akan datang. Perawat berkewarganegaraan asing melaksanakan praktek
keperawatan di Indonesia berlandaskan atas kemauan pengguna perawat berkewarganegaraan
asing. Dalam praktik perawat berkewarganegaraan asing akan ditujukan guna meningkatkan
kualitas perawat Indonesia. Sedangkan SIPP untuk perawat berkewarganegaraan asing hanya
keberlakuannya selama satu tahun dan akan bisa diperpanjang hanya untuk satu tahun yang akan
datang.

Surat Tanda Registrasi (STR) merupakan bukti tertulis yang diberikan oleh konsil
keperawatan. Konsil Keperawatan adalah lembaga yang melakukan tugas secara independe.

17
Konsil keperawatan terdapat beberapa fungsi penetapan, pengaturan, serta pembinaan perawat
dalam melaksanakan praktek keperawatan. Tugas konsil keperawatan yaitu:

 melakukan pembinaan Perawat dalam menjalankan Praktik Keperawatan


 melakukan Registrasi Perawat
 menegakkan disiplin Praktik Keperawatan
 menyusun standar praktik dan standar kompetensi Perawat
 menyusun standar pendidikan tinggi Keperawatan.

Dalam melaksanakan tugasnya konsil keperawatan mendapatkan wewenang yaitu:

 menyelidiki dan menangani masalah yang berkaitan dengan pelanggaran disiplin


profesi Perawat
 menyetujui atau menolak permohonan Registrasi Perawat, termasuk Perawat
Warga Negara Asing
 menerbitkan atau mencabut STR
 memberikan pertimbanganpendirian atau penutupan Institusi Pendidikan
Keperawatan; f. menetapkan dan memberikan sanksi disiplin profesi Perawat.

Surat Izin Praktik Perawat (SIPP) adalah bukti atau dokumen tertulis yang didapatkan
dari Pemerintah Daerah kota/kabupaten kepada setiap perawat sebagai yang memeberikan
kewenangan kepada perawat dalam menjalankan praktek keperawatan. Pemerintah Daerah
kota/kabupaten dari rekomendasi pejabat kesehatan yang mempunyai kewenangan di
kota/kabupaten pada tempat Perawat yang akan melaksanakan praktiknya.

Ketentuan lebih lanjut mengenai pengawasan dan pembinaan praktik keperawatan yang
dilaksanakan oleh konsil perawat, pemerintah, pemerintah daerah dan Organisasi Profesi diatur
pada Peraturan Menteri. Dengan penjelasan diatas bahwa penting segera untuk membuat
peraturan pelaksana terkait peran konsil perawat dan pemerintah daerah dalam hal pembuatan
STR dan SIPP dimana surat tersebut merupakan surat yang diwajibkan untuk perawat warga
negara asing yang akan bekerja di Indonesia. Akan tetapi sampai sekarang belum ada Peraturan
Menteri yang mengatur secara teknis peran dari konsil keperawatan dan pemerintah daerah
dalam pembinaan dan pengawasan praktik keperawatan sehingga dalam hal ini tidak lengkapnya

18
peraturan perundang-undangan terkait pelaksana teknis ketentuan tersebut sehingga dalam hal ini
tidak terdapat perlindungan hukum untuk perawat Indonesia dalam menghadapi ASEAN
Economic Community (AEC). Ditambah dengan ketentuan lebih lanjut mengenai
pendayagunaan dan praktik perawat warga negara asing yang dimanatkan dalam Pasal 26 belum
terbentuknya Peraturan Pemerintah sampai sekarang.

c. Perlindungan hukum dalam Undang-undang Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga


Kesehatan

Tenaga Kesehatan yaitu setiap orang yang nantinya mengabdikan diri pada bidang
kesehatan yang memiliki keterampilan dan/atau pengetahuan melalui pendidikan di sektor
kesehatan yang guna jenis tertentu dan memerlukan kewenangan dalam melakukan upaya dari
kesehatan. Dalam peraturan perundang-undangan ini bertujuan memenuhi kebutuhan masyarakat
akan tenaga kesehatan, mendayagunakan tenaga kesehatan sesuai dengan kebutuhan masyarakat,
memberikan pelindungan kepada masyarakat dalam menerima penyelenggaraan upaya
kesehatan, mempertahankan dan meningkatkan mutu penyelenggaraan upaya kesehatan yang
diberikan oleh tenaga kesehatan dan memberikan kepastian hukum kepada masyarakat dan
tenaga kesehatan.

Dalam Pasal 11 ayat (1) Tenaga kesehatan dikelompokkan ke dalam:

 tenaga medis
 tenaga psikologi klinis
 tenaga keperawatan
 tenaga kebidanan
 tenaga kefarmasian
 tenaga kesehatan masyarakat
 tenaga kesehatan lingkungan
 tenaga gizi
 tenaga keterapian fisik
 tenaga keteknisian medis
 tenaga teknik biomedika

19
Dari klasifikasi ini keperawatan termasuk dalam kualifikasi tenaga kesehatan yang
terdapat dalam peraturan perundang-undangan ini. Sehingga perawat Indonesia juga dilindungi
oleh UU tenaga kesehatan dalam menghadapi ASEAN Economic Community (AEC).

d. Perlindungan hukum dalam Undang-undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah


Sakit

Rumah Sakit merupakan institusi dari pelayanan kesehatan yang nantinya akan
menyelenggarakan berbagai pelayanan kesehatan setiap orang secara menyeluruh yang
menyediakan pelayanan rawat jalan, gawat darurat dan rawat inap. Dalam pengaturan ini
bertujuan mempermudah akses masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan;
memberikan perlindungan terhadap keselamatan pasien, masyarakat, lingkungan rumah sakit dan
sumber daya manusia di rumah sakit; meningkatkan mutu dan mempertahankan standar
pelayanan rumah sakit; dan memberikan kepastian hukum kepada pasien, masyarakat, sumber
daya manusia rumah sakit, dan Rumah Sakit.

Bentuk perlindungan hukum terhadap perawat Indonesia yang diberikan oleh Undang-
Undang ini hampir sama dengan ketentuan dalam Undang-Undang tentang Tenaga Kesehatan
khususnya yang mengatur tentang perawat warga negara asing yang akan bekerja di Indonesia
yang diatur dalam pasal 14 Undang-Undang Nomor 36 tentang Rumah Sakit yaitu:

Dalam ketentuan diatas dijelaskan bahwa rumah sakit akan mempekerjakan tenaga
kesehatan berkewarganeraan asing disesuai melalui kebutuhan pelayanan yang ada di rumah
sakit. Pendayagunaan tenaga kesehatan berkewarganeraan asing hanya dapat dilakukan dengan
pertimbangkan kepentingan ilmu pengetahuan dan alih teknologi dan ketersediaan tenaga
kesehatan yanumah sakit. Dalam pendayagunaan tenaga kesehatan asing hanya dapat
dilaksanakan untuk tenaga kesehatan berkewarganegaraan asing yang telah mempunyai surat ijin
praktik dan surat tanda registrasi.

2. Perlindungan hukum represif

Perlindungan bertujuan untuk menyelesaikan permasalahan atau sengketa yang timbul.


Perlindungan ini baru akan dilakukan pada saat pelaksanaan perjanjian berlangsung. Dengan

20
demikian perlindungan yang diberikan lebih ditekankan pada upaya untuk mencari penyelesaian
sengketa dalam rangka mempertahankan hak-hak yang dimiliki para pihak.

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) dibentuk dalam rangka meningkatkan daya saing
dan menarik investasi asing. Diharapkan, dengan terbentuknya kawasan Masyarakat Ekonomi
ASEAN (MEA) kawasan ini menjadi wilayah kesatuan pasar dan basis produksi. Dengan
terciptanya kesatuan pasar dan basis produksi maka akan membuat arus barang, jasa, investasi,
modal dalam jumlah yang besar dan skilled labour menjadi tidak ada hambatan darisuatu negara
ke negara lainnya di kawasan Asia Tenggara. Disamping itu dengan adanya kawasan Masyarakat
Ekonomi ASEAN (MEA) akan terciptanya suatu kawasan ekonomi dengan kompetisi tinggi
yang memerlukan berbagai kebijakan, antara lain perlindungan tenaga kerja terampil dan
penyelesaian sengketa.

Kepastian dan perlindungan bagi para pihak yang bersengketa menjadi hal penting dalam
Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), terutama dalam proses maupun pelaksanaan
eksekusisnya. Mengingat para pelaku usaha dan investor akan tertarik dan merasa nyaman untuk
berinvestasi di Indonesia apabila terdapat suatu kepastian dan perlindungan hukum. Akan tetapi
dalam hal perlindungan represif bagi perawat dalam peraturan perundang-undangan yang
berkaitan dengan keperawatan belum diatur secara jelas terkait penyelesaian sengketa nantinya.
Berdasarkan hal tersebut, maka perlu adanya langkah-langkah strategis guna pengembangan
metode alternatif penyelesaian sengketa pada sektor tenaga kerja terampil dalam menyelesaikan
sengketa. Pengembangan metode alternatif sengketa perlu dilakukan dengan menyediakan dan
menyempurnakan perangkat hukum berupa peraturan perundang-undangan yang mampu
memberikan kepastian dan perlindungan hukum bagi para pihak yang bersengketa.

A. Bentuk Perlindungan Hukum terhadap Perawat dalam Menghadapi ASEAN


Economic Community (AEC)

Ketenagakerjaan merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari pembangunan


nasional yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
tahun 1945. Tenaga kerja mempunyai perananan, kedudukan yang sangat penting sebagai pelaku
dan sasaran pembangunan nasional. Hak-hak tenaga kerja yang diatur dalam peraturan
ketenagakerjaan Indonesia, yang didalamnya termasuk perlindungan tenaga kerja merupakan hal

21
yang harus diperjuangkan agar harkat dan kemanusian tenaga kerja ikut terangkat. Perlindungan
tenaga kerja dimaksudkan untuk menjamin hak-hak dasar pekerja dengan tetap memperhatikan
perkembangan kemajuan dunia usaha nasional dan internasional. Sebagai mana disebutkan
dalam Pasal 28 D Undang-Undang Dasar tahun 1945 bahwa setiap orang berhak untuk bekerja
serta mendapatkan imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja.

Dengan adanya perjanjian ASEAN Economic Community (AEC) 2015 merupakan salah
satu bentuk pembangunan di bidang ketenagakerjaan. Namun yang perlu diingat peran hukum
dalam bidang ketenagakerjaan sangat penting salah satunya untuk memberikan perlindungan
hukum untuk semua pihak yang terlibat dalam sistem ketenagakerjaan yang mendukung dalam
bidang ketenagakerjaan. Tidak dapat dipisahkan hukum dengan bidang ketenagakerjaan
merupakan konsep dari negara hukum , dimana negara hukum tersebut menurut pendapat Bagir
Manan adapun unsur-unsur terpenting dari negara hukum, dikemukakan terdiri dari:

a. Ada UUD sebagai peraturan tertulis yang mengatur hubungan antara pemerintah dan
warganya.
b. Ada pembagian kekuasaan (machtenscheiding) yang secara khusus menjamin suatu
kekuasaan kehakiman yang merdeka.
c. Ada pemencaran kekuasaan negara atau pemerintah (spreiding van de staatsmacht).
d. Ada jaminan terhadap hak asasi manusia.
e. Ada jaminan persamaan dimuka hukum dan jaminan perlindungan hukum.
f. Ada asas legalitas, pelaksanaan kekuasaan pemerintah harus didasarkan atas hukum
(undang-undang).

Dari uraian di atas dapat disimak bahwa adanya unsur jaminan perlindungan hukum
dalam unsur rechtsstaat mengamanatkan agar setiap pemerintah harus memberikan jaminan
perlindungan hukum bagi setiap warga negaranya dalam hal ini memberikan perlindungan
hukum untuk pekerja khususnya pada perawat dalam mengahadapi ASEAN Economic
Community (AEC) 2015.

Terbentuknya ASEAN Economic Community (AEC) 2015 pada awalnya pertemuan


Menteri Ekonomi ASEAN yang dilaksanakan pada bulan Agustus 2006 di Kuala Lumpur,
Malasya, sepakat untuk mengembangkan ASEAN Economic Community (AEC) Blueprint yang

22
merupakan panduan untuk terwujudnya AEC. Declaration on ASEAN Economic Community
(AEC) Blueprint, ditanda tangani pada tanggal 20 November 2007, memuat jadwal strategis
untuk masing-masing pilar yang disepakati dengan target waktu yang terbagi dalam empat fase
yaitu tahun 2008-2009, 2010-2011, 2012-2013 dan 2014-2015. Penandatanganan AEC Blueprint
dilakukan bersamaan dengan Penandatanganan piagam ASEAN (ASEAN Charter).

ASEAN Economic Community (AEC) Blueprint merupakan pedoman bagi Negara-


negara Anggota ASEAN untuk mencapai AEC 2015, dimana masing-masing negara
berkewajiban untuk melaksanakan komitmen dalam blueprint tersebut. AEC blueprint memuat
empat kerangka utama seperti yaitu:

 ASEAN sebagai pasar tunggal dan basis produksi internasional dengan elemen aliran
jasa, investasi, bebas barang, aliran modal yang lebih bebas dan tenaga kerja terdidik.
 ASEAN sebagai kawasan dengan daya sasing ekonomi yang tinggi dengan elemen
peraturan kompetisi, perlindungan konsumen, hak atas kekayaan intelektual,
pengembangan infrastruktur, perpajakan, dam e-commerse;
 ASEAN sebagai kawasan degan pengembangan ekonomi yang memadai dan merata
dengan berbagai komposisi pengembangan UKM, dan prakarsa integrasi ASEAN untuk
negara-negara CMLV (Cambodia, Myanmar, Laos dan Vietnam); dan
 ASEAN sebagai kawasan yang berintegrasi yang menyeluruh dengan perekonomian yang
secara global dengan elemen pendekatan yang koheren dalam hubungan ekonomi di luar
kawasan dan meningkatkan peran serta dalam jejaring produksi global. Dari empat pilar
tersebut, saat ini pilar pertama yang masih menjadi perhatian utama ASEAN. Oleh
karenanya pada pemaparan selanjutnya pilar tersebut akan dibahas secara komprehensif.

Inti dari perlindungan hukum, yang dalam tesis ini adalah perlindungan hukum terhadap
perawat dalam menghadapi ASEAN Economic Community (AEC) 2015 adalah kepastian
hukum. Untuk mewujudkan kepastian hukum yang diperlukan adalah hukum yang rasional. Max
weber menyatakan bahwa legalitas diperlukan dalam mensukseskan pembangunan
ketenagakerjaan. Menurut Weber legalitas diperlukan adanya hukum rasional. Jika dilihat
klasifikasi sistem hukum Weber berdasarkan hukum dibuat dan ditemukan maka ada, formal
irrasional, substansi irrasional, substansi yang sesungguhnya dan formal rasional, sistem hukum

23
formal yang rasional ini yang kemudian melahirkan hukum rasional yang memenuhi rasionalitas
secara logika formal yang didasarkan pada:

 Pertimbangan dari kasus tertentu


 Aturan yang sudah jelas
 Formal berdasarkan keputusan hakiki dalam sistem hukum
 Logis artinya aturan/prinsip dari pikiran sistem hukum harus didasarkan pada
pertimbangan yang logis
 Meluasnya keputusan kasus spesifik yang artinya bahwa keputusan didasari oleh logika
deduktif dari aturan/prinsip yang sudah ada.

Dalam Pasal 27 ayat (2) UUD 1945 juga mengatur secara jelas bahwa “Warga Negara”
berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan, melainkan tidak bagi
“Setiap Orang”, sehingga dalam hal ini hak konstitusional bagi pekerjaan serta penghidupan
yang layak merupakan untuk kemanusiaan, dalam hal ini khususnya dalam memilih profesi
sebagai perawat yang cuma untuk diperuntukkan bagi seluruh warganegara Indonesia.

Sehingga dengan penjelasan diatas warganegara asing tidak mempunyai kebebasan dan
menikmati hak atas penghidupan yang layak dan pekerjaan bagi seluh warga negara Indonesia,
maka dalam hal ini warganegara asing dirasa perlu untuk melaksanakan pekerjaan dan
penghidupan yang layak bagi kemanusiaan di Indonesia sehingga warganegara asing harus
tunduk pada peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia, termasuk UU
Keperawatan. Warganegara asing tidak dapat menyatakan bahwa pembatasan hak atas pekerjaan
dan penghidupan yang layak seluruh waraga negara Indonesia di Indonesia yang nantinya diatur
dalam UU Keperawatan bertentangan dengan UUD 1945 dikarena dalam pandangan konstitusi,
hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layakyang diatur dalam konstitusi tersebut hanya
diperuntukkan bagi “warga Negara”, bukan bagi “Setiap orang”.

Hal ini merupakan salah satu pelaksanaan dari tujuan pembentukan suatu Negara
Indonesia sebagaimana termaktub dalam Alinea ke-IV Pembukaan UUD 1945 yakni20.
Pengaturan dan pembatasan hak perawat warga asing untuk dapat berpraktik dan/atau membuka
kantor keperawatan mandiri atau perwakilannya di Indonesia penulis pandang harus dimasukkan
dalam ketentuan Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2014 tentang Keperawatan untuk melindungi

24
eksistensi dan pemberdayaan peran perawat domestik serta guna menghindari adanya praktik
liberalisasi jasa perawat yang akan bersifat kontra produktif dengan terjaminnya kualitas
pelayanan bagi masyarakat dalam memperoleh kesehatan. Serta segera untuk membentuk
peraturan pelaksananya dalam menghadapi ASEAN Economic Community (AEC) 2015.

2.4 Lisensi dan Sertifikasi

PEMBERIAN LISENSI PRAKTIK KEPERAWATAN

Izin praktek keperawatan pada dasarnya bukan merupakan topic baru bagi para perawat
Indonesia. PPNI dalam berbagai kesempatan telah mendiskusikan topik ini. Para ahli yang
antusias dalam mengembangkan kualitas dan praktek keperawatan telah pula memberikan
sumbangan pikiran. Namun, izin praktek keperawatan sampai saat ini masih tetap merupakan
perjuangan keperawatan. Bagi setiap profesi atau pekerjaan untuk mendapatkan hak izin praktek
bagi anggotanya, biasanya harus memenuhi tiga criteria :

1. Ada kebutuhan untuk melindungi keamanan atau kesejahteraan masyarakat.


2. Pekerjaan secara jelas merupakan area kerja yang tersendiri dan terpisah.
3. Ada suatu organisasi yang melaksanakan tanggung jawab proses pemberian izin.

Izin praktek keperawatan diperlukan oleh profesi dalam upaya meningkatkan dan
menjamin professional anggotanya. Bagi masyarakat izin praktek keperawatan merupakan
perangkat perlindungan bagi mereka untuk mendapat pelayanan dari perawat professional yang
benar-benar mampu dan mendapat pelayanan keperawatan dengan mutu tinggi.Tidak adanya izin
keperawatan menempatkan profesi keperawatan pada posisi yang sulit untuk menentukan mutu
keperawatan. Kita ketahui bahwa di Indonesia terdapat berbagai jenjang pendidikan keperawatan
dengan standar atau mutu antar institusi pendidikan yang tidak sama. Secara sederhana dapat
dinyatakan bahwa seseorang yang telah luus dari pendidikan bahwa sesorang yang telah lulus
dari pendidikan keperawatan belum tentu cukup menguasai kompetensinya sebagai perawat.
Situasi inilah yang membuat para pemimpin keperawatan cukup prihatin. Pihak pasien tidak tahu
apakah pendidikanperawat atau justru diperburuk oleh kualitas keperawatan yang diberikan oleh
perawat yang dipersiapkan dengan tidak mantap.Perkembangan pemberian izin praktek
keperawatan cukup bervariasi di setiap Negara.Untuk mendapatkan izin praktek maka seorang

25
lulusan dari pendidikan professional keperawatan harus mendaftarkan diri pada dewan
keperawatan yang ada di setiap provinsi untuk mengikuti ujian.Bagi para perawat yang telah
menyelesaikan pendidikan spesialisasi keperawatan maka kepada mereka diperbolehkan
mengikuti ujian untuk mendapatkan izin advanced nursing practice.

SERTIFIKASI DALAM KEPERAWATAN

Sertifikasi merupakan proses pengabsahan bahwa seorang perawat telah memenuhi standar
minimal kompetensi praktik pada area spesialisasi tertentu seperti kesehatan ibu dan
anak, pediatric , kesehatan mental, gerontology dan kesehatan sekolah (Priharjo,
1995). Sertifikasi mengacu pada konfirmasi karakteristik tertentu dari sebuah benda, orang, atau
organisasi. Sertifikasi telah diterapkan di Amerika Serikat.
Sertifikasi merupakan proses pengakuan oleh badan sertifikasi terhadap kompetensi
seorang tenaga profesi setelah memenuhi persyaratan untuk menjalankan profesi kesehatan
tertentu sesuai dengan bidang pekerjaannya.Sertifikasi merupakan proses pembahasan bahwa
seseorang perawat telah memenuhi standar minimal kompetensi praktik pada area spesialisasi
tertentu seperti kesehatan sekolah. Sertifikasi telah ditrapkan di AS.Sertifikasi adalah
kegiatan/proses pendidikan dan pelatihan keperaatan untuk meningkatkan kompetensi perawat
yang dilaksanakan oleh lembaga yang terakreditasi. Sertifikasi diperlukan untuk
memepertahankan dan meningkatkan kompetensi (pengetahuan, keterampilan dan sikap).
Sertifikasi adalah proses pemberian pengakuan bahwa seseorang telah memiliki
kompetensi untuk melaksanakan pelayanan pendidikan pada jenjang dan jenis setting tertentu,
setelah lulus uji kompetensi yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan tenaga profesi
pendidikan yang terakreditasi atau lembaga sertifikasi.
Tujuan Sertifikasi :
1. Melindungi masyarakat pengguna jasa profesi
2. Meningkatkan mutu pelayanan
3. Pemerataan dan perluasan jangkauan pelayanan
Mekanisme sertifikasi :
1. Perawat teregistrasi mengikuti kursus lanjutan di area khusus praktik keperawatan
yang diselenggarakan oleh institusi yang memenuhi syarat.

26
2. Mengajukan aplikasi disertai dengan kelengkapan dokumen untuk ditentukan
kelayakan disertai sertifikat.
3. Mengikuti proses sertifikasi yang dilakukan oleh konsil keperawatan.
4. Perawat register yang memenuhi persyaratan, diberikan sertifikasi oleh konsil
keperawatan untuk melakukan praktik keperawatan.

2.5 Nursing Advocacy


Nursing Advocacy adalah proses dimana perawat secara objektif memberikan klien
informasi yang dibutuhkan untuk membuat keputusan dan mendukung klien apapun keputusan
yang ia buat.
Menurut para ahli perawat advokat ada 3 yaitu:
1. Ana pada tahun 1985
Melindungi klien atau masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dan keselamatan praktik
tidak sah yang tidak kompeten dan melanggar etika yang dilakukan oleh siapapun.
2. Fry pada tahun 1987
Advokasi sebagai dukungan aktif tarhadap setiap hal yang memiliki penyebab atau
dampak penting.
3. Gondow pada tahun 1983
Advokasi merupakan dasar falsafat dan ideal keperawatan yang melibatkan bantuan
perawat secara aktif kepada individu secara bebas menentukan nasibnya sendiri.Perawat
sebagai advokat merupakan penghubung antara klien tim kesehatan lain dalam rangka
pemenuhan kebutuhan klien,membela kepentingan klien dan membantu klien memahami
semua informasi dan upaya kesehatan yang diberikan tim kesehatan dengan pedekatan
tradisional maupun profesional,narasumber dan fasilitator dalam tahap pengembalian
keputusan terhadap upaya kesehatan yang harus dijalani oleh klien.

Peran Advokat Keperawatan


1. Melindungi hak klien sebagai manusia dan secara hukum
2. Membantu klien dalam menyatakan hak-haknya bila dibutuhkan
3. Memberikan bantuan mengandung dua peran yaitu peran aksi dan peran nonaksi.

27
Tanggung jawab perawat
 Secara Umum : Mempunyai tanggung jawab dalam memberikan aspek,
meningkatkan ilmu pengetahuan dan menigkatkan diri sebagai profesi.
 Secara khusus : Memberikan aspek kepada klien mencakup asapek bio-spiko-
sosio-kultural-spiritual yang kompehansif dalam upaya pemenuhan kebutuhan
dasarnya.
Dalam menjalankan tugasnya perawat dilindungi oleh Undang-Undang no. 6 tahun 1960
UU ini membedakan tenaga kesehatan sarjana dan bukan sarjana.Tenaga perawat termasuk
dalam tenaga bukan sarjana atau tenaga kesehatan dengan pendidikan rendah,termasuk bidan dan
asisten farmasi dimana dalam menjalankan tugas di bawah pengawasan dokter,dokter gigi,dan
apotek. Permenkes No. 363/Menkes/Per/XX/1980 tahun 1980 Pemerintahan membuat suatu
pernyataan yang jelas perbedaan antara tenaga keperawatan dan bidang.Bidang seperti halnya
dokter,diijinkan mengadakan praktik swasta,sedangkan tenaga keperawatan secara resmi tidak
diijinkan.

2.6 Pengambilan Keputusan Legal Etis

Membuat keputusan bukanlah hal yang mudah, tetapi merupakan suatu tantangan bagi
seorang manajer.Dalam era global dan serba cepat ini, langkah untuk mengambil keputusan
harus cepat dan tepat pula.

Definisi pengambilan keputusan

1. Suatu tindakan pemilihan, dimana pimpinan menetukan suatu kesimpulan tentang apa yang
harus dilakukan/ tidak dilakukan dalam suatu situasi tertentu.

2. Merupakan pendekatan yang sistematis terhadap suatu masalah yang dihadapi.

3. Penyelesaian masalah,yaitu menghilangkan adanya ketidakseimbangan antara yang


seharusnya dengan yang terjadi.

Pengambilan keputusan adalah tugas terpenting dari semua tugas yang membentuk fungsi
kepemimpinan manajerial. Sebelum mengambil suatu keputusan, diperlukan informasi-informasi
pendukung, misalnya informasi mengenai:

28
 laporan anggaran
 laporan sensus pasien
 catatan medis
 catatan personil pegawai
 laporan jumlah waktu sakit pegawai, dan
 waktu libur

Pengambilan keputusan adalah proses kognitif yang tidak tergesa-gesa. Suatu rangkaian
tahapan yang dianalisis, diperlukan, dan dipadukan, hingga dihasilkanlah ketepatan serta
ketelitian dalam menyelesaikan masalah.

Berdasarkan kebutuhan, jenis keputusan yang dipakai adalah:

1. Keputusan strategis, keputusan yang dibuat oleh eksekutif tertinggi.


2. Keputusan administratif, yaitu keputusan yang dibuat manajer tingkat menengah dalam
menyelesaikan masalah yang tidak biasa dan mengembangkan teknik inovatif untuk
perbaikan jalannya kelembagaan.
3. Keputusan operasional, yaitu keputusan rutin yang mengatur peristiwa harian yang dibuat
sesuai dengan aturan kelembagaan, dan peraturan-peraturan lainnya.

Berdasarkan situasi yang mendorong dihasilkannya suatu keputusan , keputusan


manajemen dibagi menjadi dua macam:

1. Keputusan terprogram, yaitu keputusan yang diperlukan dalam situasi menghadapi


masalah. Masalah yang biasa dan yang terstruktur memunculkan kebijakan dan
keseimbangan dan peraturan untuk membimbing pemecahan peristiwa yang sama.
Misalnya keputusan tentang cuti hamil.
2. Keputusan yang tidak terprogram, yaitu keputusan kreatif yang tidak terstruktur dan
bersifat baru, yang dibuat untuk menangani situasi tertentu. Misalnya keputusan yang
berkaitan dengan pasien.

Berdasarkan proses pembuatan keputusan, keputusan manajemen juga dapat dibedakan


menjadi dua model:

29
1. Keputusan model normatif atau model ideal memerlukan proses sistematis dalam
pemilihan satu alternative dan beberapa alternative, perlu waktu yang cukup untuk
mengenal dan menyukai pilihan yang ada.
2. Keputusan model deskriptif (pendekatan, lebih pragmatis) berdasarkan pada pengamatan
dalam membuat keputusan yang memuaskan ataupun yang terbaik.

Aspek kelompok dalam pengambilan keputusan

Ada perbedaan antara keputusan bersama kelompok dan keputusan kelompok.Dalam


pengambilan keputusan bersama kelompok, kelompok sepenuhnya berpartisipasi dalam
mengambil keputusan, kecuali dalam menetapkan keputusan akhir.Sedangkan dalam
pengambilan keputusan kelompok, kelompok sepenuhnya ikut menentukan dalam pengambilan
keputusan akhir.

Tipe Pengambilan Keputusan

1. Pengambilan keputusan yang kurang tanggapan (metode yang kurang diperhatikan)


2. Pengambilan keputusan dengan cara otomatis
3. Pengambilan keputusan minoritas (yang lebih pandai yang unggul)
4. Pengambilan keputusan mayoritas (melalui pemungutan suara)
5. Pengambilan keputusan dengan consensus
6. Pengambilan keputusan dengan suara bulat.

30
BAB III

PENUTUP

3.1 SIMPULAN

Prinsip-prinsip legal dalam praktek ada 2 yaitu Malpraktek dan Kelalaian. Malpraktek
adalah praktek kedokteran yang salah atau tidak sesuai dengan standar profesi atau standar
prosedur operasional. Kelalaian bukanlah suatu kejahatan. Seorang dokter dikatakan lalai jika ia
bertindak tak acuh, tidak memperhatikan kepentingan orang lain sebagaimana lazimnya. Akan
tetapi jika kelalaian itu telah mencapai suatu tingkat tertentu sehingga tidak memperdulikan jiwa
orang lain maka hal ini akan membawa akibat hukum, apalagi jika sampai merenggut nyawa,
maka hal ini akan digolongkan sebagai kelalaian berat. Masyarakat profesi dengan masyarakat
umum telah mengadakan suatu kontrak ( social contract) yang memberikan hak otonomi profesi
untuk melakukan self regulation, self governing dan self disciplining. Dengan kewajiban
memberikan jaminan profesional yang kompeten dan melaksanakan praktik sesuai etika dan
standar profesinya. Profesi perawat memiliki kewajiban untuk mampu memberikan jaminan
pelayanan keperawatan yang profesional kepada masyarakat umum. Kondisi demikian secara
langsung akan menimbulkan adanya konsekuensi hukum dalam praktik keperawatan. Sehingga
dalam praktik profesinya dalam melayani masyarakat perawat terikat oleh aturan hukum, etika
dan moral. Standar Asuhan Keperawatan terdiri dari delapan standar yang harus dipahami dan
dilaksanakan oleh perawat dalam memberikan pelayanan kesehatan,khsusunya pelayanan
keperawatan, yang terdiri dari : Standar I berisi falsafah keperawatan,Standar II berisi tujuan
asuhan keperawatan,Standar III menentukan pengkajian keperawatan,Standar IV tentang
diagnosis keperawatan,Standar V tentang perencanaan keperawatan,Standar VI menentukan
intervensi keperawatan,Standar VII menentukan evaluasi keperawatan, Standar VIII tentang
catatan asuhan keperawatan. Kode Etik Keperawatan Indonesia terdapat dalam Keputusan
Musyawarah Nasional Persatuan Perawat Nasional Indonesia No. 09/MUNAS IV/PPNI/1989
tentang pemberlakuan Kode Etik Keperawatan Indonesia (Kode etik dapat ditinjau dari empat
segi, yaitu segi arti, fungsi, isi, dan bentuk (Koeswadji, 1996). Pengambilan keputusan adalah
proses kognitif yang tidak tergesa-gesa. Suatu rangkaian tahapan yang dianalisis, diperlukan, dan
dipadukan, hingga dihasilkanlah ketepatan serta ketelitian dalam menyelesaikan masalah.

31
3.2 SARAN

Dengan terlesainya makalah ini diharapkan pada para pembaca agar dapat lebih
memperdalam lagi pengetahuan tentang prinsip-prinsip legal etis dalam konteks keperawatan
pada rumah sakit serta dapat mengaplikasikannya dalam dunia keperawatan.

32
DAFTAR PUSTAKA

Praptianigsih, S. (2006).Kedudukan hukum perawat dalam upaya pelayanan kesehatan di rumah


sakit. Ed.1. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada

https://www.scribd.com/doc/131703675/ASPEK-HUKUM-DALAM-KEPERAWATAN

https://media.neliti.com/media/publications/35639-ID-perlindungan-hukum-terhadap-perawat-dalam-
menghadapi-asean-economic-community-ae.pdf

https://www.scribd.com/doc/77000454/Lisensi-Perawat-sertifikasi

33