Anda di halaman 1dari 9

Apakah Curug Malela Bagian dari Formasi Saguling?

Is Curug Malela Part of Saguling Formation?

Muhammad Malik Ar Rahiem


Kelompok Riset Cekungan Bandung
Jalan Pajajaran 145 Bandung 40172 Indonesia
e-mail: malikarrahiem91@gmail.com

ABSTRAK
Curug Malela di Kecamatan Rongga adalah lokasi geowisata yang terkenal di Jawa Barat. Air terjun yang tinggi
dan lebar menjadi daya tarik para turis. Dalam peta geologi, batuan di Curug Malela adalah batuan volkanik
Formasi Beser berumur Miosen Akhir. Namun berdasarkan observasi lapangan dan analisis geomorfologi, boleh
jadi batuan di Curug Malela adalah batuan sedimen Formasi Saguling yang jauh lebih tua yang berumur Miosen
Tengah dan merupakan suatu sumbu antiklin. Batuan yang dijumpai di Curug Malela adalah batupasir dengan
perlapisan datar yang terpotong oleh sesar. Di bagian selatan teramati pola-pola kemiringan ke arah selatan,
sementara di bagian utara, teramati pola-pola kemiringan ke arah utara membentuk pola antiklin.

Kata kunci: Curug Malela, Geomorfologi, Formasi Beser, Formasi Saguling

ABSTRACT
Malela Waterfall at Rongga, Bandung Barat Regency is a very interesting geotourism spot. Wide and high
waterfall become the main object. In the geological map, Malela Waterfall area is said as volcanic deposits of
Beser Formation, aged Late Miocene or Early Pliocene. But according to the field observation and
geomorphological analysis, Malela Waterfall area might be an older formation, which is sedimentary deposits
of Saguling Formation, aged Middle Miocene and might be an axis of an anticline. The lithology observed at
Malela Waterfall are sandstone with flat dipping which is faulted. Southern of Malela Waterfall we can
observed dipping southwards, while in north part of Malela, we can observe dipping of northwards and forming
anticline pattern.

Keywords: Curug Malela, Geomorfologi, Formasi Beser, Formasi Saguling

PENDAHULUAN
Tulisan dan ulasan mengenai Curug Malela telah begitu banyaknya. Curug yang berada di Desa
Cicadas, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat (Gambar 1) ini memang begitu rupawan dan
meninggalkan kesan yang mendalam bagi mereka yang pernah mengunjunginya. Bahkan jarak
tempuh yang cukup jauh, sekitar 70 km dari Bandung tak menghentikan orang untuk terus
mengunjunginya.
Sebagai objek geowisata, Curug Malela di aliran Ci Curug (Gambar 2) telah begitu terkenal. Telah
banyak dilakukan kunjungan geowisata dengan para ahli kebumian sebagai juru interpretasi yang
menceritakan mengenai kondisi geologi di sekitar Curug Malela. Informasi geologi yang akurat tentu
menjadi kebutuhan yang utama dalam pemaparan interpretasi geologi sebagai salah satu unsur utama
dalam geowisata.
Rujukan utama informasi geologi Curug Malela adalah Peta Geologi Regional Lembar Sindang
Barang dan Bandarwaru keluaran Badan Geologi yang dibuat oleh Koesmono dkk pada tahun 1996.
Peta geologi ini bersifat regional dengan skala peta 1:100.000. Di dalam peta tersebut, area sekitar
Curug Malela termasuk ke dalam Formasi Beser, formasi batuan volkanik dengan litologi utama
breksi andesit, breksi tuf, tuf kristal, dan batulempung. Batuan ini berumur Pliosen atau sekitar 2-7
juta tahun yang lalu. Di dalam peta ini digambarkan bahwa batuan di sekitar Curug Malela (Formasi
Beser-Tmbe) yang berada di atas batuan Formasi Cimandiri (Tmc) lebih tua (umur Miosen Atas atau
sekitar 7-10 juta tahun yang lalu).
Berdasarkan beberapa kali kunjungan, ada dugaan bahwa batuan penyusun area sekitar Curug Malela
bukanlah batuan Formasi Beser, melainkan batuan sedimen Formasi Saguling yang jauh lebih tua. Di
dalam tulisan ini akan dipaparkan mengenai alasan-alasan mengapa Curug Malela merupakan bagian
dari Formasi Saguling dan bukan Formasi Beser, serta kondisi geologi di sekitar Curug Malela
sehingga dapat menjadi panduan yang baik bagi interpretasi geowisata di sekitar Curug Malela.

Gambar 1 Peta lokasi Curug Malela. Curug Malela berjarak sekitar 70 km arah barat daya dari Kota Bandung.

Gambar 2 Curug Malela di aliran Ci Curug. Gambar diambil dari anjungan foto di jalan setapak menuju Curug Malela.

METODE PENELITIAN
Makalah ini dibuat berdasarkan tinjauan terhadap beberapa data yang ada, diantaranya: Peta Geologi
Indonesia Lembar Sindangbarang dan Bandarwaru (Koesmono dkk, 1996), citra satelit ASTER tahun
2011, dan artikel-artikel yang dibuat oleh beberapa ahli kebumian mengenai Curug Malela. Selain itu
dilakukan observasi di lapangan.
Area penelitian dimulai dari area tiket Curug Malela hingga ke Curug Malela dan dari Curug Malela
hingga ke Curug Ngebul di aliran Ci Curug. Observasi yang dilakukan adalah observasi visual,
deskripsi, dan pengeplotan titik menggunakan GPS.

DATA DAN PEMBAHASAN


Geologi Regional
Menurut Koesmono dkk (1996), dalam Peta Geologi Lembar Sindangbarang dan Bandarwaru skala
1:100.000, daerah sekitar Curug Malela disusun oleh batuan dari paling tua ke muda adalah batuan
sedimen Formasi Cimandiri (Tmc), kemudian endapan tufan Anggota Sindangkerta Formasi
Cimandiri (Tmcs). Endapan ini telah mengalami pengangkatan, dan terkena tektonik yang cukup
intensif sehingga terlipat membentuk sinklin dan antiklin. Batuan ini kemudian secara tidak selaras
ditumpuk endapan volkanik Formasi Beser (Tmbe). Terakhir endapan ini ditutup oleh endapan
volkanik kuarter Gunungapi Kendeng (Ql) (Gambar 3).

Gambar 3 Peta geologi area sekitar Curug Malela. Curug Malela ditandai dengan simbol bintang. Warna merah
merupakan garis imajiner yang ditarik penulis sebagai interpretasi kemenerusan sumbu antiklin.

Beberapa hal menarik yang bisa diamati dari peta ini adalah tertutupnya sumbu antiklin pada Formasi
Cimandiri oleh endapan volkanik Formasi Beser (teramati pada peta di bagian barat laut dan timur
laut peta terdapat sumbu antiklin yang kemudian tertutup endapan Formasi Beser di Lembah Ci Curug
(Gambar 3)), kelurusan-kelurusan ekstrim pada Ci Sokan dan Ci Dadap, serta kehadiran fosil-fosil
moluska pada Formasi Cimandiri.

Geomorfologi
Analisis geomorfologi dilakukan pada peta skala 1:50.000 dengan cakupan area 4x8 km. Analisis
yang dilakukan adalah analisis pola kontur, aliran sungai, dan pola kelurusan. Dari hasil analisis ini
akan didapatkan gambaran mengenai kondisi geologi area Curug Malela dan sekitarnya,
Pola Kontur dan Aliran Sungai
Aliran sungai di daerah Malela dan sekitarnya berpola trellis yang dikontrol oleh perlipatan batuan. Di
bagian selatan, Cilangari, kita bisa mengamati jelas pola trellis dimana sungai utama mengalir searah
dengan jurus lapisan, sedangkan anak-anak sungai bermuara tegak lurus terhadap sungai utama dan
searah dengan kemiringan lapisan (Gambar 4A).

Gambar 4 (A) Pola aliran sungai di Curug Malela. Huruf T melambangkan


pola trellis, huruf R melambangkan pola rectangular. (B) Pola kemiringan
lapisan di sekitar Curug Malela. (C) pola kelurusan di sekitar Curug
Malela. Area peta merupakan area kotak kecil di peta A dan B.
Namun memasuki kawasan Desa Sindangjaya dimana batuan yang berada di kawasan ini memiliki
resistensi yang tinggi, pola aliran sungai lebih dikontrol oleh kekar dan rekahan, yaitu pola
rektangular. Hal ini karena pada batuan yang resisten, sungai relatif tidak berkembang dan aliran air
hanya mengikuti bidang-bidang lemah, dalam hal ini adalah pola kekar, rekahan, dan sesar. Sungai Ci
Dadap yang sebelumnya berkelok-kelok pun dipaksa mengalir lurus ketika berhadapan dengan batuan
resisten di Curug Malela. Boleh jadi pula pola aliran sungai ini terjadi karena lapisan sedimen di area
ini berlapis datar sehingga pola sungai hanya dikontrol oleh rekahan-rekahan saja.
Di bagian utara, Desa Cicadas, kita bisa melihat bahwa pola aliran trellis berkembang kembali. Hal ini
mencirikan bahwa litologi batuan relatif lebih lunak daripada di sekitar Curug Malela dan dikontrol
oleh perlipatan.
Berdasarkan analisis terhadap pola-pola kemiringan lapisan (scarp slope dan dip slope) bisa
diinterpretasikan bahwa di bagian utara, kemiringan relatif ke arah utara. Di bagian selatan pun
kemiringan relatif ke arah selatan. Semakin ke selatan pola perlipatan semakin intensif, diduga
terdapat sumbu lapisan sinklin (Gambar 4B).
Analisis geomorfologi ini mencoba menunjukkan bahwa di Ci Curug, terutama segmen Curug Malela
ke arah barat diinterpretasi merupakan suatu sumbu antiklin.

Pola Kelurusan
Secara umum terdapat dua jenis arah kelurusan, yaitu kelurusan berarah utara-selatan dan kelurusan
berarah timur-timur laut – barat-baratdaya. Pola-pola ini merupakan cerminan dari kondisi struktur
geologi yang membentuk wilayah ini. Pola yang berarah timur-timur laut – barat-baratdaya
kemungkinan besar merupakan pola yang mencerminkan jurus lapisan. Sedangkan pola berarah utara-
selatan merupakan pencerminan struktur geologi sesar maupun kekar. Aliran Ci Curug yang berarah
timur-barat kemungkinan besar merupakan bidang lemah puncak antiklin sehingga membentuk
lembah yang sangat terjal. Aliran ini dipotong oleh sesar-sesar yang berarah utara selatan
mengakibatkan pembentukan air terjun seperti di Curug Cikadu (Gambar 4C) selain juga
membelokkan aliran sungai hampir tegak lurus aliran sebelumnya.

Data dan Analisis Lapangan


Pengamatan dilakukan dengan melakukan penyusuran Sungai Ci Curug menuruni air terjun yang ada
dan kemudian melakukan pengeplotan titik GPS. Dilakukan pengamatan di beberapa air terjun, Curug
Malela, Curug Manglid, Curug Sumpel, Curug Cikadu, Curug Ngebul, dan Curug Palisir. Sketsa
aliran air terjun yang dilewati dapat dilihat pada: Gambar 5.

Gambar 4 Sketsa aliran Ci Curug melewati beberapa air terjun. Ilustrasi kemiringan lapisan
berdasarkan pengamatan sepanjang perjalanan lapisan relatif datar.
Batuan di Curug Malela dan sekitarnya merupakan batuan sedimen batupasir sedang – batupasir kasar
yang berlapis tipis hingga berlapis masif (Gambar 6). Batuannya berwarna gelap, keras, seringkali
orang terkecoh menduga lapisan ini merupakan endapan volkanik. Namun jika kita menelusuri lebih
ke hilir kita akan temukan perlapisan-perlapisan datar yang menujukkan ciri-ciri batupasir. Lapisan ini
relatif datar diduga karena pada aliran Ci Curug ini merupakan sumbu antiklin.

Gambar 5 Singkapan lapisan datar di sekitar Curug Malela

Ketebalan batupasir bervariasi mulai dari 5 cm hingga 10 meter. Pada lapisan-lapisan batupasir yang
tebal dan masif umumnya menjadi air terjun yang besar. Di Curug Malela, air terjun yang paling besar
di antara semua curug, air terjun terbentuk dari beberapa lapisan tebal batupasir yang saling
bertumpuk (amalgam) (Gambar 7).
Gambar 6 Curug Malela. Terlihat lapisan-lapisan datar yang tebal menyusun Curug Malela

Pada bagian Ci Curug yang tidak berjeram, kemungkinan besar merupakan batupasir yang relatif
lunak sehingga lapisannya cenderung datar, agak berjeram-jeram. Jika lapisan di bawahnya adalah
lapisan yang kasar dan tebal (Gambar 8), atau dipengaruhi oleh sesar, maka bisa terbentuk air terjun.
Secara fisiografi, Pannekoek (1946, dalam van Bemmelen 1949) telah mendeskripsi area Rongga
sebagai sebuah plato, yaitu Plato Rongga.

Gambar 7 Ilustrasi pembentukan air terjun pada lapisan datar.

Plato dalam geologi adalah dataran tinggi yang disusun oleh lapisan datar dan biasanya dibatasi oleh
lereng-lereng yang terjal. Dalam suatu plato atau pada lapisan-lapisan yang datar, sangat wajar hadir
air terjun karena perbedaan resistensi antar lapisannya. Aliran sungai menggerus lapisan yang lebih
lunak di bagian bawah, lapisan lunak tererosi ke dalam, lapisan di atasnya kemudian ikut ambruk
seiring dengan tererosinya lapisan di bagian bawahnya (Gambar 8).
Di Curug Cikadu, pembentukan air terjun terjadi karena adanya sesar. Hal ini dicirikan dengan lapisan
tegak yang berada di dinding air terjun. Hal ini berbeda dengan lapisan di sekitarnya yang datar. Sesar
ini membentuk air terjun yang cukup tinggi, >40 meter (Gambar 9). Di bagian hilir dari Curug
Cikadu, kita akan jumpai struktur tangga yang juga merupakan penciri keberadaan sesar.
Gambar 8 Lapisan tegak di Curug Cikadu

Menurut Koesmono dkk (1996), area Curug Malela masuk ke dalam Formasi Beser, yaitu endapan
volkanik berumur pliosen (sekitar 4 juta tahun lalu). Endapannya terutama batuan breksi andesit,
breksi tuf, tuf, dan batulempung. Lapisan batupasir yang berada di Ci Curug diduga merupakan
batupasir Formasi Saguling yang jauh lebih tua (Miosen Tengah atau sekitar 15 juta tahun yang lalu),
ini merupakan pendugaan karena batuan yang lebih tua dari Formasi Cimandiri adalah batuan Formasi
Saguling (Sudjatmiko, 1972, Martodjojo, 1984). Penyetaraan ini disesuaikan dengan ciri litologi
batupasir, yaitu batupasir sedang-kasar yang berlapis tebal yang diduga bersifat turbiditik.
Selain itu pendugaan bahwa batuan ini merupakan Formasi Saguling didasarkan pada interpretasi
kemiringan lapisan di bagian selatan yang cenderung miring ke selatan dan bagian utara yang
cenderung miring ke utara, dan di bagian tengahnya diinterpretasi sebagai sumbu antiklin. Dalam
petanya, sebenarnya Koesmono dkk (1996) menarik sumbu antiklin yang kemudian terpotong oleh
Formasi Beser. Jika dibuat penampang utara-selatan melewati Curug Malela, kita akan kebingungan
karena elevasi Curug Malela berada di bawah elevasi batas litologi antara Formasi Cimandiri dengan
Formasi Beser (Gambar 3).
Penulis mengusulkan untuk lokasi Curug Malela, Formasi Beser ini diganti dengan Formasi Saguling.
Tentu diperlukan pemetaan lebih lanjut untuk membuktikan pendapat ini, namun data-data yang telah
dikemukakan dirasa cukup sebagai hipotesis untuk melakukan penelitian tentang stratigrafi formasi
penyusun batuan di Curug Malela.
Sangat menarik apabila dilakukan pemetaan lebih lanjut mengenai kondisi struktur dan persebaran
litologi di sekitar Curug Malela karena lokasi ini menyingkapkan singkapan-singkapan yang sangat
baik.

Kesimpulan
Curug Malela di Kecamatan Rongga menyingkapkan singkapan air terjun yang sangat menarik baik
secara pariwisata maupun secara geologi. Literatur saat ini menyebutkan bahwa batuan di Curug
Malela dan sekitarnya disusun oleh endapan volkanik Formasi Beser yang berumur Miosen atas
hingga Pliosen. Berdasarkan pengamatan beberapa singkapan di sepanjang aliran Ci Curug dan
analisis geomorfologi mengindikasikan bahwa boleh jadi batuan yang tersingkap merupakan batuan
yang jauh lebih tua dari Formasi Beser, bahkan lebih tua dari Formasi Cimandiri, yaitu endapan
sedimen Formasi Saguling yang berumur Miosen Tengah.
Sangat menarik apabila dilakukan pemetaan yang mendetail di area Curug Malela dan sekitarnya
mengingat area ini kini mulai banyak dikunjungi dan juga menjadi area geowisata sehingga
dibutuhkan data geologi yang lebih terperinci.

Daftar Pustaka
Koesmono, M., Kusnama, dan Suwarna, N., 1996. Peta Geologi Lembar Sindangbarang dan
Bandarwaru, Jawa skala 1:100.000 edisi ke-2. Puslitbang Geologi, Bandung.
Martodjojo, S., 1984. Evolusi Cekungan Bogor, Jawa Barat. Disertasi Program Doktor Institut
Teknologi Bandung.
Peta Rupa Bumi Digital Indonesia Skala 1:25.000 Lembar 1208:534 Sukanagara. Edisi:I-1999
Soejatmiko. 1972. Peta Geologi Lembar Cianjur skala 1:100.000. Puslitbang Geologi. Bandung
USGS, and Japan ASTER Program. 2011. ASTGDEMV2_0S07E107. 1B. USGS, Sioux Falls,
11/03/2016
Van Bemmelen, R.W. 1949. The Geology of Indonesia vol 1A.. Martinus Nijhof, The Hague, The
Netherland