Anda di halaman 1dari 4

"Apakah kamu tidak mempunyai attitude Iren Asana?

" Bu
Wendah berkata meremehkan.

"Attitude? Tolong ajari Saya dong Bu pelakor," kata Iren datar.

"Kurang ajar Kamu juling! Kamu bukan siapa-siapa di sekolah ini.


Kamu juga cuman anak dungu," Bu Wendah berseru kasar
kepada Iren.

"Well,apa salah Saya selalu diseru Juling sama orang lain? Ada
apa dengan mata juling Saya? "

"Karna itu salah satu cacat pada diri Kamu! Satu hal lagi, Saya
bukan pelakor b****ang!" teriak Bu Wendah.

Iren hanya diam. Tidak membalas.

"Nih buat lo An**ng," Iren tersenyum lebar, terlihat mengerikan.

DIA MELEMPARKAN BANGKAI TIKUS PADA GURUNYA.


Satu informasi, Iren selalu membawa bangkai tikus di dalam
tempat pensil yang selalu dia bawa kemana mana.
"KAMU AKAN SAYA LAPORKAN PADA KEPALA SEKOLAH," Bu
Wendah berteriak seraya menunjuk wajah Iren.

...

"Huft," Iren menghela napas.

Crat....
Crat....
Crat...

Sedari tadi Iren berkutat dengan 'candunya'. Darah merembes


kemana mana.

Tangannya sibuk mengiris lembut bola mata kucing yang


menjadi kelinci percobaannya.

Wajahnya dihiasi senyum kecil. Ini sudah menjadi ke-15 kalinya


dia melakukan candunya. Dia sangat menyukai hobinya.
Disaat anak anak remaja pada umumnya sibuk berkutat dengan
handphonenya, dia mungkin anak yang aneh dari remaja
seusianya. Bermain main dengan hewan itulah definisi me time
dari seorang Iren.

Biasanya, darah dari hewan hewan tersebut dia simpan dalam


gelas kaca dan dipajang di ruang tamu rumahnya.

Tapi, kali ini memang istimewa. Karena dia akan merencanakan


menyimpan darh itu dalam perut seseorang.

Iren kamu tahu? Perbuatanmu itu sudah termasuk dosa besar.


Jika ada orang lain yang melihatmu, dia bisa menjeratmu di
penjara.

Menjerat? Kenapa harus takut dengan dia, Iren? Jangan jadi


orang lemah Iren. Kamu hidup sendiri, kamu bisa melakukan
apapun sesukamu.