Anda di halaman 1dari 3

Dalam mewujudkan Bandung Kota Ramah Anak, Pemerintah Kota Bandung melalui Dinas

Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Masyarakat (DP3APM)


membentuk Forum Komunikasi Anak Se-Kecamatan. Forum ini merupakan wadah, media
atau pranata yang menunjang partisipasi anak yang belum berusia 18 tahun, yang dikelola
oleh anak dan dibina oleh Pemerintah.

Peserta forum anak ini terdiri dari Forum Komunikasi Anak Kota Bandung dan beberapa
perwakilan dari kecamatan.

“Forum anak diperlukan karena suara, aspirasi dan kepentingan anak perlu menjadi
pertimbangan dalam pemgambilan keputusan dan merupakan bagian yang terpisahkan dalam
pembangunan nasional,” ujar Kepala Seksi Penguatan Kelembagaan Organisasi Anak Pada
Bidang Perlindungan dan Pemenuhan Hak Anak, Christine Hartini di Aula Dinas
Perpustakaan dan Arsip Kota Bandung, Jalan Seram, Rabu (20/2).

Lihat Juga: Korban Tewas Kecelakaan Bus di Tol Cipularang Bertambah jadi 7 Orang

Christine mengatakan, hal tersebut penting karena 35 persen penduduk Indonesia adalah
anak-anak. Sehingga Pemkot Bandung wajib merespon aspirasi anak dengan sungguh-
sungguh dan proporsional dalam proses pembangunan.

I k l a n

Sejak DP3APM berdiri pada 2017, Kota Bandung sudah mendapat predikat madya untuk
Kota Ramah Anak. Peningkatan kemudian terjadi pada tahun 2018, predikat Kota Ramah
anak untuk Bandung naik menjadi Nindya.

“Kita berusaha untuk tahun 2019 ini predikatnya bisa naik ke Utama,” ujar Christine.

Setelah pembentukan forum anak kecamatan ini, ke depannya forum anak akan dikerucutkan
sampai tingkat kelurahan.

Lihat Juga: Proyek LRT Masuk Revisi RTRW dan RDTR Cimahi.

“Karena bagian dari kota layak anak itu adalah aspirasi, apresiasi serta prestasi dari anak di
kota tersebut,” tuturnya.

Sementara itu, Iip Syarifudin yang mewakili Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan
Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Masyarakat (DP3APM) berharap forum ini bisa men-
jadi forum komunikatif yang menjadikan anak sebagai pelopor.
forum anak yang merupakan wadah bagi anak-anak yang belum berusia 18 tahun. Forum anak ini sebagai
media untuk mendengar dan memenuhi aspirasi, keinginan, kebutuhan anak dalam proses pembangunan.

“Pemerintah Daerah berkomitmen membangun daerah ini menjadi wilayah yang ramah kepada anak. Harapan
kami kiranya hal ini menjadi komitmen kita bersama dan komitmen semua pihak dengan tujuan untuk
meningkatkan kualitas hidup masyarakat Nias Selatan melalui program pembentukan wilayah ramah anak baik di
tingkat Kabupaten, di tingkat Kecamatan, bahkan sampai pada tingkat pedesaan,” tuturnya.
Pada acara tersebut, Wakil Bupati Nias Selatan dengan resmi mengukuhkan Forum Anak Nias Selatan
(Fansel) periode 2017-2018.
Ia mengatakan melalui Forum Anak Nias Selatan yang telah dikukuhkan agar dapat menciptakan program atau
kegiatan yang mendukung program pemerintah.
Sozanolo berpesan kepada anak-anak agar menjauhkan diri dari kenakalan remaja, pergaulan bebas, narkotika
dan obat-obat terlarang, karena hal itu akan merusak moral dan kematangan individu serta struktur kepribadian
seorang anak sebagai generasi bangsa dan negara.
Sebelumnya, dalam memeriahkan peringatan Hari Anak Nasional tersebut telah dilaksanakan
berbagai kegiatan, diantaranya lomba mewarnai anak kategori PAUD dan lomba menulis surat anak
SD dan SMP

Kementerian PP dan PA telah mendesain dan mensosialisasikan sebuah sistem dan


strategi pemenuhan hak-hak anak yang holistic, terintegrasi dan berkelanjutan
dengan mengembangkan kebijakan Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA). Kebijakan
KLA bertujuan untuk mensinergikan sumber daya pemerintah, masyarakat san dunia
usaha sehingga pemenuhan hak-hak anak Indonesia dapat lebih pastikan.
Kebijakan ini merupakan implementasi dari tindak lanjut komitmen dunia
melalui "World Fit for Children", dimana Pemerintah Indonesia juga turut
mengadopsikannya.

Indikator KLA 2017 mengalami perubahan dari 31 indikator menjadi 24 indikator


yang didasarkan pada substansi hak-hak anak yang dikelompokan kedalam 5 (lima)
kluster pemenuhan hak-hak anak dalam Konvensi Hak Anak (KHA) yaitu:

1. Hak sipil dan kebebasan;


2. Lingkungan Keluarga dan pengasuhan alternatif;
3. Kesehatan dasar dan kesejahteraan;
4. Pendidikan, pemanfaatan waktu ulang dan kegiatan seni budaya;
5. Perlindungan khusus.

Point terpenting dari proses pengembangan KLA, yaitu adanya Komitnen dari
Kepala daerah untuk mewujudkan pemenuhan hak-hak anak dengan dukungan oleh
pemangku kebijakan di kecamatan dan kelurahan, serta koordinasi do antara
para stakeholder pemenuhan hak-hak anak dan pemangku kebijakan yang
dilakukan secara berkesinambungan dan berkelanjutan akan mempercepat
terwujudnya Kota Layak Anak. Komitmen Pemerintah Kota Semarang dalam upaya
mewujudkan Kota Layak Anak salah satunya dengan diterbitkan kebijakan
berbentuknya Peraturan Walikota Semarang Nomor 20 Tahun 2010 tentang
Kebijakan Kota Layak Anak dengan pendekatan Kelurahan Ramah Anak, Dalam
perwal sudah di atur tentang bagaimana langkah-langkah Pemerintah Kota
Semarang dalam mewujudkan Kota Layak Anak, salah satunya dengan membentuk
Kecamatan dan Kelurahan Layak Anak. Saat ini Pemerintah Kota Semarang telah
membentuk 35 Kelurahan Layak Anak, dan terus berupaya untuk mewujudkan
Kelurahan Layak Anak di seluruh Kelurahan se Kota Semarang, sehingga 177
Kelurahan Kota Semarang menjadi Ramah Anak.

Berdasarkan latar belakang uraiaan diatas, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan


Perlindungan Anak Kota Semarang menyelenggarakan kegiatan "Pembentukan
Gugus Tugas Kecamatan dan Kelurahan Layak Anak Tahun 2019" yang
dilaksanakan pada: