Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG.

Pembangunan kesehatan di Indonesia bertujuan untuk meningkatkan derajat


kesehatan masyarakat. Upaya – upaya pembangunan kesehatan diarahkan pada upaya
menurunkan angka kematian dan angka kesakitan serta meningkatkan usia harapan
hidup masyarakat.(Depkes,2014).

Keberhasilan pembangunan kesehatan mengalami ancaman serius dengan


berkembangnya berbagai penyakit menular yang mematikan dan belum ada obatnya,
salah satu penyakit menular berbahaya tersebut adalah penyakit Human immuno
Deficiency Virus / Acquired immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS). Penyakit ini
disebabkan oleh sejenis virus Humman Immunodeficiency Virus yang menyerang
system kekebalan tubuh sehingga penderita mudah sekali terkena infeksi yang
menimbulkan kematian (Sustiwi,2011)

Human immuno Deficiency Virus (HIV) adalah virus golongan Rubonucleat Acid
(RNA) yang spesifik menyerang system kekebalan tubuh / imunitas manusia dan
menyebabkan Acquired immune Deficiency Syndrome (AIDS). HIV positif adalah
orang yang telah terinfeksi virus HIV dan tubuh telah membentuk antibody (zat anti)
terhadap virus. Mereka berpotensi sebagai sumber penularan bagi orang lain.
Pennyakit AIDS (Acquired immune Deficiency Syndrome / Sindroma Defisiensi Imun
Akut /SIDA) adalah kumpulan gejalah klinis akibat penurunan system imun yang
timbul akibat infeksi HIV. Penyakit ini sering bermanifesasi dengan munculnya
berbagai penyakit infeksi oportunitis, keganasan, gangguan metabolisme lainya.
(Modul PMTCT DepKes RI, 2008).

Pada tahun 2011 organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun mencatat bahwa
jumlah penderita HIV/ AIDS di seluruh dunia meningkat jumlahnya hingga mencapai
5,2 juta jiwa. Padahal pada tahun 2010 hanya 1,2 juta jiwa (Kampung TKI,2011). Di
Indonesia sendiri, secara akumulatif mulai dari bulan April 1987 hingga September
2010 jumlah penderita HIV/AIDS telah mencapai 22.726 kasus dengan angka
kematian 4.249 orang. Pada tahun 2010 penderita HIV ada 15.275 dan AIDS
sejumlah 4.158. (Pencegahan HIV/AIDS, 2011).

Peningkatan jumlah kasus HIV/AIDS di Jawa Timur pun menjadi sangat


pesat.sejak tahun 1989 – September 2015 kasus HIV/AIDS sebanyak 6.165 dan yang
terbanyak menyerang pada usia produktif yaitu pada usia 20-29 tahun sebanyak 2901
orang dan pada usia 30-39 tahun sebanyak 2193 orang, bayi sebanyak 55 bayi, pada
balita sebanyak 158 balita dan pada ibu rumah tangga sebanyak 801 orang (KPA jawa
Barat,2015).

Berdasarkan data terbaru, kejadian penularan infeksi HIV di Indonesia terbanyak


mulai hubungan seksual dengan orang yang terinfeksi tanpa menggunakan
kondom.,diikuti oleh pengunaan alat suntik yang tercemar darah yang mengandung
HIV (karena menggunakan alat suntik secara bersama di antara para pengguna
Napza suntikan ) dan ditularkan oleh ibu pengidap HIV kepada anaknya, baik selama
kehamilan, persalinan atau selama menyusui. Cara penularan lain melalui transfusi
darah yang tercemar, alat tusuk dan peralatan lainya (tato, dan lain-lain) dan adanya
infeksi menular seksual seperti sifilis. Berdasarkan hal tersebut, salah satu penularan
HIV yang paling beresiko tinggi adalah penularan melalui ibu hamil (ibu pengidap
HIV pada anaknya ).

Departem Kesehatan RI memperkirakan bahwa di Indonesia setiap tahun


terdapat 9000 ibu hamil positif HIV yang melahirkan bayi, berarti akan lahir sekitar
3000 bayi dengan HIV positif tiap tahun. Ini akn terjadi jika tidak ada
intervensi.Resiko penularan HIV dari ibu ke bayi berkisar 24-25 %.Namun, resiko
ini dapat di turunkan 1-2 % dengan tindkan intervensi bagi ibu hamil HIV positif,
yaitu melalui layanan konseling dan tes HIV sukarela, obat antiretroviral, persalinan
section casaria, serta pemberian susu formula untuk bayi (Depkes RI,2008).

Dengan kondisi tersebut, maka perlu dilakukan pencegahan perluasan transmisi


HIV ke dalam keluarga melalui deteksi dini kasus HIV dalam keluarga melalui
konseling dan tes HIV (KTHIV). Deteksi dini ibu hamil yang terinfeksi HIV/ AIDS
dapat dilakukan pada saat pertama kali mereka memeriksakan kehamilanya atau ANC
(antenatal care). Puskesmas Dampit dijadikan sebagai salah satu tempat/ lokasi
duntuk dilakukanya pelayanan Konseling dan Tes HIV yang merupakan salah satu
program Dinas Kesehatan dalam PMTCT (Prevention Mother To ChildnTransmision
).

Menurut hasil survey pendahuluan di Puskesms Dampit kasus HIV di Puskesmas


Dampit dari tahun 2004 sampai dengan 2016 sebanyak 16 kasus, Orang diantaranya
balita, 6 orang ibu rumah tangga dan 1 orang LSL, di Puskesmas DAmpit sudah
sering dilakukan kegiatan VCT pada ibu hamil. Pada tahun 2016 dilakukan sebanyak
2 kali yaitu pada bulan April 2016 dilakukan mobile VCT dengan jumlah pesertanya
20 ibu hamil dari 103 orang dan pada bulan Oktober 2016 yang mengikuti 24 ibu
hamil dari 100 orang, ini menunjukan ada peningkatan jumlah peserta tapi yang
mengikuti hanya sebagian kecil saja, walaupun hasilnya semua negatif.

Dalam pelaksanaanya kegiatan HIV/AIDS di UPT Puskesmas Dampit berperan


stategis mendukung peningkatan tercapainya target lintas program dan diharapkan
berdampak pada peningkatan kinerja Puskesmas. Kegiatan HIV/AIDS dilakukan
sesuai visi, Puskesmas yaitu “Terwujudnya masyarakat di Wilayah kerja Puskesmas
Dampit yang Sehat, berkeadilan dan mandiri”. Juga dilakukan dengan
membudayakan tata nilai UPT Puskesmas Dampit yang CERIA.

1. Cerdas dan cermat : Melaksanakan pekerjaan sesuai dengan pengetahuan dan


kopetensinya sehingga bisa memberikan pelayanan yang terbaik kepada
pelanggan.

2. Edukatif : Memiliki kemampuan untuk mendidik yang dilakukan baik secara


formal maupun non formal kepada seseorang atau lebih dari satu orang
dilakukan secara individu atau bersama-sama.
3. Ramah : Memiliki sikap yang sopan dan sntun kepada seluruh masyarakat atau
pelanggan Puskesmas dan rekan kerja.

4. Inisiatif dan Inovatif : Memiliki kemampuan untuk bekerja mandiri dengan


ide-ide kreatif serta member terobosan bagi peningkatan pelayanan kesehatan.

5. Akuntabel : Memberikan pelayanan kesehatan sesuai pedoman dan standart


pelayanan yang ditetapkan, dapat diukur dan dipertanggung jawabkan.

Program HIV/ AIDS secara umum di tunjukan untuk meningkatkan


pemberdayaan masyarakat terhadap kesehatan masyarakat, sehingga terwuju
kesehatan masyarakat yang optimal.

Pedoman Pelaksanaan Kegiatan HIV/AIDS UPTD Puskesmas DAmpit


diharapkan menjadi acuan bagi pelaksana HIV/AIDS dalam melaksanakan tugas dan
fungsinya di lingkungan wilayah kerja UPT Puskesmas Dampit.

B. TUJUAN PEDOMAN

1. Tujuan Umum :

Tersedianya acuan dalam melaksanakan pelayanan HIV/AIDS di Puskesmas


dan jejaringnya.

2. Tujuan Khusus :

a. Tersedianya acuan untuk melaksanakan pelayanan HIV/AIDS, peran dn


fungsi ketenagaan, sarana dan prasarana di Puskesmas dan jejaringnya.

b. Tersedianya acuan untuk melaksanakan pelayanan HIV/AIDS yang bermutu


di Puskesmas dan jejaringnya.

c. Tersedianya acuan bagi tenaga HIV/AIDS Puskesmas untuk bekerja secara


professional memberikan pelayanan yang bermutu kepada pasien/ klien di
Puskesmas dan jejaringnya.

d. Tersedianya acyan monitoring dan evaluasi pelayanan HIV/AIDS di


Puskesmas dan jejaringnya.

C. SASARAN PEDOMAN

1. Tenaga HIV/AIDS Puskesmas dan tenaga kesehatan lainya di Puskesmas.

2. Pengelol program kesehatan dan lintas sector terkait.

D. RUANG LINGKUP

1. Kebijakan Program HIV/AIDS di Puskesmas baik didalam gedung dan di luar


gedung.

2. Pencatatan dan pelaporan.


3. Monitoring dan Evaluasi.