Anda di halaman 1dari 33

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A.Gigi
Mulut terdiri dari bibir atas dan bawah, gusi, lidah, pipi bagian dalam, langit-langit dan gigi. Lapisan
gusi, pipi dan langit - langit selalu basah berlendir oleh karena itu disebut selaput lendir. Gigi
merupakan salah satu organ pengunyah yang terdiri dari gigi - gigi pada rahang atas dan bawah, lidah
serta saluran – saluran penghasil air ludah. Gigi dapat dibagi atas 3 bagian yaitu mahkota gigi, akar
gigi dan leher gigi. Mahkota gigi mempunyai bentuk yang berbeda - beda. Gigi - gigi yang di depan
terdapat di belakang bibir, mempunyai pinggiran yang lebar dan tajam,bentuknya seperti pahat. Gigi
gigi yan terletak di bagian dalam dari mulutmempunyai bentuk yang agak silindris dengan permukaan
lebar. Silindris adalah gigi yang berbentuk seperti kerucut dengan puncak yang lincip dan kokoh. Gigi
tersebut terletak di belakang sudut mulut. Gigi terdiri atas dua macam jaringan, yaitu : Jaringan keras
dan jaringan lunak. Jaringan keras adalah email dan semen, sedangkan jaringan lunak di bagian
tengah. Lapisan email merupakan lapisan luar yang menutupi mahkota gigi.Lapisan ini sangat keras
dan fungsinya adalah untuk melindungi gigi terhadap rangsangan dari luar seperti panas, dingin,
asam, dan manis. Lapisan semen adalah lapisan luar yang menutupi akar gigi. Lapisan ini tak sekeras
lapisan email, dan fungsinya adalah membantu mengikat akar gigi kepada tulang rahang. Lapisan
dentin adalah lapisan yang terletak di bawah lapisan email dan lapisan semen. Bagian terbesar darigigi
terbentukoleh dentin. Lapisan dentin tidaklah sekeras email, banyak mengandung sel - sel yang
pekaterhadap rangsangan panas,dingin, manis dan asam. Bagian tengah dari gigi adalah sebuah
rongga yang disebut rongga pulpa. Di dalam rongga pulpa terdapa jaringan saraf, pem
buluh darah yang halus dan bermacam - macam sel. Gigi mempunyai 3 fungsi, yaitu : untuk
mengunyah makanan, berbicara dengan jelas, dan mendorong pertumbuhan rahang
sehingga bentuk muka menjadi selaras8
.
Dengan perawatan yang baik kita akan dapat mencegah penyakit gigi dan mulut, yaitu dengan me
mbersihkan gigi dan mulut dari sisa - sisa makanan yang biasanya tertinggal diantara gigi. Mulut
sebenarnya sudah mempunyai sistem pembersihan sendiri yaitu air ludah, tapi dengan makanan
modern kita sekarang,pembersih alami ini tidak lagi dapat berfungsi dengan baik. Kita juga harus
menggunakan sikat gigi sebagai alat pembantu untuk membersihkan gigi dan mulut. Telah dibuktikan
bahwa gigi yang bersih sedikit sekali kemungkinannya untuk terserang karies gigi. 9
Selain itu, banyak bakteri dalam mulut yang menyangkut di sela – sela gigi.Bila sikat gigi tidak bisa
membersihkan dengan baik, dianjurkan menggunakan benang gigi (dental floss) beberapa kali sehari.
Penggunaan benang gigi atau pita gigi merupakan metode pilihan untuk membersihkan permukaan
interproksimal. Tidak dijumpai perbedaan kemampuan membersihkan dengan menggunakan benang
yang dilapisi malam dan yang tidak, walaupun benang yang tidak dilapisi malam cenderung mudah
terkoyak10. Pembersihan plak secara mekanis dan sisa – sisa makanan dari permukaan gigi dengan
menyikat gigi serta menggunakan benang gigi merupakan metode utama dalam pencegahan karies.
Menggosok gigi dan mempergunakan benang gigi dapat menghilangkan plak yang bermuatan bakteri
– bakteri, sehingga jumlah mikroorganisme mulut menurun serta membuka permukaan gigi bagi
komponen – komponen air liur yang dapat memineralisasi kembali gigi.
B. Menggosok Gigi
Menggosok gigi adalah cara yang umum dianjurkan untuk membersihkan berbagai kotoran yang me
lekat pada permukaan gigi dan gusi. Lama menggosokgigi tidak ditentukan, tetapi biasanya
dianjurkan maksimal 5 menit (minimal 2menit), yang penting dilakukan secara sistematis supaya
tidak ada bagian - bagian yang terlampaui. Cara yang dianjurkan mulai dari posterior ke anterior pada
sisi – sisi rahang bawah dan rahang atas, dan berakhir pada posterior sisi lain6. Sedangkan tujuan me
nggosok gigi adalah membersihkan mulut dari sisa - sisa m

a
kanan agar ferm
entasi sisa m
a
kanan
tidak berlangsung te
rlalu lam
a
, sehingga
kerusakan gigi dapat terhindari.
1.
Frekuensi m
e
nggosok gigi
Makanan yang m
e
ne
m
p
el pada gigi
,
seperti perm
en me
m
e
rlukan waktu
relatif lam
a
untuk m
e
mbersihkan.
Selam
a
waktu inilah, yaitu segera sesudah
m
a
kan, sebagian besar kerusakan gigi te
rjadi b
a
kteri. Mak
a
waktu yang ideal
untuk m
e
ng
gosok gigi segera se
telah m
a
kan dan m
i
nu
m
.
Para ahli berpendapat bahwa dalam
m
e
nggosok gigi 2 kali sehari sudah cukup,
karena pem
b
ersihan sisa m
a
kanan ka
dang - kadang tidak sem
purna, dan ada
kem
ungkina
n bahwa bila ada yang terlewat
pada pagi hari, pada waktu m
a
la
m
hari dapat dibersihkan. Waktu terpen
ting m
e
nggosok gigi adalah yang terakhir
m
a
la
m
hari sebelum
tidur, karena aliran
ludah tidak seaktif siang hari dim
a
na
bakteri berkem
bang biak dari sisa m
a
kanan, m
e
nggosok
gigi pertam
a kali
dilakukan pagi hari karena ba
kteri berkum
pul dalam
mulut
11
. Frekuensi
m
e
nggosok
gigi sebaiknya dibersihkan
3 kali dalam
sehari, setiap sesudah
m
a
kan, dan
sebelum
tidur m
a
la
m
.
Dalam
praktek anjuran tersebut tidak selalu
dapat dilakukan, terutam
a
bila di
siang hari seseorang m
e
mpunyai kesibukan
dalam
pekerjaan.
2.
Cara m
e
ngg
osok gigi
Sewaktu m
e
nggosok gigi harus diin
gat bahwa sebaiknya arah penyikatan
adalah dari gusi ke permukaan gigi, de
ngan tujuan selain m
e
mbersihkan gigi,
juga dapat dilakukan suatu pengur
utan yang baik terhadap gusi
9
.
Sebelum
da
n pada wak
t
um
e
nggosok gigi terdapat beberapa hal yang
biasanya dilakukan. H
a
l ini dilakukan agar da
pat lebih m
udah dalam
m
e
mbersihkan gigi, yaitu :
a.
m
e
mbasahi sikat gigi sebelum
diberi pasta gigi
b.
berkum
ur dan m
e
laksanakan penyika
tan sam
p
ai pasta gigi berbuih
12
.
Dalam
m
e
la
ksanakan gosok gigi yang optim
al perlu diperhatikan faktor-
faktor sebagai berikut :
a.
Teknik penyikatan harus dapat m
e
m
b
ersihkan semua perm
uk
aan gigi
b.
Gerakan sikat gigi tidak boleh m
e
lukai jaringan lunak m
a
up
un jaringan
keras
c.
Teknik penyikatan harus sederhana dan m
udah di
pelajari
d.
Teknik harus tersusun dengan baik,
sehingga setiap bagian gigi dapat
disikat bergantian dan tidak
ada daerah yang terlewatkan
12
.
Berikut ini prinsip – prinsip dalam
menggosok gigi :
a.
Pegangan sikat harus dipegang dengan
kuat tetapi jangan terlalu kuat
karena akan m
e
lelahkan tangan dan pergelangan tangan
b.
Hindari pandangan ke bawah bidang
c.
Metode m
e
nyikat gigi yang benar harus dianjurkan tergantung
pertum
buhan gigi dan keadaan gusi
d.
Dianjurkan untuk menggunakan jeni
s sikat gigi yang lem
but,
pertengahan atau keras (sikat gigi yang lem
but b
u
lunya berdiam
e
ter 0,2
mm, pertengahan 0,3 mm dan keras 0,4 mm
), tergantung keadaan gusi
e.
Keefektifan dalam m
e
nyikat gigi j
uga tergantung pada sikat. Ketika
bulu tidak
efektif untuk m
e
m
b
ersihka
n, sikat harus diganti. W
a
rn
a
penunjuk bulu sikat gigi dianjurkan
yang dapat berubah warna, jadi
apabila bulu
sikat sudah
tidak
efektif
lagi m
a
ka warna bulu sikat akan
berubah warna
13
.
Menurut Depkes RI (1996), cara m
e
nggos
ok gigi adalah sebagai berikut :
a.
Pada perm
u
k
aan labial sikat gigi
digerakkan
dengan gerakan m
a
ju
mundur yang pendek. A
r
tinya sikat gi
gi digerak – gerakkan di tem
p
at.
Gosok terlebih dahulu gigi – gi
gi yang terletak di belakang.
b.
Sesudah itu, barulah sikat gigi di
pindahkan ke tem
p
at
berikutnya,
kem
udian g
o
soklah gigi depan.
c.
Pada gigi perm
ukaan dekat lidah, go
sok dahulu gigi - gigi yang terletak
di belakang,
kem
udian d
ilanjutkan bagian depan.
d.
Pada perm
u
k
aan dataran pe
ngunyahan dari gigi - gigi
e.
Rahang atas m
a
upun rahang bawah digosok dengan gerakan m
a
ju
mundur
14
. Cara ini m
e
rupakan cara yang dianjurkan, karena m
e
nyikat
giginya dilakukan berulang - ulang pa
da satu tem
p
at dahulu sebelum
pindah ke tempat lain
.
7
Sedangkan m
e
nurut Aziz (2004), cara
m
e
nggosok gigi adalah sebagai
berikut :
a.
Bersihkan perm
ukaan d
a
lam
dan lu
ar
dari gigi bagian atas dengan
gerakan m
e
mutar ke bawah
b.
Bersihkan perm
ukaan dalam
dan luar
dari gigi bagian bawah dengan
gerakan m
e
mutar ke atas
c.
Tekan dan putar sikat dengan le
mbut pada gusi guna m
e
l
a
kukan
pem
ijatan pada gusi
d.
Bersihkan perm
ukaan gigi depan ba
gian dalam
dengan gerakan dari
dalam
keluar
e.
Bersihkan perm
ukaan gigi geraha
m
bagian atas dan bawah yang
digunakan untuk m
e
ngu
nyah dengan gera
kan dari belakang ke depan
lalu dari dalam
keluar dan dari luar ke dalam
13
.
Beberapa cara m
e
nggos
ok gigi yang lain :
a. Teknik vertikal
Untuk m
e
n
y
ikat bagian depan gigi
kedua rahang tertutup lalu disikat
dengan gerakan ke atas dan ke bawa
h. Untuk permukaan gigi belakang,
gerakan yang dilakukan mulut dalam
keadaan terbuka.
b. Teknik horizontal
Se
m
u
a permukaan gigi disikat dengan
gerakan ke kiri dan ke kanan
.
Kedua cara tersebut cukup sederhana, tetapi tidak begitu baik
digunakan karena dapat m
e
ngakibatkan turunnya gusi.
c. Teknik bebas
Bulu sikat diletakkan dengan posisi m
e
ngarah ke arah gigi, sehingga
sebagian bulu sikat m
e
nekan
g
u
si. Ujung bulu sikat digerakkan
perlahan - lahan sehingga kepala
sikat bergerak m
e
m
b
entu
k
lengkungan
m
e
lalui perm
ukaan g
i
gi. Cara penyikatan ini terutama
bertujuan untuk pem
ijatan gusi, supa
ya kotoran dapat keluar,
dan untuk
pem
b
ersihan daerah sela - sela gigi.
Setiap kali sesudah dipakai, sikat gi
gi harus dibersihkan di bawah air
m
e
ngalir supaya tidak ada sisa - si
sa m
a
kanan atau pasta gigi yang
tertinggal. Setelah bersih sikat gigi
di letakkan dalam
posisi berdiri supaya
lekas kering. Sikat gigi yang keri
ng lebih baik dalam m
e
mbersihkan
jaringan gusi daripada sikat gigi yang lem
b
ab da
n basah, selain itu sikat gigi
yang kering lebih bersih dan lebi
h sedikit bakteri yang dapat hidup
15
.
3.
Bentuk sikat gigi
Alat - alat yang digunakan untuk
m
e
mbersihkan gigi adalah :
a.
Sikat gigi
Sikat gigi terdiri dari gagang da
n serabut yang disusun sedem
i
kian
rupa sehingga m
e
m
pun
yai daya pemb
ersih den
g
an keadaan
m
u
lut, tanp
a
m
e
ni
m
bulka
n luka pada gusi
7
.
Pedo
m
a
n yang dapat digunakan sebagai petunjuk bentuk sikat gigi yang
baik adalah :
1)
Kepala sikat hendaknya jangan
terlalu besar, untuk orang
dewasa m
a
k
s
im
al 29 x 10 mm, sikat gigi anak m
a
ksi
m
al 24 x 8
mm, bila gigi m
o
lar kedua telah erupsi; m
a
ksim
al 20 x 7 mm
sete
lah gig
i
molar m
uncul; sikat g
i
gi anak balita m
a
ksi
m
al 1
8
x7
mm
2)
Bulu-bulu sikat harus lurus horisontal
3)
Ujung bulu-bulu sikat harus m
e
m
bul
at
4)
Panjang bulu sikat untuk orang
dewasa m
a
ksim
al 10 x 12
mm
,
sikat gigi anak-anak 8 x 10 mm
dan sikat anak balita 7 x 8 mm
5)
Bulu sikat sebaiknya denga
n berkas bulu yang banyak
6)
Tangkai sikat seharusnya m
e
rupa
kan kepanjangan dari kepala
sikat
7)
Tangkai sikat seharusnya cukup kuat terletak baik dalam
tangan
8)
Pada sikat gigi anak-anak tangka
i harus relatif agak panjang,
sehingga orang tua atau perawat ju
ga dapat berpegang pada sikat
gigi atau m
i
nim
a
l 14 c
m
16
.
Sedangkan m
aca
m
-m
a
cam
bentuk perm
ukaan bulu sikat gigi adalah :
1)
Bulu sikat lurus yaitu bentuk pe
rm
ukaan bulu sikatnya lurus,
rata, atau datar. Sikat gigi in
i baik karena m
e
mpunyai tekanan
yang sam
a
s
aat digunakan.
2)
Bulu sikat konkaf (cekung) ya
itu bentuk perm
ukaan bulu
sikatnya cekung pada bagian tenga
h.
Sikat gigi ini pada waktu
digunakan yang dipinggir sudah
m
e
nekan ke
ras sedang yang
tengah belum
3)
Bulu sikat konveks (cembung) ya
itu perm
ukaan bulu sikatnya
cem
bung
p
a
da bagian tengah. Sikat gigi ini pada waktu
digunakan bagian tengah sudah m
e
nekan s
e
dangkan yang
pinggir belum
7
.
Ada beberapa jenis bahan bulu
sik
a
t gigi, an
tara lain :
1)
Pandangan bulu sikat nilon
Pada awal penem
u
anny
a, pem
buatan sikat nilon m
e
ngikuti
rum
u
s tipe keras dan ekstra keras yang tam
p
aknya disenangi oleh
sebagian m
a
syarakat. Pada saat
ini sikat nilon lebih unggul dala
m
ho
m
ogenitas, keseragam
a
n
ukuran bulu, elastisitas, tahan
terhadap kepatahan dan tahan air
13
.
Bila kita mengam
a
ti metode penyika
tan dari sejum
l
ah masyarak
at,
ter
liha
t
adan
ya f
a
kta yan
g
penting an
tara lain :
(a)
Sebagian besar m
a
syarakat m
e
mbasahi sikat dengan air yang
m
e
ngalir sebelum
m
e
mberi pasta gigi.
(b)
Penyikatan berlangsung terus
sam
p
ai pasta g
i
gi telah
m
e
mbentuk busa dalam mulut sehingga perlu dibuang dan
dikum
ur – k
u
m
ur.
2)
Pandangan terhadap bulu sikat lem
b
ut
Bulu sikat yang lem
b
u
t
lebih
dapat diterim
a
karena lebih
fleksibel dan lebih efisien
m
embersihkan lekukan dan dapat m
encapai daerah per mukaan bagian tengah dan
menghasilkan sedikit peradangan pada gusi (resesi gingiva
l
)
13
. Jenis sik
a
t
dengan bulu lem
but ini dianjurkan untuk pasien yang m
e
n
g
eluh
bahwa m
e
nggosok gigi m
e
mbuat gusi berdarah

Adalah hal yang penting untuk


m
e
ngga
nti sikat gigi secara teratur,
paling
tid
ak
setiap 3
b
u
lan a
t
au
k
u
rang,
teru
tam
a
bila r
a
mbut sikat gigi
tersebut sudah tidak lurus lagi. Sikat yang m
e
nunjukkan tanda - tanda aus
sehingga bila dipakai tidak dapat m
e
mb
ersihkan perm
ukaan gigi dengan baik.
Efisiensi sebuah sikat gigi dalam m
e
nghilangkan plak sebagian terbesar
tergantung pada kem
a
mpuan individu, da
n sangat kecil sekali dipengaruhi
oleh jenis sikat dan cara penyikatan
10
.
b.
Pasta gigi
Pasta gigi adalah bahan yang di
gunakan dengan si
kat gigi untuk
m
e
mbersihkan tem
p
at - tem
p
at yang dapat dicapai
16
. Pada u
m
u
m
nya
pasta gigi mengandung bahan : bahan
asah dan polis 20 – 40 %, bahan
pengaktif perm
ukaan 1 –
2 %, bahan pengikat 1 – 5 %, zat rasa 1 – 5 %,
bahan terapi 0,1 – 0,4 %
17
.
Pasta gigi yang baik adalah pasta gigi yang m
e
ngandung flour,
karena dapat m
e
nguatkan gigi dari
karies atau gigi berlubang.
Penggunaan pasta gigi akan m
e
mbantu proses penyikatan, biasanya
berbau enak dan sering m
e
ndorong orang m
e
ng
gosok gigi, terutam
a
di
kalangan anak-anak.
c.
Gelas kum
u
r
Gelas kumur digunakan untuk kum
ur-kumur pada saat
m
e
mbersihkan setelah penggunaan sikat
gigi dan pasta gigi. Dianjurkan
air yang digunakan adalah air matang, tapi paling tidak air yang
digunakan adalah air yang bersih dan jernih.
d.
Cerm
in
Cerm
in dig
unakan untuk
m
e
lihat perm
ukaan
gigi yang tertutup
plak pada saat m
e
nggosok gigi. D
e
ngan cerm
i
n kita dapat m
e
lihat
bagian m
a
na yang belum bersih
.
7
C. Pertumbuhan Gigi Pada Anak SD
Anak usia 6 - 14 tahun atau anak
usia
sek
o
lah pa
ling
ef
ektif
dalam
m
e
neri
m
a
p
e
ngetahuan dan perawatan keseha
tan giginya. Masa anak usia sekola
h
adalah m
e
rupakan m
a
sa untuk m
e
lakuka
n landasan yang kokoh bagi terwujudnya
m
a
nusia yang berkualitas. Pengertian sekol
ah dasar adalah lem
b
aga pendidik
a
n
tingkat dasar yang m
e
nyelenggarakan pendidika
n bagi anak-anak da
ri usia 6 - 14
tahun, untuk pem
b
inaan perkem
bangan kepr
ibadian, pengetahuan,
kesejahteraan
dan pem
b
inaan sifat-sif
a
t dasar untuk m
e
njadi warga negara yang baik serta
m
e
mpersiapkan m
e
reka bagi
pendidikan ditingkat lanjutan
14
.
Pada waktu anak berumur 6 tahun m
a
ka ia mulai m
e
m
a
suki periode gigi
bercam
pur. Pada m
a
sa tersebut disamping
gigi anak (gigi s
u
su) anak juga m
u
lai
m
e
mpunyai gigi dewasa (gigi tetap).
Pada
um
ur 6 – 7 tahun,
tum
buh gigi geraha
m
pertam
a di belakang gigi susu geraham ke
dua. Gigi tetap tersebut tidak m
e
ngganti
kedudukan geraham
gigi anak. Bersam
a gigi tadi tum
buh
juga gigi seri dewasa
pertam
a dirahang.
Um
ur 7 – 8 tahun tu
mbuh secara ham
p
ir bersam
aan gigi seri dewasa
pertam
a atas dan gigi seri kedua bawah.
Um
ur 8 – 9 tahun tum
buh g
i
gi dewasa
kedua atas. Um
ur 10 – 11 tahun tumbuh bersam
a
– sa
m
a
, geraham
k
ecil dewasa
kedua atas. Um
ur 11 – 13 tahun gigi gera
ham
b
e
sar dewasa kedua bawah dan 12 –
13 tahun gigi geraham
b
e
sar dewasa kedua atas tu
m
buh.
D.
Status Kebersihan Gigi dan Mulut
a. Kebersihan gigi dan mulut
Kebersihan m
u
lut sangat besar pe
ngaruhnya untuk m
e
ncegah terjadinya
gigi berlubang, radang gusi, periodontitis
, juga m
e
ncegah terj
adinya bau m
u
lut.
Kurangnya kebersihan mulut m
e
mungkinka
n terjadinya penim
bunan plak dan
sisa – sisa m
a
kanan. Karbohidrat dapat
m
e
ngalam
i
peragian, terutam
a
sukrosa,
m
e
rupakan substat utam
a
untuk m
e
nghasilkan asam
– asam
m
e
tab
o
lis oleh
bakteri – bakteri yang terjerat. Plak m
e
ne
tralisas
i asam
dan m
e
ncegah penyebaran
bakteri. Asam akan m
e
nghancurkan lapisan
em
ail gigi dengan jalan dekalsifikasi,
yaitu m
e
nghilangkan zat kapur gigi dan te
rjadilah karies (gigi berlubang).
Kebersihan gigi dan mulut yang m
a
ksi
m
al dapat tercapai dengan baik
dengan cara m
e
mbersihkan gigi dan m
u
lut
dari sisa m
a
kanan yang tertinggal
diantara gigi atau fissure. Gigi yang be
rsih sekali sedikit sekali kem
u
ngkinannya
terken
a karies g
i
gi
. Dari u
r
aian diatas m
a
ka
dapat disim
pulkan bahwa
kebersihan gigi dan m
u
lut adalah suatu
keadaan di
m
a
na gigi geligi yang berada
di dalam
rongga m
u
lut dalam
keadaan yang
bersih, bebas dari plak dan kotoran
lain yang berada di atas perm
ukaan gigi
seperti debris,
karang gigi dan sisa
m
a
kanan serta tidak terciu
m
bau busuk dalam
m
u
l
u
t.
9
b. Faktor – faktor yang m
e
mpenga
ruhi kebersihan gigi dan mulut
Faktor – faktor yang mem
p
engaruhi kebersihan gigi dan mulut adalah
pengetahuan m
e
nggosok
gigi,
karena salah
satu pem
e
liharaan kesehatan gigi dan
mulut adalah m
e
nggosok gigi, yang
m
e
liputi frekuensi menggosok gigi, cara
m
e
nggosok
gigi dan bentuk sikat gigi
3
. Ketiga faktor tersebut sangat
m
e
mpengaruhi kebersihan gigi dan mulut.
c. Cakupan Kebersihan gigi dan m
u
lut (OHI-S)
Kebersihan gigi dan mulut diperiksa dengan m
e
nggunaka
n OHI-S
(O
ral
Higiene Ind
ex Simplified
). OHI-S adalah sko
r
atau
nilai pem
e
riksaan gigi dan
mulut (Gre
en and Verm
illion) de
ngan m
e
njum
lahkan
Debris Ind
e
x
(DI) dan
Calculus Index
(CI)
.
3
Debris Index
(DI) adalah skor dari endapan lunak yang terjadi karena
adanya sisa m
a
kanan yang m
e
lekat pada gigi penentu,
Calculus Index
(CI) adalah
skor dari endapan keras (karang gigi
) terjadi karena debris mengalam
i
pengapuran yang m
e
lekat pada gigi penentu
3
.
Gigi penentu tersebut adalah :
Rahang atas
: Gigi 6 kanan kiri permukaan
bukal
Gigi 1 kanan perm
uk
aan
lingual
Rahang bawah
: Gigi 6 kanan kiri permukaan
ling
ual
Gigi 1 kiri perm
ukaan
labial
Tabel 2. 1 Kriteria pem
e
riksaan
Debris Indeks
(DI) m
e
nurut Depkes RI 1999
N
i
l
a
i
K
r
i
t
e
r
i
a
0
Pada perm
ukaan gigi
y
a
ng
terlihat, tida
k
ada debris
lunak dan
tid
ak ada
pewarna ekstr
i
nsik.
1
a.
Pada perm
ukaan gigi
y
a
ng terlihat,
ada debris
lunak y
a
ng
menutupi per
m
ukaan gigi
seluas 1/3
perm
ukaan atau kurang
dari 1
/
3
perm
ukaan gigi dari tepi gi
ngiva
atau gusi.
b.
Pada perm
uk
aan gigi y
a
n
g
terlihat, tidak ada debris
lunak, akan
tetapi ada pewarnaan ekstrinsik y
a
n
g
m
e
nutupi p
e
rm
ukaan gig
i
sebagian atau
seluruhny
a
.
2
Pada perm
uk
aan gigi y
a
n
g
terlihat
, ada debris lunak y
a
n
g
menutupi
perm
ukaan tersebut seluas lebih da
ri 1/3,
tetap
i
kurang
da
ri 2/3
perm
ukaan gigi dari tepi gi
ngiva atau gu
si.
3
Pada perm
uk
aan gigi y
a
n
g
terlihat
ada
debris y
a
ng
menutupi perm
ukaan
tersebut seluas lebih dari 2/
3 pe
rm
ukaan
gigi dari tepi
gingiva
atau gusi.
Menghitung
Debris Indeks
(DI) :
DI =
diperiksa
yang
Gigi
Jumlah
Debris
Nilai
Jumlah
Tabel 2. 2
Kriteria pem
e
riksaan
Calculus Indeks
(CI) menurut Depkes RI
1999
N
i
l
a
i
K
r
i
t
e
r
i
a
0
Tidak ada karang gigi
1
Pada perm
uk
aan gigi ada
karang gigi supra gingival
y
a
ng m
e
nutupi gigi
tidak lebih
dari 1/3 perm
ukaan dari tepi gingiva
atau gusi.
2
a.
Pada perm
uk
aan gigi y
a
ng
terlihat ada k
a
rang gigi
supra gingiva
l
kurang dari
2
/
3 perm
ukaan
dari tepi gin
g
i
va
atau gusi.
b.
Sekitar bagian servikal
gigi
terdapat sedikit
karang gi
gi
subgingiva
l.
3
a.
Pada perm
ukaan gigi
yang
diperiks
a ada karang gig
i
supra
gingival
y
a
ng
menutupi per
m
ukaan dari tepi gingi
val atau gusi.
b.
Sekitar bagian servikal
gi
gi ada karan
g
gigi
subg
i
ngival
ya
n
g
menutupi da
nm
e
lingkari seluruh servikal
(continu
ous ban
d of
subgingiva
l calculus).
Menghitung
Calculus Indeks
(CI) :
CI =
diperiksa
yang
Gigi
Jumlah
Calculus
Nilai
Jumlah
Kriter
i
a
DI
dan
CI
adalah sebagai berikut :
Kriteria DI = 0,0 – 0,6
(Baik)
0,7 - 1,8
(Sedang)
1,9 - 3,0
(Buruk)
3
Kriteria CI = 0,0 – 0,6 (Baik)
0,7 - 1,8 (Sedang)
1,9 - 3,0 (Buruk)
3
Menghitung OHI - S
(Or
a
l Hygiene Index Symplified)
:
OHI – S = Debris Index + Calculus Index
Menurut standar WHO, OHI -
S adalah sebagai b
e
riku
t:
OHI-S
= 0,0 - 1,2
(Baik)
1,3 - 3,0
(Sedang)
3,1 -6,0
(Buruk)
3
E. Pengaruh Frekuensi Menggosok Gigi,
Cara Menggosok Gigi dan Bentuk Sikat
Gigi Terhadap Status Ke
bersihan Gigi dan Mulut
Menggosok gigi adalah cara yang umu
m
dianjurkan untuk m
e
mbersihkan
berbagai kotoran yang m
e
lekat pada
permukaan gigi dan gusi. Pengaruh
m
e
nggosok gigi terhadap status kebersihan
gigi dan m
u
lut yaitu dengan m
e
nggosok
gigi dapat m
e
mbersihkan gigi
geligi dari plak dan deposit lunak pada perm
ukaan
gigi geligi dan gusi sehingga gigi dan m
u
lut terbebas dari kotoran
15
, yang terdiri
dari :
a.
Frekuensi menggosok gigi, sebaiknya dibers
ihkan m
i
ni
m
a
l 2 kali sehari setiap
sesudah m
a
kan pagi dan sebelum
tidur m
a
la
m
.
Karena aliran ludah tidak seaktif
m
a
la
m hari di
m
a
na bakteri berkembang biak dari sisa makanan, m
e
nggosok
gigi pertam
a kali dilakukan pagi hari
karena bakteri berkum
pul dalam
m
u
lut
11
.
b.
Cara m
e
nggosok gigi,
ada bermacam
– macam
teknik m
e
nggos
ok gigi,
diantaranya teknik
vertikal, horizonta
l dan bebas. Cara m
e
nggosok gigi yang
baik bila arah penyikatan dari gusi ke
perm
uk
aan gigi, dengan tujuan selain
m
e
mbersihkan gigi juga da
pat dilakukan suatu pengurut
an yang baik terhadap
gusi
.
9
c
Bentuk sikat gigi, dengan ukuran uj
ung kepala sikat m
e
ngecil seperti pohon
natal dapat m
e
mbersihkan celah berukuran
sedang diantara gigi – gigi dan
dengan tangkai sikat gigi yang lurus akan dapat m
e
m
udahkan
dalam
m
e
nggosok gigi
17
.
F.
KERANG
KA TEORI
Faktor Pre
d
isposisi
:
Pen
g
et
ah
uan
,
p
e
ndi
d
i
k
a
n
, si
ka
p,
ek
ono
m
i
,p
e
r
s
ep
si
Fak
t
or
Pendu
ku
ng
:
In
fo
rm
asi/PKM, pe
n
d
apata
n
Fre
kue
nsi
m
e
ngg
o
s
o
k
gi
gi
, ca
ra m
e
ngg
os
ok
gi
gi
dan
be
nt
u
k
si
k
a
t
gi
gi
y
a
n
g
di
g
una
ka
n
St
at
us kebe
rsi
h
an
gi
gi
dan
m
u
l
u
t
Fak
t
or
Pendo
ro
ng
:
Ora
n
gt
u
a
,
si
ka
p
pet
u
gas
Su
m
b
er :
18
dengan modifikasi
A.
KERANG
KA KONSEP
Variabel Bebas
Variabel Terikat
Frekuensi m
e
nggosok gigi
Status Kebersihan
Cara m
e
nggosok gigi
Gigi dan Mulut (OHI-S)
Bentuk sikat gigi
H. HIPOTESIS
-
Ada hubung
a
n antara frekuensi m
e
nggosok gigi dengan status kebersihan gigi
dan m
u
lut pada siswa kelas IV dan V
di SDN Karangroto 04 di Kota Sem
a
rang
-
Ada hubungan antara cara m
e
nggo
sok gigi
dengan status kebersihan gigi dan
mulut pada siswa kelas IV dan V di
SDN Karangroto 04 di Kota Semarang -
Ada hubungan antara bentuk sikat gigi dengan status kebersihan gigi dan mulutpada siswa kelas IV
dan V di SDN Karangroto 04 di Kota Semarang