Anda di halaman 1dari 7

A.

PENDAHULUAN

Wanita akan mengalami beberapa perubahan fisiologi dan psikologi pada masa
setelah melahirkan. Salah satu perubahan fisiologi adalah perubahan payudara untuk
mempersiapkan proses menyusui atau laktasi. Menyusui adalah proses memberikan
makanan pada bayi berupa Air Susu Ibu (ASI) langsung dari payudara ibu. Menyusui
merupakan cara optimal dalam memberikan nutrisi pada bayi yang berfungsi melindungi
bayi dari berbagai penyakit dan infeksi, serta lebih ekonomis dibandingkan dengan susu
formula (Hasanah, 2017).

Ibu yang menyusui berharap dapat memberikan ASI dengan lancar, namun
beberapa ibu kecewa tidak berhasil memberikan ASI karena mengalami masalah pada
payudara. Masalah pada payudara selama menyusui merupakan salah satu tanda bahaya
pada ibu setelah melahirkan dan harus dibawa ke pelayanan kesehatan untuk mencegah
komplikasi (Hasanah, 2017).

Masalah-masalah menyusui seperti putting lecet, payudara bengkak, dan sumbatan


saluran payudara dapat menjadi masalah lanjutan yaitu mastitis. Organisasi Kesehatan
Dunia WHO (World Health Organitation) memperkirakan insiden mastitis pada ibu
menyusui sekitar 2,6% - 33% dan prevalensi global adalah sekitar 10% (Hasanah, 2017).

Ibu yang mengalami masalah dalam menyusui akan berdampak pada pemberian
ASI eksklusif ibu pada bayinya. Faktor yang mempengaruhi keberhasilan ASI eksklusif
salah satunya adalah faktor fisik ibu. Faktor fisik ibu berhubungan dengan kondisi ibu
yang mendukung menyusui atau tidak seperti ibu demam, mastitis, dan sebagainya
(Hasanah, 2017).

Teknik menyusui merupakan faktor penting dibandingkan faktor risiko lainnya


yang dapat meningkatkan risiko terjadinya mastitis. Posisi dan perlekatan bayi pada
payudara ibu secara tepat dalam teknik menyusui akan mengurangi kemungkinan
terjadinya masalah dalam proses menyusui seperti lecet pada puting dan mastitis pada
ibu. Teknik menyusui yang kurang tepat dapat mengakibatkan masalah-masalah pada
payudara yang terjadi selama proses menyusui yang disebabkan oleh bayi tidak menyusu
sampai ke areola (Hasanah, 2017).

1
B. PEMBAHASAN

Mastitis

Mastitis merupakan suatu proses peradangan pada satu atau lebih segmen payudara
yang mungkin disertai infeksi atau tanpa infeksi. Mastitis diperkirakan dapat terjadi pada
3-20% ibu menyusui. Dua hal yang perlu diperhatikan pada kasus mastitis adalah
pertama, karena mastitis biasanya menurunkan produksi ASI dan menjadi alasan ibu
untuk berhenti menyusui. Kedua, mastitis berpotensi meningkatkan transmisi vertikal
pada beberapa penyakit. Sebagian besar mastitis terjadi dalam 6 minggu pertama setelah
bayi lahir (paling sering pada minggu ke-2 dan ke-3), meskipun mastitis dapat terjadi
sepanjang masa menyusui bahkan pada wanita yang sementara tidak menyusui
(Nurhafni, 2014).

Gambar 1 Mastitis pada payudara

Etiologi

Mastitis terjadi sebagai akibat invasi bakteri ke jaringan payudara saat terjadi
cedera payudara. Bakteri penyebab yang paling umum adalah Staphylococcus aerus.
Penyebab cedera antara lain yaitu : Memar akibat pemompaan atau manipulasi kasar,
Distensi berlebihan pada payudara, Stasis air susu dalam duktus, Retak atau fisura puting
susu.Sumber bakteri: Tangan ibu, Tangan yang merawat ibu dan bayi, Bayi (Nurhafni,
2014).

Tanda dan Gejala

Kongesti berat: Demam ringan, Nyeri ringan pada suatu bagian payudara yang
semakin memburuk saat bayi menyusui. Sedikit kemerahan di area peradangan.Kenaikan
cepat suhun tubuh dari 37,8℃ − 40℃, Peningkatan frekuensi nadi dan menggigil.

2
Malaise umum dan sakit kepala.Area payudara kemerahan, sangat nyeri saat ditekan dan
menyakitkan dengan benjolan yang cukup besar dan keras (Nurhafni, 2014).

Terapi Mastitis

1. Sarankan pasien untuk minum antibiotik yang


diresepkan selama perjalanan penyakit, meskipun
kesehatan pasien membaik dengan cepat.
Pengobatan pilihan meliputi 500 mg Keflex atau
500 mg dikloksasilin, diminum per oral empat
kali sehari selama 7-10 hari, pasien mungkin
memerlukan pengobatan ulang. Karena organisme
penyebab infeksi yang paling umum adalah
Staphylococcus aureus, antibiotik yang efektif
untuk melawan organisme ini harus dipilih secara empiris (Nurhafni, 2014).
2. Peringatkan pasien bahwa vaginitis monila dapat terjadi sekunder akibat terapi
antibiotik. Pasien mungkin ingin menggunakan tablet asidofilus sebagai
fropilaksis saat minum antibiotik (Nurhafni, 2014).
3. Lakukan kultur dan sensitivitas air susu dari payudara yang terinflamasi untuk
menegakkan diagnosis dan terapi bila perlu (Nurhafni, 2014).
4. Sarankan pasien untuk tetap menyusui, kecuali terdapat abses. Coba berikan
kompres hangat pada sisi yang sakit sebelum menyususi. Tidak dianjurkan untuk
tetap menyusui bila terdapat abses. Sarankan hal-hal berikut:
a. Hentikan menyusui sampai suhu tubuh normal selama 24 jam, biasanya
sekitar 24-48 jam setelah minum antibiotik, lalu lanjutkan pemberian ASI.
b. Selama menyusui dihentikan, pompa payudara sedikitnya 4 jam dengan
pompa manual atau elektrik setelah payudara dikompres dengan air hangat.
Hindari manipulasi payudara yang sudah ada.
c. Buang setiap air susu yang dipompa selama menyusui karena ASI mungkin
mengandung pus
d. Kenakan penyangga payudara yang kaku dan tidak ketat.
e. Berikan obat analgetik. Bila pemberian asetaminopen tidak efektif maka
berikan asetaminopen bersama kodein.
f. Bila terdapat abses, konsultasikan dengan dokter. Mungkin perlu diinsisi
(Nurhafni, 2014).

3
Pencegahan

a. Perbaikan pemahaman tentang penatalaksanaan menyusui yaitu : Wanita yang


merawat ibu perlu mengetahui tentang penatalaksaan menyusui yang efektif,
pemberian makanan bayi dengan adekuat dan pemeliharaan kesehatan payudara.
Yang perlu diketahui ibu sebagai berikut : (a) Mulai menyusui dalam satu jam atau
lebih setelah melahirkan; (b) Memastikan bayi mengeyut payudara dengan baik; (c)
Menyusui tanpa batas, dalam hal frekuensi atau durasi dan membiarkan bayi selesai
menyusui satu payudara dulu, sebelum memberikan yang lain; (d) Menyusui secara
eksklusif selama minimal 4 bulan dan bila mungkin 6 bulan (Nurhafni, 2014).
b. Penatalaksanaan yang efektif pada payudara yang penuh dan kencang Bila payudara
ibu penuh atau terbendung selama beberapa minggu pertama, penting untuk
memastikan bahwa ASI dikeluarkan dan kondisi tersebut diatasi dengan yaitu : (a)
Ibu harus dibantu untuk memperbaiki kenyutan bayi saat menyusui agar
memperbaiki pengeluaran ASI dan untuk mencegah luka pada puting susu; (b) Ibu
harus didorong untuk menyusui sesering mungkin dan selama bayi menghendaki
tanpa batas; (c) Pemerasan dapat dilakukan dengan tangan atau pompa. Bila
payudara sangat nyeri, jalan lain untuk memeras ASI adalah dengan menggunakan
metode botol panas; (d) Setelah satu atau dua hari, kondisi ini harus sembuh dan
suplai ASI kebutuhan bayi (Nurhafni, 2014).
c. Perhatian dini terhadap semua tanda statis ASI
Seorang ibu perlu mengetahui cara merawat payudara, tanda dini stasis ASI
atau mastitis sehingga ia dapat mengobati dirinya sendiri di rumah, dan mencari
pertolongan secepatnya bila keadaan tersebut tidak menghilang. Ia harus memeriksa
payudaranya untuk melihat adanya benjolan, nyeri atau panas kemerahan. Bila ibu
mempunyai salah satu faktor risiko seperti kealpaan menyusui dan bila ibu
mengalami demam contohnya sakit kepala (Nurhafni, 2014).
Bila ibu mempunyai tanda- tanda tersebut ibu perlu memperhatikan antara lain
yaitu: Beristirahat di tempat tidur, Sering menyusui pada payudara yang terkena,
Mengompres panas pada payudara yang terkena, berendam dengan air hangat atau
pancuran hangat, Memijat dengan lembut setiap daerah benjolan payudara saat bayi
menyusu untuk membantu ASI mengalir dari daerah benjolan tersebut. Mencari
pertolongan dari petugas kesehatan bila ibu tidak merasa lebih parah keesokan
harinya (Nurhafni, 2014).

4
d. Perhatian dini pada kesulitan menyusui antara lain yaitu :
Ibu membutuhkan bantuan terlatih dalam menyusui dan pada saat ibu menemui
kesulitan yang dapat menyebabkan statis ASI seperti : (a) Nyeri atau puting pecah-
pecah; (b) Ketidaknyamanan payudara setelah menyusui; (c) Kompres puting susu;
(d) Bayi tidak puas menyusu sangat sering, jarang atau lama; (e) Kehilangan percaya
diri pada suplai ASI- nya tidak cukup; (f) Pengenalan makanan secara dini atau dot
(WHO, 2003).
Bidan atau petugas kesehatan lain harus memiliki pengetahuan dan keterampilan
yang sesuai sehingga dapat membantu ibu untuk menyusui pada periode pasca dini,
untuk melanjutkan menyusui dan untuk mengatasi kesulitan dini sebelum menjadi
lebih serius dan membahayakan laktasi. Pengetahuan dan keterampilan tentang
dukungan menyusui terus menerus harus tersedia di masyarakat, pada petugas
kesehatan masyarakat, TBA atau petugas konseling yang setara dan wanita secara
umum, sehingga wanita dapat saling membantu untuk mencegah berbagai kesulitan
dan bila timbul masalah pengobatan yang adekuat dapat dimulai secara dini
(Nurhafni, 2014).
e. Pengendalian infeksi
Karena penatalaksanaan menyusui yang sesuai merupakan dasar pencegahan
mastitis, pengurangan resiko infeksi juga penting, terutama di rumah sakit. Petugas
kesehatan dan ibu perlu mencuci tangan secara menyeluruh dan sering. Petugas
kesehatan harus mencuci tangannya setiap kali setiap kontak dengan ibu, bayi atau
dengan kemungkinan semua organ patogen. Sabun biasa adekuat untuk
menyingkirkan organisme permukaan, tetapi untuk petugas kesehatan yang sering
kontak dengan cairan tubuh, produk pencuci tangan antimikroba lebih efektif. Sabun
harus kontak dengan kulit minimal 10 detik tiap pencucian. Kontak kulit dini diikuti
dengan rawat gabung bayi dengan ibu juga merupakan jalan yang penting untuk
mengurangi infeksi di rumah sakit (Nurhafni, 2014).

5
DAFTAR PUSTAKA

Nurhafni. 2014. Tingkat Pengetahuan Ibu Nifas terhadap Kejadian Mastitis di Rs. Tanjung
Pura Kabupaten Langkat Tahun 2014. Jurnal Ilmiah Simantek. Vol 2 (1): 114-123.

Hasanah, Armita Iriyana et al. 2017. HubunganTeknik Menyusui dengan Risiko Terjadinya
Mastitis pada Ibu Menyusui di Desa Kemuning Kecamatan Arjasa Kabupaten Jember.
Jurnal Pustaka Kesehatan. Vol 5 (2): 260-267.

6
LAMPIRAN