Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Mutu adalah kesesuaian dengan standar yang ada, dilihat dari input, proses, maupun output
yang dihasilkan dari suatu pelayanan serta dapat memberikan kepuasan bagi penggunanya. Oleh
sebab itu, untuk memberikan suatu kepuasan kepada masyarakat, maka perlu ditetapkan suatu
indikator dan standar yang ingin dicapai dalam pelayanan Puskesmas.
Indikator adalah petunjuk atau tolok ukur atau fenomena yang dapat diukur. Indikator mutu
adalah asuhan kesehatan atau pelayanan kesehatan dapat mengacu pada indikator yang relevan
berkaitan dengan input, proses, maupun output. Selanjutnya indikator dispesifikkan dalam berbagai
kriteria. Penetapan indikator mutu mutlak diperlukan agar Puskesmas dapat mengevaluasi
pelayanan yang diberikan dalam berbagai dimensi serta selanjutnya dapat mengambil tindak lanjut
ats hasil evaluasi yang diperoleh sebagai dasar melakukan upaya – upaya untuk meningkatkan hasil
kearah yang lebih baik lagi
Mutu pelayanan Puskesmas dapat diukur dengan memperhatikan atau memantau dan menilai
indikator, kriteria, dan standar yang diasumsikan relevan dan berlaku sesuai dengan aspek input,
proses, output dari pelayanan Puskesmas tersebut.
Profil Indikator adalah buku yang berisi tentang berbagai macam indikator mutu pelayanan
yang telah ditetapkan berdasarkan beberapa point , yaitu SMART yang merupakan singkatan dari :
a) Specific : spesifik, dan terfokus pada tujuan apa yang akan menjadi dicapai
b) Measurable : indikator tersebut dapat diukur
c) Achievable : target yang ingin dicapai harus merupakan hal yang realistis atau
mungkin untuk dicapai serta ada nilai atau hasil yang dapat dicapai dan diukur.
d) Relevant : target dari harus relevan atau sesuai dengan tujuan Puskesmas secara
umum
e) Time : ada batas waktu atau deadline yang telah ditentukan untuk mencapai
target tersebut.
Indikator mutu Puskesmas akan mencerminkan mutu pelayanan Puskesmas. Fungsi dari
penetapan indikator tersebut antara lain sebagai alat untuk melaksanakan manajemen control dan
alat untuk mendukung pengambilan ketetapan dalam rangka perencanaan kegiatan untuk masa
yang akan datang.

B. Tujuan
Tujuan penyusunan profil indikator ini adalah untuk mengarahkan agar peningkatan mutu lebih
spesifik, sistematik dan terarah.

C. Ruang Lingkup dan Tata Urut


Ruang lingkup profil indikator ini meliputi jenis dan macam indikator di area administrasi
manajemen, upaya kesehatan perseorangan dan upaya kesehatan masyarakat.

1
Tata urut penyusunan profil indikator mutu ini adalah :
Bab 1 : Pendahuluan
Bab 2 : Definisi
Bab 3 : Indikator Mutu Puskesmas Wirobrajan
Bab 4 : Penutup

D. Landasan
Penyusunan profil indikator mutu ini didasarkan pada berbagai regulasi sebagai berikut :
1. UU Kesehatan No 36 tahun 2009 tentang Kesehatan
2. Peraturan Pemerintah No 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil
3. Peraturan Menteri Kesehatan No 2269/Menkes/Per/XI/2011 tentang Pedoman Pembinaan
Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat
4. Peraturan Menteri Kesehatan RI No 66 tahun 2014 tentang pemantauan pertumbuhan dan
perkembangan dan gangguan tumbuh kembang anak
5. Peraturan Menteri Kesehatan No 75 Tahun 2014 tentang Puskesmas
6. Permenkes no 71 tahun 2015 tentang Penanggulangan Penyakit Tidak Menular
7. Peraturan Menteri Kesehatan RI No 44 Tahun 2016 tentang Pedoman Manajemen
Puskesmas
8. Peraturan Menteri Kesehatan RI no 67 tahun 2016 tentang Penaggulangan Tuberkulosis
9. Peraturan Menteri Kesehatan RI No 74 tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian
Di Puskesmas
10. Peraturan Menteri Kesehatan RI No 11 tahun 2017 tentang Keselamatan Pasien
11. Peraturan Menteri Kesehatan RI no 12 tahu 2017 tentang penyelenggaraan imunisasi
12. Peraturan Menteri Kesehatan RI no 4 tahun 2019 tentang Standar Teknis Pemenuhan Mutu
Pelayanan Dasar Pada Standar Minimal Bidang Kesehatan
13. Buku petunjuk pelaksanaan surveilens gizi
14. Pedoman penyelenggaraan rekam medis di puskesmas
15. Buku pedoman TB tahun 2014
16. Buku pedoman pengobatan Puskesmas Kota Yogyakarta revisi II tahun 2017
17. Pedoman Akselerasi Pembinaan dan Pelaksana UKS

2
BAB II
DEFINISI

A. Indikator adalah petunjuk atau tolak ukur atau fenomena yang dapat diukur.
B. Alasan pengukuran indikator adalah penyebab / alasan mengapa indikator tersebut dipilih
C. Referensi indikator adalah pedmoan yang dijadikan referensi tentang indikator tersebut
D. Sumber data : asal atau tempat memperoleh data (primer atau sekunder), atau sumber bahan
nyata / keterangan yang dapat dijadikan dasar kajian yang berhubungan langsung dengan
persoalan.
E. Definisi Operasional adalah penjelasan tentang judul idikator yang dipilih
F. Numerator ( pembilang ) adalah besaran nilai pembilang dalam rumus indikator mutu.
G. Denominator ( penyebut ) adalah besaran nilai pembagi dalam rumus indikator mutu.
H. Target capaian (dalam %) : Sasaran ( batas ketentuan ) yang telah ditetapkan untuk dicapai
yang merupakan hasil yang akan dicapai secara nyata dalam rumusan yang lebih spesifik dan
terukur
I. Dimensi mutu adalah suatu pandangan dalam menentukan penilaian terhadap jenis dan mutu
pelayanan yang diberikan, berdasarkan standar WHO dilihat dari :
1. Kelayakan
2. Ketersediaan : tingkat perawatan dan pelayanan yang tepat,tersedia sesuai kebutuhan.
3. Kesinambungan (Continuity) : tingkat perawatan dan pelayanan dikoordinasi antar disiplin ilmu,
antar organisasi sepanjang waktu
4. Ketepatan waktu (timelines) : tingkat perawatan dan pelayanan diberikan sesuai waktu
yang diperlukan
5. Keselamatan : Tingkat perawatan dan pelayanan dimana risiko intervensi dan risiko di
lingkungan direduksi untuk pasien, keluarga, residen, termasuk petugas kesehatan.
6. Kehormatan dan harga diri : tingkat perawatan dan pelayanan diberikan dengan
menghargai kebutuhan,harapan dan keinginan individu, dimana individu dilibatkan dalam
ketetapan perawatan dan pelayanan mereka
7. Manfaat : perawatan dan pelayanan yang diterimapasien bermanfaat.
8. Efektivitas : tingkat perawatan dan pelayanan diberikan sesuai pengetahuan untuk
mencapai outcome yang diinginkan.
9. Efisiensi : hubungan antara outcome (hasil perawatan dan pelayanan) dan sumberdaya
yang digunakan untuk memberikan perawatan dan pelayanan.
10. Efficacy : tingkat perawatan dan pelayanan telah memenuhi harapan atau outcome yang
diinginkan
J. Jenis indikator : indikator yang diukur dapat diambil dari
1. Input : mengukur sarana prasarana/ sumber daya
2. Proses : mengukur proses/ kegiatan
3. Output : mengukur hasil dari suatu proses/ kegiatan

3
K. Kriteria :
1. Inklusi : jumlah sampel yang akan diambil, yang memenuhi kriteria yang telah ditentukan untuk
dianalisa.
2. Eksklusi : jumlah sampel yang tidak memenuhi kriteria untuk dianalisa
L. Metodologi pengumpulan data :
1. Retrospektif : data diambil dari kegiatan yangtelah lalu
2. Concurrent : data diambil dari kegiatan yangbaru dimulai/ akan dilakukan
M. Populasi adalah keseluruhan sasaran yang akan dianalisa.
N. Sampel : merupakan jumlah pasien/individu dari populasi yang akan dimasukkan dalam analisa.
O. Petugas Pengumpul data adalah orang yang diberi tanggung jawab untuk mengumpulkan
data di setiap satuan kerja.
P. Periode waktu pelaporan adalah waktu pelaporan, harian, bulanan,triwulanan, semester atau
tahunan.
Q. Tempat pengumpulan data adalah tempat/ satuan kerja yangmengumpulkan data indikator kinerja
mutu dan keselamatan pasien, adalah semua satuan kerja, sesuai dengan tugaspokok dan
fungsi yang telah ditetapkan.
R. Langkah – langkah yang dilakukan adalah langkah yang dilakukan untuk dapat mengetahui niai
capaian indikator yag telah ditetapkan.

4
BAB III
INDIKATOR MUTU PUSKESMAS

Indikator mutu yang tertuang dalam profil indikator mutu ini adalah periode januari – desember
2019.
A. Indikator Mutu Area Upaya Kesehatan Perseorangan (UKP)
1. Indikator Mutu Klinis
a. Indikator mutu sub unit Pendaftaran Dan Rekam Medis

Judul : Kelengkapan isian Rekam Medis


: Adanya pengisian rekam medis yang belum lengkap oleh
Alasan pengukuran
petugas sehingga data pemeriksaan bisa tidak lengkap
indikator
Referensi indikator : Pedoman penyelenggaraan rekam medis di puskesmas

Sumber data : Sampling rekam medis dalam 1 bulan

Pengisian rekam medis secara lengakap oleh petugas, baik


Definisi operasional : data subjektif, obyektif, assement, plan dan tanda tangan serta
nama terang petugas
Numerator : Jumlah berkas rekam medis pasien yang diisi dengan lengkap
Denominator : Jumlah keseluruhan sampel (100 pasien tiap bulan)
Target capaian : 100 %

Dimensi Mutu : Kesinambungan


 Input
Jenis indikator :  Proses
 Output
Kriteria

Inklusi : Seluruh pasien yang medapatkan pelayanan di Puskesmas


Wirobrajan

Eksklusi : -

Metode pengumpulan
: Data Sekunder dari rekam medis pasien
data
Populasi : Seluruh pasien Puskesmas Wirobrajan
100 pasien perbulan yang ditentukan dengan metode calculator
Sampel :
sample size dengan CI : 90 % dan margin of error 10 %
Petugas pengumpulan
: Petugas rekam medis
data
Periode waktu pelaporan : Evaluasi setiap bulan
Tempat pengumpulan
: Ketua tim PMKP
data

5
1. Melakukan pengambilan sampel rekam medis

Langkah – langkah yang 2. Melakukan rekapitulasi data kelengkapan isi rekam medis

dilakukan 3. Melakukan penghitungan capaian


4. Melakukan analisis dan evaluasi
:
5. Pelaksanaan tindak lanjut

b. Indikator mutu sub unit Pelayanan Pemeriksaan Umum (PPU)

Judul : Semua tindakan bedah dilengkapi dengan inform consent

Seluruh tindakan bedah wajib dilengkapi dengan inform


Alasan pengukuran
: consent sebagai bentuk pemberian informasi dari petugas
indikator kepada pasien serta pemberian persetujuan tindakan oleh
pasien

Referensi indikator : Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Tahun 2014


tentang Panduan Praktik Klinis bagi Dokter di Fasilitas
Pelayanan Kesehatan Primer
Sumber data : Rekam medis pasien yang memperoleh tindakan bedah
Pasien yang mendapatkan pelayanan tindakan bedah wajib
Definisi operasional :
memperoleh informasi tindakan dan memberikan inform consent
sebelum dilakukan tindakan

Numerator : Pasien yang mendapatkan tindakan bedah oleh petugas PPU


dengan dilengkapi inform consent

Denominator : Seluruh pasien PPU yang memperoleh tindakan bedah

Target capaian : 100 %

Dimensi Mutu : Kehormatan dan harga diri


 Input
Jenis indikator :  Proses
 Output

Seluruh pasien yang PPU yang medapatkan tindakan bedah


Inklusi :

Eksklusi : -

Metode pengumpulan : Data sekunder dari rekam medis


data

Populasi : Seluruh pasien yang PPU yang medapatkan tindakan bedah

Seluruh pasien yang PPU yang medapatkan tindakan bedah


Sampel :

Petugas pengumpulan : Petugas PPU


data
6
Periode waktu pelaporan : Setiap bulan

Tempat pengumpulan : Ketua PMKP


data

1. Melakukan pendataan pasien PPU yang mendapatkan


tindakan bedah
: 2. Mengecek kelengkapan inform consent pada rekam medis
Langkah – langkah yang
dilakukan pasien tersebut
3. Menghitung persentase data pasien PPU yang memperoleh
tindakan bedah yang dilengkapi inform consent

c. Indikator mutu sub unit Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut (PKGM)

Judul : 100 % penggunaan inform consent pada tindakan pencabutan


gigi dengan pemberian anastesi lokal injeksi.

Seluruh tindakan yang menggunakan anestesi lokal wajib


Alasan pengukuran menggunakan inform consent agar pasien memahami tujuan,
: manfaat dan resiko tindakan tersebut
indikator

Referensi indikator : Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 62


Tahun 2015 tentang Panduan Praktik Klinis bagi Dokter Gigi
Standar Operasional Prosedur SOP/WB/VII/PKGM/16/2018
tentang Pencabutan Gigi Tetap
Sumber data : Rekam medis pasien yang memperoleh tindakan pencabutan
gigi dengan pemberian anastesi lokal injeksi.

Pasien yang mendapatkan pelayanan tindakan pencabutan gigi


dengan pemberian anastesi lokal injeksi wajib memperoleh
Definisi operasional : informasi tindakan dan memberikan inform consent sebelum
dilakukan tindakan

Numerator : Pasien yang mendapatkan tindakan pencabutan gigi dengan


pemberian anastesi lokal injeksi dengan dilengkapi inform
consent
Denominator : Semua pasien yang mendapatlan tindakan pencabutan gigi
dengan pemberian anastesi lokal injeksi
Target capaian : 100%

Dimensi Mutu : Kehormatan dan harga diri

 Input
Jenis indikator :  Proses
 Output
Kriteria
Inklusi : Seluruh pasien yang PKGM yang medapatkan tindakan
pencabutan gigi dengan pemberian anastesi lokal injeksi
Eksklusi : -

7
Metode pengumpulan data : Data sekunder dari rekam medis

Populasi : Pasien yang mendapatkan tindakan pencabutan gigi dengan


pemberian anastesi lokal injeksi
Sampel : Pasien yang mendapatkan tindakan pencabutan gigi dengan
pemberian anastesi lokal injeksi
Petugas pengumpulan : Perawat gigi
data

Periode waktu pelaporan : Tiap bulan

Tempat pengumpulan : Ketua tim PMKP


data

1. Melakukan pendataan pasien PKGM yang mendapatkan

Langkah – langkah yang tindakan pencabutan gigi dengan pemberian anastesi lokal
: injeksi
dilakukan
2. Mengecek kelengkapan inform consent pada rekam medis
pasien tersebut
3. Menghitung persentase data pasien PKGM yang
mendapatkan tindakan pencabutan gigi dengan pemberian
anastesi lokal injeksi yang dilengkapi inform consent

d. Indikator mutu sub unit Laboratorium

Judul : Kejadian hematoma pada pengambilan darah vena < 5 %

Alasan pengukuran : Meningkatkan kehati-hatian petugas dalam pengambilan


sampel darah
indikator
Referensi indikator : Peraturan Menteri Kesehatan nomer 75 Tahun 2014 tentang
Pusat Kesehatan Masyarakat
SOP no SOP/WB/VIII/02/2018 tentang Pengambilan
Spesimen
Sumber data :
Pengamatan patugas secara langsung
Definisi operasional : Jumlah pasien yang medapatkan pelayan pengambilan darah
vena yang mengalami hematom < 5 %

Numerator : Kejadian hematom pada pengambilan darah vena


Denominator : Jumlah pengambilan darah vena yang dilakukan

Target capaian : 100 %


Dimensi Mutu : Keselamatan

Jenis indikator :  Input


 Proses
 Output

Inklusi : Seluruh pelayan pengambilan darah vena yang dilakukan

8
Eksklusi :
-

Metode pengumpulan : Data primer hasil pengamatan petugas setelah dilakukan


pengambilan darah vena
data
Populasi : Seluruh pelayan pengambilan darah vena yang dilakukan
Sampel : Seluruh pelayan pengambilan darah vena yang dilakukan

Petugas pengumpulan : Pranata laboratorium


data
Periode waktu pelaporan : Evaluasi setiap bulan

Tempat pengumpulan : Ketua tim PMKP


data
Langkah – langkah yang : 1. Pengambilan darah vena
dilakukan 2. Petugas mencatat bila terjadi hematom setelah
penganbilan darah vena
3. Petugas menghitung persentase kejadian hematoma pada
pengambilan darah vena dibandingkan seluruh
pengambilan darah vena

e. Indikator mutu sub unit KIA – KB

Judul : Aseptor KB baru yang berkunjung ke puskesmas dilakukan


screening ALKI (Anemia, Lingkar Lengan Atas, Penyakit
Kronik)
Alasan pengukuran : Untuk mengurangi resiko efek samping penggunaan
kontrasepsi
indikator
Referensi indikator : Pedoman Manajemen Pelayanan Keluarga Berencana

Sumber data : Register pelayanan KB


Definisi operasional : Aseptor KB baru (IUD, Implant, Suntik) yang berkunjung ke
puskesmas dilakukan screening ALKI (Anemia, Lingkar
Lengan Atas, Penyakit Kronik)
Numerator :
Jumlah akseptor KB baru dalam wilayah yang berkunjung ke
Puskesmas dilakukan skrining ALKI
Denominator : Jumlah akseptor KB baru dalam wilayah yang berkunjung ke
Puskesmas
Target capaian : 50 %

Dimensi Mutu : Efektifitas (tingkat pelayanan diberikan sesuai standar


pengetahuan untuk mendapatkan output yang diinginkan)
Jenis indikator :  Input
 Proses
 Output

Inklusi : Akseptor KB baru (IUD, Implant, Suntik ) dalam wilayah yang


berkunjung ke Puskesmas
Eksklusi : Akseptor KB baru di luar wilayah yang berkunjung ke
Puskesmas
9
Akseptor KB pil baru di dalam wilayah yang berkunjung ke
Puskesmas
Metode pengumpulan :
Concurent
data
Populasi : Jumlah akseptor KB baru dalam wilayah yang berkunjung ke
Puskesmas
Sampel : Jumlah akseptor KB baru (IUD, Implant) dalam wilayah yang
berkunjung ke Puskesmas
Petugas pengumpulan : Bidan KIA
data
Periode waktu pelaporan : Setiap bulan
Tempat pengumpulan : Ketua tim PMKP
data

Langkah – langkah yang 1. Mencatat kunjungan KB baru di buku register


dilakukan 2. Menghitung jumlah akseptor KB baru (IUD, Implant,
Suntik) dalam wilayah
3. Menghitung capaian indikator

f. Indikator mutu sub unit Gizi

Judul : Bayi dengan usia 6 bulan yang berkunjung ke puskesmas


mendapatkan konseling Pemberian Makanan Bayi dan Anak
( PMBA )

Alasan pengukuran :
Memberikan pendidikan kepada ibu agar dapat memberikan
indikator makanan bayi dan anak yang berkualitas
Referensi indikator : Peraturan Menteri Kesehatan nomer 75 Tahun 2014 tentang
Pusat Kesehatan Masyarakat
Sumber data : Register kunjungan bayi poli KIA

Definisi operasional : Bayi dengan usia 6 bulan yang berkunjung ke puskesmas


mendapatkan konseling Pemberian Makanan Bayi dan Anak
( PMBA )

Numerator : Jumlah bayi dengan usia 6 bulan yang berkunjung ke


puskesmas mendapatkan konseling Pemberian Makanan
Bayi dan Anak
Denominator : Jumlah bayi dengan usia 6 bulan yang berkunjung ke
puskesmas
Target capaian : 50 %

Dimensi Mutu : Manfaat


Jenis indikator :  Input
 Proses
 Output
Kriteria

Inklusi :
Bayi dengan usia 6 bulan yang tinggal di dalam wilayah kerja
puskesmas Wirobrajan
Eksklusi : Bayi dengan usia 6 bulan yang tinggal di luar wilayah kerja
puskesmas Wirobrajan

10
Metode pengumpulan : Concurrent (Data primer dari ibu hamil anemia)
data
Populasi :
Bayi dengan usia 6 bulan yang tinggal di dalam wilayah kerja
puskesmas Wirobrajan yang berkunjung ke Puskesmas
Wirobrajan
Sampel :
Bayi yang mendapatkan pelayanan konseling PMBA

Petugas pengumpulan : Petugas gizi


data
Periode waktu pelaporan : Setiap bulan

Tempat pengumpulan : Ketua tim PMKP


data
Langkah – langkah yang :
1. Petugas mencatat kunjungan bayi usia 6 bulan yang
dilakukan tinggal di dalam wilayah kerja puskesmas Wirobrajan yang
berkunjung ke KIA Puskesmas Wirobrajan
2. Petugas mencatat kunjungan bayi usia 6 bulan yang
berkunjung ke poli gizi untuk medapatkan edukasi PMBA
3. Petugas menghitung capaian indikator mutu

g. Indikator mutu sub unit Pelayanan Kefarmasian (Farmasi)

Judul : Lama waktu tunggu pembuatan resep puyer ( target < 15


menit)
Alasan pengukuran :
Untuk memastikan waktu tunggu pasien yang mendapatkan
indikator
resep puyer <15 menit

Referensi indikator : PMK RI No 74 tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian


Di Puskesmas
Sumber data : Buku implementasi sasaran mutu

Definisi operasional :
Setiap hari dilakukan pengambilan sample 4 resep puyer
dan dinilai waktu tunggunya.
Numerator : Jumlah sampling resep puyer dengan waktu tunggu < 15 menit selama 1 bulan

Denominator : Jumlah total sampling resep puyer selama 1 bulan


Target capaian : 100 %

Dimensi Mutu : Ketepatan waktu

Jenis indikator :  Input


 Proses
 Output
Kriteria

11
Inklusi :
Waktu tunggu seluruh resep puyer

Eksklusi :
-

Metode pengumpulan : Concurrent (Data primer dari hasil sampling harian)


data

Populasi : Waktu tunggu seluruh resep puyer


Sampel : Waktu tunggu sample harian sejumlah 4 resep puyer per hari

Petugas pengumpulan : Petugas kefarmasian


data
Periode waktu pelaporan : Setiap bulan

Tempat pengumpulan : Ketua tim PMKP


data
Langkah – langkah yang : 1. Petugas mengambil sampel 4 buah resep puyer setiap
hari, kemudian menilai waktu tunggunya
dilakukan 2. Petugas merekap hasil pengumpulan data selama 1 bulan
3. Petugas menghitung capaian indikator mutu

h. Indikator mutu sub unit Psikologi

Judul : Jumlah kunjungan pasien di sub unit Psikologi mencapai 100


orang per bulan
Alasan pengukuran : Memberikan edukasi seluas-luasnya kepada masyarakat
terkait kesehatan jiwa
indikator
Referensi indikator :
Peraturan Menteri Kesehatan nomer 75 Tahun 2014 tentang
Pusat Kesehatan Masyarakat
Sumber data : Register kunjungan sub unit Psikologi
Definisi operasional :
Jumlah kunjungan pasien di sub unit Psikologi mencapai 100
orang per bulan
Numerator :
Jumlah kunjungan pasien di sub unit Psikologi per bulan

Denominator :
100

Target capaian : 100%

Dimensi Mutu :
Efektivitas

12
Jenis indikator :  Input
 Proses
 Output
Kriteria
Inklusi : Semua kunjungan sub unit Psikologi dalam 1 bulan
Eksklusi :
-

Metode pengumpulan :
Concurent
data
Populasi : Semua kunjungan sub unit Psikologi dalam 1 bulan

Sampel : Semua kunjungan sub unit Psikologi dalam 1 bulan

Petugas pengumpulan : Psikolog


data
Periode waktu pelaporan : Setiap bulan
Tempat pengumpulan : Ketua tim PMKP
data
Langkah – langkah yang 1. Petugas mencatat kunjungan pasien poli Psikologi.
2. Petugas menghitung jumlah kunjungan akhir bulan.
dilakukan
3. Petugas menghitung capaian indikator mutu

g. Indikator mutu sub unit Kesehatan Lingkungan


Judul : Hasil pemeriksaan sample air fasyankes ditindak lanjuti
paling lambat 1 minggu setelah hasil diambil oleh petugas

Alasan pengukuran : Mengetahui kinerja petugas kesehatan lingkungan dalam


menindaklanjuti pengambilan sampel air fasyankes
indikator
Referensi indikator :
Peraturan Menteri Kesehatan nomer 75 Tahun 2014 tentang
Pusat Kesehatan Masyarakat
Sumber data : Register pemeriksaan sampel air
Definisi operasional : Hasil pemeriksaan sample air fasyankes ditindak lanjuti
paling lambat 1 minggu setelah hasil diambil oleh petugas

Numerator :
Jumlah hasil pemeriksaan sample air fasyankes ditindak
lanjuti paling lambat 1 minggu setelah hasil diambil oleh
petugas
Denominator :
Jumlah semua hasil pemeriksaan sampel air fasyankes

Target capaian : 100%

Dimensi Mutu :
Ketepatan waktu

13
Jenis indikator :  Input
 Proses
 Output
Kriteria
Inklusi : Pemeriksaan sampel air fasyankes di dalam wilayah
Puskesmas Wirobrajan
Eksklusi :
Pemeriksaan sampel air fasyankes di luar wilayah
Puskesmas Wirobrajan
Metode pengumpulan :
Concurent (Data Primer dari register pemeriksaan sampel
data air)
Populasi :Semua hasil pemeriksaan sampel air fasyankes di dalam
wilayah Puskesmas Wirobrajan
Sampel : Semua hasil pemeriksaan sampel air fasyankes di dalam
wilayah Puskesmas Wirobrajan
Petugas pengumpulan : Petugas Sanitarian
data
Periode waktu pelaporan : Setiap bulan
Tempat pengumpulan : Ketua tim PMKP
data
Langkah – langkah yang 1. Petugas mencatat setiap pemeriksaan sampel air
fasyankes di dalam wilayan Puskesmas Wirobrajan.
dilakukan
2. Petugas mencatat jumlah pemeriksaan sampel air
fasyankes di dalam wilayan Puskesmas Wirobrajan
yang ditindak lanjuti dalam 1 minggu.
3. Petugas menghitung capaian indikator

2. Indikator Sasaran Keselamatan Pasien


a. Ketepatan identifikasi pasien

Judul : Kepatuhan terhadap SOP identifiksi pasien di semua unit


pelayanan

Alasan pengukuran :
Memastikan pasien dilayani sesuai dengan identitasnya
indikator
Referensi indikator : PMK No 11 tahun 2017 tentang Keselamatan Pasien

Sumber data :
Penilaian Daftar Tilik SOP identifiksi pasien di semua unit
pelayanan
Definisi operasional : Petugas pendaftaran mengidentifikasi pasien sesuai dengan
SOP Identifikasi Pasien

Numerator : Jumlah petugas layanan klinis yang menjalankan SOP


identifikasi pasien dengan tepat

Denominator : Jumlah petugas layanan klinis

Target capaian : 100 %


14
Dimensi Mutu : Kesinambungan
Jenis indikator :  Input
 Proses
 Output
Kriteria

Inklusi : Seluruh petugas layanan klinis


Eksklusi :
Petugas yang sedang cuti

Metode pengumpulan : Concurrent (pengambilan data primer kepatuhan petugas dalam


menjalankan SOP Identifikasi Pasien yang dinilai oleh PJ UKP)
data
Populasi : Seluruh petugas layanan klinis

Sampel : Seluruh petugas layanan klinis

Petugas pengumpulan : PJ UKP


data
Periode waktu pelaporan : Evaluasi setiap tiga bulan

Tempat pengumpulan : Ketua tim PMKP


data
Langkah – langkah yang
1. Penanggung jawab UKP melakukan penilaian kepatuhan
dilakukan
SOP Identifikasi Pasien kepada seluruh petugas
layanan klinis
2. Penanggung jawab UKP menghitung capaian indikator

b. Peningkatan komunikasi yang efektif

Judul : Komunikasi efektif dokter dengan perawat pada tindakan


perawatan luka

Alasan pengukuran :
Perlunya komunikasi efektif dokter dengan perawat pada
indikator tindakan perawatan luka sehingga pelaksanaan tindakan
perawatan luka sesuai dengan yang diharapkan.
Referensi indikator : PMK No 11 tahun 2017 tentang Keselamatan Pasien

Sumber data :
Blanko tindakan dan Register tindakan

Definisi operasional : Dokter melakukan komunikasi yang efektif dengan perawat


terkait tindakan perawatan luka

Numerator :
Jumlah tindakan perawatan luka yang sesuai antara blanko
tindakan (dokter) dengan register tindakan (perawat)

Denominator : Jumlah tindakan perawatan luka

15
Target capaian : 100 %
Dimensi Mutu : Kesinambungan
Jenis indikator :  Input
 Proses
 Output
Kriteria

Inklusi :
Jumlah tindakan perawatan luka

Eksklusi : -
Metode pengumpulan : Concurrent
data
Populasi : Jumlah pasien yang mendapatkan perawatan luka

Sampel :
Jumlah pasien yang mendapatkan perawatan luka

Petugas pengumpulan : Perawat PPU


data
Periode waktu pelaporan : Setiap bulan
Tempat pengumpulan : Ketua tim PMKP
data
Langkah – langkah yang 1. Petugas merekap jumlah tindakan perawatan luka
dilakukan 2. Petugas membandingkan blanko tindakan dengan register
tindakan
3. Petugas mecatat jumlah tindakan yang sudah sesuai
antara blanko tindakan dengan register tindakan
4. Petugas menghitung pencapaian indikator
c. Peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai

Judul : Kepatuhan terhadap SOP penyerahan resep

Alasan pengukuran : Memastikan petugas farmasi melaksanakan SOP penyerahan


resep dengan benar sehingga tidak terjadi salah penyerahan
indikator resep
Referensi indikator : PMK No 11 tahun 2017 tentang Keselamatan Pasien
Sumber data : Daftar tilik SOP Penyerahan Resep dengan Benar

Definisi operasional :
Petugas farmasi melaksanakan SOP penyerahan resep
dengan benar
Numerator :
Jumlah petugas farmasi yang melakukan kepatuhan terhadap
SOP penyerahan resep
Denominator : Jumlah petugas farmasi yang bertugas di unit farmasi
Target capaian : 100 %

16
Dimensi Mutu : Keselamatan

Jenis indikator :  Input


 Proses
 Output
Kriteria

Inklusi :
Seluruh petugas yang berkerja di unit farmasi

Eksklusi : Siswa yang sedang PKL di unit farmasi

Metode pengumpulan : Concurrent


data
Populasi :
Seluruh petugas yang berkerja di unit farmasi

Sampel :
Seluruh petugas yang berkerja di unit farmasi

Petugas pengumpulan : Petugas kefarmasian


data
Periode waktu pelaporan : Setiap 3 bulan
Tempat pengumpulan : Ketua tim PMKP
data
Langkah – langkah yang 1. Peer review seluruh petugas di unit farmasi untuk menilai
kepatuhan SOP penyerahan resep
dilakukan 2. Petugas merekap hasil penilaian kepatuan SOP
penyerahan resep
3. Petugas melakukan penghitungan capaian indikator

d. Kepastian tepat lokasi, tepat prosedur dan tepat pasien operasi

Judul : Kepastian tepat lokasi, tepat prosedur, tepat pasien pada


tindakan pencabutan gigi

Alasan pengukuran :
Memastikan pasien mendapatkan pelayanan tindakan
indikator pencabutan gigi yang tepat
Referensi indikator : PMK No 11 tahun 2017 tentang Keselamatan Pasien
Sumber data : SOP Pencabutan Gigi, Daftar tilik SOP Pencabutan Gigi

Definisi operasional :  SOP adalah standar atau acuan yang digunakan sebagai
pedoman dalam melakukan pelayanan klinis
 Kepatuhan terhadap SOP adalah tindakan pelayanan yang
dilakukan petugas pemberi layanan klinis terhadap acuan yang
telah ditetapkan.
 Kepatuhan terhadap prosedur diukur dengan menilai
kesesuaian terhadap daftar tilik SOP tersebut.
 Dinilai patuh jika nilai Compliance Rate = 100%

17
Numerator : Jumlah pasien yang dilakukan pencabutan gigi yang tepat
lokasi, tepat prosedur, tepat pasien
Denominator : Jumlah pasien yang dilakukan pencabutan gigi

Target capaian : 100 %

Dimensi Mutu : Keselamatan

Jenis indikator :  Input


 Proses
 Output
Kriteria

Inklusi : Jumlah pasien yang dilakukan pencabutan gigi


Eksklusi : -

Metode pengumpulan : Concurrent (Data primer buku regitster harian PKGM)


data
Populasi : Jumlah pasien yang dilakukan pencabutan gigi

Sampel : Jumlah pasien yang dilakukan pencabutan gigi

Petugas pengumpulan : Perawat gigi


data
Periode waktu pelaporan : Setiap bulan

Tempat pengumpulan : Ketua tim PMKP


data
Langkah – langkah yang 1. Petugas melakukan pencabutan dengan memastikan tepat
dilakukan lokasi, tepat prosedur dan tepat pasien.
2. Setelah tindakan, petugas menulis di buku register harian
PKGM
3. Petugas melakukan rekap setelah 1 bulan
4. Petugas melakukan perhitungan capaian indikator

e. Pengurangan resiko infeksi terkait pelayanan kesehatan

Judul : Kepatuhan pemberi layanan klinis dalam melakukan cuci


tangan
Alasan pengukuran indikator :
Mengecek konsistensi petugas dalam melakukan cuci tangan
Banyak petugas baru

Referensi indikator : PMK No 11 tahun 2017 tentang Keselamatan Pasien


PMK No 27 tahun 2017 tentang Pedoman Pencegahan
dan Pengendalian Infeksi
Sumber data : Form evaluasi perilaku pemberi layanan klinis

18
Definisi operasional :  Petugas pemberi layanan klinis patuh mencuci tangan
sebelum dan sesudah memeriksa pasien
 Petugas pemberi layanan klinis di Puskesmas Wirobrajan
yang dimaksud adalah dokter, dokter gigi, perawat,
perawat gigi, bidan, gizi, psikolog, apoteker, asisten
apoteker,pranata lab dan pendaftaran
 Penilaian dinilai dengan menggunakan form penilaian
perilaku pemberi layanan klinis oleh petugas PPI

Numerator : Jumlah petugas pemberi layanan klinis yang selalu melakukan


cuci tangan sebelum dan sesudah memberikan pelayanan
klinis
Denominator : Jumlah petugas pemberi layanan klinis yang dilakukan
evaluasi melakukan cuci tangan sebelum dan sesudah
memberikan pelayanan klinis
Target capaian : 100 %
Dimensi Mutu : Keselamatan
Jenis indikator :  Input
 Proses
 Output
Kriteria
Inklusi : Petugas pemberi layanan klinis yang melakukan cuci tangan
sebelum dan sesudah memberikan pelayanan klinis
Eksklusi : Bukan petugas pemberi layanan klinis

Metode pengumpulan data : Concurrent (Data primer hasil penilaian kepatuhan cuci
tangan)
Populasi : Jumlah petugas pemberi layanan klinis yang melakukan cuci
tangan sebelum dan sesudah memberikan pelayanan klinis
Sampel : Jumlah petugas pemberi layanan klinis yang melakukan cuci
tangan sebelum dan sesudah memberikan pelayanan klinis
Petugas pengumpulan data : Tim PPI
Periode waktu pelaporan : Setiap 3 bulan

Tempat pengumpulan data : Ketua tim PMKP

Langkah – langkah yang 1. Tim PPI melakukan penilaian kepatuhan mencuci


dilakukan tangan kepada petugas pemberi layanan klinis
2. Tim PPI merekapitulasi hasil penilaian
3. Tim PPI menilai capaian indikator

19
f. Pengurangan resiko pasien jatuh

Judul : Mencegah pasien jatuh yang disebabkan oleh berbagai


kondisi pasien mau pun lingkungan puskesmas
Alasan pengukuran indikator : Sasaran keselamatan
Referensi indikator : PMK No 11 tahun 2017 tentang Keselamatan Pasien

Sumber data : Register pasien resiko jatuh


Definisi operasional :
Memberikan kalung resiko jatuh kepada pasien yang
diidentifikasi mempunyai resiko jatuh
Numerator : Jumlah pasien dengan resiko jatuh yang diidentifikasi dan
ditindaklanjuti
Denominator : Jumlah pasien dengan resiko jatuh

Target capaian : 100 %

Dimensi Mutu : Keselamatan


Jenis indikator :  Input
 Proses
 Output
Kriteria

Inklusi : Pasien yang berkunjung ke Puskesmas Wirobrajan


Eksklusi : -

Metode pengumpulan data : Concurrent

Populasi : Semua pasien yang berkunjung ke Puskesmas Wirobrajan


Sampel : Semua pasien yang berkunjung ke Puskesmas Wirobrajan
Petugas pengumpulan data : Petugas Keamanan
Periode waktu pelaporan : Setiap bulan

Tempat pengumpulan data : Ketua tim PMKP


Langkah – langkah yang 1. Petugas melakukan penilaian resiko jatuh terhadap
dilakukan seluruh pengunjung puskesmas Wirobrajan
2. Petugas mengidentifikasi pasien dengan resiko jatuh
kemudian mencatat di register
3. Petugas menindaklanjuti pasien dengan resiko jatuh
kemudian mencatat di register
4. Patugas melakukan rekapitulasi dan menghitung
capaian indikator.

20
BAB IV
PENUTUP

Pemenuhan tuntutan masyarakat terhadap kebutuhan akan pelayanan yang bermutu tinggi dan
memuaskan harus menjadi prioritas dalam pengelolaan pelayanan kesehatan. Keterjaminan mutu dan
keselamatan pasien maupun sasaran akan memberikan kontribusi yang dominan terhadap kepercayaan
masyarakat yang berdampak pada eksistensi institusi di tengah persaingan global.
Keberadaan indikator mutu pelayanan upaya kesehatan perseorangan bermanfaat untuk
mengukur mutu pelayanan UKP di Puskesmas. Oleh karena itu, keberhasilan dalam mempertahankan
mutu serta upaya yang terus - menerus dalam meningkatkan mutu pelayanan dan keselamatan
pasien harus terus dilaksanakan. Untuk mendukung hal tersebut diperlukan upaya yang terpadu
dari semua komponen terlibat dalam pelayanan baik langsung maupun tidak langsung. Dalam hal
ini diperlukan komitmen pimpinan Puskesmas dan seluruh staf serta karyawan untuk turut
bertanggungjawab dalam rangka mewujudkan mutu pelayanan yang berkualitas serta aman.

21