Anda di halaman 1dari 6

Menurut Richard Winter ada enan karakteristik penelitian tindakan kelas (PTK), yaitu :

1. Kritik Refleksi.
Salah satu langkah penelitian kualitatif pada umumya, dan khususnya penelitian tindakan
kelas ialah adanya upaya refleksi terhadap hasil observasi mengenai latar dan kegiatan suatu
aksi. Hanya saja, di dalam(PTK) yang dimaksud dengan refleksi ialah suatu upaya evaluasi atau
penelitian, dan refleksi ini perlu adanya kritik sehingga dimungkinkan pada taraf evaluasi
terhadap perubahan-perubahan. Adapun menurut Schmuck (1997), yang dimaksud refleksi disini
adalah refleksi dalam pengertian melakukan introspeksi diri, seperti guru mengingat kembali apa
saja tindakan yang telah dilakukan di dalam kelas, apa dampak dari tindakan tersebut, mengapa
dampaknya menjadi demikian dan sebagainya.
2. Kritik Dialektis.
Dengan adanya kritik dialektif diharapkan penelitian bersedia melakukan kritik terhadap
fenomena yang ditelitinya. Selanjutnya peneliti akan bersedia melakukan pemerisaan terhadap :
a. Kontek hubungan secara menyeluruh yang merupakan suatu unit walaupun dapat
dipisahkan secarta jelas.
b. Struktur kontradiksi internal, maksudnya dibalik unut yang kelas yang memungkinkan
adanya kecenderungan mengalami perubahan meskipun sesuatu yang berada di balik unit
tersebut bersifat stabil.
3. Kritik Kolaboratif.
Dalam penelitian tindakan kelas (PTK) diperlukan hadirnya suatu kerjasama dengan pihak-
pihak lain seperti atasan, sejawat atau kolega, mahasiswa, dan sebagainya.
4. Kritik Resiko.
Dengan adanya ciri resiko diharapkan dan dituntut agr peneliti berani mengambil resiko,
terutama pada waktu proses penelitian berlangsung. Resiko yang mungkin ada
diantaranya: Adanya tuntutan untuk melakukan suatu transformasi, dan Melesetnya hipotesis.
5. Kritik Susunan Jamak.
Pada umumnya penelitian kuantitatif atau tradisional berstruktur tunggal karena ditentukan
oleh suara tunggal, penelitiannya. Akan tetapi, PTK memiliki struktur jamak karena jelas
penelitian ini bersifat dialektis, reflektif, partisipasitif dan kolaboratif.
6. Kritik Internalisasi Teori dan Praktek.
Di dalam penelitian tindakan kelad (PTK), keberadaan antara teori dan praktikbukan
merupakan dua dunia yang berlainan. Akan tetapi keduanya merupakan dua tahap yang berbeda,
yang saling bergantung dan keduanya berfungsi untuk mendukung transformasi.

PENGERTIAN DAN LANGKAH _ LANGKAH PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH


Posted by PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN on Tuesday, July 10, 2018
PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH

A. Definisi PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH (PTS)

PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH (PTS) adalah penelitian yang dilaksanakan oleh


peneliti (umumnya juga praktisi) di sekolah untuk membuat peneliti lebih profesional terhadap
pekerjaannya, memperbaiki praktik-praktik kerja, dan melakukan inovasi sekolah serta
mengembangkan ilmu pengetahuan terapan (professional knowledge).
Berdasarkan definisi tersebut, maka ciri utama PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH (PTS)
adalah melakukan tindakan nyata untuk memperbaiki situasi atau melakukan
inovasi sekolah dalam upaya meningkatkan mutu pembelajaran sehingga mampu menghasilkan
siswa yang berpikir kritis, kreatif, inovatif, cakap dalam menyelesaikan masalah, dan bernaluri
kewirausahaan.
B. Tujuan PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH (PTS)

Tujuan PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH (PTS) adalah sebagai berikut.


1. Memperbaiki situasi sekolah saat ini.
2. meningkatkan mutu input, proses, dan output sekolah.
3. Mengembangkan inovasi input, proses, dan output sekolah.
4. Meningkatkan kinerja sekolah yang terkait dengan mutu, inovasi, keefektifan, efisiensi,
dan produkivitas sekolah.
5. Meningkatkan kemampuan profesional sebagai kepala sekolah.
6. Menumbuhkembangkan budaya akademik di lingkungan sekolah.
7. Membimbing guru dalam merencanakan, melaksanakan, melaporkan, dan
menindaklanjuti hasil Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) .
8. Mengembangkan ilmu terapan/praktis (professional knowledge).

C. Ciri-ciri PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH (PTS)

Ciri utama PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH (PTS) adalah sebagai berikut.


1. Adanya tindakan nyata untuk menyelesaikan masalah/menghadapi tantangan/melakukan
inovasi.
2. Bersifat kualitatif, meskipun dapat menggunakan data kuantitatif.
3. Didasarkan pada masalah atau tantangan yang dihadapi kepala sekolah.
4. Ada perubahan positif pada kepala sekolah dan sekolahnya.
5. Penelitian dilakukan secara kolaboratif antara peneliti bersama warga sekolah baik guru,
tenaga kependidikan, pengawas, siswa, maupun pihak-pihak lain yang terkait.
6. Peneliti juga bertindak sebagai praktisi yang melakukan refleksi.
7. Setiap siklus memiliki empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan,
pengamatan/evaluasi, dan refleksi.
8. Jumlah siklus tergantung pencapaian tujuan PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH
(PTS) . Jika satu siklus belum mencapai tujuan maka dapat dilanjutkan pada siklus ke
dua, dan seterusnya.
9. Tidak ada rumusan hipotesis karena PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH (PTS)
tidak untuk menguji hipotesis.
Pengertian Penelitian Tindakan (Action Research). Penelitian ini merupakan perkembangan
yang muncul pada tahun 1940-an sebagai salah satu model penelitian yang muncul di tempat
kerja, tempat di mana peneliti melakukan perkerjaan sehari-hari. Misalnya, kelas merupakan
tempat penelitian bagi para guru, sekolah menjadi tempat penelitian bagi para kepala sekolah.
Penelitian ini juga dapat dilakukan di desa tempat masyarakat beraktivitas, menjadi tempat
penelitian bagi para petugas penyuluh masyarakat. berikut adalah penjelasan seputar pengertian
penelitian tindakan, Karakteristik Penelitian Tindakan, Tujuan Penelitian Tindakan dan Model
Penelitian Tindakan.

Definisi Penelitian Tindakan


Penelitian tindakan adalah merupakan suatu bentuk penelitian refleksi diri yang dilakukan oleh
para partisipan dalam situasi-situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki praktek
yang dilakukan sendiri. Dengan demikian akan diperoleh pemahaman mengenai praktek tersebut
dan situasi di mana praktek tersebut dilaksanakan.
Penelitian tindakan adalah merupakan suatu proses yang memberikan kepercayaan pada
pengembangan kekuatan berpikir reflektif, diskusi, penentuan keputusan dan tindakan oleh
orang-orang biasa, berpartisipasi dalam penelitian kolektif dalam mengatasi kesulitan-kesulitan
yang mereka hadapi dalam kegiatannya.

Penelitian Tindakan menurut para ahli


Menurut Arikunto definisi penelitian tindakan adalah penelitian tentang hal-hal yang terjadi di
masyarakat atau kelompok sasaran, dan hasilnya langsung dapat dikenakan pada masyarakat
yang bersangkutan.
Menurut Kemmis dan Taggart menyatakan bahwa pengertian Penelitian Tindakan adalah suatu
bentuk penelitian reflektif diri secara kolektif dilakukan peneliti dalam situasi sosial untuk
meningkatkan penalaran dan keadilan praktek pendidikan sosial mereka, serta pemahaman
mereka mengenai praktek dan terhadap situasi tempat di mana dilakukan praktek-praktek
tersebut.
Secara Umum penelitian tindakan adalah cara suatu kelompok atau seseorang dalam
mengorganisasi suatu kondisi sehingga mereka dapat mempelajari pengalaman mereka dan
membuat pengalaman mereka dapat diakses oleh orang lain. Dalam kenyataannya, penelitian
tindakan dapat dilakukan baik secara grup maupun individual dengan harapan pengalaman
mereka dapat ditiru atau diakses untuk memperbaiki kualitas kerja orang lain.

Karakteristik Penelitian Tindakan


1. Problem yang dipecahkan merupakan persoalan praktis yang dihadapi peneliti dalam
kehidupan profesi sehari-hari.
2. Peneliti memberikan perlakuan (treatment) yang berupa tindakan terencana untuk
memecahkan permasalahan dan sekaligus meningkatkan kualitas yang dapat dirasakan
implikasinya oleh subjek yang diteliti.
3. Langkah-langkah penelitian yang direncanakan selalu dalam bentuk siklus tingkatan atau
daur yang memungkinkan terjadinya kerja kelompok maupun kerja mandiri secara
intensif.
4. Penelitian tindakan bersifat terbuka.
5. Penelitian tindakan merupakan sebuah analisis kritis terhadap tempat-tempat kerja
pendidikan.
6. Penelitian tindakan merupakan justifikasi bagi praktik kerja seseorang.
7. Adanya langkah berfikir reflektif (reflective thinking) dari peneliti baik sesudah maupun
sebelum tindakan. Reflective thinking ini penting untuk melakukan retrospeksi (kaji
ulang) terhadap tindakan yang telah diberikan dan implikasinya yang muncul pada subjek
yang diteliti sebagai akibat adanya penelitian tindakan.
Tujuan Penelitian Tindakan
1. Salah satu cara strategis guna memperbaiki layanan maupun hasil kerja dalam suatu
lembaga.
2. Mengembangkan rencana tindakan guna meningkatkan apa yang telah dilakukan
sekarang.
3. Mewujudkan proses penelitian yang mempunyai manfaat ganda, baik bagi peneliti yang
dalam hal ini mereka memperoleh informasi yang berkaitan dengan permasalahan,
maupun pihak subjek yang diteliti dalam mendapatkan manfaat langsung dari adanya
tindakan nyata.
4. Tercapainya konteks pembelajaran dari pihak yang telibat, yaitu peneliti dan para subjek
yang diteliti (Mc. Niff, 1992)
5. Timbulnya budaya meneliti yang terkait dengan prinsip sambil bekerja dapat melakukan
penelitian di bidang yang ditekuninya.
6. Timbulnya kesadaran pada subjek yang diteliti sebagai akibat adanya tindakan nyata
untuk meningkatkan kualitas.
7. Diperolehnya pengalaman nyata yang berkaitan erat dengan usaha peningkatan kualitas
secara profesional maupun akademik.
Model Penelitian Tindakan
1. Model Kemmis. Model ini dikembangkan oleh Stephen Kemmis dan Robin Mc Taggart
tahun 1988. Mereka menggunakan empat komponen Penelitian Tindakan (perencanaan,
tindakan, observasi, dan refleksi) dan suatu sistem spiral yang saling terkait antara
langkah satu dengan langkah berikutnya.
2. Model Ebbut. Model ini terdiri dari tiga tingkatan atau daur. Pada tingkat pertama, ide
awal dikembangkan menjadi langkah tindakan pertama, kemudian tindakan pertama
tersebut dimonitor implementasi pengaruhnya terhadap subjek yang diteliti. Semua
akibatnya dicatat secara sisematis termasuk keberhasilan dan kegagalan yang terjadi.
Catatan monitoring tersebut digunakan sebagai bahan revisi rencana umum tahap kedua.
Pada tingkat kedua ini, rencana umum hasil revisi dibuat langkah
tindakannya,dilaksanakan, monitoring efek tindakan yang terjadi pada subjek yang
diteliti, dokumentasikan efek tindakan tersebut secara detail dan digunakan sebagai bahan
untuk masuk ke tingkat ketiga. Pada tingkatan ini, dilakukan tindakan seperti yang
dilakukan pada tingkat sebelumnya; dilakukan, didokumentasi efek tindakan, kemudian
kembali ke tujuan umum Penelitian Tindakan untuk mengetahui apakah permasalahan
yang telah dirumuskan dapat terpecahkan.
3. Model Elliot. Model ini dikembangkan oleh dua orang sahabat, yaitu Elliot dan Edelman.
Mereka mengembangkan dari model Kemmis dibuat dengan lebih rinci pada setiap
tingkatannya, agar lebih memudahkan dalam tindakannya. Proses yang telah
dilaksanakan dalam semua tingkatan tersebut digunakan untuk menyusun laporan
penelitian. Dalam model Elliot ini, setelah ditemukannya ide dan permasalahan yang
menyangkut dengan peningkatan praktis, maka dilakukan tahap reconnaisance atau
peninjauan ke lapangan. Setelah diperoleh perencanaan yang baik dan sesuai dengan
keadaan lapangan, maka tindakan yang terencana dan sistematis dapat diberikan kepada
subjek yang diteliti. Pada akhir tindakan, peneliti melakukan tindakan monitoring
terhadap efek tindakan yang mungkin berupa keberhasilan dan hambatan, disertai dengan
faktor-faktor penyebabnya. Atas dasar hasil monitoring tersebut, peneliti dapat
menggunakannya sebagai bahan perbaikan yang dapat diterapkan pada langkah tindakan
kedua dan seterusnya sampai diperoleh informasi atau kesimpulan tentang apakah
permasalahan yang dirumuskan telah dapat dipecahkan.
4. Model McKernan. Pada model ini ide umum telah dibuat lebih rinci, yaitu dengan
diidentifikasinya permasalahan, pembatasan masalah dan tujuan, penilaian kebutuhan
subjek, dan dinyatakannya hipotesis atau jawaban sementara terhadap masalah di dalam
setiap tingkatan atau daur. Model ini, yang juga perlu diperhartikan adalah bahwa pada
setiap daur tindakan yang ada selalu dievaluasi guna melihat hasil tindakan, apakah
tujuan dan permasalahan penelitian telah dapat dicapai. Jika ternyata tindakan yang
diberikan sudah dapat memecahkan masalah, maka penelitian dapat diakhiri. Apabila
hasil penelitian belum dapat memecahkan permasalahannya, maka peneliti dapat masuk
pada tingkatan berikutnya.