Anda di halaman 1dari 17

JENIS JENIS TEKNOLOGI PEKERJAAN SOSIAL KOMUNITAS (RRA, PRA,

MPA,ToP DAN SKENARIO FGD)

1. Metoda Rapid Rural Appraisal (RRA)


Metoda RRA digunakan untuk pengumpulan informasi secara akurat dalam waktu yang
terbatas ketika keputusan tentang pembangunan perdesaan harus diambil segera. Dewasa ini
banyak program pembangunan yang dilaksanakan sebelum adanya kegiatan pengumpulan semua
informasi di daerah sasaran. Konsekuensinya, banyak program pembangunan yang gagal atau
tidak dapat diterima oleh kelompok sasaran meskipun program-program tersebut sudah
direncanakan dan dipersiapkan secara matang, karena masyarakat tidak diikutsertakan dalam
penyusunan prioritas dan pemecahan masalahnya.
Pada dasarnya, metoda RRA merupakan proses belajar yang intensif untuk memahami
kondisi perdesaan, dilakukan berulang-ulang, dan cepat. Untuk itu diperlukan cara kerja yang
khas, seperti tim kerja kecil yang bersifat multidisiplin, menggunakan sejumlah metode, cara,
dan pemilihan teknik yang khusus, untuk meningkatkan pengertian atau pemahaman terhadap
kondisi perdesaan.
Cara kerja tersebut tersebut dipusatkan pada pemahaman pada tingkat komunitas lokal
yang digabungkan dengan pengetahuan ilmiah. Komunikasi dan kerjasama diantara masyarakat
desa dan aparat perencana dan pelaksana pembangunan (development agent) adalah sangat
penting, dalam kerangka untuk memahami masalah-masalah di perdesaan. Di samping itu,
metoda RRA juga berguna dalam memonitor kecenderungan perubahan-perubahan di perdesaan
untuk mengurangi ketidakpastian yang terjadi di lapangan dan mengusulkan penyelesaian
masalah yang memungkinkan.
Menurut James Beebe (1995), metoda RRA menyajikan pengamatan yang dipercepat yang
dilakukan oleh dua atau lebih pengamat atau peneliti, biasanya dengan latar belakang akademis
yang berbeda. Metoda ini bertujuan untuk menghasilkan pengamatan kualitatif bagi keperluan
pembuat keputusan untuk menentukan perlu tidaknya penelitian tambahan dalam merencanakan
dan melaksanakan kegiatan.
Metoda RRA memiliki tiga konsep dasar yaitu;
(a) perspektif sistem,
(b) triangulasi dari pengumpulan data, dan
(c) pengumpulan data dan analisis secara berulang-ulang (iterative).

2. Metoda Participatory Rural Appraisal (PRA)


Konsepsi dasar pandangan PRA adalah pendekatan yang tekanannya pada keterlibatan
masyarakat dalam keseluruhan kegiatan. Metoda PRA bertujuan menjadikan warga masyarakat
sebagai peneliti, perencana, dan pelaksana program pembangunan dan bukan sekedar obyek
pembangunan. Kritik PRA terhadap pembangunan adalah bahwa program-program
pembangunan selalu diturunkan "dari atas" (top down) dan masyarakat tinggal melaksanakan.
Proses perencanaan program tidak melalui suatu 'penjajagan kebutuhan' (need assesment)
masyarakat, tetapi seringkali dilaksanakan hanya berdasarkan asumsi, survei, studi atau
penelitian formal yang dilakukan oleh petugas atau lembaga ahli-ahli penelitian. Akibatnya
program tersebut sering tidak relevan dengan kebutuhan masyarakat dan tidak adanya rasa
memiliki terhadap program itu.
Dengan PRA, yakni dengan partisipasi masyarakat keadaan itu diperbaiki dan juga
keterampilan-keterampilan analitis dan perencanaan dapat dialihkan kepada masyarakat. Dengan
demikian secara bertahap ketergantungan pada pihak luar akan berkurang dan pengambilan
prakarsa dan perumusan program bisa berasal dari aspirasi masyarakat (bottom up).
Metoda PRA didasarkan pada penyempurnaan dan modifikasi dari metoda AEA
(Agroecosystems Analysis) dan RRA (Rapid Rural Appraisal) yang dilakukan oleh kalangan
LSM dan peneliti yang bekerja di wilayah Asia dan Afrika. Walaupun ada beberapa kesamaan
antara metoda PRA dan RRA, tetapi ada perbedaan secara mendasar.
Metoda RRA penekannya adalah pada kecepatannya (rapid) dan penggalian informasi
oleh órang luar. Sedangkan metoda PRA penekannya adalah pada partisipasi dan pemberdayaan.
Menurut Robert Chambers (1987) PRA lebih cocok disebut sebagai metoda dan pendekatan-
pendekatan jamak daripada metoda dan pendekatan tunggal, dan PRA adalah menu yang
menyajikan daftar metoda dan teknik terbuka dan beragam.
Dengan penekanannya pada partisipasi, maka metoda PRA mempunyai prinsip-prinsip:
belajar dari masyarakat, orang luar sebagai fasilitator dan masyarakat sebagai pelaku, saling
belajar dan saling berbagi pengalaman, keterlibatan semua kelompok masyarakat, bebas dan
informal, menghargai perbedaan dan triangulasi.
Metoda PRA dibangun berdasarkan
(a) kemampuan- kemampuan masyarakat desa setempat,
(b) penggunaan teknik-teknik fasilitatif dan partisipatoris, dan
(c) pemberdayaan masyarakat desa setempat dalam prosesnya (Khan and Suryanata, 1994).
Metoda PRA pada umumnya digunakan untuk mengevaluasi 4 (empat) macam proses, yaitu:
(1) appraisal dan perencanaan secara partisipatoris,
(2) pelaksanaan, pemantauan, evaluasi program secara partisipatoris,
(3) penyelidikan berbagai topik (seperti; manajemen sumber daya alam, keamanan pangan,
kesehatan, dan lain-lain),
(4) pelatihan dan orientasi untuk peneliti dan masyarakat desa.

Alat-alat yang digunakan dalam metoda PRA serupa dengan yang digunakan dalam metoda
RRA, tetapi berbeda dalam tingkat partisipasi dari masyarakat desa dalam praktik di lapangan.
Tidak seperti dalam RRA, masyarakat desa yang dilibatkan dalam PRA memainkan peran yang
lebih besar dalam pengumpulan informasi, analisis data dan pengembangan intervensi seperti
pada program-program pengembangan masyarakat yang didasarkan pada pengertian terhadap
program secara keseluruhan.
Proses ini akan memberdayakan masyarakat dan memberi kesempatan kepada mereka untuk
melaksanakan kegiatan dalam memecahkan masalah mereka sendiri yang lebih baik dibanding
dengan melalui intervensi dari luar.

3. Metode Partisipatory Assesment ( MPA )


MPA adalah suatu teknik dalam pengembangan masyarakat dengan memfasilitasi
masyarakat untuk mengidentifikasi situasi-situasi, kondisi, masalah sosial yang dialami oleh
masyarakat setempat, penyebab dari masalah tersebut serta mengidentifikasi potensi dan sumber
yang dimiliki. Teknik ini dimaksudkan untuk memancing partisipasi masyarakat yang enggan,
takut atau malu mengungkapkan ide.
Langkah-langkah MPA :
Menemukenali masalah/kebutuhan :
a)Pemetaan wilayah dan akses kepemilika.
b) Klassifikasi kesejahteraan,
c) Masalah individu, kelompok, dan masyarakat yang dihadapi,
d) Sejarah perkembangan wilayah dan Observasi lapangan

Menemukenali potensi atau sumber:


a) Potensi rumah tangga setiap keluarg,
b) Waktu yang dapat digunakan secara produktif,
c) Sarana dan prasarana umum,
d) System nilai masyarakat dan Kebiasaan pengambilan keputusan

Menganalisis masalah/kebutuhan dan potensi:


a) Mengkaji masalah dan penyebab,
b) Hubungan kausalitas,
c) Menentukan focus masalah,
d) Mencari prioritas masalah,
e) Melihat faktor pendukung dan penghambat dan
f) Kemungkinan sumber dan potensi yang dapat digunakan dalam pemecahan masalah

Memilih solusi pemecahan masalah:


a) Mencegah timbulnya masalah yang lebih jauh,
b) Memobilisasi sistem sumber dan potensi,
c) Menentukan alternatif pemecahan masalah dan Pertemuan masyarakat untuk menentukan
skenario tindakan

Klasifikasi Kesejahteraan
Adalah suatu proses untuk mencari definisi tentang tingkat kesejahteraan suatu masyarakat
berdasarkan kaca mata masyarakat itu sendiri (kearifan lokal)
Bahwa di dalam masyarakat terjadi strata social
Strata tersebut akan didefinisikan oleh masyarakat itu sendiri
Masyarakat akan menganalisa strata mana yang paling banyak populasinya dan mengapa
demikian
Kearifan lokal à bahwa masyarakat punya pemaknaan terhadap apa yang mereka lihat dan
rasakan tentang kesejahteraannya.

Tujuan:
Memberi pembelajaran dan penyadaran kepada masyarakat tentang tingkat kesejahteraan
komunitasnya
Memberi pembelajaran kepada masyarakat untuk menilai tingkat kesejahteraannya sediri

4. Technology of Participation ( ToP )


ToP adalah teknik perencanaan pengembangan masyarakat secara partisipatif, sehingga semua
pihak memiliki kesempatan yang sama untuk mengemukakan ide dan mengapresiasi ide orang
lain.
Alur Diskusi :
a.Tahap I : Diskusi
Tahap diskusi merupakan dialog yang dipandu dengan serangkaian pertanyaan yang dipandu
oleh fasilitator
Pertanyaan yang diajukan ada pada empat tingkat kesadaran yaitu : objective, reflektive,
interpretative, decisional. Disingkat ORID
3) Struktur ini memungkinkan peserta untuk menjelajah dari hal yang dangkal sampai
pemahaman yang mendalam

b. Tahap II : Lokakarya:
a) Tahap ini merupakan cara untuk memfasilitasi pemikiran-pemikiran di dalam kelompok
tentang pokok-pokok bahasan tertentu menjadi suatu keputusan dan tindakan yang sifatnya
terfokus dan
b) Tahap ini merupakan cara yang efektif untuk membangun konsensus dalam menyusun
tindakan bersama
c. Tahap III : Perumusan Rencana Tindak:
a) Merupakan gabungan dari tahap diskusi dan tahap lokakarya dan
b) Tujuannya adalah tersusunnya rencana tindakan nyata untuk kurun waktu tertentu dan disertai
dengan tugas-tugas dan tanggungjawab yang diuraikan secara bersama.

5. SKENARIO FGD
A. TAHAP PERSIAPAN.
Menyiapkan/menetapkan peserta
Peserta diskusi terdiri dari anggota
Diharapkan hadir sekurang-kurangnya 75% anggotA
Menyepakati tanggal, waktu, tempat dan didiskusikan dengan pimpinan
Membuat dan menyebarkan undangan.
Menyiapkan bahan dan logistik (alat tulis, instrumen penelitian, ruangan, tempat duduk, dan
konsumsi)
Menyiapkan notulen (menunjuk orang yang bisa mencatat dengan baik dan dipersiapkan dua
orang dengan tujuan saling bisa mengoreksi kekurangan pencatatan proses diskusi ).

B. TAHAP PROSES DISKUSI


Memulai diskusi (durasi: 15 menit )
Pembukaan acara ( Mahasiswa memperkenalkan diri dan meminta audiens mengenalkan diri).
Penjelasan maksud , tujuan, tema dan alat yang akan digunakan dalam FGD ( durasi: 30 menit).
Mengemukakan Maksud FGD
Mengemukaan Tujuan FGD
Penawaran waktu diskusi/ kesepakatan waktu.
Memotivasi partisipasi dari seluruh peserta FGD untuk mengungkapkan pendapat mereka
masing-masing.
Menjelaskan alat/matriks yang akan digunakan sebelum diskusi.

C. PELAKSANAAN DISKUSI ( durasi: 90 menit )


Penggunaan matriks diskusi mekanisme pengelolaan raskin dilaksanakan dengan menggunakan
matriks. Jawaban yang dipilih pada setiap item dilakukan dengan cara menulis pada kertas dan
dtempelkan di dinding, kenudian dikelompokkan dengan jawaban yang sama.
Bloking dan distribusi: Fasilitator pada saat diskusi sedang berjalan berfungsi meminimalisir
pendapat dari seseorang yang dominan dengan mnggunakan bahasa halus untuk mengalihkan
dominasi dan di distribusikan ke anggata lain.
Refokus: Dalam diskusi kemungkinan timbul pengungkapan masalah-masalah yang melebar,
tugas dari fasilitator dalam situasi ini memfokuskan kembali kesepakatn diskusi atau
pembahasan masalah dan bukan pembahasan masalah yang lain.
Melerai perdebatan: Dalam diskusi dengan kelompok sasaran kemungkinan terjadi perdebatan
pendapat, tugas fasilitator adalah memahami perbedaan-perbedaan pendapat yang mungkin
timbul dan tidak memihak kepada siapapun melalui kesepakatan dengan satu suara atau sepakat
untuk tidak sepakat, meskipun demikian akan ditujukan kecenderungan umum.
Reframing
Apabila ada usulan baru yang masih berkaitan dengan hal diatas maka perlu untuk diperhatikan
dan cermati.

Menyusun kembali rencana


6. Menegosiasi waktu: Fasilitator mengingatkan waktu yang dipergunakan untuk diskusi dan
apabila waktu yang dipergunakan ternyata telah habis dari waktu yang tertera di
undangan sementara pemba -san belum selesai para anggota masih ada, maka perlu
ditawarkan kembali untuk menambah waktui diskusi kelompok terfokus.

D. MENUTUP ( durasi :15 menit )


Menyimpulkan.
Mengucapkan terima kasih.
Kajian Praktik Pekerjaan Sosial Makro (Teknik dan Model Pengembangan
Masyarakat)
Kajian tentang praktik pekerjaan sosial makro berisi tentang pengertian pekerjaan sosial
dan teknik pekerjaan sosial makro. Sedangkan kajian tentang pengembangan masyarakat berisi
tentang pengertian dan model-model pengembangan masyarakat. Berikut merupakan penjelasan
tentang praktik pekerjaan sosial makro dan pengembangan masyarakat:
1. Praktik Pekerjaan Sosial Makro
a. Pengertian Pekerjaan Sosial
Menurut Zastrow dalam Edi Suharto (2010:24) pengertian pekerjaan sosial adalah
aktivitas profesional untuk menolong individu, kelompok, dan masyarakat dalam meningkatkan
atau memperbaiki kapasitas mereka agar berfungsi sosial dan menciptakan kondisi-kondisi
masyarakat yang kondusif untuk mencapai tujuan tersebut.
Berdasarkan pengertian diatas dapat terlihat bahwa profesi pekerjaan sosial memang
membantu masyarakat pada level mikro, mezzo, dan juga makro.
Pada level makro, pekerjaan sosial menyentuh lapisan masyarakat yang lebih besar seperti
kelompok masyarakat desa dan sebagainya. Praktek ini tidak terlalu menekankan pada intervensi
individual atau intervensi kelompok kecil. Praktek makro dalam pekerjaan sosial terutama lebih
memfokuskan diri pada isu-isu global yang berkenaan dengan kebijakan suatu lembaga,
kadangkala juga melakukan advokasi dimana suatu pelayanan yang dibutuhkan oleh mayoritas
masyarakat tidak tersedia dalam suatu lembaga, pada kali yang lain, pekerja sosial mungkin juga
bekerja dengan sistem atau kebijakan lembaga yang dianggap tidak adil atau kurang manusiawi.
Dalam kasus-kasus seperti ini, pekerja sosial mungkin perlu memberikan intervensi pada
organisasi, kebijakan, atau sistem tertentu yang diarahkan untuk kepentingan masyarakat.

b. Teknik Pekerjaan Sosial Makro


1) Community Involvement (CI), Neighborhood Survey Study (NSS), Community/Night
Meeting Forum (CMF) untuk inisiasi sosial dalam mengajak masyarakat membangun kesadaran
kolektif bersama.
Firsan (2011: 54-55) mengemukakan bahwa community involvement adalah hubungan yang
dibangun dengan publik (stakeholder, media, masyarakat yang berada di sekitar perusahaan, dan
lain-lain). Teknik ini dapat dilakukan dengan meleburkan diri / melibatkan diri dalam berbagai
kegiatan masyarakat, baik kegiatan formal maupun informal, baik individu maupun kelompok.
Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan untuk menciptakan keterbukaan masyarakat dalam
memberikan informasi-informasi yang diperlukan serta menghindari adanya tekanan dari pihak
manapun.
Neighborhood Survey Study (NSS) adalah nama lain dari home visit atau kunjungan rumah yang
merupakan salah satu teknik pengumpul data dengan jalan mengunjungi rumah siswa untuk
membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi siswa dan untuk melengkapi data siswa yang
sudah ada yang diperoleh dengan tehnik lain (Winkel. WS, 1995:76).
Community/Night Meeting Forum (CMF) atau pertemuan masyarakat merupakan kegiatan non
formal berupa forum musyawarah warga di tingkat RT atau RT yang merupakan wadah untuk
melakukan jajak kebutuhan (need assessment) bagi penyiapan usulan kegiatan yang akan
dilaksanakan (Pemerintah Kota Padang, 2014)
2) Methodology Participatory Assessment (MPA): Pendekatan untuk menemukan dan menggali
masalah, kebutuhan dan kekuatan masyarakat secara partisipatif
Dayal et al (2000) mengemukakan bahwa Methodology for Participatory Assessments (MPA)
adalah metode yang dikembangkan untuk menjalankan penilaian suatu proyek pembangunan
masyarakat. Sheafor (2003) mengemukakan bahwa MPA merupakan tenik untuk melakukan
asesmen terhadap permasalahan dengan melibatkan masyarakat. Masyarakat yang menentukan,
merencanakan, dan memutuskan permasalahan yang dihadapi. Metoda ini biasa digunakan untuk
mengidentifikasi atau menemukenali kebutuhan dan potensi yang ada di dalam maupun di luar
masyarakat. Dalam MPA pemimpin kegiatan ini hanya berperan sebagai fasilitator yang
memberi arahan kepada warga agar dapat menemukan sendiri kebutuhan dan potensi tersebut.
Langkah-langkah dalam teknik MPA antara lain :
a) Menjelaskan maksud, tujuan dan proses.
b) Mengidentifikasi masalah.
c) Menentukan prioritas masalah.
d) Melakukan analisis masalah (faktor penyebab dan akibat masalah).
e) Mengidentifikasi sumber berdasarkan prioritas masalah.

3) Participatory Rural Appraisal (PRA) : pendekatan untuk mengkaji masyarakat desa secara
partisipatif, yang memandang pendidikan pada masyarakat sebagai pendidikan orang dewasa
a) Pengertian Participatory Rural Appraisal
Secara Hafiah atau diterjemahkan kata perkata, PRA adalah penilaian/pengkajian/penelitian
keadaan desa secara partisipatif. Dengan demikian, metode PRA adalah cara yang digunakan
dalam melakukan kajian untuk memahami keadaan atau kondisi desa dengan melibatkan
partisipasi masyarakat.
Menurut Konsorsium Pengembangan Dataran Tinggi Nusa Tenggara PRA adalah pedekatan dan
teknik-teknik pelibatan masyarakat dalam proses-proses pemikiran yang berlangsung selama
kegitan-kegiatan perencanaan dan pelaksanaan, serta pemantauan dan evaluasi program
pembangunan masyarakat.
b) Teknik-Teknik PRA
Teknik-teknik PRA antara lain :
(1) Secondary Data Review (SDR) atau Review Data Sekunder. Merupakan cara
mengumpulkan sumber-sumber informasi yang telah diterbitkan maupun yang belum
disebarkan. Tujuan dari usaha ini adalah untuk mengetahui data manakah yang telah ada
sehingga tidak perlu lagi dikumpulkan.
(2) Direct Observation atau Observasi Langsung. Direct Observation adalah kegiatan
observasi langsung pada obyek-obyek tertentu, kejadian, proses, hubungan-hubungan
masyarakat dan mencatatnya. Tujuan dari teknik ini adalah untuk melakukan cross-check
terhadap jawaban-jawaban masyarakat.
(3) Semi-Structured Interviewing (SSI) atau Wawancara Semi Terstruktur. Teknik ini adalah
wawancara yang mempergunakan panduan pertanyaan sistematis yang hanya merupakan
panduan terbuka dan masih mungkin untuk berkembang selama interview dilaksanakan.
SSI dapat dilakukan bersama individu yang dianggap mewakili informasi, misalnya
wanita, pria, anak-anak, pemuda, petani, pejabat lokal.
(4) Focus Group Discussion atau Diskusi Kelompok Terfokus. Teknik ini berupa diskusi
antara beberapa orang untuk membicarakan hal-hal bersifat khusus secara mendalam.
Tujuannya untuk memperoleh gambaran terhadap suatu masalah tertentu dengan lebih
rinci.
(5) Preference Ranking and Scoring. Adalah teknik untuk menentukan secara tepat problem-
problem utama dan pilihan-pilihan masyarakat. Tujuan dari teknik ini adalah untuk
memahami prioritas-prioritas kehidupan masyarakat sehingga mudah untuk
diperbandingkan.
(6) Direct Matrix Ranking, adalah sebuah bentuk ranking yang mengidentifikasi daftar criteria
obyek tertentu. Tujuannya untuk memahami alasan terhadap pilihan-pilihan masyarakat,
misalnya mengapa mereka lebih suka menanam pohon rambutan dibandingkan dengan
pohon yang lain. Kriteria ini mungkin berbeda dari satu orang dengan orang lain, misalnya
menurut wanita dan pria tentang tanaman sayur.
(7) Peringkat Kesejahteraan. Rangking Kesejahteraan Masyarakat di suatu tempat tertentu.
Tujuannya untuk memperoleh gambaran profil kondisi sosio-ekonomis dengan cara
menggali persepsi perbedaan-perbedaan kesejahteraan antara satu keluarga dan keluarga
yang lainnya dan ketidak seimbangan di masyarakat, menemukan indicator-indikator lokal
mengenai kesejahteraan.
(8) Pemetaan Sosial. Teknik ini adalah suatu cara untuk membuat gambaran kondisi sosial-
ekonomi masyarakat, misalnya gambar posisi pemukiman, sumber-sumber mata
pencaharian, peternakan, jalan, dan sarana-sarana umum. Hasil gambaran ini merupakan
peta umum sebuah lokasi yang menggambarkan keadaan masyarakat maupun lingkungan
fisik.
(9) Transek (Penelusuran). Transek merupakan teknik penggalian informasi dan media
pemahaman daerah melalui penelusuran dengan berjalan mengikuti garis yang membujur
dari suatu sudut ke sudut lain di wilayah tertentu.
(10) Kalender Musim. Adalah penelusuran kegiatan musiman tentang keadaan-keadaan dan
permasalahan yang berulang-ulang dalam kurun waktu tertentu (musiman) di masyarakat.
Tujuan teknik ini untuk memfasilitasi kegiatan penggalian informasi dalam memahami
pola kehidupan masyarakat, kegiatan, masalah-masalah, fokus masyarakat terhadap suatu
tema tertentu, mengkaji pola pemanfaatan waktu, sehingga diketahui kapan saat-saat sibuk
dan saat-saat waktu luang.
(11) Alur Sejarah. Alur sejarah adalah suatu teknik yang digunakan untuk mengetahui kejadian-
kejadian dari suatu waktu sampai keadaan sekarang dengan persepsi orang setempat.
Tujuan dari teknik ini adalah untuk memperoleh gambaran mengenai topik-topik penting di
masyarakat.
(12) Analisa Mata Pencaharian. Masyarakat akan terpandu untuk mendiskusikan kehidupan
mereka dari aspek mata pencaharian. Tujuan dari teknik ini yaitu memfasilitasi pengenalan
dan analisa terhadap jenis pekerjaan, pembagian kerja pria dan wanita, potensi dan
kesempatan, hambatan.
(13) Diagram Venn. Teknik ini adalah untuk mengetahui hubungan institusional dengan
masyarakat. Tujuannya untuk mengetahui pengaruh masing-masing institusi dalam
kehidupan masyarakat serta untuk mengetahui harapan-harapan apa dari masyarakat
terhadap institusi-institusi tersebut.
(14) Kecenderungan dan Perubahan. Adalah teknik untuk mengungkapkan kecenderungan dan
perubahan yang terjadi di masyarakat dan daerahnya dalam jangka waktu tertentu.
Tujuannya untuk memahami perkembangan bidang-bidang tertentu dan perubahan-
perubahan apa yang terjadi di masyarakat dan daerahnya.

4) Technology Of Participation (TOP): usaha sistematis dengan melibatkan masyarakat dalam


menentukan langkah-langkah kegiatan perencanaan untuk memecahkan maslah-masalah
yang dihadapi agar tercapai kondisi yang diinginkan.
Technology of Partisipation (TOP) adalah teknik perencanaan pengembangan masyarakat
secara partisipatif, sehingga seluruh pihak memiliki kesempatan yang sama untuk
mengemukakan gagasan. Teknologi partisipatif mengeksplorasi munculnya inisiatif-
inisiatif, sikap kepemimpinan, keputusan dan tanggung jawab dari seluruh warga
yang hadir. Teknik ini dapat membantu target group (kelompok sasaran) untuk
menghasilkan kegiatan operasional (Ajat Sudrajat dkk, 2005). Terdapat 3 teknik dasar
dalam ToP antara lain:
a) Tahap Diskusi
Tahap diskusi adalah serangkaian petanyaan yang memandu klampok di dalamproses
dialog pertanyaan pertanyaan ini membimbing kelompok melewati empat tingkatan
kesadaran, yakni oblektif, reflektif, interpretative, dan memutuskan.
b) Tahap Lokakarya
Tahap lokakarya adalah proses lima langkah yang mengorganisasi para anggota
kelompok ke arah pendalaman diskusi dan mencapai konsensus atau kesepatakan
bersama tentang tindakan yang tepat dilakukan oleh kelompok. Langkah tersebut
adalah penentuan konteks, sumbang saran, menyusun gugus/kategorisasi, memberikan
label/penamaan, dan perenungan atau refleksi.
c) Tahap Rencana Tindak
Tahap rencana tindak ini digunakan untuk membuat rencana secara rinci tindakan
yang akan dilakukan oleh kelompok setelah terjadi konsensus kelompok untuk
melakukan kegiatan. Tahap rencana tindak adalah proses tujuh langkah yang
mengorganisir para anggota kelompok ke arah penyusunan rencana tindakan yang
realistis dan mudah dilaksanakan. Langkah-langkah tersebut adalah penentuan
konteks, lingkaran sukses, kondisi obyektif, menyatakan komitmen, lokakarya
menentukan tindakan yang diperlukan, penjadwalan dan penugasan, serta refleksi.

5) Pengembangan Masyarakat atau Community Develompent (CD) dan Pendampingan Sosial


atau Social Assistensi (SA) untuk melibatkan masyarakat dalam pelaksanaan intervensi
komunitas.
Edi Suharto (2010:37) Community Development (Pengembangan Masyarakat) merupakan
salah satu metode pekerjaan sosial yang tujuan utamanya adalah memperbaiki kualitas hidup
masyarakat dengan mendayagunakan sumber yang ada serta menekankan pada
prinsippartisipasi sosial. Secara singkat Community Development adalah suatu cara kerja
untuk memecahkan masalah masyarakat. Dengan demikian pengunaan dari kedua metode
ini dalam tahap pemahaman serta analisis masalah di masyuarakat dimana community
organization adalah sebagai metode intervensi yang ditekankan terhadap pemecahan
masalah, sedangkan community development adalah sebagai proses interaksi sosial yang
penekanannya terhadap perubahan sosial.
Pendampingan sosial merupakan suatu proses relasi sosial antara pendamping dengan klien
yang bertujuan untuk memecahkan masalah, memperkuat dukungan, mendayagunakan
berbagai sumber dan potensi dalam pemenuhan kebutuhan hidup, serta meningkatkan akses
klien terhadap pelayanan sosial dasar, lapangan kerja, dan fasilitas pelayanan publik lainnya
(Departemen Sosial RI, 2009:122).
Dari definisi-definisi diatas, pendampingan dapat diartikan sebagai proses relasi sosial
antara pendamping dan klien dalam bentuk memperkuat dukungan, mendayagunakan
berbagai sumber dan potensi dalam pemenuhan kebutuhan hidup, serta meningkatkan akses
klien terhadap pelayanan sosial dasar, lapangan kerja, dan fasilitas pelayanan publik lainnya
dalam usaha memecahkan masalah serta mendorong tumbuhnya inisiatif dalam proses
pengambilan keputusan, sehingga kemandirian klien secara berkelanjutan dapat diwujudkan.

6) Promosi Media atau Media Promotion (MP) dan Dengar Pendepat atau Public Hearing
(PH) untuk melibatakan masyarakat dalam pelaksanaan intervensi kebijakan
Pengertian promosi menurut Saladin, dkk (2002:123) adalah suatu komunikasi informasi
penjual dan pembeli yang bertujuan untuk merubah sikap dan tinakah laku pembeli, yang
sebelumnya tidak mengenal menjadi mengenal sehingga menjadi pembeli dan
mengingat produk tersebut. Sedangkan Media menurut Purnamawati dan Eldarni (2001:4),
promosi media merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan
dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan
minat siswa sedemikian rupa sehingga terjadi proses belajar. Promosi media pada dasarnya
dimaksudkan untuk membangunan opini publik melalui media massa merupakan salah satu
alat yang dianggap efektif dalam membangunan opini public. Public Hearing adalah salah
satu proses mendengarkan pandangan dan masukan dari berbagai pihak yang terkait dengan
naskah kebijakan termasuk penentu kebijakan untuk memperoleh respon terhadap kebijkan
yang diusulkan.

7) Metode-metode Lainnya yang Relevan


a) Focus Group Discussion (FGD)
(1) Pengertian Focus Group Discussion
Ajat Sudrajat dkk (2005) mengemukakan diskusi kelompok adalah suatu proses
pengumpulan informasi mengenai suatu permasalahan tertentu yang sangat spesifik
melalui diskusi kelompok. Diskusi kelompok pada dasarnya adalah wawancara
kelompok yang dipandu oleh seorang moderator, berdasarkan topik diskusi yang
merupakan pokok permasalahan.Diskusi kelompok merupakan suatu forum yang
dibentuk untuk saling membagi informasi dan pengalaman diantara para peserta
diskusi untuk membahas satu masalah khusus.
(2) Tujuan Focus Group Discussion dalam Asesmen Komunitas
Berikut merupakan tujuan dari Focus Group Discussion:
(a) Identifikasi dan individualisasi kebutuhan-kebutuhan komunitas berdasarkan
analisis keadaan/masalah dalam sumber.
(b) Melibatkan berbagai unsur komunitas dalam asesmen, sehingga lebih mengikat
komitmen mereka untuk melakukan upaya-upaya perubahan sesuai kebutuhan
yang ditetapkan
(c) Menjamin kegiatan pengembangan masyarakat/komunitas yang selektif yang
dapat memenuhi kebutuhan yang bersifat spesifik
(d) Membangun dasar-dasar perincian yang rasional dan jelas
(e) Membangun definisi realitas dan makna dari kesulitan atau kebutuhan yang
dihadapi komunitas secara konsesus.

(3) Proses Pelaksanaan Diskusi Kelompok atau Focus Group Discussion


(a) Proses pelaksanaan FGD
i. Pekerja sosial menghubungi pimpinan masyarakat untuk menyampaikan maksud dan
meminta izin melaksanakan diskusi kelompok dalam asesmen komunitas.
ii. Pekerja sosial membentuk tim kerja yang akan membantu mengelola kegiatan diskusi
kelompok.
iii. Tim kerja bersama pimpinan komunitas merencanakan waktu dan tempat untuk
pelaksanaan diskusi kelompok.
iv. Tim kerja menyusun daftar partisipan yang akan di undang.
v. Tim kerja mengkonsultasikan daftar partisipan dan meminta dukungan dari pimpinan
setempat sehingga dapat turut menggerakkan kehadiran partisipan dalam kegiatan
diskusi kelompok.
vi. Menyusun pembagian tugas untuk pelaksanaan diskusi kelompok.
vii. Tim kerja menyiapkan tempat, posisi duduk partisipan, dan alat pendukung diskusi
kelompok dibawah koordinasi petugas perlengkapan.

(b) Pelaksanaan
i. Tim kerja mempersilahkan undangan untuk mengisi daftar hadir.
ii. Pembuka acara membuka jalannya diskusi
iii. Moderator memimpin diskusi : pengantar, identifikasi masalah, analisis masalah,
penentuan prioritas perubahan.

(c) Tindak Lanjut


Asesmen masalah ditindaklanjuti dengan penyusunan rencana program. Alat yang
digunakan yaitu, dinding/papan, kartu metaplan, spidol, kaset, tape recorder, alat tulis
notulen, kertas koran/plano, pengeras suara
b) Monitoring and Evaluating (MaE)
Ajat Sudrajat dkk (2005), mengungkapakan secara konseptual monitor merupakan kegiatan
pemantauan terhadap semua kegiatan yang telah dilaksanakan. Sedangkan evaluasi
dilakukan untuk melihat perkembangan atau perubahan yang terjadi di masyarakat sebagai
dampak kegiatan yang telah ditetapkan. Evaluasi dilakukan baik selama proses kegiatan
maupun pada akhir program.

Langkah-langkah melakukan moneva :


(1) Penetapan kondisi awal – kondisi akhir
(2) Menyediakan lembar peniaian monitoring dan evaluasi
(3) Tempel lembar penilaian kondisi awal dan akhir di dinding yang sudah disediakan untuk di
evaluasi
(4) Membaca matrik monitoring, serta evaluasi proses dan hasil.

2. Pengembangan Masyarakat
Istilah pengembangan masyarakat berasal dari terjemahan community development.
Menurut Edi Suharto (2010:37) Pengembangan Masyarakat adalah salah satu metode
pekerjaan sosial yang tujuan utamanya untuk memperbaiki kualitas hidup masyarakat
dengan mendayagunakan sumber yang ada serta menekankan pada prinsip partisipasi sosial.
Sedangkan menurut AMA dalam Edi Suharto (2010:38) pengembangan masyarakat dapat
didefinisikan sebagai metode yang memungkinkan orang dapat meningkatkan kualitas
hidupnya serta mampu memperbesar pengaruhnya terhadap proses-proses yang
mempengaruhi kehidupannya
Edi Suharto (2010:42-45), menyatakan bahwa terdapat 3 (tiga) model pengembangan
masyarakat yaitu pengembangan masyarakat lokal, perencanaan sosial, dan aksi sosial.
Berikut merupakan penjelasan mengenai ketiga model tersebut:
a. Pengembangan masyarakat lokal
Proses yang ditujukan untuk menciptakan kemajuan sosial dan ekonomi bagi
masyarakat melalui partisipasi aktif serta inisiatif anggota masyarakat itu sendiri. Model
ini berorientasi pada kemandirian, integrasi, dan kemampuan masyarakat. Masyarakat
berperan sebagai partisipan dalam proses pemecahan masalah dan pekerja sosial
berperan membantu meningkatkan kesadaran dan mengembangkan kemampuan
masyarakat dalam mencapai tujuan-tujuan yang diharapkan.
b. Perencanaan sosial
Orientasi dalam perencanaan sosial yaitu pemecahan masalah sosial yang ada di
masyarakat. Pada perencanaan sosial, masalah dan keputusan ditentukan melalui
tindakan rasional para ahli. Masyarakat disini sebagai penerima pelayanan dan pekerja
sosial berperan ahli yang melakukan penelitian, menganalisis masalah dan kebutuhan
masyarakat sehingga keterlibatan masyarakat dalam proses pembuatan kebijakan bukan
menjadi prioritas.
c. Aksi sosial
Perubahan struktur kekuasaan, lembaga, dan sumber merupakan tujuan dari proses dan
hasil aksi sosial. Hal tersebut didasari suatu pandangan bahwa masyarakat adalah suatu
sistem klien yang menjadi korban dari ketidakadilan struktur. Masyarakat berperan
sebagai pelaku dalam aksi sosial dan pekerja sosial sebagai aktivis advokasi yang
membantu masyarakat dalam aksi sosial.