Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Praktek kerja lapangan (PKL) adalah program khusus yang harus
dilaksanaakan oleh sekolah menengah kejuruan (SMK) sesuai dengan
kerikulum SMK.Program ini dilaksanakan di luar sekolah dalam bentuk praktek
kerja di dunia usaha/ industri (Instansi).
Praktek kerja lapangan (PKL) dilaksanakan untuk melatih dan
memberikan pengajaran kepada siswa dalam dunia industri atau dunia usaha
yang relevan terkait deangan kefarmasian. Selain itu PKL juga bertujuan untuk
memberikan bekali ilmu dalam dunia kerja agar dimasa mendatang paea siswa
dapat bersaing dalam dunia industri yang semakin ketat seperti saat ini, untuk
mempersiapkan para siswa agar memiliki kemampuan teknis dengan wawasan
yang luas di era kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, serta mengasah
dan mengimplamasikan materi yang diperoleh siswa dari SMK 3 Perguruan
Cikini.
Praktek Kerja Lapangan dimaksudkan untuk mendekatkan siswa
kepada tuntutan kerja/ industri, yang sekaligus diharapkan mampu memberikan
umpan balik kepada pihak dunia usaha/ industri, maupun sekolah sebagai
lembaga pelaksana pendidikan formal, sehingga diperoleh gambaran yang
lebih jelas tentang standar kualifikasi lulusan SMK yang sesuai kebutuhan
pasar kerja di dunia usaha/ industri serta masukan-masukan yang berarti bagi
pengembangan mutu pendidikan khususnya di SMK.
Kegiatan praktek kerja lapangan (PKL) merupakan salah satu bentuk
kegiatan dari sekian banyaknya visi dan misi SMK 3 Perguruan Cikini dalam
mempersiapkan siswa dan siswinya untuk memasuki dunia industri dan dunia
usaha nantinya. Dunia industri tersebut tentang tidak dapat diperoleh deangan
mudah, maka dari itu para siswa tidak hanya pemahaman tentang lingkungan
yang akan mereka hadapi setelah lulus sekolah nanti.
Bidang farmasi berada dalam lingkup dunia kesehatan yang berkaitan
erat dangan prudok dan pelayanan produk untuk kesehatan. Farmasi pada
dasarnya merupakan sistem pengetahuan (ilmu, teknologi dan sosial budaya)
yang mengupayakan dan menyelanggaran jasa kesehatan dengan melibatkan

1
dirinya dalam mendalami, memperluas dan mengembangkan pengetahuan
tentang obat dalam arti dampak obat dalam arti yang seluas- luasnya serta
efek dan pengaruh obat pada manusia dan hewan.
Apotek adalah suatu tempat tertentu yang merupakan sarana informasi
obat, yaitu tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian dan penyaluran perbekalan
farmasi kepada masyarakat ( Peraturan Menteri Kesehatan RI
No.1332/Menkes/SKIXI2002 ). Obat merupakan komoditi khusus yang
menyangkut kepentingan masyarakat luas. Walaupun obat bukan merupakan
kebutuhan pokok, tetapi pada saat – saat tertentu penggunaannya tidak dapat
ditunda, sehingga pada saat itu obat menjadi kebutuhan primer.
Hal ini yang membuat penulis untuk melakukan praktek kerja lapangan
di apotek kimia farma 152 pasar mingguuntuk mengetahui lebih banyak
mengenai praktek kefarmasian yang sesungguhnya dan juga pelayanan dan
penggunaan obat dengan benar dan baik.Penulis berharap, pembaca dapat
mengetahui cara pelayanan dan penggunaan obat dengan benar dan baik.
Maka dari itu, setelah melaksanakan praktek kerja lapangan penulis
menuliskan laporan PKL

1.2 Tujuan Praktik Kerja Lapangan

Tujuan praktik kerja lapangan adalah :


1. Untuk menerapkan ilmu yang diperoleh siswa atau siswi disekolah
yang diaplikasikan dalam dunia kerja.
2. Menciptakan siswa atau siswi yang siap memahami dunia kerja.
3. Melatih siswa atau siswi menjadi Tenaga Teknis Kefarmasian yang
profesional.
4. Meningkatkan, memperluas dan memantapkan keahlian sebagai bekal
untuk memasuki dunia kerja yang sesuai dengan keahlian dari program
pendidikan yang dipilih.
5. Untuk lebih mengetahui tata cara seluruh kegiatan kefarmasian dalam
dunia kerja seperti meracik, pengemasan, penyerahan, obat serta
mengetahui alur-alur pengadaan obat dan alat kesehatan di apotek.
6. Mengetahui cara berinteraksi dengan pasien dalam dunia kerja.

2
7. Melatih ketelitian siswa atau siswi dalam mengerjakan resep untuk
pasien.
8. Mempersiapkan mental sebagai bekal untuk terjun dalam dunia kerja.

1.3 Manfaat Peraktek kerja lapangan

Manfaat praktik kerja lapangan adalah:

1. Penulis dapat mengetahui dan menambah pembelajaran tentang pelayanan


dan penggunaan obat dengan benar dan baikhingga dapat disajikan kepada
pembaca.
2. Penulis mendapatkansedikit gambaran tentang dunia kerja dalam dunia
kefarmasian
3. Penulis dapat memperjelas dunia kerja sebenarnya dengan
pendidikankefarmasian yang didapat dari sekolah SMK 3 Perguruan Cikini
4. Penulis mendapat banyak sekali pengetahuan tentang dunia kefarmasian
yang sesungguhnya

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian apotek

Pengertian apotek menurut (Kepmenkes RI) No. 1332/MENKES/SK/X/2002,


Apotek adalah suatu tempat tertentu, tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian
penyaluran perbekalan farmasi kepada masyarakat. Yang di maksud perkerjaan
kefarmasian diantaranya pengadaan obat, penyimpanan obat, pembuatan sediaan
obat, peracikan, penyaluran dan penyerahan perbekalan farmasi serta memberikan
informasi kepada masyarakat mengenai perbekalan farmasi serta memberikan
informasi kepada masyarakat mengenai perbekalan kefarmasian yang terdiri dari
obat, bahan obat, obat tradisional, alat kersehatan dan kosmetik.

2.2 Tugas Dan Fungsi Apotek

Berdasarkan PP No. 51 Tahun 2009, tugas dan fungsi apotek adalah:

a. Tempat pengabdian profesi seorang apoteker yang telah mengucapkan


sumpah jabatan Apoteker
b. Sarana yang digunakan untuk melakukan pekerjaan kefarmasian
c. Sarana yang digunakan untuk memproduksi dan distribusi sediaan farmasi
anatara lain obat, bahan baku obat, obat tradisional, dan kosmetika.
d. Sarana pembuatan dan pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan,
pengadaan, penyimpanan, dan pendistribusi atau penyaluran obat,
pengelolaan obat, pelayanan obat atau resep dokter,pelayanan informasi
obat, serta pengenembangan obat , bahan obat dan obat tradisional.

2.3 Pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai

Pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis


Pakai dilakukan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku
meliputi perencanaan, pengadaan, penerimaan, penyimpanan,
pemusnahan, pengendalian, pencatatan dan pelaporan.

4
A. Perencanaan
Dalam membuat perencanaan pengadaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan,
dan Bahan Medis Habis Pakai perlu diperhatikan pola penyakit, pola
konsumsi, budaya dan kemampuan masyarakat.

B. Pengadaan
Untuk menjamin kualitas Pelayanan Kefarmasian maka pengadaan Sediaan
Farmasi harus melalui jalur resmi sesuai ketentuan peraturan perundang-
undangan.

C. Penerimaan
Penerimaan merupakan kegiatan untuk menjamin kesesuaian jenis
spesifikasi, jumlah, mutu, waktu penyerahan dan harga yang tertera dalam
surat pesanan dengan kondisi fisik yang diterima.

D. Penyimpanan
1. Obat/bahan Obat harus disimpan dalam wadah asli dari pabrik. Dalam hal
pengecualian atau darurat dimana isi dipindahkan pada wadah lain, maka
harus dicegah terjadinya kontaminasi dan harus ditulis informasi yang jelas
pada wadah baru. Wadah sekurang- kurangnya memuat nama Obat, nomor
batch dan tanggal kadaluwarsa.
2. Semua Obat/bahan Obat harus disimpan pada kondisi yang sesuai
sehingga terjamin keamanan dan stabilitasnya.
3. Tempat penyimpanan obat tidak dipergunakan untuk penyimpanan barang
lainnya yang menyebabkan kontaminasi
4. Sistem penyimpanan dilakukan dengan memperhatikan bentuk sediaan
dan kelas terapisecara alfabetis.
5. Pengeluaran Obat memakai sistem FEFO (First Expire First Out) dan FIFO
(First In First Out)

E. Pemusnahan dan penarikan


1. Obat kadaluwarsa atau rusak harus dimusnahkan sesuai dengan jenis dan
bentuk sediaan. Pemusnahan Obat kadaluwarsa atau rusak yang

5
mengandung narkotika atau psikotropika dilakukan oleh Apoteker dan
disaksikan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
2. Resep yang telah disimpan melebihi jangka waktu 5 (lima) tahun dapat
dimusnahkan. Pemusnahan Resep dilakukan oleh Apoteker disaksikan
oleh sekurang-kurangnya petugas lain di Apotek dengan cara dibakar atau
cara pemusnahan lain yang dibuktikan dengan Berita Acara Pemusnahan
Resep menggunakan Formulir 2 sebagaimana terlampir dan selanjutnya
dilaporkan kepada dinas kesehatan kabupaten/kota.
3. Pemusnahan dan penarikan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis
Pakai yang tidak dapat digunakan harus dilaksanakan dengan cara yang
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang - undangan.
4. Penarikan sediaan farmasi yang tidak memenuhi standard/ketentuan
peraturan perundang-undangan dilakukan oleh pemilik izin edar
berdasarkan perintah penarikan oleh BPOM (mandatory recall) atau
berdasarkan inisiasi sukarela oleh pemilik izin edar (voluntary recall)
dengan tetap memberikan laporan kepada Kepala BPOM.
5. Penarikan Alat Kesehatan dan Bahan Medis Habis Pakai dilakukan
terhadap produk yang izin edarnya dicabut oleh Menteri.

F. Pengendalian
Pengendalian dilakukan untuk mempertahankan jenis dan jumlah persediaan
sesuai kebutuhan pelayanan, melalui pengaturan sistem pesanan atau
pengadaan, penyimpanan dan pengeluaran. Hal ini bertujuan untuk
menghindari terjadinya kelebihan, kekurangan, kekosongan, kerusakan,
kadaluwarsa, kehilangan serta pengembalian pesanan. Pengendalian
persediaan dilakukan menggunakan kartu stok baik dengan cara manual atau
elektronik. Kartu stok sekurang- kurangnya memuat nama Obat, tanggal
kadaluwarsa, jumlah pemasukan, jumlah pengeluaran dan sisa persediaan.

G. Pencatatan dan Pelaporan


Pencatatan dilakukan pada setiap proses pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat
Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai meliputi pengadaan (surat
pesanan, faktur), penyimpanan (kartu stok), penyerahan (nota atau struk
penjualan) dan pencatatan lainnya disesuaikan dengan kebutuhan. Pelaporan
6
terdiri dari pelaporan internal dan eksternal. Pelaporan internal merupakan
pelaporan yang digunakan untuk kebutuhan manajemen Apotek, meliputi
keuangan, barang dan laporan lainnya. Pelaporan eksternal merupakan
pelaporan yang dibuat untuk memenuhi kewajiban sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang - undangan, meliputi pelaporan narkotika, psikotropika
dan pelaporan lainnya.

2.4 Penggolongan Obat

1. Obat Bebas

Obat bebas adalah jenis obat yang kebanyakan beredar luas di pasaran. Hal
ini dikarenakan jenis obat bebas adalah obat yang telah terstandarisasi dan
aman untuk dijual dipasaran tanpa memerlukan resep dokter.

Ciri khas dari jenis obat bebas ini adalah terdapat kode lingkaran berwarna
hijau atau dengan kode TC396 dengan lingkaran tepi berwarna hitam.
Karena dapat dijual bebas di pasaran, jenis obat bebas ini mudah ditemukan
dimana saja. sehingga tidak harus ke Apotik atau Rumah Sakit untuk
mendapatkan obat ini. Contoh dari jenis obat bebas adalah Parasetamol, Vitamin-
C, Obat Batuk Hitam (OBH) dan sebagainya.

2. Obat Bebas Terbatas

Obat Bebas Terbatas adalah jenis obat yang hampir sama dengan obat
bebas. Karena jenis obat ini mudah ditemukan di supermarket, Apotik dan
bahkan warung-warung terdekat. Jenis obat bebas terbatas ini masih aman
dikonsumsi meskipun tanpa menggunakan resep dokter waktu membeli obat.

Namun, yang harus diperhatikan adalah ketika mengkonsumsi jenis obat ini
harus memperhatikan dan membaca petunjuk atau aturan pakai. Biasanya
obat jenis bebas terbatas ini memiliki kode lingkaran berwarna biru atau TC
308 dengan lingkaran tepi berwarna hitam. Contoh dari jenis obat bebas
terbatas ini adalah tablet obat flu, CTM atau klotrimaleat, dan sebagainya.

7
3. Obat Wajib Apotek

Obat wajib apotek adalah jenis obat yang bisa dibeli tanpa resep dokter,
namun biasanya hanya bisa dibeli di Apotek. Karena biasanya obat wajib
apotek ini adalah obat keras, sehingga perlu Apoteker untuk menyerahkan
obat ini ke konsumen. Hal ini dilakukan agar tidak ada kesalahan dalam
pemberian obat. Contoh obat wajib apotek ini adalah Aminofilin yang
berbentuk supositoria, bromheksin dan sebagainya.

4. Obat Keras

Obat keras adalah jenis obat yang hanya bisa diperoleh dengan
menggunakan resep dokter. Dimana obat ini merupakan obat dengan
golongan G yang artinya obat berbahaya. Oleh karena itu, penggunaan obat
ini harus dengan resep dokter. Obat keras biasanya ditandai dengan ciri khas
memiliki kode lingkaran merah dan ada huruf K dengan tepi lingkaran
berwarna hitam atau dengan kode TC 165. Contoh dari obat keras adalah
Amoksilin, Asam Mefenamat, dan sebagainya.

5. Obat narkotika

Menurut undang- undang Nomor 22 Tahun 1997 yang telah diperbaharui


dengan undang-undang narkotika nomor 35 tahun 2009, narkotika adalah
suatu zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik
sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau
perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilang rasa
nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan.

6. Obat psikotropika

Menurut undang-undang RI No. 5 tahun 1997, psikotropika adalah zat atau


obat baik alamiah atau sintesis, bukan narkotika yang berkhasiat psikoaktif

8
melalui pengaruh selektif pada sistem saraf pusat yang menyebabkan
perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.

2.5 Pelayanan Farmasi Klinik

Pelayanan farmasi klinik di Apotek merupakan bagian dari Pelayanan


Kefarmasian yang langsung dan bertanggung jawab kepada pasien berkaitan
dengan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai
dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan kualitas hidup
pasien. Pelayanan farmasi klinik meliputi:
1. Pengkajian dan pelayanan Resep
2. Dispensing
3. Pelayanan Informasi Obat (PIO)
4. konseling
5. Pelayanan Kefarmasian di rumah (home pharmacy care)
6. Pemantauan Terapi Obat (PTO)
7. Monitoring Efek Samping Obat (MESO)

1. Pengkajian dan Pelayanan Resep

Kegiatan pengkajian Resep meliputi administrasi, kesesuaian


farmasetik dan pertimbangan klinis.
Kajian administratif meliputi:
a. nama pasien, umur, jenis kelamin dan berat badan;
b. nama dokter, nomor Surat Izin Praktik (SIP), alamat, nomor
telepon dan paraf
c. tanggal penulisan Resep

Kajian kesesuaian farmasetik meliputi:


a. bentuk dan kekuatan sediaan
b. stabilitas
c. kompatibilitas (ketercampuran Obat)

Pertimbangan klinis meliputi:


9
a. ketepatan indikasi dan dosis Obat
b. aturan, cara dan lama penggunaan Obat
c. duplikasi dan/atau polifarmasi
d. reaksi Obat yang tidak diinginkan (alergi, efek samping
Obat, manifestasi klinis lain)
e. kontra indikasi
f. interaksi

Jika ditemukan adanya ketidaksesuaian dari hasil pengkajian


maka Apoteker harus menghubungi dokter penulis Resep. Pelayanan Resep
dimulai dari penerimaan, pemeriksaan ketersediaan, penyiapan Sediaan
Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai termasuk peracikan
Obat, pemeriksaan, penyerahan disertai pemberian informasi.
Pada setiap tahap alur pelayanan Resep dilakukan upaya pencegahan
terjadinya kesalahan pemberian Obat (medication error). Petunjuk teknis
mengenai pengkajian dan pelayanan Resep akan diatur lebih lanjut oleh
Direktur Jenderal

2. Dispensing

Dispensing terdiri dari penyiapan, penyerahan dan pemberian


informasi Obat.
Setelah melakukan pengkajian Resep dilakukan hal sebagai
berikut:
1. Menyiapkan Obat sesuai dengan permintaan Resep:
a. menghitung kebutuhan jumlah Obat sesuai dengan Resep
b. mengambil Obat yang dibutuhkan pada rak penyimpanan
dengan memperhatikan nama Obat, tanggal kadaluwarsa
dan keadaan fisik Obat.
2. Melakukan peracikan Obat bila diperlukan
3. Memberikan etiket sekurang-kurangnya meliputi:
a. warna putih untuk Obat dalam/oral
b. warna biru untuk Obat luar dan suntik
c. menempelkan label “kocok dahulu” pada sediaan bentuk

10
suspensi atau emulsi.
4. Memasukkan Obat ke dalam wadah yang tepat dan terpisah untuk Obat
yang berbeda untuk menjaga mutu Obat dan menghindari penggunaan yang
salah.

3. Pelayanan Informasi Obat (PIO)

Pelayanan Informasi Obat merupakan kegiatan yang dilakukan


oleh Apoteker dalam pemberian informasi mengenai Obat yang tidak
memihak, dievaluasi dengan kritis dan dengan bukti terbaik dalam segala
aspek penggunaan Obat kepada profesi kesehatan lain, pasien atau
masyarakat. Informasi mengenai Obat termasuk Obat Resep, Obat bebas dan
herbal. Informasi meliputi dosis, bentuk sediaan, formulasi khusus, rute dan
metoda pemberian, farmakokinetik, farmakologi, terapeutik dan alternatif,
efikasi, keamanan penggunaan pada ibu hamil dan menyusui, efek samping,
interaksi, stabilitas, ketersediaan, harga, sifat fisika atau kimia dari Obat dan
lain-lain. Kegiatan Pelayanan Informasi Obat di Apotek meliputi:

1. menjawab pertanyaan baik lisan maupun tulisan


2. membuat dan menyebarkan buletin/brosur/leaflet, pemberdayaan
masyarakat (penyuluhan)
3. memberikan informasi dan edukasi kepada pasien
4. memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada mahasiswa
farmasi yang sedang praktik profesi
5. melakukan penelitian penggunaan Obat
6. membuat atau menyampaikan makalah dalam forum ilmiah
7. melakukan program jaminan mutu

4. Konseling

Konseling merupakan proses interaktif antara Apoteker dengan


pasien/keluarga untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman, kesadaran
dan kepatuhan sehingga terjadi perubahan perilaku dalam penggunaan Obat
dan menyelesaikan masalah yang dihadapi pasien. Untuk mengawali
11
konseling, Apoteker menggunakan three prime questions. Apabila tingkat
kepatuhan pasien dinilai rendah, perlu dilanjutkan dengan metode Health
Belief Model. Apoteker harus melakukan verifikasi bahwa pasien atau
keluarga pasien sudah memahami Obat yang digunakan.

5. Pelayanan Kefarmasian di Rumah (home pharmacy care)

Apoteker sebagai pemberi layanan diharapkan juga dapat melakukan


Pelayanan Kefarmasian yang bersifat kunjungan rumah, khususnya untuk
kelompok lansia dan pasien dengan pengobatan penyakit kronis lainnya.
Jenis Pelayanan Kefarmasian di rumah yang dapat dilakukan oleh Apoteker,
meliputi :

1. Penilaian/pencarian (assessment) masalah yang berhubungan


dengan pengobatan
2. Identifikasi kepatuhan pasien
3. Pendampingan pengelolaan Obat dan/atau alat kesehatan di
rumah, misalnya cara pemakaian Obat asma, penyimpanan insulin
4. Konsultasi masalah Obat atau kesehatan secara umum
5. Monitoring pelaksanaan, efektifitas dan keamanan penggunaan
Obat berdasarkan catatan pengobatan pasien
6. Dokumentasi pelaksanaan Pelayanan Kefarmasian di rumah
dengan menggunakan Formulir 8 sebagaimana terlampir

6. Pemantauan Terapi Obat (PTO)

Merupakan proses yang memastikan bahwa seorang pasien


mendapatkan terapi Obat yang efektif dan terjangkau dengan
memaksimalkan efikasi dan meminimalkan efek samping.

7. Monitoring Efek Samping Obat (MESO)

Merupakan kegiatan pemantauan setiap respon terhadap Obat yang


merugikan atau tidak diharapkan yang terjadi pada dosis normal yang
12
digunakan pada manusia untuk tujuan profilaksis, diagnosis dan terapi atau
memodifikasi fungsi fisiologis.

2. 6 Sarana Dan Prasarana

Apotek harus mudah diakses oleh masyarakat. Sarana dan prasarana


Apotek dapat menjamin mutu Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan
Medis Habis Pakai serta kelancaran praktik Pelayanan Kefarmasian. Sarana
dan prasarana yang diperlukan untuk menunjang Pelayanan Kefarmasian di
Apotek meliputi sarana yang memiliki fungsi:

1. Ruang penerimaan Resep

Ruang penerimaan Resep sekurang-kurangnya terdiri dari tempat


penerimaan Resep, 1 (satu) set meja dan kursi, serta
1 (satu) set komputer.
Ruang penerimaan Resep ditempatkan pada bagian paling depan dan mudah
terlihat oleh pasien.

2. Ruang pelayanan Resep dan peracikan (produksi sediaan secara


terbatas)

Ruang pelayanan Resep dan peracikan atau produksi sediaan secara


terbatas meliputi rak Obat sesuai kebutuhan dan meja peracikan. Di ruang
peracikan sekurang-kurangnya disediakan peralatan peracikan, timbangan
Obat, air minum (air mineral) untuk pengencer, sendok Obat, bahan
pengemas Obat, lemari pendingin, termometer ruangan, blanko salinan
Resep, etiket dan label Obat. Ruang ini diatur agar mendapatkan cahaya dan
sirkulasi udara yang cukup, dapat dilengkapi dengan pendingin ruangan (air
conditioner).

3. Ruang penyerahan Obat

Ruang penyerahan Obat berupa konter penyerahan Obat

13
yang dapat digabungkan dengan ruang penerimaan Resep.

4. Ruang konseling

Ruang konseling sekurang-kurangnya memiliki satu set meja dan kursi


konseling, lemari buku, buku-buku referensi, leaflet, poster, alat bantu
konseling, buku catatan konseling dan formulir catatan pengobatan pasien.

5. Ruang penyimpanan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan


Bahan Medis Habis Pakai

Ruang penyimpanan harus memperhatikan kondisi sanitasi,


temperatur, kelembaban, ventilasi, pemisahan untuk menjamin mutu produk
dan keamanan petugas. Ruang penyimpanan harus dilengkapi dengan
rak/lemari Obat, pallet, pendingin ruangan (AC), lemari pendingin, lemari
penyimpanan khusus narkotika dan psikotropika, lemari penyimpanan Obat
khusus, pengukur suhu dan kartu suhu.

14
BAB III

PROFIL INDUSTRI

3.1 Sejarah kimia farma

PT. Kimia Farma Tbk. merupakan salah satu Badan Usaha Milik Negara
(BUMN) yang didirikan pada tanggal 16 Agustus 1971 dengan status
Perseroan Terbatas (PT). Bidang usaha BUMN ini mencakup industri farmasi,
industri kimia dan makanan kesehatan, perkebunan obat, pertambangan
farmasi dan kimia, perdagangan farmasi dan kimia serta ekspor-impor (PT.
Kimia Farma Tbk., 2011).

Menurut sejarah perkembangannya, PT. Kimia Farma Tbk. berawal dari


beberapa perusahaan milik Belanda, yaitu:

a. Bidang usaha industri farmasi dan pertambangan

1. N. V. Chemicalier Handle Rathcamp & Co., bergerak dalam bidang


farmasi dan alat kesehatan, di Jakarta.

2. N. V. Pharmaceutische Hendel Svereneging, J. Van Gorkom & Co.,


bergerak dalam bidang farmasi dan alat kesehatan, di Jakarta.

3. N. V. Pharmaceutische Hendel Svereneging, De Gedeh, bergerak di


bidang farmasi, alat kesehatan dan apotek, Jakarta.

4. N. V. Bandoengsche Kinine Fabriek (pabrik kina) di Bandung.

5. N.V. Insonesiche Combinatie Voor Chemicals Industries, di Bandung.

6. N. V. Jodium Ondememing Watoekadon (pabrik jodium), di Watudakon,


Mojokerto.

7. N.V. Verband Stoffen Fabriek (pabrik kain kasa), di Surabaya.

8. Drogistery Ballem, di Surabaya.

b. Bidang usaha apotek

15
1. N.V. Bavosta – Bataviasche volks stads apotheek.

2. Multi pharma, Jln. Menteng Raya No.23.

3. N.V. Nederlandsche Apotheek, di Jakarta.

4. N.V. Apotheek Jakarta, di Jakarta.

5. N.V. Apotheek De Vos, di Jakarta.

6. N.V. Apotheek Vij Zel, di Jakarta

7. N.V. Buiten Zorgsche apotheek, di Bogor .

8. N.V. Apotheek , De Gedeh, di Sukabumi.

9. Apotheek Pharmacon, di Bandung.

10. C.V. Apotheek Malang, di Malang.

Pada masa pembebasan wilayah Irian Barat, Penguasa perang saat itu
dengan berdasar kepada Undang-undang No. 74/1957, mengambil alih dan
menguasai semua perusahaan swasta Belanda yang beroperasional di seluruh
wilayah Republik Indonesia termasuk perusahaan-perusahaan tersebut diatas.
Pada Tahun 1958, perusahaan-perusahaan tersebut mengalami proses
nasionalisasi dan dibentuk menjadi Bapphar (Badan Pusat Penguasaan
Perusahaan “Farmasi Belanda”). Bapphar kemudian digabung dengan
beberapa perusahaan dari Bappit (Badan Pusat Penguasaan Perusahaan
“Farmasi Belanda”).

Berdasarkan UU no. 19/Prp/tahun 1960 tentang Perusahaan Negara (PN)


dan PP No.69 Tahun 1961, Departemen Kesehatan mengubah Bapphar
menjadi Badan Perusahaan Umum (BPU) Farmasi Negara dan membentuk
beberapa Perusahaan Negara Farmasi (PNF) yaitu; Radja Farma (Jakarta),
Nurani Farma (Jakarta), Nakula Farma (Jakarta), Bhineka Kina Farma
(Bandung), Bio Farma (Bandung), Sari Husada (Jogyakarta) dan Kasa Husada
(Jawa Timur). Pada perkembangan selanjutnya, melalui PP No. 3 Tahun 1969
tanggal 23 Januari 1969, PNF Radja Farma, PNF Nakula Farma, PNF Sari

16
Husada dan PNF Bhineka Kina Farma digabungkan dan dilebur menjadi
perusahaan Farmasi dan Alat Kesehatan Bhineka Kimia Farma.

Pada tanggal 19 Maret 1971 pemerintah melalui Peraturan Pemerintah No.


16 tahun 1971, mengalihkan bentuk PN Farmasi Kimia Farma menjadi
Perusahaan Perseroan (Persero). Pada tahun 1997 PT.Kimia Farma menjadi
sebuah perusahaan terbuka (Tbk.) sehingga masyarakat ikut serta dalam
kepemilikan saham di PT. Kimia Farma.

Saat terjadi krisis ekonomi tahun 1998 di ASEAN, bersamaan dengan


adanya pergantian kepala pemerintahan (reformasi) terjadi defisit anggaran
dan hutang negara yang besar. Untuk mengurangi beban hutang tersebut
Pemerintah mengeluarkan kebijakan privatisasi BUMN. Berdasarkan Surat
Mentri Negara Penanaman Modal dan Pembinaan BUMN No. S-59/ M-PM.
BUMN/2000.

tanggal 7 Maret 2000, PT Kimia Farma di privatisasi. Pada tanggal 4 Juli


tahun 2002 PT. Kimia Farma resmi listing di Bursa Efek Jakarta (BEJ) sebagai
perusahaan publik.

Direksi PT. Kimia Farma Tbk kemudian mendirikan 2 anak perusahaan pada
tanggal 4 Januari 2002 yaitu: PT. Kimia Farma Apotek dan PT. Kimia Farma
Trading & Distribution. Hal ini bertujuan untuk dapat mengelola perusahaan
sehingga lebih terarah dan berkembang dengan cepat.

1.2 Visi Dan Misi Perusahaan

VISI:

Menjadi perusahaan health care pilihan utama yang terintregrasi dan


menghasilkan nilai yang berkesinambungan.

17
MISI:

1. Melakukan aktivitas usaha di bidang-bidang industri kimia dan farmasi,


perdagangan dan jaringan distribusi, retail farmasi dan layanan kesehatan
serta optimalisasi aset.
2. Mengelola perusahaan secara good corporate governance dan operational
excellence didukung oleh sdm profesional
3. Memberikan nilai tambah dan manfaat bagi seluruh stakeholder

3.3 Struktur Organisasi Perusahaan

Struktur Organisasi Kimia Farma 152 Pasar Minggu

Elizabeth Anggiat Marito, S.Farm.,Apt

Kepala Apoteker

Rina Fitriana, S.Farm.,Apt Nurlaela Purba, S.Farm.,Apt

Pendamping Apoteker 1 Pendamping Apoteker 2

Asisten Apoteker

1. Mimi Hartuti
2. Anisa Amalia
3. Aprilia Kartini
4. David Malik
5. Ibrohim

SPG SATPAM

18
BAB IV

PEMBAHASAN

4.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan


Praktik kerja lapangan (PKL) ini dilaksanakan selama 3 bulan, yaitu
dari tanggal 17 Juni – 17 September 2019. Adapun tempat dilaksanakannya
diapotik Kimia Farma 152 Pasar Minggu Jakarta Selatan yang berada di Jalan
Raya Pasar Minggu Km.13 no. 3 E-F
Hari Jam Masuk Jam istirahat Jam pulang
Senin 08.00 WIB 12.00-13.00 WIB 15.00 WIB
Selasa 08.00 WIB 12.00-13.00 WIB 15.00 WIB
Rabu 08.00 WIB 12.00-13.00 WIB 15.00 WIB
Kamis 08.00 WIB 12.00-13.00 WIB 15.00 WIB
Jumat 15.00 WIB 19.00-20.00 WIB 22.00 WIB
Sabtu 15.00 WIB 19.00-20.00 WIB 22.00 WIB

4.2 Alat dan Bahan


Pada praktikum ini kami membuat sediaan berupa salep atau cream,
bedak, kapsul dan serbuk terbagi (puyer) dengan menggunakan : 1. Salep
a) Alat
 Lumpang dan alu
 Sudip
 Pot plastik sebagai wadah
 Etiket sebagai aturan penggunaan
b) Bahan
 Vaselin
 Ichtyol
 Etanol
 Acid salicyl
 LCD (Liquor Carbonas Ditergen)

19
2. Bedak
a) Alat
 Lumpang dan alu
 Dus bedak
 Etiket
b) Bahan
 Etanol
 Talkum
 Acid salicyl
 Zinci oxyd

3. Kapsul

a) Alat
 Lumpang dan alu
 Sudip
 Kertas perkamen
 Sendok tanduk untuk mengambil bahan bahan obat yang di
butuhkan
 Pot plastik atau plastik klip sebagai wadah
 Etiket
b) Bahan
 Cangkang kapsul, nomor 4, 3, 2, 1, 0, 00
 Paracetamol
 CTM
 Prednison

4. serbuk terbagi (puyer)

a) Alat
 Lumpang dan alu
 Sudip
 Sendok tanduk

20
 Kertas perkamen
 Sealing Machine
b) Bahan
 Ambroxol
 Dexamethason
 Cetirizine

21
4.3 Gambar Kerja

Alur Penerimaan Resep

Resep Kredit Resep Tunai

Pemeriksaan Kelengkapan Pemeriksaan Kelengkapan


Administrasi Administrasi dan Diberikan

Pemberian Nomor Urut Pasien Membayar Di Kasir


dan Diberikan Nomor Resep

Bagian Percikan

Obat Paten Obat Racikan

Pemberian Obat

Pemeriksaan Kesesuaian
Obat

Penyerahan Obat

Obat Diterima Oleh Pasien Obat Diterima Oleh Pasien


dan Resep Diarsipkan Dan Resep Disimpan

22
4.4 Proses Pengerjaan
4.4.1 Resep Kredit
Resep kredit adalah resep yang ditulis dokter yang bertugas pada
suatu instansi atau perusahaan untuk pasien dari instansi yang telah
mengadakan kerja sama dengan apotek yang sering disebut dengan Ikatan
Kerja Sama (IKS), pembayaran dilakukan dalam jangka waktu tertentu
berdasarkan perjanjian yang telah disepakati bersama. Apotek bekerja sama
dengan beberapa instansi seperti PLN, BPJS, INHEALTH, ADMEDIKA, dll.
Alur penerimaan dan pelayanan resep kredit dimulai dari pemeriksaan
kelengkapan administrasi seperti nomor antrian, kelengkapan resep (keaslian
resep, SIP, alamat dokter, tanggal penulisan, paraf dokter, nama dan umur
pasien, berat badan pasien, dan jumlah obat yang diminta), skrining
farmasetik (bentuk sediaan), skrining klinis (cara pemakaian obat). Pada
resep kredit tidak dilakukan penetapan harga tetapi pasien langsung diberikan
nomor urut. Lalu asisten apoteker pada bagian peracikan atau penyiapan
obat akan meracik atau menyiapkan obat sesuai dengan resep. Setelah
selesai diracik atau disiapkan, obat tersebut diberi eriket sesuai dengan resep
dan dikemas untuk diserahkan kepada pasien.
Sebelum diserahkan kepada pasien, obat diperiksa kesesuaiannya antara
obat, etiket, dan resep. Yang melakukan pengecekan kembali adalah petugas
lain. Lalu obat diserahkan kepada pasien dan disertai dengan permberian
informasi cara pemakaian, kegunaan obat, dan cara penyimpanan obat
tersebut. Setelah obat diterima oleh paisen, resep diarsipkan.

4.4.2 Resep Tunai


Resep tunai adalah resep yang dilakukan terhadap pasien yang datang
langsung ke apotek untuk menebus obat yang dibutuhkan dan dibayar secara
tunai.
Alur penerimaan dan pelayanan resep dimulai dari kasir atau petugas lain
menerima resep pasien, lalu dilakukan pemeriksaan kelengkapan resep
(keaslian resep, SIP, alamat dokter, tanggal penulisan, paraf dokter, nama
dan umur pasien, berat badan pasien, dan jumlah obat yang diminta),
dilakukan juga pemeriksaan administrasi yang diberikan, setelah itu paisen
membayar kepada kasir, alamat serta nomor telepon pasien dicatat dan
23
pasien diberikan nomor resep. Resep asli diserahkan ke bagian peracikan.
Bila obat hanya diambil Sebagian maka asisten apoteker membuat salinan
resep untuk pengambilan sisanya dan diserahkan kepada pasien, lalu asisten
apoteker pada bagian peracikan atau penyiapan obat akan meracik atau
menyiapkan obat sesuai dengan resep dan dikemas untuk diserahkan kepada
pasien. Sebelum diserahkan kepada pasien, obat diperiksa sesuai resep.
Setelah selesai diracik dan disiapkan, obat tersebut diberi etiket. Yang
melakukan pengecekan kembali adalah petugas lain. Lalu obat diserahkan
kepada pasien dan disertai dengan pemberian informasi cara pemakaian,
kegunaan obat tersebut, dan cara penyimpanan obat tersebut. Setelah obat
diterima oleh paisen resep asli disimpan terpisah.

4.5 Faktor Pendukung dan Penghambat

4.5.1 Faktor Pendukung

Fasilitas dan peralatan yang ada pada apotik kimia farma 152 sangatlah
lengkap dan fasilitas tersebut adalah faktor pendukung praktik kami di
apotik kimia farma 152, fasilitas fasilkitas tersebut adalah :

a) Etalase : pada apotik kimia farma 152 terdapat banyak etalase


yang memenuhi kebutuhan di apotik, etalase tersebut disusun
sesuai dengan jenis obatnya. Pada etalase tersebut obat obat
disusun secara alfabetis. Contoh : etalse untuk antiobiotik, etalase
untuk swalayan, etalase untuk penyimpanan obat digudang dan lain
lain.
b) Lemari pendingin : lemari pendingin ini berfungsi untuk
menyimpan obat obat yang di khususkan pada suhu lemari pendingin
seperti insulin, supossitoria dan lain lain.
c) Kartu stock : di setiap dus obat yang terdapat pada etalase akan di
sediakan kartu stock. Kartu stock digunakan untuk menghitung dan
mendata jumlah obat dan pengeluaran obat.
d) Mesin press perkamen : pada apotik kimia farma 152 terdapat
mesin press perkamen, mesin klip tersebut digunakan untuk
mempererat perkamen dengan cara di panaskan.

24
e) Ruang tunggu pada apotik kimia farma 152 cukup luas, terdapat
ruang praktik dokter, tempat administrasi dan kasir, ruangan peracikan
dan lain lain.
f) Apotik kimia farma 152 terletak pada tempat yang cukup strategis
dan sangat mudah dijangkau oleh kendaraan umum.
g) Karyawan apotik kimia farma 152 sangatlah ramah, mereka
membantu kami dan membimbing kami dengan sangat baik.
Mereka selalu memberitahu dan mengajarkan hal hal tentang
kefarmasian yang tidak kami ketahui.

4.5.2 Faktor penghambat


Ada bebarapa hambatan yang mungkin menjadi penghambat praktik
kami di apotik kimia farma 152, yaitu:
a) Ruang racik yang kurang luas.
b) Ketidak sesuaian kartu stock dengan stock yang ada di komputer.

4.6 Manfaat Yang Dirasakan

Setelah melaksanakan praktik selama 2 bulan di kimia farma 152, kami


merasakan banyak hal, seperti bertambahnya ilmu pengetahuan kami tentang
obat obatan, macam macam penyakit, dan cara menanganinya, dan masih
banyak lagi. Kami dapart belajar percaya diri dan bertanggungjawab. Kami juga
dapat belajar disiplin, trepat waktu, terhadap profesi kami. Kami mendapartkan
banyak sekali ilmu pengetahuan dan wawasan tentang profesi yang kami jalani

25
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Tenaga teknis kefarmasian ternyata tidak hanya bertugas untuk mengerjakan
resep, memberi harga obat, meracik dan menyerahkan obat, tetapi juga bertugas
untuk menerima barang, pencatatan dan menstok, menangani retur dan pelaporan.
Tenaga teknis kefarmasian harus mempunyai tanggung jawab cukup tinggi dalam
segala hal terutama terhadap keluar masuknya obat, serta ketelitian agar tidak
terjadi kesalahan dalam segala hal terutama dalam menyerahkan obat kepada
pasien, karena pekerjaan ini berhubungan dengan nyawa manusia. Untuk itu setiap
personil harus mampu bekerja sama dengan baik misalnya dalam pembacaan resep
yang kurang jelas, pengecekan jumlah obat untuk resep puyer, cara pakai obat,
selalu melakukan pengecekan ulang sebelum obat diberikan kepeda pasien oleh
Tenaga Teknik Kefarmasian senior atau apoteker untuk meminimalisir kesalahan.
Selain itu Tenaga Teknik Kefarmasian harus mempunyai pengetahuan dan
keahlian yang tinggi dari segi kefarmasian seperti indikasi, dosis, cara pemakaian,
cara penyimpanan, efek samping obat dan mampu mengelola instalasi farmasi.
Tenaga Teknik Kefarmasian juga harus mempunyai sikap ramah, murah senyum,
jujur, cekatan, dan sabar agar pasien merasa dihargai,
Oleh karena itu Tenaga Teknik Kefarmasian harus siap dalam menghadapi
segala masalah dalam dunia kerja, serta mempunyai bekal yang cukup untuk
menjalankan tugasnya di bidang kefarmasian. Agar calon Tenaga Teknik
Kefarmasian siap dan mempunyai Bekal yang cukup untuk terjun di bidang
kefarmasian perlu dibekali ilmu pengetahuan dan keahlian khusus. Jika semua bekal
sudah cukup di harapkan dapat tercipta Tenaga Teknik Kefarmasian yang handal
dan professional.

5.2 Saran
a. Untuk meningkatkan kualitas pelayanan maka perlu tambahan tenaga
farmasi guna mengoptimalkan kegiatan pelayanan
b. Sebaiknya setelah mengambil obat yang diperlukan segera diletakkan
kembali sesuai dengan tempat dan urutan obat tersebut

26
c. Perlu diingatkan kembali ketelitian tenaga tekhnis kefarmasian pada saat
menyerahkan obat ke pasien agar tidak terjadi kesalahan
d. Adanya ruang konseling untuk pasien untuk memberi pelayanan informasi
tentang obat yang disampaikan oleh Apoteker
e. Saran untuk sekolah agar menambah lama waktu PKL dan tidak hanya di
satu tempat, sehingga ilmu yang didapat lebih maksimal

27