Anda di halaman 1dari 12

SANTI

19120519010078

TUGAS AKHIR MODUL 5


1. Persebaran populasi umumnnya dibedakan atas 3 pola persebaran yaitu pola acak,
seragamm dan mengelompok. Bagaimana cara menentukan pola persebaran suatu
populasi ?
2. Jelaskan satu metode untuk menaksir kelimpahan populasi di suatu habitat. Beri
satu contoh perhitungannya.
3. Jelaskan siklus Nitrogen dan Siklus Sulfur dengan bagan/gambar.
4. Pencemaran udara di daerah perkotaan terutama disebabkan polutan yang berasal
dari kendaraan bermotor dan aktivitaas industri. Jelaskan 3 upaya yang dapat
dilakukan untuk mengurangi pencemaran tersebut?

Jawaban:
1. Struktur suatu komunitas alamiah bergantung pada cara dimana tumbuhan dan
hewan tersebar atau terpencar di dalamnya. Pola penyebaran bergantung pada
sifat fisikokimia lingkungan maupun keistimewaan biologis organisme itu sendiri.
Keragaman tak terbatas dari pola penyebaran demikian yang terjadi dalam alam
secara kasar dapat dibedakan menjadi tiga kategori yaitu:
a. Penyebaran secara acak (random) dimana individu-individu menyebar dalam
beberapa tempat dan mengelompok dalam tempat lainnya. Penyebaran ini
biasanya terjadi apabila faktor lingkungan sangat seragam (homogen) untuk
seluruh daerah dimana populasi berada, selain itu tidak ada sifat-sifat untuk
berkelompok dari organisme tersebut. Dalam tumbuhan ada bentuk-brntuk
organ tertentu yang menunjang untuk terjadinya pengelompokan tumbuhan.
Penyebaran ini sangat jarang terjadi di alam.
b. Penyebaran secara merata, penyebaran ini terjadi dimana individu-individu
terdapat pada tempat tertentu dalam komunitas. Penyebaran ini terjadi bila ada
persaingan yang keras sehingga timbul kompetisi yang mendorong pembagian
ruang hidup yang sama. Pada tumbuhan misalnya persaingan untuk
mendapatkan nutrisi dan ruang.
c. Penyebaran secara berkelompok, dimana individu-individu selalu ada dalam
kelompok-kelompok dan sangat jarang terlihat sendiri secara terpisah. Pola ini
umumnya dijumpai di alam, karena adanya kebutuhan akan faktor lingkungan
yang sama terutama untuk hewan. Pengelompokan ini disebabkan oleh
berbagai hal di antaranya:
1. Respon dari organisme terhadap perbedaan habitat secara lokal.
2. Respon dari organismeterhadap perubahan cuaca musiman akibat dari
cara atau proses reproduksi atau regenerasi.
3. Sifat-sifat organisme dengan organ vegetatifnya yng menunjang untuk
terbentuknya kelompok atau koloni

2. Salah satu metode untuk menaksir kelimpahan populasi di suatu habitat:


Metode Capture Re Capture ( tangkap dan tangkap lagi )
Metode capture-recapture, merupakan metode yang sudah populer digunakan
untuk menduga ukuran populasi dari suatu spesies hewan yang bergerak cepat,
seperti ikan, burung atau mamalia kecil. Metode ini dikenal juga sebagai metode
Lincoln-Peterson berdasarkan nama penemunya.

Metode ini pada dasarnya adalah menangkap sejumlah individu dari suatu
populasi hewan yang akan dipelajari. Individu yang ditangkap itu diberi tanda
dengan tanda yang mudah dibaca atau diidentikasi, kemudian dilepaskan kembali
dalam periode waktu yang pendek (umumnya satu hari). Setelah beberapa hari
(satu atau dua minggu), dilakukan pengambilan (penangkapan) kedua terhadap
sejumlah individu dari populasi yang sama. Dari penangkapan kedua ini, lalu
diidentikasi individu yang bertanda yang berasal dari hasil penangkapan pertama
dan individu yang tidak bertanda dari hasil penangkapan kedua. Adapun cara
menandai hewan bermacam-macam, tergantung spesies hewan yang diteliti,
habitatnya (daratan, perairan), lama periode pengamatan, dan tujuan studi.
Namun, dalam cara apapun yang digunakan, perlu diperhatikan syarat-syarat
sebagai berikut:
 Tanda yang digunakan harus mudah dikenali kembali dan tidak ada yang hilang
atau rusak selama periode pengamatan.
 Tanda yang digunakan tidak mempengaruhi atau mengubah perilaku aktivitas
dan peluang hidup.
 Setelah diberi penandaan hewan-hewan itu harus dapat berbaur dengan
individu-individu lain didalam populasi.
 Peluang untuk ditangkap kembali harus sama bagi individu-individu yang
bertanda maupun tidak.
Dari dua kali hasil penangkapan tersebut diatas, dapat diduga ukuran
atau besarnya populasi (N; indeks Petersen-Lincoln) dengan rumus sebagai
berikut:
𝑀 (𝑛 + 1)
𝑁=
𝑚+1
Dimana N = Taksiran jumlah individu populasi
M = Jumlah individu yang ditandai dan dilepaskan kembali pada
periode penangkapan yang pertama (t1)
m = Jumlah individu yang bertanda yang tertangkap kembali pada
periode penangkapan kedua (t2)
n = Jumlah total individu yang tertangkap (yang bertanda maupun
yang tidak bertanda) pada periode penangkapan kedua (t2)

Dengan standar deviasi:


𝑀2 ×(𝑛+1)(𝑛−𝑚)
𝑆𝐷 = √
(𝑚+1)(𝑛−𝑚)

Berikut contoh perhitungan MCR


Jumlah individu pada Jumlah individu pada penangkapan
penangkapan pertama kedua
Jenis
(tangkap-tandai-lepaskan) (penangkapan kedua)
Hewan
Ditangkap Dilepaskan Bertanda Tidak Total
bertanda
Kutu Beras 7 7 3 4 7

Karena 𝑀 ≤ 20 maka diperoleh:


𝑀 (𝑛 + 1)
𝑁=
𝑚+1
7 (7 + 1) 56
𝑁= →𝑁= → 𝑁 = 14
3+1 4

Standar deviasi

𝑀2 × (𝑛 + 1)(𝑛 − 𝑚) 72 × (7 + 1)(7 − 3)
𝑆𝐷 = √ →→ 𝑆𝐷 = √
(𝑚 + 1)(𝑛 − 𝑚) (3 + 1)(7 − 3)
49 × 8 × 4
𝑆𝐷 = √ →→ 𝑆𝐷 = √98
4×4
𝑆𝐷 = 9,89949
Jadi kerapatan populasi adalah 𝑁 ± 𝑆𝐷
14 ± 9,8

3. a. Siklus Nitrogen

1. Fiksasi Nitrogen
Fiksasi nitrogen adalah proses alam, biologis atau abiotik yang mengubah
nitrogen di udara menjadi ammonia (NH3). Mikroorganisme yang mem-
fiksasi nitrogen disebut diazotrof. Mikroorganisme ini memiliki enzim
nitrogenaze yang dapat menggabungkan hidrogen dan nitrogen. Reaksi
untuk fiksasi nitrogen biologis ini dapat ditulis sebagai berikut :
N2 + 8 H+ + 8 e− → 2 NH3 + H2

Mikro organisme yang melakukan fiksasi nitrogen antara lain :


Cyanobacteria, Azotobacteraceae, Rhizobia, Clostridium, dan Frankia.
Selain itu ganggang hijau biru juga dapat memfiksasi nitrogen. Beberapa
tanaman yang lebih tinggi, dan beberapa hewan (rayap), telah membentuk
asosiasi (simbiosis) dengan diazotrof. Selain dilakukan oleh
mikroorganisme, fiksasi nitrogen juga terjadi pada proses non-biologis,
contohnya sambaran petir. Lebih jauh, ada empat cara yang dapat
mengkonversi unsur nitrogen di atmosfer menjadi bentuk yang lebih reaktif

a. Fiksasi biologis: beberapa bakteri simbiotik (paling sering dikaitkan


dengan tanaman polongan) dan beberapa bakteri yang hidup bebas
dapat memperbaiki nitrogen sebagai nitrogen organik. Sebuah contoh
dari bakteri pengikat nitrogen adalah bakteri Rhizobium mutualistik, yang
hidup dalam nodul akar kacang-kacangan. Spesies ini diazotrophs.
Sebuah contoh dari hidup bebas bakteri Azotobacter.
b. Industri fiksasi nitrogen : Di bawah tekanan besar, pada suhu 600 C, dan
dengan penggunaan katalis besi, nitrogen atmosfer dan hidrogen
(biasanya berasal dari gas alam atau minyak bumi) dapat
dikombinasikan untuk membentuk amonia (NH3). Dalam proses Haber-
Bosch, N2 adalah diubah bersamaan dengan gas hidrogen (H2) menjadi
amonia (NH3), yang digunakan untuk membuat pupuk dan bahan
peledak.
c. Pembakaran bahan bakar fosil : mesin mobil dan pembangkit listrik
termal, yang melepaskan berbagai nitrogen oksida (NOx).
d. Proses lain: Selain itu, pembentukan NO dari N2 dan O2 karena foton
dan terutama petir, dapat memfiksasi nitrogen.

2. Asimilasi
Tanaman mendapatkan nitrogen dari tanah melalui absorbsi akar baik
dalam bentuk ion nitrat atau ion amonium. Sedangkan hewan memperoleh
nitrogen dari tanaman yang mereka makan.

Tanaman dapat menyerap ion nitrat atau amonium dari tanah melalui
rambut akarnya. Jika nitrat diserap, pertama-tama direduksi menjadi ion
nitrit dan kemudian ion amonium untuk dimasukkan ke dalam asam amino,
asam nukleat, dan klorofil. Pada tanaman yang memiliki hubungan
mutualistik dengan rhizobia, nitrogen dapat berasimilasi dalam bentuk ion
amonium langsung dari nodul. Hewan, jamur, dan organisme heterotrof lain
mendapatkan nitrogen sebagai asam amino, nukleotida dan molekul organik
kecil.

3. Amonifikasi
Jika tumbuhan atau hewan mati, nitrogen organik diubah menjadi amonium
(NH4+) oleh bakteri dan jamur.

4. Nitrifikasi
Konversi amonium menjadi nitrat dilakukan terutama oleh bakteri yang hidup
di dalam tanah dan bakteri nitrifikasi lainnya. Tahap utama nitrifikasi, bakteri
nitrifikasi seperti spesies Nitrosomonas mengoksidasi amonium (NH4 +) dan
mengubah amonia menjadi nitrit (NO2-). Spesies bakteri lain, seperti
Nitrobacter, bertanggung jawab untuk oksidasi nitrit menjadi dari nitrat
(NO3-). Proses konversi nitrit menjadi nitrat sangat penting karena nitrit
merupakan racun bagi kehidupan tanaman.

Proses nitrifikasi dapat ditulis dengan reaksi berikut ini :


1. NH3 + CO2 + 1.5 O2 + Nitrosomonas → NO2- + H2O + H+
2. NO2- + CO2 + 0.5 O2 + Nitrobacter → NO3-
3. NH3 + O2 → NO2− + 3H+ + 2e−
4. NO2− + H2O → NO3− + 2H+ + 2e
note: “Karena kelarutannya yang sangat tinggi, nitrat dapat memasukkan
air tanah. Peningkatan nitrat dalam air tanah merupakan masalah bagi
air minum, karena nitrat dapat mengganggu tingkat oksigen darah pada
bayi dan menyebabkan sindrom methemoglobinemia atau bayi biru.
Ketika air tanah mengisi aliran sungai, nitrat yang memperkaya air tanah
dapat berkontribusi untuk eutrofikasi, sebuah proses dimana populasi
alga meledak, terutama populasi alga biru-hijau. Hal ini juga dapat
menyebabkan kematian kehidupan akuatik karena permintaan yang
berlebihan untuk oksigen. Meskipun tidak secara langsung beracun
untuk ikan hidup (seperti amonia), nitrat dapat memiliki efek tidak
langsung pada ikan jika berkontribusi untuk eutrofikasi ini.”
5. Denitrifikasi
Denitrifikasi adalah proses reduksi nitrat untuk kembali menjadi gas
nitrogen (N2), untuk menyelesaikan siklus nitrogen. Proses ini dilakukan
oleh spesies bakteri seperti Pseudomonas dan Clostridium dalam kondisi
anaerobik. Mereka menggunakan nitrat sebagai akseptor elektron di tempat
oksigen selama respirasi. Fakultatif anaerob bakteri ini juga dapat hidup
dalam kondisi aerobik.
Denitrifikasi umumnya berlangsung melalui beberapa kombinasi dari bentuk
peralihan sebagai berikut:
NO3− → NO2− → NO + N2O → N2 (g)
Proses denitrifikasi lengkap dapat dinyatakan sebagai reaksi redoks:
2 NO3− + 10 e− + 12 H+ → N2 + 6 H2O

6. Oksidasi Amonia Anaerobik


Dalam proses biologis, nitrit dan amonium dikonversi langsung ke elemen
(N2) gas nitrogen. Proses ini membentuk sebagian besar dari konversi
nitrogen unsur di lautan. Reduksi dalam kondisi anoxic juga dapat terjadi
melalui proses yang disebut oksidasi amonia anaerobic
NH4+ + NO2− → N2 + 2 H2O

Bagan Siklus Nitrogen


b. Siklus sulfur

Daur belerang atau daur sulfur adalah salah satu bentuk daur biogeokimia.
Pengertian dan definisi lain dari daur belerang/sulfur yaitu
perubahan sulfur dari hidrogen sulfidamenjadi sulfur dioksida lalu
menjadi sulfat dan kembali menjadi hidrogen sulfida lagi. Sulfur di alam
ditemukan dalam berbagai bentuk. Dalam tanah sulfur ditemukan dalam bentuk
mineral, di udara dalam bentuk gas sulfur dioksida dan di dalam tubuh
organisme sebagai penyusun protein.

Siklus sulfur di mulai dari dalam tanah. yaitu ketika ion-ion sulfat di serap oleh
akar dan dimetabolisme menjadi penyusun protein dalam tubuh tumbuhan.
Ketika hewan dan manusia memakan tumbuhan, protein tersebut akan
berpindah ke tubuh manusia. Dari dalam tubuh manusia senyawa sulfur
mengalami metabolisme yang sisa-sisa hasil metabolisme tersebut diuraikan
oleh bakteri dalam lambung berupa gas dan dikeluarkan melalui kentut. Salah
satu zat yang terkandung dalam kentut adalah sulfur. Semakin besar
kandungan sulfur dalam kentut maka kentut akan semakin bau.

Hidrogen sulfida (H2S) berasal dari penguraian hewan dan tumbuhan yang mati
oleh mikroorganisme seperti bakteri dan jamur. Hidrogen sulfida hasil
penguraian sebagian tetap berada dalam tanah dan sebagian lagi dilepaskan
ke udara dalam bentuk gas hidrogen sulfida. Gas hidrogen sulfida di udara
kemudian bersenyawa dengan oksigen membentuk sulfur dioksida. Sedangkan
hidrogen sulfida yang tertinggal di dalam tanah dengan bantuan bakteri akan
diubah menjadi ion sulfat dan senyawa sulfur oksida. Ion sulfat akan diserap
kembali oleh tanaman sedangkan sulfur dioksida akan terlepas ke udara. Di
udara sulfur dioksida akan bereaksi dengan oksigen dan air membentuk asam
sulfat (H2SO4) yang kemudian jatuh ke bumi dalam bentuk hujan asam. Hujan
asam juga dapat disebabkan oleh polusi udara seperti asap-asap pabrik,
pembakaran kendaraan bermotor, dll. Hujan asam dapat menjadi penyebab
rapuhnya (korosif) batu-batuan dan logam. H2SO4 yang jatuh kedalam tanah
oleh bakteri dipecah lagi menjadi ion sulfat yang kembali diserap oleh
tumbuhan, tumbuhan dimakan oleh hewan dan manusia, makhluk hidup mati
diuraikan oleh bakteri menghasilkan sulfur kembali. bergitu seterusnya. Siklus
sulfur atau daur belerang tidak akan pernah terhenti selama salah satu
komponen penting penting seperti tumbuhan masih ada di permukaan bumi ini.

Dalam daur sulfur atau siklus belerang, untuk mengubah sulfur menjadi
senyawa belerang lainnya setidaknya ada dua jenis proses yang terjadi. Yaitu
melalui reaksi antara sulfur, oksigen dan air serta oleh aktivitas mikrorganisme.
beberapa mikroorganisme yang berperan dalam siklus sulfur adalah dari
golongan bakteri, antara lain adalah bakteri Desulfomaculum dan
bakteri Desulfibrio yang akan mereduksi sulfat menjadi sulfida dalam bentuk
hidrogen sulfida (H2S). Kemudian H2S digunakan oleh bakteri fotoautotrof
anaerob (Chromatium) dan melepaskan sulfur serta oksigen. Kemudian sulfur
dioksidasi yang terbentuk diubah menjadi sulfat oleh bakteri kemolitotrof
(Thiobacillus).

Sulfur terdapat dalam bentuk sulfat anorganik, Belerang atau sulfur merupakan
unsur penyusun protein. Tumbuhan mendapat sulfur dari dalam tanah dalam
bentuk sulfat (SO42−). Kemudian tumbuhan tersebut dimakan hewan sehingga
sulfur berpindah ke hewan, setelah itu sulfur direduksi oleh bakteri menjadi
sulfida dan kadang-kadang terdapat dalam bentuk sulfur dioksida atau hidrogen
sulfida. Hidrogen sulfida ini seringkali mematikan mahluk hidup di perairan dan
pada umumnya dihasilkan dari penguraian bahan organik yang mati. Tumbuhan
menyerap sulfur dalam bentuk sulfat (SO42−). Perpindahan sulfat terjadi melalui
proses rantai makanan, lalu semua mahluk hidup mati dan akan diuraikan
komponen organiknya oleh bakteri. Beberapa jenis bakteri terlibat dalam daur
sulfur, antara lain Desulfomaculum dan Desulfibrio yang akan mereduksi sulfat
menjadi sulfida dalam bentuk hidrogen sulfida (H2S). Kemudian H2Sdigunakan
bakteri fotoautotrof anaerob seperti Chromatium dan melepaskan sulfur dan
oksigen. Sulfur di oksidasi menjadi sulfat oleh bakteri kemolitotrof
seperti Thiobacillus.

Selain proses tadi, manusia juga berperan dalam siklus sulfur. Hasil
pembakaran pabrik membawa sulfur ke atmosfer. Ketika hujan terjadi, turunlah
hujan asam yang membawa H2SO4 kembali ke tanah. Hal ini dapat
menyebabkan perusakan batuan juga tanaman. Dalam daur belerang,
mikroorganisme yang bertanggung jawab dalam setiap transformasi adalah
sebagai berikut:

1. H2S → S → SO4; bakteri sulfur tak berwarna, hijau dan ungu.


2. SO4 → H2S (reduksi sulfat anaerobik), bakteri desulfovibrio.
3. H2S → SO4 (Pengokaidasi sulfide aerobik); bakteri thiobacilli.
4. S organik → SO4 + H2S,

Jadi daur Sulfur hanya akan berlangsung di daratan dengan perantaraan


bakteri, bakteri yang terlibat dalam daur sulfur, antara lain Desulfomaculum dan
Desulfibro yang akan mereduksi sulfat menjadi sulfida dalam bentuk hidrogen
sulfida (H2S). Kemudian H2S digunakan bakteri fotoautotrof aerob seperti
Chromatium dan melepaskan sulfur dan oksigen. Sulfur dioksida menjadi sulfat
oleh bakteri kemolitotrof. Dengan terbentuknya sulfat ini maka, senyawa ini
baru akan berpindah ke mahkluk hidup dibawa oleh Tumbuhan. Tumbuhan
menyerap sulfur dalam bentuk sulfat (SO4). Perpindahan sulfat terjadi melalui
proses rantai makanan, lalu semua mahluk hidup mati dan akan diuraikan
komponen organiknya oleh bakteri.
Bagan Siklus Sulfur

4. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi pencemaran terutama


disebabkan polutan yang berasal dari kendaraan bermotor dan aktivitaas
industri:
1. Melakukan penyaringan terhadap asap atau limbah asap yang akan dibuang ke
udara bebas agar tidak terlalu membahayakan kesehatan. Hal ini terutama
harus dilakukan oleh pabrik-pabrik atau lokasi-lokasi yang membuang asap
sebagai salah satu limbahnya.
2. Mengurangi penggunaan bahan bakar fosil sebagai pembangkit listrik atau
energy yang lainnya. Hal tersebut dikarenakan bahan bakar fosil dapat
menghasilkan polutan sehingga berkontribusi menciptakan pencemaran udara.
3. Mengurangi jumlah kendaraan pribadi dan membiasakan diri menggunakan
transportasi umum atau mulai hidup sehat dengan menggunakan sepeda
4. Mengurangi jumlah kendaraan pribadi dan membiasakan diri menggunakan
transportasi umum atau mulai hidup sehat dengan menggunakan sepeda
5. Mulai melakukan penanaman tanaman- tanaman hijau, dimulai dari lingkungan
yang ada di sekitar rumah dan juga dipinggir- pinggir jalan
6. Mengganti bahan bakar kendaraan menjadi bahan bakar yang ramah
lingkungan, seperti biogas