Anda di halaman 1dari 2

Percobaan 1 (beaker glass, labu erlenmeyer dan gelas ukur)

Dari hasil pengamatan,alat alat volumetrik yang digunakan mempunyai keakuratan dan presisi berbeda
beda. Perbedaan akurasi dan presisi tersebut dapat dilihat melalui banyaknya jumlah tetes air yang
ditambahkan atau dikurangi pada saat air dari labu erlenmeyer 125 ml, beaker glass 250 ml, dan gelas
ukur 100 ml dipindahkan ke dalam labu takar 50ml. Berdasarkan percobaan pada saat dalam labu takar
jumlah air yg dimasukkan kurang atau melebihi garis batas yg ada pada labu takar sehingga perlu
ditambah atau dikurangi airnya hingga pas dengan garis batas pada labu takar. Semakin banyak tetes air
yang ditambahkan atau dikurangi menunjukkan semakin kecil akurasi dan presisi alat tersebut. Dari hasil
pengamatan didapat hasil gelas beaker kurang 3 tetes, labu erlenmeyer 125 ml kekurangan 125 tetes dan
gelas ukur kelebihan 21 tetes jadi dapat disimpulkan bahwa akurasi dari ketiga alat tersebut jika
diurutkan adalah sebagai berikut gelas beaker>gelas ukur> labu erlenmeyer. Jika dilihat dari segi fisik
tingkat akurasi dan presisi juga dipengaruhi oleh luas permukaan dari masing-masing alat volumetrik
yang digunakan dimana luas penampang gelas ukur <labu erlenmeyer <gelas beaker hal ini
menyebabkan saat pengamatan melihat jumlah volume yang ditunjukkan berbeda untuk tiap alat karna
perbedaan cekungan permukaan air yang dilihat pada tiap alat dan itu memengaruhi akurasi dan presisi
tiap alat. Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan semakin besar luas penampang maka
semakin kecil tingkat akurasinya dan juga berlaku sebaliknya. Jadi pada percobaan ini untuk mengukur 50
mlm air sebaiknya gunakan gelas ukur 100ml atau labu takar 50 ml karena akurasi dan presisi kedua alat
tersebut lebih dibandingkan beaker glass dan labu erlenmeyer.

Percobaan 2

Berdasarkan hasil pengamatan pada pipet gondok 5 ml dan pipet berskala 10 ml dapat disimpulkan
bahwa semakin banyak jumlah tetes air yang ditambahkan maka akurasi dari pipette tersebut semakin
kecil. Berdasarkan hasil pengamatan yaitu pipet gondok 5 ml kelebihan 5 tetes dan apakah dua kali
percobaan menggunakan pipet berskala 10 ml yaitu kelebihan 7 tetes dan 19 tetes dapat disimpulkan
bahawa pipet gondok 5 ml lebih akurat daripada pipet berskala 10 ml. Jadi untuk melakukan
pemindahan dan pengukuran air 5 ml sebaiknya menggunakan pipet gondok 5 ml karena akurasiny lebih
tinggi.

Percobaan 3

Dari hasil pengamatan semakin besar jumlah tetesan menunjukkan tingkat akurasi lebih rendah karena.
Simpangan yang semakin besar dari meniskus 2 ml pada gelas ukur 10 ml. Pada percobaan yang kami
lakukan didapatkan hasil data makropipet 2ml kelebihan 6tetes, makropipet 5 ml kelebihan 10 tetes dan
makropipet 10 ml kelebihan 17 tetes. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa semakin banyak
jumlah i skala pada alat ukur semakin rendah akurasi alat tersebut. Jadi untuk mengukur air sebanyak 2
ml menggunakan makropipet sebaiknya gunakan makropipet 2ml karena akurasinya lebih tinggi
dibandingkan makropipet 5 ml dan makropipet 10 ml
Percobaan 4

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan warna kebiruan pada larutan terjadi karena titrasi antara
larutan iki dan larutan amilum yang dicampur dengan vitamin C telah bereaksi. Pertama larutan IKI
bereaksi terlebih dahulu sehingga tidak menghasilkan perubahan warna hanya perubahan warna biru
sedikit yang jika dikocok menghilang. Ketika sudah selesai bereaksi dengan vitamin c larutan IKI
selanjutnya bereaksi dengan amilum dan menghasilkan perubahan warna menjadi biru muda.

Dalam perhitungan kadar vitamin c yang terlarut kami mendapatkan hasil 49,28 mg yang jika dibulatkam
menjadi 50 mg, hal ini sesuai dengan keterangan pada kemasan kapsul vitamin c yang menunjukkan 1
kapsul mengandung 50 mg kadar vitamin c. Saat melakukan titrasi kita harus hati-hati saat mengalirkan
larutan dari buret agar hasil yang diperoleh juga akurat dan juga ketelitian pelaku dalam membaca skala
yang ditunjukkan pada buret harus teliti agar hasil perhitungan sesuai.