Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN

PEMBUATAN PEMERIKSAAN HAPUSAN DARAH TEPI

Di Susun Oleh :
Nama : Mohammad Zainudin

PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


STIKES MAJAPAHIT MOJOKERTO
2018
Pembuatan Pemeriksaan Hapusan Darah Tepi

Nama : Mohammad Zainudin

A. Sediaan Apusan Darah Tepi


Sediaan apus darah tepi adalah suatu cara yang sampai saat ini masih digunakan pada
pemeriksaan di laboratorium. Prinsip pemeriksaan sediaan apus ini adalah dengan
meneteskan darah lalu dipaparkan di atas objek glass, kemudian dilakukan pengecatan dan
diperiksa dibawah mikroskop.
B. Tujuan Pemeriksaan Apusan Darah
1. Untuk mengetahui cara membuat sediaan apusan darah tepi.
2. Untuk menegtahui gambaran berbagai jenis sel (eritrosit, trombosit dan leukosit).
3. Memperkirakan jumlah leukosit dan trombsit.
4. Indentifikasi parasit (misal : malaria, Microfilaria dan Trypanosama).
C. Dasar Teori
Darah merupakan sel yang berbentuk cair yang terdiri atas dua bagian yaitu plasma
darah dan sel darah. Sel darah terdiri dari tiga jenis yaitu eritrosit, leukosit dan trombosit.
Perbandingan volume darah dengan berat badan adalah 1:12, atau sekitar 5 liter. Darah
terdiri dari beberapa jenis korpuskula yang membentuk 45% bagian dari darah. Bagian
55% yang lain berupa cairan kekuningan yang membentuk medium cairan darah yang
disebut plasma darah. Plasma darah merupakan cairan didalam darah yang mengandung
ion (natrium, kalium, magnesium, klorida, dan bikarbonat), protein plasma (albumin dan
fibrinogen). Fungsi dari Ion dan protein plasma adalah keseimbangan osmotik. Terdapat
tiga macam sel darah sebagai berikut :
1. Eritrosit
Eritrosit atau sel darah merah merupakan salah satu komponen sel yang terdapat
dalam darah, fungsi utamanya adalah sebagai pengangkut hemoglobin yang akan
membawa oksigen dari paru-paru ke jaringan. Eritrosit berbentuk bikonkaf dengan
diameter sekitar 7,5 μm, dan tebal 2 μm namun dapat berubah bentuk sesuai diameter
kapiler yang akan dilaluinya, selain itu setiap eritrosit mengandung kurang lebih 29 pg
hemoglobin, maka pada pria dewasa dengan jumlah eritrosit normal sekitar 5,4jt/ μl
didapati kadar hemoglobin sekitar 15,6 mg/dl.

2. Trombosit
Trombosit adalah sel darah tak berinti yang berasal dari sitoplasma megakariosit.
Kadar normal trombosit dalam tubuh manusia sekitar 150–450x103/μl. Dalam keadaan
inaktif trombosit memiliki bentuk seperti cakram bikonveks dengan diameter 2-4 μm.
Trombosit dapat bertahan didalam tubuh selama 7-10 hari. Peran trombosit didalam
tubuh adalah sebagai pembentukan sumbatan selama respon hemostatik normal
terhadap luka.
3. Leukosit
Leukosit atau sel darah putih adalah sel darah yang memiliki nukleus. Dalam darah
manusia normal, ditemukan jumlah leukosit berkisar antara 4500-10.000 sel/mm3.
Secara umum leukosit berperan dalam pertahanan seluler dan humoral manusia,
leukosit dapat meninggalkan pembuluh darah dengan proses diapedesis, menerobos
diantara sel-sel endotel dan menembus ke jaringan ikat. Berdasarkan ada atau tidaknya
granula, leukosit dibagi menjadi 2 jenis, yaitu granulosit dan agranulosit. Saat leukosit
yang memiliki granula spesifik (granulosit) dalam keadaan hidup dilihat di bawah
mikroskop cahaya maka akan terlihat bentuk nukleus yang bervariasi dan granula yang
terlihat berupa tetesan setengah cair dalam sitoplasmanya. Leukosit yang tidak
memiliki granula (agranulosit) memiliki sitoplasma homogen dengan inti berbentuk
bulat atau berbentuk ginjal. Terdapat 3 jenis leukosit granulosit, yaitu neutrofil, basofil
dan eosinofil; serta 2 jenis leukosit agranuler, monosit dan limfosit). Jenis-jenis
leukosit:
1). Neutrofil
Neutrofil berkembang dalam sumsum tulang dan dikeluarkan ke sirkulasi darah,
sel ini merupakan 60-70% dari seluruh leukosit yang beredar. Sel ini memiliki
diameter sekitar 12 μm, satu inti, dan 2-5 lobus. Sitoplasmanya memiliki granula
azurofilik yang mengandung enzim lisosom dan peroksidase, serta granula spesifik
yang lebih kecil yang mengandung fosfatase alkali dan zat-zat bakterisidal
(fagositin). Neutrofil memiliki metabolisme secara aerob maupun anaerob.
Kemampuan neutrofil untuk hidup di lingkungan anaerob sangat menguntungkan
karena sel ini dapat membunuh bakteri dan membantu membersihkan debris pada
jaringan nekrotik. Neutrofil bekerja dengan cara memfagositosis bakteri dan fungi
yang masuk ke dalam tubuh. Netrofil memiliki enzim oksidase, yang akan
memasukkan elektron ke dalam vakuola yang bersifat fagositik, dan bakteri akan
terfagositosis dalam vakuola.
2). Basofil
Basofil memiliki diameter 12 μm, satu inti besar yang umumnya berbentuk huruf
S, sitoplasma basofilik yang berisi granula yang besar sehingga seringkali menutupi
inti. Granula basofil berbentuk ireguler berwarna metakromatik. Granula basofil
mensekresi histamin dan heparin. Basofil adalah tipe leukosit yang paling sedikit
dapat ditemukan dalam pemeriksaan.
3). Eosinofil
Eosinofil memiliki diameter 9 μm. Intinya biasanya berlobus dua, retikulum
endoplasma, mitokondria, dan apparatus golgi kurang berkembang. Eosinofil
memiliki granula ovoid yang mengandung fosfatase asam, katepsin, dan
ribonuklease. Kemampuan fagositosis eosinofil lebih lambat daripada neutrofil,
namun lebih selektif. Eosinofil dapat ditemukan pada darah ketika terjadi inflamasi
karena alergi dan asma.
4). Monosit
Merupakan sel leukosit dengan diameter 9-10 μm, tapi pada sediaan darah kering
dapat mencapai 20 μm. Inti biasanya eksentris dan berbentuk seperti tapal kuda.
Sitoplasma relatif banyak dan memiliki warna biru abu-abu pada pulasan Wright.
Monosit memiliki fungsi fagositik yaitu membuang sel-sel mati, fragmen-fragmen
sel, dan mikroorganisme.
5). Limfosit
Limfosit adalah sel berbentuk sferis, dengan diameter 6-8 μm. Inti relatif besar
dan bulat. Sitoplasma sedikit sekali dan sedikit basofilik. Limfosit yang berada
dalam kelenjar limfe akan tampak dalam darah pada keadaan patologis. Terdapat dua
jenis limfosit yaitu limfosit T dan limfosit B. Limfosit bergantung pada timus,
berumur panjang dan terbentuk dalam timus. Limfosit B tidak bergantung pada
timus, tersebar dalam folikel-folikel kelenjar getah bening.
D. Bahan Pemeriksaan
 Darah kapiler/vena.
 Dengan atau tanpa antikoagulan EDTA.
E. Membuat dan Memwarnai
a. Peralatan
 Kaca Obyek bersih & kering.
 Batang gelas.
 Rak kaca obyek.
 Pipet Pasteur.
 Mikroskop.
b. Reagen
 Metanol absolut.
 Zat warna Wright, disaring.
 Larutan dapar pH 6,4.
 Pewarnaan lain : - Giemsa
- May Grunwald Giemsa
- Wright-Giemsa
F. Prinsip Pewarnaan
 Romanowski disebut juga pewarnaan giemsa → pewarnaan ini banyak digunakan
untuk mempelajari morfologi sel-sel darah, sel-sel lien, sel-sel sumsum dan juga
untuk mengidentifikasi parasit-parasit darah misal Tripanosoma, Plasmodia dan lain-
lain dari golongan protozoa. Dasar dari pewarnaan Giemsa adalah presipitasi hitam
yang terbentuk dari penambahan larutan metilen biru dan eosin yang dilarutkan di
dalam metanol. Dua zat warna yang berbeda yaitu
 Azur B (Trimetiltionin) bersifat basa → mewarnai asam (kromatin, DNA, RNA)
 Eosin Y (tetrabromoflurescin) bersifat asam → mewarnai basa (granula eosinofil,
Hb)
 Efek Romanowski :
 Ikatan eosin y pada azur B yang beragregasi dapat menimbulkan warna ungu.
 Efek ini terjadi sangat nyata pada DNA tetapi tidak terjadi pada RNA sehingga akan
menimbulkan kontras antara inti yang berwarna dengan sitoplasma yang berwarna
biru.
G. Cara Pembuatan Sediaan Hapus
 Siapkan kaca obyek dan kaca penghapus.
 Letakkan 1 tetes darah di tepi penghapus.
 Letakkan kaca penghapus dengan sudut 30 - 45 derajat di depan tetes darah.
 Tarik hingga menyentuh darah, biarkan.
 Darah menyebar dan geser hingga terbentuk hapusan darah.
 Biarkan mengering di udara, beri identitas.
 Melihat di mikroskop
H. Jenis Apusan Darah
1. Sediaan darah tipis
Ciri- ciri apusan sediaan darah tipis yaitu lebih sedikit membutuhkan darah untuk
pemeriksaan dibandingkan dengan sediaan apus darah tebal, morfologinya lebih jelas.
bentuk parasit plasmodium berada dalam eritrosit sehingga didapatkan bentuk parasit
yang utuh dan morfologinya sempurna. Serta lebih mudah untuk menentukan spesies
dan stadium parasit dan perubahan pada eritrosit yang dihinggapi parasit dapat dilihat
jelas.
2. Sediaan darah tebal
Ciri- ciri apusan sediaan darah tebal yaitu membutuhkan darah lebih banyak untuk
pemeriksaan dibanding dengan apusan darah tipis, sehingga jumlah parasit yang
ditemukan lebih banyak dalam satu lapang pandang, sehingga pada infeksi ringan lebih
mudah ditemukan. Sediaan ini mempunyai bentuk parasit yang kurang utuh dan kurang
begitu lengkap morfologinya.
I. Syarat Sediaan Yang Baik
 Tidak melebar hingga tepi kaca obyek.
 Panjang separuh hingga 2/3 panjang kaca.
 Rata, tidak bergaris / berlubang-lubang.
 Penyebaran leukosit rata.
J. Cara Mewarnai
 Letakkan sediaan hapus di tempat pewarnaan.
 Fiksasi metanol absolut 2 - 3 menit
 Genangi sediaan dengan Wright 3 - 5 menit.
 Tuang larutan dapat sama banyak 5 - 10 menit.
 Cuci sediaan, biarkan kering dalam posisi tegak.
 Setelah kering, baca di bawah mikroskop.
Pembagian Zona apusan darah dari hasil pengamatan :

a. Zona I : Penyebaran tidak teratur, bergerombol sedikit/banyak dan tidak selalu sama
pada tiap preparat.
b. Zona II : Tipis, bertumpukan dan berdesakan, tidak rata.
c. Zona III : Tebal, Penyebaran sel darah rapat/padat, saling bertumpukan dan berdesakan.
d. Zona IV : Sama seperti zona II, tipis (±18%).
e. Zona V : Sel-sel tersebar secara merata, tidak saling bertumpukan dan berdesakan,
bentuknya terlihat masih utuh.
f. Zona VI : Sangat tipis, daerah sebelum ekor terlihat eritrosit tersusun longgar,
cenderung membentuk gerombolan sel-sel yang berderet.
K. Sumber Kesalahan pada Pewarnaan
1. Kesalahan prainstrumentasi : Persiapan penderita, indentitas, pengambilan &
penyimpanan.
2. Sediaan terlalu biru : Tebal, warna terlalu lama, pH dapar basa, pencucian.
3. Sediaan terlalu merah : pH dapar asam, pencucian dan leukosit hancur.
4. Bercak-bercak : Pencucian, zat warna tidak disaring, zat warna mengering.
5. Darah dengan antikoagulan harus dibuat sediaan < 1 jam heparin latar belakang biru
6. Sediaan tidak rata : Kaca penghapus tidak rata, teknik penghapusan, kaca kotor,
berlemak, berdebu.
7. Fiksasi metanol tidak baik (tidak absolut) dan fiksasi terlambat.
L. Cara Memeriksa dan Sumber Kesalahan
a. Cara Memeriksa
 Lihat daerah yang baik (1 0 x) : sel tersebar merata tidak saling menumpuk.
 1 tetes imersi, tutup dengan kaca tutup.
 Lihat dengan obyektif 40 x.
 Dilakukan penilaian sediaan hapus.
 Bila perlu dilihat dengan obyektif 100 x (+ imersi).
b. Sumber Kesalahan
 Pewarnaan kurang baik.
 Penyebaran sel tidak merata.
 Fiksasi tidak baik → perubahan morfologi.
 Salah identifikasi sel.
 Mikroskop tak baik.
M. Hasil Pengamatan pada Hapusan Darah
1. Pengamatan 1

Darah

Eritosit

2. Pengamatan ke 2

Minyak
Leukosit
Eritosit

Trombosit
3. Pengamatan ke 3

Minyak Eritrosit

Leukosit

4. Pengamatan ke 4

Trombosit
Minyak
limfosit

Eritrosit
limfosit

5. Pengamatan ke 5
Minyak

Trombosit

DAFTAR PUSTAKA
.2015.BAB II Tinjauan Pustaka. https://dokumen.tips/documents/jtptunimus-gdl-
rosmayulia-7181-3-babiit-k.html
.BAB II Landasan Teori. https://anzdoc.com/bab-ii-landasan-
teoribe21abeb42db595990e1906fa5af07da29263.html
Diana.2014.Cara Pembuatan Sediaan Hapus Darah Tepi .
http://www.academia.edu/6829016/Cara_Pembuatan_Sediaan_Hapus_Darah_Tepi_dr_
Diana