Anda di halaman 1dari 23

LAB AKUNTANSI KEUANGAN LANJUTAN

DISUSUN OLEH:

1. Juhrotul Aini (A0C017084)


2. Lale Endah Kamaratih (A0C017092)
3. Lale Resa Suhartika (A0C017093)
4. Lale Yustika Asmayanti (A0C017094)
5. Lita Washilatul Annisa (A0C017099)

DIII AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS MATARAM

2019
MATERI I
PERSEKUTUAN DAN FIRMA
Persekutuan Pembentukan, Operasi Dan Pembagian Laba/Rugi
1. Pengertian Persekutuan
Persekutuan (partnership) didefinisikan suatu asosiasi atau kerja sama diantara dua orang atau
(badan) atau lebih untuk memiliki bersama-sama dan secara lansung menjalankan perushaan
dengan tujuan untuk mendapatkan keutungan.
Masalah yang timbul di dalam persekutuan adalah berhubungan dengan perlakuan dan
prosedur akuntansinya. Permasalahan ini dikarenakan persekutuan memiliki karakteristik
yang berbeda dengan Perseroan Terbatas.
2. Karakteristik Persekutuan
a. Umumnya terbatas
Kelangsungan hidup persekutuan berakhir apabila para anggota secara sukarela sepakat
untuk membubarkan persekutuan, masuknya sekutu/rekanan baru, pengunduran diri salah
satu atau lebih sekutu atau meninggalnya sekutu lama atau pembubaran dikarenakan
terpaksa.
b. Tanggung jawab tidak terbatas
Tanggung jawab anggota persekutuan tida terbatas pada jumlah modal yang ditanamkan
dalam usaha tersebut.
c. Keagenan yang saling menguntungkan
Setiap sekutu dianggap sebagai agen bagi seluruh kegiatan persekutuan dengan kekuatan
yang mengikat sekutu lainnya melalui aktivitas yang dilakukannya atas nama persekutuan.
d. Memiliki bagian hak dari harta persekutuan dan pendapatan
Kekayaan milik persekutuan tida didefinisikan untuk para anggotanya. Tetapi yang
dimiliki anggotanya adalah mengenai hak dalam persekutuan jika haknya dijual pada pihak
lain atau pada saat pembubaran, demikian pula pada saat terjadi laba atau rugi dalam
persekutuan.
3. Isi perjanjian persekutuan
Persekutuan dapat didirikan atau dibentuk hanya dengan cara lisan antara dua orang atau lebih
untuk melakukan kegiatan yang menguntungkan. Isi perjanjian yang biasanya dicantumkan
dalam kata pendirian persekutuan antara lain adalah :
a. Nama persekutuan
b. Pihak-piha yang bersangkutan dalam persetujuan
c. Lokasi persekutuan
d. Tanggal berdirinya persekutuan
e. Bidang usaha yang dilakukan
f. Hak, wewenang dan kewajiban masing-masing anggota persekutuan, serta batasan-batasan
berdasarkan otoritas para sekutu
g. Besarnya investasi masing-masing anggota persekutuan dan nilai yang ditetapkan atas
masing-masing investasi
h. Buku-buku catatan dan laporan keuangan
i. Cadangan unuk tambahan atau pengambilan investasi
j. Cara pembagian laba-rugi, yang meliputi ketentuan-ketentuan khusus untuk penetapan
selisih-selisih dalam investasi sumbangan jasa
k. Asuransi jiwa atas kematian anggota sekutu
l. Penyelesaian apabila ada perselisihan antar anggota persekutuan
m. Investasi dan pengambilan prive oleh salah seorang sekutu
n. Sifat dan ruang lingkup perusahaan dan lokasinya
4. Jenis-jenis Persekutuan
Persekutuan dilihat dari jenis usahanya dapat dikelompokkan ke dalam persekutuan yang
bergerak dibidang jasa, perdagangan dan manufaktur. Namun kalau ditinjau dari aktivitas
persekutuannya, maka persekutuan dapat dibedakan menjadi persekutuan umum, persekutuan
terbatas dan joint stock companies.
5. Akuntansi dalam Persekutuan
Para sekutu membutuhkan informasi akuntansi untuk merencanakan dan mengontrol harta
kekayaan dan aktivitas persekutuan dan untuk membuat keputusan investasi baik secara
pribadi maupun persekutuan.
Masalah yang spesifik dalam persekutuan adalah berhubungan dengan pengukuran modal
masing-masing anggota sekutu. Hal ini berhubungan dengan penyertaan (hak) masing-masing
anggota didalam persekutuan tersebut.
6. Pembentukan persekutuan
Persekutuan dapat dibentuk dengan menggabungkan perusahaan perseorangan yang sudah
berjalan dengan anggota sekutu yang baru dengan cara menyetorkan modalnya,atau dapat
juga didirikan perusahaan yang sama sekali baru yang sebelumnya tidak ada(belum berdiri)
a. Pendirian persekutuan baru
Catatan auntansi untuk pendirian persekutuan baru adalah mencatat investasi masing-
masing amggota menjadi harta persekutuan.investasi awal tersebut dicatat ke dalam
rekening modal untuk masing-masing angota.
b. Persekutuan didirikan dari perusahaan perseorangan yang sudah berdiri
Persekutuan yang didirikan sebagai pengembangan dari perusahaan perseorangan,maka
akan membawa konskwensi pada penilaian kmbali aset-aset perusahaan perseorangan
tersebut.penilaian kembali tersebut akan melibatkan tim penilai(Apprasial) atau
berdasarkan kesepakatan diantara masing-masing anggota sekutu yang didasarkan pada
nilai wajarnya atau nilai pasarnya. Persoalan lainyang akan timbul di dalam pendirian
persekutuan ini adalah berhubungan dengan penggunaan catatan akuntansinya.
Ada dua metode yang dapat digunakan yaitu:
a. Melanjutkan catatan akuntansi perusahaan perseorangan yang sudah berjalan
b. Membuat catatan akuntansi yang baru.
7. Masalah akuntansi selama kegiatan operasional persekutuan
Sebagaimana layaknya perusahaan yang berorientasi untuk mencari keuntungan ,maka
masalah akuntansi yang timbul dalam penyelenggaraan persekutuan tidak banyak berbeda
dengan jenis badan usaha yang lain.hanya saja dalam perhitungan laba/rugi dalam satu
periode tertentu,biaya-biaya yang dikeluarkan untuk kepentingan pribadi harus dipisahkan
dari biaya yang diebankan pada periode yang bersangkutan.hal ini dilakukan supaya ada
pemisahan biaya untuk kepentingan pribadi.pengambilan uang kas oleh salah satu sekutu
harus diperlakukan sebagai pengurang modal sekutu yang bersangkutan.atau apabila ada
penambahan modal(investasi)dari salah satu sekutu harus diperlakukan sebagai penambah
modal sekutu yang bersangkutan.
8. Masalah pembagian laba-rugi persekutuan
Pembagian lagi persekutuan dapat menggunakan berbagai macam cara.cara yang digunakan
tentunya didasarkan pada hasil kesepakatan para sekutu pada saat pendirian.apabila tidak
diatur secara spesifik maka pembagiannya dilakukan dengan perbandingan yang sama.
Terdapat banyak cara pembagian laba-rugi yang dapat digunakan oleh persekutuan.dasar
pembagian laba rugi tersebut harus dinyatakan didalam perjanjian persekutuan.
Adapun cara-cara pembagian laba rugi tersebut adlah sebagai berikut:
a. Dibagi sama
b. Dibagi berdasar perbandingan sesuai dengan perjanjian
c. Dibagi berdasarkan perbandingan modal
I. Didasarkan pada perbandingan modal awal
II. Didasarkan pada perbandingan modal akhir
III. Didasarkan pada perbandingan modal rata-rata
d. Dibagi berdasarkan bungan modal,saldonya dibagikan dengan perbandingan tertentu
e. Mula-mula diperhitungkan gaji kepada sekutu yang aktiv dan atau bonus ,sisanya
dibagikan sesuai dengan perbandingan tertentu.
f. Mula-mula diperhitungkan bunga modal,gaji kepada sekutu yang aktiv atau bonus untuk
anggota tertentu ,baru sisanya dibagi sesuai dengan perbandingan tertentu
g. Atau pembagian yang lain.
9. Masalah gaji pemilik dan bunga modal
Secara teoritis gaji pemilik dalam satu periode akuntansi adalah sebagai beban gaji
persekutuan dan bukan pembagian laba rugi. Gaji pemilik adalah beban yang terjadi atas jasa
yang diberikan kepada perusahaan.
Untuk kepentingan perusahaan alangkah baiknya apabial gaji pemilik diperlakukan sebagai
beban usaha. Karena dengan perlakuan yang konsisten dan sesuai, maka informasi laba rugi
akan lebih bermanfaat bagi pihak- pihak yang berkepentingan. Oleh karena itu perlakukan
pembagian laba rugi harus ditegaskan didalam perjanjian.
Masalah Akuntansi Pembubaran Persekutuan
1. Masalah masuknya seorang atau lebih anggota sekutu
Seorang anggota sekutu baru dapat masuk(gabung) ke dalam persekutuan harus dengan
kesepakatan semua anggota sekutu.ini berarti persekutuan baru telah dibentuk.gabungnya
sekutu baru secara otomatis membubarkan persekutuan yang lama.oleh karna itu perjanjian
persekutuan yang lama harus dirubah dengan perjanjian yang baru.hal penting dalam
perjanjian yang baru adalah perubahan pembagian laba rugi,karena dengan dibubarkannya
persekutuan yang lama berarti membatalkan ketentuan pembagian laba rugi yang telah
disepakati.
Masuknya anggota sekutu baru ke dalam persekutuan yang telah berjalan dapat dilakukan
dengan cara membeli kepemilikan satu atau lebih sekutu lama dengan persetujuan anggota
sekutu lama yang lain atau dengan cara menginvestasikan uang kas atau asset yang lain ke
dalam persekutuan.
a. Pembelian sebagian atau seluruh hak penyertaan anggota sekutu lama
Apabila seorang membeli sebagian atau seluruh hak penyertaan sekutu lama,maka bagian
hak sektu lama tersebut dikurangi sebesar bagian yang dibeli oleh sekutu baru.
b. Penyertaan (investasi) sekutu baru ke dalam persekutuan
Anggota sekutu baru dapat menjadi anggota persekutuan yang sudah berjalan dengan cara
menyetorkan (menginvestasikan) kekayaannya ke dalam persekutuan.dengan investasi
tersebut maka anggota lama akan mengakui bagian hak penyertaan sekutu baru sesuai
dengan kesepakatan bersama.
Ada beberapa kemungkinan pencatatan modal anggota sekutu baru ke dalam persekutuan.
a. Modal anggota sekutu baru dicatat sebesar rillnya
b. Modal anggota sekutu baru dicatat lebih besar dari rillnya
c. Modal anggota sekutu baru dicatat lebih kecil dari rillnya
d. Modal anggota sekutu baru dicatat setelah pembentukan goodwill kepada anggoat
lama.
Pengertian Firma (Fa)

Secara harfiah Firma adalah Perserikatan dagang antara beberapa perusahaan dalam
bentuk sebuah persekutuan bisnis untuk menjalankan usaha antara dua orang atau lebih dengan
memakai nama bersama untuk mendapat profit.
Persekutuan Firma adalah kaitan atau hubungan yuridis yang timbul dari perjanjian
sukarela antara beberapa pihak yang bersangkutan, baik secara lisan, maupun tertulis atau tersirat
daritindakan pribadi sekutu bersangkutan.
Pengertian Firma menurut Pasal 16 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang bahwa
“Perseroan Firma adalah tiap-tiap perserikatan yang didirikan untuk menjalankan suatu
perusahaan di bawah satu nama bersama.”
Firma (Fa) adalah suatu persekutuan antara dua aorang atau lebih yang menjalankan
badan usaha dengan nama bersama dengan tujuan untuk membagi hasil yang diperoleh dari
persekutuan tersebut. Dalam mendirikan firma memiliki anggota paling sedikit dua orang.
Semua anggota memiliki tanggung jawab terhadap perusahaan dan menyerahkan kekayaan
pribadi sesuai yang tercantum dalam akta pendirian Firma. Apabila bangkrut semua anggota
harus bertanggung jawab sampai harta milik pribadi ikut dipertanggungkan.
Modal firma berasal dari kekayaan pribadi anggota pendiri, serta laba/ keuntungan dibagikan
kepada anggota dengan perbandingan sesuai akta pendirian.

B. Unsur-Unsur Firma (Fa)

Adapun persekutuan perdata adalah perjanjian dengan mana dua orang atau lebih
mengikatkan diri untuk menyetorkan sesuatu kepada persekutuan dengan tujuan untuk
memperoleh manfaat atau keuntungan (Pasal 1618 KUHPer). Berdasarkan definisi tersebut,
dapat dinyatakan bahwa persekutuan itu disebut Firma apabila mengandung unsur-unsur pokok
berikut ini :
1. Persekutuan perdata (Pasal 1618 KUHPer);
2. Menjalankan perusahaan (Pasal 16 KUHD);
3. Dengan nama bersama atau firma (Pasal 16 KUHD); dan
4. Tanggung jawab sekutu bersifat pribadi untuk keseluruhan (Pasal 18 KUHD)
Dari pengertian Firma menurut Pasal 16 UU Hukum Dagang, dapat di simpulakan bahwa,
Firma merupakan persekutuan perdata dan termasuk bagian dalam perusahaan serta dijalankan
atas satu nama bersama. Hal ini didukung dengan isi Pasal 1618–1652 Kitab Undang-Undang
Hukum Perdata, yang menjelaskan Persekutuan perdata diberlakukan terhadap perseroan Firma
sejauh tidak bertentangan dengan ketentuan Pasal dalam Kitab Undang-Undang Hukum Dagang.
Adapun pengertian Persekutuan Perdata menurut Kamus hukum ialah “Persetujuan
kerjasama antara beberapa orang untuk mencari keuntungan tanpa bentuk badan hukum terhadap
pihak ketiga masing-masing menanggung sendiri-sendiri perbuatannya kedalam mereka
memperhitungkan laba rugi yang dibaginya menurut perjanjian persekutuan”. (Pasal 1618
KUHPdt)
Menurut Johanes Ibrahim, suatu Maatschap (persekutuan perdata) khusus seperti yang
ditetapkan oleh Pasal 1623 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata dapat melakukan perbuatan
perusahaan.Oleh karena itu, Firma tidak dapat dikatakan sebagai badan usaha yang memiliki ciri-
ciri sebagai badan hukum. Karena apabila meninjau pandangan Subekti yang menjelaskan
bahwa, Badan Hukum pada pokoknya adalah suatu badan atau perkumpulan yang dapat
memiliki hak-hak dan melakukan perbuatan seperti seorang manusia, serta memiliki kekayaan
sendiri, dan dapat digugat atau mengguggat di depan hakim.
Menurut Mollengraff Firma adalah suatu perkumpulan yang didirikan untuk menjalankan
perusahaan dibawah nama bersama dan yang mana anggota-anggotanya tidak terbatas tanggung
jawabnya terhadap perikatan perseroan dengan pihak ketiga
Firma adalah perseroan yang menjalankan suatu perusahaan di bawah nama bersama, yang
tidak sebagai perseroan komanditer - Wery.
Slagter memberikan defenisi bahwa Firma adalah suatu perjanjiann yang ditujukan kearah
kerjasama di antara dua orang atau lebih secara terus menerus untuk menjalankan suatu
perusahaan di bawah nama bersama, agar memperoleh keuntungan atas hak kebendaan bersama
guna mencapai tujuan pihak-pihak di antara mereka mengikatkan diri untuk memasukkan uang,
barang, nama baik, hak-hak atau kombinasi daripadanya kedalam persekutuan.
Dari pengertian di atas dapat di ambil kesimpulan, firma adalah persekutuan antara dua orang
atau lebih untuk menjalan perusahaan yang di buat dengan nama bersama.
Firma juga dapat dikatakan sebagai persekutuan perdata. Persekutuan perdata adalah
perjanjian antara dua orang atau lebih yang mengikatkan diri untuk memasukkan sesuatu ke
perusahhan dengan maksud untuk membagi keuntungan atau kemanfatan yang di peroleh
karenanya (Pasal 1618 KUHPerdata). Sehingga dapat disimpulkan bahwa firma adalah sebuah
ketentuan husus dari ketentuan yang umum yang mengatur mengenai persekutuan perdata.
Persekutuan firma bukan merupakan badan hukum karena persekutuan firma tidak memenuhi
syarat untuk menjadi badan hukum. Adapun syarat sebuah persekutuan disebut badan hukum
apabila kekayaan perusahaan terpisah dari kekayaan pribadi dan mendapatkan mempunyai
peraturan resmi atau husus oleh pemerintah. Sedangkan persekutuan firma, kekayaan
persekutuan dengan kekayaan pribadi tidak terpisah dan tidak ada undang-undang husus yang
mengatur mengenai firma. Oleh karena itu dalam mendirikan persekutuan firma tidak ada
keharusan untuk mengesahkan akta pendirian oleh menteri kehakiman.
C. Ciri-Ciri Firma (Fa)
Seperti halnya persekutuan yang lain, firma juga memiliki sifat atau ciri-ciri. Adapun ciri-ciri
firma antara lain :

1. Para sekutu aktif di dalam mengelola perusahaan;


2. Tanggung jawab yang tidak terbatas atas segala resiko yang terjadi;
3. Akan berakhir jika salah satu anggota mengundurkan diri atau meninggal dunia;
4. Anggota firma biasanya sudah saling mengenal sebelumnya dan sudah saling
mempercayai;
5. Perjanjian suatu firma dapat dilakukan dihadapan notaris;
6. Dalam kegiatan usaha selalu memakai nama bersama;
7. Setiap anggota dapat melakukan perjanjian dengan pihak lain;
8. Adanya tanggungjawab atas resiko kerugian yang tidak terbatas;
9. Apabila terdapat hutang tak terbayar, maka setiap pemilik wajib melunasi dengan harta
pribadi;
10. Setiap anggota firma memiliki hak untuk menjadi pemimpin;
11. Seorang anggota tidak berhak memasukkan anggota baru tanpa seizin anggota yang
lainnya;
12. Keanggotaan firma melekat dan berlaku seumur hidup;
13. Seorang anggota mempunyai hak untuk membubarkan firma; dan
14. Mudah memperoleh kredit usaha
D. Sifat Firma (Fa)

Sifat dari Persekutuan Firma adalah:


1. Keagenan atau perwakilan bersama;
2. Umur terbatas;
3. Tanggung jawab tak terbatas;
4. Pemilikan kepentingan;
5. Partisipasi (Keikutsertaan) dalam Persekutuan Firma;
6. Bentuk firma ini telah digunakan baik untuk kegiatan usaha berskala besar maupun kecil;
7. Dapat berupa perusahaan kecil yang menjual barang pada satu lokasi, atau perusahaan
besar yang mempunyai cabang atau kantor di banyak lokasi;
8. Masing-masing sekutu menjadi agen atau wakil dari persekutuan firma untuk tujuan
usahanya
9. Pembubaran persekutuan firma akan tercipta jika terdapat salah satu sekutu
mengundurkan diri atau meninggal;
10. Tanggung Jawab seorang sekutu tidak terbatas pada jumlah investasinya;
11. Harta benda yang diinvestasikan dalam persekutuan firma tidak lagi dimiliki secara
terpisah oleh masing-masing sekutu; dan
12. Masing-masing sekutu berhak memperolah pembagian laba persekutuan firma.

Sumber Hukum :

1. Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD) atau Wetboek van Koophandel


Indonesia (WvK),
2. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata),
3. Undang-Undang No.20 Tahun 2008 Tentang Usaha Mikro, Kecil Dan Menengah

Contoh Kasus Persekutuan dan Firma


Pada tanggal 1 maret 2005 Ali, Amir dan Ari adalah 3 sekawan yang ingin membentuk firma
baru yang diberi nama 3A. mereka setuju untuk menyetor aktiva dengan nilai wajar sebagai
berikut:
Jenis Aktiva Nilai Wajar
Ali Ari Amir
Kas 35.000.000 10.000.000 -
Tanah (nilai buku (Rp 100.000.000 325.000.000 - -
Gedungkantor (nilai buku Rp 50.000.000 - -
75.000.000)
Truk (nilai buku Rp 40.000.000) - - 25.000.000
Total 410.000.000 10.000.000 25.000.000
Diminta:
1. Buatlah ayat jurnal yang diperlukan untuk mencatat pembentukan firma 3A
2. Buatlah neraca per pembentukan tersebut
Pembahasan Contoh 1
Jurnal untuk mencatat pembentukan firma 3A
Tanggal Keterangan Debit Kredit
1-3-2005 Kas 45.000.000
Tanah 325.000.000
Gedung 50.000.000
Truk 25.000.000
Modal Ali 410.000.000
Modal Amir 10.000.000
Modal Ari 25.000.000

Neraca Saldo Awal Pada Tanggal Pendirian


FIRMA 3A
PER 1 MARET 2005
AKTIVA MODAL
Kas 45.000.000 Modal ali 410.000.000
Tanah 325.000.000 Modal amir 10.000.000
Gedung 50.000.000 Modal ari 25.000.000
Truk 25.000.000
Total aktiva 445.000.000 Total modal 445.000.000
MATERI II
LIKUIDITAS DAN PERSEKUTUAN-SEKALIGUS
Pengertian Likuiditas
Likuiditas menurut Floyd A. Beams (1988) adalah “suatu proses yang meliputi merubah
aktiva non-kas menjadi kas, mengakui laba atau rugi dari proses merubah aktiva non-kas menjadi
kas, melunasi kewajiban firma, dan akhirnya membagi semua kas yang dimiliki firma kepada
masing-masing anggota sekutu sesuai dengan saldo modalnya”
Dengan melihat definisi diatas, maka dapat dikatakan bahwa likuiditas merupakan proses yang
berakhir dengan pembubaran perusahaan sebagai suatu unit organisasi.
Faktor yang menyebabkan suatu persekutuan dibubarkan yang pada intinya dapat
diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Sistem perekonomian masyarakat atau negara yang tidak mendukung lagi adanya kegiatan
usaha.
2. Adanya faktor-faktor ekstern yang berada di luar jangkauan manajemen perusahaan.
3. Adanya faktor-faktor intern di dalam persekutuan.
Proses Likuiditas
1. Proses perhitungan laba-rugi sampai saat likuiditas. Proses ini dijalankan apabila likuiditas
yang dilaksanakan tidak bertepatan dengan awal atau akhir tahun, sehingga perlu diketahui
apakah mulai awal periode sampai pelaksanaan likuiditas perusahaan mendapat laba atau
mengalami kerugian.
2. Proses realisasi, yaitu proses mengubah harta kekayaan non kas milik persekutuan menjadi
uang kas.
3. Proses likuiditas, yaitu proses pembayaran kepada pihak-pihak yang herhak (terlebih dahulu
dibayarkan kepada kreditur extern, kemudian kreditur intern, baru sisanya kepada para
anggota sekutu).
Prosedur Likuiditas
1. Rekening-rekening pembukuan dilakukan penyesuaian dan penutupan kemudian laba-rugi
selama periode tersebut dipindahkan ke rekening modal masing-masing sekutu.
2. Aktiva dicairkan menjadi kas (bisa dijual atau dibeli sendiri oleh anggota sekutu), jika terjadi
selisih antara nilai buku dengan harga jualnya maka laba rugi yang terjadi dibagi kepada
masing-masing sekutu sesuai dengan perjanjian.
3. Jika ditemukan rekening modal salah satu sekutu bersaldo debet maka dapat ditutup dengan
salah saldo piutangnya, tetapi jika saldo piutangnya tidak punya maka sekutu tersebut harus
menyetorkan modalnya kembali. Dan jika ternyata juga tidak punya maka saldo debet tersebut
harus ditanggung anggota sekutu lainnya.
4. Jika uang kas telah tersedia dibagikan, maka lebih dahulu dibayarkan kepada kreditur
luar, setelah itu baru digunakan untuk membayar saldo modal masing-masing anggota
sekutu.
Berdasarkan saat dan cara pembayaran (distribusi) pembagian kas, maka likuiditas dapat
dikelompokkan menjadi 2 (dua) yaitu :
a. Likuiditas berlangsung setelah proses realisasi aktiva non kas selesai (likuiditas secara
langsung).
b. Likuiditas berlangsung setiap saat setelah realisasi aktiva non kas dilakukan (likuiditas
bertahap).
A. Likuiditas berlangsung proses realisasi aktiva non kas selesai (Likuiditas secara
langsung)
Dalam hal ini pembayaran kepada anggota sekutu dilakukan setelah seluruh aktiva non kas
telah selesai direalisasi (dijual) menjadi uang kas, sehingga laba-rugi yang terjadi dari adanya
realisasi tersebut dapat segera diketahui seluruhnya dan langsung dapat dibebankan kepada
modal masing-masing sekutu. Ada dua kemungkinan dalam permasalahan defisit modal anggota
: (1) anggota yang mengalami defisit modal mampu membayar, (2) anggota yang mengalami
defisit modal tidak mampu membayar. Permasalahan yang lebih serius lagi apabila hasil realisasi
aktiva non kas tidak mampu menutupi hutangnya.
1. Menjadi uang kas menjadi Anggota yang mengalami defisit modal mampu membayar
Pada tahap realisasi aktiva non kas menjadi uang kas apabila terjadi kerugian dalam
merealisasinya, maka bisa timbul adalah salah satu atau beberapa anggota sekutu mengalami
defisit modal. Konsekuensinya, maka anggota yang mengalami defisit modal tersebut harus
menutupi defisitnya dengan cara menyetorkan uang tunai atau aktiva lainnya kedalam
persekutuan, sehingga saldo defisitnya habis.
2. Anggota yang mengalami defisit modal tidak mampu membayar
Dalam likuiditas apabila ada salah anggota sekutu mengalami defisit setelah tahap
realisasi, maka anggota tersebut diwajibkan untuk menyetorkan modal untuk menghapus defisit
modal tersebut dengan uang tunai atau aktiva tertentu. Apabila anggota sekutu yang mengalami
defisit modal tersebut tidak mampu menyetorkan modal, maka yang mengangging defisit
tersebut adalah anggota yang lain yang tidak defisit dengan pembebanan sesuai dengan
pembagian laba-rugi.
3. Kas yang tersedia tidak mencukupi untuk melunasi hutang
Apabila hasil realisasi aktiva non-kas sangat kas, maka kerugian yang dialami perusahaan
sangat besar, sehingga tidak mencukupi untuk melunasi hutang kepada pihak exernal. Dalam
keadaan seperti ini jumlah modal sekutu secara keseluruhan akan mengalami defisit. Defisitnya
modal sekutu tersebut ada yang mampu ditutupi dan ada juga sekutu yang mampu untuk
menutupi defisit modalnya. Apabila ada sukutu yang tidak mampu menutupi defisit modalnya
maka anggota sekutu yang mampu wajib menutupi defisit modalnya maka anggota sekutu yang
mampu wajib menutupi defisit modal amggota sekutu yang tidak mampu untuk melunasi hutang
kepada pihak external. Hal ini sesuai dengan salah satu karakteristik persekutuan, yaitu tanggung
jawab yang tidak terbatas.
B. Likuiditas berlangsung setiap saat setelah realisasi aktiva non kas dilakukan (Likuiditas
bertahap)
Realisasi aktiva non kas seringkali memerlukan waktu yang cukup lama 9karena realisasi
yang dilakukan harus menunggu pembelian atau masih mempertahankan harga aktiva non kas
yang diperjual belikan).
Contoh Kasus Likuidasi Persekutuan Sekaligus
Asset nonkas dijual dengan harga $ 80.000 pada tanggal 15 Mei 20X5 dengan kerugian sebesar
$10.000. Kreditor eksternal dibayar sebesar $ 40.000 pada tanggal 20 Mei dan sisa kas sebesar $
50.000 didistribusikan kepada para sekutu pada tanggal 30 Mei 20X5.
Observasi penting lainnya :
Saldo sebelum likuidasi diperoleh dari neraca saldo pada tanggal 1 Mei 20X5.
Kerugian sebesar $ 10.000 didistribusikan langsung terhadap akun modal para sekutu.
Kreditor eksternal dibayarkan sebelum terdapat asset yang didistribusikan kepada sekutu.
Secara teknis utang pinjamankepada sekutu Cha di bayarkan sebelum pembayaran saldo modal
dilakukan kepada sekutu.
Saldo pascalikuidasi sebesar 0, yang menandakan bahwa seluruh akun telah ditutup dan
persekutuan tekah benar-benar dilikuidasi dan dihentikan sepenuhnya.
Laporan realisasi dan likuidasi merupakan dasar untuk ayat jurnal yang mencatat proses likuidasi
sebagai berikut :
15 Mei 20X5
(3) Kas 80.000
Modal, Alt 4.000
Modal,Blue 4.000
Modal,Cha 2.000
Asset nonkas 90.000
Realisasi seluruh asset nonkas persekutuan ABC dan distribusi kerugian sebesar $ 10.000 dengan
menggunakan rasio laba dan rugi.
20 Mei 20X5
(4) Laibilitas 40.000
Kas 40.000
Pembayaran kas kreditor dan eksternal

30 mei 20X5
(5) Utang pinjaman, Cha 4.000
Modal, Alt 30.000
Modal,Blue 6.000
Modal,Cha 10.000
Kas 50.000
Pembayaran sekaligus kepada para sekutu
PERSEKUTUAN ABC
Laporan Realisasi dan Likuidasi Persekutuan
Likuidasi Sekaligus

Saldo Modal

Utang
Asset Blue Cha
Kas Laibilitas Pinjaman Alt (40%)
Nonkas (40%) (20%)
pada Cha
Saldo kas
sebelum 10.000 90.000 (40.000) (4.000) (34.000) (10.000) (12.000)
likuidasi

Penjualan asset
dan distribusi
80.000 (90.000) 4.000 4.000 2.000
kerugian
sebesar $ 10.000

90.000 0 (40.000) (4.000) (30.000) (6.000) (10.000)

Pembayaran
untuk Kreditor (40.000) 40.000
eksternal

50.000 0 0 (4.000) (30.000) (6.000) (10.000)

Pembayaran
sekaligus
kepada sekutu:

Utang pinjaman
(4.000) 4.000
sekutu

Modal sekutu (46.000) 30.000 6.000 10.000

Saldo sesudah
0 0 0 0 0 0 0
likuidasi
MATERI IV
PENJUALAN ANGSURAN DAN PENJUALAN KONSINYASI
Contoh Soal Penjualan Konsinya
Toko MAJU JAYA bertindak selaku komisioner yang menjual barang-barang elektronik milik
PD UTAMA. Transaksi yang terjadi pada Toko MEDIAN JAYA selama bulan Maret 2003
sehubungan dengan barang konsinyasi, sebagai berikut :
3 Maret, PD UTAMA mengirim 26 unit TV Sharp 1404 GE kepada Toko MEDIAN JAYA.
Harga pokok tiap unit Rp. 1.500.000 harga jual tiap unit Rp. 2.300.000. Komisi 20%, Biaya
pengiriman Rp. 520.000.
4 Maret, Penerimaan kiriman barang selaku konsinyasi dari PD UTAMA, berupa 26 unit TV
Sharp 1404 GE. Harga jual tiap unit Rp. 2.300.000, komisi 20% dari harga jual.
12 Maret, Penjualan tunai 8 unit TV Sharp 1404 GE. Harga tiap unit Rp. 2.300.000. Beban
pengiriman Rp. 50.000 dan Biaya pemasangan Rp. 40.000 dibayar tunai.
26 Maret, Penjualan 12 unit TV Sharp 1404 GE kepada Toko SINAR. Harga tiap unit Rp.
2.300.000 pembayaran dalam 30 hari. Beban pengiriman sebesar Rp. 80.000 dibayar tunai.
31 Maret, Pengiriman laporan perhitungan penjualan kepada PD UTAMA
31 Maret, PD UTAMA menerima laporan hasil perhitungan penjualan konsinyasi dari Toko
MEDIAN JAYA
Laba Penjualan Dicatat Terpisah :
(dalam Rupiah)
Toko MAJU JAYA PD UTAMA
(Komisioner) (Pengamanat)
3/3 Tidak dijurnal Barang Konsinyasi Keluar 39.000.000
Pengiriman Barang Konsinyasi 39.000.000
(26 x Rp. 1.500.000)
Barang Konsinyasi Keluar 520.000
Kas 520.000
(Mencatat beban pengiriman)
4/3 Tidak dijurnal, hanya dibuat memo : Tidak dijurnal
“Diterima 26 unit TV Sharp 1404 GE, harga
jual Rp. 2.300.000, komisi 20%”.
12/3a) Kas 18.400.000 Tidak dijurnal
Brg Konsinyasi Masuk 18.400.000
(8 x Rp. 2.300.000)
b) Brg Konsinyasi Masuk 90.000
Kas 90.000
(Mencatat beban-beban)
c) Brg Konsinyasi Masuk 3.680.000
Pendapatan Komisi 3.680.000
(Mencatat pendapatan komisi. 20% x
18.400.000)
2 6/3a) Piutang Dagang 27.600.000 Tidak dijurnal
Brg Konsinyasi Masuk 27.600.000
(12 x 2.300.000)
b) Brg Konsinyasi Masuk 80.000
Kas 80.000
c) Brg Konsinyasi Masuk 5.520.000
Pendapatan Komisi 5.520.000
31/1 Brg Konsinyasi Masuk 36.630.000 Kas 36.630.000
Kas 36.630.000 Brg Konsinyasi Keluar 9.370.000
Penjualan Konsinyasi 46.000.000
31/1 AJP:
HPP Konsinyasi 30.000.000
Beban Penjualan Konsinyasi 9.770.000
Brg Konsinyasi Keluar 39.770.000

Perhitungan AJP:
HPP (20 x Rp. 1.500.000) Rp. 30.000.000
Biaya yang dibebankan
Komisi (20% x Rp. 46.000.000) Rp. 9.200.000
Biaya Pengiriman dan Pemasangan dari Komisioner Rp. 170.000
Biaya Pengiriman dari Pengamanat Rp. 400.000
20 x (520.000:26) Rp. 9.770.000
Jml yang harus dikeluarkan dari akun Brg Konsinyasi Keluar Rp. 39.770.000
Laba Penjualan Dicatat Tidak Terpisah :
(dalam Rupiah)
Toko MAJU JAYA
(Komisioner)
3/3 Tidak dijurnal
4/3 Tidak dijurnal, hanya dibuat memo :
“Diterima 26 unit TV Sharp 1404 GE, harga jual Rp. 2.300.000, komisi 20%”.
12/3 a) Kas 18.400.000
Penjualan 18.400.000
b) Hutang- PD UTAMA 90.000
Kas 90.000
c) Pembelian 14.720.000
Hutang- PD UTAMA 14.720.000
(18.400.000-20%)
26/3 a) Piutang Dagang 27.600.000
Penjualan 27.600.000
b) Hutang- PD UTAMA 80.000
Kas 80.000
c) Pembelian 22.080.000
Hutang- PD UTAMA 22.080.000
31/1 Hutang- PD UTAMA 36.630.000
Kas 36.630.000
(mencatat laporan perhitungan penjualan dan pengiriman cek)
Laba Rugi PD UTAMA :
Penjualan Rp. 46.000.000
HPP
20 x Rp. 1.500.000 Rp.30.000.000
Beban Angkut Rp. 400.000
(20:26 x Rp. 520.000)
HPP (Rp. 30.400.000)
Laba Kotor Rp. 15.600.000
Beban Penjualan :
B. Pengiriman & Pemasangan (Rp. 170.000)
B. Komisi (Rp. 9.200.000)
Laba Bersih Rp. 6.230.000

Contoh Kasus Penjualan Angsuran


Pada tanggal 1 Mei 2015 PT.Apollo menjual aktiva tetap berupa tanah dan bangunan dengan
harga Rp970.000.000 kepada PT. Makmur. Tanah dan Bangunan tersebut memiliki nilai buku
bersih Rp680.000.000. PT. Makmur menyerahkan uang muka pembelian sebesar Rp
250.000.000 dan sisanya akan diangsur setiap semester 4 tahun. PT. Makmur dikenakan bunga
atas hutangnya sebesar 10%/tahun.
Diminta :
1. Buatlah jurnal transaksi penjualan angsuran dengan metode laba diakui pada periode
penjualan
2. Buat tabel pembayaran angsuran
3. Jika setelah angsuran ke-5 PT.Apollo menyatakan tidak sanggup lagi untuk melunasi sisa
angsurannya dan aktiva tersebut ditarik kembali oleh PT.Apollo, pada saat penarikan aktiva
tersebut memiliki nilai pasar Rp 500.000.000. Hitunglah laba rugi kepemilikan kembali aktiva
tersebut dan buat jurnal yang dibutuhkan.
Penyelesaian :
Diketahui
Harga jual/unit Rp 970.000.000
Harga pokok/unit Rp 680.000.000
Laba penjualan Rp 290.000.000
Down Payment (DP) Rp 250.000.000
Sisa Agsuran Rp 720.000.000 (Harga jual 970.000.000 – DP 250.000.000)
Angsuran pokok/6bln Rp 90.000.000 (720.000.000/8 kali angsuran)
Bunga = 10%/tahun, setiap 6 bulan bunga angsurannya = 5%
1. Jurnal pada saat penjualan
Laba diakui dalam periode Penjualan
Kas 250.000.000
Piutang Angsuran 720.000.000
Tanah & Bangunan 680.000.000
Laba Penjualan 290.000.000

2. Tabel perhitungan bunga angsuran


Perhitungan:
Saldo Pokok : Harga jual – Uang muka = 970.000.000 – 250.000.000 = Rp 720.000.000
Angsuran pokok : Piutang agsuran / 8 kali agsuran = 720.000.000 / 8 = Rp 90.000.000
Bunga : Saldo Pokok x 5% = 720.000.000 x 5% = 36.000.000
Total Angsuran : Angsuran pokok + bunga = 90.000.000 + 36.000.000 = Rp 126.000.000
Saldo Pokok akhir : Saldo Pokok – Angsuran Pokok = 720.000.000 – 90.000.000 = Rp
630.000.000
Angsuran Saldo Pokok
Tanggal Saldo Pokok Bunga Total
Pokok Akhir
1/11/2015 720.000.000 90.000.000 36.000.000 126.000.000 630.000.000
1/5/2016 630.000.000 90.000.000 31.500.000 121.500.000 540.000.000
1/11/2016 540.000.000 90.000.000 27.000.000 117.000.000 450.000.000
1/5/2017 450.000.000 90.000.000 22.500.000 112.500.000 360.000.000
1/11/2017 360.000.000 90.000.000 18.000.000 108.000.000 270.000.000
1/5/2018 270.000.000 90.000.000 13.500.000 103.500.000 180.000.000
1/11/2018 180.000.000 90.000.000 9.000.000 99.000.000 90.000.000
1/5/2019 90.000.000 90.000.000 4.500.000 94.000.000 -
3. Jurnal untuk pembayaran angsuran
Tanggal Jurnal Laba diakui dalam periode penjualan
1 Nov
2015 Kas 126.000.000
Piutang
Angsuran 90.000.000
Pendapatan
Bunga 36.000.000
Contoh kasus Pemilikan kembali aset tetap :
Harga Pokok Aset : Rp 680.000.000
Harga jual : Rp 970.000.000
Uang muka : Rp 250.000.000
Angsuran : 8 kali
Setelah angsuran ke 5 ternyata pembeli menyatakan tidak sanggup melunasi sisa angsuran.
Harga pasar aset : Rp 500.000.000
Penyelesaian contoh kasus :
Perhitungan menggunakan metode laba diakui saat penjualan
Harga jual : Rp 970.000.000
Uang muka : Rp 250.000.000
Piutang Angsuran : Rp 720.000.000
Pokok yang sudah dibayar : (Rp 450.000.000) = 720.000.000 : 8 = 90.000.000 x 5 =
450.000.000
Nilai buku : Rp 270.000.000
Harga pasar aset : Rp 500.000.000
Laba pemilikan kembali : Rp 230.000.000
Keterangan Jurnal
Penjualan Kas 250.000.000
Piutang Angsuran 720.000.000
Tanah & Bangunan 680.000.000
Laba penjualan 290.000.000
Pengembalian Tanah & Bangunan 500.000.000
Piutang angsuran 270.000.000
Laba pemilikan kembali 230.000.000
DAFTAR PUSTAKA
Jati, A. Waluyo, 2006, Akuntansi Keuangan Lanjutan, Malang, Universitas Muhammadiyah
Malang