Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH

“IJTIHAD SEBAGAI SUMBER AJARAN ISLAM”

OLEH KELOMPOK: 5 (LIMA)

NAMA ANGGOTA:

1. SITI NURSIA

2. SUSI

3. SUKMAWATI

4. LENA

MADRASAH ALIYAH KHAIRUL HIKMAH

TAHUN PELAJARAN 2019/2020


BAB I
PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG
Mengingat pentingnya dalam syari’at Islam yang disampaikan dalam Al-Qur’an
dan Assunah, secara komprehensif karena memerlukan penelaahan dan pengkajian
ilmiah yang sungguh-sungguh serta berkesinambungan.

Oleh karena itu diperlukan penyelesaian secara sungguh-sungguh atas persoalan-


persoalan yang tidak ditunjukan secara tegas oleh nas itu. Maka untuk itu ijtihad menjadi
sangat penting. Kata ijtihad terdapat dalam sabda Nabi yang artinya “pada waktu sujud”
bersungguh-sungguh dalam berdo’a.

Dan ijtihad tidak membatasi bidang fikih saja dan banyak para pendapat ulama
mempersamakan ijtihad dengan qiyas. Adapun dasar hukum itu sendiri adalah Al-Qur’an
dan Assunah.

Maka dari itu karena banyak persoalan di atas, kita sebagai umat Islam dituntut
untuk keluar dari kemelut itu yaitu dengan cara melaksanakan ijtihad.

2. RUMUSAN MASALAH
1. Apakah pengertian ijtihad?
2. Apa saja fungsi ijtihad?
3. Apakah dasar – dasar ijtihad?
4. Apa saja syarat – syarat mujtahid?
5. Sebut dan jelaskan hukum ijtihad
6. Sebutkan contoh ijtihad yang pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW?
7. Apa saja metode ijtihad?
3. TUJUAN
1. Untuk menjelaskan pengertian ijtihad
2. Untuk mengetahui fungsi ijtihad
3. Untuk menjelaskan dasar – dasar ijtihad
4. Untuk menjelaskan syarat – syarat mujtahid
5. Untuk menjelaskan hukum ijtihad
6. Untuk menjelaskan contoh ijtihad yang pernah di lakukan oleh Nabi Muhammad
SAW
7. Untuk mengetahui metode ijtihad
BAB II
PEMBAHASAN

1. PENGERTIAN IJTIHAD
Ijtihad adalah berpikir keras untuk menghasilkan pendapat hukum atas suatu
masalah yang tidak secara jelas disebutkan dalam Al-Quran dan As-Sunnah.

Menurut bahasa, ijtihad artinya bersungguh-sungguh dalam mencurahkan pikiran.


Sedangkan, menurut istilah, ijtihad adalah mencurahkan segenap tenaga dan pikiran
secara bersungguh-sungguh untuk menetapkan suatu hukum. Oleh Secara terminologis,
berijtihad berarti mencurahkan segenap kemampuan untuk mencari syariat melalui
metode tertentu. Ijtihad dipandang sebagai sumber hukum Islam yang ketiga setelah Al-
Quran dan hadis, serta turut memegang fungsi penting dalam penetapan hukum Islam.
Telah banyak contoh hukum yang dirumuskan dari hasil ijtihad ini. Orang yang
melakukan ijtihad disebut mujtahid. ijtihad tidak bisa dilakukan oleh setiap orang, tetapi
hanya orang yang memenuhi syarat yang boleh berijtihad.1

2. FUNGSI IJTIHAD

1. Terciptanya suatu keputusan bersama antara para ulama dan ahli agama (yang
berwenang) untuk mencegah kemudharatan dalam penyelesaian suatu perkara yang
tidak ditentukan secara eksplisit oleh Al Qur’andanHadist.
2. . Tersepakatinya suatu keputusan dari hasil ijtihad yang tidak bertentangan dengan All
Qur’an dan Hadist..

1
Atang Abd. Hakim, dan Jaih Mubarok, 2000, Metodologi Studi Islam
3. Dapat ditetapkannya hukum terhadap sesuatu persoalan Ijtihadiyah atas pertimbangan
kegunaan dan kemanfaatan yang sesuai dengan tujuan syari’at berdasarkan prinsip-
prinsip umum ajaran Islam.2
3. DASAR DASAR IJTIHAD
Adapun yang menjadi dasar ijtihad ialah Al-Qur’an dan Al-Sunnah. Diantara ayat
Al-qur’an yang menjadi dasar ijtihad adalah sebagai berikut:

Sesungguhnya kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya
kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan
janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-
orang yang berkhianat.(Q.S. an-Nisa [4]:105).
Adapun sunnah yang menjadi dasar ijtihad diantaranya hadits ‘Amr bin al-‘Ash yang
diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim, dan Ahmad yang menyebutkan bahwa Nabi
Muhammad bersabda :

ِ ‫اب فَلَهُ أَجْ َر‬


َ‫ان َو ِإذَا َحك ََم َفاجْ ت َ َحد‬ َ ‫ص‬َ َ ‫ ِإذَا َحك ََم ال َحا ِك ُم فَاجْ ت َ َهدَ ث ُ َّم أ‬: ‫س ّل َم َيقُ ْو ُل‬ َ ُ‫صلَّى هللا‬
َ ‫علَ ْي ِه َو‬ َ ‫س ْو ُل هللا‬ َ ُ‫ع ْنهُ أَنَه‬
ُ ‫سمِ َع َر‬ َ ُ‫ي هللا‬
َ ‫ض‬ ِ ‫اص َر‬ ِ ‫ع ْم ِرو ب ِْن ْال َع‬ َ ‫ع ْن‬ َ ‫َو‬
‫علَ ْي ِه‬َ ‫ ُمتَّف ٌَق‬. ‫طأ َ َفلَهُ أَجْ ٌر‬
َ ‫ث ُ َّم أ َ ْخ‬.
Artinya: Dan dari Amr bin Ash bahwa ia pernah mendengar Rasulullah shallahu alaihi wa sallam bersabda:
“apabila seorang hakim bersungguh-sungguh dalam memutuskan suatu perkara dan keputusan itu sesuai
dengan kebenaran berarti telah mendapatkan dua pahala dan jika keliru maka dia mendapatkan satu pahala.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim).3

1. SYARAT SYARAT MUJTAHID


Syarat-syarat yang harus dimiliki seorang mujtahid ialah orang yang mampu
melakukan ijtihad melalui cara istimbath (mengeluarkan hukum dari sumber hukum
syari’at dan tathbiqh / penerapan hukum) :

1. Memiliki pengetahuan yang luas dan mendalam,


2. HUKUM IJTIHAD
1. Memiliki pemahaman mendalam tentang bahas Arab, ilmu tafsir, usul fiqh, dan tarikh
(sejarah),
2. Mengenal cara meng-istinbat-kan (perumusan) hukum dan melakukan qiyas,
3. Memiliki akhlaqul qarimah.

2
Abdulloah, Amin 1997, Falsafat Kalam di Era Post Modernisme,
3
Endang Saifuddin Anshari, Kuliah Al-Islam
Ulama berpendapat bahwa jika seorang muslim dihadapkan pada suatu peristiwa, atau
ditanya tentang suatu masalah yang berkaitan dengan hukum syara’ , maka hukum ijtihad
bagi orang tersebut bisa wajib ‘ain, wajib kifayah,sunah, atau haram, tergantung pula
kapasitas orang tersebut.
Pertama, bagi seorang muslim yang memenuhi kriteria mujtahid yang diminta fatwa
hukum atas suatu peristiwa yang terjadi dan ia khawatir peristiwa itu akan hilang begitu saja
tanpa kepastian hukumnya, atau ia sendiri yang mengalami peristiwa yang tidak jelas
hukumnya dalam nash, maka hukum ijtihadnya menjadi wajib ‘ain.
Kedua, bagi seorang muslim yang memenuhi kriteria mujtihad yang diminta fatwa
hukum atas suatu peristiwa yang terjadi, tetapi ia mengkhawatirkan peristiwa itu hilang dan
selain dia masih ada mujtahid lainnya, maka hukum ijtihadnya menjadi wajib kifayah.
Ketiga, hukum ijtihad menjadi sunah jika dilakukan atas persoalan-persoalan yang tidak
ada atau belum terjadi.

Keempat, hukum ijtihad menjadi haram dilakukan atas peristiwa-peristiwa yang sudah
jelas hukumnya secara qathi’ , baik dalam Al-Quran maupun al-Sunah atau ijtihad yang
hukumnya telah ditetapkan secara kesepakatan ijma’. (Wahbah Al Juhaili 1978:498-9 dan
Muhaimin dkk, 1994:189)4

1. CONTOH IJTIHAD YANG PERNAH DILAKUKAN OLEH UMAR BIN


KHATTAB
Suatu peristiwa di zaman Khalifah Umar ibn Khattab, di mana para pedagang
Muslim bertanya kepada Khalifah berapa besar cukai yang harus dikenakan kepada para
pedagang asing yang berdagang di negara Khalifah. Jawaban dari pertanyaan ini belum
dimuat secara terperinci dalam Al-Quran maupun hadis, maka Khalifa Umar ibn Khattab
selanjutnya berijtihad dengan menetapkan bahwa cukai yang dibayarkan oleh pedagang
adalah disamakan dengan taraf yang biasanya dikenakan kepada para pedagang Muslim
oleh negara asing, di mana mereka berdagang.5
1. METODE IJTIHAD
Berdasarkan berbagai sumber, ada beberapa macam ijtihad yang patut diketahui.
Beberapa macam ijtihad yang dimaksud antara lain :

4
Drs. Nasruddin Razak, Dienul Islam
5
Zainab Al-Ghazali, Menuju Kebangkitan Baru
 Ijma
Ijma adalah salah satu jenis ijtihad yang dilakukan para ulama dengan cara berunding,
berdiskusi, lalu akhirnya muncul suatu kesepakatan untuk menyelesaikan suatu
permasalahan.
Keputusan bersama ini tentu saja tidak begitu saja dilakukan, semua harus bersumber
pada Al-Quran dan juga hadits. Hasil dari ijtihad ini sering kita sebut sebagai fatwa, dan
fatwa inilah yang sebaiknya diikuti oleh umat Islam. Kesepatan dari para ulama ini tentu saja
merupakan hasil akhir dari berbagai diskusi yang telah dilakukan, sehingga semestinya tidak
mengandung pertentangan lagi.

 Qiyas
Salah satu macam ijtihad adalah Qiyas, yaitu upaya mencari solusi permasalahan dengan
cara mencari persamaan antara masalah yang sedang dihadapi dengan yang ada di dalam
sumber agama (Al-Quran dan hadits).
Bila masalah yang sedang dihadapi dianggap mirip dengan yang ada di dalam kitab suci
maupun hadits, maka para ulama akan menggunakan hukum yang ada di dalam sumber
agama tersebut untuk menyelesaikan masalah. Namun tidak mudah pula mencari kemiripan
satu masalah yang terjadi jaman sekarang dengan yang terjadi pada masa lalu. Di sinilah
sebenarnya kenapa seorang mujtahid atau yang melakukan ijtihad diperlukan memiliki
keluasan pengetahuan tentang agama dan masalah-masalah lain yang terkait dengannya.

 Istihsan
Istihsan adalah salah satu macam ijtihad yang dilakukan oleh pemuka agama untuk
mencegah terjadinya kemudharatan. Ijitihad ini dilakukan dengan mengeluarkan suatu
argumen beserta fakta yang mendukung tentang suatu permasalahan dan kemudian ia
menetapkan hukum dari permasalahan tersebut. Dalam penetapan hukum ini bisa jadi
pada akhirnya akan memunculkan pertentangan dari yang tidak sepaham.
 Istishab
Upaya untuk menyelesaikan suatu masalah yang dilakukan para pemuka agama dengan
cara menetapkan hukum dari masalah tersebut. Namun, bila suatu hari nanti ada alasan
yang sangat kuat untuk mengubah ketetapan tersebut, maka hukum yang semula
ditetapkan bisa diganti, asalkan semuanya masih dalam koridor agama Islam yang benar.
 Maslahah murshalah
Salah satu dari macam ijtihad yang juga dilakukan untuk kepentingan umat
adalah maslahah murshalah. Jenis ijtihad ini dilakukan dengan cara memutuskan
permasalahan melalui berbagai pertimbangan yang menyangkut kepentingan umat. Hal
yang paling penting adalah menghindari hal negatif dan berbuat baik penuh manfaat.
 Urf
Ijtihad ini dilakukan untuk mencari solusi atas permasalahan yang berhubungan dengan
adat istiadat. Dalam kehidupan masyarakat, adat istiadat memang tak bisa dilepaskan dan
sudah melekat dengan masyarakat kita.
Ijtihad inilah yang menetapkan apakah adat tersebut boleh dilakukan atau tidak.
Apabila masih dalam koridor agama Islam, maka boleh dilaksanakan. Namun bila tidak
sesuai dengan ajaran Islam, maka harus ditinggalkan.6

6
H. Djarnawi Hadikukusam, “Ijtihad”
BAB III
PENUTUP

1. Kesimpulan
Problema hukum yang dihadapi umat Islam semakin beragam, seiring dengan
berkembang dan meluasnya agama Islam, dan berbagai macam bangsa yang masuk
Islam dengan membawa berbagai macam adat istiadat, tradisi dan sistem
kemasyarakatan.

Sementara itu, nash Al-Qur’an dan Sunnah telah berhenti, padahal waktu
terus berjalan dengan sejumlah peristiwa dan persoalan yang datang silih berganti (al-
wahy qad intaha wal al-waqa’i la yantahi). Oleh karena itu, diperlukan usaha
penyelesaian secara sungguh-sungguh atas persoalan-persoalan yang tidak ditunjukkan
secara tegas oleh nash itu.
Dengan demikian ijtihad menjadi sangat penting sebagai sumber ajaran Islam
setelah Al-Qur’an dan al-Sunnah dalam memecahkan berbagai problematika masa kini.
DAFTAR PUSTAKA

Abdulloah, Amin.1997, Falsafat Kalam di Era Post Modernisme, Yogyakarta : Pustaka


Pelajar.
Saifuddin Anshari, Endang.1978.Kuliah Al-Islam. Bandung;Pustaka Bandung.
Razak, Nasrudin. 1989.Dienul Islam, Maarif Bandung.
Al-Ghazali, Zainab. 1995.Menuju Kebangkitan Baru, Gema Insani Press Jakarta.
Hadikukusam,Djarnaw. 1985.ijtihad,dalam Amrullah Achmad dkk. (Editor), Persepektif
Ketegangan Kreatif dalam Islam, PLP2M Yogyakarta.
Atang Abd. Hakim, dan Jaih Mubarok, 2000, Metodologi Studi Islam, Bandung : PT Remaja
Pesdakarya,