Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tuberkulosis merupakan salah satu dari 3 fokus utama

pemerintah dibidang kesehatan selain penurunan stunting dan

peningkatan cakupan dan mutu imunisasi.Visi yang dibangun terkait

dengan penyakit ini adalah dunia bebas dari tuberkulosis, nol

kematian, penyakit dan penderitaan yang disebabkan oleh tuberkulosis

(Kemenkes RI, 2018)

WHO telah merekomendasikan strategi DOTS (Directly Observed

Treatment Shortcourse) sebagai strategi dalam penurunan angka

kejadian TB yang diterapkan program nasional pengendalian TB

secara bertahap di puskesmas sejak tahun 1995. Sejak tahun 1969

pengendalian dilakukan secara nasional melalui Puskesmas. Obat anti

tuberkulosis (OAT) yang digunakan adalah paduan standar INH, PAS

dan Streptomisin selama satu sampai dua tahun. Asam Para Amino

Salisilat (PAS) kemudian diganti dengan Pirazinamid. Sejak 1977 mulai

digunakan paduan OAT jangka pendek yang terdiri dari INH,

Rifampisin, Pirazinamid dan Ethambutol selama 6 bulan (Kemenkes

RI, 2011).

Saat ini pengobatan tuberkulosis diberikan dalam bentuk paket

berupa Obat Anti Tuberkulosis Kombinasi Dosis Tetap (OAT-KDT)

secara umum yaitu Rifampisin, Isoniazid, Ethambutol, dan Piranizamid.

1
2

Keuntungan pemberian OAT-KDT memudahkan pemberian obat dan

menjamin kelangsungan pengobatan sampai selesai.

Pengobatan tuberkulosis ini tak lepas dari adanya efek samping

yang ditimbulkan. Isoniazid memiliki efek samping hepatitis, neuritis

perifer, hipersensitivitas. Rifampisin menimbulkan berbagai efek

samping antara lain gastrointestinal, reaksi kulit, hepatitis,

trombositopenia, peningkatan enzim hati, warna kemerahan pada air

seni. Pirazinamid memiliki efek samping antara lain toksisitas hati,

artralgia, gastrointestinal. Ethambutol memiliki efek samping neuritis

optik, ketajaman mata berkurang, buta warna merah hijau,

penyempitan lapang pandang, hipersensitivitas, gastrointestinal.

Sedangkan obat streptomisin memiliki efek ototoksik, Nefrotoksik tidak

hanya dijumpai pada Sreptomisin. Ethambutol juga memliki efek

nefrotoksik. Nefrotoksik memilik isifat toksik terhadap sel-sel pada

ginjal (Aminah, 2013).

Ginjal memiliki peran penting dalam mempertahankan stabilitas

volume, komposisi elektrolit, osmolaritas cairan ekstraselular. Salah

satu fungsi ginjal lain adalah untuk mengekskresikan produk-produk

akhir atau sisa metabolism tubuh, misalnya urea, kratinin dan asam

urat apabila sisa metabolisme tubuh dibiarkan menumpuk, zat tersebut

bias menjadi racun bagi tubuh, terutama ginjal. (Analis, Poltekkes,

Analis, & Denpasar, 2016)


3

Kreatinin merupakan senyawa anhidridrid siklik yang merupakan

produk akhir dari penguraian fosfokreatin. Senyawa ini disekresikan

melalui urin. Yang mana pengukuran laju ekskresinya dipakai sebagai

indicator terhadap fungsi ginjal. Fungsi dari ginjal dapat diketahui

dengan mengukur kadar Kreatinin yang ada dalam darah. Semakin

tinggi kadar Kreatinin yang ada di dalam darah menunjukkan semakin

menurun fungsi dari ginjal. Salah satu fungsi dari ginjal adalah sebagai

organ ekskresi yang mengekskresikan produk akhir Nitrogen dari

metabolisme protein, produk tersebut terutama Ureum (urea), asam

urat dan Kreatinin. Pasien yang memiliki penyakit ginjal laju filtrasi

glomerulusnya sangat menurun (Matra Pratiwi, 2012)

Memperhatikan hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat efek

samping dari Obat Anti Tuberkulosis Kombinasi Dosis Tetap (OAT-

KDT) terhadap fungsi ginjal yang dapat diamati berdasarkan kadar

ureum dan kreatinin dalam darah. Tujuan penelitian ini yaitu untuk

Mendeskripsikan Hasil Pemeriksaan Ureum Dan Kreatinin Terhadap

Penderita Tuberkulosis Paru Setelah 4 BulanPengobatan.

B. RumusanMasalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah pada

penelitian ini adalah:

1. Apakah ada pengaruh hasil pemeriksaan kadar ureum pada

penderita tuberkulosis paru setelah 4 bulan pengobatan?


4

2. Apakah ada pengaruh hasil pemeriksaan kadar kreatinin pada

penderita tuberkulosis paru setelah 4 bulan pengobatan?

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan umum

Untuk mengetahui bagaimana gambaran hasil pemeriksaan kadar

ureum dan kreatinin dalam darah pada penderita tuberkulosis paru

setelah 4 bulan pengobatan.

2. Tujuan khusus

a. Menggambarkan hasil pemeriksaan kadar ureum pada

penderita tuberkulosis paru setelah 4 bulan pengobatan.

b. Menggambarkan hasil pemeriksaan kadar kreatinin pada

penderita tuberkulosis paru setelah 4 bulan pengobatan.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

a. Bagi Profesi Kesehatan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan dalam

meningkatkan mutu pelayanan kesehatan terhadap penderita

tuberkulosis, sehingga pengobatan terhadap penderita

tuberkulosis dapat menjadi lebih efektif.

b. Bagi Institusi Pendidikan

Sebagai masukan bagi institusi pendidikan Analis Kesehatan

yang lebih baik dalam upaya mengembangkan kurikulum

khususnya pada penyusunan laporan tugas akhir akademik.


5

2. Manfaat praktis

a. Bagi peneliti

Merupakan pengalaman berharga dan sumber pembelajaran

dalam menambah pengetahuan dan wawasan berfikir ilmiah

tentang tuberkulosis paru dan menjadi masukan bagi mereka

yang tertarik untuk meneliti tentang tuberkulosis paru.

b. Bagi masyarakat

Diharapkan dapat member informasi yang berarti bagi

masyarakat, khususnya penderita tuberkulosis paru untuk

menambah pengetahuan dan membawa perubahan sikap yang

lebih memperhatikan kesehatan.