Anda di halaman 1dari 2

Nama : Angga Okta Priandi

Nim : 1601511028

Selayang Pandang Sastra dan Politik dalam Kacamata Generasi Ketiga

Sastra tidak pernah terlepas dari politik atau tidak pernah terlepas dari kepentingan-
kepentingan politis pihak-pihak tertentu dalam masyarakat yang bersangkutan (Ariel dalam
Satoto, 2000:237). Dalam karya sastra politik adalah seumpama letusan pistol di tengah
pergelaran konser; ia terdengar keras dan kampungan, tetapi mau tak mau kita pasti
memperhatikannya (Stendal dalam Howe, 1967:17-26 dalam Damono 2014:53)

Sejatinya sastra adalah murni. Ia alat untuk mengajar (Teeuw 2015 : 20). Setiap orang yang
melahirkan sastra, ia telah memberikan sebuah pengajaran, yang diperoleh dari pemikiran, ide dan
kontemplasi diri terhadap keadaan sekitarnya. Hal itu menjadi tidak murni apabila adanya
kepentingan. Setiap hal yang berbau kepentingan adalah politis.

Sastra tak bisa lepas dari politik. Sebab karya sastra sejajar dengan pemikiran, sejarah dan
filsafat. Politik adalah bagaian dari pemikiran. Politik berkembang di masyarakat sedangkan sastra
adalah representasi dari masyarakatnya. Sastra dan politik menjadi perbincangan hangat dari masa-
ke masa. Mulai dari masa kolonial dengan adanya ‘bacaan liar’, kemudian ‘ditertibkan’ oleh Balai
Pustaka, lalu di zaman Jepang terdapat Keimin Bunka Shidoso (Komisi Kebudayaan) yang bekerja
untuk menulis menyeleksi, menetapkan dan menyebarkan bahan bacaan terhadap rakyat (Sunanda
2000:129). Kedua badan tersebut sama-sama ‘mengontrol’ bacaan rakyat terhadap karya sastra,
dengan tujuan untuk menjaga stabilitas kekuasaan. Hingga Pada tahun 60-an ketika pergolakan
politik memanas muncul Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) dan Manifes Kebudayaan1.
Lekra yang berafiliasi ke partai komunis (PKI) bersemboyan “Politik sebagai Panglima”
sedangkan menikebu (sebutan anggota lekra untuk mengolok-olok manifes kebudayaan)
bersemboyan “Humanisme Universal”. Perdebatan kedua kubu tersebut menimbulkan
pembredelan atau pencekalan terhadap karya sastra satu dengan yang lain, karena dianggap tidak
se-ideologi dengan garis partai atau pemikirannya. Pembredelan terhadap karya sastra masih tetap

1
8 Mei 1964 Manifesto Kebudayaan dilarang oleh presiden Sukarno, ibid
ada, meskipun perdebatan kedua kubu di atas mulai lenyap. Misalnya karya Pramoedya Anantra
Toer, terutama Tetralogi Buru-nya, dan/atau pementasan Kiyai Kanjeng karya Emha Ainun Najib.

Perbincangan sastra dan politik tidak hanya terjadi di Indonesia, di Rusia misalnya novel
karya Boris Pasternasebuah, pemenang hadiah nobel kesusastraan tahun 1958 dalam kurun waktu
30 tahun dilarang terbit di Rusia, hal itu dikarenakan perilaku atau pemikiran apa pun termasuk
sastra harus sejalan dengan garis partai komunis dan tidak boleh ada yang berbeda dengan
pemerintahan Josep Stallin kala itu ( Manuaba 2000:143).

Soediro Satoto dalam tulisannya yang bertajuk “Arogansi Kekuasaam dan Politik
Dampaknya Terhadap Sastra dan Seni Pertunjukan” mamaparkan dalam konteks sastra dan politik
ada dua pandangan yang dominan, pandangan pertama menyatakan bahwa sastra dan politik tidak
dapat dipisah (pandangan Ariel Heryanto dan Y.B. Mangunwijaya, pandangan kedua mengatakan
bahwa sastrawan harus memisahkan fungsi, tugas, dan kewajiban sebagai pengarang dengan
pekerja sosial atau politik2

Dari pandangan-pandangan pendahulu kita di atas, kita sebagai generasi ketiga yang tidak
terlibat secara langsung di dalamnya dapat melihat poin penting bahwa sastra dan politik adalah
dua hal besar yang patut kita perbincangan dalam forum akademis, terlepas dari adanya praksis
antar keduanya di dalam masyarakat. Sebagai kaum intelektual kita setuju tentunya, bahwa sastra
dan politik tidak dapat dipisahkan sebab, sastra menggambarkan keadaan sosial masyarakatnya,
sedangkan politik adalah bagian dari itu, akan tetapi ketika politik hadir secara otonum dan
mendikte nilai-nilai sastra didalamnya maka itu dapat kita perdebatkan. Oleh karenanya politik di
dalam karya sastra memiliki kedudukan yang sejajar dengan peristiwa-peristiwa yang lain seperti
cinta, sosial, adat, jadi tidak perlu terlalu kita khawatirkan kehadirannya. Walaupun politik masuk
didalam karya sastra, ia harus melebur dalam konsep-konsep sastra, kuat akan penggambaran
imaji, sehingga sastra tetap mejadi sesuatu yang murni.

2
Lihat Sastra : Ideologi, Politik, dan Kekuasaan hal. 239