Anda di halaman 1dari 28

MAKALAH KEBUTUHAN NUTRISI PADA BAYI DAN BALITA

Disusun Oleh :

Kelompok 2 :

1. Fransiska Lilis Karlina


2. Gustri Afriany
3. Hariyati
4. Inneke Talya
5. Joyana
6. Kiki Purnama Sanjani
7. Maria Anzelina
8. Martha Yulia
9. Mellinia Sitompul
10. Nadia Gustina Dewi
11. Naomi Hosianna Silalahi

Dosen Pembimbing : dr.R.R.Siti HatatiSurjantini,M.Kes

Kelas : D-III/II-B

POLTEKKES KEMENKES RI MEDAN

JURUSAN KEBIDANAN MEDAN

T.A. 2019/2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Karena atas rahmat dan
hidayat-Nya kami bisa menyelesaikan makalah yang diberi judul “TUGAS MAKALAH
KEBUTUHAN NUTRISI PADA BAYI DAN BALITA”makalah ini kami buat
berdasarkan tugas yang diberikan.

Kami menyadari bahwa pembuatan makalah ini terdapat banyak sekali kekurangan, oleh
sebab itu kami mengharapkan kritik dan saran serta masukkan dari pembaca sekalian yang
bersifat membangun.

Kami juga berharap semoga makalah ini dapat membarikan manfaat bagi kami pada
khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.

Medan, 18 Agustus 2019

Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ......................................................................................................... i

KATA PENGANTAR ....................................................................................................... ii

DAFTAR ISI ...................................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................................

1.1 Latar Belakang ............................................................................................................. 4

1.2 Rumusan Masalah ........................................................................................................ 4

1.3 Tujuan ........................................................................................................................... 5

BAB II PEMBAHASAN ....................................................................................................

2.1 Pengertian Bayi dan Balita............................................................................................ 6

2.2 Gizi Pada Bayi dan Balita............................................................................................. 6

2.3 Prinsip Gizi Seimbang Pada Bayi................................................................................. 8

2.4 Panduan Lengkap Memenuhi Kebutuhan Gizi Bayi dan


Balita……………………………………………………….. ………………………….. 9

2.5 Dampak Kelebihan dan Kekurangan Gizi Pada Bayi dan


Balita………………………………………....................................................................... 20

2.6 Contoh Kasus Tentang Gizi Pada Bayi dan Balita………………………………… 21

BAB III PENUTUP ............................................................................................................

3.1 Kesimpulan ................................................................................................................... 27

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................................... 28


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Konsumsi gizi yang baik dan cukup seringkali tidak bisa dipenuhi oleh seorang anak karena
faktor eksternal maupun intaernal. Faktor eksternal menyangkut keterbatasan ekonomi keluarga
sehingga uang yang tersedia tidak cukup untuk membeli makanan. Sedangkan faktor internal
adalah faktor yang terdapat di dalam diri anak yang secara psikologis muncul sebagai problema
makan pada anak.

Anak balita memang sudah bisa makan apa saja seperti halnya orang dewasa. Tetapi mereka
pun bisa menolak makanan yang disajikan tidak memenuhi selera mereka. Oleh karena itu
sebagai orang tua kita juga harus berlaku demokratis untuk sekali-kali menghidangkan makanan
yang memang menjadi kegemaran si anak.

Intake gizi yang baik berperan penting didalam mencapai pertumbuhan badan yang optimal.
Dan pertumbuhan badan yang optimal ini mencakup pula pertumbuhan otak yang sangat
menentukan kecerdasan seseorang.

Faktor yang paling terlihat pada lingkungan masyarakat adalah kurangnya pengetahuan ibu
mengenai gizi-gizi yang harus dipenuhi anak pada masa pertumbuhan. Ibu biasanya memberikan
makan yang enak kepada anaknya tanpa tahu apakah makanan tersebut mengandung gizi-gizi
yang cukup atau tidak, dan tidak mengimbanginya dengan makanan sehat yang mengandung
banyak gizi.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan bayi dan balita ?
2. Jelaskan gizi pada bayi dan balita !
3. Jelaskan prinsip gizi seimbang pada bayi !
4. Jelaskan tentang panduan lengkap memenuhi kebutuhan gizi bayi dan balita !
5. Jelaskan dampak kelebihan dan kekurangan gizi pada bayi dan balita !
6. Buatlah contoh kasus tentang gizi pada bayi dan balita !

1.3 Tujuan

Sejalan dengan rumusan di atas, makalah ini disusun untuk mengetahui dan
mendeskripsikan:
1. Pengertian bayi dan balita
2. Gizi pada bayi dan balita
3. Prinsip gizi seimbang pada bayi
4. Panduan lengkap memenuhi kebutuhan gizi bayi dan balita
5. Dampak kelebihan dan kekurangan gizi pada bayi dan balita
6. Contoh kasus tentang gizi pada bayi dan balita

7. Fokus dalam sebuah kepemimpinan


BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Bayi dan Balita

Bayi adalah sebutan untuk anak usia 0 – 1 tahun ( Soetjiningsih tahun 2004) dan makhluk
hidup yang baru saja dilahirkan dari Rahim ibu (Muchtar tahun 2002). Pada masa ini sangat
lucu-lucu nya anak baik fisik maupun dalam tingkah lakunya, karena pada masa ini adalah
masa yang polos dan unik bagi anak.

Batita adalah suatu istilah untuk anak berusia di bawah tiga tahu yang mana perkembangan
nya sudah mulai terlihat.pada masa ini anak sudah mulai bisa belajar merangkak hingga
berjalan tetapi harus mendapatkan perhatian yang lebih dari kedua orang tua .

Balita adalah suatu istilah untuk anak berusia di bawah lima tahun, yang mana pada masa
ini anak sudah bisa berjalan, masa yang sangat baik dalam pengembangan tumbuh kembang
anak.

2.2 Gizi Pada Bayi dan Balita

1. Bayi

Gizi merupakan asupan yang teramat penting bagi tumbuh kembang anak. Kecukupan gizi
untuk anak akan mendorong perkembangan anak secara optimal. Sebaliknya kekurangan gizi
atau malnutrisi akan menimbulkan berbagai risiko kesehatan anak, diantaranya adalah hambatan
pertumbuhan tulang, lemah otot, degeneratif otak serta gangguan mental. Orang tua harus
memahami standar kebutuhan gizi anak yang harus terpenuhi.

Di usia 0 hingga 6 bulan, sumber gizi bayi adalah air susu ibu (ASI). ASI mengandung gizi
yang sangat lengkap sehingga sudah mencukupi standar kebutuhan gizi bayi. Sementara bagi
bayi di usia lebih dari 6 bulan memerlukan asupan makanan pendamping ASI sebagai tambahan
sumber gizi bayi.

Berikut ini daftar standar kebutuhan gizi bayi untuk memenuhi angka kecukupan kalori
tersebut :

1. Karbohidrat yang diperlukan tubuh bayi berkisar antara 40% dari kebutuhan kalori bayi.

2. Protein yang diperlukan sebesar 10% dari jumlah kebutuhan kalori bayi per hari.

3. Lemak yang diperlukan sebanyak 40 sampai 50% dari total kebutuhan kalori.

Selain itu, kebutuhan gizi bayi akan vitamin dan mineral juga harus dipenuhi. Berikut ini
sebagian daftar standar kebutuhan gizi bayi per hari untuk usia 7 sampai 12 bulan
terhadap vitamin dan mineral yang direkomendasikan oleh The George Mateljan Foundation for
The World’s Healthiest Foods.

 Vitamin D: 5 mg

 Vitamin E: 5 mg

 Vitamin K: 2,5 mg

 Vitamin B6: 0,3 mg

 Folat: 80 mg

 Vitamin B12: 0,5 mg

 Kolin: 150 mg

 Vitamin C:50 mg

 Kalsium 570 mg
 Fosfor: 275 mg

 Magnesium: 75 mg

 Zat besi: 11 mg

 Zinc: 3 mg

 Magnesium: 0,6 mg

2. Balita

Kebutuhan gizi seseorang adalah jumlah yang diperkirakan cukup untuk memelihara
kesehatan pada umumnya. Secara garis besar, kebutuhan gizi ditentukan oleh usia, jenis kelamin,
aktivitas, berat badan, dan tinggi badan. Antara asupan zat gizi dan pengeluarannya harus ada
keseimbangan sehingga diperoleh status gizi yang baik. Status gizi balita dapat dipantau dengan
menimbang anak setiap bulan dan dicocokkan dengan Kartu Menuju Sehat (KMS).

a. Kebutuhan Energi

Kebutuhan energi bayi dan balita relatif besar dibandingkan dengan orang dewasa, sebab pada
usia tersebut pertumbuhannya masih sangat pesat. Kecukupannya akan semakin menurun seiring
dengan bertambahnya usia.

b. Kebutuhan zat pembangun

Secara fisiologis, balita sedang dalam masa pertumbuhan sehingga kebutuhannya relatif lebih
besar daripada orang dewasa. Namun, jika dibandingkan dengan bayi yang usianya kurang dari
satu tahun, kebutuhannya relatif lebih kecil.

c. Kebutuhan zat pengatur

Kebutuhan air bayi dan balita dalam sehari berfluktuasi seiring dengan bertambahnya usia.

2.3 Prinsip Gizi Seimbang Pada Bayi

Makanan terbaik bagi bayi adalah ASI. Namun, dengan bertambahnya umur bayi dan tumbuh
kembangnya, bayi memerlukan energi dan zat-zat gizi yang melebihi jumlah ASI. Bayi harus
mendapat makanan tambahan atau pendamping ASI. Jumlah ASI yang dihasilkan ibu tergantung
dari status gizi ibu. Jumlah ASI tersebut tergantung berbagai faktor seperti jumlah makanan yang
dimakan oleh ibu hamil atau menyusui, faktor stress mental, faktor bawaan ibu hamil/menyusui
itu sendiri dan sebagainya. Dianjurkan untuk memberi makanan untuk bayi sejumlah 100-110
Kkal energi tiap kg berat badan bayi per harinya. Susu untuk bayi pada umumnya mengandung
kurang lebih 67 Kkal tiap 100 cc. Maka bayi dapat diberikan 150-160 cc susu tiap kg berat
badan. Tetapi tidak semua bayi memerlukan jumlah energi tersebut.

2.4 Panduan Lengkap Memenuhi Kebutuhan Gizi Bayi dan Balita (Usia 0-3 tahun)

1. Kebutuhan gizi bayi usia 0-6 bulan

Sebelum menginjak usia balita, air susu ibu (ASI) adalah makanan utama untuk memenuhi
gizi bayi di 6 bulan pertamanya, atau disebut sebagai ASI eksklusif. Namun hebatnya, kebutuhan
gizi harian bayi dapat terpenuhi dengan baik meski hanya dari ASI saja.

Jadi sebisa mungkin, pastikan bayi mendapatkan ASI eksklusifnya selama 6 bulan penuh
tanpa pemberian makanan dan minuman lainnya. Ada 2 jenis tekstur ASI yang mesti diketahui
ibu, Hindmilk adalah ASI dengan tekstur kental yang biasanya keluar saat akhir menyusu.
Foremilk adalah ASI yang keluar di awal menyusu.

Angka kecukupan gizi (AKG) harian bayi usia 0-6 bulan :

Kebutuhan zat gizi makro harian anak:

 Energi: 550 kkal

 Protein: 12 gram (gr)

 Lemak 34 gr

 Karbohidrat 58 gr

Kebutuhan zat gizi mikro harian anak:

Vitamin

 Vitamin A: 375 mikrogram (mcg)

 Vitamin D: 5 mcg
 Vitamin E: 4 miligram (mg)

 Vitamin K: 5 mcg

Mineral

 Kalsium: 200 mg

 Fosfor: 100 mg

 Magnesium: 30 mg

 Natrium: 120 mg

 Kalium: 500 mg

Panduan makanan untuk bayi usia 0-6 bulan :

Sebelum masuk ke usia balita, makanan sekaligus minuman yang baik diberikan untuk
memenuhi gizi anak usia 0-6 bulan adalah ASI. Ada berbagai manfaat lain yang bisa diperoleh
melalui pemberian ASI. Pertama, ASI biasanya lebih mudah diserap dan dicerna oleh tubuh bayi
ketimbang makanan dan minuman lainnya.

Kedua, ASI bisa membantu mencegah risiko serangan berbagai penyakit, sekaligus
menurunkan tingkat kematian karena penyakit tersebut. Misalnya penyakit infeksi seperti diare
dan radang paru. Bahkan, pemberian ASI yang optimal dapat mempercepat proses pemulihan
ketika bayi terserang penyakit. Menariknya lagi, ASI dapat mempererat hubungan emosional
antara ibu dan anak melalui interaksi psikologisnya. Terlebih lagi, kolostrum atau cairan ASI
berwarna bening kekuningan yang baru keluar pertama kali ternyata kaya akan segudang nutrisi.

Mulai dari vitamin A, antibodi, hingga sel darah putih. Selanjutnya, ASI akan bertansisi
menjadi cairan ASI sesungguhnya dengan warna putih susu. Berikut komposisi zat gizi yang
terkandung di dalam ASI:

 Karbohidrat. Laktosa adalah jenis karbohidrat pada ASI yang dapat menyumbang
sekitar 42 persen total energi.
 Protein. ASI memiliki dua jenis protein, yakni whey sebanyak 60 persen dan kasein
sebanyak 40 persen.

 Lemak. ASI mengandung asam lemak esensial yaitu asam linoleat dan asam alfa-
linolenat. Keduanya merupakan zat pembangun senyawa AA (arachidonic acid) dan
DHA (docosahexaenoic acid). Asupan lemak akan menyumbang sekitar 40-50 persen
energi harian.

 Vitamin. Vitamin yang ada di dalam ASI mampu memenuhi semua kebutuhan harian
bayi. Termasuk vitamin larut lemak seperti A, D, E, dan K, serta larut air seperti B dan C.

 Mineral. Berbagai mineral yang terkandung di dalam ASI di antaranya zat besi, seng,
kalsium, tembaga, mangan, fluor, kromium, selenium, dan lainnya.

Makanan terbaik bagi bayi adalah air susu ibu (ASI) sampai berumur 2 tahun, dimana
sampai 6 bulan pertama hanya ASI tanpa disertai makanan atau minuman lain (ASI ekslusif).
Mulai umur 6 sampai 24 bulan pemberian ASI harus disertai makanan lain (MPASI) karena
kualitas dan kuantitas ASI tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan bayi yang terus tumbuh.
Jumlah kebutuhan ASI bagi bayi tidak dibatasi, kapan bayi mau menyusu harus diberikan.

Menginjak usia 6 bulan, sudah saatnya memberikan asupan nutrisi lewat makanan padat. ASI
memang masih diperlukan bayi, namun perkembangan bayi tentu membutuhkan asupan gizi
lainnya dari makanan pendamping ASI. Nutrisi berikut ini akan membantu tumbuh kembang
bayi mulai dari fisik hingga perkembangan otaknya.

1.Zat besi

Jenis mineral ini memainkan peran penting dalam produksi hemoglobin.Zat besi memiliki
fungsi untuk memperlancar sel darah merah yang membawa oksigen ke seluruh tubuh.Zat
besi juga membantu perkembangan keterampilan motorik dan memori otak.Pastikan si kecil
mendapatkan 11 miligram zat besi yang bisa didapat dari daging sapi, ayam, ikan, telur,
alpukat, brokoli serta bayam.

2. Zinc
Hampir sama seperti zat besi, nutrisi ini menjaga otak bayi untuk terus berkembang dan
bergerak. Zinc juga berfungsi untuk produksi sel darah putih yang dapat melawan infeksi
serta memastikan sel-sel tubuh bertumbuh dengan baik. Jenis nutrisi ini, biasanya ada di
dalam daging sapi dan daging ayam.Biasanya makanan yang mengandung zat besi juga
mengandung zinc.

3.Kalsium dan Vitamin D

Kalsium sangat baik untuk mengembangkan tulang kuat dan vitamin D sangat baik untuk
membantu penyerapan kalsium. ASI dan susu formula memang telah memberikan kalsium
yang dibutuhkan bayi. Namun, Anda tetap perlu memberikan asupan kedua nutrisi ini yang
bisa di dapatkan dari telur dan ikan.

4. Omega-3

Omega-3 memang dikenal untuk kesehatan jantung. Bagi bayi, nutrisi ini punya fungsi lain
yakni membantu perkembangan otak dan mata. Berbagai penelitian juga mengungkapkan,
omega-3 akan membantu perkembangan kemampuan kognitif bayi. Lemak sehat ini pun,
membantu tubuh menyerap vitamin A dan E. Omega-3 bisa didapatkan dari alpukat, salmon,
tuna, minyak zaitun, dan lainnya.

5.Vitamin A, B, C dan E

Keempat jenis vitamin ini dapat membantu perkembangan saraf, organ mata, kulit hingga
meningkatkan fungsi kekebalan tubuh.Jenis vitamin ini menjadi paket lengkap sebagai nutrisi
yang dibutuhkan bayi.Anda tak perlu ragu lagi untuk memasukkan berbagai jenis sayuran
yang terbukti memiliki kandungan vitamin yang tinggi.Vitamin A berada di dalam wortel
serta ubi.Sementara sayuran hijau dan pisang memiliki kandungan vitamin B yang
tinggi.Vitamin C ada di dalam tomat, jeruk, stroberi hingga melon.Biji-bijian juga
dibutuhkan karena mengandung vitamin E.

Cara memberikan ASI untuk bayi

Normalnya, bayi memperoleh ASI dengan cara menyusu langsung pada payudara ibu.
Namun sayangnya, tidak semua bayi dan ibu dapat melakukan hal tersebut setiap waktu. Pada
beberapa kasus, cara pemberian ASI bisa tidak melalui payudara langsung, sehingga ASI harus
diperah dan disimpan dengan tepat.

Cara tersebut biasanya dilakukan oleh ibu menyusui yang bekerja, atau ibu menyusui yang
persediaan ASI-nya sudah harus dikeluarkan, tapi bayi belum ingin menyusu. Alhasil, ibu
menyusui tersebut akan memompa ASI-nya untuk diberikan kepada bayinya saat sudah lapar.
Penting untuk diperhatikan, ASI yang sudah diperah tidak boleh disimpan sembarangan.

Cara menyimpan ASI perah

1. ASI yang sudah diperah dimasukkan ke dalam wadah steril (botol atau kantung
khusus ASI), kemudian diberi label bertuliskan tanggal dan waktu ASI diperah.

2. ASI perah disimpan ke dalam freezer atau lemari pendingin, tapi bukan diletakkan di
bagian pintu lemari pendingin.

3. Aturan suhu penyimpanan ASI sebagai berikut:

 ASI perah segar bisa bertahan di dalam freezer bersuhu -17 derajat Celcius, atau
lebih rendah selama 6 bulan atau lebih.

 ASI perah segar bisa bertahan di dalam freezer dan kulkas bersuhu rata-rata -10
derajat Celcius dengan waktu yang berbeda. Jika terdiri atas 2 pintu, ASI segar
akan awet selama 3-4 bulan. Namun untuk satu pintu, ASI segar hanya awet
selama 2 minggu.

 ASI perah segar bisa bertahan di dalam kulkas atau lemari pendingin bersuhu
rata-rata 5-10 derajat Celcius, selama 5-8 hari.

 ASI perah segar bisa bertahan di dalam suhu kamar (tanpa freezer atau kulkas)
bersuhu 27-28 derajat Celcius, selama 10 jam.

 ASI beku yang keluar dari freezer tidak boleh dibekukan kembali. Sementara jika
ASI beku dikeluarkan dari kulkas bisa dibekukan kembali selama 24 jam, dan di
suhu kamar selama 1 jam.

4. Periksa suhu freezer dan kulkas sebanyak 3 kali sehari.


5. Pastikan ASI yang telah disimpan tetap dalam kondisi dingin selama diperjalanan, bila
diperah dalam jarak yang jauh. Misalnya dari rumah ke kantor atau sebaliknya.

Cara mencairkan dan menghangatkan ASI perah

1. Pilih ASI perah dari yang disimpan paling awal terlebih dahulu.

2. Hindari mencairkan ASI perah pada suhu kamar. Sebagai gantinya, pindahkan ASI perah
beku di dalam kulkas (24 jam), letakkan di semangkuk air hangat, atau membasahi wadah
ASI perah dengan air dingin mengalir yang dilanjutkan dengan air hangat.

3. Hindari mencairkan ASI perah beku pada microwave atau di dalam air yang sangat
panas. Pasalnya, suhu terlalu panas justru dapat merusak kandungan gizi di dalamnya.

4. Kocok ASI yang sudah hangat dan mencair agar lemak handmilk dan foremilk menyatu
dengan baik.

5. Hindari membekukan kembali ASI perah yang sudah mencair.

2. Kebutuhan gizi bayi usia 7-11 bulan

Memasuki usia 6 bulan ke atas atau sampai awal usia balita, ASI bisa tetap diberikan untuk
memenuhi kebutuhan gizi hariannya. Akan tetapi, pemberian ASI sebaiknya disertai juga dengan
makanan padat. Pasalnya, di usia 6 bulan sampai awal usia balita, ASI tidak dapat sepenuhnya
lagi memenuhi kebutuhan gizi harian anak.

Oleh karena itu, diperlukan bantuan dari makanan dan minuman lainnya untuk mencukupi
kebutuhan karbohidrat, lemak, protein, serat, mineral, dan vitamin anak.

Angka kecukupan gizi (AKG) harian bayi usia 7-11 bulan

Kebutuhan zat gizi makro harian anak:

 Energi: 725 kkal

 Protein: 18 gr

 Lemak 36 gr
 Karbohidrat 82 gr

 Serat: 10 gr

 Air: 800 mililiter (ml)

Kebutuhan zat gizi mikro harian anak:

Vitamin

 Vitamin A: 400 mikrogram (mcg)

 Vitamin D: 5 mcg

 Vitamin E: 5 miligram (mg)

 Vitamin K: 10 mcg

Mineral

 Kalsium: 250 mg

 Fosfor: 250 mg

 Magnesium: 55 mg

 Natrium: 200 mg

 Kalium: 700 mg

 Besi: 7 mg

Panduan makan harian usia 7-11 bulan

Di usianya yang semakin bertambah, kebutuhan anak akan berbagai zat gizi tentu semakin
meningkat. Ini karena ASI hanya dapat memenuhi sekitar 65-80 persen dari total kebutuhan
energi, dan sangat sedikit kandungan mikronutriennya. Itu sebabnya, pemberian ASI saja tidak
mampu memenuhi semua nutrisi harian anak.Untuk melengkapinya, anak harus mulai
diperkenalkan dengan makanan pendamping ASI (MP-ASI) sejak usianya 6 bulan. Proses
pengenalan dan pemberiannya pun harus dilakukan secara bertahap.
Mula-mula berikan makanan dalam bentuk lumat atau lembek terlebih dahulu, contohnya
dalam bentuk bubur. Di sini, anak akan belajar mengenali rasa dan tekstur makanan yang baru
dicobanya. Selanjutnya setelah mulai terbiasa, Anda bisa mencoba memberikan makanan dalam
bentuk agak padat seperti nasi tim. Namun, pastikan teksturnya tetap lunak sehingga
memudahkan anak saat menggigit dan mengunyahnya.

Untuk waktu pemberian MP-ASI, bisa disesuaikan dengan jadwal makan harian sebanyak 3
kali sehari.Bahkan bisa lebih tergantung seberapa banyak porsi pemberiannya. Selain itu yang
tak kalah penting, Anda harus memerhatikan komposisi MP-ASI.Pastikan jika MP-ASI terdiri
dari berbagai jenis makanan sehat sehingga dapat memenuhi kebutuhan gizi harian
bayi.Tujuannya agar anak tidak kekurangan nutrisi tertentu, serta tumbuh kembangnya lebih
optimal.

Syarat MP-ASI yang baik

Menurut WHO, beberapa syarat MP-ASI yang baik meliputi:

 Diberikan pada waktu yang tepat, yakni ketika pemberian ASI saja sudah tidak mampu
untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bayi.

 Aman, yakni MP-ASI harus disimpan dan diberikan kepada anak dengan tangan atau
perlengkapan makan yang bersih.

 Kaya akan gizi, yakni MP-ASI mampu mencukupi kebutuhan zat gizi makro dan
mikronutrien bayi dan balita.

 Teksturnya disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak.

Teori 4 kuadran

Salah satu syarat MP-ASI yang baik yakni kaya akan gizi. Maka itu, sebaiknya pastikan MP-
ASI yang Anda berikan pada si kecil mengandung 4 hal berikut:

 Karbohidrat, contohnya nasi, kentang, mie, roti, dan bihun.

 Protein, terutama sumber hewani. Contohnya daging, ayam, ikan, dan telur.
 Buah atau sayur

 Lemak, yang berasal dari minyak, santan, margarin, dan lain sebagainya.

Di usia 7-11 bulan ini, pemberian lemak penting guna menyumbang asam lemak esensial
serta mendukung penyerapan vitamin larut lemak. Di sisi lain, lemak juga bertugas untuk
meningkatkan kandungan energi pada makanan sekaligus menguatkan fungsi sensorik anak.
Anda bisa memberikan si kecil asupan lemak dengan menggunakan minyak sayur pada
makanannya.Misalnya, membuat menu MP-ASI yang ditumis menggunakan minyak.

Tak terkecuali pemberian zat besi, yang sama pentingnya bagi tumbuh kembang anak.
Pasalnya, zat besi mampu mendukung proses pembentukan otak, meliputi struktur serta
fungsinya. Jika asupan gizi zat besi pada bayi dan balita tidak mencukupi, dapat menimbulkan
terjadinya gangguan pada struktur dan fungsi otak.

Yang mungkin menjadi pertanyaan selanjutnya adalah, sebaiknya memberikan menu tunggal
atau campuran pada MP-ASI anak pertama?Sebagai gambaran, menu MP-ASI tunggal adalah
menu yang hanya terdiri dari satu jenis makanan saja.

Contohnya hanya bubur saja, yang diberikan selama beberapa waktu berturut-
turut.Sebaliknya, menu campuran menggabungkan berbagai sumber bahan makanan dalam MP-
ASI anak.Dalam hal ini, ada baiknya untuk memberikan aneka variasi sumber makanan sebagai
menu MP-ASI si kecil. Ini karena satu jenis makanan saja biasanya tidak akan cukup untuk
memenuhi kebutuhan gizi harian bayi dan balita. Dengan memakan aneka jenis makanan, maka
kebutuhan gizi anak lebih mudah dan cepat terpenuhi.

Seperti anjuran dari Kementerian Kesehatan RI melalui Pedoman Gizi Seimbang, MP-ASI
anak sebaiknya memenuhi kebutuhan karbohidrat, protein, lemak, serta vitamin dan mineral.

3. Kebutuhan gizi balita usia 1-3 tahun

Jika memungkinkan, ASI sebaiknya diberikan sampai anak berusia 2 tahun atau sebelum
balita untuk membantu mencukupi gizi hariannya.Pasalnya, ASI mengandung zat gizi penting
yang masih dibutuhkan untuk tumbuh kembang anak, walaupun harus tetap didampingi dengan
asupan makanan lainnya.
Angka kecukupan gizi (AKG) harian balita usia 1-3 tahun

Kebutuhan zat gizi makro harian anak:

 Energi: 1125 kkal

 Protein: 26 gr

 Lemak 44 gr

 Karbohidrat 155 gr

 Serat: 16 gr

 Air: 1200 mililiter (ml)

Kebutuhan zat gizi mikro harian anak:

Vitamin

 Vitamin A: 400 mikrogram (mcg)

 Vitamin D: 15 mcg

 Vitamin E: 6 miligram (mg)

 Vitamin K: 15 mcg

Mineral

 Kalsium: 650 mg

 Fosfor: 500 mg

 Magnesium: 60 mg

 Natrium: 1000 mg

 Kalium: 3000 mg

 Besi: 8 mg
Panduan makan harian usia 1-3 tahun

Setelah usia anak menginjak 1 tahun dan mulai terbiasa dengan makanan padat, Anda mulai
bisa memberikan makanan lainnya. Idealnya, makanan dengan bentuk dan tekstur yang biasanya
menjadi menu makan anggota keluarga. Bukan hanya itu, Anda juga harus pintar-pintar dalam
memvariasikan makanan si kecil.Tentu saja memberikan variasi makanan ini bisa Anda lakukan
dengan bertahap.

Mulailah untuk lebih sering memberikan anak balita anak sayur, buah-buahan, lauk pauk dari
sumber protein hewani dan nabati, hingga makanan pokok sumber kalori. Dengan begitu,
kebutuhan gizi harian anak balita akan lebih tercukupi dengan optimal berkat beragam sumber
makanan yang dimakannya. Demikian juga porsi makanan yang sebaiknya ditingkatkan secara
bertahap, tapi tetap seimbang dan tidak berlebihan. Sebab kebutuhan zat gizi harian anak
menginjak usia balita ini sudah mulai meningkat. Hal ini dikarenakan masa pertumbuhan anak di
usia ini terbilang cepat dan disertai dengan si kecil yang semakin aktif.

Perilaku makan anak usia 1-3 tahun

Di masa ini, anak biasanya sudah bisa memilih makanannya sendiri. Bahkan ia telah punya
menu makanan favoritnya. Sayangnya, hal ini membuat anak terkadang suka memilih-milih
makanan alias picky eater. Dalam beberapa kasus mungkin si kecil akan menolak makanan yang
ia tak sukai. Nah, supaya lebih mudah dalam memenuhi kebutuhan kebutuhan gizi anak balita,
Anda mesti memahami perilaku makan yang mungkin ia lakukan di usia tersebut.

Usia 1-1,5 tahun

Anak akan terbiasa menggenggam dan melepaskan makanan dengan jari. Cara memegang
sendoknya juga belum benar, bahkan bisa memasukkan sendok ke mulut dengan posisi terbalik.
Anak juga biasanya belum terlalu mahir menggunakan gelas atau cangkir, sehingga kerap masih
berceceran. Umumnya, anak akan meminta makanan yang sama seperti dimakan orang tuanya.
Usia 1,5-2 tahun

Anak biasanya lebih senang makan dengan tangan, serta suka bereksperimen dengan berbagai
tekstur makanan. Di usia ini anak mulai mengerti mana makanan yang disukainya dan yang
tidak, sehingga cenderung lebih pemilih.

Usia 2-3 tahun

Karasteristik makan anak sudah lebih baik di usia ini. Anak cukup mahir memegang gelas,
mampu mengunyah makanan dalam jumlah banyak, serta memasukkan sendok ke mulut di
posisi yang tepat. Meski begitu, sesekali mungkin masih banyak makanan yang tumpah dan
mengalami tersedak. Anak juga sudah mulai bisa memilih makanan yang ingin ia makan, serta
lebih tertarik makan sendiri ketimbang disuapi.

Tindakan yang harus dilakukan untuk mengatasi kebiasaan makan anak

Kalau anak sudah mulai bertingkah saat makan, berikut tindakan yang bisa Anda lakukan:

 Berikan makanan dalam porsi sedikit dulu.

 Perkenalkan makanan baru satu per satu.

 Sajikan beberapa jenis makanan baru agar anak bisa memilih.

 Mulai dengan makanan padat kemudian cair.

 Angkat makanan bila anak mulai memainkan atau membuang makanannya.

 Bersihkan mulut anak setelah selesai makanan.

 Ajak anak makan bersama anggota keluarga lainnya.

2.5 Dampak Kelebihan dan Kekurangan Gizi Pada Bayi dan Balita

1. Bayi

* Berat bayi lahir rendah (BBLR)


* Gangguan pertumbuhan

* Kurang Energi Kronis (KEK)

* Gangguan pertahanan tubuh

2. Balita

* Marasmus : kasus marasmus, anak terlihat kurus kering sehingga wajahnya seperti
orang tua. Bentuk ini dikarenakan kekurangan energi yang dominan.

* Kwashiorkor : Anak terlihat gemuk semu akibat edema, yaitu penumpukan cairan di
sela- sela sel dalam jaringan.

* Marasmik-kwashiorkor : Bentuk ini merupakan kombinasi antara marasmus dan


kwashiorkor. Kejadian ini dikarenakan kebutuhan energi dan protein yang meningkat tidak dapat
terpenuhi dari asupannya.

* Obesitas : faktor utama adalah asupan energi yang tidak sesuai dengan penggunaan.
Obesitas sering ditemui pada anak-anak sebagai berikut:

1) Anak yang setiap menangis sejak bayi diberi susu botol.

2) Bayi yang terlalu dini diperkenalkan dengan makanan padat.

3) Anak dari ibu yang terlalu takut anaknya kekurangan gizi.

4) Anak yang selalu mendapat hadiah cookie atau gula-gula jika ia berbuat sesuai keinginan
orangtua.

2.6 Contoh Kasus

1. Gizi Buruk / Kwashiokor

Kasus gizi buruk di Provinsi Jambi cenderung meningkat selama dua tahun terakhir.Kasus
gizi buruk di daerah itu tahun lalu mencapai 92 kasus, enam kasus di antaranya
meninggal.Sedangkan kasus gizi buruk di Jambi tahun 2017 sekitar 85 kasus dan empat kasus
meninggal. Total kasus gizi buruk di daerah itu dua tahun terakhir mencapai 177 kasus dan 10
kasus meninggal. Menurut Samsiran Halim, peningkatan kasus gizi buruk di Provinsi Jambi
tersebut banyak dipengaruhi kurangnya asupan makanan bergizi dan pemberian air susu ibu
(ASI) terhadap anak-anak balita. Selain itu kasus gizi buruk di Jambi juga disebabkan kondisi
anak yang mengalami sakit.Gizi buruk tersebut banyak dialami balita berusia 0 – 5 tahun.

Pengertian Gizi Buruk

Gizi buruk atau yang dikenal sebagai kwashiorkor dalam dunia medis, merupakan salah satu
bentuk malnutrisi.Malnutrisi itu sendiri dapat dipahami sebagai kesalahan dalam pemberian
nutrisi.Kesalahan bisa berupa kekurangan maupun kelebihan nutrisi. Pada dasarnya kwashiorkor
bisa diartikan sebagai kondisi dimana seseorang kekurangan asupan yang mengandung energi
dan protein.

Kwashiorkor kebanyakan menyerang anak-anak di negara-negara berkembang –termasuk


Indonesia.Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sebanyak 54% kematian bayi dan
balita disebabkan kondisi gizi buruk.Bahkan risiko kematian anak dengan gizi buruk 13 kali
lebih besar dibandingkan dengan anak normal.

Komplikasi Gizi Buruk

Komplikasi akibat gizi buruk atau kwashiorkor sangat memengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan anak.Bila komplikasi terjadi, anak dapat mengalami tahap-tahap perkembangan
menjadi lebih lambat dibanding anak normal seusianya.Selain itu anak juga dapat mengalami
kesulitan belajar, mudah terserang penyakit berat, gangguan berbagai macam organ, hingga
dapat terjadi kematian.

Diagnosis Gizi Buruk

Diagnosis gizi buruk atau kwashiorkor dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan
terhadap riwayat kesehatan anak.Kekurangan asupan makanan bergizi bisa dilihat dari kebiasaan
makan anak. Kadang, pada anak dengan gizi buruk atau kwashiorkor juga turut terdiagnosis
penyakit lainnya.Penyakit yang paling sering terdeteksi adalah penyakit infeksi akibat kekebalan
tubuh yang rendah. Pemeriksaan penunjang bisa saja dilakukan.Misalnya pemeriksaan
laboratorium hingga radiologi yang sesuai untuk mendiagnosis penyakit infeksi penyerta
tersebut.
Gejala Gizi Buruk

Gejala gizi buruk atau kwashiorkor yang akan tampak adalah:

 Pucat, kurus, perut cembung, dan kehilangan massa otot pada keempat anggota geraknya
 Anak terlihat sering gelisah
 Terjadi gangguan pertumbuhan meliputi berat badan dan tinggi badan
 Rambutnya menjadi mudah tercabut, tampak kusam, kering, dan sering terjadi perubahan
warna
 Dapat pula terjadi perubahan pada kulit, kulit menjadi bersisik, terdapat bercak-bercak
putih dan merah muda dengan tepi kehitaman
 Anak juga akan menderita anemia akibat kekurangan nutrien seperti zat besi dan vitamin
B kompleks.

Pengobatan Gizi Buruk

Untuk mengatasi gizi buruk atau kwashiorkor dibutuhkan asupan nutrisi berupa kalori dan
protein yang mencukupi.Namun, pemberian nutrisi tersebut harus dilakukan secara bertahap.

Pada tahap awal harus diberikan asupan kalori untuk memenuhi kebutuhan energinya tanpa
melibatkan asupan protein terlebih dahulu.Jika kebutuhan kalori sudah tercukupi, barulah asupan
protein bisa mulai diberikan. Pemberian protein dapat dilakukan dari kadar yang rendah yang
secara bertahap terus ditambah. Hal ini dilakukan supaya saluran cerna penderita tidak kaget bila
langsung diberi asupan tinggi kalori tinggi protein.

Penanganan dirumah bisa dilakukan dengan mencukupkan kebutuhan gizi seimbang bagi
anak.Makanan yang dikonsumsi harus lengkap mengandung karbohidrat, lemak, protein, vitamin
dan mineral. Namun ingatlah untuk memberikannya secara perlahan dan terkontrol.Untuk tahap
awal, pastikan Anda melibatkan bantuan dokter dalam mengontrol kondisi anak dengan gizi
buruk atau kwashiorkor yang Anda rawat.

Untuk mencegah terjadinya gizi buruk atau kwashiorkor pada anak Anda, berikanlah
makanan dengan gizi yang seimbang.Cukupi kebutuhan karbohidrat, lemak dan proteinnya.
Sumber protein yang bernilai tinggi bisa didapatkan dari produk hewani seperti susu, keju,
daging, telur, dan ikan. Anda juga bisa juga memanfaatkan protein nabati yang didapat dari
kacang hijau dan kacang kedelai

Penyebab Gizi Buruk

Penyebab gizi buruk atau kwashiorkor adalah karena anak tidak memeroleh makanan dengan
kandungan energi dan protein yang cukup.Umumnya hal ini sering dikaitkan dengan tingkat
perekonomian yang rendah. Pada dasarnya gizi buruk atau kwashiorkor bukanlah gangguan yang
terjadi secara mendadak.Kondisi ini berlangsung secara perlahan. Karena itu penting untuk
mencegah agar anak tidak mengalami kondisi ini dengan cara memberikan asupan makanan
cukup gizi.

2. Obesitas

Faktor yang paling berperan sebagai penyebab obesitas pada anak adalah pola makan,
aktivitas fisik dan pola istirahat yang diterapkan pada si Kecil.

Banyak anak mengalami obesitas karena pola makan dengan porsi yang berlebihan dan
pilihan makanan yang terlalu banyak karbohidrat serta lemak, seperti:

- Permen dan coklat.

- Minuman yang mengandung banyak gula.

- Makanan cepat saji (junk food).

- Kue-kue yang mengandung banyak gula dan coklat.

- Keju dan kacang-kacangan, dll.

Porsi makan yang pas untuk batita adalah:

- Besarnya adalah ¼ dari porsi makan orang dewasa.

- Minum jus yang terbuat dari 100% buah asli tidak lebih dari 180 ml per hari.

-Jika ia masih lapar, berikan tambahan berupa sayuran dan buah-buahan yang kaya serat.

- Biasakan membeli makanan selingan dalam ukuran sekali makan.


- Susun jadwal makan yang teratur (3x makan besar, 2x makan selingan)

- Selain mengatur pola makan, kebiasaan makan bersama sekeluarga juga membantu ibu
mengawasi asupan nutrisi yang dikonsumsi si Kecil.

- Biasakan juga si Kecil untuk selalu aktif.

- Biasakan memiliki jadwal istirahat yang cukup

Pentingnya Aktivitas Fisik Balita

- Anak usia 1-5 tahun : dianjurkan untuk melakukan aktivitas fisik selama total 3 jam sepanjang
hari, setiap harinya. Lakukan aktivitas ini secara bertahap sepanjang hari, jangan langsung
selama 3 jam.

- Anak usia 1-3 tahun : dianjurkan untuk aktif bergerak lewat permainan-permainan yang aktif,
yang didalamnya termasuk gerakan berlari, melompat, dan memanjat.

- Anak usia 3-5 tahun : di usia ini, anak sudah bisa melakukan banyak aktivitas. Selain aktivitas-
aktivitas seperti anak usia 1-3 tahun di atas, Ibu sudah mulai bisa mengajarinya beraktivitas fisik
yang melatih kestabilan dan kemampuan mengontrol gerakan seperti naik sepeda.

Perkembangannya lebih lambat

Bayi obesitas juga diketahui mengalami perkembangan yang lebih lambat dibandingkan bayi
yang memiliki berat badan ideal.Perkembangan yang dimaksud adalah seperti menegakkan
kepala, duduk, merangkak, berdiri, berjalan, dan sebagainya.Ini dapat mengakibatkan
aktivitasnya berkurang sehingga sulit untuk menurunkan berat badan.

Studi menemukan bahwa anak berusia 2 tahun yang obesitas, waktu usianya 6 bulan juga
mengalami obesitas. Bayi obesitas sudah dapat diketahui dari usia bayi 6 bulan. Cara yang
digunakan adalah dengan grafik berat untuk panjang badan (weight for length) dari Badan
Kesehatan Dunia (WHO).
Faktor-faktor yang berperan pada obesitas bayi

Studi juga menunjukkan bahwa bayi obesitas lebih banyak terjadi pada ibu yang sebelum
hamil juga obesitas atau ibu mengalami kenaikan berat badan secara drastis ketika hamil.Temuan
ini membuktikan bahwa memang obesitas dipengaruhi oleh faktor genetik (keluarga).Namun,
bukan berarti jika orang tua obesitas, anaknya juga sudah pasti obesitas.

Faktanya, obesitas juga dipengaruhi oleh lingkungan atau pola makan. Studi menunjukkan
bahwa bayi dengan susu formula yang diberi makanan padat sebelum usianya 4 bulan, memiliki
risiko obesitas lebih tinggi. Bayi yang diberi susu formula biasanya makan lebih banyak.

Penelitian membuktikan bahwa memberikan ASI eksklusif secara langsung dan tidak
dikombinasikan dengan bantuan botol dapat mencegah bayi obesitas.Memberikan buah secara
utuh dibandingkan jus buah instan juga membantu menjaga berat badan ideal bayi dengan
memberikan cukup serat jika bayi sudah menginjak masa MPASI.

Ancaman penyakit yang mengintai bayi obesitas

Bayi obesitas juga berhubungan dengan penyakit serius seperti diabetes, penyakit jantung,
dan tekanan darah tinggi atau hipertensi. Obesitas pada anak balita (bawah lima tahun)
mengakibatkan kelainan metabolisme pada insulin serta enzim hati dan kolesterol. Sehingga,
pada usia dewasa, bayi obesitas akan mengalami penyakit metabolik.

Selain itu, bayi obesitas juga memiliki risiko untuk mengalami pubertas awal dan gangguan
tidur.Obesitas yang terjadi seumur hidup juga dapat menyebabkan gangguan sendi, kanker, dan
stroke.

Sangat penting untuk memantau berat badan bayi dan anak oleh tenaga ahli. Bayi gemuk
memang terlihat lucu, tapi jangan “terjebak” dan membiarkannya berlanjut hingga ia tumbuh
besar. Jika obesitas berlanjut, maka risiko penyakit yang lebih kompleks di kemudian hari pun
meningkat.Dalam kondisi tersebut, segera konsultasikan dengan dokter anak, agar si Kecil
mendapatkan penanganan yang tepat.
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Makanan terbaik bagi bayi adalah ASI. Namun, dengan bertambahnya umur bayi dan tumbuh
kembang, bayi memerlukan energi dan zat-zat gizi yang melebihi jumlah ASI. Untuk itu bayi
yang berumur 6 bulan di anjurkan untuk mengkonsumsi bubur tim dengan cara pengolahan dan
ragam sayuran/buah yang telah disebutkan di atas.

Pada usia balita juga membutuhkan gizi seimbang yaitu makanan yang mengandung zat-zat
gizi yang dibutuhkan oleh tubuh sesuai umur. Makanan seimbang pada usia ini perlu diterapkan
karena akan mempengaruhi kualitas pada usia dewasa sampai lanjut.

Gizi makanan sangat mempengaruhi pertumbuhan termasuk pertumbuhan sel otak sehingga
dapat tumbuh optimal dan cerdas, untuk ini makanan perlu diperhatikan keseimbangan gizinya
sejak janin melalui makanan ibu hamil. Pertum-buhan sel otak akan berhenti pada usia 3-4 tahun.
DAFTAR PUSTAKA

Santosa, Sugeng. 2004. Kesehatan dan Gizi. Jakarta: PT.Rieneka Cipta.

Nasution, A.H., dkk. 1988. Gizi untuk Kebutuhan Fisiologis Khusus. Terjemahan. PT Gramedia.
Jakarta.

https://hellosehat.com/parenting/nutrisi-anak/kebutuhan-gizi-balita-bayi/

http://yupianfurba.blogspot.com/2016/01/makalah-gizi-pada-bayi-dan-balita.html