Anda di halaman 1dari 5

d.

Media Pengajar
Media mengajar merupakan segala macam bentuk perangsang dan alat yang
disediakan guru untuk mendorong siswa untuk belajar. perumusan di atas
menggambarkan tentang pengertian media yang cukup luas,mengcangkup
berbagai bentuk perangsang belajar yang sering di sebut sebagai audio visual
aid,serta berbagai bentuk alat penyaji perangsang belajar berupa alat-alat
elektronik seperti mesin pengajaran,film,audio cassette,video cassette,televisi dan
komputer
Pengelompokkan media mengajar menurut Rowntree (1974: 104-113) adalah:
1. Interaksi Insani.
Media ini merupakan komunikasi langsung antara dua orang atau lebih. Interaksi
insani juga dapat berlangsung melalui komunikasi verbal atau nonverbal.
Komunikasi verbal memegang peranan penting terutama dalam perkembangan
segi kognitif siswa. Untuk pengembangan segi afektif seringkali komunikasi
nonverbal seperti : sikap, penampilan, roman muka, gerak-gerik dan sebagainya
yang memegang peranan penting.
2. Realita.
Realita merupakan bentuk perangsang nyata seperti orang-orang, binatang, benda-
benda, peristiwa, dan sebagainya yang diamati siswa. Dalam interaksi insani siswa
berkomunikasi dengan orang-orang, sedangkan dalam realita orang-orang tersebut
hanya menjadi objek pengamatan, dan objek studi siswa.
3. Pictorial.
Media ini menunjukkan penyajian berbagai bentuk variasi gambar dan diagram
nyata ataupun symbol, bergerak atau tidak, dibuat di atas kertas, film, kaset dan
media lainnya. Media pictorial memiliki keuntungan karena semua bentuk ukuran,
kecepatan, benda, mahluk dan peristiwa dapat disajikan di media ini. Juga
penyajiannya dapat bervariasi dari bentuk yang paling sederhana sampai sketsa
dan bagan.
4. Simbol Tertulis.
Media penyajian informasi yang paling umum, tetapi tetap efektif. Ada beberapa
macam bentuk media simbol seperti buku teks, buku paket, modul dan majalah.
Media ini biasanya dilengkapi dengan media pictorial, seperti gambar-
gambar,bagan,grafik dan sebagainya.
5. Rekaman Suara.
Berbagai bentuk informasi dapat disajikan kepada anak dalam bentuk rekaman
suara, sehingga mempermudah guru dalam menyampaikan materi belajar.
Edgar Dale dalam buku Nana Syaodih (1988 : 119) mengemukakan ada 12 media
mengajar atau audio visual aid, yang disebutnya Cone Of Experience atau Kerucut
Pengalaman, yaitu :
1) Verbal symbol
pengalaman yang diperoleh melalui penuturan dengan kata-kata
2) Visual symbol
pengalaman yang diperoleh melalui symbol yang dapt dilihat seperti grafik,
bagan atau diagram.
3) stick figures (tongkat angka)
Media ini hamper sama dengan media grafis sketsa namun bentuk nya hanya
berupa gambar garis-garis seperti tongkat,namun ciri-ciri detail dapat di
pahami oleh siswa. Guru dapat mengambar langsung di papan tulis.
4) Radio and recordings
pengalaman yang diperoleh melalui siaran radio atau rekaman suara (audio
recording).
5) Still pictures (gambar diam)
pengalaman yang peroleh melalui gambar mati, slide, atau fotografi.
6) Educational television (Televisi pendidikan)
pengalaman yang diperoleh melalui televisi pendidikan.
7) Exhibits( pameran)
pengalaman yang diperoleh melalui pameran.
8) Study trips (Wisata belajar)
Jika kita berkarya wisata, biasanya kita melihat kegiatan apa yang sedang
dikalukan orang llain. Dalam karya wisata ini pebelajar mengamati secara
langsung dan mencatat apa saja kegiatan mereka. Pebelajar lebih
mengandalkan pengalaman mereka dan pemelajar tidak perlu memberikan
banyak komentar, biarkan mereka berkembang sendiri.
9) Demonstrations (Demonstrasi)
Demonstrasi disini merupakan gambaran dari suatu penjelasan yang
merupakan sebuah fakta atau proses. Seorang demonstrator menunjukkan
bagaimana sesuatu itu bisa terjadi. Misalnya seperti seorang guru kimia
yang mendemonstrasikan bagaimana hydrogen bisa terpisah dari oksigen
dengan menggunakan elektrolisis. Atau seorang guru matematika yang
mendemonstrasikan bagaimana menghitung dengan menggunakan sempoa.
10) Dramatized Experience (Pengalaman Dramatisasi)
Kita tidak mungkin mengalami langsung pengalaman yang sudah lalu.
Contohnya seperti pelajaran sejarah. Apakah kita mengalami lansung
sejarah itu? Tentu tidak. Maka dari itu drama berperan dalam hal ini.
Sejarah yang kita pelajari bisa kita jadikan drama untuk pembelajaran.
Mengapa drama? Karena dengan drama si pebelajar dapat menjadi semakin
merasakan langsung materi yang dipelajarkan. Jika kita bisa membagi dua
bagian ini, maka bagian akan terbagi menjadi partisipasi dan observasi.
Partisipasi merupakan bentuk aktif secara langsung dalam suatu drama,
sedangkan observasi merupakan pengamatan, seperti menonton atau
mengamati drama tersebut.
11) Contrived experiences (Pengalaman Tiruan)
Tingkat kedua dari kerucut ini sudah mulai mengurangi tingkat ke-
konkritannya. Dalam tahap ini si pebelajar tidak hanya belajar dengan
memegang, mencium atau merasakan tetapi sudah mulai aktif dalam
berfikir. Contohnya seperti seorang pebelajar yang diinstruksikan membuat
bangunan atau gedung. Disini pebelajar tidak membuat gedung sebenarnya
melainkan gedung dalam artian suatu model atau miniature dari gedung
yang sebenarnya.
12) Direct purposeful (Pengalaman Langsung)
Dasardari pengalaman kerucut Dale ini adalah merupakan penggambaran
realitas secara langsung sebagai pengalaman yang kita temui pertama
kalinya. Ibarat ini seperti fondasi dari kerucut pengalaman ini, dimana
dalam hal ini masih sangat konkrit.Dalam tahap ini pembelajaran dilakukan
dengan cara memegang, merasakan atau mencium secara langsung materi
pelajaran. Maksudnya seperti anak Taman Kanak-Kanak yang masih kecil
dalam melakukan praktik menyiram bunga. Disini anak belajar dengan
memegang secara langsung itu seperti apa, kemudian menyiramkannya
kepada bunga.
Gagne dalam buku Nana Syaodih (1988 : 119) mengemukakan lima macam
perangsang belajar disertai alat untuk menyajikannya, yaitu:

Perangsang Alat
1. Kata-kata tertulis Buku,pengajaran
berprogram,bagan,poster,proyektor slite
2. Kata-kata lisan Guru,tape recording
3. Gambar dan kata lisan Slide-tapes,slide bersuara,ceramah.
4. Gambar bergerak,kata-kata dan Proyektor film bergerak, televisi,
suara lain. demonstrasi
5. Konsep teoritis melalui gambar Film bergerak,permainan wayang.
e. Evaluasi Pengajaran
Evaluasi ditunjukkan untuk menilai pencapaian tujuan – tujuan yang telah
ditentukan serta menilai proses mengajar secara keseluruhan. Evaluasi pengajaran
ini meliputi evaluasi hasil belajar mengajar dan evaluasi pelaksanaan mengajar.

a. Evaluasi hasil belajar mengajar


Untuk menilai keberhasilan penguasaan siswa atau tujuan – tujuan khusus yang
telah ditentukan, diadakan suatu evaluasi. Evaluasi ini disebut juga evaluasi hasil
belajar mengajar. Dalam evaluasi ini disusun butir – butir soal untuk mengukur
pencapaian tiap tujuan khusus yang telah ditentukan. Menurut lingkup luas bahan
dan jangka waktu belajar dibedakan antara evaluasi formatif dan evaluasi sumatif.
Evaluasi formatif ditunjukkan untuk menilai penguasaan siswa terhadap tujuan –
tujuan belajar dalam jangka waktu yang relatif pendek. Hasil evaluasi formatif ini
terutama digunakan untuk memperbaiki proses belajar – mengajar dan membantu
mengatasi kesulitan-kesulitan belajar siswa.
Evaluasi sumatif ditunjukkan untuk menilai penguasaan siswa terhadap tujuan –
tujuan yang lebih luas, sebagai hasil usaha belajar dalam jangka waktu yang
cukup lama. Evaluasi sumatif mempunyai fungsi yang lebih luas daripada evaluasi
formatif. ‘
b. Evaluasi pelaksanaan mengajar
Komponen yang dievaluasi dalam pengajaran bukan hanya hasil belajar mengajar
tetapi keseluruhan pelaksanaan pengajaran, yang meliputi evaluasi komponen
tujuan mengajar, bahan pengajaran, strategi dan media pengajaran, serta
komponen evaluasi mengajar itu sendiri.
Untuk mengevaluasi komponen-komponen dan proses pelaksanaan mengajar
bukan hanya digunakan tes tetapi juga digunakan bentuk-bentuk non tes seperti
observasi, studi dokumenter, analisis hasil, angket. Evaluasi dapat dilakukan oleh
guru sendiri ataupun pihak-pihak lain yang berwenang seperti kepala sekolah dan
pengawas.

f. Penyempurnaan Pengajaran
Hasil – hasil evaluasi baik evaluasi belajar, maupun evaluasi pelaksanaan
mengajar secara keseluruhan, merupakan umpan balik bagi penyempurnaan –
penyempurnaan lebih lanjut. Semua komponen mengajar mempunyai
kemungkinan untuk disempurnakan. Suatu komponen mendapat prioritas lebih
dulu atau mendapatkan lebih banyak dilihat dari peranannya dan tingkat
kelemahannya.
Penyempurnaan mungkin dilaksanakan sendiri oleh guru, tetapi dalam hal tertentu
mungkin dibutuhkan bantuan atau saran-saran orang lain. Penyempurnaan juga
mungkin bersifat menyeluruh atau hanya menyangkut bagian – bagian tertentu.
Semua hal tersebut tergantung pada kesimpulan – kesimpulan hasil evaluasi.

Ali, Muhammad. 1992. Pengembangan Kurikulum di Sekolah. Bandung: Sinar


Baru Algensindo