Anda di halaman 1dari 6

Fasilitas-fasilitas untuk para kakek nenek dan penyandang cacat bisa ditemukan dengan

mudah, dan dibawah ini adalah beberapa fasilitas umum yang saya sering lihat dan ada
dimana-mana :

1. Toilet Khusus

Toilet khusus sering saya jumpai di Rumah sakit, shopping mall, supermarket dan di service
area atau tempat istirahat di dalam jalan tol. Toilet yang ukurannya lebih luas dari toilet biasa
ini biasanya berisi banyak pegangan pada pinggiran tembok, pinggiran wc dan pada tempat
cuci tangannya. Keadaan dalam toilet disesuaikan dengan keadaan orang-orang yang
berkebutuhan khusus seperti para pengguna kursi roda atau kakek nenek yang menggunakan
tongkat untuk berjalan.

2. Parkir Khusus

Parkir khusus ini sangat mudah kita temukan dimana-mana, sama seperti toilet khusus,
biasanya ada di pusat pertokoan, Rumah sakit, service area/tempat istirahat, supermarket,
taman, dan lain sebagainya. Parkir khusus ini akan ditempatkan di depan atau dipinggir pintu
masuk gedung.

Parkir khusus ini diperuntukkan untuk kaum manula (di jepang ada sticker khusus bagi
pengendara yang berusia diatas 70 tahun) dan yang penumpangnya ada yang menggunakan
kursi roda.

3. Tenji Blocks

Fasilitas umum bagi penyandang tuna netra ini bukanlah hanya sebagai pemanis jalan belaka.
Saya pernah lihat bagaimana pemerintah sangat peduli dengan para penyandang tuna netra ini
dengan mengadakan tenji block di jalan-jalan umum, seperti pusat pertokoan, supermarket,
toko buku, stasiun kereta api, halte bis, perempatan jalan, dimana-mana. Bahkan perawatan
dengan cara pembersihan dengan cara steam pada Tenji Block ini kerap saya saksikan
dijalan-jalan.

Tenji Blocks (Tactile Paving) adalah Huruf Braille, tulisan sentuh ala Jepang (hiragana dan
romanji, alfabet yang disadur kedalam bentuk karakter khusus) yang berfungsi untuk
memudahkan orang buta untuk menyusuri jalan. Dimana lantainya itu terdapat tanda-tanda
berupa karakter khusus, dot characters. Fungsinya tentu saja untuk memudahkan orang buta
untuk mengenali jalan yang sedang dilaluinya. Dan pemerintah Jepang begitu peduli akan
pengadaan dan perawatan Tenji blocks ini. Salut saya!
4. Kursi Khusus
Saya yakin fasilitas ini bukan hanya di Jepang saja, tapi di negara manapun sepertinya sudah
menjadi peraturan standar dan baku untuk mengadakan kursi khusus bagi kaum manula,
penyandang cacat dan para ibu hamil. Begitupun di negeri sakura ini, baik itu di dalam bis
dan kereta api, kursi khusus ini pun ada.

Banyak kasus aneh tapi nyata di sini, yang dialami bukan saja oleh saya tapi juga teman-
teman Indonesia yang tinggal di Jepang, yaitu banyak kaum manula yang menolak saat kita
menawarkan bangku kita untuk mereka. Kebanyakan alasannya adalah karena sebentar lagi
mereka akan turun, dan alasan lainnya adalah mereka akan bilang "Daijoubu desu!" (I`m
okay!) dengan kata lain, mereka masih kuat kok jadi gak perlu khawatir hahaha..karena itu
solusi yang saya suka ambil apabila melihat ada kakek nenek yang sedang berdiri adalah, gak
perlu basa basi menawarkan kursi tapi langsung saja berdiri di samping mereka, jadi mereka
tidak akan sungkan dan merasa tidak merepotkan orang lain untuk duduk dibangku kosong
itu. Ya, orang jepang sangatlah berhati-hati jangan sampai merepotkan dan menyusahkan
orang lain.

5. Kursi Roda

Di supermarket dan shopping mall sering saya lihat pemandangan ini. Ya, selain trolley untuk
belanja atau stroller untuk anak, saya lihat ada juga kursi roda bagi kakek nenek yang tidak
kuat jalan saat belanja. Saya pernah lihat ada satu keluarga yang sedang belanja di
supermarket, dan salah satu membernya ada sang nenek yang menggunakan tongkat untuk
berjalan.

Ketika akan berbelanja, sang nenek langsung memakai kursi roda yang disediakan gratis oleh
supermarket itu dan bisa tenang ikut belanja dengan anak cucunya tanpa khawatir akan
menjadi lelah dan malah merepotkan. Fasilitas umum berupa pengadaan kursi roda bagi
pengunjung supermarket ini adalah salah satu service dari supermarket yang sangat luarbiasa
dan perlu, khususnya bagi para manula dan penyandang cacat tanpa perlu menyusahkan
orang apabila mereka ingin belanja sendiri.
6. Bel Khusus
Dari fasilitas-fasilitas umum yang ada bagi para manula dan penyandang cacat, ada satu
fasilitas umum disini yang sangat unik dan menarik!

Yaitu, adanya bel khusus yang ditaruh didepan pintu supermarket. saya rasa ini adalah
terobosan terbaru dan tercanggih berkaitan dengan pemberian service kepada pelanggannya.
Sayangnya belum semua supermarket di Jepang menggunakan sistem ini.

Sistem bel yang di taruh di depan pintu supermerket ini berfungsi untuk memberikan bantuan
kepada para penyandang cacat, ibu hamil, manula dan orang yang memang membutuhkan
pertolongan untuk dipandu saat akan berbelanja. Pemberian service kepada pelanggan yang
sangat luar biasa! Salah satu cara agar menarik pelanggan bukan dengan pemberian harga
yang bersaing tapi memberikan pelayanan kepada pelanggan yang memerlukan
bantuan. Service yang sangat berguna bagi orang-orang yang membutuhkan untuk bisa
berbelanja dengan tenang dan nyaman.
Fasilitas Umum di Tokyo, Jepang (Best Practice)
Kehidupan di Jepang adalah kehidupan yang sangat cepat dan sibuk. Gambaran-gambaran yang
sering muncul di televisi, dalam buku-buku literatur atau bahkan dalam buku komik sekalipun
menunjukkan bahwa kehidupan di Jepang adalah kehidupan yang “individu”, tetapi di tengah
“individualitas”nya itu Jepang ternyata jauh lebih mampu memahami dan memaknai hak orang lain
sebagai unsur penting yang harus dihormati. Penghargaan terhadap hak yang sama di negara Jepang
tidak lagi menjadi sebuah isu yang harus selalu diangkat dan disosialisasikan, tetapi telah menjadi
bagian kecil dari kehidupan setiap orang jepang yang memiliki arti besar bagi orang-orang yang
diharapkan dapat memanfaatkannya.

Dalam menciptakan kota yang ramah bagi semua, ada dua aspek yang sangat terkait erat yaitu
mobilitas dan aksesibilitas. Mobilitas dan aksesibilitas yang baik sangat mempengaruhi aktivitas
masyarakatnya.

Aspek mobilitas pada dasarnya adalah pemberian kesempatan pada setiap orang untuk berpindah dari
satu tempat ke tempat lain, yang diterjemahkan melalui transportasi yang aksesibel. Dalam empat
prinsip aksesibilitas, mobilitas ini menempati urutan pertama sebagai penjamin adanya kesempatan
bagi seseorang untuk mencapai satu tempat tertentu dalam satu lingkungan atau kota. Dalam
menciptakan transportasi yang aksesibel, Jepang menerapkan beberapa elemen pada transportasi
tersebut. Yang pertama adalah penciptaan jalur pedestrian yang aman dan nyaman bagi semua orang.

Untuk masyarakat yang memiliki kemampuan berbeda, jalur pedestrian dilengkapi dengan jalur
pengarah (guiding block) dan peringatan (warning block), didesain sebagai sebuah jalur yang lebar
dengan permukaan yang datar serta digunakannya curb ramp pada perbedaan-perbedaan ketinggian.
Bahkan untuk penyeberangan, lampu lalu lintas dilengkapi juga dengan sinyal suara, atau jika harus
melalui jembatan penyebrangan maka tersedia ramp yang nyaman untuk digunakan untuk naik dan
turun. Yang kedua adalah fasilitas sistem transportasi yang dapat digunakan semua orang. Terutama
untuk stasiun kereta api maupun subway, implementasi aksesibilitas tidak saja diterapkan pada
stasiun-stasiun baru tetapi juga stasiun-stasiun lama dengan melakukan penambahan-penambahan
alat. Stasiun-stasiun yang aksesibel tidak saja dilengkapi dengan ramp dan jalur pengarah, tetapi juga
denah timbul (tactile map) stasiun, informasi-informasi dalam braille dan suara, telepon umum dan
kamar mandi yang aksesibel, empalcement yang sejajar dengan pintu masuk kereta serta petugas
yang memahami keterbatasan setiap orang dan siap memberikan bantuan dengan tepat jika
dibutuhkan. moda transportasi umum adalah bagian ketiga dari penciptaan mobilitas yang tanpa
hambatan. Kereta api memiliki pintu yang lebar, lantai yang rata, lorong yang luas, informasi tempat
tujuan dengan tekstual, grafis maupun suara serta dilengkapi dengan ruang khusus bagi pengguna
kursi roda.

Tidak jauh berbeda, bis-bis juga dilengkapi dengan ramp yang menghubungkan halte dan lantai bis
yang berbeda ketinggian, pintu yang lebar dan ruang khusus bagi pengguna kursi roda. Untuk
mengingatkan penumpang lainnya, himbauan untuk memberikan kesempatan bagi yang lebih
membutuhkan juga terpasang di jendela kaca bis dan kereta api tersebut.

Aspek aksesibilitas diterjemahkan sebagai penciptaan lingkungan yang aksesibel -dimana lingkungan
wajib memberikan hak yang sama bagi setiap orang untuk masuk ke dalam bangunan atau lingkungan
tersebut (prinsip kedua aksesibilitas) serta menggunakan fasilitas-fasilitas yang ada di dalamnya
(prinsip ketiga). Hampir semua fasilitas publik seperti bangunan pemerintahan, perkantoran, pusat
perbelanjaan dan plaza atau ruang terbuka yang ada di Jepang, paling tidak prinsip kedua dan ketiga
aksesibilitas tersebut dimunculkan dalam bentuk pemasangan ubin pengarah, denah timbul, meja
informasi dan telepon umum yang mudah dicapai dan digunakan, transportasi vertikal yang aksesibel-
dalam bentuk ramp maupuan lift -hingga furnitur-furnitur yang memberikan kemungkinan untuk
digunakan oleh banyak orang dengan kemapuan yang berbeda-beda.

Kedua aspek mobilitas dan aksesibilitas ini disempurnakan dengan prinsip keempat aksesibilitas yang
melindungsi perasaan masyarakat difabel untuk tidak menjadi objek belas kasihan. Prinsip keempat ini
diwujudkan melalui kesadaran masyarakat, stakeholder maupun pemerintah untuk selalu
mengimplementasikan elemen-elemen aksesibel dalam setiap fasilitas publik. Empat prinsip yang
sebenarnya telah dicantumkan dalam KEPMEN PU No.468/KPTS/1998 diharapkan mampu membawa
Indonesia ke dalam kondisi yang lebih adil bagi semua orang.
Di Tokyo, selama kita ada di jalur pejalan kaki, kita tidak perlu terlalu memperhatikan kondisi sekeliling
kita selama berjalan. Masyarakat tidak khawatir jika ada mobil yang melintas secara tiba-tiba, juga tidak
perlu menggunakan jalan utama karena ada kendaraan yang parkir di jalur pejalan kaki. Kita bisa
dengan santai mendengarkan musik tanpa mendengar suara lingkungan sekitar. Yang kita butuhkan
adalah melihat simbol lampu hijau bagi pejalan kaki dalam menyebrang dan rambu-rambu batas jalur
pejalan kaki.

Selain hal diatas, kenyamanan pun didapat pada saat hujan. Sistem drainase jalan bekerja dengan
sangat memuaskan. Jalur pejalan kaki, sebagaimana jalur kendaraan, didesain untuk terbebas dari
genangan air. Tidak perlu khawatir sepatu kita terendam genangan air di jalan, tidak perlu khawatir
tersemprot air dari genangan air yang tergilas ban kendaraan. Tidak perlu terlalu khawatir akan licinya
jalan akibat genangan air.