Anda di halaman 1dari 27

ANALISIS PENGARUH PARTISIPASI ANGGARAN, KEJELASAN

SASARAN ANGGARAN DAN SISTEM PENGENDALIAN INTERNAL


TERHADAP KINERJA INSTANSI PEMERINTAH DAERAH
(STUDI KASUS PADA SATUAN PERANGKAT KERJA DAERAH
DI KABUPATEN KARAWANG)

Rifqi Subhanullah Hutama1

Ivan Yudianto2

1
Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran
2
Dosen Pembimbing Skripsi, Universitas Padjadjaran
rifqisubhanullah@gmail.com

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh positif


antara partisipasi anggaran, kejelasan sasaran anggaran, dan sistem pengendalian
internal terhadap kinerja instansi pemerintah daerah secara simultan maupun
parsial, dan bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh tersebut.
Penelitian ini dilaksanakan pada 31 SKPD di Kabupaten Karawang.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dan
verifikatif dengan pendekatan kuantitatif. Pengumpulan data dan informasi
dilaksanakan dengan studi lapangan melalui kuesioner dan studi kepustakaan.
Kuesioner yakni sebagai alat penelitian yang disebar kepada pegawai yang bekerja
di setiap SKPD dan pengguna jasa pelayanan publik yang disediakan oleh setiap
SKPD di Kabupaten Karawang. Objek penelitian ini adalah partisipasi anggaran,
kejelasan sasaran anggaran, dan sistem pengendalian internal. Data yang digunakan
untuk penelitian ini adalah data primer yang diperoleh dari hasil kuesioner
menggunakan skala Likert, yang dikonversi dari skala ordinal menjadi skala
interval dan pengujian hipotesis dengan menggunakan analisis jalur.
Berdasarkan hasil analisis, dapar disimpullkan bahwa partisipasi anggaran,
kejelasan sasaran anggaran dan sistem pengendalian internal (SPI) secara simultan
memiliki pengaruh positif terhadap kinerja instansi pemerintah daerah Kabupaten
Karawang dengan kontribusi pengaruh yang diberikan yaitu sebesar 73,4%,
sedangkan sebanyak 26,6% sisanya merupakan besar kontribusi pengaruh yang
diberikan oleh faktor lainnya yang tidak diteliti. Secara parsial partisipasi anggaran
berpengaruh positif dengan kontribusi pengaruh 24,3%, kejelasan sasaran anggaran
berpengaruh positif dengan kontribusi pengaruh 20,3%, dan sistem pengendalian

1
berpengaruh positif kontribusi pengaruh 28,8% terhadap kinerja instansi
pemerintah daerah Kabupaten Karawang.

Kata kunci : Partisipasi Anggaran, Kejelasan Sasaran Anggaran, Sistem


Pengendalian Internal, Kinerja Instansi Pemerintah Daerah.

1. Pendahuluan

Masyarakat saat ini mulai menyoroti kinerja instansi pemerintah atas


pelayanan yang dilakukan pemerintah kepada publik. Perolehan penilaian atas
pelayanan publik mulai dipertanyakan oleh masyarakat. Sehingga pemerintah harus
berusaha secara maksimal dalam upaya meningkatkan kinerja pemerintah agar
mendapatkan kepercayaan kembali dari masyarakat dengan cara memberikan
pelayanan yang memuaskan bagi masyarakat (Fauzan R. H., 2017).
Menurut catatan Ombudsman Republik Indonesia tentang keluhan
masyarakat, penyimpangan penyelenggaraan pelayanan publik yang dilakukan oleh
pemerintah daerah menduduki peringkat pertama. Pada tahun 2015 sebanyak
41,59% atau sebanyak 2854 laporan. Tahun 2016 mengalami penurunan sebesar
1,59% ke angka 40% atau sebanyak 3612 laporan. Pada tahun 2017 persentase
laporan keluhan atas pelayanan publik yaitu sebesar 41,64% atau sebanyak 3.445
laporan. Dilihat dari persentase pada tahun 2017 laporan keluhan tentang pelayanan
publik atas kinerja instansi pemerintah daerah mengalami peningkatan. Artinya,
pemerintah belum mampu memberikan pelayanan yang memuaskan kepada
masyarakat.
Kinerja kadang tidak berjalan secara optimal yang disebabkan oleh kinerja
anggaran yang belum dilaksanakan secara maksimal. Kinerja anggaran hanya
melihat pada segi perencanaan anggaran dan realisasi anggaran tanpa melihat
outcome yang akan bermanfaat bagi masyarakat secara berkelanjutan. Hal tersebut
disebabkan oleh pemerintah hanya berfokus pada pelaksanaan anggaran tanpa
melihat manfaat yang dihasilkan dari anggaran yang telah dirumuskan. Adanya
perbedaan kepentingan tersebut memunculkan agency problem antara pemerintah
sebagai agen dan masyarakat sebagai prinsipal. Berdasarkan permasalahan tersebut,
teori keagenan merupakan teori yang mendasari pemerintahan dalam menyusun
laporan akuntabilitas kinerja. Hal tersebut dibutuhkan karena masyarakat
mempunyai hak dan wewenang untuk memperoleh informasi mengenai kegiatan
yang dilaksanakan oleh pemerintah yang harus dipertanggungjawabkan, disajikan,
dilaporkan, dan diungkapkan. Adanya perilaku oportunistik terjadi karena agen
memiliki keunggulan informasi mengenai keuangan yang akan dijadikan bahan
pertimbangan dalam melakukan penyusunan anggaran daripada prinsipal yang
memungkinkan hanya memanfaatkan kepentingan pribadi (self-interest) karena
memiliki kekuasaan.
Penyusunan sasaran anggaran harus jelas dan tidak membingungkan
pelaksana anggaran dalam menyelenggarakan kegiatan pemerintah dan realisasi
atas anggaran yang telah disusun diharapkan dapat mencapai target sehingga akan
berdampak pada penilaian kinerja. Dalam menyusun suatu anggaran tentu perlu
melibatkan pihak – pihak untuk berpartisipasi dalam penyusunan anggaran agar
penyusunan anggaran dapat tepat sasaran dan sesuai dengan ketentuan berdasarkan
rencana strategis, RPJMD, IKU maupun dokumen lainnya yang dijadikan sebagai

2
acuan dalam penyusunan anggaran berdasarkan tujuan strategik yang hendak
dicapai.
Pengendalian internal dilakukan terhadap seluruh kegiatan pemerintah yang
diselenggarakan untuk menghindari terjadinya fraud dan mengawasi serta
mengarahkan agar setiap kegiatan yang dilaksanakan oleh pemerintah dapat
berjalan secara efektif dan penggunaan sumber daya yang efisien. Pengendalian
internal pun memiliki peran penting dalam memotivasi pegawai untuk mencapai
tujuan organisasi. Dengan adanya pengendalian internal, maka setiap
program/kegiatan dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan dan akan
berimplikasi pada kinerja pegawai maupun pemerintah secara keseluruhan yang
menjadi lebih baik.
Berdasarkan hasil evaluasi SAKIP yang memberi rangkuman mengenai
kinerja instansi pemerintah atas seluruh kegiatan yang telah diselenggarakan
berdasarkan sasaran yang telah dirumuskan di tingkat Kabupaten/Kota di Provinsi
Jawa Barat, pada tahun 2017 Kabupaten Karawang hanya memperoleh nilai
evaluasi SAKIP sebesar 54,74 dan masuk dalam kategori CC. Menurut intepretasi
dari (Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi
No. 12 Tahun 2015 Tentang Pedoman Evaluasi Atas Sistem Akuntabilitas Kinerja
Instansi Pemerintah), untuk kategori CC dikatakan bahwa implementasi sistem
akuntabilitas kinerja dan birokrasi pemerintahan di Kabupaten Karawang cukup,
pertanggungjawaban atas hasil kinerja cukup baik, serta memerlukan perbaikan
namun tidak mendasar. Apabila dilakukan perbandingan dengan nilai hasil evaluasi
SAKIP dari tahun 2015 – 2017, pada tahun 2017 hasil evaluasi SAKIP Kabupaten
Karawang mengalami peningkatan namun tidak terlalu signifikan. Hal tersebut
mengindikasikan bahwa Pemerintah Kabupaten Karawang mulai membenahi diri
dengan meningkatkan kualitas pelayanan dan kesejahteraan sesuai dengan
keinginan dan kebutuhan dari masyarakat.
Dalam segi realisasi anggaran, pada tahun 2016 – 2018, penyerapan anggaran
sudah mencapai persentase lebih dari 80% namun belum terserap secara
keseluruhan yaitu 100%. Berdasarkan hasil wawancara dengan Badan Pengelola
Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kabupaten Karawang, hal tersebut
disebabkan oleh beberapa faktor permasalahan yang terdiri dari: 1) Adanya
keterlambatan lelang atau terjadi kegagalan dalam melakukan proses lelang dalam
pengadaan barang dan jasa; 2) Adanya kegiatan yang dilaksanakan lebih dari satu
tahun dan anggaran ditentukan sesuai dengan perencanaan yang ditetapkan; 3)
Kegiatan antara perencanaan dan pelaksanaan anggaran yang meleset atau tidak
terlaksana; 4) Peraturan dari pusat terkait dengan pelaksanaan anggaran terlambat
dan ketidakjelasan aturan menimbulkan kekhawatiran dari pelaksana ketika
melaksanakan program/kegiatan; 5) Program dan kegiatan banyak yang dilakukan
di akhir tahun; 6) Perencanaan dan kontrol terhadap anggaran kurang matang.
Sistem pengendalian internal dalam segi penyusunan laporan keuangan
Pemerintah Kabupaten Karawang tahun 2017 sudah dilaksanakan dengan sangat
baik yang ditunjukan dengan pemerolehan hasil opini audit dengan predikat WTP
akan tetapi dalam segi penyelenggaraan pemerintah dalam memberikan pelayanan
kepada publik masih belum memberikan hasil yang memuaskan. Berdasarkan
(Peraturan Bupati No. 1 Tahun 2017 tentang Kebijakan Pengawasan Pemerintah )
menyatakan bahwa penyelenggaraan kegiatan pemerintah belum berjalan efektif
dan efisien serta belum sesuai dengan peraturan perundang – undangan. Dalam

3
LAKIP Pemerintah Kabupatan Karawang tahun 2017, isu-isu strategis yang
mempengaruhi kinerja instansi pemerintah Kabupaten Karawang terdiri dari
program dan kegiatan yang dilaksanakan belum efektif dan efisien serta sesuai
peraturan, kualitas pelayanan publik yang belum optimal atas ketersediaan sarana
dan prasarana serta SDM yang kurang professional. Dapat dikatakan bahwa
pengendalian internal pemerintah masih belum optimal atau kurang memuaskan.

2. Studi Kepustakaan dan Pengembangan Hipotesis

Landasan teori yang digunakan untuk membahas penelitian ini adalah teori
keagenan (agency theory). Teori keagenan merupakan teori yang mendasari
pemerintahan dalam menyusun laporan akuntabilitas kinerja. Hal tersebut
dibutuhkan karena masyarakat mempunyai hak dan wewenang untuk memperoleh
informasi mengenai kegiatan yang dilaksanakan oleh pemerintah yang harus
dipertanggungjawabkan, disajikan, dilaporkan, dan diungkapkan. Menurut
(Shulthoni, 2017), dalam proses penyusunan dan perubahan anggaran daerah,
terdapat dua perspektif dalam teori keagenan, yaitu hubungan antara pihak
eksekutif dengan legislatif dalam lingkup pemerintahan, dan antara pemerintah
dengan masyarakat.
Perspektif pertama dalam teori keagenan menghubungkan antara lembaga
ekskutif sebagai agen dan lembaga legislatif sebagai prinsipal. Masalah keagenan
yang dapat terjadi dalam perspektif ini adalah pihak legislatif memiliki keunggulan
kekuasaan (discretionary power) cenderung akan memaksimalkan “self-interest”
dalam pembuatan atau penyusunan anggaran sehingga akan menimbulkan perilaku
oportunistik dengan melakukan “budgetary slack”. Hal tersebut dilakukan agar
pihak legislatif dapat mengamankan posisinya dan mencerminkan kinerja yang baik
kepada pihak eksekutif dan masyarakat dalam pemerintahan atau untuk
kepentingan politik di periode berikutnya. Bagi pihak legislatif yang memiliki
keunggulan dalam informasi cenderung akan melakukan “kontrak bayangan” untuk
kepentingan sendiri secara jangka Panjang dan untuk menjalin kesinambungan dan
mengharumkan nama dari pihak eksekutif.
Perspektif kedua dalam teori keagenan menghubungkan antara masyarakat
sebagai prinsipal dan pemerintah sebagai agen. Pemerintah sebagai agen
seharusnya membela kepentingan masyarakat dan berusaha untuk meningkatkan
kesejahteraan masyarakat. Namun hal tersebut kemungkinan kecil terjadi
disebabkan oleh adanya ketidakjelasan aturan mengenai konsekuensi kontrol
keputusan atau “abdication” dan “self-interest” yang akan mengakibatkan adanya
political corruption dalam penyusunan aggaran dan administration corruption
dalam pelaksanaan anggaran. Menurut (Lupia & McCubbins, 2000) dalam (Halim
& Abdullah, 2006), abdikasi merupakan adanya kondisi di mana agen tidak dibatasi
oleh aturan bagaimana tindakan mereka berpengaruh terhadap kepentingan
prinsipal. Hal tersebut terjadi karena masyarakat yang dicirikan sebagai pihak yang
memiliki kepedulian dan keinginan yang kurang dalam memengaruhi pihak
legislatif yang dipilih sedangkan legislatur dicirikan dengan pihak yang tidak
memiliki waktu dan pengetahuan untuk mengetahui seluruh kebutuhan publik. Hal
tersebut tercermin pada praktik Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme (KKN) di
lingkungan pemerintahan yang semakin meningkat dan penyelenggaran pelayanan
fasilitas publik yang kurang optimal.

4
2.1 Partisipasi Anggaran

Definisi partisipasi anggaran sebagai tanggung jawab seorang manajer


yang dilibatkan dalam penyusunan anggaran dan pengaruhnya terhadap budget
goals dalam suatu organisasi (Kenis, 1979). Dalam partisipasi anggaran,
terdapat dua pemahaman berbeda mengenai siapa yang ikut berpartisipasi
dalam penyusunan dan penetapan anggaran. Pemahaman pertama menyatakan
bahwa penganggaran partisipatif melibatkan masyarakat dalam menyusun
anggaran sebagai bentuk demokratisasi dan akuntabilitas (Wampler, 2007).
Sedangkan pemahaman yang lain menurut (Kenis, 1979) menyatakan bahwa
partisipasi anggaran melibatkan aparatur pemerintah dalam menyusun anggaran
sesuai dengan tugas dan fungsi pokok dalam pemerintah. Hal tersebut
disebabkan oleh kebutuhan dan preferensi yang berbeda satu sama lain dan
adanya keberagaman dalam jenis layanan yang diberikan dan diprioritaskan
dalam perencanaan pembangunan yang direncanakan dan dianggarkan setiap
tahunnya.
(Siegel & Marcony, 1989) dalam (Kewo, 2017) menyatakan bahwa
partisipasi anggaran memiliki beberapa manfaat yaitu : 1) Partisipasi dapat
mengurangi tekanan seseorang dalam melakukan penyusunan anggaran; 2)
Partisipasi dapat mengeratkan hubungan serta kerja sama antar anggota dalam
suatu kelompok untuk pencapaian sasaran; 3) Partisipasi anggaran juga dapat
mengurangi rasa tidak adil antar bagian dalam suatu organisasi dalam
mengalokasikan sumber daya.
Hasil penelitian Cecilia Lelly Kewo (2014) menyimpulkan bahwa
penganggaran partisipatif berpengaruh terhadap kinerja manajerial pemerintah
daerah. Gul, et al (1995) menyatakan bahwa dalam penyusunan anggaran
partisipasi yang tinggi berpengaruh positif terhadap kinerja organisasi yang
menerapkan desentralisasi. Abata, Mathew A. (2014) menyatakan bahwa
terdapat hubungan yang positif namun lemah antara partisipatif dengan kinerja
manajerial di Nigeria. Owusu, et al (2014) disimpulkan bahwa partisipasi
anggaran berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan. Nasser et al (2011)
bahwa karakteristik anggaran (penganggaran partisipatif) berpengaruh
terhadap kinerja departemen. Brownell, Peter (1982) memberi kesimpulan
bahwa terdapat pengaruh positif antara partisipasi dan kinerja manajerial
dengan motivasi sebagai variabel intervening. Kennis, Izzetin (1979)
memberikan kesimpulan terhadap partisipasi anggaran menyatakan bahwa
partisipasi anggaran berpengaruh positif terhadap kinerja manajerial.
H1 : Partisipasi anggaran secara parsial berpengaruh positif terhadap
kinerja instansi pemerintah

2.2 Kejelasan Anggaran

Menurut (Kenis, 1979) dalam (Putra, 2013) kejelasan sasaran anggaran


merupakan sasaran anggaran yang telah dirumuskan dan disusun secara rinci
dan jelas dan dapat mudah dipahami oleh pihak yang berwenang untuk
mengetahui informasi mengenai anggaran sesuai dengan tujuan yang hendak
dicapai. Kejelasaan sasaran anggaran bertujuan untuk memberikan informasi
mengenai sasaran anggaran dengan jelas dan rinci agar mudah dipahami oleh
pelaksana anggaran.

5
Untuk mengetahui tujuan kejelasan sasaran anggaran dalam lingkup
pemerintah daerah, APBD merupakan dokumen yang disusun untuk
menggambarkan arah dan kebijakan umum dan memberikan informasi
mengenai sasaran dan tujuan yang diharapkan pada tahun anggaran tertentu.
Terdapat lima kriteria dalam mengetahui tujuan kejelasan sasaran anggaran
dalam APBD (Abdullah A. H., 2003) dalam (Bulan, 2011), yaitu : spesifik,
terukur, Sesuai dengan realita dan dijadikan sebagai tantangan, berorientasi
pada hasil, memiliki batas waktu.
Edipson Bayer Silalahi (2017) disimpulkan bahwa kejelasan sasaran
anggaran tidak memiliki pengaruh pada akuntabilitas kinerja instansi
pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai. Rizky Darmawan (2016)
disimpulkan bahwa kejelasan sasaran anggaran memiliki pengaruh pada
kinerja manajerial. Erica Magdalena (2014) disimpulkan bahwa akuntabilitas
publik berpengaruh positif pada kinerja. Nur Atika Aini (2015) disimpulkan
bahwa kejelasan sasaran anggaran berpengaruh pada kinerja pemerintah
daerah. Cecilia Lelly Kewo (2014) menyimpulkan bahwa kejelasan sasaran
anggaran berpengaruh terhadap kinerja manajerial pemerintah daerah. Chong
M. Lau (2011) melakukan penelitian terhadap sasaran yang jelas dengan
memberikan kesimpulan bahwa pengukuran terhadap kinerja menggunakan
ukuran nonfinansial yang memberi hasil bahwa sasaran yag jelas dapat
meningkatkan kinerja karyawan. Kesimpulan yang diperoleh dari hasil
penelitian yang dilakukan oleh Nasser et al (2011) disimpulkan bahwa
karakteristik anggarankejelasan sasaran anggaran) memengaruhi kinerja
departemen. Kennis, Izzetin (1979) memberikan kesimpulan bahwa kejelasan
sasaran anggaran berpengaruh positif terhadap kinerja manajerial.
H2 : Kejelasan sasaran anggaran secara parsial berpengaruh positif
terhadap kinerja instansi pemerintah

2.3 Sistem Pengendalian Internal

Menurut COSO (Committee of Sponsoring Organization treadway


Commision) dalam (Reding, 2013) pengendalian internal adalah perancangan
untuk melakukan kegiatan pengendalian yang disusun oleh seluruh jajaran
dalam perusahaan yang merumuskan tujuan yang ditetapkan dapat tercapai dan
seluruh aktivitas perusahaan harus patuh pada peraturan sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku. Tujuan penerapan sistem
pengendalian internal di lingkungan pemerintahan menurut (Mardiasmo, 2011)
yaitu : 1) Menjaga pengamanan asset negara; 2) Informasi akuntansi diuji
kebenarannya dan diperiksa secara teliti; 3) Efisiensi biaya operasional dapat
ditingkatkan; 4) Kebijakan manajemen yang telah ditetapkan dapat terjaga
dengan baik.
Edipson Bayer Silalahi (2017) disimpulkan bahwa pengendalian internal
berpengaruh positif pada akuntabilitas kinerja instansi pemerintah. Taufan
Dharmawan (2016) bahwa implementasi sistem pengendalian internal
berpengaruh positif pada kinerja instansi pemerintah.
Rizky Darmawan (2016) disimpulkan bahwa pengendalian internal
berpengaruh pada kinerja manajerial. Erica Magdalena (2014) disimpulkan
bahwa pengendalian internal berpengaruh positif pada kinerja manajerial. Nur

6
Atika Aini (2015) disimpulkan bahwa kejelasan sasaran anggaran berpengaruh
terhadap kinerja pemerintah daerah.
Hoitash et al (2009) memberikan kesimpulan atas penelitian yang
dilakukan dengan hasil yang dinyatakan bahwa good governance
memengaruhi internal control dan pengendalian internal yang baik akan
meningkatkan kinerja lebih baik. Hasil penelitian Cecilia Lelly Kewo (2014)
disimpulkan bahwa terdapat pengaruh impelentasi pengendalian internal
terhadap kinerja manajerial pemerintah daerah.
H3 : Sistem pengendalian internal secara parsial berpengaruh positif
terhadap kinerja instansi pemerintah

2.4 Kinerja Instansi Pemerintah Daerah

Definisi kinerja instansi pemerintah menurut (Peraturan Menteri


Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi No.9 Tahun 2007)
merupakan pencapaian atas tujuan dan strategi yang telah direncanakan dan
disusun oleh pemerintah mengenai keberhasilan/kegagalan program dan
kegiatan yang diselenggarakan oleh pemerintah.
Tujuan dari pengukuran atau penilaian kinerja (Mardiasmo, 2009),
adalah : 1) Memberikan pemahaman mengenai pengukuran dan penilian
kinerja yang digunakan; 2) Target yang telah dirumuskan diharapkan dapat
tercapai; 3) Perbandingan antara realiasasi dan target mengenai capaian kinerja
harus selalu diawasi dan dievaluasi dalam upaya meningkakan kualitas kinerja;
4) Sebagai alat untuk memotivasi pegawai dan memberikan reward dan
punishment atas kinerja yang telah dicapai; 5) Untuk memperbaiki komunikasi
antara pimpinan dan bawahan; 6) Membantu dalam terpenuhinya kepuasan
pelanggan; 7) Proses kegiatan instansi pemerintah dapat dipahami melalui
pengukuran kinerja; 8) Pengukuran kinerja dapat membantu dalam mengambil
suatu keputusan secara objektif.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Cecilia Lelly Kewo (2014)
menunjukan hasil bahwa penganggaran partisipatif, kejelasan sasaran
anggaran, dan implementasi pengendalian intern berpengaruh secara simultan
terhadap kinerja manajerial pemerintah daerah.
H4 : Partisipasi anggaran, kejelasan sasaran anggaran, dan sistem
pengendalian internal secara simultan berpengaruh positif terhadap
kinerja instansi pemerintah

3. Metodologi Penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dan verifikatif


dengan pendekatan kuantitatif. Unit analisis dalam penelitian ini adalah
Pemerintahan Kabupaten Karawang dan populasi penelitian adalah Satuan
Perangkat Kerja Daerah (SKPD) berjumlah 32 kantor/dinas. Metode
pengambilan sampel yang digunakan adalah sampel jenuh dimana jumlah
sampel sama dengan jumlah populasi yaitu sebanyak 32 SKPD.
Pengumpulan data dan informasi dilaksanakan dengan studi lapangan
melalui kuesioner dan studi kepustakaan. Kuesioner yakni sebagai alat
penelitian yang disebar kepada pegawai yang bekerja di setiap SKPD di
Kabupaten Karawang sebanyak 93 kuesioner dengan jumlah pertanyaan

7
sebanyak 65 pertanyaan dan pengguna jasa pelayanan publik yang
disediakan oleh setiap SKPD di Kabupaten Karawang sebanyak 93 kuesioner
dengan jumlah pertanyaan sebanyak 23 pertanyaan. Skala yang digunakan
pada penelitian ini adalah skala ordinal. Data yang diperoleh dari kuesioner
dipastikan menggunakan uji validitas dan reliabilitas yang dikonversi
menjadi data interval dengan menggunakan Method Successive of Internal
(MSI). Uji validitas menggunakan koefisien korelasi Pearson product -
moment, sedangkan uji reliabilitas menggunakan Cronbach alpha. Untuk
menguji hipotesis, penulis menggunakan analisis jalur (path analysis)
dengan tingkat signifikansi yang digunakan adalah 5%.

Model Analisis jalur :

𝒀 = 𝛒𝐲𝐱𝟏𝐗𝟏 + 𝛒𝐲𝐱𝟐𝐗𝟐 + 𝛒𝐲𝐱𝟑𝐗𝟑 + 𝛆

Uji asumsi klasik yang digunakan hanya uji normalitas. Uji normalitas
bertujuan untuk menguji apakah data yang akan digunakan dalam model
regresi berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas perlu dilakukan karena
semua perhitungan statistik parametrik memiliki asumsi normalitas (Ghozali,
2016). Uji normalitas dapat dilakukan dengan menggunakan uji Kolmogrov-
Smirnov (K-S) dengan kriteria jika sigma ∑ < 0.05 berarti data tidak
berdistribusi normal.

4. Hasil dan Pembahasan

Data yang diperoleh dari kuesioner yang telah disebar, dianalisis melalui
analisis statistik Penelitian ini bermaksud untuk menganalisa pengaruh
partisipasi anggaran, kejelasan sasaran anggaran, dan sistem pengendalian
internal terhadap kinerja instansi pemerintah daerah. Sampel yang digunakan
dalam penelitian sama dengan jumlah populasi yaitu 32, peneliti hanya
berhasil mengumpulkan kuesioner dari 31 SKPD (tingkat pengenbalian
96,875%). Hal tersebut disebabkan oleh satu SKPD yang tidak bersedia
untuk dilakukan penelitian dengan alasan belum diperpanjangnya MOU
antara pihak SKPD dengan pihak universitas. Hal tersebut diakui sebagai
keterbatasan penelitian.
Terdapat 186 responden di 31 SKPD Kabupaten Karawang yang terdiri
dari 93 responden pegawai yang bekerja di SKPD, dan 93 responden dari
pengguna jasa layanan publik yang menggunakan fasilitas kantor/dinas.
Berdasarkan hasil penyebaran kuesioner kepada sejumlah responden
pegawai yang bekerja di SKPD, mayoritas dari responden yaitu sebanyak
55,9% merupakan responden dengan jenis kelamin laki-laki, sedangkan
44,1% sisanya merupakan responden perempuan. Dilihat dari pendidikan
terakhir, mayoritas responden yaitu sebanyak 60,2% merupakan lulusan
Strata 1 (Sarjana), sebanyak 21,5% lulusan Strata 2 (Master), 9,7% lulusan
SLTA/ Sederajat, 5,4% lainnya lulusan Sarjana Terapan (D4) dan sebanyak
3,2% sisanya memiliki pendidikan terakhir yaitu pada tingkat Diploma (D3).
Ditinjau dari jabatan, sebanyak 33,3% masing-masing diantaranya menjabat
sebagai Kasubag Keuangan, Kasubag Program dan Pelaporan dan Kasubag
Umum dan Kepegawaian. Selanjutnya dilihat berdasarkan pangkat/

8
golongan, mayoritas responden yaitu sebanyak 78,5% merupakan golongan
III, 15,1% lainnya golongan IV dan sebanyak 6,5% sisanya yaitu golongan
II. Berdasarkan usia mayoritas dari responden yaitu sebanyak 44,1%
memiliki usia antara 41-50 tahun, sebanyak 25,8% berusia antara 31-40
tahun, 21,5% lainnya berusia antara 51-60 tahun dan sebanyak 8,6% sisanya
berusia antara 20-30 tahun.
Berdasarkan hasil penyebaran kuesioner kepada sejumlah responden
pengguna jasa layanan publik yang disediakan oleh SKPD, mayoritas dari
responden yaitu sebanyak 66,7% merupakan responden perempuan,
sedangkan sebanyak 33,3% sisanya merupakan responden laki-laki. DIlihat
dari usia mayoritas dari responden yaitu sebanyak 77,4% memiliki usia
antara 20-25 tahun, sebanyak 9,7% berusia antara 26-30 tahun, 7,5% lainnya
berusia kurang dari 20 tahun dan sebanyak 5,4% sisanya berusia lebih dari
30 tahun. Dilihat dari pekerjaan mayoritas dari responden yaitu sebanyak
68,8% masih berstatus sebagai pelajar/ mahasiswa, sebanyak 10,8% bekerja
sebagai wiraswasta, 7,5% bekerja sebagai karyawan swasta dan lainnya
bekerja sebagai PNS, pendidik, pengacara, karyawan BUMN, freelancer dan
kantor hukum.

4.1 Statistik Deskriptif


A. Partisipasi Anggaran

Rekapitulasi tanggapan responden secara keseluruhan terkait


partisipasi anggaran persentase skor sebesar 86,5% berada pada rentang
persentase antara 84,1%-100% dan terkategorikan sangat baik. Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa partisipasi anggaran pada SKPD di
Kabupaten Karawang sudah terlaksana dengan sangat baik.

B. Tanggapan Responden Terkait Kejelasan Sasaran Anggaran

Rekapitulasi tanggapan responden terkait kejelasan sasaran anggaran


persentase skor yang diperoleh sebesar 85,1% berada pada rentang
persentase antara 84,1%-100% dan terkategorikan sangat jelas. Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa kejelasan sasaran anggaran pada SKPD
di Kabupaten Karawang tergolong sangat jelas.

C. Tanggapan Responden Terkait Sistem Pengendalian Internal

Rekapitulasi tanggapan responden secara keseluruhan terkait dengan


sistem pengendalian internal persentase skor sebesar 83,2% berada pada
rentang persentase antara 68,1%-84% dan terkategorikan baik. Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa sistem pengendalian internal pada
SKPD di Kabupaten Karawang sudah dilaksanakan dengan baik.

9
D. Tanggapan Responden Terkait Kinerja Instansi Pemerintah
Daerah

Rekapitulasi tanggapan responden secara keseluruhan berkaitan dengan


kinerja instansi pemerintah daerah, nilai persentase skor sebesar 79,3%
berada pada rentang persentase antara 68,1%-84% dan terkategorikan baik.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa SKPD di Kabupaten Karawang
memiliki kinerja yang baik.

Berdasarkan hasil analisis deskriptif tanggapan responden dari 31 SKPD


yang diteliti menunjukan bahwa partisipasi anggaran, kejelasan sasaran
anggaran, sistem pengendalian internal, dan kinerja instansi pemerintah daerah
telah dilaksanakan dengan baik Variabel yang memeroleh skor paling tinggi
diantara variabel yang lainnya adalah variabel partisipasi anggaran, namun ada
beberapa dimensi yang harus mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah
daerah. Dimensi – dimensi tersebut adalah perspektif pelanggan yang terdiri
dari tangibility, reability, responsiveness, assurance, dan emphaty, serta
perspektif keuangan yang terdiri dari ekonomis, efisien, dan efektif. Apabila
permasalahan mengenai dimensi – dimensi yang belum mencapai optimal
terselesaikan dengan segera, maka implementasi kinerja instansi pemerintah
daerah pada seluruh SKPD akan berjalan dengan sangat baik.

4.2 Analisis Data dan Analisis Jalur

A. Validitas dan Reabilitas

Semua pertanyaan pada kuesioner valid karena koefisien validitas lebih dari
0,3 dan seluruh variabel memiliki koefisien cronbach alpha lebih dari 0,6
sehingga dapat dipastikan valid dan dapat dipercaya yang bisa digunakan pada
analisis statistik yang lainnya.

B. Uji Normalitas

Dalam penelitian ini, uji statistik yang digunakan untuk menguji normalitas
data adalah Kolmogorov- Smirnov dengan dasar pengambilan keputusan
apabila nilai Asymp. Sig > 0,05 (α), Mengacu pada kriteria pengambilan
keputusan dari uji normalitas, diketahui bahwa seluruh variabel yang dilibatkan
kedalam model path analysis memiliki data yang terditribusi secara normal
dikarenakan nilai Asymp. Sig yang dihasilkan jauh lebih besar dari 0,05, dengan
masing – masing nilai Asymp. Sig X1 = 0,851; X2 = 0,850; X3 = 0,827; Y =
0,870.

10
Tabel 1
Hasil Pengujian Normalitas Data

Sumber: Hasil olah data menggunakan program SPSS 23.0

Sumber: Hasil olah data menggunakan program SPSS 23.0

Gambar 1 Grafik Uji Normalitas

11
Dari grafik normal probability plot terlihat titik-titik menyebar sekitar garis
diagonal, serta penyebarannya mendekati garis diagonal. Jika penyebaran
disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal atau grafik
histrogramnya menunjukkan bahwa variabel-variabel telah terdistribusi secara
normal maka path analysis memenuhi asumsi normalitas. Mengacu pada
kriteria pengambilan keputusan dari uji normalitas, diketahui bahwa seluruh
variabel yang dilibatkan kedalam model path analysis memiliki data yang
terditribusi secara normal dikarenakan nilai Asymp. Sig yang dihasilkan jauh
lebih besar dari 0,05.

C. Koefisien Korelasi

Tabel 2
Koefisien Korelasi

Sumber: Hasil olah data menggunakan program SPSS 23.0

Berdasarkan tabel di atas, koefisien korelasi antara partisipasi anggaran (X1)


dengan kinerja instansi pemerintah daerah (Y) adalah sebesar 0,761 dan
terkategorikan kedalam hubungan yang kuat (interval korelasi 0,60-0,79).
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara
partisipasi anggaran dengan kinerja instansi pemerintah daerah; Koefisien
korelasi antara kejelasan sasaran anggaran (X2) dengan kinerja instansi
pemerintah daerah (Y) adalah sebesar 0,684 dan terkategorikan kedalam
hubungan yang kuat (interval korelasi 0,6-0,79). Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara kejelasan sasaran
anggaran dengan kinerja instansi pemerintah daerah; Koefisien korelasi antara
sistem pengendalian internal (X3) dengan kinerja instansi pemerintah daerah (Y)
adalah sebesar 0,733 dan terkategorikan kedalam hubungan yang kuat (interval
korelasi 0,6-0,79). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat
hubungan yang terkategorikan sangat kuat antara sistem pengendalian internal
dengan kinerja instansi pemerintah daerah; Koefisien korelasi antara partisipasi
anggaran (X1) dengan kejelasan sasaran anggaran (X2) adalah sebesar 0,645 dan
terkategorikan kedalam hubungan yang kuat (interval korelasi 0,6-0,79); Nilai

12
korelasi antara partisipasi anggaran (X1) dengan sistem pengendalian internal
(X3) adalah sebesar 0,637 dan terkategorikan kedalam hubungan yang kuat
(interval korelasi 0,60-0,79); Koefisien korelasi antara kejelasan sasaran
anggaran (X2) dengan sistem pengendalian internal (X3) adalah sebesar 0,461 dan
terkategorikan kedalam hubungan yang cukup kuat (interval korelasi 0,40-0,59).

D. Koefisien Jalur

Tabel 3
Hasil Perhitungan Koefisien Jalur antara Partisipasi Anggaran,
Kejelasan Sasaran Anggaran dan Sistem Pengendalian Internal
Terhadap Kinerja Instansi Pemerintah Daerah

Sumber: Hasil olah data menggunakan program SPSS 23.0

Pada tabel 4.29 di atas, dapat dilihat koefisien jalur untuk partisipasi
anggaran (ρyx1) adalah sebesar 0,320, kejelasan sasaran anggaran (pyx2) sebesar
0,297 dan sistem pengendalian internal (pyx3) sebesar 0,392

Tabel 4
Kontribusi Pengaruh dari Partisipasi Anggaran, Kejelasan Sasaran
Anggaran dan Sistem Pengendalian Internal Terhadap Kinerja Instansi
Pemerintah Daerah

Sumber: Hasil olah data menggunakan program SPSS 23.0

Dari tabel di atas, dapat dilihat nilai R Square yang diperoleh adalah sebesar
0,734 yang berarti partisipasi anggaran, kejelasan sasaran anggaran dan sistem

13
pengendalian internal secara simultan memberikan kontribusi pengaruh sebesar
73,4% terhadap kinerja instansi pemerintah daerah, sedangkan sebanyak (1-R2)
26,6% sisanya merupakan besarnya kontribusi pengaruh yang diberikan oleh
faktor lainnya yang tidak diteliti (ε).
Persamaan struktural yang menjelaskan pengaruh partisipasi anggaran,
kejelasan sasaran anggaran dan sistem pengendalian internal terhadap kinerja
instansi pemerintah daerah adalah sebagai berikut:

Y = 0,320 (ρyx1) + 0,297 (ρyx2) + 0,392 (ρyx3) + 0,266 (ε)

Jika dipetakan dalam bentuk diagram jalur, nilai korelasi (r), koefisien jalur
(ρyxi) serta nilai epsilon (ε) akan tampak sebagai berikut:

Gambar 2
Diagram Jalur Pengaruh Partisipasi Anggaran, Kejelasan Sasaran
Anggaran dan Sistem Pengendalian Internal Terhadap Kinerja Instansi
Pemerintah Daerah

E. Kontribusi Pengaruh Langsung dan Tidak Langsung

Tabel 5
Rekapitulasi Kontribusi Pengaruh Langsung dan Tidak Langsung

IE (Melalui)
Model ρyxi DE (ρyxi)2 Jumlah
X1 X2 X3

Partisipasi Anggaran (X1) 0,320 10,2% 6,1% 8% 24,3%

14
Kejelasan Sasaran Anggaran (X2) 0,297 8,8% 6,1% 5,4% 20,3%

Sistem Pengendalian Internal (X3) 0,392 15,4% 8% 5,4% 28,8%

Total Effect 73,4%

Sumber: Hasil Perhitungan (2019)

Total kontribusi pengaruh antara partisipasi anggaran (X1) terhadap kinerja


instansi pemerintah daerah sebesar 24,3%. Dapat disimpulkan bahwa
partisipasi anggaran berpengaruh positif terhadap kinerja instansi pemerintah
daerah.
Total kontribusi pengaruh antara kejelasan anggaran (X2) terhadap kinerja
instansi pemerintah daerah sebesar 20,3%. Dapat disimpulkan bahwa kejelasan
sasaran anggaran berpengaruh positif terhadap kinerja instansi pemerintah
daerah.
Total kontribusi pengaruh antara sistem pengendalian internal (X3) terhadap
kinerja instansi pemerintah daerah sebesar 28,8%. Dapat disimpulkan bahwa
sistem pengendalian internal berpengaruh positif terhadap kinerja instansi
pemerintah daerah.

4.3 Pembahasan

Berdasarkan hasil analisis data, dapat diketahui bahwa partisipasi anggaran,


kejelasan sasaran anggaran, sistem pengendalian internal yang dilakukan pada
31 SKPD di Kabupaten Karawang yang dijadikan tempat penelitian
berpengaruh positif terhadap kinerja instansi pemerintah daerah Kabupaten
Karawang dengan kontribusi pengaruh yang diberikan yaitu sebesar 73,4%,
sedangkan sebanyak 26,6% sisanya merupakan besar kontribusi pengaruh yang
diberikan oleh faktor – faktor lain seperti gaya kepemimpinan, kualitas sumber
daya manusia, kompetensi, komitmen pimpinan, komitmen organisasi,
anggaran berbasis kinerja, pengawasan fungsional, pengendalian akuntansi,
sistem akuntansi, dan sistem pelaporan.
Berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh bahwa secara parsial
partisipasi Anggaran berpengaruh positif terhadap kinerja instansi pemerintah
daerah dengan kontribusi pengaruh yang diberikan yaitu sebesar 24,3%. Nilai
koefisien variabel sebesar 0,320 dan bernilai positif. Hal tersebut berarti
Semakin banyak staff atau pegawai yang berpartisipasi dalam penyusunan
anggaran akan meningkatkan kinerja instansi pemerintah daerah di Kabupaten
Karawang.
Berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh bahwa secara parsial
kejelasan sasaran anggaran berpengaruh positif terhadap kinerja instansi
pemerintah daerah dengan kontribusi pengaruh yang diberikan yaitu sebesar
20,3%. Nilai koefisien jalur variabel sebesar 0,297 dan bernilai positif, maka
dapat diartikan bahwa sasaran anggaran yang jelas akan berdampak pada
semakin baiknya kinerja instansi pemerintah daerah di Kabupaten Karawang.
Berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh bahwa secara parsial
pengaruh Sistem Pengendalian Internal terhadap kinerja instansi pemerintah

15
daerah dengan kontribusi pengaruh yang diberikan yaitu sebesar 28,8%. Nilai
koefisien variabel sebesar 0,392 dan bernilai positif, maka dapat diartikan
bahwa semakin baiknya sistem pengendalian internal makan berdampak pada
semakin baiknya kinerja instansi pemerintah daerah di Kabupaten Karawang.
Hasil penelitian yang dilakukan untuk menguji kebenaran hipotesis
partisipasi anggaran secara parsial berpengaruh positif terhadap kinerja instansi
pemerintah daerah berdasarkan teori dan hasil penelitian yang dilakukan oleh
penelitian terdahulu konsisten dengan penelitian dari Cecilia Lelly Kewo (2014)
yang menyimpulkan bahwa penganggaran partisipatif berpengaruh terhadap
kinerja manajerial pemerintah daerah; Gul, et al (1995) menyatakan bahwa
dalam penyusunan anggaran partisipasi yang tinggi berpengaruh positif
terhadap kinerja organisasi yang menerapkan desentralisasi; Abata, Mathew A.
(2014) menyatakan bahwa terdapat hubungan yang positif namun lemah antara
partisipatif dengan kinerja manajerial di Nigeria; Owusu, et al (2014)
disimpulkan bahwa partisipasi anggaran berpengaruh positif namun terhadap
kinerja karyawan; Brownell, Peter (1982) memberi kesimpulan bahwa terdapat
pengaruh positif antara partisipasi dan kinerja manajerial dengan motivasi
sebagai variabel intervening; Kennis, Izzetin (1979) memberikan kesimpulan
terhadap partisipasi anggaran menyatakan bahwa partisipasi anggaran
berpengaruh positif dan terhadap kinerja manajerial. Semakin tinggi
keterlibatan aparat pemerintah daerah dalam menyusun anggaran tersebut akan
mendorong para aparat untuk bertanggung jawab terhadap masing-masing tugas
yang diembannya sehingga dapat meningkatkan kinerja agar target yang telah
ditetapkan akan tercapai
Kejelasan Sasaran Anggaran anggaran secara parsial berpengaruh positif
terhadap kinerja instansi pemerintah daerah dan membuktikan dan memperkuat
hasil penelitian Erica Magdalena (2014) yang menyimpulkan bahwa
akuntabilitas publik berpengaruh positif pada kinerja. Nur Atika Aini (2015)
disimpulkan bahwa kejelasan sasaran anggaran berpengaruh positif pada
kinerja pemerintah daerah; Cecilia Lelly Kewo (2014) disimpulkan bahwa
kejelasan sasaran anggaran berpengaruh terhadap kinerja manajerial
pemerintah daerah; Chong M. Lau (2011) melakukan penelitian terhadap
sasaran yang jelas dengan memberikan kesimpulan bahwa pengukuran terhadap
kinerja menggunakan ukuran nonfinansial yang memberi hasil bahwa sasaran
yag jelas dapat meningkatkan kinerja karyawan; Kennis, Izzetin (1979)
memberikan kesimpulan bahwa kejelasan sasaran anggaran berpengaruh positif
terhadap kinerja manajerial. Dapat disimpulkan bahwa sasaran anggaran yang
jelas akan berdampak terhadap semakin baiknya kinerja Instansi Pemerintah
Daerah, sebaliknya sasaran anggaran yang kurang jelas akan berdampak pula
pada kurang baiknya kinerja dari Instansi Pemerintah Daerah. Dapat
disimpulkan bahwa dengan adanya sasaran anggaran yang jelas, aparat
pelaksana anggaran juga akan terbantu dalam perelasasiannya maka hal ini akan
mempengaruhi kinerja aparat pemerintah daerah. Dengan adanya suatu
kejelasan sasaran anggaran yang jelas akan mempermudah untuk pelaksanaan
dalam satau pekerjaan di dalam kinerja aparat pemerintah daerah. Kejelasan
sasaran anggaran menyebabkan aparat pemerintah daerah semakin mengerti
target-target yang akan dicapai dimasa datang sehingga dapat mengingkatkan
kinerja. Anggaran yang tidak diketahui sasarannya akan mengakibatkan tidak

16
sesuainya kegunaan dari anggaran yang semula direncanakan. Sasaran anggaran
daerah harus bisa menjadi tolok ukur pencapaian kinerja yang diharapkan,
sehingga perencanaan penganggaran daerah dapat menggambarkan sasaran
kinerja yang jelas.
Terjadi ketidakkonsistenan antara penelitian yang dilakukan oleh (Silalahi,
2017) dengan peneliti yang lainnya. (Silalahi, 2017) berpendapat bahwa
variabel kejelasan sasaran anggaran tidak memiliki pengaruh terhadap kinerja
pemerintah secara langsung.
Sistem Pengendalian Internal secara parsial berpengaruh positif terhadap
kinerja instansi pemerintah daerah dan membuktikan dan memperkuat hasil
penelitian Edipson Bayer Silalahi (2017) disimpulkan bahwa pengendalian
internal berpengaruh positif pada akuntabilitas kinerja instansi pemerintah.
Taufan Dharmawan (2016) bahwa implementasi sistem pengendalian internal
berpengaruh positif pada kinerja instansi pemerintah; Rizky Darmawan (2016)
disimpulkan bahwa pengendalian internal berpengaruh pada kinerja manajerial;
Erica Magdalena (2014) disimpulkan bahwa pengendalian internal berpengaruh
positif pada kinerja manajerial; Nur Atika Aini (2015) disimpulkan bahwa
kejelasan sasaran anggaran berpengaruh terhadap kinerja pemerintah daerah;
Cecilia Lelly Kewo (2014) disimpulkan bahwa terdapat pengaruh impelentasi
pengendalian internal terhadap kinerja manajerial pemerintah daerah. Dapat
disimpulkan bahwa dengan adanya sistem pengendalian internal yang
dilakukan dengan baik maka kegiatan yang dilaksanakan/diselenggarakan oleh
pemerintah akan berjalan secara efektif dan efisien, serta meyakinkan bahwa
kegiatan yang dilakukan sesuai dengan pencapaian tujuan. Sistem pengendalian
internal yang baik akan mengarah pada peningkatan kinerja organisasi dan
mendorong pengambilan keputusan yang lebih baik oleh manajer atasan
maupun bawahan. Peningkatan kinerja manajemen dan akuntabilitas internal
yang berdampak pada masyarakat merupakan hal yang tidak terpisah dari tujuan
sistem pengendalian internal.
Secara simultan Partisipasi Anggaran, Kejelasan Sasaran Anggaran, dan
Sistem Pengendalian Internal berpengaruh positif terhadap Kinerja Instansi
Pemerintah Daerah dan membuktikan serta memperkuat hasil penelitian yang
dilakukan oleh Cecilia Lelly Kewo (2014) menunjukan hasil bahwa
penganggaran partisipatif, kejelasan sasaran anggaran, dan implementasi
pengendalian intern berpengaruh secara simultan terhadap kinerja manajerial
pemerintah daerah. Dapat disimpulkan bahwa semakin banyak staff atau
pegawai yang berpartisipasi dalam penyusunan anggaran, sasaran anggaran
yang ditentukan secara jelas, dan semakin baiknya sistem pengendalian internal
maka akan berdampak terhadap semakin baiknya Kinerja Instansi Pemerintah
Daerah.

5. Kesimpulan dan Saran

Secara simultan partisipasi anggaran, kejelasan sasaran anggaran, dan


sistem pengendalian internal berpengaruh positif terhadap Kinerja Instansi
Pemerintah Daerah. Secara parsial partisipasi anggaran, kejelasan sasaran
anggaran, dan sistem pengendalian internal masing masing berpengaruh positif
terhadap kinerja instansi pemerintah daerah Kabupaten Karawang.

17
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dianalisis dan disimpulkan,
diharapkan mempunyai implikasi yang luas untuk penelitian dengan topik
serupa. Adapun saran serta implikasi hasil penelitian sebagai berikut :
1. Untuk penelitian selanjutnya yang tertarik membahas terkait kinerja
instansi pemerintah daerah, dapat menambah variabel – variabel
penelitian lain yang tidak dianalis dalam penelitian ini. Seperti gaya
kepemimpinan, kualitas sumber daya manusia, komitmen pimpinan,
komitmen organisasi, anggaran berbasis kinerja, pengawasan
fungsional, pengendalian akuntansi, sistem akuntansi, sistem pelaporan,
dan faktor lainnya.
2. Melengkapi metode penelitian dengan melakukan wawancara untuk
meningkatkan keyakinan dan kebenaran atas jawaban responden untuk
mencegah terjadinya hasil penelitian.
3. Apabila ingin melakukan penelitian yang sama, hendaknya dilakukan
observasi pendahuluan di awal penelitian agar dapat menentukan SKPD
mana saja yang bersedia untuk dilakukan penelitian dan dapat diambil
datanya sehingga penelitian dapat dilaksanakan dengan baik.

18
DAFTAR PUSTAKA

A, G. F., Tsui, J. S., Fong, S. C., & Kwok, H. Y. (1995). Decentralisation as a


Moderating Factor in the Budgetary Participation-Performance
Relationship: Some Hong Kong Evidence. Accounting and Business
Research, 25(98), 107-113.
Abata, M. A. (2014). Participative Budgeting and Managerial Performance in the
Nigerian Food Products Sector. Global Journal of Contemporary Research
in Accounting, Auditing and Business Ethics (GJCRA), 1(3), 148-167.
Abdullah, A. H. (2003). Pengaruh Dana Alokasi Umum (DAU) dan Pendapatan
Asli Daerah (PAD) terhadap Belanja Pemerintah Daerah, Studi Kasus
Kabupaten/Kota di Jawa dan Bali. Seminar Nasional Akuntansi VI.
Abdullah, M. (2014). Manajemen dan Evaluasi Kinerja Karyawan. Yogyakarta:
Aswaja Pressindo.
Ahmed, Z. U. (2005). Implementing participatory Budgeting Approach in Least
Developed Countries (LDC) : Myth and Reality. The Cost and
Management, 33, 75-84.
Aini, N. A. (2015, Oktober). Pengaruh Kejelasan Sasaran Anggaran, Pengendalian
Internal, dan Desentralisasi terhadap Kinerja Pemerintah Daerah. Jom
FEKON, 2(2), 1-14.
Anggraeni, R. (2009). Pengaruh Partisipasi Anggaran dan Komitmen Organisasi
Terhadap Kinerja SKPD Pemerintahan Kabupaten Labuhan Batu. Medan:
Universitas Sumatera Utara.
Anindita, D. Y. (2010, Januari 7). Penerapan New Public Management di Indonesia.
Retrieved September 12, 2018, from Detik News:
https://news.detik.com/opini-anda/1273191/penerapan-new-public-
management-di-indonesia-
Arens, A. A., Elder, R. J., & S., B. M. (2014). Auditing and Assurance Services.
New Jersey: Prentice Hall.
Arikunto, S., Suhardjono, & Supardi. (2015). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta:
Bumi Aksara.
Bastian, I. (2006). Akuntansi Sektor Publik. Jakarta : Erlangga.
Brownell, P. (1982, Oktober). Field Study Examination of Budgetary Participation
and Locus of Control. The Accounting Review, 766-777.

19
Brownell, P. (1982). Participation in The Budgeting Process : When it works and
when it doesn't. Journal of Accounting Literature, 1, 124-153.
Brownell, P., & Innes, M. M. (1986). Budgetary Participation, Motivation, and
Managerial Performance. The Accounting Reviews, 61(4), 587-612.
Bulan, R. F. (2011). Pengaruh Partisipasi Anggaran dan Kejelasan Sasaran
Anggaran Terhadap Job Relevant Information Serta Implikasinya Pada
Senjangan Anggaran (Studi Pada Pemerintah Daerah Kabupaten Bireuen).
Jurnal Telaah & Riset Akuntansi, 4(1), 33-50.
Chartered Institute of Management Accountants. (2014, Oktober 29). Retrieved
Desember 04, 2018, from Chartered Institute of Management Accountants:
http://www.cimaglobal.com/
Darmawan, R. (2016, Februari). Pengaruh Akuntabilitas Publik, Kejelasan Sasaran
Anggaran, Desentralisasi, dan Sistem Pengendalian Internal Terhadap
Kinerja Manajerial di SKPD Kabupaten Bengkalis. JOM Fekon, 3(1), 792-
806.
Dessler, G. (2013). Human Resource Management (13 ed.). New Jersey: Pearson
Education. Inc.
Dharmawan, T. (2016). Pengaruh Implementasi Sistem Pengendalian Internal
Terhadap Kinerja Instansi Pemerintah. Jurnal Riset Akuntansi dan
Keuangan, 4(1), 942-948.
Dwirianti, I. (2015, Oktober). Pengaruh Karakteristik Tujuan Anggaran Terhadap
Kinerja Pemerintah Daerah di Kabupaten Pelalawan. Jom FEKON , 2(2), 1-
14.
Elwood, S. (1993). Parish and Town Councils : Financial Accountability and
Management. Local Goverment Studies, 19, 368-286.
Fauzan, R. H. (2017, Februari). Pengaruh Kejelasan Sasaran Anggaran,
Pengendalian Akuntansi, Sistem Pelaporan dan Penerapan Akuntabilitas
Keuangan Terhadap Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. JOM
Fekon, 4(1), 1122-1136.
Fauzan, R. H. (2017, Februari). Pengaruh Kejelasan Sasaran Anggaran,
Pengendalian Akuntansi, Sistem Pelaporan DAN Penerapan Akuntabilitas
Keuangan Terhadap Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. JOM
Fekon, 4(1), 1122-1136.
Fitri, T. R. (2016). Pengaruh Budgetary Goal Characteristics, Kompensasi
Terhadap Kinerja Aparat Pemda Dengan Motivasi Sebagai Variabel
Moderasi (Studi Kasus Pada Dinas-Dinas Kabupaten Rokan Hilir. JOM
FEKON, 3(1), 520-534.

20
Gamawan, F. (2015, November 23). Retrieved Desember 03, 2018, from Buruknya
penyusunan anggaran di daerah: http://nasional.kontan.con.id/news
Gasperz, V. (2005). Sistem Manajemen Terintegrasi : Balanced Scorecard (3 ed.).
Jakarta: Gramedia Pustaka.
Ghozali, I. (2016). Aplikasi Analisis Multivariete dengan Program IBM SPSS 23.
Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Glynn. (1993). American Accounting Association (1970). New Jersey: Prentice-
Hall.
Guilford, J. P. (1956). Fundamental Statistic in Psychology and Education (3th ed.).
New York : McGraw-Hill Book Company, Inc.
Halim, A., & Abdullah, S. (2006). Hubungan dan Masalah Keagenan di Pemerintah
Daerah. Jurnal Akuntansi Pemerintah, 2(1), 53-64.
Hansen, D. R., & Mowen, M. (2007). Management Accounting. Jakarta: Salemba
Empat.
Hariani, S. (2018, Agustus). Pengaruh Partisipasi Anggaran, Evaluasi Anggaran,
Dan Kesulitan Pencapaian Tujuan Anggaran Terhadap Kinerja Instansi
Pemerintah Daerah (Studi Empiris Pada SKPD Walikota Jakarta Barat).
Profita: Komunikasi Ilmiah Akuntansi dan Perpajakan, 11(2), 273-283.
Haryanto, Sahmuddin, & Arifuddin. (2007). Akuntansi Sektor Publik. Semarang:
Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Haryono, S. (2013, Januari 1). Balanced Scorecard untuk mengukur Kinerja Sektor
Publik. Jurnal STIE YPN, 4(1), 32-54.
Herawati, N. (2014, September). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Akuntabilitas
Kinerja Instansi Pemerintah Daerah Kota Jambi . Jurnal Cakrawala
Akuntansi, 6(2), 151-161.
Hoitash, U., Hoitash, R., & Bedard, J. C. (2009). Corporate Governance and
Internal Control Over Financial Reporting : A Comparison of Regulatory
Regimes. The Accounting Review, 84(3), 839-867.
Hongren, C. T. (2003). Cost Accounting : A Managerial Emphasis (11 ed.). New
Jersey: Prentice-Hall, Inc.
Hopwood, A. G. (1984). Issues In Public Sector Accounting. (Mahmudi, Trans.)
Oxford: Phillip Allan.
Indraningsih. (2010). Pengukuran KInerja Kantor Perwakilan Pemerintah Provinsi
Jawa Barat di Jakarta dengan Pendekatan Balanced Scorecard. Tesis
Program Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik, FE UI.
Juanim. (2004). Analisis Jalur dalam Riset Pemasaran, . Bandung: Universitas
Pasundan .

21
Kaltsum, U. (2012). Pengaruh Kejelasan Sasaran Anggaran Terhadap Akuntabilitas
Kinerja Instansi Pemerintah Melalui Sistem Pengendalian Internal Sebagai
Variabel Intervening. Diponegoro Journal of Accounting, 1(1), 1-14.
Kenis, I. (1979, Oktober). Effect of Budgetary Goal Characteristics on Managerial
Attitudes and Performance. The Acounting Review, 54(4), 707-721.
Kewo, C. L. (2014). The Effect of Participative Budgeting, Budget Goal Clarity
and Internal Control Implementation On Managerial Performance. Research
Journal of Finance and Accounting, 5(12), 81-87.
Kewo, C. L. (2017). Pengaruh Penganggaran Partisipatif, Kejelasan Sasaran
Anggaran Dan Implementasi Pengendalian Intern Terhadap Kinerja
Manajerial Serta Pengaruh Kinerja Manajerial Terhadap Akuntabilitas
Keuangan. Bandung: Universitas Padjadjaran.
Killian, L. (1999). Once more with feeling : Performance Budgets. Spring Journal,
44(2), 23-26.
Krina, L. L. (2003). Indikator & Alat Ukur Prinsip Akuntabilitas, Transparansi &
Partisipasi. Jakarta: Sekretariat Good Public Governance Badan
Perencanaan Pembangunan Nasional.
Kumolo, T. (2015, Maret 25). Retrieved Desember 03, 2018, from Tjahjo Kumolo:
92% Kota Indonesia Pakai APBD Cuma untuk Gaji PNS:
http://www.tjahjokumolo.com/tjahjo-kumolo-92-kota-indonesia-pakai-
apbd-cuma-untuk-gaji-pns%E2%80%8F/
Kurnia, R. (2004). Pengaruh Budgetary Goal Characteristics terhadap Kinerja
Manajerial dengan Budaya Paternalistik dan Komitmen Organisasi sebagai
Variabel Moderating. Bali: Jurnal Simosium Nasional Akuntansi VII.
Lau, C. M. (2011). Nonfinancial and financial performance measures : How do they
affect employee role clarity and performance? Elsevier ltd, Advances in
Accounting, Incorporating Advances in International Accounting, 286-293.
Lau, C. M., & Lim, E. W. (2002). The Effects of Prosedural Justice and Evaluative
Styles on The Realtionship Between Budgetari Participation and
Performance. Advances in Accounting, 19, 139-160.
Lawyer, C. O. (2014). Cost Control and Accountability for Effective Budget
Implementation. Research Journal of Finance and Accounting, 5(21), 199-
202.
Lestari, F. (2015). Pengaruh Kejelasan Sasaran Anggaran, Kinerja Manajerial,
Pelaporan/Pertanggungjawaban Anggaran, TTransparasi Publik dan
Aktivitas Pengendalian Terhadap Akuntabilitas Kinerja Instansi
Pemerintah. Skripsi: Universitas Maritim Raja Ali Haji.

22
Locke, G. P., & Latham, E. A. (1984). Goal Setting. A motivational technique that
works. New Jersey: Pretince Hall.
Lubis, A. F. (2016). Metode Penelitian Akuntansi dan Format Penulisan Tesis.
Medan : USU Press.
Lukka, K. (1988). Budgetary Biasing in Organization : Theoritical Framework and
Empirical Evidence. Accounting, Organization and Society, 13, 281-301.
Lupia, A., & McCubbins, M. (2000). Representation or abdication? How citizens
use institutions to help delegation succed. European Journal of Political
Research, 37, 291-3017.
Magdalena, E. (2014, Oktober). Pengaruh Akuntabilitas Publik, Kejelasan Sasaran
Anggaran dan Pengendalian Intern Terhadap Kinerja Manajerial Instansi
Pemerintah. JOM FEKON, 1(2), 1-15.
Maharani, A. S., Jeffrey, I., & Kurniasih, A. (2016, Juli). Analisis Kinerja Pegawai
Melalui Pendekatan Balanced Scorecard Pada Kantor Sekretariat Daerah
Kota Depok. Telaah Bisnis, 17(1), 35-50.
Mah'd, D. M., Nimer, D. K., & Al-okdeh, D. (2011, Oktober). The Impact of
Managers’ Related Variables and Department Features on Budget
Characteristic : The Case of Private Jordanian Universities. International
Business Research, 4(4), 199-210.
Mahmudi. (2007). Manajemen Kinerja Sektor Publik. Yogyakarta: UPP STIM
YKPN.
Mahmudi. (2010). Manajemen Kinerja Sektor Publik. Yogyakarta: UPP STIM
YKPN.
Mahsun, M. (2009). Pengukuran Kinerja Sektor Publik (3th ed.). Yogyakarta:
BPFE.
Mangkunegara, A. A. (2010). Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan.
Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Mardiasmo. (2009). Akuntansi Sektor Publik. Yogyakarta: ANDI.
Mardiasmo. (2009). Akuntansi Sektor Publik. Yogyakarta: ANDI.
Mardiasmo. (2011). Akuntansi Sektor Publik. Yogyakarta: ANDI.
Meifadillah, I. T. (2016). Pengaruh Penerapan Sistem Pengendalian Intern
Pemerintah (SPIP) dan Kejelasan Sasaran AnggaranTerhadap Kinerja
SKPD. Skripsi: Universitas Pasundan Bandung.
Milani, K. (1975). The Relationship of Participation in Budget-Setting to Industrial
Supervisor Performance and Attitudes : A Fielsd Study. The Accounting
Review, 274-284.

23
Moeheriono. (2012). Pengukuran Kinerja Bebasis Kompetensi. Jakarta: Raja
Grafindo Persada.
Murray, D. (1990). The Performance Effect of Participative Budgeting : An
Integration of Intervening and Moderating Variables. Behavioral Research
in Accounting, 104-123.
Mutaqien, Z. (2006). Penilaian Kinerja Lima Puskesmas di Kota Cirebon dengan
Pendekatan Balanced Scorecard. Tesis Program Pasca Sarjana, MPKP
FEUI.
Noor, J. (2015). Metodologi Penelitian. Jakarta: Prenadamedia Group.
Owusu, E. E., Dwomoh, G., Collins, M., Yaa, G., & Daniel, O. (2014, Januari).
Assessing the Relationship between Budget Participation and Employees’
Performance of Public Universities in Ghana: a Case of University of
Education. International Journal of Academic Research in Accounting,
Finance and Management Sciences, 4(1), 85-96.
Paramitha, I. A. (2016, September). Pengaruh Ketepatan Sasaran Anggaran, Sistem
Pengendalian Manajerial Sektor Publik Dan Sistem Pelaporan Pada
Akuntabilitas Kinerja Pada Pemerintah Kabupaten Tabanan. E-Jurnal
Akuntansi Universitas Udayana, 16(3), 2457-2479.
Parasuraman, A., Zeithaml, V. A., & Berry, L. L. (2009). A Conceptual Model of
Service Quality and Its Implications for Future Research. The Journal of
Marketing, 49(4), 41-50.
Pemerintah Kabupaten Karawang. (n.d.). Laporan Kinerja Instansi Pemerintah
Kabupaten Karawang Tahun 2017.
Pemerintah Kabupaten Karawang. (n.d.). Peraturan Bupati No. 1 Tahun 2017
tentang Kebijakan Pengawasan Pemerintah .
Pemerintah Kabupaten Karawang. (n.d.). Peraturan Daerah No. 14 Tahun 2016
tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah Kabupaten
Karawang.
Prasetyo, T. (2014). Pengaruh Manajemen Sarana Prasarana dan Motivasi Kerja
Terhadap KInerja Pegawai di Inspektorat Provinsi Kepulauan RIau. Tesis:
Universitas Terbuka Jakarta.
Pratama, A. P. (2014). Pengaruh Kualitas Sistem Informasi, Kualitas Informasi, dan
Kualitas Layanan E-Kinerja Terhadap Kepuasan Pengguna Pada Satuan
Kerja Perangkat Daerah Percontohan di Kota Banda Aceh . Skripsi:
Universitas Syiah Kuala Banda Aceh.
Putra, D. (2013). Pengaruh Akuntabilitas Publik dan Kejelasan Sasaran Anggaran
Terhadap Kinerja Manajerial SKPD (Studi Empiris pada Satuan Kerja
Perangkat Daerah Kota Padang). Jurnal Akuntansi, 1-23.

24
Reding, K. F. (2013). Internal Auditing. Florida: The Institute of Internal Auditors
Research Foundation.
Reding, K. F. (2013). Internal Auditing : Assurance & Advisory Services. Florida:
The Institute of Internal Auditors Research Foundation.
Republik Indonesia. (2002). Buku Pedoman Penguatan Pengamanan Program
Pembangunan Daerah. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional &
Departemen Dalam Negeri.
Republik Indonesia. (n.d.). Keputusan Menteri Pendayaan Aparatur Negara Nomor
63 Tahun 2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan
Publik.
Republik Indonesia. (n.d.). Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur
Negara No. 5 Tahun 2008 Tentang Standar Audit Aparat Pengawasan Intern
Pemerintah.
Republik Indonesia. (n.d.). Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan
Reformasi Birokrasi No. 12 Tahun 2015 Tentang Pedoman Evaluasi Atas
Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah.
Republik Indonesia. (n.d.). Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan
Reformasi Birokrasi No.53 Tahun 2014 Tentang Petunjuk Teknis Perjanjian
Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu Atas Laporan Kinerja
Instansi Pemerintah.
Republik Indonesia. (n.d.). Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan
Reformasi Birokrasi No.9 Tahun 2007.
Republik Indonesia. (n.d.). Peraturan Pemerintah No. 60 Tahun 2008 tentang
Sistem Pengendalian Internal Pemerintah.
Republik Indonesia. (n.d.). Peraturan Presiden No. 29 Tahun 2014 Tentang Sistem
Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah.
Republik Indonesia. (n.d.). Undang-Undang No. 15 Tahun 2004 Tentang
Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara.
Republik Indonesia. (n.d.). UU No. 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintah Daerah.
Riduwan, & Kuncoro, E. A. (2014). Analisis Jalur. Bandung: Alfabeta.
Risdiana, P. (2018). Pengaruh Partisipasi Penyusunan Anggaran, Kejelasan Sasaran
Anggaran, dan Budaya Organisasi Terhadap Kinerja Pemerintah Daerah
Purworejo (Studi Empiris Pada Dinas dan Badan Satuan Kerja Perangkat
Daerah Kabupaten Purworejo). Surakarta: Universitas Muhammadiyah
Surakarta.

25
Riyanda, M. (2017). Pengaruh Kompetensi dan Disiplin Kerja Terhadap Kinerja
Pegawai pada Dinas Perizinan Kota Yogyakarta. Skripsi , FE Universitas
Yogyakarta.
Robertson, G. (2002). Review Kinerja. In Lokakarya Review Kinerja. BPKP dan
Executive Education.
Salle, A. (2018, November). Pengaruh Karakteristik Tujuan Anggaran dan
Pengelolaan Keuangan Daerah Terhadap Kinerja Pemerintah Daerah Studi
Pada SKPD Pemerintahan Kota Jayapura. Jurnal Akuntansi & Keuangan
Daerah, 13(2), 105-122.
Sarwono, J. (2012). Path Analysis : Teori, Aplikasi, Prosedur Analisis untuk Riset
Skripsi, Tesis, dan Disertasi (Menggunakan SPSS). Jakarta: PT. Elex Media
Komputindo.
Sekaran, U., & Bougie, R. (2013). Research Methods for Business. United
Kingdom: Jhon Wiley & Sons Ltd.
Shah, A. (2007). Public Sector Governance and Accountability series : Local
Budgeting. Washington DC: The International Bank For Reconstruction
and Development/ World Bank.
Shulthoni, M. (2017, April). Perilaku Oportunistik Legislatif Dalam Penganggaran
Daerah. Jurnal Akuntansi dan Ekonomi Bisnis, 6(1), 31-39.
Siegel, G., & Marcony, R. (1989). Behavioral Accounting. Cincinnati Ohio: South
Western Publishing Co.
Silalahi, E. B. (2017). Pengaruh Kejelasan Sasaran Anggaran, Pengendalian
Internal, dan Sistem Pelaporan Terhadap Akuntabilitas Kinerja Instansi
Pemerintah dengan Komitmen Organisasi Sebagai Variabel Moderating
Pada Pemerintah Kabupaten Serdang Begadai. Thesis: Universitas
Sumatera Utara.
Stout, L. D. (1993). Performance Measurement Guide.
Sudarman, F. (2016). Pengaruh Akuntabiltas dan Pengendalian Intern Terhadap
KInerja Instansi Pemerintah. Skripsi: Universitas Komputer Indonesia.
Sugiyono. (2015). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung:
CV. Alfabeta.
Sugiyono. (2015). Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif,
Kualitatif dan R&D). Bandung: CV. Alfabeta.
Sugiyono. (2018). Metode Penelitian Kuantitatif. Bandung: Alfabeta.
Suharyati, E. d. (2010). AUDITING, Konsep Dasar dan Pedoman Pemeriksaan
Akuntan Publik. Yogyakarta: Graha Ilmu.

26
Syafrial. (2009). Pengaruh Ketepatan Skedul Penyusunan Anggaran, Kejelasan
Sasaran Anggaran, dan Partisipasi Penyusunan Anggaran Terhadap Kinerja
Manajerial Satuan Kerja Perangkat Daerah. In Tesis. Universitas Sumatera
Utara.
W., B. A. (2012, Januari). Pengaruh Partisipasi Anggaran, Kejelasan Sasaran
anggaran, Pengendalian Akuntansi dan Sistem Pelaporan Terhadap
Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Daerah Dengan Komitmen
Organisasi Sebagai Variabel Moderasi . Jurnal Akuntansi & Investasi,
13(1), 15-27.
Wampler, B. (2007). A Guide to Participatory Budgeting. In P. S. Series, & A. Shah
(Ed.), Participatory Budgeting. The World Bank.
Whittaker, J. B. (1993). Goverment Performance and Result Act, A Mandate for
Strategic Planning and Performance Measurement.
Widodo, J. (2001). Good Governance: Telaah dari Dimensi: Akuntabilitas dan
Kontrol Birokrasi pada Era Desentralisasi dan Otonomi Daerah. Surabaya:
Insan Cendekia.

27