Anda di halaman 1dari 59

Aqidah

1. Agama Islam

Agama Islam adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa
sallam. Dengan agama inilah Allah menutup agama-agama sebelumnya. Allah telah
menyempurnakan agama ini bagi hamba-hambaNya. Dengan agama Islam ini pula Allah
menyempurnakan nikmat atas mereka. Allah hanya meridhoi Islam sebagai agama yang
harus mereka peluk. Oleh sebab itu tidak ada suatu agama pun yang diterima selain
Islam.

Allah ta’ala berfirman,

‫َّللاِّ َوخَات ََم النَّبِّي‬ ُ ‫ع ِّليماِِّ َّما َكانَ ُم َح َّم ٌد أَبَا أ َ َح ٍد ِّمن ِّر َجا ِّل ُك ْم َولَ ِّكن َّر‬
َّ ‫سو َل‬ َ ‫َّللاُ بِّ ُك ِّل‬
َ ٍ‫ش ْيء‬ َّ َ‫ينَ َو َكان‬

“Muhammad itu bukanlah seorang ayah dari salah seorang lelaki diantara kalian, akan
tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para Nabi.” (QS. Al Ahzab: 40)

Allah ta’ala juga berfirman,

ِّ ‫ضيتُ لَ ُك ُم‬
‫اإل ْسلَ َم دِّينا‬ َ ُ‫ْاليَ ْو َم أ َ ْك َم ْلتُ لَ ُك ْم دِّينَ ُك ْم َوأَتْ َم ْمت‬
ِّ ‫علَ ْي ُك ْم نِّ ْع َمتِّي َو َر‬

“Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kalian agama kalian, dan Aku telah cukupkan
nikmat-Ku atas kalian dan Aku pun telah ridha Islam menjadi agama bagi kalian.” (QS. Al
Maa’idah: 3)

Allah ta’ala juga berfirman,

‫اإل ْسلَ ُم‬


ِّ ِّ‫إِّ َّن الدِّينَ ِّعن َد َّللا‬

“Sesungguhnya agama yang benar di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali Imran: 19)

Allah ta’ala berfirman,

‫اآلخ َرةِّ ِّمنَ ْالخَاس‬


ِّ ‫اإل ْسلَ ِّم دِّينا فَلَن يُ ْقبَ َل ِّم ْنهُ َوه َُو فِّي‬
ِّ ‫غي َْر‬
َ ِّ‫ِّرينَ ِِّ َو َمن يَ ْبت َغ‬

“Dan barang siapa yang mencari agama selain Islam maka tidak akan pernah diterima
darinya dan di akhirat nanti dia akan termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Ali ‘Imran:
85)

Allah ta’ala mewajibkan kepada seluruh umat manusia untuk beragama demi Allah
dengan memeluk agama ini. Allah berfirman kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam,

ُ ‫آمنُواْ ِّباّللِّ َو َر‬


‫سو ِّل ِّه‬ ِّ َ‫ض ال إِّلَـهَ إِّالَّ ه َُو يُحْ يِّـي َوي ُِّميتُ ف‬ ِّ ‫ت َواأل َ ْر‬ ِّ ‫اوا‬ َّ ‫سو ُل َّللاِّ إِّلَ ْي ُك ْم َج ِّميعا الَّذِّي لَهُ ُم ْلكُ ال‬
َ ‫س َم‬ ُ َّ‫قُ ْل يَا أَيُّ َها الن‬
ُ ‫اس إِّنِّي َر‬
ُ
َ‫النَّبِّي ِّ األ ِّمي ِّ الَّذِّي يُؤْ ِّمنُ بِّاّللِّ َو َك ِّل َماتِّ ِّه َواتَّبِّعُوهُ لَعَلَّ ُك ْم ت َ ْهتَدُون‬

“Katakanlah: Wahai umat manusia, sesungguhnya aku ini adalah utusan Allah bagi kalian
semua, Dialah Dzat yang memiliki kekuasaan langit dan bumi, tidak ada sesembahan
yang haq selain Dia, Dia lah yang menghidupkan dan mematikan. Maka berimanlah
kalian kepada Allah dan Rasul-Nya seorang Nabi yang ummi (buta huruf) yang telah
beriman kepada Allah serta kalimat-kalimat-Nya, dan ikutilah dia supaya kalian
mendapatkan hidayah.” (QS. Al A’raaf: 158)

Di dalam Shahih Muslim terdapat sebuah hadits yang diriwayatkan dari jalur Abu
Hurairah radhiallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda
yang artinya, “Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangannya. Tidaklah ada
1
seorang manusia dari umat ini yang mendengar kenabianku, baik yang beragama Yahudi
maupun Nasrani lantas dia meninggal dalam keadaan tidak mau beriman dengan ajaran
yang aku bawa melainkan dia pasti termasuk salah seorang penghuni neraka.”

Hakikat beriman kepada Nabi adalah dengan cara membenarkan apa yang beliau bawa
dengan disertai sikap menerima dan patuh, bukan sekedar pembenaran saja. Oleh sebab
itulah maka Abu Thalib tidak bisa dianggap sebagai orang yang beriman terhadap
Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam walaupun dia membenarkan ajaran yang beliau bawa,
bahkan dia berani bersaksi bahwasanya Islam adalah agama yang terbaik.

Agama Islam ini telah merangkum semua bentuk kemaslahatan yang diajarkan oleh
agama-agama sebelumnya. Agama Islam yang beliau bawa ini lebih istimewa
dibandingkan agama-agama terdahulu karena Islam adalah ajaran yang bisa diterapkan
di setiap masa, di setiap tempat dan di masyarakat manapun. Allah ta’ala berfirman
kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

ِّ ‫صدِّقا ِّل َما بَيْنَ يَ َد ْي ِّه ِّمنَ ْال ِّكت َا‬


‫ب َو ُم َهي ِّْمنا‬ ِّ ‫َاب بِّ ْال َح‬
َ ‫ق ُم‬ َ ‫َوأَنزَ ْلنَا إِّلَيْكَ ْال ِّكت‬

“Dan Kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab dengan benar sebagai pembenar kitab-
kitab yang terdahulu serta batu ujian atasnya.” (QS. Al Maa’idah: 48)

Maksud dari pernyataan Islam itu cocok diterapkan di setiap masa, tempat dan
masyarakat adalah dengan berpegang teguh dengannya tidak akan pernah bertentangan
dengan kebaikan umat tersebut di masa kapan pun dan di tempat manapun. Bahkan
dengan Islamlah keadaan umat itu akan menjadi baik. Akan tetapi bukanlah yang
dimaksud dengan pernyataan Islam itu cocok bagi setiap masa, tempat dan masyarakat
adalah Islam tunduk kepada kemauan setiap masa, tempat dan masyarakat,
sebagaimana yang diinginkan oleh sebagian orang.

Agama Islam adalah agama yang benar. Sebuah agama yang telah mendapatkan
jaminan pertolongan dan kemenangan dari Allah ta’ala bagi siapa saja yang berpegang
teguh dengannya dengan sebenar-benarnya. Allah ta’ala berfirman,

ِّ ‫علَى الد‬
‫ِّين ُك ِّل ِّه و‬ ْ ‫ق ِّلي‬
َ ُ‫ُظ ِّه َره‬ ِّ ‫ِّين ْال َح‬
ِّ ‫سولَهُ بِّ ْال ُه َدى َود‬ َ ‫لَ ْو ك َِّرهَ ْال ُم ْش ِّر ُكونَ َِه َُو الَّذِّي أ َ ْر‬
ُ ‫س َل َر‬

“Dia lah Zat yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa Petunjuk dan Agama
yang benar untuk dimenangkan di atas seluruh agama-agama yang ada, meskipun
orang-orang musyrik tidak menyukainya.” (QS. Ash Shaff: 9)

Allah ta’ala berfirman,

‫ف الَّ ِّذينَ ِّمن قَ ْب ِّل ِّه ْم َولَيُ َم ِّكن ََّن لَ ُه ْم دِّينَ ُه ُم الَّذِّي‬ ِّ ‫ت لَيَ ْست َْخ ِّلفَنَّ ُهم فِّي ْاأل َ ْر‬
َ َ‫ض َك َما ا ْست َْخل‬ َّ ‫َّللاُ الَّذِّينَ آ َمنُوا ِّمن ُك ْم َو َع ِّملُوا ال‬
ِّ ‫صا ِّل َحا‬ َّ ‫ع َد‬
َ ‫َو‬
ُ
َ‫شيْئا َو َمن َكف ََر بَ ْع َد ذَلِّكَ فَأ ْولَئِّكَ هُ ُم ْالفَا ِّسقُون‬ َ ‫ضى لَ ُه ْم َولَيُبَ ِّدلَنَّ ُهم ِّمن بَ ْع ِّد خ َْوفِّ ِّه ْم أ َ ْمنا يَ ْعبُدُونَنِّي َال يُ ْش ِّر ُكونَ ِّبي‬
َ َ ‫ارت‬
ْ

“Allah benar-benar telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman serta beramal
salih diantara kalian untuk menjadikan mereka berkuasa di atas muka bumi sebagaimana
orang-orang sebelum mereka telah dijadikan berkuasa di atasnya. Dan Allah pasti akan
meneguhkan bagi mereka agama mereka, sebuah agama yang telah diridhai-Nya untuk
mereka peluk. Dan Allah pasti akan menggantikan rasa takut yang sebelumnya
menghinggapi mereka dengan rasa tenteram, mereka menyembah-Ku dan tidak
mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apapun. Dan barangsiapa yang ingkar sesudah
itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An Nuur: 55)

Agama Islam adalah ajaran yang mencakup akidah/keyakinan dan syariat/hukum. Islam
adalah ajaran yang sempurna, baik ditinjau dari sisi aqidah maupun syariat-syariat yang
diajarkannya:

2
1. Islam memerintahkan untuk menauhidkan Allah ta’ala dan melarang kesyirikan.
2. Islam memerintahkan untuk berbuat jujur dan melarang dusta.
3. Islam memerintahkan untuk berbuat adil dan melarang aniaya.
4. Islam memerintahkan untuk menunaikan amanat dan melarang berkhianat.
5. Islam memerintahkan untuk menepati janji dan melarang pelanggaran janji.
6. Islam memerintahkan untuk berbakti kepada kedua orang tua dan melarang
perbuatan durhaka kepada mereka.
7. Islam memerintahkan untuk menjalin silaturahim (hubungan kekerabatan yang
terputus) dengan sanak famili dan Islam melarang perbuatan memutuskan
silaturahim.
8. Islam memerintahkan untuk berhubungan baik dengan tetangga dan melarang
bersikap buruk kepada mereka.

Secara umum dapat dikatakan bahwasanya Islam memerintahkan semua akhlak yang
mulia dan melarang akhlak yang rendah dan hina. Islam memerintahkan segala macam
amal salih dan melarang segala amal yang jelek. Allah ta’ala berfirman,

‫ع ِّن ْالفَحْ ش‬
َ ‫ان َوإِّيت َاء ذِّي ْالقُ ْربَى َويَ ْن َهى‬
ِّ ‫س‬ ِّ ‫ظ ُك ْم لَعَلَّ ُك ْم تَذَ َّك ُرونَ َِإِّ َّن َّللاَ يَأ ْ ُم ُر بِّ ْالعَ ْد ِّل َو‬
َ ْ‫اإلح‬ ُ ‫اء َو ْال ُمنك َِّر َو ْالبَ ْغي ِّ يَ ِّع‬

“Sesungguhnya Allah memerintahkan berbuat adil, ihsan dan memberikan nafkah kepada
sanak kerabat. Dan Allah melarang semua bentuk perbuatan keji dan mungkar, serta
tindakan melanggar batas. Allah mengingatkan kalian agar kalian mau mengambil
pelajaran.” (QS. An Nahl: 90)

***

Diterjemahkan dari Syarh Ushul Iman, hal. 5-8, Penerbit Darul Qasim
Penulis: Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah
Diterjemahkan oleh: Abu Muslih Ari Wahyudi
Artikel www.muslim.or.id

2. Rukun dan Makna Islam (1)

Sebagai seorang muslim sudah seharusnya kita mengetahui dengan baik agama kita.
Karena dengan Islamlah seseorang bisa meraih kebahagiaan yang hakiki dan sejati.
Sebuah kebahagiaan yang tidak akan usang di telan waktu dan tidak akan pernah hilang
di manapun kita berada. Sebuah kebahagiaan yang sangat mahal harganya yang tidak
dapat diukur dengan materi dunia sebesar apapun. Oleh karena itu sudah selayaknya
bagi kita untuk mempelajari Islam, terlebih lagi bagian inti dari Islam yang menjadi pilar
agama ini sehingga kebahagiaan pun bisa kita raih.

Inilah Pilar Itu

Rosul kita yang mulia telah memberitahu kepada kita seluruh perkara yang bisa
mengantarkan kita pada kebahagiaan yang hakiki dan abadi yaitu surga Allah subhanahu
wa ta’ala dan beliau juga telah memperingatkan kita dari seluruh perkara yang dapat
menjerumuskan kita pada kehancuran dan kebinasaan yang abadi yaitu azab neraka
yang sangat pedih yang Allah sediakan bagi orang-orang yang bermaksiat kepada-Nya.
Demikianlah kasih sayang Rosul kita kepada umatnya bahkan melebihi kasih sayang
seorang ibu pada anaknya.

ٌ ُ‫علَ ْي ُكم بِّ ْال ُمؤْ ِّمنِّينَ َرؤ‬


‫وف َّر ِّحي ٌم‬ َ ‫علَ ْي ِّه َما‬
ٌ ‫عنِّت ُّ ْم َح ِّر‬
َ ‫يص‬ َ ‫سو ٌل ِّم ْن أَنفُ ِّس ُك ْم‬
ٌ ‫ع ِّز‬
َ ‫يز‬ ُ ‫لَقَ ْد َجاء ُك ْم َر‬

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa
olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu,

3
amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At Taubah:
128)

Rosul kita telah memberi tahu pada kita tentang pilar agama Islam yang mulia ini. Beliau
bersabda yang artinya, “Islam ini dibangun di atas lima perkara: (1) Persaksian bahwa
tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah
utusan Allah, (2) mendirikan sholat, (3) menunaikan zakat, (4) pergi haji ke baitullah, dan
(5) berpuasa pada bulan Romadhon.” (HR. Bukhari Muslim)

Demikian pula ketika menjawab pertanyaan malaikat Jibril yang bertanya kepada
beliau, “Wahai Muhammad! Beri tahukan kepadaku tentang Islam?” Kemudian beliau
menjawab, “Islam adalah Engkau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak
disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, kemudian Engkau
mendirikan sholat, kemudian Engkau menunaikan zakat, kemudian Engkau berpuasa
pada bulan Ramadhon, kemudian Engkau menunaikan haji jika mampu.” Kemudian
ketika beliau kembali ditanya oleh malaikat Jibril, “Wahai Muhammad! Beri tahukan
kepada ku tentang Iman?” Kemudian beliau menjawab, “Engkau beriman kepada Allah,
malaikat-Nya, kitab-Nya, utusan-Nya, hari akhir dan Engkau beriman pada takdir Allah
yang baik maupun yang buruk.” (HR. Muslim)

Demikianlah Rosul kita memberikan pengertian kepada umatnya tentang Islam, apa itu
Islam yang seharusnya kita jalankan? Dan bagaimana seorang menjalankan Islam?
Dalam hadits tersebut dapat kita ambil kesimpulan bahwa Islam adalah perkara-perkara
agama yang lahiriah sedangkan iman adalah perkara-perkara yang terkait dengan hati.
Sehingga jika digabungkan istilah Iman dan Islam maka hal ini menunjukkan hakikat
agama Islam yaitu mengerjakan amalan-amalan lahir yang dilandasi keimanan. Jika ada
orang yang mengerjakan amalan-amalan Islam namun perbuatan tersebut tidak dilandasi
dengan keimanan, maka inilah yang disebut dengan munafik. Sedangkan jika ada orang
yang mengaku beriman namun ia tidak mengamalkan perintah Allah dan Rasulnya maka
inilah yang disebut dengan orang yang durhaka.

Berdasarkan hadits tersebut sekarang kita tahu bahwa agama Islam ini dibangun di atas
lima pilar:

1. Persaksian tentang dua kalimat syahadat bahwa tidak ada yang berhak disembah
selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.
2. Menegakkan sholat.
3. Menunaikan zakat.
4. Berpuasa pada bulan Romadhon.
5. Pergi haji ke tanah suci jika mampu.

Dan kelima hal inilah yang disebut dengan Rukun Islam yang merupakan pilar utama
tegaknya agama Islam ini. Barang siapa yang mengerjakan kelima pilar ini, maka ia
berhak mendapatkan janji Allah subhanahu wa ta’ala berupa surga-Nya yang penuh
dengan kenikmatan.

Makna Islam

Jika kita mendengar kata Islam, maka ada dua pengertian yang dapat kita ambil.
Pengertian islam yang pertama adalah Islam secara umum yang memiliki
makna: Berserah diri kepada Allah dengan tauhid dan tunduk serta patuh pada Allah
dengan menjalankan ketaatan kepadanya dan berlepas diri dari perbuatan
menyekutukan Allah (syirik) dan berlepas diri dari orang-orang yang menyekutukan Allah
(musyrik). Islam dengan makna yang umum ini adalah agama seluruh Nabi Rosul
semenjak nabi Adam ‘alaihi salam. Sehingga jika ditanyakan, apa agama nabi Adam,
Nuh, Musa, Isa nabi dan Rosul lainnya? Maka jawabannya bahwa agama mereka adalah
Islam dengan makna Islam secara umum sebagaimana yang telah disebutkan di atas.
4
Demikian juga agama para pengikut Nabi dan Rasul sebelum nabi
Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Islam dengan pengertian di atas,
pengikut para Nabi dan Rasul terdahulu berserah diri pada Alah dengan tauhid, tunduk
dan patuh kepada-Nya dengan mengerjakan amal ketaatan sesuai dengan syariat yang
dibawa oleh nabi dan Rasul yang mereka ikuti serta berlepas diri dari kesyirikan dan
orang-orang yang berbuat syirik. Agama pengikut nabi Nuh adalah Islam, agama
pengikut nabi Musa pada zaman beliau adalah Islam, agama pengikut nabi Isa pada
zaman beliau adalah Islam dan demikian pula agama pengikut nabi Muhammad pada
zaman ini adalah Islam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

ْ َ‫انَ ِّمنَ ْال ُم ْش ِّركِّينَ َِ َما َكانَ إِّب َْراهِّي ُم يَ ُهودِّيا َوالَ ن‬
‫ص َرانِّيا َولَ ِّكن َكانَ َحنِّيفا ُّم ْس ِّلما َو َما ك‬

“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia
adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia
termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. Ali Imran: 67)

Allah juga berfirman,

‫س َّما ُك ُم ْال ُم ْسلِّمينَ ِّمن قَ ْب ُل‬


َ ‫ه َُو‬

“Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu.” (QS. Al Hajj:
78)

Sedangkan pengertian yang kedua adalah makna Islam secara khusus yaitu: Agama
Islam yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang
mencakup di dalamnya syariat dan seluruh ajaran yang dibawa oleh Rasulullah
Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan inilah makna Islam secara mutlak, artinya
jika disebutkan “Agama Islam” tanpa embel-embel macam-macam, maka yang dimaksud
dengan “Agama Islam” tersebut adalah agama Islam yang dibawa oleh nabi
Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga orang-orang yang masih mengikuti
ajaran nabi Nuh, nabi Musa atau ajaran nabi Isa setelah diutusnya Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam maka orang ini tidaklah disebut sebagai seorang muslim yang
beragama Islam. Di samping itu, ada pengertian Islam secara bahasa yaitu Istislam yang
berarti berserah diri.

-bersambung insya Allah-

***

Penulis: Abu Fatah Amrullah (Alumni Ma’had Ilmi)


Murojaah: Ust. Aris Munandar
Artikel www.muslim.or.id

3. Penjelasan Ringkas Rukun Islam (2)

Pilar Islam Pertama: Dua Kalimat Syahadat

Inilah pilar Islam yang pertama dan utama yaitu persaksian bahwa tidak ada Tuhan yang
berhak untuk disembah selain Allah subhanahu wa ta’ala dan persaksian bahwa
Muhammad adalah utusan Allah. Tanpa adanya pilar ini, maka tidak ada bangunan Islam
dari diri seseorang. Demikian pula jika pilar ini hancur, maka akan ikut hancur pula
bangunan Islam dari diri seseorang. Oleh karena itu sudah seharusnya seorang muslim
memperhatikan dan senantiasa memelihara hal yang satu ini dalam seluruh waktu dan
kehidupannya.

5
Persaksian bahwa tidak ada Tuhan yang berhak untuk disembah selain Allah subhanahu
wa ta’ala dan persaksian bahwa Muhammad adalah utusan Allah tidak cukup hanya
sekedar di lisan saja, namun lebih dari itu, seorang yang bersaksi haruslah mengetahui
dan meyakini hal yang dia saksikan serta mengamalkan konsekuensi kesaksiannya
tersebut. Jika ada seorang saksi yang berbicara dengan lisannya bahwa dia telah melihat
sesuatu namun ternyata hal tersebut tidaklah benar alias dia hanya berbohong maka
saksi seperti ini disebut saksi palsu. Demikian juga, jika ada orang yang mengucapkan
kedua kalimat syahadat dengan lisannya, namun ternyata hatinya tidak meyakininya,
maka orang ini adalah seorang pendusta. Allah subhanahu wa ta’ala menyebutnya
sebagai orang munafik ketika mereka mengatakan bahwa mereka bersaksi bahwa
Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah, namun Allah mendustakan
persaksian palsu mereka yang tidak muncul keyakinan tersebut. Allah berfirman:

َ‫َّللاُ يَ ْش َه ُد إِّ َّن ْال ُمنَافِّقِّينَ لَكَا ِّذبُون‬


َّ ‫سولُهُ َو‬
ُ ‫َّللاُ يَ ْعلَ ُم إِّنَّكَ لَ َر‬
َّ ‫َّللاِّ َو‬ ُ ‫إِّذَا َجاءكَ ْال ُمنَافِّقُونَ قَالُوا نَ ْش َه ُد إِّنَّكَ لَ َر‬
َّ ‫سو ُل‬

“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui,


bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah.” Dan Allah mengetahui bahwa
sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa
sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.” (QS. Al
Munafiquun: 1)

Kalimat yang pertama dari dua kalimat syahadat ini, yaitu kalimat Laa Ilaha
Illallah bukanlah kalimat yang ringan dan sepele. Ada makna yang sangat dalam dan
konsekuensi yang sangat besar di balik kedua kalimat ini. Bahkan Allah pun menjadi
saksi kalimat Laa Ilaha Illallah ini. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

‫ش ِّه َد َّللاُ أَنَّهُ الَ إِّلَـهَ إِّالَّ ه َُو َو ْال َملَئِّ َكةُ َوأ ُ ْولُواْ ْال ِّع ْل ِّم قَآئِّ َما ب‬
َ ِِّ‫يز ْال َح ِّكي ُم‬
ُ ‫ْط الَ إِّلَـهَ إِّالَّ ه َُو ْالعَ ِّز‬
ِّ ‫ْال ِّقس‬

“Allah menyaksikan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak
disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu
(juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak
disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali Imran: 18)

Kalimat Laa Ilaha Ilallah, sebagaimana penjelasan para ulama, memiliki makna:

ُ‫َال َم ْعب ُْو َد َح ٌق إِّ َال للا‬

“Tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah selain Allah”

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

ُ ِّ‫ي ْال َكب‬


‫ير‬ ُّ ‫َّللاَ ه َُو ْالعَ ِّل‬ ِّ َ‫َّللاَ ه َُو ْال َح ُّق َوأ َ َّن َما يَ ْدعُونَ ِّمن دُونِّ ِّه ه َُو ْالب‬
َّ ‫اط ُل َوأ َ َّن‬ َّ ‫ذَلِّكَ بِّأ َ َّن‬

“Yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq dan
sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang batil, dan
sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Al Hajj: 62)

Dari makna ini kita mengetahui adanya sesembahan selain Allah subhanahu wa ta’ala
yang disembah oleh manusia seperti kuburan, pohon, para Nabi, malaikat, orang shalih
dan lain sebagainya. Namun sesembahan tersebut pada hakikatnya tidak berhak sama
sekali untuk disembah dan diibadahi karena yang berhak disembah dan diibadahi
hanyalah Allah subhanahu wa ta’ala.

ِّ ‫ع ْن ُه ْم آ ِّل َهت ُ ُه ُم الَّتِّي يَ ْدعُونَ ِّمن د‬


َ ‫ُون َّللاِّ ِّمن‬
‫ش ْيءٍ ِّل َّما َجاء أ‬ ْ ‫ب َِفَ َما أ َ ْغن‬
َ ‫َت‬ ٍ ‫غي َْر تَتْبِّي‬
َ ‫ْم ُر َربِّكَ َو َما زَ ادُوهُ ْم‬

6
“Karena itu tiadalah bermanfaat sedikit pun kepada mereka sembahan-sembahan yang
mereka seru selain Allah, di waktu azab Tuhanmu datang. Dan sembahan-sembahan itu
tidaklah menambah kepada mereka kecuali kebinasaan belaka.” (QS. Huud: 101)

Dalam ayat ini, Allah menyebutkan bahwa orang-orang musyrik memiliki sesembahan
selain Allah. Namun sesembahan itu sama sekali tidak dapat memberikan manfaat pada
mereka ketika datang azab Allah.

Oleh karena itu, sungguh suatu fenomena yang sangat menyedihkan sekali ketika kita
melihat ada seorang muslim yang sudah mengucapkan kedua kalimat syahadat, namun
dia masih melakukan berbagai macam bentuk peribadatan kepada selain Allah
subhanahu wa ta’ala baik itu kepada orang shalih, kuburan, jin penunggu dan lain
sebagainya. Di antara penyebab terjadinya hal ini adalah ketidaktahuan terhadap agama
Islam yang menimpa banyak kaum muslimin di zaman ini. Terlebih lagi tidak tahu
terhadap tauhid yang merupakan inti dari agama Islam.

Dalam kalimat ‫ ال اله إال للا‬terkandung dua aspek yang sangat penting. Yang pertama yaitu
aspek peniadaan/negasi, hal ini tercermin pada kata-kata ‫( ال اله‬Tidak ada sesembahan
yang berhak disembah) yang berarti meniadakan dan segala macam bentuk peribadatan
pada selain Allah, apapun bentuknya. Para ulama mengistilahkan aspek pertama ini
dengan istilah An Nafyu (‫)النفي‬. Sedangkan aspek yang kedua yaitu aspek penetapan, hal
ini tercermin pada kata-kata ‫( إال للا‬kecuali Allah) yang berarti menetapkan bahwa seluruh
macam bentuk peribadatan hanyalah untuk Allah semata. Para ulama mengistilahkan
aspek pertama ini dengan istilah Al Itsbat (‫)اإلثبات‬.

Kedua aspek ini sangatlah penting untuk dipahami dengan benar oleh seorang muslim
yang ingin merealisasikan dua kalimat syahadat ini. Karena, jika seorang muslim salah
dalam memahaminya, maka ia akan salah pula dalam merealisasikannya. Contohnya
bisa kita lihat pada orang-orang yang sekarang disebut dengan JIL (Jaringan Islam
Liberal), sebagian mereka (baca: Nurcholis Madjid jazaahullahu bimaa yastahiq)
menafsirkan dan memaknai kalimat Tauhid dengan makna “tidak ada tuhan (dengan t
kecil) kecuali Tuhan (dengan T besar)”. Dengan tafsiran yang salah ini, mereka
menyamakan seluruh Tuhan yang ada yang disembah manusia. Ujung kesimpulan
mereka, mereka mengatakan bahwa Tuhan seluruh agama adalah satu hanya berbeda-
beda dalam penyebutannya. Semoga Allah membinasakan orang-orang seperti ini dan
menjauhkan kaum muslimin dari pemikiran seperti ini.

Kedua aspek ini pulalah yang telah dipahami oleh Nabi Ibrahim ‘alaihi salam Imam
orang-orang yang bertauhid, bapaknya para Nabi dan Rasul. Allah berfirman ketika
menceritakan perkataan Ibrahim ‘alaihi salam,

‫ِّين َو َجعَلَ َها َك ِّل َمة بَاقِّ َية‬ َ َ‫ع ِّقبِّ ِّه لَعَلَّ ُه ْم يَ ْر ِّجعُونَ ِ َوإِّ ْذ قَا َل إِّب َْراهِّي ُم ِّألَبِّي ِّه َوقَ ْو ِّم ِّه ِّإنَّنِّي بَ َراء ِّم َّما ت َ ْعبُدُونَ إِّ َّال الَّ ِّذي ف‬
َ ُ‫ط َرنِّي فَإِّنَّه‬
ِّ ‫سيَ ْهد‬ َ ‫ِّفي‬

“Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Sesungguhnya
aku berlepas diri terhadap apa yang kamu sembah, tetapi (aku menyembah) Tuhan Yang
menjadikanku; karena sesungguhnya Dia akan memberi hidayah kepadaku.” Dan lbrahim
menjadikan kalimat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka
kembali kepada kalimat tauhid itu.” (QS. Az Zukhruf: 26-28)

Nabi Ibrahim ‘alaihi salam, menafikan seluruh sesembahan yang disembah oleh
kaumnya dengan mengatakan bahwa beliau berlepas diri dari hal tersebut. Kemudian
beliau menetapkan bahwa peribadatan beliau hanyalah kepada Tuhan yang telah
menciptakan beliau yaitu Allah subhanahu wa ta’ala. Kemudian beliau menjadikan
kalimat ‫ ال اله إال للا‬tersebut kekal untuk keturunannya.

Kemudian bagian kedua dari dua kalimat syahadat ini yaitu persaksian bahwa
Muhammad adalah utusan Allah. Allah subhanahu wa ta’ala telah menegaskan bahwa
7
telah ada seorang Rasul di antara manusia ini yang Allah utus, dan dialah Nabi kita,
teladan kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

ٌ ُ‫علَ ْي ُكم بِّ ْال ُمؤْ ِّمنِّينَ َرؤ‬


‫وف َّر ِّحي ٌم‬ َ ‫علَ ْي ِّه َما‬
ٌ ‫عنِّت ُّ ْم َح ِّر‬
َ ‫يص‬ َ ‫سو ٌل ِّم ْن أَنفُ ِّس ُك ْم‬
ٌ ‫ع ِّز‬
َ ‫يز‬ ُ ‫لَقَ ْد َجاء ُك ْم َر‬

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa
olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu,
amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At Taubah:
128)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

َ ‫َاب َو ْال ِّح ْك َمةَ َوإِّن كَانُوا ِّمن قَ ْب ُل لَ ِّفي‬


ٍ ِّ‫ض َل ٍل ُّمب‬
‫ين‬ َ ‫علَ ْي ِّه ْم آيَاتِّ ِّه َويُزَ ِّكي ِّه ْم َويُعَ ِّل ُم ُه ُم ْال ِّكت‬ ُ ‫ث فِّي ْاأل ُ ِّميِّينَ َر‬
َ ‫سوال ِّم ْن ُه ْم يَتْلُو‬ َ َ‫ه َُو الَّذِّي بَع‬

“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka,
yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan
mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-
benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Al Jumuah: 2)

Makna kalimat kedua ini adalah yang meyakini bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa
sallam diberi wahyu oleh Allah dan meyakini beliau adalah benar-benar utusan Allah,
serta beliau adalah penutup para Nabi (Syarah Arba’in An Nawawiyah Syaikh Shalih Alu
Syaikh: hadits kedua). Oleh karena itu, barang siapa yang berkeyakinan bahwa beliau
tidaklah diberi wahyu oleh Allah subhanahu wa ta’ala maka persaksiannya tidaklah sah.
Hal ini banyak kita saksikan di zaman sekarang, ada orang-orang yang meragukan
agama Islam. Mereka mengatakan bahwa Al Quran dan Hadits hanyalah konsep yang
disusun oleh Muhammad dan bukan wahyu yang diturunkan oleh Allah subhanahu wa
ta’ala yang kemudian konsep tersebut dijalankan oleh para sahabatnya, wal’iyadzubillah.

Barang siapa yang meyakini bahwa beliau tidaklah diutus untuk menyampaikan sesuatu
yang telah diperintahkan kepada beliau, maka persaksiannya tidaklah sah. Demikian juga
barang siapa yang menganggap adanya Rasul dan utusan Allah setelah Nabi kita
Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka persaksiannya tersebut tidaklah sah.
Sebagaimana diklaim oleh sebagian orang yang mengatakan bahwa ada di antara
kelompoknya yang menjadi Nabi seperti Mirza Ghulam Ahmad (jazaahullahu bimaa
yastahiq) atau Nabi-nabi kelas lokal seperti Lia Aminuddin (kafaanallahu ‘an syarrihaa)
dan lain sebagainya.

Persaksian bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah memiliki konsekuensi yaitu taat
terhadap perintah beliau, membenarkan berita yang beliau bawa, dan menjauhi seluruh
larangan beliau dan kita beribadah kepada Allah hanya dengan syariat yang beliau bawa.
Syaikh Nu’man bin Abdul Kariim Al Watr berkata dalam Taisir Wushul, “Taat dengan
perintah beliau yaitu menaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau
memerintahkan kita. Karena taat pada beliau adalah taat pada Allah dan karena
perkataan beliau tidak berasal dari hawa nafsu dan Rasulullah hanya memerintahkan kita
dengan hal-hal yang bermanfaat bagi dunia dan agama kita. Membenarkan berita yang
beliau bawa karena beliau adalah orang yang jujur dan dibenarkan dan karena perkataan
beliau tidak berasal dari hawa nafsu dan merupakan konsekuensi beriman bahwa beliau
adalah benar-benar Rasulullah adalah membenarkan perkataan beliau. Menjauhi seluruh
larangan beliau karena perkataan beliau tidak berasal dari hawa nafsu dan beliau hanya
melarang kita dari hal yang tidak bermanfaat bagi dunia dan agama kita. Beribadah
kepada Allah hanya dengan syariat yang beliau bawa karena orang yang beribadah pada
Allah dengan syariat selain beliau maka dia telah melakukan bid’ah. Nabi shalallahu
‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Barang siapa yang beramal dengan amalan yang
tidak ada perintahnya dari kami maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim)” (Taisir
Wushul hal: 73).

8
-bersambung insya Allah-

***

Penulis: Abu Fatah Amrullah (Alumni Ma’had Ilmi)


Murojaah: Ust. Aris Munandar
Artikel www.muslim.or.id

4. Penjelasan Ringkas Rukun Islam (3)

Pilar Islam Kedua: Menegakkan Sholat

Pilar Islam yang kedua setelah dua kalimat syahadat adalah menegakkan sholat lima
waktu. Bahkan sholat ini adalah pembeda antara seorang yang beriman dan yang tidak
beriman, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya
yang memisahkan antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah
meninggalkan sholat.” (HR. Muslim). Oleh karena itu seorang muslim haruslah
memperhatikan sholatnya. Namun sungguh suatu hal yang sangat memprihatinkan,
banyak kaum muslimin di zaman ini yang meremehkan masalah sholat bahkan terkadang
lalai dari mengerjakannya.

Lima waktu sholat tersebut adalah sholat Zhuhur, sholat Ashar, sholat Magrib, Sholat
Isya dan Sholat Subuh. Inilah sholat lima waktu yang wajib dilakukan oleh seorang
muslim. Mari kita simak sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, beliau
berkata, “Sholat lima waktu diwajibkan pada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam pada
malam Isra Mi’raj sebanyak 50 waktu, kemudian berkurang sampai menjadi 5 waktu
kemudian beliau diseru, “Wahai Muhammad sesungguhnya perkataan-Ku tidak akan
berubah dan pahala 5 waktu ini sama dengan pahala 50 waktu bagimu.” (Muttafaqun
‘alaihi)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

‫ق اللَّ ْي ِّل َوقُ ْرآنَ ْالفَجْ ِّر إِّ َّن قُ ْرآنَ ا ْلفَجْ ِّر َكانَ َم ْش ُهودا‬
ِّ ‫س‬ َ ‫ش ْم ِّس إِّلَى‬
َ ‫غ‬ َّ ‫وك ال‬ َّ ‫أَقِّ ِّم ال‬
ِّ ُ‫صلَة َ ِّل ُدل‬

“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah
pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).” (QS. Al
Isra: 78)

Pada firman Allah,

‫ق اللَّ ْي ِّل‬
ِّ ‫س‬ َ ‫ش ْم ِّس إِّلَى‬
َ ‫غ‬ َّ ‫وك ال‬ َّ ‫أَقِّ ِّم ال‬
ِّ ُ‫صلَة َ ِّل ُدل‬

“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam.”

Terkandung di dalamnya kewajiban mengerjakan sholat Zuhur sampai dengan Isya


kemudian pada firman-Nya,

‫َوقُ ْرآنَ ْالفَجْ ِّر إِّ َّن قُ ْرآنَ ْالفَجْ ِّر َكانَ َم ْش ُهودا‬

“Dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh
malaikat).” terkandung di dalamnya perintah mengerjakan sholat subuh. (Lihat Syarah
Aqidah al Wasithiyyah Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin).

Mendirikan sholat adalah kewajiban setiap muslim yang sudah baligh dan berakal.
Adapun seorang muslim yang hilang kesadarannya, maka ia tidak diwajibkan
mengerjakan sholat berdasarkan hadits dari Ali rodhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam beliau berkata, “Pena diangkat dari tiga golongan, dari orang yang tidur
9
sampai dia bangun, dari anak kecil sampai dia mimpi dan dari orang gila sampai dia
sembuh.” (HR. Abu Daud No 12,78 dan 4370 Lihat di Shohih Jami’us Shaghir 3513 ).

Walaupun demikian, wali seorang anak kecil wajib menyuruh anaknya untuk sholat agar
melatih sang anak menjaga sholat lima waktu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “Perintahkanlah anak kalian yang sudah berumur tujuh tahun untuk
mengerjakan sholat, dan pukullah mereka agar mereka mau mengerjakan sholat saat
mereka berumur 10 tahun dan pisahkanlah tempat tidur mereka.” (Hasan, Shahih Jami’us
Shaghir 5868, HR. Abu Daud)

Pilar Islam Ketiga: Menunaikan Zakat

Inilah rukun Islam yang ketiga yaitu menunaikan zakat. Allah subhanahu wa ta’ala
berfirman,

َّ ‫صينَ لَهُ الدِّينَ ُحنَفَاء َويُ ِّقي ُموا ال‬


‫صل‬ َّ ‫َِو َما أ ُ ِّم ُروا إِّ َّال ِّليَ ْعبُدُوا‬
ِّ ‫َّللاَ ُم ْخ ِّل‬ َ ‫الزكَاة َ َوذَلِّكَ ِّدينُ ْالقَيِّ َم ِّة‬
َّ ‫اة َ َويُؤْ تُوا‬

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan
ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka
mendirikan shalat dan menunaikan zakat. dan yang demikian itulah agama yang
lurus.” (QS. Al Bayyinah: 5)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman ketika mengancam orang-orang yang tidak
mau membayar zakatnya,

ِّ‫ط َّوقُونَ َما بَ ِّخلُواْ بِّ ِّه يَ ْو َم ْال ِّقيَا َم ِّة َو ِّّلل‬ َ ُ‫سي‬َ ‫ض ِّل ِّه ه َُو َخيْرا لَّ ُه ْم بَ ْل ه َُو ش ٌَّر َّل ُه ْم‬
ْ َ‫سبَ َّن الَّذِّينَ يَ ْب َخلُونَ بِّ َما آت َاهُ ُم َّللاُ ِّمن ف‬
َ ْ‫َوالَ يَح‬
‫ير‬ٌ ِّ‫ض َوَّللاُ بِّ َما ت َ ْع َملُونَ َخب‬ ِّ ‫ت َواأل َ ْر‬
ِّ ‫اوا‬َ ‫س َم‬
َّ ‫اث ال‬ُ ‫ير‬ َ ‫ِّم‬

“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada
mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka.
Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu
akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala
warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu
kerjakan.” (QS. Ali Imran: 180)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits dari Abu Hurairoh
dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda, “Barang siapa yang diberikan
harta oleh Allah namun dia tidak menunaikan zakatnya pada hari kiamat dia akan
menghadapi ular jantan yang botak kepalanya karena banyak bisanya dan memiliki dua
taring yang akan mengalunginya pada hari kiamat. Kemudian ular tersebut menggigit dua
mulutnya dan berkata, aku adalah harta simpananmu, aku adalah hartamu.” Kemudian
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat,

ِّ‫ط َّوقُونَ َما بَ ِّخلُواْ بِّ ِّه يَ ْو َم ْال ِّقيَا َم ِّة َو ِّّلل‬َ ُ‫سي‬َ ‫ض ِّل ِّه ه َُو َخيْرا لَّ ُه ْم بَ ْل ه َُو ش ٌَّر لَّ ُه ْم‬
ْ َ‫سبَ َّن الَّذِّينَ يَ ْب َخلُونَ بِّ َما آت َاهُ ُم َّللاُ ِّمن ف‬
َ ْ‫َوالَ يَح‬
‫ير‬ ُ
ٌ ِّ‫ض َوَّللاُ بِّ َما ت َ ْع َملونَ َخب‬ َ
ِّ ‫ت َواأل ْر‬ِّ ‫اوا‬َ ‫س َم‬ ُ
َّ ‫يراث ال‬ َ ‫ِّم‬

“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada
mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka.
Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu
akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala
warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu
kerjakan.” (QS. Ali Imran: 180)

Pilar Islam Keempat: Berpuasa Pada Bulan Ramadhan

Inilah rukun Islam keempat yang wajib dilakukan oleh seorang muslim yaitu berpuasa
selama satu bulan penuh pada bulan Ramadhan dengan menahan makan, minum dan
10
berhubungan suami istri serta pembatal lain dari mulai terbit fajar sampai tenggelamnya
matahari. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

‫ت فَ َمن َكانَ ِّمن ُكم َّم ِّريضا أ َ ْو‬ ٍ ‫علَى الَّذِّينَ ِّمن قَ ْب ِّل ُك ْم لَعَلَّ ُك ْم تَتَّقُونَ أَيَّاما َّم ْعدُو َدا‬ َ ‫ب‬ َ ِّ‫الصيَا ُم َك َما ُكت‬ ِّ ‫علَ ْي ُك ُم‬ َ ‫ب‬َ ِّ‫يَا أَيُّ َها الَّذِّينَ آ َمنُواْ ُكت‬
‫صو ُمواْ َخي ٌْر لَّ ُك ْم إِّن‬ ُ َ ‫ع َخيْرا فَ ُه َو َخي ٌْر لَّهُ َوأَن ت‬ َ ‫ط َّو‬َ َ ‫ين فَ َمن ت‬ ٍ ‫ط َعا ُم ِّم ْس ِّك‬ َ ٌ‫علَى الَّذِّينَ ي ُِّطيقُونَهُ فِّ ْديَة‬ َ ‫سف ٍَر فَ ِّع َّدة ٌ ِّم ْن أَي ٍَّام أُخ ََر َو‬ َ ‫ع لَ ى‬
َ
ُ‫ص ْمه‬ ْ
ُ َ‫ش ْه َر فَلي‬ َّ ‫ش ِّه َد ِّمن ُك ُم ال‬
َ ‫ان فَ َمن‬
ِّ َ ‫ق‬ ‫ر‬
ْ ُ ‫ف‬ ْ
‫ال‬ ‫و‬
َ ‫ى‬ ‫د‬
َ ‫ه‬
ُ ْ
‫ال‬ َ‫ن‬ ‫م‬
ِّ ٍ
‫ت‬ ‫َا‬ ‫ن‬ ِّ ‫ي‬ َ ‫ب‬ ‫و‬
َ ‫اس‬ ِّ َّ ‫ن‬ ‫ل‬ ‫ل‬
ِّ ‫ى‬ ‫ُد‬ ‫ه‬ ُ‫آن‬ ‫ر‬ْ ُ ‫ق‬ ْ
‫ال‬ ‫ه‬
ِّ ‫ي‬ ِّ ‫ف‬ ‫ل‬
َ ‫نز‬ُ
ِّ َ‫أ‬ ‫ِّي‬
‫ذ‬ َّ ‫ال‬ َ‫ان‬ ‫ض‬
َ ‫م‬ ‫ر‬
َ َ ‫ر‬
ُ ‫ه‬ْ ‫ش‬
َ َ‫ون‬ ‫م‬ُ َ ‫ل‬ ‫ع‬
ْ َ ‫ت‬ ‫م‬
ْ ُ ‫ت‬ ‫ن‬ ُ
‫ك‬

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan
atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (yaitu) dalam beberapa hari yang
tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia
berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada
hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka
tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa
yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan , maka itulah yang lebih baik baginya.
Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (Beberapa hari yang ditentukan
itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an
sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan
pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu
hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan
itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah
baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain.
Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan
hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah
atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Baqarah:
183-185)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan
dari Abu Hurairah, “Barang siapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan karena beriman
dengan kewajibannya dan mengharap pahala dari Allah maka akan diampuni dosa-
dosanya yang telah lalu.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Dalam hadits yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah
berfirman, seluruh amal anak cucu Adam adalah untuknya sendiri kecuali puasa. Puasa
adalah untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai. Jika kalian
berpuasa, maka janganlah kalian berbicara kotor atau dengan berteriak-teriak. Jika ada
yang menghina kalian atau memukul kalian, maka katakanlah “aku sedang berpuasa”
sebanyak dua kali. Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya bau mulut
orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah dibandingkan bau minyak kesturi pada hari
kiamat nanti. Orang yang berpuasa mendapatkan dua kebahagiaan, bahagia ketika
berbuka berpuasa dan bahagia dengan sebab berpuasa ketika bertemu dengan
Rabbnya.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya di


dalam surga terdapat sebuah pintu yang disebut dengan pintu Ar Rayyan. Hanya orang-
orang yang sering berpuasa yang akan memasuki pintu tersebut. Mereka dipanggil,
“Mana orang-orang yang berpuasa?” kemudian mereka masuk ke dalamnya dan orang-
orang selain mereka tidak bisa masuk. Jika mereka sudah masuk, maka tertutup pintu
tersebut dan tidak ada lagi yang masuk selain mereka.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Pilar Islam Kelima: Menunaikan Haji ke Baitullah Jika Mampu

Rukun Islam yang kelima yaitu menunaikan haji ke Baitullah jika mampu sekali seumur
hidup. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

َ ‫ع إِّلَ ْي ِّه‬
‫سبِّي‬ َ ‫طا‬ ِّ ‫اس ِّح ُّج ْالبَ ْي‬
َ َ ‫ت َم ِّن ا ْست‬ ِّ َّ‫علَى الن‬
َ ِّ‫َو ِّّلل‬

11
“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang
sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (QS. Ali Imran: 97)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan
dari Abu Hurairoh, “Umroh yang satu dengan yang selanjutnya menjadi pelebur dosa di
antara keduanya dan tidak ada pahala yang pantas bagi haji yang mabrur kecuali
surga.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Dalam hadits lain yang diriwayatkan dari Abu Hurairah beliau berkata bahwa
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkhotbah, “Wahai manusia, Allah telah
mewajibkan pada kalian ibadah haji, maka berhajilah.” Kemudian ada seorang laki-laki
yang berkata, “Apakah pada setiap tahun wahai Rasulullah?” kemudian beliau terdiam
sampai-sampai laki-laki itu bertanya sebanyak tiga kali. Kemudian beliau bersabda,
“Seandainya aku katakan Iya, niscaya akan wajib bagi kalian padahal kalian tidak
mampu. Biarkan apa yang aku tinggalkan karena sesungguhnya sebab kebinasaan
orang setelah kalian adalah banyak bertanya dan menyelisihi nabinya. Jika aku
perintahkan satu hal maka lakukan semampu kalian dan jika aku melarang sesuatu maka
jauhilah.” (HR. Muslim).

Apakah yang dimaksud dengan mampu pada pelaksanaan ibadah haji? Syaikh Abdul
‘Azhim bin Badawi menjelaskan bahwa kemampuan dalam melaksanakan ibadah haji
terkait dengan 3 hal yaitu:

Pertama, kesehatan berdasarkan hadits dari ibnu Abbas bahwa ada seorang wanita dari
Ja’tsam yang mengadu pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah
sesungguhnya ayahku terkena kewajiban haji ketika umurnya sudah tua dan ia tidak
mampu menaiki tunggangannya, apakah aku boleh berhaji untuknya?” Rasul shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Berhajilah untuknya.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Kedua, memiliki bekal untuk perjalanan haji pulang-pergi dan memiliki bekal untuk
kebutuhan orang-orang yang wajib dia beri nafkah. Hal ini berdasarkan sabda
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Cukuplah seorang disebut sebagai pendosa jika dia
menyia-nyiakan orang yang wajib dia nafkahi.” (HR. Abu Daud)

Ketiga, aman dari gangguan dalam perjalanan. Karena menunaikan haji padahal kondisi
tidak aman adalah sebuah bahaya dan bahaya merupakan salah satu penghalang yang
disyariatkan.

Penutup

Demikianlah penjelasan ringkas tentang lima pilar Islam yang kita kenal dengan rukun
Islam. Semoga apa yang kami sampaikan ini bisa bermanfaat bagi kita semua. Amiin ya
mujibbas Saailiin…

Rujukan:

1. Syarah Arba’in An Nawawiyah, Syaikh Shalih bin Abdil ‘Aziiz Alu Syaikh
2. Taisir Wushul Ilaa Nailil Ma’mul bi Syarhi Tsalatsatil Ushul, Syaikh Nu’man bin
Abdil Kariim Al Watr
3. Al Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil ‘Aziiz Syaikh Abdul ‘azhim Badawi
4. Syarah Aqidah al Wasithiyyah (Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin)

***

Penulis: Abu Fatah Amrullah (Alumni Ma’had Ilmi)


Murojaah: Ust. Aris Munandar
Artikel www.muslim.or.id
12
5. Islam, Iman dan Ihsan

Pembaca yang budiman, di kalangan tarekat sufi sangat terkenal adanya pembagian
agama menjadi 3 tingkatan yaitu: Syari’at, Ma’rifat dan Hakikat. Orang/wali yang sudah
mencapai tingkatan ma’rifat sudah tidak lagi terbebani aturan syari’at; sehingga dia tidak
lagi wajib untuk sholat dan bebas melakukan apapun yang dia inginkan… demikianlah
sebagian keanehan yang ada di seputar pembagian ini. Apakah pembagian semacam ini
dikenal di dalam Islam?

Islam Mencakup 3 Tingkatan


Rosululloh shollallahu ‘alaihi wa sallam suatu hari pernah didatangi malaikat Jibril dalam
wujud seorang lelaki yang tidak dikenali jatidirinya oleh para sahabat yang ada pada saat
itu, dia menanyakan kepada beliau tentang Islam, Iman dan Ihsan. Setelah beliau
menjawab berbagai pertanyaan Jibril dan dia pun telah meninggalkan mereka, maka
pada suatu kesempatan Rosululloh bertanya kepada sahabat Umar bin
Khoththob, “Wahai Umar, tahukah kamu siapakah orang yang bertanya itu ?” Maka Umar
menjawab, “Alloh dan Rosul-Nya lah yang lebih tahu”. Nabi pun
bersabda, “Sesungguhnya dia itu adalah Jibril yang datang kepada kalian untuk
mengajarkan agama kalian.” (HR. Muslim). Syaikh Ibnu Utsaimin rohimahulloh
mengatakan: Di dalam (penggalan) hadits ini terdapat dalil bahwasanya Iman, Islam dan
Ihsan semuanya diberi nama ad din/agama (Ta’liq Syarah Arba’in hlm. 23). Jadi agama
Islam yang kita anut ini mencakup 3 tingkatan; Islam, Iman dan Ihsan.

Tingkatan Islam
Di dalam hadits tersebut, ketika Rosululloh ditanya tentang Islam beliau
menjawab, “Islam itu engkau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan (yang haq) selain
Alloh dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Alloh, engkau dirikan sholat, tunaikan
zakat, berpuasa romadhon dan berhaji ke Baitulloh jika engkau mampu untuk menempuh
perjalanan ke sana”. Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan: Diantara faedah yang bisa
dipetik dari hadits ini ialah bahwa Islam itu terdiri dari 5 rukun (Ta’liq Syarah Arba’in hlm.
14). Jadi Islam yang dimaksud disini adalah amalan-amalan lahiriyah yang meliputi
syahadat, sholat, puasa, zakat dan haji.

Tingkatan Iman
Selanjutnya Nabi ditanya mengenai iman. Beliau bersabda, “Iman itu ialah engkau
beriman kepada Alloh, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rosul-Nya, hari akhir
dan engkau beriman terhadap qodho’ dan qodar; yang baik maupun yang buruk”. Jadi
Iman yang dimaksud disini mencakup perkara-perkara batiniyah yang ada di dalam hati.
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin mengatakan: Diantara faedah yang bisa dipetik dari hadits ini
adalah pembedaan antara islam dan iman, ini terjadi apabila kedua-duanya disebutkan
secara bersama-sama, maka ketika itu islam ditafsirkan dengan amalan-amalan anggota
badan sedangkan iman ditafsirkan dengan amalan-amalan hati, akan tetapi bila sebutkan
secara mutlak salah satunya (islam saja atau iman saja) maka sudah mencakup yang
lainnya. Seperti dalam firman Alloh Ta’ala, “Dan Aku telah ridho Islam menjadi agama
kalian.” (Al Ma’idah : 3) maka kata Islam di sini sudah mencakup islam dan iman… (Ta’liq
Syarah Arba’in hlm. 17).

Tingkatan Ihsan
Nabi juga ditanya oleh Jibril tentang ihsan. Nabi bersabda, “Yaitu engkau beribadah
kepada Alloh seolah-olah engkau melihat-Nya, maka apabila kamu tidak bisa (beribadah
13
seolah-olah) melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu”. Syaikh Ibnu Utsaimin
menjelaskan: Diantara faedah yang bisa dipetik dari hadits ini adalah penjelasan tentang
ihsan yaitu seorang manusia menyembah Robbnya dengan ibadah yang dipenuhi rasa
harap dan keinginan, seolah-olah dia melihat-Nya sehingga diapun sangat ingin sampai
kepada-Nya, dan ini adalah derajat ihsan yang paling sempurna. Tapi bila dia tidak bisa
mencapai kondisi semacam ini maka hendaknya dia berada di derajat kedua yaitu:
menyembah kepada Alloh dengan ibadah yang dipenuhi rasa takut dan cemas dari
tertimpa siksa-Nya, oleh karena itulah Nabi bersabda, “Jika kamu tidak bisa melihat-Nya
maka sesungguhnya Dia melihatmu” artinya jika kamu tidak mampu menyembah-Nya
seolah-olah kamu melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (Ta’liq Syarah
Arba’in hlm. 21). Jadi tingkatan ihsan ini mencakup perkara lahir maupun batin.

Bagaimana Mengkompromikan Ketiga Istilah Ini?


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan yang maknanya, Bila dibandingkan dengan
iman maka Ihsan itu lebih luas cakupannya bila ditinjau dari substansinya dan lebih
khusus daripada iman bila ditinjau dari orang yang sampai pada derajat ihsan.
Sedangkan iman itu lebih luas daripada islam bila ditinjau dari substansinya dan lebih
khusus daripada islam bila ditinjau dari orang yang mencapai derajat iman. Maka di
dalam sikap ihsan sudah terkumpul di dalamnya iman dan islam. Sehingga orang yang
bersikap ihsan itu lebih istimewa dibandingkan orang-orang mu’min yang lain, dan orang
yang mu’min itu juga lebih istimewa dibandingkan orang-orang muslim yang lain… (At
Tauhid li shoffil awwal al ‘aali, Syaikh Sholih Fauzan, hlm. 63)

Muslim, Mu’min dan Muhsin


Oleh karena itulah para ulama’ muhaqqiq/peneliti menyatakan bahwa setiap mu’min
pasti muslim, karena orang yang telah merealisasikan iman sehingga iman itu tertanam
kuat di dalam hatinya pasti akan melaksanakan amal-amal islam/amalan lahir. Dan belum
tentu setiap muslim itu pasti mu’min, karena bisa jadi imannya sangat lemah sehingga
hatinya tidak meyakini keimanannya dengan sempurna walaupun dia melakukan amalan-
amalan lahir dengan anggota badannya, sehingga statusnya hanya muslim saja dan tidak
tergolong mu’min dengan iman yang sempurna. Sebagaimana Alloh Ta’ala telah
berfirman, “Orang-orang Arab Badui itu mengatakan ‘Kami telah beriman’. Katakanlah
‘Kalian belumlah beriman tapi hendaklah kalian mengatakan: ‘Kami telah berislam’.” (Al
Hujuroot: 14). Dengan demikian jelaslah sudah bahwasanya agama ini memang memiliki
tingkatan-tingkatan, dimana satu tingkatan lebih tinggi daripada yang lainnya. Tingkatan
pertama yaitu islam, kemudian tingkatan yang lebih tinggi dari itu adalah iman, kemudian
yang lebih tinggi dari tingkatan iman adalah ihsan (At Tauhid li shoffil awwal al ‘aali,
Syaikh Sholih Fauzan, hlm. 64)

Kesimpulan
Dari hadits serta penjelasan di atas maka teranglah bagi kita bahwasanya pembagian
agama ini menjadi tingkatan Syari’at, Ma’rifat dan Hakikat tidaklah dikenal oleh para
ulama baik di kalangan sahabat, tabi’in maupun tabi’ut tabi’in; generasi terbaik ummat ini.
Pembagian yang syar’i adalah sebagaimana disampaikan oleh Nabi yaitu islam, iman
dan ihsan dengan penjelasan sebagaimana di atas. Maka ini menunjukkan pula kepada
kita alangkah berbahayanya pemahaman sufi semacam itu. Lalu bagaimana mungkin
mereka bisa mencapai keridhoan Alloh Ta’ala kalau cara beribadah yang mereka tempuh
justeru menyimpang dari petunjuk Rosululloh ? Alangkah benar Nabi yang telah
bersabda, “Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada dasarnya dari
kami maka amalan itu tertolak.” (HR. Muslim). Barangsiapa yang ingin mencapai derajat
muhsin maka dia pun harus muslim dan mu’min. Tidak sebagaimana anggapan tarekat

14
sufiyah yang membolehkan orang yang telah mencapai Ma’rifat untuk meninggalkan
syari’at. Wallohu a’lam.

***

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi


Artikel www.muslim.or.id

6. Agama Islam untuk Seluruh Manusia

Nabi Muhammad memiliki banyak keistimewaan. Salah satunya adalah beliau diutus oleh
Allah untuk seluruh manusia dan jin. Adapun seluruh Nabi sebelum beliau hanyalah
diutus untuk umatnya masing-masing.

Allah Ta’ala berfirman:

‫اس يَاأَيُّ َها قُ ْل‬


ُ َّ‫سو ُل ِّإنِّي الن‬ ُ ‫ت ُم ْلكُ لَهُ الَّذِّي َج ِّميعا إِّلَ ْي ُك ْم للاِّ َر‬ ِّ ‫اوا‬ َ ‫س َم‬
َّ ‫ض ال‬ ِّ ‫إِّالَّ إِّلَهَ آل َواْأل َ ْر‬
‫امنُوا َويُ ِّميتُ يُ ْحي ِّ هُ َو‬ ُ ‫َواتَّبِّعُوهُ َو َك ِّل َماتِّ ِّه بِّاللِّ يُؤْ ِّم ُن الَّذِّي اْأل ُ ِّمي ِّ النَّبِّي ِّ َو َر‬
ِّ َ ‫سو ِّل ِّه بِّاللِّ فَئ‬
‫ت َ ْهتَدُونَ لَعَلَّ ُك ْم‬
Katakanlah: “Hai manusia, sesung-guhnya aku adalah utusan Alloh kepadamu semua,
yaitu Alloh yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Ilah (yang berhak
disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan yang mematikan, maka berimanlah kamu
kepada Alloh dan RosulNya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Alloh dan kepada
kalimat-kalimatNya (kitab-kitabNya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.
[QS. Al-A’rof (7): 158]

Perintah Allah dalam ayat ini “Katakanlah: “Hai manusia, sesungguhnya aku adalah
utusan Allah kepadamu semua”, ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad diutus untuk
seluruh manusia, sebagaimana firman Allah,

َ ‫س ْلن‬
‫َاك َو َمآ‬ َ ‫اس َكآفَّة إِّالَّ أ َ ْر‬
ِّ َّ‫اس أ َ ْكث َ َر َولَ ِّك َّن َونَذِّيرا بَ ِّشيرا ِّللن‬
ِّ َّ‫يَ ْعلَ ُمونَ الَ الن‬
Dan Kami tidak mengutusmu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya, sebagai
pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia
tiada menge-tahui. [QS. Saba’ (34): 28]

Oleh karena itulah siapa saja yang telah mendengar dakwah agama Islam, agama yang
dibawa oleh Nabi Muhammad , yang membawa kitab suci Al-Qur’an, kemudian tidak
beriman, tidak percaya dan tidak tunduk, maka dia adalah orang kafir dan di akhirat
menjadi penghuni neraka, kekal selamanya. Allah Ta’ala berfirman,

ِّ ‫ار اْأل َ ْحزَ ا‬


‫ب ِّمنَ بِّ ِّه يَ ْكفُ ْر َو َمن‬ ُ َّ‫َّربِّ َك ِّمن ْال َح ُّق إِّنَّهُ ِّم ْنهُ ِّم ْريَ ٍة فِّي ت َكُ فَلَ َم ْو ِّع ُدهُ فَالن‬
‫اس أ َ ْكث َ َر َولَ ِّك َّن‬
ِّ َّ‫يُؤْ ِّمنُونَ الَ الن‬
Dan barangsiapa di antara mereka (orang-orang Quraisy) dan sekutu-sekutunya yang
kafir kepada al-Qur’an, maka nerakalah tempat yang diancam-kan baginya, karena itu
janganlah kamu ragu-ragu terhadap al-Qur’an itu. Sesungguhnya (al-Qur’an) itu benar-
benar dari Robbmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman”. [QS. Hud (11): 17]

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

15
ُ ‫ي اْأل ُ َّم ِّة َه ِّذ ِّه ِّم ْن أ َ َح ٌد بِّي يَ ْس َم ُع الَ بِّيَ ِّد ِّه ُم َح َّم ٍد نَ ْف‬
‫س َوالَّذِّي‬ ٌّ ‫ي َوالَ يَ ُهو ِّد‬ ْ َ‫يَ ُموتُ ث ُ َّم ن‬
ٌّ ِّ‫ص َران‬
‫ب ِّم ْن َكانَ إِّالَّ بِّ ِّه أ ُ ْر ِّس ْلتُ بِّالَّذِّي يُؤْ ِّم ْن َولَ ْم‬ ِّ ‫ص َحا‬ ْ َ ‫ار أ‬ِّ َّ‫الن‬
Demi (Allah) Yang jiwa Muhammad di tanganNya, tidaklah seorangpun di kalangan umat
ini, Yahudi atau Nashrani, mendengar tentang aku, kemudian dia mati, dan tidak beriman
kepada apa yang aku diutus dengan-nya, kecuali dia termasuk para peng-huni neraka.
[Hadits Shohih Riwayat Muslim, no: 153, dari Abu Huroiroh]

NABI-NABI DAHULU KHUSUS UNTUK KAUMNYA

Adapun seluruh Nabi sebelum Nabi Muhammad , maka mereka semua di utus khusus
kepada umatnya masing-masing. Perkara ini merupakan perkara yang telah pasti di
dalam agama Islam, sebagaimana disebutkan di dalam hadits di bawah ini,

‫ع ْن‬ َ ‫ع ْب ِّد ب ِّْن َجابِّ ِّر‬ َّ ‫ي أ َ َّن‬


َ ِّ‫َّللا‬ َّ ِّ‫صلَّى النَّب‬ َ ُ‫َّللا‬ َ ‫سلَّ َم‬
َّ ‫علَ ْي ِّه‬ َ ‫ْطيتُ قَا َل َو‬ ِّ ‫ط ُه َّن لَ ْم خ َْمسا أُع‬ َ ‫أ َ َح ٌد يُ ْع‬
‫ص ْرتُ قَ ْب ِّلي‬ ِّ ُ‫ب ن‬ِّ ‫الر ْع‬ ُّ ِّ‫يرة َ ب‬
َ ‫ش ْه ٍر َم ِّس‬ َ ‫ت‬ ْ َ‫ض ِّلي َو ُج ِّعل‬ ُ ‫ط ُهورا َم ْس ِّجدا ْاأل َ ْر‬ َ ‫ِّم ْن َر ُج ٍل فَأَيُّ َما َو‬
‫ص َلة ُ أ َ ْد َر َكتْهُ أ ُ َّمتِّي‬َّ ‫ص ِّل ال‬ َ ُ‫ت فَ ْلي‬ ْ َّ‫ْطيتُ قَ ْب ِّلي ِّأل َ َح ٍد ت َ ِّح َّل َولَ ْم ْال َمغَانِّ ُم ِّلي َوأ ُ ِّحل‬ ِّ ‫َوأُع‬
َ‫عة‬ َّ ‫ي َو َكانَ ال‬
َ ‫ش فَا‬ ُّ ِّ‫ث النَّب‬ ُ َ‫صة قَ ْو ِّم ِّه ِّإلَى يُ ْبع‬ َّ ‫اس إِّلَى َوبُ ِّعثْتُ خَا‬ ِّ َّ‫عا َّمة الن‬َ
Dari Jabir bin Abdulloh, bahwa Nabi Muhammad bersabda: “Aku diberi (oleh Allah) lima
perkara, yang itu semua tidak diberikan kepada seorang-pun sebelumku.
Aku ditolong (oleh Allah) dengan kegentaran (musuh sebelum kedata-nganku) sejauh
perjalanan sebulan;
Bumi (tanah) dijadikan untukku sebagai masjid (tempat sholat) dan alat bersuci (untuk
tayammum-pen). Maka siapa saja dari umatku yang (waktu) sholat menemuinya,
hendaklah dia sholat.
Ghonimah (harta rampasan perang) dihalalkan untukku, dan itu tidaklah halal untuk
seorangpun sebelumku.
Aku diberi syafa’at (oleh Allah).
Dan Nabi-Nabi dahulu (sebelum-ku) diutus khusus kepada kaumnya, sedangkan aku
diutus kepada manusia semuanya.
[Hadits Shohih Riwayat Bukhori, no: 335]

Di zaman ini banyak orang-orang Kristen menyebarkan agama mereka ke berbagai


pelosok dunia. Mereka menisbatkan agama mereka kepada Nabi Isa bin Maryam , yang
mereka menyebutnya dengan Yesus. Padahal Nabi Isa bin Maryam hanya diutus kepada
Bani Isroil. Allah Ta’ala berfirman,

‫سى قَا َل َوإِّ ْذ‬


َ ‫اءي َل بَنِّي يَا َم ْريَ َم اب ُْن ِّعي‬ ُ ‫ص ِّدقا إِّلَ ْي ُكم للاِّ َر‬
ِّ ‫سو ُل إِّنِّي إِّ ْس َر‬ َ ‫ي بَيْنَ ِّل َما ُّم‬
َّ ‫يَ َد‬
َ‫سو ٍل َو ُمبَ ِّشرا الت َّ ْو َراةِّ ِّمن‬ ُ ‫أ َ ْح َم ُد ا ْس ُمهُ بَ ْعدِّي ِّمن يَأْتِّي بِّ َر‬
Dan (ingatlah) ketika Isa putera Maryam berkata: “Hai bani Israil, sesungguhnya aku
adalah utusan Alloh kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurot
dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rosul yang akan datang
sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)”. Maka tatkala Rosul itu datang kepada
mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang
nyata”. [QS. Ash-Shoff (61): 6]

16
KESAKSIAN AYAT BIBEL

Dan ternyata kita masih menda-patkan di antara ayat-ayat Bibel (Kitab yang dianggap
suci oleh orang-orang Nashoro) menjelaskan dengan tegas bahwa Nabi Isa (yang
mereka sebut Yesus) hanya diutus kepada Bani Isroil saja. Marilah kita perhatikan ayat-
ayat di dalam kitab mereka:

1-Disebutkan di dalam Bibel: “Jawab Yesus: “Aku diutus hanya kepada domba-domba
yang hilang dari umat Israel”. (Matius 15: 24)
2-Disebutkan di dalam Bibel: “Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan
kepada mereka: “Janganlah kamu menyim-pang ke jalan bangsa lain atau masuk ke
dalam kota orang Samaria, melain-kan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari
umat Israel”. (Matius 10: 6)

Walaupun ayat-ayat Bibel di atas begitu jelas menyatakan bahwa ajaran Kristen hanya
untuk Bani Israel, namun pengikut-pengikut Kristen begitu giat menyebarkan agamanya
kepada semua bangsa, termasuk di Indonesia. Bahkan sampai ke ber-bagai pelosok
yang tidak ada orang Bani Israel di sana! Maka apakah manfaat bangsa selain Bani
Israel yang mengikuti agama Kristen, yang pembawa agama itu telah mene-gaskan
bahwa agamanya hanya untuk umat Israel?!

Atau mungkin mereka berpegang ayat lain pada kitab mereka yang memerintahkan untuk
menyebarkan agama Kristen kepada seluruh bangsa. Ayat itu berbunyi: “Karena itu
pergi-lah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku, dan baptiskan mereka dalam nama Bapa
dan anak dan Roh Kudus”. (Matius 28:19)

Ini berarti ayat ini bertentangan dengan ayat-ayat di atasnya! Maka manakah yang
benar? Yang pasti bahwa tidak ada jaminan kebenaran terhadap semua isi kitab Bibel,
bahkan bukti-bukti menunjukkan banyak ayat yang dipalsukan. Maha benar
Allah Ta’ala yang telah berfirman di dalam kitab suci Al-Qur’an,

ْ َ ‫يق َكانَ َوقَ ْد لَ ُك ْم يُؤْ ِّمنُوا أَن أَفَت‬


َ‫ط َمعُون‬ َّ ‫بَ ْع ِّد ِّمن يُ َح ِّرفُونَهُ ث ُ َّم‬
ٌ ‫َّللاِّ َكلَ َم يَ ْس َمعُونَ ِّم ْن ُه ْم فَ ِّر‬
‫عقَلُوهُ َما‬
َ ‫يَ ْعلَ ُمونَ َوهُ ْم‬
Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal
segolongan dari mereka (Ahli Kitab) mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahya
setelah mereka memahaminya, sedang mereka menge-tahui? [QS. Al-Baqoroh (2): 75]

Dan Allah mengancam dengan keras terhadap orang-orang yang mengada-adakan


kedustaan terhadap Allah dengan firmanNya,

َ َ ‫َّللاِّ ِّعن ِّد ِّم ْن َهذَا يَقُولُونَ ث ُ َّم بِّأ َ ْيدِّي ِّه ْم ْال ِّكت‬
‫اب يَ ْكتُبُونَ ِّللَّذِّينَ فَ َو ْي ٌل‬ َّ ‫فَ َو ْي ٌل قَ ِّليل ث َ َمنا بِّ ِّه ِّليَ ْشت َ ُروا‬
‫ت ِّم َّما لَّ ُهم‬ ْ َ‫يَ ْك ِّسبُونَ ِّم َّما َو َو ْيلُُِ لَّ ُهم أ َ ْيدِّي ِّه ْم َكتَب‬
Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan
mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh
keuntungan yang sedikit (yakni kesenangan duniawi-pen) dengan perbuatan itu. Maka
kecelakaan besarlah bagi mereka akibat dari apa yang telah mereka tulis dengan tangan-
tangan mereka, dan kecelakaan besarlah bagi mereka akibat dari apa yang mereka
kerjakan. [QS. Al-Baqoroh (2): 79]

– Semoga Allah selalu menetapkan kita di atas jalan yang lurus. –

17
Penulis: Ustadz Muslim Atsari

Artikel www.muslim.or.id

7. Syarat Syahadat Laa Ilaaha Illallah

Setiap ibadah memiliki rukun dan syarat yang harus dipenuhi agar ibadah tersebut sah.
Seseorang yang hendak sholat tentu akan berwudhu terlebih dahulu, karena suci adalah
syarat sah sholat. Begitu pula ibadah yang lain seperti haji, puasa dan zakat juga
memiliki rukun-rukun dan syarat yang tidak boleh tidak harus dipenuhi. Segala sesuatu
yang harus dipenuhi sebelum mengerjakan sesuatu yang lain disebut syarat. Lalu
bagaimana pula dengan mengucapkan kalimat Laa Ilaaha Illalloh? Tidak diragukan lagi
bahwa syahadat adalah setinggi-tingginya derajat keimanan dan rukun islam yang paling
utama. Di sana ada syarat-syarat yang harus dipenuhi agar kalimat Laa Ilaaha
Illalloh yang kita ucapkan dianggap sah.

Para ulama menjelaskan bahwa syahadat Laa Ilaaha Illalloh memiliki delapan syarat:

1. Ilmu

Sebuah pengakuan tidak dianggap kecuali dengan ilmu. Oleh karena itu, wajib bagi kita
untuk mengucapkan kalimat syahadat ini dengan mengilmui makna dari kalimat tersebut.
Alloh berfirman, “Dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Alloh tidak
dapat memberi syafa’at; akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa’at ialah) orang
yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini(nya).” (Az Zukhruf: 86).
Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa mati dalam keadaan
mengilmui Laa Ilaaha Illalloh pasti masuk surga.” (HR. Al Bukhori dan Muslim). Dan
makna yang benar dari kalimat Laa Ilaaha Illalloh yaitu tidak ada sesembahan yang haq
melainkan Alloh Ta’ala.

2. Yakin

Yakin adalah tidak ragu-ragu dengan kebenaran maknanya sehingga tidak mudah
terombang-ambing oleh berbagai cobaan. Alloh berfirman, “Sesungguhnya orang-orang
yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Alloh dan Rasul-
Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan
jiwa mereka pada jalan Alloh. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (Al Hujurat: 15)

Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang engkau jumpai dari balik
dinding ini dia bersaksi Laa Ilaaha Illalloh dengan keyakinan hatinya sampaikanlah kabar
gembira untuknya bahwa dia masuk surga.” (HR. Muslim)

3. Menerima

Alloh menceritakan keadaan orang kafir Quraisy yang tidak menerima dakwah Nabi
Muhammad dalam firman-Nya, “Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada
mereka: ‘Laa ilaaha Illalloh’ (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Alloh)
mereka menyombongkan diri. Dan mereka berkata: ‘Apakah sesungguhnya kami harus
meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?’.” (As Shoffat:
35-36)

Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia. Inilah sifat orang kafir,
tidak menerima kebenaran kalimat Laa ilaaha Illalloh. Sungguh hanya Alloh lah yang
berhak disembah dan diibadahi.

18
4. Tunduk

Maksudnya yaitu melaksanakan konsekuensinya lahir dan batin. Alloh berfirman, “Dan
barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Alloh, sedang dia orang yang berbuat
kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan
hanya kepada Alloh-lah kesudahan segala urusan.” (Luqman: 22)

Nabi bersabda, “Tidaklah sempurna iman kalian sehingga hawa nafsunya tunduk
mengikuti ajaranku.” (HR. Thabrani)

5. Jujur

Alloh berfirman, “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja)
mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya
kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Alloh
mengetahui orang-orang yang benar (jujur) dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-
orang yang dusta.” (Al ‘Ankabut: 2-3)

Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tak seorang pun bersaksi Laa Ilaaha Illalloh
dan Muhammad hamba Alloh dan rasul-Nya dengan kejujuran hati kecuali Alloh
mengharamkan neraka untuk menyentuhnya.” (HR. Al Bukhori dan Muslim)

Betapa kejujuran menjadi syarat sahnya syahadat. Lihatlah bagaimana syahadat orang
munafik ditolak oleh Alloh karena tidak jujur. Sebagaimana firman-Nya, “Apabila orang-
orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: ‘Kami mengakui, bahwa
sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Alloh.’ Dan Alloh mengetahui bahwa
sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Alloh mengetahui bahwa
sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.” (Al Munafiqun: 1)

6. Ikhlas

Ikhlas hakikatnya mengharapkan balasan dari Alloh saja, tidak kepada selain-Nya. Alloh
berfirman, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Alloh dengan
mengikhlaskan keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan
supaya mereka mendirikan sholat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah
agama yang lurus.” (Al Bayyinah: 5)

Apa yang dimaksud dengan ikhlas?

Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh Alloh mengharamkan bagi neraka
menyentuh orang yang mengatakan Laa Ilaaha Illalloh karena semata-mata mencari
wajah Alloh.” (HR. Al Bukhori dan Muslim)

7. Cinta

Alloh berfirman, “Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-
tandingan selain Alloh; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Alloh.
Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Alloh. Dan jika seandainya
orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari
kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Alloh semuanya dan bahwa Alloh amat berat
siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (Al Baqoroh: 165)

Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga hal barangsiapa memilikinya pasti
akan merasakan kelezatan iman: Alloh dan rasul-Nya lebih dia cintai dibanding selain
keduanya, dia mencintai seseorang karena Alloh, dan dia benci untuk kembali kafir
sebagaimana kebenciannya jika dilempar ke dalam api.” (HR. Al Bukhori dan Muslim)

19
8. Mengingkari peribadatan kepada Thoghut.

Thoghut adalah segala sesuatu selain Alloh yang ridho disembah/diibadahi. Alloh
berfirman, “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah
jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar
kepada Thoghut dan beriman kepada Alloh, maka sesungguhnya ia telah berpegang
kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Alloh Maha Mendengar lagi
Maha Mengetahui.” (Al Baqoroh: 256)

Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa mengucapkan Laa Ilaaha


Illalloh dan mengingkari sesembahan selain Alloh, haramlah harta dan darahnya sedang
perhitungannya adalah terserah kepada Alloh Azza Wa Jalla.” (HR. Muslim)

Perlu diperhatikan, syarat-syarat ini tidak bermanfaat sama sekali jika sekedar
dihafalkan, tanpa diamalkan. apakah kita sudah mengevaluasi syahadat kita? Sudahkah
terpenuhi delapan syarat ini dalam syahadat Laa Ilaaha Illalloh yang kita ikrarkan? Belum
terlambat. Berbenahlah! Semoga kita bertemu dengan Alloh sebagai seorang yang
bertauhid, bukan sebagai seorang musyrik. Wal ‘iyaadzu billah.

***

Penulis: Nurdin Abu Yazid


Artikel www.muslim.or.id

8. 3 Pokok Ajaran Islam

Sejauh Mana Pemahaman Kita?

Tak terasa, sudah sejak lama sekali (mungkin sudah 20-an tahun atau bahkan lebih) kita
menjadi sebagai seorang muslim. Nikmat yang besar ini patutlah kita syukuri, karena
banyak diantara manusia yang tidak memperoleh nikmat ini. Dan nikmat inilah yang
sangat menentukan bahagia atau sengsaranya kita di hari akhir nanti.

Pada kesempatan ini, tidaklah kami ingin menanyakan ‘Sejak kapan kita masuk
islam?’ atau ‘Bagaimana ceritanya kita masuk islam?’ karena jawaban pertanyaan ini
bukanlah suatu yang paling mendasar dan paling penting. Namun pertanyaan paling
penting yang harus kita renungkan dan kita jawab pada setiap diri kita adalah: ‘Sudah
sejauh manakah kita telah memahami dan mengamalkan ajaran kita ini?’ Pertanyaan
inilah yang paling penting yang harus direnungkan dan dijawab, karena jawaban
pertanyaan inilah yang nantinya sangat menentukan kualitas keislaman dan ketakwaan
seseorang.

Alloh berfirman, “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati
supaya mentaati di dalam kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi
kesabaran.” (Al Ashr: 1-3)

Alloh berfirman, “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Alloh ialah
orang yang paling taqwa diantara kamu.” (Al Hujurot: 13)

Pokok Ajaran Islam

Sebagaimana yang telah diketahui bahwa ajaran Islam ini adalah ajaran yang paling
sempurna, karena memang semuanya ada dalam Islam, mulai dari urusan buang air

20
besar sampai urusan negara, Islam telah memberikan petunjuk di dalamnya. Alloh
berfirman, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-
cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam menjadi agama bagimu.” (Al-
Maidah: 3)

Salman Al-Farisi berkata,“Telah berkata kepada kami orang-orang musyrikin,


‘Sesungguhnya Nabi kamu telah mengajarkan kepada kamu segala sesuatu sampai
buang air besar!’ Jawab Salman, ‘benar!” (Hadits Shohih riwayat Muslim). Semua ini
menunjukkan sempurnanya agama Islam dan luasnya petunjuk yang tercakup di
dalamnya, yang tidaklah seseorang itu butuh kepada petunjuk selainnya, baik itu teori
demokrasi, filsafat atau lainnya; ataupun ucapan Plato, Aristoteles atau siapa pun juga.

Meskipun begitu luasnya petunjuk Islam, pada dasarnya pokok ajarannya hanyalah
kembali pada tiga hal yaitu tauhid, taat dan baro’ah/berlepas diri. Inilah inti ajaran para
Nabi dan Rosul yang diutus oleh Alloh kepada ummat manusia. Maka barangsiapa yang
tidak melaksanakan ketiga hal ini pada hakikatnya dia bukanlah pengikut dakwah para
Nabi. Keadaan orang semacam ini tidak ubahnya seperti orang yang digambarkan oleh
seorang penyair,

Semua orang mengaku punya hubungan cinta dengan Laila,


namun laila tidak mengakui perkataan mereka

Berserah Diri Kepada Alloh Dengan Merealisasikan Tauhid

Yaitu kerendahan diri dan tunduk kepada Alloh dengan tauhid, yakni mengesakan Alloh
dalam setiap peribadahan kita. Tidak boleh menujukan satu saja dari jenis ibadah kita
kepada selain-Nya. Karena memang hanya Dia yang berhak untuk diibadahi. Dia lah
yang telah menciptakan kita, memberi rizki kita dan mengatur alam semesta ini,
pantaskah kita tujukan ibadah kita kepada selain-Nya, yang tidak berkuasa dan berperan
sedikitpun pada diri kita?

Semua yang disembah selain Alloh tidak mampu memberikan pertolongan bahkan
terhadap diri mereka sendiri sekali pun. Alloh berfirman, “Apakah mereka
mempersekutukan dengan berhala-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatu pun?
Sedang berhala-berhala itu sendiri yang diciptakan. Dan berhala-berhala itu tidak mampu
memberi pertolongan kepada para penyembahnya, bahkan kepada diri meraka
sendiripun berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan.” (Al -A’rof: 191-192)

Semua yang disembah selain Alloh tidak memiliki sedikitpun kekuasaan di alam semesta
ini. Alloh berfirman, “Dan orang-orang yang kamu seru selain Alloh tiada mempunyai
apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar
seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan
permintaanmu, dan pada hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak
ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagai yang diberikan oleh Yang Maha
Mengetahui.” (Fathir: 13-14)

Tunduk dan Patuh Kepada Alloh Dengan Sepenuh Ketaatan

Pokok Islam yang kedua adalah adanya ketundukan dan kepatuhan yang mutlak kepada
Alloh. Dan inilah sebenarnya yang merupakan bukti kebenaran pengakuan imannya.
Penyerahan dan perendahan semata tidak cukup apabila tidak disertai ketundukan
terhadap perintah-perintah Alloh dan Rosul-Nya dan menjauhi apa-apa yang dilarang,
semata-mata hanya karena taat kepada Alloh dan hanya mengharap wajah-Nya semata,
berharap dengan balasan yang ada di sisi-Nya serta takut akan adzab-Nya.

21
Kita tidak dibiarkan mengatakan sudah beriman lantas tidak ada ujian yang membuktikan
kebenaran pengakuan tersebut. Alloh berfirman, “Apakah manusia itu mengira bahwa
mereka dibiarkan mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?
Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka
sesungguhnya Alloh mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia
mengetahui orang-orang yang dusta.” ( Al-Ankabut: 2-3)

Orang yang beriman tidak boleh memiliki pilihan lain apabila Alloh dan Rosul-Nya telah
menetapkan keputusan. Alloh berfirman, “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang beriman
dan tidak pula perempuan yang beriman, apabila Alloh dan Rosul-Nya telah menetapkan
suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan tentang urusan mereka. Dan barangsiapa
mendurhakai Alloh dan Rosul-Nya maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang
nyata.” (Al Ahzab: 36)

Orang yang beriman tidak membantah ketetapan Alloh dan Rosul-Nya akan tetapi
mereka mentaatinya lahir maupun batin. Alloh berfirman, “Sesungguhnya jawaban orang-
orang beriman, bila mereka diseru kepada Alloh dan Rosul-Nya agar rosul menghukum di
antara mereka ialah ucapan. ‘Kami mendengar, dan kami patuh’. Dan mereka itulah
orang-orang yang beruntung.” (An Nur: 51)

Memusuhi dan Membenci Syirik dan Pelakunya

Seorang muslim yang tunduk dan patuh terhadap perintah dan larangan Alloh, maka
konsekuensi dari benarnya keimanannya maka ia juga harus berlepas diri dan membenci
perbuatan syirik dan pelakunya. Karena ia belum dikatakan beriman dengan sebenar-
benarnya sebelum ia mencintai apa yang dicintai Alloh dan membenci apa yang dibenci
Alloh. Padahal syirik adalah sesuatu yang paling dibenci oleh Alloh. Karena syirik adalah
dosa yang paling besar, kedzaliman yang paling dzalim dan sikap kurang ajar yang
paling bejat terhadap Alloh, padahal Allohlah Robb yang telah menciptakan, memelihara
dan mencurahkan kasih sayang-Nya kepada kita semua.

Alloh telah memberikan teladan kepada bagi kita yakni pada diri Nabiyulloh Ibrohim
‘alaihis salam agar berlepas diri dan memusuhi para pelaku syirik dan kesyirikan. Alloh
berfirman, “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan
orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka:
‘Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah
selain Alloh, kami mengingkari kamu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan
dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Alloh saja.'” (Al-
Mumtahanah: 4)

Jadi ajaran Nabi Ibrohim ‘alaihis salam bukan mengajak kepada persatuan agama-
agama sebagaimana yang didakwakan oleh tokoh-tokoh Islam Liberal, akan tetapi
dakwah beliau ialah memerangi syirik dan para pemujanya. Inilah millah Ibrohim yang
lurus! Demikian pula Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam senantiasa
mengobarkan peperangan terhadap segala bentuk kesyirikan dan memusuhi para
pemujanya. Inilah tiga pokok ajaran Islam yang harus kita ketahui dan pahami bersama
untuk dapat menjawab pertanyaan di atas dengan jawaban yang yakin dan pasti. Dan di
atas ketiga pokok inilah aqidah dan syari’ah ini dibangun. Maka kita mohon kepada Alloh
semoga Alloh memberikan taufiq kepada kita untuk dapat memahami agama ini, serta
diteguhkan di atas meniti din ini. Wallohu a’lam…

***

Penulis: Abu Hudzaifah Yusuf bin Munasir


Artikel www.muslim.or.id

22
9. Empat Kaidah Utama Dalam Memahami Tauhid

Aku memohon kepada Allah Al Karim Rabb pemilik Arsy yang agung semoga Dia
melindungimu di dunia dan di akhirat. Aku juga memohon kepada-Nya supaya
menjadikan dirimu diberkahi di manapun kamu berada. Aku juga memohon kepada-Nya
supaya menjadikan dirimu termasuk di antara orang-orang yang bersyukur apabila diberi
kenikmatan, bersabar ketika tertimpa cobaan, dan meminta ampunan tatkala terjerumus
dalam perbuatan dosa, karena ketiga hal itulah tonggak kebahagiaan.

Ketahuilah, semoga Allah membimbingmu untuk taat kepada-Nya, Al Hanifiyah yaitu


agama yang diajarkan oleh Ibrahim ialah beribadah kepada Allah semata dengan
mengikhlaskan agama (amal) untuk-Nya. Itulah perintah yang Allah berikan kepada
segenap umat manusia dan hikmah penciptaan mereka.

Sebagaimana dinyatakan oleh firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dan tidaklah Aku
ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz
Dzariyat [51]: 56). Apabila kamu telah menyadari bahwa kamu diciptakan untuk
beribadah kepada-Nya, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya suatu ibadah tidaklah
dianggap bernilai ibadah kecuali apabila disertai dengan tauhid. Sebagaimana halnya
shalat yang tidak bisa disebut shalat apabila tidak disertai dengan thaharah (keadaan
suci pada diri pelakunya, pen). Maka apabila syirik menyusupi suatu ibadah, niscaya
ibadah itu menjadi rusak. Sebagaimana apabila ada hadats yang muncul pada diri orang
yang sudah bersuci.

Apabila kamu sudah mengerti ternyata syirik itu apabila menyusupi ibadah akan
menghancurkan ibadah tersebut dan menghapuskan amal, bahkan orang yang
melakukannya menjadi tergolong penghuni kekal neraka, maka kini kamu pun telah
mengerti bahwa perkara terpenting bagimu adalah memahami seluk beluknya. Mudah-
mudahan Allah menyelamatkan dirimu dari jebakan perangkap ini; yaitu kesyirikan
terhadap Allah. Allah ta’ala berfirman tentang syirik ini (yang artinya), “Sesungguhnya
Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia akan mengampuni dosa di bawah
tingkatan syirik yaitu bagi orang-orang yang dikehendaki-Nya.” (QS. An Nisaa’ [4]: 48).
Dan hal itu akan mudah kamu mengerti dengan mempelajari empat buah kaidah yang
disebutkan oleh Allah ta’ala di dalam kitab-Nya:

Kaidah Pertama
Hendaknya kamu mengerti bahwa orang-orang kafir yang diperangi oleh
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengakui Allah ta’ala sebagai pencipta dan
pengatur segala urusan. Sedangkan pengakuan mereka ini tidaklah membuat mereka
tergolong orang Islam. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala (yang artinya), “Katakanlah,
Siapakah yang memberikan rezeki kepada kalian dari langit dan bumi. Atau siapakah
yang kuasa menciptakan pendengaran dan penglihatan. Dan siapakah yang mampu
mengeluarkan yang hidup dari yang mati serta mengeluarkan yang mati dari yang hidup.
Dan siapakah yang mengatur segala urusan, maka pasti mereka akan menjawab, ‘Allah’.
Maka katakanlah, ‘Lantas mengapa kalian tidak mau bertakwa?’.” (QS. Yunus [10]: 31)

Kaidah Kedua
Orang-orang musyrik tersebut mengatakan, “Kami tidaklah berdoa kepada mereka
(sesembahan selain Allah, pen) dan bertawajjuh (menggantungkan harapan) kepada
mereka melainkan hanya dalam rangka mencari kedekatan diri (di sisi Allah, pen) dan
untuk mendapatkan syafa’at.”

23
Dalil yang menunjukkan bahwa mereka bertujuan mencari kedekatan diri adalah firman
Allah ta’ala (yang artinya), “Dan orang-orang yang mengangkat selain-Nya sebagai
penolong (sesembahan, pen) beralasan, ‘Kami tidaklah beribadah kepada mereka
kecuali karena bermaksud agar mereka bisa mendekatkan diri kami kepada Allah
sedekat-dekatnya.’ Sesungguhnya Allah pasti akan memberikan keputusan di antara
mereka terhadap perkara yang mereka perselisihkan itu. Sesungguhnya Allah tidak akan
memberikan petunjuk kepada orang yang gemar berdusta dan suka berbuat
kekafiran.” (QS. Az Zumar [39]: 3)

Adapun dalil yang menunjukkan bahwa mereka juga mengharapkan syafaat dengan
kesyirikan yang mereka perbuat adalah firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dan mereka
beribadah kepada selain Allah; sesuatu yang sama sekali tidak mendatangkan bahaya
untuk mereka dan tidak pula menguasai manfaat bagi mereka. Orang-orang itu
beralasan, ‘Mereka adalah para pemberi syafa’at bagi kami di sisi Allah kelak.’.” (QS.
Yunus [10]: 18)

Syafa’at ada dua macam:

Syafa’at yang ditolak dan syafa’at yang ditetapkan.

1. Syafa’at yang ditolak adalah syafa’at yang diminta kepada selain Allah dalam
urusan yang hanya dikuasai oleh Allah. Dalil tentang hal ini adalah firman
Allah ta’ala (yang artinya), “Wahai orang-orang yang beriman, belanjakanlah
sebagian rezeki yang Kami berikan kepada kalian sebelum tiba suatu hari yang
pada saat itu tidak ada lagi jual beli, persahabatan, dan syafa’at. Sedangkan
orang-orang kafir, mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al Baqarah [2]:
254)
2. Syafa’at yang ditetapkan adalah syafa’at yang diminta kepada Allah. Orang yang
diperkenankan memberikan syafa’at berarti mendapatkan pemuliaan dari Allah
dengan syafa’at tersebut. Adapun orang yang akan diberi syafa’at adalah orang
yang ucapan dan perbuatannya diridhai Allah, dan hal itu akan terjadi setelah
mendapatkan izin (dari Allah, pen). Hal ini sebagaimana difirmankan
Allah ta’ala (yang artinya), “Lalu siapakah yang bisa memberikan syafa’at di sisi-
Nya kecuali dengan izin-Nya?”. (QS. Al Baqarah [2]: 255)

Kaidah Ketiga
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam muncul di tengah-tengah masyarakat yang memiliki
peribadatan yang beraneka ragam. Di antara mereka ada yang beribadah kepada
malaikat. Ada pula yang beribadah kepada para nabi dan orang-orang saleh. Ada juga di
antara mereka yang beribadah kepada pohon dan batu. Dan ada pula yang beribadah
kepada matahari dan bulan. Mereka semua sama-sama diperangi oleh
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa sedikitpun membeda-bedakan di antara
mereka. Dalil tentang hal ini adalah firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dan perangilah
mereka semua hingga tidak ada lagi fitnah (syirik) dan agama (amal) semuanya hanya
diperuntukkan kepada Allah.” (QS. Al Anfaal [8]: 39)

Dalil yang menunjukkan adanya peribadatan kepada matahari dan bulan adalah firman-
Nya (yang artinya), “Di antara tanda-tanda kebesaran-Nya adalah malam dan siang,
matahari dan bulan, maka janganlah kamu sujud kepada matahari ataupun bulan. Akan
tetapi sujudlah kamu kepada Allah yang menciptakan itu semua, jika kamu benar-benar
beribadah hanya kepada-Nya.” (QS. Fushshilat [41]: 37)

Dalil yang menunjukkan adanya peribadatan kepada para malaikat adalah firman
Allah ta’ala (yang artinya), “Dan Allah tidak menyuruh kamu untuk mengangkat para
malaikat dan nabi-nabi sebagai sesembahan.” (QS. Al ‘Imran [3]: 80)
24
Dalil yang menunjukkan adanya peribadatan kepada para nabi adalah firman-Nya yang
artinya, “Ingatlah ketika Allah berfirman, ‘Wahai Isa putera Maryam, apakah kamu
mengatakan kepada manusia: Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua sosok sesembahan
selain Allah’? Maka Isa berkata, ‘Maha Suci Engkau ya Allah, tidak pantas bagiku untuk
berucap sesuatu yang bukan menjadi hakku. Apabila aku mengucapkannya tentunya
Engkau pasti mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada dalam diriku, dan aku
sama sekali tidak mengetahui apa yang ada di dalam diri-Mu. Sesungguhnya Engkau
Maha Mengetahui hal-hal yang gaib.’.” (QS. Al Maa’idah [5]: 116)

Dalil yang menunjukkan adanya peribadatan kepada orang-orang salih adalah firman-
Nya Yang Maha Tinggi (yang artinya), “Sosok-sosok yang mereka seru justru mencari
wasilah kepada Rabb mereka; siapakah di antara mereka yang lebih dekat, dan mereka
juga sangat mengharapkan curahan rahmat-Nya dan merasa takut dari azab-Nya.” (QS.
Al Israa’ [17]: 57)

Dalil yang menunjukkan adanya peribadatan kepada pohon dan batu adalah firman-Nya
Yang Maha Tinggi (yang artinya), “Kabarkanlah kepada-Ku tentang Latta, ‘Uzza, dan
juga Manat yaitu sesembahan lain yang ketiga.” (QS. An Najm [53]: 19-20). Demikian
juga ditunjukkan oleh hadits Abu Waqid Al Laitsi radhiyallahu’anhu. Beliau
menuturkan, “Ketika kami berangkat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
menuju Hunain. Ketika itu kami masih dalam keadaan baru keluar dari agama kekafiran.
Orang-orang musyrik ketika itu memiliki sebatang pohon yang mereka jadikan sebagai
tempat i’tikaf dan tempat khusus untuk menggantungkan senjata-senjata mereka. Pohon
itu disebut Dzatu Anwath. Ketika itu, kami melewati pohon tersebut. Lalu kami berkata,
‘Wahai Rasulullah, buatkanlah untuk kami sebatang Dzatu Anwath seperti Dzatu Anwath
yang mereka miliki.’.” (HR. Tirmidzi [2181], Ahmad dalam Musnadnya [5/218]. Tirmidzi
mengatakan: hadits hasan sahih)

Kaidah Keempat
Orang-orang musyrik pada masa kita justru lebih parah kesyirikannya daripada orang-
orang musyrik zaman dahulu. Sebab orang-orang terdahulu hanya berbuat syirik di kala
lapang dan beribadah (berdoa) dengan ikhlas di kala sempit. Adapun orang-orang
musyrik di masa kita melakukan syirik secara terus menerus, baik ketika lapang
ataupun ketika terjepit. Dalil yang menunjukkan hal ini adalah firman Allah ta’ala (yang
artinya), “Apabila mereka sudah naik di atas kapal (dan diterpa ombak yang hebat, pen)
maka mereka pun menyeru (berdoa) kepada Allah dengan penuh ikhlas
mempersembahkan amalnya. Namun setelah Allah selamatkan mereka ke daratan, tiba-
tiba mereka kembali berbuat kesyirikan.” (QS. Al ‘Ankabuut [29]: 65)

Selesai, semoga shalawat dan doa keselamatan senantiasa tercurah kepada


Muhammad, segenap pengikutnya, dan terutama para sahabatnya.

***

Penulis: Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab At Tamimi


Penerjemah: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel www.muslim.or.id

10. Agar Ibadah Diterima di Sisi Alloh

Alloh yang Maha Bijaksana tentulah tidak menciptakan sesuatu kecuali dengan hikmah
yang agung. Alloh berfirman, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan
supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (Adz Dzariyat: 56). Mungkin kita sudah hafal
tujuan tersebut karena sering kita dengar, tapi pernahkah terlintas di benak kita apakah
25
ibadah kita itu diterima ataukah tidak? Maka, tidak ada seorang pun yang dapat
menjamin hal ini, sehingga sudah seharusnya bagi tiap mukmin untuk beramal dengan
senantiasa berharap dan cemas. Berharap agar ia mendapat ridho Alloh serta janji-janji
yang sudah ditetapkan Alloh dalam Al Qur’an dan cemas kalau-kalau ibadahnya tidak
diterima. Dan janganlah ia berdecak kagum atas amal yang ia lakukan dan merasa
bahwa ibadahnya pasti diterima.

Ingatlah firman Alloh, “Katakanlah: ‘Maukah Kami beritahukan kepadamu tentang orang-
orang yang paling merugi perbuatannya?’ Yaitu orang-orang yang telah sia-sia
perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka
berbuat sebaik-baiknya.” (Al Kahfi: 103, 104). Siapakah yang lebih rugi dari orang
semacam ini? yang telah beramal dengan susah payah sewaktu masih hidup di dunia
tapi ternyata sia-sia dan tidak diterima oleh Alloh Ta’ala.

Apakah Makna Ibadah?


Ibadah secara bahasa bermakna merendahkan diri dan tunduk. Sedang secara istilah,
ulama banyak memberikan makna. Namun makna yang paling lengkap adalah seperti
yang didefinisikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, yaitu: Suatu kata yang meliputi
segala perbuatan dan perkataan; zhohir maupun batin yang dicintai dan diridhoi oleh
Alloh Ta’ala. Dengan demikian ibadah terbagi menjadi tiga, yaitu: ibadah hati, ibadah
lisan dan ibadah anggota badan.

Syarat Diterimanya Amal Ibadah


Ketahuilah, semua amalan dapat dikatakan sebagai ibadah yang diterima bila memenuhi
dua syarat, yaitu Ikhlash dan mutaba’ah (mengikuti tuntunan Nabi shollallohu ‘alaihi
wassalam). Kedua syarat ini terangkum dalam firman Alloh, “…Barangsiapa mengharap
perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang sholih dan
janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (Al
Kahfi: 110). Beramal sholih maksudnya yaitu melaksanakan ibadah sesuai dengan tata
cara yang telah diajarkan oleh Nabi, dan tidak mempersekutukan dalam ibadah
maksudnya mengikhlashkan ibadah hanya untuk Alloh semata.

Hal ini diisyaratkan pula dalam firmanNya, “(Tidak demikian) dan bahkan barangsiapa
yang menyerahkan diri kepada Alloh, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala
pada sisi Robbnya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka
bersedih hati.” (Al-Baqoroh: 112). Menyerahkan diri kepada Alloh berarti mengikhlashkan
seluruh ibadah hanya kepada Alloh saja. Berbuat kebajikan (ihsan) berarti mengikuti
syari’at Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam.

Syarat pertama (ikhlash) merupakan konsekuensi dari syahadat pertama (persaksian


tiada sesembahan yang benar kecuali Alloh semata). Sebab persaksian ini menuntut kita
untuk mengikhlashkan semua ibadah kita hanya untuk Alloh saja. Sedang syarat kedua
(mutaba’ah) adalah konsekuensi dari syahadat kedua (persaksian Nabi Muhammad -
shollallohu ‘alaihi wa sallam- sebagai hamba dan utusan-Nya).

Ikhlash dalam Ibadah


Seluruh ibadah yang kita lakukan harus ditujukan untuk Alloh semata. Walaupun
seseorang beribadah siang dan malam, jika tidak ikhlash (dilandasi tauhid) maka sia-
sialah amal tersebut. Alloh berfirman, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali untuk
menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan)
agama yang lurus, dan agar mereka mendirikan sholat dan menunaikan zakat; dan yang
demikian itulah agama yang lurus.” (Al Bayyinah: 5)
26
Maka sungguh beruntunglah seseorang yang selalu mengawasi hatinya, kemanakah
maksud hati tatkala ia beribadah, apakah untuk Alloh, ataukah untuk selain Alloh.
Perhatikanlah jenis amal-amal berikut:

Amalan riya’ semata-mata, yaitu amalan itu dilakukan hanya supaya dilihat makhluk atau
karena tujuan duniawi. Amalan seperti ini hangus, tidak bernilai sama sekali dan
pelakunya pantas mendapat murka Alloh. Amalan yang ditujukan kepada Alloh dan
disertai riya’ dari sejak awalnya, maka nash-nash yang shohih menunjukkan amalan
seperti ini bathil dan terhapus. Amalan yang ditujukan bagi Alloh dan disertai niat lain
selain riya’. Seperti jihad yang diniatkan untuk Alloh dan karena menghendaki harta
rampasan perang. Amalan seperti ini berkurang pahalanya dan tidak sampai batal dan
tidak sampai terhapus amalnya.

Amalan yang awalnya ditujukan untuk Alloh kemudian terbesit riya’ di tengah-tengah,
maka amalan ini terbagi menjadi dua, jika riya’ tersebut terbersit sebentar dan segera
dihalau maka riya’ tersebut tidak berpengaruh apa-apa. Namun jika riya’ tersebut selalu
menyertai amalannya maka pendapat terkuat diantara ulama salaf menyatakan bahwa
amalannya tidak batal dan dinilai niat awalnya sebagaimana pendapat Hasan Al Bashri.
Namun dia tetap berdosa karena riya’nya tersebut dan tambahan amal (perpanjangan
amal karena riya’) terhapus. Sedang amal yang ikhlash karena Alloh kemudian mendapat
pujian sehingga dia senang dengan pujian tersebut, maka hal ini tidak berpengaruh apa-
apa terhadap amalnya.

Beribadah Hanya Dengan Syari’at


Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam
Ketahuilah, ibadah bukanlah produk akal atau perasaan manusia. Ibadah merupakan
sesuatu yang diridhoi Alloh, dan engkau tidak akan mengetahui apa yang diridhoi Alloh
kecuali setelah Alloh kabarkan atau dijelaskan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam.
Dan seluruh kebaikan telah diajarkan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, tidak
tersisa sedikit pun. Tidak ada dalam kamus ibadah sesorang melaksanakan sesuatu
karena menganggap ini baik, padahal Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam tidak
pernah mencontohkan. Sehingga tatkala ditanya, “Mengapa engkau melakukan ini?” lalu
ia menjawab, “Bukankah ini sesuatu yang baik? Mengapa engkau melarang aku dari
melakukan yang baik?” Saudaraku, bukan akal dan perasaanmu yang menjadi hakim
baik buruknya. Apakah engkau merasa lebih taqwa dan sholih ketimbang
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya? Ingatlah sabda
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang melakukan satu amalan
(ibadah) yang tiada dasarnya dari kami maka ia tertolak.” (HR. Muslim)

Perhatikanlah, ibadah kita harus mencocoki tatacara Nabi shollallohu ‘alaihi wa


sallam dalam beberapa hal:

Sebabnya. Ibadah kepada Alloh dengan sebab yang tidak disyari’atkan, maka ibadah
tersebut adalah bid’ah dan tidak diterima. Contoh: Ada orang melakukan sholat tahajjud
pada malam dua puluh tujuh bulan Rojab, dengan dalih bahwa malam itu adalah malam
Mi’roj Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam (dinaikkan ke atas langit). Sholat tahajjud
adalah ibadah tetapi karena dikaitkan dengan sebab yang tidak ditetapkan syari’at maka
sholat karena sebab tersebut hukumnya bid’ah.

Jenisnya. Artinya ibadah harus sesuai dengan syariat dalam jenisnya, contoh seseorang
yang menyembelih kuda untuk kurban adalah tidak sah, karena menyalahi syari’at dalam
jenisnya. Jenis binatang yang boleh dijadikan kurban adalah unta, sapi dan kambing.

27
Kadar (bilangannya). Kalau ada seseorang yang sengaja menambah bilangan raka’at
sholat zhuhur menjadi lima roka’at, maka sholatnya bid’ah dan tidak diterima, karena
tidak sesuai dengan ketentuan syariat dalam jumlah bilangan roka’atnya. Dari sini kita
tahu kesalahan orang-orang yang berdzikir dengan menenentukan jumlah bacaan
tersebut sampai bilangan tertentu, baik dalam hitungan ribuan, ratusan ribu atau bahkan
jutaan. Mereka tidak mendapatkan apa-apa kecuali capek dan murka Alloh.

Kaifiyah (caranya). Seandainya ada seseorang berwudhu dengan cara membasuh


tangan dan muka saja, maka wudhunya tidak sah, karena tidak sesuai dengan cara yang
ditentukan syariat.

Waktunya. Apabila ada orang menyembelih binatang kurban Idul Adha pada hari pertama
bulan Dzulhijjah, maka tidak sah, karena syari’at menentukan penyembelihan pada hari
raya dan hari tasyriq saja.

Tempatnya. Andaikan ada orang beri’tikaf di tempat selain Masjid, maka tidak
sah i’tikafnya. Sebab tempat i’tikaf hanyalah di Masjid.

Wahai saudaraku… Marilah kita wujudkan tuntutan dua kalimat syahadat ini, yaitu kita
menjadikan ibadah yang kita lakukan semata-mata hanya untuk Alloh dan kita beribadah
hanya dengan syari’at yang dibawa oleh Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa
sallam dalam setiap tarikan nafas dan detik-detik kehidupan kita, semoga dengan
demikian kita semua menjadi hamba-Nya yang bersyukur, bertaqwa dan diridhoi-
Nya. Wallohu a’lam bish showaab.

***

Penulis: Bambang Abu Abdirrohman Al Atsary Al Bayaty


Artikel www.muslim.or.id

11. Awas Syirik!!! (1)

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada
Rasulullah, keluarganya, para sahabat dan seluruh pengikut mereka yang setia. Amma
ba’du, sesungguhnya sebenar-benar ucapan adalah Kitabullah. Sebaik-baik jalan adalah
jalan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek urusan adalah bid’ah. Dan
setiap bid’ah pasti sesat.

Para pembaca yang budiman, Allah ta’ala berfirman di dalam kitabnya yang mulia,

‫إِّ َّن َّللاَ الَ يَ ْغ ِّف ُر أَن يُ ْش َركَ بِّ ِّه َويَ ْغ ِّف ُر َما دُونَ ذَلِّكَ ِّل َمن يَشَا ُء‬

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik kepada-Nya dan Dia akan
mengampuni dosa lainnya yang berada di bawah tingkatannya bagi siapa saja yang
dikehendaki oleh-Nya.” (QS. An Nisaa’: 116)

Pengertian dan Ruang lingkup Syirik

Syirik adalah menyamakan antara selain Allah dengan Allah ta’ala dalam perkara yang
termasuk kategori kekhususan yang hanya dimiliki oleh Allah ta’ala saja. Kekhususan
Allah itu meliputi tiga hal utama, Pertama; hak rububiyah, seperti mencipta, mengatur
alam, menguasainya, mengabulkan do’a dan lain-lain. Kedua; hak uluhiyah, seperti
berhak untuk diibadahi, menjadi tujuan do’a, permintaan tolong, permintaan
perlindungan, tujuan dalam melaksanakan persembahan atau sembelihan, menjadi
tujuan harapan, rasa takut dan kecintaan yang disertai dengan ketundukkan. Ketiga, hak
kesempurnaan Nama-nama dan Sifat-sifat, seperti menyandang nama Allah, Ar
28
Rabb dan Ar Rahman, atau memiliki sifat mengetahui yang Gaib, Maha Mendengar,
Maha Melihat, Maha Mengetahui, yang tidak ada sesuatupun yang menyamai-Nya. Jadi
kesyirikan itu bisa terjadi dalam hal rububiyah, uluhiyah maupun nama dan sifat-Nya.

Syaikh Al Albani rahimahullah mengatakan, “Barang siapa yang bisa membersihkan diri
dari ketiga macam syirik ini dalam penghambaaan dan tauhidnya kepada Allah, dia
mengesakan Zat-Nya, beribadah hanya kepada-Nya dan mengesakan sifat-sifatNya,
maka dialah muwahhid sejati. Dialah pemilik berbagai keutamaan khusus yang dimiliki
oleh kaum yang bertauhid. Dan barangsiapa yang kehilangan salah satu bagian darinya
maka kepadanyalah tertuju ancaman yang terdapat dalam firman Allah ta’ala, semacam,
“Sungguh jika kamu berbuat syirik niscaya akan terhapus seluruh amalmu dan kamu
benar-benar termasuk orang yang merugi”. Camkanlah perkara ini, sebab inilah perkara
terpenting dalam masalah akidah…” (Al ‘Aqidah Ath Thahawiyah, Syarh wa Ta’liq, hal.
17-18) Adapun yang sering disebut dengan syirik saja oleh para ulama maka yang
dimaksud adalah syirik dalam hal uluhiyah/ibadah, dan inilah yang akan kita bicarakan
sekarang. Yaitu syirik dalam hal ibadah.

Dahsyatnya Bahaya Kesyirikan

Berikut ini beberapa dalil dari Al Quran maupun As Sunnah yang hendaknya kita
perhatikan dengan seksama. Dalil-dalil itu akan menggambarkan kepada kita sebuah
gambaran mengerikan dan sangat menakutkan tentang dahsyatnya bahaya kesyirikan.
Semoga Allah menyelamatkan diri kita darinya.

Pertama, Dosa syirik tidak akan diampuni oleh Allah. Allah ta’ala berfirman,

‫إِّ َّن َّللاَ الَ يَ ْغ ِّف ُر أَن يُ ْش َركَ بِّ ِّه َويَ ْغ ِّف ُر َما دُونَ ذَلِّكَ ِّل َمن يَشَا ُء‬

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik kepada-Nya, dan Dia akan
mengampuni dosa lain yang berada di bawah tingkatan syirik bagi siapa saja yang
dikehndaki oleh-Nya.” (QS. An Nisaa’: 48 dan 116)

Kedua, Allah mengharamkan surga dimasuki oleh orang yang berbuat syirik. Allah ta’ala
berfirman,

‫ار‬
ٍ ‫ص‬ ُ َّ‫علَي ِّه ْال َجنَّةَ َو َمأ ْ َواهُ الن‬
َّ ‫ار َو َما ِّل‬
َ ‫لظا ِّل ِّمينَ ِّم ْن أَن‬ َ ُ‫إِّنَّهُ َمن يُ ْش ِّر ْك بِّاّللِّ فَقَ ْد َح َّر َم َّللا‬

“Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka sesungguhnya Allah


telah mengharamkan surga baginya dan tempat kembalinya adalah neraka, dan tiada
seorang penolongpun bagi orang-orang zhalim tersebut.” (QS. Al Maa’idah: 72)

Ketiga, seorang musyrik akan kekal berada di dalam siksa neraka. Allah ta’ala berfirman,

ِّ ‫ي َها أ ُ ْولَئِّكَ هُ ْم ش َُّر ْالبَ ِّريَّ ِّةِِّإِّ َّن الَّذِّينَ َكف َُروا ِّم ْن أ َ ْه ِّل ْال ِّكت َا‬
ِّ ‫ب َو ْال ُم ْش ِّركِّينَ فِّي ن‬
‫َار َج َهنَّ َم خَا ِّلدِّينَ ف‬

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dari kalangan ahli kitab dan orang-orang musyrik
berada di dalam neraka Jahannam dan kekal di dalamnya, mereka itulah sejelek-jelek
ciptaan.” (QS. Al Bayyinah: 6)

Keempat, dosa kesyirikan akan menghapuskan semua pahala amal shalih, betapapun
banyak amal tersebut. Allah ta’ala berfirman,

َ‫ع َملُكَ َولَت َ ُكون ََّن ِّمنَ ْالخَا ِّس ِّرين‬ َ َ‫ي إِّلَيْكَ َوإِّلَى الَّذِّينَ ِّم ْن قَ ْبلِّكَ لَئِّ ْن أ َ ْش َر ْكتَ لَيَحْ ب‬
َ ‫ط َّن‬ ِّ ُ ‫َولَقَ ْد أ‬
َ ‫وح‬
“Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada para Nabi sebelum engkau, ‘Jika
kamu berbuat syirik maka pastilah seluruh amalmu akan lenyap terhapus dan kamu
benar-benar akan termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az Zumar: 65)
29
Kelima, syirik adalah kezhaliman yang paling zalim. Allah ta’ala berfirman,

‫الشر‬ َّ ِّ‫ي َال ت ُ ْش ِّر ْك ب‬


ِّ ‫اّللِّ إِّ َّن‬ َّ َ‫ظهُ يَا بُن‬ َ ‫ظ ْل ٌم‬
ُ ‫ع ِّظي ٌمِْ َوإِّ ْذ قَا َل لُ ْق َمانُ ِّال ْبنِّ ِّه َوه َُو يَ ِّع‬ ُ َ‫كَ ل‬

“Sesungguhnya syirik itu adalah kezhaliman yang sangat besar.” (QS. Luqman: 13)

Allah ta’ala juga berfirman,

ِّ ‫اس بِّ ْال ِّقس‬


‫ْط‬ َ ُ‫اب َو ْال ِّميزَ انَ ِّليَق‬
ُ َّ‫وم الن‬ َ َ ‫ت َوأَنزَ ْلنَا َمعَ ُه ُم ْال ِّكت‬
ِّ ‫سلَنَا بِّ ْالبَيِّنَا‬
ُ ‫س ْلنَا ُر‬
َ ‫لَقَ ْد أ َ ْر‬

“Sungguh Kami telah mengutus para utusan Kami dengan keterangan-keterangan, dan
Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca supaya manusia menegakkan
keadilan.” (QS. Al Hadiid: 25)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Allah memberitakan bahwa Dia


mengutus para Rasul-Nya, menurunkan kitab-kitabNya agar manusia menegakkan yaitu
keadilan. Salah satu di antara keadilan yang paling agung adalah tauhid. Ia adalah pokok
terbesar dan pilar penegak keadilan. Sedangkan syirik adalah kezaliman yang sangat
besar. Sehingga syirik merupakan kezaliman yang paling zalim, sedangkan tauhid
merupakan keadilan yang paling adil…” (Ad Daa’ wad Dawaa’, hal. 145)

Keenam, syirik merupakan dosa terbesar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah
bertanya kepada para sahabatnya yang artinya, “Maukah kalian aku kabarkan tentang
dosa-dosa yang paling besar?” (beliau ulangi pertanyaan itu tiga kali) Maka para sahabat
menjawab, “Mau ya Rasulullah.” Lalu beliau bersabda, “Berbuat syirik terhadap Allah dan
durhaka kepada kedua orang tua…” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketujuh, orang yang berbuat syirik sehingga murtad maka menurut ketetapan syariat
Islam dia berhak dihukum bunuh. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang
artinya, “Tidak halal menumpahkan darah seorang muslim kecuali dengan satu di antara
tiga penyebab: seorang yang sudah menikah tapi berzina, seorang muslim yang
membunuh saudaranya (seagama) atau orang yang meninggalkan agamanya sengaja
memisahkan diri dari jama’ah (murtad dari Islam).” (HR. Bukhari dan Muslim). Beliau juga
bersabda, “Barang siapa yang mengganti agamanya maka bunuhlah dia.” (HR. Ahmad
dan Bukhari)

Kedelapan, amal yang tercampur dengan syirik akan sia-sia dan sirna sebagaimana
debu-debu yang beterbangan disapu oleh angin. Allah ta’ala berfirman,

‫َوقَد ِّْمنَا إِّلَى َما َع ِّملُوا ِّم ْن َع َم ٍل فَ َجعَ ْلنَاهُ َهبَاء َّمنثُورا‬

“Dan Kami akan hadapi semua amal yang pernah mereka amalkan (sewaktu di dunia)
kemudian Kami jadikan amal-amal itu sia-sia seperti debu-debu yang beterbangan.” (QS.
Al Furqan: 23)

Kesembilan, orang yang berbuat syirik dalam beramal maka dia akan ditelantarkan oleh
Allah. Allah ta’ala berfirman dalam sebuah hadits qudsi yang artinya, “Aku adalah Zat
yang Maha Kaya dan paling tidak membutuhkan sekutu, oleh sebab itu barang siapa
yang beramal dengan suatu amalan yang dia mempersekutukan sesuatu dengan-Ku di
dalam amalnya itu maka pasti Aku akan telantarkan dia bersama kesyirikannya itu.” (HR.
Muslim)

Kesepuluh, bahaya syirik lebih dikhawatirkan oleh Nabi daripada bahaya Dajjal.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Maukah kalian aku
beritahukan tentang sesuatu yang paling aku khawatirkan mengancam kalian dalam
pandanganku dan lebih menakutkan daripada Al Masih Ad Dajjal?” Maka para sahabat
menjawab, “Mau (ya Rasulullah).” Beliau pun bersabda, “Yaitu syirik yang samar. Apabila
30
seseorang mendirikan shalat sambil membagus-baguskan shalatnya karena dia melihat
ada orang lain yang memperhatikan shalatnya.” (HR. Ahmad)

Kesebelas, syirik kecil adalah dosa yang sangat dikhawatirkan terjadi pada generasi
terbaik yaitu para sahabat radhiallahu ‘anhum. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah
bersabda yang artinya, “Sesuatu yang paling aku khawatirkan menimpa kalian adalah
syirik kecil.” Maka beliau pun ditanya tentangnya. Sehingga beliau menjawab, “Yaitu
riya’/ingin dilihat dan dipuji orang.” (HR. Ahmad, dishahihkan Al Albani dalam Ash
Shahihah no. 951 dan Shahihul Jami’ no. 1551)

Kedua belas, Syirik adalah bahaya yang sangat dikhawatirkan oleh bapak para Nabi
yaitu Ibrahim ‘alaihis salam akan menimpa pada dirinya dan pada anak keturunannya.
Allah ta’ala mengisahkan doa yang dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim di dalam ayat-Nya,

‫َام‬
َ ‫صن‬ْ َ ‫ي أَن نَّ ْعبُ َد األ‬ ِّ ‫ب اجْ عَ ْل هَـذَا ْالبَلَ َد‬
َّ ِّ‫آمنا َواجْ نُ ْبنِّي َوبَن‬ ِّ ‫َر‬

“Dan jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari penyembahan kepada arca-arca.” (QS.
Ibrahim: 35)

Ibrahim At Taimi mengatakan, “Lalu siapakah orang selain Ibrahim yang bisa merasa
aman dari ancaman bencana (syirik)?!” Syaikh Abdurrahman bin Hasan rahimahullah
berkata, “Maka tidak ada lagi yang merasa aman dari terjatuh dalam kesyirikan kecuali
orang yang bodoh tentangnya dan juga tidak memahami sebab-sebab yang bisa
menyelamatkan diri darinya; yaitu ilmu tentang Allah, ilmu tentang ajaran Rasul-Nya yaitu
mentauhidkan-Nya serta larangan dari perbuatan syirik terhadapnya.” (Fathul Majid, hal.
72).

Ketiga belas, orang yang mati dalam keadaan masih musyrik maka pasti masuk neraka.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Barang siapa yang
menjumpai Allah (mati) dalam keadaan mempersekutukan sesuatu dengan-Nya maka
pasti masuk neraka.” (HR. Muslim)

Keempat belas, orang yang berbuat syirik maka amalnya tidak akan diterima. Allah ta’ala
berfirman,

‫صا ِّلحا َو َال يُ ْش ِّر ْك بِّ ِّعبَا َدةِّ َرب‬ َ ‫ِّه أ َ َحداِِّفَ َمن َكانَ يَ ْر ُجو ِّلقَاء َربِّ ِّه فَ ْليَ ْع َم ْل‬
َ ‫ع َمل‬

“Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya hendaklah dia


beramal shalih dan tidak mempersekutukan apapun dengan Allah dalam beribadah
kepada tuhannya itu.” (QS. Al Kahfi: 110)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata sembari menukilkan ayat, “[Maka barangsiapa
yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya] artinya barangsiapa yang
menginginkan pahala dan balasan kebaikan dari-Nya, [maka hendaklah dia beramal
shalih], yaitu amal yang sesuai dengan syariat Allah. [dan dia tidak mempersekutukan
apapun dalam beribadah kepada kepada Tuhannya] Artinya dia adalah orang yang
hanya mengharapkan wajah Allah saja dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Inilah dua buah
rukun diterimanya amalan. Suatu amal itu harus ikhlas untuk Allah dan benar yaitu
berada di atas tuntunan syariat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Tafsir Ibnu
Katsir, 5/154). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda yang
artinya, “Barang siapa yang mendatangi paranormal kemudian menanyakan sesuatu
kepadanya maka shalatnya tidak akan diterima selama 40 malam.” (HR. Muslim dan
Ahmad)

Kelima belas, seorang mujahid, da’i atau ahli baca Quran serta dermawan yang
terjangkiti kesyirikan maka akan diadili pertama kali pada hari kiamat dan kemudian

31
dibongkar kedustaannya lalu dilemparkan ke dalam neraka dalam keadaan wajahnya
tertelungkup dan diseret oleh Malaikat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Sesungguhnya orang


pertama kali diadili pada hari kiamat adalah seseorang yang mati syahid di jalan Allah.
Dia didatangkan kemudian ditampakkan kepadanya nikmat-nikmat yang diberikan
kepadanya maka dia pun mengakuinya. Allah bertanya, “Apa yang kamu lakukan
dengannya?” Dia menjawab, “Aku berperang untuk-Mu sampai aku mati syahid.” Allah
berfirman, “Engkau dusta, sebenarnya engkau berperang karena ingin disebut sebagai
pemberani. Dan itu sudah kau dapatkan.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk
menyeretnya tertelungkup di atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.
Kemudian ada seseorang yang telah mendapatkan anugerah kelapangan harta. Dia
didatangkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang diperolehnya. Maka dia pun
mengakuinya. Allah bertanya, “Apakah yang sudah kamu perbuat dengannya?” Dia
menjawab, “Tidaklah aku tinggalkan suatu kesempatan untuk menginfakkan harta di
jalan-Mu kecuali aku telah infakkan hartaku untuk-Mu.” Allah berfirman, “Engkau dusta,
sebenarnya engkau lakukan itu demi mendapatkan julukan orang yang dermawan, dan
engkau sudah memperolehnya.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk
menyeretnya tertelungkup di atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.
Kemudian seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya dan juga membaca Al
Quran. Dia didatangkan kemudian ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang sudah
didapatkannya dan dia pun mengakuinya. Allah bertanya, “Apakah yang sudah kau
perbuat dengannya ?” Maka dia menjawab, “Aku menuntut ilmu, mengajarkannya dan
membaca Al Quran karena-Mu.” Allah berfirman, “Engkau dusta, sebenarnya engkau
menuntut ilmu supaya disebut orang alim. Engkau membaca Quran supaya disebut
sebagai Qari’.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya tertelungkup
di atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim)

Keenam belas, orang yang berbuat syirik akan merasa kecanduan dengan
sesembahannya dan ditelantarkan oleh Allah. Abdullah bin ‘Ukaim meriwayatkan secara
marfu’ (sampai kepada Nabi) bahwasanya beliau bersabda, “Barang siapa yang
menggantungkan sesuatu (jimat dan semacamnya, red) maka dia akan dibuat bersandar
dan tergantung kepadanya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi, dinilai hasan Al Arna’uth
dalam Takhrij Jami’ul Ushul 7/575)

Ketujuh belas, orang yang menyembah selain Allah adalah orang paling sesat sejagad
raya. Allah ta’ala berfirman,

‫اس كَانُوا لَ ُه ْم أ َ ْع َداء‬ َ ‫وم ْال ِّقيَا َم ِّة َوهُ ْم َعن ُد‬
ُ َّ‫عائِّ ِّه ْم غَافِّ ُل َوإِّذَا ُح ِّش َر الن‬ ُ ‫َّللاِّ َمن َّال يَ ْست َِّج‬
ِّ َ‫يب لَهُ إِّلَى ي‬ َّ ‫ُون‬ َ َ ‫َو َم ْن أ‬
ُ ‫ض ُّل ِّم َّمن يَ ْد‬
ِّ ‫عو ِّمن د‬
َ‫َوكَانُوا بِّ ِّعبَا َدتِّ ِّه ْم كَافِّ ِّرين‬

“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyeru kepada sesembahan-
sesembahan selain Allah, sesuatu yang jelas-jelas tidak dapat mengabulkan doa hingga
hari kiamat, dan sesembahan itu juga lalai dari doa yang mereka panjatkan. Dan apabila
umat manusia nanti dikumupulkan (pada hari kiamat) maka sesembahan-sesembahan itu
justru akan menjadi musuh serta mengingkari peribadatan yang dilakukan oleh para
pemujanya.” (QS. Al Ahqaf: 5-6)

Kedelapan belas, orang yang berbuat syirik adalah sosok-sosok manusia yang sangat
dungu lagi tidak mau mengambil pelajaran. Allah ta’ala berfirman,

‫َّللاُ قُ ِّل ْال َح ْم ُد ِّ َّّللِّ بَ ْل أ َ ْكث َ ُرهُم‬ َ ‫اء َماء فَأَحْ يَا بِّ ِّه ْاأل َ ْر‬
َّ ‫ض ِّمن بَ ْع ِّد َم ْوتِّ َها لَيَقُولُ َّن‬ َّ ‫سأ َ ْلت َ ُهم َّمن نَّ َّز َل ِّمنَ ال‬
ِّ ‫س َم‬ َ ‫َال يَ ْع ِّقلُونَ ِْ َولَئِّن‬

“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka; Siapakah yang menurunkan air
dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?” Tentu mereka akan
menjawab, “Allah”, Katakanlah, “Segala puji bagi Allah.” tetapi kebanyakan mereka tidak
memahaminya.” (QS. Al ‘Ankabut: 63)
32
Allah juga berfirman,

َ‫ص ُرون‬ َ ُ‫صرا َوالَ أَنف‬


ُ ‫س ُه ْم يَن‬ َ ‫أَيُ ْش ِّر ُكونَ َما الَ يَ ْخلُ ُق‬
ْ َ‫شيْئا َو ُه ْم ي ُْخلَقُونَ َوالَ يَ ْست َِّطيعُونَ لَ ُه ْم ن‬

“Apakah mereka itu mau mempersekutukan (dengan Allah) sesuatu yang tidak bisa
menciptakan apa-apa dan mereka sendiri pun sebenarnya diciptakan, mereka juga tidak
sanggup memberikan sedikitpun pertolongan dan tidak bisa pula menolong diri mereka
sendiri.” (QS. Al A’raaf: 191-192)

Allah jalla wa ‘ala juga berfirman,

‫س ِّمعُوا َما ا ْست َ َجابُوا لَ ُك ْم َويَ ْو َم ْال ِّقيَا َم ِّة‬


َ ‫عاء ُك ْم َولَ ْو‬
َ ‫عوهُ ْم َال يَ ْس َمعُوا ُد‬
ُ ‫ير إِّن ت َ ْد‬ ْ ِّ‫َوالَّذِّينَ ت َ ْدعُونَ ِّمن دُونِّ ِّه َما يَ ْم ِّل ُكونَ ِّمن ق‬
ٍ ‫ط ِّم‬
‫ير‬ ٍ ِّ‫يَ ْكفُ ُرونَ بِّ ِّش ْر ِّك ُك ْم َو َال يُنَبِّئُكَ ِّمثْ ُل َخب‬

“Dan sesembahan-sesembahan selain-Nya yang kalian seru itu tidak bisa menguasai
setipis kulit ari sekalipun. Jika kalian menyeru mereka (berhala), maka mereka itu tidak
bisa mendengar doa kalian. Dan seandainya mereka itu bisa mendengar maka mereka
juga tidak akan bisa mengabulkan permintaan kalian, dan pada hari kiamat nanti mereka
akan mengingkari perbuatan syirik kalian, dan tiada yang bisa menyampaikan kepadamu
tentang hakikat segala hal sebagaimana (Allah) Zat yang maha mengetahui.” (QS
Faathir: 13-14)

Kesembilan belas, orang yang berbuat syirik adalah orang yang berkepribadian rendah
dan tidak yakin dengan kemahakuasaan Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda yang artinya, “Thiyarah (menganggap sial karena melihat, mendengar atau
mengetahui sesuatu) adalah syirik. Thiyarah adalah syirik…” (HR. Abu Dawud dan
Tirmidzi, hadits hasan shahih, lihat Al Jadid, hal. 259)

Kedua puluh, amalan orang yang berbuat syirik atau mengangkat thaghut (sesuatu yang
disembah, ditaati atau diikuti sehingga menjadi sosok tandingan bagi Allah) akan
berubah menjadi penyesalan abadi di akhirat kelak. Allah ta’ala berfirman,

‫اب َوقَا َل الَّذِّينَ اتَّبَعُواْ لَ ْو أ َ َّن لَنَا ك ََّرة فَنَتَبَ َّرأ َ ِّم ْن ُه ْم َك َما‬ُ َ‫ت بِّ ِّه ُم األ َ ْسب‬ ْ ‫ط َع‬ َّ َ‫اب َوتَق‬
َ َ‫إِّ ْذ تَبَ َّرأ َ الَّذِّينَ اتُّبِّعُواْ ِّمنَ الَّذِّينَ اتَّبَعُواْ َو َرأ َ ُواْ ْالعَذ‬
ِّ َّ‫َار ِّجينَ ِّمنَ الن‬
‫ار‬ ِّ ‫علَ ْي ِّه ْم َو َما هُم بِّخ‬ َ ‫ت‬ ٍ ‫س َرا‬ َ
َ ‫تَبَ َّر ُؤواْ ِّمنَّا َكذَلِّكَ ي ُِّري ِّه ُم َّللاُ أ ْع َمالَ ُه ْم َح‬

“(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang
mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan ketika segala hubungan antara mereka
terputus sama sekali. Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti; “Seandainya kami
dapat kembali ke dunia, pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka
berlepas diri dari kami.” Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal
perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluardari
api neraka.” (QS. Al Baqarah: 166-167)

Kedua puluh satu, orang yang berbuat syirik sehingga mencintai sesembahan atau
pujaannya sebagai sekutu dalam hal cinta ibadah maka dia tidak akan bisa merasakan
manisnya iman. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Ada tiga
ciri, barang siapa yang memilikinya maka dia akan bisa merasakan manisnya iman: (1)
Apabila Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai olehnya daripada segala sesuatu selain
keduanya. (2) Apabila dia bisa mencintai seseorang hanya karena Allah saja. (3) Apabila
dia merasa begitu benci untuk kembali dalam kekafiran setelah Allah selamatkan dirinya
darinya sebagaimana orang yang tidak mau dilemparkan ke dalam kobaran api.” (HR.
Bukhari dan Muslim)

Kedua puluh dua, orang yang berbuat syirik maka tidak akan diberikan kecukupan oleh
Allah. Allah ta’ala berfirman,

َّ ‫َّللاَ بَا ِّل ُغ أ َ ْم ِّر ِّه قَ ْد َجعَ َل‬


ْ ‫َّللاُ ِّل ُك ِّل ش‬
‫َيءٍ قَدْرا‬ َّ ‫علَى‬
َّ ‫َّللاِّ فَ ُه َو َح ْسبُهُ إِّ َّن‬ َ ‫َو َمن يَت ََو َّك ْل‬
33
“Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah (bertauhid dan tidak menyandarkan
hatinya kepada selain Allah) maka Allah akan mencukupinya. Sesungguhnya Allah akan
menyelesaikan urusannya, dan Allah telah menentukan takdir dan ketentuan waktu bagi
segala sesuatu.” (QS. Ath Thalaq: 3)

Kedua puluh tiga, celakalah budak harta benda dan pemuja mode busana.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Binasalah hamba dinar,
hamba dirham, hamba Khamishah, hamba Khamilah. Jika dia diberi maka dia senang
tapi kalau tidak diberi maka dia murka. Binasalah dan rugilah dia…” (HR. Bukhari)

Khamishah adalah kain dari bahan sutera atau wol yang bercorak, sedangkan Khamilah
adalah kain beludru (lihat Al Jadid, hal. 330 dan Fathul Majid, hal. 365).

Syaikh Muhammad bin Abdul ‘Aziz Al Qar’awi mengatakan, “Hadits itu menunjukkan
bahwasanya barang siapa yang menjadikan (kesenangan) dunia sebagai tujuan akhir
kehidupan serta puncak cita-citanya maka sesungguhnya dia telah menyembahnya dan
mengangkatnya sebagai sekutu selain Allah.” (Al Jadid, hal. 332).

Kedua puluh empat, orang yang berbuat syirik pasti akan tertimpa bencana atau siksa
yang sangat pedih dan menyakitkan. Allah ta’ala berfirman,

‫عذَابٌ أ َ ِّلي ٌم‬ ِّ ‫صيبَ ُه ْم فِّتْنَةٌ أ َ ْو ي‬


َ ‫ُصيبَ ُه ْم‬ َ َ‫فَ ْليَحْ ذَ ِّر الَّذِّينَ يُخَا ِّلفُون‬
ِّ ُ ‫ع ْن أ َ ْم ِّر ِّه أَن ت‬

“Maka hendaklah merasa takut orang-orang yang menyelisihi urusan Rasul kalau-kalau
mereka itu akan tertimpa fitnah (bala/bencana) atau siksa yang sangat pedih.” (QS. An
Nuur: 63)

-bersambung, insya Allah-

***

Penulis: Abu Muslih Ari Wahyudi


Artikel www.muslim.or.id

12. Memperkokoh Keimanan pada Allah

Iman kepada Allah merupakan rukun iman yang pertama. Rukun ini sangat penting
kedudukannya dalam Islam. Sehingga wajib bagi kita untuk mengilmuinya dengan benar
supaya membuahkan akidah yang benar pula tentang Allah Ta’ala. Dengan memohon
pertolongan Allah kami mencoba mengulas permasalah pokok tentang rukun iman yang
pertama ini. Semoga ulasan berikut dapat memperkokoh iman kita kepada Allah ‘Azza
wa Jalla.

Makna Iman Kepada Allah

Iman kepada Allah merupakan asas dan pokok dari keimanan, yakni keyakinan yang
pasti bahwa Allah adalah Rabb dan pemilik segala sesuatu, Dialah satu-satunya
pencipta, pengatur segala sesuatu, dan Dialah satu-satunya yang berhak disembah,
tidak ada sekutu bagi-Nya. Semua sesembahan selain Dia adalah sesembahan yang
batil, dan beribadah kepada selain-Nya adalah kebatilan. Allah Ta’ala berfirman,

ُ ِ‫ي ْال َكب‬


‫ير‬ ُّ ‫اط ُل َوأ َ َّن هللاَ ُه َو ْالعَ ِل‬
ِ َ‫ذَ ِل َك بِأ َ َّن هللاَ ُه َو ْال َح ُّق َوأ َ َّن َمايَ ْدعُونَ ِمن د ُونِ ِه ُه َو ْالب‬
“(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan)
Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang

34
batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Al Hajj:
62)

Dialah Allah yang disifati dengan sifat yang sempurna dan mulia, tersucikan dari segala
kekurangan dan cacat. Ini merupakan perwujudan tauhid yang tiga, yatu tauhid
rububiyah, tauhid uluhiyah, dan tauhdi asma’ wa shifat. Keimanan kepada Allah
mengandung tiga macam tauhid ini, karena makna iman kepada Allah adalah keyakinan
yang pasti tentang keesaan Allah Ta’ala dalam rububiyah, uluhiyah, dan seluruh nama
dan sifat-Nya. (Al Irysaad ilaa shahiihil I’tiqaad, Syaikh Sholeh al Fauzan).

Cakupan Iman Kepada Allah

Iman kepada Allah mencakup empat perkara :

1. Iman tentang keberadaan (wujud) Allah.


2. Iman tentang keesaan Allah dalam rubuiyah
3. Iman tentang keesaan Allah dalam uluhiyah
4. Iman terhadap asma’ (nama) dan sifat-Nya.

Keimanan yang benar harus mencakup empat hal di atas. Barangsiapa yang tidak
beriman kepada salah satu saja maka dia bukan seorang mukmin. (Syarh al ‘Aqidah al
Washitiyah, Syaikh Muhammad bin Sholih al ‘Utsaimin)

Dalil Tentang Keberadaan Allah

Keberadaan Allah adalah sesuatu yang sudah sangat jelas. Hal ini dapat ditunjukkan
dengan dalil akal, hissi (inderawi), fitrah, dan dalil syariat.

Dalil akal menunjukkan adanya Allah, karena seluruh makhluk yang ada di alam ini, baik
yang sudah ada maupun yang akan datang, sudah tentu ada penciptanya. Tidak mungkin
makhluk itu mengadakan dirinya sendiri atau ada begitu saja dengan sendirinya tanpa
ada yang menciptakan.

Adapun petunjuk fitrah juga menyatakan keberadaan Allah. Seluruh makhluk telah
diciptakan untuk beriman kepada penciptanya tanpa harus diajari sebelumnya. Tidak ada
makhluk yang berpaling dari fitrah ini kecuali hatinya termasuki oleh sesuatu yang dapat
memalingkannya dari fitrah itu. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam, “Setiap anak lahir dalam keadaan fitrah (Islam, ed), lalu orang tuanyalah yang
menjadikannya Yahudi, Nasrani, dan Majusi” (HR. Bukhari dan Muslim).

Indera yang kita miliki juga bisa menunjukkan tentang keberadaan Allah. Kita semua bisa
menyaksikan dikabulkannya permohonan orang-orang yang berdoa dan ditolongnya
orang-orang yang kesusahan. Ini menunjukkan secara qath’i (pasti) akan adanya Allah.
Demikian pula ayat-ayat (tanda-tanda) para nabi yang dinamakan mukjizat yang
disaksikan oleh manusia atau yang mereka dengar merupakan bukti yang nyata akan
adanya Dzat yang mengutus mereka, yaitu Allah Ta’ala. Sebab, kemukjizatan-
kemukjizatan itu di luar jangkauan manusia pada umumnya, yang memang sengaja
diberlakukan oleh Allah Ta’ala untuk mengokohkan dan memenangkan para rasul-Nya.

Sedangkan dari segi syariat juga menyatakan keberadaan Allah. Sebab kitab-kitab
samawi seluruhnya menyatakan demikian. Apa saja yang dibawa oleh kitab-kitab
samawi, berupa hukum-hukum yang menjamin kemaslahatan makhluk merupakan bukti
bahwa hal itu datang dari Rabb yang Maha Bijaksana dan Maha Tahu akan
kemaslahatan makhluk-Nya. Berita-berita yang berkenaan dengan alam yang terdapat
dalam kitab-kitab tersebut merupakan bukti bahwa kitab-kitab itu berasal dari Rabb yang
Maha Kuasa untuk mencipta apa yang diberitakan itu. (Simak pembahasan lengkap

35
masalah ini pada kitab Syarh al ‘Aqidah al Wasithiyah dan Kitab Syarh Ushuulil
Iman, Syaikh Muhammad bin Sholih al ‘Utsaimin).

Iman terhadap Rububiyah

Maksudnya adalah beriman bahwa Allah adalah satu-satunya Rabb yang tidak
mempunyai sekutu. Rabb adalah Dzat ayang berwenang mencipta, memiliki, dan
memerintah. Tiada yang dapat mencipta selian Allah, tiada yang memiliki kecuali Allah,
serta tiada yang berhak memerintahkan kecuali Allah. Allah Ta’ala berfirman,

َ ‫علَى ْالعَ ْر ِش يُ ْغشِى الَّ ْي َل النَّ َه‬


‫ار‬ َ ‫ض فِي ِست َّ ِة أَي ٍَّام ث ُ َّم ا ْست ََوى‬ َ ‫ت َواْأل َ ْر‬ِ ‫اوا‬َ ‫س َم‬َّ ‫ِإ َّن َربَّ ُك ُم هللاُ الَّذِي َخلَقَ ال‬
َ‫ار َك هللاُ َربُّ ْالعَالَ ِمين‬ َ َ‫ت بِأ َ ْم ِر ِه أَالَلَهُ ْالخ َْل ُق َواْأل َ ْم ُر تَب‬
ٍ ‫س َّخ َرا‬
َ ‫وم ُم‬َ ‫س َو ْالقَ َم َر َوالنُّ ُج‬ َّ ‫طلُبُهُ َحثِيثًا َوال‬
َ ‫ش ْم‬ ْ َ‫ي‬

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam
enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy . Dia menutupkan malam kepada siang
yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-
bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan
memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al A’rof:
54).

Tidak ada satupun dari makhluk yang mengingkari rububiyah Allah Ta’ala kecuali karena
sombong. Namun sebenarnya ia tidak meyakini apa yang diucapkannya. Sebagaimana
terdapat pada diri Fir’aun yang mengatakan kepada kaumnya,

‫فَقَا َل أَنَا َربُّ ُك ُم اْأل َ ْعلَى‬


“(Seraya) berkata:”Akulah tuhanmu yang paling tinggi”.” (QS. An Nazi’at: 24)

‫ص ْر ًحا‬ ْ َ‫ين ف‬
َ ‫اجعَل ِلي‬ ِ ‫علَى‬
ِ ‫الط‬ َ ‫ان‬ ُ ‫غي ِْري فَأ َ ْوقِ ْد ِلي يَاهَا َم‬
َ ‫ع ِل ْمتُ لَ ُكم ِم ْن ِإلَ ٍه‬َ ‫ع ْو ُن يَآأَيُّ َها ْال َمأل ُ َما‬
َ ‫َوقَا َل فِ ْر‬
َ‫ظنُّهُ ِمنَ ْال َكا ِذبِين‬
ُ َ ‫سى َوإِنِي أل‬ َّ َ ‫لَّعَ ِلي أ‬
َ ‫ط ِل ُع ِإلَى ِإلَ ِه ُمو‬
“Dan berkata Fir’aun: “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain
aku. Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat kemudian buatkanlah untukku
bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya
aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta”.” (QS. Al Qashash:
38)

Namun sebenarnya yang dia katakan itu bukan berasal dari keyakinan.
Allah Ta’ala berfirman,

َ‫عاقِبَةُ ْال ُم ْف ِسدِين‬


َ َ‫ْف َكان‬ ُ ‫ظ ْل ًما َو‬
ُ ‫علُ ًّوا فَان‬
َ ‫ظ ْر َكي‬ ُ ُ‫َو َج َحدُوا بِ َها َوا ْست َ ْيقَنَتْ َهآ أَنف‬
ُ ‫س ُه ْم‬

“Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal


hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-
orang yang berbuat kebinasaan.” (QS. An Naml: 14).

Bahkan kaum musyrikin yang diperangi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga
mengakui rububiyah Allah, namun mereka menyekutukan-Nya dalam uluhiyah.
Allah Ta’ala berfirman,

َ‫سأ َ ْلت َ ُهم َّم ْن َخلَقَ ُه ْم لَيَقُولُ َّن هللاُ فَأَنَّى يُؤْ فَ ُكون‬
َ ‫َولَئِن‬
“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan mereka,
niscaya mereka menjawab: “Allah”, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari

36
menyembah Allah)?” (QS. Az Zukhruf:87). (Syarh Ushuulil Iman, Syaikh Muhammad
bin Sholih al ‘Utsaimin)

Dengan demikian beriman dengan rubiyah saja tidak cukup. Buktinya kaum musyrikin
tetap diperangi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan mereka
mengakui tentang rububiyah Allah.

Iman Kepada Uluhiyah

Kita wajib beriman terhadap tauhid uluhiyah atau tauhid ibadah. Disebut tauhid uluhiyah
karena penisbatannya kepada Allah dan disebut tauhid ibadah karena penisbatannya
kepada makhluk. Adapun yang dimaksud tauhid uluhiyah adalah pengesaan Allah dalam
ibadah karena hanya Allah satu-satunya yang berhak diibadahi. Allah Ta’ala berfirman,

ِ َ‫ذَ ِل َك بِأ َ َّن هللاَ ُه َو ْال َح ُّق َوأ َ َّن َمايَ ْدعُونَ ِمن د ُونِ ِه ْالب‬
‫اط ُل‬
” Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang hak dan sesungguhnya yang
mereka seru selain Alloh, itulah yang batil” (QS. Luqman: 30).

Banyak manusia yang kufur dan ingkar dalam hal tauhid ini. Karena itulah Allah
mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab kepada mereka, sebagaimana Allah
jelaskan,

ِ ‫وحي إِلَ ْي ِه أَنَّهُ آل إِلَهَ إِآل أَنَا فَا ْعبُد‬


‫ُون‬ ُ ‫س ْلنَا ِمن قَ ْب ِل َك ِمن َّر‬
ِ ُ‫سو ٍل إِالَّن‬ َ ‫َو َمآأ َ ْر‬
” Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan
kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah
olehmu sekalian akan Aku“.” (QS. Al Anbiya’: 25) (Al Qoulul Mufiid bi Syarhi Kitaabit
Tauhiid, Syaikh Muhammad bin Sholih al ’Utsaimin)

Antara Rububiyah dan Uluhiyah

Antara tauhid rububiyah dan tauhid uluhiyah mempunyai hubungan yang tidak dapat
dipisahkan. Tauhid rububiyah mengkonsekuensikan tauhid uluhiyah. Maksudnya
pengakuan seseorang terhadap tauhid rububiyah mengharuskan pengakuannya
terhadap tauhid uluhiyah. Barangsiapa yang telah mengetahui bahwa Allah adalah Tuhan
yang menciptakannya dan mengatur segala urusannya, maka ini mengharuskan baginya
untuk beribadah hanya kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya. Sedangkan tauhid
uluhiyah terkandung di dalamnya tauhid rububiyah. Maksudnya, jika seseorang
mengimani tauhid uluhiyah pasti ia mengimani tauhid rububiya. Barangsiapa yang
beribadah kepada Allah semata dan tidak menyekutukan-Bya, pasti ia akan meyakini
bahwa Allahlah Tuhannya dan penciptanya. Hal ini sebgaimana perkataan Nabi Ibrahim
‘alaihis salaam,

َ‫عد ٌُّو ِلي ِإالَّ َربَّ ْالعَالَ ِمين‬


َ ‫} فَإِنَّ ُه ْم‬76{ َ‫} أَنت ُ ْم َو َءابَآ ُؤ ُك ُم اْأل َ ْقدَ ُمون‬75{ َ‫قَا َل أَفَ َر َء ْيتُم َّما ُكنت ُ ْم ت َ ْعبُدُون‬
}77{ ‫ين‬ ِ ‫ضتُ فَ ُه َو يَ ْش ِف‬ْ ‫} َو ِإذَا َم ِر‬79{ ‫ين‬ ِ ‫ط ِع ُمنِي َويَ ْس ِق‬ ْ ُ‫} َوالَّذِي ُه َو ي‬78{ ‫ِين‬ ِ ‫الَّذِي َخلَقَنِي فَ ُه َو يَ ْهد‬
}80{ ‫ِين‬ ْ َ ‫} َوالَّذِي أ‬81{ ‫ين‬
ِ ‫ط َم ُع أَن يَ ْغ ِف َر ِلي خ‬
ِ ‫َطيئَتِي يَ ْو َم الد‬ ِ ِ‫} َوالَّذِي يُ ِميتُنِي ث ُ َّم يُ ْحي‬82{
“Ibrohim berkata : “Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu
sembah(75), kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu?(76), karena sesungguhnya
apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Tuhan semesta alam(77), (yaitu
Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku(78), dan
Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku(79), dan apabila aku sakit,
Dialah Yang menyembuhkanku(80), dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan

37
menghidupkan aku (kembali)(81), dan Yang amat aku inginkan akan mengampuni
kesalahanku pada hari kiamat(82).” (QS. Asy Syu’aroo’:75-82)

Tauhid rububyah dan uluhiyah terkadang disebutkan bersamaan, maka ketika itu
maknanya berbeda. Karena pada asalnya ketika ada dua kalimat yang disebutkan secara
bersamaan dengan kata sambung menunjukkan dua hal yang berbeda. Hal ini
sebagaimana firman Allah,

ِ َّ‫} إِلَ ِه الن‬2{ ‫اس‬


‫اس‬ ِ َّ‫} َم ِل ِك الن‬1{ ‫اس‬
ِ َّ‫ب الن‬ ُ َ ‫} قُ ْل أ‬3{
ِ ‫عوذ ُ بِ َر‬
“Katakanlah ;” Aku berlindung kepada Robb (yang memlihara dan menguasai)
manusia(1). Raja manusia(2). Sesembahan manusia(3).” (QS. An Naas :1-
3). Makna Robb dalam ayat ini adalah Raja yang mengatur manusia. Sedangkan
makna Ilaah adalah sesembahan satu-satunya yang berhak untuk disembah.

Terkadang tauhid uluhiyah atau rububiyah disebut sendiri tanpa bergandengan. Maka
ketika disebutkan salah satunya, maka sudah mencakup makna yang lainnya. Hal ini
sebagaimana ucapan malaikat maut kepada mayit di kubur, “Siapa Rabbmu?” Maka
maknanya, “Siapakah penciptamu dan sesembahanmu?” Hal ini juga sebagaimanan
firman Allah,

‫ق إِآلَّ أَن يَقُولُوا َربُّن‬ ِ َ‫} ا هللاََُالَّذِينَ أ ُ ْخ ِر ُجوا ِمن ِدي‬40{


ٍ ‫ار ِهم بِغَي ِْر َح‬
“(yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang
benar, kecuali karena mereka berkata :”Tuhan kami hanyalah Alloh” (QS. Al Hajj:40)

‫غي َْر هللاِ أ َ ْب ِغي َربًّا‬


َ َ ‫} قُ ْل أ‬164{
“Katakanlah:”Apakah aku akan mencari Tuhan selain Alloh” (QS. Al An’am :164)

‫} ِإ َّن الَّذِينَ قَالُوا َربُّنَا هللاُ ث ُ َّم ا ْستَقَا ُموا‬30{


“Sesungguhnya ornag-orang yang mengaatkan “Tuhan kami ialah Allah” kemudian
mereka meneguhkan pendirian mereka” (QS. Fushshilat :30). Penyebutan rububiyah
dalam ayat-ayat di atas mengandung makna uluhiyah. (Lihat Al irsyaad ilaa shohiihili
i’tiqood, Syaikh Sholeh al Fauzan)

Iman kepada Asma’ (Nama) dan Sifat Allah

Termasuk pokok keimanan kepada Allah adalah iman terhadap tauhid asma’ wa shifat.
Maksudnya adalah pengesaan Allah ‘Azza wa Jalla dengan asma’ dan shifat yang
menjadi milik-Nya. Tauhid ini mencakup dua hal yaitu penetapan dan penafian. Artinya
kita harus menetapkan seluruh asma’ dan shifat bagi Allah sebagaimana yang Dia
tetapkan bagi diri-Nya dalam kitab-Nya dan sunnah nabi-Nya, dan tidak menjadikan
sesuatu yang semisal dengan Allah dalam asma’ dan shifat-Nya. Hal ini ditegaskan Allah
dalam firman-Nya,

‫ير‬
ُ ‫ص‬ِ َ‫س ِمي ُع ْالب‬ َ ‫ْس َك ِمثْ ِل ِه‬
َّ ‫ش ْى ُءَُ َو ُه َو ال‬ َ ‫} لَي‬11{
” Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya, dan Dialah Yang Maha Mendengar
lagi Maha Melihat.”(QS. Asy Syuuro: 11) . (Al Qoulul Mufiid bi Syarhi Kitaabit Tauhiid,
Syaikh Muhammad bin Sholih al ’Utsaimin).

Cabang Keimanan yang Tertinggi

38
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallaam bersabda, “ Iman terdiri dari 70-an atau 60-an
cabang. Cabang yang paling tinggi adalah ucapan Laa ilaaha ilallah, sedangkan cabang
yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu adalah
sebagian dari cabang keimanan.” (HR. Muslim). Syaikh Abdurrahman As Sa’di
menjelaskan, “Cabang keimanan yang paling tinggi dan merupakan pokok sekaligus
asasnya adalah ucapan Laa ilaaha ilallah. Ucapan yang jujur dari hati disertai ilmu dan
yakin bahwa tidak ada yang memiliki sifat uluhiyah kecuali Allah semata. Dialah Tuhan
yang memelihara seluruh alam dengan keutamaan dan ihsan. Semua butuh kepada-Nya
sedangkan ia tidak butuh siapapun, semuanya lemah sedangkan Dia Maha Perkasa.
Ucapan ini harus dibarengi ubudiyah (peribadatan) dalam setiap keadaan dan
mengikhlaskan agama kepada-Nya. Sesungguhnya seluruh cabang-cabang keimanan
adalah cabang dan buah dari asas ini (yakni iman kepada uluhiyah Allah)” (Bahjatu
Quluubil Abrar wa Qurrotu ‘Uyuunil Akhyaar, Syaikh Abdurrahman As Sa’di)

Faedah Iman yang Benar

Iman kepada Allah dengan benar akan menghasilkan buah yang agung bagi orang-orang
yang beriman, di antaranya:

1. Terwujudnya ketauhidan kepada Allah Ta’ala, di mana tidak ada tempat


bergantung selain Allah dalam rasa harap dan takut , serta tidak ada yang berhak
disembah selain Allah.
2. Sempurnanya kecintaan kepada Allah Ta’ala dan pengagungan terhadap-Nya
sesuai dengan nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang mulia.
3. 3. Terwujudnya peribadahan kepada-Nya dengan melaksanakan perintah-Nya dan
menjauhi larangan-Nya. (Syarh Ushuulil Iman, Syaikh Muhammad bin Sholih al
‘Utsaimin)

Semoga Allah Ta’ala meneguhkan dan memperkokoh keimanan kita kepada Allah dan
memberikan kita istiqomah di atas iman yang benar. Wa shalallahu ‘alaihi wa ‘alaa aalihi
wa sallaam.

Penulis: Abu ‘Athifah Adika Mianoki

Muroja’ah: M. A. Tuasikal

Artikel www.muslim.or.id

13. Iman Kepada Malaikat

Iman kepada Malaikat merupakan salah satu landasan agama Islam.


AllahTa`ala berfirman yang artinya: “Rasul telah beriman kepada al-Quran yang
diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian juga orang-orang yang beriman.
Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-
Nya….” (QS. Al-Baqarah: 285) Rasulullah ketika ditanya oleh Jibril `alaihis salam tentang
iman, beliau menjawab: “(Iman yaitu) Engkau beriman dengan Allah, para malaikat-Nya,
kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan beriman dengan takdir yang baik dan
buruk.” (Muttafaq `alaih)

Barangsiapa yang ingkar dengan keberadaan malaikat, maka dia telah kafir, keluar dari
Islam. Allah Ta`ala berfirman yang artinya: “Barangsiapa yang kafir kepada Allah,
malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka
sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa`: 136)

Batasan Minimal Iman kepada Malaikat


39
Syaikh Shalih bin `Abdul `Aziz Alu Syaikh hafidzahullah mengatakan: “Batas minimal
(iman kepada malaikat) adalah keimanan bahwasanya Allah menciptakan makhluk yang
bernama malaikat. Mereka adalah hamba-hamba Allah yang senantiasa taat kepada-
Nya. Mereka merupakan makhluk yang diatur sehingga tidak berhak diibadahi sama
sekali. Diantara mereka ada malaikat yang ditugasi untuk menyampaikan wahyu kepada
para Nabi.” (Syarh Arbain Syaikh Shalih Alu Syaikh)

Bertambah Iman Seiring dengan Bertambahnya Ilmu

Setelah itu, setiap kali bertambah ilmu seseorang tentang rincian hal tersebut (malaikat),
wajib baginya mengimaninya. Dengan begitu, maka imannya akan bertambah.
Allah Ta`ala berfirman yang artinya: “Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara
mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: ‘Siapakah di antara kamu yang
bertambah imannya dengan (turannya) surat ini?’ Adapun orang-orang yang beriman,
maka surat ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira.” (QS. At-Taubah: 124)

Hakikat malaikat

Syaikh DR. Muhammad bin `Abdul Wahhab al-`Aqiil mengatakan, “Dalil-dalil dari al-
Qur`an, as-Sunnah, dan ijma` (kesepakatan) kaum muslimin (tentang malaikat)
menunjukkan hal-hal sebagai berikut:

 Malaikat merupakan salah satu makhluk di antara makhluk-makhluk ciptaan Allah.


 Allah menciptakan mereka untuk beribadah kepada-Nya, sebagaimana Allah
menciptakan jin dan manusia juga untuk beribadah kepada-Nya semata.
 Mereka adalah makhluk yang hidup, berakal, dan dapat berbicara.
 Malaikat hidup di alam yang berbeda dengan alam jin dan manusia. Mereka hidup
di alam yang mulia lagi suci, yang Allah memilih tempat tersebut di dunia karena
kedekatannya, dan untuk melaksanakan perintah-Nya, baik perintah yang yang
bersifat kauniyyah, maupun syar`iyyah.

Allah Ta`ala berfirman yang artinya: “Dan mereka berkata: ‘Tuhan Yang Maha Pemurah
telah mengambil (mempunyai) anak’, Maha Suci Allah. Sebenarnya (malaikat-malaikat
itu), adalah hamba-hamba yang dimuliakan. Mereka itu tidak mendahului-Nya dengan
perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya. Allah mengetahui segala
sesuatu yang di hadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka
tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu
berhati-hati karena takut kepada-Nya. Dan barangsiapa di antara mereka, mengatakan:
‘Sesungguhnya Aku adalah tuhan selain daripada Allah’, maka orang itu Kami beri
balasan dengan Jahannam, demikian Kami memberikan pembalasan kepada orang-
orang zalim.” (QS. Al-Anbiyaa`: 26 – 29)

(Lihat Mu`taqad Firaqil Muslimiin wal Yahud wan Nashara wal Falasifah wal Watsaniyyiin
fil Malaikatil Muqarrabiin hal. 15)

Asal Penciptaan Malaikat

Allah Ta`ala menciptakan malaikat dari cahaya. Hal tersebut sebagaimana terdapat
dalam hadits dari Ummul Mu`minin `Aisyah radhiyallah `anha, dia mengatakan
bahwasanya Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: “Malaikat diciptakan dari
cahaya.” (HR. Muslim)

Jumlah Malaikat
40
Jumlah mereka sangat banyak. Hanya Allah saja yang tahu berapa banyak jumlah
mereka. Allah Ta`ala berfirman yang artinya: “Dan tidak ada yang mengetahui tentara
Tuhanmu melainkan Dia sendiri.” (QS. Al-Muddatstsir: 31) Ketika Rasulullah shallallahu
`alaihi wa sallammelakukan Isra` Mi`raj, berkata Jibril `alaihis salam kepada beliau: “Ini
adalah Baitul Ma`mur. Setiap hari shalat di dalamnya 70 ribu malaikat. Jika mereka telah
keluar, maka mereka tidak kembali lagi…. ” (Muttafaqun `alaihi)

Sifat Fisik Malaikat

Berikut ini kami sampaikan sebagian sifat fisik malaikat:

 Kuatnya fisik mereka


Allah Ta`ala berfirman tentang keadaan neraka (yang artinya), “Penjaganya
malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa
yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang
diperintahkan.” (QS. Tahrim: 6)
Panas api neraka, yang membuat besi dan batu meleleh, tidak membahayakan
mereka.Demikian juga dengan Malakul jibal (Malaikat gunung), dimana dia
menawarkan kepada Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam untuk menabrakkan
dua gunung kepada sebuah kaum yang mendurhakai beliau. Kemudian beliau
menolak tawaran tersebut. (Hadits yang menceritakan kisah ini terdapat
dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim)
 Mempunyai sayap
Allah Ta`ala berfirman yang artinya: “Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan
bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai
macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan
empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya.
Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Fathiir: 1)
 Tidak membutuhkan makan dan minum
Allah Ta`ala berfirman yang artinya: “Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami
(malaikat-malaikat) telah datang kepada lbrahim dengan membawa kabar gembira,
mereka mengucapkan: “Selamat.” Ibrahim menjawab: “Selamatlah,” maka tidak
lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang. Maka
tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh
perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata: ‘Jangan
kamu takut, sesungguhnya kami adalah (malaikat-ma]aikat) yang diutus kepada
kaum Luth.’” (QS. Huud: 69 – 70)As Suyuthi rahimahullah berkata: “Ar-Razi dalam
tafsirnya mengatakan bahwa para ulama sepakat bahwasanya malaikat tidak
makan, tidak minum, dan juga tidak menikah.”

Ke-ma`shum-an Malaikat

Allah Ta`ala telah manjadikan malaikat sebagai makhluk yang ma`shum, dimana mereka
tidak akan pernah bermaksiat kepada-Nya. Allah Ta`alaberfirman: “Dan mereka berkata:
‘Tuhan Yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak’, Maha Suci
Allah….” (lihat QS. Al-Anbiyaa`: 26 – 29 di atas)

Buah Iman kepada Malaikat

Diantara buah dari beriman kepada malaikat adalah:

 Mengetahui keagungan Allah Ta`ala yang telah menciptakan makhluk-makhluk


yang mulia, yaitu malaikat.
 Kecintaan kepada malaikat karena ibadah-ibadah yang mereka lakukan.
(lihat Syarh Tsalatsatul Ushul Syaikh `Utsaimin)

41
Demikialah sedikit bahasan tentang malaikat. Untuk mendapatkan pembahasan yang
lebih rinci tentang Malaikat, silahkan merujuk ke kitabMu`taqad Firaqil Muslimiin wal
Yahud wan Nashara wal Falasifah wal Watsaniyyiin fil Malaikatil Muqarrabiin karya DR.
Muhammad bin `Abdul Wahhab al-`Aqiil. Wallahu Ta`ala a`lam.

Penulis : Abu Ka’ab Prasetyo


Artikel Muslim.Or.Id

14. Iman Terhadap Kitab-kitab Suci

Iman terhadap kitab suci merupakan salah satu landasan agama kita.
AllahTa`ala berfirman yang artinya: “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur
dan barat itu suatu kebajikan. Akan tetapi, sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman
dengan Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi….” (QS. Al-
Baqarah: 177) Rasulullah ketika ditanya oleh Jibril `alaihis salam tentang iman, beliau
menjawab:“(Iman yaitu) Engkau beriman dengan Allah, para Malaikat, kitab-kitab-Nya,
para rasul-Nya, hari akhir, dan beriman dengan takdir yang baik dan buruk.” (HR. Bukhari
dan Muslim)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin mengatakan: “Kitab (biasa disebut dengan
Kitab suci) adalah kitab yang Allah turunkan kepada rasul-Nya sebagai rahmat untuk
para makhluk-Nya, dan petunjuk bagi mereka, supaya mereka mencapai kebahagiaan
dunia dan akhirat.” (lihat kitab Rasaail fil `Aqiidah karya Syaikh Utsaimin)

Cakupan Iman dengan Kitab Suci

Masih dalam kitab yang sama, beliau juga mengatakan: “Iman dengan kitab suci
mencakup 4 perkara:

1.Iman bahwasanya kitab-kitab tersebut turun dari Allah Ta`ala.

2.Iman dengan nama-nama yang kita ketahui dari kitab-kitab tersebut, seperti al-Qur`an
yang Allah turunkan kepada Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam, Taurat kepada
Musa, Injil kepada Isa, dan lain sebagainya.

3.Pembenaran terhadap berita-berita yang shahih, seperti berita-berita yang ada dalam
al-Qur`an dan kitab-kitab suci sebelumnya selama kitab-kitab tersebut belum diganti atau
diselewengkan.

4.Pengamalan terhadap apa -apa yang belum di-nasakh dari kitab-kitab tersebut, rida
terhadapnya, dan berserah diri dengannya, baik yang diketahui hikmahnya, maupun yang
tidak diketahui.” (Rasaail fil `Aqiidah)

Sumber dan Tujuan Penurunan Kitab Suci

Seluruh kitab-kitab suci sumbernya adalah satu, yaitu dari Allah Jalla wa `Alaa.
Allah Ta`ala berfirman yang artinya: “ Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah)
melainkan Dia. yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya. Dia
menurunkan al-Kitab (al-Quran) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan Kitab
yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil, sebelum (al-Quran),
menjadi petunjuk bagi manusia, dan dia menurunkan al-Furqaan. Sesungguhnya orang-
orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh siksa yang berat; dan Allah
Maha Perkasa lagi mempunyai balasan (siksa).” (QS. Ali Imran: 2-4)

Tujuan penurunan kitab-kitab suci juga satu, yaitu tercapainya peribadatan hanya kepada
Allah semata, sebagaimana terdapat dalam firman Allah Ta`ala dalam surat al-Maidah
42
ayat 44 – 50. (Untuk pembahasan lebih rinci, lihat kitab ar-Rusul war Risaalaat karya
`Umar bin Sulaiman al-Asyqar, hal 231 – 235)

Kedudukan al-Qur`an di antara Kitab-kitab Suci Lainnya

Al-Qur`an merupakan kitab suci terakhir dan penutup dari kitab-kitab suci sebelumnya.
Selain itu, al-Qur`an juga merupakan hakim atas kitab-kitab suci sebelumnya.
Allah Ta`ala berfirman yang artinya: “Dan kami telah turunkan kepadamu al-Qur`an
dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab
(yang diturunkan sebelumnya) dan muhaiminan (batu ujian) terhadap kitab-kitab yang
lain itu; Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan
janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang
telah datang kepadamu…. ” (QS. Al-Maidah: 48)

Al-Qur`an merupakan kitab suci paling panjang dan paling luas cakupannya.
Rasulullah shallallahu `alahi wa sallam bersabda: “Saya diberi ganti dari Taurat dengan
as-sab`ut thiwaal (tujuh surat dalam al-Qur`an yang panjang-panjang). Saya diberi ganti
dari Zabur dengan al-mi`iin (surat yang jumlah ayatnya lebih dari seratus). Saya diberi
ganti dari Injil dengan al-matsani (surat yang terulang-ulang pembacaannya dalam setiap
rekaat shalat) dan saya diberi tambahan dengan al-mufashshal (surat yang dimulai dari
Qaf sampai surat an-Naas).” (HR. Thabarani dan selainnya, dishahihkan sanadnya oleh
al-Albani)

Di antara perkara lain yang menjadi kekhususan al-Qur`an dari kitab-kitab suci lainnya
adalah penjagaan Allah terhadapnya. Allah Ta`alaberfirman yang
artinya: “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya kami
benar-benar memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9)

Sekilas Tentang Taurat

Taurat adalah kitab yang Allah turunkan kepada Musa `alahis salam. Taurat merupakan
kitab yang mulia yang tercakup didalamnya cahaya dan petunjuk. Allah Ta`ala berfirman
yang artinya: “Sesungguhnya kami Telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada)
petunjuk dan cahaya (yang menerangi)….” (QS. Al-Maidah: 44)

Taurat yang ada saat ini – biasa disebut dengan kitab perjanjian lama – , setiap orang
yang berakal tentu mengetahui bahwa taurat tersebut bukanlah taurat yang dahulu
diturunkan kepada Musa `alaihis salam. Hal itu bisa diketahui dari beberapa bukti
berikut:.

 Ketidakmampuan mereka (baik Yahudi maupun Nashrani) dalam menunjukkan


sanad ilmiah yang sampai kepada Musa `alaihis salam, bahkan mereka mengakui
bahwa Taurat pernah hilang selama beberapa kali.
 Terjadi banyak kontradiksi di dalamnya, yang menunjukkan bahwa sudah banyak
terjadi campur tangan para ulama yahudi dalam merubah isi Taurat.
 Banyak terdapat kesalahan ilmiah.
 Dan masih banyak bukti lainnya.

Allah Ta`ala berfirman yang artinya: “Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang
yang menulis al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; “Ini dari Allah”,
(dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu.
Maka Kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan
mereka sendiri, dan Kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka
kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 79)

43
Sekilas Tentang Injil

Sedangkan Injil, dia adalah kitab yang Allah turunkan kepada Isa `alaihis salam sebagai
penyempurna dan penguat bagi Taurat, mencocoki dangannya dalam sebagian besar
syariatnya, petunjuk kepada jalan yang lurus, membedakan kebenaran dan kebatilan,
dan menyeru kepada peribadatan kepada Allah Ta`ala semata.

Sebagaimana taurat yang ada sekarang bukanlah taurat yang dahulu diturunkan kepada
Musa, demikian juga injil yang ada sekarang, juga bukan injil yang diturunkan kepada
Isa `alaihimas salam. Di antara bukti dari penyataan tersebut:

 Penulisan injil terjadi jauh beberapa tahun setelah diangkatnya Isa`alaihis salam.
 Terputusnya sanad dalam penisbatan penulisan injil-injil tersebut kepada
penulisnya.
 Banyak terdapat kontradiksi dan kesalahan ilmiah di dalamnya
 Dan masih banyak bukti lainnya.

(untuk mendapatkan pembahasan lebih rinci tentang keberadaan Taurat dan Injil yang
ada sekarang, silahkan merujuk ke kitab Izhaarul Haq karya Rahmatullah al-Hindy)

Bolehkah mengikuti Taurat dan Injil setelah Turunnya al-Qur`an?

Jawabnya: Tidak boleh. Bahkan, kalau seandainya kitab-kitab tersebut (Taurat atau Injil
yang ada sekarang) adalah benar berasal dari para Nabi mereka, maka kita tetap tidak
boleh mengikutinya karena kitab-kitab tersebut diturunkan khusus kepada umat nabi
tersebut dan dalam tempo yang terbatas, dan kitab-kitab tersebut sudah di-nasakh oleh
al-Qur`an. Allah Ta`ala berfirman yang artinya: “Dan kami telah turunkan kepadamu al-
Qur`an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-
kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan muhaiminan (batu ujian) terhadap kitab-kitab
yang lain itu;…. ” (QS. Al-Maidah: 48)

Bahkan wajib bagi Yahudi dan Nashrani saat ini untuk mengikuti al-Qur`an.
Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: “Demi Dzat Yang jiwa Muhammad
berada di tangan-Nya! Tidaklah seorang pun dari Yahudi dan Nasrani yang mendengar
akan diutusnya aku, kemudian mati dalam keadaan tidak beriman dengan apa yang aku
diutus dengannya, kecuali dia termasuk penghuni neraka.” (HR. Bukahri dan Muslim)

Demikianlah sedikit bahasan tentang Iman dengan kitab suci. “Wahai Rabb kami,
tambahkan kepada kami keimanan, keyakinan, kefakihan, dan ilmu.”

Rujukan utama:
Al-Iman bil Kutub, karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Hamd.

Penulis : Abu Ka’ab Prasetyo


Artikel Muslim.Or.Id

15. Mengimani Para Utusan Allah

Rukun Iman keempat yang harus diimani oleh setiap mukmin adalah beriman kepada
para Nabi dan Rasul utusan Allah. Diutusnya Rasul merupakan nikmat yang sangat
agung. Kebutuhan manusia terhadap diutusnya Rasul melebihi kebutuhan manusia
terhadap hal-hal lain. Untuk itu, kita tidak boleh salah dalam meyakini keimanan kita
kepada utusan Allah yang mulia ini. Berikut adalah penjelasan mengenai hal-hal yang
berkaitan dengan iman kepada Nabi dan Rasul.
44
Dalil-Dalil Kewajiban Beriman Kepada Para Rasul

Terdapat banyak dalil yang menunjukkan wajibnya beriman kepada para Rasul, di
antaranya adalah firman Allah Ta’ala,

ِ ‫َولَ ِك َّن ْالبِ َّر َم ْن َءا َمنَ ب ِاهللِ َو ْاليَ ْو ِم اْأل َ ِخ ِر َو ْال َملَئِ َك ِة َو ْال ِكت َا‬
َ‫ب َوالنَّبِيِن‬

“Akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kiamat,
malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi” (QS. Al Baqarah: 177)

َ َ ‫س ِم ْعنَا َوأ‬
‫ط ْعنَا‬ ُ ‫س ِل ِه الَ نُف َِر ُق بَيْنَ أ َ َح ٍد ِمن ر‬
َ ‫س ِل ِه َوقَالُوا‬ ُ ‫ُك ٌّل َءا َمنَ بِاهللِ َو َمالَئِ َكتِ ِه َو ُكتُبِ ِه َو ُر‬

“Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan Rasul-


rasul-Nya (mereka mengatakan):’ Kita tidak membeda-bedakan antara seseorangpun
(dengan yang lain) dan rasul-rasul-Nya’, dan mereka mengatakan “Kami dengar dan
kami taat…” (QS. Al Baqarah: 285)

Pada ayat-ayat di atas Allah menggandengkan antara keimanan kepada para Rasul
dengan keimanan terhadap diri-Nya, malaikat-malaikat-Nya, dan kitab-kitab-Nya. Allah
menghukumi kafir orang yang membedakan antara keimanan kepada Allah dan para
Rasul. Mereka beriman terhadap sebagian namun kafir tehadap sebagian yang lain (Al
Irsyaad ilaa shahiihil I’tiqaad, hal 146)

Pokok-Pokok Keimanan Terhadap Para Rasul

Keimanan yang benar terhadap para Rasul Allah harus mengandung empat unsur pokok
yaitu:

1. Beriman bahwasanya risalah yang mereka bawa benar-benar risalah yang berasal
dari wahyu Allah Ta’ala.
2. Beriman terhadap nama-nama mereka yang kita ketahui.
3. Membenarkan berita-berita yang shahih dari mereka.
4. Beramal dengan syariat Rasul yang diutus kepada kita, yaitu penutup para
Nabi, Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallaam. (Syarhu Ushuuill Iman, hal 34-35)

Antara Nabi dan Rasul

Sebagian ulama berpendapat bahwa nabi sama dengan rasul. Namun pendapat yang
benar adalah nabi berbeda dengan rasul, walaupun terdapat beberapa persamaan. Nabi
adalah seseorang yang Allah beri wahyu kepadanya dengan syariat untuk dirinya sendiri
atau diperintahkan untuk menyampaikan kepada kaum yang sudah bertauhid.
Sedangkan rasul adalah seorang yang Allah beri wahyu kepadanya dengan syariat dan
diperintahkan untuk menyampaikan kepada kaum yang menyelisihnya. Nabi dan rasul
memiliki beberapa persamaan dan perbedaan.

Persamaan Nabi dan Rasul adalah :

 Nabi dan Rasul sama-sama utusan Allah yang diberi wahyu oleh Allah,
berdasarkan firman Allah,

ُ ‫س ْلنَا ِمن قَ ْبلِكَ ِمن َّر‬


ٍ ‫سو ٍل َوالَنَ ِبي‬ َ ‫َو َمآأ َ ْر‬

“Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasul pun dan tidak (pula) seorang
nabi…” (QS. Al Hajj:52). Dalam ayat ini Allah membedakan antara nabi dan rasul, namun
menjelasakan kalau keduanya merupakan utusan Allah.

 Nabi dan rasul sama-sama diutus untuk menyampaikan syariat.


45
 Nabi dan rasul ada yang diturunkan kepadanya kitab, ada pula yang tidak.

Perbedaan Nabi dan Rasul :

 Nabi diberi wahyu untuk disampaikan kepada kaum yang sudah bertauhid atau
untuk diamalkan bagi dirinya sendiri, sebagaimana dalam sebuah hadist, ”Dan
akan datang Nabi yang tidak memiliki satu pun pengikut”. Sedangkan rasul diutus
untuk menyampaikan syariat kepada kaum yang menyelisihinya.
 Nabi mengikuti syariat sebelumnya yang sudah ada, sedangkan Rasul terkadang
mengikuti syariat sebelumnya -seperti Yusuf yang diutus untuk kaumnya dengan
syariat yang dibawa oleh Ibrahim dan Ya’qub- dan terkadang membawa syariat
baru. (Diringkas dari Syarh al ‘Aqidah Ath Thahawiyah Syaikh Sholeh Alu Syaikh,
hal 227-234)

Para Nabi dan Rasul Mengajarkan Agama yang Satu

Seluruh Nabi mengajarkan agama yang satu, walaupun mereka memiliki syariat-syariat
yang berbeda. Allah Ta’ala berfirman,

‫سى أ َ ْن أَقِي ُموا الدِينَ َوالَتَتَف ََّرقُوا فِي ِه‬


َ ‫سى َو ِعي‬
َ ‫ِيم َو ُمو‬
َ ‫ص ْينَا بِ ِه إِب َْراه‬ َ ‫صى ِب ِه نُو ًحا َوالَّذِي أ َ ْو َح ْينَآ إِلَيْكَ َو َم‬
َّ ‫او‬ َّ ‫او‬ ِ ‫ع لَ ُكم ِمنَ الد‬
َ ‫ِين َم‬ َ ‫ش ََر‬

“Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya
kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami
wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa yaitu : Tegakkanlah agama dan janganlah
kamu berpecah belah tentangnya…. ”(QS. Asy Syuuraa:13)

ِ ‫} َوإِ َّن َه ِذ ِه أ ُ َّمت ُ ُك ْم أ ُ َّمةً َو‬51{ ‫ع ِلي ٌم‬


}52{ َ‫اح َدة ً َوأَنَا َرب ُك ْم فَاتَّقُون‬ َ َ‫صا ِل ًحا إِنِي بِ َمات َ ْع َملُون‬
َ ‫ت َوا ْع َملُوا‬ َّ َ‫س ُل ُكلُوا ِمن‬
ِ ‫الطيِبَا‬ ُ ‫يَآأَي َها الر‬

“Wahai para rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang
shaleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Sesungguhnya
(agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah
Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku” (QS. Al Mu’minun:51-52)

Nabi shalallahu ‘alaihi wa salaam bersabda, “Sesungguhnya seluruh nabi memiliki


agama yang satu, dan para nabi adalah saudara” (Muttafaqun ‘alaih).

Agama seluruh para Nabi adalah satu, yaitu agama Islam. Allah tidak akan menerima
agama selain Islam. Yang dimaksud dengan islam adalah berserah diri kepada Allah
dengan mentauhidkan-Nya, tunduk kepada Allah dengan mentaatinya, dan menjauhkan
diri dari perbuatan syirik dan orang-orang musyrik. (Al Irsyaad ilaa Shahiihil I’tiqaad hal
159-160).

Mendustakan Satu = Mendustakan Semuanya

Kewajiban seorang mukmin adalah beriman bahwa risalah para Rasul adalah benar-
benar dari Allah. Barangsiapa mendustakan risalah mereka, sekalipun hanya salah
seorang di antara mereka, berarti ia telah mendustakan seluruh para rasul. Hal ini
berdasarkan firman Allah Ta’ala :

َ ‫ت قَ ْو ُم نُوحٍ ْال ُم ْر‬


َ‫سلِين‬ ْ َ‫َكذَّب‬

“Kaum Nabi Nuh telah mendustakan para Rasul” (QS. Asy Syu’araa’:105)

Dalam ayat in Allah menilai tindakan kaum Nuh sebagai pendustaan kepada para rasul
yang diutus oleh Allah, padahal ketika diutusnya Nuh belum ada seorang Rasulpun
selain Nabi Nuh ‘alaihis salaam. Berdasarkan hal ini maka orang-orang Nasrani yang
mendustakan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak mau mengikuti beliau
46
berarti mereka telah mendustakan Al Masih bin Maryam (Nab Isa ‘alaihis salaam) dan
tidak mengikuti ajarannya. (Syarhu Ushuulil Iman hal 34-35)

Mengimani Nama Para Rasul

Termasuk pokok keimanan adalah kita beriman bahwa para Rasul Allah memiliki nama.
Sebagiannya diberitakan kepada kita dan sebagiannya tdak diberitakan kepada kita.
Yang diberikan kepada kita seperti Muhanmad, Ibrahim, Musa, ‘Isa, dan Nuh ‘alahimus
shalatu wa salaam. Kelima nama tersebut adalah para Rasul ‘Ulul Azmi.
Allah Ta’ala telah menyebut mereka pada dua (tempat) surat di dalam Al Quran yakni
surat Al Ahzaab dan As Syuraa,

‫سى اب ِْن َم ْريَ َم‬


َ ‫سى َو ِعي‬ َ ‫َوإِ ْذ أ َ َخ ْذنَا ِمنَ النَّبِيِينَ ِميثَاقَ ُه ْم َو ِمنكَ َو ِمن نوحٍ َوإِب َْراه‬
َ ‫ِيم َو ُمو‬

“Dan ingatlah ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri),
dari Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa bin Maryam…” (QS. Al Ahzab:7)

‫سى أ َ ْن أَقِي ُموا الدِينَ َوالَتَتَف ََّرقُوا‬


َ ‫سى َو ِعي‬
َ ‫ِيم َو ُمو‬
َ ‫ص ْينَا بِ ِه إِب َْراه‬ َ ‫صى بِ ِه نُو ًحا َوالَّذِي أ َ ْو َح ْينَآ إِلَيْكَ َو َم‬
َّ ‫او‬ َّ ‫او‬ ِ ‫ع لَ ُكم ِمنَ الد‬
َ ‫ِين َم‬ َ ‫ش ََر‬
…‫فِي ِه‬

“Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh
dan apa yang telah kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan
kepada Ibrahim, Musa, dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu
berpecah-belah tentangnya” (QS. Asy Syuraa:13)

Adapun terhadap para Rasul yang tidak kita ketahui nama-namanya, kita beriman secara
global. Allah Ta’ala berfirman,

َ‫علَيْك‬
َ ‫ص‬ ُ ‫علَيْكَ َو ِم ْن ُهم َّمن لَّ ْم نَ ْق‬
ْ ‫ص‬ َ ‫صنَا‬
ْ ‫ص‬ ُ ‫س ْلنَا ُر‬
َ َ‫سالً ِمن قَ ْبلِكَ ِم ْن ُهم َّمن ق‬ َ ‫َولَقَ ْد أ َ ْر‬

“Dan sesungguhnya telah Kami utus bebrapa orang rasul sebelum kamu, di antara
mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak
Kami ceritakan kepadamu” (QS. Al Mukmin:78). (Syarhu Ushuulil Iman,hal 35)

Para Rasul Pemberi Kabar Gembira Sekaligus Pemberi Peringatan

Allah mengutus para Rasul untuk menyampaikan kabar gembira sekaligus memberikan
peringatan. Ini merupakan salah satu dari hikmah diutusnya para rasul kepada manusia.
Maksud menyampaikan kabar gembira adalah menyebutkan pahala bagi orang yang
taat, sekaligus memberikan peringatan kemudian mengancam orang yang durhaka dan
orang kafir dengan kemurkaan dan siksa Allah. Allah Ta’ala berfirman,

ُّ ‫علَى للاِّ ُح َّجةُُِ بَ ْع َد‬


‫الرس‬ ِّ َّ‫سل ُّمبَ ِّش ِّرينَ َو ُمنذ ِِّّرينَ ِّلئَلَّ يَ ُكونَ ِّللن‬
َ ‫اس‬ َ ُ‫ِّل َو َكانَ للا‬
ُ ‫ع ِّزيزا َح ِّكيما ُِ ُّر‬

“(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan
agar tidak ada lagi alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul
itu” (QS. An Nisaa’ 165).

Ayat ini merupakan dalil bahwa tugas para Rasul ialah memberikan kabar gembira bagi
siapa saja yang mentaati Allah dan mengikuti keridhaan-Nya dengan melakukan
kebaikan. Dan bagi siapa yang menentang perintah-Nya dan mendustakan para rasul-
Nya akan diancam dengan hukum dan siksaan. (Husuulul Ma’muul bi Syarhi Tsalaatsatil
Ushuulhal 195-196)

47
Nuh yang Pertama, Muhammad Penutupnya

Termasuk keyakinan Ahlus sunnah adalah beriman bahwasanya Rasul yang petama
diutus adalah Nuh ‘alaihis salaam dan yang terkhir adalah Muhammad shallallahu ‘alaihi
wa sallam. Dalil yang menunjukkan bahwa Nuh adalah Rasul pertama adalah firman
Allah,

‫إِنَّآأ َ ْو َح ْينَآإِلَيْكَ َك َمآأ َ ْو َح ْينَآإِلَى نُوحٍ َوالنَّبِيِينَ ِمن َب ْع ِد ِه‬

“Sesungguhnya Kami telah memberkan wahyu kepadamu sebagaman Kami telah


memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya…” (An Nisaa’:163)

Para ulama berdalil dengan ayat ini bahwa Nuh adalah rasul pertama. Sisi pendalilannya
adalah dari kalimat “dan nabi-nabi yang kemudiannya”. Jika ada rasul sebelum Nuh
tentunya akan dikatakan dalam ayat ini.

Adapun dalil dari sunnah adalah sebuah hadist shahih tentang syafa’at, ketika manusia
mendatangi Nabi Adam untuk meminta syafaat, beliau berkata kepada mereka, “Pergilah
kalian kepada Nuh, karena ia adalah rasul pertama yang diutus ke muka bumi”. Maka
mereka pun mendatangi Nuh dan berkata: “engkau adalah rasul pertama yang diutus ke
bumi…” (Muttafaqun ‘alaihi). Hadist ini merupakan dalil yang paling kuat menunjukkan
bahwa Nuh adalah rasul pertama. Dan Nabi Adam sendiri menyebutkan bahwa Nuh
sebagai Rasul pertama di atas muka bumi. (Husuulul Ma’muul bi Syarhi Tsalaatsatil
Ushuulhal 196-197)

Sedangkan Rasul yang terakhir adalah Muhammad sholallahu ‘alaihi wa salaam. Dalilnya
adalah firman Allah Ta’ala.

‫ع ِلي ًما‬
َ ٍ‫َىء‬ ُ ‫َّما َكانَ ُم َح َّم ٌد أَبَآ أ َ َح ٍد ِمن ِر َجا ِل ُك ْم َولَ ِكن َّر‬
ْ ‫سو َل هللاِ َوخَات ََم النَّبِيِينَ َو َكانَ هللاُ بِ ُك ِل ش‬

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kalian, tetapi
dia adalah Rasulullah dan penutup para Nabi. Dia adalah Allah Maha Mengetahui segala
sesuatu” (QS. Al Ahzab:40).

Rasulullah sholallahu ‘alaihi wa salaam bersabda, “Aku adalah penutup para Nabi, dan
beliau berkata :’ Tidak ada Nabi sesudahku”. Hal ini melazimkan berakhirnya diutusnya
para Rasul, karena berakhirnya yang lebih umum (yakni diutusnya Nabi) melazimkan
berakhirnya yang lebih khusus (yakni diutusnya Rasul). Makna berakhirnya kenabian
dengan kenabian Muhammad yakni tidak adanya pensyariatan baru setelah kenabian
dan syariat yang dibawa oleh Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Al Irsyaad ilaa
Shahiihil I’tiqaad hal 173).

Buah Manis Iman yang Benar Terhadap Para Rasul

Keimanan yang benar terhadap para Rasul Allah akan memberikan faedah yang
berharga, di antaranya adalah:

1. Mengetahui akan rahmat Allah dan perhatian-Nya kepada manusia dengan


mengutus kepada mereka para Rasul untuk memberi petunjuk kepada merka
kepada jalan Allah dan memberikan penjelasan kepada mereka bagaimana
beribadah kepada Allah karena akal manusia tidak dapat menjangkau hal
tersebut.
2. Bersyukur kepada Allah atas nikmat yang sangat agung ini.
3. Mencintai para Rasul,, mengagungkan mereka , serta memberikan pujian yang
layak bagi mereka. Karena mereka adalah utusan Allah Ta’ala dan senantiasa
menegakkan ibadah kepada-Nya serta menyampaikan risalah dan memberikan
nasehat kepada para hamba. (Syarhu Ushuuill Iman hal 36)
48
Semoga Allah Ta’ala senantiasa menetapkan hati kita kepada keimanan yang
benar. Washolallahu ‘alaa Nabiyyina Muhammad.

Sumber Rujukan:

1. Syarhu Ushuulil Iman. Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin. Penerbit Daarul
Qasim. Cetakan pertama 1419 H
2. Al Irsyaad ilaa Shahiihil I’tiqaad. Syaikh Sholih Al Fauzan Penerbit Maktabah
Salsabiil Cetakan pertama tahun 2006.
3. Jaami’us Syuruuh al ‘Aqidah at Thahawiyah. Penerbit Daarul Ibnul Jauzi cetakan
pertama tahun 2006.
4. Husuulul Ma’muul bi Syarhi Tsalaatsatil Ushuul.Penerbit Maktabah ar Rusyd,
Riyadh. Cetakan pertama 1422H/2001M.

Penulis: Abu ‘Athifah Adika Mianoki

Muroja’ah: M.A. Tuasikal

Artikel www.muslim.or.id

16. Pokok-Pokok Keimanan Kepada Hari Akhir

Iman kepada hari akhir hukumnya wajib dan kedudukannya dalam agama merupakan
salah satu di antara rukun iman yang enam. Banyak sekali Allah Ta’ala menggandengkan
antara iman kepada Allah dan iman kepada hari akhir, karena barangsiapa yang tidak
beriman kepada hari akhir, tidak mungkin akan beriman kepada Allah. Orang yang tidak
beriman dengan hari akhir tidak akan beramal, karena seseorang tidak akan beramal
kecuali dia mengharapkan kenikmatan di hari akhir dan takut terhadap adzab di hari
akhir.[1]

Disebut hari akhir karena pada hari itu tidak ada hari lagi setelahnya, saat itu merupakan
tahapan yang terakhir[2]. Keimanan yang benar terhadap hari akhir mancakup tiga hal
pokok yaitu mengimani adanya hari kebangkitan, mengimani
adanya hisaab (perhitungan) dan jazaa’ (balasan), serta mengimani tentang surga dan
neraka. Termasuk juga keimanan kepada hari akhir adalah mengimani segala peristiwa
yang akan terjadi setelah kematian seperti fitnah kubur, adzab kubur, dan nikmat kubur.

Mengimani Adanya Hari Kebangkitan

Hari kebangkitan adalah hari dihidupkannya kembali orang yang sudah mati ketika
ditiupkannya sangkakala yang kedua. Kemudian manusia akan berdiri
menghadap Rabb semesta alam dalam keadaan telanjang tanpa alas kaki, telanjang
tanpa pakaian, dan dalam keadaan tidak disunat. Allah Ta’ala berfirman,

‫علَ ْينَآ‬ ٍ ‫ب َك َما بَ َدأْنَآ أ َ َّو َل خ َْل‬


َ ‫ق نُّ ِّعي ُدهُ َوعْدا‬ ِّ ُ ‫الس ِّج ِّل ِّل ْل ُكت‬ َ ‫س َمآ َء َك‬
ِّ ِّ ‫طي‬ ْ ‫يَ ْو َم ن‬
َّ ‫َط ِّوي ال‬
َ‫{ إِّنَّا ُكنَّا فَا ِّع ِّلين‬104}
“Yaitu) pada hari Kami gulung langit sebagai menggulung lembaran – lembaran kertas.
Sebagaimana Kami telah memulai panciptaan pertama begitulah Kami akan
mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kamilah yang
akan melaksanakannya.” (QS. Al Anbiyaa’:104)

Hari kebangkitan merupakan kebenaran yang sudah pasti. Ditetapkan oleh Al Quran, As
Sunnah dan Ijmaa’ (konsensus) kaum muslimin. Allah Ta’ala berfirman,

49
َ‫{ ث ُ َّم إِّنَّ ُك ْم يَ ْو َم ْال ِّقيَا َم ِّة ت ُ ْبعَثُون‬15} َ‫{ ث ُ َّم إِّنَّ ُكم بَ ْع َد ذَ ِّل َك لَ َميِّتُون‬16}
“Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati(15).
Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari
kiamat.(16)” (QS. Al Mukminun:15-16)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salaam bersabda :

‫يحشر الناس يوم القيامة حفاة عراة غرال‬


“Pada hari kiamat, seluruh manusia akan dikumpulkan dalam keadaan tanpa alas kaki,
telanjang, dan tidak disunat”[3]

Kaum muslimin juga telah sepakat mengenai kepastian adanya hari kebangkitan ini. [4]

Mengimani Adanya Hari Perhitungan dan Pembalasan

Termasuk perkara yang harus diimani berkenaan dengan hari akhir adalah mengimani
adanya hari perhitungan dan pembalasan. Seluruh amal perbuatan setiap hamba akan
dihisab dan diberi balasan. Hal ini juga telah ditetapkan oleh Al Quran, As Sunnah
dan ijmaa’ kaum muslimin.

Allah Ta’ala berifrman,

َ ‫{ ث ُ َّم إِّ َّن‬25} ‫{ إِّ َّن إِّلَ ْينَآ إِّيَّابَ ُه ْم‬26}


َ ‫علَ ْينَا ِّح‬
‫سابَ ُهم‬
“Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka(25). kemudian sesungguhnya
kewajiban Kami-lah menghisab mereka.” (QS. Al Ghasiyah:25-26)

‫شيْئا َوإِّن َكانَ ِّمثْقَا َل َحبَّ ٍة‬ َ ‫س‬ ْ ُ ‫ط ِّليَ ْو ِّم ْال ِّقيَا َم ِّة فَلَ ت‬
ٌ ‫ظلَ ُم نَ ْف‬ َ ‫ض ُع ْال َم َو ِّازينَ ْال ِّق ْس‬
َ َ‫َون‬
َ‫{ ِّم ْن خ َْر َد ٍل أَت َ ْينَا بِّ َها َو َكفَى بِّنَا َحا ِّسبِّين‬47}
“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan
seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami
mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.” (QS. Al
Anbiyaa’:47)

Telah shahih dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa salaam, beliau bersabda,

‫ومن هم بحسنة فلم يعملها كتبت له حسنة فإن عملها كتبت له عشرا ومن هم‬
‫بسيئة فلم يعملها لم تكتب شيئا فإن عملها كتبت سيئة واحدة‬
“Barangsiapa yang berniat melakukam suatu kebaikan, lalu mengerjakannya, maka Allah
telah menulisnya sepuluh hingga tujuh ratus kebaikan, bahkan sampai kelipatan yang
lebih banyak lagi. Sedangkan barangsiapa yang berniat melakukan keburukan, lalu
mengerjakannya, maka Allah hanya akan menulisnya satu keburukan saja“ [5].

Kaum muslimin juga telah bersepakat tentang adanya hari perhitungan dan pembalasan.
Dan ini sesuai dengan tuntutan hikmah Allah Ta’ala.[6]

50
Mengimani Adanya Surga dan Neraka

Hal lain yang harus diimani seorang muslim adalah tentang surga dan neraka. Keduanya
merupakan tempat kembali yang abadi bagi makhluk. Surga adalah kampung kenikmatan
yang dipersiapkan oleh Allah Ta’ala bagi orang-orang yang beriman. Sedangkan neraka
adalah hunian yang penuh dengan adzab yang dipersiapkan oleh Allah Ta’ala untuk
orang-orang kafir. Allah Ta’ala berfirman :

َ ‫{ َوإِّ َّن ْالفُ َّج‬13} ‫ار لَ ِّفي نَ ِّع ٍيم‬


‫ار لَ ِّفي َج ِّح ٍيم‬ َ ‫{ إِّ َّن اْألَب َْر‬14}
“Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam syurga
yang penuh keni’matan. dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar
berada dalam neraka” (Al Infithaar:13-14)

Berkaitan dengan surga dan neraka, ada beberapa hal penting yang merupakan
keyakinan ahlus sunnah yang membedakannya dengan ahlul bid’ah :

Pertama: Surga dan Neraka Benar Adanya

Keberadaan surga dan nereka adalah haq (benar adanya). Tidak ada keraguan di
dalamnya. Neraka disediakan bagi musuh-musuh Allah, sedangkan surga dijanjikan bagi
wali-wali Allah. Penyebutan tentang surga dan neraka dalam Al Quran dan As Sunnah
sangatlah banyak. Terkadang disebutkan tentang kondisi penduduk surga dan neraka.
Terkadang disebutkan tentang janji kenikmatan surga dan adzab di neraka. Terkadang
disebutkan dorongan agar bersemangat meraih surga dan ancaman dari neraka.
Demikian pula As Sunnah banyak menyebutkan tentang surga dan neraka. Itu semua
menunjukkan bahwa keberadaan surga dan neraka adalah benar adanya. [7]

Kedua: Surga dan Neraka Sekarang Sudah Ada

Ahlus sunnah telah sepakat bahwa keduanya merupakan makhluk Allah yang telah ada
sekarang. Hal ini bertentangan dengan keyakinan mu’tazilah dan qodariyah yang lebih
mengedepankan akal mereka. Adapun dalilnya adalah firman Allah,

ْ‫ض أ ُ ِعدَّت‬
ُ ‫اواتُ َواْأل َ ْر‬
َ ‫س َم‬
َّ ‫ض َها ال‬ُ ‫س ِارعُوا إِلَى َم ْغ ِف َر ٍة ِمن َّربِ ُك ْم َو َجنَّ ٍة ع َْر‬
َ ‫َو‬
‫ين‬َ ‫ { ِل ْل ُمت َّ ِق‬133}
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang
luasnya seluas langit dan bumi yang telah disediakan untuk orang-orang yang
bertakwa” (QS. Ali Imran:133)

Tentang neraka Allah berfirman,

َ ‫ار الَّتِي أ ُ ِعدَّتْ ِل ْلكَافِ ِر‬


‫ين‬ َ َّ‫{ َواتَّقُوا الن‬131}
“Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang telah disediakan untuk orang-orang yang
kafir” (QS. Ali Imran:131)

Diriwayatkan juga bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat Sidratul
Muntaha, kemudian melihat dan masuk ke dalam surga. Hal ini terjadi ketika beliau Isra’
Mi’raj.[8]

51
Ketiga: Penciptaan Surga dan Neraka Sebelum Penciptaan Makhluk

Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,

‫شئْت ُ َما َوالَت َ ْق َربَا َه ِذ ِه‬


ِ ‫ث‬ ُ ‫سك ُْن أَنتَ َو َز ْو ُج َك ا ْل َجنَّةَ فَ ُكالَ ِم ْن َح ْي‬
ْ ‫َويَائَا َد ُم ا‬
َ ‫ظا ِل ِم‬
‫ين‬ َّ ‫ش َج َرةَ فَتَكُونَا ِم َن ال‬ َّ ‫{ ال‬19}
“(Dan Allah berfirman): “Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan isterimu di surga serta
makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah
kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang
yang zalim.”” (QS. Al A’raf: 19)

Surga ada setelah ditiupkannya ruh pada diri Adam. Hal ini menunjukkan surga sudah
ada sebelum penciptaan Adam. [9].

Keempat: Surga dan Neraka Sudah Ditentukan Siapakah Yang Akan Menjadi
Penghuninya

Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,

ً ِ‫َولَقَ ْد ذَ َرأْنَا ِل َج َهنَّ َم َكث‬


ِ ‫يرا ِم َن ا ْل ِج ِن َواْ ِإل‬
‫نس‬
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan
manusia … ”(QS. Al A’raf: 179)

Dari ‘Aisyah, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda,

‫إن للا خلق للجنة أهل خلقهم لها وهم في أصلب آبائهم وخلق للنار أهل‬
‫خلقهم لها وهم في أصلب آبائهم‬
“… Sesungguhnya Allah telah menciptakan para penghuni untuk jannah. Allah telah
menentukan mereka sebagai penghuninya, sedangkan mereka masih dalam tulang sulbi
bapak-bapak mereka. Allah juga telah menciptakan para penghuni bagi neraka. Allah
telah menentukan mereka sebagai penghuninya, padahal mereka masih dalam tulang
sulbi bapak-bapak mereka” [10].[11]

Kelima: Surga dan Neraka Kekal Abadi

Allah Ta’ala berfirman,

ُ ‫اواتُ َواْأل َ ْر‬


َّ ‫ض إِال‬ َ ‫س َم‬َّ ‫ت ال‬ َ ‫س ِعدُوا فَ ِفي ا ْل َجنَّ ِة َخا ِلد‬
ِ ‫ِين فِي َها َمادَا َم‬ َ ‫َوأ َ َّما الَّذ‬
ُ ‫ِين‬
‫غ ْي َر َمجْ ذُو ٍذ‬ َ ‫ع‬
َ ‫طآ ًء‬ َ ‫{ َماشَآ َء َربُّ َك‬108}
“Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal
di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang
lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.” (Huud:108)

Rasulullah shalallhu ‘alaihi wa sallam bersabda,


52
‫ينادي مناد إن لكم أن تصحوا فل تسقموا أبدا وإن لكم أن تحيوا فل تموتوا أبدا‬
‫وإن لكم أ ن تشبوا فل تهرموا أبدا وإن لكم أن تنعموا فل تبأسوا أبدا فذلك قوله‬
{ ‫عز وجل } ونودوا أن تلكم الجنة أورثتموها بما كنتم تعملون‬
“Datanglah suara berkumandang :Wahai ahli surga, sesungguhnya kamu sekalian akan
sehat dan tak pernah sakit. Kamu sekalian akan menjadi muda belia dan tak pernah tua
lagi. Dan kalian pun akan hidup dan tak akan pernah mati.”[12].

Keyakinan tentang surga dan neraka di atas, terangkum dalam perkataan yang
disampaikan oleh Imam Abu Ja’far At Thahawy rahimahullah dalam kitab beliau al
‘Aqidah Ath Thahawiyah, beliau menjelaskan,

َ‫ق ال َجنَّة‬ ِ ‫ان أَبَدًا َوال ت َ ِب ْيد‬


َ َ‫ فَ ِإ َّن هللاَ تَعَالَى َخل‬،‫َان‬ ِ َ‫ الَ ت َ ْفنَي‬،‫ان‬ ُ َّ‫َوال َجنَّةُ َوالن‬
ِ َ ‫ار َم ْخلُ ْوقَت‬
،ً‫ق لَ ُه َما أ َ ْهال‬
َ َ‫ َو َخل‬،‫ق‬ِ ‫ار قَ ْب َل ال َخ ْل‬ َ َّ‫َوالن‬
“Surga dan neraka merupakan dua makhluk yang tidak akan punah dan binasa.
Sesungguhnya Allah telah menciptakan keduanya sebelum penciptaan
makhluk lainnya dan Allah juga telah menentukan siapakah penghuninya…”[13].

Mengimanai Fitnah, Adzab, dan Nikmat Kubur

Dalil perkara ini sangat gamblang dan jelas. Allah Ta’ala menerangkannya di banyak
tempat dalam Al Quran. Demikian pula penjabaran dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam tentang masalah ini sangat banyak dan mencapai derajat mutawatir.
Allah Ta’ala berfirman,

‫ِيه ْم أ َ ْخ ِر ُجوا‬
ِ ‫طوا أ َ ْيد‬
ُ ‫س‬ِ ‫ت َوا ْل َمالَئِكَةُ بَا‬ ِ ‫ت ا ْل َم ْو‬ َ ‫ون فِي‬
ِ ‫غ َم َرا‬ َ ‫ظا ِل ُم‬ َّ ‫َولَ ْوت َ َرى إِ ِذ ال‬
‫ق‬ َ ‫هللا‬
ِ ‫غ ْي َر ا ْل َح‬ ِ ‫علَى‬ َ ‫ون‬َ ُ‫ون بِ َما كُنت ُ ْم تَقُول‬ َ َ‫ع ذ‬
ِ ‫اب ا ْل ُه‬ َ ُ‫أَنف‬
َ ‫س ُك ُم ا ْليَ ْو َم تُجْ َز ْو َن‬
َ ‫ست َ ْكبِ ُر‬
‫ون‬ ْ َ ‫{ َوكُنت ُ ْم ع َْن َءايَاتِ ِه ت‬93}
“…Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim
berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya,
(sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu” Di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang
sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang
tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya.” (QS.
Al An’am: 93). [14]

Adapun dalil tentang adanya siksa kubur adalah tentang kisah pertanyaan malaikat di
alam kubur kepada mayit tentang Rabbnya, agamanya, dan nabinya. Allah Ta’ala lalu
meneguhkan orang-orang yang beriman dengan kata-kata yang mantap, sehingga
dengan kemantapannya ia menjawab, ”Rabbku adalah Allah, agamaku Islam, dan nabiku
adalah Nabi Muhammad”. Sebaliknya Allah menyesatkan orang-orang yang dzalim.
Orang yang kafir hanya bisa menjawab, ”Hah…hah!Aku tidak tahu” sementara itu orang
munafik atau orang yang ragu menjawab :” Aku tidak tahu. Aku dengar orang-orang
mengatakan sesuatu, lalu aku ikut pula mengaatkannya”[15].

53
Faedah Iman yang Benar

Keimanan yang benar akan memberikan faedah yang bermanfaat. Demikian pula
keimanan yang benar terhadap hari akhir akan memberikan manfaat yang besar, di
antaranya :

1. Merasa senang dan bersemangat dalam melakukan kataatan dengan


mengharapkan pahalanya kelak di ahri akhir.
2. Merasa takut ketika melakukan kemaksiatan dan tidak suka kembali pada maksiat
karena khawatir mendapat siksa di hari akhir.
3. Hiburan bagi orang-orang yang beriman terhadap apa yang tidak mereka dapatkan
di dunia dengan mengharapkan kenikmatan dan pahala di akhirat. [16].

Demikian penjelasan singkat tentang pokok-pokok keimanan kepada hari akhir. Terdapat
banyak perincian yang harus kita imani dari hal-hal yang pokok tersebut. Insya Allah
akan dijelaskan lebih rinci dalam kesempatan lain. Semoga Allah meneguhkan iman kita
hingga ajal menjemput kita. Wallahul muwafiq.

Penulis: Abu ‘Athifah Adika Mianoki

Muroja’ah: M.A. Tuasikal

Artikel www.muslim.or.id

17. Memahami Macam-macam Takdir

4 Macam Takdir
Para ulama menjelaskan ada empat macam takdir, yaitu:

1) Takdir Azali

2) Takdir ‘umri

3) Takdir Sanawi

4) Takdir Yaumi.

Berikut penjelasannya:

1) Takdir Azali
Yaitu takdir yang ditulis dalam lauhil mahfudz 50.000 tahun sebelum penciptaan langit
dan bumi. Takdir azali ini adalah takdir yang merupakan takdir utama yang pasti terjadi
bagi semua mahkluk.

Baca Juga:Memahami Takdir Dengan Benar

Allah berfirman,

َ ‫ب ۚ إِّ َّن َٰذَ ِّل َك‬


‫ع لَى‬ ٍ ‫ض ۗ إِّ َّن َٰذَ ِّل َك فِّي ِّكتَا‬ِّ ‫اء َو ْاأل َ ْر‬ َّ ‫أَلَ ْم ت َ ْعلَ ْم أ َ َّن‬
َّ ‫َّللاَ يَ ْعلَ ُم َما فِّي ال‬
ِّ ‫س َم‬
ٌ ‫َّللاِّ يَ ِّس‬
‫ير‬ َّ

54
“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang
ada di langit dan di bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab
(Lauh Mahfuzh) Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah”. (Al-Hajj/22 :
70)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

َ ‫ ِّبخ َْم ِّسيْنَ أ َ ْل‬،‫ض‬


‫ف‬ َ ‫ت َواْأل َ ْر‬ َّ ‫ قَ ْب َل أ َ ْن يَ ْخلُقَ ال‬،‫ق‬
ِّ ‫س َما َوا‬ ِّ ِّ‫ب للاُ َمقَا ِّدي َْر ْال َخلَئ‬
َ َ ‫َكت‬
ِّ ‫علَى ْال َم‬
‫اء‬ َ ُ ‫شه‬ُ ‫ َو َع ْر‬:‫ قَا َل‬،ٍ‫سنَة‬ َ
“Allah menentukan berbagai ketentuan para makhluk, 50.000 tahun sebelum
menciptakan langit dan bumi. “Beliau bersabda, “Dan adalah ‘Arsy-Nya di atas air.” (HR.
Muslim)

2) Takdir ‘umri
Yaitu takdir yang ditulis malaikat ketika meniupkan roh ke dalam janin.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

‫علَقَة ِّمثْ َل‬ َ ‫ ث ُ َّم يَ ُك ْو ُن فِّي ذَ ِّل َك‬،‫ط ِّن أ ُ ِّم ِّه أ َ ْر َب ِّعيْنَ يَ ْوما‬ْ َ‫إِّ َّن أ َ َح َد ُك ْم يُ ْج َم ُع خ َْلقُهُ فِّ ْي ب‬
‫ فَ َي ْنفُ ُخ ِّف ْي ِّه‬، ُ‫س ُل ْال َملَك‬ َ ‫ ث ُ َّم يُ ْر‬،‫ضغَة ِّمثْ َل ذَ ِّل َك‬ ْ ‫ ث ُ َّم َي ُك ْو ُن فِّ ْي ذَ ِّل َك ُم‬،‫ذَ ِّل َك‬
َ ‫ي أ َ ْو‬
‫س ِّع ْي ٌد‬ ٌّ ‫ش ِّق‬ َ ‫ َو‬،‫ َوأ َ َج ِّل ِّه‬،‫ب ِّر ْزقِّ ِّه‬
َ ‫ َو‬،‫ع َم ِّل ِّه‬ ِّ ْ‫ ِّب َكت‬،ٍ‫ َويُؤْ َم ُر بِّأ َ ْر َبعِّ َك ِّل َمات‬،‫الر ْو َح‬
ُّ
“Sesungguhnya salah seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut
ibunya selama mpat puluh hari, kemudian menjadi segumpal darah seperti itu pula
(empat puluh hari), kemudian menjadi segumpal daging seperti itu pula, kemudian Dia
mengutus seorang Malaikat untuk meniupkan ruh padanya, dan diperintahkan (untuk
menulis) dengan empat kalimat: untuk menulis rizkinya, ajalnya, amalnya, dan celaka
atau bahagia(nya).” (HR. Bukhari Muslim)

Baca Juga:Ingatlah Bahwa Takdir Allah Tidak Kejam

3) Takdir Sanawi
Takdir yang berlaku tahunan dan ditulis kejadian setahun ke depan setiap malam lailatul
qadar.

Allah berfirman,

‫فِّي َها يُ ْف َر ُق ُك ُّل أ َ ْم ٍر َح ِّك ٍيم‬


“Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” [Ad-Dukhaan/44 : 4]

Allah juga berfirman,

ْ ‫ي َحت َّ َٰى َم‬


‫طلَعِّ ا ْلفَ ْج ِّر‬ ُّ ‫تَن ََّز ُل ْال َم َلئِّ َكةُ َو‬
َ ‫الرو ُح فِّي َها بِّإ ِّ ْذ ِّن َربِّ ِّه ْم ِّم ْن ُك ِّل أ َ ْم ٍر‬
َ ‫س َل ٌم ِّه‬
“Pada malam itu turun para Malaikat dan juga Malaikat Jibril dengan izin Rabb-nya untuk
mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” [Al-
Qadr/97 : 4-5]
55
4) Takdir Yaumi
Yaitu takdir yang berlaku harian.

Allah Ta’ala berfirman,

‫ُك َّل َي ْو ٍم ُه َو فِّي شَأ ْ ٍن‬


“Setiap waktu Dia dalam kesibukan.” [Ar-Rahmaan/55 : 29]

Perlu diperhatikan bahwa di antara empat takdir ini, takdir utamanya adalah takdir azali
yang tertulis di lauhil mahfudz, sedangkan tiga takdir yang lainnya (‘umri, sanawi, dan
yaumi) adalah takdir yang bisa merubah. Perhatikan kalimat berikut:

“Perubahan takdir (‘umri, sanawi dan yaumi) ini tertulis dalam takdir azali di lauhil
mahfudz.”

Contohnya: bisa saja dalam takdir ‘umri tertulis dia seorang yang celaka, tetapi karena
dia bersungguh-sungguh mencari hidayah, maka ia menjadi orang yang beruntung.
Perubahan takdir ‘umri ini tertulis dalam lauhil mahfudz.

Baca Juga: Salah Paham tentang Memahami Tawakal

Ini juga yang dimaksud dengan “takdir bisa dirubah dengan doa”.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‫ال يﺮد القﺪر إال الﺪعاﺀ‬


“Tidaklah merubah suatu takdir melainkan doa.” [HR. Al Hakim, hasan]

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan bahwa takdir yang berubah
tersebut berkaitan dengan doa, beliau berkata:

‫ فإذا‬، ‫ والقدر يكون معلقا ويكون مبتوتا‬، ‫الدعاء من أسباب رد القدر المعلق‬
‫كان قدرا معلقا‬
“Doa termasuk sebab merubah takdir yang mu’allaq (bergantung pada sebabnya). Takdir
itu ada yang mu’allaq dan ada yg telah tetap, sama sekali tidak berubah.”
[https://binbaz.org.sa/old/38112]

Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa perubahan takdir dan doa tersebut
juga tertulis dalam takdir azali lauhil mahfudz. Beliau berkata:

‫لكنه في الحقيقة ال يرد القضاء؛ ألن األصل أن الدعاء مكتوب وأن الشفاء‬
‫ هذا هو القدر األصلي الذي كتب في األزل‬،‫سيكون بهذا الدعاء‬
“Pada hakikatnya takdir (azali) tidak berubah, karena doa tersebut sudah tertulis (dilauhil
mahfudz) bahwa kesembuhan karena adanya doa, inilah takdir asli yang tertulis dalam
takdir azali.” [Majmu’ Fatawa wa Rasail 2/93]

Demikian semoga bermanfaat

56
@ Yogyakarta Tercinta

Penyusun: Raehanul Bahraen

Artikel www.muslim.or.id

18. Cinta dan Benci Dalam Islam

Pembahasan tentang cinta dan benci dalam Islam masuk dalam ranah pembahasan
akidah yang sering diistilahkan dengan al wala’ wal bara’. Al-Wala’ artinya mencintai
kaum muslimin dan membantu mereka serta memuliakan dan menghormati mereka dan
berusaha dekat dengan mereka. Al-Bara’ artinya membenci orang-orang kafir dan
menjauhi serta memusuhi mereka. Akidah al wala’ wal bara’ merupakan sesuatu yang
penting karena:

1. Termasuk pokok akidah Islam


2. Termasuk tali keimanan yang paling kuat
3. Termasuk agama Ibrahim ‘alaihis salaam dan agama seluruh rasul, termasuk
Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah Ta’ala berfirman :

‫َّللاِّ َكف َْرنَا بِّ ُك ْم َو َب َدا‬


َّ ‫ُون‬ِّ ‫ِّيم َوالَّذِّينَ َم َعهُ إِّ ْذ قَالُوا ِّلقَ ْو ِّم ِّه ْم إِّنَّا ب َُراء ِّمن ُك ْم َو ِّم َّما ت َ ْعبُدُونَ ِّمن د‬ َ ‫َت لَ ُك ْم أُس َْوة ٌ َح‬
َ ‫سنَةٌ فِّي ِّإب َْراه‬ ْ ‫قَ ْد كَان‬
ٍ‫ش ْيء‬ َ ‫َّللاِّ ِّمن‬ َ َ َ َ ‫اّللِّ َوحْ َدهُ ِّإ َّال قَ ْو َل إِّب َْراه‬
َّ َ‫ِّيم ِّألبِّي ِّه َأل ْست َ ْغ ِّف َر َّن لَكَ َو َما أ ْم ِّلكُ لَكَ ِّمن‬ َ
َّ ِّ‫ضاء أبَدا َحتَّى تُؤْ ِّمنُوا ب‬ ْ ْ
َ ‫بَ ْينَنَا َوبَ ْينَ ُك ُم العَ َد َاوة ُ َوالبَ ْغ‬
‫ير‬ُ ‫ص‬ ْ َ َ َ ْ َّ َ
ِّ ‫عليْكَ ت ََوكلنَا َوإِّليْكَ أنَ ْبنَا َوإِّليْكَ ال َم‬َ ‫َّربَّنَا‬

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang
yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka, ‘Sesungguhnya
kami berlepas diri dari kamu dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari
(kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian untuk
selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.’ Kecuali perkataan Ibrahim
kepada bapaknya, ‘Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku
tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah.’ (Ibrahim berkata), ‘Ya Tuhan
kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami
bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali’” (Al-Mumtahanah: 4).

Jenis-jenis muwalah

Sikap wala’ (cinta dan loyal) terhadap orang kafir ada dua macam :

1. Sikap muwalah kubra (tawalli). Yaitu mencintai kesyirikan dan orang-orang musyrik
serta mencintai kekufuran dan orang-orang kafir. Sikap ini disertai membantu
orang-orang kafir dalam memerangi kaum muslimin. Hukum sikap seperti ini
adalah kufur akbar dan mengeluarkan pelakunya dari Islam. Dalilnya adalah firman
Allah:

‫ارى أ َ ْو ِّليَاء بَ ْعض‬


َ ‫ص‬َ َّ‫ض َو َمن يَت ََولَّ ُهم ِّمن ُك ْم فَإِّنَّهُ م ُِيَا أَيُّ َها الَّذِّينَ آ َمنُواْ الَ تَت َّ ِّخذُواْ ْاليَ ُهو َد َوالن‬
ٍ ‫ْن ُه ْمِِّهُ ْم أ َ ْو ِّليَاء بَ ْع‬

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi


dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebagian mereka adalah pemimpin
bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi
pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka“ (Al-Ma’idah:
51).

57
2. Sikap muwalah sughra. Yaitu sikap mencintai orang-orang kafir dan musyrik
karena alasan dunia dan tidak disertai pembelaan terhadap mereka. Hukum sikap
seperti ini adalah haram dan termasuk dosa besar, namun bukan merupakan
kekufuran. Dalilnya adalah firman Allah:

َ‫عد َُّو ُك ْم أ َ ْو ِّليَاء ت ُ ْلقُون‬ َ ‫إِّلَ ْي ِّهم بِّ ْال َم َو َّدةِّ يَا أَيُّ َها الَّذِّينَ آ َمنُوا َال تَت َّ ِّخذُوا‬
َ ‫عد ُِّوي َو‬

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan


musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka
(berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang“ (Al-Mumtahanah: 1).

Di antara contoh-contoh perbuatan yang termasuk muwalah sughra adalah:

1. Menyerupai mereka dalam berpakaian dan berbicara.


2. Bepergian ke negeri mereka tanpa ada keperluan yang penting dan darurat.
3. Tinggal di negeri mereka dan tidak berusaha pindah ke negeri kaum muslimin.
4. Menggunakan sistem penanggalan mereka.
5. Bersekongkol dan membantu perayaan hari besar mereka serta hadir dalam acara
tersebut.
6. Memberi nama dengan nama-nama yang khusus di kalangan mereka. (Lihat At-
Tauhid Al-Muyassar 38-40)

Tiga Golongan dalam Al Wala’ wal Bara’

Ada tiga golongan orang dalam al wala’ wal bara’ yang harus kita perhatikan:

1. Orang yang harus kita cintai secara total dan tidak disertai kebencian. Mereka
adalah mukmin yang sempurna keimanannya, yaitu para Nabi, shiddiqin, syuhada’,
dan orang-orang shalih. Tentu saja yang paling terdepan di antara mereka adalah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliaulah yang mendapat kecintaan paling
besar dibandingkan cinta seseorang kepada anaknya, orangtuanya, dan seluruh
manusia. Kemudian setelah itu adalah para istri-istri Nabi dan keluarga beliau,
serta para sahabat Nabi radiyallahu ‘anhum. Kemudian orang-orang yang mengkuti
jalannya para sahabat, seperti imam yang empat. Allah Ta’ala berfirman :

‫ان َو َال تَجْ َع ْل فِّي قُلُوبِّنَا ِّغل ِّللَّذِّينَ آ َمنُوا‬ َ َ‫َوالَّذِّينَ َجا ُؤوا ِّمن بَ ْع ِّد ِّه ْم يَقُولُونَ َربَّنَا ا ْغ ِّف ْر لَنَا َو ِّ ِّإل ْخ َوانِّنَا الَّذِّين‬
ِّ ْ ِّ‫سبَقُونَا ب‬
ِّ ‫اإلي َم‬
ٌ ُ‫َربَّنَا إِّنَّكَ َرؤ‬
‫وف َّر ِّحي ٌم‬

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka
berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah
beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian
dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami,
Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang” (Al-Hasyr: 10).

2. Orang yang harus kita benci dan kita musuhi secara mutlak, serta tidak boleh
mencintai dan loyal terhadap mereka. Mereka adalah orang-orang kafir, musyrik,
munafik, dan orang yang murtad, sebagaimana firman Allah dalam surat Al-
Mujadilah ayat 22.
3. Orang yang kita cintai dan sekaligus kita benci. Pada diri mereka terkumpul
kecintaan sekaligus kebencian, mereka adalah orang mukmin yang bermaksiat.
Kita mencintai mereka karena mereka adalah orang yang beriman, dan kita
membenci mereka karena maksiat mereka yang tidak termasuk kemusyrikan dan
kekafiran. Kecintaan kepada mereka menuntut seseorang untuk menasehati
mereka dan mengingkarinya. Tidak boleh diam terhadap maksiat mereka, bahkan
harus mengingkarinya dan memerintahkan mereka untuk berbuat baik dan
mencegah kemungkaran. Namun tidak boleh seseorang membenci mereka secara
58
mutlak dan berlepas diri dari mereka seperti perbuatan khawarij (dalam masalah
ini, khawarij berpendapat bahwa pelaku dosa besar adalah kafir.) terhadap pelaku
dosa besar yang bukan dosa kekafiran. Tidak boleh pula mencintai dan loyal
secara mutlak terhadap mereka seperti perbuatan murji’ah (dalam masalah
ini, murji’ah berpendapat bahwa pelaku dosa besar tetap seorang mukmin yang
sempurna imannya). Kita harus bersikap adil terhadap mereka, mencintai karena
keimanan mereka, dan membenci karena kemaksiatan yang mereka lakukan.
Inilah madzhab ahlussunnah wal jama’ah (Lihat Al-Wala’ wal Bara’ fil Islam 27-30).

Balasan Bagi yang Mengamalkan Al Wala’ wal Bara’

Allah Ta’ala berfirman:

َ‫يرت َ ُه ْم أ ُ ْولَئِّك‬ َ ‫سولَهُ َولَ ْو كَانُوا آبَاءهُ ْم أ َ ْو أ َ ْبنَاء ُه ْم أ َ ْو إِّ ْخ َوانَ ُه ْم أ َ ْو‬
َ ‫ع ِّش‬ َّ ‫اّللِّ َو ْال َي ْو ِّم ْاآل ِّخ ِّر ي َُوا ُّدونَ َم ْن َحا َّد‬
ُ ‫َّللاَ َو َر‬ َّ ِّ‫َال ت َِّج ُد قَ ْوما يُؤْ ِّمنُونَ ب‬
ُ‫ع ْنه‬َ ‫ضوا‬ ُ ‫ع ْن ُه ْم َو َر‬
َ ُ‫َّللا‬
َّ ‫ي‬ َ ‫ض‬ ِّ ‫ار َخا ِّلدِّينَ فِّي َها َر‬ َ
ُ ‫ت تَجْ ِّري ِّمن تَحْ تِّ َها ْاأل ْن َه‬ َ
ٍ ‫اإلي َمانَ َوأيَّ َدهُم بِّ ُروحٍ ِّم ْنهُ َويُد ِّْخلُ ُه ْم َجنَّا‬ ِّ ْ ‫َب فِّي قُلُوبِّ ِّه ُم‬
َ ‫َكت‬
ْ ْ
َ‫َّللاِّ هُ ُم ال ُمف ِّل ُحون‬ َّ ‫ب‬ َ
َ ‫َّللاِّ أ َال إِّ َّن ِّح ْز‬َّ ‫ب‬ ُ ‫أ ْولئِّكَ ِّح ْز‬ َ ُ

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling
berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun
orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga
mereka. Meraka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati
mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan
dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai,
mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas
terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa
sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung” (Al Mujadilah: 22).

Barangsiapa yang merealisasikan dan mengamalkan akidah al wala’ wal bara’ dengan
benar akan mendapat balasan kebaikan sebagai berikut:

1. Terkumpulnya iman di dalam hatinya dan iman akan teguh di dalam hatinya. Allah
berfirman : ( َ‫ب أ ُ ْولَئِك‬ َ َ ‫ان قُلُوبِ ِه ُم فِي َكت‬ ِْ
َ ‫)اإلي َم‬
2. Allah akan memberinya cahaya dan petunjuk. Allah berfirman: (‫)م ْنهُ بِ ُروحٍ َوأَيَّ َدهُم‬ ِ
3. Mendapat janji akan masuk surga. Allah berfirman: ( ‫ت َويُد ِْخلُ ُه ْم‬ ُ ‫ْاأل َ ْنه‬
ٍ ‫َار تَحْ تِهَا ِمن تَجْ ِري َجنَّا‬
َ ‫)فِيهَا َخا ِلد‬
‫ِين‬
4. Allah akan ridha kepadanya. Allah berfirman: (‫ي‬ َّ ‫ع ْن ُه ْم‬
َ ‫ّللاُ َر ِض‬ َ )
5. Keridhaan hamba di akherat dengan masuknya ke dalam surga. Allah berifman:
(‫ع ْنهُ َو َرضُوا‬ َ )
6. Mendapat kemuliaan dari Allah, Allah menjadikannya termauk golongan orang-
orang khusus dan termasuk golongan yang beruntung. Allah berfirman: ( َ‫ب أ ُ ْولَئِك‬ ُ ‫ّللا ِح ْز‬
ِ َّ
َ‫ب إِنَّ أَال‬ ْ
َ ‫ّللا ِحز‬ ُ َ ْ ْ
ِ َّ ‫)ال ُمف ِل ُحون ه ُم‬. (Tasirul Wushul Syarh Tsalatsatil Ushul 37-38)

Semoga sajian ringkas ini bermanfaat.

Penulis: dr. Adika Mianoki

Artikel Muslim.or.id

59