Anda di halaman 1dari 42

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Rematik merupakan penyakit inflamasi sistemik kronis, inflamasi
sistemik yang dapat mempengaruhi banyak jaringan dan organ, terutama
menyerang fleksibel (sinovial) sendi, dan dapat menyerang siapa saja yang
rentan terkena penyakit rematik. Oleh karenaitu, perlu mendapatkan perhatian
yang serius karena penyakit ini merupakan penyakit persendian sehingga akan
mengganggu aktivitas seseorang dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut WHO (2012), menjelaskan bahwa sekitar 335 juta orang di
dunia mengidap penyakit rematik, itu berarti enam orang didunia ini satu
diantaranya adalah penyandang rematik dan sekitar 25% penderita rematik
akan mengalami kecacatan akibat kerusakan pada tulang dan gangguan pada
persendian (Depkes, 2012). Indonesia mengalami peningkatan kejadian
rematik, pada tahun 2011 prevalensinya mencapai 29,35%, tahun 2012
sebesar 39,47% dan tahun 2013 sebesar 45,59%. Berdasarkan data Riskesdas
tahun 2007 dan tahun 2013 prevalensi rematik Nasional mengalami
peningkatan dari 32,2% menjadi 36,6%. Sedangkan jumlah penderita
rheumatoid arthritis di Jawa Tengah adalah 11,2% menurut Laporan Hasil
Riset Kesehatan Dasar (Kementrian Kesehatan RI, 2013).
Menurut data yang terdapat di Rumah Pelayanan Sosial Lanjut Usia
(RUMPELSOS) Wening Wardoyo Ungaran terdapat terdapat 90 lanjut usia
yang tinggal. Dari 90 lansia 65 (68,4% ) menderita nyeri sendi.
Rematik sering menyebabkan kecacatan sehingga dapat memberikan
akibat yang memberatkan baik bagi penderita sendiri maupun bagi
keluarganya. Adanya atau timbulnya kecacatan dapat mengakibatkan
penderita mengeluh terus-menerus, timbul kecemasan, ketegangan jiwa,
gelisah sampai mengasingkan diri karena rasa rendah diri dan tak berharga
terhadap masyarakat. Penyakit rematik dapat mengakibatkan penurunan
produktifitas manusia. Dua jenis ketidakmampuan timbul dari penyakit
rematik yaitu ketidakmampuan fisik dan ketidakmampuan sosial.
Ketidakmampuan fisik mengakibatkan pada fungsi muskuloskeletal dasar
seperti membungkuk, mengangkat, berjalan dan menggenggam. Sedangkan
ketidakmampuan sosial menunjuk pada pola aktivitas social yang lebih tinggi
termasuk ketidakmampuan kerja.

2. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian lansia?
2. Bagaimana batasan lansia?
3. Apa pengertian rematik?
4. Apa etiologi rematik?
5. Apa manifestasi klinis rematik?
6. Bagaimana patofisiologi rematik?
7. Bagaimana asuhan keperawatan lansia dengan rematik?

3. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian lansia
2. Untuk mengetahui batasan lansia
3. Untuk mengetahui pengertian rematik
4. Untuk mengetahui etiologi rematik
5. Untuk mengetahui manifestasi klinis rematik
6. Untuk mengetahui patofisiologi rematik
7. Untuk mengetahui asuhan keperawatan lansia dengan rematik
BAB II

TINJAUAN TEORI

1. Pengertian Lansia
Lansia atau lanjut usia merupakan tahap terakhir dalam tahap
pertumbuhan. Lanjut usia merupakan proses alami yang tidak dapat dihindari
oleh setiap individu (Kristyaningsih, 2011).
Proses menua adalah proses alami yang di hadapi manusia. Dalam
proses ini, tahap yang paling krusial adalah tahap lansia dimana pada diri
manusia secara alami terjadi penurunan atau perubahan kondisi fisik,
psikologis maupun sosial yang saling berinteraksi satu sama lain. Keadaan itu
cenderung berpotensi menimbulkan masalah kesehatan secara fisik maupun
kesehatan jiwa secara khusus pada individu lanjut usia (Ermawati, 2013).

2. Batasan Lansia
Usia yang dijadikan patokan untuk usia lanjut usia berbeda-beda, umumnya berkisar antara
60-65 tahun. Bebarapa pendapat para ahli tentang batasan usia adalah sebagai berikut
:
a. Menurut organisasi kesehatan dunia (WHO), ada empat tahapan yaitu
:
1. Usia pertengahan (middle age) usia 45-59 tahun.
2. Lanjut usia (elderly) usia 60-74 tahun.
3. Lanjut usia tua (old) usia 75-90 tahun.
4. Usia sangat tua (very old) usia>90 tahun.
b. Menurut hurlock (1979) :
1. Early old age (usia 60-70 tahun)
2. Advanced old age (usia > 70 tahun)
c. Menurut burnsie (1979) :
1. Young old (usia 60-69 tahun)
2. Middle age old (usia 70-79 tahun)
3. Old-old (usia 80-89 tahun)
4. Very old-old (usia>90 tahun)
Di Indonesia batasan usia lanjut adalah 60 tahun ke atas, terdapat dalam UU No. 13 tahun 1998
tentang kesejahteraan lanjut usia. Menurut UU tersebut diatas lanjut usia adalah
seseorang yang mencapai usia 60 tahun keatas, baik pria maupun wanita.

3. Pengertian Rematik
Penyakit reumatik adalah penyakit inflamasi non- bakterial yang
bersifat sistemik, progesif, cenderung kronik dan mengenai sendi serta
jaringan ikat sendi secara simetris (Rasjad Chairuddin, Pengantar Ilmu Bedah
Orthopedi, hal. 165).
Artritis Reumatoid (AR) adalah kelainan inflamasi yang terutama
mengenai membran sinovial dari persendian dan umumnya ditandai dengan
dengan nyeri persendian, kaku sendi, penurunan mobilitas, dan keletihan.

4. Etiologi
Etiologi penyakit ini tidak diketahui secara pasti. Namun ada beberapa
faktor resiko yang diketahui berhubungan dengan penyakit ini, antara lain :
a. Usia lebih dari 40 tahun
Dari semua faktor resiko untuk timbulnya osteoartritis, faktor penuaan adalah yang
terkuat.Akan tetapi perlu diingat bahwa osteoartritis bukan akibat penuaan
saja.Perubahan tulang rawan sendi pada penuaan berbeda dengan perubahan pada
osteoartritis.
b. Jenis kelamin wanita lebih sering
Wanita lebih sering terkena osteosrtritis lutut dan sendi.Sedangkan laki-laki lebih sering
terkena osteoartritis paha, pergelangan tangan dan leher. Secara keseluruhan,
dibawah 45 tahun, frekuensi osteoartritis kurang lebih sama antara pada laki-laki
dan wanita, tetapi diats usia 50 tahun (setelah menopause) frekuensi osteoartritis
lebih banyak pada wanita daripada pria. Hal ini menunjukkan adanya peran
hormonal pada patogenesis osteoartritis.
c. Suku bangsa
Nampak perbedaan prevalensi osteoartritis pada masing - masing suku bangsa.Hal ini
mungkin berkaitan dnegan perbedaan pola hidup maupun perbedaan pada
frekuensi kelainan kongenital dan pertumbuhan tulang.
d. Genetik
Hal ini terbukti dari terdapatnya hubungan antara produk kompleks histokompatibilitas utama
kelas II, khususnya HLA-DR4 dengan AR seropositif. Pengemban HLA-DR4
memiliki resiko relative 4 : 1 untuk menderita penyakit ini.
e. Kegemukan dan penyakit metabolik
Berat badan yang berlebih, nyata berkaitan dengan meningkatnya resiko untuk timbulnya
osteoartritis, baik pada wanita maupun pria. Kegemukan ternyata tidak hanya
berkaitan dengan oateoartritis pada sendi yang menanggung beban berlebihan,
tapi juga dengan osteoartritis sendi lain (tangan atau sternoklavikula). Oleh karena
itu disamping faktor mekanis yang berperan (karena meningkatnya beban
mekanis), diduga terdapat faktor lain (metabolit) yang berperan pada timbulnya
kaitan tersebut.
f. Cedera sendi, pekerjaan dan olahraga
Pekerjaan berat maupun dengan pemakaian satu sendi yang terus menerus berkaitan
dengan peningkatan resiko osteoartritis tertentu.Olahraga yang sering
menimbulkan cedera sendi yang berkaitan dengan resiko osteoartritis yang lebih
tinggi.
g. Kelainan pertumbuhan
Kelainan kongenital dan pertumbuhan paha telah dikaitkan dengan timbulnya
oateoartritis paha pada usia muda.
h. Kepadatan tulang
Tingginya kepadatan tulang dikatakan dapat meningkatkan resiko timbulnya
osteoartritis.Hal ini mungkin timbul karena tulang yang lebih padat (keras) tidak
membantu mengurangi benturan beban yang diterima oleh tulang rawan
sendi.Akibatnya tulang rawan sendi menjadi lebih mudah robek.

5. Manifestasi Klinis
Gejala utama dari osteoartritis adalah adanya nyeri pada sendi yang
terkena, terutama waktu bergerak.Umumnya timbul secara perlahan-
lahan.Mula-mula terasa kaku, kemudian timbul rasa nyeri yang berkurang
dnegan istirahat. Terdapat hambatan pada pergerakan sendi, kaku pagi,
krepitasi, pembesaran sendi dn perubahan gaya jalan. Lebih lanjut lagi
terdapat pembesaran sendi dan krepitasi.
Tanda-tanda peradangan pada sendi tidak menonjol dan timbul
belakangan, mungkin dijumpai karena adanya sinovitis, terdiri dari nyeri
tekan, gangguan gerak, rasa hangat yang merata dan warna kemerahan, antara
lain :

a. Nyeri sendi
Keluhan ini merupakan keluhan utama.Nyeri biasanya bertambah dengan gerakan dan
sedikit berkurang dengan istirahat. Beberapa gerakan tertentu kadang - kadang
menimbulkan rasa nyeri yang lebih dibandingkan gerakan yang lain.
b. Hambatan gerakan sendi
Gangguan ini biasanya semakin bertambah berat dengan pelan-pelan sejalan dengan
bertambahnya rasa nyeri.
c. Kaku pagi
Pada beberapa pasien, nyeri sendi yang timbul setelah immobilisasi, seperti duduk dari
kursi, atau setelah bangun dari tidur.
d. Krepitasi
Rasa gemeretak (kadang-kadang dapat terdengar) pada sendi yang sakit.
e. Pembesaran sendi (deformitas)
Pasien mungkin menunjukkan bahwa salah satu sendinya (lutut atau tangan yang paling
sering) secara perlahan - lahan membesar.
f. Perubahan gaya berjalan
Hampir semua pasien osteoartritis pergelangan kaki, tumit, lutut atau panggul
berkembang menjadi pincang. Gangguan berjalan dan gangguan fungsi sendi
yang lain merupakan ancaman yang besar untuk kemandirian pasien yang
umumnya tua (lansia).

6. Patofisiologi
Inflamasi mula - mula mengenai sendi - sendi sinovial seperti edema,
kongesti vaskular, eksudat febrin dan infiltrasi selular. Peradangan yang
berkelanjutan, sinovial menjadi menebal, terutama pada sendi artikular
kartilago dari sendi. Pada persendian ini granulasi membentuk pannus, atau
penutup yang menutupi kartilago. Pannus masuk ke tulang sub chondria.
Jaringan granulasi menguat karena radang menimbulkan gangguan pada
nutrisi kartilago artikuer.Kartilago menjadi nekrosis.
Tingkat erosi dari kartilago menentukan tingkat ketidakmampuan
sendi.Bila kerusakan kartilago sangat luas maka terjadi adhesi diantara
permukaan sendi, karena jaringan fibrosa atau tulang bersatu
(ankilosis).Kerusakan kartilago dan tulang menyebabkan tendon dan ligamen
jadi lemah dan bisa menimbulkan subluksasi atau dislokasi dari
persendian. Invasi dari tulang sub chondrial bisa menyebabkan osteoporosis
setempat.
Lamanya arthritis rhematoid berbeda dari tiap orang.Ditandai dengan
masa adanya serangan dan tidak adanya serangan.Sementara ada orang yang
sembuh dari serangan pertama dan selanjutnya tidak terserang lagi. Yang lain
terutama yang mempunyai faktor rhematoid (seropositif gangguan rhematoid)
gangguan akan menjadi kronis yang progresif.
7. Pathway
8. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Pada Rematoid Atritis
a. Pengkajian
1.Biodata
Nama, umur, jenis kelamin, status, alamat, pekerjaan, penanggung jawab.Data
dasar pengkajian pasien tergantung padwa keparahan dan keterlibatan
organ-organ lainnya (misalnya mata, jantung, paru-paru, ginjal),
tahapan misalnya eksaserbasi akut atau remisi dan keberadaaan
bersama bentuk-bentuk arthritis lainnya.
2. Riwayat Kesehatan
a. Adanya keluhan sakit dan kekakuan pada tangan, atau pada tungkai.
b. Perasaan tidak nyaman dalam beberapa periode/waktu sebelum pasien
mengetahui dan merasakan adanya perubahan pada sendi.
3. Pemeriksaan fisik
a. Inspeksi dan palpasi persendian untuk masing-masing
sisi (bilateral), amati warna kulit, ukuran, lembut tidaknya
kulit, dan pembengkakan.
b. Lakukan pengukuran passive range of mation pada
sendi-sendi sinovial
 Catat bila ada deviasi (keterbatasan gerak sendi)
 Catat bila ada krepitasi
 Catat bila terjadi nyeri saat sendi digerakkan
c. Lakukan inspeksi dan palpasi otot-otot skelet secara
bilateral
 Catat bia ada atrofi, tonus yang berkurang
 Ukur kekuatan otot
 Kaji tingkat nyeri, derajat dan mulainya
 Kaji aktivitas/kegiatan sehari-hari
4. Aktivitas/istirahat
Gejala : Nyeri sendi karena gerakan, nyeri tekan, memburuk dengan stres
pada sendi; kekakuan pada pagi hari, biasanya terjadi bilateral dan
simetris.
Limitasi fungsional yang berpengaruh pada gaya hidup, waktu senggang,
pekerjaan, keletihan.
Tanda : Malaise
Keterbatasan rentang gerak; atrofi otot, kulit, kontraktor/ kelaianan pada
sendi.
5. Kardiovaskuler
Gejala : Fenomena Raynaud jari tangan/ kaki (mis: pucat intermitten, sianosis,
kemudian kemerahan pada jari sebelum warna kembali normal).
6. Integritas ego
Gejala : Faktor-faktor stres akut/ kronis: mis; finansial, pekerjaan, ketidakmampuan, factor-faktor
hubungan.
Keputusan dan ketidakberdayaan (situasi ketidakmampuan)
Ancaman pada konsep diri, citra tubuh, identitas pribadi (misalnya ketergantungan pada orang lain).
7. Makanan/ cairan
Gejala ; Ketidakmampuan untuk menghasilkan/ mengkonsumsi makanan/ cairan adekuat: mual, anoreksia
Kesulitan untuk mengunyah
Tanda : Penurunan berat badan\
Kekeringan pada membran mukosa.
8. Hygiene
Gejala : Berbagai kesulitan untuk melaksanakan aktivitas perawatan pribadi. Ketergantungan
9. Neurosensori
Gejala : Kebas, semutan pada tangan dan kaki, hilangnya sensasi pada jari tangan.
Gejala : Pembengkakan sendi simetris
10. Nyeri/ kenyamanan
Gejala : Fase akut dari nyeri (mungkin tidak disertai oleh pembengkakan jaringan lunak pada sendi).

b. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akutb.d agens cedera biologis (rematik)
2. Hambatan Mobilitas Fisik b.dkaku sendi
3. Gangguan citra tubuh b.d penyakit

c. Intervensi keperawatan
Diagnosa Keperawatan
NOC NIC

Nyeri akut Setelah dilakukan tindakan 1. Kaji skala nyeri


b.d agens keperawatan selama proses PQRST
biologis keperawatan diharapkan nyeri dapat 2. Dukung istirahat/ tidur
(rematik) diatasi. yang adekuat untuk
Kriteria hasil: membantu penurunan
1. Mampu mengontrol nyeri. nyeri
2. Nyeri berkurang. 3. Ajarkan prinsip-prinsip
3. Skala nyeri berkurang menjadi 1- 2 manajemen nyeri
dari 10. (kompres jahe hangat)
4. Tidak ada ekspresi wajah pasien 4. Kolaborasikan dengan
menahan nyeri. tim kesehatan lainnya
untuk memilih dan
mengimplementasikan
tindakan penurun nyeri
nonfarmakologi, sesuai
kebutuhan

Hambatan Setelah dilakukan tindaka 1. Observasi TTV


mobilitas keperawatan selama proses 2. Kaji kemampuan PM
fisik b.d keperawatan diharapkan hambatan dalam beraktivitas
kaku sendi mobilitas fisik teratasi. 3. Lakukan ROM aktif/
Kriteria Hasil : pasif untuk
1. Mempertahankan fungsi menghilangkan
posisi dengan tidak ketegangan otot
hadirnya/ pembatasan 1. Berikan bantuan sesuai
kontraktur. kebutuhan PM
2. Mempertahankan ataupun
meningkatkan kekuatan
dan fungsi dari dan/ atau
konpensasi bagian tubuh.
3. Mendemonstrasikan
tehnik/ perilaku yang
memungkinkan melakukan
aktivitas

Gangguan Setelah dilakukan tindakan 1. Dorong pengungkapan


citra tubuh keperawatan selama proses mengenai masalah
b.d keperewatan diharapkan gangguan tentang proses
penyakit citra tubuh berkurang. penyakit, harapan masa
Kriteria hasil : depan
1. Mengungkapkan peningkatan 2. Diskusikan arti dari
rasa percaya diri dalam kehilangan/ perubahan
kemampuan untuk menghadapi pada pasien/orang
penyakit, perubahan pada gaya terdekat. Memastikan
hidup, dan kemungkinan bagaimana pandangaqn
keterbatasan. pribadi pasien dalam
2. Menyusun rencana realistis memfungsikan gaya
untuk masa depan. hidup sehari-hari,
termasuk aspek-aspek
seksual.
3. Diskusikan persepsi
pasienmengenai
bagaimana orang
terdekat menerima
keterbatasan.
4. Akui dan terima
perasaan berduka,
bermusuhan,
ketergantungan

5. Perhatikan perilaku
menarik diri, penggunaan
menyangkal atau terlalu
memperhatikan perubahan
6. Susun batasan pada
perilaku mal adaptif. Bantu
pasien untuk mengidentifikasi
perilaku positif yang dapat
BAB III
TINJAUAN KASUS

Pengkajian Askep Gerontik


A. Data Umum
Nama : Tn. Y
Umur : 73 Tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Suku bangsa : Jawa indonesia
Pendidikan terakhir :-
Status perkawinan : Cerai Meninggal
Keluarga yang dapat dihubungi : Perkumpulan persekutuan lingkungan Bartolumilis.
Telp :-
Riwayat jatuh/injuri : (penyebab, gejala, tempat jatuh) :
PM mengatakan dulu pernah jatuh di MRT, saat PM pulang dari rumah
kerabatnya dengan naik MRT dan saat naik PM berdiri tidak mendapatkan
gantungan pegangan ,saat sopir bus mengerem mendadak PM terjatuh dan
mengalami cidera di bagian perut yang di perkirakan penyebab penyakit hernia
nya.
Riwayat penyakit dahulu:
PM mengatakan mempunyai penyakit magh.
Riwayat penggunaan obat-obatan :
PM mengatakan meminum obat yang diperoleh dari poli kesehatan panti yang
disediakan dan meminum ketika penyakitnya kambuh.
Riwayat Lansia :
1. Saudara kandung
Nama
Alamat
Keterangan
Semarang
meninggal
Semarang
meninggal

2. Riwayat kematian dalam lansia ( 1 tahun terakhir )


a. Nama :
b. Usia :
c. Penyebab :
B. Pengkajian Fisik
1. Data Klinik :
 Tinggi badan : 156cm Berat badan : 40Kg
 Nadi: 80x/mnt
 Tekanan darah : 130/80mmHg
2. Pernafasan dan Sirkulasi :
 Frekuensi nafas : 22 x/mnt
 Kualitas : √ normal  dangkal  cepat  dalam
 Batuk :ya √ tidak,
jelaskan : ……………………………………………..................................
 Auskultasi :
 Lobus kanan atas : √ normal,  menurun,  tidak ada,  suara tidak
normal
 Lobus kiri atas : √normal,  menurun,  tidak ada,  suara tidak
normal
 Lobus kanan bawah : √ normal,  menurun,  tidak ada,  suara tidak
normal
 Lobus kiri bawah : √ normal,  menurun,  tidak ada,  suara tidak
normal
3. Metabolik Integumen
 Kulit :
 Warna : √ normal,  pucat,  cianosis,  kuning,  lainnya! ………
 Turgor : √ normal,  menurun lembab  kering
 Lecet : √ tidak,  ya ! sebutkan ! …………………………………….
 Bengkak : √ tidak,  ya ! sebutkan ! …………………………………
 Bercak : √ tidak,  ya ! sebutkan ! ……………………………………
 Gusi : √ normal,  putih,  lecet,  lainnya,…………………………
 Gigi :  normal,  lainnya. sebutkan ! Gigi ompong.
 Abdomen : simetris peristaltik usus : √ ada,  tidak ada
4. Persarafan sensori:
 Pupil : √ sama,  tidak sama. sebutkan ! ………………………………
 Reaksi terhadap cahaya :
 Kiri : √ ya,  tidak,
 Kanan : √ ya, tidak
 Mata : √ jelas,  berair  kabur,  lainnya. sebutkan ! …..……………
 Penglihatan : √ normal,  kacamata,  lensa kontak,  terganggu
kanan/kiri,  buta kanan/kiri kabur kanan/kiri, 
lainnya. Sebutkan !
…………………………………………………………………
 Pendengaran :  berdenging √ berkurang  kabur, 
lainnya. sebutkan ! Normal………………………………
 Pendengaran : normal,  tergganggu kanan/kiri, √tuli kanan/kiri,  alat

bantu pendengaran, √ normal


5. Muskuloskeletal
 Range of Motion : √ penuh,  tidak. sebutkan
 Keseimbangan : √stabil,  tidak stabil. sebutkan !
 Menggenggam
 Kanan : √ kuat,  lemah
 Kiri : √kuat,  lemah
 Kekuatan otot kaki :
 Kanan : √ kuat,  lemah
 Kiri : √kuat,  lemah
6. Gastrointestinal
  Mual,  Muntah √nyeri ulu hati nyeri perut  Makan minum banyak
 lainnya sebutkan !
7. Seksual
 Genetalia : √ terganggu, tidak terganggu. sebutkan ! Memiliki penyakit
hernia
8. Eliminasi
 BAK:  BAK banyak,  sering BAK dimalam hari.  BAK tidak
terkontrol  lainnya. sebutkan ! BAK normal 4- 8 x/hari
 BAB:  BAB banyak,  BAB tidak terkontrol  lainnya. sebutkan !BAB
1x/hari
C. Aktifitas dan Latihan
Kemampuan perawatan diri :
Skor : 0 = mandiri, 1 = dibantu sebagian, 2 = perlu bantuan orang lain, 3 = perlu
bantuan orang lain dan alat, 4 = tergantung/ tidak mampu

Aktifitas 0 1 2 3 4
Mandi √
Berpakaian √
Mobilisasi di tempat tidur √
Pindah √
Ambulasi √
Naik tangga √
Belanja √
Memasak √
Merapikan rumah √

D. Kognitif dan Perseptual


 Status mental :
 Tingkat kesadaran : Composmentis
 Afasia : Bicara lancar tidak ada gangguan.
 Dimensia :  ya, √ tidak
 Orientasi : √ normal,  bingung,  tidak ada respon
 Bicara : √ normal,  gagap,  afasia,  bloking pelo
 Bahasa yang digunakan : Indonesia
 Kemampuan membaca : √ bisa,  tidak
 Kemampuan interaksi : sesuai, √tidak. Sebutkan !Karena terganggu dengan
pendengaran tidak normal
 Vertigo : ya, √tidak. pusing
E. Lingkungan
 Jenis lantai rumah :  tanah,  tegel,  porselin√kramik  lainnya.
Sebutkan ! ……..
 Kondisi lantai :  licin,  lembab, √ kering  lainnya. Sebutkan! …………
 Tangga rumah :
 √ Tidak ada
  Ada :  aman (ada pegangan),  tidak aman
 Penerangan : √ cukup,  kurang
 Tempat tidur : √ aman (pagar pembatas,tidak terlalu tinggi),  tidak aman
 Alat dapur :  berserakan, √ tertata rapi
 WC :
  Tidak ada
 √ Ada : √ aman (posisi duduk, ada pegangan),  (posisi ndodok)  tidak
aman (lantai licin, tidak ada pegangan).
 Kebersihan lingkungan : √ bersih (tidak ada barang membahayakan),  tidak
bersih dan tidak aman (pecahan kaca, gelas, paku, dll.)
F. PSIKOLOGIS
a. Apakah lansia mengenal masalah-masalah utamanya ?ya,mengenal
masalahnya yang dideritanya bahwa dia sering merasakan nyeri pada perutnya saat
telat makan dan genetalianya sakit saat beraktivitas
b. Bagaimana sikapnya lansia terhadap proses penuaan ?PM masih bersyukur
diberi umur panjang dan diberi kesehatan
c. Apakah dirinya dibutuhkan atau tidak ?PM mengatakan merasa dibutuhkan
karena PM sering membantu teman satu kamarnya maupun 1 wisma
d. Apakah lansia optimis dalam memandang suatu kehidupan ?Ya,optimis
dalam menjalani hidupnya
e. Bagaimana lansia mengatasi stress yang dialami ?PM mengatakan bahwa ia
mengatasi stresnya dengan cara mengaji dan beribadah kepada Allah
f. Apakah lansia mudah dalam menyesuaikan diri ?Ya, mudah adaptasi
g. Apakah lansia sering mengalami kegagalan ?PM mengatakan beliau
mengalami kegagalan dimasa lalunya saja dan tidak sering
h. Apakah harapan lansia pada saat ini dan akan datang ?PM mengatakan beliau
hanya ingin selalu disayang sama Tuhannya.
i. Daya ingat :
1. Jangka pendek ?penerima manfaat masih bisa mengingat
2. Jangka panjang ?penerima manfaat masih bisa mengingat
j. Proses pikir ?penerima manfaat berpikir secara optimis
k. Alam perasaan ?penerima manfaat merasa bahagia dengan hidupnya
l. Orientasi ?penerima manfaat masih bisa berorientasi dengan lingkuan sekitar
dengan baik
G. SOSIAL EKONOMI
a. Dari mana sumber keuangan lanjut usia ? PM mengatakan mendapat uang dari
tamu yang dating belum tentu jumlahnya dan tidak pasti kapannya
b. Apa saja kesibukan lanjut usia dalam mengisi waktu luang ? dengan
mengikuti kegiatan – kegiatan yang ada di panti
c. Dengan siapa dia tinggal ? lansia dan pegawai/ pegasuh panti wening wardoyo
d. Kegiatan organisasi apa yang diikuti lanjut usia ? Senam lansia, bimbingan
agama, rekreasi, dan seni
e. Bagaimana pandangan lanjut usia terhadap lingkungannya ? PM mengatakan
lingkungannya cukup bersih
f. Berapa sering lanjut usia berhubungan dengan orang lain diluar rumah ? PM
mengatakan sering berhubungan dengan teman wisma lain
g. Siapa saja yang mengunjungi ?
h. Seberapa besar ketergantungannya ? PM masih bisa melakukan aktivitas
secara mandiri apabila penyakitnya tidak kambuh
i. Apakah dapat menyalurkan hobi atau keinginannya dengan fasilitas yang ada
? PM mengatakan hobinya bisa disalurkan
H. PENGKAJIAN STATUS MENTAL
Short Portable Mental Status Questioner (SPSMQ)
No. Pertanyaan
1. Tanggal berapa hari ini? Benar
2. Hari apa sekarang? Benar (Senin)
3. Apa nama tempat ini? Benar ( RumahPelayanan Sosial Wening Wardoyo
Ungaran.
4. Dimana alamat anda? Benar
5. Berapa umur anda? Benar
6. Kapan anda lahir? Benar
7. Siapa presiden Indonesia sekarang? Benar (Bapak Jokowi)
8. Siapa presiden Indonesia sebelumnya? Benar (Susilo bambang)
9. Siapa nama ibu anda? Benar
10. Kurangi 3 dari 20 & tetap pengurangan 3 dari setiap angka baru, semua secara
berurutan ? Salah
Jumlah : Benar 10, salah 0 : Fungsi intelektual utuh.

Total Skor: Hasil:


1. Salah 0-3 : fungsi intelektual utuh
2. Salah 4-5 : kerusakan intelektual ringan
3. Salah 6-8 : kerusakan intelektual sedang
4. Salah 9-10 : kerusakan intelektual berat
I. PENGKAJIAN SPIRITUAL
1. Apakah lansia secara teratur melakukan ibadah sesuai dengan keyakinan
agamanya ? PM mengatakan ibadah sesuai dengan kayakinannya dan
dilakukan secara rutin
2. Apakah lansia secara teratur mengikuti atau terlibat aktif dalam kegiatan
keagamaan, misalnya pengajian dan penyantunan anak yatim atau fakir
miskin ? Ya pengajian di panti diruang aula.
3. Bagaimana cara lansia menyelesaikan masalah ? Masalah diselesaikan secara
berunding
4. Apakah lansia terlihat sabar dan tawakal ? Ya,Lansia terlihat sabar dan
tawakal dalam menjalani hidupnya.

J. RIWAYAT PEKERJAAN
a. Status pekerjaan saat ini : Tidak bekerja
b. Pekerjaan sebelumnya :PM tidak mau mengatakan
c. Sumber-sumber pendapatan : dari pemberian pengujung

Pemeriksaan fisik :
a. Keadaan umum : Lemah, Mobilitas terbatas
b. Kesadaran :GCS : Compos mentis. E : 4 V: 6 M: 4
c. TTV :TD : 130/80 mmHg, N : 72 x/mnt, RR : 20 x/mnt,
d. Kepala : Bentuk kepala bulat, mesochepal, tidak ada lesi, rambut beruban,
bersih.
P : Nyeri saat dibuat aktifitas.
Q : Seperti cekot-cekot.
R : Bagian kaki dan kedua lutut.
S : Skala nyeri 3 dari 10
T : Hilang timbul.
e. Wajah : Simetris, bentuk bulat, tidak ada lesi, tidak ada benjolan.
f. Mata : Konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik, penglihatan kabur
g. Hidung : simetris, tidak ada polip, tidak keluar secret
h. Mulut : Bersih, kedua simetris, tidak ada stomatitis, mukosa bibir lembab,
gigi ompong
i. Telinga : Kedua simetris, fungsi pendengaran berkurang, tidak ada secret,
tidak ada lesi.
j. Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid, tidak ada pembengkakan.
k. Dada : terdapat putting susu yang menonjol, tidak ada lesi
 Paru I: Dada simetris, tidak ada lesi, nafas spontan,
P:Vocal fremitus sama antara kanan dan kiri, tidak ada nyeri tekan
P: Sonor
A: Vesikuler
 Jantung : I: Ictus cortis tak nampak
P: ictus cordis teraba di ICS 5 disebelah medial linea midklavikularis sinistra.
P: Pekak
A: Jantung S1-S2 reguler
 Abdomen : I: bentuk cekung, tidak ada lesi
A: Bising usus 12 x/m
P: Timpani
P:tidakada nyeri tekan.
 Punggung : Tidak ada lesi, tidak ada edema.
l. Genetalia :normal, bersih, jenis kelamin perempuan, memakai pampers
m. Ekstremitas :
1. Ekstremitas atas : kedua tangan normal, kedua tangan tidak ada lesi, tidak
mengalami edema, kedua tangan simetris
2. Ekstremitas bawah : Kedua kaki simetris, tidak ada bekas luka, kedua kaki

lemah. Kekuatan otot

1. Analisa data
No Hari/Tgl/Jam Data Problem Etiologi

1. Senin, DS
18 : PM mengatakan nyeri kaki Nyeri akut Agen cedera
Maret 2019 (lutut) biologis
P : Nyeri saat dibuat (rematik)
aktifitas.
Q : Seperti cekot-cekot.
R : Bagian kaki dan kedua
lutut
S : Skala nyeri 3.
T : Hilang timbul.
DO : KU : Lemah Hambatan
TD : 130/80 mmHg. mobilitas
PM tampak meringis menahan nyeri fisik Kaku sendi
dan tampak memegang kakinya.
2. Senin, 18
Maret 2019
DS : PM mengatakan susah
melakukan aktivitas badan nya
terasa lemas. Tetapi hanya
mampu berjalan beberapa
langkah saja
DO : PM tampak selalu tiduran dan
sesekali duduk diatas bed.
PM bisa berjalan menggunakan alat
bantu berupa Walker tetapi
hanya beberapa langkah.

TTV 🡪 TD : 130/80 mmHg, N : 72


x/m, RR : 20 x/m

2. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis(rematik)
b. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kaku sendi

3. Intervensi Keperawatan

NoDx. Kep Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi Kep


1. Nyeri Akut berhubungan Setelah dilakukan tindakan 1. Kaji skala nyeri PQRST
dengan keperawatan selama 2 x 8 2. Dukung istirahat/ tidur
agen cedera biologis(rematik) jam diharapkan nyeri dapat yang adekuat untuk
diatasi. membantu penurunan
nyeri
Kriteria hasil:
3. Ajarkan prinsip-prinsip
1. Mampu mengontrol manajemen nyeri
nyeri. (kompres jahe hangat)
2. Nyeri berkurang. 4. Kolaborasikan dengan
3. Skala nyeri berkurang tim kesehatan lainnya
menjadi 1- 2 dari 10. untuk memilih dan
4. Tidak ada ekspresi mengimplementasikan
wajah pasien menahan tindakan penurun nyeri
nyeri.. nonfarmakologi, sesuai
kebutuhan

2. Hambatan Setelah dilakukan tindaka 4. Observasi TTV


mobilitas fisik keperawatan selama proses 5. Kaji kemampuan PM
berhubungan keperawatan diharapkan dalam beraktivitas
dengan kaku hambatan mobilitas fisik 6. Lakukan ROM aktif/
sendi teratasi. pasif untuk menghilangkan
ketegangan otot
Kriteria Hasil :
7. Berikan bantuan sesuai
1. Mempertahankan fungsi kebutuhan PM
posisi dengan tidak
hadirnya/ pembatasan
kontraktur.
2. Mempertahankan
ataupun meningkatkan
kekuatan dan fungsi dari
dan/ atau konpensasi
bagian tubuh.
3. Mendemonstrasikan
tehnik/ perilaku yang
memungkinkan
melakukan aktivitas
4.

4. Implementasi keperawatan
Diagnose Kep Tanggal
Implementasi Evaluasi Formatif ttd
/Jam
Nyeri akut berhubungan
Selasa, 19 1. Mengkaji skala nyeri PQRST
DS : Penerima manfaat
dengan Maret mengatakan
agen cedera biologis(rematik)
2019 bersedia dikaji.
P : Nyeri di kaki saat
beraktifitas.
Q : Seperti cekot-cekot.
R : Bagian kaki dan sendi
kedua
lutut.
2. Mendukung istirahat/ S tidur
: Skala 3 dari 10.
yang adekuat untuk T : Hilang timbul.
membantu
penurunan nyeri DO : PM tampak gelisah
3. Mengajarkan prinsip-prinsip dan memegang
manajemen nyeri (kompres jahe kedua lututnya,
hangat)
DS : PM
4. Mengolaborasikan dengan tim mengatakan akan
kesehatan lainnya untuk memilih dan berusaha
mengimplementasikan tindakan tidur agar
penurun nyeri nonfarmakologi,sesuai nyerinya berkurang
kebutuhan DO : PM mau
mengikuti instruksi
dari
perawat

DS : PM bersedia
DO : PM terlihat
memahami yang
diajarkan dan
kooperatif

DS : PM mengatakan
bersedia.
DO : Pasien minum obat
yang diberikan
dokter (Paracetamol
500 mg)

.
Hambatan
Selasa, 19 1. Mengobservasi TTV DS : PM mengatakan
mobilitas Maret
fisik bersedia dikaji.
berhubungan2019 DO :
dengan kaku 2. Mengkaji kemampuan PM  TD = 130/80
sendi dalam beraktivitas mmHg
 HR = 72
3. Melakukan ROM aktif/ pasif x/menit
untuk menghilangkan ketegangan otot  RR = 20
x/menit
 Suhu =
36,2 C0

4. Memberikan bantuan sesuai


kebutuhan PM
DS : PM bersedia
DO : PM terlihat sering
duduk dan jarang
melakukan aktivitas

DS : PM
mengatakan
bersedia
DO : PM terlihat
kooperatif dengan
mengikuti apa
yang diajarkan
perawat

DS : PM terlihat
ingin duduk di teras
DO : PM terlihat
berjalan
menggunakan
Walker dan
dibantu
Implementasi hari ke-2
NoDiagnose Kep Tanggal
Implementasi Evaluasi Formatif ttd
/Jam
1 Nyeri akut berhubungan
Rabu, 20 1. Mengkaji skala nyeri
DS : Penerima manfaat
dengan Maret PQRST mengatakan bersedia
agen cedera biologis(rematik)
2019 dikaji.
P : Nyeri di kaki saat
beraktifitas.
Q : Seperti cekot-cekot.
R : Bagian kaki dan kedua
lutut.
S : Skala 2 dari 10.
2. Mendukung istirahat/Ttidur
: Hilang timbul.
DO : PM tampak gelisah dan
yang adekuat untuk membantu
penurunan nyeri memegang kedua
lututnya,
3. Mengajarkan prinsip-
prinsip manajemen nyeri (kompres DS : PM mengatakan
jahe hangat) akan berusaha
tidur agar
nyerinya berkurang
DO : PM kooperatif
4. Mengolaborasikan dengan
tim kesehatan lainnya untuk
memilih dan
mengimplementasikan tindakan
penurun nyeri
DS : PM bersedia
nonfarmakologi,sesuai kebutuhan diajarkan kompres
jahe hangat
DO : PM kooperatif tampak
mengikuti yang
diajarkansebelum
aktifitas
-Skala nyeri 3 sebelum
dilakukan kompres
menjadi skala 2
setelah dilakukan
kompres.

DS : PM mengatakan
bersedia.
DO : Pasien minum obat
yang diberikan dokter
(paracetamol 500mg)

.
2. Hambatan
Rabu, 20 1. Mengobservasi TTV DS : PM mengatakan
mobilitas Maret
fisik bersedia dikaji.
berhubungan
2019 DO :
dengan kaku  TD = 140/80
sendi 2. Mengkaji kemampuan PM mmHg
dalam beraktivitas  HR = 80
kali/menit
 RR = 20
3. Melakukan ROM aktif/
kali/menit
pasif untuk menghilangkan
 Suhu = 36,2 C0

ketegangan otot

DS : PM mengatakan ingin

4. Memberikan bantuan ke kamar mandi


sesuai kebutuhan PM DO : PM terlihat kesusahan
dalam berjalan tanpa
alat bantu walker

DS : PM mengatakan
kakinya terasa
pegal-pegal
DO : PM kooperatif
mengikuti ROM
yang diajarkan
perawat

DS : PM mengatakan ingin
melakukan aktifitas
mandiri tetapi
badanya lemas
DO : PM nampak takut
beraktivitas
perawat memberikan
dukungan dan
semangat untuk PM
dalam melakukan
aktivitas mandiri
penjelasan perawat

1. EVALUASI KEPERAWATAN

Hari,Diagnose
tgl, jam Kep Evaluasi Sumatif ttd
Rabu,
Nyeri
20 Maret
akut b.d agens cedera biologisS : Penerima manfaat mengatakannyeri di kedua
2019(rematik) lutut berkurang
P : Nyeri kaki saat beraktifitas.
Q : cekot - cekot
R : di kedua lutut
S : Skala 2.
T : Hilang timbul.

O:
 TTV = TD : 130/80 mmHg, N : 80 x/m,
RR : 20 x/m, Suhu : 36,2 C0
 Penerima Manfaat tampak lebih
rileks dari sebelumnya.
 Penerima Manfaat sudah bisa
melakukan kompres jahe hangat seperti
yang diajarkan.
 Penerima Manfaat lebih memanfaatkan
waktunya untuk beristirahat.
A:Masalah teratasi sebagian.
Hambatan mobilitas fisik
P: Lanjutkan intervensi (1,2,3,4)
berhubungan dengan kaku
Rabu, 20 Maret sendi
2019 S: Penerima manfaat mengatakan saat berjalan
masih membutuhkan alat bantu yaitu walker
O:
 Penerima manfaat saat beraktivitas
masih dibantu
 Penerima manfaat paham sudah bisa
melakukan ROM aktif / pasif
A: Masalah teratasi sebagian
P: Lanjutkan intervensi (1,2,3,4)

BAB IV
PEMBAHASAN

Dalam pelaksanaan study asuhan keperawatan selama 2 hari berturut-turut terhadap


kasus rematik pada lansia yang dimulai dari hari Selasa, 19 Maret 2019 - Rabu, 20
Maret 2019 melalui proses keperawatan sebagai penyelesaian masalah yang
ditemukan. Selama melakukan study kasus penulis sudah mencoba melaksanakan
proses keperawatan dengan baik. Maka dalam pembahasan ini dapat diuraikan sesuai
dengan proses keperawatan yang dimulai dari pengkajian sampai evaluasi.
1. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap asuhan keperawatan yang bertujuan
untuk mengumpulkan data tentang klien. Dimana pengkajian dilakukan
dengan beberapa cara yaitu melalui wawancara, Pemeriksaan fisik, observasi
dan dokumentasi.
Pada pengkajian didapatkan data penerima manfaat yaitu Ny.Sumur
81 tahun mempunyai riwayat penyakit rematik. Pasien juga pernah
mempunyai riwayat jatuh yang menyebabkan kedua kakinya lemah sehingga
harus menggunakan alat bantu untuk berjalan (walker) sampai sekarang.
Dalam setiap aktivitasnya penerima manfaat juga dibantu oleh orang lain
seperti dalam hal mandi, makan, dll.
2. Diagnosa keperawatan
Dalam menegakkan diagnosa keperawatan pada study kasus penulis berusaha merumuskan
diagnosa keperawatan menurut teoritis adalah:
a. Nyeri akut b.d agens cedera biologis (rematik)
b. Hambatan Mobilitas Fisik b.dkaku sendi
c. Gangguan citra tubuh b.d penyakit
Sedangkan dari kasus yang penulis teliti didapatkan diagnose sebagai
berikut yaitu:
a. Nyeri akut berhubungan dengan agens cedera biologis (rematik).
b. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kaku sendi.
3. Intervensi
Dalam menyusun rencana tindakan keperawatan untuk mencapai tujuan yang sesuai dengan
tujuan dan kriteria hasilnya.Maka penyusun membuat rencana berdasarkan acuan
pada tinjauan teori.Rencana tindakan dibuat selama 2 hari perawatan.Dari 2 diagnosa
keperawatan ini, intervensi dapat ditetapkan pada kasus karena berkat kerjasama yang
baik antara perawat dan penerima manfaat. Dalam menyusun tindakan yang akan
dilakukan ini disesuaikan dengan diagnosa yang ditemukan sehingga mendapatkan
tujuan yang diinginkan.
4. Implementasi
Salah satu bentuk implementasi keperawatan yang dilakukan sesuai dengan rencana tindakan
keperawatan yang telah disusun. Selama melaksanakan implementasi penulis tidak
menemukan kesulitan karena penerima manfaat sangat kooperatif dalam mengikuti
implementasi yang sudah dilakukan kepada penerima manfaat.
5. Evaluasi
Setelah disusun intervensi dan dilaksanakan implementasi dilakukan evaluasi pada hari ke
2Rabu, 20 Maret 2019 dengan kesimpulan penerima manfaat sangat kooperatif, mau
dan sanggup melaksanakan instruksi dari perawat dengan baik. Didapatkan hasil TTV
: 130/80 mmHg, N: 80 x/m, RR : 20 x/m, skala nyeri berkurang, skala 2, PM sudah
merasa relaks dan sudah tidak gelisah, pm berjalan menggunakan walker yang sudah
disediakan di dekat tempat tidur.

BAB V

PENUTUP

A. KESIMPULAN
Setelah melakukan asuhan keperawatan ini penulis sudah mampu untuk menerapkan asuhan
keperawatan pada Ny. S dengan diagnosa medisnya adalah rematik melalui proses:
1. Pengkajian
Dalam melakukan pengkajian, penulis dapat mengumpulkan data pada penerima
manfaat denganrematik yang dilakukan dengan wawancara pada penerima
manfaat, pemeriksaan fisik, observasi, dan dokumentasi keperawatan.
2. Diagnosa keperawatan
Setelah pengumpulan data maka dapat ditemukan masalah-masalah keperawatan
melalui analisa data dengan diagnosa:
a. Nyeri akut berhubungan dengan agens cedera biologis (rematik).
b. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kaku sendi.
3. Perencanaan
Pada tahap perencanaan dapat disusun rencana tindakan dengan prioritas masalah.
4. Implementasi
Pada tahap ini merupakan realisasi mandiri dari perencanaan yang sudah disusun
5. Evaluasi
Pada tahap evaluasi dapat dinilai keberhasilan asuhan keperawatan yang sudah
dijalankan.Pada umumnya tujuan tercapai sesuai dengan kriteria yang telah
ditetapkan.Terlaksananya asuhan keperawatan ini tidak terlepas dari
dukungan dari pendamping wisma, staf, dan penerima manfaat.

B. SARAN
Berdasarkan hasil penerapan asuhan keperawatan yang dilakukan maka beberapa masukan
yang dapat diberikan antara lain:
1. Penerima Manfaat
Kepada penerima manfaat diharapkan mampu menjaga kesehatan serta mempunyai
keinginan untuk melaksanakan tindakan-tindakan dan nasehat-nasehat yang
telah diberikan tenaga kesehatan demi kesehatan klien.
2. Tenaga perawat
Dalam melakukan pengkajian pada penerima manfaat diharapkan perawat perlu
mempersiapkan diri dengan pengetahuan ketrampilan dan komunikasi
terapeutik sehingga memudahkan dalam pengumpulan data.Agar asuhan
keperawatan dapat berjalan dengan baik perlu adanya perencanaan yang
matang. Dalam melaksanakan asuhan keperawatan diharapkan adanya
kerjasama yang baik dengan penerima manfaat dan tim kesehatan lainnya.
3. Institusi pendidikan
Diharapkan study kasus ini dapat meningkatkan mutu dan kualitas tenaga kesehatan
serta menghasilkan tenaga kesehatan yang profesional.
DAFTAR PUSTAKA

Azizah,Lilik Ma’rifatul. Keperawatan Lanjut Usia. Edisi 1. Garaha Ilmu.


Yogyakarta. 2011

Doenges E Marilynn. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. EGC: Jakarta

Kushariyadi. Asuhan Keperawatan pada Klien Lanjut Usia. Salemba Medika.


Jakarta. 2010

Mubaraq, Chayatin, Santoso. Ilmu Keperawatan Komunitas Konsep Dan Aplikasi.


Salemba Medika. Jakarta. 2011

Stanley, Mickey. Buku Ajar Keperawatan Gerontik. Alih Bahasa; Nety Juniarti, Sari
Kurnianingsih. Editor; Eny Meiliya, Monica Ester. Edisi 2. EGC. Jakarta. 2006

Tamher, S. Noorkasiani. Kesehatan Usia Lanjut dengan Pendekatan Asuhan


Keperawatan. Salemba Medika. Jakarta. 2011