Anda di halaman 1dari 17

PENUNTUN

PRAKTIKUM TEKNOLOGI BIOPESTISIDA

RAMAH LINGKUNGAN

DISUSUN OLEH:

SAPTO NUGROHO HADI, DKK

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2016
SEKAPUR SIRIH

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas Rahmat dan
Karunia-Nya, Penuntun Praktikum Teknologi Biopestisida Ramah Lingkungan untuk
mahasiswa Program Sarjana Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Jenderal
Soedirman berhasil diselesaikan. Penuntun praktikum ini ditujukan untuk memberikan
gambaran mengenai praktikum Teknologi Biopestisida Ramah Lingkungan.
Praktikum merupakan salah satu bagian dari kegiatan akademik yang
diselenggarakan guna membantu dan melengkapi pemahaman mahasiswa terhadap suatu
mata kuliah. Sesuai dengan kurikulum, Mata Kuliah Teknologi Biopestisida Ramah
Lingkungan membutuhkan praktikum yang terdiri atas beberapa mata acara sebagai
kegiatan penunjangnya.
Akhir kata, tim penyusun menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang
terlibat dalam penyusunan proposal praktikum ini.

Purwokerto, April 2016

Tim Penyusun
ACARA I
PENGENALAN BAHAN BIOPESTISIDA

1. Tujuan
Mahasiswa mengenal bahan-bahan alami yang dapat digunakan dalam
pembuatan biopestisida

2. Sasaran Belajar
Mahasiswa mengetahui bahan-bahan alami yang dapat digunakan dalam
pembuatan biopestisida.

3. Landasan Teori
Biopestisida merupakan tipe pestisida yang diturunkan dari bahan-bahan
alami seperti hewan, tanaman, bakteri, dan mineral (United States Environmental
Protection Agency). Biopestisida hadir dalam rangka mengurangi penggunaan
pestisida sintetik yang memiliki dampak negatif bagi lingkungan sekitar.
Penggunaan biopestisida dalam pengendalian organisme pengganggu tanaman
(OPT) memiliki sejumlah keuntungan di antaranya spesifik target, mudah
terdekomposisi sehingga tidak meninggalkan residu berbahaya bagi lingkungan, dan
tidak berbahaya bagi organisme non-target.
Biopestisida dapat bersumber dari mikroba (jamur, bakteri, dll), tanaman
dan gulma, virus, dan produk rekayasa genetika. Indonesia termasuk salah satu
sumber biopestisida penting. Salah satu yang melimpah adalah tumbuhan penghasil
racun yang berpotensi digunakan sebagai pestisida nabati. Di Indonesia, sedikitnya
terdapat 50 famili tumbuhan penghasil racun yang dapat dimanfaatkan dalam
pengendalian OPT. Sedikit contoh tumbuhan atau bagian tumbuhan yang dapat
digunakan untuk bahan pembuatan biopestisida adalah gulma babandotan, sirsak,
sereh, cengkeh, daun sembung, buah maja, buah mengkudu, daun kecubung, daun
mimba, lengkuas, biji pinang, dan lidah buaya.
Prinsip biopestisida dari tumbuhan adalah senyawa bioaktif yang dihasilkan
dari tumbuhan (seperti alkaloid, terpenoid, fenolik, dll) akan mempengaruhi sistem
syaraf otot, keseimbangan hormon, reproduksi, sistem pencernaan, dan pernafasan
OPT tanpa mempengaruhi proses fotosintesis atau aspek fisioologis tanaman
budidaya.

4. Bahan dan Alat


A. Bahan
Gulma babandotan, sirsak, sereh, cengkeh, daun sembung, buah maja, buah
mengkudu, daun kecubung, daun mimba, lengkuas, biji pinang, lidah buaya,
kertas label.
B. Alat
Baskom sebagai wadah masing-masing bahan biopestisida.

5. Prosedur Kerja
• Lakukan pengamatan terhadap bahan-bahan alami biopestisida yang disediakan.
Pengamatan dilakukan terhadap: Bentuk, warna, aroma (bau), rasa (jika
memungkinkan).
• Lengkapi data pengamatan dengan gambar
• Contoh tabel pengamatan:

No Bahan Pengamatan
Biopestisida Bentuk Warna Aroma Rasa Gambar
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
ACARA II
UJI SURFAKTAN

1. Tujuan
Mahasiswa memahami sifat surfaktan berdasarkan pengujian sederhana yang
dilakukan

2. Sasaran Belajar
Mahasiswa dapat melakukan uji sederhana untuk mengetahui sifat surfaktan.

3. Landasan Teori
Surfaktan merupakan zat kimia yang dapat menurunkan tegangan permukaan.
Surfaktan memiliki kemampuan untuk meningkatkan kelarutan bahan yang tidak
larut atau sedikit larut dalam medium dispersi. Surfaktan pada konsentrasi rendah,
akan menurunkan tegangan permukaan dan menaikkan laju kelarutan suatu senyawa
kimia. Penggunaan surfaktan pada kadar yang lebih tinggi akan berkumpul
membentuk agregat yang disebut misel.
Surfaktan dikenal juga dengan istilah emulsifier. Hal ini terkait dengan sifat
surfaktan yang dapat menyatukan minyak dan air dengan cara menurunkan
tegangan permukaan antarmuka dari air dan minyak, sehingga keduanya dapat
membentuk suatu emulsi. Karakteristik surfaktan membuatnya dapat digunakan
untuk menyatukan bahan aktif dan bahan-bahan lain dalam formulasi biopestisida.

4. Bahan dan Alat


A. Bahan
• Tween 80
• Air
• Tepung terigu
• Detergen bubuk
• Bubuk kopi
• Debu
• Minyak goreng
• Daun talas

B. Alat
Tabung reaksi

5. Prosedur Kerja
A. Percobaan I
• Disiapkan 6 tabung reaksi. Setiap tabung diisi dengan air hingga ¾ bagian.
• Ke dalam masing-masing tabung, dimasukkan tepung terigu, detergen
bubuk, bubuk kopi, debu, minyak goreng, dan tween 80.
• Reaksi yang terjadi diamati dan dicatat.
B. Percobaan II
• Disiapkan daun talas.
• Di atas daun talas diletakkan sedikit air.
• Reaksi yang terjadi diamati dan dicatat
• Disiapkan daun talas yang baru
• Pada tabung reaksi, dicampurkan sedikit air dan tween 80
• Campuran diaduk lalu diletakkan di atas daun talas
• Reaksi yang terjadi diamati dan dicatat
ACARA III
TEKNIK PEMBUATAN BIOPESTISIDA

A. Biopestisida Berbahan Campuran Mimba, Sereh, dan Lengkuas

1. Tujuan
Mahasiswa dapat memahami pembuatan biopestisida dari campuran daun
mimba, sereh, dan lengkuas.

2. Sasaran Belajar
Mahasiswa dapat membuat biopestisida dari campuran daun mimba, sereh,
dan lengkuas.

3. Landasan Teori

Mimba (Azadirachta indica A. Juss) termasuk dalam famili Meliaceae.


Tanaman mimba banyak dijumpai di India, Burma, Cina Selatan, dan Indonesia. Di
Indonesia tanaman mimba dijumpai di Jawa (dikenal dengan nimba), Madura
(membha), Bali (mimba atau intaram). Sejak lama mimba dikenal sebagai bahan
pembuatan biopestisida yang memiliki keampuhan baik dan berspektrum luas
(Broad spectrum). Kemampuan ini dikarenakan adanya sejumlah senyawa kimia
(metabolit sekunder) yang dikandung dalam mimba, seperti azadirachtin, salanin,
meliantriol, nimbin dan nimbidin. Azadirachtin berperan sebagai zat yang dapat
menghambat kerja hormon yang berfungsi dalam proses metamorfosis serangga
(mengganggu proses penggantian kulit, perubahan dari telur menjadi larva, larva
menjadi kepompong, atau kepompong menjadi dewasa). Salanin berperan sebagai
anti-feedant (penurun nafsu makan). Meliantriol berperan sebagai repellent
(penghalau) yang membuat serangga hama menjauh dari tanaman yang disemprot
dengan nimba. Nimbi dan nimbidin berperan sebagai anti mikroba (bakteri, fungi,
virus) yang bermanfaat untuk mengendalikan penyakit pada tanaman.
Tanaman serai (Andropogon nardus L.) termasuk ke dalam famili Graminae.
Selain dimanfaatkan sebagai bumbu masak, serai memiliki potensi sebagai
biopestisida. Daun dan batang serai dapat digunakan untuk mengendalikan ulat atau
kutu daun. Selain itu, aroma yang dimiliki serai juga tidak disukai oleh tikus.
Senyawa kimia yang terkandung dalam serai seperti saponin, flavonoid, polifenol,
dan minyak atsiri.
Lengkuas atau laos (Alpinia galanga) merupakan jenis tumbuhan umbi-
umbian yang bisa hidup di daerah dataran tinggi maupun dataran rendah. Selain
untuk bumbu dapur, lengkuas dapat digunakan sebagai bahan aktif biopestisida.
Senyawa kimia yang terkandung dalam lengkuas adalah minyak atsiri. Lengkuas
dapat digunakan untuk mengatasi penyakit layu leher dan mengendalikan bakteri
bintil akar.
Biopestisida yang terbuat dari campuran mimba, sereh, dan lengkuas dikenal
sebagai biopestisida serba guna karena aplikasinya yang luas, dapat digunakan
untuk mengendalikan sejumlah hama serta penyakit yang menyerang tanaman
budidaya.

4. Bahan dan Alat


A. Bahan
• Daun mimba 0,5 kg
• Lengkuas 350 gram
• Sereh 350 gram
• Air 1,2 liter
• Sabun colek 1,2 gram
B. Alat
• Pisau
• Blender
• Pengaduk
• Ember
• Saringan
• Jerigen

5. Prosedur Kerja
• Daun mimba, lengkuas, dan sereh dipotong kecil-kecil
• Semua bahan diblender hingga halus
• Campuran lalu dimasukkan dalam ember berisi 1,2 liter air dan ditambahkan 1,2
gram deterjen. Campuran lalu diaduk selama beberapa saat sampai tercampur
merata
• Campuran didiamkan selama 24 jam (ember dalam keadaan tertutup)
• Keesokan harinya, campuran disaring dengan kain.
• Cairan hasil saringan dimasukkan ke dalam jerigen, sedangkan residu padatnya
dimasukkan ke dalam ember yang lain.
• Cairan siap diaplikasikan.

B. Biopestisida Berbahan Gulma Babandotan

1. Tujuan
Mahasiswa dapat memahami pembuatan biopestisida dari gulma babandotan

2. Sasaran Belajar
Mahasiswa dapat membuat biopestisida dari gulma babandotan.

3. Landasan Teori
Babandotan (Ageratum conyzoides) termasuk ke dalam famili Asteraceae.
Tumbuhan ini dikenal luas sebagai gulma (tumbuhan pengganggu). Keberadaannya
di alam cukup melimpah dan mudah berkembang biak meskipun pada kondisi tidak
optimum seperti pada lingkungan marginal. Namun, di samping termasuk gulma,
babandotan menyimpan potensi sebagai bahan untuk pembuatan biopestisida.
Potensinya sebagai biopestisida tidak lepas dari kandungan bahan aktif yang
dimiliki seperti precocene I, precocene II, alkaloid, saponin, flavanoid, polifenol,
sulfur, dan tannin. Bagian daun mempunyai sifat bioaktifitas sebagai insektisidal,
antinematoda, antibakterial dan alelopati. Tipe pengendaliannya cukup luas bisa
sebagai antiinsect, insektisidal, penghambat pertumbuhan, antifeedant, repelen,
antimite, dan antibakteri.

4. Bahan dan Alat


A. Bahan
• Daun babandotan 0,5 kg
• Air 1 liter

B. Alat
• Pisau
• Blender
• Pengaduk
• Ember
• Saringan
• Jerigen

5. Prosedur Kerja
• 0,5 kg daun babandotan ditimbang
• Daun dicacah-cacah atau dihaluskan dengan blender, lalu dilarutkan ke dalam 1
liter air.
• Campuran diaduk merata lalu didiamkan selama 24 jam
• Campuran disaring. Cairan dapat digunakan untuk acara IV
ACARA IV
FORMULASI BIOPESTISIDA

1. Tujuan
Mahasiswa memahami cara membuat formulasi biopestisida

2. Sasaran Belajar
Mahasiswa mampu membuat formulasi biopestisida

3. Landasan Teori
Bahan aktif biopestisida sangat banyak dan setiap bahan aktif memiliki
karakter yang spesifik. Oleh karena itu dapat diformulasikan dalam beragam
produk. Formulasi biopestisida sendiri diartikan sebagai suatu campuran homogen
dan stabil antara bahan aktif biopestisida dan bahan inert yang membuat produk
akhir menjadi lebih sederhana, aman, dan memiliki efikasi lebih baik untuk
diaplikasikan terhadap OPT target.
Formulasi biopestisida umumnya mengandung bahan aktif biopestisida, bahan
pembawa (carrier), surfaktan, dan bahan pendukung lainnya seperti pewarna.
Dilihat dari bentuk fisiknya, formulasi biopestisida dikelompokkan menjadi dua
bagian, yaitu formulasi padat dan cair. Contoh formulasi padat: dust, granul atau
mikrogranul, wettable powders, water dispersible granules, dll. Contoh formulasi
cair: suspension concentrate, capsule suspension, emulsion concentrate, dll.

4. Bahan dan Alat


A. Formulasi Dust
• Bahan
Daun babandotan, tepung terigu, kaolin, dan Carboxy methyl Cellulose
(CMC)
• Alat
Mortar, pestle, pengaduk, baskom

B. Formulasi Cair
• Bahan
Biopestisida ekstrak daun babandotan, 1 gram deterjen/sabun
• Alat
Baskom, pengaduk

5. Prosedur Kerja
A. Formulasi Dust
• Daun babandotan dibersihkan kemudian dipotong dan dikeringkan
• Daun kering ditumbuk halus sampai menjadi bubuk dan ditimbang 10
gram
• Ke dalam 10 gram bubuk daun babandotan ditambahkan tepung terigu
90 gram.
• Ke dalam campuran ditambahkan CMC secukupnya (~1%).
• Semua campuran diaduk hingga homogen
• Campuran siap diaplikasikan

B. Formulasi Cair
• Biopestisida ekstrak daun babandotan 1 liter diletakkan ke dalam wadah
baskom
• Ke dalam ekstrak ditambahkan 1 gram deterjen/sabun colek
• Campuran diaduk sampai merata
• Campuran siap diaplikasikan
ACARA V
APLIKASI BIOPESTISIDA

1. Tujuan
Mahasiswa mengetahui aplikasi biopestisida pada skala terbatas (screen
house).

2. Sasaran Belajar
Mahasiswa mampu mengaplikasikan biopestisida pada skala terbatas (screen
house).

3. Landasan Teori
Aplikasi biopestisida merupakan tahap penting untuk mengetahui efektifitas
bahan aktif biopestisida dalam upaya penanggulangan organisme pengganggu
tanaman (OPT). Biopestisida diaplikasikan untuk OPT didasarkan pada bahan aktif
yang dikandung. Bahan aktif berbeda, OPT target umumnya juga berbeda. Hal ini
terkait dengan karakteristik biopestisida yang bekerja pada target spesifik, bukan
berspektrum luas.
Cara aplikasi biopestisida umumnya dilakukan dengan teknik yang serupa
dengan cara aplikasi pada pestisida, yaitu didasarkan pada bentuk formulasinya.
Biopestisida berbentuk cair umumnya dapat diaplikasikan dengan penyemprotan.
Biopestisida berformulasi debu (dust) dapat diaplikasikan dengan cara dusting.
Adapula biopestisida yang diaplikasikan dengan cara fumigasi dan penaburan.
Aplikasi biopestisida untuk penanggulangan OPT umumnya dilakukan pada
pagi atau sore hari untuk menghindari teriknya sinar matahari. Hal ini terkait
dengan mudahnya bahan aktif biopestisida terdegradasi oleh sinar UV. Meskipun
beberapa formulasi biopestisida sudah menambahkan senyawa kimia untuk UV
protectant (pelindung UV) seperti benzaldehyde, congo red, para-aminobenzoic
acid (PABA), dan cinnamaldehyde.
4. Bahan dan Alat
A. Bahan
• Biopestisida campuran mimba, sereh, dan lengkuas.
• Biopestisida ekstrak babandotan.
• Serangga Walangsangit
• Daun padi

B. Alat
• Hand sprayer
• Insektarium atau wadah serangga

5. Prosedur Kerja
A. Prosedur I Aplikasi Biopestisida campuran mimba, sereh, lengkuas
• Setiap 1 liter biopestisida ditambahkan 3 liter air
• Campuran diaduk merata
• Campuran dimasukkan ke dalam hand sprayer dan disemprotkan kepada
daun padi
• Daun padi yang sudah disemprot dimasukkan ke dalam insektarium
(wadah yang berisi serangga)
• Respon yang terjadi diamati (0 jam, 2 jam, 4 jam, dan 24 jam)

B. Prosedur II Aplikasi Biopestisida ekstrak babandotan


• Biopestisida dapat langsung diaplikasikan tanpa harus diencerkan
• Campuran dimasukkan ke dalam hand sprayer dan disemprotkan daun
padi
• Daun padi yang sudah disemprot dimasukkan ke dalam insektarium
(wadah yang berisi serangga)
• Respon yang terjadi diamati (0 jam, 2 jam, 4 jam, dan 24 jam)
ACARA VI
ANALISIS RAMAH LINGKUNGAN BIOPESTISIDA TERHADAP ORGANISME
NON-TARGET

1. Tujuan
Mahasiswa mengetahui dampak biopestisida terhadap organisme non-target
serta membandingkannya dengan pestisida kimia sintetik

2. Sasaran Belajar
Mahasiswa mampu menganalisis dampak biopestisida terhadap organisme
non-target serta membandingkannya dengan pestisida kimia sintetik

3. Landasan Teori
Penggunaan masif pestisida kimia sintetik menyebabkan dampak buruk bagi
manusia, organisme non-target, dan lingkungan. Untuk mengatasi permasalahan
yang dapat timbul pada penggunaan pestisida kimia sintetik, pestisida dari bahan
alami (biopestisida) dikembangkan. Karena terbuat dari bahan-bahan alami,
biopestisida lebih ramah lingkungan. Biopestisida tidak meninggalkan residu bahan
aktif yang mengendap lama di tanah sehingga tidak berbahaya terhadap mikroba
tanah yang berperan penting bagi kesuburan tanah. Biopestisida juga bersifat
spesifik target sehingga aman terhadap organisme non-target seperti burung, air,
atau organisme bermanfaat lain. Yang terpenting, biopestisida tidak menganggu
fisiologi tanaman budidaya.

4. Bahan dan Alat


• Biopestisida pemberantas serangga
• Pestisida sintetik pemberantas serangga
• Tanaman padi dalam polibag
• Ikan mas
5. Prosedur Kerja
A. Analisis Ramah Lingkungan Terhadap Tanaman Budidaya
• Disiapkan biopestisida pada dosis anjuran di hand sprayer
• Disiapkan pestisida kimia sintetik pada dosis anjuran di hand sprayer
• Disemprotkan biopestisida pada tanaman padi dalam polibag
• Disemprotkan pestisida kimia sintetik pada tanaman padi dalam polibag
• Dilakukan pengamatan terhadap kondisi tanaman padi sebelum dan
sesudah penyemprotan oleh biopestisida dan pestisida kimia sintetik:
warna daun, tekstur daun, dan lama kelekatan pada daun dalam 0, 2, dan
4 jam.
• Dibandingkan antara ramah lingkungan biopestisida dan pestisida kimia
sintetik.

B. Analisis Ramah Lingkungan Terhadap Ikan Mas (Hewan Air)


• Disiapkan 3 buah wadah berisi masing-masing 5 ikan mas
• Diberikan label untuk masing-masing wadah: A, B, C
• Wadah A dijadikan sebagai kontrol (tanpa penambahan
biopestisida/pestisida kimia sintetik)
• Wadah B ditambahkan biopestisida dengan konsentrasi akhir 20 mg/L
(20 ppm)
• Wadah C ditambahkan pestisida kimia sintetik dengan konsentrasi akhir
20 mg/L (20 ppm)
• Dilakukan pengamatan terhadap kondisi ikan mas pada ketiga wadah
tersebut dalam rentang waktu: 0 jam, 2 jam, 4 jam, dan 24 jam.
• Hasil yang diperoleh dicatat.
DAFTAR PUSTAKA

Asmaliyah, Etik E.W.H., Sri U., Kusdi M., Yudhistira, Fitri W.S. 2010. Pengenalan
Tumbuhan Penghasil Pestisida Nabati dan Pemanfaatannya Secara Tradisional. Pusat
Penelitian dan Pengembangan Produktivitas Hutan, Balitbang Kehutanan,
Kementerian Kehutanan.
Cherry A. 2005. Biopesticides, Review of Active Agents. Natural Resources Institute.
Gasic, S. and Brakica T. 2013. Biopesticide Formulations, Possibility of Application and
Future Trends. Pestic. Phytomed. (Belgrade), 28(2): 97–102
Kinasih, I., Ateng S., dan Roma N.R. 2013. Uji Toksisitas Ekstrak Daun Babadotan
(Ageraturm conyzoides Linn) Terhadap Ikan Mas (Cyprinus carpio Linn.) Sebagai
Organisme Non-Target. Vol.3 (2): 121-132.
Setiawati W., Rini M., Neni G., dan Tati R. 2008. Tumbuhan Bahan Pestisida Nabati.
Prima Tani Balitsa, Bandung.