Anda di halaman 1dari 17

BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

2.1 Kajian Pustaka

2.1.1 Rokok

2.1.1.1 Pengertian

Rokok adalah salah satu zat adiktif yang bila digunakan mengakibatkan bahaya

bagi kesehatan individu dan masyarakat. Kemudian ada juga yang menyebutkan

bahwa rokok adalah hasil olahan tembakau terbungkus termasuk cerutu atau

bahan lainya yang dihasilkan dari tanamam Nicotiana Tabacum, Nicotiana

Rustica dan spesies lainnya atau sintesisnya yang mengandung nikotin dan tar

dengan atau tanpa bahan tambahan (Tendra, 2003) Menurut Harissons (1987)

dalam Sitepoe (2000), terdapat dua komponen pada asap rokok yaitu komponen

gas sebesar 85% dan komponen partikulat sebesar 15% (komponen yang bersama

gas dan mengalami kondensasi). Asap rokok pula dapat dibagi menjadi dua yaitu

asap mainstream dan asap sidestream. Asap mainstream adalah asap yang diisap

melalui mulut (oleh perokok) manakala asap yang dihembuskan oleh perokok dan

asap yang terbentuk pada ujung rokok yang terbakar disebut asap sidestream.

Individu yang berada disekitar perokok yang terisap asap sidestream disebut

sebagai perokok pasif.

6
7

2.1.1.2 Penyebab Merokok

Conrad dan Miller (1986) dalam Sitepoe (2000) menyatakan bahwa,

terdapat dua penyebab utama seseorang menjadi perokok yaitu dorongan

psikologis dan dorongan fisiologis. Secara psikologis, perokok merasakan bahwa

dengan merokok, ia dapat mengalihkan kecemasan, menunjukkan kejantanan

(bangga diri) dan menunjukkan kedewasaan. Sedangkan, dorongan fisiologis pula

timbul akibat dari nikotin yang terdapat di dalam rokok yang menyebabkan

terjadinya adiksi sehingga seseorang ingin terus merokok. Umumnya, individu

mulai merokok akibat dari pengaruh lingkungan seperti melihat teman-teman dan

diajari oleh teman-teman. Selain itu, ada juga yang merokok dengan kemauan

sendiri karena ingin menunjukkan bahwa dirinya telah dewasa (umumnya pada

anakanak). Bermula dari perokok pasif (mengisap asap rokok orang lain yang

merokok), mereka kemudian menjadi perokok aktif karena menjadi ketagihan

akibat dari nikotin yang terdapat di dalam rokok (Sitepoe, 2000). Menurut WHO

(2010) perokok dikategorikan kepada tiga kelompok yaitu perokok ringan, sedang

dan berat. Perokok ringan adalah individu yang merokok sebanyak 1-10 batang

rokok sehari, sedangkan perokok sedang pula menkonsumsi rokok sebanyak 11-

20 batang rokok sehari. Individu yang merokok melebihi 20 batang rokok dalam

sehari pula dikategorikan sebagai perokok berat.

2.1.1.3 Bahan Baku Rokok

Komponen utama rokok adalah tembakau. Tembakau yang digunakan

untuk membuat rokok di Indonesia adalah tembakau yang ditanam dan diproduksi
8

di berbagai daerah di Indonesia, baik sebagai komoditi dalam negeri maupun

komoditas mancanegara. Rokok yang menggunakan tembakau sebagai komponen

utamanya disebut sebagai rokok putih. Di Indonesia, terdapat sejenis rokok yang

dikenal sebagai rokok kretek, yang mana selain dari tembakau, cengkeh juga

digunakan sebagai komponen utama untuk menghasilkan rokok jenis ini. Satu-

satunya negara di dunia yang menghasilkan rokok dengan bahan baku tembakau

dan cengkeh adalah Indonesia (Sitepoe, 2000). Istilah tembakau yang digunakan

sebagai komponen utama rokok merujuk kepada daun tembakau kering yang

dirajang maupun tidak dirajang. Terdapat dua jenis tembakau yang ditanam di

Indonesia yaitu tembakau Virginia yang penanamannya banyak dijumpai di Pulau

Jawa dan tembakau Deli, yang banyak ditanam di Tanah Deli, Sumatera Utara

sejak tahun 1864 (Sitepoe, 2000). Cengkeh yang digunakan untuk

memproduksikan rokok kretek ditanam di Indonesia dan diproduksikan dari

bunga cengkeh (Sitepoe, 2000). Menurut Wise dan Guerin (1986) dalam Sitepoe

(2000) cengkeh akan dikeringkan, kemudian digiling serta dicampur ke dalam

tembakau dengan perbandingan tembakau dengan cengkeh 60:40.

2.1.1.4 Jenis Rokok

Menurut Sitepoe, (2000), rokok berdasarkan bahan baku atau isi di bagi

tiga jenis:

1. Rokok Putih : rokok yang bahan baku atau isinya hanya daun tembakau

yang diberi saus untuk mendapatkan efek rasa dan aroma tertentu.
9

2. Rokok Kretek : rokok yang bahan baku atau isinya berupa daun tembakau

dan cengkeh yang diberi saus untuk mendapatkan efek rasa dan aroma

tertentu.

3. Rokok Klembak : rokok yang bahan baku atau isinya berupa daun tembakau,

cengkeh, dan kemenyan yang diberi saus untuk mendapatkan efek rasa dan aroma

tertentu. Rokok berdasarkan penggunaan filter dibagi dua jenis :

1. Rokok Filter (RF) : rokok yang pada bagian pangkalnya terdapat gabus.

2. Rokok Non Filter (RNF) : rokok yang pada bagian pangkalnya tidak terdapat

gabus.

2.1.1.5 Bahan Kimia di Dalam Tembakau dan Rokok

Menurut Robert (1988) dalam Sitepoe (2000), terdapat lebih dari 3040

jenis bahan kimia yang dijumpai di dalam daun tembakau kering. Bahan-bahan ini

berasal dari pertumbuhan daun tembakau itu sendiri, misalnya bersumber dari

tanah, udara dan bahan kimia yang digunakan semasa penanaman tembakau

maupun semasa proses pembuatan rokok. Hal ini bermaksud, komposisi kimia

pada daun tembakau juga dipengaruhi oleh cara pemprosesan dan kawasan tempat

penanaman tembakau tersebut. Menurut Robert (1988) dalam Sitepoe (2000),

pada waktu rokok dibakar, maka akan terbentuk pula bahan kimia lain hasil reaksi

dari proses pembakaran yang terjadi. Asap rokok mainstream dikatakan

mengandung 4000 jenis bahan kimia. Bahan kimia ini dibedakan menjadi fase

partikulat dan fase gas. Fase partikulat terdiri daripada nikotine, nitrosamine, N

nitrosonornikotin, polisiklik hidorkarbon, logam berat dan karsinogenik amine.


10

Sedangkan, fase yang dapat menguap atau seperti gas adalah karbon monoksida,

karbon dioksida, benzene, amonia, formaldehid, hidrosianida dan lainlain.

1. Tar

Tar adalah zat berwarna coklat berisi berbagai jenis hidrokarbon aromatik

polisiklik, amin aromatik dan N-nitrosamine. Tar yang dihasilkan asap

rokok akan menimbulkan iritasi pada saluran napas, menyebabkan

bronchitis, kanker nasofaring dan kanker paru.

2. Nikotin

Nikotin adalah bahan alkaloid toksik yang merupakan senyawa amin

tersier, bersifat basa lemah dengan pH 8,0. Pada pH fisiologis, sebanyak

31% nikotin berbentuk bukan ion dan dapat melalui membran sel. Asap

rokok pada umumnya bersifat asam (pH 5,5). Ph nikotin berada dalam

bentuk ion dan tidak dapat melewati membran secara cepat sehingga di

mukosa pipih hanya terjadi sedikit absorpsi nikotin dari asap rokok.

Perokok yang menggunakan pipa, cerutu dan berbagai macam sigaret

Eropa, asap rokok bersifat basa dengan pH 8,5 dan nikotin pada umumnya

tidak dalam bentuk ion dan dapat diabsorpsi dengan baik melalui mulut.

3. Karbonmonoksida

Karbon monoksida (CO) adalah gas beracun yang mempunyai afinitas

kuat terhadap hemoglobin pada sel darah merah, ikatan CO dengan

haemoglobin akan membuat haemoglobin tidak bisa melepaskan ikatan

CO dan sebagai akibatnya fungsi haemoglobin sebagai pengangkut


11

oksigen berkurang, sehingga membentuk karboksi hemoglobin mencapai

tingkat tertentu akan dapat menyebabkan kematian.

4. Timah hitam

Timah hitam (Pb) yang dihasilkan oleh sebatang rokok sebanyak 0,5 ug.

Sebungkus rokok (isi 20 batang) yang habis dihisap dalam satu hari akan

menghasilkan 10 ug. Sementara ambang batas bahaya timah hitam yang

masuk ke dalam tubuh adalah 20 ug per hari. Bisa dibayangkan, bila

seorang perokok berat menghisap rata-rata 2 bungkus rokok per hari,

berapa banyak zat berbahaya ini masuk ke dalam tubuh (Triswanto, 2007).

5. Radikal bebas (NOx, SO2)

Radikal bebas merupakan suatu atom, molekul, senyawa yang dapat

berdiri sendiri mempunyai satu atau lebih elektron tidak berpasangan di

orbital terluarnya. NOx merupakan oksidator yang cukup kuat yang dapat

menyebabkan peroksidasi lipid atau protein sehingga fungsinya terganggu.

Bahaya radikal bebas terhadap eritrosit diantaranya adalah dengan

merusak struktur membran eritrosit sehingga plastisitas membran

terganggu dan mudah pecah. Keadaan ini dapat menyebabkan turunnya

jumlah eritrosit.

2.1.1.6. Kategori Perokok

1) Perokok Pasif

Perokok pasif adalah asap rokok yang dihirup oleh seseorang yang tidak

merokok (pasif smoker). Asap rokok tersebut bisa menjadi polutan bagi
12

manusia dan lingkungan sekitar. Asap rokok yang terhirup oleh orang-

orang bukan perokok karena berada disekitar perokok bisa menimbulkan

seconde handsmoke.

2) Perokok aktif

Perokok aktif adalah orang yang suka merokok (Hasan alwi, 2003). Dari

perokok aktif ini dapat digolongkan menjadi tiga bagian:

a. Perokok ringan

Perokok ringan yaitu perokok yang merokok kurang dari sepuluh

batang per hari.

b. Perokok sedang

Perokok sedang adalah orang yang menghisap rokok sepuluh

sampai dua puluh batang perhari.

c. Perokok berat

Perokok berat adalah orang yang merokok lebih dari dua puluh

batang perhari (M.N.Bustan, 1997).

2.1.1.7 Sel Darah Merah

Sel darah merah yang matang sangat mudah dikenali disebabkan oleh

morfologinya yang unik. Keadaan normal, bentuk sel darah merah adalah

bikonkaf dengan diameter 8 μm, dengan ketebalan pada bagian yang paling tebal

2,5 μm dan pada bagian tengah 1 μm atau kurang. Volume eritrosit adalah 90 - 95

μm. Jumlah eritrosit normal pada pria 4,6 - 6,2 juta/μL dan pada wanita 4,2 - 5,4

juta/μL. Eritrosit ini tidak mempunyai nukleus atau mitokondria, dan 33% dari

pada kandungannya terdiri dari protein tunggal yaitu hemoglobin. Tanpa nukleus
13

dan jalur metabolik protein, sel ini mempunyai masa hidup yang singkat yaitu

selama 120 hari. Tetapi, struktur sel darah merah matang yang unik ini

memberikan daya lenturan yang maksimal saat sel ini melewati pembuluh darah

yang sempit (Hillman, Ault dan Rinder, 2005). Hampir kesemua kebutuhan

tenaga intrasellular didapat lewat metabolisme glukosa, yang bertujuan untuk

mengekalkan hemoglobin dalam kondisi larut dan reduksi, menyediakan sejumlah

2,3- diphosphoglycerat (2,3-DPG) yang mencukupi dan untuk menghasilkan

adenosine triphosphate (ATP) bagi mempertahankan fungsi membran (Hillman,

Ault dan Rinder, 2005).

2.1.1.8 Volume eritrosit rata-rata (VER) atau mean corpuscular volume

(MCV)

MCV mengindikasikan ukuran eritrosit : mikrositik (ukuran kecil),

normositik (ukuran normal), dan makrositik (ukuran besar). Nilai MCV diperoleh

dengan mengalikan hematokrit 10 kali lalu membaginya dengan hitung eritrosit

(Riswanto, 2009). MCV = (hematokrit x 10) : hitung eritrosit

Nilai rujukan :

1. Dewasa : 80 - 100 fL (baca femtoliter)

2. Bayi baru lahir : 98 - 122 fL

3. Anak usia 1-3 tahun : 73 - 101 fL

4. Anak usia 4-5 tahun : 72 - 88 fL

5. Anak usia 6-10 tahun : 69 - 93 fL


14

Masalah klinis :

1. Penurunan nilai : anemia mikrositik, anemia defisiensi besi (ADB),

malignansi, artritis reumatoid, hemoglobinopati (talasemia, anemia sel

sabit, hemoglobin C), keracunan timbal, radiasi.

2. Peningkatan nilai : anemia makrositik, aplastik, hemolitik, pernisiosa;

penyakit hati kronis; hipotiroidisme (miksedema); pengaruh obat

(defisiensi vit B12, antikonvulsan, antimetabolik)

2.1.1.9 Hemoglobin eritrosit rata-rata (HER) atau mean corpuscular

hemoglobin (MCH)

MCH mengindikasikan bobot hemoglobin di dalam eritrosit tanpa

memperhatikan ukurannya. MCH diperoleh dengan mengalikan kadar Hb 10 kali,

lalu membaginya dengan hitung eritrosit. MCH = (hemoglobinx10) : hitung

eritrosit

Nilai rujukan :

1. Dewasa : 26 - 34 pg (baca pikogram)

2. Bayi baru lahir : 33 - 41 pg

3. Anak usia 1-5 tahun : 23 - 31 pg

4. Anak usia 6-10 tahun : 22 - 34 pg

MCH dijumpai meningkat pada anemia makrositiknormokromik atau

sferositosis, dan menurun pada anemia mikrositiknormokromik atau anemia

mikrositik-hipokromik.
15

2.1.1.10 Kadar hemoglobin eritrosit rata-rata (KHER) atau mean

corpuscular hemoglobin concentration (MCHC)

MCHC mengindikasikan konsentrasi hemoglobin per unit volume eritrosit.

Penurunan nilai MCHC dijumpai pada anemia hipokromik, defisiensi zat besi

serta talasemia. Nilai MCHC dihitung dari nilai MCH dan MCV atau dari

hemoglobin dan hematokrit. MCHC = ( MCH : MCV ) x 100 % atau MCHC = (

Hb : Hmt ) x 100%

Nilai rujukan :

1. Dewasa : 32 - 36 %

2. Bayi baru lahir : 31 - 35 %

3. Anak usia 1.5 - 3 tahun : 26 - 34 %

4. 4. Anak usia 5 - 10 tahun : 32 - 36 %

2.1.1.11 Luas distribusi eritrosit (RBCdistribution width)

RDW adalah perbedaan ukuran (luas) dari eritrosit. RDW adalah

pengukuran luas kurva distribusi ukuran pada histogram. Nilain RDW dapat

diketahui dari hasil pemeriksaan darah lengkap (full bloodcount, FBC) dengan

hematology analyzer. Nilai RDW berguna untuk memperkirakan terjadinya

anemia dini, sebelum nilai MCV berubah dan sebelum terjadi tanda dan gejala.

Peningkatan nilai RDW dapat dijumpai pada : anemia defisiensi (zat besi, asam

folat, vit B12), anemia hemolitik, anemia sel sabit

.
16

2.1.2 Hemoglobin

Terdapat sekitar 280 juta molekul hemoglobin di dalam setiap sel darah

merah (Tortora dan Derickson, 2006). Hemoglobin adalah sejenis protein dengan

berat molekul 64.500 dalton, terdiri dari 4 rantai polipeptida. Setiap satunya

mengandung satu pigmen nonprotein berbentuk seperti cincin yang disebut

sebagai kelompok heme aktif (Hillman, Ault dan Rinder, 2005). Bagian tengah

dari cincin heme ini terdapat satu ion ferous, Fe2+ yang boleh mengikat satu

molekul oksigen, lalu membolehkan satu molekul hemoglobin berikatan dengan

empat molekul oksigen (Tortora dan Derickson, 2006).

Repiratory motion of hemoglobin adalah proses pengikatan dan pelepasan

molekul oksigen dari hemoglobin yang melibatkan perubahan spesifik pada

struktur molekularnya. Apabila hemoglobin berubah dari bentuk

deoxyhemoglobin kepada bentuk oxyhemoglobin, karbon dioksida, CO2dan 2,3-

DPG akan terlepas dari posisi asalnya yaitu di antara rantai β-globin lalu

membuka molekul heme untuk menerima oksigen. Seterusnya, oksigen yang

berikatan dengan salah satu kelompok heme akan meningkatkan afinitas dari

kelompok heme yang lain kepada oksigen. Interaksi inilah yang menyebabkan

terjadinya bentuk ”sigmoid” pada kurva disosiasi oksigen (Hillman, Ault dan

Rinder, 2005). Kadar hemoglobin normal yang terdapat di dalam satu sel darah

merah adalah sekitar 32pg. (mean cell hemoglobin, MCH = 32 ± 2pg). Proses

sintesis hemoglobin yang normal memerlukan cadangan zat besi yang mencukupi

dan produksi protoporphyrin dan globin yang normal. Proses sintesis

protoporphyrin dimulai di dalam mitokondria dengan pembentukan delta


17

aminolevulenic acid dari glycine dan succinyl-CoA yang berasal dari siklus asam

sitrat. Seterusnya, proses dilanjutkan dengan pembentukan porphobilinogen,

uroporphyrin dan coproporphyrin yang terjadi di sitoplasma sel. Dua molekul

delta aminolevulenic acid bergabung membentuk porphobilinogen yang

mengandung satu rantai pyrrole. Melalui proses deaminasi, empat

prophobilinogen digabungkan menjadi hydroxymethyl bilane, yang kemudiannya

dihidrolisis menjadi uroporphyrin. Uroporphyrin kemudiannya mengalami

dekarboksilasi menjadi coporphyrin. Enzim coporphyrin oxidase mengoksidasi

coporphyrin kepada protpoporphyrinogen. Protoporphyrinogen seterusnya

dioksidaksikan membentuk protoporphyrin. Proses terakhir adalah penggabungan

rantai protoporphyrin dengan ion ferous, Fe2+ lalu membentuk molekul Heme.

Proses ini berlaku di dalam mitokondria (Hillman, Ault dan Rinder, 2005). Rantai

globin pula digabungkan oleh ribosom sitoplasmik yang dikawal oleh dua kluster

gene pada kromosom 11 dan 16. Hasil akhirnya adalah molekul globin yang

tetramer yaitu dua rantai α- globin dan dua rantai non-α-globin. Penggabungan

molekul hemoglobin ini berlaku di sitoplasma sel. Terdapat sebagian kecil zat

besi, protoporphyrin dan rantai globin bebas yang tersisa selepas proses sitesis

hemoglobin selesai. Zat besi tersebut disimpan sebagai ferritin dan porphyrin pula

diubah kepada zinc (Hillman, Ault dan Rinder, 2005). Reaksi komplek ini dipicu

oleh hormon erythropoietin. Tingkat sintesis hemoglobin (rate of hemoglobin

synthesis) ditentukan oleh ketersediaan transferrin iron dan kadar heme di

intrasellular. Proses sintesis hemoglobin berlaku secara maksimal di sumsum


18

tulang yang lebih matang. Penghentian sintesis heme ditandai dengan penurunan

ekspresi dari reseptor transferrin pada membran, diikuti dengan

Tabel 2.1 Batas Normal Kadar Hemoglobin

No Umur Dan Jenis Kelamin Nilai Normal Hemoglobin


1 Anak Balita 11 gr/dl
2 Usia Sekolah 12 gr/dl
3 Perempuan Dewasa 12 gr/dl
4 Laki-laki Dewasa 13 gr/dl
5 Ibu Hamil dan Ibu Menyusui eksklusif 11 gr/dl
Sumber : Harry (2010 hal 29)

2.1.2.1 Kurva Disosiasi Hemoglobin-Oksigen

Kurva disosiasi hemoglobin-oksigen adalah ilustrasi kepada hubungan

antara kadar saturasi hemoglobin (percent saturation of hemoglobin) dengan

tekanan parsial oksigen. Tekanan parsial oksigen merupakan faktor penting dalam

menentukan kuantitas oksigen yang berikatan dengan hemoglobin. Semakin tinggi

tekanan parsial oksigen maka semakin banyak oksigen yang berikatan dengan

hemoglobin. Apabila hemoglobin yang tereduksi (reduced hemoglobin) ditukar

sepenuhnya kepada oxyhemoglobin, maka hemoglobin dikatakan sebagai

tersaturasi penuh (Tortora dan Derickson, 2006). Kadar saturasi hemoglobin

adalah saturasi rata-rata hemoglobin yang berikatan dengan oksigen. Sebagai

contoh, jika dua molekul oksigen yang berikatan dengan satu molekul

hemoglobin, maka disebut kadar saturasi oksigen adalah 50%, karena satu

molekul hemoglobin bisa mengikat 4 molekul oksigen (Tortora dan Derickson,

2006). Kondisi yang normal, darah arteri memasuki jaringan-jaringan tubuh

dengan tekanan parsial oksigen 95 mmHg dan saturasi hemoglobin yang melebihi

97%. Aliran balik vena dari pada jaringan pula mempunyai tekanan oksigen
19

sebesar 40 mmHg dengan saturasi hemoglobin 75-80% (Hillman, Ault dan

Rinder, 2005).

2.1.2.2 Hubungan Rokok dengan Kadar Hemoglobin Darah

Merokok adalah salah satu faktor yang dapat menyebabkan kadar

hemoglobin di dalam darah menjadi tidak normal. Kandungan bahan kimia dalam

rokok sangat beragam. Asap rokok yang keluar pada saat seorang perokok sedang

merokok banyak sekali mengandung bahan kimia, salah satunya adalah karbon

monoksida (CO). Merokok merupakan salah satu pembakaran yang tidak

sempurna yang menghasilkan asap putih (partikel karbon) dan karbon monoksida.

Tingginya kadar karbon monoksida yang ada di dalam tubuh dapat

mempengaruhi kerja hemoglobin untuk berikatan dengan oksigen (Wasis, 2008

hal 123).

Hemoglobin merupakan salah satu senyawa dalam sel darah merah yang

berfungsi mengangkut zat oksigen kedalam sel-sel tubuh. Dalam penelitian yang

dilakukan oleh Nodenberg (1990) menyatakan bahwa hemoglobin rata-rata pada

perokok adalah 156±0,4 g/L dan kadar rata-rata hemoglobin pada orang yang

bukan perokok adalah 153±0,5 g/L. Maka Nodenberg mengambil kesimpulan dari

hasil penelitiannya bahwa merokok menyebabkan terjadinya peningkatan kadar

hemoglobin dalam darah (Asyraf, 2010)

Karbon monoksida yang ada pada asap rokok yang dihasilkan dari

pembakaran tidak sempurna apabila terhirup dan masuk kedalam tubuh dalam

jumlah yang banyak maka akan menghambat kerja hemoglobin untuk mengikat

oksigen. Hal ini disebabkan karena daya afinitas yang dimiliki oleh karbon
20

monoksida lebih kuat dari pada daya afinitas yang dimiliki oleh oksigen untuk

dapat berikatan dengan hemoglobin. Menghirup asap rokok akan meningkatan

karbon monoksida (CO) dalam darah. Hemoglobin adalah komponen darah yang

mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh organ jaringan. Hemoglobin

memiliki daya afinitas terhada oksigen dan karbon monoksida, namun daya

afinitas hemoglobin terhadap karbon monoksida lebih kuat dari pada daya afinitas

hemoglobin terhadap oksigen. Apabila hemoglobin lebih banyak mengikat karbon

monoksida, maka oksigen yang disuplai ke jantung akan berkurang, sehingga

jantung bekerja lebih berat untuk mendapatkan energi yang sama beratnya

(Muttaqin, 2009 hal 70).

Apabila karbon monoksida yang masuk kedalam tubuh sangat banyak,

maka ini akan sangat mengganggu hemoglobin untuk berikatan dengan oksigen,

yang pada akhirnya hemoglobin itu akan lebih banyak berikatan dengan karbon

monoksida. Menurut penelitian John W. Adamson (2005), menyatakan bahwa

pada perokok berat terjadi peningkatan kadar hemoglobin. Peningkatan ini terjadi

karena reflek dari mekanisme kompensasi tubuh terhadap rendahnya kadar

oksigen yang berikatan dengan hemoglobin akibat digeser oleh karbon monoksida

(CO) yang mempunyai afinitas terhadap hemoglobin yang lebih kuat, sehingga

tubuh akan meningkatkan proses hematopoesis, yang kemudian akan

meningkatkan produksi hemoglobin akibat rendahnya tekanan parsial oksigen di

dalam tubuh (Melkior, 2012).


21

2.2. Kerangka Pemikiran

Merokok merupakan salah satu pembakaran yang tidak sempurna yang

menghasilkan asap putih (partikel karbon) dan karbon monoksida. Tingginya

kadar karbon monoksida yang ada di dalam tubuh dapat mempengaruhi kerja

hemoglobin untuk berikatan dengan oksigen (Wasis, 2008 hal 123).

Hemoglobin merupakan salah satu senyawa dalam sel darah merah yang

berfungsi mengangkut zat oksigen kedalam sel-sel tubuh. Hemoglobin rata-rata

pada perokok adalah 156±0,4 g/L dan kadar rata-rata hemoglobin pada orang

yang bukan perokok adalah 153±0,5 g/L. Maka dapat disimpulkan bahwa

merokok menyebabkan terjadinya peningkatan kadar hemoglobin dalam darah

(Asyraf, 2010)

Bagan 2.1 Kerangka Pemikiran

Pengaruh Perokok Aktif dan Pasif Terhadap Kadar Hemoglobin

Perokok

Aktif
Kadar
Hemoglobin
Pasif

(sumber: dimodifikasi dari buku abdul Melkior 2012 dan Muttaqin, 2009 hal 70)

Keterangan : = Yang Diteliti

= Yang Tidak Diteliti


22

2.3. Hipotesis

H0 = Tidak ada pengaruh perokok aktif terhadap kadar hemoglobin

H1 = Ada pengaruh perokok aktif terhadap kadar hemoglobin

H0 = Tidak ada pengaruh perokok pasif terhadap kadar hemoglobin

H1 = Ada pengaruh perokok pasif terhadap kadar hemoglobin