Anda di halaman 1dari 62

 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
LAPORAN PENELITIAN PEMULA
 
 
  MODEL PENYUSUNAN ANALISIS STANDAR BELANJA (ASB) DALAM
  MENUNJANG PROSES PERENCANAAN, PENGANGGARAN DAN
  PENGAWASAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH
  (APBD) PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT
 
 
  Oleh:
 
  IRA NOVIANTY
  NIP. 197611162009122002
 
RULLY UMBARA
 
 

DIBIAYAI OLEH POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

POLBAN
DENGAN SURAT PERJANJIAN PELAKSANAAN PENELITIAN PEMULA
Nomor : 614.2/PL1.R5/LT/2014

JURUSAN AKUNTANSI
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
DESEMBER, 2014
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

POLBAN
 
  LEMBAR IDENTITAS DAN PENGESAHAN
  LAPORAN AKHIR PENELITIAN PEMULA, SUMBER DANA DIPA 2014
  POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
 
  1. a. Judul Penelitian : Model Penyusunan Analisis Standar Belanja
  Dalam Menunjang Proses Perencanaan,
  Penganggaran, dan Pengawasan Anggaran
  Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)
  Pemerintah Provinsi Jawa Barat
2. Ketua Peneliti :
 
a. Nama Lengkap dan Gelar : Ira Novianty, S.E.,M.Si.,Ak.,CA
 
b. Jenis Kelamin : Perempuan
  c. Pangkat/Golongan/NIP : Penata Muda Tk I / IIIb /19761116 200912 2 00 2
  d. Jabatan Fungsional : Asisten Ahli
  e. Departemen / Program Studi : Akuntansi / Akuntansi Manajemen Pemerintahan
  f. Universitas/Institut/Akademik : Politeknik Negeri Bandung
  g. Bidang Ilmu yang diteliti : Akuntansi Manajemen Pemerintahan
 
  3. Jumlah Tim Peneliti : 2 orang
 
  4. Lokasi Penelitian : Bandung
  5. Bila penelitian ini merupakan peningkatan kerjasama kelembagaan, sebutkan:
  a. Nama Instansi :-
  b. Alamat :-
 
  6. Biaya penelitian : Rp.10.000.000,00
  (Sepuluh juta rupiah)
7. Jangka Waktu Penelitian : 6 Bulan
 
 
  Bandung, 17 Desember 2014
 
Mengetahui, Ketua Peneliti
Ketua Departemen Akuntansi

POLBAN
( Dadang Hermawan,SE.,M.Si ) (Ira Novianty, SE.,M.Si.,Ak,CA)
NIP. 19590804 198812 1 00 1 NIP. 19761116 200912 2 00 2

Menyetujui
Ka. LPPM
Cap dan tanda tangan

( Dr.Ir.Ediana Sutjiredjeki,M.Sc )
NIP. 19550228 198403 2 00 1

i
 
  ABSTRAK
 
  Penelitian ini bertujuan untuk menentukan model prediksi Analisis Standar Belanja
  (ASB) yang dapat digunakan untuk menilai kewajaran anggaran belanja pada kegiatan
  bimbingan teknis/pelatihan dan kegiatan sosialisasi/penyuluhan di lingkungan Satuan
  Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
  Metode yang digunakan dalam membuat model Analisis Standar Belanja (ASB) ini
  adalah metode kuadrat terkecil (Least Square) dengan pendekatan Activity Based Costing
  (ABC). Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, yaitu
 
Dokumen Pelaksanaan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (DPA-SKPD) dari 34
 
Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Barat
 
Tahun Anggaran 2013.
 
Model Analisis Standar Belanja (ASB) untuk kegiatan bimbingan teknis/pelatihan
 
adalah Y = 119.140.240,75 + 394.560,40 X dan model Analisis Standar Belanja (ASB)
 
 
untuk kegiatan sosialisasi/penyuluhan adalah Y = 32.488.048,32 + 686.257,47 X , dimana
 
Y adalah Total Anggaran Belanja dan X adalah cost drivernya. Kedua model ini dapat
  digunakan untuk menilai kewajaran program atau kegiatan yang akan dilaksanakan pada
  Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
 
  Kata Kunci : Analisis Standar Belanja (ASB) , Activity Based Costing, Biaya
  Variabel, Biaya Tetap.
 
 
 
 
 
 
 
 

POLBAN

ii
 
  ABSTRACT
 
  This study aims to determine the Analysis of Expenditure Standards Prediction
  Model which can be used to assess the reasonableness of the budget on the activities of
  technical assistance / training and socialization on the Regional Working Units of West
  Java Province Government
  The method used in this study is the least squares method with the approach of
  Activity Based Costing (ABC). The data used in this study is secondary data, the Budget
  Implementation unit of 34 regional work units in the West Java Provincial Government
 
for Fiscal Year 2013.
 
The result for technical assistance / training analysis of expenditure standards
 
model is Y = 394,560.40 119,140,240.75 + X, and for socialization / education analysis
 
of expenditure standards model is Y = 32,488,048.32 + 686 257, 47 X, where Y is a Total
 
Budget and X are the cost drivers. Both of these models can be used to assess the fairness
 
 
of the program or activity to be carried out on the regional work units in the Provincial
 
Government of West Java
 
 
  Keywords: Analysis of Expenditure Standards , Activity Based Costing, Variable Cost,
  Fixed Costs.
 
 
 
 
 
 
 
 
 

POLBAN

iii
 
  KATA PENGANTAR
 
 
 
Dengan segala kerendahan hati dan rasa bahagia, penulis memanjatkan puji dan
 
  syukur kehadirat Illahi Robbi atas segala rahmat, petunjuk, dan karunia yang telah
 
dilimpahkan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian pemula ini.
 
  Penelitian yang berjudul “Model Penyusunan Analisis Standar Belanja (ASB) Dalam
 
  Menunjang Proses Perencanaan, Penganggaran, Dan Pengawasan Anggaran Pendapatan
  Dan Belanja Daerah (APBD) Pemerintah Provinsi Jawa Barat” ini disusun dalam rangka
 
  mengisi salah satu program penelitian pemula sumber dana DIPA di lingkungan internal
  Politeknik Negeri Bandung.
 
  Pada kesempatan ini, Penulis ingin menyampaikan rasa terimakasih yang sebesar-
  besarnya kepada:
 
  1. Tim evaluator yang telah bersedia memberikan masukan dan saran-sarannya.
 
2. Dr. Ir. Ediana Sutjiredjeki, M.Sc selaku kepala Unit Penelitian dan Pengabdian Kepada
 
  Masyarakat Politeknik Negeri Bandung beserta stafnya yang telah memberikan
 
kesempatan kepada penulis untuk melakukan penelitian ini.
 
  3. Dadang Hermawan, S.E., M.Si selaku Ketua Jurusan Akuntansi Politeknik Negeri
 
  Bandung.
  4. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu Penulis
 
dalam menyelesaikan penelitian ini.
Penulis menyadari bahwa penelitian ini masih sangat jauh dari sempurna. Oleh

POLBAN
sebab itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk memperbaiki
penelitian ini kedepannya sehingga dapat bermanfaat bagi pembaca lainnya.

Bandung, Desember 2014

Penulis

iv
 
  DAFTAR TABEL
 
 
  Tabel. IV. 1 Daftar SKPD Yang Menjadi Objek Penelitian
 
  Tabel IV. 2. Rincian Biaya Kegiatan Bimbingan Tenis/Pelatihan
  Tabel IV. 3. Rincian Biaya Kegiatan Sosialisasi/Penyuluhan
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

POLBAN

v
 
  DAFTAR GAMBAR
 
 
  Gambar 2.1 Alur Perencanaan dan Penganggaran Menurut UU Nomor 32/2004
 
  Gambar 2.3 Tahapan Penerapan ASB dalam Anggaran Berbasis Kinerja
 
  Gambar 3.1 Tahap Pengumpulan Data Rencana Kerja dan Anggaran/ Dokumen
  Pelaksanaan Anggaran Organisasi Perangkat Daerah (RKA/DPA-SKPD)
 
Gambar 3.2 Tahap Penyetaraan Jenis Kegiatan
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

POLBAN

vi
 
  DAFTAR LAMPIRAN
 
 
  Lampiran 1 : Biodata Peneliti
  Lampiran 2 : Hasil Perhitungan Variabel Penelitian Dengan Metode Least Square
  Lampiran 3 : Ringkasan DPA-SKPD Tahun 2013 Dinas Pendidikan
 
Lampiran 4 : Ringkasan DPA-SKPD Tahun 2013 Dinas Kesehatan
 
Lampiran 5 : Ringkasan DPA-SKPD Tahun 2013 Dinas Pemukiman dan
 
Perumahan
 
Lampiran 6 : Ringkasan DPA-SKPD Tahun 2013 Badan Perencanaan dan
 
Pembangunan Daerah
 
 
Lampiran 7 : Ringkasan DPA-SKPD Tahun 2013 Dinas Perhubungan
  Lampiran 8 : Ringkasan DPA-SKPD Tahun 2013 Badan Pengelolaan Lingkungan
  Hidup Daerah
  Lampiran 9 : Ringkasan DPA-SKPD Tahun 2013 Badan Pemberdayaan Perempuan,
  Perlindungan Anak, Pengendalian Kependudukan, dan Keluarga
  Berencana
  Lampiran 10 : Ringkasan DPA-SKPD Tahun 2013 Dinas Sosial
  Lampiran 11 : Ringkasan DPA-SKPD Tahun 2013 Dinas Tenaga Kerja dan
  Transmigrasi
  Lampiran 12 : Ringkasan DPA-SKPD Tahun 2013 Dinas Koperasi dan Usaha Mikro,
  Kecil dan Menengah
  Lampiran 13 : Ringkasan DPA-SKPD Tahun 2013 Dinas Pariwisata dan Kebudayaan
  Lampiran 14 : Ringkasan DPA-SKPD Tahun 2013 Dinas Olah Raga dan Pemuda
  Lampiran 15 : Ringkasan DPA-SKPD Tahun 2013 Badan Kesatuan Bangsa dan
  Politik
  Lampiran 16 : Ringkasan DPA-SKPD Tahun 2013 Sekretariat Daerah
  Lampiran 17 : Ringkasan DPA-SKPD Tahun 2013 Sekretariat DPRD
  Lampiran 18 : Ringkasan DPA-SKPD Tahun 2013 Inspektorat
Lampiran 19 : Ringkasan DPA-SKPD Tahun 2013 Badan Kepegawaian Daerah
Lampiran 20 : Ringkasan DPA-SKPD Tahun 2013 Badan Pendidikan dan Pelatihan

Lampiran 21
Lampiran 22

Lampiran 23
POLBAN
Daerah
: Ringkasan DPA-SKPD Tahun 2013 Badan Pelayanan Perijinan Terpadu
: Ringkasan DPA-SKPD Tahun 2013 Sekretariat Komisi Penyiaran
Indonesia Daerah
: Ringkasan DPA-SKPD Tahun 2013 Satuan Polisi Pamong Praja
Lampiran 24 : Ringkasan DPA-SKPD Tahun 2013 Sekretariat DP KORPRI
Lampiran 25 : Ringkasan DPA-SKPD Tahun 2013 Badan Ketahanan Pangan Daerah
Lampiran 26 : Ringkasan DPA-SKPD Tahun 2013 Badan Pemberdayaan Masyarakat
Dan Pemerintahan Desa
Lampiran 27 : Ringkasan DPA-SKPD Tahun 2013 Dinas Komunikasi dan Informatika
Lampiran 28 : Ringkasan DPA-SKPD Tahun 2013 Badan Perpustakaan dan Kearsipan
Daerah
Lampiran 29 : Ringkasan DPA-SKPD Tahun 2013 Dinas Pertanian Tanaman Pangan
Lampiran 30 : Ringkasan DPA-SKPD Tahun 2013 Dinas Perkebunan
Lampiran 31 : Ringkasan DPA-SKPD Tahun 2013 Dinas Peternakan
Lampiran 32 : Ringkasan DPA-SKPD Tahun 2013 Dinas Kehutanan
Lampiran 33 : Ringkasan DPA-SKPD Tahun 2013 Dinas Energi dan Sumber Daya
Mineral

vii
 
  Lampiran 34 : Ringkasan DPA-SKPD Tahun 2013 Dinas Perindustrian dan
  Perdagangan
  Lampiran 35 : Ringkasan DPA-SKPD Tahun 2013 Badan Penanggulangan Bencana
  Daerah
  Lampiran 36 : Ringkasan DPA-SKPD Tahun 2013 Dinas Perikanan dan Kelautan
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

POLBAN

viii
 
  DAFTAR ISI
  Halaman
  Lembar Identitas dan Pengesahan …………….…………………….... i
 
  Abstrak …………………………………………..……………………. ii
  Kata Pengantar ………………………………………………………… iv
 
  Daftar Tabel……………………………………………………..……… v
  Daftar Gambar/Ilustrasi …………………………………………….…. vi
 
  Daftar Lampiran ……………………………………………………….. vii
 
Bab I. Pendahuluan …………………………………………………… 1
 
  1.1. Latar Belakang ……………………………………………… 1
 
1.2. Perumusan Masalah …………………………………………. 4
 
  1.3. Tujuan dan Manfaat …………………………………………. 4
 
  1.4. Batasan Masalah …………………………………………….. 5
  Bab II. Tinjauan Pustaka ………………………………………………... 6
 
  2.1. Perencanaan Dan Penganggaran Daerah …………………… 6
  2.2. Anggaran Berbasis Kinerja ………………………………… 7
 
  2.3. Analisis Standar Biaya (ASB) ……………………………… 7
  2.4. Dasar Hukum Analisis Standar Biaya (ASB) ……………… 11
 
  2.5. Perilaku Belanja …………………………………………… 14
  2.6. Activity Based Costing (ABC) ………………………………….. 16
 
Bab III. Metode Penelitian …………………………………………….. 18
3.1. Variabel Penelitian ………………………………………... 18

POLBAN
3.2. Deskripsi Operasionalisasi Variabel ………………………. 18
3.3. Jenis dan Sumber Data …………………………………….. 19
3.4. Teknik Pengumpulan Data ………………………………… 19
3.5. Tahap Penyusunan Model …………………………………. 20
3.6. Tahap Pembentukan Model ……………………………… . 22
Bab IV. Hasil dan Pembahasan ……………………………………….. 25
4.1. Tahap Pengumpulan Data …………………………………. 25
4.2. Tahap Penyetaraan Kegiatan ……………………………… 26
4.3. Tahap Pembentukan Model ……………………………….. 33
Bab V. Kesimpulan dan Saran ………………………………………… 38
5.1. Kesimpulan ………………………………………………... 38
5.2. Saran ……………………………………………………… 38
ix
 
  Daftar Pustaka ………………………………………………………… . 40
 
  Lampiran
  Rekap Penggunaan Anggaran
  Personalia Tenaga Peneliti
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

POLBAN

x
 
 
 
KATA PENGANTAR
 
 
  Dengan segala kerendahan hati dan rasa bahagia, penulis memanjatkan puji
 
  dan syukur kehadirat Illahi Robbi atas segala rahmat, petunjuk, dan karunia yang
 
 
telah dilimpahkan-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal penelitian
  pemula ini.
 
  Proposal penelitian pemula yang berjudul “Model Penyusunan Analisis Standar
 
Belanja (ASB) Dalam Menunjang Proses Perencanaan, Penganggaran, Dan
 
  Pengawasan Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah (APBD) Pemerintah Provinsi
 
  Jawa Barat” ini disusun dalam rangka mengisi salah satu program penelitian pemula
  sumber dana DIPA di lingkungan internal Politeknik Negeri Bandung.
 
  Pada kesempatan ini, Penulis ingin menyampaikan rasa terimakasih yang
 
  sebesar-besarnya kepada:
  1. Tim evaluator yang telah bersedia memberikan masukan dan saran-sarannya.
 
  2. Dr. Ir. Ediana Sutjiredjeki, M.Sc selaku kepala Unit Penelitian dan Pengabdian
 
  Kepada Masyarakat Politeknik Negeri Bandung beserta stafnya yang telah
  memberikan kesempatan kepada penulis untuk melakukan penelitian ini.
 
  3. Dadang Hermawan, S.E., M.Si selaku Ketua Jurusan Akuntansi Politeknik Negeri
Bandung.

POLBAN
4. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu
Penulis dalam menyelesaikan proposal penelitian ini.
Penulis menyadari bahwa proposal penelitian ini masih sangat jauh dari
sempurna. Oleh sebab itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun
untuk memperbaiki penelitian ini kedepannya sehingga dapat bermanfaat bagi
pembaca lainnya.
Bandung, April 2014

Penulis

ii
 
 
  DAFTAR ISI
 
  Halaman
 
  Lembar Identitas dan Pengesahan …………….…………………….... i
 
  Abstrak …………………………………………..……………………. ii
 
Kata Pengantar ………………………………………………………… iv
 
  Daftar Tabel……………………………………………………..……… v
 
  Daftar Gambar/Ilustrasi …………………………………………….…. vi
 
Daftar Lampiran ……………………………………………………….. vii
 
  Bab I. Pendahuluan …………………………………………………… 1
 
  1.1. Latar Belakang ……………………………………………… 1
  1.2. Perumusan Masalah …………………………………………. 4
 
  1.3. Tujuan dan Manfaat …………………………………………. 4
 
  1.4. Batasan Masalah …………………………………………….. 5
  Bab II. Tinjauan Pustaka ………………………………………………... 6
 
  2.1. Perencanaan Dan Penganggaran Daerah …………………… 6
 
 
2.2. Anggaran Berbasis Kinerja ………………………………… 7
  2.3. Analisis Standar Biaya (ASB) ……………………………… 7
 
2.4. Dasar Hukum Analisis Standar Biaya (ASB) ……………… 11
2.5. Perilaku Belanja …………………………………………… 14

POLBAN
2.6. Activity Based Costing (ABC) ………………………………….. 16
Bab III. Metode Penelitian …………………………………………….. 18
3.1. Variabel Penelitian ………………………………………... 18
3.2. Deskripsi Operasionalisasi Variabel ………………………. 18
3.3. Jenis dan Sumber Data …………………………………….. 19
3.4. Teknik Pengumpulan Data ………………………………… 19
3.5. Tahap Penyusunan Model …………………………………. 20
3.6. Tahap Pembentukan Model ……………………………… . 22
Bab IV. Hasil dan Pembahasan ……………………………………….. 25
4.1. Tahap Pengumpulan Data …………………………………. 25
 
 
  4.2. Tahap Penyetaraan Kegiatan ……………………………… 26
 
  4.3. Tahap Pembentukan Model ……………………………….. 33
 
Bab V. Kesimpulan dan Saran ………………………………………… 38
 
  5.1. Kesimpulan ………………………………………………... 38
 
  5.2. Saran ……………………………………………………… 38
  Daftar Pustaka ………………………………………………………… . 40
 
  Lampiran
 
  Rekap Penggunaan Anggaran
 
  Personalia Tenaga Peneliti
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

POLBAN
 
 
 
  BAB I
 
  PENDAHULUAN
  1.1. Latar Belakang
 
  Undang-Undang Nomor 17 Tentang Keuangan Negara menetapkan bahwa
  Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) disusun berdasarkan
 
  pendekatan prestasi kerja yang akan dicapai. Untuk mendukung kebijakan ini
 
perlu dibangun suatu sistem yang dapat menyediakan data dan informasi untuk
 
  menyusun Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dengan pendekatan
 
kinerja.Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) berbasis kinerja yang
 
  disusun oleh pemerintah daerah harus didasarkan pada Standar Pelayanan
 
 
Minimal (SPM) yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Untuk dapat membuat
  Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) berbasis kinerja, pemerintah
 
  daerah harus memiliki perencanaan stratejik (Renstra). Renstra disusun secara
  objektif dan melibatkan seluruh komponen yang ada di dalam pemerintahan.
 
  Dengan adanya sistem tersebut pemerintah daerahakan dapat mengukur kinerja
  keuangannya yang tercermin dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
 
  (APBD). Agar sistem dapat berjalan dengan baik perlu ditetapkan beberapa hal
  yang sangat menentukan yaitu standar harga, tolok ukur kinerja dan Standar
 
Pelayanan Minimal (SPM) yang ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-
undangan (Kawedar, dkk. 20009:121).

POLBAN
Pengukuran kinerja digunakan untuk menilai keberhasilan atau kegagalan
pelaksanaan kebijakan/ program/ kegiatan sesuai dengan sasaran dan tugas yang
telah ditetapkan dalam rangka mewujudkan visi dan misi pemerintah daerah.
Salah satu aspek yang diukur dalam penilaian kinerja pemerintah daerah adalah
aspek keuangan berupa Anggaran Berbasis Kinerja (Kawedar, dkk. 2009:123).
Anggaran berbasis kinerja pada dasarnya merupakan salah satu fungsi dari
penganggaran sektor publik, disamping beberapa fungsi utama lainnya seperti
sebagai alat perencanaan, alat pengendalian, alat kebijakan fiskal, alat politik, alat
koordinasi dan komunikasi, alat penilaian kinerja, alat motivasi, dan alat
menciptakan ruang publik (Mardiasmo, 2009). Untuk melakukan suatu
pengukuran kinerja perlu ditetapkan indikator-indikator terlebih dahulu antara lain
indikator masukan (input) berupa dana, sumber daya manusia dan metode kerja.
1
 
 
 
  Agar input dapat diinformasikan dengan akurat dalam suatu anggaran, maka perlu
 
  dilakukan penilaian terhadap kewajarannya. Dalam menilai kewajaran input
  dengan keluaran (output) yang dihasilkan, peranAnalisis Standar Belanja (ASB)
 
  sangat diperlukan. Analisis Standar Belanja (ASB) adalah penilaian kewajaran
  atas beban kerjadan biaya yang digunakan untuk melaksanakan suatu program/
 
  kegiatan (Hafiz Tanjung, 2010).
 
Penjabaran Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 terdapat dalam
 
  Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan
 
Daerah, yang kemudian dijabarkan lagi dalam Permendagri Nomor 13 Tahun
 
  2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, kemudian terbitlah
 
 
Permendagri Nomor 59 Tahun 2007 sebagai penyempurnaan atas Permendagri
  Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengeloaan Keuangan Daerah. Dalam
 
  regulasi yang telah ditetapkan tersebut, Analisis Standar Belanja (ASB)
  merupakan salah satu instrumen pokok dalam penganggaran berbasis kinerja.
 
  Walaupun regulasi tersebut mengamanatkan Analisis Standar Belanja (ASB),
  akan tetapi belum ada regulasi yang secara operasional mengatur pelaksanaan
 
  Analisis Standar Belanja (ASB).
  Beberapa Penelitian terkait Analisis Standar Belanja (ASB) telah
 
dilakukan, tetapi jumlahnya masih sedikit sekali. Penelitian tentang Analisis
Standar Belanja (ASB) yang telah dilakukan diantaranya : Activity Based Costing

POLBAN
(ABC) Sebagai Pendekatan Baru Untuk Menghitung Analisis Standar Belanja
(ASB) Dalam Penyusunan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD),
Konsep Analisis Standar Belanja (ASB) Dalam Akuntansi Sektor Publik, Peranan
dan Teknik Penyusunan Analisis Standar Belanja Dalam penyusunan APBD, dan
Kajian Analisis Standar Belanja Pemerintah Kota Batu namun sampai saat ini
belum ada penelitian terkait Model Penyusunan Analisis Standar Belanja (ASB)
Dalam Menunjang Proses Perencanaan, Penganggaran dan Pengawasan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Pengelolaan keuangan daerah yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi
Jawa Barat secara umum sudah baik, ini dibuktikan dengan diperolehnya opini
Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) selama
2 (dua) tahun terakhir yaitu pada tahun 2011 dan tahun 2012 terkait hasil audit
2
 
 
 
  atas laporan keuangan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.Namun, hingga saat ini
 
  laporan kinerja Pemerintah Provinsi Jawa Barat dilihat dari penilaian atas laporan
  hasil evaluasi akuntabilitas kinerja tahun 2012 yang dilakukan oleh Kementrian
 
  Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPANRB)
  terhadap 81 (delapan puluh satu) Kementrian/Lembaga dan 33 (tiga puluh tiga)
 
  Provinsi di Indonesia, dimana Pemerintah Provinsi Jawa Barat mendapatkan nilai
 
CC (cukup baik) dengan skor 50 – 65, nilai tersebut masih kalah jika
 
  dibandingkan dengan 6 (enam) Pemerintah Provinsi lain seperti : Pemerintah
 
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan
 
  Selatan, Kalimantan Timur, dan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan yang
 
 
masing-masing memperoleh nilai Baik dengan skor 65 – 75 yang hingga saat ini
  merupakan nilai tertinggi bagi tingkat Pemerintah Provinsi di Indonesia.
 
  Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam melaksanakan penganggaran belum
  sepenuhnya menerapkan anggaran berbasis kinerja, diantaranya belum diterapkan
 
  konsep Analisis Standar Belanja (ASB) yang merupakan salah satu komponen
  yang harus dipertimbangkan dalam penetapan belanja daerah yang tercantum
 
  dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 pasal 167 ayat (3) hal tersebut
  dikemukakan oleh Drs. Sri Mulyono, M.Si. selaku Kepala Biro Keuangan
 
Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Barat, alokasi belanja ke dalam aktivitas untuk
menghasilkan output seringkali tanpa alasan dan justifikasi yang kuat. Untuk
mewujudkan
POLBAN
azas efisiensi dan ekonomis dalam penyusunan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), perlu ditetapkan indikator-indikator
terlebih dahulu, antara lain indikator masukan (input) berupa sumber dana,
sumber daya manusia, dan metoda kerja. Indikator tersebut digunakan sebagai
standar dalam penyusunan anggaran program/ kegiatan dan sebagai standar dalam
penilaian terhadap kewajaran oleh Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD)
atas program/ kegiatan yang diajukan oleh tiap Satuan Kerja Perangkat Daerah
(SKPD) (Kawedar dkk, 2008:142). Beberapa Pemerintah Daerah yang telah
menerapkan konsep Analisis Standar Belanja (ASB) diantaranya : Pemerintah
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Pemerintah Kota Batu, Pemerintah Daerah
Kabupaten Purworejo, Pemerintah Daerah Kabupaten Banyumas dan Pemerintah
Kabupaten Bandung.
3
 
 
 
  Berdasarkan fenomena diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan
 
  penelitian dengan judul “MODEL PENYUSUNAN ANALISIS STANDAR
  BELANJA (ASB) DALAM MENUNJANG PROSES PERENCANAAN,
 
  PENGANGGARAN DAN PENGAWASAN ANGGARAN PENDAPATAN
  DAN BELANJA DAERAH PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT”.
 
 
 
1.2. Perumusan Masalah
 
  Dari uraian diatas, maka permasalahan yang dapat dirumuskan adalah:
 
1. Bagaimana tahap-tahap penyusunan model prediksi Analisis Standar Belanja
 
  (ASB) yang sesuai dengan karakteristik program/kegiatan pada Pemerintah
 
 
Daerah Provinsi Jawa Barat?
  2. Bagaimana model prediksi untuk menetapkan total belanja melalui proses
 
  Analisis Standar Belanja (ASB) ?
 
 
  1.3. Tujuan Dan Manfaat
  Tujuan dari penelitian ini adalah:
 
  1. Untuk mengetahui penetapan total biaya dan pengalokasian anggaran secara
  efektif dan efisien agar dapat dijadikan acuan atas program/ kegiatan yang
 
sejenis.
2. Untuk menyusun model prediksi Analisis Standar Belanja (ASB) yang sesuai

POLBAN
dengan karakteristik pelaksanaan program/ kegiatan di lingkungan Satuan
Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:


1. Bagi Ilmu Pengetahuan, khususnya bagi pengembangan ilmu akuntansi,
penelitian akan dipublikasikan sehingga diharapkan dapat memberikan
informasi lebih luas mengenai penyusunan model prediksi Analisis Standar
Belanja (ASB) yang dapat diterapkan di pemerintah daerah dalam
penetapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
2. Bagi Pemerintah Provinsi Jawa Barat, penelitian ini diharapkan dapat
menjadi bahan pertimbangan untuk dijadikan pedoman dalam penerapan

4
 
 
 
  Analisis Standar Belanja (ASB) khususnya di lingkungan Pemerintah
 
  Provinsi Jawa Barat.
  3. Bagi para peneliti selanjutnya, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi
 
  dasar penelitian selanjutnya terutama dalam menyusun model Analisis
  Standar Biaya Pada Belanja lainnya sebagai model prediksi.
 
 
 
1.4. Batasan Masalah
 
  Penelitian ini dibatasi hanya pada belanja bimbingan teknis dan kegiatan
 
sosialisasi/penyuluhan dan hanya menggunakan Dokumen Pelaksana Anggaran
 
  (DPA) Tahun 2013 dari seluruh Satuan Perangkat Daerah (SKPD). Hal tersebut
 
 
dikarenakan Biro Keuangan Pemerintah Provinsi Jawa Barat keberatan untuk
  memberikan rincian data dan DPA periode sebelumnya dan menurut mereka,
 
  periode satu tahun sudah cukup mewakili untuk menyususn suatu model, karena
  anggran tahun-tahun sebelumnya tidak jauh berbeda dengan anggran tahun 2013.
 
 
 
 
 
 
 

POLBAN

5
 
 
 
  BAB II
 
  TINJAUAN PUSTAKA
 
 
  2.1. Perencanaan dan Penganggaran Daerah
 
  Istilah perencanaan dan penganggaran dapat diartikan secara terpisah,
  menurut Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 Tentang Sistem Perencanaan
 
  Pembangunan Nasional menyatakan bahwa “Perencanaan adalah suatu proses
 
untuk menentukan tindakan masa depan yang tepat, melalui urutan pilihan,
 
  dengan memperhitungkan sumber daya yang tersedia”. Sementara itu,
 
 
penganggaran dapat diartikan sebagai suatu proses untuk menyusun sebuah
  anggaran. Sementara itu pengertian anggaran menurut Hafiz Tanjung (2008:81)
 
  “anggaran merupakan pedoman tindakan yang akan dilaksanakan oleh pemerintah
  meliputi rencana pendapatan, belanja, transfer, dan pembiayaan yang diukur
 
  dalam satuan rupiah, yang disusun menurut klasifikasi tertentu secara sistematis
  untuk suatu periode”.
 
  Perencanaan dan penganggaran merupakan tahapan yang sangat penting
  dalam penyelenggaraan pemerintahan, karena berkaitan erat dengan tujuan dari
 
  pemerintah yaitu untuk mensejahterakan rakyatnya. Perencanaan dan
penganggaran merupakan proses yang terintegrasi, oleh karenanya output dari

POLBAN
perencanaan adalah penganggaran (Bastian, 2009:10).

Gambar 2.1 Alur Perencanaan dan Penganggaran Menurut UU Nomor 32/2004

6
 
 
 
  Sumber : Diskusi Publik Tinjauan Kebijakan Perencanaan Penganggaran Daerah, 29 Desember
  2004 dalam Indra Bastian (2009:5)
 
 
 
  2.2. Anggaran Berbasis Kinerja
  Anggaran Berbasis Kinerja merupakan metode penganggaran bagi
 
  manajemen untuk mengaitkan setiap biaya yang dituangkan dalam kegiatan-
  kegiatan dengan manfaat yang dihasilkan. Manfaat tersebut dideskripsikan pada
 
  seperangkat tujuan dan sasaran yang dituangkan dalam target kinerja pada setiap
  unit kerja. Anggaran Berbasis Kinerja yang efektif akan mengidentifikasikan
 
  keterkaitan antara nilai uang dan hasil, serta dapat menjelaskan bagaimana
  keterkaitan tersebut dapat terjadi yang merupakan kunci pengelolaan program
 
  secara efektif. Jika terjadi perbedaan antara rencana dan realisasinya, dapat
 
dilakukan evaluasi sumber-sumber input dan bagaimana keterkaitannya dengan
 
  output/outcome untuk menentukan efektivitas dan efisiensi pelaksanaan program.
 
 
(Pedoman Penyusunan Penyusunan APBD Berbasis Kinerja (Revisi), 2005)
 
 
  2.3. Analisis Standar Biaya (ASB)
 
 
Analisis Standar Belanja (ASB) sudah diperkenalkan kepada Pemerintah
Daerah dalam Peraturan Pemerintah No. 105 Tahun 2000 tentang Pengelolaan dan

POLBAN
Pertanggungjawaban Keuangan Daerah. Istilah yang digunakan dalam PP No. 105
tersebut adalah Standar Analisa Belanja atau SAB yang mempunyai makna
penilaian kewajaran atas beban kerja dan biaya terhadap suatu kegiatan.
Menurut Hafiz Tanjung (2010) Analisis Standar Biaya (ASB)
adalah“Penilaian kewajaran atas beban kerja dan biaya yang dialokasikan untuk
melaksanakan suatu kegiatan”.
Analisis Standar Biaya/Belanja (ASB) merupakan salah satu komponen
yang harus dikembangkan sebagai dasar pengukuran kinerja keuangan dalam
penyusunan APBD dengan pendekatan kinerja. ASB adalah standar yang
digunakan untuk menganalisis kewajaran beban kerja atau biaya setiap program
atau kegiatan yang akan dilaksanakan oleh suatu Satuan Kerja dalam satu tahun
anggaran. Penerapan ASB pada dasarnya akan memberikan manfaat antara lain:

7
 
 
 
  (1) Dapat menentukan kewajaran belanja untuk melaksanakan suatu kegiatan
 
  sesuai dengan tupoksinya; (2) Meminimalisir terjadinya pengeluaran yang kurang
  jelas yang menyebabkan inefisiensi anggaran; (3) Meningkatkan efisiensi dan
 
  efektifitas dalam pengelolaan Keuangan Daerah; (4) Penentuan anggaran
  berdasarkan pada tolok ukur kinerja yang jelas; dan (5) Unit kerja mendapat
 
  keleluasaan yang lebih besar untuk menentukan anggarannya sendiri.
 
Analisis Standar Biaya (ASB) mendorong penetapan biaya dan
 
  pengalokasian anggaran kepada setiap aktivitas unit kerja menjadi lebih logis dan
 
mendorong dicapainya efisiensi secara terus menerus karena adanya perbandingan
 
  (benchmarking) biaya per unit setiap output dan diperoleh praktek-praktek terbaik
 
 
(best practies) dalam desain aktivitas (Kawedar dkk, 2008:144).
  Salah satu aspek yang diukur dalam penilaian kinerja pemerintah daerah
 
  adalah aspek keuangan berupa Anggaran Berbasis Kinerja (ABK). Untuk
  melakukan suatu pengukuran kinerja perlu ditetapkan indikator-indikator terlebih
 
  dahulu antara lainindikator masukan (input) berupa dana, sumber daya manusia
  dan metodekerja. Agar input dapat diinformasikan dengan akurat dalam
 
  suatuanggaran, maka perlu dilakukan penilaian terhadap kewajarannya.
  Dalammenilai kewajaran input dengan keluaran (output) yang dihasilkan, peran
 
Analisis Standar Biaya (ASB) sangat diperlukan.
Manfaat yang dapat diperoleh dari Pemerintah Daerah ketika

POLBAN
menggunakan Analisis Standar Belanja adalah sebagai berikut :
a. Penetapan plafon anggaran pada saat Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara
(PPAS) menjadi obyektif tidak lagi berdasarkan “intuisi”
b. Dapat menentukan kewajaran biaya untuk melaksanakan suatu kegiatan.
c. Meminimalisir terjadinya pengeluaran yang kurang jelas yang menyebabkan
inefisiensi anggaran.
d. Penentuan anggaran berdasarkan pada tolok ukur kinerja yang jelas.
e. Penentuan besaran alokasi setiap kegiatan menjadi objektif.
f. Memiliki argumen yang kuat jika “dituduh” melakukan pemborosan.
g. Penyusunan anggaran menjadi lebih tepat waktu.
Penilaian terhadap kewajaran beban kerja usulan program atau kegiatan
dalam hal ini dikaitkan dengan komponen dan tingkat pelayanan yang akan
8
 
 
 
  dicapai, jangka waktu pelaksanaan, serta kapasitas satuan kerja untuk
 
  melaksanakan kegiatan. Ukuran kapasitas satuan kerja dapat diproyeksikan
  dengan jumlah jam kerja normal pegawai negeri yang tersedia. Hubungan antara
 
  kapasitas satuan kerja normal tersebut dengan jumlah jam yang dibutuhkan untuk
  melaksanakan seluruh kegiatan yang menjadi tugas pokok fungsi Satuan Kerja
 
  Perangkat Daerah (SKPD) merupakan salah satu ukurun kewajaran beban kerja.
 
Berikut adalah bagan tahapan penerapan Analisis Standar Biaya (ASB)
 
  dalam Anggaran Berbasis Kinerja (ABK) :
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

POLBAN
Gambar 2.3 Tahapan Penerapan ASB dalam Anggaran Berbasis Kinerja

Sumber : Warsito Kawedar, dkk (2008:148)

Dari gambar diatas dapat dijelaskan sebagai berikut :


a. Berdasarkan RPJM Daerah yang disusun secara simultan dengan penyusunan
renstra Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), renstra Satuan Kerja
Perangkat Daerah (SKPD) ditetapkan dengan peraturan pimpinan Satuan
Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Renstra Satuan Kerja Perangkat Daerah
(SKPD) memuat visi, misi, tujuan, strategi, kebijakan, program dan kegiatan
pembangunan sesuai tugas dan fungsi Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD)
dan bersifat indikatif.

9
 
 
 
  b. Dengan berpedoman pada renstra Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di
 
  atas dan mengacu pada Rencana Kerja Pemerintah (RKP), Satuan Kerja
  Perangkat Daerah (SKPD) menyusun renja Satuan Kerja Perangkat Daerah
 
  (SKPD) yang memuat kebijakan, program dan kegiatan pembangunan baik
  yang dilaksanakan langsung oleh Pemerintah Daerah maupun dengan
 
  mendorong partisipasi massyarakat. Rencana Kerja Pemerintah Daerah
 
(RKPD) disusun secara simultan bersamaan dengan penyusunan renja Satuan
 
  Kerja Perangkat Daerah (SKPD).
 
c. Berdasarkan program dan kegiatan yang sudah ditetapkan, Satuan Kerja
 
  Perangkat Daerah (SKPD) kemudian menentukan indikator input, output,
 
 
outcome dan sampai pada benefit dan impact.
  d. Berdasarkan output yang akan dihasilkan berupa barang atau jasa, dan
 
  indicator input (dana, sumber daya manusia, perjalanan dinas, peralatan dan
  bahan) Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) kemudian melakukan
 
  perhitungan anggaran per jenis kegiatan dengan menggunakan Analisis
  Standar Biaya (ASB).
 
  Analisis Standar Biaya (ASB) memiliki peran yang penting dalam
  pengelolaan keuangan daerah (APKASI, 2009), yaitu :
 
1) Tahap Perencanaan
Analisis Standar Biaya (ASB) dapat digunakan pada saat perencanaan

POLBAN
keuangan daerah. Analisis Standar Biaya (ASB) dapat dipergunakan pada saat
musrenbang, rencana jangka panjang (renja), dan pada saat penentuan prioritas.
Pada tahap-tahap tersebut Analisis Standar Biaya (ASB) digunakan untuk
menentukan pagu indikatif dari kegiatan-kegiatan yang diusulkan oleh
masyarakat.
2) Tahap Penganggaran
Analisis Standar Belanja (ASB) digunakan pada saat proses perencanaan
anggaran. Analisis Standar Belanja (ASB) merupakan pendekatan yang digunakan
oleh Tim Anggaran PemerintahDaerah (TAPD) untuk mengevaluasi usulan
program, kegiatan, dan anggaran setiap satuan kerja dengan cara menganalisis
beban kerja dan biaya dari usulan program atau kegiatan yang bersangkutan.

10
 
 
 
  Analisis Standar Belanja (ASB) digunakan pada saat mengkuantitatifkan
 
  program dan kegiatan setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) menjadi
  Rencana Kerja dan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (RKA-SKPD).
 
  Rencana Kerja dan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (RKA-SKPD) berisi
  rencana program dan kegiatan yang akan dilaksanakan beserta usulan anggaran
 
  yang akan digunakan. Untuk mengetahui beban kerja dan beban biaya yang
 
optimal dari setiap usulan program atau kegiatan yang diusulkan, langkah yang
 
  dilakukan adalah dengan menggunakan formula perhitungan Analisis Standar
 
Belanja (ASB) yang terdapat pada masing-masing jenis Analisis Standar Belanja
 
  (ASB).
 
 
  3) Tahap Pengawasan/ Pemeriksaan
  Pada tahap pengawasan/pemeriksaan, pengawas/pemeriksa dapat
 
  menggunakan Analisis Standar Belanja (ASB) untuk menentukan batasan
  mengenai pemborosan/ kerugian negara.Apabila penganggaran belanja melebihi
 
  Analisis Standar Belanja (ASB) maka disebut pemborosan.
 
 
  2.4. Dasar Hukum Analisis Standar Belanja (ASB)
  Adapun dasar hukum mengenai Analisis Standar Belanja (ASB) adalah
sebagai berikut:

3 POLBAN
1. Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah, Pasal 167
ayat “Belanja daerah sebagaimana dimaksud pada ayat
mempertimbangkan analisis standar belanja, standar harga, tolok ukurkinerja;
(1)

dan standar pelayanan minimal yang ditetapkan sesuai dengan peraturan


perundang-undangan”.
2. Penjelasan Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan, Pasal
167 ayat 3: “Yang dimaksud dengan Analisa Standar Belanja (ASB) adalah
penilaian kewajaran atas beban kerja dan biaya yang digunakan untuk
melaksanakan suatu kegiatan.
3. Peraturan Pemerintah No. 105 Tahun 2000 Tentang Pengelolaan dan
Pertanggungjawaban Keuangan Daerah, Pasal 20 ayat 2 “Untuk mengukur

11
 
 
 
  kinerja keuangan Pemerintah Daerah, dikembangkan standar analisa belanja,
 
  tolok ukur kinerja dan standar biaya”.
  4. Penjelasan Peraturan Pemerintah No. 105 Tahun 2000 Tentang Pengelolaan
 
  dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah, Pasal 20 ayat 2: “Yang dimaksud
  dengan standar analisa belanja adalah penilaian kewajaran atas beban kerja
 
  dan biaya terhadap suatu kegiatan.”
 
5. Peraturan Pemerintah No. 58 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan Keuangan
 
  Daerah Pasal 39 ayat 2, “Penyusunan anggaran berdasarkan prestasi kerja
 
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan berdasarkan capaian kinerja,
 
  indikator kinerja, analisis standar belanja, standar satuan harga, dan standar
 
 
pelayanan minimal”.
  6. Peraturan Pemerintah No. 58 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan Keuangan
 
  Daerah Pasal 41 ayat 3, “Pembahasan oleh tim anggaran pemerintah daerah
  sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan untuk menelaah kesesuaian
 
  antara RKA-SKPD dengan kebijakan umum APBD, prioritas dan plafon
  anggaran sementara, prakiraan maju yang telah disetujui tahun anggaran
 
  sebelumnya, dan dokumen perencanaan lainnya, serta capaian kinerja,
  indikator kinerja, analisis standar belanja, standar satuan harga, dan standar
 
pelayanan minimal”.
7. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman

POLBAN
Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 89 ayat 2 : “Rancangan surat
edarankepala daerah tentang pedoman penyusunan RKA-SKPD sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) mencakup : dokumen sebagai lampiran meliputi KUA,
PPA, kode rekening APBD, format RKA-SKPD, analisis standar belanja dan
standar satuan harga”.
8. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 Tentang
PedomanPengelolaan Keuangan Daerah Pasal 93 :
(1) Penyusunan RKA-SKPD berdasarkan prestasi kerja sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 90 ayat (2) berdasarkan pada indikatorkinerja,
capaian atau target kinerja, analisis standar belanja, standar satuan harga,
dan standar pelayanan minimal.

12
 
 
 
  (2) Analisis standar belanja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan
 
  penilaian kewajaran atas beban kerja dan biaya yang digunakan untuk
  melaksanakan suatu kegiatan.
 
  9. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman
  Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 100 ayat 2 “Pembahasan oleh TAPD
 
  sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan untuk menelaah kesesuaian
 
antara RKA-SKPD dengan KUA, PPA (Prioritas dan Plafon Anggaran),
 
  prakiraan maju yang telah disetujui tahun anggaran sebelumnya, dan dokumen
 
perencanaan lainnya, serta capaian kinerja, indikator kinerja, kelompok
 
  sasaran kegiatan, standar analisis belanja, standar satuan harga, standar
 
 
pelayanan minimal, serta sinkronisasi program dan kegiatan antar SKPD”.
  10. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 59 Tahun 2007 Tentang Perubahan Atas
 
  Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman
  Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 89 ayat 2 : “Rancangan surat edaran
 
  kepala daerah tentang pedoman penyusunan RKA-SKPD sebagaimana
  dimaksud pada ayat (1) mencakup : dokumen sebagai lampiran surat edaran
 
  meliputi KUA, PPAS, analisis standar belanja dan standar satuan harga.
  11. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 59 Tahun 2007 Tentang Perubahan Atas
 
Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah Pasal 100 ayat 2 : “Pembahasan oleh TAPD

POLBAN
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan untuk menelaah: kesesuaian
rencana anggaran dengan standar analisis belanja, standar satuan harga.”
12. Lampiran Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 32 Tahun 2008 Tentang
Pedoman Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun
Anggaran 2009, (Romawi III) Teknis Penyusunan APBD No. 4 : ” Substansi
Surat Edaran Kepala Daerah tentang Pedoman Penyusunan RKA-SKPD
kepada seluruh SKPD dan Rencana Kerja dan Anggaran Pejabat Pengelola
Keuangan daerah (RKA-PPKD) kepada Satuan kerja pengelola keuangan
daerah (SKPKD) lebih disederhanakan, hanya memuat prioritas pembangunan
daerah dan program/kegiatan yang terkait, alokasi plafon anggaran sementara
untuk setiap program/kegiatan SKPD, batas waktu penyampaian RKA-SKPD

13
 
 
 
  kepada PPKD dan dokumen sebagai lampiran Surat Edaran dimaksud meliputi
 
  KUA, PPAS, Analisis Standar Belanja, dan Standar Satuan Harga.
 
 
  2.5. Perilaku Belanja
  Sebagian besar keputusan yang diambil oleh pemerintah daerah
 
  memerlukaninformasi belanja yang didasarkan pada perilakunya. Oleh sebab itu
 
perlu diketahui penggolongan belanja atas dasar perilakunya.
 
  Yang dimaksud dengan perilaku belanja adalah pola perubahan belanja
 
dalam kaitannya deng perubahan target kinerja atau aktivitas pemerintah daerah
 
  (misalnya, jumlah peserta dan jumlah hari dalam kegiatan bimbingan teknis).
 
 
Besar-kecilnya belanja dipengaruhi oleh besar-kecilnya target kinerja
  kegiatan/aktivitas pemerintah daerah.
 
  Berikut adalah jenis-jenis belanja berdasarkan perilakunya:
  a. Belanja Variabel
 
  Belanja variabel adalah belanja-belanja yang totalnya selalu berubah secara
  proporsional (sebanding) dengan perubahan target kinerja kegiatan pemerintah
 
  daerah. Besar-kecilnya total belanja variabel dipengaruhi oleh besar-kecilnya
  target kinerja. Contoh jenis belanja ini antara lain belanja sewa stand per meter
 
persegi, belanja sewa gedung per hari, dan lain sebagainya.

POLBAN
b. Belanja Tetap
Belanja tetap adalah belanja-belanja yang di dalam jarak kapasitas (range of
capacity) tertentu totalnya tetap, meskipun target kinerja pemerintah daerah
berubah-ubah. Sejauh tidak melampaui kapasitas, belanja tetap total tidak
dipengaruhi oleh besar-kecilnya target kinerja pemerintah daerah. Contoh belanja
tetap adalah belanja gaji pegawai pemerintah daerah. Besar kecilnya belanja
pegawai tidak dipengaruhi oleh banyak sedikitnya kegiatan yang dilaksanakan
oleh pemerintah daerah.

c. Belanja Semi Variabel

14
 
 
 
  Belanja Semi Variabel adalah belanja-belanja yang totalnya selalu berubah tetapi
 
  tidak proporsional dengan perubahan target kinerja kegiatan pemerintah daerah.
  Berubahnya belanja ini tidak dalam tingkat perubahan yang konstan. Belanja ini
 
  dapat dikelompokkan pada yang tingkat perubahannya, semakin tinggi dan tingkat
  perubahannya semakin rendah. Dalam belanja semi variable ini terkandung unsur
 
  belanja tetap dan unsur belanja variabel.
 
Perubahan belanja total sebagai akibat dari perubahan target kinerja
 
  pemerintah daerah ada tiga macam pola yaitu :
 
a. Jumlah tetap, meskipun target kinerja kegiatan berubah (belanja tetap).
 
  b. Jumlah berubah secara proporsional dengan perubahan target kinerja
 
 
kegiatan (belanja variabel).
  c. Jumlah berubah tidak sebanding dengan perubahan target kinerja kegiatan
 
  (belanja semi variabel).
  Untuk keperluan perencanaan dan pengendalian belanja, pemerintah daerah harus
 
  mengetahui pola perilaku masing-masing belanja. Penentuan pola perilaku belanja
  berkaitan dengan pemisahan belanja ke dalam unsur belanja tetap dan belanja
 
  variabel. Dengan kata lain belanja yang dipisahkan tersebut merupakan belanja
  yang semi variabel dan atau belanja semi tetap.
 
Untuk menggambarkan hubungan antara belanja total dengan target kinerja
kegiatan pemerintah daerah, pada umumnya dinyatakan dengan fungsi belanja

POLBAN
sebagai berikut:

Belanja Total = Belanja Tetap Total + Belanja Variabel Total

Belanja variabel total jumlahnya dipengaruhi oleh besar-kecilnya target kinerja


kegiatan. Dengan perkataan lain belanja variabel total merupakan hasil perkalian
antara belanja variabel per unit dengan target kinerja kegiatan.

15
 
 
 
  2.6. Activity Based Costing (ABC)
 
  Activity Based Costing Sistem adalah suatu sistem akuntansi yang terfokus
  pada aktivitas-aktifitas yang dilakukan untuk menghasilkan produk/jasa. Activity
 
  Based Costing menyediakan informasi perihal aktivitas-aktivitas dan sumber daya
  yang dibutuhkan untuk melaksanakan aktivitas-aktivitas tersebut. Aktivitas adalah
 
  setiap kejadian atau transaksi yang merupakan pemicu biaya (cost driver) yakni,
 
bertindak sebagai faktor penyebab dalam pengeluaran biaya dalam organisasi.
 
  Aktivitas-aktivitas ini menjadi titik perhimpunan biaya. Dalam sistem Activity
 
Based Costing (ABC), biaya ditelusuri ke aktivitas dan kemudian ke
 
  produk.Sistem Activity Based Costing (ABC) mengasumsikan bahwa aktivitas-
 
 
aktivitaslah, yang mengkonsumsi sumber daya dan bukannya produk. Dalam
  Activity Based Costing (ABC) mencakup (Garrison, 2006) :
 
  1. Biaya produksi dan non produksi dibebankan ke produk;
  2. Beberapa biaya produksi tidak dimasukkan ke dalam biaya produk;
 
  3. Ada sejumlah pool biaya overhead, setiap pul dialokasikan ke produk dan
  obyek perhitungan biaya (costing) lainnya dengan menggunakan ukuran
 
  aktivitas masing-masing yang khusus;
  4. Basis alokasi biasanya berbeda dengan basis alokasi dalam sistem akuntansi
 
biaya tradisional.

POLBAN
Tarif overhead atau tarif aktivitas disesuikan dengan kapasitas aktivitas
dan bukan dengan kapasitas yang dianggarkan.
Tahap awal implementasi Activity Based Costing (ABC) harus dilakukan
beberapa aktivitas sebagai berikut:
1. Aktivitas tingkat unit dilakukan untuk setiap unit produksi. Biaya aktivitas
tingkat unit bersifat proposional dengan jumlah unit yang diproduksi.
2. Aktivitas tingkat batch dilakukan setap batch diperoses tanpa memperhatikan
tingkat unit yang ada dalam batch tersebut.
3. Aktivitas tingkat produk, yaitu berkaitan dengan produk spesifik dan biasanya
dikerjakan tanpa memperhatikan berapa batch atau berapa unit yang
diproduksi atau jual.

16
 
 
 
  4. Aktivitas yang berkaitan dengan fasilitas tanpa membedakan pelayanan
 
  terhadap para pelanggan, barang apa yang diproduksi, berapa batch yang
  dijalankan atau berapa unit yang dibuat.
 
  Selanjutnya tahapan yang kedua membebankan biaya ke pool biaya
  aktivitas .Sebagian besar biaya overhead diklasifikasikan dalam akuntansi dasar
 
  perusahaan berdasarkan departemen di mana biaya tersebut terjadi. Sebagai
 
contoh gaji, perlengkapan , sewa, dan sebagainya yang terjadi di Departemen
 
  pemasaran akan dibebankan pada departemen tersebut. Dalam beberapa kasus,
 
beberapa atau semua biaya dapat di telusuri secara langsung ke salah satu pola
 
  biaya aktivitas dalam sistem Activity Based Costing (ABC).
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

POLBAN

17
 
 
 
  BAB III
 
  METODE PENELITIAN
 
 
  3.1. Variabel Penelitian
  Variabel penelitian adalah atribut atau sifat atau nilai dari orang, obyek
 
  atau kegiatan yang mempunyai variansi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti
 
untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiono 2006:61).
 
  Dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebas (X) adalah pengendali
 
belanja (Cost Driver), didalam penyusunan model Analisis Standar Belanja (ASB)
 
  pengendali belanja ini bisa berbeda-beda tergantung jenis kegiatannya, sedangkan
 
 
yang menjadi variabel terikat (Y) atau variabel yang dipengaruhi adalah Total
  Belanja (Total Cost) dari suatu jenis kegiatan.
 
  Dari penelitian ini salah satunya akan didapatkan suatu persamaan regresi
  (Y = a + bx) dengan menggunakan Pendekatan Regresi Sederhana (Ordinary
 
  Least Square) dimana (a) merupakan satuan pengendali Belanja Tetap (Fixed
  Cost) dari jenis kegiatan dan (b) adalah satuan pengendali Belanja Variabel
 
  (Variabel Cost). Persamaan regresi ini salah satu komponen yang akanterdapat
  dalam model Analisis Standar Belanja (ASB) sebagai rumus perhitungan untuk
 
menilai kewajaran suatu program/ kegiatan yang sejenis dengan masing-masing
model Analisis Standar Belanja (ASB).

POLBAN
3.2. Deskripsi Operasional Variabel
Kegiatan Bimbingan Teknis/ Pelatihan merupakan kegiatan untuk
memberikan pelatihan kepada para pegawai dilingkungan Satuan Kerja Perangkat
Daerah (SKPD) atau kepada masyarakat untuk memperoleh keahlian
tertentu.Tujuan kegiatan ini adalah untuk memberikan keahlian untuk masalah-
masalah yang sifatnyaoperasional yang menjadi kebutuhan utama Satuan Kerja
Perangkat Daerah (SKPD) serta masyarakat luas.
Kegiatan Sosialisasi/Penyuluhan bertujuan agar masyarakat dapat secara
langsungberkomunikasi tentang program atau misi yang sedang dibawakan
olehSatuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Kegiatan ini dipersyaratkan

18
 
 
 
  menghadiri secara fisik danberkomunikasi secara interaktif dengan masyarakat
 
  yang ingindisosialisasi.
  Pengendali belanja (cost driver) adalah faktor-faktor yang mempengaruhi
 
  besarkecilnya belanja dari suatu kegiatan, faktor-faktor ini tentunyamerupakan
  beban kerja riil dari kegiatan yang dimaksud.
 
  Satuan pengendali belanja tetap (fixed cost) merupakan belanja yang
 
nilainyatetap untuk melaksanakan satu kegiatan.Belanja tetap ini tidakdipengaruhi
 
  oleh adanya perubahan volume/target kinerja suatukegiatan.Besarnya nilai satuan
 
pengendali belanja tetapmerupakan batas maksimal untuk setiap kegiatan dimana
 
  penyusun anggaran tidak boleh melebihi nilai tersebut, namun diperbolehkan
 
 
apabila menentukan belanja tetap dibawah nilai yang ditetapkan.
  Satuan pengendali belanja variabel(variable cost)merupakan besarnya
 
  perubahan belanja variabel untuk masing-masingkegiatan yang dipengaruhi oleh
  perubahan/penambahanvolume kegiatan.
 
 
 
  3.3. Jenis Dan Sumber Data
 
  Penelitian ini menggunakan data sekunder berupa Rencana Kerja dan
  Anggaran (RKA) atau Dokumen Pelaksana Anggaran (DPA) yang ada jenis
kegiatan Bimbingan Teknik/ Pelatihan dan kegiatan Sosialisasi/ Penyuluhan.

POLBAN
Tahun 2013 dari seluruh Satuan Perangkat Daerah (SKPD) di lingkungan
Pemerintahan Provinsi Jawa Barat dan data Standar Biaya Belanja (SBB) yang
ada dalam Keputusan Gubernur Nomor : 910/Kep.1166-Pbd/2012 Tentang
Standar Biaya Belanja Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Barat Tahun Anggaran
2013.

3.4. Teknik Pengumpulan Data


Teknik pengumpulan data yang dilakukan penulis adalah sebagai berikut:
1) Purposive Sampling. Teknik ini digunakan untuk memilih Satuan Kerja
Perangkat Daerah (SKPD) yang melaksanakan kegiatan Bimbingan
Teknis/Pelatihan dan Kegiatan Sosialisasi/Penyuluhan.

19
 
 
 
  2) Studi dokumentasi, yaitu studi yang digunakan untuk memperoleh Dokumen
 
  Pelaksanaan Anggaran Seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD)
  Provinsi Jawa Barat Tahun Anggaran 2013 yang melaksanaka kegiatan
 
  Bimbingan Teknis/Pelatihan dan Kegiatan Sosialisasi/Penyuluhan, serta
  dokumen Standar Biaya Belanja (SBB) yang ada dalam Keputusan
 
  Gubernur Nomor : 910/Kep.1166-Pbd/2012 Tentang Standar Biaya Belanja
 
Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Barat Tahun Anggaran 2013.
 
 
 
3.5. Tahap Penyusunan Model
 
  Adapun tahap-tahap penyusunan modelnya adalah sebagai berikut:
 
 
1. Pada tahap ini, dilakukan pengumpulan data Rencana Kerja dan Anggaran/
  Dokumen Pelaksanaan Anggaran Organisasi Perangkat Daerah (RKA/DPA-
 
  SKPD) yang ada jenis kegiatan Bimbingan Teknik/ Pelatihan dan kegiatan
  Sosialisasi/ Penyuluhan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di lingkungan
 
  Pemerintah Provinsi Jawa Barat, yang akan dijadikan model Analisis Standar
  Belanja (ASB).
 
  2. Tahap pengumpulan data Rencana Kerja dan Anggaran/Dokumen
  Pelaksanaan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (RKA/DPA-SKPD) ini
 
dapat digambarkan sebagai berikut:

SKPD A

SKPD B
POLBAN Database
RKA/DPA SKPD
Belanja Rutin
SKPD C

SKPD D

Gambar 3.1Tahap Pengumpulan Data Rencana Kerja dan Anggaran/ Dokumen Pelaksanaan
Anggaran Organisasi Perangkat Daerah (RKA/DPA-SKPD)

20
 
 
 
  3. Tahap Penyetaraan Kegiatan
 
  Penyetaraan kegiatan dilakukan untuk mengklasifikasikan data Rencana Kerja dan
  Anggaran/ Dokumen Pelaksanaan Anggaran (RKA/DPA-SKPD) yang diperoleh
 
  pada tahap pengumpulan data ke dalam jenis atau kategori kegiatan yang
  memiliki pola kegiatan dan bobot kerja yang setara. Tahap penyetaraan kegiatan
 
  ini dapat digambarkan sebagai berikut:
 
 
Jenis Kegiatan Bimbingan
  Teknik/ Pelatihan
 
 
  Database
RKA/DPA SKPD
  Jenis Belanja Rutin, antara lain:
  Jenis Kegiatan Bimbingan Teknik/ Pelatihan
Jenis Kegiatan Sosialisasi/ Penyuluhan
 
 
 
  Jenis Kegiatan Sosialisasi/
  Penyuluhan

 
 
 
  Gambar 3.2Tahap Penyetaraan Jenis Kegiatan
 
 

POLBAN

21
 
 
 
  3.6 Tahap Pembentukkan Model
 
  Penyusunan Analisis Standar Belanja menggunakan tiga pendekatan
  utama, yaitu: pendekatan Activity Based Costing (ABC), pendekatan Ordinary
 
  Least Square (Regresi Sederhana) dan pendekatan Focused Group Discussion
  (Metoda Diskusi) (Hafiz Tanjung, 2010).
 
 
 
a) Pendekatan Activity Based Costing (ABC)
 
  Pendekatan Activity Based Costing (ABC) merupakan suatu teknik untuk
 
mengukur secara kuantitatif biaya dan kinerja dari satu kegiatan (the cost and
 
  performance of activities) serta teknik mengalokasikan penggunaan sumber daya
 
 
dan biaya kepada masing-masing objek biaya (operasional maupun administrasi)
  dalam satu kegiatan. Pendekatan Activity Based Costing (ABC) bertujuan untuk
 
  meningkatkan akurasi biaya penyediaan barang dan jasa yang dihasilkan dengan
  menghitung biaya tetap (fixed cost) dan biaya variabel (variable cost), sehingga
 
  total biaya dengan pendekatan Activity Based Costing (ABC) adalah :
 
 
  Total Biaya = Biaya Tetap + Biaya Variabel
 
 
Formulasi biaya diatas sebenarnya sama dengan metode konvensional, hanya saja

POLBAN
dalam penentuan komponen biaya tetap dan biaya variabelnya yang berbeda, yaitu
melalui identifikasi aktivitas, penentuan cost pool dan cost driver dari setiap
aktivitas, sehingga dihasilkan foemulasi biaya berdasarkan Activity Based
Costing.
Disamping itu, proses evaluasi dan penilaian kewajaran biaya dengan
pendekatan ABC dilakukan atas dasar biaya-biaya per kegiatan dan bukan atas
dasar alokasi bruto (gross allocations) pada suatu organisasi atau Satuan Kerja
Perangkat Daerah (SKPD).

b) Pendekatan Ordinary Least Square (Regresi Sederhana)

22
 
 
 
  Analisis regresi sederhana adalah suatu teknik yang digunakan untuk
 
  membangun suatu persamaan yang menghubungkan antara variabel tidak bebas
  (Y) dengan variabel bebas (X) sekaligus untuk menentukan nilai ramalan atau
 
  dugaannya. Dalam regresi sederhana ini, variabel tidak bebas merupakan total
  biaya dari suatu kegiatan, sedangkan variabel bebas merupakan cost driver dari
 
  kegiatan tersebut.
 
Penggunaan regresi sederhana dalam menyusun Analisis Standar Belanja
 
  (ASB) berguna untuk membuat model persamaan regresi untuk peramalan belanja
 
dari suatu kegiatan. Peramalan belanja dengan model regresi ini dengan cara
 
  menghitung belanja rata-rata, menghitung batas minimum belanja, dan batas
 
 
maksimum belanja, serta menghitung prosentase alokasi kepada masing-masing
  objek belanja.
 
  Persamaan garis regresi sederhana adalah sebagai berikut :
  Y = a + bX
 
  Di mana X dan Y adalah nilai-nilai yang diperoleh dari pengamatan.Yang
  perlu ditaksir adalah koefisien a dan b.
 
  Taksiran terbaik untuk koefisien a dan b adalah dengan menggunakan
  metode kuadrat terkecil , yaitu :
 
b = ∑(x-ẍ)(y-ӯ)
∑ ( x - ẍ )2

POLBAN
Dimana :

n = Jumlah Data

Dimana koefisien a merupakan biaya tetap, dan koefisien b merupakan


koefisien untuk belanja variabel.

23
 
 
 
  c) Pendekatan Focused Group Discussion (Metoda Diskusi)
 
  Pendekatan metode diskusi dalam penyusunan Analisis Standar Belanja
  (ASB) digunakan untuk memperoleh masuk-masukan dari Satuan Kerja Perangkat
 
  Daerah (SKPD) tentang aktivitas dan output dari suatu kegiatan, dan juga
  masukan-masukan tentang cost driver dari suatu kegiatan. Hasil yang diharapkan
 
  dari pendekatan metode diskusi ini adalah kesepahaman tentang aktivitas, output
 
dan cost driver dari suatu kegiatan antara penyusun dan Satuan Kerja Perangkat
 
  Daerah (SKPD) dalam penyusunan Analisis Standar Belanja (ASB).
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

POLBAN

24
 
 
 
  BAB IV
 
  HASIL DAN PEMBAHASAN
 
 
 
  4.1. Tahap Pengumpulan Data
  Pada tahap ini, dilakukan pengumpulan data Rencana Kerja dan Anggaran/
 
  Dokumen Pelaksanaan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (RKA/DPA-
 
SKPD) Tahun Anggaran 2013 yang ada jenis kegiatan Bimbingan Teknik/
 
  Pelatihan, dan kegiatan Sosialisasi/ Penyuluhan yaitu sebanyak 34 Satuan Kerja
 
Perangkat Daerah (SKPD) di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Bat.
 
  Adapun daftar 34 SKPD yang dijadikan objek dalam penelitian ini adalah sebagai
 
  berikut:
  Tabel. IV. 1 Daftar SKPD Yang Menjadi Objek Penelitian
 
  No. Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD)
  1 Dinas Pendidikan
 
  2 Dinas Kesehatan
 
3 DinasPermukiman dan Perumahan
 
  4 Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah
 
5 Dinas Perhubungan
6 Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah
7

8
POLBAN
Badan Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, Pengendalian
Kependudukan dan Keluarga Berencana
Dinas Sosial
9 Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi
10 Dinas Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah
11 Dinas Pariwisata dan Kebudayaan
12 Dinas Olah Raga dan Pemuda
13 Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat Daerah
14 Sekretariat Daerah
15 Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah

25
 
 
 
  16 Inspektorat
 
  17 Badan Kepegawaian Daerah
  18 Badan Pendidikan dan Pelatihan Daerah
 
  19 Badan Pelayanan Perijunan Terpadu
 
20 Sekretariat Komisi Penyiaran Indonesia Daerah
 
  21 Satuan Polisi Pamong Praja
 
  22 Sekretariat DP KORPRI
  23 Badan Ketahanan Pangan Daerah
 
  24 Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa
  25 Dinas Komunikasi dan Informatika
 
  26 Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah
 
 
27 Dinas Pertanian Tanaman Pangan
  28 Dinas Perkebunan
 
  29 Dinas Peternakan
  30 Dinas Kehutanan
 
  31 Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral
 
32 Dinas Perindustrian dan Perdagangan
 
  33 Badan Penanggulangan Bencana Daerah
34 Dinas Perikanan dan Kelautan

POLBAN
4.2. Tahap Penyetaraan Kegiatan
Tahap Penyetaraan kegiatan dilakukan setelah tahap pengumpulan data
untuk mengklasifikasikan data Rencana Kerja dan Anggaran/ Dokumen
Pelaksanaan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (RKA/DPA-SKPD). Data
yang diperoleh pada tahap pengumpulan data digolongkan ke dalam kategori
kegiatan yang memiliki pola kegiatan dan bobot kerja yang setara. Tahap
penyetaraan kegiatan ini dapat digambarkan sebagai berikut:

26
 
 
 
 
 
Jenis Kegiatan Bimbingan
  Teknis/ Pelatihan
 
  Database
  DPA 34 SKPD
 
  Jenis Kegiatan Sosialisasi/
Penyuluhan
 
  Gambar 3.2Tahap Penyetaraan Jenis Kegiatan
 
 
 
 
Pada tahap penyetaraan kegiatan ini diperoleh 74 jenis kegiatan bimbingan
  teknis/pelatihan dan 49 jenis kegiatan Sosialisasi/penyuluhan. Adapun hasil
 
  penyetaraan kegiatan pada tahap ini disajikan sebagai berikut:
 
 
  Tabel IV.2. Rincian Biaya Kegiatan Bimbingan Teknis/Pelatihan
 
Cost Driver
  No Program/Kegiatan Output Total
  Orang Hari (OH) Anggaran (Rp)
  1 Diklat Fungsional Auditor Ketua Tim 25 20 500 230.950.000
 
2 Diklat Tektis Substantif Legal Drfter 40 6 240 94.683.000
 
  3 Diklat Tektis Substantif Kepala Sekolah SLB 30 11 330 224.216.000
  Kegiatan Bimbingan teknis Perlindungan Korban
4 Tindak Kekerasan dan Pekerja Migran
40 1 40 18.050.000

Kegiatan Bimbingan Keterampilan UEP Pekerja


5 40 2 80 28.575.000

POLBAN
Migran (Daerah)
Pelatihan Pengolahan Hasil Pertanian Bagi
6 Aparatut dan Non Aparatur
30 6 180 133.360.000

7 Pelatihan THL-POPT 387 5 1935 728.540.000


Peningkatan kapasitas SDM Laboratorium di
8 Jawa Barat 90 3 270 190.900.000

Bimbingan Pelatihan Sistem Manajemen Mutu


9 ISO 9001:2008 40 1 40 42.915.000

Bimtek Pengelolaan Arsip Bagi Sekretaris


10 Desa/Kelurahan Se Jawa Barat 40 1 40 67.160.000

Bimbingan Penulisan Karya Ilmiah Bagi


11 Fungsional Perencana
20 4 80 176.725.000
Bimbingan Teknis Pengelola Data
12 52 2 104 81.575.000
Bimbingan Teknis Pelaksanaan Perbaikan
13 Rutilahu
1.000 1 1000 1.478.647.000

27
 
 
 
  Cost Driver
No Program/Kegiatan Output Total
  Hari
Orang (OH) Anggaran (Rp)
 
Bimbingan Teknis Peningkatan Infrastruktur
  14 Dasar dan Rehab Kantor Desa
5.406 1 5406 2.297.446.000
  Bimbingan Teknis Perkoperasian di kalangan
  15 Generasi Muda dan Kelompok Strategis
100 5 500 230.232.500
 
16 Pelatihan Akuntansi 25 35 875 1.218.645.000
 
 
17 Pelatihan Teknis Substantis 30 9 270 700.785.000
 
Pembinaan dan Pengawasan Pengujian
  18 Kendaraan Bermotor di Jawa Barat
50 2 100 247.440.000
 
19 Pelatihan Literasi Media 100 1 100 24.379.300
 
Bimbingan Teknis Perencanaan Pengadaan
  20 Pegawai yang tepat
225 1 225 314.537.500
 
Pembinaan Mental Anggota KORPRI Melalui
  21 Pelatihan Kecerdasan Mental
75 2 150 91.675.000
 
Sosialisasi dan Pelatihan Bidang Politik Bagi
  22 Partai Politik di Jawa Barat
180 2 360 299.742.700
 
  23 Bimbingan Teknis Konservasi Cagar Budaya 10 7 70 204.483.000
  24 Pelatihan Layanan Pendidikan Anak Autis 25 4 100 104.520.000
  25 Pelatihan Mata Pelajaran Penjas Adaptif 25 4 100 106.565.000
  Pelatihan Peningkatan Profesionalisme Pendidik
  26 SMK Mata Pelajaran Produktif
192 4 768 744.549.500
  Pelatihan Untuk Daerah Rawan Bencana Alam
27 Geologi
50 2 100 50.260.000
 
  Pelatihan Pengembangan Usaha Pertambangan
  28 Skala Kecil di Kabupaten Tasikmalaya dan 25 3 75 120.000.000
Kabupaten Ciamis
Bimbingan Teknis Penguatan Pengelola
29 Pembangkit Energi Air Skala Kecil
25 2 50 180.000.000

30

31
POLBAN
Bimbingan dan Pelatihan Penggunaan Bahan
Tambahan Makanan (BTM) Pada Industri
Makanan dan Minuman
Pelatihan Gambar Teknis Bagi IKM Komponen
Otomotif
25

20
3

4
75

80
85.625.000

60.500.000
32 Bimbingan Teknis Desain Furniture Rotan 25 3 75 89.775.000
33 Bimbingan Teknis Akreditur 25 3 75 105.850.000
34 Pelatihan Bagi Pencari Kerja ke Luar Negeri 800 17 13600 5.309.415.000
461.060.000
35 Pelatihan Jabar Mengembara 400 3 1200

36 Pelatihan Kewirausahaan Purna TKI 40 6 240 177.075.000


37 Bimbingan Teknis Metodologi Instruktur LPK 50 5 250 137.275.000
38 Bimbingan Teknis Pendidikan HAM 50 3 150 149.140.000

28
 
 
 
  Cost Driver
  No Program/Kegiatan Output Total
  Orang Hari (OH) Anggaran (Rp)
  Pelatihan Penyusunan Bahan Ajar Berbasis
39 416 3 1248 929.256.000
  Multimedia
  40
Pelatihan Peningkatan Profesionalisme Bagi
234 2 468 259.245.000
  Pengawas TK/SD, SMP, SMA
  Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 Bagi
41 Guru SMP
520 3 1560 811.627.862
 
  Pelatihan Manajemen Terpadu Balita Sakit Bagi
  42 Bidan Yang Ditempatkan Di Puskesmas PONED 72 6 432 255.041.000
Hasil Pembangunan 2011
 
Pelatihan APN Bagi Bidan Yang Bertugas di
  43 Puskesmas PONED
336 10 3360 1.574.853.000
 
Pelatihan Bagi Bidan dan Dokter Yang Bertugas
  44 di Puskesmas PONED
348 12 4176 1.797.844.000
 
Pelatihan USG Yang Bertugas di Puskesmas
  45 PONED
100 5 500 216.933.000
  46 TOT HIV/AIDS 60 2 120 64.443.000
  Pelatihan Jaminan Kesehatan Bagi Petugas
  47 Puskesmas
162 6 972 365.275.000
  48 Pelatihan Petugas Statistik Perikanan 23 4 92 53.054.000
  Pelatihan Auditor CBIB (Cara Budidaya Ikan
  49 Yang Baik)
30 4 120 90.313.500
  Pelatihan Manajer Pengendalian Mutu
50 30 4 120 90.313.500
  Perbenihan
  51
Pelatihan Teknis Pengelolaan Induk Ikan Bagi
34 3 102 60.696.000
  Petugas Balai Benih Ikan Kab/Kota di Jawa Barat
  52
Pelatihan Teknis Pembenihan Ikan Mas dan Nila
30 2 60 55.306.000
Nirwana Bagi Unit Pembenihan Rakyat (UPR)
Pelatihan Budidaya Ikan Patin Bagi Petugas
53

POLBAN
Balai Benih Ikan Kab/Kota di BPBAT Cijengkol 25 3 75 36.756.000
Subang
54 Pelatihan Teknologi Ikan Gurame 110 2 220 58.900.000
Bimbingan Teknis Penanganan Ikan Hasil
55 Tangkapan diatas Kapal
40 4 160 148.115.000

Bimbingan Teknis Peningkatan kemampuan


56 Aparatur PPNS Terhadap Perda
65 6 390 400.000.000

Bimbingan Teknis Rencana Pengembangan


57 Profesionalisme Pol PP
26 3 78 150.000.000

Bimbingan Teknis Revitalisasi Pembinaan


58 Kemampuan Aparatur Pol PP
30 3 90 130.000.000
Pelatihan Penyusunan Rencana Kontijensi 3
59 Waduk Besar Saguling, Cirata, dan Jatiluhur di 60 4 240 486.118.500
Jawa Barat

29
 
 
 
  Cost Driver
  No Program/Kegiatan Output Total
  Orang Hari (OH) Anggaran (Rp)
  Pelatihan Pemulihan Rehabilitasi Dan
  60 Rekonstruksi Pasca Bencana Bagi Kelompok 100
50 2 76.064.000
  Masyarakat
Pelatihan Penilaian Kerusakan dan Kerugian
  61 600
Pasca Bencana 120 5 339.450.000
 
Bimbingan Teknis Capaian Stabilitas Harga dan
  62 Pasokan Pangan Sesuai Dengan Standar 324
  108 3 173.425.000
Pelayanan Minimal
  Bimbingan Teknis Petugas Pemantau Distribusi,
63 216
  Harga dan Pasokan Pangan 72 3 116.493.000
 
64 Bimbingan Teknis Akses Pangan 120
  40 3 76.775.000
  65
Pelatihan Seleksi dan Tatacara Pemotongan
195
  Hewan Kurban 65 3 135.915.000
  66 Pelatihan Rantai Dingin Vaksin 88
  22 4 51.660.000
Pelatihan Pemeriksa Kebuntingan Ternak
  67 225
Domba 75 3 203.810.000
 
  68 Pelatihan Petugas ATP 45
15 3 33.350.000
  Bimbingan Teknis Budidaya Tanaman
  69 300
Tembakau 60 5 404.930.000
 
70 Pelatihan Penguatan Kelembagaan Perkebunan 90
  30 3 233.055.000
  Pembinaan Model Desa Konservasi (MDK) dan
71 90
  Model Kampung Konservasi (MKK) di 9 lokasi 30 3 150.152.500
  Fasilitasi dan Pembinaan Kelompok
72 Satlakdalkarhut di Kabupaten Majalengka, 120
40 3 138.825.000
Kabupaten Garut dan Kabupaten Bandung

POLBAN
Pelatihan Manajemen Organisasi dan
73 Kepemimpinan Bagi Pengurus Organisasi 300
100 3 249.800.000
Perempuan
Pelatihan Pengembangan Program P2TP2A Bagi
74 156
Pengurus P2TP2A 52 3 87.556.000

30
 
 
 
  Tabel IV.3. Rincian Biaya Kegiatan Sosialisasi/Penyuluhan
 
  Cost Driver
  No Program/Kegiatan Output Total
  Orang Hari (OH) Anggaran (Rp)
Sosialisi Lanjut Usia Produktif Penerima
  1 150
Bantuan UEP 25 6 90.450.000
 
  2 Sosialisi Raperda 100
100 1 82.250.000
 
  3 Sosialisi Teknis Budidaya Sayuran Organik 45
45 1 58.205.250
  Sosialisi Penggunaan Benih Tanaman Pangan
  4 150
Unggul Bersertifikat 50 3 85.812.500
  Sosialisi Angka Kredit Jafung Pustakawan dan
5 140
  Arsiparis 140 1 139.615.500
  Sosialisi Data/Informasi/Statistik Pembangunan
6 52
  Jawa Barat 26 2 34.875.000
  7 Sosialisi Pemberdayaan Desa Mandiri Energi 70
  35 2 163.637.500
  Penyuluhan Perkoperasian di Kalangan
8 500
  Generasi Muda dan Kelompok Strategis 100 5 230.232.500
Sosialisi Keselamatan Pelayaran Pada Waduk
  9 120
Cirata 120 1 35.000.000
 
  10 Sosialisi Program 3R 420
35 12 300.000.000
  Sosialisi Norma Penyelenggaraan Jasa
  11 300
Konstruksi 75 4 250.000.000
  Sosialisi Peran KPID Jabar Dalam
  12 Meningkatkan Pemahaman Literasi Media 300
  75 4 192.600.000
Penyiaran Kepada Lembaga Pendidikan

13 Sosialisi Permendagri No.5 Tahun 2005 100


100 1 118.458.000
14

15

16
POLBAN
Sosialisi dan Simulasi Sasaran Kinerja Pegawai
Penyuluhan Hukum Bagi Anggota KORPRI
Kab/Kota dan UPTD/Balai Provinsi Jawa Barat
Sosialisi Undang-Undang Bidang Politik Bagi
75

100
5

2
375

200

360
257.995.000

140.548.500

Parpol di Jawa Barat 180 2 299.742.700


17 Sosialisi Konservasi Cagar Budaya 75
25 3 557.425.000
18 Sosialisi Penanganan Anak Autis 200
100 2 118.000.000
19 Sosialisi Legisda 100
100 1 271.875.000
Sosialisi Penilaian Kinerja Guru dan
20 Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan Bagi 20
10 2 49.086.000
Kepala SLB

31
 
 
 
 
 
  Cost Driver
  No Program/Kegiatan Output Total
  Orang Hari (OH) Anggaran (Rp)
  21 Sosialisi Daerah Rawan Bencana Alam Geologi 100
50 2 50.260.000
 
Sosialisi Peningkatan Upaya Konservasi dan
  22 20
Penghematan Energi 10 2 155.590.000
  Sosialisi Peningkatan Ekonomi Masyarakat
  23 Desa Melalui Pembentukkan Industri Kelapa 50
  50 1 67.000.000
Terpadu
  Sosialisi Perda dan Pergub Tentang
24 40
  Pengendalian Produksi dan Peredaran Garam 40 1 46.165.000
  Sosialisi Program Jabar Mengembara dan
25 500
  Informasi Peluang Kerja 500 1 382.925.000
  26
Sosialisi Penyusunan Indeks Kepuasan
100
  Masyarakat (IKM) 100 1 39.700.000
  Sosialisi Program Legislasi Daerah Tahun 2013
27 600
  di 4 BKPPW 150 4 490.900.000
  Sosialisi Peraturan Perundang-undangan di 4
28 600
  Wilayah Jawa Barat 300 2 524.510.000
  29 Sosialisi Tata Naskah Dinas 65
65 1 10.294.600
 
Sosialisi Kegiatan Pemilihan Pendidik, Tenaga
  30 Kependidikan Berprestasi dan Berdedikasi 104
  52 2 60.630.000
Tahun 2013
 
31 Sosialisi Software Laporan Distribusi Obat PBF 50
  50 1 47.640.000
  Sosialisi Pengendalian Obat Ikan, Kimia dan
32 100
Biologi Dalam Budidaya Perikanan 50 2 88.295.000
Sosialisi Perda Pengelolaan Perikanan Dalam
33 45

POLBAN 45 1 42.463.000
Rangka Penataan Keramba Jaring Apung (KJA)
Sosialisi Program Budidaya Perikanan Melalui
34 400
Pergelaran Seni Tradisional 200 2 243.850.000
35 Sosialisi Cek Fisik Kapal Perikanan 168
56 3 145.225.000
Sosialisi Paket Bantuan Kapal Perikanan >30
36 70
GT 35 2 65.950.000
Sosialisi Aplikasi Data Tidak Terstruktur OPD
37 Provinsi dan Kab/Kota Se-Jawa Barat (5 OPD 60
60 1 59.600.000
Pada 13 Kab/Kota)
Sosialisi Aplikasi Data Tidak Terstruktur OPD
38 Provinsi dan Kab/Kota Se-Jawa Barat (5 OPD 70
35 2 60.100.000
Pada 26 Kab/Kota)
Sosialisi Bantuan Peralatan Olah Raga Untuk
39 125
Pondok Pesantren 125 1 15.050.000
Sosialisi dan Koordinasi ke 4 BKPP dan 26
40 100
Kap/Kota 50 2 71.300.000

32
 
 
 
 
 
  Cost Driver
  No Program/Kegiatan Output Total
  Orang Hari (OH) Anggaran (Rp)
Sosialisi Kesadaran Masyarakat Terhadap
 
41 Bencana di Daerah rawan Bencana Gunung 500
  250 2 498.419.000
Berapi di Jawa Barat
  Sosialisi Juklak Pemantauan Distribusi dan
  42 70
Harga Pangan 35 2 65.056.000
  Sosialisi Peraturan Perundang-undangan Terkait
  43 Pemanfaatan TSL yang Tidak Dilindungi dan 38
38 1 36.731.250
  NonApendiks CITES di Kab Sumedang
  Sosialisi Kriteria dan Indikator Green Province
44 240
  di Jawa Barat 60 4 219.030.000
  Sosialisi dan Pembinaan Pengamanan Hutan
  45 Kepada Masyarakat di Kab Cianjur dan Kab 100
50 2 76.150.000
Bandung
 
Sosialisi Hasil Penyusunan Model
  46 85
Kependudukan 85 1 81.450.000
 
  47 Sosialisi Pengembangan Kota Layak Anak 225
45 5 209.205.100
  Sosialisi Pengembangan Sekolah Ramah Anak
  48 120
di 3 Wilayah 40 3 117.996.000
  Temu Lapang Penyuluh Perikanan Dalam
  49 Rangka Optimalisasi Program Pengembangan 46
23 2 24.475.000
  Budidaya Perikanan
  Sumber: Dokumen Pelaksanaan Anggaran Satuan Kerja Perangkat daerah (DPS-
  SKPD) Tahun Anggaran 2013 (Data Diolah)
 

4.3. Tahap Pembentukan Model

POLBAN
Pada tahap ini akan dilakukan pembentukan model Analisis Standar
Belanja (ASB) berdasarkan DPA SKPD yang telah diolah. Adapun tahap-tahap
pembentukan model sebagai berikut:
1. Penentuan pemicu atau pengendali belanja (biasa disebut sebagai cost
driver) dari tiap-tiap jenis kegiatan
2. Penentuan nilai belanja tetap (fixed cost) dan
3. Penentuan nilai belanja variable (variable cost) untuk setiap jenis kegiatan
dengan menggunakan metode Least Square (Kuadrat Terkecil)

Model Analisis Standar Belanja (ASB) yang akan dibentuk dalam penelitian ini
adalah model Analisis Standar Belanja (ASB) kegiatan Bimbingan Teknis

33
 
 
 
  (Bimtek)/Pelatihan dan model Analisis Standar Belanja (ASB) kegiatan
 
  sosialisasi/penyuluhan. Pemilihan kedua kegiatan tersebut yang akan dijadikan
  model Analisis Standar Belanja (ASB) didasarkan pada dokumen yang penulis
 
  dapatkan dari bagian Anggaran Biro Keuangan Sekretariat Daerah Pemerintah
  Provinsi Jawa Barat ternyata hampir semua Satuan Kerja Perangkat Daerah
 
  (SKPD) menganggarkan kegiatan Bimbingan Teknis dan Sosialisasi/Penyuluhan
  dan nilainya sangat bervariatif tanpa memiliki standar biaya yang baku.
 
 
 
4.3.1. Model Analisis Standar Belanja (ASB) Kegiatan Bimbingan Teknis /
 
  Pelatihan
 
Berdasarkan hasil perhitungan pada lampiran 2, diperoleh persamaan sebagai
 
  berikut:
 
 
  b= ∑(x-ẍ)(y-ӯ)
 
  ∑ ( x - ẍ )2
 
  b = 90.056.643.062.688
  228.245.519
 
  b = 394.560,40

POLBAN
Sehingga nilai a dapat dicari dengan cara sebagai berikut:
ӯ = a + bx
371.792.194,08 = a + (394.560,40)(640,34)
371.792.194,08 = a + 252.651.953,33

a = 119.140.240,75

Setelah koefisien a dan b diketahui, maka dapat ditentukan suatu formula


belanja/model Analisis Standar Belanja sebagai berikut:
Y = a+bX
Y = 119.140.240,75 + 394.560,40 X

Penyelenggaraan Pelatihan Teknis/Bimbingan Teknis merupakan kegiatan untuk


memberikan pelatihan kepada para pegawai di lingkungan satuan kerja perangkat

34
 
 
 
  daerah dan kepada masyarakat untuk memperoleh keahlian tertentu.
 
  Dari hasil perhitungan diatas, dapat dijabarkan sebagai berikut:
  Pengendali belanja (cost driver):
 
  Jumlah Peserta dan jumlah hari pelatihan.
  Satuan pengendali belanja tetap (fixed cost):
 
  = Rp. 119.140.240,75 per Kegiatan
  Satuan pengendali belanja variabel (variable cost):
 
  = Rp. 394.560,40 per Jumlah peserta
 
Rumus Perhitungan Belanja Total:
 
  Belanja Tetap + Belanja Variabel
 
= Rp. 119.140.240,75 + (Rp. 394.560,40 x Jumlah peserta x jumlah hari)
 
  Pengendali belanja (cost driver) adalah faktor-faktor yang mempengaruhi besar
 
  kecilnya belanja dari suatu kegiatan. Faktor-faktor ini tentunya merupakan beban
  kerja riil dari kegiatan yang dimaksud. Dalam kegiatan sosialisasi /penyuluhan,
 
  pengendali belanjanya yaitu Jumlah Peserta dan jumlah hari sosialisasi.
 
 
  Satuan Pengendali Belanja Tetap (fixed cost):
  Satuan pengendali belanja tetap merupakan belanja yang nilainya tetap untuk
 
melaksanakan satu kegiatan. Belanja tetap ini tidak dipengaruhi oleh adanya
perubahan volume/target kinerja suatu kegiatan. Besarnya nilai satuan pengendali

POLBAN
belanja tetap merupakan batas maksimal untuk setiap kegiatan dimana penyusun
anggaran tidak boleh melebihi nilai tersebut, namun diperbolehkan apabila
menentukan belanja tetap dibawah nilai yang ditetapkan.

Satuan Pengendali Belanja Variabel (variable cost):


Menunjukkan besarnya perubahan belanja variabel untuk masing-masing kegiatan
yang dipengaruhi oleh perubahan/penambahan.

35
 
 
 
  4.3.2. Model Analisis Standar Belanja (ASB) Kegiatan Sosialisasi/
 
  Penyuluhan
  Berdasarkan hasil perhitungan pada lampiran 2, diperoleh persamaan
 
  sebagai berikut:
 
 
  b= ∑(x-ẍ)(y-ӯ)
 
  ∑ ( x - ẍ )2
  b = 845.968.802.735,71
 
1.232.728,00
 
  b = 686.257,47
 
 
 
Sehingga nilai a dapat dicari dengan cara sebagai berikut:
 
  ӯ = a + bx
  152.485.069,39 = a + (686.257,47)(174,86)
  152.485.069,39 = a + 119.997.021,07
 
  a = 32.488.048,32
 
  Setelah koefisien a dan b diketahui, maka dapat ditentukan suatu formula
  belanja/model Analisis Standar Belanja sebagai berikut:
 
Y=a+bX
Y = 32.488.048,32 + 686.257,47 X

POLBAN
Penyelenggaraan Soialisasi/penyuluhan merupakan kegiatan untuk memberikan
penyuluhan, baik kepada para pegawai di lingkungan satuan
perangkatdaerah dan kepada masyarakat untuk memperoleh pengetahuan tertentu.
kerja

Dari hasil perhitungan diatas, dapat dijabarkan sebagai berikut:


Satuan pengendali belanja tetap (fixed cost):
= Rp. 32.488.048,32 per Kegiatan
Satuan pengendali belanja variabel (variable cost):
= Rp. 686.257,47 per Jumlah peserta
Rumus Perhitungan Belanja Total:
Belanja Tetap + Belanja Variabel
= Rp. 32.488.048,32 + (Rp. 686.257,47 x Jumlah peserta x jumlah hari)

36
 
 
 
  Pengendali belanja (cost driver) adalah faktor-faktor yang mempengaruhi besar
 
  kecilnya belanja dari suatu kegiatan. Faktor-faktor ini tentunya merupakan beban
  kerja riil dari kegiatan yang dimaksud. Dalam kegiatan sosialisasi /penyuluhan,
 
  pengendali belanjanya yaitu Jumlah Peserta dan jumlah hari sosialisasi.
 
 
  Satuan Pengendali Belanja Tetap (fixed cost):
  Satuan pengendali belanja tetap merupakan belanja yang nilainya tetap untuk
 
  melaksanakan satu kegiatan. Belanja tetap ini tidak dipengaruhi oleh adanya
 
perubahan volume/target kinerja suatu kegiatan. Besarnya nilai satuan pengendali
 
  belanja tetap merupakan batas maksimal untuk setiap kegiatan dimana penyusun
 
anggaran tidak boleh melebihi nilai tersebut, namun diperbolehkan apabila
 
  menentukan belanja tetap dibawah nilai yang ditetapkan.
 
 
  Satuan Pengendali Belanja Variabel (variable cost):
 
  Menunjukkan besarnya perubahan belanja variabel untuk masing-masing kegiatan
  yang dipengaruhi oleh perubahan/penambahan.
 
 
 
 

POLBAN

37
 
 
 
  BAB V
 
  KESIMPULAN DAN SARAN
 
 
  5.1. Kesimpulan
  Berdasarkan pembahasan yang telah dipaparkan sebelumnya, maka dapat
 
  dibuat suatu kesimpulan sebagai berikut:
  1. Model penyusunan Analisis Standar Belanja (ASB) yang dihasilkan berupa
 
  model prediksi yang bermanfaat dalam menunjang proses perencanaan,
 
penganggaran, dan pengawasan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja
 
  Daerah (APBD) Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang dilakukan melalui
 
tahap-tahap sebagai berikut:
 
  b. Tahap pengumpulan data
 
  c. Tahap penyetaraan kegiatan
  d. Tahap pembentukan model, yang dilakukan melalui:
 
  1) Penentuan pengendali biaya/pemicu terjadinya biaya (cost driver)
  2) Penentuan nilai belanja tetap (fixed cost) dan
 
  3) Penentuan nilai belanja variable (variable cost) dengan menggunakan
  metode least square.
 

2. Model yang dihasilkan berupa model prediksi pada Analisis Standar Belanja

POLBAN
untuk kegiatan bimbingan teknis/pelatihan adalah Y
394.560,40 X
= 119.140.240,75 +
dan Model prediksi pada Analisis Standar Belanja untuk
kegiatan sosialisasi/penyuluhan adalah Y = 32.488.048,32 + 686.257,47 X ,
dimana Y adalah total belanja, dan X adalah pengendali biayanya (cost
driver). Kedua model ini dapat digunakan untuk menilai kewajaran program
atau kegiatan yang akan dilaksanakan pada Satuan Kerja Perangkat Daerah
(SKPD) di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

5.2. Saran
Saran-saran yang dapat penulis sampaikan sebagai masukan pada
Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat adalah sebagai berikut:

38
 
 
 
  1. Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat sebaiknya mengembangkan Analisis
 
  Standar Belanja (ASB) sebagaimana yang telah diamanatkan dalam peraturan
  perundang-undangan agar tercipta anggaran yang efektif dan efisien.
 
  2. Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat sebaiknya memberikan ketegasan
  dalam menentukan satuan waktu yang digunakan dalam kegiatan bimbingan
 
  teknis/pelatihan agar ada keseragaman sehingga penyusunan Analisis Standar
  Belanja lebih tepat.
 
  3. Dasar Penyusunan Analisis Standar Belanja (ASB) sebaiknya tidak hanya
 
melihat waktu satu tahun saja agar dapat diperoleh model ASB yang lebih
 
  baik dalam memprediksi total belanja.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

POLBAN

39
 
 
 
  DAFTAR PUSTAKA
 
 
  Atkinson, Anthony A. et al Dialihbahasakan oleh Miranti kartika. 2009. Akuntansi
  Manajemen. Edisi kelima. PT INDEKS
 
  APKASI, 2009, Penyusunan Analisis Standar Belanja :Pengalaman Praktis di
  Pemerintah Daerah.
 
  Bastian, Indra, 2009. Sistem Perencanaandan Penganggaran Pemerintah Daerah
 
di Indonesia, Jakarta. Salemba Empat.
 
 
Blocher, Chen, Lin, 2001. Manajemen Biaya Dengan Tekanan Stratejik. Penerbit:
 
Salemba Empat Jakarta.
 
 
 
Garrison, Ray H Eric Noreen, and Peter C. Brewer. 2006. Managerial
 
Accounting. McGraw-Hill Companies.
 
  Garrison, Noreen and Brewer Dialihbahasakan oleh Nury Hinduan. 2006.
  Akuntansi Manajerial. Edisi 11. Penerbit Salemba Empat
 
  Horngren, Charles T., Sundem, Gary L and Stratton, William O. 2002.
  Introduction to Management Accounting. 12th Edition, Prentice Hall
  Internationa
 
  Imam Ghozali & Dwi Ratmono, 2008. Akuntansi Keuangan Pemerintah Pusat
  (APBN) Dan Daerah (APBD). Badan Perbit : UNDIP.

Jackson, Steven R., Sawyer, Roby B., Jenkins, J Gregory. 2009. Managerial

POLBAN
Accounting Focus On Ethical Decision making. Fifth Edition. South
Western Cengage Learning

Kawedar, Warsito, 2008, dkk. Akuntansi Sektor Publik : Pendekatan


Penganggaran Daerah dan Akuntansi Keuangan Daerah / Buku 1,
Semarang, Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

Mardiasmo. 2009. Akuntansi Sektor Publik. Penerbit: CV. Andi Offset.

Mulyadi. 2001. Akuntansi Manajemen : Konsep, Manfaat & Rekayasa . Edisi 3.


Penerbit Salemba Empat

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang


PengelolaanKeuangan Daerah.

40
 
 
 
  Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas
  Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Keuangan
  Daerah.
 
  Peraturan Pemerintah Nomor 105 Tahun 2000 tentang Pengelolaan dan
  Pertanggungjawaban Keuangan Daerah.
 
  Sekaran, Uma and Bougie, Roger. 2013. Research Methods for Business: A Skill
  Building Approach. John Wiley & Sons Ltd. UK.
 
  Sugiyono, 2007, Metode Penelitian Bisnis, Bandung, Alfabeta.
 
  Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Penerbit
  Alfabeta. Bandung.
 
  Sugiono, 2011. Metode Penellitian Bisnis Kombinasi, CV Alfabeta : Bandung
 
 
Taicu, Marian. 2010. Ethics in Management Accounting. Scientific Bulletin –
 
Economic Sciences, Vol.9
 
 
Tanjung,Abdul Hafiz, 2010, Peranandan Teknik Penyusunan Analisis Standar
 
 
Belanja Dalam Penyusunan APBD. Bimbinagn Teknis Penyusunan
 
Standar Biaya Kabupaten Pelalawan-Riau.
 
  Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.
 
  Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional.

POLBAN
Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Dana Perimbangan Keuangan
antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.

41
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

POLBAN

42
 
REKAP PENGGUNAAN ANGGARAN
 
 
No
  Keterangan Satuan Volume Harga Jumlah %
1  Bahan dan Peralatan
  Textbook buah 2 300.000 600.000
 
Buku buah 3 200.000 600.000
 
  Print Jurnal lembar 1000 200 200.000
  Foto Copy Bahan Lain (Peraturan, dll) lembar 1000 200 200.000
  ATK lumsum 1 500.000 500.000
  Modem buah 2 750.000 1.500.000
 
Sub Jumlah 3.600.000 36
 
 
2  Pengumpulan Data
  Transportasi dalam kota OK 10 50.000 500.000
 
Sub Jumlah 500.000 5
 
 
3  Honorarium
  Ketua Peneliti Jam 300 6.000 1.800.000
  Anggota Peneliti Jam 240 5.000 1.200.000
 
  Sub Jumlah 3.000.000 30
 
4  Biaya lain-lain
  Laporan Penelitian
 
Penggandaan lembar 750 200 150.000
 
  Penjilidan Jilid 10 25.000 250.000

Seminar Kegiatan 1 1.500.000 1.500.000

5
Sub Jumlah

Pajak & Kontribusi


Pajak
POLBAN 500.000
1.900.000 19

Kontribusi 500.000
Sub Jumlah 1.000.000 10
Total Biaya 10.000.000 100
BIODATA PENELITI
 
 
 
 
 
 
A. Keterangan Perorangan
  Lengkap
Nama : Ira Novianty, S.E.,M.Si.,Ak.,CA
N I P : 197611162009122002
Tempat
  / Tanggal Lahir : Bandung, 16 November 1976
Jenis Kelamin : Perempuan
 
Agama : Islam
  Perkawinan
Status : Kawin
Alamat
  Rumah Jalan : Nata Endah Blok C.30
Kelurahan/Desa : Sayati
  Kecamatan : Margahayu
  Kabupaten/Kota : Bandung
  Provinsi : Jawa Barat
Kode Pos : 40228
  Telpon : 022-5415810
  Handphone : GSM 081 320 950005
  : CDMA -
Email : iranovianty95@yahoo.com atau ira.novianty@polban.ac.id
 
B.  Pendidikan
B.1  Pendidikan di Dalam dan di Luar Negeri
  Tingkat Nama Lembaga Jur/Prodi/Kons
STTB/Tanda
Negara/Kota
  Lulus/Ijazah Tahun

  1 2 3 4 5
S1 STIE Bandung Akuntansi 1999 Bandung
 
  S2 Universitas Padjadjaran Akuntansi 2008 Bandung
 
  Profesi Pendidikan Profesi Akuntansi (PPA)
Universitas Widyatama
Akuntansi 2006 Bandung

 
B.2  Kursus/Latihan (Lokakarya/Seminar/Workshop/Diskusi/Magang) di Dalam dan di Luar Negeri
  Ijazah/Tanda
Ket.
No. Nama Kursus/Latihan Mulai Sampai Lulus/Surat Negara/Kota
(Keanggotaan)
Keterangan Tahun
1 2 3 4 5 6 7

POLBAN
1. Training of Trainer Agustus Sertifikat Yogyakarta Peserta
2009
2. Pelatihan Metodologi 10 Mei 2010 18 Mei 2010 Sertifikat Bandung Peserta
Pembelajaran
3. Pelatihan Asesor 2010 2010 Sertifikat Asesor Bandung Peserta
4. Seminar Internasional Asia 23 Januari 25 Januari Sertifikat Bali Pembicara
Pasifik Bisnis Inovation 2011 2011
5. Seminar Nasional 27 Maret 28 Maret Sertifikat Bandung Pembicara
Akuntansi dan Bisnis 2012 2012
6. Pelatihan Sertifikasi 9 Juni 2011 11 Juni 2011 Sertifikat Bandung Peserta
Pengadaan Barang dan Jasa
7. Workshop Perpajakan 13 Maret 13 Maret Sertifikat Bandung Peserta
2013 2013
8. PPL Business Combination 11 Juni 2013 13 Juni 2013 Sertifikat Jakarta Peserta
Accounting
9. Pelatihan Metodologi 4 September 4 September Sertifikat Bandung Peserta
Penelitian Dan Pembuatan 2013 2013
Road Map
C. Penelitian 2 Tahun Terakhir

No. Judul Jabatan Mulai Sampai Sumber Dana


1 2 3 4 5 6
1. Analisis Tingkat Kesehatan BUMN Non Ketua Peneliti Januari 2013 April 2013 Mandiri
Infrastruktur
2. Pengaruh Asimetri Informasi Terhadap Praktik Ketua Peneliti April 2012 Agustus 2012 Mandiri
Manajemen Laba
3. Analisis Laporan Keuangan Untuk Menilai Ketua Peneliti Maret 2011 September DIPA Polban
Kinerja Keuangan Pemerintah Kabupaten 2011
Bandung
4. Design Theory dan Perancangan Modul Anggota Peneliti April 2014 November DIKTI
  Akuntansi Berbasis Standar Kompetensi Kerja 2014
  Nasional Indonesia (SKKNI) untuk Pencapaian
Sertifikasi Kompetensi dari Lembaga
  Sertifikasi Profesi Teknisi Akuntansi (LSP-TA)
 
  5. Model Penyusunan Analisis Standar Belanja Ketua Peneliti April 2014 November DIPA Polban
(ASB) Dalam Menunjang Proses Perencanaan, 2014
  Penganggaran, Dan Pengawasan Anggaran
  Pendapatan Dan Belanja Daerah (APBD)
Pemerintah Provinsi Jawa Barat
 
 
D. Jurnal (Karya Ilmiah/Diktat/Modul)
  No. Judul Penerbit Tahun
  1 2 3 4
1. Transfer Pricing Sebagai Strategi Penghindaran Pajak Ekspansi 2013
 
Modul Akuntansi Topik Khusus Politeknik Negeri Bandung 2013
  2.
Modul Pengantar Akuntansi II Politeknik Negeri Bandung 2013
  3.
4. Diktat Pengantar Akuntansi Cikal Sakti 2012
 
5. Modul Aplikasi Akuntansi Pemerintahan Politeknik Negeri Bandung 2012
 
6. Modul Aplikasi Akuntansi Manajemen Politeknik Negeri Bandung 2012
 
7. Modul Akuntansi Sektor Publik Politeknik Negeri Bandung 2011
  8. Modul Akuntansi Syariah Politeknik Negeri Bandung 2010
  9. Praktik Manajemen Laba dan Hubungannya Dengan Biaya Modal Ekspansi 2010
  Ekuitas
  10. Pengaruh Asimetri Informasi Terhadap Praktik Manajemen Laba
dan Implikasinya Terhadap Biaya Modal Ekuitas
Jurnal Ilmiah Kopertis Wilayah IV
Jawa Barat
2009

  11. Good Corporate Governance dan Earnings Management Wawasan Tridarma Majalah Ilmia 2009
  Kopertis Wilayah IV No.12
  12. Meningkatkan Kinerja Proses Melalui Process Value Analysis Jurnal Bisnis Manajemen dan
Ekonomi, Vol 9 No.4
2008

  13. Sistem Manajemen Strategi Dengan Pendekatan Balanced Jurnal Bisnis Manajemen dan 2008
  Scorecard Ekonomi, Vol 9 No.5
 
 
E. Pengabdian Masyarakat
  No. Nama Jabatan Lokasi Mulai Sampai Sumber Dana
  1 2 3 4 5 6 7
  1. Penyusunan Laporan Keuangan Instruktur Univ. November November Univ. Widyatama
dan Penyusunan SPT Bagi UKM Widyatama 2009 2009

2. Penyusunan Laporan Keuangan Instruktur Polban 22 Des 2012 22 Des 2012 DIPA Polban

POLBAN
Computer Base Bagi UKM
Dibawah Binaan
DISKOPINDAGTANI Cimahi

F. Keanggotaan Profesi
No. Nama Negara Mulai Sampai
1 2 3 4 5
1. Anggota IAI Indonesia Maret 2012 Sekarang
2. Asesor Lembaga Sertifikasi Profesi -Teknisi Akuntansi Indonesia 2012 Sekarang

Demikianlah Daftar Riwayat Hidup ini saya buat dengan sebenarnya.

Bandung, November 2014


Yang Membuat,

(Ira Novianty)
NIP. 19761116200912200
 
 
Cost Driver Output (OH)
No Program/Kegiatan   x-x y-ӯ (x - x ) 2 (x - x ) (y - ӯ)
  Orang Hari x Total Anggaran (Rp) y
64 Bimbingan Teknis Akses Pangan   40 3 120 76.775.000 (520,34) (295.017.194,08) 270.751,47 1,53509E+11
65 Pelatihan Seleksi dan Tatacara Pemotongan Hewan  Kurban 65 3 195 135.915.000 (445,34) (235.877.194,08) 198.325,79 1,05045E+11
66 Pelatihan Rantai Dingin Vaksin   22 4 88 51.660.000 (552,34) (320.132.194,08) 305.077,09 1,76821E+11
67 Pelatihan Pemeriksa Kebuntingan Ternak Domba   75 3 225 203.810.000 (415,34) (167.982.194,08) 172.505,52 69769361285
68 Pelatihan Petugas ATP   15 3 45 33.350.000 (595,34) (338.442.194,08) 354.427,14 2,01487E+11
69 Bimbingan Teknis Budidaya Tanaman Tembakau   60 5 300 404.930.000 (340,34) 33.137.805,92 115.829,84 -11278049217
70 Pelatihan Penguatan Kelembagaan Perkebunan   30 3 90 233.055.000 (550,34) (138.737.194,08) 302.871,74 76352327418
Pembinaan Model Desa Konservasi (MDK) dan Model 
71  
30 3 90 150.152.500 (550,34) (221.639.694,08) 302.871,74 1,21977E+11
Kampung Konservasi (MKK) di 9 lokasi
  di
Fasilitasi dan Pembinaan Kelompok Satlakdalkarhut
72  
Kabupaten Majalengka, Kabupaten Garut dan Kabupaten 40 3 120 138.825.000 (520,34) (232.967.194,08)
Bandung   270.751,47 1,21222E+11
Pelatihan Manajemen Organisasi dan Kepemimpinan  Bagi
73 100 3 300 249.800.000 (340,34) (121.992.194,08) 115.829,84 41518559567
Pengurus Organisasi Perempuan  
Pelatihan Pengembangan Program P2TP2A Bagi Pengurus
74   52 3 156 87.556.000 (484,34) (284.236.194,08) 234.583,14 1,37666E+11
P2TP2A
 
Total 47.385 27.512.622.362 0 (0) 228.245.519 90.056.643.062.688
 
Rata-rata 640,34 371.792.194,08
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

POLBAN
 
 
( y - ӯ )2  
 
87.035.144.803.474.300,00  
55.638.050.687.564.000,00  
102.484.621.687.167.000,00  
28.218.017.528.294.000,00  
114.543.118.734.416.000,00  
1.098.114.181.119.940,00  
19.248.009.021.491.600,00  
 
49.124.153.992.355.200,00  
 
 
54.273.713.518.012.100,00  
 
14.882.095.416.716.200,00
 
80.790.214.025.698.000,00  
 
38.044.181.464.999.000.000
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

POLBAN