Anda di halaman 1dari 25

RINGKASAN MATA KULIAH

PENGAUDITAN II

PENYELESAIAN PENGUJIAN DALAM SIKLUS PENJUALAN DAN


PENGUMPULAN PIUTANG: PIUTANG UASAHA

Kelompok 2

I Gede Oka Dinantara (1707532003)

Tama Revi Santosa (1707532007)

Made Bayu Surya Prawitha (1707532027)

Dosen:

Dr. Drs. I Dewa Gede Dharma Suputra, M.Si., Ak.

PROGRAM STUDI AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

TAHUN 2019

1
MENGIDENTIFIKASI RISIKO BISNIS KLIEN YANG BERHUBUNGAN
DENGAN PIUTANG USAHA (Tahap I)

Pengujian piutang usaha didasarkan pada prosedur penetapan risiko oleh auditor yang
memberi pemahaman tentang bisnis dan bidang usaha klien. Sebagai bagian dari
proses mendapatkan pemahaman tersebut, auditor mempelajari bidang usaha klien
dan lingkungan eksternal dan mengevaluasi tujuan manajemen serta proses bisnis
untuk mengidentifikasi risiko bisnis klien yang signifikan yang dapat mempengaruhi
laporan keuangan, termasuk piutang usaha.

Risiko bisnis klien yang mempengaruhi piutang usaha dipertimbangkan dalam


evaluasi auditor tentang risiko bawaan dan rencana pengumpulan bukti untuk piutang
usaha. Sebagai contoh, sebagai akibat adanya penurunan dalam kondisi
perekonomian, auditor bisa menaikkan risiko bawaan untuk nilai bersih bisa
direalisasi piutang usaha.

MENETAPKAN KESALAHAN PENYAJIAN BISA DITOLERANSI DAN


RISIKO BAWAAN (Tahap I)

Auditor pertama - tama menetapkan pertimbangan materialitas pendahuluan untuk


keseluruhan Iaporan keuangan, dan kemudian mengalokasikan jumlah pertimbangan
pendahuluan tersebut ke setiap akun neraca yang signifikan. Pengalokasian ini
disebut menetapkan kesalahan penyajian bisa ditoleransi. Piutang usaha biasanya
merupakan salah satu akun paling material dalam Iaporan keuangan pada perusahaan
yang melakukan penjualan secara kredit. Walaupun saldo akhir piutang berjumlah
kecil, namun transaksi dalam siklus penjualan dan pengumpulan piutang yang
mempengaruhi saldo piutang usaha bisa sangat signifikan.

Auditor umumnya mengidentifikasi suatu risiko kecurangan (fraud risk) tertentu


untuk pengakuan pendapatan. Hal ini bisa mempengaruhi penetapan risiko bawaan
oleh auditor untuk tujuan-tujuan berikut: keberadaan, pisah batas penjualan, dan pisah
batas retur penjualan. Klien sering salah menetapkan pisah batas, baik disebabkan

2
karena kekeliruan atau kecurangan. Demikian pula klien sering salah menetapkan
cadangan kerugian piutang (nilai bersih bisa direalisasi), baik secara tidak disengaja
maupun karena kecurangan, karena kesulitan membuat pertimbangan dalam
menentukan saldo yang benar.

MENETAPKAN RISIKO PENGENDALIAN UNTUK SIKLUS PENJUALAN


DAN PENGUMPULAN PIUTANG (Tahap I)

Pada kebanyakan perusahaan, pengandalian internal atas penjualan dan pengumpulan


piutang serta piutang usaha yang bersangkutan, biasanya cukup efektif karena
manajemen berkepentingan untuk memiliki catatan yang akurat guna menjalin
hubungan baik dengan para pelanggan. Auditor biasanya menekankan tiga aspek
pengendalian internal , yaitu: 1. Pengendalian untuk mencegah atau mendeteksi
kesalahan dan kecurangan. 2. Pengendalian terhadap pisah batas (cutoff) 3.
Pengendalian yang berkaitan dengan akun cadangan kerugian piutang

MERANCANG DAN MELAKSANAKAN PENGUJIAN PENGENDALIAN


DAN PENGUJIAN SUBSTANTIF TRANSAKSI (TAHAP ll)

Hasil pengujian pengendalian menentukan apakah penetapan risiko pengendalian


untuk penjualan dan pengumpulan piutang harus direvisi atau tidak. Auditor
menggunakan hasil pengujian substantif transaksi untuk menentukan seberapa besar
risiko deteksi untuk memenuhi setiap tujuan audit saldo piutang usaha.

MERANCANG DAN MELAKSANAKAN PROSEDUR ANALITIS (TAHAP


III)

Prosedur analisis sering diterapkan pada tiga tahapan audit, yakni : pada tahap
perencanaan, ketika melakukan pengujan detail saldo, dan pada saat penyelesaian
audit. Kebanyakan prosedur analisis yang dilaksanakan selama tahap pengujian detail
dilakukan setelah tanggal neraca tetapi sebelum pengujian detai saldo.

3
Auditor melakukan prosedur analisis untuk keseluruhan siklus penjualan dan
pengumpulan piutang, tdak hanya piutang usaha. Hal ini penting karena adanya
hubungan yang erat antar antara akun akun laba rugi dengan akun akun neraca.
Apabila auditor mengidentifikasi adanya kemungkinan kesalahan penyajian dalam
penjualan atau retur penjualan dengan menggunakan prosedur analisis, kemungkinan
kesalahan penyajian piutang usaha akan terkurangi.

MERANCANG DAN MELAKSANAKAN PENGUJIAN DETIL SALDO


PIUTANG USAHA (TAHAP III)

Apabila prosedur analitis dalam siklus penjualan dan pengumpulan piutang


mengungkapkan adanya fluktuasi yang tidak biasa, auditor harus mengajukan
pertanyaan tambahan kepada manajemen. Jawaban dari manajemen harus dievaluasi
dengan kritis untuk menentukan apakah jawaban tersebut cukup menjelaskan
fluktuasi tidak biasa tersebut dan apakah disertai dengan bukti pendukung.

KEBERADAAN - PIUTANG USAHA

Konfirmasi saldo piutang adalah pengujian rinci saldo terpenting untuk


menentukan keberadaan piutang usaha sebagaimana tercantum dalam pembukuan.
Apabila pelanggan tidak memberi jawaban atas konfirmasi, auditor juga memeriksa
dokumen pendukung untuk memastikan bahwa barang sungguh-sungguh telah
dikirimkan dan bukti adanya penerimaan kas untuk menentukan bahwa piutang telah
diterima pembayarannya setelah tanggal neraca. Biasanya auditor tidak memeriksa
bukti pengiriman barang atau bukti penerimaan kas setelah tanggal neraca untuk
setiap akun yang dikonfirmasi, tapi hal ini baru dilakukan secara ekstensif sebagai
prosedur alternatif untuk akun yang tidak memberi jawaban atas konfirmasi.

4
KELENGKAPAN - PIUTANG USAHA

Auditor mengalami kesulitan untuk menguji akun piutang yang dengan


sengaja dihilangkan (tidak dicantumkan) dari daftar umur piutang dan hanya
mengandalkan pada sifat keseimbangan yang dimiliki oleh master file piutang.
Sebagai contoh, apabila klien pada suatu ketika menghilangkan suatu piutang dari
daftar umur piutang, satu-satunya cara bagi auditor untuk menemukan hal tersebut
adalah dengan mentotal (menjumlah secara vertikal) daftar umur plutang dan
mencocokkan hasil Penjumlahan tersebut dengan saldo yang tercantum dalam akun
kontrol piutang usaha di buku besar. Apabila semua penjualan kepada seorang
pelanggan dihilangkan dari jurnal penjualan, kurang saji piutang usaha hampir tidak
mungkin terungkap melalui pengujian rinci saldo. Sebagai contoh, auditor jarang
rnengirim konfirmasi piutang kepada pelanggan yang bersaldo nol rupiah,
penyebabnya antara lain karena penelitian menunjukkan bahwa pelanggan jarang mau
menjawab konfirmasi seandainya saldo yang dicantumkan dalam konfirmasi tersebut
lebih rendah dari yang seharusnya. Selain itu, penjualan kepada pelanggan baru yang
tidak dicatat, sulit diidentifikasi untuk dikonfirmasi karena nama pelanggan baru
tersebut tidak tercantum dalam master file. Cara terbaik untuk menemukan kurang
saji penjualan dan piutang usaha adalah dengan pengujian substantif transaksi atas
pengiriman barang yang tidak dicatat (tujuan kelengkapan untuk pengujian transaksi
penjualan) dan dengan prosedur analitis.

KETELITIAN — PIUTANG USAHA

Konfirmasi akun-akun piutang usaha yang dipilih dari daftar umur piutang
adalah pengujian rinci saldo yang paling sering dilakukan untuk menguji ketelitian
piutang usaha. Apabila pelanggan tidak menjawab permintaan konfirmasi, auditor
memeriksa dokumen pendukung dengan cara yang sama seperti telah dijelaskan pada
waktu auditor melakukan audit untuk tujuan keberadaan. Auditor melakukan
pengujian dengan memeriksa pendebetan dan pengkreditan pada masing-masing akun

5
pelanggan individual dengan membandingkannya pada dokumen pendukung
pengiriman barang dan penerimaan kas.

PENGGOLONGAN — PIUTANG USAHA

Pada umumnya auditor dapat mengevaluasi penggolongan piutang dengan


mudah. Dengan cara mereview daftar umur piutang dapat diketahui ada tidaknya
piutang kepada perusahaan afiliasi, piutang kepada pejabat dan staf perusahaan, atau
piutang kepada pihak-pihak berelasi yang material. Auditor harus memeriksa apakah
piutang wesel atau akun yang harus digolongkan sebagai aset tidak lancar telah
dipisahkan dari akun piutang usaha yang reguler, demikian pula piutang bersaldo
kredit yang signifikan telah dikelompokkan sebagai utang usaha.

Ada hubungan yang erat antara tujuan audit saldo tentang penggolongan
dengan tujuan audit kejelasan penyajian dan pengungkapan tentang penggolongan
atau pengelompokkan. Untuk memenuhi tujuan audit saldo tentang penggolongan,
auditor harus memastikan bahwa klien telah menggolongkan piutang dengan tepat
dan piutang usaha dipisahkan dari piutang lainnya Sebagai contoh, auditor harus
memastikan bahwa piutang kepada perusahaan afiliasi telah dipisahkan dalam daftar
umur piutang. Untuk memenuhi tujuan penyajian dan pengungkapan, auditor harus
memastikan bahwa penggolongan telah disajikan dengan tepat dengan menentukan
apakah transaksi dengan pihak berelasi telah dicantumkan dengan benar selama tahap
penyelesaian audit.

PISAH BATAS - PIUTANG USAHA

Kesalahan penyajian pisah batas terjadi apabila transaksi tahun ini dicatat
pada tahun berikutnya atau sebaliknya. Tujuan pengujian pisah batas (cutoff test),
apapun jenis transaksinya, adalah untuk memeriksa apakah transaksi menjelang akhir
tahun buku telah dicatat pada periode yang tepat. Tujuan pisah batas adalah salah satu
yang paling penting dalam siklus ini karena kesalahan penyajian pisah batas bisa ber-
pengaruh signifikan terhadap laba bersih periode ini. Sebagai contoh, dimasukkannya

6
penjualan berjumlah rupiah besar (disengaja atau tidak disengaja) yang sebenarnya
terjadi pada periode berikutnya menjadi penjualan tahun ini — atau tidak
dimasukkannya sejumlah retur penjualan tahun ini bisa membuat lebih saji secara
material. Kesalahan penyajian pisah batas bisa terjadi pada penjualan, retur penjualan,
dan penerimaan kas. Untuk menentukan kewajaran pisah batas, auditor melakukan
pendekatan sebagai berikut:

1. Tetapkan kriteria yang tepat untuk pisah batas.

2. Evaluasi apakah klien telah menetapkan proseduryang memadai untuk pisah batas
yang sewajarnya.

3. Ujilah apakah pisah batas telahdilakukan dengan benar.

Pisah Batas Penjualan Pada kebanyakan perusahaan da gang dan perusahaan


Manufaktur, pencatatan suatu penjualan biasanya didasarkan pada kriteria pengiriman
barang. Namun ada pula sejumlah perusahaan lain yang mencatat faktur penjualan
pada saat berpindahnya hak kepemilikan yang bisa terjadi sebelum barang
dikirimkan, pada saat barang dikirim, atau setelah barang dikirimkan. Untuk ke
pengukuran laba periodik yang benar, metode hendaknya sesuai dengan standar
akuntansi dan diterapkan secara konsisten.

Bagian terpenting dalam menilai metoda yang digunakan klien untuk


mendapat pisah batas yang bisa dipercaya adalah prosedur yang digunakan. Apabila
klien menerbitkan dokumen pengiriman barang bernomor urut tercetak secara
berurutan (urut nomor), maka evaluasi dan pengujian pisah batas bisa dilakukan
dengan mudah. Selain itu, adanya pemisahan tugas antara bagian pengiriman dan
bagian pembuatan faktur juga akan sangat mendorong terciptanya pencatatan
transaksi pada periode yang tepat. Namun, apabila pengiriman dilakukan dengan truk
milik perusahaan klien, apabila dokumen pengiriman barang tidak bernomor urut

7
tercetak, dan apabila pegawai bagian pengiriman merangkap sebagai pembuat faktur,
maka akan terjadi kesulitan dan tidak terjamin terjadinya pisah batas yang tepat.

Apabila pengendalian internal perusahaan klien cukup baik, auditor biasanya


dapat memeriksa pisah batas dengan meminta dokumen pengiriman barang yang
terakhir yang dilakukan pada akhir tahun buku dan membandingkan nomor bukti
pengiriman barang ini dengan penju-alan tahun ini dan penjualan tahun berikutnya.
Sebagai contoh, misalkan nomor dokumen pengiriman barang untuk pengiriman
barang yang terakhir pada tahun ini adalah 1489. Semua transaksi penjualan yang
dicatat sebelum akhir tahun buku harus memiliki dokumen pengiriman barang yang
bernomor di bawah 1490, dan tidak ada penjualan yang dicatat dan barang yang
dikirim pada periode berikutnya yang memiliki bukti pengiriman barang bernomor
1489 atau di bawahnya. Auditor dapat menguji hal ini dengan mudah dengan cara
membandingkan catatan. penjualan dengan dokumen pengiriman barang untuk m. asa
beberapa hari sebelum akhir buku tahun ini dengan beberapa han memasuki tahun
berikutnya.

Pisah Batas Retur Penjualan

Standar akuntansi mensyaratkan retur penjualan bisa ditandingkan dengan


penjualan yang bersangkutan pada periode yang sama, apabila Jumlahnya material.
Sebagai contoh, apabila barang yang dikirim pada tahun ini ternyata dikembalikan
(retur) pada periode berikutnya, maka retur penjualan tersebut harus dilaporkan
sebagai retur pada tahun ini. (Barang yang diretur harus diperlakukan sebagal
persediaan tahun ini). Namun yang diretur harus di kebanyakan perusahaan, retur
penjualan sering dicatat dernikian, pada pada periode terjadinya retur dengan asumsi
bahwa retur yang pada awal periode kurang lebih sama dengan yang terjadi pada
akhir periode, sehingga tidak ada masalah karena keduanya akan sating menutup. Hal
seperti ini bisa diterima apabila jumlah retur penjualan tidak material. Ada pula
perusahaan yang membentuk cadangan, seperti cadangan kerugian piutang, yang
disediakan untuk retur yang diperkira-kan terjadi periode berikutnya.

8
Apabila auditor percaya bahwa klien mencatat semua penjualan retur dengan
benar, pisah batas bisa dilakukan dengan mudah dan iangsung. Auditor dapat
memeriksa suatu sampel bukti pendukung retur penjualan yang terjadi beberapa
minggu setelah berakhirnya tahun buku untuk menentukan tanggal penjualan yang
berkaitan dengan retur tersebut.

Pisah Batas Penerimaan Kas

Dalam audit pada umumnya, pisah batas yang tepat untuk penerimaan kas
biasanya dipandang kurang penting dibandingkan dengan pisah batas untuk penjualan
dan retur penjualan karena pisah batas kas yang tidak tepat hanya akan berpengaruh
terhadap saldo kas dan piutang usaha, bukan pada laba perusahaan. Namun demikian,
apabila kesalahan penyajian material, hal itu akan berpengaruh pada kewajaran kedua
akun tersebut dalam neraca, terutama apabila saldo kas berjumlah kecil atau bahkan
bersaldo negatif.

Pengujian kesalahan penyajian pisah batas penerimaan kas mudah dilakukan


dengan cara menelusur penerimaan kas ke setoran kas ke bank yang nampak dalam
laporan bank pada periode berikutnya. Apabila terjadi penundaan sampai beberapa
hari, hal itu bisa menjadi petunjuk adanya kesalahan penyajian pisah batas.

Sampai pada tingkatan tertentu, auditor bisa juga mengandalkan pada


konfirmasi piutang untuk mengungkap kesalahan penyajian pisah batas penjualan,
retur penjualan, dan penerimaan kas. Namun, auditor seringkali mengalami ke uit an
dalam membedakan kesalahan penyajian pisah batas karena adanya perbedaan waktu
yang normal yang timbul dari pengiriman barang dan penerimaan kas dalam
perjalanan pada akhir tahun. Sebagai contoh, apabila seorang pelanggan mengirim
check via pos kepada klien untuk membayar utangnya dan mencatat hal tersebut pada
tanggal 30 Desember, dan klien menerima check tersebut dan mencatatnya pada
tanggal 2 Januari, maka hasil pencatatan yang dilakukan kedua pihak tersebut per 31
Desember akan berbeda. Hal seperti bukaniah kesalahan penyajian pisah batas, tetapi
suatu erbedaan waktu karena waktu pengiriman. Auditor bisa menghadapi kesulitan

9
untuk mengevaluasi apakah telah terjadi suatu kesalahan penyajian pisah batas atau
ada perbedaan waktu, apabila ia rn enggunakan jawaban konfirmasi sebagai sumber
informasi. Situasi semacam ini membutuhkan penyelidikan tambahan, misalnya
dengan smenginspeksi dokumen pendukung.

NILAI BERSIH YANG BISA DIREALISASI PIUTANG USAHA

Standar akuntasi keuangan (SAK) mensyaratkan perusahaan menyatakan


piutang usaha sebesar jumlah yang akhirnya akan bisa diterima pembayarannya. Nilai
piutang yang bisa direalisasi sama dengan piutang bruto dikurangi dengan cadangan
kerugian piutang. Untuk menghitung besarnya cadangan, klien menaksir jumlah total
piutang yang diperkirakan tidak akan bisa ditagih. Sudah barang tentu klien tidak
akan bisa menaksir secara tepat, tapi bagi auditor sudah dipandang memadai apabila
taksiran masuk akal setelah mempertimbangkan berbagai data terkait. Untuk
membantu penilaian ini, auditor sering membuat suatu daftar audit yang menganalisis
cadangan kerugian piutang, seperti terlihat pada Gambar 13-4. Dalam contoh
tersebut, analisis menunjukkan bahwa cadangan ditetapkan terlalu rendah. Hal ini
bisa terjadi antara lain karena klien gagal (kurang tepat) dalam membuat
penyesuaikan atas cadangan atau karena faktor ekonomi. Sebagai catatan, perlu
diingat bahwa potensi kurang saji dalam pencadangan bisa ditunjukkan oleh suatu
prosedur analitis untuk PT ABC pada Tabel 13-3.

Untuk mulai mereview cadangan kerugian piutang, auditor mereview hasil


pengujian pengendalian yang berkaitan dengan kebijakan pemberian kredit pada
perusahaan klien. Apabila kebijakan pemberian kredit tidak berubah dan hasil
pengujian kebijakan kredit serta pemberian persetujuan kredit dilaksanakan secara
konsisten decnagdaanng tahun sebelumnya, perubahan yang terjadi pada saldo akun
cadangan kerugian piutang hanya akan merupakan pencermtnain dari pearbuil:han
kondisi ekonomi dan volume penjualan. Namun demikian, apabila kebijakan
pemberian kredit pada perusahaan klien atau tingkat ketaatan pada kebijakan tersebut
berubah, auditor harus cermat mempertimbangkan pengaruh perubahan tersebut

10
pembayarannya setelah lewat tanggal neraca. Besarnya saldo dan umur dari jumlah
tagihan tersebut selanjutnya dapat dibandingkan dengan informasi serupa dari tahun
sebelumnya untuk menilai apakah jumlah piutang yang berjangka panjang tersebut
meningkat atau menurun dari waktu ke waktu. Auditor juga bisa memeriksa
kolektibilitas piutang dengan memeriksa arsip kredit, berdiskusi dengan manajer
kredit, dan mereview korespondensi yang terdapat dalam arsip klien. Prosedur ini
penting terutama apabila terdapat sejumlah kecil piutang berjangka panjang namun
bersaldo besar dan tidak melakukan pembayaran sesuai dengan ketentuan yang
ditetapkan perusahaan.

Auditor memiliki dua kelemahan dalam mengevaluasi cadangan dengan cara


mereview saldo berjangka panjang individual dalam daftar umur piutang. Pertama,
akun-akun yang belum jatuh tempo diabaikan dalam penetapan kecukupan cadangan,
walaupun sebagian dari piutang ini tidak diragukan lagi tidak akan dapat diterima.
Kedua, sulit untuk membandingkan hasil dari tahun ini dengan tahun sebelumnya
untuk sesuatu yang tidak terstruktur semacam itu. Apabila akun-akun menjadi
progresif tidak tertagih selama beberapa tahun, keadaan ini bisa diabaikan. Untuk
mengatasi kedua kelemahan ini, klien bisa menunjukkan sejarah penghapusan piutang
selama suatu jangka waktu tertentu yang bisa digunakan sebagai pedoman dalam
mengevaluasi cadangan tahun ini. Sebagai contoh, klien menunjukkan data bahwa
2% dari piutang belum jatuh tempo, 10% dari piutang berumur 30-90 hari, dan 35%
dari piutang berumur iewat 90 hari pada akhirnya akan tidak dapat diterima. Auditor
bisa menerapkan persentase tersebut ke daftar umur piutang tahun ini dan
membandingkannya dengan saldo dalam akun cadangan. Sudah barang tentu auditor
harus memeriksa ketepatan persentase yang digunakan dan dengan cermat
memodifikasi perhitungan untuk kondisi yang berubah.

BEBAN KERUGIAN PIUTANG

Setelah auditor merasa puas dengan cadangan kerugian piutang, selanjutnya


akan mudah untuk memeriksa beban kerugian piutang dengan asumsi bahwa:

11
 Saldo awal dalam akun cadangan telah diperiksa sebagai bagian dari audit
tahun yang lalus
 Piutang tak tertagih yang telah dihapus telah diperiksa sebagai bagian dari
pengujian substantif transaksi
 Saldo akhir dalam akun cadangan telah diperiksa dengan berbagai cara.

Beban kerugian piutang selanjutnya akan dapat ditentukan dari selisihnya yang dapat
diperiksa dengan rekalkulasi.

HAK KLIEN ATAS PIUTANG USAHA

Hak klien atas piutang usaha umumnya tidak merupakan masalah dalam audit,
karena piutang biasanya memang merupakan milik klien. Namun dalam hal tertentu,
sebagian dari piutang mungkin saja dijadikan jaminan atau digadaikan, atau dijual
kepada seseorang, atau dijual dengan discount Pada umumnya para debitur klien
tidak mengetahui adanya hal tersebut, sehingga konfirmasi tidak akan menunjukkan
hal demikian. Untuk mengungkapkan situasi di mana klien telah dibatasi haknya atas
piutang, auditor bisa mereview notulen rapat, membicarakannya dengan klien,
mengirim konfirmasi ke bank, memeriksa perjanjian pinjaman untuk mencari
informasi tentang penggadaian atau penjaminan piutang, serta memeriksa arsip
korespondensi.

PENYAJIAN DAN PENGUNGKAPAN — PIUTANG USAHA

Pengujian atas keempat tujuan penyajian dan pengungkapan biasanya


dilakukan sebagai bagian dari tahap penyelesaian audit. Namun demikian, sejumlah
penyajian dan pengungkapan sering dilakukan dengan penguji-an untuk memenuhi
tujuan audit saldo. Sebagai contoh, pada saat melakukan pengujian atas penjualan dan
piutang usaha, auditor harus memahami dan menilai ketepatan kebijakan klien
tentang pengakuan pendapatan untuk menentukan apakah hal itu telah diungkapkan
dengan tepat dalam laporan keuangan. Auditor juga harus memastikan apakah klien
telah menggabungkan dengan tepat dan mengungkapkan informasi tentang transaksi

12
dengan pihak berelasi dalam laporan keuangan. Untuk menilai kecukupan penyajian
dan pengungkapan, auditor harus memiliki pemahaman yang mendalam tentang
persyaratan yang ditetapkan dalam standar akuntansi kuangan tentang penyajian dan
pengungkapan.

Bagian yang penting dalam penilaian menyangkut keputusan tentang apakah


klien telah memisahkan sejumlah piutang yang ber-jurniah material yang
membutuhkan pengungkapan dalam laporan. Sebagai contoh, piutang kepada direksi
dan karyawan harus dipisahkan dari piutang usaha apabila piutang tersebut berjumlah
material.

KONFIRMASI PIUTANG USAHA

Konfirmasi piutang usaha adalah konsep yang telah berulang-ulang


disinggung dalam pembahasan tentang perancangan pengujian rinci saldo untuk
piutang usaha. Tujuan utama konfirmasi piutang usaha adalah untuk memenuhi
tujuan keberadaan, ketelitian, dan pisah batas.

Konfirmasi adalah satu dari delapan jenis bukti audit yang telah diperkenalkan
pada Bab 5. Konfirmasi eksternal adalah bukti audit yang diperoleh sebagai suatu
respons tertulis langsung kepada auditor dari pihak ketiga (pihak yang dikonfirmasi),
baik dalam bentuk kertas, atau secara elektronik, atau media lainnya. (SA 505.6).
Meskipun jawaban lisan juga merupakan bukti audit, namun tidak bisa disebut
sebagai konfirmasi.

JENlS-JENIS KONFIRMASI

Dalam melaksanakan prosedur konfirmasi eksternal, auditor pertama. tama harus


memutuskan jenis konfirmasi yang akan digunakan.

Konfirmasi Positif

Konfirmasi positif adalah suatu permintaan konfirmasi kepada pihak ketiga untuk
merespons secara Iangsung kepada auditor yang menunjukkan apakah pihak yang

13
dikonfirmasi setuju atau tidak setuju dengan informasi yang terdapat dalam
permintaan konfirmasi. atau menyediakan informasi yang diminta (SA 505.6b).
Gambar 13-5 adalah contoh sebuah konfirmasi positif dalam audit PT ABC.
Perhatikan bahwa konfirmasi ini adalah untuk salah satu akun terbesar dalam daftar
umur piutang yang tercantum dalam Gambar 13-3.

Konfirmasi bentuk kosong (blank) adalah sejenis konfirmasi positif tetapi


konfirmasi tersebut tidak menyebutkan jumlah rupiah melainkan meminta si
penerima untuk menyebutkan jumlah saldo atau menyampaikan informasi Iainnya.
Karena konfirmasi bentuk kosong meminta si penerima untuk menyebutkan
informasi yang diminta, konfirmasi semacam ini dipandang Iebih bisa dipercaya
daripada konfirmasi yang sudah menyebutkan jumlah rupiahnya. Konfirmasi bentuk
kosong jarang digunakan dalam praktik karena sering menghasilkan tingkat jawaban
yang rendah.

Konfirmasi faktur adalah jenis lain dari konfirmasi positif yang hanya minta
konfirmasi atas suatu faktur tertentu, tidak mengenai saldo piutang secara
keseluruhan. Banyak pelanggan menggunakan sistem voucher sehingga
memungkinkan mereka untuk memberi jawaban tentang faktur tenentu, bukan
informasi tentang saldo. Akibatnya penggunaan konfirmasi faktur seringkali
mendorong tingkat jawaban atas konfirmasi tersebut. Selain itu konfirmasi faktur
juga mengurangi akibat faktor waktu (timing differences) dan unsur-unsur yang
direkOnsiliasi daripada konfirmasi saldo. Namun demikian, konfirmasi faktur
mempunyai kelemahan karena tidak secara langsung mengontirmasi saldo akhir.

Penjualan kepada pelanggan besar sering dilakukan dengan ketentuan-ketentuan


khusus (istimewa) tentang pengembalian barang (retur) yang bisa mempengaruhi
jumlah dan saat pengakuan pendapatan dari penjualan. Apabila hal ini merupakan
risiko signifikan, konfirmasi positif sering meminta pelanggan untuk
menginformasikan adanya ketentuan khusus tersebut.

Konfirmasi Negatif

14
Konfirmasi negatif adalah permintaan konfirmasi kepada pihak ketiga untuk
merespons secara langsung kepada auditor hanya jika pihak yang dikontirmasi tidak
setuju dengan informasi yang terdapat dalam permintaan konfirmasi. Gambar 13-6
melukiskan sebuah konfirmasi negatif yang digunakan dalam audit atas PT ABC
yang dilampirkan pada Iaporan piutang bulanan.

Dibandingkan dengan konfirmasi negatif, konfirmasi positif Iebih bisa dipercaya


karena auditor bisa melakukan prosedur tindak Ianjut apabila jawaban dari debitur
tidak diterima. Dalam hal konfirmasi negatif. apabila tidak diterima jawaban
dianggap bahwa apa yang tercantum dalam konfirmasi sudah benar, meskipun
mungkin saja sebenarnya debitur tidak acuh atas kontirmasi tersebut.

Gambar 13-6 Konflrmasi Negatif (dilampirkan pada Iaporan piutang bulanan)

KONFIRMASI UNTUK AUDITOR

Mohon Iaporan bulanan ini dipelajari dengan seksama, apabila tidak cocok dengan catatan anda,
silahkan laporkan perbedaannya kepada auditor kami

KANTOR AKUNTAN PUBLIK Drs. Hadiwijoyo & Rokan

Jalan Kantil No. 2

Yogyakarta

yang sedang mengaudit Iaporan keuangan kami untuk tahun yang berakhir tanggal 31 Desember
2013. Amplop untuk jawaban. kami lampirkan bersama sure! im untuk mempermudah pengiriman
jawaban anda.

15
Penentuan tentang jenis konfirmasi mana yang akan digunakan merupakan keputusan
auditor, dan hal itu harus didasarkan pada keadaan yang dijumpai dalam audit yang
bersangkutan. Standar auditing menyatakan bahwa konfirmasi negatif bisa digunakan
untuk mengurangi n'siko audit ke tingkat yang dapat diterima jika:

1. Gabungan tingkat risiko bawaan dan risiko pengendalian taksiran adalah


rendah.

2. Sebagian besar akun bersaldo kecil.

3. Auditor tidak yakin bahwa penerima permintaan konfirmasi akan


mempertimbangkan permintaan tersebut. Sebagai contoh, dalam pemeriksaan
terhadap rekening giro dalam suatu Iembaga keuangan, auditor sebaiknya
menyenakan permintaan konfirmasi pada rekening koran reguler yang
dikirimkan oleh Iembaga keuangan tersebut kepada para nasabahnya.

Apabila digunakan konfirmasi negatif, auditor biasanya menekankan auditnya pada


efektivitas pengendalian internal, pengujian substantif ‘ransaksi, dan prosedur analitis
sebagai bukti tentang kewajaran piutang Usaha dan berasumsi bahwa sebagian besar
penerima kontirmasi akan membaca dengan sungguh-sungguh dan menanggapi
permintaan konfirmasi.

Konfirmasi negatif sering digunakan dalam audit pada rumah sakit, Demsahaan
pengecer, bank, dan bidang usaha lain yang piutangnya adalah kepada masyarakat
umum. Auditor bisa menggunakan kombinasi

konfirmasi positif dan konfirmasi negatif dengan mengirim konfirmasi positif


pada piutang-piutang bersaldo besar dan konfirmasi negatif untuk piutang-piutang
bersaldo kecil.

Pilihan auditor berada dalam rentang dimulai dari tidak menggunakan


konfirmasi atas pertimbangan tertentu, hanya akan menggunakan konfirmasi negatif,

16
akan menggunakan kombinasi positif dan negatif, dan hanya akan menggunakan
konfirmasi positif. Faktor utama yang mempengaruhi keputusan auditor adalah
materiaIitas piutang usaha, jumlah dan ukuran saldo piutang individuaL risiko
pengendalian, risiko bawaan, efektivitas konfirmasi sebagai bukti, dan ketersediaan
bukti audit Iainnya.

Konfirmasi tidak tepat digunakan dalam keadaan sebagai berikut:

1. Auditor memandang konfirmasi tidak akan menjadi bukti yang efektif ka rena
tingkatja waban diperkirakan tidak akan cukup alau tidak bisa dipercaya. Pada
bidang usaha tertentu, seperti misalnya rumah sakit, tingkat jawaban terhadap
konfirmasi sangat rendah.

2. Tingkat risiko bawaan ditambah dengan risiko pengendalian adalah rendah


dan bukti substantif Iain bisa dikumpulkan untuk memperoleh bukti yang
cukup. Apabila klien memiliki pengendalian internal yang efektif dan risiko
bawaan yang rendah untuk siklus penjualan dan pengumpulan piutang, auditor
sering merasa puas dengan bukti yang diperlukan melalui pengujian
pengendalian, pengujian substantif transaksi, dan prosedur analitis.

SAAT PENGIRIMAN KONFIRMASI

Bukti paling bisa dipercaya dari konfirmasi diperoleh apabi|a konfirmasi dikirimkan
sedekat mungkin dengan akhir tahun buku. Hal ini memungkinkan auditor untuk
secara Iangsung menguji saldo piutang usaha yang tercantum di neraca tanpa harus
memutahirkan saldo dengan transaksi yang terjadi antara tanggal kontirmasi dan
tanggal neraca: Namun demikian, agar audit bisa selesai tepat waktu, kadang-kadang
diperlukan untuk mengirim konfirmasi pada tanggal interim (sebelum tanggal akhir
tahun buku). Hal semacam ini dimungkinkan apabila pengendalian internal memadai
dan bisa memberi keyakinan memadai bahwa penjualan, penerimaan kas, den
pengkroditan lainnya dicatat dengan benar antara tanggal konfirmasi dengan tanggal

17
akhir periodel Auditor hendaknya juga mempertimbangkan taktor Iain daiam
mengambii Keputusan ini, termasuk di dalamnya materialitas piutang usaha dan
kemungkinan auditor mendapat tuntutan hukum yang diakibatkan oleh pangkrutnya
klien serta risiko lain semacam itu.

Apabila auditor memutuskan untuk mengirim konfirmasi sebelum akhir tahun


buku, auditor harus membuat rekonsiliasi untuk transaksi yang terjadi antara tanggal
konfirmasi dengan tanggal neraca. Selain melaksanakan prosedur analitis atas
aktivitas dalam kurun waktu tersebut, perlu juga dilakukan pengujian atas transaksi
yang terjadi antara tanggal konfirmasi dengan tanggaI neraca. Auditor bisa mencapai
tujuan ini dengan memeriksa dokumen-dokumen internal seperti duplikat faktur
penjualan, bukti pengiriman barang, dan bukti penerimaan kas.

UKURAN SAMPEL UNTUK KONFIRMASI

Ukuran Sampel.

Faktor-faktor penting yang mempengaruhi ukuran sampel piutang yang akan dikirimi
konfirmasi meliputi:

 Kesalahan penyajian bisa ditoleransi

 Risiko bawaan (ukuran relatif total piutang, jumlah akun, hasil tahun lalu, dan
kesalahan penyajian yang diperkirakan)

 Risiko pengendalian

 Risiko deteksi yang dicapai dari pengujian substantif lain (luas dan hasil
pengujian substantif transaksi, prosedur analitis, dan pengujian detilIainnya).

 Jenis konfirmasi (konfirmasi negatif biasanya memerlukan ukuran sampel


yang lebih besar).

18
Pemilihan Unsur-unsur untuk Diuji

Pada pelaksanaan prosedur konfirmasi, seringkali diperlukan stratifikasi piutang.


Dalam pendekatan yang biasa dilakukan untuk melakukan stratifikasi untuk memilih
saldo yang akan dikonfirmasi, auditor memper. . timbangkan baik besamya jumlah
rupiah saldo, maupun jangka waktu atau Umur piutang. Pada kebanyakan audit,
tekanan biasanya diberikan pada akun berjumlah rupiah besar dan telah lama lewat
waktu karena akun yang demikian berpotensi termasuk dalam kesalahan penyajian.
Selain itu benu juga dipertimbangkan untuk diikutsertakan dalam sampel beberapa
unsur dari setiap segmen material dari populasi. Dalam banyak hal, auditor memilih
semua akun yang bersaldo di atas suatu jumlah tertentu sedangkan sisanya dipilih
secara acak.

Manajemen kadang-kadang meminta auditor untuk tidak mengirim konfirmasi


kepada debitur-debitur tertentu. Auditor periu menanyakan alasan penolakan klien
tersebut yang seringkali disebabkan karena adanya tuntutan hukum atau sedang
teriadi negosiasi antara klien dengan pe|anggan. Auditor harus mendapat bukti untuk
menilai kewaiaran permintaan klien tersebut dan mengevaluasi apakah permintaan
tersebut merupakan indikasi adanya potensi risiko kecurangan atau naiknya risiko
kesalahan penyajian material.

PEMERIKSAAN ALAMAT DAN PENGAWASAN ATAS KONFIRMASI

Auditor harus melaksanakan prosedur untuk memeriksa alamat atau alamat e-mail
yang digunakan dalam konfirmasi. Sebagai contoh, audior harus mempertimbangkan
untuk melakukan prosedur tambahan apabila alamat hanya berupa kotak pos, atau
apabila alamat e-mail tidak sama dengan alamat Web site pelanggan.

Untuk konfirmasi yang dikirim melalui pos, auditor harus melaksanakan


pengawasan atas konfirmasi sampai jawaban diterima dari debitur. Klien boleh
membantu dalam penyiapan konfirmasi, tetapi auditor bertanggungjawab untuk

19
memastikan bahwa konfirmasi sudah dikirim melalui pos di Iuar kantor klien. Alamat
pengembalian surat jawaban (dalam hal ini alamat kantor akuntan) sebaiknya sudah
tertulis pada semua amplop jawaban agar surat yang tidak sampai ke tujuan akhirnya
dikirim kembali ke kantor akuntan dan untuk memastikan bahwa semua jawaban
dikirim langsung ke kantor akuntan.

TINDAK LANJUT ATAS KONFIRMASI TAK BERJAWAB

Tidaklah tepat untuk memandang konfirmasi yang telah dikirim tetapi tidak
dikembalikan debitur sebagai bukti audit yang signifikan. Sebagai contoh. konfirmasi
positif tidak berjawab tidak boleh diperlakukan sebagai bukti audit. Begitu pula untuk
konfirmasi negatif, auditor jangan berkesimpulan bahwa debitur telah menerima
permintaan kontirmasi dan mencermati informasi yang diminta. Namun demikian.
kontirmasi negatit masih bisa dipandang sebagai bukti untuk asersi keberadaan.

Apabila digunakan konfirmasi positif. standar auditing mengharuskan


dilakukannya prosedur tindak Ianjut atas kontirmasi yang tidak dikomba ikan oleh
konsumen. Dalam situasi demikian, auditor sering mengirim ulang konfirmasi kedua
atau bahkan sampai tiga kali. Jika setelah diupayakan haI-hal tersebut debitur tetap
tidak memberi jawaban, maka auditor perlu melakukan tindak Ianjut dengan
melaksanakan prosedur alternatif. Tujuan prosedur alternatif adalah untuk
menentukan, dengan cara tertentu yang bukan berupa pengiriman konfirmasi, apakah
akun tidak berjawab benar-benar ada dan dinyatakan dengan benar pada tanggal
neraca. Untuk konfirmasi tidak berjawab, auditor bisa memeriksa dokumen-dokumen
berikut untuk memeriksa keberadaan dan ketelitian transaksi penjualan individual
yang membentuk saldo akhir piutang usaha.

20
Peneriman Kas Kemudian

Bukti terjadinya penerimaan kas setelah Iewat tanggal konfirmasi, meliputi


pemeriksaan atas surat pengantar pembayaran, ayat jurnal dalam catatan penerimaan
kas, dan barangkali juga pengkreditan kemudian atas piutang dalam master file
piutang usaha Di satu sisi, penerimaan kas kemudian merupakan prosedur alternatif
yang sangat berguna karena sangat masuk akal untuk berasumsi bahwa seorang
pelanggan tidak akan mau melakukan pembayaran apabila ia tidak merasa memiliki
kewajiban untuk membayar kepada klien. Di Iain pihak, pembayaran tidak
menetapkan apakah kewajiban sudah ada pada tangal konfirmasi. Oleh karena itu,
auditor harus benar-benar cermat dalam mencocokkan setiap transaksi penjualan yang
belum diterima pembayarannya dengan bukti pembayaran yang terjadi kemudian
untuk menguji ketidakjelasan atau ketidakcocokan atas faktur-faktur yang diterbitkan.

Duplikat Faktur Penjualan

Dokumen ini berguna dalam pemeriksaan faktur penjualan yang sesungguhnya


diterbitkan dengan tanggal sesungguhnya dilakukan penagihan.

Dokumen Pengiriman Barang

Dokumen ini berguna dalam menetapkan apakah pengiriman telah dilakukan dan
untuk pengujian pisah batas.

Korespondensi dengan Klien

Biasanya auditor tidak merasa perlu untuk mereview korespondensi dengan klien
sebagai bagian dari prosedur alternatif, tetapi korespondensi bisa digunakan untuk
mengungkapkan ketidakjelasan dan piutang yang dipertanyakan yang tidak terungkap
oleh cara Iain.

Luas dan sifat prosedur alternatif terutama tergantung pada materialitas yang
tidak menjawab, jenis kesalahan penyajian yang ditemukan dalam konflrmasi yang

21
telah diterima jawabannya, penerimaan kas kemudian dari debitur yang tidak
menjawab, dan kesimpulan auditor tentang pengendalian internal.

ANALISIS SELISIH

Apabila konfirmasi dikembalikan oleh debitur, auditor harus menentukan apa yang
menyebabkan terjadi selisih (jika ada). Dalam banyak hal, perbedaan sering
disebabkan karena perbedaan waktu pencatatan klien dengan debiturnya. Hendaknya
dibedakan antara perbedaan waktu dengan penyimpangan yang merupakan kesalahan
penyajian saldo piutang usaha. Jenis-jenis penyebab perbedaan dalam konfirmasi
yang sering dijumpai adalah:

Pembayaran telah Dilakukan Debitur

Selisih atau perbedaan antara catatan klien dengan catatan debitur seringkali timbul
apabila debitur telah melakukan pembayaran sebelum tanggal konfirmasi, tetapi klien
belum menerima pembayaran tersebut sampai tanggal konfirmasi. Keadaan seperti itu
harus diselidiki dengan cermat untuk memastikan kemungkinan adanya kesalahan
penyajian pisah batas penerimaan kas, lapping, atau pencurian kas.

Barang Belum Diterima Debitur

Timbulnya perbedaan ini biasanya disebabkan karena klien mencatat penjualan pada
tanggal pengiriman barang, sedangkan pembe|i mencatat pembelian barang ketika
barang tersebut diterima. Waktu ketika barang masih dalam perjalanan sering menjadi
penyebab terjadinya selisih. Hal ini harus diselidiki untuk menentukan kemungkinan
pembeli sama sekali tidak menerima barang atau adanya kesalahan penyajian pisah
batas dalam catatan klien.

Barang Telah Dikembalikan (Retur)

Apabila klien lupa mencatat suatu kredit memo (yang dibuat sebagai dasar
pengembalian barang/retur penjualan) bisa menjadi salah saw penyebab perbedaan.
Seperti ha|nya penyebab yang |ain, ha! semacam ini harus diselidiki.

22
Kesalahan Pencatatan atau Kerancuan Jumlah

Jenis penyebab selisih yang paling sering terjadi dalam pembukuan klien adalah
kesalahan inen dalam mencatat harga barang, barang rusak, barang yang diterima
pembeli tidak sesuai dengan jumlah yang tenulis dalam dokumen dan sebagainya.
Perbedaan semacam ini harus diselidiki untuk menentukan apakah klien melakukan
kesalahan serta jumlah dari kesalahan tersebut.

Biasanya auditor akan minta klien untuk merekonsiliasi selisih yang dijumpai
dan apabila perlu berkomunikasi dengan pembeli untuk memecahkan
ketidakcocokan. Auditor harus memeriksa dengan cermat kesimpulan klien tentang
setiap selisih yang signifikan.

MENARIK KESIMPULAN

Apabila semua selisih telah dipecahkan, termasuk yang dijumpai dalam pelaksanaan
prosedur alternatif, auditor harus mengevaluasi ulang pengendalian internal. Setiap
kesalahan penyajian yang dilakukan klien harus dianalisis untuk menentukan apakah
hal itu konsisten atau tidak konsisten dengan tingkat risiko pengendalian yang
ditetapkan semula. Apabiia terjadi sejumlah kesalahan penyajian signifikan yang
tidak konsisten dengan taksiran risiko pengendalian, auditor perlu merevisi penetapan
dan mempertimbangkan pengaruh revisi terhadap audit.

Generalisasi dari sampel ke populasi keseluruhan juga perlu dilakukan.


Meskipun sejumlah kesalahan penyajian dalam sampel tidak secara signifikan
berpengaruh terhadap Iaporan keuangan, auditor harus mempertimbangkan apakah
ada kemungkinan populasi kesalahan penyajian secara material. Generalisasi dari
sampel ke populasi dapat dilakukan dengan tehnik sampling nonstatistika atau
statistika seperti akan dijelaskan pada Bab 14.

Auditor harus selalu mengevaluasi kesalahan penyajian dalam sampel yang


bersifat kualitatif, berapapun besarnya jumlah rupiah taksiran kesalahan penyajian
dalam populasi. Bahkan apabila taksiran kesalahan penyajian lebih kecil daripada

23
kesalahan penyajian bisa ditoleransi untuk piutang usaha, kesalahan penyajian yang
dijumpai dalam sampel bisa saya menjadi bibit untuk terjadinya masalah yang lebih
serius.

Keputusan akhir tentang piutang usaha dan penjualan adalah apakah bukti
kompeten yang cukup telah diperoleh melalui pengujian pengendalian dan pengujian
substantif transaksi, prosedur analitis, prosedur pisah batas, konfirmasi, dan
pengujian substantif lain untuk mendukung penarikan kesimpulan tentang kebenaran
saldo.

24
DAFTAR PUSTAKA

Jusup, Al. Haryono. 2014. Auditing (Pengauditan Berbasis ISA). Yogyakarta :


Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN

25