Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK

PERKEMBANGAN ABNORMAL/ ABK


Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Perkembangan Peserta Didik
Dosen pengampu : Ali ridho S,s M,Si

KELOMPOK 6

 Achmad Mujiburrahman 201715500017


 Sang eranio H 201715500015
 Adam febriansyah 201715500010
 Febri Is wahyudi 201715500091

PENDIDIKAN PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN DAN PENGETAHUAN SOSIAL
UNIVERSITAS INDRA PRASTA PGRI
2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat-Nya

yang telah dilimpahkan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah pada

BAB 6 tentangPerkembangan Abnormal/ ABK.

Penulis telah banyak mendapat bantuan dan masukan dari berbagai pihak. Oleh

karena itu, dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada Bapak Ali

ridho S,S. M,Si . yang merupakan selaku Dosen Mata Kuliah Perkembangan Peserta Didik

Prodi Perkembangan peserta didik universita indra prasta PGRI yang telah memberikan tugas

ini sehingga pengetahuan penulis semakin bertambah.

Penulis menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan,

namun demikian telah memberikan manfaat bagi penulis. Akhir kata penulis berharap makalah

ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Kritik dan saran yang bersifat menbangun akan penulis

terima dengan senang hati.


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Rumusan Masalah
C. Manfaat

BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Abnormalitas Perkembangan
B. Aspek- aspek Perkembangan Abnormalitas
C. Gangguan Fungsi Fisik dan Psikomotor
D. Anak Berkebutuhan Khusus
E. Jenis- jenis Anak Berkebutuhan Khusus
E. Anak Berbakat

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
SARAN

DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Tidak setiap anak yang dilahirkan di dunia ini selalu mengalami perkembangan
normal.Banyak di antara mereka yang dalam perkembangannya mengalami hambatan,
gangguan, kelambatan, atau memiliki faktor-faktor resiko sehingga untuk mencapai
perkembangan optimal diperlukan penanganan atau intervensi khusus. Kelompok inilah yang
kemudian dikenal sebagai anak berkebutuhan khusus atau anak luar biasa.
Dalam memahami anak berkebutuhan khusus atau anak luara biasa, sangat diperlukan
adanya pemahaman mengenai jenis-jenis kecacatan (anak berkebutuhan khusus) dan akibat-
akibat yang terjadi pada penderita. Anak berkebutuhan khusus disebut sebagai anak yang cacat
dikarenakan mereka termasuk anak yang pertumbuhan dan perkembangannya mengalami
penyimpangan atau kelainan, baik dari segi fisik, mental, emosi, serta sosialnya bila
dibandingkan dengan nak yang normal.
Karakteristik spesifik anak berkebutuhan khusus pada umumnya berkaitan dengan tingkat
perkembangan fungsional. Karakteristik spesifik tersebut meliputi tingkat perkembangan
sensorik motor, kognitif, kemampuan berbahasa, keterampilan diri, konsep diri, kemampuan
berinteraksi social, serta kreatifitasnya.Adanya perbedaan karakteristik setiap peserta didik
berkebutuhan khusus, akan memerlukan kemampuan khusus guru. Guru dituntut memiliki
kemampuan beraitan dengan cara mengombinasikan kemampuan dan bakat setiap anak dalam
beberapa aspek. Aspek-aspek tersebut meliputi kemampuan berpikir, melihat, mendengar,
berbicara, dan cara besosialisasikan. Hal-hal tersebut diarahkan pada keberhasilan dari tujuan
akhir pembelajaran, yaitu perubahan perilaku kearah pendewasaan.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Abnormalitas Perkembangan?
2. Apa saja aspek-aspek Perkembangan Abnormalitas?
3. Apa itu Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)?
4. Apa saja jenis Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)?

C. Manfaat
1. Untuk mengetahui definisi Abnormalitas Perkembangan.
2. Untuk mengetahui aspek- aspek perkembangan abnormalitas.
3. Untuk mengetahui definisi Anak Berkebutuhan Khusus(ABK).
4. Untuk mengetahui jenis Anak Berkebutuhan Khusus(ABK).
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Abnormalitas Perkembangan

Anak abnormal adalah anak yang memiliki kelainan atau penyimpangan dari rata-rata anak
normal, baik dari segi fisik, sosial maupun mental. Sehingga dalam perkembangan
potensinya memerlukan layanan pendidikan yang khusus yang berbeda dengan yang lainnya.
Anak abnormal adalah anak yang memiliki kelainan atau penyimpangan dari rata-rata anak
normal, baik dari segi fisik, sosial maupun mental. Sehingga dalam perkembangan potensinya
memerlukan layanan pendidikan yang khusus yang berbeda dengan yang lainnya

B. Aspek- aspek Perkembangan Abnormalitas

1. Aspek fisik
Aspek fisik yaitu ketidak mampuan seorang anak yang berhubungan dengan fisik seperti anak
tunarungu, tunadaksa, tunagrahita, tunanetra dan tunawicara.
2. Aspek sosial
Aspek sosial adalah dalam hal ini memiliki kesulitan dalam bersosialisasi atau menyesuaikan
perilakunya dengan lingkungan sekitar. Anak dalam kelompok ini dikategorikan sebagai
tunalaras.
3. Aspek mental
Aspek mental adalah anak yang mempunyai kemampuan mental lebih (supernormal) atau anak
yang berbakat dan anak yang mempunyai kemampuan mental sangat rendah (subnormal) yang
disebut tunagrahita.

C. Gangguan Fungsi Fisik dan Psikomotor

Cacat fisik adalah jenis cacat dimana salah satu atau lebih anggota tubuh bagian tulang atau
persendian mengalami kelainan, sehingga timbul rintangan dalam melakukan fungsi gerak.
Gangguan fungsi fisik dan psikomotor pada umumnya disebabkan oleh kerusakan-kerusakan
otak atau organ perifer yaitu kerusakan pada susunan syaraf pusat atau pada anggota badan,
urat daging atau pada panca indra.
1. Terminologi Cacat (handicaped)
a. Impairement
Adalah suatu kehilangan atau suatu keadaan abnormalitas dari psikis atau fisik baik struktur
maupun fungsinya. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah gangguan mata, yaitu buta
keseluruhan maupun sebagian, gangguan pendengaran baik yang sukar mendengar maupun
tuli, gangguan bicara atau tuna wicara, dan lumpuh atau tuna grahita.
b. Disability
Adalah suatu hambatan atau gangguan dari kemampuan untuk melaksanakan aktivitas yang
biasanya dapat dikerjakan oleh orang yang normal sebagai akibat dari impairement.
c. Handicaped
Adalah suatu kerugian yang diderita oleh individu akibat impairement dan disability. Kerugian
ini dapat timbul dari dirinya sendiri (intrinsic handicaped) dan dapat pula dari lingkungan
(extrinsic handicaped).

2. Cacat Mental

Pengertian umum dari gangguan macam ini adalah deviansi. Deviansi menunjuk pada suatu
pola tingkah laku yang menyimpang dari norma-norma dapat dilihat dari pandangan system
sosial. Perkembangan yang terganggu ditandai oleh penyimpangan dari keadaan normal.
Gangguan perkembangan ini dapat terjadi secara perlahan-lahan, namun juga dapat terjadi
secara mendadak. Termasuk dalam Pengertian deviansi adalah gangguan mental (retardasi)
sehingga anak mengalami kesulitan belajar.
Pada anak yang mengalami retardasi mental ini terjadi gangguan terutama meliputi aspek
intelektualnya dan juga kekurangan dalam perkembangan kepribadian atau gangguan perilaku
lainnya. Retardasi mental merupakan masalah dunia dengan imflikasi yang cukup besar.
Tingkatan retardasi mental, yaitu: Tingkat batas atau borderline, tingkat ringan yang masih
mampu di didik, tingkat sedang, tingkat berat, dan tingkat sangat berat. Anak dengan retardasi
mental menjadi sumber kecemasan. Sehingga, anak ini tidak dapat mengikuti pendidikan
sekolah biasa, karena cara berfikirnya yang terlalu sederhana, daya tangkap dan daya ingatnya
rendah, demikian pula dengan Pengertian bahasa dan berhitungnya sangat lemah.

3. Gangguan Psiko Sosial dan Perilaku


a. Autistik
Autisme digolongkan oleh banyak ahli sebagai psikopat. Psikopat adalah suatu golongan
bawaan yang menyebabkan orang tidak dapat mengadakan hubungan afektif yang normal dan
selalu merupakan problem bagi orang lain dan bagi dirinya sendiri. Gangguan perkembangan
autisme sudah nampak tanda-tandanya pada masa awal perkembangan. Ciri khas dari autisme
adalah bahwa mereka sejak dilahirkan mempunyai kontak sosial yang sangat terbatas. Kotak
sosial yang sangat terbatas itu karena adanya kecemasan, perasaan tak terlindung, keraguan,
rasa terasing dan ketidak mampuan mengerti masalah sosial. Dugaan akan penyebab autisme
ada bermacam-macam, diantaranya schizoprenia yaitu golongan penyakit mental yang ditandai
dengan banyak simptom. Oleh karena itu, terapinya memerlukan banyak ahli yang bekerja
secara sistematis.
b. Anak Sukar Didik
Mendidik adalah memberikan bantuan kepada orang lain. Salah satu lembaga pendidikan yang
fundamental adalah keluarga dan sekolah. Salah satu factor kesulitan dalam pendidikan adalah
karakteristik anak, yaitu anak yang memiliki karakter sukar didik.
Anak yang sukar didik menunjukkan tanda-tanda “acting out” yang berbahaya dan sering kali
agresif serta sukar diajak berkomunikasi dialog untuk diminta diminta keterangan mereka.
Keadaan sukar didik berkaitan dengan penolakan terhadap norma masyarakat dan penolakan
terhadap apa yang dianggap “benar” oleh masyarakat.
c. Anak dengan Gangguan Belajar
Gangguan belajar adalah penyimapangan dalam proses belajar yang berhubungan dengan
deskrepansi yang signifikan antara kemampuan yang diperlukan dalam bahasa dan berfikir
logika matematika dengan tingkat prestasi yang nyata dalam bahasa dan matematika.
Gangguan bahasa sudah dapat dilihat pada perkembangan awal. Gangguan bahasa ini terwujud
dalam ganggua bicara (bisu, gagap). Kemampuan bahasa merupakan indicator seluruh
perkembangan anak, karena kemampuan bahasa sensitive terhadap keterlambatan atau
kerusakan pada system lainnya, sebab kemampuan bahasa melibatkan kemampuan kognitif,
sensori-motorik, psikologis, emosi, dan lingkungannya.
d. Anak Nakal/delinkuensi
Ciri dari anak nakal adalah tindakannya melawan hukum dan sering cenderung kriminal.
Hubungan antara delinkuen dengan remaja putus sekolah mungkin dapat ditelusuri
kebenarannya, meskipun begitu anak remaja yang putus sekolah dan berkeliaran belum tentu
delinkuen. Anak-anak nakal benar-benar melakukan kejahatan dan pelanggaran yang serius.
Delinkuen ditemukan pada anak remaja yang berasal dari berbagai tingkatan sosial ekonomi
dan bukan dari kelas sosial sosial ekonomi rendah saja. Anak-anak delikuen mempunyai
kepercayaan yang lebih kuat, memberontak dan ambivalen otoritas, mendendam, dan
menunjukkan sikap bermusuhan, curiga, destruktif, impulsive, dan menunjukkan kontrol batin
yang kurang.
Upaya untuk mengatasi masalah delinkuensi membutuhkan terapi yang menyangkut perilaku.
Perlu diterapkan prinsip reinforcement seperti membiarkan atau tidak menghukum kesalahan
atau kegagalan, memuji tingkah laku yang positif dan belajar model atau role playing. Untuk
delinkuensi ringan hal ini mungkin cukup mujarab, tetapi untuk delinkuensi berat hal ini perlu
mendapatkan pembuktian.
e. Alienasi atau Pecandu
Alienasi adalah perasaan menjadi asing terhadap sesuatu. Alienasi merupakan problematik
identitas kepribadian anak, sehingga mereka “lari” dari kenyataan hidup yang sebenarnya
untuk mendapatkan kenikmatan baru. Oleh karena itu, alineasi juga sering disebut sebagai
pecandu. Pada remaja sering kali mereka melepaskan diri dari keluarga, hal ini merupakan
penanda awal dari dari kemungkinan terjadinya alienasi.
Merasa asing dapat bersifat parsial atau total. Pada tingkat terakhir alienasi dapat berwujud
ekstrim. Refleksi dari alienasi sering berwujud kecanduan akan minuman keras dan terutama
obat. Oleh karene itu, ada hubungan yang erat antara alienasi dengan kecanduan’’drug hard’’.
Kalau udah demikian maka susah untuk melakukan penanganan. Sehingga, diperlukan
pengobatan individual yang dilakukan atau dilaksanakan diklinik-klinik khusus.
f. Rehabilitasi Cacat
Upaya untuk memperbaiki keadaan cacat disebut sebagai rehabilitasi. Rehabilitasi dilakukan
secara medis, edukatif, sosial, dan psikologis. Rehabilitasi terhadap penderita cacat
membutuhkan kerja yang tekun dari berbagai bidang, seperti ahl kesehatan, ahli kejiwaan, dan
ahli pendidikan.
Tujuan dari rehabilitas meliputi upaya perbaikan dan pencegahan sehingga rehabilitasi bersifat
promotif, preventif, dan kuratif. Tujuan umum dari upaya rehabilitasi adalah mencegah
terjadinya kecacatan dengan memberikan rehabilitasi sedini mungkin, mengurangi terjadinya
kecacatan dengan memberikan latihan-latihan serta memberikan alat-alat seperti protesa, alat
penyanggah dan lain-lain, serta mengembalikan kemampuan bekerja dari penderita cacat
dengan mempersiapkan kemampuan jasmani, rohani dan terutama kemampuan mengurus diri
sendiri.
Rehabilitasi terhadap penderita cacat diselenggarakan oleh pemerintah melalui pendidikan dan
rehabilitasi medis. Pendidikan bagi anak cacat diIndonesia dibagi menjadi 5, yaitu:
a. SLB bagian A: untuk anak dengan kelainan penglihatan atau tuna netra.
b. SLB bagian B: untuk anak dengan kalainan pendengaran dan bicara.
c. SLB bagian C: untuk anak dengan keterbelakangan mental atau tuna grahita.
d. SLB bagian D: untuk anak dengan kelainan anggota tubuh atau tuna daksa.
e. SLB bagian E: untuk anak dengan tuna laras atau mempunyai kalainan emosi.

D. Anak Berkebutuhan Khusus

Anak berkebutuhan khusus dapat diartikan sebagai anak yang lambat atau mengalami
gangguan yang tidak akan pernah berhasil di sekolah sebagaimana anak-anak pada umumnya.
Banyak istilah yang dipergunakan sebagai variasi dari kebutuhan khusus,seperti disability,
impairment, handicaped. Menurut World Health Organization (WHO),definisi masing -masing
istilah sebagai berikut :
1. Impairment : merupakan suatu keadaan atau kondisi di mana individu mengalami kehilangan
atau abnormalitas psikologis, fisiologis atau fungsistruktur anatomis secara umum pada tingkat
organ tubuh. Contoh seseorang yang mengalami amputasi satu kakinya, maka dia mengalami
kecacatan kaki.
2.Disability: merupakan suatu keadaan di mana individu mengalami kekurangmampuan yang
dimungkinkan karena adanya keadaan impairment seperti kecacatan pada organ tubuh. Contoh
pada orang yang cacat kakinya, maka dia akan merasakan berkurangnya fungsi kaki untuk
melakukan mobilitas.
3.Handicaped: merupakan ketidak beruntungan individu yang dihasilkan dari impairment atau
disabilityyang membatasi atau menghambat pemenuhan peran yang normal pada
individu.Handicapedjuga bisa diartikan suatu keadaan di mana individu mengalami
ketidakmampuan dalam bersosialisasi dan berinteraksi dengan lingkungan. Hal ini
dimungkinkan karena adanya kelainan dan berkurangnya fungsi organ individu. Contoh orang
yang mengalami amputasi kaki sehingga untuk aktivitas mobilitas atau berinteraksi dengan
lingkungannya dia memerlukan kursi roda.Termasuk anak-anak berkebutuhan khusus yang
sifatnya temporer di antaranya adalah anak-anak penyandangpost traumatic syndrome
disorder(PTSD) akibat bencana alam, perang, atau kerusuhan,anak-anak yang kurang gizi, lahir
prematur, anak yang lahir dari keluarga miskin, anak-anak yang mengalami depresi karena
perlakukan kasar, anak-anak korban kekerasan, anak yang kesulitan konsentrasi karena sering
diperlakukan dengan kasar, anak yang tidak bisa membaca karena kekeliruan guru mengajar,
anak berpenyakit kronis, dan sebagainya.
Jenis-jenis Anak Berkebutuhan Khusus1. Kelainan Mental terdiri dari:a. Mental TinggiSering
dikenal dengan anak berbakatintelektual, di mana selain memiliki kemampuan intelektual di
atas rerata normal yang signifikan juga memiliki kreativitas dan tanggung jawab terhadap
tugas.b. Mental RendahKemampuan mental rendah atau kapasitas intelektual (IQ) di bawah
rerata dapat dibagi menjadi 2 kelompok yaitu anak lamban belajar (slow learners) yaitu anak
yang memilki IQ antara 70 – 90. Sedangkan anak yang memiliki IQ di bawah 70 dikenal
dengan anak berkebutuhan khusus.c. Berkesulitan Belajar SpesifikBerkesulitan belajar
berkaitan dengan prestasi belajar (achivement) yang diperoleh siswa. Anak berkesulitan belajar
spesifik adalah anak yang memiliki kapasitas intelektual normal ke atas tetapi memiliki
prestasibelajar rendah pada bidang akademik tertentu.2. Kelainan Fisik meliputi:a. Kelainan
Tubuh (Tunadaksa)Tunadaksa adalah individu yang memiliki gangguan gerak yang
disebabkan oleh kelainan
E. Jenis- jenis Anak Berkebutuhan Khusus

1. Kelainan Mental terdiri dari:


a. Mental Tinggi Sering dikenal dengan anak ber bakat intelektual, di mana selain memiliki
kemampuan intelektual di atas rerata normal yang signifikan juga memiliki kreativitas dan
tanggung jawab terhadap tugas.
b. Mental Rendah Kemampuan mental rendah atau kapasitas intelektual (IQ) di bawah rerata
dapat dibagi menjadi 2 kelompok yaitu anak lamban belajar (slow learners) yaitu anak yang
memilki IQ antara 70 – 90. Sedangkan anak yang memiliki IQ di bawah 70 dikenal dengan
anak berkebutuhan khusus.
c. Berkesulitan Belajar Spesifik Berkesulitan belajar berkaitan dengan prestasi belajar
(achivement) yang diperoleh siswa. Anak berkesulitan belajar spesifik adalah anak yang
memiliki kapasitas intelektual normal ke atas tetapi memiliki prestasibelajar rendah pada
bidang akademik tertentu.
2. Kelainan Fisik meliputi:
a. Kelainan Tubuh (Tunadaksa)
Tunadaksa adalah individu yang memiliki gangguan gerak yang disebabkan oleh kelainan dan
struktur tulang yang bersifat bawaan, sakit atau akibat kecelakaan
Tingkat gangguan pada tunadaksa adalah ringan yaitu memiliki keterbatasan dalam melakukan
aktivitas tetap masih dapat ditingkatkan melalui terapi, sedang yaitu memilki keterbatasan
motorik dan mengalami gangguan koordinasi sensorik, berat yaitu memiliki keterbatasan total
dalam gerakan fisik dan tidak mampu mengontrol gerakan fisik.
b. Kelainan Indera Penglihatan (Tunanetra)Tunanetra adalah individu yang memiliki hambatan
dalam penglihatan. Tunanetra dapat diklasifikasikan kedalam dua golongan yaitu:buta
total(blind) dan lemah pandangan.
Definisi tunanetra menurut Kaufman & Hallahanadalah individu yang memiliki lemah
penglihatan atau akurasi penglihatan kurang dari 6/60 setelah dikoreksi atau tidak lagi memiliki
penglihatan. Karena tunanetra memiliki keterbataan dalam indra penglihatan maka proses
pembelajaran menekankan pada alat indra yang lain yaitu indra perabadan indra
pendengaran.Untuk membantu tunanetra beraktivitas di sekolah luar biasa mereka belajar
mengenai orientasi dan mobilitas. Orientasi dan Mobilitas diantaranya mempelajari bagaimana
tunanetra mengetahui tempat dan arah serta bagaimana menggunakantongkat putih(tongkat
khusus tunanetra yang terbuat dari alumunium)
c. Kelainan Pendengaran (Tunarungu)
Tunarungu adalah individu yang memiliki hambatan dalam pendengaran baik permanen
maupun tidak permanen. Klasifikasi tunarungu berdasarkan tingkat gangguan pendengaran
adalah:
1.Gangguan pendengaran sangat ringan(27-40dB)
2.Gangguan pendengaran ringan(41-55dB)
3.Gangguan pendengaran sedang(56-70dB)
4.Gangguan pendengaran berat(71-90dB)
5.Gangguan pendengaran ekstrim/tuli(di atas 91dB)
Kelainan pendengaran dapat dikelompokkan menjadi 2 kelompokyaitu tuli (deaf) dan kurang
dengar (hard of hearing).
d. Kelainan Bicara (Tunawicara)
Seseorang yang mengalami kesulitan dalam mengungkapkan pikiran melalui bahasa verbal,
sehingga sulit bahkan tidak dapat dimengerti orang lain. Kelainan bicara ini dapat bersifat
fungsional di mana mungkindisebabkan karena ketunarunguan, dan organik yang memang
disebabkan adanya ketidaksempurnaan organ bicara maupun adanya gangguan pada organ
motoris yang berkaitan dengan bicara.
3. Kelainan Emosi
Gangguan emosi merupakan masalah psikologis, dan hanya dapatdilihat dari indikasi perilaku
yang tampak pada individu. Adapun klasifikasi gangguan emosi meliputi:
a.Gangguan Perilaku
·Mengganggu di kelas
·Tidak sabaran-terlalu cepat bereaksi
·Tidak menghargai-menentang·Menyalahkan orang lain
·Kecemasan terhadap prestasi di sekolah
·Dependen terhadap orang lain
·Pemahaman yang lemah
·Reaksi yang tidak sesuai
·Melamun, tidak ada perhatian, dan menarik diri
b.Gangguan Konsentrasi (ADD/Attention Deficit Disorder)
Enam atau lebih gejalainattention, berlangsung paling sedikit 6 bulan, ketidakmampuan untuk
beradaptasi, dan tingkat perkembangannya tidak konsisten. Gejala-gejala inattention tersebut
antara lain:
·Sering gagal untuk memperhatikan secara detail, atau sering membuat kesalahan dalam
pekerjaan sekolah atau aktivitas yang lain.
·Sering kesulitan untuk memperhatikan tugas-tugas atau aktivitas permainan
·Sering tidak mendengarkan ketika orang lain berbicara
·Sering tidak mengikuti intruksi untuk menyelesaikan pekerjaan sekolah
·Kesulitan untuk mengorganisir tugas-tugas dan aktivitas-aktivitas
·Tidak menyukai pekerjaan rumah dan pekerjaan sekolah
·Sering tidak membawa peralatan sekolah seperti pensil, buku, dan sebagainya
·Sering mudah beralih pada stimulus luar
·Mudah melupakan terhadap aktivitas sehari-hari
c.Gangguan Hiperaktive (ADHD/Attention Deficit Hiperactivity Disorder)
·Perilaku tidak bisa diam
·Ketidakmampuan untuk memberi perhatian yang cukup lama
·Hiperaktivitas
·Aktivitas motorik yang tinggi
·Mudah buyarnya perhatian
·Canggung, Infeksibilitas
·Toleransi yang rendah terhadap frustasi
·Berbuat tanpa dipikir akibatnya.

E. Anak Berbakat

Peserta didik yang mampu menumbuhkembangkan berbagai potensi kemanusiaannya pada


taraf yang tinggi disebut sebagai peserta didik yang berbakat. Keberbakatan merupakan konsep
yang berakar bilogis, yang menunjuk pada adanya taraf yang tinggi dari inteligensi sebagai
hasil integrasi fungsi-fungsi otak, meliputi penginderaan, emosi, kognisi dan intuisi.
Keberbakatan dengan demikian merupakan potensi anak yang terlihat dari kreativitas verbal
maupun non verbal. Anak berbakat ialah anak yang mencapai kemampuan superior dalam
suatu bidang yang dianggap bernilai oleh masyarakat. Dilihat dari skor IQ, anak berbakat
berada dalam skore 135 s/d 200, mempunyai prestasi yang tinggi dalam belajar dan penonjolan
yang luar bisa dalam bidang tertentu.
1. Ciri-ciri anak berbakat:
a. Ciri fisik sehat dan perkembangan psikomotori lebih cepat dari rata-rata, terutama dalam
kemampuan koordinasi
b. Ciri mental intelektual: usia mental lebih tinggi dari pada rata-rata anak normal. Daya
tangkap dan pemahaman lebih cepat dan luas. Dapat berbicara lebih dini. Hasrat ingin tahu
lebih besar, selalu ingin mencari jawab. Kreatif, mandiri dalam bekerja dan belajar serta
mempunyai cara belajar yang khas
c. Ciri mental emosional; mempunyai kepercayaan diri yang kua, persisten sampai
keinginannya terpenuhi atau gigih. Peka terhadap situasi di sekitarnya, senang terhadap hal-hal
yang baru dan ciri ini dapat berkembang menjadi negatif bosan dengan hal-hal rutin, egois dan
sebagainya.
d. Ciri sosial: senang bergaul dengan anak yang lebih tua, suka bermain dengan permainan
yang mengandung pemecahan masalah, suka bekerja sendiri, sukar bergaul dengan teman
sebaya, sukar menyesuaikan diri.
e. Anak berbakat selalu rasional, responsif, senang belajar, kreatif, orisinil, apresiatif,
elaboratif serta menerapkan metode ilmiah.
2. Masalah- masalah yang ditimbulkan oleh ciri- ciri anak berbakat, yaitu:
a. Kemampuan berfikir kritis dapet mengarah ke sikap skeptis dan sikap kritis terhadap diri
sendiri maupun orang lain.
b. Kemampuan kreatif dan minat untuk melakukan hal- hal baru bisa menyebabkan anak
berbakat tidak menyukai atau lekas bosan terhadap tugas- tugas yang lain.
c. Perilaku ulet dan terarah pada tujuan sering tampak pada anak berbakat dapet menjurus
pada keinginan untuk memaksakan atau mempertahankan pendapatnya.
d. Kepekaan anak- anak berbakat bisa membuatnya tersinggung atau peka terhadap kritik
orang lain.
e. Semangatnya yang tinggi dan kesiagaanya serta inisiatifnya dapat membuat kurang sabar
atau kurang toletran jika ada kegiatan atau kurang nampak kemajuan dalam kegiatan yang
sedang berlangsung.
f. Tidak mudah tunduh kepada orang lain, bisa merasa ditolak atau kurang dimengerti oleh
lingkungannya.
3. Program Pendidikan untuk Anak Berbakat
Program pendidikan untuk anak berbakat dapat dikelompokkan menjadi tiga bentuk, yaitu:
a. Pengayaan atau enrichment adalah pembinaan anak berbakat dengan penyediaan kesempatan
dan fasilitas belajar tambahan yang bersifat ekstensif dan intensif. Pengayaan diberikan
kepada anak setelah yang bersangkutan menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan untuk
anak-anak sekelasnya. Pengayaan dapat diberikan seperti tugas perpustakaan, independent
study, proyek penelitian, studi kasus dsb
b. Percepatan atau akselerasi yaitu cara penanganan anak berbakat dengan memperbolehkan naik
kelas secara meloncat atau menyelesaikan program reguler dalam jangka waktu yang lebih
singkat. Variasi bentuk percepatan ini antara lain adalah:
 Eraly admission atau masuk lebih awal,
 Advanced placement atau naik kelas sebelum waktunya, mempercepat kenaikan kelas,
advanced courses atau mempercepat pelajaran atau merangkap kelas dll.
c. Pengelompokan khusus atau segregation yang dapat dilakukan sepenuhnya atau sebagian yaitu
bila sejumlah anak berbakat dikumpulkan dan diberi kesempatan untuk secara khusus
memperoleh pengalaman belajar yang sesuai dengan potensinya
BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN

1. Perkembangan merupakan perubahan individu baik fisik maupun psikis yang


berlangsung sepanjang hayat dan terjadi secara teratur dan terpola.Perkembangan.
2. Abnormal adalah perkembangan yang terjadi secara tidak normal. Faktor yang
mempengaruhi perkembangan anak ada dua yaitu Faktor heredokonstitusionil dan factor
lingkungan.
3. Pendidikan bersifat universal (menyeluruh) baik sehat atau cacat berhak untuk
mendapat pendidikan yang layak. Peserta didik yang mengalami abnormalitas perkembangan,
merupakan anak-anak Indonesia yang sebenarnya memiliki sedikit perilaku yang menyimpang
dari anak-anak normal, dan mereka pastilah mempunyai kelebihan dan bakat masing-masing
yang apabila dikembangkan dan diasah sedemikian rupa maka mereka tak ubahnya sederajat
dengan anak-anak normal yang membedakan hanyalah dari segi fisik.

4. Abnormalitas perkembangan tidak hanya mengacu pada perkembangan abnormal ke


bawah tetapi juga pada perkembangan abnormal ke atas.

SARAN

1. Kita harus menghargai anak-anak yang mengalami abnormalitas perkembangan


2. Kita tidak boleh mendiskriminasikan anak-anak yang memiliki abnormalitas
perkembangan misalnya memberikan kesempatan kepada anak tersebut untuk
berpartisipasi dalam kegiatan di lingkungannya
3. Kita harus mampu menumbuhkan rasa percaya diri terhadap anak-anak yang
mengalami abnormalitas perkembangan, agar mereka mampu menerima
keterbatasannya.

DAFTAR PUSTAKA
Setianingsih, Eka Sari, dkk. 2017. Perkembangan Peserta Didik. Semarang: UPGRIS
Annas, Arifatul. 2012. Abnormalitas Perkembangan. http://arifatul-
arifannas.blogspot.co.id/2012/12/abnormalitas-perkembangan.html, 15 Mei 2017