Anda di halaman 1dari 39

RESUME FISIKA MODERN

SIFAT GELOMBANG DARI PARTIKEL

DISUSUN OLEH :

NAMA : DONA FITRI AYU

NIM : 17033010

PRODI : PENDIDIKAN FISIKA B

JURUSAN FISIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGRI PADANG

2019
1.Presentasi gelombang

Einstein memperkenalkan kepada kita sifat partikel dari gelombang pada thn
1905 (efek photoelektrik). Teori Einstein ini diperkuat oleh hamburan Compton
Tapi, apakah kebalikannya berlaku ?Apakah partikel memiliki sifat gelombang? 1923,
ketika masih sebagai mhs pasca sarjana University of Paris, Louis de Broglie
mempublikasikan tulisan ringkas dalam journal Comptes rendus yang berisi ide yang
revolutionor terhadap pemahaman fisikapada level yang paling fundamental: yaitu
bahwa partikel memiliki sifat gelombangintrinsic
Werner Heisenberg dan kemudian Erwin Schrödinger mengembangkan teori
berdasarkan sifat gelombang dari partikel.

louis de broglie heisenberg schrodinger

Setelah ditemukannya partikel dan gelombang tahun 1905 dan menemukan


bahan gelombang yang salah satunya gelombang elektromagnetik pada suatu saat dapat
bersifat sebagai partikel dan suatu saat dapat bersifat gelombang.Dengan kajian ini kita
dapat melihat bahan meskipun gelombang maupun partikel dapat berkelakuan sebagai
foton dan materi tetapi kedua fenomena tersebut tidak dapat dijelaskan secara
bersamaan tergantung sudut pandang pengamatan kita ataupun mekanisme paling
dominan yang terjadi saat itu. Dalam bab ini menjelaskan tentang teori gelombang de
Broglie, persamaan umum gelombang dan sifat- sifatnya, partikel dalam kotak dan
prinsipketaktentuan.
Gelombang zat, atau gelombang pengarah (pemandu) telah menjadi bagian
khasanah ilmu Fisika pada tahun 1925 dengan ditandai oleh munculnya hipotesa de-
Broglie.Hipotesa tentang gelombang pengarah sangat diilhami oleh studi mengenai
gerak elektron dalam atom Bohr.
Gelombang zat yang senantiasa menyertai gerak suatu zarah melengkapkan
pandangan tentang dualisme zarah gelombang.Dengan demikian perbedaan antara
cahaya dan zarah, atau lebih tegasnya antara gelombang dan zarah menjadi
hilang.Gelombang cahaya dapat berperilaku sebagai zarah, sebaliknya zarah dapat
berperilaku sebagai gelombang.
Pandangan semacam itu sangat berbeda dengan persepsi manusia tentang gejal-
gajal fisik konkret yang dialami nya sehari-hari.Sejak abad ke-20 teori-teori klasik
mulai dipertanyakan kesahihannya untuk dipergunakan di tingkat atom yang sub-atom.
Satu tahun setelah postulat de-Broglie disebarluaskan seorang ahli fisika dari
Austria, Erwin Schrodinger berhasil merumuskan suatu persamaan diferensial umum
untuk gelombang de-Broglie dan dapat ditunjukkan pula kesahihannya untuk berbagai
gerak elektron.
Persamaan diferensial ini yang selanjutnya dikenal sebagai persamaan
gelombang Schrodinger sebagai pembuka jalan ke arah perumusan suatu teori
mekanika kuantum yang komprehensip dan lebih formalistik.Pada tahun 1927, satu
tahun setelah Schrodinger merumuskan persamaan gelombangnya, Heisenberg
merumuskan suatu prinsip yang bersifat sangat fundamental.Prinsip ini dirumuskan
pada waktu orang sedang sibuk mempelajari persamaan Schrodinger dan berusaha
keras untuk dapat memahami maknanya.
Pada tahun 1926, Heisenberg juga muncul dengan suatu cara baru untuk
menerangkan garis-garis spektrum yang dipancarkan oleh sistem atom. Pendekatannya
sangat lain, karena yang digunakannya adalah matriks. Hasil yang diperoleh dengan
cara ini sama dengan apa yang diperoleh melalui persamaan Schrodinger. Mekanika
kuantumnya Heisenberg dikenal sebagai mekanika matriks.
Secara kronologis prinsip Heisenberg muncul sesudah dirumuskannya persaaan
Schrodinger.Tetapi sebagai suatu prinsip teoritik hal itu merupakan suatu hal yang
fundamental, dan dapat disejajarkan dengan teori kuantum Einstein, postulat de-
Broglie, dan postulat Bohr.Oleh karenanya dalam pembahasannya prinsip Heisenberg
ditampilkan lebih dahulu dari persamaan Schrodinger.
Teori Planck tentang radiasi thermal, teori einstein tentang foton, teori Bohr
tentang atom Hidrogen, dan postulat de-Broglie tentang gelombang zat, serta prinsip
Heisenberg dikenal sebagai teori kuantum lama. Dalam teori kuantum lama terkandung
hampir semua landasan bagi suatu teori yang dapat menguraikan perilaku sistem-
sistem fisika pada tingkat atom dan sub-atom.Melepaskan Diri dari Konsep Klasik
Tentang Lintasan

Dalam mengkaji tentang radiasi thermal perlu dihipotesakan bahwa energi


(osilator) itu terkuantisasi, dalam telaah tentang efek fotolistrik dan efek Compton
timbul hipotesa bahwa cahaya itu terkuantisasi dan berperilaku sebagai zarah.Teori Bohr
mempostulatkan bahwa dalam keadaan-keadaan tertentu elektron yang dalam
gerakannya mengelilingi inti atom mengalami percepatan sentrifugal tidak
memancarkan radiasi elektromagnetik.Dan banyak lagi yang bersifat fundamental dalam
daerah Fisika Klasik harus ditinggalkan apabila diinginkan untuk menemukan suatu
kerangka konseptual yang dapat menjadi menemukan suatu kerangka konseptual yang
dapat menjadi landasan teoritik untuk gejala-gejala tingkat atom dan sub-atom.

Salah satu yang perlu ditinjau lagi adalah pandangan klasik tentang lintasan.
Pandangan bahwa jalan yang ditempuh suatu benda dalam ruang dapat dilukiskan
sebagai garis yang mulus (smooth) datang dari pengamat di dunia makro. Dalam suatu
proses abstrak dan idelisasinya benda tersebut kemudian dilukiskan sebagai suatu titik
(titik pusat massa) yang menempuh suatu lintasan berupa garis. Pandangan itu
didasarkan pengalaman manusia sejak ia melempar tombaknya yang pertama sampai
pada saat mempelajari lintasan-lintasan yang ditempuh peluru meriam. Pandangan
tersebut telah berkarat dalam otak manusia dan makin diperkuat oleh pengamatanya
sehari-harinya tentang perilaku benda-benda yang bergerak.
Demikian kuatnya pandangan itu berakar dalam benaknya sehingga dalam
menelaah gerak zarah dalam sistem tingkat atom besar kecenderungannya untuk juga
berpegang pada konsep lintsan klasik itu. Pertanyaan sekarang adalah : “Apakah konsep
klasik tentang lintasan suatu benda (zarah) dalam ruang masih tetap dapat dipegang
untuk menelaah sistem-sistem atom dan sub-atom?”.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut perlu ditelaah lebih dahulu kondisi yang
melingkupi suatu perangkat pengamatan lintasan untuk sistem fisika klasik (makro),
dan melihat apakah kondisi-kondisi tersebut dipenuhi oleh perangkat pengamatan
untuk suatu sistem atomik atau sub-atomik. Andaikan bahwa ingin direkam lintasan
yang ditempuh sebuah bola dalam ruang, bola tersebut bergerak di bawah pengaruh
gaya gravitasi bumi. Misalkan gerak bola tersebut direkam dengan tiga buah kamera
film secara cermat.Dengan menempatkan masing-masing kamera termaksud dalam
posisi yang tepat maka lintasan bola dalam ruang dapat ditentukan.
Bagaimanakah kedudukan bola tersebut terekam dalam film?Secara fisika bola
teramati karena cahaya matahari atau cahaya buatan yang dipantulkan oleh bola
tersebut sampai pada film di dalam kamera.Gajala pemantulan bearti bahwa foton-
foton yang bertumbukan dengan bola kemudian terhambur dalam sistem
kamera.Karena momentum linear foton-foton tersebut sangat kecil dibandingkan
dengan momentum linear bola maka pengaruh tumbukannya dapat diabaikan. Lintasan
yang ditempuh bola tidak terganggu oleh sistem pengamatannya (arus foton dan
kamera
Di sini terlihat adanya dua sistem yakni:
 Pertama, sistem fisika yang diamati, yaitu bola yang bergerak dalam ruang
dalam pengaruh gaya gravitasibumi.
Kedua, sistem pengamatan yang terdiri dari kamera film dan sumbercahaya.
Dalam susunan percobaan di atas kedua sistem tersebut tidak saling
mempengaruhi operasi masing-masing.Sistem pengamatan dan sistem yang diamati
tidak saling mempengaruhi.
Sekarang kita tinjau sebuah sistem mikro yakni lintasan elektron dalam pengaruh
medan gaya luar. Agar elektron tidak dipengaruhi oleh kehadiran geraknya oleh udara,
maka percobaan dilakukan dalam vakum.
Elektron ditembakkan dari sebelah kiri dengan energi kinetik beberapa puluh
elektron volt ke dalam ruang hampa udara. Karena pengaruh medan gaya luar maka
gerak elektron mengalami deflasi (penyimpangan). Andaikan terdapat mikroskop yang
dapat dipergunakan untuk melihat elektron maka dengan mengubah-ubah kedudukan
mikroskop pada saat pengamatan posisi elektron maka dapat diperoleh informasi
mengenai jejak elektron tersebut (hipotesis).
Dari sini pula kedudukan elektron teramati karna foton dari suatu sumber cahaya
yang berada dalam bejana vakum itu dipantulkan oleh elektron dan masuk dalam
mikroskop.Keadaannya agark berlainan dengan pengamatan tentang lintasan bola.
Foton yang dipergunakan untuk mengamati cukup besar momentum linearnya, sehingga
tumbukan dengan elektron akan mengubah lintasannya. Jadi apabila jejak elektron itu
diperoleh dari serangkaian foton yang terhambur ke dalam mikroskop maka terjadilah
juga serangkaian perubahan gerak elektron. Di sini pengaruh sistem pengamatan cukup
besar dan tak dapat diabaikan.Sistem pengamatan dan sistem fisik yang diamati saling
mempengaruhi.Lintasan yang diperoleh melalui pengamatan elektron penuh dengan
kelak-kelok dan lika-liku sebagai hasil tumbukan antara foton dengan elektron.
Andaikan kita mengadakan pengamatan yang kedua kalinya tentang lintasan
elektron tersebut maka bentuk lintasannya juga berkelok-kelok, namun berbeda
bentuknya dengan lintasan pengamatan pertama.Hal ini disebabkan foton dipancarkan
oleh sumber secara acak. Dengan demikian apabila dilakukan sepuluh kali pengamatan
maka akan diperoleh sepuluh lintasan yang berbeda-beda. Hal ini sangat berbeda
dengan pengertian lintasan dalam fisika klasik, sebagai idealisasinya maka lintasannya
adalah pasti dan tidak berubah apabila semua syarat sistem fisinya sama.
Yang dapat dimasukkan dalam pengamatan jejak elektron hanyalan pendekatan
statistik tentang lintasan, artinya tentang besar kebolehjadian pada saat
tertentu/elektron yang diamati berada dalam suatu kedudukan tertentu dalam ruang r.
Konsep klasik tentang lintasan suatu benda dalam ruang harus diganti dengan suatu
konsep statistik tentang kebolehjadian bahwa suatu elektron berada pada suatu
kedudukan dan waktu tertentu apabila kita menelaah suatu sistem tingkat atom dan
sub-atom. Hal ini disebabkan oleh suatu kenyataan bahwa dalam sistem atomik dan
sub-atomik sistem pengamatn dan sistem yang diamati berinteraksi dengankuat.
Tentunya dapat dikemukakan usul lain untuk tetap menggunakan konsep
lintasan dalam kasus sistem atomik dan sub-atomik, yakni foton yang dipergunakan
adalah foton dengan momentum linear rendah, artinya energi foton juga rendah,
sehingga tidak besar pengaruhnya terhadap gerak elektron yangditumbuknya.
Foton berenergi rendah berarti panjang gelombang foton adalah besar Foton dapat
dipresentasikan sebagai paket gelombang dengan panjang gelombang yang dominan.
1.GELOMBANG DE BROGLIE
Dalam cara tertentu partikel yang bergerak memiliki sifat gelombang.sebuah
foton berfrekuensi v mempunyai momentum
Yang dapat dinyatakan dengan panjang gelombang ‫ ג‬sebagai

Karena ‫ג‬v = c, maka panjang gelombang foton ditentukan oleh momentumnya menurut
hubungan panjang gelombang foton

De Broglie mengusulkan agar persamaan (3.1) ini berlaku umum yang bisa
dipakai untuk partikel suatu materi atau foton. Montum suatu partikel bermassa m dan
kecepatan v ialah p = mv, dan panjang gelombang de Broglienya adalah

Makin besar momentum partikel itu makin pendek panjang gelombangnya.


Dalam persamaan (3.2) m menyatakan massa relativistik

Seperti dalam kasus gelombang elektromagnetik, aspek gelombang dan partikel


sebuah benda yang bergerak tidak dapat diamati pada saat yang sama. Jadi tidak ada
artinya jika kita mempertanyakan pemberian yang benar "benar".Apa yang kita dapat
kemukakan ialah bahwa pada keadaan tertentu benda yang bergerak memperlihatkan
sifat gelombang dan pada keadaan yang lain memperlihatkan sifat partikel. Sifat mana
yang tampak jelas bergantung pada perbandingan antara panjang gelombang de Broglie
dengan dimensinya serta dimensi sesuatu yang berinteraksi dengannya.

De Broglie tidak mempunyai bukti eksperimental langsung bagi dugaannya.

Namun, ia mempu memperlihatkan bahwa konsep yang diajukannya dapat


menjelaskan secara wajar terdapatnya kuantisasi energi pembatasan harga energi
khusus yang harus dikemukakan sebagai postulat oleh Bohr dalam model atomnya pada
tahun 1913. Dalam beberapa tahun persamaan (3.2) dibuktikan melalui eksperimen yang
menyangkut difraksi elektron oleh krisal.

a. Gelombang

Gelombang kemungkinan

Dalam gelombang air kuantitas yang berubah secara berkala ialah tinggi
permukaan air.Dalam gelombang bunyi, tekanan udara. Dalam gelombang cahaya
medan listrik dan magnetiknya yang berubah-ubah. Kuantitas variabel yang memberi
karakterisasi gelombang de Broglie disebut fungsi gelombang yang diberi lambang ψ.
Harga fungsi gelombang yang berkaitan dengan sebuah benda bergerak pada suatu titik
tertentu x,y,z dalam ruang pada saat t berpautan dengan peluang untuk mendapatkan
benda tersebut ditempat pada saat t.

Namun, ψ sendiri tidak mempunyai arti fisis langsung.Terdapat alasan yang


sederhana mengapa ψ tidak dapat langsung ditafsirkan berdasarkan eksperimen.
Peluang P bahwa sesuatu berada di suatu tempat pada suatu saat mempunyai harga
diantara dua batas : 0 yang bersesuaian dengan keabsisannya, dan 1, bersesuaian dengan
kepasian kehadirannya. Namun, amplitudo suatu gelombang dapat berharga negatif.

Keberatan tersebut tidak berlaku untuk kuadtar dari harga mutlak fungsi
gelombang yang dikenal sebagai kerapatan peluang. Terdapat perbedaan yang besar
antara peluang suatu kejadian dan kejadian itu sendiri. Walaupun kita membicarakan
fungsi gelombang ψ yang memberikan suatu partikel, menyebar dalam ruang, ini tidak
berati bahwa partikel menyebar. Bila suatu eksperimen dilakukan untuk mendeteksi
elektron, misalnya sebuah elektron dapat ditemukan pada suatu tempat pada saat
tertentu atau kita tidak dapat menemukannya: tiak terdapat sesuatu yang menyatakan
20 persen elektron.

Panjang gelombang de Broglie yang berkaitan dngan sebuah benda bergerak


dinyatakan dengan rumus sederhana

b. Persamaan Gelombang

Kita mengaitkan gelombang de Broglie dengan benda bergerak sangatlah nalar


untuk mengharapkan bahwa gelombang ini menjalar dengan kecepatan v seperti itu.

Bila kita memberi lambang kecepatan gelombang de Broglie dengan w, kita boleh
menetapkan rumus

Untuk menentukan harga w, panjang gelombang merupakan panjang gelombang


de Broglie
Untuk mendapatkan frekuensinya, kita menyamakan pernyataan kuantum E = hv
dengan rumus relativistik untuk energi total E = mc2 untuk mendapatkan

Sehingga kecepatan gelombang de Broglie menjadi

Karena kecepatan partikel v harus lebih kecil dari kecepatan cahaya, maka kecepatan
gelombang de Broglie w selalu lebih besar dari c.

Dengan A menyatakan amplitudo getaran dan frekuensinya v.

Persamaan (3.4) bahwa berapa pergeseran titik tunggal pada tali sebagai fungsi dari
waktu t.

Persamaan gelombang
Karena kelajuan gelombang w diberikan oleh

Kita dapatkan persamaan gelombang :

Persamaan (3.6) sering lebih baik dipakai daripada persamaan (3.5)

Namun, pemberian deskripsi gelombang yang sering dipakai merupakan bentuk


lain dari persamaan (3.5). kita definisikan frekuensi sudut dan bilangan gelombang
melalui rumus

Frekuensi sudut (3.7)

Bilangan gelombang (3.8)


Alternatif,

Bilangan gelombang (3.9)

Satuan ɷ ialah radian per sekon dan satuan k ialah radian per meter. Frekuensi sudut
memperoleh namanya dari gerak lingkaran beraturan, disini gerak partikel mengelilingi
lingkaran v kali per detik dan menyapu 2xv rad/s. bilangan gelombangnya sama dengan
banyaknya radian yang bersesuaian dengan deretan gelombang yang panjangnya 1 m,
karena terdapat 2π rad dalam satu gelombang.

Dinyatakan dalam ɷ dan k, persamaan (3.5) menjadi


Persamaan gelombang y = A cos (ɷt - kx) (3.10)

Dalam tiga dimensi k menjadi vektor k yang normal pada muka gelombang dan x diganti
dengan vektor jari - jari r. hasil kali k .r dipakai sebagai pengganti kx dalam persamaan
(3.10).

1. Kecepatan Fase dan Kecepatan Group

Group gelombang tidak perlu mempunyai kecepatan yang sama dengan gelombang
masing - masing.

Amplitudo gelombang de Broglie yang berkaitan dengan benda bergerak


mencerminkan peluang benda itu didapatkan pada suatu tempat pada saat tertentu.
Jelaslah bahwa gelombang de Broglie tidak dapat dinyatakan dengan rumus yang
menyerupai persamaan (3.10) yang menggambarkan deretan gelombang yang
banyaknya tak tertentu dengan amplitudo yang sama A. sebagai penggantinya kita
harapkan gelombang yang menyatakan sebuah benda yang bergerak berkaitan dengan
paket gelombang, atau gelombang group. Seperti yang ditunjukkan dalam gambar 3.3;
gelombang pendirinya mempunyai amplitudo yang menetukan kebergantungan
terdeteksinya benda itu.

Contoh yang terkenal bagaimana group gelombang timbul ialah dalam gejala

ayunan gelombang. Bila dua gelombnag bunyi yang amplitudo nya sama tetapi
frekuensinya sedikit berlaianan ditimblkan pada ssat yang sama (serentak), bunyi yang
kita dengar berfrekuensi sama dengan rata-rata dari kedua frekuensi semula dan
amplitudonya naik dan turun secara berkala. Frekuensi amplitudo yang timbul berulang
- ulang tiap detik banyaknya sama dengan pernedaan antara kedua frekuensi semula.
Jika bunyi semula mempunyai frekuensi 440 dan 442 Hz, kita akan mendengar
frekuensi bunyi dengan frekuensi 441 Hz dengan dua puncak bunyi keras yang disebut
ayunan, per detik. Timbulnya ayunan ditunjukkan dalam gambar 3.4.

Secara matematis untuk menggambarkan group gelombang ialah dengan


menyatakannya sebagai superposisi dari gelombang individual yang mempunyai panjang
gelombang berbeda - beda yang interferensinya menghasilkan variasi amplitudo yang
mendefenisikan bentuk group gelombang. Jika kecepatan gelombangnya sama,
kecepatan penjalaran group gelombang ialah kecepatan yang sama itu. Namun, jika
kecepatan gelombang berubah terhadap panjang gelombang , gelombang individual yang
berbeda tidak menjalar bersama, dan group gelombang memiliki kecepatan yang
berbeda dari gelombang pendirinya.

Tidaklah sukar untuk menghitung kelajuan u yang merupakan kelajuan


penjalaran group gelombang. Marilah kita anggap bahwa group gelombang timbul dari
kombinasi dua gelombang yang beramplitude sama A, tetapi frekuensi sudutnya berbeda
dɷ dan bilangan gelombangnya berbeda dk. Kita dapat menyatakan gelombang semula
dengan rumus :

Gambar 3.3 group gelombang

Gambar 3.4 pukulan - pukulan dihasilkan oleh adanya dua gelombang yang frekuensi -
frekuensi yang berbeda.
Pergeseran resultan y pada saat t dan pada kedudukan x ialah jumlah dari y 1 dan
y2. Dengan pertolongan identitas

Dan hubungan

Kita dapatkan

Karena dɷ dan dk kecil dibandingkan dengan ɷ dan k berurutan, maka


2ɷ + dɷ = 2ɷ
2k +dk = 2k
Dan

Ayunan (3.11)

Persamaan (3.11) menyatakan gelombang yang berfrekuensi sudut ɷ dan bilangan


gelombang k yang termodulasi dengan frekuensi sudut, 1/2 dɷ dan bilangan gelombang
1/2 dk.Efek modulasi ini menghasilkan group gelombang yang berbaris seperti pada

Gambar 3.4 kecepatan fase w besarnya


Kecepatan fase v' = ɷ / k (3.12)
Sedangkan kecepatan u group gelombangnya ialah
Kecepatan group u = dɷ / dk (3.13)

Bergantung pada perilaku kecepatan fase yang berubah terhadap bilangan


gelombang dalam medium tertentu, kecepatan groupnya bisa lebih besar atau lebih kecil
dari kecepatan fasenya. Jika kecepatan fase w sama untuk setiap panjang gelombang,
sebagaimana pada gelombang cahaya dalam ruang hampa (vakum), maka kecepatan
group dan kecepatan fasenya sama.Frekuensi sudut dan bilangan gelombang dari
gelombang de broglie yang berpautan dengan sebuah benda yang massa diamnya
m0 yang bergerak dengan kecepatan v ialah

Frekuensi sudut gelombang de Broglie (3.14)

Bilangan gelombang de Broglie (3.15)

Kecepatan group u dari gelombang de Broglie yang berkaiatan dengan benda itu
ialah
Hingga kecepatan groupnya menjadi u = v (3.16)

Group gelombang de Brouglie berkaitan dengan sebuah benda yang


bergerak menjalar dengan kecepatan yang sama dengan kecepatan benda itu.
Kecepatan fase w dari gelombang de Broglie kelihatannya tidak mempunyai arti fisis
yang langsung.

3. DIFRAKSI PARTIKEL

Manifestasi gelombang yang tidak mempunyai analogi dalam prilaku partikel


newtonian ialah gejalan difraksi. Dalam tahun 1927 Davisson dan Garmer di Amerika
Serikat dan G.P Thomson di inggris secara bebas meyakinkan hipotesis de Broglie
dengan menunjukkan bekas elektron terdifraksi bila berkas itu dihamburkan oleh kisi
atom yang teratur dari suatu kristal. Kita akan membahas ekperimen Davison dan
Grammer karena tafsirannya lebih langsung.
Eksperimen Davissin- Davisson dan Germer mempelajari elektron yang
Germer terhambur oleh zat padat dengan memakai peralatan seperti
pada Gambar 3.5. Energi elektron dalam berkas primer, sudut jatuhnya pada target, dan
kedudukan elektron dapat diubah-ubah. Fisika klasik meramalkan bahwa elektron yang
terhambur akan muncul dalam berbagai arah dengan hanya sedikit ketergantungan dari
intensitas terhadap susdut hambur dan lebih sedikit lagi dari energi elektron primer.
Dengan memakai blok nikel sebagai target, Davisson dan Germer membuktikan
ramalannya.

Gambar. 3.5 Eksperimen Davissin-Germer


Ditengah-tengah pekerjaan tersebut terjadi sesuatu peristiwa yang
memungkinkan udara masuk kedalam peralatannya dan mengoksidasi permukaan
logam. Untuk mengasai oksida nikel murni, target itu dipanggang dalam oven berperatur
tinggi. Setelah perlakuan tersebut, targetnya dikembalikan kedalam peralatan dan
pengukurannya dilakukan lagi.

Sekarang ternyata hasilnya sangat berbeda dari sebelum peristiwa itu terjadi
sebagai ganti dari variasi yang kontinu dari intensitas elektron yang terhambur terhadap
sudut, timbul maksimum dan minimum yang jelas teramati yang kedudukannya
bergantung dari pada energi elektron. Grafik polar yang bisa digambarkan untuk
intensitas elektron setelah peristiwa itu ditunjukkan dalam Gambar 3.6. Metode plotnya
dilakukan sedemikian sehingga intensitas pada setiap sudut berbanding lurus dengan
jarak kurva pada sudut itu dari titik hamburannya.

Jika intensitasnya sama untuk semua sudut hambur, kurva nya akan
berbentuklingkaran dengan titik hambur sebagai pusat.

Dua pertanyaan segera timbul dalam pikiran : apakah yang menjadi penyebab
efek baru ini, dan mengapa tidak muncul sebelum target nikel itu dipanggang?

Difraksi gelombang Hipotesis de Broglie mendorong tafsiran bahwa gelombang


elektron elektron didifrakskan oleh target sama seperti sinar-X
ditafsirkan oleh bidang-bidang atom dalam kristal. Tafsiran
ini mendapat dukungan setelah disadari bahwa efek pemanasan sebuah blok nikel pada
temperatur tinggi menyebabkan banyak kristal individual kecil yang membangun blok
tersebut bergantung menjadi kristal tunggal yang besar yang atom-atomnya tersusun
dalam kisi yang teratur.

Panjang gelombang teramati Marilah kita tinjau apakah kita dapat membuktikan
bahwa gelombang de Broglie merupakan penyebab dari hasil
Davisson dan Gemer. Pada suatu percobaan tertentu berkas elektron 54Ev diarahkan
tegak lurus pada terget nikel, dan maksimum yang tajam dalam distribusi elektron
terjadi pada sudut 500 dari berkas semula. Sudut datang dan sudut hambur relatif
terhadap sekumpulan bidang Bragg ditunjukkan dalam Gambar 3.7 keduanya bersudut
650. Jarak antara bidang dalam sekumpulan itu yang bisa diukur melalui difraksi sinae-X
adalah 0.091 nm. Persamaan Bragg untuk maksimum dalam pola difraksi adalah :

n ʎ = 2d sin θ ......... ( 2.7 )


Gambar. 3.6. Hasil Eksperimen Davissin-Germer

Disini d= 0.091 nm dan θ = 65 0, dengan menganggap n = 1, panjang gelombang de


Broglie ʎ dari elektron yang terdifraksi adalah

ʎ = 2d sin θ = (2) (0,091 nm) (sin 650) = 0.165 nm

Sekarang kita pakai rumus de Broglie

ʎ = h / mv

untuk menghitung panjang gelombang elektron yang diharakan. Energi kinetik 54Ev
kecil dibandingkan dengan energi diam m0Ca yaitu sebersar 5.1 x 105 eV, sehingga kita
dapat mengabaikan efek relativistik. Karena

Gambar. 3.7 Difraksi gelombang de Broglie oleh target merupakan penyebab dari hasil
Davisson dan Germer.

Maka momentum elektron itu mv ialah


Jadi, panjang gelombang elektron itu adalah

Jadi panjang gelombang elektron itu ialah

yang besarnya sesuai dengan panjang gelombang yang diamati. Jika eksperimen
Davisson dan Germer menunjukkan bukti langsung dari hipotesis de Broglie mengenai
sifat gelombang benda bergerak.

Analisis eksperimen Davisson-Germer sebenarnya tidak langsung seperti yang


ditunjukan di atas, karena energi elektron bertambah ketika elektron itu masuk ke dalam
kristal dengan besar yang sama dengan besar fungsi kerja permukaan tersebut. Jadi,
kecepatan elektron dalam eksperimen lebih besar di dalam kristal dan panjang
gelombang de Broglie yang bersangkutan menjadi lebih kecil dari nilai diluar kristal.
Komplikasi lainnya timbul dari interferensi anatara gelombang yang di difraksi oleh
kumpulan lain dari bidang Bragg yang membatasi terjadinya maksimum dan minimum
menjadi hanya kombinasi tertentu dari dari energi elektron dan sudut datang sebagai
pengganti dari setiap kombinasi yang memenuhi persamaan Bragg.

Mikroskop elektron Elektron bukanlah salah satunya jenis partikel


yang prilaku gelombangnya dapat ditunjukkan. Difraksi
neutron dan atom secara keseluruhan jika dihambur
oleh kristal yang cocok telah teramati, dan nyatanya difraksi neutron seperti juga difraksi
sinar-X dan elektron telah dipakai untuk menyelidiki struktur kristal.

Sifat gelombang elektron yang bergerak merupakan dasar dari mokroskop


elektron yang dibuat untuk pertama kali dalam tahun 1923. Daya pisah setiap instrumen
optis dibatasi oleh difraksi sehingga besarnya berbanding lurus dengan panjang
gelombang yang dipakai untuk menyinari benda yang diselidiki. Untuk mikroskop yang
baik, yang memakai cahaya tampak, perbesaran maksimum yang bermanfaat ialah
sekitar 500 x perbesaran yang lebih tinggi membentuk bayangan yang lebih besar tetapi
tidak mengungkapkan rincian. Elektron cepat memiliki panjang gelombang yang jauh
lebih pendek dari cahaya tampak dan mudah dikendalikan oleh medan listrik dan
magnetik karena elektron bermuatan. Sinar X juga memiliki panjang gelombang yang
pendek, tetapi sampai sekarang orang belum berhasil untuk memfokuskan sinar itu
dengan baik.

Dalam mikroskop elektron, kumparan yang berarus listrik dipakai untuk


menimbulkan medan magnetik yang berlaku sebagai lensa untuk menfokuskan berkas
elektron pada benda yang diselidiki dan alat ini menghasilkan bayang yang diperbesar
pada layar pendar( fluoresen) atau pelat fotografik ( Gambar 3.8). untuk mencegah
berkas itu tersebar sehingga mengaburkan bayangan yang dihasilkan, dipakai sampel
yang tipis dan seluruh sistem itu dihampakan.

Teknologi “lensa” megnetik belum menghasilkan daya resolusi teoritis dari


gelombang elektron. Misalnya, elektron 100 keV mempunyai panjang gelombang 0,0037
nm, tetapi resolusi yang sebenarnya dapat dicapai mikroskopik elektron hanya sekitar
0,1 nm.

4. GELOMBANG DE BROGLIE SEBAGAI RAPAT KEBOLEHJADIAN

Apa Jenis Gelombang Partikel ?

Gelombang air terdiri dari ketinggian air yang berbeda,gelombang suara terdiri
dari perbedaan tekanan didalam medium, gelombang E&M terdiri dari osilasi medan
listrik dan magnet. Bagaimana dengan gelombang partikel? Dengan kata lain, apa yang
secara fisik berubah dalam gelombangpartikel? Sesuatu dimana variasinya membentuk
gelombang partikel adalah fungsi gelombang function, ("psi", biasa dibaca "si").Fungsi
gelombang dari partikel bukan sesuatu yang dapat dilihat atau dirasakan.Dia tidak
memiliki arti fisik yang “langsung”.
Catatan : perbedaan antara probabilitas kejadian dan kejadian itu sendiri. Jika
kita mendeteksi elektron, artinya elektron ada disana, tdk berarti 50% ada disana.

Jika probabilitas menemukan elektron pada (xyzt) = 50%, tidak berarti bahwa
elektron 50% ada disana. Ini berarti ½ dari pengukuran kita akan menemukan elektron
disana, dan ½ nya lagi tidak menemukan elektron. Jika kita memiliki koleksi partikel
identik, maka proporsional dengan densitas aktual dari partikel.Kita sering menyebut
sebagai “probability density” meskipun kita bicara tentang satu partikel.*

Untuk mencari probabilitas menemukan partikel disuatu tempat di dlm ruang,


kita integrasikan probabilitas seluruh ruang.Kita assumsikan bahwa probabilitas
menemukan partikel disuatu tempat di dlm ruang adalah 1 , sehingga
Fungsigelombangyangdinormalisasi.

Berapa kecepatan gelombang deBroglie?

vp=c 2/v
Persamaan diatas tidak Masalah jika partikel adalah photon yang bergerak dgn
kecepatan c, sehingga vp= c

Tapi karena partikel tsb bermasa maka akan selalu c2/v > c

suatu hasil yg secara fisik tdk dapat direalisasikan, yaitu kecepatan gelombang de
Broglie vptdk hanya tdk sama dgn v tapi juga >c

Kita harus memikirkan lagi apa yang dimaksud dengan kecepatan gelombang.
Mari kita lihat kembali apa itu gelombang.

Beisermenggunakangetarantaliuntukmendemontrasikan penurunan
persamaangelombang.Ambil tali, ikat satu ujungnya dan pegang satunya lagi lalu
ayunkan. Jika tangan digerakan ke atas, pulsa dikirimkan ke tali:

Jika Kita Terus Menggerakan Tangan Maka Akan Terbentuk Gelombang Berdiri
Beiser menurunkan beberapa bentuk persamaan yg ekivalen untuk gelombang ini,
yang memberikan simpangan y pada
suatutitikpadatali(i.e.,pdsuatuposisix)sepanjangwaktu

Gelombang menjalar dgn kecepatan fasa, yg tdk merepresentasikan kecepatan


aktual partikel bermasa. Padabagianberikutnyakitaakanmendefinisikanartifisis
"groupvelocity."

Ini adalah gelombang tranversal.Gelombang terpolarisasi pada arah y.

Gelombang ini menjalar di dalam ruang.Panjang gelombang (and juga


momentum) gelombang terdefinisi dengan baik (ada harganya disetiap tempat).Dimana
partikel yang direpresentasikan oleh gelombang tsb?Kita tdk dapat
menemukannya.Mungkin berada disuatu tempat disepanjang sumbu x. Untuk membuat
gelombang yg merepresentasikan partikel, kita harus memodulasinya dengan
menjumlahkan banyak gelombang dgn panjang gelombang dan/atau frekwensi yang
berbeda. Kemudian fungsi gelombang akan mempunyai panjang gelombang dan spatial
"length" yg jelas.
5. PARTIKEL DALAM KOTAK

Mengapa energi partikel yang terperangkap terkuantisasi

Sifat gelombang partikel bergerak mengarahkan pada konsekuensi yang jelas jika
partikel itu dibatasi pada suatu daerah tertentu dalam ruang alih-alih dapat bergerak
bebas. Kasus yang paling sederhana ialah suatu partikel yang terpantul bolak-balik
antara dinding kotak, sehingga partikelnya tidak kehilangan energi setiap kali partikel
itu menumbuk dinding dan kecepatannya cukup kecil sehingga kita dapat mengabaikan
konsiderasi relastivistik. Walaupun sangat sederhana, situasi model ini memerlukan
perhitungan yang cukup berat supaya kita dapat menganalisisnya sungguh-sungguh.
Namun, walaupun pembahasan cukup sederhana kita dapat mengungkapkan hasil yang
pokok.

Gambar. Partikel terperangkap dalam kotak yang lebarnya L

Partikel yang terperangkap


setara dengan gelombang
berdiri de Broglie

Dari sudut pandang gelombang, sebuah partikel yang


terperangkap dalam kotak adalah analog dengan gelombang berdiri pada tali yang
dipentang antara dinding kotak itu. Dalam kedua kasus itu variabel gelombang
(pergeseran transversal dari tali, fungsi gelombang ᵠ dan partikel bergerak) harus nol
pada dinding, karena gelombang nya berhenti di tempat itu. Panjang gelombang de
Broglie yang mungkin dari partikel dalam kotak ditentukan oleh lebar kotak L seperti
dalam Gambar 3.10. Panjang gelombang yang terbesar
ditentukan oleh ʎ = 2L, berikutnya oleh ʎ = L, kemudian

ʎ =2L/3, dan seterusnya. Rumus umum untuk gelombang yang diperbolehkan adalah

ʎn = 2L/ n n = 1,2,3,... ( 3.17)

Panjang gelombang de Broglie partikel yang terperangkap


Pembatasan pada panjang
gelombang mengakibatkan
pembatasan energi

Karena ʎ = h/ mv, pembatasan pada gelombang de


Broglie yangd datang dari lebar kotak adalah ekivalen
(setara) dengan pembatasan pada momentumpartikel, atau pembatasan pada
energ kinetik. Energi kinetik sebuah partikelbermomentum mv adalah :

Karena ʎ = h/ mv, mv = h/ ʎ dan

Panjang gelombang yang diizinkan adalah ʎn = 2L/ n , dan karena partikel itu
tidak memiliki energi potensial dalam model ini,maka energi yang bisa dimiliki nya
adalah :
Bilangan kuantum
mengkarakterisasi tingkat
Partikel dalam kotak
tinggi

Setiap energi yang diiznkan disebut tingkat energi. Dan bilangan bulat n yang memberi
spesifikasi tingkat energi En disebut bilangan kuantum. Sebuah partikel yan
Setiap partikel yang
terperangkap memiliki energi
yang terkuantisasi

terperangkap dalam kotak tidak dapat memiliki energi yang sembarang seperti yang
dimiliki partikel bebas; kenyataan terperangkapnya menyebabkan pembatasan pada
panjang gelombangnya yang hanya mengizinkan yang ditentukan oleh persamaa
(3.18).Sebuah partikel dalam kotak berddinding tegar merupakan suatu contoh yang
dibuat-buat, tetapi kuantisasi energi yang didapatkan disitu berlaku umu; sebuah
partikel yang terperangkap dalam suatu daerah ruang (walaupun daerah itu tidak
memiliki batas yang terdefinisikan secara baik, hanya dapat memiliki energi tertentu
saja. Secara eksak berapa besar energi ini, bergantung dari massa partikel dan perincian
bagaimana partikel itu terperangkap.
Aspek penting dari persamaan (3.18) ialah menyatakan
Partikel yang
bahwa partikel yang terperangkap tidak boleh memiliki
terperangkap memiliki
energi nol. Karna panjang gelombang de Broglie
energ maksimim
sebuahpartikel adalah ʎ = h/ mv, dengan kepesatan rata-rata v= 0 yang merupakan
panjang gelombang tak-berhingga. Akan tetapi tidak ada yang mendamaikan suatu
panjang gelombang tak terhingga dengan sebuah partikel yang terperangkap, sehingga
masing-masing partikel harus memiliki beberapa energi kinetik. Ekslusi (peniadaan) E=
0 sebagai harga yang diizinkan untuk energi partikel yang terperangkap, seperti juga
pembatasan energi E menjadi sekelompok harga yang diskrit merupakan suatu hasil
yang tidak kita dapatkan dalam mekanika klasik; disini setiap energi termasuk no
Kuantisasi energi hanya penting
diizinkan.
dalam skala atomik

Mengapa tidak kita sadari adanya kuantisasi energi dalam kehidupan kita?

Kita yakin bahwa kelerang yang menggelinding bolak-balik antara dinding


sebuah kotak dengan lantai yang licin dapatmemiliki kecepatan beberapa saja, sehingga
energinya bisa dikatakan nol. Supaya kita bisa yakin bahwa persamaan (3.18) tidak
bertentangan dengan hasil pengamatan kita yang memberikan pandangan yang unik
dalam skala mikroskopik, kita akan menghitung tingkat energi yang diizinkan untuk
sebuah partikel dalam kotak yang berdimensi atomik dan kemudia sebuah partikel
dakam kotak dengan dimensi makroskopik.
Gambar 4.8 Partikel dalam kotak 1 dimensi

Gambar 3.11 Tingkat elektron yang terdapat dalam sebuah kotak yang lebarnya
0.1 nm.

PRINSIP KETAKTENTUAN 1

Kita tak dapat mengetahui masa depan karena kita tidak mengetahui masa kini.

Kenyataan bahwa sebuah partikel bergerak harus dipandang sebagai group


gelombang de Broglie dalam keadaan tertentu alih-alih sebagai suatu kuantitas yang
terlokalisasi menimbulkan batas dasar pada ketepatan pengukuran sifat partikel yang
dapat kita ukur misalnya kedudukan momentum.

Untuk menjelaskan faktor apa yang terlibat, marilah kita meninjau group
gelombang dalam Gambar. 3.3. partikel yang bersesuaian dengan group gelombang ini
dapat diperoleh dalam group tersebut dalam waktu tertentu. Tentu saja kerapatan
peluang ᵠ2 maksimum pada tengah-tengah group, sehingga partikel tersebut mempunyai
peluang terbesar untuk didapatkan disitu. Namun, kita tetap mempunyai kemungkinan
untuk mendapatkan partikel pada suatu tempat jika ᵠ2 tidak nol.
Group gelombang yang
sempit memungkinkan
penentuan kedudukan
dengan teliti
Lebih sempit group gelombang itu, lebih teliti kedudukanpartikel itu dapat
ditentukan ( Gambar 3.12a). Namun, panjang gelombang pada paket yang sempit
tidak terdefenisikan dengan baik; tidak cukup banyak gelombang untuk menetapkan ʎ
dengan tepat. Ini berarti bahwa karena ʎ = h/mv, maka momentum partikel mv bukan
merupakan kuantitas yang dapat diukur

Group gelombang yang


lebar memungkinkan
penentuan momentum
dengan teliti

secara tepat. Jika kita melakukan sederetan pengukuran momentum,kita mendapatkan


momentum dengan kisaran yang cukup lebar.Sebaliknya, group gelombang yang
lebar seperti pada Gambar 3.12b memiliki panjang gelombang yang terdefenisikan
dengan baik. Momentum yang bersesuaian dengan panjang gelombang ini
menjadi kuantitas yang dapat ditentukan dengan teliti, dan sederetan pengukuran
momentum akanmenghasilakn kisaran yang sempit. Akan tetapi dimanakah kedudukan
partikel tersebut? Lebar group gelombang itu menjadi terlalu besar untuk dapat
menentukan kedudukan paad suatu waktu.

Prinsip ketaktentuan
Jadi, kita sampai pada prinsip ketaktentuan. Tidak mungkin
kita mengetahui keduanya yaitu kedudukan dan momentum suatu benda secara
seksama pada saat yang bersamaa. Prinsip ini ditemukan oleh Werner Heinsenberg pada
tahun 1927, dan merupakan salah satu hukum fisika yang memegang peranan penting.
Analisis yang formal mendukung kesimpulan tersebut dan membuat kita mampu untuk
menyatakannya secara kuantitatif. Contoh yang paling sederhana dari pembentuk
Gambar 3.12 (a) Group gelombang de broglie terbatas. Posisi partikel dapat
ditentukan secara tepat, tetapi panjang gelombangnya (karena momentum partikel)
tidak dapat ditetapkan karena gelombang untuk mengukur ketepatan tidak cukup. (b)
lebar group gelombang kini panjang gelombang dapat ditentukan secara tepat tetapi
bukan posisi partikel

An a group gelombang diberikan dalam pasal 3,4, disitu dua gelombang berjalan
dengan frekuensi sudut omega yang sedikit berbeda dan bilangan gelombang k
disuperposisikan menghasilkan sederet group gelombang tunggal dapat juga dipikirkan
sebagai superposisi dari gelombang harmonik. Namun sejumlah tak berhingga
gelombang dengan frekuensi

bilangan gelombang dan amplitudo yang berbeda-beda diperlukan untuk menyatakan


suatu group gelombang terisolasi dengan bentuk sembarang (gambar 3.13)

Pada waktu tertentu t, group gelombang ¥(x) dapat dinyatakan dengan integral fourier
Integral dan transform
fourier

Dengan fungsi g(k) menggambarkan amplitudo gelombang yang memberi sumbangan


(kontribusi) pada ¥(x); g(k) berubah terhadap bilangan gelombang k. fungsi ini disebut

Gambar 3.13 Suatu group gelombang terisolasi ialah hasil sejumlah tak berhingga
gelombang dengan panjang gelombang yang berbeda-beda. Lebih sempit group
gelombang itu, lebih besar selang panjang gelombang yang tersangkut.Jadi suatu group
gelombang de brouglie yang sempit berarti kedudukannya terdefinisikan dengan baik
sehingga ketidakpastian delta p yang besar dalam momentum partikel yang dinyatakan
oleh group gelombang itu.Suatu group gelombang yang lebar berarti momentumnya
lebih tertentu tetapi kedudukannya lebih tak tertentu. Transform fourier dari ¥(x) dan
memberi spesifikasi pada group gelombang sama lengkapnya seperti yang diberi ¥(x)
.gambar 3.14 mengandung grafik transform fourier dari denyut gelombang dan suatu
group gelombang. Sebagai bahan pembanding transform fourier dari gelombang
harmonik yang melebar ke tak terhingga juga ditunjukkan dalam hal ini hanya satu
bilangan gelombang saja yang muncul.

Tepatnya bilangan gelombang yang diperlukan untuk menyatakan suatu group


gelombang melebar dari k=0 hingga k= tak hingga, tetapi untuk group yang panjang
delta y(x) nya berhingga, gelombang yang amplitudonya g(k)nya besar, memiliki
bilangan gelombang yang terletak dalam selang yang berhingga delta k. seperti dalam
gambar 3.14 lebih sempit group itu, lebih lebar selang bilangan gelombang yang
diperlukan untuk menyatakannya,dan sebaliknya.

Hubungan antara delta x dan pelebaran bilangan gelombang delta k bergantung


dari bentuk group gelombang dan bergantung dari cara delta x dan delta k
didefinisikan.. harga hasil kali delta x dan delta y minimum terjadi jika group gelombang
berbentuk fungsi gausi dalam hal ini ternyata transform fouriernya juga merupakan
fungsi gausi juga. Jika delta x dan delta k diambil deviasi standar dari fungsi ¥(x) dan
g(k), maka harga minimum delta x delta k = 1/2. karena pada umumnya group
gelombang tidak memiliki bentuk gaussi (bentuk lonceng), maka lebih realistik jika
hubungan antara delta x dan delta k dinyatakan sebagai berikut:

Prinsip ketaktentuan bentuk


kuantitatif

Panjang gelombang de brouglie untuk sebuah partikel bermomentum p adalah

Bilangan gelombang yang bersesuaian dengannya adalah:


Gambar 3.14 fungsi gelombang dan transform fourier untuk (a) denyut (b) grup
gelombang (c) gelombang yang melebar tak terhingga. Suatu gangguan yang singkat
memerlukan selang frekuensi yang lebih besar untuk menggambarkannya dibandingkan
dengan gangguan yang memakan waktu lebih panjang

Oleh karena itu suatu ketidakpastian delta k dalam jumlah gelombang pada
gelombanng de brougle berhubungan dengan hasil-hasil partikel dalam suatu
ketidakpastian delta p dalam momentum partikel menurut rumus

Karena dan

Prinsip ketaktentuan

Persamaan ini menyatakan bahwa hasil kali ketidaktentuan kedudukan benda


delta x pada suatu saat dan ketaktentuan komponen momentum dalam arah x yaitu delta
p pada saat yang sama lebih besar atau sama dengan h/4phi. Kita tidak mungkin
menentukan secara serentak kedudukan dan momentum suatu benda. Jika kita atur
supaya delta x kecil yang bersesuaian dengan group gelombang yang sempit, maka delta
p akan menjadi besar. Jika kita reduksi delta p dengan cara tertentu, maka group
gelombangnya akan melebar dan delta x menjadi besar.

Ketaktentuan ini bukan ditimbulkan oleh alat yang kurang baik tetapi timbul oleh
ketidaktentuan ilmiah dari kuantitas yang tersangkut. Setiap ketidaktentuan
instrumental atau statistik yang timbul hanya menambah besar hasil kali delta x dan
delta p. karena kita tidak mengetahui secara tepat apa partikel itu atau bagaimana
momentumnya, kita tidak dapat menyatakan apapun dengan pasti. Bagaimana
kedudukan partikel itu kelak dan seberapa cepat partikel tadi bergerak. Kita tidak
mengetahui secara pasti karena kita tidak mengetahui apa yang terjadi kelak. Namun
ketaktauan kita itu hanya samar-samar kita masih dapat memperhitungkan bahwa
partikel tadi akan ditempatkan dalam tempat yang sama dan bahwa momentumnya pati
mempunyai harga yang sama daripada lainnya.

Kuantitas h/2phi sering muncul dalam fisika modern, karena ternyata kuantitas
itu merupakan satuan dasar dari momentum sudut. Biasanya orang menyingkat h/2phi
dengan lambang h(h balok);

Selanjutnya dalam buku ini kita akan memakai h sebagai pengganti dari h/2phi.
Dinyatakan dalam h prinsip ketaktentuan menjadi:

Prinsip ketaktentuan

Prinsip ketaktentuan II

Pendekatan partikel memberi hasil yang sama

Prinsip ketaktentuan dapat didekati dari berbagai cara. Marilah kita dapatkan
prinsip tadi berdasarkan sifat partikel gelombang sebagai pengganti sifat gelombang dari
partikel seperti yang telah dilakukan diatas.

Misalnya kita ingin mengukur kedudukan dan momentum dari sesuatu pada
suatu saat tertentu. Untuk melaksanakannya kita harus mengganggunya dengan sesuatu
yang dapat membawa informasi kembali kepada kita: ini berarti kita harus
menyentuhnya dengan jari tangan,meneranginya dengan cahaya,atau
menginteraksikannya dengan suatu cara lain.

Mendeteksi perubahan momentum


elektron

Marilah kita coba memeriksa elektron dengan pertolongan cahaya dengan


panjang gelombang seperti dalam gambar 3.15.dalam proses ini foton cahaya menumbuk
elektron dan terpantul kearah lain. Setiap foton memiliki momentum bila foton itu
bertumbukan dengan elektron maka momentum awal elektron awal p akan berubah.
Perubahan yang tepat tidak bisa diramalkan, tetapi perubahannya berorder besar sama
dengan momentum foton. Jadi pengukuran telah menimbulkan ketentuan
Pada momentum elektron. Makin besar panjang gelombang cahaya yanng kita
pakai untuk “melihat” elektron, makin kecil ketaktentuan momentumnya

Cahaya gelombang pendek menghasilkan


kedudukan yang teliti

Karena cahaya memiliki sifat gelombang kita tidak dapat mengharapkan untuk
menentukan kedudukan elektron ketepatan tak berhingga dalam segala keadaan.

Namun, kita dapat mengharapkan secara nalar untuk mempertahankan


ketaktentuan taktereduksi delta x dari kedudukannya sepanjang, panjang gelombang
dari cahaya yang dipakai. Ini berarti

Lebih kecil panjang gelombangnya, lebih kecil juga ketaktentuan dari kedudukan
elektron itu.

Dari persamaan (3.23) dan (3.24) jelaslah bahwa jika kita memakai cahaya dengan
panjang gelombang kecil untuk memperbaiki ketepatan penentuan kedudukannya, maka
akan timbul reduksi bersesuaian dalam ketepatan penentuan momentumnya,sedangkan

Gambar 3.15 elektron tak dapat diamati tanpa mengubah momentumnya.

Cahaya dengan panjang gelombang besar menghasilkan besar menghasilkan momentum


dengan tepat tetapi kedudukannya tak tepat. Dengan mensubsitusikan

Kedalam persamaan (3.22)

Penalaran seperti diatas, walaupun kelihatannya menarik, tetapi harus


diperlakukan dengan hati-hati. Penalaran seperti itu menyatakan bahwa elektron dapat
memiliki kedudukan dan momentum yang tertentu pada setiap saat, dan proses
pengukurannya saja yang menimbulkan ketaktentuan delta x delta p. sebenarnya ialah
kebalikannya, ketaktentuan ini merupakan suatu yang inheren dalam alam sebuah
benda bergerak. Pembenaran dari “penurunan” serupa ialah, pertama, penurunan itu
menunjukkan bahwa tak mungkin untuk membayangkan suatu cara untuk menghindari
prinsip ketaktentuan, dan kedua penurunan ini mengemukakan pandangan yang dapat
lebih diterima dalam konteks yang lebih dikenal daripada pandangan group-gelombang.

Penerapan prinsip ketaktentuan

Sesuatu yang berguna bukan hanya pernyataan negatif

Tetapan plank h berharga sangat kecil hanya 6.63 x 10-34 j.s sehingga pembatasan
yang ditimbulkan prinsip ketaktentuan hanya penting dalam dunia atom. Dalam skala
itu prinsip sanngat menolong untuk mengertikan banyak gejala. Perlu diingat bahwa
batas bawah h/2 untuk delta x dan delta p sangat jarang dicapai : lebih besar rumus
atau (seperti yang baru dilihat)

Bentuk lain dari prinsip ketaktentuan kadang-kadang berguna. Mungkin kita


ingin mengukur energi E yang dipancarkan pada suatu waktu selama selang waktu delta
(t) dalam suatu proses atomik. Jika energi ini berbentuk gelombang
elektromagnetik,batas waktu yang tersedia membatasi ketepatan kita untuk menentukan
frekuensi v dari gelombang itu. Marilah kita anggap group gelombang itu sebagai satu
gelombang. Karena frekuensi gelombang yang sedang dipelajari sama dengan bilangan
yang kita hitung dibagi dengan selang waktu, ketentuan frekuensi delta (v) dalam
pengukuran kita ialah :

Prinsip ketaktentuan untuk energi dan


waktu

Ketaktentuan energi yang bersesuaian ialah

Sehingga

Perhitungan yang lebih teliti berdasarkan sifat group gelombang mengubah hasil
tersebut menjadi :

Ketaktentuan energi dan waktu


Persamaan (3.26) menyatakan bahwa hasil kali ketaktentuan pengukuran delta E
dan ketaktentuan waktu delta (t) selama pengukuran itu dilakukan harus sama atau
lebih besar dari h/2. hasil ini bisa diperoleh dengan cara lain dan pada umumnya
kasusnya tidak dibatasi hanya pada kasus gelombang elektromagnetik.

C. KETIDAKPASTIAN HEINSENBERG

Konsep klasik tentang lintasan kurang bermakna bila dipergunakan dalam


menelaah sistem fisika tingkat atom, karena pada sistem ini, sistem pengamatan dan
sistem yang diamati saling mempengaruhi.Konsep lintasan yang klasik harus diganti
dengan pendekatan statistik, yaitu dengan menyatakannya dalam besarnya
kebolehjadian bahwa suatu zarah berada di suatu kedudukan tertentu pada saat tertentu
pula.

Konsep statistik tentang kedudukan dapat diungkapkan secara matematik oleh


Heisenberg dengan menggunakan eksperimen gendanken (percobaan dalam benak)
sebagai berikut.Andaikan elektron diamati melalui mikroskop dengan menggunakan
foton-foton yang dipancarkan sumber cahaya.

Pada gambar di atas adalah sudut maksimum sedemikian hingga foton yang
datang dari kedudukan masih dapat masuk dalam sistem optik mikroskop. Andaikan
suatu foton datang dari sumber cahaya dengan momentum linear sebesar :
Permasalahannya sekarang adalah : Bagaimanakah kedudukan elektron dalam
arah-x ? Jika digunakan cahaya dengan panjang gelombang , maka daya pisah
(resolusi) mikroskop tersebut adalah :

Persamaan (4.53) merupakan prinsip ketidakpastian Heisenberg, ketidakpastian


momentum dan posisi suatu zarah tidak dapat lepas satu dari lainnya. Apabila dituntut
ketakpastian yang tak berhingga bagi harga posisi elektron ( x=0), maka tidak akan
diperoleh sama sekali informasi mengenai besarnya momentum linear elektron, dan
sebaliknya.
Ketidakpastian bukan lagi bergantung dari ketelitian alat, akan tetapi
merupakan sesuatu yang fundamental, sesuatu yang hakiki dengan dunia fisika pada
tingkat atom.
Di tingkat mikroskopis, prinsip ketakpastian Heisenberg menjadi tidak relevan.Hal itu
dapat diperkirakan dengan mengambil contoh yang konkrit. Selanjutnya prinsip
ketidakpastian Heisenberg dapat dikembangkan dalam tiga dimensi menjadi
1. KETIDAKPASTIAN DALAM FISIKA KLASIK

 Paketgelombangharusmenurutiprinsiphubunganketidak pastian untuk


gelombang klasik (yg diturunkan secara matematis dgn beberapapendekatan)

 Akan tetapi perlakuan matematis yglebih kaku (tanpa pendekatan)


memberikan relasi ygeksak

 Untuk menjelaskan partikel dgn gelombang paket yang berada pd daerah sempit
x memerlukan rentang bilangan gelombang yang besar, yaitu k besar.
Kebalikannya, rentang sempit bilangan gelombang tidak dapat menghasilkan
paket gelombang pada lokasi jarak yangsempit. gelombang partikel harus
mengikuti relasi ketidak pastian yg sama

. KETIDAKPASTIAN DALAM FUNGSI ATOM/ SUB ATOM

Apa itu orbital atom : Orbital dan orbit

Ketika planet bergerak mengitari matahari, kita dapat menggambarkan jalur yang
ditempuh oleh planet itu yang disebut dengan orbit. Gambaran sederhana dari atom juga
sama dengan fenomena tersebut dan kita dapat menggambar elektron-elektron yang
mengorbit mengelilingi nukleus (inti atom). Walaupun sesungguhnya elektron-elektron
tidak mengorbit pada jalur yang tetap melainkan mengorbit pada sebuah ruang yang
disebut dengan orbital.
Orbit dan orbital terkesan sama, tetapi sebenarnya memiliki makna yang cukup
berbeda. Kita perlu memahami perbedaan di antara keduanya.Ketidakmungkinan
penggambaran orbital elektron-elektron.Untuk menggambar suatu jalur kita perlu
mengetahui secara pasti di mana objek tersebut berada dan ke arah mana objek itu
bergerak.Sayangnya, kita tidak bisa melakukan hal tersebut untuk elektron-elektron.

Prinsip ketidakpastian Heisenberg menunjukkan bahwa kita tidak dapat


mengetahui secara pasti di mana elektron itu berada dan ke arah mana elektron itu
bergerak. Hal ini membuat kita tidak mungkin menggambarkan secara tepat jalur atau
orbit dari elektron yang mengelilingi nukleus. Tetapi ada suatu cara lain yang bisa
diterima untuk menggambarkan pergerakan elektron-elektron di sekitar nukleus.
Elektron hidrogen - orbital 1s Bayangkankitamemiliki satu atom hidrogen dan
menentukan posisi elektronnya pada suatu waktu tertentu.Segera sesudahnya,
kitakembalimenentukanposisielektronini,dankitamendapatielektronitusudahadadiposis
i yang berbeda. Kita tidak mengerti bagaimana elektron ini berpindah dari posisi yang
pertama ke posisi yang kedua. Kita coba untuk terus mencari titik-titik posisi dari
elektron tersebut, dan kita akan perlahan-lahan menemukan suatu
gambaran 3 dimensi peta posisi dari elektron tersebut.

Dalam kasus elektron hidrogen, elektron dapat ditemukan di manapun di


sekeliling nukleus. Diagram menunjukkan kemungkinan dari posisi elektron yang
membentuk ruang wilayah yang mengelilingi nukleus. Pada 95% dari hasil
pengamatan, elektron dapat ditemukan dalam suatu wilayah relatif dekat dengan
nukleus. Wilayah dari ruang tersebut kita sebut dengan orbital.
Kita dapat beranggapan bahwa orbital merupakan suatu ruang wilayah di mana
elektron itu bergerak di dalamnya.Tiap orbital memiliki nama :
Orbital yang dihuni oleh elektron hidrogen disebut dengan orbital 1s. Angka "1"
menunjukkan bahwa orbital tersebut memiliki tingkat energi yang terdekat dengan
nukleus. Huruf "s" menunjukkan bentuk dari orbital tersebut. Orbital s berbentuk
bulat simetris yangmengelilingi nukleus. Orbital disebelah kiri merupakan orbital 2s

C.Ketakpastian Heisenberg

Prinsip ketidakpastian Heisenberg memperkenalkan suatu hubungan


timbal balik antara posisi dan momentum. Jika nilai posisi elektron diketahui dengan
tingkat akurasi yang tinggi, maka nilai momentum elektron elektron akan tidak pasti,
dan sebaliknya.

Di tahun 1925 Werner Heisenberg mengajukan rumus baru di bidang fisika,


suatu rumus yang teramat sangat radikal, jauh berbeda dalam pokok konsep dengan
rumus klasik Newton.Teori rumus baru ini sesudah mengalami beberapa perbaikan oleh
orang-orang sesudah Heisenberg sungguh berhasil dan cemerlang. Rumus itu hingga
kini bukan cuma diterima melainkan digunakan terhadap semua sistem fisika, tak
peduli yang macam apa dan dari yang ukuran bagaimanapun.
Dapat dibuktikan secara matematik, sepanjang pengamatan hanya dengan
menggunakan sistem makroskopik, perkiraan kuantum mekanika berbeda dengan
mekanika klasik dalam jumlah yang terlampau kecil untuk diukur.(Atas dasar alasan
ini, mekanika klasik yang secara matematik lebih sederhana daripada kuanturn
mekanika masih dapat dipakai untuk kebanyakan perhitungan ilmiah).Tetapi, jika
berurusan dengan sistem dimensi atom, perkiraan tentang kuantum mekanika sangat
berbeda dengan mekanika klasik.Percobaan-percobaan membuktikan bahwa perkiraan
mengenai kuantum mekanika adalah benar.
Salah satu konsekuensi dari teori Heisenberg adalah "prinsip ketidakpastian"
yang dirumuskannya sendiri di tahun 1927.Prinsip itu umumnya dianggap salah satu
prinsip yang paling mendalam di bidang ilmiah dan yang paling mempunyai daya
jangkau yang lebih jauh. Dalam praktek, apa yang diterapkan lewat penggunaan
"prinsip ketidakpastian" ini adalah mengkhususkan batas-batas teoritis tertentu
terhadap kesanggupan kita membuat ukuran-ukuran ilmiah. Akibat pengaruh dari
sistem ini sangat dahsyat. Apabila hukum dasar fisika menghambat seorang ilmuwan
bahkan dalam keadaan yang ideal sekalipun mendapatkan pengetahuan yang cermat
dari suatu penyelidikan, ini disebabkan karena sifat-sifat masa depan dari sistem itu
tidak sepenuhnya bisa diramalkan.

Menurut "prinsip ketidakpastian," tak akan ada perbaikan pada peralatan ukur
kita yang akan mengijinkan kita mengungguli kesulitan, ini."Prinsip ketidakpastian" ini
menjamin bahwa fisika, dalam keadaannya yang lumrah, tak sanggup membikin lebih
dari sekedar dugaan-dugaan statistik. Seorang ilmuwan yang menyelidiki radioaktivitas,
misalnya, mungkin mampu menduga bahwa satu dari setriliun atom radium, dua juta
akan mengeluarkan sinar gamma dalam waktu sehari sesudahnya. Tetapi, Heisenberg
sendiri tidak bisa menaksir apakah ada atom radium yang khusus yang akan berbuat
begitu. Dalam banyak hal yang praktis, ini bukannya satu pembatasan yang
ketat.Bilamana menyangkut jumlah besar, metoda statistik sering mampu
menyuguhkan basis pijakan yang dapat dipercaya untuk sesuatu langkah. Tetapi, jika
menyangkut jumlah dari ukuran kecil, soalnya jadi lain. Di sini "prinsip ketidakpastian"
memaksa kita menghindar dari gagasan sebab-akibat fisika yang ketat.Ini
mengedepankan suatu perubahan yang amat mendasar dalam pokok filosofi
ilmiah.Begitu mendasarnya sampai-sampai ilmuwan besar Einstein tak pernah mau
terima prinsip ini."Saya tidak percaya," suatu waktu Einstein berkata, "bahwa Tuhan
main-main dengan kehancuran alam semesta."
Tetapi, pada hakekatnya sebuah pertanda bahwa ahli fisika yang paling modern
merasa perlu menerimanya. Jelaslah sudah, dari sudut teori kuantum, dan pada tingkat
lebih lanjut bahkan lebih besar dari "teori relativitas," telah merombak konsep dasar
kita tentang dunia fisik.Tetapi, konsekuensi teori ini tidaklah semata bersifat filosofis.
Diantara penggunaan praktisnya, dapat dilihat pada peralatan modern seperti
mikroskop elektron, laser dan transistor. Teori kuantum juga secara luas digunakan
dalam bidang fisika nuklir dan tenaga atom.Ini membentuk dasar pengetahuan kita
tentang bidang "spectroscopy" (alat memprodusir dan meneliti spektra cahaya), dan ini
digunakan secara luas di sektor astronomi dan kimia.Dan juga dimanfaatkan dalam
penyelidikan teoritis dalam masalah yang topiknya beraneka ragam seperti kualitas
khusus cairan belium, dasar susunan intern binatang-binatang, daya penambahan
kekuatan magnit, dan radio aktivitas.
Werner Heisenberg lahir di Jerman tahun 1901.Dia terima gelar doktor dalam
bidang fisika teoritis dari universitas Munich tahun 1923. Dari tahun 1924 sampai 1927
dia kerja di Kopenhagen bersama ahli fisika besar Denmark, Niels Bohr. Kertas kerja
penting pertamanya tentang ihwal kuantum mekanika diterbitkan tahun 1925 dan
rumusnya tentang "prinsip ketidakpastian" keluar tahun 1927. Heisenberg meninggal
tahun 1976 dalam usia tujuh puluh empat tahun. Dia hidup bersama isteri dan tujuh
anak.
Dari sudut arti penting kuantum mekanika, para pembaca mungkin heran apa
sebab Heisenberg tidak ditempatkan lebih tinggi dari nomornya sekarang. Tetapi perlu
diingat, Heisenberg bukanlah satu-satunya ilmuwan penting yang berhubungan dengan
pengembangan kuantum mekanika.

Prinsip Ketidakpastian Heisenberg

Pada tahun 1925 Werner Heisenberg mengajukan rumus baru di bidang fisika,
suatu rumus yang sangat radikal, jauh berbeda dengan konsep dari rumus klasik
Newton.Teori rumus baru ini sesudah mengalami beberapa perbaikan oleh orang-orang
sesudah Heisenberg berhasil dan cemerlang. Hingga kini Rumus itu diterima dan
digunakan dalam semua sistem fisika. Salah satu konsekuensi dari teori Heisenberg
adalah apa yang terkenal dengan rumus "prinsip ketidakpastian" yang dirumuskannya
sendiri di tahun 1927.

Prinsip itu umumnya dianggap salah satu prinsip yang paling mendalam di
bidang ilmiah dan paling punya daya jangkau jauh. Dalam praktek, apa yang diterapkan
lewat penggunaan "prinsip ketidakpastian" ini adalah mengkhususkan batas-batas
teoritis tertentu terhadap kesanggupan kita membuat ukuran-ukuran ilmiah. Menurut
Heisenberg, pada pengukuran dalam dimensi partikel, kita tidak dapat melakukan
pengukuran yang akurat untuk menentukan posisi dan momentum partikel secara
serentak. Jika momentum dapat ditentukan secara akurat, maka posisi partikel tidak
dapat ditentukan.
Demikian pula, jika posisi partikel dapat ditentukan secara akurat, maka
momentumnya tidak dapat ditentukan.Prinsip ini dikenal sebagai prinsip
ketidakpastian Heisenberg.Prinsip ini menyatakan bahwa hasil pengukuran untuk
menentukan posisi dan momentum partikel mengandung ketidakpastian.

“Prinsip Ketidakpastian Heisenberg menyatakan bahwa adalah (hampir) tidak


mungkin untuk mengukur dua besaran secara bersamaan, misalnya posisi dan
momentum suatu partikel”.

“Hal yang sama ditunjukkan pada gelombang sinus yang merentang dari x = -∞
hingga x = +∞ diatas, yang mana gelombang tersebut memiliki panjang gelombang yang
pasti namun letak gelombangnya tidak dapat dipastikan”.
"Prinsip ketidakpastian" ini menjamin bahwa fisika, dalam keadaannya yang
lumrah, tak sanggup membuat lebih dari sekedar dugaan-dugaan statistik.misalnya
seorang ilmuwan yang menyelidiki radioaktivitas, mungkin mampu menduga bahwa
satu dari setriliun atom radium, dua juta akan mengeluarkan sinar gamma dalam waktu
sehari sesudahnya.
Tetapi, Heisenberg sendiri tidak bisa menaksir apakah ada atom radium yang
khusus yang akan berbuat hal tersebut. Penggunaan kuantum dapat dilihat pada
peralatan modern seperti mikroskop elektron, laser dan transistor.Teori kuantum juga
secara luas digunakan dalam bidang fisika nuklir dan tenaga atom.Ini membentuk dasar
pengetahuan kita tentang bidang "spectroscopy" (alat pembuat dan meneliti spektrum
cahaya), dan ini digunakan secara luas di sektor astronomi dan kimia.Dan juga
dimanfaatkan dalam penyelidikan teoritis dalam masalah yang topiknya beraneka
ragam seperti kualitas khusus cairan belium, dasar susunan intern binatang-binatang,
daya penambahan kekuatan magnit, dan radio aktivitas.
Dalam pernyataan elektron sebagai gelombang, posisi elektron ditentukan
oleh posisi paket gelombang.Akan tetapi paket gelombang tidaklah menempati
ruang yang cukup sempit, melainkan mempunyai lebar. Jika posisi mengandung
ketidak pastian, maka kecepatan juga mengandung ketidakpastian karena :

v = dx / dt
Jika kecepatan mengandung ketidakpastian maka momentum pun
mengandung ketidak pastian.Heisenberg memberikan hubungan ketidak pastian
momentum dan posisi sebagai p.x ≥ h yang dapat kita pahami sebagai berikut.
Momentum elektron adalah p = h.k yang berarti perubahan momentum p = h.k
memberikan relasi k.x = 2π . Dari kedua relasi ini dapat kita peroleh relasi
ketidakpastian Heizenberg yang terkenal.
Relasi ini menunjukkan bahwa ketidakpastian posisi elektron terkait
dengan ketidakpastian momentum. Jika kita hendak mengetahui posisi elektron dengan
teliti maka ketidakpastian momentum akan besar. Demikian pula sebaliknya, jika
kita hendak mengetahui momentum dengan teliti maka ketidakpastian posisi akan
besar. Karena perubahan momentum terkait pada perubahan energi maka terdapat
pula ketidakpastian energi. Dari relasi energi E = hf.
Berikut ketidakpastian posisi dan momentum, serta ketidakpastian energy
dan waktu:
 Posisi dan momentum:

∆𝑥∆𝑝𝑥 ≥
2𝜋

 Energi dan waktu:



∆𝐸∆𝑡 ≥
2𝜋
DAFTAR PUSTAKA

A, Beiser. 1995. Konsep Fisika Modren. New York : McGraw Hill.

Krane,Kenneth.1992.Fisika Modren. Jakarta: Universitas Indonesia Pers.

Wikipedia.Kerangka Acuan. https://id.wikipedia.org/wiki/Kerangka_acuan.