Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Salah satu kebiasaan masyarakat saat ini yang dapat ditemui hampir di

setiap kalangan masyarakat adalah perilaku merokok. Merokok merupakan salah

satu kebiasaan negatif manusia yang sudah lama dilakukan. Kebiasaan ini sering

kali sulit dihentikan karena adanya efek ketergantungan yang ditimbulkan oleh zat

yang terkandung dalam rokok terutama nikotin. Efek ketergantungan nikotin

inilah yang mengakibatkan paparan terus menerus rokok pada perokok nantinya

yang akan mengakibatkan penurunan fungsi kognitif seperti penurunan motivasi,

penurunan konsentrasi dan daya ingat sehingga hal ini masih menjadi

permasalahan dalam kesehatan (Karyadi, 2010).

Perilaku merokok merupakan hal yang masih dilakukan oleh banyak

orang, walaupun kebanyakan orang sudah mengetahui bahaya merokok bahkan

sudah ada peringatan tertulis di surat surat kabar, majalah dan media masa lain,

bahkan dibungkus rokok itu sendiri (Sarino & Ahyati, 2012).

Penelitian global youth tobbaco survey (GYTS) menyatakan bahwa 20,3%

anak sekolah merokok. Sementara itu, menurut data Survey Sosial Ekonomi

Nasional (SUSENAS), Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) Dan Riset

Kesehatan Dasar (RISKESDAS) menunjukan terjadinya peningkatan prevalensi

perokok usia 15 tahun ke atas yaitu 36,3% (Riskesdas 2013, Diba dkk,2016).

1
2

World Health Organization (WHO) memperkirakan bahwa pada periode

dekade 2020-2030 rokok akan menyebabkan 10 juta kematian per tahun, dengan

70% persentasinya terjadi pada negara-negara berkembang. Menurut European

Urology Focus tahun 2015 menunjukkan bahwa terdapat sekitar 60% perokok di

dunia diantara tahun 2010 sampai 2012 tinggal di 3 negara Asia, yaitu Cina (317

juta perokok), India (122 juta perokok) dan Indonesia (115 juta perokok). Tercatat

lebih dari 120 juta perokok dewasa berada di 10 negara ASEAN dan setengah dari

angka tersebut berasal dari Indonesia (65 juta perokok). Menurut data dari Riset

Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, proporsi penduduk menurut kebiasaan

merokok dan jenis kelamin di Indonesia sebesar 47,5% untuk persentase pria yang

aktif merokok setiap hari dibandingkan dengan wanita yang aktif merokok setiap

hari hanya sebesar 1,1%.8 Menurut WHO perokok dibagi dalam tiga kategori

sesuai dengan pengonsumsian batang rokok perhari, yakni ringan (1-10 batang),

sedang (11-19 batang) dan berat (lebih dari sama dengan 20 batang).

Asap rokok mengandung beberapa zat yang berbahaya. Selain karsinogen

dan kokarsinogen, 40% kandungan rokok adalah bahan beracun dan berefek

candu. Adanya tar dan radikal bebas dari asap rokok dapat menyebabkan

hemolisis eritrosit. Selain itu, rokok menyebabkan penurunan kadarhemoglobin

(Hb) yang dimediasi oleh paparan carbonmonoksida (CO) yang berikatan dengan

hemoglobin membentuk carboksihemoglobin (HbCO). CO yang dihasilkan oleh

asap rokok memiliki kecenderungan yang kuat untuk berikatan dengan

hemoglobin dalam eritrosit, ikatan ini 210-300 kali lebih kuat daripada ikatan

hemoglobin dengan oksigen (Oksihemoglobin).


3

Hemoglobin merupakan salah satu senyawa dalam sel darah merah yang

berfungsi mengangkut zat oksigen ke dalam sel-sel tubuh. Menurut penelitian

John W. Adamson (2005) yang menyatakan pada perokok berat terjadi

peningkatan kadar hemoglobin. Peningkatan ini terjadi karena reflek dari

mekanisme kompensasi tubuh terhadap rendahnya kadar oksigen yang berikatan

dengan hemoglobin akibat digeser oleh karbon monoksida yang mempunyai

afinitas terhadap hemoglobin yang lebih kuat. Sehingga tubuh akan meningkatkan

proses hematopoiesis lalu meningkatkan produksi hemoglobin, akibat dari

rendahnya tekanan parsial oksigen (PO2) di dalam tubuh. Tingkat hemoglobin

rata-rata dan tingkat HbCO meningkat secara progresif dengan jumlah rokok yang

dikonsumsi per hari. Selain jumlah rokok yang dihisap per hari, durasi paparan

kronis terhadap HbCO juga berkorelasi dengan perkembangan polisitemia.

Diketahui kadar gas CO dalam darah pada orang bukan perokok kurang dari 1%,

sementara dalam darah perokok mencapai 4-15%.

Penelitian Ibrahim (2014) menyatakan bahwa adanya peningkatan yang

signifikan pada jumlah eritrosit, Hb, Packed Cell Volume (PCV) dan Mean

Cospuscular Hemoglobin (MCH) pada perokok dibandingkan dengan non-

perokok dari kelompok usia yang sama dan peningkatan tidak signifikan pada

nilai Mean Cospuscular Volume (MCV) dan Mean Cospuscular Hemoglobin

Concentration (MCHC).

Berdasarkan latar belakang diatas peneliti tertarik untuk melakukan

penelitian tentang perbandingan kadar hemoglobin pada pria perokok dan bukan

perokok.
4

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis merumuskan masalah

dalam penelitian ini adalah " Pengaruh Perokok Aktif dan Pasif Terhadap Kadar

Hemoglobin”.

1.3 Tujuan penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan

kadar hemoglobin pada pria perokok dan bukan perokok.

1.3.2 Tujuan Khusus

Adapun yang menjadi tujuan khusus dari penelitian ini adalah untuk :

1) Untuk mengetahui pengaruh perokok aktif dan pasif terhadap kadar

hemoglobin.

2) Untuk mengetahui kadar hemoglobin pada pria perokok aktif.

3) Untuk mengetahui kadar hemoglobin pada pria perokok pasif.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Teoritis

1) Dengan melakukan penelitian ini, dapat menambah pengetahuan dan

referensi terkait perbandingan kadar hemoglobin pada pria perokok dan

bukan perokok.
5

2) Sebagai bahan pertimbangan bagi tenaga kesehatan untuk ikut berperan

serta dalam menanggulangi masalah rokok yang berperan sebagai

edukator, motivator, dan sebagai konselor.

1.4.2 Manfaat Praktis

1) Bagi Petugas Kesehatan

Dengan dilakukannya penelitian ini, hasil yang diperoleh dapat

menjadi masukan bagi para petugas kesehatan dalam memberikan edukasi

mengenai perilaku merokok pada masyarakat dengan melakukan pelatihan

gerakan anti rokok serta memberikan pengetahuan tentang bahaya merokok

bagi kesehatan masyarakat.

2) Bagi Masyarakat

Dengan dilakukannya penelitian ini, semoga memberikan

pengetahuan tentang bahaya dari rokok dan dapat meningkatkan efikasi diri

dalam memilih hal yang baik dan buruk terhadap rokok tersebut.

1.4.3 Manfaat Keilmuan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan keilmuan

bahwa merokok ini dapat membahayakan kesehatan. Diantaranya penurunan

kadar hemoglobin, kanker paru-paru, kanker kerongkongan, kanker pencernaan,

kanker ginjal, kanker mulut, hipertensi, jantung dan sejenisnya.