Anda di halaman 1dari 99

POLA KOMUNIKASI KYAI DAN SANTRI

DALAM PENGAJARAN SENI BACA AL-QUR’AN


DI PONDOK PESANTREN AL-QUR’ANIYYAH
PONDOK AREN

Oleh :

Mutmainnah
104051001796

JURUSAN KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM


FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1429 H/2008 M
POLA KOMUNIKASI KYAI DAN SANTRI
DALAM PENGAJARAN SENI BACA AL-QUR’AN
DI PONDOK PESANTREN AL-QUR’ANIYYAH
PONDOK AREN

Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Dakwah dan Komunikasi
untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Sosial Islam (S.Sos.I)

Oleh :

Mutmainnah
104051001796

Di bawah Bimbingan

Drs. M. Luthfi, MA
NIP: 150 268 782

JURUSAN KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM


FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1429 H/2008 M
LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa:

1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi
salah satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 di UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya
cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.
3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya
atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia
menerima sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Ciputat, 02 April 2008

Mutmainnah
ABSTRAK

MUTMAINNAH

Pola Komunikasi Kyai dan Santri dalam Pengajaran Seni Baca Al-Qur’an di
Pondok Pesantren Al-Qur’aniyyah Pondok Aren

Komunikasi sangat penting peranannya bagi kehidupan manusia dalam


bersosialisasi, manusia dituntut agar pandai dalam berkomunikasi, bahkan pada
proses belajar mengajar. Karena Proses belajar mengajar pada hakikatnya adalah
proses komunikasi, yaitu proses penyampaian pesan dari sumber pesan (guru)
melalui saluran atau media tertentu ke penerima pesan (murid). Pondok pesantren
Al-Qur’aniyyah merupakan sebuah yayasan pendidikan Islam yang berbadan
hukum yang bertujuan mencetak santri agar dapat membaca al-Qur’an secara
fasih, baik dan benar sesuai dengan ilmu tajwid, serta mampu melantunkannya
sesuai dengan ilmu lagu-lagu dalam al-Qur’an (ilmu nagham) dan ilmu qira’at
yang berlaku.
Pondok pesantren Al-Qur’aniyyah mempunyai ciri khas, yaitu keal-
Qur’anan, sehingga pondok pesantren tersebut berbeda dari pesantren-pesantren
lainnya yang ada di Desa Jurang Mangu Pondok Aren Tangerang. Sebagai
yayasan pendidikan Islam yang bercirikan keal-Qur’anan, para santri yang belajar
di pondok pesantren Al-Qur’aniyyah tidak hanya mendalami ilmu-ilmu agama
Islam atau pendidikan kepesantrenan, tetapi juga dianjurkan untuk bisa mengenal
dan memahami al-Qur’an dengan baik dan benar, juga indah karena membaca al-
Qur’an sama dengan berdialog langsung dengan Allah SWT.
Dalam pengajaran seni baca al-Qur’an pondok pesantren Al-Qur’aniyyah,
santri lebih ditekankan pada keterampilan seni membaca al-Qur’an oleh kyai,
yaitu bagaimana al-Qur’an dibaca dengan fasih, dipelajari dan dipahami baik dan
benar sesuai dengan ilmu tajwid, serta mampu melantunkannya sesuai dengan
ilmu lagu-lagu dalam al-Qur’an (ilmu nagham) dan ilmu Qira’at.
Pondok pesantren Al-Qur’aniyyah menetapkan program-program
pengajaran seni baca al-Qur’an untuk menerapkan kedisiplinan ilmu yang harus
ditempuh oleh para santri. Program pengajaran seni baca al-Qur’an yang
diterapkan di pondok pesantren Al-Qur’aniyyah ini terbagi menjadi tiga
jenjang/kategori, antara lain: tingkat dasar, tingkat menengah dan tingkat mahir.
Materi dan metode yang digunakan oleh kyai adalah materi tentang isi dan makna
kandungan ayat-ayat al-Qur’an dan ditambahkan lagu dan tangga nada yang
sesuai dengan kaidah seni baca al-Qur’an, dan metode pengajarannya adalah
dengan penugasan, tanya jawab, hafalan, membaca, menyimak, demonstrasi, dan
motivasi. Dengan begitu, santri dapat menguasai dan memahami materi yang
disampaikan, sehingga kemampuan santri dapat tersalurkan.
KH. Drs. M. Sobron Zayyan, M.A, sebagai seorang kyai di pondok
pesantren Al-Qur’aniyyah dalam penyampaikan materi pelajaran seni baca al-
Qur’an, menggunakan berbagai macam bentuk atau pola komunikasi, seperti
komunikasi verbal, komunikasi interpersonal, komunikasi kelompok kecil dan
komunikasi instruksional, semua komunikasi yang digunakan oleh kyai dilakukan
dengan tatap muka melalui lisan dan komunikasi seperti ini sangat efektif dalam
pengajaran seni baca al-Qur’an.
KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim

Puji syukur hanya milik Moral Realitas Tertinggi. Tuhan Maha Mutlak

yang kepada-Nya bergantung segala sesuatu yaitu kepada Allah SWT dengan

karunia-Nyalah penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. Shalawat serta

salam semoga tetap selalu tercurahkan keharibaan Nabi Muhammad SAW, yang

telah membawa umatnya dari zaman kedzaliman menuju zaman kebenaran Tuhan

yang sesungguhnya.

Alhamdulillah penulisan skripsi ini berjalan dengan baik dan lancar.

Semua ini takkan tercapai tanpa adanya usaha, perjuangan, dorongan, dari semua

pihak dan do’a serta tawakkal kepada Sang Pencipta. Maka pada kesempatan kali

ini, penulis merasa sangat perlu untuk menghaturkan dan mengucapkan rasa

terima kasih sedalam-dalamnya kepada semua pihak yang terkait, yang telah

membantu dan mendukung penulisan skripsi ini. Rasa terima kasih yang sangat

penulis haturkan kepada :

1. Bpk. Dr. Murodi, M.A, selaku Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi,

yang telah memberikan ilmu pengetahuan yang tak ternilai harganya.

2. Bpk. Drs. Wahidin Saputra, M.A, selaku Ketua Jurusan Komunikasi

Penyiaran Islam, yang telah memberikan ilmu pengetahuan yang tak

ternilai harganya.

3. Ibu Dra. Umi Musyarofah, M.A, selaku Sekretaris Jurusan Komunikasi

Penyiaran Islam, yang selalu memotivasi penulis dalam menyelesaikan

penulisan skripsi ini.


4. Bpk. Drs. M. Luthfi, M.A, selaku dosen pembimbing yang telah

memberikan bimbingan dan arahannya kepada penulis, sehingga penulis

dapat menyelesaikan skripsi ini.

5. KH. Drs. M. Sobron Zayyan, M.A, selaku pimpinan pondok pesantren Al-

Qur’aniyyah yang telah memberikan izin kepada penulis untuk

mengadakan penelitian di pondok pesantren Al-Qur’aniyyah.

6. Ust. Muhammad Hilimi, S.Ag, selaku pengurus pondok pesantren Al-

Qur’aniyyah yang telah berkenan meluangkan waktunya untuk

wawancara. Dan Ust. Abdul Latif, S.Ag, yang selalu siap membantu

penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

7. Rahmatullah dan Sifa Nafiga, selaku santri pondok pesantren Al-

Qur’aniyyah yang telah membantu dalam menyelesaikan skripsi ini.

8. Para staff perpustakan utama dan perpustakaan Fakultas Dakwah dan

Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang telah memberikan

kesempatan kepada penulis untuk memanfaatkan dan meminjam buku-

buku yang berhubungan dengan skripsi ini.

9. Ayahanda dan Ibunda terhormat (Bpk. Asmad dan Ibu Jennah), yang telah

mengasuh, mendidik dan membesarkan penulis dengan penuh rasa kasih

sayang yang tercurah baik dengan moril, maupun materil, sehingga

kesulitan yang penulis hadapi dapat teratasi dan terasa ringan.

10. Kakanda tersayang Ust. Fadillah. S.Th.I, Maspuroh, Thoyyibah, Fauzi dan

adik penulis Rizal Abdul Fahmi, yang selalu memberikan kasih sayang

yang tak terhingga, motivasi, didikan, bimbingan, dan semangat untuk

terus maju pantang mundur dalam penyusunan skripsi ini.


11. Sahabat-sahabat penulis seperjuangan, khususnya anak-anak KPI B

angkatan 2004/2005 seperti: Siti Aminah, Ida Suryani, Yusriani Pulungan,

Sukasih Nur, Al-Mukarromah, Siti Sarah, Choirunnisa, Listiani Wirafsya,

Hikmatinnisa, Yayu Rulia Syarof, Haiza Roni, Mika Aprianti, Ika Puspita

Sari, Restifa Anbiya Yuneni, dan lain-lain, yang selalu memberikan

dukungan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

12. Seluruh teman-teman penulis yang ada di pondok pesantren Nurul Iman di

antaranya: Muhammad Irvan, Suratno, Miftahul Huda, Siti Marwah,

Rahmawati, dan lain-lain yang selalu mendoakan penulis dalam

menyelesaikan skripsi ini.

Akhirnya penulis hanya bisa mengucapkan jazakumullah khairan katsir

semoga amal ibadah Bapak/Ibu sekalian dibalas oleh Allah SWT, Amiien ya

Rabbal A’lamin.

Tangerang, 02 April 2008

Penulis
DAFTAR ISI

LEMBAR PERNYATAAN……………………………………………………....i

LEMBAR PENGESAHAN………………………………………………….…..ii

ABSTRAK……………………………………………………………...………..iii

KATA PENGANTAR………………...…………………………………………vi

DAFTAR ISI………………...…………………………………………………..vii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah……………………………………….1

B. Batasan dan Rumusan Masalah………………………………..6

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian………………………………..7

D. Tinjauan Pustaka………………………………………………7

E. Metodologi Penelitian…………………………………………8

F. Sistematika Penulisan………………………………………...12

BAB II TINJAUAN TEORITIS

A. Pola Komunikasi……………………………………………..14

1. Pengertian Pola Komunikasi……………………………..14

2. Macam-macam Pola Komunikasi………………………..19

3. Penerapan Pola Komunikasi……………………………..22

B. Kyai dan Santri……………………………………………….24

1. Pengertian Kyai dan Santri……………………………….24

2. Komunikasi Kyai dan Santri……………………………..28

C. Pengajaran Seni Baca Al-Qur’an…………………………….30

1. Pengertian Pengajaran……………………………………30
2. Pengertian Seni Baca Al-Qur’an…………………………32

3. Komunikasi Pengajaran Seni Baca Al-Qur’an…………...33

BAB III GAMBARAN UMUM PONDOK PESANTREN AL-

QUR’ANIYYAH

A. Letak Geografis dan Sejarah Berdiri…………………………35

B. Struktur Organisasi dan

Kepengurusan………………………………………………...40

C. Santri dan Pengasuh………………………………………….45

D. Program Kerja………………………………………………..48

E. Sarana dan Prasarana…………………………………………48

BAB IV ANALISIS POLA KOMUNIKASI KYAI DAN SANTRI

DALAM PENGAJARAN SENI BACA AL-QUR’AN

A. Kyai dan Santri……………………...………………………..51

B. Program Pengajaran Seni Baca Al-Qur’an…………………..63

C. Pola Komunikasi Kyai dan Santri Dalam Pengajaran Seni

Baca Al-Qur’an………………………………………………67

D. Analisis Pola Komunikasi Kyai dan Santri Dalam Pengajaran

Seni Baca Al-Qur’an…………………………………………77

E. Hasil Yang Dicapai dari Pengajaran Seni Baca Al-Qur’an….80

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan…………………………………………………..82

B. Saran………………………………………………………….83

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Berkomunikasi adalah kebutuhan manusia dalam mempertahankan

kelangsungan hidup, hampir tidak mungkin seseorang dapat menjalani hidupnya

tanpa berkomunikasi dengan orang lain. Artinya, manusia memang tidak bisa

hidup tanpa komunikasi, karena komunikasi merupakan kebutuhan yang sangat

penting, tanpa komunikasi manusia tidak bisa menjalankan fungsinya sebagai

pembawa amanah dari Tuhan di muka bumi (kholifah).

Dalam perspektif agama, bahwa komunikasi sangat penting peranannya

bagi kehidupan manusia dalam bersosialisasi, manusia dituntut agar pandai dalam

berkomunikasi. Hal ini dijelaskan dalam al-Qur’an surat ar-rahmaan ayat 1-4,

yang berbunyi:

  

 !   

() ☺ ' "#$%&


. 
,-

Artinya: “(Tuhan) yang maha pemurah, yang telah mengajarkan al-


Qur’an. Dia menciptakan manusia, mengajarnya pandai berbicara”.

Perlu disadari bahwa peran komunikasi sangat diperlukan dalam

kehidupan bersosialisasi, bahkan pada proses belajar mengajar. Karena proses

belajar mengajar pada hakikatnya adalah proses komunikasi, yaitu proses

penyampaian pesan dari sumber pesan (guru) melalui saluran atau media tertentu
ke penerima pesan (murid). Pesan yang akan dikomunikasikan adalah bahan atau

materi pelajaran yang ada dalam kurikulum. Sumber pesannya bisa guru, murid,

dan lain sebagainya. Salurannya berupa media pendidikan, dan penerimanya

adalah murid.1

Komunikasi dalam pendidikan dan pengajaran berfungsi sebagai

pengalihan ilmu pengetahuan yang mendorong perkembangan intelektual,

pembentukan watak dan keterampilan serta kemahiran yang diperlukan pada

semua bidang kehidupan.2 Fungsi komunikasi tidak hanya sebagai pertukaran

informasi dan pesan, tetapi sebagai kegiatan individu dan kelompok mengenai

tukar menukar data, fakta dan ide. Agar komunikasi berlangsung efektif dan

informasi yang disampaikan oleh seorang pendidik dapat diterima dan dipahami

oleh peserta didik dengan baik, maka seorang pendidik perlu menerapkan pola

komunikasi yang baik pula.3

Komunikasi dalam istilah pendidikan dikenal sebagai komunikasi

instruksional, dan komunikasi ini merupakan salah satu aspek fungsi komunikasi

untuk meningkatkan kualitas berfikir pada pelajar sebagai komunikan dalam

situasi instruksional yang terkondisi. Misalnya guru disamping sanggup mengajar

untuk memberikan instruksi kepada pelajar, juga memiliki metode dalam

penyampaian pesan atau materi kepada pelajar. Komunikasi instruksional ini lebih

mengarah kepada pendidikan dan pengajaran, bagaimana seorang pengajar

memiliki kerja sama dengan muridnya, sehingga pesan atau materi yang

1
H.M. Alisuf Sabri, Pengantar Ilmu Pendidikan, (Jakarta: UIN Jakarta, 2005), Cet. Ke-1, h.
11.
2
H. A. W. Widjaja, Komunikasi dan Hubungan Masyarakat, (Jakarta: Bumi Aksara, 1997),
Cet. Ke-3, h. 11.
3
Asnawir dan Basyiruddin Usman, Media Pembelajaran, (Jakarta: Ciputat Press, 2002), h. 7.
disampaikan dapat diterima dengan baik. Komunikasi instruksional merupakan

salah satu bentuk atau pola komunikasi dalam dunia pendidikan dan pengajaran,

dan dapat terjadi di mana saja. Misalnya di sekolah, universitas, bahkan di pondok

pesantren.

Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan Islam tradisional, tempat

untuk mempelajari, mendalami, menghayati dan mengamalkan ajaran agama

Islam yang menerapkan pentingnya moral keagamaan.4 Di mana seorang kyai

sebagai pemimpin pondok pesantren dituntut untuk memiliki keahlian dan

kepercayaan dalam penyampaian pesan kepada santrinya, khususnya dalam proses

belajar mengajar/pengajaran.

Kyai dalam suatu pondok pesantren merupakan elemen yang paling

esensial. Ia merupakan pendiri pondok pesantren, sudah sewajarnya bahwa

pertumbuhan suatu pesantren semata-mata bergantung kepada kemampuan pribadi

kyainya. Di sebuah pesantren kyai atau ustadz merupakan salah satu pemicu minat

santri untuk menuntut ilmu, sehingga santri dari berbagai daerah berdatangan

untuk menuntut ilmu. Dalam hal pembelajaran, kyai atau ustadz mempunyai

peranan yang sangat penting dalam membentuk kepribadian para santri baik

dalam tata cara bergaul dan bermasyarakat dengan sesama santri lainnya. Untuk

terciptanya hal tersebut, maka dibutuhkan sebuah sistem komunikasi yang baik

dengan menggunakan metode-metode pengajaran didalamnya.

Metode pengajaran dan materi pelajaran yang diajarkan seorang kyai

kepada santri ditentukan oleh seberapa jauh kedalaman ilmu pengetahuan sang

kyai dan yang dipraktekkan sehari-hari dalam kehidupan. Sedangkan tujuan dari

4
Mastuhu, Prinsip Pendidikan Pesantren, (Jakarta: Inis, 1994), h. 55.
metode pengajaran di pondok pesantren lebih mengutamakan niat untuk

mendapatkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat, agar mereka disebut sebagai

ahli ilmu semata. Sebuah pondok pesantren tidak terlepas dari konsep komunikasi

yang efektif dalam kehidupan masyarakat.

Telah disepakati bahwa fungsi komunikasi adalah menyampaikan

informasi, mendidik, menghibur dan mempengaruhi. Dalam komunikasi istilah

pendidikan dan pengajaran adalah dua komponen yang saling melibatkan antara

pengajar (kyai) sebagai komunikator dan pelajar (santri) sebagai komunikan.

Dalam proses belajar mengajar, keakraban dan kedekatan antara seorang guru

dengan murid sangat diharapkan, agar pesan yang disampaikan oleh seorang guru

akan mudah diterima oleh murid dengan pemahaman mereka masing-masing.

Pesan atau materi pelajaran yang disampaikan sangat beragam, dan tidak mudah

untuk mendapatkan efek positif, semua itu butuh kesamaan dan pemahaman

makna antara pengajar dan pelajar. Seperti halnya dalam pengajaran seni baca al-

Qur’an.

Dalam pengajaran seni baca al-Qur’an, santri lebih ditekankan pada

keterampilan seni membaca al-Qur’an, yaitu bagaimana al-Qur’an dibaca secara

fasih dengan suara yang indah dan merdu menggunakan lagu-lagu dalam al-

Qur’an, seperti lagu bayyati, rost, hijaz dan lain sebagainya, kemudian al-Qur’an

juga dipelajari dan dipahami dengan baik dan benar sesuai dengan ilmu tajwid.

Berdasarkan ajaran agama bahwa al-Qur’an dengan seni baca, penuh

keindahan suara adalah dalam rangka ibadah dan dakwah. Karena lagu yang indah

sesuai dengan kaidah-kaidah seni baca al-Qur’an dapat mengantarkan suatu


bacaan lebih meresap ke dalam hati sanubari pembacanya maupun pendengarnya.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al-anfal ayat 2 sebagai berikut:

12345☺

☺/0
?;
3=>< 5<0 7839:;

5<0C EF>>9 @%ABC
.EH @%,0>G
E M N I()(JK 
R0S0TU OPGC
2 ☺K0
 >:=JK

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang


apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka, dan apabila
dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka
(karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal”.

Membaca al-Qur’an dengan seni baca adalah termasuk program agama

yang kita cintai. Keindahan merupakan kebutuhan hidup dan kehidupan manusia,

termasuk memperindah suara dalam membaca al-Qur’an. Kesenian adalah

penjelmaan rasa keindahan untuk kesejahteraan hidup.5 Membaca al-Qur’an

dengan seni baca sering diajarkan di dalam suatu lembaga pendidikan Islam,

seperti pondok pesantren. Dan salah satu pondok pesantren yang mempunyai

perhatian khusus dengan seni baca al-Qur’an adalah pondok pesantren Al-

Qur’aniyyah.

Pondok pesantren Al-Qur’aniyyah merupakan sebuah yayasan

pendidikan Islam yang berbadan hukum yang bertujuan mencetak santri agar

dapat membaca al-Qur’an secara fasih, baik dan benar sesuai dengan ilmu tajwid,

serta mampu melantunkannya sesuai dengan ilmu lagu-lagu dalam al-Qur’an

(ilmu nagham) dan ilmu qira’at yang berlaku.

5
KH. Muhsin Salim, Ilmu Nagham Al-Qur’an, (Jakarta: Kebayoran Widya Ripta, 2000), h. 3.
Pondok pesantren Al-Qur’aniyyah mempunyai ciri khas, yaitu keal-

Qur’anan, sehingga pondok pesantren tersebut berbeda dari pesantren-pesantren

lainnya yang ada di Desa Jurang Mangu Pondok Aren Tangerang. Sebagai

yayasan pendidikan Islam yang bercirikan keal-Qur’anan, para santri yang belajar

di pondok pesantren Al-Qur’aniyyah tidak hanya mendalami ilmu-ilmu agama

Islam atau pendidikan kepesantrenan, tetapi juga dianjurkan untuk bisa mengenal

dan memahami al-Qur’an dengan baik dan benar, juga indah karena membaca al-

Qur’an sama dengan berdialog langsung dengan Allah SWT.

Melihat peran yang sangat besar bagi pondok pesantren Al-Qur’aniyyah,

dalam menyampaikan pesan atau materi dalam pengajaran seni baca al-Qur’an,

melalui pengenalan dan pemahaman al-Qur’an dengan baik dan benar sesuai

dengan ilmu tajwid serta dapat melantunkannya sesuai dengan ilmu lagu-lagu

dalam al-Qur’an (ilmu nagham) dengan menggunakan berbagai macam bentuk

komunikasi, maka penulis tertarik untuk meneliti permasalahan-permasalahan

tersebut dalam bentuk skripsi dengan judul, “Pola Komunikasi Kyai dan Santri

Dalam Pengajaran Seni Baca Al-Qur’an di Pondok Pesantren Al-Qur’aniyyah

Pondok Aren”. Dengan alasan bahwa di pondok pesantren Al-Qur’aniyyah

mempunyai ciri khas, yaitu keal-Qur’anan, sehingga pondok pesantren tersebut

berbeda dari pesantren-pesantren lainnya yang ada di Pondok Aren.

B. Batasan dan Rumusan Masalah

1. Pembatasan Masalah

Mengingat luasnya cakupan kegiatan pondok pesantren Al-Qur’aniyyah,

maka penulis membatasi penelitian skripsi ini hanya pada Pola Komunikasi
Kyai dan Santri Dalam Pengajaran Seni Baca Al-Qur’an Pada Tingkatan

Mahir di Pondok Pesantren Al-Qur’aniyyah Pondok Aren Tangerang.

2. Perumusan Masalah

Berdasarkan batasan masalah yang dibahas, maka penulis merumuskan

masalah tersebut yaitu bagaimana pola komunikasi kyai dan santri dalam

pengajaran seni baca al-Qur’an di pondok pesantren Al-Qur’aniyyah?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Berdasarkan batasan dan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian

yang hendak dicapai adalah: Untuk mengetahui pola komunikasi kyai dan santri

dalam pengajaran seni baca al-Qur’an di pondok pesantren Al-Qur’aniyyah.

Sebagaimana tujuan penelitian di atas, maka manfaat dari penelitian ini

adalah:

1. Manfaat Teoritis

Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi

berarti bagi pembaca, tokoh masyarakat, dan lembaga-lembaga yang

berkepentingan sebagai bahan pemikiran dan perbandingan, serta untuk

menambah wawasan keilmuan dalam bidang dakwah dan komunikasi.

2. Manfaat Praktis

Secara praktis, penelitian dapat memberikan sumbangan dan masukan

bagi praktisi dakwah tentang strategi yang praktis dalam

menstransformasikan nilai-nilai agama pada masyarakat Pondok Aren

Tangerang melalui seni baca al-Qur’an, dan sebagai masukan bagi

lembaga pendidikan seperti pondok pesantren.


D. Tinjauan Pustaka

Dalam menyusun skripsi ini, telah dilakukan tinjauan pustaka oleh penulis

dan ternyata secara khusus skripsi yang membahas pola komunikasi kyai dan

santri dalam pengajaran seni baca al-Qur’an belum ada, maka penulis akan

membahas permasalahan ini ke dalam bentuk skripsi.

Kemudian penulis menggunakan referensi dari Drs. Onong Uchjana

Effendy, M.A, dengan judul buku: “Ilmu Komunikasi; Teori dan Praktek”, dalam

buku tersebut terdapat bentuk-bentuk komunikasi, seperti komunikasi persona

(intrapersona dan interpersonal), komunikasi kelompok (kelompok kecil dan

kelompok besar), komunikasi massa, dan komunikasi medio.

KH. Amin Haedar, dengan judul: “Masa Depan Pesantren; Dalam

Tantangan Modernitas dan Tantangan Komplesitas Global”, di dalam buku

tersebut membahas mengenai elemen-elemen pondok pesantren seperti kyai dan

santri, pola komunikasi atau hubungan antara kyai dan santri di pondok pesantren,

hubungan kyai dan santri dalam menyampaikan pesan atau materi.

KH. Muhsin Salim, SQ dengan judul: “Ilmu Nagham Al-Qur’an; Belajar

Membaca Al-Qur’an Dengan Lagu”, di dalam buku tersebut membahas kaidah-

kaidah seni baca al-Qur’an, seperti ilmu lagu-lagu dalam al-Qur’an (ilmu

nagham), dan macam-macam lagu dengan tangga nada (maqom).

E. Metodologi Penelitian

1. Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan Riset Lapangan (field

reseach), yaitu mencari dan mengumpulkan informasi tentang masalah

yang dibahas dari lapangan (tempat melakukan penelitian tersebut).

2. Metode Penelitian

Untuk mendapatkan hasil yang obyektif dan representatif dalam

penelitian ini, maka penulis menggunakan metode Deskriptif Analisis

melalui pendekatan kualitatif. Di mana pendekatan kualitatif ini bertujuan

untuk mendeskripsikan atau menggambarkan secara sistematis, faktual dan

akurat mengenai faktor-faktor, sifat, serta hubungan antara fenomena yang

diteliti.

Adapun secara deskriptif adalah bahwa data yang dikumpulkan berupa

kata-kata, gambar, dan bukan angka-angka. Hal ini disebabkan oleh

adanya penerapan metode kualitatif.6

3. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Pondok Pesantren Al-Qur’aniyyah

terletak di Jalan Panti Asuhan. No. 06, Kp. Ceger, Rt. 003 Rw. 012

Kelurahan Jurang Mangu Timur, Kecamatan Pondok Aren, Kabupaten

Tangerang Banten.

Dalam mendapatkan hasil penelitian yang akurat, maka penulis

membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk melakukan penelitian

langsung ke lapangan (lokasi). Adapun lamanya penelitian ini, dari bulan

Februari-Maret 2008.

4. Sumber Data
6
Lexy. J Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT. Rosdakarya, 2007),
Cet. Ke-23, h. 9-10.
Sumber data yaitu dari mana data diperoleh.7 Untuk memerlukan data,

penulis memperolehnya dari pimpinan pondok pesantren Al-Qur’aniyyah

yaitu KH. Drs. M. Sobron Zayyan, M.A, Ust. Muhammad Halimi, S.Ag,

dan Ust. Abdul Latif, S.Ag, sebagai pengasuh atau pengurus dan santri.

5. Populasi dan Sampel

“Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian, sedangkan sampel

adalah wakil populasi yang akan diteliti.”8 Dalam penelitian ini, yang

menjadi populasi adalah santri yang mengikuti pengajaran seni baca al-

Qur’an di pondok pesantren Al-Qur’aniyyah yang berjumlah 300 orang,

dengan perincian sebagai berikut: tingkat dasar berjumlah 137 orang,

tingkat menengah berjumlah 83 orang dan tingkat mahir berjumlah 80

orang.

Adapun yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah tingkatan

mahir dan penulis pilih secara acak (random sampling) dengan sistem

undi, yaitu menuliskan nama-nama seluruh responden dalam potongan-

potongan kertas, kemudian dikocok seperti arisan, maka nama yang keluar

tersebutlah yang kemudian penulis jadikan sebagai sampel yaitu berjumlah

10 orang.

6. Teknik Pengumpulan Data

7
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian; Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Rineka
Cipta, 1996), Cet. Ke-10, Edisi Revisi, h. 115.
8
Ibid,. h. 117.
Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini

adalah:

a. Interview (wawancara)

Yaitu percakapan dengan maksud tertentu yang dilakukan oleh

kedua belah pihak, yaitu penulis sebagai pewawancara dengan

mengajukan beberapa pertanyaan kepada individu yang bersangkutan,9

yaitu KH. Drs. M. Sobron Zayyan, M.A, sebagai pimpinan pondok

pesantren Al-Qur’aniyyah, Ust. Muhammad Halimi, S.Ag, dan Ust.

Abdul Latif, S.Ag sebagai pengasuh atau pengurus dan santri. Untuk

memperoleh informasi mengenai pola komunikasi antara kyai dan

santri dalam pengajaran seni baca al-Qur’an pada tingkatan mahir yang

digunakan di pondok pesantren Al-Qur’aniyyah.

b. Observasi (pengamatan)

Yaitu di mana penulis melakukan pengamatan secara langsung

untuk memperoleh data yang diperlukan.10 Pengamatan

memungkinkan penulis membentuk pengetahuan yang diketahui

bersama. Dalam hal ini, penulis mengamati secara langsung mengenai

kegiatan belajar mengajar dalam pengajaran seni baca al-Qur’an di

pondok pesantren Al-Qur’aniyyah sehingga penelitian dapat

terfokuskan.

c. Documentation (dokumentasi)

9
Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, h. 186.
10
Winayno Suyakhmad, Pengantar Penelitian Ilmiah, (Bandung: Tarsiti, 1986), Cet, Ke-7,
h. 162.
Yaitu teknik pengumpulan data melalui pengumpulan dokumen-

dokumen untuk memperkuat informasi. Dokumentasi dapat dilakukan

untuk mencari data mengenai permasalahan yang diteliti dari berbagai

macam dokumen seperti arsip, brosur, dan buku-buku yang berkaitan

dengan permasalahan yang penulis teliti.

7. Teknik Analisa Data

Untuk mendapatkan data-data dan informasi yang sesuai dengan pokok

permasalahan yang dirumuskan, peneliti menggunakan metode Deskriptif

Analisis Kualitatif, yaitu peneliti menganalisis data yang diperoleh dari

hasil wawancara, catatan dari lapangan dan buku-buku dengan cara

menggambarkan dan menjelaskan ke dalam bentuk kalimat yang disertai

kutipan-kutipan data.11

Alasan penulis memilih teknik analisis data secara kualitatif adalah

demi memudahkan proses penelitian. Data-data yang bisa diperoleh dari

pelaksanaan penelitian adalah data tulisan dan lisan (data verbal) bukan

data nominal atau yang menunjukkan angka-angka.

8. Teknik Penulisan

Adapun teknik penulisan dalam penyusunan skripsi ini, penulis

berpedoman pada buku “Pedoman Penulisan Skripsi, Tesis dan Disertasi

yang diterbitkan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Press Tahun 2007”.

F. Sistematika Penulisan

11
Lexy. J Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT. Rosdakarya, 2004),
Cet. Ke-18, h. 6.
Untuk memudahkan susunan skripsi ini, maka dibuatlah sistematika

penulisan yang terdiri dari beberapa bab dan bab-bab tersebut memiliki sub-

bab, yaitu:

Bab I Pendahuluan yang terdiri dari Latar Belakang Masalah,

Batasan dan Rumusan Masalah, Tujuan dan Manfaat

Penelitian, Tinjauan Pustaka, Metodologi Penelitian dan

Sistematika Penulisan.

Bab II Tinjauan Teoritis yang terdiri dari Pola Komunikasi,

Pengertian Pola Komunikasi, Macam-macam Pola

Komunikasi, Penerapan Pola Komunikasi, Kyai dan Santri,

Pengertian Kyai dan Santri, Komunikasi Kyai dan Santri,

Pengajaran Seni Baca Al-Qur’an, Pengertian Pengajaran,

Pengertian Seni Baca Al-Qur’an, dan Komunikasi

Pengajaran Seni Baca Al-Qur’an.

Bab III Gambaran Umum Pondok Pesantren Al-Qur’aniyyah yang

terdiri dari Letak Geografis dan Sejarah Berdiri, Struktur

Organisasi, Santri dan Pengasuh, Program Kerja, Sarana

dan Prasarana.

Bab IV Analisis Pola Komunikasi Kyai dan Santri Dalam

Pengajaran Seni Baca Al-Qur’an yang terdiri dari Kyai dan

Santri, Program Pengajaran Seni Baca Al-Qur’an, Pola

Komunikasi Kyai dan Santri Dalam Pengajaran Seni Baca

Al-Qur’an, Pola Komunikasi Kyai dan Santri Dalam

Pengajaran Seni Baca Al-Qur’an, dan Analisis Pola


Komunikasi Kyai dan Santri Dalam Pengajaran Seni Baca

Al-Qur’an.

Bab V Penutup yang terdiri dari Kesimpulan dan Saran.

Bagian terakhir memuat Daftar Pustaka dan Lampiran-

lampiran.
BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. Pola Komunikasi

1. Pengertian Pola Komunikasi

Pola komunikasi merupakan serangkaian dari dua kata, yaitu pola dan

komunikasi. Dan dari keduanya mempunyai keterkaitan makna, sehingga

makna tersebut saling mendukung satu sama lainnya. Untuk lebih jelasnya,

dari dua kata tersebut akan diuraikan dengan penjelasan masing-masing.

Kata “pola” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, artinya bentuk

atau sistem. Cara atau bentuk (struktur) yang tetap.12 Sedangkan kata “pola”

dalam Kamus Ilmiah Populer artinya model, contoh atau pedoman

(rancangan).13 Tapi dalam bahasan ini pola lebih tepat diartikan bentuk

sebagaimana keterkaitannya dengan kata yang digandengnya yaitu

komunikasi.

12
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta:
Balai Pustaka, 1996), h. 778.
13
Puis A. Partanto dan M. Dahlan Al-Barry, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya: Arkola,
1994), h. 605.
Sedangkan kata komunikasi dalam bahasa Inggris yaitu

communication, secara etimologi komunikasi berasal dari bahasa Latin yaitu

communicare yang berarti “partisipasi atau memberitahukan”.14

Menurut Onong Uchjana Effendi istilah “komunikasi” berasal dari

perkataan Inggris yaitu communication yang bersumber dari bahasa Latin

communicatio yang berarti “pemberitahuan” atau “pertukaran pikiran”.

Makna hakiki dari communicatio ini ialah communis yang berarti “sama” atau

“kesamaan arti”.15

Pendapat hampir sama dengan yang dikemukakan oleh Astrid S.

Susanto yaitu perkataan komunikasi berasal dari kata communicare yang di

dalam bahasa Latin memiliki arti ‘berpartisipasi’ atau ‘memberitahukan’. Kata

communis berarti ‘milik bersama’ atau ‘berlaku di mana-mana’.16

Sedangkan secara terminologi, para ahli mendefinisikan komunikasi.

Menurut Onong Uchjana Effendi: “komunikasi berarti proses penyampaian

suatu pernyataan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberitahukan

atau merubah sikap, pendapat dan perilaku, baik secara langsung melalui lisan

maupun secara tidak langsung melalui media.”17

Menurut Wilbur Schram dalam uraiannya seperti yang dikutip oleh T. A.


Lathief Rosyidi mengatakan bahwa sebenarnya definisi komunikasi
berasal dari bahasa Latin ‘communis’, bilamana kita mengadakan
komunikasi, itu artinya kita mencoba untuk berbagi informasi, ide atau

14
Astrid. S. Susanto, Komunikasi dalam Teori dan Praktek, (Bandung: Bina Cipta, 1947),
h. 67.
15
Onong Uchjana Effendi, Spektrum Komunikasi, (Bandung: Bandar Maju, 1992), Cet. Ke-
1, h. 4.
16
Astrid. S. Susanto, Komunikasi Dalam Teori dan Praktek 1, (Bandung: Bina Cipta,
1998), h. 1.
17
Onong Uchjana Effendi, Dinamika Komunikasi, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,
2000), Cet. Ke-4, h. 3-4.
sikap. Jadi, esensi dari komunikasi itu adalah menjadikan si pengirim
dapat berhubungan bersama dengan si penerima guna menyampaikan isi
pesan.18

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa seseorang yang

berkomunikasi berarti mengharapkan agar orang lain ikut berpartisipasi atau

bertindak sesuai dengan tujuan, harapan dari isi pesan yang disampaikan. Jadi,

diantara orang yang terlibat dalam kegiatan komunikasi harus memiliki

kesamaan makna atau arti pada lambang-lambang yang digunakan untuk

berkomunikasi, dan harus bersama-sama mengetahui hal yang

dikomunikasikan.

Dari beberapa pendapat di atas, bisa dipahami bahwa arti dari pola

komunikasi adalah gabungan dari dua kata antara pola dan komunikasi,

sehingga dapat dikatakan sebagai sebuah bentuk penyampaian suatu pesan

atau bentuk-bentuk komunikasi yang disampaikan oleh seorang komunikator

kepada komunikan.

a. Unsur-Unsur Komunikasi

Proses komunikasi pada hakekatnya adalah proses penyampaian

pikiran atau perasaan oleh seseorang (komunikator) kepada orang lain

(komunikan). Pikiran berupa gagasan, ide, informasi, opini dan lain-lain yang

muncul dari benak atau perasaan yang berupa keyakinan, kepastian,

kekhawatiran dan sebagainya yang muncul dari lubuk hati.

18
T. A. Lathief Rosyidi, Dasar-dasar Retorika Komunikasi dan Informasi, (Medan: 1985),
h. 48.

T. A. Lathief Rosyidi mengutip pendapat Wilbur Schram mengenai definisi komunikasi.


Dari berbagai pengertian di atas, tampak akan adanya komponen atau

unsur-unsur yang mencakup didalamnya yang merupakan syarat terjadinya

komunikasi. Unsur-unsur komunikasi tersebut adalah:

1. Komunikator

Komunikator adalah orang yang menyampaikan pesan. Komunikator

memiliki fungsi sebagai encoding, yaitu orang yang memformulasikan

pesan atau informasi yang kemudian akan disampaikan kepada orang

lain. Sebagai pelaku utama dalam proses komunikasi, komunikator

memegang peranan yang sangat penting, terutama dalam mengendalikan

jalannya komunikasi. Untuk itu, komunikator harus terampil dalam

berkomunikasi, dan juga harus kaya akan ide-ide serta harus penuh

dengan daya kreativitas untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Syarat-syarat yang diperlukan oleh komunikator, diantaranya:

a. Memiliki kredibilitas yang tinggi bagi komunikannya,

b. Memiliki kemampuan komunikasi,

c. Mempunyai pengetahuan yang luas,

d. Memiliki daya tarik,

e. Mengenal diri sendiri,

f. Memiliki kekuatan (power).19

Dari beberapa syarat dan pengertian komunikator di atas, tentunya

seorang komunikator harus dapat memposisikan dirinya sesuai dengan

karakter yang dimilikinya.

2. Pesan

19
Onong Uchjana Effendi, Kepemimpinan dan Komunikasi, (Yogyakarta: Al-Amin Press,
1996). Cet. Ke-1, h. 59.
Pesan adalah keseluruhan dari apa yang disampaikan oleh

kominikator. Pesan harus mempunyai inti pesan sebagai pengarah di

dalam usaha mengubah sikap dan tingkah laku komunikan. Pesan yaitu

pernyataan yang disampaikan oleh komunikator yang didukung oleh

lambang. Penyampaian pesan dapat dilakukan secara langsung melalui

lisan maupun secara tidak langsung melalui media.

Ada beberapa bentuk pesan di antaranya:

a. Informatif, yaitu memberikan keterangan-keterangan dan kemudian

komunikan mengambil kesimpulan sendiri.

b. Persuasif, yaitu dengan bujukan untuk membangkitkan pengertian

dan kesadaran seseorang bahwa apa yang kita sampaikan akan

memberikan berupa pendapat atau sikap sehingga ada perubahan,

namun perubahan ini adalah kehendak sendiri.

c. Koersif, yaitu dengan menggunakan sanksi-sanksi. Bentuknya

terkenal dengan agitasi, yakni dengan penekanan-penekanan yang

menimbulkan tekanan batin di antara sesamanya dan pada kalangan

publik.20

3. Media

Media merupakan sarana atau saluran yang digunakan oleh

komunikator untuk menyampaikan pesan atau informasi kepada

komunikan.

4. Komunikan

20
H. A. W. Widjaja, Komunikasi dan Hubungan Masyarakat, (Jakarta: Bumi Aksara,
1997), Cet. Ke-3, h. 14.
Komunikan adalah orang yang menerima pesan dari komunikator.

Fungsinya sebagai decoding, yaitu orang yang menginterpretasikan,

menerjemahkan dan menganalisa isi pesan yang diterimanya.

5. Efek

Efek merupakan dampak atau hasil sebagai pengaruh pesan.

Komunikasi dapat dikatakan berhasil apabila sikap dan tingkah laku

komunikan sesuai dengan apa yang diharapkan.

Hal yang penting dalam komunikasi adalah bagaimana caranya agar

suatu pesan yang disampaikan komunikator itu menimbulkan efek atau

dampak tertentu pada komunikan. Dampak yang ditimbulkan dapat

diklasifikasikan menurut kadarnya, yaitu:

a. Dampak Kognitif, yaitu dampak yang timbul pada komunikan

yang menyebabkan dia menjadi tahu atau meningkat

intelektualitasnya.

b. Dampak Afektif, yaitu dampak yang menimbulkan perasaan

tertentu dan bergerak hati seorang komunikan, misalnya perasaan

iba, sedih, gembira dan lain sebagainya.

c. Dampak Behavior, dampak yang paling tinggi kadarnya, yaitu

dampak yang timbul pada komunikan dalam bentuk perilaku,

tindakan atau kegiatan.21

2. Macam-macam Pola Komunikasi

21
Onong Uchjana Effendi, Dinamika Komunikasi, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,
2004), Cet. Ke-6, h. 7.
Menurut Onong Uchjana Effendi dalam bukunya yang berjudul: “Ilmu

Komunikasi; Teori dan Praktek”. Pola atau bentuk komunikasi terdapat empat

macam, yaitu komunikasi persona (intrapersona dan interpersona), komunikasi

kelompok (besar dan kecil), komunikasi massa, dan komunikasi medio.22

Adapun dalam proses pendidikan dan pengajaran, komunikasi yang

berlangsung melibatkan antara kyai atau guru sebagai komunikator santri atau

murid sebagai komunikan, dan penyampaian pesannya pun berlangsung secara

lisan dan melalui tatap muka. Maka dalam tatap muka ini dibagi ke dalam tiga

bentuk komunikasi yaitu komunikasi kelompok kecil, komunikasi

interpersonal dan komunikasi instruksional.

a). Komunikasi Kelompok Kecil

Komunikasi kelompok kecil adalah kelompok komunikan yang

dalam situasi komunikasi terdapat kesempatan untuk memberikan

tanggapan secara verbal. Dengan lain perkataan dalam komunikasi

kelompok kecil komunikator dapat melakukan komunikasi interpersonal

dengan salah satu anggota kecil.23 Suatu situasi komunikasi dinilai sebagai

komunikasi kelompok kecil (small group communication), apabila situasi

komunikasi seperti itu diubah menjadi komunikasi interpersonal dengan

setiap komunikan.

Komunikasi kelompok kecil kurang efektif dalam mengubah sikap,

pendapat dan perilaku komunikan, karena dari tiap komunikan tidak

mungkin dikuasai oleh komunikator seperti halnya pada komunikan

22
Onong Uchjana Effendi, Ilmu Komunikasi; Teori dan Praktek, (Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 2006), Cet. Ke-6, h. 7.
23
Effendi, Kepemimpinan dan Komunikasi, h. 88.
komunikasi interpersonal. Komunikasi kelompok kecil lebih bersifat

rasional dalam menerima pesan yang disampaikan oleh komunikator,

komunikan menanggapinya dengan lebih banyak menggunakan pikiran

dari pada perasaan. Mereka sempat bertanya pada dirinya mengenai benar-

tidaknya apa yang diucapkan oleh komunikator kepadanya itu.

Dalam situasi komunikasi seperti itu, pesan yang disampaikan

oleh komunikator harus mengarahkan kepada rasio komunikan bukan pada

emosi.24

b). Komunikasi Interpersonal

Komunikasi interpersonal adalah komunikasi antara orang dengan

orang lain yang sendiri juga secara pribadi. Komunikasi merupakan

pengiriman pesan-pesan dari seseorang dan diterima oleh orang lain atau

sekelompok orang dengan efek dan umpan balik yang langsung.25

Pada hakikatnya komunikasi interpersonal adalah komunikasi

antara komunikator dengan seorang komunikan.26 Komunikasi

interpersonal, dianggap paling efektif dalam hal upaya mengubah sikap,

pendapat dan perilaku seseorang. Karena sifat dialogis, berupa percakapan

dan umpan balik bersifat berlangsung secara tatap muka sehingga

tanggapan komunikan dapat langsung diketahui. 27

24
Effendi, Dinamika Komunikasi, h. 31.
25
Alo Liliweri, Komunikasi Antar Pribadi, (Bandung: PT. Citra Aditya bakti, 1991), Cet..
Ke-1, h. 72.
26
Effendi, Kepemimpinan dan Komunikasi, h. 77.
27
Effendi, Dinamika Komunikasi, h. 8.
Untuk memahami komunikasi interpersonal lebih jauh, akan lebih

baik jika seorang komunikator mengetahui ciri-ciri dan faktor-faktor

penting dalam komunikasi interpersonal yaitu:

1. Komunikasi berlangsung secara dialogis, berbentuk percakapan dan

tanya jawab sehingga komunikator dapat mengetahui segalanya

mengenai diri komunikan.

2. Komunikasi berlangsung secara tatap muka, saling berhadapan dan

saling menatap, sehingga komunikator dapat menyaksikan ekspresi

wajah, sikap dan tingkah laku yang merupakan umpan balik non

verbal.28

Dengan ciri tersebut komunikasi interpersonal dinilai ampuh untuk

mengubah sikap, opini dan prilaku komunikan, biasanya hubungan seperti

ini menggunakan teknik persuasif, yang dipergunakan untuk

mempersuasikan orang-orang tertentu saja, yang mempunyai pengaruh dan

pengikutnya banyak. Sehingga seorang komunikator berhasil mengubah

sikap, opini dan prilaku, maka jajarannya akan berubah pula.

c) Komunikasi Instruksional

Komunikasi instruksional berarti komunikasi dalam bidang

pendidikan dan pengajaran. Istilah instruksional berasal dari kata

instruction yang berarti penyajian, pelajaran atau perintah juga bisa

diartikan instruksi.

Dalam dunia pendidikan, kata instruksional tidak diartikan perintah

tetapi lebih mendekati kedua arti yang pertama yakni pengajaran atau

28
Ibid., 78.
pelajaran, bahkan akhir-akhir ini kata tersebut diartikan sebagai

pembelajaran. Memang ketiga kata tersebut bisa berlainan makna karena

masing-masing menitikberatkan faktor-faktor tertentu yang menjadi

perhatiannya.29

3. Penerapan Pola Komunikasi

Keberhasilan seorang komunikator dalam menyampaikan isi pesan

kepada komunikan dengan efektif, merupakan salah satu di antaranya

bergantung pada bentuk atau pola komunikasi yang dibangun oleh seorang

komunikator pada saat berinteraksi dengan komunikan.

Ada tiga pola komunikasi dalam proses interaksi sosial yakni

komunikasi sebagai aksi, interaksi, dan transaksi. Pertama, komunikasi

sebagai aksi atau komunikasi satu arah, yaitu menempatkan komunikator

sebagai pemberi aksi dan komunikan hanya sebagai penerima aksi saja.

Komunikator aktif sedangkan komunikan pasif. Demikian halnya dalam

proses pengajaran seorang guru (kyai) lebih aktif dalam menyampaikan bahan

pengajaran, sedangkan peserta didik (santri) hanya bisa menerima apa yang

disampaikan oleh kyai tanpa berkomentar apapun.

Kedua, komunikasi sebagai interaksi atau komunikasi dua arah, yaitu

komunikator bisa berperan sebagai pemberi aksi dan penerima aksi. Demikian

pula halnya komunikan, bisa berperan sebagai penerima aksi dan bisa pula

sebagai pemberi aksi.

29
Mudhofir, Teknologi Instruksional, (Bandung: PT. Rosdakarya, 2001 ), h. 9.
Dalam proses pengajaran baik guru (kyai) maupun siswa (santri) bisa

berperan ganda sebagai pemberi dan penerima aksi atau komunikasi ini bisa

dikatakan sebagai komunikasi interpersonal, yaitu proses pertukaran informasi

antara komunikator dengan komunikan yang feedbecknya secara langsung

dapat diketahui, serta komunikator dan komunikan memiliki dua fungsi

sekaligus.

Ketiga, komunikasi sebagai transaksi atau komunikasi banyak arah,

yaitu komunikasi tidak hanya terjadi antara perorangan melainkan kepada

banyak orang. Di sini komunikan dituntut lebih aktif dari pada komunikator.

Situasi pengajaran atau proses belajar mengajar bisa terjadi dalam tiga

pola atau bentuk komunikasi di atas. Akan tetapi, dalam komunikasi yang

ketiga (komunikasi sebagai transaksi atau banyak arah), pengajaran

berlangsung dalam kondisi yang sesuai dengan hakekat belajar dan mengajar

yang sebenarnya.30

B. Kyai dan Santri

1. Pengertian Kyai dan Santri

a. Pengertian Kyai

Kyai dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sebutan bagi

alim ulama (cerdik dan pandai dalam agama Islam).31 Sedangkan dalam

sebuah pesantren, kyai adalah pembimbing, pengajar, atau pemimpin

sebuah pesantren. Kyai menurut definisi Manfred Ziemek adalah:

30
Nana Sudjana, Cara Belajar Siswa Aktif, (Bandung: Sinar baru, 1989), h. 9-10.
31
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta:
Balai Pustaka, 1988), Cet. Ke-1, h. 437.
“Pendiri dan pemimpin sebuah pesantren, yang sebagai muslim terpelajar
telah memberikan hidupnya demi Allah serta menyebarluaskan ajaran-
ajaran Islam melalui kegiatan pendidikan kyai berfungsi sebagai seorang
ulama, artinya ia mengetahui pengetahuan dalam tata masyarakat Islam
dan menafsirkan peraturan-peraturan dalam hukum Islam, dengan
demikian ia mampu memberikan nasehat”.32

Istilah kyai adalah sebutan yang diperuntukkan bagi para ulama

tradisional di pulau Jawa, walaupun sekarang kyai banyak tersebar di

pulau Jawa dan juga di luar pulau Jawa.33 Kyai atau pengasuh pondok

pesantren merupakan elemen yang sangat esensial bagi suatu pesantren.

Rata-rata pesantren yang berkembang di Jawa dan Madura sosok kyai

begitu sangat berpengaruh, kharismatik dan berwibawa, sehingga amat

disegani oleh masyarakat di lingkungan pesantren.

Menurut asal muasalnya, sebagaimana dirinci Zamakhsyari Dhofier,

perkataan kyai dalam bahasa Jawa dipakai untuk tiga jenis gelar yang

berbeda. Pertama, sebagai gelar kehormatan bagi barang-barang yang

dianggap sakti dan kramat. Kedua, sebagai gelar kehormatan bagi orang-

orang tua pada umumnya. Ketiga, sebagai gelar yang diberikan oleh

masyarakat kepada seorang ahli agama Islam yang memiliki atau menjadi

pemimpin pesantren.34

Kyai dalam hal ini mengacu kepada pengertian ketiga, yakni gelar

yang diberikan kepada para pemimpin agama Islam atau pondok pesantren

dan mengajarkan berbagai jenis kitab-kitab klasik (kuning) kepada para


32
Manfred Ziemek, Pesantren Dalam Perubahan Sosial, (Jakarta: P3M. 1986), H. 131.
33
Pradjata Dirdjosanjoto, Memelihara Umat Kyai Pesantren-Kyai Langgar Jawa,
(Yogyakarta: LKIS, 1999), Cet. Ke-1, h. 13.
Pradjata Dirdjosanjoto mengutip pendapat Zamakhsyari Dhofier mengenai definisi kyai di
suatu pondok pesantren.
34
HM. Amin Haedari, dkk, Masa Depan Pesantren, Dalam Tantangan Modernitas dan
Tantangan Komplesitas Global, (Jakarta: IRD Press, 2004), h. 28.
santrinya. Istilah kyai ini biasanya lazim digunakan di Jawa Tengah dan

Jawa Timur saja. Sementara di Jawa Barat digunakan istilah “ajengan,” di

Aceh dengan Teuku, sedangkan di Sumatera Barat dinamakan Buya.35

H. Aboebakar Atjeh menyebutkan beberapa faktor yang

menyebabkan seseorang menjadi kyai besar yaitu:

1. Pengetahuannya

2. Keshalehannya

3. Keturunannya

4. Jumlah Muridnya.36

Vrenden Bregt memberikan skema yang hamper sama dengan H.

Aboebakar Atjeh yaitu:

1. Keturunan (seorang kyai besar mempunyai silsilah yang cukup

panjang)

2. Pengetahuan agamanya

3. Jumlah muridnya

4. Cara dengan mengabdian dirinya pada masyarakat.37

Dalam perkembangannya, gelar kyai tidak lagi menjadi monopoli

bagi para pemimpin atau pengasuh pesantren. Gelar kyai dewasa ini juga

dianugerahkan sebagai bentuk penghormatan kepada seorang ulama yang

mumpuni dalam bidang ilmu-ilmu keagamaan, walaupun yang

bersangkutan tidak memiliki pesantren. Gelar kyai ini juga sering dipakai

35
Ibid., h. 29.
36
Dirdjosanjoto, Memelihara Umat Kyai Pesantren-Kyai Langgar Jawa, h. 13
37
Ibid., h. 14
oleh para da’i atau mubaligh yang biasa memberikan ceramah agama

Islam.38

b. Pengertian Santri

Kata “santri“ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah orang

yang mendalami agama Islam atau orang yang beribadah dengan sungguh-

sungguh.39 Mengenai asal usul kata “santri” itu ada dua pendapat, yaitu:

1. Kata santri berasal dari perkataan “shastri” yang berasal dari India,

yang berarti orang yang tahu kitab-kitab suci. Di sini dapat

diasumsikan bahwa santri berarti orang yang mempelajari kitab suci.

2. Kata santri berasal dari bahasa Jawa, yaitu “cantrik” yang artinya

seseorang yang selalu mengikuti seorang guru, menetap dengan tujuan

dapat belajar darinya mengenai suatu keahlian.40

Santri adalah siswa atau murid yang belajar di pesantren. Seorang

ulama bisa disebut sebagai kyai kalau memiliki pesantren dan santri yang

tinggal dalam pesantren tersebut mempelajari ilmu-ilmu agama Islam

melalui kitab-kitab kuning. Oleh karena itu, aksistensi kyai biasanya juga

berkaitan dengan adanya santri di pesantrennya.

Santri juga merupakan salah satu komponen yang penting dalam

proses belajar mengajar. Santri merupakan objek yang akan dibimbing dan

diarahkan oleh kyai di pesantren. Oleh karena itu, keberadaan santri

38
Haedari, h. 28-29.
39
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta:
Balai Pustaka, 1998), Cet. Ke-1, h. 783.
40
Nurcholis Madjid, Bilik-bilik Pesantren: Sebuah Potret Perjalanan, (Jakarta: Paramadina,
1997), h. 20.
termasuk yang sangat penting dalam mengukur keberhasilan proses belajar

mengajar.

Santri terbagi dalam dua katagori. Pertama, santri mukim, yaitu

murid-murid yang berasal dari daerah yang jauh dan menetap di pesantren.

Santri mukim yang paling lama tinggal (santri senior) di pesantren tersebut

biasanya merupakan satu kelompok tersendiri yang memegang

tanggungjawab mengurusi kepentingan pesantren sehari-hari. Kedua,

santri kalong, yaitu murid-murid yang berasal dari desa-desa di sekitar

pesantren. Mereka bolak-balik (nglajo) dari rumahnya sendiri. Para santri

kalong pergi ke pesantren ketika ada tugas belajar dan aktivitas pesantren

lainnya.41

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa santri adalah murid yang

belajar di pesantren untuk lebih memahami, mendalami, menghayati dan

mengamalkan ajaran-ajaran Islam di sebuah pondok pesantren.

2. Komunikasi Kyai dan Santri

Kyai dan santri merupakan elemen yang paling penting dalam proses

belajar mengajar atau pengajaran dalam suatu lembaga pendidikan yaitu

pondok pesantren. Hubungan antara kyai sebagai pemimpin dan pengajar atau

guru di pesantren dengan santri sebagai peserta didik sangat erat sekali. Di

mana seorang kyai yang bertindak sebagai komunikator dapat merubah sikap

dan tingkah laku para santrinya, agar penyampaian pesan berhasil dengan baik

dan berjalan secara efektif. Seorang kyai harus menciptakan keadaan yang

41
Haedari, Masa Depan Pesantren, Dalam Tantangan Modernitas dan Tantangan
Komplesitas Global, h. 35.
baik pula, artinya seorang kyai harus menjadi suri tauladan dan kepercayaan

sehingga santri mulai menghargai seorang kyai dan hubungan yang serasi

tetap terpelihara dengan baik.

Tujuan dari komunikasi yang dilakukan oleh kyai terhadap santrinya

adalah untuk menciptakan adanya hubungan timbal balik antara santri dan

kyai, di mana para santri mengganggap kyainya seolah-olah seperti bapaknya

sendiri, sedangkan kyai memperlakukan santri seperti anaknya sendiri juga.

Sikap dan hubungan timbal balik ini menimbulkan suasana keakraban dan

kebutuhan untuk saling berdekatan secara terus menerus.42

Mastuhu menemukan dua pola komunikasi yang unik antara kyai dan

santri. Sebagaimana gaya kepemimpinan sang kyai, dua pola komunikasi ini

juga terdapat di semua pesantren yang dijadikan objek penelitiannya. Dua pola

komunikasi tersebut adalah sebagai berikut:

Pertama, pola komunikasi otoriter-paternalistik. Yaitu pola

komunikasi antara pimpinan dan bawahan atau, meminjam istilah James C.

Scott, patron-client relationship, dan tentunya sang kyailah yang menjadi

pimpinannya. Sebagai bawahan, sudah barang tentu peran partisipatif santri

dan masyarakat tradisional pada umumnya, sangat kecil, untuk mengatakan

tidak ada, dan hal ini tidak bisa dipisahkan dari kadar kekharismatikan sang

kyai.

Kedua, pola komunikasi laissez faire. Yaitu pola komunikasi kyai dan

santri yang tidak didasarkan pada tatanan organisasi yang jelas. Semuanya

didasarkan pada konsep ikhlas, barakah, dan ibadah sehingga pembagian

42
Ibid., h. 31-32.
kerja antar unit tidak dipisahkan secara tajam. Seiring dengan itu, selama

memperoleh restu sang kyai sebuah pekerjaan bisa dilaksanakan.43

C. Pengajaran Seni Baca Al-Qur’an

1. Pengertian Pengajaran

Kata “pengajaran” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah

proses perbuatan, cara mengajar atau mengajarkan.44 Pengajaran juga diambil

dari istilah instruksional yang berarti: “memberikan pengetahuan atau

informasi khusus dengan maksud melatih dari berbagai bidang khusus,

memberikan keahlian atau pengetahuan dalam berbagai bidang seni atau

spesialisasi tertentu” atau dapat berarti pula “mendidik dalam subjek atau

bidang pengetahuan tertentu.” Di sini juga dicantumkan makna lain yang

berkaitan dengan komando atau perintah. 45

KH. Dewantara juga menjelaskan pengajaran adalah bagian dari

pendidikan dan pengajaran onder wijs, itu tidak lain dan tidak bukan ialah

salah satu bagian dari pendidikan dengan cara memberi ilmu atau

pengetahuan. Para ahli pendidikan telah mencoba merumuskan batasan

43
Ibid, h. 61-62.

HM. Amin Haedari, dkk, mengutip pendapat Mastuhu mengenai pola komunikasi di
pondok pesantren.
44
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta:
Balai Pustaka, 1995), Cet. Ke-7, h. 7.
45
Pawit M. Yusuf, Komunikasi Pendidikan dan Komunikasi Instruksional, (Jakarta: Jakarta
Press, 2002), Cet. Ke-1, h. 6.
pengertian tentang pengajaran, diantaranya seperti yang dikatakan oleh Prof.

Dr. Hasan Langgulung bahwa pengajaran adalah pemindahan pengetahuan

dari seseorang yang mempunyai pengetahuan, kepada orang lain yang belum

mengetahui.46

Dari terminologi di atas, terdapat unsur-unsur subtansial kegiatan

pelajaran yang meliputi: pertama, pengajaran adalah upaya pemindahan

pengetahuan, kedua, pengajaran adalah pemindahan pengetahuan (pengajar)

kepada orang lain yang belum mengetahui (pelajar) melalui suatu proses

belajar mengajar.

Bertitik tolak pada pengertian metode pengajaran, yaitu suatu cara

penyampaian bahan pelajaran untuk mencapai tujuan yang ditetapkan, maka

fungsi metode mengajar tidak dapat diabaikan, karena metode mengajar

tersebut turut menentukan berhasil tidaknya suatu proses belajar mengajar dan

merupakan bagian yang integral dalam suatu sistem pengajaran. Oleh karena

itu pemakaian metode harus sesuai dan selaras dengan karakteristik siswa

(santri), materi, kondisi lingkungan di mana pengajaran berlangsung.47

Dengan demikian, pengajaran adalah pemberian pelajaran atau

informasi dari berbagai mata pelajaran yang diajarkan pendidik kepada peserta

didik, dengan tujuan agar peserta didik memperoleh pengetahuan, nilai-nilai,

sikap dan keterampilan.

46
Hasan Langgulung, Pendidikan dan Peradaban Islam, (Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1983),
Cet. Ke-3, h. 3.
47
Basyiruddin Usman, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, (Jakarta: Ciputat Press,
2002), h. 22.
Melalui pengajaran inilah peserta didik mengetahui dan memahami

mana yang boleh dan harus dikerjakan dalam hidup ini, agar dapat

melaksanakan atau terampil dalam mengerjakannya, serta bersikap

menghargai dan mau melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. Semakin

efektif pengajaran yang diberikan akan semakin berfaedah bagi peserta didik

untuk membentuk pribadinya dan kesejahteraan hidupnya.48

2. Pengertian Seni Baca Al-Qur’an

Kata “seni” berasal dari bahasa Latin “ars” yang berarti “keahlian”,

merupakan keahlian mengekspresikan ide-ide dan pemikiran estetika,

termasuk mewujudkan kemampuan serta imajinasi penciptaan benda, suasana

atau karya yang mampu menimbulkan rasa indah.49

Sedangkan kata “seni” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah

keahlian membuat karya yang bermutu (kehalusan dan keindahan), atau karya

yang diciptakan dengan keahlian yang luar biasa.50

Seni menurut H. Endang Saipuddin Anshari, MA, adalah “manifestasi

budaya priksa (pikiran), rasa (perasaan), karsa (kemauan), intuisi (keyakinan

tentang suatu kebenaran yakni keyakinan yang tidak didapatkan dengan jalan

48
Sabri, Pengantar Ilmu Pendidikan, h. 55.
49
Endang Saifuddin Anshari, M.A, Wawasan Islami, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,
1986), h. 3.
50
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai
Pustaka, 2002), Cet. Ke-3, h. 1037.
berfikir diskursif, tetapi timbul sebagai faham, dan karya (perbuatan) manusia

yang memenuhi syarat-syarat estetika.51

Kesenian sebagai penjelmaan rasa keindahan pada umumnya adalah

untuk kesejahteraan hidup. Rasa itu disusun dan dinyatakan oleh pikiran dan

perasaan sehingga ia menjadi bentuk yang dapat disalurkan dan dimiliki.

Intisari kesenian adalah menciptakan bentuk-bentuk yang menyenangkan.52

Sedangkan kata “baca” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah

melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis.53 Dan al-Qur’an dalam

Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah firman-firman Allah SWT yang

diturunkan kepada Nabi Muhammad dengan perantara malaikat Jibril untuk

dibaca, dipahami, dan diamalkan sebagai petunjuk atau pedoman hidup bagi

umat manusia, atau al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam.54

Al-Qur’an menurut bahasa berarti bacaan (qira’ah). Sedangkan al-

Qur’an menurut istilah firman Allah SWT bukan sabda Nabi Muhammad

SAW atau perkataan Malaikat, Jin dan lain-lain.55

Al-Qur’an kitab suci umat Islam dianjurkan supaya dibaca dan dihiasi

dengan suara yang merdu sehingga dapat memberikan kesan kepada pembaca

51
Anshari, Wawasan Islam, h. 4.
52
KH. Muhsin Salim, Ilmu Nagham Al-Qur’an, (Jakarta: Kebayoran Widya Ripta, 2000), h.
8.
53
Departemen Pendidikan Nasional, h. 83.
54
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta:
Balai Pustaka, 1988), Cet. Ke-1, h. 24.
55
Salim, Ilmu Nagham Al-Qur’an, h. 4-5.
dan pendengarnya. Melagukan bacaan al-Qur’an dengan suara yang indah
56
merupakan seni baca yang paling tinggi nilainya dalam ajaran agama.

Kemudian dari definisi-definisi di atas dapat dipahami, bila seni

dihubungkan dengan membaca al-Qur’an berarti keahlian, kemahiran yang

ada pada diri seseorang diwujudkan dalam bentuk suara yang indah dengan

berbagai macam metode-metode yang digunakan.

3. Komunikasi Pengajaran Seni Baca Al-Qur’an

Melihat definisi komunikasi, pengajaran dan seni baca al-Qur’an di atas,

maka komunikasi pengajaran seni baca al-Qur’an adalah komunikasi yang

dibangun oleh kyai atau guru dalam suatu proses belajar mengajar yaitu

kemampuan seorang kyai atau guru yang profesional dalam menggambarkan,

menerangkan, dan memberikan sebuah metode dalam menyampaikan materi

kepada peserta didik (santri), sehingga proses pengajaran yang disampaikan

oleh kyai atau guru dapat berjalan secara efektif dan efisien sesuai dengan

program yang telah ditetapkan oleh suatu lembaga pendidikan yaitu pondok

pesantren.

Komunikasi dalam pengajaran seni baca al-Qur’an di pondok pesantren,

dapat diartikan sebagai suatu rencana yang digunakan oleh seorang kyai atau

ustadz dalam menyampaikan materi atau pesan pelajaran seni baca al-Qur’an

kepada para santri selaku komunikan dengan berbagai macam bentuk. Untuk

itu, komunikasi yang digunakan oleh kyai atau ustadz dalam proses

pengajaran seni baca al-Qur’an, yaitu secara langsung melalui tatap muka

56
Ibid., h. 9.
dengan lisan, dan menggunakan pola komunikasi kelompok kecil antara

seorang kyai atau ustadz dengan para santri.

Dalam proses pengajaran tersebut kyai atau ustadz menggunakan

komunikasi instruksional, di mana pelaksanaannya komunikasi instruksional

yang terjadi dalam mencapai tujuan tersebut lebih banyak menginstruksikan

kepada santri untuk lebih banyak meningkatkan kegiatan-kegiatan yang

berkaitan dengan pemahaman tentang materi pengajaran seni baca al-Qur’an.


BAB III

GAMBARAN UMUM PONDOK PESANTREN

AL-QUR’ANIYYAH

A. Letak Geografis dan Sejarah Berdiri

1. Letak Geografis

Pondok Pesantren Al-Qur’aniyyah terletak di Jalan Panti Asuhan. No.

06, Kp. Ceger, RT. 003 RW. 012, Kelurahan Jurang Mangu Timur,

Kecamatan Pondok Aren, Kabupaten Tangerang Banten.

Pondok Pesantren ini memiliki lokasi yang mudah dijangkau, mudah

ditemukan dan sangat strategis, serta jauh dari keramaian kendaraan umum

sehingga tidak bising dan menunjang kelancaran kegiatan belajar mengajar.

Dibangun di atas areal tanah seluas 500 M2 menjadikan Pondok Pesantren ini

cukup memadai untuk kegiatan belajar mengajar.

2. Sejarah Berdiri

Berdirinya Pondok Pesantren Al-Qur’aniyyah tidak terlepas dari

keberadaan Pemberantasan Buta Huruf Arab (PBHA), yang merupakan cikal

bakal berdirinya pesantren salafiyah/tradisional yang bercirikan keal-Qur’anan

yang belum ada di desa Jurang Mangu.

Sebelum lahir nama Al-Qur’aniyyah, diperkirakan jauh sebelumnya

pada tahun 1973 sudah dimulai pengajian ibu-ibu yang dipimpin oleh Alm.

Ibu Hj. Pilus (Ibunda KH. Drs. M. Sobron Zayyan, M.A). Pada tahun 1980

keinginan yang kuat terdorong oleh Ibu Hj. Pilus untuk punya sebuah Majlis
Taklim, maka dibentuklah pengajian biasa tersebut dengan sebutan Majlis

Taklim Hari Minggu Kaum Ibu.57

Pada tahun 1986 dibentuklah pengajian remaja yang dikoordinir oleh

HM. Sobron Zayyan, M.A, dengan materi keal-qur’anan dan kegiatan tersebut

hanya dilakukan setiap satu minggu sekali pada malam jum’at.

Perintisan Yayasan Pendidikan Pondok Pesantren Al-Qur’aniyyah

dimulai pada tahun 1987. Sobron, yang biasa disapa, seorang putra Ceger,

Jurang Mangu Timur Pondok Aren Tangerang, tepatnya kelahiran Tangerang,

1964. Pada tahun 1985 mencapai puncak impiannya di dunia seni baca Al-

Qur’an. Beliau dapat memperoleh Juara I Lomba Cerdas Cermat Isi

Kandungan al-Qur’an atau Musabaqah Fahmil Qur’an tingkat Nasional.58

Sebuah perjalanan panjang telah dilaluinya, semenjak usia kanak-

kanak hingga remaja. Berbagai perlombaan dan kejuaraan MTQ pun sudah

diikutinya, dari mulai tingkat RT hingga Nasional, meskipun bukan pada

cabang Tilawatil Qur’an.

Beliau adalah seorang pemuda yang hidup hanya didampingi oleh

seorang Ibu yang sudah tua, karena ayahnya meninggal jauh hari, ketika beliau

masih kecil. Tetapi itu tak pernah menjadi penghalang bagi dirinya untuk

menggeluti dunia al-Qur’an yang memang menjadi kegemarannya semenjak

kecil.

Keberhasilannya di dunia MTQ, membuat namanya mencuat

kepermukaan terutama di wilayah Pondok Aren dan Tangerang. Lalu beliau,

57
Wawancara Pribadi dengan, KH. Drs. M. Sobron Zayyan, M.A Pimpinan Pondok
Pesantren Al-Qur’aniyyah, Tangerang, 15 Februari 2008.
58
Wawancara Pribadi dengan Ust. Abdul Latif, S.Ag. Pengurus Pondok Pesantren Al-
Qur’aniyyah, Tangerang, 20 Februari 2008.
melanjutkan studinya di PTIQ (Perguruan Tinggi Ilmu Qur’an), tentunya

dengan kondisi yang serba pas-pasan. Tetapi dorongan dari orangtuannya

serta kemauan dan kegigihan akhirnya beliau berhasil menyelesaikan studinya

dengan hasil yang cukup memuaskan, pada tahun 1990.59

Di saat kuliah, beliau dipercaya untuk mengajar di MTs

Ishlauddiniyyah serta santripun mulai berdatangan untuk belajar mengaji ke

tempatnya. Untuk mengajar mengaji di rumahnya sudah dilakukannya

semenjak ia duduk di kelas 1 PGA, semua ia jalani dengan penuh keikhlasan

dan ketabahan. Memperdalam Seni tarik suara ia tak pernah ketinggalan untuk

terus belajar kepada KH. Husin (Alm), H. Muhammad Ali dan H. Muhammad

Nasir serta Ust. Abdullah (Alm). Kegiatan memperdalam al-Qur’an, terus ia

lakukan hingga saat ini.60

Pada tahun 1987, jumlah santri yang belajar mengaji di rumahnya kian

hari kian bertambah. Kemudian dengan dukungan Tokoh Masyarakat setempat

dan aparat Pemerintah, maka didirikanlah sebuah Lembaga Pendidikan Islam

dengan nama “Al-Qur’aniyyah”. Saat itu, Al-Qur’aniyyah barulah sebuah

Majlis Taklim anak-anak dan remaja. Pada tahun, didirikanlah TPA (Taman

Pendidikan Al-Qur’an) sebagai fondasi awal berdirinya lembaga pendidikan

semi formal.61

Lambat laun, nama Al-Qur’aniyyah semakin melambung, seiring

dengan cemerlangnya prestasi para santri Al-Qur’aniyyah baik TPA maupun


59
Wawancara Pribadi dengan Ust. Abdul Latif, S.Ag, Pengurus Pondok Pesantren Al-
Qur’aniyyah, Tangerang, 20 Februari 2008.
60
Wawancara Pribadi dengan Ust. Abdul Latif, S.Ag, Pengurus Pondok Pesantren Al-
Qur’aniyyah, Tangerang, 20 Februari 2008.
61
Wawancara Pribadi dengan Ust. Muhammad Hilimi, S.Ag, Pengurus Pondok Pesantren
Al-Qur’aniyyah, Tangerang, 20 Februari 2008.
remaja. Beriringan dengan itu, tuntutan masyarakat untuk memondokkan

anaknya di Al-Qur’aniyyah semakin besar. Dengan kondisi aula yang

seadanya mulailah diterima santri untuk mukim yang pada saat itu baru

berjumlah 4 orang.

Pada tanggal 15 Maret 1989, dimulailah pembangunan gedung tahap

pertama di atas pimpinan LPI Al-Qur’aniyyah dengan luas bangunan 100 M2

dengan rancangan dua lantai, namun pada tanggal 17 Februari 1990 Al-

Qur’aniyyah hanya dapat menyelesaikan lantai dasar saja. Pada tahun 1991

pembangunan tahap II dimulai dan selesai pada tahun 1992.62

Sejalan dengan itu, di sekitar Pondok Aren khususnya, banyak sekali

anak-anak yatim-piatu yang tidak dapat melanjutkan pendidikannya, karena

terbentur biaya pendidikan. Hal ini membuat hati pimpinan tergerak untuk

menolong mereka, dengan cara menampung mereka untuk tinggal di lembaga

pendidikan Islam Al-Qur’aniyyah sambil belajar di sekolah yang dibiayai oleh

pimpinan. Sejak saat itu, pimpinan terus berupaya menolong anak-anak yatim-

piatu dan dhuafa yang membutuhkan pertolongan. Pada tanggal 21 Oktober

tahun 1992 diresmikan Panti Asuhan Yatim Piatu Pondok Pesantren Al-

Qur’aniyyah yang di dalamnya menampung anak-anak yatim-piatu dan

dhuafa.63

Pada tahun 1994, pimpinan berfikir bagaimana menyiapkan generasi-

generasi penerus sebagai insan yang berilmu pengetahuan dan berakhlak

mulia, yang dapat mengabdikan diri mereka kepada agama bangsa dan

62
Wawancara Pribadi dengan Ust.Muhammad Hilimi, S.Ag, Pengurus Pondok Pesantren
Al-Qur’aniyyah, Tangerang, 20 Februari 2008.
63
Wawancara Pribadi dengan Ust.Muhammad Hilimi, S.Ag, Pengurus Pondok Pesantren
Al-Qur’aniyyah, Tangerang, 20 Februari 2008.
Negara, khususnya kepada masyarakat di mana mereka tinggal. Oleh karena

itu, didirikanlah Pondok Pesantren Al-Qur’aniyyah dengan pengajaran selama

6 tahun dengan kurikulum yang dibuat dengan nuansa kealqur’anan yaitu

dengan mengajarkan ilmu-ilmu al-Qur’an, tajwid, tartil, tahfidz dan ditambah

dengan pengajian kitab kuning, serta dengan mengarahkan bakat masing-

masing anak kearah pengkaderan generasi muda menjadi seorang da’i-da’iyah,

hafidz-hafidzah, yang memiliki dasar keagamaan yang berkualitas.64

Pondok pesantren Al-Qur’aniyyah semakin percaya diri dengan

prestasi yang dicapainya. Maka pada tahun 1995, mulailah genderang Al-

Qur’aniyyah ditabuh. Yakni dengan pengurusan Legalisasi Akta Notaris serta

menerima santri mukimin. Dan pada tanggal 6 September 1995 Pimpinan

mendapatkan pengesahan berbadan hukum untuk Yayasan Pendidikan Islam

Al-Qur’aniyyah dengan akta notaris Ruwin Diara, SH. No. HT. 04 : 910 :

2001/PN/TNG. Kemudian dirayakanlah Hari Lahir Al-Qur’aniyyah ke-VIII

secara akbar pada tahun 2001.65

Pimpinan selalu berupaya mengembangkan Yayasan Pendidikan Islam

Al-Qur’aniyyah dengan misinya di bidang sosial dan pendidikan bagi generasi

Islam khususnya bagi para anak-anak yatim-piatu dan kaum dhuafa. Serta

pembenahan sistem organisasi, administrasi dan manajemen terus

ditingkatkan, seiring dengan orientasi Al-Qur’aniyyah untuk Go-Public pada

64
Wawancara Pribadi dengan Ust. Abdul Latif, S.Ag, Pengurus Pondok Pesantren Al-
Qur’aniyyah, Tangerang, 20 Februari 2008.
65
Wawancara Pribadi dengan Ust. Abdul Latif, S.Ag, Pengurus Pondok Pesantren Al-
Qur’aniyyah, Tangerang, 20 Februari 2008.
tahun 1997/1998, sampai sekarang Pondok Pesantren Al-Qur’aniyyah ini

selalu mengalami perkembangan yang sangat pesat.66

B. Struktur Organisasi dan Kepengurusan

1. Struktur Organisasi

Dalam menjalankan organisasi, pondok pesantren Al-Qur’aniyyah

membentuk bagian-bagian/bidang-bidang yang disesuaikan dengan kebutuhan

yang ada, adapun bidang-bidang tersebut adalah:

1. Bidang Urusan Rumah Tangga

2. Bidang Keuangan

3. Bidang Keamanan

4. Bidang Kesehatan

5. Bidang Pendidikan dan Pengajaran.

6. Bidang Dakwah dan Humas

7. Bidang Sarana dan Prasarana.67

Setiap bidang membawahi 1 sub bagian, yaitu diketuai 1-2 orang yang

diangkat berdasarkan musyawarah dan mufakat, juga mendapatkan restu dari

yayasan. Adapun tugas masing-masing sebagai berikut:

1. Bidang Urusan Rumah Tangga

a. Merencanakan menu dan gizi para santri

b. Mengatur suplay makanan

c. Penerimaan tamu

66
Wawancara Pribadi dengan Ust. Muhammad Hilimi, S.Ag, Pengurus Pondok Pesantren
Al-Qur’aniyyah, Tangerang, 20 Februari 2008.
67
Wawancara Pribadi dengan Ust. Muhammad Hilimi, S.Ag, Pengurus Pondok Pesantren
Al-Qur’aniyyah, Tangerang, 20 Februari 2008.
d. Mengadakan dapur umum

e. Mengadakan kebersihan

2. Bidang Keuangan

a. Mengkoordinir keuangan para santri

3. Bidang Keamanan

a. Mengadakan persidangan

b. Membuat hukuman dan sangsi

c. Memberikan surat perizinan

4. Bidang Kesehatan

a. Mengadakan poliklinik

b. Menyediakan obat-obatan gratis bagi para santri

5. Bidang Pendidikan dan Pengajaran

a. Membentuk pendidikan formal

b. Membina pendidikan non formal

c. Membina latihan dan pendidikan.

6. Bidang Dakwah dan Humas

a. Mempublikasikan kemajuan dan perkembangan Pesantren

b. Menjalin silaturrahmi kepada wali santri

c. Sosialisasi dan Pengenalan

7. Bidang Sarana dan Prasarana

a. Menyediakan perlengkapan yang dibutuhkan

b. Menyediakan fasilitas belajar mengajar.68

68
Wawancara Pribadi dengan Ust. Muhammad Hilimi, S.Ag, Pengurus Pondok Pesantren
Al-Qur’aniyyah, Tangerang, 20 Februari 2008.
STRUKTUR ORGANISASI

YAYASAN PENDIDIKAN ISLAM

PONDOK PESANTREN AL-QUR’ANIYYAH (1)

Pelindung

Penasehat Pimpinan Yayasan

Wakil Yayasan

Sekretaris Bendahara

Sek. Bid. Humas Sek. Bid. Kesehatan Sek. Bid.


Keamanan

Sek. Bid. Urusan Sek. Bid. Keuangan Sek. Bid. Sarana


Rumah Tangga dan Prasarana

Sek. Bid. Pendidikan dan


Pengajaran

Ustadz dan Ustadzah

Sumber: (1) Dokumentasi pondok pesantren Al-Qur’aniyyah


2. Kepengurusan

Di dalam mengembangkan dan memajukan pondok pesantren Al-

Qur’aniyyah, baik di bidang pendidikan maupun bidang sarana dan prasarana.

KH. Drs. M. Sobron Zayyan, M.A tidak berjalan sendirian, melainkan dibantu

oleh beberapa pengurus, atas bantuan mereka dari tahun ke tahun kemajuan

pondok pesantren Al-Qur’aniyyah semakin berkembang pesat. Adapun

susunan pengurus pondok pesantren Al-Qur’aniyyah sebagaimana tertera di

bawah ini:

SUSUNAN PENGURUS

YAYASAN PENDIDIKAN ISLAM

PONDOK PESANTREN AL-QUR’ANIYYAH (2)

Pelindung : 1. Camat Pondok Aren

2. Kepala K.U.A Pondok Aren

3. Kepala Desa Jurang Mangu Timur

Penasehat : 1. H. Amin Kiswardono

2. H.M. Nasir

3. H. Syamsu Kammar

4. H. Winarso Taru Pranoto

5. Hj. Nunie Rudi

6. Hj. Ninin Syafruddin Jalil

Ketua Umum : KH. Drs. M. Sobron Zayyan, M.A

Wakil Ketua : Mahmur Syahid


Sekretaris : Sahlan H.A

Bendahara : Mochammad Halimi

Seksi-seksi :

A. Seksi Pendidikan dan Pengajaran

1. Drs. H. Hilman M.A

2. M. Yunus S.Ag

B. Seksi Dakwah dan Humas

1. Drs. Sahlan HD

2. Hamdani S.Pd

C. Seksi Sarana dan Prasarana

1. H. Syafi’i

2. Muhasyar

D. Seksi Keuangan

1. Mahfudz

2. Muslih HD

E. Seksi Kesehatan

1. Maulana Yusuf

2. Abidin

F. Seksi Keamanan dan Urusan Rumah Tangga

1. Abdillah

2. Abdul Latief, S.Ag.69

Sumber: (2) Dokumentasi pondok pesantren Al-Qur’aniyyah

69
Wawancara Pribadi dengan Ust. Muhammad Hilimi, S.Ag, Pengurus Pondok Pesantren
Al-Qur’aniyyah, Tangerang, 20 Februari 2008.
C. Santri dan Pengasuh

1. Santri

Santri merupakan salah satu komponen yang penting dalam proses

belajar mengajar. Santri merupakan objek yang akan dibimbing dan diarahkan

oleh kyai di pondok pesantren. Oleh karena itu, keberadaan santri termasuk

yang sangat penting dalam mengukur keberhasilan proses belajar mengajar.

Kata “santri“ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah orang

yang mendalami agama Islam atau orang yang beribadah dengan sungguh-

sungguh.70 Santri yang belajar di pondok pesantren Al-Qur’aniyyah selain

mendapatkan materi pendidikan kepesantrenan termasuk pengajaran seni baca

al-Qur’an, juga mendapatkan pendidikan formal melalui Madrasah

Ibtidaiyyah, Madrasah Tsanawiyyah, dan Madrasah Aliyah dengan status

disamakan melalui akreditasi.

Santri yang belajar di Madrasah Ibtidaiyyah, Madrasah Tsanawiyyah,

dan Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Al-Qur’aniyyah tidak semuanya

tergolong santri mukim, ada juga santri luar. Santri mukim hanya Madrasah

Tsanawiyyah dan Madrasah Aliyah. Itupun hanya sebagian besar saja, tidak

seluruhnya, hanya santri-santri yang berasal dari daerah yang jauh kemudian

menetap dalam kelompok pesantren dan mengikuti pembelajaran yang

sepenuhnya diselenggarakan oleh Pondok Pesantren Al-Qur’aniyyah, yaitu

pengajian-pengajian kitab kuning, tahfidz, naghom, murottal, nahwu, shorof,

70
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta:
Balai Pustaka, 1998), Cet. Ke-1, h. 783.
ilmu qira’at dan lain sebagainya. Mukimnya santri ini, maka mereka mendapat

materi pendidikan formal dan juga mendapat pendidikan kepesantrenan. 71

Sedangkan santri luar adalah santri yang tidak menetap di pesantren,

mereka mengikuti pembelajaran pesantren dan pada waktu yang sama juga

mengikuti pendidikan di luar pesantren. Adapun jumlah santri yang belajar di

pondok pesantren Al-Qur’aniyyah sebanyak 300 orang.72

2. Pengasuh

Kyai merupakan gelar kehormatan yang diberikan kepada orang yang

ahli agama Islam, yang memiliki atau menjadi pimpinan pesantren dan

mengajarkan kitab-kitab klasik kepada santrinya. Kyai dalam Kamus Besar

Bahasa Indonesia adalah sebutan bagi alim ulama (cerdik dan pandai dalam

agama Islam).73 Sedangkan dalam sebuah pesantren, kyai adalah pembimbing,

pengajar, atau pemimpin sebuah pesantren.

Pendapat di atas mendapat pembenaran dari masyarakat Desa Jurang

Mangu Timur Pondok Aren Tangerang terhadap kyai pengasuh pesantren. Hal

ini dapat dilihat dari prilaku masyarakat sekitar yang berusaha menyesuaikan

diri dengan kehidupan pesantren. Begitu pula dengan pemerintah setempat

dari tingkat kekelurahan, kecamatan, sampai tingkat kabupaten yang sering

berkunjung dan berkonsultasi dengan pihak pesantren. Sehingga yang terlihat

dari kehidupan masyarakat Desa Jurang Mangu Timur Pondok Aren

71
Wawancara Pribadi dengan KH. Drs. M. Sobron Zayyan, M.A, Pimpinan Pondok
Pesantren Al-Qur’aniyyah, Tangerang, 15 Februari 2008.
72
Wawancara Pribadi dengan, KH. Drs. M. Sobron Zayyan, M.A, Pimpinan Pondok
Pesantren Al-Qur’aniyyah, Tangerang, 15 Februari 2008.
73
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta:
Balai Pustaka, 1988), Cet. Ke-1, h. 437.
Tangerang mencerminkan kehidupan pesantren, baik dari ucapan, perbuatan,

walaupun tidak semua. Hal ini tercipta karena ketokohan sang kyai.74

Aktivitas sehari-hari pengasuh pondok pesantren Al-Qur’aniyyah,

selain mengkonsentrasikan pendidikan kepada santri yang mukim berupa

kitab-kitab kuning, tajwid, tahfidz, tartil, murottal, ilmu qira’at dan yang

termasuk ke dalam pengajaran seni baca al-Qur’an, beliau juga mengajar di

Perguruan Tinggi Al-Aqidah. Selain itu juga beliau sebagai mubaligh atau

juru dakwah, beliau juga sering diundang ke daerah-daerah untuk ceramah

agama. 75

Beliau dibantu oleh pamannya, kaka kandung dan kaka ipar,

keponakan dan para ustadz-ustadzah yang bukan keluarga. Latar belakang

pendidikan mereka umumnya sarjana strata satu dan ada juga dari alumni

pesantren sendiri. Sesuai dengan latar belakang pendidikan para ustadz-

ustadzah yang mengajar di pondok pesantren Al-Qur’aniyyah, maka pengasuh

mengambil kebijakan umum untuk tugas mengajar secara formal yaitu

dipercayakan untuk mengajar di Madrasah Tsanawiyyah dan Madrasah Aliyah

sesuai dengan skill dan jurusannya masing-masing. Sedangkan ustadz-

ustadzah yang berlatar belakang pendidikan pesantren di percayakan untuk

mengajar di sekolah diniyyah. Adapun jumlah pengajar ada 23 orang. 76

74
Wawancara Pribadi dengan Ust. Muhammad Hilimi, S.Ag, Pengurus Pondok Pesantren
Al-Qur’aniyyah, Tangerang, 20 Februari 2008
75
Wawancara Pribadi dengan Ust. Muhammad Hilimi, S.Ag, Pengurus Pondok Pesantren
Al-Qur’aniyyah, Tangerang, 20 Februari 2008
76
Wawancara Pribadi dengan Ust. Muhammad Hilimi, S.Ag, Pengurus Pondok Pesantren
Al-Qur’aniyyah, Tangerang, 20 Februari 2008
D. Program Kerja

Pondok Pesantren Al-Qur’aniyyah merupakan sebuah yayasan yang

bergerak di bidang Pendidikan, Dakwah dan Sosial Kemasyarakatan. Pondok

Pesantren Al-Qur’aniyyah telah menginjak usia remaja yakni genap 21 Tahun.

Proses pembangunan sarana fisik dan sistem pengorganisasian terus menerus

mengalami evolusi secara gradual dan berkesinambungan. Dalam menghadapi

tantangan ke depan, Pondok Pesantren Al-Qur’aniyyah haruslah mengadakan

sebuah evaluasi, reformasi, reorientasi, restrukturisasi serta rescedulling

terhadap segala kegiatan baik yang sudah berjalan maupun yang akan

dilaksanakan di masa mendatang.

Pola perencanaan program pendidikan dan pembangunan secara

global, telah dipaparkan dan dijelaskan dalam Ketetapan Rapat Kerja Yayasan

I pada tahun 1997. Sedangkan Petunjuk Pelaksanaan serta Kerangka Peraturan

Peraturan Perundang-undangan yang mengatur secara detail dan mendalam

akan dituangkan pada RAKER II Tahun 1998 kali ini, termasuk Pola

Perencanaan Al-Qur’aniyyah Terpadu.77

E. Sarana dan Prasarana

Dalam upaya meningkatkan mutudan kualitas pendidikan dan

pengajaran, maka pondok pesantren Al-Qur’aniyyah perlu menyiapkan sarana

dan prasarana yang memadai, sehingga mampu menunjang dan meningkatkan

mutu dan kualitas pendidikan dan pengajaran di pondok pesantren Al-

Qur’aniyyah.

77
Wawancara Pribadi dengan, KH. Drs. M. Sobron Zayyan, M.A, Pimpinan Pondok
Pesantren Al-Qur’aniyyah, Tangerang, 15 Februari 2008.
Sarana dan prasarana terbagi dalam dua jenis, jenis fisik dan non fisik.

Sarana dan prasarana fisik adalah sifatnya menempati dan mendukung

keberhasilan pesantren. Sedangkan sarana dan prasarana non fisik yang

sifatnya tetap dan mendukung administrasi serta kegiatan belajar mengajar.

Pondok pesantren Al-Qur’aniyyah dalam upaya meningkatkan mutu

pendidikan didukung oleh sarana dan prasarana sebagai berikut:

1. Sarana dan prasarana fisik

a. Asrama santri 2 gedung, 1 gedung untuk snatri putra dan 1 gedung

untuk santri putri. Semua gedung berlantai 2, dan terdiri dari 8 kamar

berukuran besar untuk santri putra, dan 6 kamar untuk santri putri.

b. 4 buah gedung sekolah; gedung 1 untuk MA berlantai 3 terdiri dari 15

lokal gedung 2 untuk MTs berlantai 2 juga terdiri dari 12 lokal.

Gedung 3 untuk MI 1 lantai terdiri dari 6 lokal dan gedung 4 untuk TK

1 lantai terdiri dari 2 lokal.

c. 1 buah Masjid

d. 1 buah Aula serba guna/majlis taklim

e. 1 buah Perpustakaan

f. 1 buah Lab komputer

g. 1 buah Wartel

h. 1 buah Klinik pesantren

i. 1 buah Koperasi

j. 1 buah Kantor sekretariat

k. 1 buah Kantin

l. Perlengkapan sound sistem dan penerangan


m. 1 buah Lapangan olah raga

2. Sarana dan prasarana non fisik

a. Tenaga pengajar yang profesional

b. Materi-materi pelajaran.78

78
Wawancara Pribadi dengan Ust. Muhammad Hilimi, S.Ag, Pengurus Pondok Pesantren
Al-Qur’aniyyah, Tangerang, 20 Februari 2008.
BAB IV

ANALISIS POLA KOMUNIKASI KYAI DAN SANTRI

DALAM PENGAJARAN SENI BACA AL-QUR’AN

A. Kyai dan Santri

1. KH. Drs. M. Sobron Zayyan, M.A

KH. Drs. M. Sobron Zayyan, M.A, yang biasa disapa dengan kyai

Sobron, seorang putra Ceger, Jurang Mangu Timur Pondok Aren Tangerang,

tepatnya kelahiran Tangerang, 10 Januari 1964. Ayahnya bernama H.

Muhammad Zayyan (Alm) dan Ibunya bernama Hj. Pilus (Almh). Anak

terakhir dari lima bersaudara, beliau tumbuh dalam lingkungan agamis.

Maklum, di kampungnya banyak berdiri pesantren dan tempat-tempat yang

berkecimpung dengan syiar Islam. Tak salah apabila rutinitas generasi

mudanya kental beraroma religius.

Kyai Sobron mengenyam pendidikan Madrasah Ibtidaiyyah (MI),

Madrasah Tsanawiyyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA), sampai perguruan

tinggi di PTIQ. Memperdalam Seni tarik suara ia tak pernah ketinggalan

untuk terus belajar kepada KH. Husin (Alm), H. Muhammad Ali dan H.
Muhammad Nasir serta Ust. Abdullah (Alm). Kegiatan memperdalam al-

Qur’an, terus ia lakukan hingga saat ini.79

Kyai Sobron, semenjak kecil memang sudah kelihatan tanda-tanda

memiliki bakat atau potensi dengan seni baca al-Qur’an. Dengan bakat dan

potensi yang beliau punya, maka orang tuanya mendidik dan mengembangkan

bakat tersebut, sehingga dengan didikan dan asuhan ibunya beliau seperti

sekarang ini, dan tidak lupa dengan bantuan atau didikan dari beberapa ustadz

lainnya.

Sebuah perjalanan panjang telah dilaluinya, semenjak usia kanak-kanak

hingga remaja. Berbagai perlombaan dan kejuaraan MTQ pun sudah

diikutinya, dari mulai tingkat RT hingga Nasional, meskipun bukan pada

cabang Tilawatil Qur’an. Pada tahun 1985 mencapai puncak impiannya di

dunia seni baca al-Qur’an. Beliau dapat memperoleh Juara I Lomba Cerdas

Cermat Isi Kandungan al-Qur’an atau Musabaqah Fahmil Qur’an tingkat

Nasional.80

Beliau adalah seorang pemuda yang hidup hanya didampingi oleh

seorang Ibu yang sudah tua, karena ayahnya meninggal jauh hari, ketika beliau

masih kecil. Tetapi itu tak pernah menjadi penghalang bagi dirinya untuk

menggeluti dunia al-Qur’an yang memang menjadi kegemarannya semenjak

kecil. Keberhasilannya di dunia MTQ, membuat namanya mencuat

kepermukaan terutama di wilayah Pondok Aren dan Tangerang. Lalu beliau,

79
Wawancara Pribadi dengan Ust. Abdul Latif, S.Ag. Pengurus Pondok Pesantren Al-
Qur’aniyyah, Tangerang, 20 Maret 2008.
80
Wawancara Pribadi dengan Ust. Abdul Latif, S.Ag. Pengurus Pondok Pesantren Al-
Qur’aniyyah, Tangerang, 20 Maret 2008.
melanjutkan studinya S1 di PTIQ (Perguruan Tinggi Ilmu Qur’an) dan S2 di

IIQ tentunya dengan kondisi yang serba pas-pasan. Tetapi dorongan dari

orangtuannya serta kemauan dan kegigihan akhirnya beliau berhasil

menyelesaikan studinya dengan hasil yang cukup memuaskan.81

Di saat kuliah, beliau dipercaya untuk mengajar di MTs

Ishlauddiniyyah serta santripun mulai berdatangan untuk belajar mengaji ke

tempatnya, semua ia jalani dengan penuh keikhlasan dan ketabahan. Berawal

dari kegigihan, ketabahan, kesemangatan, keikhlasan, dan kerja keraslah kyai

Sobron mampu meraih kesuksesan demi cita-cita yang luhur yaitu mendirikan

pondok pesantren yang bercirikan keal-qur’anan, dan pondok pesantren

tersebut dinamakan dengan Al-Qur’aniyyah.82

KH. Drs. M. Sobron Zayyan, M.A, sebagai pemimpin atau kyai pondok

pesantren Al-Qur’aniyyah, sangat demokratis dalam mengambil suatu

keputusan, bersifat sosial, sayang dengan orang lain terutama anak-anak

yatim, kaum dhuafa, dan khususnya santri yang belajar di pondok pesantren

tersebut. Kyai Sobron sangat pekerja keras, penolong kaum yang lemah,

seperti anak-anak yang sudah putus sekolah beliau angkat sebagai anak

kemudian disekolahkan sampai berhasil. Karena beliau sangat memikirkan

masalah pendidikan. Beliau hadir sebagai orang tua untuk anak-anak yang

dibimbingnya, beliau siap 24 jam untuk melayani mereka, hal sekecil apapun

itu harus diungkapkan dengan beliau. Sehinggga santri, anak-anak yatim dan

kaum dhuafa sangat mengagumi kekharismaan dan ketawadhuan beliau.

81
Wawancara Pribadi dengan Ust. Abdul Latif, S.Ag, Pengurus Pondok Pesantren Al-
Qur’aniyyah, Tangerang, 20 Maret 2008.
82
Wawancara Pribadi dengan Ust. Muhammad Hilimi, S.Ag, Pengurus Pondok Pesantren
Al-Qur’aniyyah, Tangerang, 20 Maret 2008.
Figur seorang kyai seperti KH. Drs. M. Sobron Zayyan, M.A, adalah

panutan bagi semua santri maupun masyarakat yang ada di sekeliling pondok

pesantren Al-Qur’aniyyah. Kyai Sobron sangat berwibawa, kharismatik dan

sikap keramah tamahan serta kekeluargaannya yang menyebabkan beliau

disegani oleh banyak orang. Hubungan kyai Sobron dengan para santri sangat

harmonis, baik dengan santri mukim maupun dengan santri luar, terbukti

dengan kasih sayang yang beliau berikan kepada santri mukim, yaitu setiap

pagi sebelum para santri berangkat ke sekolah beliau sudah menunggu di

depan rumah untuk memberikan uang jajan dan pamitan. Sedangkan dengan

santri luar, beliau selalu memberikan pengarahan dan motivasi dalam setiap

pelajaran dan beliau juga tidak pernah membedakan dengan santri mukim.83

Jika santri mempunyai masalah, baik masalah terhadap teman ataupun

masalah dengan keluarga. Santri yang mempunyai masalah biasanya langsung

menceritakan masalahnya kepada kyai Sobron, setelah proses pengajaran seni

baca al-Qur’an selesai, dan tidak hanya pada kyai Sobron saja tapi pada setiap

ustadz yang mengajar. Ketika kyai Sobron mengetahui permasalahan yang

dihadapi santri, maka beliau berusaha menasehati dan memberikan solusi

dengan penuh keikhlasan, sehingga masalah tersebut dapat terselesaikan

dengan baik. Beliau selalu melakukan pemantauan dalam perkembangan para

santri setiap hari, dan beliau tidak pernah absen dalam melakukan hal tersebut,

karena beliau merasa semua santri yang belajar di pondok pesantren dianggap

83
Wawancara Pribadi dengan Ust. Muhammad Hilimi, S.Ag, Pengurus Pondok Pesantren
Al-Qur’aniyyah, Tangerang, 20 Maret 2008.
seperti anak sendiri dan tidak pernah membedakan satu sama lain. Santripun

demikian, mereka menganggap beliau seperti bapak kandung sendiri. 84

Terlebih dalam hal pendidikan, kyai Sobron selalu menegaskan kepada

semua santri bahwa:

“Pendidikan adalah sumber mata air ilmu yang mutlak diperlukan untuk
menjadikan manusia lebih beradab. Pendidikan tidak bisa dipisahkan dari
kehidupan manusia, karena untuk menjadi manusia yang mempunyai harkat
dan martabat terutama disisi Allah, haruslah dengan ilmu.”85

Di pondok pesantren Al-Qur’aniyyah kyai Sobron lebih menekankan

pembelajaran yang beliau anggap sesuai dengan ciri khas pondok pesantren

tersebut, yaitu keal-qur’anan. Dengan mengajarkan ilmu-ilmu al-Qur’an,

tajwid, nagham, ilmu qira’at, tartil, dan tahfidz, serta dengan mengarahkan

bakat masing-masing santri kearah pengkaderan generasi muda menjadi

seorang qori-qoriah, da’i-da’iyah, hafidz-hafidzah, yang memiliki dasar

keagamaan yang berkualitas.86 Kyai Sobron lebih memfokuskan mengajar

ilmu-ilmu al-Qur’an dengan pengajaran seni baca al-Qur’an kepada para

santri. Setiap malam jum’at ba’da Isya beliau mengajarkan qira’at secara

klasikal/bersama-sama di Aula, baik santri luar maupun santri mukim. Di

dalam pengajaran seni baca al-Qur’an ini, beliau tidak pernah membedakan

satu sama lain santri yang mengikuti pengajaran tersebut, walaupun banyak

santri luar yang mengikuti tetapi beliau selalu menunjukkan sikap

kekharismatikannya di depan para santri, sehingga semakin banyak santri luar


84
Wawancara Pribadi dengan Rahmatullah, Santri Pondok Pesantren Al-Qur’aniyyah,
Tangerang, 21 Maret 2008.
85
Wawancara Pribadi dengan, KH. Drs. M. Sobron Zayyan, M.A Pimpinan Pondok
Pesantren Al-Qur’aniyyah, Tangerang, 20 Maret 2008.
86
Wawancara Pribadi dengan Ust. Abdul Latif, S.Ag, Pengurus Pondok Pesantren Al-
Qur’aniyyah, Tangerang, 20 Maret 2008.
yang mengikuti pengajaran seni baca al-Qur’an yang diadakan di pondok

pesantren Al-Qur’aniyyah.87

Dalam proses pengajaran seni baca al-Qur’an, beliau selalu

menyampaikan materi dengan penuh kesabaran dan keikhlasan, mulai dari

pelajaran ilmu tajwid, ilmu lagu-lagu dalam al-Qur’an (ilmu nagham), tangga

nada (maqom), qira’at sab’ah, maupun maqro-maqro (bacaan). Dalam

penyampaian materi beliau selalu melakukan komunikasi kepada santri baik

dengan menggunakan pola atau bentuk komunikasi kelompok kecil, yaitu kyai

Sobron sebagai seorang komunikator menyampaikan pesan atau materi

pelajaran seni baca al-Qur’an kepada santri sebagai komunikan atau yang

disebut anggota kelompok kecil. Beliau juga menggunakan pendekatan secara

personal dengan komunikasi antarpribadi antara kyai dengan santri, ketika

santri mendemonstrasikan materi pelajaran, semua komunikasi yang

digunakan oleh kyai Sobron bertujuan agar materi yang disampaikan mudah

diserap dan diterima oleh santri yang mengikuti pelajaran tersebut.

Kyai Sobron, dalam menyampaikan materi dengan menjelaskan secara

berulang-ulang dengan penuh kesabaran dan apabila ada materi yang kurang

dipahami oleh santri, maka beliau mempersilahkan santri untuk melakukan

tanya jawab. Dengan metode pengulangan dan tanya jawab membuat santri

semakin memahami pelajaran tersebut dengan baik dan menimbulkan

kedekatan antara kyai dan santri, sehingga hubungan antara kyai dan santri

semakin harmonis. 88

87
Wawancara Pribadi dengan Sifa Nafiga, Santri Pondok Pesantren Al-Qur’aniyyah,
Tangerang, 21 Maret 2008.
88
Wawancara Pribadi dengan Sifa Nafiga, Santri Pondok Pesantren Al-Qur’aniyyah,
Tangerang, 21 Maret 2008.
Selain metode pengulangan dan tanya jawab, masih banyak lagi metode-

metode yang lain yang beliau gunakan dalam pengajaran seni baca al-Qur’an.

Dalam pengajaran seni baca al-Qur’an beliau selalu menginstruksikan kepada

santri untuk mempraktekkan materi yang telah diajarkan dan disampaikan

dengan maju dihadapan beliau. Metode tersebut bertujuan untuk mengetahui

seberapa jauh kemampuan santri dalam memahami pelajaran seni baca al-

Qur’an. Instruksi yang digunakan oleh kyai Sobron disebut dengan

komunikasi instruksional, yaitu komunikasi antara guru atau kyai dengan

murid atau santri dalam menginstruksikan materi pelajaran.

Beliau mengajar seni baca al-Qur’an tidak hanya malam jum’at saja,

tetapi ada hari-hari lain, yaitu hari Sabtu dan Minggu ba’da Ashar. Pada hari

Sabtu dan Minggu beliau hanya mengajar khusus santri mukim untuk kelas

paling tinggi tingkatannya, yaitu kelas 5 dan 6 atau yang disebut juga tingkat

mahir. Pada kelas 5 dan 6 beliau mengajarkan pelajaran seni baca al-Qur’an di

dalam kelas. Selain kelas 5 dan 6 masih ada kelas atau tingkatan yang lainnya

dan dalam tiap kelas atau tingkatan ada yang mengajarnya, yaitu ustadz-ustadz

atau pengajar yang profesional yang sudah berpengalaman dan mendapat

kepercayaan dalam pengajaran seni baca al-Qur’an. Setiap pengajar memiliki

metode pengajaran yang berbeda-beda dan tidak sedikit yang sama, sedangkan

materi yang disampaikan hampir sama semua.89

2. Profil Ustadz Muhammad Halimi, S.Ag

89
Wawancara Pribadi dengan Rahmatullah. Santri Pondok Pesantren Al-Qur’aniyyah,
Tangerang, 21 Maret 2008.
Ustadz Muhammad Halimi, S.Ag adalah pengasuh atau guru di pondok

pesantren Al-Qur’aniyyah. Selain pengasuh dan guru di pondok pesantren Al-

Qur’aniyyah, beliau juga sebagai bendahara. Beliau lahir di Tangerang 6 april

1977, beliau mulai sekolah dari SD merangkap MI, MTs, MA di MAN 4, dan

kuliah di PTIQ.90 Beliau sangat dekat sekali dengan kyai Sobron karena beliau

adalah keponakannya, sejak kecil beliau sudah mempunyai bakat dalam seni

suara, beliau mempunyai suara yang indah dan merdu kemudian belajar

dengan kyai Sobron dari tilawah, tartil, murottal dan al-Qur’an untuk

mengasah kemampuannya. Selain dengan kyai Sobron beliau belajar dengan

ustadz Abdullah, KH. Muhsin Salim, H. Muhammad Ali, ustadz Suparli,

ustadz Zainuddin pimpinan al-Gontori.91

Masa hidup ustadz Halimi dibaktikan di Al-Qur’aniyyah, karena sejak

kecil beliau dididik oleh kyai Sobron, untuk menjadi generasi penerus Al-

Qur’aniyyah. Di pondok pesantren Al-Qur’aniyyah beliau mengajar seni baca

al-Qur’an kelas I’dad, kelas 1 dan kelas 2, pada malam senin ba’da sholat

Isya.

“Di kelas saya mengajarkan materi pelajaran tentang lagu-lagu dalam al-
Qur’an (ilmu nagham), ilmu tajwid, tangga nada (maqom), dan ilmu
qira’at sab’ah, tetapi masih dalam pola-pola dasar sesuai dengan tingkatan
kelas.”92

Beliau mengajar seni baca al-Qur’an menggunakan metode pengulangan,

secara interaktif antara guru atau ustadz dengan santri. Beliau mengajarkan
90
Wawancara Pribadi dengan Ust. Muhammad Hilimi, S.Ag, Pengurus Pondok Pesantren
Al-Qur’aniyyah, Tangerang, 20 Maret 2008.
91
Wawancara Pribadi dengan Ust. Abdul Latif, S.Ag, Pengurus Pondok Pesantren Al-
Qur’aniyyah, Tangerang, 20 Maret 2008.
92
Wawancara Pribadi dengan Ust. Muhammad Hilimi, S.Ag, Pengurus Pondok Pesantren
Al-Qur’aniyyah, Tangerang, 20 Maret 2008.
satu lagu dengan tangga nada diulang-ulang secara terus menerus kemudian

santri menirukan, dan selanjutnya santri memperaktekkan satu per satu

dihadapan beliau. Kalau santri sudah memahami secara keseluruhan maqro-

maqro (bacaan) yang telah diajarkan, maka beliau melanjutkan maqro-maqro

(bacaan) lain dengan lagu dan tangga nada yang berbeda.93

3. Profil Ustadz Abdul Latif, S.Ag

Ustadz Abdul Latif, S.Ag adalah pengasuh atau guru di pondok

pesantren Al-Qur’aniyyah. Beliau lahir di Tangerang 10 Aguatus 1973, beliau

mulai sekolah dari MI, MTs, MA di Jamiyyah Isamiyyah, dan kuliah di PTIQ.

Beliau mengabdi di pondok pesantren Al-Qur’aniyyah semenjak berdirinya

pondok pesantren tersebut, selain mengajar seni baca al-Qur’an beliau juga

pandai dalam seni kaligrafi. Hasil karya beliau disukai oleh banyak orang.

Dalam pengajaran seni baca al-Qur’an juga beliau banyak disegani oleh santri

dengan kepandaiannya berlantunkan ayat-ayat suci al-Qur’an. Di pondok

pesantren Al-Qur’aniyyah beliau mengajar seni baca al-Qur’an pada kelas 3

dan 4 atau yang dikenal dengan tingkat menengah.94

Penyampaian materi dan metode yang digunakan dalam pengajaran seni

baca al-Qur’an tidak ada bedanya dengan ustadz-ustadz yang lain, selain

metode pengulangan, tanya jawab, demonstrasi, beliau juga menggunakan

metode motivasi, yaitu metode perlombaan kecil-kecilan setiap santri yang

mengikuti pelajaran seni baca al-Qur’an, tujuan adalah untuk memotivasi

santri untuk belajar dan berlatih secara terus-menerus. Kyai maupun ustadz

93
Wawancara Pribadi dengan Ust. Muhammad Hilimi, S.Ag, Pengurus Pondok Pesantren
Al-Qur’aniyyah, Tangerang, 20 Maret 2008.
94
Wawancara Pribadi dengan Ust. Abdul Latif, S.Ag, Pengurus Pondok Pesantren Al-
Qur’aniyyah, Tangerang, 20 Maret 2008.
yang mengajar di pondok pesantren Al-Qur’aniyyah selalu menerapkan pola

atau bentuk-bentuk komunikasi yang berbeda-beda, dan bentuk komunikasi

yang digunakan sangat efektif dalam proses pengajaran seni baca al-Qur’an,

dengan bentuk-bentuk komunikasi yang berbeda-beda membuat santri tidak

mengalami kejenuhan dan kebosanan, sehingga pelajaran mudah diserap dan

dipahami dengan baik.95

Pola atau bentuk komunikasi yang selalu digunakan oleh kyai maupun

ustadz-ustadz yang lain dalam pengajaran seni baca al-Qur’an adalah dengan

komunikasi secara verbal, yaitu dengan tatap muka seminggu bisa 2 sampai 3

kali pertemuan. Dan secara klasikal/bersama-sama semua santri dilakukan di

Aula dan pengajarnya adalah pimpinan langsung, yaitu kyai Sobron.

4. Profil Santri

Rahmatullah adalah salah satu santri dari sekian banyak santri yang

mempunyai prestasi yang sangat gemilang dalam pengajaran seni baca al-

Qur’an di pondok pesantren Al-Qur’aniyyah. Rahmet biasa di sapa, ia lahir di

Kronjo Tangerang Banten, 09 Februari 1985. Ia belajar di pondok pesantren

Al-Qur’aniyyah sudah 4 tahun mulai dari tahun 2004.96 Dalam waktu

sesingkat itu ia sudah mempunyai banyak pengalaman dalam bidang seni baca

al-Qur’an. Pertama datang ke pondok pesantren tersebut dari kosong tidak

mengetahui apa-apa yang berkaitan dengan keal-Qur’anan sampai mempunyai

pengetahuan di bidang keal-Qur’anan.

95
Wawancara Pribadi dengan Ust. Abdul Latif, S.Ag, Pengurus Pondok Pesantren Al-
Qur’aniyyah, Tangerang, 20 Maret 2008.
96
Wawancara Pribadi dengan Rahmatullah, Santri Pondok Pesantren Al-Qur’aniyyah,
Tangerang, 21 Maret 2008.
Rahmet adalah santri yang sudah putus sekolah, kemudian beliau asuh

seperti anak sendiri dan seperti santri-santri lainnya. Ia disekolahkan dan

dikuliahkan oleh kyai Sobron, kyai Sobron juga melihat kemampuan yang

Rahmet miliki dalam seni tarik suara, dan mempunyai daya hafalan yang

cukup baik, sehingga kemampuan tersebut diasah dan dikembangkan oleh

kyai Sobron. Dengan pengasahan dan penggemlengan yang dilakukan oleh

kyai Sobron, maka bakat dan kemampuan Rahmet semakin meningkat,

kemudian ia diikutkan perlombaan diberbagai tingkat. Ia diikutkan

perlombaan MHQ dan MTQ di tingkat Kabupaten di Riau mewakili kota

Batam, dan usaha tersebut tidak sia-sia, ia mendapatkan kemenangan yang

luar biasa, yaitu mendapat juara pertama.97

“Saya memang sangat senang dengan bidang keal-Qu’ranan, terkadang saat


belajar saya banyak mengalami kesulitan, tetapi kesulitan itu dibawa santai,
ketika saya ingin pandai dalam seni baca al-Qur’an, saya selalu
mendengarkan rekaman-rekaman, kemudian saya juga sering berkonsultasi
dengan kyai Sobron agar kesulitan itu dapat teratasi, dan saran yang
diberikan oleh kyai Sobron adalah harus banyak-banyak belajar, berlatih
secara terus menerus, dan berdoa. Dengan pengajaran seni baca al-Qur’an
alhamdulillah menimbulkan pemahaman di dalam diri saya, dahulu saya
tidak mengetahui makna yang terkandung di dalam al-Qur’an, sekarang saya
mengetahuinya dengan baik, walaupun tidak semua, ilmu-ilmu al-Qur’an,
qira’at sab’ah, dan masih banyak lagi. Dengan penyampaian materi yang
baik dan dengan pendekatan yang digunakan oleh kyai Sobron, membuat
saya semakin memahami semua itu.”98

Sifa Nafiga, adalah santri putri yang belajar di pondok pesantren Al-

Qur’aniyyah, ia biasa dipanggil mega, dan tinggal di Ulujami. Ia belajar di

pondok pesantren Al-Qur’aniyyah kurang lebih sudah 4 tahun.

97
Wawancara Pribadi dengan, KH. Drs. M. Sobron Zayyan, M.A, Pimpinan Pondok
Pesantren Al-Qur’aniyyah, Tangerang, 20 Maret 2008.
98
Wawancara Pribadi dengan Rahmatullah, Santri Pondok Pesantren Al-Qur’aniyyah,
Tangerang, 21 Maret 2008.
“Di pondok pesantren Al-Qur’aniyyah mayoritas diajarkan adalah bidang
keal-Qur’anan tapi disini juga diajarkan kitab kuning, pengalaman keal-
Qur’anan bagi saya, hampir sama dengan Rahmet, yaitu dulu saya tidak
mengetahui ada qira’attussab’ah, dan imam-imam riwayat lain sekarang
saya mengetahui semua itu. Ternyata membaca al-Qur’an harus dengan
suara indah dan merdu itu juga saya baru mengetahuinya. Walaupun suara
saya kurang bagus tetapi saya sangat menyukai seni baca al-Qur’an di
pondok pesantren Al-Qur’aniyyah, karena proses pengajarannya sangat
asyik dan menyenangkan, tidak monoton dan hubungan antara kyai dengan
santri cukup baik, sehingga santri banyak yang menyenangi pelajaran seni
baca al-Qur’an ini walaupun susah.”99

Mega adalah santri yang belum mempunyai prestasi dalam bidang seni

baca al-Qur’an, tetapi semua itu bukan jadi kendala dalam mempelajari seni

baca al-Qur’an, walaupun ia mempunyai kekurangan dalam hal suara, ia

mempunyai kemauan yang cukup besar untuk bisa dan belajar seni baca Al-

Qur’an di pondok pesantren Al-Qur’aniyyah.100 Ia mempunyai prinsip bahwa:

“Sesulit apapun pelajarannya, kalau kita menyenangi pelajaran dan ustadz


atau gurunya maka akan terasa mudah dirasakan. Apalagi dengan
penyampaian materi yang menyenangkan dengan menggunakan komunikasi
yang baik, maka semakin mudah diterima dan dipahami pelajaran
tersebut.”101

Dalam pengajaran seni baca al-Qur’an diajarkan oleh guru atau ustadz

yang berpengalaman, terutama seorang kyai Sobron yang sangat rendah hati,

tawwadhu, sayang dengan santri walapun banyak santri luar yang mengikuti

pelajaran seni baca al-Qur’an, maka semuanya dirasakan sangat

menyenangkan.102

99
Wawancara Pribadi dengan Sifa Nafiga, Santri Pondok Pesantren Al-Qur’aniyyah,
Tangerang, 21 Maret 2008.
100
Wawancara Pribadi dengan, KH. Drs. M. Sobron Zayyan, M.A, Pimpinan Pondok
Pesantren Al-Qur’aniyyah, Tangerang, 20 Maret 2008.
101
Wawancara Pribadi dengan Sifa Nafiga, Santri Pondok Pesantren Al-Qur’aniyyah,
Tangerang, 21 Maret 2008.
102
Wawancara Pribadi dengan Sifa Nafiga, Santri Pondok Pesantren Al-Qur’aniyyah,
Tangerang, 21 Maret 2008.
Dari 10 orang santri hanya Rahmatullah dan Sifa Nafiga yang penulis

jelaskan profilnya, mereka sebagai perwakilan dari tingkat mahir yang

dijadikan sampel.

B. Program Pengajaran Seni Baca Al-Qur’an

Pondok pesantren Al-Qur’aniyyah dengan ciri khas keal-Qur’anan,

mendidik dan mengajarkan para santri agar dapat membaca al-Qur’an dengan baik

dan benar sesuai dengan ilmu tajwid, serta dapat melantunkan ayat-ayat al-Qur’an

dengan indah sesuai dengan ilmu lagu-lagu dalam al-Qur’an (ilmu nagham) dan

ilmu qira’at.

Untuk itu, pondok pesantren Al-Qur’aniyyah menetapkan program-

program pengajaran seni baca al-Qur’an untuk menerapkan kedisiplinan ilmu

yang harus ditempuh oleh para santri. Program pengajaran seni baca al-Qur’an

yang diterapkan di pondok pesantren Al-Qur’aniyyah ini terbagi menjadi tiga

jenjang/kategori, antara lain:

1. Tingkat Dasar

Tingkat dasar adalah tingkatan pada tahap awal dalam proses

pengajaran seni baca al-Qur’an, di mana santri yang belajar seni baca al-

Qur’an berasal dari tingkat pemula, dan kelas persiapan (i’dad). Dalam

tingkatan ini, seorang kyai hanya baru memperkenalkan pola-pola dasar

kepada santri, yaitu berupa pengenalan tentang lagu-lagu dalam seni baca

al-Qur’an secara garis besar, seperti lagu bayyati, lagu shaba, lagu

nahawand, lagu hijaz, lagu rost, lagu sika, dan lagu jiharka. Pada tingkatan
ini santri belum diperkenalkan kepada tangga nada lagu dalam seni baca

al-Qur’an.

2. Tingkat Menengah

Tingkat menengah adalah tingkatan di mana santri sudah mulai

memasuki tahap pengembangan dalam proses pengajaran seni baca al-

Qur’an. Pada tahap ini, para santri mulai diadakan praktek untuk lagu-lagu

yang sudah diperkenalkan pada tingkat dasar, dan lagu-lagu ini biasanya

diungkapkan oleh seorang kyai dalam tausyih, yakni melagukan sejumlah

kalimat syair sebatas patokan alunan suara tentang nada dalam suatu

lagu.103

Kemudian dari lagu tersebut seorang kyai mempraktekkannya ke

dalam ayat-ayat al-Qur’an, dan setelah itu santri mulai diperkenalkan

dengan tangga nada lagu dalam seni baca al-Qur’an. Tangga nada dalam

pengajaran seni baca al-Qur’an disebut dengan maqom, yaitu tangga nada

yang terdapat dalam lagu-lagu seni baca al-Qur’an. Dalam satu lagu

biasanya terdapat beberapa tangga nada di dalamnya, tujuan dari

pengenalan tangga nada adalah agar santri mampu menerapkan tangga

nada tersebut ke dalam lagu-lagu yang sudah diajarkan pada tingkat

sebelumnya.

Lagu-lagu dalam seni baca al-Qur’an disebut dengan ilmu nagham.

Lagu-lagu al-Qur’an adalah lagu-lagu khusus yang disuarakan secara

indah dalam membaca al-Qur’an. Lagu-lagu yang dilantunkan adalah lagu-

lagu yang sesuai dengan kaidah-kaidah membaca al-Qur’an yang

103
Wawancara Pribadi dengan, KH. Drs. M. Sobron Zayyan, M.A, Pimpinan Pondok
Pesantren Al-Qur’aniyyah, Tangerang, 20 Maret 2008.
senantiasa mengekspresikan secara indah. Lagu-lagu dengan tangga nada,

seperti lagu bayyati dengan nada koror, bayyati dengan nada nawa, bayyati

dengan nada jawab, dan bayyati dengan nada jawabul jawab. Kemudian

lagu shaba dengan nada asyiroan (nawa), shaba dengan nada ajami

(jawab), dan shaba dengan nada quflah bustanjar, dan lain sebagainya.

3. Tingkat Mahir

Tingkat mahir adalah tingkatan paling tinggi dalam proses pengajaran

seni baca al-Qur’an, yaitu santri sudah mulai diperkenalkan dari tingkat

dasar sampai tingkat menengah. Dalam tingkatan ini, santri sudah menuju

pada pola pengembangan bakat secara menyeluruh. Di mana bakat yang

dimiliki oleh santri sudah mulai dikembangkan, dikemas, dan dilatih

secara terus-menerus, agar bakat atau kemampuan tersebut bisa

diaplikasikan dengan baik ke dalam surat yang sudah ditentukan. Setelah

bakat santri sudah terlihat oleh seorang kyai, maka seorang kyai mulai

mengukur dan menilai sejauh mana kemampuan atau bakat yang mereka

miliki, setelah mendapatkan hasil yang baik, maka santri bisa

mengaplikasikan kemampuan mereka ke dalam surat-surat yang lain dari

maqro yang sudah diajarkan.

Dengan begitu, santri sudah bisa berjalan sendiri sesuai dengan

kemampuan dan bakat yang mereka miliki, serta sudah bisa dimanfaatkan

oleh masyarakat sekitar.104

Menurut penulis adanya tingkatan-tingkatan yang dilakukan oleh

seorang kyai adalah sebagai langkah awal untuk menentukan bagaimana

metode penyampaian pesan atau materi pengajaran seni baca al-Qur’an, serta

104
Wawancara Pribadi dengan, KH. Drs. M. Sobron Zayyan, M.A, Pimpinan Pondok
Pesantren Al-Qur’aniyyah, Tangerang, 20 Maret 2008.
bentuk komunikasi apa yang harus dilakukan oleh seorang kyai. Dalam hal

penyampaian materi kepada santri dalam tingkatan-tingkatan ini, kyai

berusaha memberikan pendekatan-pendekatan komunikasi kepada santri

dengan pendekatan yang bervariasi yang disesuaikan dengan kemampuan

masing-masing santri.

Tujuan dari program pengajaran seni baca al-Qur’an yang diterapkan di

pondok pesantren Al-Qur’aniyyah selain untuk mendidik dan mengajarkan

para santri agar dapat membaca al-Qur’an dengan baik dan benar sesuai

dengan ilmu tajwid, serta dapat melantunkan ayat-ayat al-Qur’an dengan

indah sesuai dengan ilmu lagu-lagu al-Qur’an (ilmu nagham) dan ilmu qira’at,

terdapat tujuan-tujuan lain di dalam program pengajaran seni baca al-Qur’an

tersebut, yaitu tujuan jangka pendek, tujuan jangka menengah dan tujuan

jangka panjang, di antaranya adalah:

I. Jangka Pendek

1. Mengklasifikasikan bakat dan minat santri putra dan putri.

2. Mempersiapkan para santri secara intensif untuk dapat tampil di depan

umum.

3. Menampilkan santri putra dan putri untuk dapat tampil pada setiap

kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan baik secara internal maupun

eksternal.

II. Jangka Menengah

1. Mengikutsertakan santri putra dan putri pada setiap kegiatan

perlombaan yang bersifat eksternal.


2. Mengukur kemampuan santri putra dan putri dengan santri dan

organisasi lain pada perlombaan yang bersifat eksternal.

3. Melatih dan membina santri putra dan putri untuk dapat menjadi

seorang pemimpin baik, untuk dirinya maupun untuk orang lain

dengan cara menjadikannya sebagai pengurus pondok.

III. Jangka Panjang

1. Mempersiapkan santri putra dan putri untuk dapat mengisi pada setiap

kegiatan, baik yang bersifat internal maupun eksternal, termasuk

menggantikan Asatidzah yang berhalangan hadir.

2. Menerjunkan santri putra dan putri ke masyarakat pada setiap kegiatan

baik bila dibutuhkan.

3. Mencetak santri putra dan putri untuk menjadi manusia yang berguna

bagi agama, nusa dan bangsa.105

C. Pola Komunikasi Kyai dan Santri Dalam Pengajaran Seni Baca Al-

Qur’an

1. Proses Pengajaran Seni Baca Al-Qur’an

Pengajaran seni baca al-Qur’an diajarkan oleh kyai Sobron pondok

pesantren Al-Qur’aniyyah satu kali dalam seminggu, yaitu pada malam

jum’at. Kegiatan belajar mengajar tersebut diadakan di Aula secara

klasikal/bersama-sama dan waktu belajarnya ba’da sholat Isya. Adapun KH.

Drs. M. Sobron Zayyan, M.A memberikan pengajaran tersebut, pada tahap

105
Wawancara Pribadi dengan Ust. Muhammad Hilimi, S.Ag, Pengurus Pondok Pesantren
Al-Qur’aniyyah, Tangerang, 20 Maret 2008.
awal, adalah seorang kyai Sobron melafadzkan ayat-ayat al-Qur’an dengan

cara melagukan kata demi kata dan kalimat demi kalimat yang sesuai dengan

aturan ilmu tajwid dan ilmu qira’at terlebih dahulu, kemudian para santri

mengikutinya secara bersama-sama. Sebelum para santri menguasai satu bait

secara baik dan benar, maka seorang kyai tidak melanjutkan bait berikutnya

secara terburu-buru melainkan mengulanginya berulang kali sampai para

santri dapat menguasainya.

Bait al-Qur’an tersebut disimak dan dipahami oleh santri yang mengikuti

seni baca al-Qur’an. Kemudian berlanjut kepada tahap berikutnya, yaitu kyai

memerintahkan kepada para santri yang telah menguasai bait al-Qur’an yang

diajarkan, untuk mendemonstrasikannya dengan maju secara individual

maupun kelompok, mulai dari lagu bayyati dengan tangga nadanya sampai

lagu jiharka dengan tangga nadanya.

Setelah individu maupun kelompok santri selesai membaca di depan.

Untuk selanjutnya para santri lainnya secara bersama-sama mengikutinya

sampai selesai. Seiring para santri mendemonstrasikan bait al-Qur’an, kyai

Sobron hanya mendengar dan menyimak serta mengamati kemampuan

mereka. Dengan demikian, kyai Sobron bisa menilai dan mengukur

sejauhmana bakat atau kemampuan yang mereka miliki.106

Menurut informan pola/bentuk komunikasi yang digunakan oleh kyai

Sobron dalam pengajaran seni baca al-Qur’an di pondok pesantren Al-

Qur’aniyyah, dapat diartikan sebagai suatu rencana yang digunakan oleh

seorang kyai Sobron dalam menyampaikan materi atau pesan pelajaran seni

106
Wawancara Pribadi dengan, KH. Drs. M. Sobron Zayyan, M.A, Pimpinan Pondok
Pesantren Al-Qur’aniyyah, Tangerang, 20 Maret 2008.
baca al-Qur’an kepada para santri selaku komunikan dengan berbagai macam

bentuk. Untuk itu, pola komunikasi yang digunakan oleh kyai Sobron dalam

proses pengajaran seni baca al-Qur’an, yaitu secara langsung melalui tatap

muka dengan lisan, dan menggunakan pola komunikasi kelompok kecil antara

seorang kyai Sobron dengan para santri.

Dalam proses pengajaran tersebut kyai Sobron menggunakan

komunikasi instruksional, di mana pelaksanaannya komunikasi instruksional

yang terjadi dalam mencapai tujuan tersebut lebih banyak menginstruksikan

kepada santri untuk lebih banyak meningkatkan kegiatan-kegiatan yang

berkaitan dengan pemahaman tentang materi pengajaran seni baca al-Qur’an.

2. Materi, Lagu dan Metode dalam Pengajaran Seni Baca Al-Qur’an

a. Materi

Materi dalam pengajaran seni baca al-Qur’an merupakan ayat-ayat

al-Qur’an yang mengandung makna dan isi pesan-pesan baik dalam bentuk

perintah (amr), larangan (nahy), harapan dan himbauan dan lain-lain.

Agar para santri dapat lebih mengenal dan memahami isi dan makna

kandungan al-Qur’an, ada beberapa materi yang terdapat dalam ayat-ayat

al-Qur’an yang diberikan oleh kyai dalam pengajaran seni baca al-Qur’an

di pondok pesantren Al-Qur’aniyyah, diantaranya:

1. Materi Keimanan
2. Materi Akhlak
3. Materi Ibadah
4. Materi Halal Bihalal
5. Materi Tasyakuran
6. Materi Peringatan Hari-hari Besar Islam
7. Materi Peringatan Hari-hari Besar Kenegaraan
8. Materi Upacara Pernikahan
9. Materi Santunan Anak-anak Yatim. 107

Selain materi yang berupa makna dan isi kandungan ayat-ayat al-

Qur’an yang diajarkan oleh kyai Sobron kepada santri, namun kyai juga

mengajarkan materi ilmu tajwid, qira’at sab’ah dan lain sebagainya.

Karena ilmu tajwid merupakan pokok hukum dalam bacaan al-Qur’an.

Bila santri belum memahami ilmu tajwid, maka santri akan terus menerus

menghafalnya. Ini adalah tingkat awal yang dilaksanakan oleh kyai Sobron

kepada santri, untuk mengenal ilmu tajwid dan dapat menerapkannya

dalam proses pengajaran seni baca al-Qur’an.

Santri harus dapat menguasai ilmu tajwid, bukan hanya sekedar

mengetahui tetapi harus mempraktekkannya dengan baik dan benar ketika

berlangsungnya proses pengajaran seni baca al-Qur’an.108

b. Lagu dan Tangga Nada (Ilmu Nagham Al-Qur’an)

Membaca al-Qur’an selain wajib menggunakan ilmu tajwid, para

santri juga dianjurkan agar membaca al-Qur’an dengan suara yang indah

dan merdu. Dalam membaca al-Qur’an, para santri hendaknya

mengalunkan lagu-lagu yang sejalan dengan keagungan kitab suci al-

Qur’an, yaitu dengan lagu-lagu Arabi, diantaranya:

1. Bayyati
Bayyati memiliki 4 (empat) tingkatan tangga nada, yaitu:
a. Qorror (dasar)
b. Nawa (menengah)
c. Jawab (tinggi)
d. Jawabul Jawab (paling tinggi)

107
Wawancara Pribadi dengan Ust. Muhammad Hilimi, S.Ag, Pengurus Pondok Pesantren
Al-Qur’aniyyah, Tangerang, 20 Maret 2008.
108
Wawancara Pribadi dengan Ust. Muhammad Hilimi, S.Ag, Pengurus Pondok Pesantren
Al-Qur’aniyyah, Tangerang, 20 Maret 2008.
2. Shobaa
Shobaa memiliki 3 (tiga) tingkatan tangga nada, yaitu:
c. Asyiron (nawa)
d. Ajami (jawab)
e. Quflah Bustanjar

3. Hijaz
Hijaz memiliki 3 (tiga) tingkatan tangga nada, yaitu:
a. Hijaz Kar
b. Hijaz Kar Kur
c. Alwan Hijaz
4. Nahawand

Nahawand memiliki 3 (tiga) tingkatan tangga nada, yaitu:


a. Nawa (menengah)
b. Jawab (tinggi)
c. Quflah Mahur

5. Rost

Rost memiliki 5 (lima) tingkatan tangga nada, yaitu:


a. Nawa (menengah)
b. Jawab (tinggi)
c. Quflah Zinjiron
d. Syabir Alarrost
e. Alwan Rost

6. Sika

Sika memiliki 3 (tiga) tingkatan tangga nada, yaitu:


a. Iraqi (nawa)
b. Turki (jawab)
c. Variasi Raml

7. Jiharka

Jiharka memiliki 2 (dua) tingkatan tangga nada, yaitu:


a. Nawa (menengah)
b. Jawab (tinggi).109

c. Metode

Metode pembelajaran di pondok pesantren Al-Qur’aniyyah

merupakan hal setiap kali mengalami perkembangan dan perubahan,


109
Wawancara Pribadi dengan, KH. Drs. M. Sobron Zayyan, M.A, Pimpinan Pondok
Pesantren Al-Qur’aniyyah, Tangerang, 20 Maret 2008.
sesuai dengan penemuan metode yang lebih efektif dan efisien untuk

mengajarkan materi palajaran. Metode pengajaran yang digunakan oleh

kyai Sobron dan para ustadz berkaitan fungsi dalam pendidikan, yakni

sebagai pengalihan ilmu pengetahuan sehingga mendorong perkembangan

intelektual, pembentukan watak santri dalam keterampilan dan kemahiran

yang diperlukan pada semua bidang yang digunakan.

Berkaitan dengan penggunaan metode pengajaran, yaitu suatu cara

penyampaian bahan pelajaran untuk mencapai tujuan yang ditetapkan,

maka fungsi metode mengajar tidak dapat diabaikan oleh seorang kyai

pondok pesantren Al-Qur’aniyyah, karena metode mengajar tersebut turut

menentukan berhasil tidaknya suatu proses belajar mengajar dan

merupakan bagian yang integral dalam suatu sistem pengajaran, tentunya

didukung juga oleh bentuk atau pola komunikasi yang baik.110

Kyai Sobron dalam mencetak para santri agar dapat membaca al-

Qur’an secara fasih, benar sesuai dengan ilmu tajwid, serta melantunkan

ayat-ayat al-Qur’an sesuai dengan ilmu tentang lagu-lagu dalam al-Qur’an

(ilmu nagham) dan ilmu qira’at yang berlaku, maka diterapkan metode-

metode pengajaran dalam menyampaikan materi atau pesan kepada santri

untuk mempermudah memahami materi atau pesan tersebut. Adapun

metode-metode yang digunakan oleh kyai, adalah sebagai berikut:

1. Metode Penugasan

Metode penugasan merupakan salah satu cara di dalam penyajian

bahan pelajaran kepada santri dimana kyai memberikan sejumlah tugas

110
Wawancara Pribadi dengan, KH. Drs. M. Sobron Zayyan, M.A, Pimpinan Pondok
Pesantren Al-Qur’aniyyah, Tangerang, 20 Maret 2008.
kepada santri untuk mempelajari bahan atau materi, kemudian santri

diperintahkan untuk mempertanggungjawabkannya.

Menurut informan dalam metode ini seorang kyai atau ustadz

menggunakan komunikasi interpersonal dan komunikasi kelompok

kecil, yaitu kyai menugaskan santri untuk mengucapkan kalimat atau

bait lagu, dan santri melanjutkan kalimat atau bait lagu yang telah

diucapkan oleh kyai atau ustadz.

2. Metode Hafalan

Sebagai sebuah metode pengajaran, hafalan pada umumnya

diterapkan pada pelajaran yang bersifat nagham (syair). Dalam metode

ini santri diberikan tugas untuk menghafal beberapa bait atau baris

kalimat dari sebuah al-Qur’an dengan lagu dan tangga nadanya, untuk

kemudian membacakannya di depan seorang kyai.

Menurut informan metode ini, biasanya dilakukan dengan cara

tatap muka melalui komunikasi interpersonal, di mana setiap santri

diharuskan membacakan tugas hafalannya dihadapan kyai atau ustadz,

jika santri hafal dengan baik, maka santri diperbolehkan untuk

melanjutkan tugas hafalan berikutnya.

3. Metode Tanya Jawab

Metode tanya jawab adalah penyampaian pelajaran dengan cara

guru mengajukan pertanyaan dan murid menjawabnya, atau

sebaliknya.

Seorang kyai menyampaikan materi pembelajaran lagu dan nada

yang terdapat dalam seni baca al-Qur’an kepada para santri secara
langsung melalui tatap muka dengan lisan dan menggunakan

komunikasi kelompok kecil, setelah santri mendengarkan materi

tersebut dengan baik, maka kyai mempersilahkan kepada santri yang

hendak bertanya apabila materi lagu dan nada yang diajarkan dirasa

belum dimengerti dan dipahami, kemudian kyai akan menjawab

pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh santri dengan baik.

Menurut informan metode ini dimaksudkan untuk merangsang

santri untuk meningkatkan kembali materi yang telah disampaikan

dahulu, serta untuk mengetahui pemahaman santri terhadap materi

yang disampaikan oleh seorang kyai. Dalam metode tanya jawab ini,

seorang kyai melayani para santri yang belum mengerti mengenai

materi yang telah disampaikan atau juga ingin mendapat pengetahuan

yang lebih mendalam dari pengajaran seni baca al-Qur’an yang telah

disampaikan. 111

4. Metode Membaca

Metode membaca dilakukan dengan cara membaca bersama-sama

atau tadarus. Dalam proses pengajaran seni baca al-Qur’an, seorang

kyai menggunakan metode membaca, yaitu membacakan ayat-ayat al-

Qur’an dengan seninya, lalu santri mengulangi kata demi kata sama

secara bersama-sama seperti yang dilakukan oleh seorang kyai atau

ustadz. Menurut informan dalam metode ini kyai menggunakan

komunikasi kelompok kecil karena bentuk komunikasi seperti ini

sangat membantu kyai dalam mengetahui kemampuan santri dalam

111
Wawancara Pribadi dengan, KH. Drs. M. Sobron Zayyan, M.A, Pimpinan Pondok
Pesantren Al-Qur’aniyyah, Tangerang, 20 Maret 2008.
mengubah sikap dan tindakan santri dalam sehingga memahami materi

yang disampaikan dengan baik.

5. Metode Menyimak

Ketika kyai melafadzkan ayat-ayat al-Qur’an dengan seninya,

santri di harapkan menyimak, menghayati dan mendengarkan ayat-ayat

al-Qur’an yang dilafadzkan oleh kyai. Menurut informan bentuk

komunikasi yang digunakan oleh kyai dalam metode ini adalah

komunikasi interpersonal, karena dengan bentuk komunikasi seperti ini

santri dapat lebih fokus terhadap materi yang disampaikan oleh kyai

atau ustadz.

6. Metode Demonstrasi

Demostrasi merupakan bentuk penyampaian pesan atau materi

dengan cara mempraktekkan, memperagakan barang, kejadian, aturan

dan urutan melakukan sesuatu kegiatan baik secara langsung maupun

melalui penggunaan media komunikasi yang relevan dengan materi

yang sedang disajikan. Demonstrasi dalam hubungannya dengan

penyajian informasi dapat diartikan sebagai upaya peragaan atau

praktek tentang cara melakukan sesuatu atau mengerjakan sesuatu.

Menurut informan komunikasi yang digunakan oleh kyai kepada

santri dalam metode demonstrasi adalah komunikasi interpersonal dan

komunikasi kelompok kecil, di mana santri yang sudah menguasai

materi yang telah disampaikan oleh kyai, kemudian santri

mendemonstrasikan kemampuan mereka dihadapan kyai dan santri-

santri lainnya.
Metode ini sangat merangsang santri untuk lebih aktif dalam

mengikuti proses pembelajaran seni baca al-Qur’an, dapat membantu

santri untuk mengingat lebih lama materi pelajaran yang telah

disampaikan, karena santri tidak hanya mendengar tetapi juga melihat

bahkan mempraktekkannya secara langsung.

Metode ini akan dapat berjalan lebih efektf dan efisien, apabila

materi yang didemonstrasikan ditindaklanjuti oleh santri dalam

kehidupan sehari-hari maupun dengan latihan secara kontinyu

sehingga santri tidak lupa dengan materi tersebut. Dengan penggunaan

metode ini, kyai dengan mudah mengukur dan manilai kemampuan

santri dalam proses pengajaran seni baca al-Qur’an.

7. Metode Motivasi

Metode motivasi merupakan suatu pendorong atau penyemangat

bagi para santri yang mengikuti pelajaran. Bagi santri yang

mempunyai kepandaian atau kemampuan dalam penguasaan materi.

Santri yang sudah terlihat kemampuan dan kemahirannya dalam

menguasai materi yang disampaikan oleh kyai, maka seorang kyai

memprediksikan bahwa santri tersebut sudah bisa dikatakan santri

yang bagus dan baik dalam penilaian. Dengan begitu, santri yang

sudah mahir dalam seni baca al-Qur’an akan diikuti perlombaan dalam

berbagai tingkatan, kemudian seorang kyai akan menerjunkan santri

untuk memanfaatkan ilmu yang sudah didapat ke masyarakat.112

112
Wawancara Pribadi dengan, KH. Drs. M. Sobron Zayyan, M.A, Pimpinan Pondok
Pesantren Al-Qur’aniyyah, Tangerang, 20 Maret 2008.
Menurut informan metode-metode yang digunakan oleh KH. Drs. M.

Sobron Zayyan, M.A, pimpinan pondok pesantren Al-Qur’aniyyah dalam

pengajaran seni baca al-Qur’an mencetak santri agar dapat membaca al-

Qur’an secara fasih, baik dan benar sesuai dengan ilmu tajwid, serta mampu

melantunkannya sesuai dengan ilmu lagu-lagu dalam al-Qur’an (ilmu nagham)

dan ilmu qiro’at yang berlaku ternyata tidak sia-sia, terbukti kebanyakan santri

yang mempunyai kemampuan dan bakat yang mereka miliki dari pengajaran

seni baca al-Qur’an.

D. Analisis Pola Komunikasi Kyai dan Santri Dalam Pengajaran Seni Baca

Al-Qur’an

Pola komunikasi yang sering digunakan oleh KH. Drs. M. Sobron

Zayyan, M.A, dan para ustadz dalam pengajaran seni baca al-Qur’an, adalah

sebagai berikut :

1. Pendekatan Komunikasi Antar Pribadi

Pendekatan komunikasi antar pribadi (komunikasi interpersonal)

dilakukan oleh kyai Sobron dan santri secara tatap muka melalui lisan,

komunikasi ini berlangsung dalam proses pengajaran seni baca al-Qur’an di

dalam kelas, santri yang telah menguasai materi yang diajarkan oleh kyai

Sobron, kemudian mendemonstrasikannya dihadapan beliau. Apabila santri

yang mempunyai kekurangan dalam penguasaan materi, maka santri

berkonsultasi langsung secara pribadi kepada beliau, santri mengungkapkan

permasalahan yang dihadapinya kemudian beliau memberikan solusinya.


Komunikasi antar pribadi ini terjadi di dalam maupun di luar proses

pengajaran seni baca al-Qur’an. Dengan bentuk komunikasi ini, hubungan

antara kyai Sobron dan santri sangat baik, sehingga materi yang diajarkan

cepat dikuasainya. Bentuk komunikasi antar pribadi yang dilakukan oleh

beliau, sangat membantu santri yang mempunyai kesulitan dalam pelajaran

dapat dihadapi. Pentingnya situasi komunikasi antar pribadi (interpersonal),

bagi beliau ialah karena ia dapat mengetahui secara langsung diri santri

selengkap-lengkapnya, artinya untuk mengubah sikap, pendapat dan

perilakunya. Dengan demikian beliau dapat mengarahkannya kepada santri

suatu tujuan sebagaimana yang ia inginkan, yaitu proses pengajaran yang

efektif. 113

2. Komunikasi Kelompok Kecil

Komunikasi kelompok kecil dalam pengajaran seni baca al-Qur’an,

terjadi antara kyai Sobron atau ustadz dengan santri dapat terjadi dialog atau

tanya jawab, dibandingkan dengan komunikasi antar pribadi (interpersonal).

Di pondok pesanteren Al-Qur’aniyyah, santri yang berada di dalam kelas

dikatakan sebagai kelompok yang relatif kecil, berbeda dengan kelompok

besar. Individu-individu dalam kelompok kecil bersifat rasional sehingga

setiap materi seni baca al-Qur’an yang disampaikan kepada santri akan

ditanggapi secara kritis. Dalam situasi kelompok kecil ini, seorang kyai bisa

mengubahnya menjadi komunikasi secara pribadi.

Dalam situasi kelompok kecil, kyai Sobron sebagai seorang komunikator

memperhatikan umpan balik santri, sehingga beliau dapat segera mengubah

113
Wawancara Pribadi dengan Ust. Muhammad Hilimi, S.Ag, Pengurus Pondok Pesantren
Al-Qur’aniyyah, Tangerang, 20 Maret 2008.
gaya komunikasi, dikala kyai Sobron mengetahui bahwa umpan balik dari

santri bersifat negatif, situasi kelompok kecil berlangsung secara tatap muka,

maka tanggapan santri dapat segera diketahui. Umpan balik yang diperlukan

seorang kyai Sobron atau ustadz adalah yang bersifat verbal, karena

komunikasinya ditunjukkan kepada kognisi santri. Jadi, permasalahannya

mengerti atau tidak semuanya itu harus dinyatakan dengan kata-kata.

Keuntungan bagi seorang kyai menggunakan komunikasi kelompok

kecil dalam penyampaian materi terdapat kontak langsung secara pribadi,

umpan balik secara langsung, suasana lingkungan komunikasi dapat diketahui,

sehingga kyai dapat mengetahui tanggapan dan reaksi santri pada saat

menyampaikan materi pelajaran seni baca al-Qur’an. Sehingga bila

komunikasinya tidak berhasil, saat itu juga seorang kyai Sobron atau ustadz

akan mengubah taktiknya. 114

3. Komunikasi Instruksional

Komunikasi instruksional yang digunakan oleh kyai Sobron dalam

pengajaran seni baca al-Qur’an melalui komunikasi secara verbal, yaitu

komunikasi secara langsung dengan lisan. Setiap harinya seorang kyai selalu

menggunakan komunikasi tersebut dalam penyampaian materi pelajaran. Hal

ini bisa terlihat dari adanya instruksi dari kyai kepada santri, dan instruksional

tersebut berupa:

a. Santri diwajibkan untuk membaca dan mendemonstrasikan materi

pelajaran yang sudah disampaikan oleh seorang kyai.

114
Wawancara Pribadi dengan, KH. Drs. M. Sobron Zayyan, M.A, Pimpinan Pondok
Pesantren Al-Qur’aniyyah, Tangerang, 20 Maret 2008.
b. Santri diwajibkan untuk mengikuti pelajaran seni baca al-Qur’an setiap

hari kamis, jam 19.30 wib. Dan hari-hari lain yang sudah ditentukan.

c. Mengingat waktu belajar yang sangat terbatas, maka untuk

meningkatkan wawasan santri mengenai pengajaran seni baca al-

Qur’an, maka ada komunikasi instruksional yang mewajibkan santri

untuk mengikuti pengajaran tersebut, kehadiran, keaktifan, dan

diperhitungkan sebagai faktor penilaian akhir masa belajar

mengajar.115

E. Hasil Yang Dicapai dari Pengajaran Seni Baca Al-Qur’an

Pondok pesantren Al-Qur’aniyyah medapatkan mendapatkan

keberhasilan yang sangat gemilang atas sebuah prestasi yang diraihnya, dan

selama ini dapat dimungkinkan karena didukung oleh bentuk atau pola

komunikasi pengajaran yang baik, metode pengajaran yang baik, tenaga pengajar

yang profesional dan kurikulum yang baik pula. Ada beberapa hasil yang dicapai

oleh pondok pesantren Al-Qur’aniyyah, diantaranya:

1. Pemahaman

Dengan pola-pola komunikasi yang digunakan dan penerapan metode-

metode pengajaran dalam pengajaran seni baca al-Qur’an banyak sekali santri

yang benar-benar memahami pelajaran yang disampaikan oleh KH. Drs. M.

Sobron Zayyan, M.A. Dengan pelajaran tersebut santri dapat mengetahui

makna dan isi kandungan ayat-ayat al-Qur’an, ilmu tajwidnya, mengetahui

115
Wawancara Pribadi dengan, KH. Drs. M. Sobron Zayyan, M.A, Pimpinan Pondok
Pesantren Al-Qur’aniyyah, Tangerang, 20 Maret 2008.
lagu-lagu dan tangga nada yang sesuai dengan kaidah-kaidah seni baca al-

Qur’an.

Dengan begitu, ilmu yang didapat dengan pemahaman santri dalam

pengajaran seni baca al-Qur’an bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari

mereka. Misalnya, ketika santri sedang tadarus, menjadi imam sholat, mereka

menggunakan bacaan ayat-ayat suci al-Qur’an secara tartil, murotal dengan

ilmu tajwid dan lagu yang terdapat di dalamnya.

2. Mencetak Qori dan Qori’ah

Tujuan dari pondok pesantren Al-Qur’aniyyah adalah mencetak santri

agar dapat membaca al-Qur’an secara fasih, baik dan benar sesuai dengan

ilmu tajwid, serta mampu melantunkannya sesuai dengan ilmu nagham dan

ilmu qira’at yang berlaku sehingga santri bisa menjadi qori dan qori’ah yang

profesional. Pengasahan kemampuan bakat santri dalam seni baca al-Qur’an

dilakukan dengan cara mengikuti perlombaan dengan berbagai tingkatan,

setelah santri mengikuti perlombaan tersebut kemudian mendapatkan hasil

yang gemilang, dengan bernagai macam hadiah terutama pergi haji dan

umroh, maka santri dikatakan sukses dalam pelajaran seni baca Al-Qur’an,

sehingga santri tersebut dikatakan sebagai qori dan qori’ah yang profesional .

Adapun keberhasilan dalam mencetak qori dan qori’ah, pondok

pesantren Al-Qur’aniyyah juga melahirkan beberapa qori internasional dan

qori nasional, di mana qori internasional yang belum lama mengikuti

perlombaan di Libia perwakilan DKI Jakarta, yaitu H. Agus Burhannudin.

Pada tingkat nasional, yaitu H. Romelih, ia mewakili Palangkaraya,


Rahmatullah mewakili Lampung, Muttamimah dan Munfarrih mewakili

Propinsi Banten.116

116
Wawancara Pribadi dengan Ust. Abdul Latif, S.Ag, Pengurus Pondok Pesantren Al-
Qur’aniyyah, Tangerang, 20 Maret 2008.
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Pondok pesantren Al-Qur’aniyyah, mendapatkan keberhasilan yang

sangat gemilang atas sebuah prestasi yang diraih dalam pengajaran seni baca al-

Qur’an, dan selama ini dapat dimungkinkan karena didukung oleh bentuk atau

pola komunikasi pengajaran yang baik, metode pengajaran yang bagus, tenaga

pengajar yang profesional dan kurikulum yang baik pula. Sehingga dapat

memungkinkan bagi pengurus dan pengelolah pondok pesantren mampu

menjadikannya sebagai lembaga pendidikan yang kaya akan disiplin, baik ilmu

agama maupun ilmu umum.

Berdasarkan uraian tentang kondisi objektif kegiatan pondok pesantren Al-

Qur-aniyyah dalam mengarahkan bakat masing-masing santri kearah pengkaderan

generasi muda menjadi seorang qori-qoriah, da’i-da’iyah, hafidz-hafidzah, yang

memiliki dasar keagamaan yang berkualitas, yaitu dengan penggunaan pola-pola

komunikasi dan metode pengajaran dilakukan oleh seorang kyai pondok pesantren

Al-Qur’aniyyah dapat menentukan hasil akhir yang memuaskan. Akhirnya dari

uraian tersebut dapat penulis simpulkan bahwa:

1. Pola komunikasi yang digunakan oleh kyai pondok pesantren Al-

Qur’aniyyah terhadap santri dalam pengajaran seni baca Al-Qur’an dari

berbagai tingkatan, terutama pada tingkatan mahir ialah pola komunikasi

verbal yaitu komunikasi secara tatap muka dengan menggunakan lisan

dalam penyampaian materi pelajaran. Selain itu, kyai juga menggunakan


komunikasi instruksional, komunikasi antar pribadi (interpersonal), dan

komunikasi kelompok kecil. Pondok pesantren Al-Qur’aniyyah

menetapkan program-program pengajaran seni baca al-Qur’an untuk

menerapkan kedisiplinan ilmu yang harus ditempuh oleh para santri.

Program pengajaran seni baca al-Qur’an yang diterapkan di pondok

pesantren Al-Qur’aniyyah selain untuk mendidik dan mengajarkan para

santri agar dapat membaca al-Qur’an dengan baik dan benar sesuai dengan

ilmu tajwid, serta dapat melantunkan ayat-ayat al-Qur’an dengan indah

sesuai dengan ilmu lagu-lagu al-Qur’an (ilmu nagham) dan ilmu qira’at,

terdapat tujuan-tujuan lain di dalam program pengajaran seni baca al-

Qur’an tersebut, yaitu tujuan jangka pendek, tujuan jangka menengah dan

tujuan jangka panjang. Dan keberhasilan yang dicapai oleh pondok

pesantren Al-Qur’aniyyah dalam pengajaran seni baca al-Qur’an adalah

pemahaman bagi para santri terhadap isi dan makna al-Qur’an serta ilmu

dan kaidah yang terkandung dalam al-Qur’an, mengenal lagu-lagu maupun

nada-nada dalam al-Qur’an, sehingga tercetak qori dan qoriah dari

berbagai tingkatan, mulai dari tingkat biasa sampai tingkat internasional.

B. Saran

Dari hasil penelitian dan pengamatan penulis terhadap kegiatan pengajaran

seni baca Al-Qur’an yang dilaksanakan di pondok pesantren Al-Qur’aniyyah.

Penulis ingin memberikan sedikit saran kepada pondok pesantren Al-Qur’aniyyah

sekaligus kepada pengurus-pengurus dan kepada para santri yang sekiranya dapat
bermanfaat, guna dijadikan bahan pertimbangan untuk melangkah selanjutnya

dalam melaksanakan kegiatan pengajaran tersebut, adalah sebagai berikut:

1. Bagi pengurus, perlu adanya peningkatan kualitas para guru, agar kegiatan

belajar mengajar dapat terlaksana dengan baik. Serta diharapkan adanya

peningkatan dan lebih mengoptimalkan hasil-hasil pembinaan terhadap

santri. Semua itu, dapat dilakukan dengan cara merekrut tenaga-tenaga

profesional yang mempunyai pengalaman dan pengetahuan dalam seni

baca al-Qur’an.

2. Agar santri menjadi generasi yang kreatif dan maju, perlu kiranya usaha

untuk membekali mereka dengan pengalaman-pengalaman.

3. Perlu adanya kelas khusus bagi santri dalam rangka pengembangan bakat

dan kemampuan dalam seni baca al-Qur’an.

4. Bagi pondok pesantren Al-Qur’aniyyah, agar kegiatan pengajaran seni

baca al-Qur’an yang dilaksanakan di pondok pesantren Al-Qur’aniyyah

berjalan dengan baik perlu kiranya menjalin kerja sama dengan berbagai

pondok pesantren lain.


DAFTAR PUSTAKA

Anshari, Endang Saipuddin, Wawasan Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,
1986.

Basyiruddin Usman, Asnawir, Media Pembelajaran, Jakarta: Ciputat Press, 2002.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia,


Jakarta: Balai Pustaka, 1988, Cet. Ke-1.

……………………………………………, Kamus Besar Bahasa Indonesia,


Jakarta: Balai Pustaka, 1998, Cet. Ke-1.

……………………………………………, Kamus Besar Bahasa Indonesia,


Jakarta: Balai Pustaka, 1995, Cet, Ke-7.

……………………………………………, Kamus Besar Bahasa Indonesia,


Jakarta: Balai Pustaka, 1996.

Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai


Pustaka, 2002, Cet, Ke-3.

Dirdjosanjoto, Pradjata, Memelihara Umat Kyai Pesantren-Kyai Langgar Jawa,


Yogyakarta: LKIS, 1999, Cet, Ke-1.

Effendi, Onong Uchjana, Spektrum Komunikasi, Bandung: Bandar Maju, 1992,


Cet, Ke-1.

…………………………., Dinamika Komunikasi, Bandung: Remaja Rosdakarya,


2000, Cet, Ke-4.

………………………., Kepemimpinan dan Komunikasi, Yogyakarta: Al-Amin


Press, 1996. Cet. Ke-1.

……………………….., Dinamika Komunikasi, Bandung: PT. Remaja


Rosdakarya, 2004, Cet-Ke-6.

………………………., Kepemimpinan dan Komunikasi, Yogyakarta: PT. Al-


Amin Press, 1992, Cet, Ke-1.

Haedari, Amin dkk, Masa Depan Pesantren, Dalam Tantangan Modernitas dan
Tantangan Komplesitas Global, Jakarta: IRD Press, 2004.
Liliweri, Alo, Komunikasi Antar Pribadi, Bandung: PT. Citra Aditya bakti,
1991,Cet. Ke-1.

Langgulung, Hasan, Prndidikan dan Peradaban Islam, Jakarta: Pustaka Al-


Husna, 1983, Cet, Ke-3.

Moleong, Lexy. J, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT. Rosdakarya,


2007, Cet, Ke-23.

Madjid, Nurcholis, Bilik-bilik Pesantren: Sebuah Potret Perjalanan, Jakarta:


Paramadina, 1997.

Puis A. Partanto dan M. Dahlan Al-Barry, Kamus Ilmiah Populer, Surabaya:


Arkola, 1994.

Rosyidi, T. A. Lathief, Dasar-dasar Retorika Komunikasi dan Informasi, Medan:


1985.

Salim, Muhsin, Ilmu Nagham Al-Qur’an, Jakarta: Kebayoran Widya Ripta, 2000.

Sabri, Alisuf, Pengantar Ilmu Pendidikan, Jakarta: UIN Jakarta, 2005, Cet. Ke-1.

Sudjana, Nana, Cara Belajar Siswa Aktif, Bandung: Sinar baru, 1989.

Suryabrata, Sumadi, Metodologi Penelitian, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000,


Cet. Ke-13.

Suyakhmad, Winayno, Pengantar Penelitian Ilmiah, Bandung: Tarsiti, 1986, Cet,


Ke-7.

Susanto, Astrid. S, Komunikasi dalam Teori dan Praktek, Bandung: Bina Cipta,
1947.

………………….., Komunikasi Dalam Teori dan Praktek 1, Bandung: Bina


Cipta, 1998.

Usman, Basyiruddin, Metodologi Pembelajaran Agama Islam, Jakarta: Ciputat


Press, 2002.

Widjaja, H. A. W, Komunikasi dan Hubungan Masyarakat, Jakarta: Bumi Aksara,


1997, Cet. Ke-3.
…………………, Ilmu KomunikasiPengantar Studi, Jakarta: Rine Cipta, 2000,
Cet, Ke-2.

Yusuf, Pawit M, Komunikasi Pendidikan dan Komunikasi Instruksional, Jakarta:


Jakarta Press, 2002, Cet, Ke-1.

Ziemek, Manfred, Pesantren Dalam Perubahan Sosial, Jakarta: P3M. 1986.