Anda di halaman 1dari 3

LEPRA

No. Dokumen : 110.14/C/VII/2/2016

SOP No. Revisi


Tanggal Terbit
:
:
1
2-1-2018
Halaman : 1

UPT Puskesmas dr. Hj. Nia Soniawaty


19720417 200312 2 005
Cilawu
1. Pengertian Lepra adalah penyakit menular, menahun dan disebabkan oleh
Mycobacterium leprae yang bersifat intraselular obligat.
2. Tujuan Sebagai acuan penerapan langkah-langkah penatalaksanaan
Lepra
3. Kebijakan SK Kepala UPT Puskesmas Cilawu nomor 021/SK/PKM-
Clw/I/2018 tentang Kebijakan Panduan Pelayanan Klinis
4. Referensi 1. Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan
Kesehatan Primer tahun 2013;
2. Keputusan Menteri Kesehatan No 514 Th 2015 Tentang
Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter Di Fasilitas Pelayanan
Kesehatan Tingkat Pertama;
3. Peraturan menteri kesehatan no 46 tahun 2015 tentang
akreditasi Puskesmas.
5. Prosedur/ 1. Petugas melakukan pengkajian awal pasien (SOP Pengkajian
Langkah- Awal klinis);
langkah 2. Petugas melakukan pemeriksaan fisik pasien. Didapatkan
tanda patognomis;
a. Pada kulit: Setiap bercak, bintil (nodul), bercak
berbentuk plakat dengan kulit mengkilat atau kering
bersisik. Kulit tidak berkeringat dan berambut.Terdapat
baal pada lesi kulit, hilang sensasi nyeri dan suhu,
vitiligo. Dapat pula ditemukan nodul.
b. Pada saraf: Penebalan nervus perifer, nyeri tekan dan
atau spontan pada saraf, kesemutan, tertusuk-tusuk dan
nyeri pada anggota gerak, kelemahan anggota gerak dan
atau wajah, adanya deformitas, ulkus yang sulit sembuh.
Ekstremitas dapat terjadi mutilasi.
3. Petugas merujuk ke unit laboratorium untuk pemeriksaan
mikroskopis kuman BTA pada sediaan kerokan jaringan
kulit;
4. Petugas menegakkan diagnosis apabila terdapat satu dari
tanda-tanda utama atau cardinal (cardinalsigns), yaitu:
a. Kelainan (lesi) kulit yang mati rasa,
b. Penebalan saraf tepi yang disertai gangguan fungsi saraf,
c. Adanya basil tahan asam (BTA) dalam kerokan jaringan
kulit (slit skin smear)
Petugas mengklasifikasikan Lepra terdiri menjadi 2 tipe,
yaitu Pausibasilar (PB) dan Multibasilar (MB)
PB : bercak kusta jumlah 1-5, penebalan saraf tepi disertai
gangguan fungsi jumlah hanya 1 saraf, kerokan
jaringan kulit BTA negatif
MB : bercak kusta jumlah >5, penebalan saraf tepi disertai
gangguan fungsi jumlah >1 saraf, kerokan jaringan kulit
BTA positif
5. Petugas memulai penatalaksanaan dengan :
a. Non medikamentosa

1
Pasien diberikan informasi mengenai kondisi pasien saat
ini, serta mengenai pengobatan serta pentingnya
kepatuhan untuk eliminasi penyakit.
Higiene diri dan pola makan yang baik perlu dilakukan.
Pasien dimotivasi untuk memulai terapi hingga selesai
terapi dilaksanakan
b. Medikamentosa
Terapi menggunakan Multi Drug Therapy (MDT) pada:
Pasien yang baru didiagnosis kusta dan belum pernah
mendapat MDT.
a. Terapi pada pasien PB:
Pengobatan bulanan: hari pertama setiap bulannya
(obat diminum di depan petugas) terdiri dari: 2
kapsul rifampisin @ 300mg (600mg) dan 1 tablet
dapson/DDS 100 mg.
Pengobatan harian: hari ke 2-28 setiap bulannya: 1
tablet dapson/DDS 100 mg. 1 blister obat untuk 1
bulan. Pasien minum obat selama 6-9 bulan (± 6
blister). Pada anak 10-15 tahun, dosis rifampisin
450 mg, dan DDS 50 mg.
b. Terapi pada Pasien MB:
Pengobatan bulanan: hari pertama setiap bulannya
(obat diminum di depan petugas) terdiri dari: 2
kapsul rifampisin @ 300mg (600mg), 3 tablet
lampren (klofazimin) @ 100mg (300mg) dan 1 tablet
dapson/DDS 100 mg.
Pengobatan harian: hari ke 2-28 setiap bulannya: 1
tablet lampren 50 mg dan 1 tablet dapson/DDS
100 mg. 1 blister obat untuk 1 bulan. Pasien
minum obat selama 12-18 bulan (± 12 blister). Pada
anak 10-15 tahun, dosis rifampisin 450 mg,
lampren 150 mg dan DDS 50 mg untuk dosis
bulanannya, sedangkan dosis harian untuk
lampren 50 mg diselang 1 hari.
c. Dosis MDT pada anak <10 tahun dapat
disesuaikan dengan berat badan: Rifampisin: 10-15
mg/kgBB; Dapson: 1-2 mg/kgBB; Lampren: 1
mg/kgBB. Obat penunjang (vitamin/roboransia)
dapat diberikan vitamin B1, B6, dan B12.Tablet
MDT dapat diberikan pada pasien hamil dan
menyusui.Bila pasien juga mengalami tuberkulosis,
terapi rifampisin disesuaikan dengan tuberkulosis.
Untuk pasien yang alergi dapson, dapat diganti
dengan lampren, untuk MB dengan alergi,
terapinya hanya 2 macam obat (dikurangi DDS)
c. Kriteria rujukan jika terdapat efek samping obat yang
serius; reaksi kusta dengan kondisi ENL melepuh, pecah
(ulcerasi), suhu tubuh tinggi, neuritis; reaksi tipe 1 dengan
bercak ulcerasi/neuritis; reaksi yang disertai komplikasi
penyakit lain yang berat misalnya hepatitis, DM,
hipertensi dan tukak lambung berat.
6. Petugas mencatat kedalam rekam medis

2
7. Bagan Alir

8. Hal-hal yang
perlu
diperhatikan
9. Unit terkait 1. Unit rawat jalan;
2. Unit Rawat inap
3. Pelayanan Kefarmasian
10. Dokumen a. Kartu kunjungan
terkait b. Rekam medik
c. Buku register kunjungan
11. Rekaman No Yang diubah Isi Perubahan Tanggal mulai
historis diberlakukan
perubahan
1. SK Kepala Diganti SK Kepala 2 Januari 2018
UPTD UPT Puskesmas
Puskesmas Cilawu nomor
Cilawu nomor 021/SK/PKM-
440/030/C/VII Clw/I/2018 tentang
/SK/2/2016 kebijakan Panduan
tentang Pelayanan Klinis
pelayanan
klinis.
2. Referensi Ditambah Keputusan 2 Januari 2018
Menteri Kesehatan
No 514 Th 2015
Tentang Panduan
Praktik Klinis Bagi
Dokter Di Fasilitas
Pelayanan Kesehatan
Tingkat Pertama.