Anda di halaman 1dari 3

Bahan Ajar Hikayat

Bahan Ajar
Standar Kompetensi : Memahami berbagai hikayat, novel Indonesia/novel terjemahan
Kompetensi Dasar : Menemukan unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik hikayat

Pengertian hikayat
Hikayat adalah salah satu bentuk sastra prosa terutama dalam bahasa Melayu yang berisikan tentang
kisah, cerita dan dongeng. Umumnya mengisahkan tentang kehebatan maupun kepahlawanan
seseorang lengkap dengan keanehan, kesaktian, serta mukjizat tokoh utama.
Ciri-ciri hikayat
a. sebagai suatu jenis sastra, hikayat memiliki cara tersendiri dalam menampilkan realitas kehidupan
b. sebagai sebuah karangan hikayat bermediakan bahasa Melayu
c. berhubung pada dasarnya hal yang diungkapkan pengarang disampaikan dengan jelas menceritakan,
meriwayatkan, dan mendorongkan, maka jenis karangan yang digunakan adalah narasi.
d. dilandasi oleh adanya unsur cerita/dongeng. maka hikayat berkesan rekaan/fiksional
e. hikayat umumnya bermotifkan keajaiban dan kesaktian.
f. bentuk karangan yang digunakan adalah prosa
g. isi cerita berkisar pada tokoh raja dan keluarganya (istana sentries)
Unsur intrinsik hikayat
Tokoh
Tokoh termasuk unsur cerita yang sangat penting. Tidak ada cerita tanpa tokoh. Tokoh-tokoh dalam
cerita bersifat unik, tokoh yang satu berbeda dengan yang lainnya. Tokoh lazim pula disebut pelaku
cerita. Tokoh biasanya berwujud manusia, tetapi dapat pula berwujud binatang atau benda yang
diinsankan.
Sumardjo (dalam Wahid, 2004:76) mengatakan melalui tokoh, pembaca dapat mengikuti jalannya
cerita dan mengalami berbagai pengalaman batin seperi yang dialami tokoh cerita.
Zulfahnur (1996/1997:29) menjelaskan bahwa berdasarkan fungsi penampilanya, tokoh dalam cerita
dibedakan menjadi tiga, yaitu tokoh protagonis, antagonis, dan trigonis. Protagonis adalah tokoh yang
diharapkan berfungsi menarik simpatik dan empati pembaca. Antagonis atau tokoh lawan adalah pelaku
dalam cerita yang berfungsi sebagai penantang utama dari tokoh protagonis. Tritagonis adalah tokoh
yang berpihak pada protagonis atau berpiihak pada antagonis atau berfungsi sebagai penengah tokoh-
tokoh itu.
Baik tokoh protagonis maupun antagonis biasanya menjadi fokus cerita. Tokoh yang menjadi fokus ini
biasanya disebut tokoh utama.
Tema
Menurut Surana (2002:56) tema adalah pokok permasalahan suatu cerita yang terus menerus
dibicarakan sepanjang cerita. Pengarang sendiri tidak menyebutkan apa yang menjadi latar belakang
atau tema ceritanya, tetapi dapat kita ketahui setelah kita membaca cerita itu secara keseluruhan.
Dengan kata lain titik tolak sebuah cerita merupakan sebuah yang tersirat bukan tersurat. Pengarang
hendak menyajikan suatu cerita ialah hendak mengemukakan suatu gagasan, ide atau pikiran utama
yang mendasari sebuah karya sastra itu yang disebut tema.
Amanat
Amanat dapat diartikan sebagai pesan berupa ide, gagasan, ajaran moral dan nilai-nilai kemanusiaan
yang ingin disampaikan atau dikemukakan pengarang lewat cerita. Amanat pengarang ini dapat secara
implisit dan eksplisit di dalam karya sastra implisit misalnya disiratkan dalam tingkah laku tokoh-tokoh
cerita. Sedangkan eksplisit, bila dalam tengah atau akhir cerita pengarang menyampaikan pesan-pesan,
nasihat pemikiran dan sebagainya (Zulfahnur, 1996:25-26).
Sehubungan dengan hal tersebut diatas, Sudjiman (1988:57) mengemukakan bahwa amanat adalah
ajaran moral atau pesan yang disampaikan oleh pengarang. Sedangkan Esten (1995:91) berpendapat
bahwa amanat adalah pemecahan dan jalan keluar yang diberikan pengarang didalam sebuah karya
sastra terhadap semua yang dikemukakan.
Berdasarkan pandangan tersebut diatas, dapat dikatakan bahwa jika permasalahan yang diajukan
dalam cerita juga diberikan jalan keluarnya oleh pengarang maka jalan keluarnya itulah yang disebut
amanat.
Latar
Unsur fiksi yang menunjukan dimana dan kapan kejadian-kejadian dalam cerita berlangsung disebut
latar. Adapula yang menyebutkan landasan tumpu, yakni lingkungan tempat peristiwa terjadi. Latar
secara garis besar dapat dikategorikan dalam tiga bagian yakni latar tempat, yang berkaitan dengan
geografis, latar waktu yang berkaitan dengan masalah historis dan latar sosial yang berkaitan dengan
kemasyarakatan.
Abrams dalam Nurgiantoro (1995:216) mengemukakan bahwa latar adalah landasan tumpu, menyaran
pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan hubungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa
yang diceritakan. Dapat dikatakan bahwa latar-latar tersebut sebagai ruangan atau tempat tokoh-tokoh
melandaskan laku dan alasan psikologi pertumbuhan tokoh.
Menurut Sudjiman (1986:64) secara sederhana dapat dikatakan bahwa segala keterangan, petunjuk
pengacauan yang berkaitan dengan waktu ruang dan suasana terjadinya peristiwa dalam suatu karya
sastra membangun latar cerita. Selanjutnya dijelaskan bahwa latar dapat dibedakan menjadi latar sosial
dan latar fisik/ materi, kelompok sosial dan sifat, adab kebiasaan, cara hidup, bahasa dan lain-lain. yang
melatari peristiwa. Adapun yang dimaksud dengan latar fisiknya, yaitu bangunan, daerah dan
sebagainya. Latar fisik yang menimbulkan dugaan atau tautan pikiran tertentu disebut latar spiritual.
Menurut Semi (1988:46) latar dalam prosa fiksi termasuk hikayat dibedakan menjadi empat macam
yaitu:
1. Latar alam di dalamnya dilukiskan perihal lokasi atau tempat peristiwa dalam ruang alam itu.
2. Latar waktu, yaitu latar yang melukiskan kapan peristiwa itu terjadi, pada tahun berapa, pada musim
apa, jam berapa, senja hari, tengah hari, malam hari, akhir bulan, dan sebagainya.
3. Latar sosial, yaitu yang melukiskan dalam lingkungan sosial mana peristiwa itu terjadi, lingkungan
para buru pabrik, lingkungan nelayan dan sebagaina.
4. Latar ruang, yaitu latar yang melikiskan dalam ruangan yang bagaimana peristiwa itu berlangsung,
didalam kamar, dalam aula dan sebagainya.
Alur
Menurut Surana (2002:54) didalam sebuah cerita rekaan berbagai peristiwa disajikan dengan urutan
tertentu. Peristiwa yang diurutkan itu membangun bidang punggung cerita yaitu alur.
Menurut Laniampe dan Sumiman (2001:35) bahwa sebuah peristiwa akan menjadi penyebab atau akibat
dari peristiwa yang lain yang pada akhirnya akan berhubungan tanpa ada peristiwa yang terlepas.
Hubungan antara satu peristiwa atau sekelompok peristiwa dengan peristiwa yang lain inilah yang
disebut plot. Hal ini sejalan dengan pandangan Staton (Nurgiantoro, 1995:133) bahwa alur adalah cerita
berisikan urutan kejadian, namun setiap kejadian itu hanya dihubungkan sebab akibat. Peristiwa satu
disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain. Karena alur dibangun berdasarkan
hubungan sebab akibat, maka alur tidak dapat berdiri sendiri. Alur selalu berhubungan dengan elemen
lainnya, seperti watak, tokoh, setting, tema dan konflik.
Berdasarkan pandangan-pandangan tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa alur adalah struktur
penceritaan prosa fiksi yang di dalamnya berisi rangkaian kejadian peristiwa yang disusun berdasarkan
hokum sebab akibat (kausalitas) serta logis.
Sudut Pandang
Menurut Lubbock (dalam Sudjiman, 1965:75) mengatakan bahwa sudut pandang mengandung arti
hubungan diantara tempat penderita berdiri dan ceritanya. Didalam atau di luar cerita. Hubungan ini
ada dua macam, yaitu hubungan pencerita diaan dengan ceritanya, dan hubungan pencerita akuan
dengan ceritanya. Hudson mengemukakan istilah point of view dengan arti pikiran atau pandangan
pengarang yang dijalin dalam karyanya. Sudut pandang dalam kesusastraan terdiri atas:
1. Sudut pandang fisik, yaitu posisi didalam waktu dan ruang yang digunakan pengarang di dalam
pendekatan materi cerita;
2. Sudut pandang mental, yaitu perasaan sikap pengarang terhadap masalah didalam cerita;
3. Sudut pandang pribadi, yaitu hubungan yang dipilih pengarang di dalam membawakan materi,
sebagai orang kedua, atau orang ketiga.

Menurut Surana (2002:51) sudut pandang terbagi atas:


a. Cara orang pertama. Pengarangnya memakai istilah “aku”atau”saya”. Dalam hal ini pengarang
sendiri menjadi tokoh didalam cerita. Pengarang tidak selalu menjadi tokoh utama tetapi ia hanya
memegang peranan kecil, ia hanya sekedar pencerita tentang tokoh utama.
b. Cara orang ketiga. Disini pengarang memakai istilah “ia”atau”dia” atau memakai nama orang.
Pengarang berdiri di luar pagar seolah-olah dia dalang yang menceritakan pelaku-pelakunya. Dari cara
ketiga ini, pengarang dapat bersikap menceritakan apa perbuatan tokoh-tokoh dalam cerita sedang ia
tidak tahu pikiran dan perasaan mereka. Sikap kedua pengarang menceritakan tokoh-tokohnya, dan
mengetahui jalan perasaan dan pikiran tokoh-tokoh cerita.