Anda di halaman 1dari 19

MAKLAH KEPERAWATAN MATERNITAS II

“PENYAKIT SIFILIS”

DISUSUN OLEH
Kelompok 20

1. Vadilla Rachma Zein (170103094)

2. Wahyu Dwi Rahmawati (170103096)

PROGRAM S1 KEPERAWATAN

UNIVERSITAS HARAPAN BANGSA PURWOKERTO

2018/2019
Kata Pengantar

Puji syukur saya ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
berkat dan rahmat-Nya saya dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
“Penyakit sifilis”. Pada kesempatan ini saya mengucapkan terimakasih kepada
pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan makalah ini.

Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk melaksanakan tugas


mata kuliah Maternitas II. Saya sadar bahwa masih banyak kekurangan di dalam
penyusunannya.Saya senantiasa menerima kritik dan saran dari pembaca demi
kesempurnaan makalah ini.

Akhir kata saya berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi yang
membacanya. Terimakasih sebesar-besarnya di sampaikan atas bantuan dan
partisipasinya.

Purwokerto , 26 Maret 2019

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................... ii
DAFTAR ISI ………………………………………………………… iii

BAB I PENDAHULUAN
A Latar Belakang ………………………………………….. 1
B Rumusan masalah ……………………………………… 2
C Tujuan Penulisan………………………………………… 2

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian ……………………………………….…....... 3
B..Etiologi ………………………………………..……….. 3
C..Patofisiologi …………………………………...…........ 4
D. Tanda Dan Gejala ………..……….. ………….……..... 4
E..Klasifikasi ………..………..…… ……………..……... 9
F.. Komplikasi ……………………………………....…..... 11
G. Penularan ………..………..………..……….................. 11
H. Diagnosis ………..………..………..………..……….... 12
I...Penatalaksanaan Dan Terapi ………..………..……….. 12

BAB III PENUTUP


A Kesimpulan ................................................................... 15
B Saran ............................................................................. 15

DAFTAR PUSTAKA...................................................................... 16

iii
1i
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Sifilis merupakan Infeksi Menular Seksual (IMS) yang disebabkan oleh


bakteri Treponema pallidum. Sifilis bersifat kronik dan sistemik karena
memiliki masa laten, dapat menyerang hampir semua alat tubuh, menyerupai
banyak penyakit, dan ditularkan dari ibu ke janin (Djuanda, 2015).

Sifilis memiliki dampak besar bagi kesehatan seksual, kesehatan


reproduksi, dan kehidupan sosial. Populasi berisiko tertular sifilis meningkat
dengan adanya perkembangan dibidang sosial, demografik, serta
meningkatnya migrasi penduduk (Kemenkes RI, 2011).

Penularan sifilis berhubungan dengan perilaku seksual. Perilaku seksual


adalah bentuk perilaku yang didorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan
jenis maupun sesama jenis. Bentuk perilaku ini dapat bermacam-macam,
mulai dari perasaan tertarik sampai berkencan, bercumbu, dan bersenggama
Perilaku seksual dapat dibagi menjadi perilaku seksual tidak berisiko dan
perilaku seksual berisiko. Perilaku seksual tidak berisiko memiliki makna
perilaku yang tidak merugikan diri sendiri, dilakukan kepada lawan jenis, dan
diakui masyarakat. Perilaku seksual berisiko diartikan sebagai perilaku seksual
yang cenderung merusak, baik bagi diri sendiri maupun orang lain , Perilaku
seksual berisiko adalah keterlibatan individu dalam melakukan aktivitas seks
yang memiliki risiko terpapar dengan darah, cairan sperma, dan cairan vagina
yang tercemar bakteri penyebab sifilis. Jumlah pasangan seksual yang banyak
merupakan salah satu perilaku seksual berisiko. Hal ini terjadi karena jumlah
pasangan seksual yang banyak sebanding dengan banyaknya jumlah hubungan
seksual yang dilakukan .

1
B. Rumusan Masalah
Adanya manfaat yang dicapai dalam penulisan makalah ini :
1. Apa yang dimaksud dengan sifilis?
2. Apa etiologi dari sifilis?
3. Apa patofisiologi dari sifilis?
4. Bagaimana tanda dan gejala sifilis?
5. Apa klasifikasi sifilis?
6. Apa saja komplikasi dari sifilis itu?
7. Bagaimana cara penularan dari sifilis itu?
8. Apa itu dari diagnosis?
9. Apa saja penatalaksanaan dan terapi sifilis?

C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan yang dicapai dalam penulisan makalah ini adalah
1. Untuk mengetahui definisi sifilis
2. Untuk mengetahui etiologi dari sifilis
3. Untuk mengetahui patofisiologi dari sifilis
4. Untuk mengetahui tanda dan gejala siilis
5. Untuk mengetahui klasifikasi sifilis
6. Untuk mengetahui komplikasi sifilis
7. Untuk mengetahui penularan sifilis
8. Untuk mengetahui diagnosis
9. Untuk mengetahui penatalaksanaan dan terapi

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian
Sifilis atau penyakit Raja Singa Adalah salah satu penyakit menular
seksual (PMS) yang kompleks, disebabkan oleh infeksi bakteri Treponema
pallidum. Perjalanan penyakit ini cenderung kronis dan bersifat sistemik.
Hampir semua alat tubuh dapat diserang, termasuk sistem kardiovaskuler dan
saraf. Selain itu wanita hamil yang menderita sifilis dapat menularkan
penyakitnya ke janin sehingga menyebabkan sifilis kongenital yang dapat
menyababkan kelainan bawaan atau bahkan kematian. Jika cepat terdeteksi
dan diobati, sifilis dapat disembuhkan dengan antibiotika. Tetapi jika tidak
diobati, sifilis dapat berkembang ke fase selanjutnya dan meluas ke bagian
tubuh lain di luar alat kelamin (Hartono Olivia R, 2008).

Sifilis memiliki dampak besar bagi kesehatan seksual, kesehatan


reproduksi, dan kehidupan sosial. Populasi berisiko tertular sifilis meningkat
dengan adanya perkembangan dibidang sosial, demografik, serta
meningkatnya migrasi penduduk (Kemenkes RI, 2011).

B. Etiologi
Penyebab infeksi sifilis yaitu Treponema pallidum. Treponema pallidum
merupakan salah satu bakteri spirochaeta. Bakteri ini berbentuk spiral.
Terdapat empat subspecies yang sudah ditemukan, yaitu Treponema pallidum
pallidum, Treponema pallidum pertenue, Treponema pallidum carateum, dan
Treponema pallidum endemicum.
Treponema pallidum pallidum merupakan spirochaeta yang bersifat
motile yang umumnya menginfeksi melalui kontak seksual langsung, masuk
ke dalam tubuh inang melalui celah di antara sel epitel. Organisme ini juga
dapat menyebabkan sifilis. ditularkan kepada janin melalui jalur
transplasental selama masa-masa akhir kehamilan.
Struktur tubuhnya yang berupa heliks memungkinkan Treponema
pallidum pallidum bergerak dengan pola gerakan yang khas untuk bergerak di

3
dalam medium kental seperti lender (mucus). Dengan demikian organisme ini
dapat mengakses sampai ke sistem peredaran darah dan getah bening inang
melalui jaringan dan membran mucosa.

C. Patofisiologi
Perjalanan penyakit ini cenderung kronis dan bersifat sistemik. Hampir
semua alat tubuh dapat diserang, termasuk sistem kardiovaskuler dan saraf.
Selain itu wanita hamil yang menderita sifilis dapat menularkan penyakitnya
ke janin sehingga menyebabkan sifilis kongenital yang dapat menyababkan
kelainan bawaan atau bahkan kematian. Jika cepat terdeteksi dan diobati,
sifilis dapat disembuhkan dengan antibiotika. Tetapi jika tidak diobati, sifilis
dapat berkembang ke fase selanjutnya dan meluas ke bagian tubuh lain di luar
alat kelamin.

D. Tanda Dan Gejala


Gejala biasanya mulai timbul dalam waktu 1-13 minggu setelah
terinfeksi rata-rata 3-4 minggu. Infeksi bisa menetap selama bertahun-tahun
dan jarang menyebabkan kerusakan jantung, kerusakan otak maupun
kematian. Infeksi oleh Treponema pallidum berkembang melalui 4 tahapan:
1. Fase Primer
Terbentuk luka atau ulkus yang tidak nyeri (cangker) pada tempat
yang terinfeksi yang tersering adalah pada penis, vulva atau vagina.
Cangker juga bisa ditemukan di anus, rektum, bibir, lidah, tenggorokan,
leher rahim, jari-jari tangan atau bagian tubuh lainnya. Biasanya
penderita hanya memiliki 1 ulkus, tetapi kadang-kadang terbentuk
beberapa ulkus. Cangker berawal sebagai suatu daerah penonjolan kecil
yang dengan segera akan berubah menjadi suatu ulkus (luka terbuka),
tanpa disertai nyeri. Luka tersebut tidak mengeluarkan darah, tetapi jika
digaruk akan mengeluarkan cairan jernih yang sangat menular. Kelenjar
getah bening terdekat biasanya akan membesar, juga tanpa disertai nyeri.
Luka tersebut hanya menyebabkan sedikit gejala sehingga seringkali
tidak dihiraukan. Luka biasanya membaik dalam waktu 3-12 minggu dan
sesudahnya penderita tampak sehat secara keseluruhan.
2. Fase Sekunder
4
Fase sekunder biasanya dimulai dengan suatu ruam kulit, yang
muncul dalam waktu 6-12 minggu setelah terinfeksi. Ruam ini bisa
berlangsung hanya sebentar atau selama beberapa bulan. Meskipun tidak
diobati, ruam ini akan menghilang. Tetapi beberapa minggu atau bulan
kemudian akan muncul ruam yang baru.
Pada fase sekunder sering ditemukan luka di mulut. Sekitar 50%
penderita memiliki pembesaran kelenjar getah bening di seluruh
tubuhnya dan sekitar 10% menderita peradangan mata. Peradangan mata
biasanya tidak menimbulkan gejala, tetapi kadang terjadi pembengkakan
saraf mata sehingga penglihatan menjadi kabur.
Sekitar 10% penderita mengalami peradangan pada tulang dan
sendi yang disertai nyeri. Peradangan ginjal bisa menyebabkan bocornya
protein ke dalam air kemih. Peradangan hati bisa menyebabkan sakit
kuning (jaundice). Sejumlah kecil penderita mengalami peradangan pada
selaput otak (meningitis sifilitik akut), yang menyebabkan sakit kepala,
kaku kuduk dan ketulian.
Di daerah perbatasan kulit dan selaput lendir serta di daerah kulit
yang lembab, bisa terbentuk daerah yang menonjol (kondiloma lata).
Daerah ini sangat infeksius (menular) dan bisa kembali mendatar serta
berubah menjadi pink kusam atau abu-abu. Rambut mengalami
kerontokan dengan pola tertentu, sehingga pada kulit kepala tampak
gambaran seperti digigit ngengat. Gejala lainnya adalah merasa tidak
enak badan (malaise), kehilangan nafsu makan, mual, lelah, demam dan
anemia.

3. Fase Laten
Setelah penderita sembuh dari fase sekunder, penyakit akan
memasuki fase laten dimana tidak nampak gejala sama sekali. Fase ini
bisa berlangsung bertahun-tahun atau berpuluh-puluh tahun atau bahkan
sepanjang hidup penderita. Pada awal fase laten kadang luka yang infeksi
kembali muncul .
4. Fase Tersier

5
a. Pada fase tersier penderita tidak lagi menularkan penyakitnya. Gejala
bervariasi mulai ringan sampai sangat parah. Gejala ini terbagi
menjadi 3 kelompok utama :
1) Sifilis tersier jinak.
Pada saat ini jarang ditemukan. Benjolan yang disebut gumma
muncul di berbagai organ; tumbuhnya perlahan, menyembuh
secara bertahap dan meninggalkan jaringan parut. Benjolan ini
bisa ditemukan di hampir semua bagian tubuh, tetapi yang paling
sering adalah pada kaki dibawah lutut, batang tubuh bagian atas,
wajah dan kulit kepala.
2) Sifilis kardiovaskuler.
Biasanya muncul 10-25 tahun setelah infeksi awal. Bisa
terjadi aneurisma aorta atau kebocoran katup aorta. Hal ini bisa
menyebabkan nyeri dada, gagal jantung atau kematian.
3) Neurosifilis.
Sifilis pada sistem saraf terjadi pada sekitar 5% penderita
yang tidak diobati. 3 jenis utama dari neurosifilis adalah
neurosifilis meningovaskuler, neurosifilis paretik dan neurosifilis
tabetik.
a) Neurosifilis meningovaskuler
Merupakan suatu bentuk meningitis kronis. Gejala yang
terjadi tergantung kepada bagian yang terkena :
o Jika hanya otak yang terkena akan timbul sakit kepala,
pusing, konsentrasi yang buruk, kelelahan dan kurang
tenaga, sulit tidur, kaku kuduk, pandangan kabur, kelainan
mental, kejang, pembengkakan saraf mata (papiledema),
kelainan pupil, gangguan berbicara (afasia) dan kelumpuhan
anggota gerak pada separuh badan.
o Jika menyerang otak dan medulla spinalis gejala berupa
kesulitan dalam mengunyah, menelan dan berbicara;
kelemahan dan penciutan otot bahu dan lengan;
kelumpuhan disertai kejang otot (paralisa spastis);
ketidakmampuan untuk mengosongkan kandung kemih dan
peradangan sebagian dari medulla spinalis yang

6
menyebabkan hilangnya pengendalian terhadap kandung
kemih serta kelumpuhan mendadak yang terjadi ketika otot
dalam keadaan kendur (paralisa flasid).
b) Neurosifilis paretik.
Juga disebut kelumpuhan menyeluruh pada orang gila.
Berawal secara bertahap sebagai perubahan perilaku pada usia
40-50 tahun. Secara perlahan mereka mulai mengalami
demensia. Gejalanya berupa kejang, kesulitan dalam berbicara,
kelumpuhan separuh badan yang bersifat sementara, mudah
tersinggung, kesulitan dalam berkonsentrasi, kehilangan
ingatan, sakit kepala, sulit tidur, lelah, letargi, kemunduran
dalam kebersihan diri dan kebiasaan berpakaian, perubahan
suasana hati, lemah dan kurang tenaga, depresi, khayalan akan
kebesaran dan penurunan persepsi.
c) Neurosifilis tabetik.
Disebut juga tabes dorsalis. Merupakan suatu penyakit
medulla spinalis yang progresif, yang timbul secara bertahap.
Gejala awalnya berupa nyeri menusuk yang sangat hebat pada
tungkai yang hilang-timbul secara tidak teratur. Penderita
berjalan dengan goyah, terutama dalam keadaan gelap dan
berjalan dengan kedua tungkai yang terpisah jauh, kadang
sambil mengentakkan kakinya. Penderita tidak dapat merasa
ketika kandung kemihnya penuh sehingga pengendalian
terhadap kandung kemih hilang dan sering mengalami infeksi
saluran kemih. Bisa terjadi impotensi, Bibir, lidah, tangan dan
seluruh tubuh penderita gemetaran. Mereka mengalami kejang
disertai nyeri di berbagai bagian tubuh, terutama lambung.
Kejang lambung bisa menyebabkan muntah. Kejang yang
sama juga terjadi pada rektum, kandung kemih dan pita suara.
Rasa di kaki penderita berkurang, sehingga bisa terbentuk luka
di telapak kakinya. Luka ini bisa menembus sangat dalam dan
pada akhirnya sampai ke tulang di bawahnya.
5. Gejala sifilis kongenital (kelainan kongenital dini)
7
a. Kelainan kongenital dini
1) Makulopapular pada kulit
2) Retinitis
3) Terdapat tonjolan kecil pada mukosa
4) Hepatosplenomegali
5) Ikterus
6) Limfadenopati
7) Osteokondrosis
8) Kordioretinitis
9) Kelainan pada iris mata
b. Kelainan kongenital terlambat (lanjut)
1) Gigi hutchinnson
2) Gambaran mulberry pada gigi molar
3) Keratitis intertinal
4) Retaldasi mental
5) Hidrosefalus

E. Klasifikasi
Penyakit sifilis memiliki empat stadium yaitu primer, sekunder, laten
dan tersier. Tiap stadium perkembangan memiliki gejala penyakit yang
berbeda-beda dan menyerang organ tubuh yang berbeda-beda pula.
1. Stadium Dini atau I (Primer)
Tiga minggu setelah infeksi, timbul lesi pada tempat masuknya
Treponema pallidum. Lesi pada umumnya hanya satu. Terjadi afek
primer berupa penonjolan-penonjolan kecil yang erosif, berkuran 1-2
cm, berbentuk bulat, dasarnya bersih, merah, kulit disekitarnya tampak
meradang, dan bila diraba ada pengerasan. Kelainan ini tidak nyeri.
Dalam beberapa hari, erosi dapat berubah menjadi ulkus berdinding
tegak lurus, sedangkan sifat lainnya seperti pada afek primer. Keadaan
ini dikenal sebagai ulkus durum. Sekitar tiga minggu kemudian terjadi
penjalaran ke kelenjar getah bening di daerah lipat paha. Kelenjar
tersebut membesar, padat, kenyal pada perabaan, tidak nyeri, tunggal
dan dapat digerakkan bebas dari sekitarnya. Keadaan ini disebut
sebagai sifilis stadium 1 kompleks primer. Lesi umumnya terdapat pada
alat kelamin, dapat pula di bibir, lidah, tonsil, putting susu, jari dan

8
anus. Tanpa pengobatan, lesi dapat hilang spontan dalam 4-6 minggu,
cepat atau lambatnya bergantung pada besar kecilnya lesi.
2. Stadium II (Sekunder)
Pada umumnya bila gejala sifilis stadium II muncul, sifilis stadium I
sudah sembuh. Waktu antara sifilis I dan II umumnya antara 6-8
minggu. Kadang-kadang terjadi masa transisi, yakni sifilis I masih ada
saat timbul gejala stadium II. Sifat yang khas pada sifilis adalah jarang
ada rasa gatal. Gejala konstitusi seperti nyeri kepala, demam, anoreksia,
nyeri pada tulang, dan leher biasanya mendahului, kadang-kadang
bersamaan dengan kelainan pada kulit. Kelainan kulit yang timbul
berupa bercak-bercak atau tonjolan-tonjolan kecil. Tidak terdapat
gelembung bernanah. Sifilis stadium II seringkali disebut sebagai The
Greatest Immitator of All Skin Diseases karena bentuk klinisnya
menyerupai banyak sekali kelainan kulit lain. Selain pada kulit, stadium
ini juga dapat mengenai selaput lendir dan kelenjar getah bening di
seluruh tubuh.
3. Sifilis Stadium III
Lesi yang khas adalah guma yang dapat terjadi 3-7 tahun setelah
infeksi. Guma umumnya satu, dapat multipel, ukuran milier sampai
berdiameter beberapa sentimeter. Guma dapat timbul pada semua
jaringan dan organ, termasuk tulang rawan pada hidung dan dasar
mulut. Guma juga dapat ditemukan pada organ dalam seperti lambung,
hati, limpa, paru-paru, testis dll. Kelainan lain berupa nodus di bawah
kulit, kemerahan dan nyeri.
4. Sifilis Tersier
Termasuk dalam kelompok penyakit ini adalah sifilis
kardiovaskuler dan neurosifilis (pada jaringan saraf). Umumnya timbul
10-20 tahun setelah infeksi primer. Sejumlah 10% penderita sifilis akan
mengalami stadium ini. Pria dan orang kulit berwarna lebih banyak
terkena. Kematian karena sifilis terutama disebabkan oleh stadium ini.
Diagnosis pasti sifilis ditegakkan apabila dapat ditemukan Treponema
pallidum. Pemeriksaan dilakukan dengan mikroskop lapangan gelap
sampai 3 kali (selama 3 hari berturut-turut). Tes serologik untuk sifilis

9
yang klasik umumnya masih negatif pada lesi primer, dan menjadi
positif setelah 1-4 minggu. TSS (tes serologik sifilis) dibagi dua, yaitu
treponemal dan non treponemal. Sebagai antigen pada TSS non spesifik
digunakan ekstrak jaringan, misalnya VDRL, RPR, dan ikatan
komplemen Wasserman/Kolmer. TSS nonspesifik akan menjadi negatif
dalam 3-8 bulan setelah pengobatan berhasil sehingga dapat digunakan
untuk menilai keberhasilan pengobatan. Pada TSS spesifik, sebagai
antigen digunakan treponema atau ekstraknya, misalnya Treponema
pallidum hemagglutination assay (TPHA) dan TPI. Walaupun
pengobatan diberikan pada stadium dini, TSS spesifik akan tetap
positif, bahkan dapat seumur hidup sehingga lebih bermakna dalam
membantu diagnosis.

F. Komplikasi
1. Komplikasi Pada Janin Dan Bayi
Dapat menyebabkan kematian janin, partus immaturus dan partus
premature. Bayi dengan sifilis kongenital memiliki kelainan pada
tulang, gigi, penglihatan, pendengaran, gangguan mental dan tumbuh
kembang anak. Oleh karena itu, setiap wanita hamil sangat dianjurkan
untuk memeriksakan kesehatan janin yang dikandungnya. Karena
pengobatan yang cepat dan tepat dapat menghindari terjadinya
penularan penyakit dari ibu ke janin.
2. Komplikasi Terhadap Ibu
a. Menyebabkan kerusakan berat pada otak dan jantung
b. Kehamilan dapat menimbulkan kelainan dan plasenta lebih besar,
pucat, keabu-abuan dan licin
c. Kehamilan <16 minggu dapat menyebabkan kematian janin
d. Kehamilan lanjut dapat menyebabkan kelahiran prematur dan
menimbulkan cacat.
G. Penularan
Sifilis bisa ditularkan atau diturunkan dari seorang ibu kepada anak
dalam kandungannya. Sipilis kongenital, melalui infeksi transplasental
terjadi pada saat janin berada di dalam kandungan ibu yang menderita
sifilis. Penularan karena mencium atau pada saat menimang bayi dengan
sifilis kongenital jarang sekali terjadi. Cara penularan sifilis lainnya antara
10
lain melalui transmisi darah. Hal ini bisa terjadi jika pendonor darah
menderita sifilis pada stadium awal. Ada lagi kemungkinan penularan cara
lain, yaitu penularan melalui barang-barang yang tercemar bakteri
penyebab sifilis, Treponema pallidum, walaupun itu baru secara teoritis
saja, karena kenyataannya boleh dikatakan tidak pernah terjadi.
Jadi dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa resiko penularan
penyakit syphilis dapat terjadi jika:
1. Melakukan hubungan seksual dengan seseorang yang mengidap
penyakit sifilis, jika tidak (pernah) melakukan hubungan seksual aktif
dengan penderita sifilis maka dia tidak akan punya resiko terkena
penyakit ini,
2. Ibu menderita sifilis saat sedang mengandung kepada janinnya lewat
transplasental,
3. Lewat transfusi darah dari darah penderita sifilis.
H. Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejalanya. Diagnosis
pasti ditegakkan berdasarkan hasil pemeriskaan laboratorium dan
pemeriksaan fisik. Infeksi pada janin terjadi minggu 16 kehamilan dapat
terjadi; partus prematurus, kelahiran mati, cacat bawaan pada janin.
Diagnosis pada ibu hamil agak sulit di tegakkan karena pada ibu
hamil terjadi perubahan hormon. Diagnosis dapat ditegakkan
1. Pemeriksaan serologik: VDRL (veneral diesses research laboratory).
2. Dengan mempergunakan lapangan gelap, untuk membuktikan
langsung terdapat spirokaeta treponea palidum.
3. Fungsi lumbal untuk membuktikan neurosifilis.

I. Penatalaksanaan Dan Terapi


Penatalaksanaan sifilis utamanya adalah menggunakan injeksi
benzil benzatin penicillin G secara intramuskular.
1. Antibiotik
Antibiotik pilihan untuk sifilis adalah benzil benzatin penicillin G
yang diberikan secara intramuskular. Rekomendasi dosis oleh
Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia adalah :
a. Stadium primer dan sekunder : 2,4 juta IU secara intramuskular,
dosis tunggal

11
b. Stadium laten : 2,4 juta IU secara intramuskular, setiap minggu
pada hari ke-1, 8, dan 15.
Alternatif antibiotik pada pasien yang alergi penicillin atau
bila penicillin tidak tersedia adalah :
a. Doxycycline 2 x 100 mg per oral selama 14 hari untuk stadium
primer dan sekunder, atau selama 28 hari untuk sifilis laten.
b. Azithromycin 2 gram per oral dosis tunggal untuk stadium
primer .
2. Sifilis Tersier
Regimen terapi yang direkomendasikan untuk sifilis tersier
selain neurosifilis pada orang dewasa yaitu benzathine penicillin G 2,4
juta IU intramuskular setiap minggu selama 3 minggu. Pada
neurosifilis dan sifilis okular direkomendasikan pemberian aqueous
crystallinepenicillin G 18-24 juta IU per hari (3-4 juta unit IV setiap 4
jam atau kontinyu) selama 10-14 hari dengan regimen alternatif
penicillin prokain 2,4 juta IU intramuscular per hari ditambah
probenesid 500 mg oral 4 kali sehari selama 10-14 hari.
3. Sifilis dengan HIV
Berdasarkan rekomendasi CDC 2015, tidak ada regimen sifilis
yang lebih efektif untuk mencegah neurosifilis pada pasien dengan
HIV positif dibandingkan dengan HIV negatif. Pasien dengan HIV
memiliki resiko komplikasi neurologi pada sifilis stadium awal, sering
mengalami kegagalan terapi, memiliki risiko lebih tinggi untuk terjadi
reinfeksi, dan respon serologi lebih lambat dibandingkan dengan
pasien tanpa infeksi HIV.
Regimen terapi yang direkomendasikan untuk sifilis primer
dan sekunder pada orang dewasa dengan HIV adalah sama dengan
orang dewasa umumnya. Regimen yang dapat digunakan adalah
benzil benzatin penicillin G 2,4 juta IU intramuskular dosis tunggal.
Regimen terapi yang direkomendasikan untuk sifilis laten yaitu benzil
benzatin penicillin G 2,4 juta IU intramuskular dosis tunggal untuk
sifilis laten awal, dan selama 3 minggu pada sifilis laten akhir.
4. Sifilis Kongenital
Sifilis kongenital dapat diklasifikasikan menjadi empat,
yaitu proven atau highly probabale, possible, less likely, dan unlikely.
Pada proven, highly probable, atau possible, regimen yang
direkomendasikan adalah:
12
1. Aqueous crystalline penicillin G 100.000-150.000 IU/kg/hari
diberikan 50.000 IU/kg/dosis intravena setiap 12 jam pada 7 hari
pertama, dan setiap 8 jam pada hari selanjutnya hingga 10 hari
2. Prokain penicillin G 50.000 IU/kg intramuskular setiap hari
selama 10 hari.
Pada less likely, regimen yang direkomendasikan adalah
benzil benzatin penicillin G 50.000 IU/kg intramuskular dosis
tunggal.
Pada unlikely, tidak ada penatalaksanaan yang diperlukan.
Benzil benzatin penicillin G 50.000 IU/kg intramuskular dapat
dipertimbangkan apabila hasil tes nontreponema positif.

BAB III
PENUTUP

13
A. Kesimpulan

Penyakit Sifilis merupakan salah satu penyakit menular seksual


(PMS). Lesi sifilis bisa terlihat jelas ataupun tidak terlihat dengan jelas.
Penampakan lesi bisa dipastikan hampir seluruhnya terjadi karena
hubungan seksual.

Dapat menyerang seluruh organ tubuh dan dapat ditularkan pada


bayi di dalam kandungan melalui plasenta. Pada Sifilis Kongenital terjadi
pada bulan ke-4 kehamilan. Penyebab infeksi sifilis yaitu Treponema
pallidum. Treponema pallidum merupakan salah satu bakteri spirochaeta.

Gejala biasanya mulai timbul dalam waktu 1-13 minggu setelah


terinfeksi; rata-rata 3-4 minggu. Infeksi bisa menetap selama bertahun-
tahun dan jarang menyebabkan kerusakan jantung, kerusakan otak maupun
kematian. Infeksi oleh Treponema pallidum berkembang melalui 4 tahapan
yaitu fase primer, sekunder, laten dan tersier. Penularan karena mencium
atau pada saat menimang bayi dengan sifilis kongenital jarang sekali
terjadi, transfusi darah dari darah penderita sifilis, transplasenta,
melakukan hubungan seksual dengan seseorang yang mengidap penyakit
sifilis.

B. Saran

Adapun saran yang diberikan kepada pembaca dan penulis mengenai


makalah ini adalah diharapkan penulis dapat mengembangkan dan melanjutkan
penulisan makalah mengenai komunikasi ini diharapkan hasil penulisan
makalah ini dapat dijadikan sebagai bahan bacaan dan ilmu pengetahuan.

DAFTAR PUSTAKA

14
Hiday Varney, Helen, dkk. 2006. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Edisi 4.
Jakarta : EGC

Djuanda adhi,dkk. 2005.Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. edisi IV. Jakarta :

https://www.alomedika.com/penyakit/dermatovenereologi/sifilis/penatalaksan
aan.
Bobak. 2004. Buku Ajar Keperawatan Maternitas. EGC: Jakarta
Fahmi, Sjaiful D. 2003. Penyakit Menular Seksual. FK UI: Jakarta

15