Anda di halaman 1dari 4

1.

Porositas

Porositas adalah fraksi ruang pori dalam batuan, atau dapat dikatakan sebagai kemampuan batuan
reservoar untuk menyimpan fluida. Secara matematis dinyatakan dengan :

Φ(%)=((Volume of pores)/(Bulk volume))×100%

Porositas batuan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain ukuran butir, bentuk butir,
sortasi, dan fabrics.

Terdapat dua macam porositas batuan, berdasarkan tingkat efektivitasnya, yaitu :

 Porositas efektif; dimana tiap pori saling terhubung.


 Porositas non-efektif; dimana tiap pori saling tertutup.

Selain itu, berdasarkan pembentukannya, porositas dapat dibedakan menjadi :

 Porositas primer; porositas batuan yang terbentuk ketika/seiring dengan batuan tersebut
terbentuk. Porositas primer dapat berkurang akibat terbebani (overburden) oleh batuan di
atasnya, atau akibat proses sementasi.
 Porositas sekunder; porositas batuan yang terbentuk setelah terbentuknya batuan tersebut,
akibat adanya proses disolusi dan rekahan.

Dalam kegiatan eksplorasi Minyak dan Gas Bumi, perlu diperhatikan juga tingkat kualitas porositas
batuan, yang oleh Koesomadinata (1980) diklasifikasikan menjadi :

 0 – 5 % : Diabaikan (negligible)
 5 – 10 % : Buruk (poor)
 10 – 15% : Cukup (fair)
 15 – 20 % : Baik (good)
 20 – 25 % : Baik sekali (very good)
 >25 % : Istimewa (excellent)

Dalam analisa kuantitatif data log, porositas dapat dihitung berdasarkan data Log Sonik, Log Densitas,
maupun Log Neutron.

a. Perhitungan Porositas berdasarkan Log Sonik

Dengan berdasarkan pada persamaan Wyllie, porositas (Φe) pada batuan clean dapat diperoleh
dengan :
Φe=((DT–DTma)/(DTfl–DTma))⋅1/CP

Sedangkan pada batuan shaly, porositas dapat dihitung dengan :

Φe=[((DT–DTma)/(DTfl–DTma))⋅1/CP]-Vsh[((DTsh–DTma)/(DTfl–DTma))]

Dimana : Φe = Porositas efektif, DT = Waktu transit gelombang dari data Log Sonik (μs/m), DTma =
Waktu transit gelombang pada matriks batuan (μs/m), DTfl = Waktu transit gelombang pada fluida
(μs/m), CP = Faktor kompaksi; CP=(DTsh)/100, DTsh = waktu transit gelombang pada serpih (μs/m).

b. Perhitungan Porositas berdasarkan Log Densitas (Φd)

Berdasarkan data log Densitas, porositas (Φd) pada batuan yang clean dapat diperoleh dengan :

Φd=((ρma-ρlog)/(ρma-ρfl))

Sedangkan pada batuan yang shaly, dengan :

Φd=[((ρma-ρlog)/( ρma-ρfl))]-Vsh[((ρma-ρsh)/(ρma-ρfl))]

Dimana : Φd = porositas dari Log Densitas, ρma = nilai densitas matriks batuan, ρlog = nilai densitas
dari pembacaan data log, ρma = nilai densitas fluida, ρsh = densitas serpih.

c. Perhitungan Porositas berdasarkan Log Neutron (Φn)

Berdasarkan data Log Neutron, porositas pada batuan yang clean dapat dihitung dengan :

Φn=[(1,02⋅Φnlog)+0,0425]

Sedangkan pada batuan yang shaly, dengan :

Φn=[(1,02⋅Φnlog)+0,0425]-(Vsh⋅Φnsh)

Dimana : Φnlog = nilai porositas Log Neutron, Φnsh = nilai porositas serpih.

d. Perhitungan Porositas berdasarkan Log Neutron-Densitas

Porositas efektif (Φe) juga dapat dihitung dengan menggunakan crossplot antara Log Densitas dengan
Neutron, yaitu :

 Pada zona Minyak Bumi ; Φe=(Φn+Φd)/2


 Pada zona Gas ; Φe=√((Φn^2+Φd^2 )/2)

Dimana : Φn = porositas dari perhitungan berdasar data Log Neutron, Φd = porositas dari perhitungan
berdasar data Log Densitas.

2. Permeabilitas

Permeabilitas, kemampuan pori batuan untuk meloloskan fluida. Konsepnya diperkenalkan oleh H.
Darcy di tahun 1856, yang dinyatakan dalam :

Q=K(P1–P2 )A/(μ.L)
Dimana : Q = laju aliran fluida (cm3/sec), A = luas penampang media berpori (cm2), μ = viskositas
fluida (cps), P1–P2 = perbedaan tekanan (atm), L = panjang media berpori (cm), K = permeabilitas
(Darcy).

Permeabilitas dapat diklasifikasikan menjadi :

 Permeabilitas absolut (K) = (250.phi3/Swi)2; kemampuan batuan meloloskan satu jenis fluida
yang 100% jenuh.
 Permeabilitas efektif; kemampuan batuan meloloskan satu macam fluida apabila terdapat dua
macam fluida yang terpisah.
 Permeabilitas relatif; perbandingan antara permeabilitas absolut dan efektif.

Skala kualitas dari permeabilitas suatu batuan (Koesoemadinata, 1980) :

 < 5 mD : Ketat (tight)


 5 – 10 mD : Cukup (fair)
 10 – 100 mD : Baik (good)
 100 – 1000 mD : Baik sekali (very good)

Perhitungan permeabilitas dapat dilakukan dengan menggunakan metode, yang salah satunya
adalah Coates Free Fluid Index yang dikembangkan oleh Coates tahun 1973.

k=[(Φ/C)^2⋅(FFI/BVI)]^2

dimana : k = permeabilitas, Φ = porositas, C = konstanta Coates, BVI = Bulk Volume


Irreducible, FFI = Free Fluid Index (FFI = Φ – BVI).

3. Saturasi Air

Saturasi air adalah persentasi volume pori batuan yang terisi air, dimana pada umumnya suatu
reservoar dapat terisi oleh perpaduan air dan hidrokarbon. Saturasi hidrokarbon (Sh) terhadap
saturasi air (Sw) dalam reservoar dapat dihitung dari :

Sh = (1 – Sw), dimana Sw = (Vw/Vp).100%

Saturasi air dapat dibedakan menjadi dua, yaitu saturasi air total (SWt) dan saturasi air efektif (SWe).
Saturasi air total adalah rasio antara volume air total dengan porositas total. Sedangkan saturasi air
efektif adalah rasio volume air bebas (free water volume) dengan porositas efektif.
SWt=(BVW+CBW)/Φt

Swe=BVW/Φe

Dimana : BVW = Free Volume Water; bagian dari air yang masih dapat
bergerak/mengalir, CBW = Clay Bound Water; air yang terkandung dalam lempung, Φt = Porositas
total, Φe = Porositas efektif.

Perhitungan saturasi air (Sw) secara sederhana, pada batuan clean, dapat dilakukan dengan
persamaan Archie yaitu :

Sw=((A⋅Rw)/(Φ^M⋅RT ))^(1/N)

dimana : A = Tortuosity Factor, M = Faktor semetasi, N = Eksponen saturasi, Φ = Porositas, Rw =


Resistivitas air formasi pada suhu formasi, RT = Resistivitas formasi.

Untuk batuan shaly, perhitungannya dapat dilakukan dengan persamaan Simandoux :

Sw=(((Vsh/Rsh)^2+(4⋅Φe^M)/(A⋅Rw(1-Vsh)⋅RT)-Vsh/Rsh)/((2Φe^M)/(A⋅Rw (1-Vsh ) )))^(1⁄2)

Dimana : Vsh = volume serpih, Rsh = resistivitas serpih.

Terdapat suatu irreducible water (SWirr), yaitu air yang tertahan oleh surface tension pada permukaan
butiran dan mengisi celah-celah yang paling kecil.