Anda di halaman 1dari 8

PHSCOSOCIAL DEVELPMENT

Disusun Guna Memenuhi Tugas


Mata Kuliah Psikologi

Disusun Oleh
Kelompok 3
1. Anggun Anisa
2. Dwi Nurkhofifah
3. Ria Ayu Kartika
4. Wisnu Cahyadi
Program Studi Jurusan Administrasi Kesehatan
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan RS. Husada
2019
Daftar Isi
Halaman Judul ........................................................ i
Kata Pengantar ....................................................... ii
Daftar Isi ................................................................ iii

BAB I Pendahuluan ...............................................1


A.Latar Belakang
B. Rumusan Masalah .........................................
BAB 1
Pendahuluan
A.Latar Belakang

Psycosocial Development adalah sebuah teori yang


dikembangkan oleh seorang tokoh bernama Erik Homberg
erikson. Erik H. Erikson Lahir Pada 15 Juni 1902 di Jerman
Selatan dalam keluarga single parent,
ia dijuluki sebagai seorang tokoh yang selalu dikaitkan dengan
istilah krisis identitas. Untuk menemukan makna hidupnya ia
mengembara jauh dari rumah selama masa remajanya. Waktu di
wina Erikson bertemu dan atas seizin Anna freud menikahi joan
serson seorang penari seniman dan guru berkembangsaan kanada
yang juga menjalani sesi analisis.
Teori Psikokosial dalam kaitannya dengan perkembangan
manusia berarti bahwa tahap-tahap kehidupan seseorang dari
lahir sampai mati dibentuk oleh pengaruh-pengaruh sosial yang
berinteraksi dengan suatu organisme yang menjadi matang secara
analisis dan psikologi Teori Psycosocial Development ini sendiri
membagi manusia ke dalam 8 Fase/Tahapan
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan Latar Belakang diatas maka dapat
ditentukan rumusan masalah dalam makalah ini sebagai
berikut
1. Apa yang dimaksud Tahapan Psycosocial Develpment?
2. Bagaimana manfaat Pscosocial Developmen dalam
perkembangan anak-anak
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui Tahapan Pscosocial Develoment
2. Untuk Mengetahui dan menerapkan manfaat pscosocial
Development dalam perkembangan anak-anak
BAB 2 Perumusan Masalah
A.Tahapan Pscosocial Development
Dalam teori ini Erikson membagi manusia kedalam 8 stages / 8
tingkatan mulai dari saat mereka masih bayi sampai di usia dimana mereka
sudah tidak produktif lagi. Pada tingkat ke-1 (usia baru lahir sampai 18
bulan) Erikson menjelaskan tentang konflik yang terjadi saat itu yaitu Trust
vs Mistrust. Biasanya anak di usia tersebut akan percaya pada siapa saja yang
dapat memberikan perhatian lebih kepada mereka, sehingga mereka
merasakan kenyamanan dan ketenangan saat berada di dekat orang tersebut
misalnya adalah saat berada di dekat orang tua mereka. Sebaliknya, mereka
akan merasa tidak nyaman dan tidak tenang bahkan tidak bisa mempercayai
mereka apabila berada di tengah orang - orang asing yang tidak mereka
kenal. Tingkat ke-2 (usia 2 - 3 tahun).
Konflik yang terjadi adalah Autonomy vs Shame and Doubt.
Sebagian besar Ibu - Ibu di dunia sering mengeluh pada anak - anak mereka
yang berusia 2 - 3 tahun. Mereka mengeluh karena anak - anak mereka
menjadi nakal dan terkesan susah diatur. Sebenarnya hal tersebut adalah sifat
alami yang akan terjadi karena anak - anak di usia tersebut memiliki rasa
ingin tau yang besar akan hal - hal baru yang ditemui mereka. Tak jarang
mereka akan aktif bertanya saat mereka melihat orang - orang dewasa
melakukan aktivitas mereka. Baiknya, jangan terlalu melarang mereka untuk
melakukan hal - hal baru yang ingin mereka ketahui. Berikanlah penjelasan
kepada mereka dengan bahasa yang lembut agar mereka tidak salah
mengartikan hal - hal tersebut. Jika anda berhasil membuat mereka yakin
akan semua itu mereka akan menjadi anak - anak yang memiliki rasa percaya
diri yang tinggi di kemudian hari. Namun, apabila anda tidak sukses
memberikan penjelasan kepada mereka, mereka akan menjadi anak - anak
yang pemalu dan ragu - ragu dalam menghadapi sesuatu. Karena bisa jadi
mereka tidak yakin dengan pengetahuan yang mereka dapat sebelumnya.
Tingkatan yang ke-3 (usia 3 sampai 5 tahun) yaitu tingkatan antara
Initiative vs Guilt .
Tahap ini juga bisa disebut sebagai tahap exploration. Bagi anda yang
memiliki anak - anak di usia tersebut ajaklah anak - anak anda ke tempat -
tempat yang dapat membantu mereka meng-explore semua hal - hal baru
yang ada di sekeliling mereka; misalnya permainan di alam bebas dengan
mengajak mereka ke tempat - tempat bernuansa alam seperti kebun binatang
mungkin bisa jadi pilihan yang tepat untuk menumbuhkan rasa ingin tau
mereka terhadap macam - macam suaka yang ada di alam ini. Apabila anda
dapat mengajarkan semua hal - hal yang bermanfaat, maka mereka akan
memiliki sifat - sifat dari orang - orang yang memiliki tujuan dalam hidup
karena bisa jadi saat mereka meng-explore, mereka mendapatkan initiatif
untuk mempertahankan kelangsungan hidup dari suaka - suaka tersebut.
Tingkat ke-4 (usia 6 - 11 tahun) antara Industry vs Inferiority.
Usia ini adalah saat anak - anak mulai merasakan pendidikan
akademis dan bersosialisasi terhadap lingkungan dan teman - teman
sebayanya. Baiknya anda tidak "melepaskan" anak - anak anda pada usia ini.
Pendidikan akademis memang penting untuk membantu perkembangan otak
anak - anak anda, tapi pendidikan di rumah juga tidak kalah pentingnya.
Jangan sampai kita sebagai orang tua "lepas kendali" dan akhirnya anak -
anak kita lah yang menjadi korban dan terjerumus dalam hal - hal negatif.
Tingkat ke-5 (usia 12 - 18 tahun) konflik yang terjadi Identity vs Role
Confusion. Usia remaja adalah usia yang rentan terhadap hal - hal negatif.
Apalagi di zaman sekarang ini yang serba canggih. Salah - salah alat
komunikasi pun bisa menjadi perusak moral anak - anak. Jangan terlalu
mengekang anak - anak remaja karena bisa jadi mereka akan menjadi
pemberontak nantinya. Karena di usia ini adalah usia dimana mereka sedang
mencari jati diri mereka. Mereka akan berpikir "saya adalah sesuatu" yang
sudah bisa hidup mandiri dan tidak butuh perlindungan dari orang tua.
Menjadi sahabat berbagi dengan anak - anak lebih baik daripada menjadi
musuh bagi kebebasan mereka. Biarlah mereka ber-ekspresi sesuai dengan
jiwa muda mereka asalkan itu hal - hal positif. Tingkat ke-6 (usia 19 - 40
tahun) adalah tahap Intimacy vs Isolation.
Tahap ini adalah tahap dimana orang - orang membutuhkan hubungan
yang lebih dekat dengan orang - orang yang dianggap bisa memberikan
kenyamanan dan kebahagiaan untuk mereka. Oleh sebab itu banyak mereka
yang sudah berpacaran memutuskan untuk menikah karena mereka ingin
hubungan mereka dengan orang yang dicintai semakin terjalin erat. Dalam
bidang ekonomi pun mereka akan cenderung ingin mandiri, apalagi bagi
anak - anak yang sudah bekerja. Mereka cenderung "tidak mau diatur" dalam
mengelola uang hasil kerja mereka. Tingkat ke-7 (usia 40 - 65 tahun)
Generativity vs Stagnation. Orang - orang yang berada di usia tersebut
biasanya sudah tidak memiliki minat untuk bekerja lagi. Mereka cenderung
ingin memberikan apa yang telah mereka dapat kepada anak - anak mereka.
Misalnya anda adalah seorang pengusaha yang memiliki perusahaan sendiri,
maka anda akan berpikir untuk memberikan usaha tersebut kepada anak -
anak mereka. Tingkat ke-8 (usia 65 tahun - tutup usia) Ego Integrity vs
Despair.
Masa - masa ini akan masa mengenang apa yang telah mereka capai
semasa muda. Bagi mereka yang sukses dalam hidup kemungkinan besar
akan berbahagia saat mereka tutup usia nanti. Sebaliknya bagi mereka yang
tidak merasa sukses akan merasa kecewa dan menyesal saat tutup usia nanti.
Semua ini merupakan teori yang terjadi di kehidupan nyata. Kebahagiaan
kita tergantung dari seberapa kita merasa bahagia. Bahagia tidak harus
memiliki banyak uang, tapi saat kita melihat anak - anak kita bisa menjadi
"berguna" bagi sesama itu juga merupakan kebahagiaan hidup.