Anda di halaman 1dari 63

SPESIFIKASI UMUM

Nama Pekerjaan 1 Pembangunan Baru Instalasi air Bersih Di RSUD Kabupaten Ende.
Data teknis Proyek sebagai berikut :
 Nama Pekerjaan :
Pekerjaan Pembangunan Baru Instalasi Air Bersih Di RSUD
Kabupaten Ende
 Item Pekerjaan: Secara umum meliputi Pekerjaan Sipil:
pembangunan reservoar dan bangunan pelengkapnya, pekerjaan
pipa :suplai dan pemasangan pipa GIP, dan aksesorisnya;
pekerjaan pompa dan Listrik.

Lokasi Pekerjaan 2 Lokasi Pekerjaan sistem penyediaan air bersih, yaitu:.


a. Di Area RSUD Kabupaten Ende

Uraian Proyek 3 Pekerjaan pokok yang harus diselesaikan adalah pembangunan


sarana penyediaan air baku yang terdiri dari item – item pekerjaan
sebagai berikut :

1) Pekerjaan Beton (Bangunan Reservoar)


2) Pekerjaan Sumur, Pompa dan listrik
Pekerjaan 4 1. Kontraktor wajib menyediakan medan/tempat kerja dan daerah
Persiapan kerja termasuk sewa tanah yang diperlukan dan pembersihan
medan kerja dari tanaman/tumbuhan agar siap dilakukan
konstruksi.
2. Sebelum kegiatan fisik dimulai Kontraktor harus :
- Melaksanakan uitzet, pengukuran dengan pesawat ukur,
untuk mendapatkan gambar Mutual Chek awal (MC 0)
- Memasang patok – patok tetap, patok – patok bantu,
bouwplank profil yang peil – peilnya diambil dari peil pokok
- Memasang patok as bangunan dan batas bangunan yang
dikerjakan
3. Patok titik tetap bangunan harus dipasang di tempat yang aman
tidak terusik oleh pelaksanaan pekerjaan
4. Patok as, profil, bouwplank yang dipasang harus kokoh tidak
mudah berubah
5. Untuk kontrol peil sehubungan besarnya beda tinggi maka harus
dibuat bouwplank untuk peil – peil bantu
6. Setelah uitzet selesai dikerjakan, Kontraktor harus segera
meminta Direksi untuk mendapat persetujuan.
7. Kontraktor harus membersihkan lapangan kerja untuk jalur pipa
dan bangunan rencana dari semua tanaman atau benda lainnya,
kecuali jika terdapat bangunan permanen.
Gambar Desain, 5 1. Pelaksanaan fisik konstruksi harus dikerjakan sesuai dengan
Gambar Shop gambar rencana pelaksanaan (gambar bestek) dan gambar detail
Drawing dan As- yang telah disetujui Pejabat Pembuat Komitmen.
Built Drawing
2. Apabila terdapat ketidaksamaan antara gambar desain dengan
keadaan di lapangan, Kontraktor harus memberitahukannya
kepada Direksi untuk penetuan lebih lanjut.
3. Kontraktor wajib menyiapkan gambar kerja (shop drawing) yang
dihasilkan dari pengukuran lapangan terbaru yang disetujui oleh
Direksi.
4. Shop drawing disiapkan dalam format A3 dan harus
mendapatkan persetujuan direksi sebelum memulai pekerjaan.
5. Pekerjaan yang dilaksanakan tidak berdasarkan gambar (shop
drawing) yang disetujui oleh Direksi menjadi tanggungan
Kontraktor sendiri. Terhadap hal ini Direksi berhak meminta
Kontraktor untuk membongkar tanpa adanya biaya tambahan.
Dalam hal Kontraktor melaksanakan pekerjaan diluar ketentuan
tanpa persetujuan Pejabat Pembuat Komitmen maka hal fisik
pekerjaan tidak dapat diperhitungkan dalam pembayaran
pekerjaan.
6. Gambar terbangun/As Built Drawing :
‐ Setiap selesainya satu bagian pekerjaan, Kontraktor wajib
menyiapkan As Built Drawing dalam format A3. Gambar ini
harus menyajikan informasi detail dan menggambarkan
kondisi actual pelaksanaan di lapangan.
‐ As Built Drawing harus disetujui oleh Direksi dan menjadi
dasar dalam perhitungan pembayaran.

Ukuran 6 1. Ukuran-ukuran dapat dilihat pada gambar desain. Ukuran-


ukuran yang belum tercantum atau kurang jelas dapat ditanyakan
pada Direksi.
2. Apabila terdapat ketidaksesuaian antara spesifikasi teknis
dengan gambar rencana maka spesifikasi teknis lebih mengikat.
3. Apabila terdapat ketidaksesuaian antara skala gambar dengan
angka ukuran yang tercantum maka ukuran yang mengikat
dengan urutan :
a. Ukuran tertulis
b. Ukuran skala gambar
4. Apabila ukuran dalam gambar pelaksanaan tidak sesuai dengan
keadaan di lapangan, Kontraktor harus memberitahukan kepada
Direksi untuk mendapatkan penentuan selanjutnya.

Mulai Pekerjaan 7 1. Untuk memulai pelaksanaan pekerjaan, Kontraktor memperoleh


dan Serah Terima Surat perintah Mulai Kerja (SPMK) dan penyerahan areal
Area Kerja pekerjaan dari Pejabat Pembuat Komitmen.
2. Kontraktor wajib mengkoordinasikan kepada pemerintah
setempat dan masyarakat tentang rencana kegiatan pelaksanaan
pekerjaan.
Rencana Kerja 8 1. Selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kalender terhitung dari tanggal
penunjukan/penetapan pemenang pelelangan Kontraktor harus
sudah menyerahkan program/rencana kerja terperinci termasuk
metode pelaksanaan yang akan diaplikasikan untuk pelaksanaan
pekerjaan, dan data personil yang akan ditugaskan.
2. Time Schedule secara detail yang dilengkapi dengan :
- Rencana pengerahan tenaga.
- Rencana penggunaan peralatan.
- Volume kegiatan bagian-bagian pekerjaan.
- Rencana penggunaan material.
- Gambar tahapan kegiatan pekerjaan dan lain-lain.
- Dilengkapi dengan rencana kemajuan pekerjaan.
3. Rencana kerja diatas dibuat oleh Kontraktor dan dimintakan
persetujuan kepada Direksi.
4. Apabila diperlukan, Kontraktor wajib mengadakan
penyempurnaan atas rencana kerja tersebut atau sehubungan
dengan adanya keterlambatan, perubahan-perubahan
pelaksanaan, pekerjaan tambah-kurang yang kemudian harus
mendapat persetujuan Direksi.
Keterlambatan 9 1. Keterlambatan penyerahan pekerjaan terhitung dari batas waktu
Pekerjaan pelaksanaan, Kontraktor dikenakan denda sebesar 1/1.000 (1
permil) dari Nilai Kontrak untuk setiap hari kelambatan.
2. Apabila jumlah denda kelambatan mencapai batas maksimum
yaitu 10% dari nilai kontrak, maka hubungan kontrak
akandiputuskan, dan Pihak I berhak menunjuk Pihak II untuk
menyelesaikan pekerjaan selanjutnya.

Laporan 10 1. Kontraktor wajib membuat Laporan Bulanan dalam format A4


Kemajuan dan disetujui oleh Direksi.
Pekerjaan
2. Laporan bulanan mencakup informasi tentang progress
(Bulanan)
pekerjaan yang sudah dilaksanakan dalam bulan berjalan,
rencana kerja bulan ke depan, foto dokumentasi pekerjaan
bulanan. Laporan ini mencakup juga tabel penggunaan material,
tenaga kerja dan alat.
Laporan 11 1. Kontraktor wajib menyediakan laporan harian yang menyatakan
Kemajuan informasi progrees hari ini dan rencana kerja keesokan harinya.
Pekerjaan
2. Laporan harian dibuat dalam format A4 dan harus mendapat
(Harian)
persetujuan Direksi.
3. laporan harian dibuat setiap hari untuk mencatat hal-hal sebagai
berikut:
• Catatan jumlah tenaga kerja.
• Catatan material/bahan meliputi : bahan yang akan
digunakan dan stock bahan yang ada.
• Jumlah alat yang digunakan.
• Jenis kegiatan bagian konstruksi yang dilaksanakan pada
hari tersebut.
• Hasil fisik pekerjaan yang dicapai.
• Keadaan cuaca (cerah, hujan, dsb.).
Jam Kerja 12 1. Kontraktor dapat menentukan sendiri jam kerja bagi tenaga
kerjanya dengan mengacu pada peraturan tenaga kerja yang
berlaku.
2. Dalam hal Kontraktor akan bekerja di luar jam kerja/lembur maka
Kontraktor harus memberitahukan kepada Direksi pekerjaannya
secara tertulis sekurang-kurangnya 24 jam sebelumnya untuk
mendapatkan persetujuan.

Bahan/Material 13 1. Mendatangkan material ke lokasi pekerjaan :


Bangunan untuk • Sebelum mengadakan material kerja, maka Kontraktor wajib
Pelaksanaan mengajukan permohonan tertulis kepada Direksi tentang jenis
Pekerjaan dan spesifikasi material yang akan didatangkan. Material yang
digunakan harus memenuhi persyaratan teknis dalam
spesifikasi teknis. Segala biaya yang timbul pada pengajuan
material ini menjadi tanggung jawab Kontraktor.
• Bahan-bahan yang setelah diperiksa Direksi dapat
diterima/disetujui, maka bahan tersebut masuk di gudang Job
Site dan di bawah pengawasan Direksi pekerjaan, tidak boleh
ditarik keluar guna pekerjaan Kontraktor yang lain, kecuali
atas persetujuan tertulis atas Direksi.
• Bahan-bahan yang didatangkan di lokasi pekerjaan tetapi
tidak memenuhi persyaratan dan ditolak Direksi, harus dibawa
keluar lokasi pekerjaan dengan batas waktu paling lama tiga
hari terhitung dari keputusan penolakan oleh Direksi. Biaya
pengeluaran bahan tersebut menjadi beban Kontraktor.
• Penggantian tipe/spesifikasi material karena sebab tertentu
harus mendapat persetujuan Direksi.
2. Pemeriksaan material dan kualitas pekerjaan.
• Pemeriksaan material oleh Direksi didasarkan pada syarat-
syarat bahan pada Spesifikasi Teknis ini.
• Apabila dipandang perlu, Direksi berhak meminta kepada
Kontraktor untuk memeriksakan kualitas material ke pihak
independen dengan tanggungan Kontraktor.
• Direksi/Petugas Proyek berhak mengadakan pemeriksaan
berkala dan pemeriksaan ulang terhadap bahan-bahan yang
sudah disetujui. Bila dari hasil pemeriksaan ulang ternyata
memang tidak memenuhi syarat, maka material tersebut harus
diganti tanpa adanya biaya tambahan.

Peralatan 14 1. Kontraktor harus dan wajib menyediakan sendiri semua jenis alat
peralatan maupun perlengkapan kerja yang diperlukan untuk
Kerja Kontraktor
kegiatan pelaksanaan pekerjaan dan disetujui oleh Direksi.
2. Alat peralatan dimaksud harus dalam keadaan baik, siap dipakai.
Kerusakan yang terjadi selama pelaksanaan agar segera
diperbaiki atau dicarikan penggantinya.
3. Biaya mobilisasi semua peralatan menjadi tanggungan
Kontraktor.
4. Kontraktor wajib menyediakan tambahan peralatan jika peralatan
yang ada dinilai tidak mencukupi.
5. Keamanan alat selama pelaksanaan menjadi tanggung jawab
Kontraktor sendiri.

Pemeriksaan 15 1. Kontraktor wajib meminta persetujuan Direksi untuk pekerjaan


Pekerjaan yang akan dilaksanakan dan pekerjaan tahaoan selanjutnya.
2. Direksi berhak untuk memeriksa pekerjaan sewaktu-waktu tanpa
pemberitahuan sebelumnya.
3. Hasil pemeriksaan ditulis pada laporan hasil pemeriksaan yang
ditandatangani oleh kedua belah pihak yang memeriksa.

Pembayaran 16 1. Pembayaran dilakukan secara bulanan atau dengan kemajuan


pekerjaan minimal 7 %.
2. Pembayaran dapat dilakukan setelah dilakukan perhitungan atas
pekerjaan yang telah selesai dan disetujui oleh Direksi.
3. Pembayaran dilakukan dengan menerbitkan Interim Payment
Certificate yang disetujui Direksi dan Pemilik Pekerjaan.
Pekerjaan yang 17 1. Bagi pekerjaan yang tidak lancar yang tidak sesuai dengan
rencana kerja, terlalu lambat atau terhenti sama sekali, maka
Tidak Lancar
Direksi akan memberikan peringatan-peringatan/teguran-teguran
secara tertulis kepada Kontraktor.
2. Apabila Kontraktor ternyata dengan sengaja tidak mengindahkan
peringatan-peringatan tersebut diatas dan telah cukup diberi
peringatan dan teguran-teguran tertulis 3 kali berturut-turut, maka
PPK bersangkutan berhak melakukan pemutusan kontrak secara
sepihak.

Pekerjaan 18 1. Pekerjaan tambah dan kurang hanya boleh dilakukan oleh


Tambahan Kontraktor atas perintah tertulis dari Direksi.

Keselamatan 19 1. Keselamatan Kerja


Kerja Kontraktor harus memperhatikan secara penuh terhadap resiko
terjadinya kecelakaan yang mungkin terjadi selama proyek
berlangsung dan selalu memperhatikan keamanan sebagai faktor
utama dalam melaksanakan pekerjaan. Kontraktor harus
mengikuti peraturan-peraturan mengenai pencegahan kecelakaan
dan keamanan yang berlaku. Untuk menjamin hak tenaga kerja,
maka Kontraktor wajib mengasuransikan keselamatan kerja
tenaganya sesuai dengan undang-undang ketenagakerjaan.

Papan Nama 20 1. Kontraktor harus membuat papan nama pekerjaan ukuran 0.8 x
Pekerjaan 1.2 m dengan bentuk dan format tulisan standar dipasang ditepi
jalan atau tempat yang mudah dilihat, atau sesuai petunjuk direksi
2. Papan nama pekerjaan harus sudah dipasang sebelum aktifitas di
lapangan dimulai
3. Segala biaya untuk pengadaan dan pemasangan papan nama
menjadi tanggungan kontraktor

Direksi Keet, 21 1. Kontraktor sebelum memulai kegiatan fisik harus sudah


Barak menyiapkan Direksi keet dengan ukuran 4 x 6 m2 dengan
ketentuan minimal :
Kerja dan Gudang
• Konstruksi kayu
• Atap seng gelombang
• Lantai beton tumbuk 5 cm
• Dinding papan atau kayu /tripleks
• Jendela naco 2 buah
2. Kantor pelaksanaan berukuran 3 x 4 m dengan kondisi
sebagaimana Direksi Keet.
3. Gudang berukuran secukupnya dengan persyaratan pada
umumnya dan menjamin keamanan dan kualitas terhadap bahan
bahan yang ditempatkan.
4. Barak kerja harus dapat menjamin keselamatan dan keamanan
pekerja, serta terjamin terhadap kesehatan
5. Direksi keet, gudang dan barak kerja harus berada dekat dengan
lokasi pekerjaan, mudah dijangkau, dan dapat mendukung
kelancaran pekerjaan di lapangan.
6. Segala biaya yang berhubungan dengan direksi keet, barak dan
gudang menjadi tanggungan Kontraktor
7. Bila ditentukan lain, Kontraktor dapat melakukan perjanjian sewa
– menyewa dengan pihak ketiga untuk bangunan-bangunan
tersebut, dengan ketentuan sesuai persyaratan dan disetujui oleh
Direksi.

Rambu – Rambu 22 1. Kontraktor wajib memasang rambu–rambu pengaman untuk


Pengaman pekerjaan yang berada pada kawasan lalu-lintas umum
orang/kendaraan untuk keselamatan umum.
2. Rambu-rambu tetap (2 buah) dipasang pada ujung-ujung lokasi
pekerjaan dengan memakai standar rambu lalu lintas yang sesuai
dilengkapi tanda atau tulisan yang jelas, dimengerti dan mudah
dibaca khususnya pada malam hari.
3. Rambu-rambu tidak tetap dipasang pada daerah yang ada galian
yang masih menganga/belum diurug. Bahan menggunakan
papan/kayu yang tahan terhadap perubahan cuaca, serta
tanda/tulisan dapat dilihat dengan jelas. Penyangga kaki
menggunakan balok kayu sehingga rambu dapat kokoh berdiri
dan mudah untuk dipindahkan.
4. Jumlah rambu tidak tetap disesuaikan kondisi lapangan, minimal
harus ada sebanyak 2 (dua) buah.
5. Galian yang menganga pada daerah bahu jalan agar diisi
pengaman sehingga tidak membahayakan pengguna jalan. Bahan
menggunakan papan kayu dipasang sejajar jalan dengan
penyangga usuk atau ketentuan lain sesuai petunjuk direksi.
6. Segala biaya untuk pengadaan dan pemasangan rambu menjadi
tanggungan kontraktor.
SPESIFIKASI TEKNIS PEKERJAAN SIPIL

Uraian Umum 1 1.1 Spesifikasi teknis ini berisi syarat-syarat pelaksanaan masing-
masing jenis pekerjaan yang diperlukan untuk mendapatkan hasil
yang direncanakan dari segi bentuk, kuantitas dan kualitas
pekerjaan.
1.2 Pelaksanaan pekerjaan ini harus menggunakan tata kerja dan
mengikuti ketentuan-ketentuan dari spesifikasi teknis yang telah
ditetapkan, sehingga sasaran/tujuan pembangunan dapat dicapai.
1.3 Jenis-jenis pekerjaan yang mengikat adalah yang tercantum
dalam daftar kuantitas dan harga pekerjaan, sedang bila pada
spesifikasi teknis ini ada yang belum diberikan spesifikasi
teknisnya akan diberikan pada waktu aanwijzing.

Pekerjaan 2 2.1 Dasar Ukuran Tinggi dan Pengukuran


Persiapan a. Pelaksana pekerjaan harus membuat peil pokok/patok utama
untuk setiap unit pekerjaan yang memerlukan bouwplank.
b. Peil pokok tersebut harus diikat ketinggiannya dengan peil
yang sudah ada atau terhadap tinggi peil setempat, dan hasil
pengikatan peil tersebut harus ditandai dengan cat.
c. Semua patok-patok/bouwplank harus terbuat dari bahan yang
kuat dan awet, dipasang kokoh tidak diperbolehkan untuk
bisa berubah tempat ataupun tertimbun tanah dan permukaan
atasnya rata.
d. Bouwplank harus diikat ketinggiannya dengan peil pokok,
dan ditandai ketinggiannya dengan cat.
e. Setelah pekerjaan pemasangan bouwplank selesai, pelaksana
pekerjaan harus menyediakan alat ukur lengkap dengan
perlengkapannya, seperti juru ukur, pekerja-pekerja dan
sebagainya yang diperlukan untuk pemeriksaan.
f. Jika pemasangan peil/bouwplank salah, maka harus
dibetulkan
2.2 Pembersihan Tempat Pekerjaan
Sebelum memulai suatu pekerjaan yang ada, pelaksana pekerjaan
harus membersihkan lapangan pekerjaan dari segala macam
tumbuh-tumbuhan dan lain-lain rintangan yang terdapat disekitar
lokasi pekerjaan tersebut.

2.3 Ruang Kerja, Gudang dan Los Kerja


Pelaksana pekerjaan sebaiknya menyiapkan ruang/kantor kerja,
gudang dan los kerja yang pantas di tempat pekerjaan, lengkap
dengan kunci dan perabotan yang diperlukan.
Dinding dan lantai gudang tidak lembab, memenuhi syarat-syarat
tehnis dan keamanan.
I. PEKERJAAN TANAH

Pekerjaan 1 1. 1. Umum
Tanah a. Pelaksana pekerjaan harus menyediakan tenaga kerja, bahan
perlengkapan, alat pengangkutan dan piranti lain yang
diperlukan untuk pekerjaan tanah.
b. Semua penggalian, pengurugan dan cara pengurugan harus
sesuai dengan syarat-syarat.
1. 2. Pembersihan Lapangan
a. Sebelum pelaksana pekerjaan mulai dengan pekerjaan
penggalian, penempatan bahan urugan atau penimbunan
bahan, semua bagian lapangan yang akan dikerjakan atau
ditempati, harus dibersihkan dari semua tumbuh-tumbuhan
dan sampah yang kemudian dibuang ke tempat yang aman.
b. Semua pohon-pohon dan semak-semak yang direncanakan
tetap berada ditempatnya harus dihindari dari kerusakan.
Hasil pembersihan harus dipindahkan dari lapangan
pekerjaan.
1. 3. Penggalian
A. Umum
a. Penggalian dilakukan pada bagian-bagian yang lebih
tinggi dari elevasi tanah yang direncanakan untuk
pondasi gedung, pondasi reservoir, parit pipa dan saluran
drainase. Hasil-hasil galian diangkut ke tempat-tempat
dimana diperlukan pengurugan atau ke tempat lain yang
aman dan tidak mengganggu.
b. Pekerjaan penggalian tanah termasuk juga pembuangan
segala benda yang ditemukan dalam bentuk apapun yang
dapat mengganggu pelaksanaan pekerjaan pembangunan.
c. Galian tanah baru dimulai setelah pemasangan
patok/bouwplank atau patok-patok.
d. Penggalian harus sesuai dengan garis dan elevasi yang
tertera pada gambar.
e. Kemiringan pada galian harus pada sudut kemiringan
(talud) yang aman.
f. Pelaksana pekerjaan harus menjaga pengaruh-pengaruh
luar ke dalam lubang galian seperti air tanah,
kelongsoran, hujan, air permukaan, lumpur yang masuk
dan benda-benda lain yang tidak diinginkan. Biaya untuk
pekerjaan ini harus sudah diperhitungkan dalam biaya
pelaksanaan pekerjaan.
g. Jika ada kerusakan-kerusakan akibat hal-hal tersebut di
atas, maka harus bertanggung jawab penuh atas segala
kerusakan tersebut dan memperbaikinya kembali sampai
seperti keadaan semula.
h. Untuk galian-galian yang memotong saluran-saluran di
bawah tanah, baik itu berupa saluran telekomunikasi,
listrik, air dan sebagainya, maka pelaksana pekerjaan
harus bertanggung jawab penuh untuk melapor kepada
instansi terkait atau memindahkan ke tempat yang lain.
i. Pelaksana pekerjaan hendaknya menyiapkan satu tempat
untuk menampung kelebihan tanah hasil galian.
j. Penyimpanan/pembuangan tanah galian tidak boleh
mengganggu kedudukan patok-patok/bouwplank, atau
bagian-bagian yang tidak diperbolehkan tergantung
kedudukannya.
B. Kelebihan Galian yang diperintahkan
Bila diperlukan, lubang galian harus digali lebih dalam
sampai kedalaman yang ditentukan. Setelah galian selesai,
permukaan tanah harus diratakan, dibasahi seperlunya dan
dipadatkan dengan baik.
C. Penggalian tanah untuk pondasi
a. Penggalian harus dilakukan sesuai dengan lebar lantai
kerja pondasi, dan penampang lereng disebelah kiri-
kanan galian dimiringkan keluar arah pondasi dengan
sudut kemiringan yang aman sehingga tidak
menimbulkan keruntuhan, atau seperti yang terlihat pada
gambar.
b. Dasar galian harus mencapai tanah keras, dan apabila
galian ternyata tidak sesuai dengan rencana gambar
pondasi, pelaksana pekerjaan harus melaporkannya pada
pengawas dan dimintakan keputusannya.
c. Kecuali dinyatakan lain dalam gambar, dasar dari semua
galian harus rata. Jika pada dasar galian terdapat akar-
akar kayu, kotoran-kotoran dan bagian-bagian tanah yang
berongga (tidak padat), maka bagian itu harus
dikeluarkan seluruhnya, dan lubang yang terjadi harus
diisi dengan pasir. Khusus untuk pondasi reservoir,
lubang yang terjadi harus diisi dengan sirtu.
d. Setiap kelebihan galian di bawah permukaan yang telah
ditentukan harus diurug kembali sampai permukaan
semula dengan pasir (sirtu untuk pondasi ground
reservoir). Pasir tersebut harus dibasahi seperlunya dan
dipadatkan dengan baik untuk mencegah turunnya
bangunan yang akan dikerjakan.
e. Penggalian lapisan 15 cm terakhir dari dasar pondasi
harus dilakukan dengan tangan (mamual), tidak
diperbolehkan menggunakan alat-alat berat.
f. Air yang tergenang di lapangan atau pada galian selama
pelaksanaan pekerjaan dari mata air, hujan atau
kebocoran pipa-pipa selama pelaksanaan pekerjaan harus
dikeringkan atau dipompa keluar.

D. Galian Parit Pipa


a. Galian parit pemasangan pipa disebut : Galian Parit Pipa.
b. Lebar dasar parit harus berukuran minimal diameter luar
pipa ditambah 300 mm dan maksimal diameter luar pipa
ditambah 500 mm, atau sesuai dengan yang tertera pada
gambar.
c. Dasar parit harus dibuat sama rata dengan dasar pipa,
sehingga dasar setiap bagian pipa yang dipasang harus
mengenai tanah sepanjang jalur pipa.
E. Penggalian Batuan dan Batu Besar
Batu-batu besar yang dijumpai pada waktu penggalian harus
dikeluarkan atas biaya pelaksanaan.
F. Pemompaan air tanah pada galian d bawah muka air
tanah
Penggalian tanah harus dikerjakan dalam keadaan kering.
Pelaksana pekerjaan bertanggung jawab untuk merencanakan
sistim pemompaan air tanah.
Pemompaan dikerjakan dengan syarat-syarat sebagai berikut
:
a. Sistim yang dipakai tidak boleh mengakibatkan
penaikan/penurunan tanah (heaving) dasar galian secara
berlebihan.
b. Jumlah dan kapasitas pompa harus diadakan secukupnya.
c. Air yang dipompa harus dibuang, sehingga tidak
mengganggu galian atau sekitarnya.
d. Sistim pemompaan harus diperhitungkan secara detail
dalam menghadapi bahaya longsor terhadap pekerjaan
dan daerah yang berdekatan pada waktu hujan besar.
e. Kecuali disediakan untuk hal darurat seperti pada ad.d,
maka cara pengeringan harus bekerja terus menerus,
sehingga pekerjaan dari pondasi selesai seluruhnya.
f. Di dalam hal terjadi kerusakan total dari sistim
pengeringan, setelah dinding-dinding dikerjakan tapi
sebelum bagian atas dikerjakan, maka tindakan
pencegahan darurat harus diadakan untuk mengisi
struktur dengan air. Hal ini dimaksudkan untuk
mencegah tekanan air yang berlebihan (uplift) terhadap
struktur.
Urugan 2 2. 1. Urugan pasir dilakukan di bawah semua lantai atau seperti yang
Pasir dan terlihat pada gambar dengan tebal sesuai dengan gambar,
Pengurugan termasuk lantai rabat.
Kembali
2. 2. Urugan pasir harus disiram air kemudian ditumbuk/dipadatkan
hingga padat.
2. 3. Bahan urugan pasir harus bersih.
2. 4. Bahan urugan kembali dapat berupa bahan terpilih dari bekas
galian semula atau yang didatangkan dari tempat lain yang bebas
dari bahan organis dan benda padat yang diameternya lebih besar
dari 5 cm.

II. PEKERJAAN KONSTRUKSI BETON


Pekerjaan 1 1.1 Umum
Beton a. Pelaksana pekerjaan harus melaksanakan pekerjaan beton
sesuai dengan persyaratan yang ditentukan ini yang didasari
dalam Peraturan Beton 1971 (PBI 1971) dan harus
melaksanakan pekerjaannya dengan ketepatannya dan
kesesuaian yang tinggi menurut RKS, gambar kerja dan
instruksi-instruksi oleh pengawas/pendamping.
b. Semua pekerjaan-pekerjaan yang tidak sesuai dengan
persyaratan yang ada pada gambar-gambar rencana harus
dibongkar dan diganti.
c. Semua material harus baru dengan kualitas yang terbaik dari
yang ditentukan.
1.2 Bahan
A. Portland Cement (PC)
Semua merk PC yang digunakan harus Portland Cement
merk Standard, yang telah disetujui oleh badan yang
berwenang dan memenuhi persyaratan Portland Cement klas
I-2475 (PBI-1971 NI-2). Seluruh pekerjaan sebaiknya
menggunakan satu merk PC. PC harus disimpan secara baik,
dihindarkan dari kelembaban sampai tiba saatnya untuk
dipakai. PC yang telah menggumpal atau membatu tidak
boleh digunakan. PC harus disimpan sedemikian rupa,
sehingga mudah untuk diperiksa dan diambil contohnya.
B. Koral dan Pasir (agregat)
a. Agregat harus sesuai dengan syarat-syarat PBI 1971,
dimana kerikil untuk beton berukuran 2-3 cm, bersih
keras, padat (tidak porous) dan cukup syarat
kekerasannya. Agregat halus (pasir) tidak boleh
mengandung lumpur lebih dari 5% (ditentukan terhadap
berat kering), bersih, berbutir tajam dan keras.
b. sebelum pengecoran dimulai, contoh-contoh material
harus sudah siap untuk diadakan pengecekak atas
keseuaian terhadap syarat.
c. Agregat kasar dan halus diangkat dan disimpan terpisah.
C. Campuran Beton
a. Adukan beton terdiri dari bahan semen, bahan pembantu
(admixture) bila diperlukan, pasir, koral dan air. Kwalitas
bahan tersebut harus memenuhi syarat yang ditentukan.
Perbandingan campuran beton rencana untuk berbagai
jenis pekerjaan beton/kuat tekan beton harus ditentukan
sesuai gambar yang ada. Apabila campuran beton
rencana sudah ditentukan perbandingannya (misal:
1pc:2ps:3krl), maka percobaan kubus beton dan uji kubus
beton tidak perlu dilakukan.
b. Di dalam membuat campuran beton, jumlah semen dan
agregat akan diukur menurut berat, kecuali dalam
beberapa hal khusus, pengukuran material dengan
volume, akan dipakai untuk bangunanbangunan struktur
yang kecil.
c. Semua volume dan berat agregat, semen, dan air harus
ditakar dengan seksama. Bilamana proporsi-proporsi
yang disyaratkan tidak dilaksanakan, maka konstruksi
beton yang sudah dicor dapat diperintahkan untuk segera
disingkirkan.

D. Testing Beton dan Peralatannya


Pelaksana pekerjaan harus membuat, merawat dan
mengadakan test-test kubus beton pada laboratorium beton
yang disetujui Direksi atas biaya sendiri untuk mencapai
kekuatan tekan beton sesuai dengan yang disyaratkan, pada
beton yang belum ditentukan proporsi campurannya. Untuk
beton yang telah ditentukan campurannya test-test kubus
beton tidak perlu dilakukan. Kesesuaian campuran yang
harus mendapatkan pengecekan. Test yang harus dilakukan
adalah pada waktu kubus beton berumur 7 hari dan 28 hari.
Setiap 5 m3 beton yang dicor, maka harus dibuat satu seri
benda uji terdiri dari 2 buah yaitu untuk 7 hari dan 28 hari.
Setiap benda uji harus diberi tanggal pembuatan dan dari
bagian mana beton diambil. Jika digunakan beton ready-mix,
maka dari tiap truck dibuat 2 benda uji untuk test 7 hari dan
28 hari.

E. Persiapan Pengecoran Beton


E.1.Umum
Sebelum pekerjaan beton dimulai, maka sebelumnya
pelaksana pekerjaan harus membuat laporan tertulis
kepadapengawas/pendamping yang menyebutkan :
• Jumlah volume beton yang dicor, dan Time schedule
pelaksanaan pengecoran
• Jumlah alat-alat pengecoran misalnya : fibrator/alat
penggetaryang lain, molen/pengaduk yang tersedia di
lapangan,
• Jumlah cetakan-cetakan kubus beton yang tersedia di
lapangan, bila diperlukan
• Jumlah tenaga kerja yang ada di lapangan
• Kebersihan Tempat pengecoran, dan Kesiapan
penulangan sesuai dengan gambar
Pekerjaan tidak boleh dimulai sebelum persyaratan tersebut
di atas terpenuhi.
E.2.Pencegahan Korosi
Pipa, pipa listrik, angker dan bahan lain yang terbuat dari besi
yang ditanam dalam beton harus dipasang cukup kuat
sebelum pelaksanaan pengecoran beton, kecuali jika ada
perintah lain. Jarak antara bahan tersebut dengan setiap
bagian pembesian sekurangkurangnya harus 5 cm. Cara yang
dibenarkan untuk mengikat bahan itu pada kedudukan yang
benar adalah dengan kawat atau mengelas ke besi beton.
E.3.Sambungan Beton
Bidang-bidang beton lama yang akan berhubungan erat
dengan beton baru, dan bila perlu juga bidang-bidang akhir
dari beton pada siar pelaksanaan, harus dikasarkan dulu,
kemudian bidang-bidang tersebut harus dibersihkan dari
segala kotoran dan benda-benda lepas, setelah itu harus
dibasahi dengan air sampai jenuh. Sesaat sebelum beton yang
baru akan dicor semua permukaan sambungan beton yang
horizontal harus dilapisi atau disapu dengan spesi mortal
dengan susunan yang sama seperti yang terdapat dalam
betonnya. Lapisan spesi mortal tersebut harus disebar merata
dan harus dikerjakan benar sampai mengisi ke dalam seluruh
liku-liku permukaan beton lama yang tidak rata, sedapat
mungkiin harus dipergunakan sapu kawat untuk menyisipkan
lapisan aduk tersebut ke dalam celah permukaan beton lama.
E.4.Persiapan Pengecoran
Beton tidak boleh dicor, bila seluruh pekerjaan
bekisting/perancah, pekerjaan tulangan dan pekerjaan
instalasi yang tertanam selesai dipasang dan persiapan
seluruh permukaan tempat pengecoran belum siap. Seluruh
permukaan bekisting dan bagian instalasi yang akan ditanam
di dalam beton yang tertutup dengan kerak beton bekas
pengecoran yang lalu, harus dibersihkan terhadap seluruh
kerak beton tersebut, sebelum beton disekelilingnya atau
beton yang berdekatan di cor.
E.5.Penyingkiran Air
Beton tidak boleh dicor sebelum semua genangan air yang
memasuki tempat pengecoran tersebut dikeringkan dengan
sebaik-baiknya. Beton tidak boleh dicor di dalam air tanpa
persetujuan. Pelaksana pekerjaan juga tidak dibenarkan
membiarkan air mengalir di atas beton sebelum beton cukup
umurnya dan mencapai pengerasan awal.
F. Pembuatan Beton dan Peralatannya
a. Sebelum pembuatan adukan beton dimulai, semua alat-
alat pengaduk dan pengangkut beton harus sudah bersih.
b. Pengadukan beton pada semua mutu beton, harus
dilaksanakan dengan mesin pengaduk, untuk jumlah
pengecoran lebih dari 1 m3.
c. Selama pengadukan berlangsung, kekentalan adukan
beton harus diawasi terus menerus oleh tenaga-tenaga
pengawas dengan jalan salah satunya pemeriksaan keras
lembeknya campuran dengan slump test pada setiap
campuran beton yang baru.
d. Pengadukan di tiap mesin pengaduk harus terus menerus
dan waktu pengadukan tergantung dari kapasitas drum
pengadukan, banyaknya adukan yang diaduk, jenis dan
susunan butir dari agregat yang dipakai dan slump dari
betonnya, akan tetapi tidak kurang dari 1,5 menit sesudah
bahan termasuk air berada di dalam molen, selama itu
molen harus terus berputar pada kecepatan yang akan
menghasilkan kekentalan adukan yang merata pada akhir
waktu pengadukan.
e. Setelah selesai pengadukan, adukan beton harus
memperlihatkan susunan dan warna yang merata.
Apabila karena sesuatu hal adukan beton tidak memenuhi
syarat minimum, misalnya terlalu encer karena kesalahan
dalam pemberian jumlah air pencampur atau sudah
mengeras sebagian atau yang tercampur dengan bahan-
bahan asing, maka adukan ini tidak boleh dipakai dan
harus disingkirkan dari tempat pelaksanaan.
f. Dilarang mencampur kembali dengan menambah air ke
dalam adukan beton yang sebagian telah mengeras di
dalam molen/tempat pengaduk.
g. Mesin pengaduk/tempat mengaduk harus betul-betul
kosong sebelum menerima material-material dari adukan
berikutnya. Mesin pengaduk harus dibersihkan dan
dicuci, juga pada setiap akhir pekerjaan dan bila beton
yang akan dibuat berbeda mutunya/campurannya.
G. Penolakan dari Beton
a. Pekerjaan yang tidak memenuhi syarat, pelaksana
pekerjaan harus mengganti/membongkar dan
memperbaiki beton-beton yang tidak memenuhi syarat
atas biaya sendiri.
b. Syarat kekuatan beton
Kekuatan beton harus sesuai dengan persyaratan dalam
PBI-1987 Bab 4.5, 4.6, 4.7 dan 4.8. Atau sesuai dengan
campuran yang telah ditentukan.
c. Toleransi kesalahan pada pelaksanaan beton
Beton harus mempunyai ukuran-ukuran dimensi lokasi
dan bentuk yang tidak boleh melampaui toleransi di
bawah ini :
Posisi garis as dari penyelesaian bagian struktur pada
semua titik ± 0,5 cm posisi yang seharusnya.
H. Pengangkutan dan Pengecoran
a. Sebelum melaksanakan pekerjaan pengecoran beton,
pelaksana pekerjaan harus memberitahu
pengawas/pendamping dan mendapatkan persetujuannya.
Jika tidak ada persetujuan, maka pelaksana pekerjaan
akan diperintahkan untuk menyingkirkan beton yang
dicor atas biaya sendiri.
b. Sejak pengecoran dimulai, pekerjaan ini harus dilanjutkan
tanpa berhenti sampai mencapai siar-siar pelaksanaan
yang ditetapkan menurut gambar atau dengan petunjuk
lain.
c. Adukan beton pada umumnya sudah harus dicor dalam
waktu 1 (satu) jam setelah pengadukan dengan air
dimulai. Jangka waktu tersebut dapat diperpanjang
sampai 2 jam, apabila adukan beton digerakkan terus
menerus secara mekanis. Apabila diperlukan jangka
waktu yang lebih panjang lagi, maka harus dipakai bahan-
bahan penghambat pengikatan yang berupa bahan
pembantu. Beton harus dicor sedekat-dekatnya ke
tujuannya yang terakhir untuk mencegah pemisahan
bahan-bahan akibat pemindahan adukan di dalam cetakan.
d. Pengangkutan adukan beton dari tempat pengadukan ke
tempat pengecoran harus dilakukan dengan cara-cara
dengan mana tidak terjadi pemisahan dan kehilangan
bahan-bahan. Cara pengangkutan adukan beton harus
lancar dan kontinyu sehingga tidak terjadi perbedaan
waktu pengikatan yang menyolok antara beton yang
sudah dicor dan yang belum dicor.
e. Adukan beton tidak boleh dijatuhkan melalui pembesian
atau ke dalam papan bekisting yang dalam, yang dapat
menyebabkan terlepasnya koral dari adukan beton karena
berulang kali mengenai batang pembesian atau tepi
bekisting ketika adukan beton itu dijatuhkan, beton juga
tidak boleh dicor dalam bekisting sehingga
mengakibatkan penimbunan adukan pada permukaan
bekisting di atas beton yang dicor. Dalam hal ini, harus
disiapkan corong atau saluran vertikal untuk pengecoran
agar adukan beton dapat mencapai tempatnya tanpa
terlepas satu sama lain. Bagaimanapun juga tinggi jatuh
dari adukan beton tidak boleh melampaui 1,5 meter di
bawah ujung corong.
f. Adukan beton harus dicor merata selama proses
pengecoran, setelah dicor pada tempatnya adukan tidak
boleh didorong atau dipindahkan lebih dari 2 (dua) meter
arah mendatar. Adukan beton di dalam bekisting harus
dicor berupa lapisan horizontal yang merata tidak
bolehlebih dari 60 – 70 cm dalamnya dan harus
diperhatikan agar terhindar tejadinya lapisan adukan yang
miring atau sambungan beton yang miring, kecuali bila
diperlukan untuk bagian konstruksi miring.
I. Pemadatan dan Penggetaran
a. Pada waktu adukan beton dicor ke dalam bekisting atau
lubang galian, tempat tersebut harus telah padat betul dan
tetap, tidak ada penurunan lagi. Adukan beton tersebut
harus memasuki semua sudut, melalui celah pembesian,
tidak terjadi sarang koral.
b. Perhatian khusus perlu diberikan untuk pengecoran beton
disekeliling waterstop.
c. Pelaksana pekerjaan harus menyediakan vibrator atau alat
penggetar lain dengan cadangan yang cukup.
d. Dalam keadaan khusus dimana pemakaian vibrator tidak
praktis, dapat dianjurkan dan menyetujui pengecoran
tanpa vibrator (triller).
e. Pekerjaan pengecoran harus dipadatkan sebaik-baiknya
sehingga tidak terjadi cacat beton seperti kropos, adanya
kantong udara dan sarang koral yang akan memperlemah
kekuatan beton.
f. Bagian dalam dinding beton harus digetarkan dengan
vibrator (triller) atau alat lain dan pada waktu yang sama
bekistingnya diketuk sampai adukan beton betul-betul
mengisi penuh bekisting tersebut atau lubang galian dan
menutupi seluruh permukaan bekisting.
g. Lapisan beton berikutnya tidak boleh dicor, bila lapisan
sebelumnya tidak dikerjakan secara seksama.
h. Dalam hal pemadatan beton dilakukan dengan vibrator,
harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut :
• Slump dari beton tidak lebih dari 12,5 cm.
• Jarum penggetar harus dimasukkan ke dalam adukan
secara vertikal dan dengan persetujuan Direksi
Proyek, dalam keadaan keadaan khusus boleh miring
sampai 45 derajat.
• Selama penggetaran, jarum tidak boleh digerakkan ke
arah horizontal karena hal ini akan memindahkan
bahan-bahan.
• Harus dijaga agar jarum tidak mengenai cetakan atau
bagian beton yang sudah mulai mengeras. Karena itu
jarum tidak boleh dipasang lebih dari 5 cm dari
cetakan atau dari beton yang sudah mengeras. Juga
harus diusahakan agar tulangan tidak terkena oleh
jarum, agar tulangan tidak terlepas dari betonnya dan
getaran-getaran tidak merambat ke bagian-bagian lain
di manabetonnya sudah mengeras.
• Lapisan yang digetarkan tidak boleh lebih tebal dari
panjang jarum pada umumnya tidak boleh lebih tebal
dari 30 – 50 cm. Berhubung dengan itu, maka
pengecoran bagian-bagian konstruksi yang sangat
tebal harus dilakukan lapis demi lapis, sehingga tiap-
tiap lapis dapat dipadatkan dengan baik.
• Jarum penggetar ditarik dari adukan beton apabila
adukan mulai nampak mengkilap sekitar jarum (air
semen mulai memisahkan diri dari agregat), yang
pada umumnya tercapai setelah maksimum 30 detik.
Penarikan jarum ini tidak boleh dilakukan terlalu
cepat, agar rongga bekas jarum dapat diisi penuh lagi
dengan adukan.
• Jarak antara pemasukan jarum harus dipilih
sedemikian rupa sehingga daerah-daerah
pengaruhnya saling menutupi.
J. Perlindungan Cuaca dan Perawatan Beton
a. Perlindungan cuaca panas
Adukan beton yang baru dicor harus diberi pelindung
terhadap panas matahari secepat mungkin setelah
pengecoran dan segera setelah permukaan beton yang
baru sudah cukup mengeras.
b. Perlindungan musim hujan
Tidak diperbolehkan mengecor selama turun hujan dan
beton yang dicor harus dilindungi dari curahan hujan.
Penghentian beton yang baru dicor harus dilindungi
terhadap pengikisan aliran air hujan. Sebelum pengecoran
berikutnya dikerjakan, maka seluruh beton yang kena
hujan atau aliran air hujan harus diperiksa untuk
diperbaiki dan dibersihkan dulu terhadap beton-beton
yang tercampur/terkikis air hujan.
c. Perlindungan beban selama dalam proses pengerasan
lantai dan bagian konstruksi yang lain, tidak
diperkenankan mempergunakan lantai tersebut sebagai
jalan untuk mengangkut bahan-bahan atau sebagai tempat
penimbunan bahan.
d. Tidak diperbolehkan merusak/melubangi beton yang
sudah jadi untuk keperluan-keperluan apapun juga. Jika
hal itu terpaksa harus dilakukan.
e. Selama perawatan, bekisting kayu dibiarkan tetap tinggal
agar beton tetap basah untuk mencegah retak pada
sambungan beton lama dan baru karena pengeringan
beton yang terlalu cepat.
f. Semua beton hendaknya selalu dalam keadaan basah
selama paling sedikit 7 hari dengan cara membasahi
dengan air.

K. Penyelesaian Permukaan Beton


a. Penyelesaian permukaan.
Semua permukaan atau permukaan yang dicetak harus
dikerjakan secara cermat sesuai dengan bentuk, garis,
kemiringan dan potongan sebagaimana tercantum dalam
gambar atau ditentukan. Permukaan pelat beton
merupakan suatu permukaan yang rapih, licin, merata dan
keras. Dilarang menaburkan semen kering dan pasir di
atas permukaan beton untuk menghisap air yang
berlebihan. Pelat lantai dan atas dinding “exposed: harus
dirapihkan dengan sendok aduk dari baja.
b. Perbaikan cacat permukaan harus dilakukan segera
setelah cetakan dilepaskan, semua permukaan “exposed”
(terbuka) harus diperiksa secara teliti, bagian yang tidak
rata harus segera digosok atau diisi secara baik agar
diperoleh suatu permukaan yang seragam dan merata.
Pekerjaan perbaikan tersebut harus betul-betul mengikuti
petunjuk. Semua perbaikan dan penggantian sebagaimana
diuraikan di sini harus dilaksanakan oleh pelaksana
pekerjaan atas biaya sendiri. Beton yang menunjukkan
adanya rongga-rongga, lubang, keropok atau cacat sejenis
lainnya harus dibongkar dan diganti. Semua perbaikan
harus dilaksanakan dan dibentuk sedemikian rupa dengan
cara yang dibenarkan dan tidak memperlemah kekuatan
beton. Semua perbaikan tersebut harus dirawat
sebagaimana diperlukan untuk beton yang diperbaiki.
Untuk struktur reservoir dan yang berhubungan dengan
air, sebelum struktur diisi dengan air, tiap retakan yang
kiranya timbul harus diberi tanda dan diperbaiki agar
menjadi kedap dengan adukan water profing.
L. Siar Pelaksanaan
a. Siar pelaksanaan harus ditempatkan sedemikian, sehingga
tidak banyak mengurangi kekuatan konstruksi.
b. Pada pelat dan balok, siar-siar pelaksanaan harus
ditempatkan kira di tengah-tengah bentang dimana
terdapat gaya lintang yang terkecil.
c. Siar mulai harus dibuat pada lokasi dan dimensi yang
tepat seperti pada gambar rencana.

M. Beton Kedap Air


a. Semua beton rapat air diberi lapisan water proofing,
lapisan water proofing harus dari bahan yang tidak
beracun atau dapat menjadi sebab tercemarnya air.
Pemakaian merk dan jenis water proofing harus dengan
persetujuan. Cara pemasangan dan pengangkeran water
stop harus dilakukan sedemikian rupa sehingga
kedudukan waterstop tetap teguh dan tidak terliput beton
pada waktu pengecoran.
b. Pemberhentian pengecoran beton rapat air harus diberi
waterstop.

Pekerjaan 2 2.1 Umum


Pembesian Pelaksana pekerjaan harus menyiapkan, membengkokkan dan
memasang pembesian sesuai dengan apa yang tercantum di
dalam gambar dan apa yang dijelaskan di dalam spesifikasi.
Dalam pekerjaan pembesian termasuk semua pemasangan kawat
beton, kaki ayam untuk penyanggah, beton dekking dan segala
hal yang perlu serta juga menghasilkan beton sesuai dengan
ketentuan.
Pelaksana pekerjaan bertanggung jawab sepenuhnya akan
ketelitian ukuran, pada waktu pemasangan pembesian.
2.2 Mutu Baja Tulangan
Besi beton yang dipakai adalah besi beton polos atau besi beton
ulir. Besi beton polos yang dipakai adalah besi beton dengan
tegangan leleh 2.400 kg/cm2 dan tertera di dalam gambar dengan
kode (U.24).
Besi beton ulir (High Strength Steel) yang dipakai adalah besi
beton dengan tegangan leleh 3.200 kg/cm2 dan tertera di dalam
gambar dengan kode (U.32). Besi beton yang tersebut diatas
haruslah memenuhi syarat PBI-1971-NI2.
Pelaksana pekerjaan harus bisa membuktikan dan melaporkan
bahwa besi beton yang dipakai termasuk jenis mutu baja yang
direncanakan. Jika nanti terdapat kesalahan/kekeliruan mengenai
jenis besi beton yang dipergunakan, maka pelaksana pekerjaan
harus bertanggungjawab atas segalanya dan mengganti semua
tulangan baik yang sudah terpasang maupun yang belum.
2.3 Pembengkokan Besi Beton
a. Pekerjaan pembengkokan besi harus dilaksanakan dengan
teliti sesuai dengan ukuran yang tertera pada gambar.
b. Besi beton tidak boleh dibengkokan atau diluruskan
sedemikian rupa, sehingga rusak atau cacat, dan tidak
diperbolehkan membengkokan besi beton dengan cara
pemanasan. Pembengkokan dilakukan dengan cara
melingkari sebuah pasak dengan diamter tidak kurang dari 5
kali diamter besi beton, kecuali untuk besi beton yang lebih
besar dari 25 mm, pasak yang digunakan harus tidak kurang
dari 8x diamter besi beton, kecuali bila ditentukan lain.
c. Semua pembesian harus mempunyai hak pada kedua
ujungnya bilamana tidak ditentukan lain.

2.4 Pemasangan Besi Tulangan


a. Pembersihan
Sebelum baja tulangan dipasang, besi beton harus bebas dari
sisa logam, karatan, lemak dan lapisan yang dapat merusak
atau mengurangi daya lekat besi dan beton.
b. Pemasangan
Pembesian harus distel dengan cermat sesuai dengan gambar
dan diikat dengan kawat beton. Semua tulangan harus
dipasang dengan posisi yang tepat. Sebelum pengecoran,
pemasangan tulangan harus diperiksa terlebih dulu.
Tulangan-tulangan harus dipasang sedemikian rupa sehingga
selama pengecoran tidak berubah tempatnya.
c. Sambungan batang tulangan dengan menggunakan las tidak
diizinkan. Sambungan-sambungan tulangan harus dibuat
overlap minimum 40 kali diameter tulangan sesuai
persyaratan yang tercantum pada PBI 1971 Bab 8 dan
ketentuan-ketentuan pada gambar. Harus dihindari
meletakkan sambungan tulangan pada tititik-titik yang
menimbulkan tegangan maksimum.
d. Beton Dekking
Bilamana tidak ditentukan lain dalam gambar, maka
penulangan harus dipasang dengan tebal untuk beton dekking
sebagai berikut :
• Semua dinding beton yang kena air = 4-5 cm
• Balok dan kolom yang tidak kena air = 3-4 cm
• Bidang yang kena udara dan semua bidang interior = 2,5
cm
Atau seperti yang tertera didalam gambar.

Pekerjaan 3 3.1 Umum


Bekisting Bekisting harus menghasilkan konstruksi akhir yang mempunyai
bentuk, ukuran, batas-batas seperti yang ditunjukkan dalam
gambar konstruksi
3.2 Bahan
Semua bahan untuk bekisting harus bahan baru, dikeringkan
secara baik dan bebas dari mata kayu yang lepas, celah kotoran
yang melekat dan sejenis lainnya, bila bekisting yang sama akan
diguankan lagi, harus menghasilkan permukaan yang serupa.
Tiang-tiang penahan bekisting harus dipilih dari bahan yang kuat.
diperbolehkan dipakai untuk tiang-tiang penyangga sekur dan
klem, tetapi harus sekualitas dengan kayu dolken.
Untuk bahan-bahan yang kurang/tidak memenuhi syarat, tidak
boleh dipakai dan harus dipindahkan dari lokasi pekerjaan.
3.3 Pembuatan bekisting
a. Bekisting-bekisting tidak boleh bocor dan cukup kaku dan
tidak berpindahan tempat atau melendut. Permukaan
bekisting harus halus dan rata, tidak boleh ada
lekukan/lubang-lubang.
b. Tiang penyangga
Penyangga baik yang vertikal/miring harus dibuat sebaik
mungkin untuk memberikan penunjang yang dibutuhkan
tanpa menimbukan perpindahan tempat, kerusakan dan
overstress pada beberapa bagian konstruksi. Struktur dari
tiang-tiang penyangga harus ditempatkan pada posisi
sedemikian rupa sehingga konstruksi bekisting benarbenar
kuat dan kaku untuk menunjang berat sendiri dari beban-
beban lain yang berada diatasnya selama pelaksanaan, bila
perlu pelaksana pekerjaan membuat perhitungan besar
lendutan dan kekuatan dari bekisting tersebut.
c. Khusus untuk bekisting kolom, balok-balok tinggi dan
dinding pada tepi bawahnya harus dibuatkan bukaan pada
dua sisi untuk mengeluarkan kotoran-kotoran yang mungkin
terdapat pada dasar kolom/dinding tersebut.
d. Penanaman pipa dan lain-lain.
Pipa, saluran dan lainnya, serta perlengkapan lain untuk
membuat lubang, saluran dan lain-lain harus dipasang kokoh
dalam bekisting.
3.4 Pemeriksaan bekisting
Bekisting yang sudah selesai dibuat dan sudah disiapkan untuk
pengecoran beton, harus diperiksa dahulu, beton tidak boleh dicor
sebelum bekisting memenuhi syarat. Untuk menghindari
kelambatan dalam mendapatkan persetujuan.
3.5 Pembongkaran bekisting
a. Bekisting harus dibongkar tanpa ada kerusakan pada beton.
Pembongkaran harus dilakukan dengan hati-hati.
b. Saat Pembongkaran Bekisting
Bekisting tidak boleh dibongkar sebelum beton mencapai
suatu kekuatan kubus sekurang-kurangnya cukup untuk
memikul 2 x beban sendiri. Atau tidak boleh dibongkar
sebelum umur beton mencapai paling tidak 14 hari.
Pelaksana pekerjaan harus memberitahu bilamana
bermaksud akan membongkar cetakan pada bagian-bagian
konstruksi yang utama. Bilamana akibat pembongkaran
cetakan, pada bagian-bagian konstruksi akan bekerja beban-
beban yang lebih tinggi daripada beban rencana, maka
cetakan tidak boleh dibongkar selama keadan kelebihan
beban tersebut berlangsung.

Sambungan 4 4.1 Umum


Dilatasi a. Pekerjaan yang diperlukan dalam pasal ini meliputi bahan,
perlengkapan dan peralatan lainnya yang diperlukan untuk
menyelesaikan semua sambungan delatasi sebagaimana
tercantum dalam gambar atau ditentukan dalam persyaratan
ini.
b. Semua sambungan delatasi yang terendam dalam air harus
terdiri dari paling tidak waterstop.
4.2 Waterstop
a. Bahan dan Pabrik
Bahan harus diperoleh dari suatu elastometric
polyvinylchloride compound atau bahan yang memiliki sifat
ekivalen. Dilarang menggunakan bahan asal yang tercecer
(sweeping).
Pelaksana pekerjaan harus menyerahkan laporan pengujian
terakhir dan sertifikat waterstop yang menerangkan bahwa
barang-barang yang akan dikirim ke tempat pekerjaan
memenuhi ketentuan standar yang berlaku di Indonesia.
b. Contoh dan Pembuatan di Lapangan
Bagian dan sambungan yang dibuat di lapangan harus sesuai
dengan petunjuk pabrik waterstop.
4.3 Pengangkeran Waterstop
a. Cara yang memadai harus dilakukan untuk pengangkeran
waterstop dan pengisian sambungan dalam beton. Cara
pemasangan waterstop dalam cetakan harus dilakukan
sedemikian rupa, sehingga waterstop jangan sampai terlipat
oleh beton pada waktu pengecoran.
III. PEKERJAAN PASANGAN
Pasangan 1 1.1 Bahan
Batu Kali a. Batu kali/belah
Batu yang dipakai harus bermutu baik, kuat, bersih, bersudut
(tidak bulat), tidak retak, tidak porous. Batu kali yang dipakai
adalah batu sungai yang dibelah atau batu gunung yang keras.
b. Pasir
Pasir pasangan yang dipakai harus berupa pasir kasar, keras,
bersih dan sebelum diaduk dengan semen harus dalam
keadaan kering. Ciri utama butir keras tak bisa dihancurkan
dengan tangan. Pasir laut tidak dapat dipergunakan.
c. Portland Cement
Sama merk dan kwalitasnya dengan PC yang digunakan
untuk konstruksi beton
d. Air
Air yang dipakai untuk adukan spesie harus air tawar yang
bebas dari larutan-larutan lain yang membahayakan
konstruksi. Air yang dipergunakan mengikuti syarat PBI-
1971 dan sebaiknya air bersih .
1.2 Perbandingan Adukan dan Penggunaan Adukan
Bila tidak ditentukan lain atau tertuang dalam gambar, campuran
adukan adalah sebagai berikut :
a. Untuk pasangan pondasi batu kali 1 PC : 4 pasir (campuran
type 1)
b. Untuk pasangan batu kali biasa 1 PC : 4 pasir (type 1)
c. Untuk pasangan batu kali kedap air 1 PC : 2 pasir (type 2)
d. Campuran mortar :
- Finishing Mortar 1 PC : 2 Pasir
- Plastering Mortar 1 PC : 2 Pasir (1,5 cm tebal)
- Plastering Mortar 1 PC : 3 Pasir (1,5 cm tebal)
e. Perbandingan ini berdasarkan perbandingan volume semen
dan pasir dengan volume air secukupnya.
f. Dilarang memakai adukan yang sudah mulai mengeras atau
membubuhkannya kembali untuk dipakai lagi.
1.3 Syarat Pemasangan Batu Kali
a. Pekerjaan-pekerjaan pasangan hendaknya diselesaikan
sesuai dengan bentuk serta ukuran seperti yang dicantumkan
pada gambar-gambar. Apabila setelah pekerjaan pasangan
diselesaikan ternyata tidak sesuai dengan bentuk dan ukuran
yang diperlihatkan dalam gambar-gambar, maka pasangan
tersebut dapat dibongkar dan diganti oleh pelaksana
pekerjaan.
b. Jika ada masalah-masalah lapangan yang tidak sesuai dengan
gambar bestek atau syarat-syarat bestek, pelaksana pekerjaan
harus melapor terlebih dahulu pada Pengawas. Tidak boleh
diatasi sendiri tanpa persetujuan Pengawas.
c. Variasi (perubahan) kedalaman pondasi, dapat diterima jika
ternyata keadaan pada suatu tempat pekerjaan berbeda
dengan keadaan yang diharapkan semula, dan tambahan atau
pengurangan biayanya akan diperhitngkan sebagai
pekerajaan tambahan/kurang.
d. Batu-batu yang bulat akan diperbolehkan hanya dalam
jumlah terbatas yang dikombinasikan dengan yang bersudut
(“angular”) dan tidak boleh dipakai untuk tembok-tembok
yang tebalnya kurang dari 40 cm.
e. Pasangan pondasi batu kali harus disusun dengan baik dan
saling mengunci.
f. Penempatan batu-batu harus sedemikian rupa untuk
menghindari rongga-rongga yang terlalu banyak diantara
batu-batu tersebut.
g. Pemasangan batu dilakukan satu demi satu dan tiap-tiap
susunan batu harus mempunyai antara dan tidak boleh
bersinggungan, agar spesi dapat masuk pada celah-celah batu
dan dapat membungkus setiap batu pasangan dengan baik.
h. Batu-batu itu harus ditempatkan sedemikian rupa sehingga
mortar betul-betul mengadakan kontak sempurna dengan
mortar dalam semua sambungan.
i. Ukuran spesie dan dimensi tidak boleh dirubah, kecuali atas
perintah Direksi Pengawas. Jika terbukti ukuran spesie dan
dimensi tidak sesuai dengan apa yang disyaratkan, maka
pekerjaan tidak dapat diterima.
j. Sambungan-sambungan harus disempurnakan dengan mortar
dan harus dikuatkan dengan memasukan pecahan-pecahan
batu kedalamnya.
k. Mortar pada sambungan-sambungan pasangan pertama-tama
harus diambil sedalam 3 cm. Kemudian permukaan harus
dibersihkan seluruhnya dengan sikat kawat dan diisi dengan
mortar type 1 Pc : 2 PS, kecuali kalau ditentukan lain.
l. Pemasangan batu tidak boleh dilakukan pada waktu hujan
yang bisa menghanyutkan mortarnya.
m. Pemasangan batu tidak boleh dilakukan dalam air, kecuali
telahmendapat persetujuan tertulis dan cara pemasangan
pasangan.

n. Pada setiap persambungan harus dibuatkan gigi-gigi dan bila


dilanjutkan persambungan itu harus terlebih dahulu
dibersihkan dengan sikat kawat dan disiram dengan air
kemudian dengan air semen.
o. Semua bidang pasangan batu kali yang disiar hanya pada
setiap alur spesi-nya saja yang permukaannya tidak boleh
menonjol dari permukaan batu kalinya.
p. Sebelum disiar, alur-alur yang akan disiar harus dikorek-
kosek dahulu dan disiram dengan air sampai basah.
q. Siar batu kali tidak diijinkan saling bertumpuan atau terjadi
ronggarongga, seluruhnya harus dibatasi atau diisi dengan
adukan.
r. Kecuali ditentukan lain, pekerjaan siaran pasangan batu kali
dengan adukan 1 PC : 2 pasir, dengan tebal tidak lebih dari
1,5 cm.
s. Pada waktu penyelesaian akhir, permukaan batu-batu harus
dibersihkan dari sisa-sisa mortar.
1.4 Perawatan
a. Pasangan tak boleh kena air mengalir sebelum mortar
menjadi keras (kuat).
b. Semua pasangan hendaknya dirawat dan dilindungi dari
cuaca panas dengan membasi dengan air.
c. Pasangan yang berada di uadara terbuka, selama waktu-
waktu hujan terus-menerus diberi perlindungan dengan
menutup bagian atasnya.
1.5 Penyisipan Bagian-bagian Logam (Metal fixture) ke dalam
pasangan
a. Pada waktu pelaksanaan pasangan, pelaksana pekerjaan
dapat diminta untuk menyisipkan perlengkapan yang terbuat
dari besi, baja atau bahan lain ke dalam pasangan batu
tersebut, seperti : baut-baut, “sleves” angker, alat-alat penarik
(“lugs”), dan lain sebagainya.
b. Sebagian pasangan akan dipasang dengan beton untuk
memegang besi dan baja itu pada posisinya.
c. Semua “bagian yang disisipkan” harus dipasang mutlak
benar pada posisinya seperti terlihat pada gambar-gambar
dengan menggunakan balok-balok penunjang yang dipasang
dengan teliti pada posisinya.
1.6 Blockout (ruangan yang disiapkan untuk diisi kembali)
a. Blockouts pada pasangan batu (“Masonry Block outs”)
hendaknya dibuat dimana bagian-bagian logam dan lain-
lainnya akan dipasang berikutnya.
b. Pada tempat blockouts akan dibuat, permukaan pasangan
batu pada tempat-tempat itu harus dikasarkan, dibersihkan
dan tetap dibasahkan paling sedikit selama 4 jam. , sesudah
permukaan-permukaan itu disetujui oleh Direksi Pengawas
dan bahan-bahan logam dan lain-lain sebagainya seperti
tersebut dalam spesifikasi telah dipasang pada tempatnya,
maka pelaksana pekerjaan bila perlu harus memasang “besi
penguat” (kalau perlu) dan mortar semen type 1 PC : 2 PS.
c. Jika blockouts tersebut akan diisi dengan beton, harus
diperhatikan bahwa beton yang baru dipasang itu harus kuat
menempel pada pasangan yang telah dipasang terlebih
dahulu dan bahwa rekatan yang sempurna terjadi antara
pasangan batu dan semua bagian-bagian logam serta bagian-
bagian lainnya di dalam blockouts tersebut.
d. Biaya untuk semua pekerjaan itu hendaknya sudah
diperhitungkan dalam biaya pelaksanaan.
Pasangan 2 2.1 Bahan
Batu a. Bata Merah
Bata/Batak Batu bata yang dipakai harus matang pembakarannya. Bila
o direndam dalam air akan tetap utuh tidak pecah atau hancur.
Ukuran nominal batu bata adalah 6 x 12 x 24 cm mempunyai
daya tekan ultimate sebesar 25 Kg/cm2.
b. Batako
Batako yang dipakai berupa batako yang dicetak dengan
mesin. Bahan mentahnya tanah, tras, pasir dan kapur. Batako
berlubang dengan ukuran nominal adalah 20 x 20 x 40.
c. Pasir
Pasir pasangan yang dipakai harus berupa pasir kasar, keras,
bersih dan sebelum diaduk dengan semen harus dalam
keadaan kering. Ciri utama butir keras tak bisa dihancurkan
dengan tangan. Pasir laut tidak dapat dipergunakan.
d. Portland Cement
Sama merk dan kwalitasnya dengan PC yang digunakan
untuk konstruksi beton.
e. Air
Air yang dipakai untuk adukan spesie harus air tawar yang
bebas dari larutan-larutan yang membahayakan konstruksi.
Air yang dipergunakan mengikuti syarat PBI-1971 dan
sebaiknay air bersih.
2.2 Perbandingan Adukan dan Penggunaan Adukan
Bila tidak ditentukan lain, campuran adukan dibuat sebagai
berikut :
Adukan untuk pasangan batu bata bila tidak ditentukan yang lain
biasanya 1 PC : 4 pasir, dan untuk pasangan bata mulai balok
pondasi beton samai 30 cm di atas lantai dasar yang
menggunakan adukan 1 PC : 2 PS. Pasangan bata untuk kamar
mandi, WC dan sebagainya sampai ketinggian 1,50 meter di atas
lantai menggunakan adukan 1 PC : 2 PS. Untuk pasangan bata
lainnya dipakai adukan 1 PC : 4 PS kecuali bila dinyatakan lain.
Seluruh dinding luar bangunan yang tak terlindung overstek
mengguankan pasangan bata dengan adukan 1 PC : 4 PS kecuali
bila dinyatakan lain. Seluruh dinding luar bangunan yang tak
terlindung overstek mengguankan pasangan bata dengan adukan
1 PC : 2 PS. Dilarang memakai adukan yang sudah mulai
mengeras atau membubuhkannya kembali untuk dipakai lagi.
2.3 Syarat-syarat Pemasangan
a. Cara-cara pemasangan bata harus baik, benar dan sesuai
dengan peruntukannya.
b. Waktu akan dipasang, bata harus mengandung banyak/jenuh
air
c. Pada pemasangan dinding harus dipasang water pass, dimana
dinding harus betul-betul vertikal dan horizontal dan
didirikan menurut masing-masing ukuran, ketebalan dan
ketinggian yang disyaratkan seperti yang ditunjukkan pada
gambar.
d. Besi penulangan yang dipasang pada dinding tembok bata
pada arah tegak maupun datar yang berhubungan dengan
kolom atau balok baja dipasang pada angkur ½” yang
dilas/diikat pada besi beton/balok baja, dan panjang angkur
minimum 60 cm, kecuali dinyatakan lain dalam gambar.
e. Bata dipasang dengan adukan pengikat sambungan 10 mm
dengan baik dan sambungan yang menerus dan rata.
f. Siar-siar dibuat rapi setebal 1 cm dan dikorek paling sedikit
0,5 cm sebagai persiapan untuk plesteran dan untuk siar-siar
tegak tidak diperbolehkan bertemu dalam satu garis lurus.
g. Tiap pemasangan batu bata tidak boleh terlalu tinggi, dan
untuk penghentiannya harus dalam posisi miring dan pada
tempat-tempat yang nantinya bersambung, harus dipasang
gigi-gigi.
h. Semua rangka kayu/kusen harus dipasang terlebih dahulu
untuk dapat melanjutkan pekerjaan pasangan.
2.4 Perawatan
a. Dinding-dinding yang sudah terpasang harus dilindungi dari
pengaruh-pengaruh bahaya luar.
b. Dinding tembok paling baik harus dibasahi terus menerus
selama paling sedikit 7 hari setelah didirikan.
c. Jika pemasangan ternyata tidak sesuai dengan gambar dan
persyaratan yang telah ditentukan, maka pelaksana pekerjaan
harus membuat lagi sampai betul dan biayanya menjadi
tanggungan pelaksana pekerjaan.

Setiap pertemuan tegak lurus dan bidang dinding bata ½ batu yang
3 luasnya lebih dari 12 m2, harus ditambahkan kolom praktis dan ring
Kolom Praktis/ balk praktis dengan ukuran 12 x 12 cm sesuai dengan lebar bata dengan
Ring Balk tulangan pokokk 4 φ 10 mm dan beugel φ 8 mm – 15 cm. Semua bagian
Praktis atas dinding batu bata harus diakhiri dengan ring balk praktis.
SPESIFIKASI TEKNIS PEKERJAAN PIPA

Umum 1 1.1 Uraian dan syarat-syarat ini menjelaskan mengenai pengadaan


bahan dan pemasangan/pelaksanaan pekerjaan secara lengkap
dan sempurna mengenai perpipaan dan perlengkapannya.
Pekerjaan ini meliputi :
• Pekerjaan perpipaan transmisi air yang berfungsi untuk
membawa air baku / air bersih dari bangunan penangkap air
ke bangunan reservoir sampai ke titik awal jaringan
distribusi.
• Pekerjaan perpipaan distribusi, adalah suatu jaringan
perpipaan yang berfungsi mengalirkan air bersih dari unit
akhir transmisi (pengolah/reservoir) menuju daerah
pelayanan. Sistim jaringan distribusi untuk daerah
perdesaan mempergunakan sistim cabang.
Spesifikasi 2 2.1 Syarat Material
Material a. Material pipa akan diadakan harus baru dan tidak cacat.
b. Material yang ada harus memenuhi persyaratan teknis yang
ditentukan.
c. Material yang ditawarkan harus dilengkapi dengan brosur-
brosur dan cara-cara pemasangannya.
d. Apabila diperlukan, supplier harus bersedia memberikan
petunjuk pemasangan terhadap material pipa yang dijual.
2.2 Jenis Pipa yang Digunakan
Pada pekerjaan ini, beberapa jenis material pipa yang akan
digunakan adalah sebagai berikut:
a. Pipa Polyvinyl – Chloride (PVC)
b. Pipa besi di galvanis (GIP)
Cara Cara pembayaran atau progres kemajuan fisik yang dicapai
Pembayaran berdasarkan aktivitas sebagai berikut :
a. Pengangkutan ke lapangan 70 %
b. Pemasangan di lapangan 20 %
c. Uji coba 10 %
Terhadap item pekerjaan itu sendiri.
I. PIPA BESI DI GALVANIS (GIP)
Standard dan
1 Umum
Spesifikasi
Material
a. Referensi Standard
Referensi pada standard dalam dokumen lelang ini dimaksudkan
untuk memberikan gambaran mengenai jenis dan kualitas material
yang diminta.
Semua material yang ditawarkan harus produksi dalam negeri
dengan standar SII/SNI. Bila ternyata belum ada SII/SNI untuk
produk tertentu atau belum dibuat didalam negeri, maka yang
ditawarkan dapat menggunakan standard lain, dengan syarat bahwa
kualitas keseluruhan sekurang-kurangnya sama dengan apa yang
ditetapkan dalam dokumen lelang ini.
Semua material yang dikirim harus seratus persen baru (bukan
material bekas), dalam keadaan baik dan memenuhi syarat
spesifikasi teknis yang ditentukan.
Standard yang dapat diterima adalah :
SNI - Standard Nasional Indonesia
ISO - Internasional Standarization Organization
JIS - Japanese Industrial Standard
BS - British Standard
DIN - Deutsche Industrie Norm
AWWA - American Water Works Association
ASTM - American Society for Testing and
Materials
ANSI - American National Standard Institute
b. Bahan Pipa Dan Fitting
Untuk pipa fitting yang telah dapat dibuat di dalam negeri maka
rekanan harus melampirkan surat dari pabrik untuk izin penggunaan
SII/SNI yang dikeluarkan oleh Departemen Perindustrian dan dapat
menunjukkan pengalaman minimal 3 (tiga) tahun.Bahan pipa, fitting
dan accessories yang ditawarkan harus sama dengan bahan pipa,
fitting dan accessories yang tercantum dalam dokumen lelang ini.
c. Pipa dan Fitting
Seluruh pipa dan fitting yang ditawarkan harus dapat digunakan
didaerah tropis dengan temperature air yang mengalir antara 15˚ - 35˚
celcius dan PH antara 6 dan 8.
d. Flange
Flange dari fitting yang ditawarkan harus memenuhi standard yang
lazim digunakan untuk peralatan air minum baik memakai standard
SII, ISO standard 2531; Pipeline Flanges for General Use Matric
Series-Mating Dimensions” dan lain – lain yang mampu menerima
tekanan kerja minimal seperti yang disyaratkan dalam B.O.Q. dan
Lampiran Rencana Kerja & Syarat – syarat.
Untuk memudahkan penyambungan antara fitting dan accessories
lainnya ukuran dari pada flange hendaknya diseragamkan dengan
memenuhi standard yang berlaku.
Penawaran yang diajukan sudah termasuk perlengkapannya
(gasket/Packing, murring dan baut) siap untuk disambung dengan
accessories lainnya.
Jumlah dari pada mur, baut, ring dan gasket/packing sesuai yang
dibutuhkan dilebihkan 10 %.

e. Gasket
Seluruh gasket cincin karet yang digunakan untuk pemasangan pipa
terbuat dari karet sintetis yang divulkanisir (vulcanized synthetic
rubber). Karet bekas pakai tidak boleh digunakan.
Bila tidak disebutkan lain, flange gasket terbuat dari karet denga
ketebalan minimal 3 mm. Gasket untuk flange buntu harus dari karet
yang dapat menutup seluruh permukaan flange buntu.
f. Mur, Baut, dan Ring
Terbuat dari low Carbon Steel yang telah di galvanis (hot dipped
galvanized).
1.1. Pengadaan Pipa GIP
Material yang digunakan adalah yang memenuhi standard. Pipa yang
ditawarkan harus buatan pabrik yang telah mendapat izin untuk
penggunaan SNI yang dikeluarkan oleh departemen perindustrian.
Setiap pipa harus mempunyai tanda/cap pada bagian luar yang
menunjukkan diameter, kelas, nama pabrik pembuat dan trade mark.
Syarat-syarat teknis untuk pipa galvanis (GIP) adalah sebagai berikut
ini
- Diameter pipa yang diminta adalah diameter dalam
- Tebal dinding pipa sesuai SNI 0039:2013
- Setiap batang pipa GIP harus diberi tanda yang tidak mudah hilang
dengan mencantumkan:
a. Logo/merek pabrik pembuat
b. Kelas (Lgh = tipis; Med = medium; Hvy = tebal)
c. Diameter nominal
d. Panjang
e. Untuk ukuran pipa diatas 6 inch, diberi penandaan tebal nominal
Ketentuan penandaan klasifikasi kelas pipa dengan lingkaran pada
salah satu ujung pipa, hanya dilakukan pada pipa dengan lapisan seng
dengan warna lingkaran sebagai berikut:
a. Warna coklat : untuk pipa tipis
b. Warna biru : untuk pipa medium
c. Warna merah : untuk pipa tebal
Untuk pipa tanpa lapisan seng, hanya diberikan penandaan berupa
kelas (Lgh = tipis; Med = medium; Hvy = Tebal).
Syarat untuk penggunaan pipa GIP
Standar SNI 0039:2013
Kelas Medium
Metode Electric Resistance Welding (ERW) dan
Manufactur Las Memanjang
Panjang  Nominal = 6,00 m
 Maximum = 6,10 m
 Minimum = 5,90 m
Komposisi
Bahan Kimia Bahan Berat %, max.
Karbon 0.20
Mangan 1.40
Fosfor 0.035
Sulfur 0.030

Tes Keregangan a. Kekuatan Keregangan = 320 – 460


MPa
b. Hasil Kekuatan = 195 MPa
c. Pemanjangan, min. = 20%
Toleransi untuk Toleransi tebal untuk pipa medium
Ketebalan adalah + 15 % ; -10 %
Dinding
Test Tekanan Pressure 50 kgf/cm2
Hidrostatik
Galvanis Tebal min = 42 micron (42 µm)
Pelapis Pipa yang tidak tertanam di cat dengan
cat anti karat

Diameter
Tebal
dalam Nominal Diameter Luar (mm)
(mm)
(mm) (inch) Nominal Maks. Min.
15 1/2 21.3 21.8 21.0 2.6
20 3/4 26.9 27.3 26.5 2.6
25 1 33.7 34.2 33.3 3.2
32 1 1/4 42.4 42.9 42.0 3.2
40 1 1/2 48.3 48.8 47.9 3.2
50 2 60.3 60.8 59.7 3.6
65 2 1/2 76.1 76.6 75.3 3.6
80 3 88.9 89.5 88.0 4.0
100 4 18.3 115.0 113.1 4.5
125 5 139.7 140.8 138.5 5.0
150 6 165.1 166.5 163.9 5.0
200 8 219.1 221.3 216.9 6.4
250 10 273.0 275.7 270.3 6.4
300 12 323.8 327.0 320.6 6.4
350 14 355.6 359.2 352.0 6.4
400 16 406.4 410.5 402.3 6.4
450 18 457.0 461.6 452.4 9.5
500 20 508.0 513.1 502.9 9.5
600 24 610.0 616.1 603.9 9.5
650 28 660.0 666.6 653.4 9.5
700 28 711.0 718.1 703.9 9.5
800 32 813.0 821.1 804.9 9.5
900 36 914.0 923.1 904.9 9.5
1000 40 1016.0 1026.2 1005.8 12.7
1050 42 1067.0 1077.7 1056.3 12.7
1150 46 1168.0 1179.7 1156.3 12.7
1200 48 1219.0 1231.2 1206.8 12.7

Persyaratan lainnya untuk pemakaian pipa GIP disamping


persyaratan teknis di atas adalah seluruh barang harus memenuhi
persyaratan sebagiai berikut ini :
- Bahan-bahan yang dipergunakan diutamakan produksi dalam negeri
- Asli/original dan dalam keadaan 100 % bar
- Harus bermutu tinggi/baik
- Melampirkan jaminan minimal 1 tahun dari pabrik/sub distributor
- Mendatangkan ahlinya apabila di dalam pemasangan pipa mendapat
kesulitan
- Melampirkan brosur-brosur barang yang akan ditawarkan
- Accessories pipa seperti valve, tee, bend, reducer dan flange yang
diserahkan harus sudah berhubungan dan dilengkapi dengan
packing, ring baut, dan mur
- Ketebalan karet packing minimal 4 mm dan harus mempunyai
diameter yang sama dengan masing-masing diameter luar flange dan
harus dilengkapi dengan bentuk lubang yang sama dengan bentuk
flange

Penyambungan 2 2.1 Umum


Pipa GIP a. Pada bagian luar setiap pipa dan penyambung harus diberi
tanda yang mencakup diameter nominal dalam mm, tebal
dinding nominal dalam mm, tingkat kelas, cap pabrik dan
nomor produksi setiap pipa lengkung (bend) harus juga
mencantumkan besarnya sudut lengkung. Pemberian tersebut
harus tidak mengganggu kekuatan pipa.
b. Penyambungan pipa-pipa dilaksanakan sesuai dengan
petunjuk penyambungan pipa dari pabrik pembuat pipa dan
atau berdasarkan petunjuk-petunjuk pendamping.
c. Penyambungan pipa GIP yang akan dilaksanakan adalah
dengan ulir (untuk Ø < 3”) dan flens atau las untuk Ø > 3”.
2.2 Sambungan pipa GI dengan Sambungan Flens
a. Setelah Flens pipa sudah bersih permukaannya, kemudian
dipasang dan dibuat dengan putaran secukupnya.
b. Baut-baut harus diputar dengan kunci-kunci yang sesuai
sehingga dapat menjamin kesamarataan baut-baut pipa dengan
kedudukan flens pipa, sehingga terdapat tekanan yang sama
pada seluruh permukaan dari flens.
c. Sebelum baut dipasang, semua baut dan mur harus diberi
gemuk dengan sempurna.
2.3 Sambungan pipa GI dengan Ulir
a. Bersihkan bagian ulir luar dari ujung pipa dan bagian ulir
dalam dari soket dengan sikat baja.
b. Balut bagian ulir luar tersebut dengan mempergunakan sale
tape yang biasa digunakan untuk sambungan pipa ulir.
c. Masukan pipa tersebut secara hati-hati kedalam soket dengan
cara memutar pipa/soket tersebut. Proses pemasukan pipa
dengan soket tersebut dilakukan setelah posisi pipa-pipa dan
soket tersebut benar-benar sejajar.
d. Defleksi/lendutan pipa maksimum yang diperbolehkan
disesuaikan dengan ketentuan pabrik pembuatnya.
2.4 Sambungan pipa GI dengan Las
Sebelum pipa dilas, bagian yang akan dilas harus dibersihkan dari
segala benda atau bahan asing. Las busur listrik digunakan untuk
pengelasan, memakai batang-batang sebagai pencegah panas yang
berlebihan pada pengisi. Kawat las yang dipergunakan adalah jenis
JIS Z.3211 atau semutu. Kawat las yang lembab tidak dapat
dipakai untuk kawat yang mengandung zat cair yang rendah.
Mesin las yang dapat dipakai harus sesuai. Semprotan air dapat
diberikan pada bahan pengisi untuk mencegah mengelupas akibat
pengelasan. Setelah dilas, bagian luar pipa dilapisi dengan lapisan
pelindung (coating) seperti petunjuk dari pabrik pembuatnya.
Pengecatan 3 a. Semua pipa baja atau GI yang terbuka terhadap udara, harus diberi
dua lapisan cat dasar setelah dipermukaan pipa terlebih dahulu
dibersihkan dan sudah kering.
b. Semua sambungan pipa baja atau GI yang pengelasannya
dilaksanakan di lapangan, maka setelah selesai di las bagian lapisan
dalam dan luar harus diperbaiki kembali. Bagian pipa yang sudah
diperbaiki tersebut, harus dilapisi kembali dengan ter ataupun cat
dasar meni merah seperti sebagaimana keadaan semula.

II. PEMASANGAN PIPA


Umum 1 1.1 Persyaratan Umum
a. Pelaksana pekerjaan harus melaksanakan dan menyelesaikan
pekerjaan pemasangan pipa sesuai dengan yang disyaratkan
dalam spesifikasi ini.
b. Pekerjaan-pekerjaan yang tidak tercakup dalam spesifikasi
dapat dilaksanakan berdasarkan ketentuan-ketentuan praktis
yang berlaku di Indonesia dan sesuai dengan petunjuk-
petunjuk Direksi Proyek.
1.2 Pemeriksaan Trase/Jalur Pipa
Trase jalan pemasangan pipa harus sesuai dengan gambar.
1.3 Patok dan Tanda-tanda
a. Kewajiban pelaksana pekerjaan
Pelaksana pekerjaan berkewajiban dan bertanggung jawab
agar pipa yang sudah dipasang baik valve/katup dan saluran-
saluran lainnya yang diperlukan berada pada jalur yang
ditentukan, baik kedalaman maupun kemiringannya.
b. Penyimpangan-penyimpangan oleh karena bangunan lain.
Bilamana ada rintangan yang tidak terlihat di dalam rencana
dan ternyata menghalangi pekerjaan dan mengakibatkan
perobahanperobahan pelaksanaan, dimana perubahan tersebut
mengakibatkan volume pekerjaan, maka pekerjaan tersebut
dapat dilaksanakan tetapi perlu diadakan perubahan pada
Kontrak dan menjadikan “pekerjaan tambah/kurang”.
c. Pekerjaan Penggalian harus dilakukan dengan hati-hati
sedemikian rupa sehingga pekerjaan galian pada jalur yang
tepat. Bila terdapat kerusakan-kerusakan pada bangunan
bawah tanah yang ada sebagai akibat penggalian, pelaksana
pekerjaan harus memperbaikinya kembali sesuai dengan
keadaan semula.
Penggalian 2 2.1 Penggalian dan Persiapan Parit Pipa
A. Umum
a. Galian tanah dilaksanakan untuk :
• Semua pemasangan pipa dan peralatannya serta
bangunan pelengkap yang termasuk dalam pekerjaan
ini.
• Semua bagian-bagian bangunan yang masuk ke dalam
tanah.
b. Pekerjaan galian dan pemaritan hendaknya dilakukan
dengan cara-cara yang layak, aman dan tepat untuk
menghindari kemungkinan-kemungkinan timbulnya
bahaya.
c. Pekerjaan penggalian dilaksanakan sedemikian rupa
sehingga memungkinkan pipa dapat dipasang dengan
posisi yang baik dan aman sesuai gambar yang ada.
Penggalian sebaiknya bertahap sesuai dengan perkiraan
jumlah pipa yang dapat di pasang untuk setiap harinya.
d. Pekerjaan penggalian tanah untuk parit pemasangan pipa
harus segera diikuti dengan pelaksanaan pemasangan pipa
dan perlengkapannya, serta diikuti pula dengan
penimbunan/pengurugan kembali dengan segera.
e. Parit galian harus dijaga tidak longsor dan keselamatan
pekerja dapat terjamin.
B. Lebar dan Kedalaman Parit Galian
a. Tempat galian, lebar dan kedalaman minimum untuk
pemasangan pipa berikut perlengkapannya serta
bangunan-bangunan yang nyata-nyata termasuk dalam
pekerjaan ini harus dibuat sesuai dengan gambar
pelaksanaan (gambar situasi, profil memanjang, profil
melintang dan potongan), atau bila tidak digunakan akan
dipakai ketentuan-ketentuan minimal dalamnya galian
untuk pemasangan pipa menurut buku petunjuk
pemasangan pipa dan peralatannya dari pabrik pipa yang
bersangkutan.
b. Patokan/pedoman yang dipakai untuk dalamnya galian
adalah diukur dari atas pipa sampai permukaan jalan/tanah
asal, ditambah diameter luar pipa dan tebal lapian pasir
dibawah pipa.
c. Parit pipa harus digali dengan kedalaman yang
dikehendaki sehingga terdapat pembebanan yang merata
dan menerus pada dasar galian (yang tidak terganggu
untuk 2 sambungan pipa).
d. Kedalaman galian hendaknya selalu diperiksa untuk
mendapatkan kedalam jalur pipa yang tepat.
e. Bila tidak dinyatakan lain, lebar parit galian disesuaikan
dengan besarnya pipa yang akan dipasang dan lebar galian
tersebut harus menjamin pekerjaan penyambungan pipa
dengan baik sehingga kebocoran-kebocoran pada
sambungan pipa dapat dihindarkan.
f. Bila perlu lebar galian diperbesar untuk memudahkan
penempatan alat-alat penyangga dan sebagainya.
g. Parit dan tempat sambungan atau peralatan pipa
hendaknya digali hingga didapatkan suatu lebar yang
cukup untuk ruang bekerja, pemasangan, penyambungan,
dan penanaman.
h. Bila pada bagian galian parit pipa terdapat galian-galian
berlumpur atau penggalian terlalu dalam maka dapat
diurug dengan pasir ataupun di urug dengan bahan-bahan
lainnya yang aman terhadap pipa, sehingga untuk
peletakan pipa harus bebas dari lumpur.
i. Urugan tersebut kemudian dipadatkan dengan alat
pemadatan atau dengan tangan untuk memperoleh
permukaan yang rata pada tempat pemasangan pipa.
j. Batu-batu besar pada penggalian parit pipa, harus
dipindahkan atau dihindari.
C. Galian Pada Tanah Jelek
a. Apabila ternyata didalam pelaksanaan penggalian terjadi
b. Kelongsoran-kelongsoran dan keruntuhan-keruntuhan
terus menerus yang mengganggu, haruslah diberi penguat
(dari turap kayu atau lainnya) agar terjamin keselamatan
dan keamanan pekerjaan, effisien kerja.
c. Penguat hendaknya direncanakan dan dibuat untuk
menahan semua beban dan muatan yang mungkin timbul
akibat pergerakan tanah atau tekanan. Konstruksi penguat
ini hendaknya kaku hingga tidak terjadi perubahan bentuk
dan posisi dalam keadaan apapun.
d. Bila pada bagian bawah parit galian ternyata tidak stabil
atau dijumpai lapisan-lapisan bekas sampah ataupun
humus, lapisan tersebut harus dibuang.
D. Pengamanan Jalur Pipa
a. Pada tempat-tempat parit pipa yang digali dan ternyata
mudah longsor dapat diberi turap-turap pengaman.
b. Setiap galian hendaknya dijaga tetap kering sampai
konstruksi yang harus dibangun atau pipa yang harus
dipasang selesai dilaksanakan.
c. Apabila juga ternyata bahwa didalam galian dijumpai air
yang mengganggu, maka pelaksana pekerjaan harus
menyediakan pompa atau peralatan lain untuk
pengeringan.
d. Air permukaan hendaknya dipintaskan atau dengan cara-
cara lain dicegah tidak memasuki daerah pemaritan sejuah
mungkin tanpa mengakibatkan kerusakan-keruakan pada
tanah milik sekitarnya.

E. Penimbunan Tanah Galian


Semua tanah bekas galian harus ditimbun sedemikian rupa
sehingga tidak mengganggu bagi pejalan kaki maupun
kendaraan yang lewat.
Bila diperlukan, pelaksana pekerjaan untuk mengangkut tanah
lebih bekas galian tersebut ketempat lain.
F. Pemasangan Pipa
F.1. Penyimpanan dan Pengangkutan
a. Pipa, perlengkapan pipa dan bangunan pelengkapnya yang
akan dipasang harus disimpan di gudang penyimpanan
pipa atau tempat yang aman, terutama untuk pipa PVC
harus terbebas dari sinar matahari.
b. Cara-cara pengangkutan, penyambungan dari pipa-pipa
dan ketentuan-ketentuan teknis cara pemasangan harus
sesuai petunjuk atau sesuai dengan buku petunjuk
pemasangan pipa dan pengangkutan dari pabrik pipa yang
bersangkutan.
c. Sebelum dan sesudah dipasang, pipa-pipa dan
perlengkapan pipa, harus dijaga bersih dan diperiksa lagi
atas kerusakan dan retak-retak.
F.2. Menurunkan Pipa Kedalam Parit Galian
a. Pipa yang akan dipasang diturunkan kedalam parit galian
dengan bantuan alat-alat khusus yang disediakan oleh
Kontraktor atau pelaksana pekerjaan.
Semua pipa, alat-alat bantu valve dan perlengkapan
lainnya harus dengan hati-hati diturunkan kedalam parit
galian satu persatu dari kerusakan.
b. Bila terjadi kerusakan pada pipa dan perlengkapannya
akibat kelalaian Kontraktor atau pelaksana pekerjaan,
Kontraktor atau pelaksana pekerjaan harus mengganti
pipa-pipa yang rusak atau memperbaiki (bila masih dapat
diperbaiki) kembali seperti semula dengan persetujuan
Direksi Proyek.
F.3. Pemeriksaan Sebelum Pemasangan
a. Semua pipa dan perlengkapan pipa yang akan dipasang
serta alat-alat bantu untuk pemasangan tersebut harus
diperiksa dengan cermat dan hati-hati untuk menghindari
bahwa yang terpasang tidak cacat sesaat sebelum pipa-
pipa/perlengkapan pipa tersebut diturunkan pada lokasi
yang sebenarnya.
b. Bila ada ujung pipa terdapat bengkokan-bengkokan hal
tersebut harus dihindarkan, atau ujung pipa yang bengkok
harus dipotong sesuai dengan petunjuk-petunjuk.
F.4. Pembersihan Pipa dan Alat Bantu
Semua pipa yang akan dipasang harus bebas dari segala
macam jenis kotoran. Bagian luar dan dalam ujung pipa yang
akan dipasang harus dicuci terlebih dahulu sampai bersih,
bebas dari minyak dan gemuk sehingga diperoleh sambungan
pipa yang stabil dan baik.

F.5. Pemasangan Pipa


a. Pada pipa-pipa yang sudah dipasang harus dicegah jangan
sampai kemasukan segala macam jenis kotoran
umpamanya bekas puing-puing, alat-alat, bekas pakaian
dan lain-lain kotoran yang dapat mengganggu kebersihan
dan kelancaran aliran air di dalam pipa.
b. Setiap pipa yang sudah dimasukkan kedalam parit galian
harus langsung dipasang dan disetel sambungannya dan
kemudian diurug dengan bahan-bahan yang aman atau
sesuai gambar, serta dipadatkan dengan sempurna.
c. Semua ujung pipa yang terakhir yang pada saat
pemasangannya berhenti, harus ditutup sehingga kotoran
ataupun air buangan tidak masuk kedalam pipa.
d. Tikungan/belokan (vertikal/horizontal) tanpa elbow/bend
dilaksanakan sedemikian rupa sehingga sudut sambungan
antara dua pipa tidak boleh lebih besar dari yang diizinkan
oleh pabrik pipa yang bersangkutan.
e. Perubahan arah perletakan pipa (belokan/tikungan), harus
dilaksanakan dengan penyambung bend/elbow yang
sesuai, begitu pula untuk percabangan harus dengan tee
atau tee cross (sesuai kebutuhannya).
f. Membengkokkan lebih besar dari sudut yang
dipersyaratkan atau merubah bentuk pipa dengan cara
apapun tidak diperbolehkan (secara mekanis maupun
dengan cara pemanasan).
g. Peil dari perletakan pipa serta dalamnya terhadap muka
jalan/tanah asal harus diperiksa dengan teliti sesuai
gambar.
h. Pada waktu pemasangan pipa harus diperhatikan benar-
benar mengenai kedudukan pipa agar pipa yang dipasang
betul-betul lurus serta pada peil yang benar dan dasar pipa
harus terletak rata, tidak boleh ada benda keras yang
memungkinkan rusaknya pipa dikemudian hari.
i. Pada waktu pemasangan pipa, parit galian untuk
perletakan pipa harus kering, tidak boleh ada air sama
sekali dan bagian dalam pipa harus bersih. Penyambungan
pipa hanya dilakukan dalam keadaan kering.
j. Di sekeliling pipa harus diberi pasir urug sesuai dengan
gambar atau bila tidak dinyatakan lain diberi lapisan pasir
urug sedemikian rupa sehingga terdapat pasir setebal 15
cm di bawah, disamping dan diatas pipa, kecuali untuk
pipa-pipa yang memotong jalan harus diurug segera
dengan pasir pasang penuh, dan tanah bekas galiannya
harus disingkirkan agar segera dapat dilalui
kendaraankendaraan, dan khusus untuk jalan-jalan
protokol (lalu lintas padat dan kendaraan-kendaraan berat)
harus dilindungi dengan pelat baja.
k. Semua pemasangan fitting penyambungan pipa seperti tee,
elbow/bend, dan sebagainya harus diberi anker (trust
block) dari beton (beton campuran 1 : 2 : 3).
l. Setiap pekerjaan pemasangan pipa yang dihentikan pada
waktu diluar jam-jam kerja, ujung-ujung pipa yang
terakhir harus ditutup rapat air untuk mencegah masuknya
kotoran/benda-benda asing/air kotor ke dalam pipa.
m. Material yang digunakan untuk tutup ujung pipa tersebut
harus bersih dan bebas dari minyak/oli/ter/aspal atau
bahan-bahan minyak pelumas lainnya.
F.6. Pemotongan Pipa
Apabila benar-benar diperlukan, pemotongan pipa dapat
dilakukan harus dilaksanakan dengan alat yang sesuai/khusus
untuk jenis atau bahan pipa yang dipasang, agar benar-benar
terjamin penyambungannya yang baik sesuai dengan syarat-
syarat teknis/petunjuk dari pabrik pipa yang bersangkutan.
F.7. Penyingkiran Sarana Yang Ada
Segala sarana yang perlu disingkirkan akibat penggalian
pekerjaan pemasangan pipa, harus diperbaiki dan
dikembalikan seperti keadaan dan kondisi semula.
Pengurugan 3 3.1 Umum
a. Pengurugan kembali bekas galian harus dilakukan tidak
langsung kebagian pipa atau struktur.
b. Urugan baru dapat dilaksanakan, setelah pemasangan pipa
selesai diperiksa dan disetujui.
c. Bahan urugan tidak boleh mengandung benda-benda organis,
seperti rumput-rumputan, akar-akar pohon dan lain sebagainya
dan tidak merupakan bahan yang melar (non expansive), serta
tidak mengandung benda keras/batu dengan diameter lebih
besar dari 2 cm.
d. Semua pasir yang digunakan sebagai bahan urugan harus pasir
alam yang komposisisnya baik, tidak bergumpal-gumpal,
bebas dari bara, abu, sampah atau bahan lainnya.
e. Pada pasir urug tidak boleh terdapat lebih dari 10% (berat)
tanah liat.
f. Urugan pasir ini harus dipadatkan dengan cara memberi air
pada tiap lapisan pasir urug.
g. Urugan tanah untuk pipa tiap-tiap pekerjaan harus diadakan
selapis demi selapis yang tiap-tiap lapis didapatkan dan tanah
urug yang digunakan harus bersih dari kotoran-kotoran
organik dan lainlain sebagainya. Tiap lapis urugan maksimum
30 cm.
h. Semua galian parit dibawah pipa harus diurug dengan pasir
dari bagian bawah parit sampai sumbu pipa, urugan pasir ini
kemudian dipadatkan. Tebal urugan pasir sesuai dengan
gambar rencana.
i. Pengurugan pasir untuk dasar pipa baru dinyatakan selesai
setelah disetujui yaitu bila peil pipa sudah tepat pada
tempatnya.
j. Pada bagian samping dan atas pipa/sambungan pipa/fitting
harus diurug dengan pasir urug yang dipadatkan lapis demi
lapis, setiap lapis urugan pasir tidak lebih dari 10 cm dan tebal
urugan pasir sesuai dengan gambar.
k. Pengurugan lapisan tanah dilakukan lapis demi lapis sampai
kepermukaan yang direncanakan. Ketebalan tiap lapis tidak
lebih dari 30 cm. Urugan tanah untuk pemasangan pipa baru
dilaksanakan setelah pengurugan pasir sekeliling pipa yang
dipasang telah selesai disetujui Direksi Proyek.
l. Pengurugan tidak boleh dilakukan pada tempat-tempat
sambungan pipa, sambungan fitting dan tempat-tempat lain
yang ditentukan Direksi Proyek sebelum pengujian
pemasangan dinyatakan disetujui Direksi Proyek.
m. Bila sebelum pengujian pipa, ada bagian-bagian yang harus
diurug untuk kepentingan lalu lintas ataupun untuk keperluan
lain, Kontraktor atau pelaksana pekerjaan harus melaksanakan
sesuai dengan petunjuk Direksi Proyek.
Perbaikan 4 Pelaksana pekerjaan berkewajiban serta bertanggung jawab untuk
Kembali perbaikan kembali seperti keadaan/konstruksi semula (sebelum
pemasanan pipa) dengan konstruksi dan kwalitas yang minimal harus
sama, untuk semua bangunan dan konstruksi lainnya yang rusak oleh
akibat pelaksanaan pekerjaan pemasangan pipa, antara lain :
• Jalan aspal harus kembali beraspal
• Jalan batu harus kembali berbatu
• Trotoir beton harus kembali berbeton
• Bidang tanah berumput/tanaman-tanaman yang rusak harus
kembali berumput/tanaman-tanaman seperti semula.

• Dan lain-lain yang dijumpai selama pelaksanaan pekerjaan.


Biaya yang timbul akibat perbaikan ini adalah sudah termasuk kedalam
biaya pelaksanaan. Setelah pemasangan pipa, sisa-sisa tanah/material
bekas galian/urugan harus diangkut dan dibuang ke tempat lain yang
aman sehingga bersih/ rapi.

III. PENGETESAN PIPA


Pengetesan Pipa 1 1.1 Umum
a. Pipa yang telah dipasang harus di test/diuji pada setiap
sambungannya untuk diketahui apakah penyambungan pipa
sudah dilakukan dengan sempurna.
b. Pengetesan pipa dilaksanakan harus dengan sepengetahuan
dan disaksikan oleh Konsultan dan Direksi. Pengetesan ulang
harus dilaksanakan kembali bila hasil pengetesan belum
mendapat persetujuan Direksi royek.
c. Bila tidak ditentukan lain, maka semuai biaya yang timbul
akibat pekerjaan pengetesan ini menjadi tanggung jawab
Kontraktor.
d. Pada prinsipnya pengetesan dilakukan dengan cara bagian
demi bagian dari panjang pipa dengan panjang pipa untuk tiap
kali pengetesan tidak lebih dari 500 m.
e. Pengetesan pipa harus dilakukan dengan tekanan minimal 15
(sepuluh) atmosfir atau 2 kali tekanan kerja pipa, dan apabila
selama 1 (satu) jam tekanan tidak berubah atau turun, test
dinyatakan berhasil dan dapat diterima.
f. Pengetesan dapat dilaksanakan dengan cara – cara sebagai
berikut :
• Hydrostatic Pressure Test
• Leakage Test
g. Segala biaya untuk pengujian ini menjadi tanggung jawab
Kontraktor.

1.2 Hydrostatic Pressure Test


a. Umum
1. Setelah pipa dipasang dan sebagian telah diurug, pada pipa
tersebut harus dilakukan pengujian tekanan hidrostatis
(hydrostatic pressure test).
2. Semua peralatan yang diperlukan untuk pengujian ini
disediakan oleh Kontraktor. Cara – cara pelaksanaan
pengujian harus mendapat persetujuan Konsultan dan
Direksi.
b. Pelaksanaan Pengujian
1. Sebelum dilaksanakan pengujian, semua udara harus
dikeluarkan dari dalam pipa dengan cara mengisi pipa
dengan air sampai penuh. Bila pada jalur pipa yang diuji
tidak terdapat valve pembuangan udara (air valve),
Kontraktor dapat memasang kran pembuang udara pada
tempat yang disetujui Konsultan dan Direksi.
2. Setelah udara habis terbuang dari dalam pipa, kran
pembuang udara ditutup rapat – rapat dan kemudian
pengujian dapat dilakukan.
3. Saat – saat dilaksanakan pengujian, semua kran – kran
harus dalam keadaan tertutup.
4. Pada Setelah periode stabilisasi dari bagian pipa yang akan
diuji selesai, maka “Pengujian Tekanan “hingga tekanan
satu setengah kali dari tekanan kerja pipa, dilakukan
dengan bantuan pompa piston. Penambahan tekanan
hendaknya dilakukan secara perlahan-lahan dan merata.
Manometer dipasang pada ujung bagian pipa yang diuji
dan mempunyai sambungan stop cock ½”. Pengujian
tekanan pipa akan dilakukan dalam periode minimum 3
(tiga) jam untuk pipa berdiameter sampai dengan 150 mm
dan 6 (enam) jam untuk diameter lebih dari 150 mm.
5. Seluruh biaya pengujian ini dibebankan pada kontraktor
dan sudah termasuk dalam harga penawaran pipa.
c. Hasil Pengujian
Pada waktu pengujian, semua sambungan pipa, fittings
maupun perlengkapan lainnya harus diuji/ditest pada galian
parit yang terbuka (belum diurug). Bila kelihatan ada
kebocoran-kebocoran pada sambungan-sambungan tersebut
maka sambungan tersebut harus diperbaiki sehingga tidak
terdapat kebocoran pada tempat sambungan tersebut.
Bila ada pipa-pipa, sambungan pipa, fittings dan
perlengkapan pipa lainnya yang retak ataupun rusak pada
waktu pengujian tersebut, maka pipa, sambungan pipa,
fitting dan perlengkapan tersebut harus diganti dengan yang
baru dan pengetesan pipa harus diulang kembali.

1.3 Leakage Test


a. Umum
1. Pengujian kebocoran harus dilaksanakan setelah pengujian
tekanan hidrostatis selesai dilaksanakan dan berhasil baik.
2. Semua peralatan-peralatan yang diperlukan untuk
melaksanakan pengujian kebocoran harus disiapkan.
3. Lamanya pengujian untuk tiap kali pengujian adalah 2 jam
dan selama pengujian, pipa-pipa harus tetap menunjukkan
tekanan normal 10 kg/cm2.
4. Bila hasil pengujian tidak memenuhi persyaratan
yangditetapkan seperti diatas, pelaksana pekerjaan
harusmemperbaiki kebocoran- kebocoran pada
sambungan-sambunganpipa sampai hasil pengujian
kebocoran memenuhipersyaratan yang telah ditentukan.
Pengurasan Pipa 2 Kontraktor harus mencuci semua pipa yang sudah selesai dipasang. Air
yang dipakai untuk mencuci pipa tersebut adalah air bersih (potable) yang
disetujui Konsultan dan Direksi.
Pengurasan dilaksanakan mulai dari hulu pipa yang sudah dipasang dan
dibuang ke saluran – saluran drainage, secara berangsur – angsur segala
kotoran – kotoran yang ada didalam pipa dibersihkan.

Desinfeksi 3 a. Setelah semua pipa terpasang dan dikuras, semua pipa-pipa tersebut
seluruhnya sebaiknya didesinfeksi oleh pelaksana pekerjaan.
b. Desinfeksi didalam pipa dilakukan dengan mengisi air yang dicampur
dengan chloor sebanyak 10 mg/liter kedalam pipa.
c. Setelah 24 jam, sisa chloor harus diperiksa dan bila dari hasil
pemeriksaan tersebut ternyata sisa chloor lebih dari 5 mg/liter berarti
pekerjaan desinfeksi tersebut sudah memenuhi persyaratan.
d. Bila dari hasil pemeriksaan tersebut menunjukkan sisa chloor kurang
dari 5 mg/liter, maka chloor harus ditambah dan dicampur dan
selanjutnya ditunggu selama 24 jam lagi dan pemeriksaan dilakukan
kembal. Demikian seterusnya sampai sisa chloor lebih dari 5 mg/liter.

IV. AKSESORIS PIPA


Accessories 1 Pemasangan accessories yaitu katup-katup, katup-katup udara, wash out,
(Kelengkapan fitting-fiting, dan lain-lain akan menerima perhatian sama seperti pada
Pipa) pemasangan pipa, terutama mengenai pembersihan, dudukan, cara
penyambungan dan instruksi-instruksi pabrik pembuatnya. Katup-katup
yang terletak di bawah tanah untuk pipa yang letaknya horizontal, maka
katup-katup didudukan beton agar jangan terjadi retak pada pipa akibat
berat katup itu sendiri.

Katup-katup harus dilengkapi dengan “spindle”, rumah katup dan tutup


rumah katup sesuai dengan tipikal gambar detail. Rumah katup dan tutup
rumah katup akan terpasang hingga dapat berfungsi baik, bebas dari
kotoran-kotoran dan gangguan terhadap mekanismenya. Setiap katup
yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya setelah pemasangan akan
diperbaiki atas biaya Pemborong.
a. Air Valve
• Semua valves harus punya spesifikasi ukuran.
• Semua valves harus dilengkapi nama pabrik, tekanan kerja,
ukuran/diameter, dan arah aliran pada setiap badan valves.
• Valve terbuat dari ductile iron atau cast iron klass tinggi, cakram
dengan dudukan nikle atau stainless. Cakram alternatif dengan
lapisan plastic atau karet yang menutup penuh semua permukaan.
Tangkai valves harus dari stainless steel. Komponen yang lain bisa
dari gunmetal, aluminium, kuningan atau nikle tembaga dengan
campuran 5% dari seng.
• Dududukan valves harus bisa kokoh sempurna dicelah bagian
badan valve atau kokoh sempurna pada bagian tembereng
lingkaran, atau dengan cara lain terletak sempurna pada badan
valve dan aman terikat pada posisinya. Semua bagian, baut, mur,
dan ring (washer) untuk pengikat sempurna dibagian dalam valve
harus terbuat dari stainless steel type 304.
• Valve ukuran diameter 40 mm dan lebih kecil harus dari kuningan,
kecuali untuk pemutarnya (hand wheel) bisa memakai cast iron
atau besi tempa dan dilengkapi dengan baut penutup.
• Semua valve direncanakan untuk tekanan kerja tidak kurang dari
16 bar, jika tidak ada ketentuan lain.
• Supplier harus menyerahkan shop drawing (gambar rencana kerja)
ke tenaga ahli yang ditunjuk untuk persetujuan. Shop drawing
meliputi :
‐ Daftar dan rencana material
‐ Detail joint (dan bila diperlukan adaptor)
‐ Nama pabrik pembuat
‐ Ukuran, detail, material, ketebalan untuk setiap bagian.
b. Check Valve
• Ceck Valve harus mampu menahan tekanan akibat aliran balik
dalam pipa (water hammer) minimal 16 bar. Type check valve
adalah “Swing Check Valve” dan “Double Disk Check Valve”
untuk diameter 750 mm.
• Setiap check valve harus terbuat dari cast iron atau ductile iron
dengan dilengkapi dudukan karet, cakram (disc), tangkai valve,
dan mekanisme operasi, dan harus sesuai untuk semua pemakaian
peralatan seperti pada “standards for check valve” , dengan
“connected flange” ANSI B 16.1 atau International Standard yang
lain yang lebih tinggi kwalitasnya.
• Mekanisme pengoperasian untuk operasi manual harus bisa
terkunci sendiri tanpa bisa mengubah posisi cakram yang telah
diset akibat tekanan air atau getaran.
• Permukaan luar seluruh bagian valve dari besi harus dilindungi
oleh polyamide cured epoxy resin yang sesuai dan aman untuk
digunakan pada air minum.
c. Gate Valve
• Gate valve harus bisa menutup rapat tanpa ada celah sesuai dengan
BS 5150, BS 5163 atau AWWA C 500.
• Gate valve adalah tipe non-rising stem dan harus dilengkapi
dengan alat pengatur (hand whells, operating nuts) sesuai
spesifikasi. Operator harus bisa melihat pada arah mana untuk
mengatur posisi/membuka valve.
• Gate-Valves terbuat dari material sebagai berikut:
• Kandungan besi bagian dalam harus dilindungi/dilapisi cat dengan
polyamidecurd epoxy resin, yang aman dan sesuai untuk air
minum.
• Semua valves diameter 50 mm dan yang lebih besar memakai
hubungan flens. Valves dan stop cocks untuk pipa diameter 40 mm
kebawah memakai hubungan ulir.
• Kontraktor harus mengajukan accessories pipa kepada konsultan
pengawas dan Direksi untuk mendapat persetujuan sebelum
memesan atau mengadakan barang tersebut.

Perlintasan Pipa 2 Perlintasan pipa meliputi perlintasan pipa dengan jalan raya dan sungai
serta jalan kereta api apabila ada, seperti yang terlihat dalam gambar.
Pelaksana pekerjaan hendaknya mendapatkan izin-izin yang diperlukan
untuk membuat bangunan perlintasan dari instansi yang berwenang.

Perlintasan 3 Untuk pipa-pipa yang melintasi kali/sungai, bila mengizinkan, pipaipa


Kali/Sungai digantungkan pada jembatan yang ada dengan konstruksi yang
sederhana, yaitu dengan memakai gantungan dari besi plat yang
dikuatkan pada gelagar jembatan. Pipa yang digunakan untuk
perlintasan pipa adalah pipa baja atau pipa GI.
Apabila tidak memungkinkan digantung pada jembatan yang ada, harus
diadakan jembatan pipa tersendiri.

Shop Drawing 4 Shop Drawing dan Rencana Pelaksanaan


4.1 Shop Drawing dan Rencana Pelaksanaan
Dari hasil survey lapangan dan pengecekan kembali segala ukuran-
ukuran, gambar-gambar yang ada perlu disesuaikan.
Sebelum melaksanakan pemasangan jembatan pipa, gambar yang
menunjukkan semua ukuran-ukuran, detail pipa, pondasi
abutment, tiang pancang dan perhitungan-perhitungan yang
diperlukan harus ada.
PEKERJAAN SUMUR
A. PEKERJAAN PERSIAPAN
1. Umum
Dalam melaksanakan Pekerjaan ini, Kontraktor harus melakukan pekerjaan persiapan sebaik-
baiknya agar pelaksanaan paket pekerjaan dapat diselesaikan tepatwaktu. Pekerjaan persiapan
mencakup jenis pekerjaan yang dibutuhkan bagi pelaksanaan pekerjaan utama yakni
pengeboran sumur.
2. Mobilisasi Peralatan untuk pekerjaan Pengeboran
Kontraktor memobilisasi peralatan yang dibutuhkan untuk melaksanakan pekerjaan pengeboran
dari workshop/kantor pusat/kantor cabang kontraktor yang ada di Denpasar ke lokasi
proyek/lapangan.
Kontraktor apabila diminta oleh Direksi harus memperbaiki/Memperbaiki jalan masuk serta
memperkuat jembatan dan/atau gorong-gorong untuk masuknya peralatan pengeboran. Metode
penguatan jembatan dan/atau gorong-goring harus mengikuti petunjuk Direksi. Penguatan
jembatan dan/atau gorong-gorong ini harus dipelihara selama pekerjaan berlangsung sehingga
mampu untuk dilewati kendaraan roda empat sampai seluruh pekerjaan selesai.
Tidak ada pembayaran khusus yang dapat ditagihkan untuk pekerjaan ini. Biaya untuk
pekerjaan ini sudah termasuk dalam biaya tidak langsung (overhead) di dalam Daftar kuantitas
harga.
2.1 Persiapan Lokasi Pengeboran
Untuk memudahkan pelaksanaan pekerjaan pengeboran, sebelum mobilisasi kontraktor harus
mengajukan usulan kepada Direksi tentang peralatan dan perlengkapan yang dibutuhkan untuk
konstruksi sumur dan penempatannya pada tiap lokasi pengeboran. Setelah usulan tersebut
disetujui oleh Direksi maka pekerjaan persiapan lokasi dapat dimulai. Apabila pada lokasi
tersebut terdapat tanaman Kontraktor harus membebaskannya dengan ganti rugi dengan
pembiayaan ditanggung oleh Kontraktor. Tidak ada pembiayaan khusus yang dapat dimintakan
kepada Pihak Kesatu untuk ganti rugi tersebut.
2.2 Kolam Lumpur
Untuk pengeboran dengan cara direct circulation mud lush Kontraktor harus membuat 2 (dua)
kolam Lumpur pada lokasi, satu berfungsi sebagai kolam pengendap dan lainnya sebagai kolam
sedot, maisng-masing berukuran 2 m x 2 m x 2 m dengan dinding dibuat miring dan diplester.
Kolam-kolam tersebut dihubungkan satu dengan lainnya ke lubang bor – dengan kanal
berukuran lebar 0.30 m pada bagian dasarnya dan kedalaman 0.40 m. selama operasi
pengeboran , kolam dan saluran ini harus dibersihkan dari endapan.
Penempatan kolam Lumpur disesuaikan dengan sitausi dan kondisi lokasi pekerjaan sehingga
Lumpur yang keluar dari lubang bor langsung dialirkan menuju ke dalam kolam pengendap.
Selanjutnya, cacahan batuan akan mengendap dan Lumpur terus mengalir ke dalam kolam
Lumpur pertama yang dibuat sedemikian rupa sehingga aliran cukup tenang sehingga mampu
mengendapkan material-material yang berbutir halus. Lumpur kemudian mengalir ke kolam
Lumpur kedua untuk kemudian dipompa kembali ke dalam sumur.
Pipa hisap yang dari pompa Lumpur yang dimasukkan dalam kolam Lumpur kedua harus
ditempatkan dalam jarak yang agak jauh dari saluran tempat datangnya Lumpur kolam pertama
sehingga Lumpur tersebut tidak langsung terhisap oleh pompa karena kemungkinan masih
terdapatnya materi halus/kotoran. Kedalam pembenanam ujung pipa hisap tidak boleh terlalu
dekat dengan dasar kolam untuk menghindari terhisapnya material-material yang terendap.
2.3 Penyediaan Air
Untuk keperluan pekerjaan pengeboran Kontraktor diwajibkan menyediakan air dan menjamin
kelancaran penyediannya. Mutu dan jumlah air yang disediakan harus sesuai dengan ketentuan
yang diberikan oleh Direksi.
2.4 Pengamanan Lokasi
Kontraktor berkewajiban menjaga keamanan peralatan, pipa-pipa dan semua yang terdapat di
lokasi pengeboran. Kontraktor juga harus menjaga semua bangunan, pipa saluran, pohon, jalan
dan lain-lainnya di sekitar lokasi pengeboran supaya.
Penempatan kolam Lumpur disesuaikan dengan situasi dan kondisi pekerjaan sehingga Lumpur
yang tidak terganggu selama pekerjaan berlangasung. Apabila seluruh pekerjaan telah selesai
Kontraktor harus melakukan pemulihan lokasi ke keadaan semula dan membayar ganti rugi
dengan biaya sendiri apabila terdapat kerusakan. Tidak ada pembiayaan khusus yang dapat
dimintakan kepada Pihak Kesatu untuk ganti rugi ini.
3. Pemasangan dan Pembongkaran Unit Mesin Bor dan Peralatan Pendukungnya
Sebelum operasi pengeboran dimulai, mesin bor harus dipasang dengan hati-hati di atas pondasi
yang kuat dan rata agar dapat memberikan hasil yang baik, serta menghindari kemungkinan
terjadinya kecelakaan terhadap personel atau tenaga kerja.
4. Demobilisasi peralatan untuk pekerjaan pengeboran
Demobilisasi peralatan pengeboran hanya daapat dilakukan setelah memperoleh ijin dari
pengawas lapangan dan Direksi, dan pekerjaan dinyatakan sudah selesai. Demobilisasi dihitung
dari lokasi proyek ke workshop/kantor.
5. Penyusunan Laporan dan dokumentasi
Catatan terperinci mengenai semua data dan informasi yang diperoleh dari semua pekerjaan yang
dilaksanakan, harus disimpan untuk sewaktu-waktu akan diperiksa atau disahkan oleh Direksi.
Kontraktor harus membuat laporan setiap hari kepada Direksi mengenai material yang digunakan,
pekerjaan yang telah dan akan dilaksanakan, termasuk kedalaman pengeboran dan data lain yang
dibutuhkan Direksi. Bentuk laporan akan dibuat mengikuti format yang mengandung penjelasan-
penjelasan detil memgenai data yang diperoleh selama pembuatan sumur.
Laporan untuk pekerjaan pengeboran meliputi hal-hal di bawah ini :
1. Log pengeboran harian, meliputi keterangan mengenai jalannya operasi pengeboran antara
lain pekerjaan pengeboran, instalasi sumur, development sumur, personel, peralatan dan
material yang dipakai, pengukuran pipa, kedalaman sumur, dan data lain yang dibutuhkan
Direksi.
2. Log litologi geologi dan penampangan geofisik yang memberikan informasi mengenai jenis
dari sifat batuan, kedalamannya, nomor contoh cacahan batuan, Log Resistivity. SP dan Log
Gamma Ray.
3. Catatan mengenai rencana posisi pipa saringan (desain sumur) dan hasil pemasangannya
berupa gambar kontruksi sumur).
4. catatan mengenai pekerjaan pembersihan sumur meliputi bedit, muka air tanah, lama
pengoperasian, pengamatan kekeruhan air, alat dan material yang dipakai, jumlah personel,
jam kerja, dan sebagainya.
5. Catatan mengenai kegiatan pemompaan uji dan semua data yang dikumpulkan selama
pengujian.
6. catatan mengenai pH, temperature, EC dan jumlah kandungan pasir dari air yang dipompa.
7. Kurva gradasi hasil analisis besar butir contoh cacahan batuan dan kerikil pembalut.
Kegiatan pekerjaan pembuatan sumur harus didokumentasikan dengan foto-foto yang diambil
untuk masing-masing sumur. Pengambilan foto tiap sumur harus meliputi :
1. Saat sumur dalam kondisi 0%
2. Saat pelaksanaan pengeboran berlangsung.
3. Saat 50% pengeboran
4. Saat proses logging
5. Saat uji air lift.
6. Saat pemasangan pipa
7. Saat pengisian gravel pack
8. Saat development
9. Saat uji pemompaan
10. Saat pemasangan tutup sumur atau kondisi 100%

B. PEKERJAAN PENGEBORAN SUMUR


1. Umum
Kontraktor harus melakukan pekerjaan konstruksi sumur Uji dan harus melakukan
pengumpulan sumur yang meliputi mengabilan contoh cacahan batuan (cutting), deskripsi
litologi, penampangan geofisik (geophysical logging), uji pemompaan, pembersihan sumur
(well development0, pengambilan contoh air dan analisa kimia lengkap contoh air dari sumur
tersebut.
Pekerjaan logging dan pemompaan uji harus dilaksanakan dengan supervise langsung dari
Direksi Pekerjaan.
2. Lokasi Pekerjaan
Jumlah sumur yang akan dikerjakan adalah sebanyak 1 (satu) buah sumur. Dengan total
kedalaman 150 m, di Kabupaten Ende
3. Peralatan Pengeboran
Peralatan Utama
Peralatan utama untuk pekerjaan pengeboran terdiri dari mesin bor (drilling rig), pompa Lumpur
(mud pump), danm kompresor (air compressor0.
(i) Mesin bor
Mesin bor yang digunakan dalam pekerjaan pengeboran adalah sesuai dengan yang
disebutkan di bawah ini :
a. Drilling ring tipe skip mounted, truck mounted, atau tractor mounted : dirancang
khusus untuk pengeboran dengan menggunakan sistim hydraulic dan atau mekanikal
dan yang mempunyai kemampuan pull down (angkat dan tekan) minimal 5 (lima) ton
dan yang dapat melakukan/ melaksanakan pemboran di segala macam formasi lapisan
dengan diameter 15 inchi (secara langsung ataupun bertahap) sampai macam dengan
kedalaman minimal diameter 150 meter.
b. Metode pengeboran dengan cara memutar, baik dengan cara rotary head, atau rotary
table, atau rotary with spindle torque, dengan kemampuan dapat memutar stang bor
(drilling rod) minimal diameter 2-7/8 inchi
c. Metode sirkulasi pengeboran adalah direct circulation (sirkulasi langsung)
d. Pompa Lumpur
Pompa untuk sirkulasi Lumpur pengeboran berupa tipe double actioan plunger pump
dengan kemampuan debit 730 liter/menit dengan tekanan kerja (working preassure)
34 kg/cm2
e. Kompresor (air compressor)
Kompresor yang digunakan memiliki kemampuan minimal CFM dengan tekanan
kerja 150 Psi.
f. Electric Logging
Peralatan untuk penampangan geofisika adalah alat yang menghasilkan nilai atau
jkurva SP log. Reistivity log, dan gamma Ray log. Alat tersebut harus dapat
diguanakan minimal sampai dengan kedalaman 150 meter.
Kemampuan seluruh peralatan tersebut di atas harus dapat dibuktikan dengan brosur
asli dari pabrik pembuat.
3.2 Peralatan lainnya
Peralatan-peralatan pendukung lainnya yang harus tersedia antara lain :
(i) Stang Bor (drill rod)
Panjang minimal satang bor per batang adalah 3 meter dengan minimum diameter 2-7/8
inch. Stang bor harus dalam kondisi baik dan lurus.
(ii) Mata Bor (drilling bit)
Jenis dan jumlah mata bor harus disediakan sesuai dengan informasi batuan yang akan
dibor serta diameter pengeboran.
(iii) Mesin Las (electric welder)
Mesin las yang digunakan memiliki kemampuan 200 ampere
(iv) Generator set. Sebagai sumber tenaga untuk penggerak motor pompa pada saat uji
pemompaan berlangsung dengan daya keluaran minimal 30 KVA
(v) Peralatan Uji Pemompaan (pumping test quipment)
- Pompa selam (submersible) memiliki kemampuan debit maksimum 20 liter/detik dengan
total dynamic head minimum 50 m.
Pengukur muka air (electric water level sounding)
- Alat pengukur debit (discharge neasuring device) berupa orifice weir atau V-notch
bersudut 90 lengkap dengan boks penenang arus dari plat baja dengan dimensi minimum
1,5 x 1 x 1 m.
Thermometer, pH meter, EC meter

3.3 Tipe Sumur


Sumur yang akan dikerjakan oleh Kontraktor adalah jenis sumur uji dengan kedalaman rata-
rata 150 m, dengan menggunakan pipa galvanis diameter 6” lurus beserta saringan (screen
stainless steel) diameter 6” Total kedalaman konstruksi sumur adalah 150 m atau disesuaikan
dengan kondisi lapangan dan/ atau menurut arahan direksi.
Bagian bawah kontruksi pipa disambungkan dengan cone botton plug yaitu suatu pipa
berbentuk kerucut di mana ujung kerucut tidak tertutup.
Pipa saringan akan dipasang pada lapisan yang diperkirakan sebagai akuifer dan pipa naik
berupa pipa buta dipasang pada lapisan yang diperkirakan bukan akuifer. Untuk
mempertahankan posisi rangkaian kontruksi berada tepat di tengah diameter sumur maka
untuk setiap jarak 12 m rangkaian pipa dipasang suatu perangkat pemusat. Pada ruang antara
dinding sumur dan rangkaian pipa (annulus) dilakukan pengisian kerikil pembalut mulai dari
dasar lubang bor hingga pada kedalaman yang ditentukan oleh Direksi. Sisa kedalaman yang
tidak diisi kerikil, dilakukan sementasi (mortar grouting) pelaksanaan kontruksi sumur
dilakukan setelah kontraktor memperoleh gambar konstruksi dari direksi yang didesain
berdasarkan data-data yang diperoleh selama pengeboran dan hasil pelekasanaan
penampangan geofisika. Gambar konstruksi sumur berisikan diameter, panjang dan posisi
pipa jambang, pipa naik, maupun pipa saringan.
4. Prosedur Pekerjaan Pengeboran dan Konstruksi Sumur
Untuk memulai pekerjaan pengeboran di lokasi, Kontraktor harus memberitahukan kepada
Direksi paling lambat 24 jam sebelumnya. Kalau tidak ditentukan lain oleh direksi, maka
pengeboran dilakukan dengan metode direct circulation mud flush.
Secara umum urutan pekerjaan pengeboran dan kontruksi sumur adalah sebagai berikut :
1. Kegiatan pendahuluan termasuk persiapan lokasi;
2. Mobilisasi rig, peralatan, dan personel lokasi pengeboran;
3. Pemasangan rig dan peralatan lain di lokasi pengeboran;
4. Pengeboran lubang dia 12 inch dari permukaan tanah sampai kedalaman 6 m;
5. Pemasangan pipa konduktor (temporary casing) dia 12 inch sampai kedalaman 6 m;
6. Pengeboran pilot hole dia. 8’’ inch mulai dari kedalaman 6 m (di bawah pipa konduktor) dan
pengambilan contoh cacahan batuan dari setiap meter kedalaman;
7. Pelaksanaan penampangan geofisik;
8. Air-lift test;
9. Pengeboran pembesaran lubang (reaming) dari 12 inch sampai pada kedalaman yang
ditentukan;
10. Instalasi pipa dia. 6 inch dan stole saringan dia.6 sesuai kedalaman yang ditentukan;
11. Uji ketegaklurusan (verticality test);
12. Pengisian kerikil pembalut pada bagian anmulus dari dasar sumur sampai batas atas yang
ditentukan;
13. Well development dengan metode water jetting dan air jetting
14. Sementasi pada bagian anmulus mulai dari bagian atas kerikil pembalut sampai ke permukaan
tanah;
15. pencabutan pipa konduktor;
16. pembongkaran rig;
17. Pembuatan beton lantai sumur (concrete slab) ukuran 1.0 x 1.0 x 0.30 m, pemasangan tutup
sumur (well cap) dan patok sumur;
18. Uji pemompaan termasuk pengukuran EC (electrical conductivity) dan pengambilan contoh
air untuk analisa kimia lengkap di laboratorium.

5. Pengeboran segaa Formasi  12”


Pengeboran yang dimaksud di sini adalah untuk tempat pemasangan pipa konduktor dengan
kedalaman 6 meter ditentukan lain oleh direksi dan/ atau pengawas lapangan.
Mata bor yang dipakai harus disesuaikan dengan formasi batuan di 6 m pertama kedalaman
pengeboran.

6. Pemasangan dan Pembongkaran Pipa Konduktor Diameter 12”


Pipa konduktor di pasang di lokasi sumur untuk mencegah runtuhnya lapisan tanah atas selama
pengeboran berlangsung. Diameter pipa konduktor ditentkan oleh Direksi berdasarkan lubang
yang akan dibor. Kedalaman pipa konduktor ditentukan berdasarkan keadaan lapangan di lokasi
dan harus dengan persetujuan Direksi. Setelah pekerjaan yang membutuhkan pipa konduktor
selesai maka kontraktor harus mencabut pipa tersebut.
Bahan konduktor adalah pipa besi/baja atau pipa PVC dengan diameter 12 inch dan panjang 6
m. pipa konduktor di pasang di lokasi sumur untuk mencegah runtuhnya lapisan tanah atas
selama pengeboran berlangsung. Diameter pipa konduktor ditentukan oleh Direksi berdasarkan
lubang yang akan dibor. Kedalaman pipa konduktor ditentukan berdasarkan keadaan lapangan
di lokasi dan harus dengan persetujuan Direksi. Setelah pekerjaan yang membutuhkan pipa
konduktor selesai maka kontraktor harus mencabut pipa tersebut.
Bahan kontraktor adalah pipa/baja atau pipa PVC dengan diameter 12 inch danpanjang 6 m.

7. Pengeboran pada segala Formasi  8 ¾ “ dengan menggunakan Bentonit


Apabila tidak ditentukan lain maka pengeboaran harus dilaksanakan sesuai dengan desain yaitu
dengan diameter 8”. Sesuai dengan sifat formasi dan jenis peralatan yang dipakai, maka
berdasarkan kondisi dan situasi yang dihadapi dilapangan, diameter pengeboran dapat berubah
atas instruksi Direksi, demi tujuan untuk lancaran pekerjaan pengeboran, pemasangan pipa,
kerikil pembalut, dan lain-lain. Apabila potensi akuifer dinilai belum mencukup atau
disebabkan kualitas air yangtidak memenuhi syarat yang diinginkan, maka kedalaman
pengeboran dan pemasangan pipa dapat diubah atas pertimabngan dan instruksi Direksi.
Jenis mata bor yang dipakai harus sesuai dengan kekerasan formasi batuan yang dibor. Apabila
terjadi pergantian formasi batuan dan dinilai mata bor yang dipakai sudah tidak sesuai lagi,
maka mata bor harus diganti dengan jenis yang suai dengan formasi batuan. Mata bor tipe there
conebit harus dari bahan sekurang-kurangnya wi-dia (wie dioamond)
Betonite harus digunakan sebagai pengental Lumpur sirkulasi agar berat jenisnya naik, sehingga
selama proses pengeboran, Lumpur dapat mengangkat potongan batuan yang ditembus oleh
mata bor dari dalam lubang bor. Betonite yang dipakai harus tipe baroite sesuai dengan standar
ANSI/NSF 60, atau API DM-A3 atau standar lain yang diakui.
Alat Marsh funnel dan mud balance disediakan di lokasi pengeboran agar selalu dapat dilakukan
pengecekan sifat Lumpur setiap saat. Selama operasi pengeboran kekentalan dan densitas
Lumpur harus diukur setiap jam dengan lat ersebut. Kekentalan Lumpur pengeboran harus
dipertahankan antara 55 sampai 70 detik. Densitas Lumpur harus diperhankan kira-kira 1.07.
Kandungan pasir dari Lumpur pengeboran tidak lebih dari 5%. Apabila sirkulasi Lumpur
berhenti pada waktu pekerjaan pengeboran maka rangkaian mata bor dn pipa bor harus segera
diangkat dari lubang sumur.
Untuk memperoleh lubang bor dan contoh batuan yang baik maka kontraktor harus
melaksanakan pencucian lubang bor dengan Lumpur mengeboran atau sirkulasi Lumpur tanpa
penetrasi yang dilakukan pada akhir setiap meter kemajuan pengeboran.
Apabila lubang bor telah mencapai kedalaman yang ditentukan atau seperti yang dinstruksikan
oleh Direksi, maka pengeboran akan dihentikan atas ijin Direksi. Kemudian luibang bor harus
dicuci sampai bersih dari endapan dengan melakukan sirkulasi terus-menerus selama lebih
kurang 4 (empat) jam. Setelah lubang sumur bersih dari endapan maka untuk keperluan logging,
selama sirkulasi berlangsung dilakukan pengurangan kekentalan Lumpur pengeboran sampai
dengan 33 detik Marsh Funnel.
8. Pengambilan contoh dan Deskripsi Lithologi Batuan
Kontaktor harus melakukan pengembilan contoh batuan setiap meter pengeboran dari
permukaan tanah sampai kedalaman yang ditentukan.
Contoh batuan minimum berat 05 kg harus dicuci dan dikeringkan dan dimaskkan ke dalam
kantong plastic transparan (tembus pandang). Setiap kantong ditandai nomor, kedalaman
sampel, dan tangal pemgambilan, kemudian ditaruh ke dalam kotak kayu yang dibuat
sedemikian rupa untuk memudahkan pemeriksaan oleh Direksi di lokasi.

9 Penampang Geofisik
Penampangan Geofisik dilaksanakan segera setelah lubang penuntun (pilot hole). Dicuci dengan
sirculasi lumpur, dan telah dilakukan pengurangan kekentalan lumpur sampai 33 detik Marsh Funnel
agar probe dari electric logger dapat mencapai dasar lubang bor dengan bebas. Kontraktor harus
menyediakan peralatan logger dan kelengkapannya serta menyediakan transportasi untuk peralatan
maupun operator logger.
Peralatan looger harus mempunyai kemampuan penampangan resistivity, SP, dan gamma ray, hingga
kedalaman minimum 150 m, keluaran berupa grafik dari resistivity Log, SP log dan amma Ray Log
harus dalam bentuk digital dan harus dapat dicetak seketika di lapangan, saat penampangan selesai.
Pengukuran akan diperhitungkan menurut jumlah lokasi (lok) sumur dalam yang telah dikerjakan
penampangan geofisi dan dianggap sah bila disaksikan bersama dengan pengawas dan direksi.

10 Pembesaran Lubang Bor Ø 8 ” menjdi Ø 12”


Kontraktor harus melaksanakan pelebaran lubang bor 12” hingga kedalaman yang ditentukan oleh
direksi.
Jenis dan diameter mata bor yang dipakai dalam pelebaran lubang bor harus sesuai dengan formasi
batuan yang ditebus dan diameter lubang bor yang disyaratkan.
Pengukuran/pembayaran diperhitungkan dari kedalaman diameter lubang yang dilebarkan dalam
satuan meter (m) dan dinyatakan sah bila dilakukan pengukuran bersama dengan pengawas dan
direksi berdasarkan lembar/gambar kerja yang telah disetujui.
11 Pengadaan dan Pemasangan Pipa Galvanis Ø 6” (Casing) berikut centralizer
Sesudah kedalaman selesai dilaksanakan, kontraktor melakukan pemasangan pipa selubung/buta
(casing) dan saringan ke dalam lubang bor. Posisi rangkaian pipa masing-masing berjarak 12 m.
Walaupun sistim sambungan pipa dan sreen menggunakan las yang relative kuat kontraktor
berkewajiban memperkuat dengan plat besi yang dilas pada setiap sambungan sedangkan untuk
screen casing pengamanannya sesuai dengan petunjuk direksi.
Pemasangan wajib melakukan pengadaan material pipa selubung dan saringan untuk sumur sesuai
dengan spesifikasi dan yang ditentukan oleh Engineer.
(1) Pipa selubung/buta
Pipa buta dia 6” memiliki standar sebagai sebagai berikut :
 Pipa dia 6” memiliki diameter dalam (inside diameter) 6 inch dan tebal 7.00 mm kualitas
baja menurut stabdar ASTM 53, atau BS 879, atau API 5L atau standar
national/international lain yang diakui.
(2) Perangkat pemusat dibuat dari bahan plat baja, dibentuk sedemikian rupa hingga
memungkinkannya bebas mengembang sesuai dengan diameter lubang bor.
1. Pengadaan dan Pemasangan Saringan Diam 6”
Penyambungan pipa selubung dengan saringan dan penyambungan antar saringan harus
dilakukan dengan pemakaian sistim sambungan las. Pengadaan dan pemasangan saringan
dilakukan oleh kontraktor, sementara posisi saringan ditentukan oleh Engineer.
Saringan berupa saringan buatan pabrik (fabricated) Screen stainless steel, dengan bukaan celah
(slot openimg) no. 40 atau 1 mm seperti dalam gambar. Diameter 6” sesuai dengan diameter
dalam pipa buta 6”
Pengukuran volume diperhitungkan menurut jumlah saringan yang terpasang dalam satuan
meter (m) dan dinyatakan sah bila dilakukan pengukuran bersama pengawas dan direksi
berdasarkan lembar/gambar kerja yang telah disetujui.

2. Uji ketegak lurusan.


Ludang pengeboran harus tegak dan lurus sehingga memudahkan untuk instalasi pipa selubung
dan saringan, dan memudahkan pengisian kerikil pembalut di annulus.
Pipa selubung dan sringan harus tegak dan lurus untuk memudahkan pemasangan dan
pengiperasiannya pompa selam.
Pengujian ketegak lurusan wajib dilakukan dengan menurunkan peralatan pengujian yang telah
disetujui oleh diereksi Teknis ke dalam sumur.
Pengujian ketegak lurusan sumur dilakukan dengan menurunkan peralatan pengujian yang telah
disetujui oleh direksi Teknis ke dalam sumur.
Pengujian ketegak lurusan sumur dilakukan dengan menggunakan system pemberat (bob) dan
kabel baja (string) yang dimasukan pada pipa jambang pompa (pump chamber) dan diturunkan
sepanjang pipa jambang tersebut.
Pengujian dilakukan dua kali yaitu pada waktu menurunkan dan menaikan bob. Pada saat
pengujian naik, saat string telah berada pada posisi yang benar (pusat), kerikil pembalut dapat
dimasukan hingga kedalaman tersebut (dimana bob be)
Peralatan dan bahan
1. Bor diameter 8” (disesuaikan dengan diameter pipa konstruksi sumur/pipa jambang)
2. Kabel (string) baja diameter 1/8” (3 mm) dengan panjang yang sesuai dengan panjang pipa
jambang
3. Winch yang mempunyai kemampuan yang cukup untuk digunakan menaikan atau
menurunkan bob.
4. Sheave yang telah dipersiapkan dan dipasang pada jarak 3 meter dari puncak casing, digantung
pada tripod yang sesuai.
5. Beri tanda puncak casing (utara, selatan, barat dan timur)
6. Ratakan plat bob (bagian atas) dengan puncak casing.
7. Bob diturunkan ke dalam pipa jambang dan diukur letak/pergeseran posisi string terhadap
pusat.
8. Mengukur deviasi dalam mm terhadap empat arah (yang diberikan tanda tersebut)
9. Proses pengukuran string terhadap pusat tersebut dilakukan pada setiap jarak 3 meter
penurunan dan penaikan
10. Pengukuran dilaksanakan sepanjang pipa jambang atau sesuai permintaan Pihak Pertama
(Direksi)
11. Jika pengukuran string tidak berada pada pusat, pipa jambang harus didorong searah
penyimpangan hingga string mencapai titik pusat atau sampai pada posisi yang dapat
ditoleransi dan kerikil dapat dimasukan hingga kedalaman tersebut.

3. Pengadaan dan penyetoran Krikil Pembalut


Sesudah pekerjaan pemasangan casing dan saringan selesai dilaksanakan, dan uji ketegak
lurusan dilaksanakan, pengisian kerikil pembalut dapat dilakukan sesuai dengan instruksi dan
metode yang disetujui oleh Enginer. Pengisian dilakukan mulai dari dasar sumur hingga
kedalaman yang ditentukan oleh engineer. Kontraktor mencatat secara tepat volume kerikil pada
setiap sumur.
Pengisian dilakukan dengan hati-hati dengan batuan pipa treme atau cara lain, sehingga kerikil
menempati seluruh sisi sarngan terbungkus kerikil dengan baik
Kerikil pembalut harus merupakan material butirn yang membundar (rounded), terpilah
seragam(uniformly graded), dengan diameter antara 8 mm – 10 mm, dengan kekerasan tidak
kurang dari 7 skala Moss.
Pengukuran volume pekerjaan diperhitungkan menurut volume dalam meer kubik (m3) dari
gravel pack yang telah terpasang didalam sumur dan dinyatakan sah bila dilakukan perhitungan
bersama dengan pengawas dan direksi berdasarkan lembar/gambar kerja yang telah disetujui.

4. Pembersihan sumur dengan senburan air dan bahan Pembersih


Kontraktor wajib melaksanakan kegiatan pembersihan sumur (well development) dengan
metode-metode yang efektif untuk menbersihkan formasi lapisan air dari pasir, lumpur
pengbiran, mud cake, dan material-material halus linnya dan keluar melalui sarangan dan sumur
sehingga pada saat dilakukan pemompaan, air yang keluar benar-benar bersih dari kandungan
pasir.
Metode yang digunakan adalah metode high velocity jetting dengan udara (air jetting).
Pemberihan sumur harus terus berlanjut sampai air yang dipompa dari sumur pada uji debit
maksimum adalah jernih dan bebas dari pasir.
Selama kegiatan pembersihan, Kontraktor harus selalu mengukur posisi kedalaman kerikil
dalam lubang annulus. Apabila terjadi penurunan maka Kontraktor harus segera menambah
kerikil sampai pada kedalaman semula.
Bahan pembersih yang diperoleh dalam pelaksanaan Development adalah Foam, Calgon atau
detergen sedangkan bahan lainnya tidak dibenarkan kecuali telah mendapat ijin tertulis dari
Pihak Pertama.

Tujuan dari pada Develoment/Well Development adalah :


o Membersihkan sumur agar air yang keluar pada saat pemompaan bebas dari kotoran
pembiran/Cutting dan atau pasir halus serta tidak lagi mengandung unsure Bentonite (drilling
Fluid).
o Membebaskan slotted screen dari sumbatan pasir dan atau mud cake yang menghalangi
masuknya air tanah kedalaman sumur.
Karena itu Pihak Kedua tidak dapat menolak. Jika diminta oleh Pihak Pertama/direksi Pekerjaan
untuk melakukan Development dengan menggunakan system Air Lift Jetting atau dengan
kombinasi keduanya atau memperpanjang waktu pelaksanaan Development.
5. Pembersihan Sumur dengan Semburan Udara (Air Jetting)
Menggunakan pipa tiup 1 ¼ inchi yang dilengkapi dengan jetting tool berdiameter 3 inchi
Jetting tool dengan 12 lubang/nozzle berdiameter 6 mm sangat cocok untuk compressor yang
bertekanan minimal 150 PSI. Development dengn method Air Jetting dilakukan mulai dari
screen yang paling atas dan berakhir pada dasar sumur (botton). Selama Development
berlangsung pipa tiup harus selalu digerakan (turun dan naik dan diputar kekanan dan kekiri)
agar semua permukaan screen terkena semprotan udara dengan demikian akan
membebaskanslotted screen dari pasir halus atau mud cake yang menempel yang menghalangi
jalan masuknya air kedalam sumur.

6. Pembersihan sumur dengan Air Lift


1. Methode Air Litf
Yang dimaksud adalah yang menggunakan pipa tiup 1 ¼ inchi dan pipa naik berdiameter 4
inchi. Pipa tiup dipasang lebih pendek 3 meter dari pipa naik sehingga ketika Development
berlangsung akan terjadi gaya isap yang besar, hal ini dimaksudkan untuk mengeluarkan
kotoran (mud cake atau pasir halus) yang berada dalam sumur.
Development dengan method Air Lift dilakukan dari kedalaman screen yang pertama sampai
pada dasar sumur (well botton)
2. Peralatan dan Bahan
Peralatan yang digunakan untuk pekerjaan ini terdiri dari compressor dengan kapasitas 100-
150 psi, pipa educator, dan pipa airline.
Pengukuran Volume pekerjaan diperhitungkan menurut jam kerja (jam) dinyatakan sah bila
dihitung bersama dengan pengawas dan direksi berdasarkan lembar kerja yang telah disetujui.

7. Pengadaan dan Pemasangan Tutup Sumur


Apabila pemompaan uji telah selesai dilaksanakan, Kontraktor harus memasang tutup sumur
untuk mencegah material-material asing yang masuk ke dalam sumur.
Tutup sumur jenis well flence yang dilas pada ujung pipa dari well head, pengelasan harus kuat
dan rapi.
Bentuk dari tutup sumur yaitu bundar dengan bahan baja, yang dilubangi di bagian tepinya
untuk tempat masuknya mur dan baut tutup sumur tersebut.
Pengukuran volume pekerjaan diperhitungkan menurut jumlah tutup sumuryang telah
terpasang.

8. Pengadaan dan Pemasangan Penutup Dasar Sumur.


Penutup dasar sumur (bottom plug) dipasang pada bagian ujung pipa berfungsi sebagai
pengendap material/partikel (pipa sedimentasi).
Bahan penutup dasar sumur terbuat dari pipa baja hitam diameter 6 inchi dengan panjang 30
cm, yang berbentuk kerucut di bagian ujungnya.
9. Pengadaan dan Pemasangan Patok Nomor Sumur
Setelah sumur tertutup, Kontraktor harus memasang patok tanda pengenal sumur. Pada patok
tersebut tercantum nomor sumur, tahun pembuatan dan nama pemilik proyek.
Patok dicat dengan warna biru tua sedangkan warna tulisan adalah putih. Patok ditanam sedalam
0,5 m dan kemudian tanah dari galian tersebut dipadatkan sehingga patok berdiri dengan kokoh.
Pembuatan patok dan tempat pemasangan harus sesuai dengan petunjuk Direksi.
Adapun Spesifikasi untuk bentuk dan ukuran patok adalah sebagai berikut :
1. Ukuran diensi 0,15 x 0,15 m dengan tinggi 1.00 m
2. Dengan struktur besi tulangan dan cor beton.
3. Campuran beton adalah 1 Pc : 2 Psr : 3 Krl.

10. Sementasi dan Pengecoran Lantai Sumur


Setelah pembersihan sumur selesai dan pipa konduktor dicabut maka ruang annulus yang berada
di ats kerikil pembalut harus diisi dengan mortar, yakni mulai dari bagian atas kerikil pembalut
sampai dengan permukaan tanah.
Pengisian mortal juga dilakukan pada suatu zona kedalaman tertentu sesuai dengan gambar atau
sesuai denga petunjuk dari direksi.
Setelah pengisian semen mortal sampai kepermukaan tanah selanjutnya dibuatkan beton lantai
sumur.
Sementasi menggunakan bahan semen 1 Pc : 2Psr : 3 Krl lantai dasar sumur denga 1 x 1 x 0,30
m.
Pengukuran volume pekerjaan dilakukan dengansatuan meter kubik (m#) dinyatakan sah bila
dilakukan pengukuran bersama dengan pengawas direksi.

C. PEKERJAAN UJI PEMOMPAAN


1. Umum
Setelah kegiatan pemebrsiahan sumur selesai, Kontraktor mempersiapakan untuk kegiatan
pemompaan uji.
Pengujian yang akan dilaksanakan antara lain sebagai berikut :
a. Uji pemompaan bertahap (step drawdomn test)
b. Uji pemompaan dengan debit tetap (constant rate test)
c. Uji kambuh (recovery test)

2. Pemasangan dan Pembongkaran Peralatan Uji Pemompaan.


Sebelum uji pemompaan dimulai, mesin pompa harus dipasang dengan hati-hati di tengah
lubang pipa jambang agar dapat memberikan hasil yang baik dan mencegah kerusakan/
kenacetan mesin pompa itu sendiri serta menghindari kemungkinan terjadinya mesin mendadak
mati sehingga uji kepompaan harus diulangi.
Kontraktro harus membuat lubang pembuangan untuk membueng air tanah yang keluar selama
pemompaan berlangsung, sehingga tidak memungkinkan air tersebut mempengaruhi hasil uji
pemompaan.
Pembongkaran Peralatan uji pemompaan hanya dapat dilakukan atas ijin direksi.
Peralatan yang dibutuhkan untuk melakukan uji pemonpaan adalah sebagai berikut :
(1) Alat pemompaan
Pemompaan uji dilakukan dengan jenis pompa selama dengan debit maksimum 20 l/dtk
dengan total head 60 m atau akan ditentukan lain sesuai kapasitas dan produktifitas dari sumur
atas pertimbangan dari direksi teknis. Semua jenis pompa harus dilengkapi dengan tenaga
penggeraknya (generator set/electrical power).
(2) Alat pengukur debit
Pengukuran bedit pemompaan dapat dilakukan dengan metode V-Notch lengkap dengan bak
penenang aliran atau dengan menggunakan metode arifice wear.
(3) Alat pengukur muka air
Pengukuran muka air didalam sumur dilakukan dengan alat pengukur muka air (water level
sounding) yang memiliki ketelitian paling tidak 1 (satu) cm, dengan system penunjuk
(indicator) lampu dan/atau bunyi (beep)
(4) Alat Pengukur EC (Daya hantar Listrik-DHL)
EC meter diperlukan untuk mengukur dan memonitor perubahan nilai DHL air tanah setiap
periode waktu tertentu selama uji pemompaan berlangsung.
(5) Alat pelengkap lain
Perlengkapan lain yang dibutuhkan untuk pemompaan uji antara lain alat pengukur waktu
(jam), jerigen untuk sampel air, lampu penerangan dll.
3. Uji Surutan Bertahap
Setelah pencucian sumur selesai maka Kontraktro selanjutnya melakukan uji surutan bertahap.
Bila tidak ditentukan lain maka uji bertahap dilakukan dengan 4 (empat) tahapan. Setiap tahapan
berlangsung selama 1 (satu) jam. Penentuan debit untuk setiap tahap dilakukan oleh direksi.
Debit pemompaan untuk setiap tahap harus dipertahankan tetap setabil dengan melaksanakan
pengamatan efektif.
Kontraktor melakukan pengamatan dan pencatatan debit dan muka air pemompaan dan DHL
untuk selang waktu yang telah ditentukan. Pengukuran muka air kambuh juga harus dilakukan
oleh kontraktor pada saat pompa dimatikan (step keempat berakhir) dengan selang waktu yang
telah ditentukan. Format data pemompaan ditentukan oleh direksi.
4. Uji Debit Komstan
Setelah muka air kembali seperti semula selesai dilekukannya uji surutan bertahap, maka
Kontraktor selanjutnya melakukan uji pemompaan debit konstan secara menerus selama 72 jam
(tujuh puluh dua) jam. Debit pemompaan pada uji debit tetap ditentukan oleh direksi
berdasarkan hasil uji susutan bertahap.
Kontraktor melakukan pengamatan dan pencatatan terhadap debit dan muka air pemompaan
dan DHL untuk selang waktu yang telah ditentukan tetap setabil selama periode pengujian.
Kontraktor melakukan pengamatan dan pencatatan terhadap debit dan muka air pemompaam
untuk setiap interval waktu yang telah ditentukan.
Bila dalam radius 400 m terdapat sumur lain sumur gali dan atau sumur bor disekitar sumur
yang diuji maka kontraktor harus melakukan pengukuran penurunan muka air pada sumur-
sumur tersebut.
Pengukuran muka air sumur yang dipompa dan sumur-sumur pengamat dilakukan sesuai
dengan yang ditentukan direksi. Format data pemompaan ditentukan oleh direksi.
Selama pemompaan uji debit tetap, kontraktor juga harus melakukan pengukuran PH,
temperatus, dan DHL dari air yang dipompa dengan interval waktu tiap 6 )enam) jam.
Apabila pemompaan berhenti sebelum waktu yang ditentukan karena kerusakan mesin atau
kehabisan bahan bakar atau sebab lain maka kontraktor harus mengulangi pemompaan uji mulai
dari awal dan biaya yang diakibatkan menjadi tanggungan kontraktor.
Cara pengukuran volume pekerjaan diperhitungkan menurut jumlah jam uji pemompaan
termasuk pencatatan data pemompaan dan dinyatakan sah bila dilakukan perhitunga bersama
dengan pengawas dan direksi.

5. Uji Kambuh
Seger setelah pompa dimatikan pada uji debit tetap, maka kontraktor melakukan pengukuran
muka air kambuh dengan interval waktu yang telah ditentukan sampai muka air kembali
kekeadaan semula. Format data uji kambuh ditentukan oleh Direksi
D. ANALISA CONTOH AIR
1. Umum
Analisa contoh air diperlukan untuk mengetahui komposisi air tanah dengan penggunaannya
bagi keperluan pertanian maupun air minium.
Contoh air yang diambil dan dianalisa komposisi fiisk dan kimianya di laboratorium yang
terakreditasi
2. Analisa Kualitas Air
Pada saat dilakukan pemompaan uji di tiap sumur, Kontraktor melakukan pengambilan contoh
air sumur untuk dianalisa, Pengkuran suhu, DHL, dan PH harus dilakukan dilapangan.
Penganbilan contoh air dilakukan menjelang berakhirnya uji debit tetap sebanyak 1 (satu)
contoh dengan volume sekurang-kurangnya 2 (dua) liter. Contoh air tersebut disimpan dalam
botol polyethylene yang sebelum dipakai terleboh dahulu dicuci dan dibilas dengan air sumur
tersebut. Botol tersebut diisi penuh dan ditutup dengan rapat serta dicantumkan keterangan dan
tanggal pengambilan contoh air tersebut.
Contoh air tersebut kemudian harus dikirim ked an diterima di laboratorium yang telah disetujui
oleh Direksi, dalam waktu kurang dari 24 jam saat contoh air tersebut diambil.

Parameter yang dianalisa dilaboratorium adalah :


A FISIKA 15 Sianida (CN)
1 Jumlah Zat Padat terlarut (TDS) 16 Sulfat (SO4)
2 Suhu 17 Timbal (Pb)
A. Kimia 18 DO (Oksigen terlarut)
a. Kimia Organik
1 Air Raksa (Hg) 19 Amoniak (NH3)
2 Arsen (As) 20 Sulfida (S)
3 Besi (Fe) 21 Barium (Ba)
4 Fluorida (F) b. Kimia Organik

5 Candium (Cd) 1 Detergen


6 Tembaga (Cu) 2 Minyak dan lemak
7 Khlorida (Cl) 3 Phonol
8 Kromium Valensi 6 (Cr 6) c. Mikrobiologi

9 Mangan (Mn) 1 E Coli


10 Nitrat (NO3 – N) 2 Colirorms
11 Nitrit (NO2 – N)
12 PH
13 Selenium (Se)
14 Seng (Zn)

SPESIFIKASI TEKNIS PEKERJAAN POMPA

Umum 1 Pekerjaan pompa terdiri dari pengadaan, pemasangan dan running test
pompa. Pekerjaan pompa meliputi unit pompa dan instalasi panel control
pompa.
Kontraktor wajib mengajukan persetujuan kepada Direksi atas jenis, tipe
dan merk pompa sebelum melakukan pengadaan. Unit pompa yang
diadakan tanpa persetujuan Direksi menjadi tanggung jawab Kontraktor
secara penuh.

Spesifikasi 2 Jenis pompa air yang digunakan dalam pekerjaan ini adalah :
Pompa 1. Pompa tipe Vertical Multistage Centrifugal (CR). Pompa
dipasang dalam kondisi ‘negative suction’ dengan kondisi
peletakan yang dirancang sehingga ketika muka air di dalam
reservoir dalam kondisi minimum, tidak terjadi kavitasi pada
pompa.
Spesifikasi pompa sebagai berikut:
- Jenis pompa : Vertical Multistage Centrifugal (CR)
- Jumlah pompa : 2 unit (unit utama )
- Impellers dan intermediate chamber : Stainless Steel
- Pump head dan base pump : cast iron
- Fluida yang dipompa : air tawar (air bersih) dengan density
1 ton/m3
- Flow : 25 m3/hari
- Head pompa : 30 m
- Efisiensi motor pompa : minimal 70 % pada kapasitas Q
dibutuhkan
- Tegangan kerja : 380 Volt, 3 phase
- Daya : 3 kW
- Frekuensi utama : 50 Hz
- Kelas Isolasi : F (IEC 85)
2. Pompa Submersible ( untuk di Sumur)
Pompa Submersibel dipasang sesuai sedemikian rupa pada
kedalaman sumur sehingga dapat berfungsi sebagaimana
mestinya.
Spesifikasi Pompa sebagaiberikut :
a. Jenis Pompa : Submersible
b. Cassing : All Stainless Steel
c. Shaft : Stailess Steel
d. Impeller : Stainless Steel
e. Neck Ring : NBR/PPS
f. Bearing : NBR
g. Washer Stop Ring : Carbon/graphite Teflon
h. Stop Ring : Stainless Steel
i. Nut For Stop Ring : Stainless Steel
j. Washer : Stainless Steel
k. O-Ring : NBR
l. Kapasitas : 8 m3/hari
m. Head : 115 m
n. Power : 4 KW
o. Frekwensi : 50 Hz
p. Voltase : 3 x 380-400-415 V
q. Starting : Star /delta
Perlengkapan 3 Pompa dilengkapi dengan sebuah panel control pompa yang berfungsi
pompa sebagai sarana untuk menghidupkan dan mematikan pompa melalui
tombol manual start-stop, sebagai alat kontrol yang berupa relay, lampu
indikasi, meter penunjuk tegangan, ampere, kwh meter dan pengaman
pompa dari beban lebih, kesalahan phase, kehilangan phasa, sensor dry
running, dan switch operasi pompa no. 1 dan no. 2.
Perlengkapan pompa lainnya meliputi:
- Power cable jenis twist 4 x 10 mm2 (grounding dipasang
pada control panel utama)
- Pressure gauge (manometer) skala 0 – 20 kg/cm2
- Kabel water level control tipe NYY 3 x 2.5mm2
Buku manual pompa dan operasi panel kontrol

Spesifikasi Panel 4 Spesifikasi panel pompa sebagai berikut:


Pompa - Tipe : indoor
- Pemasangan : wall mounted
- Daya : 4 kw
- Tegangan : 3 x 380 V
- Frekuensi : 50 Hz
- Komponen panel pompa meliputi:
a. NFB / MCCB untuk pompa dan untuk penerangan di
dalam rumah pompa
b. Soft starter dan soft stop, star delta
c. Switch starter pompa dengan pola operasi pompa adalah
1 running – 1 standby operating dalam 1 hari.
d. Timer sensor 1 pompa running dan 1 pompa standby.
e. Contactor
f. Overload relay
g. Water Level Control (WLC), dengan elektroda high
dipasang pada ketinggian 2 meter dari dasar reservoir
dan elektroda low dipasang pada ketinggian 0.5 m diatas
dasar reservoir.
h. Sensor dry running dipasang untuk mencegah pompa
beroperasi saat tidak ada air di bak pengumpul/reservoir
awal dengan ketinggian air 0.5 m dari dasar.
i. Time relay 0 – 60 detik
j. Phase failure relay
k. Motor protection relay dilengkapi dengan protection
hilang phase dan salah phase
l. Ampere meter & Volt meter & Hertz meter
m. Counter (jam kerja)
n. Lampu control running dan trouble
o. Box panel tebal minimal 2mm (powder coating RaI
7032)
Pemasangan 5 Prosedur standar untuk pemasangan pompa yang harus dilaksanakan
Pompa Kontraktor adalah sebagai berikut :
- Pemeriksaan dan pengangkutan unit pompa dari gudang Bagian
Proyek kelokasi yang telah ditentukan, termasuk memuat dan
membongkarnya.
- Menyiapkan alat pokok dan alat pendukung serta material
pendukung untuk pemasangan pompa di lokasi bak penampungan.
- Pemeriksaan terhadap semua komponen unit pompa sesuai dengan
packing list yang ada. Periksa terhadap adanya kemungkinan
kerusakan karena pengerjaan pabrik maupun selama pengangkutan
dan bongkar muat, serta cocokkan dengan data teknis yang ada.
- Ukur tahanan antara terminal-terminal motor (winding resistance)
dan sesuaikan dengan data teknis motor, perbedaan sampai 5%
adalah wajar/normal.
- Ukur tahanan antara terminal motor dengan badan/body motor dan
hasilnya sekitar 20 M-Ohm. Pengukuran dilakukan dalam keadaan
motor kering.
- Unit pompa dipasang di atas pondasi dan dilengkapi dengan
penahan yang dibutuhkan.
- Melaksanakan pemasangan unit pompa sesuai dengan prosedur
pemasangan dari Pabrik Pembuat Pompa atau teknik standar yang
di persyaratkan ole pabrik pembuat pompa, yang mendapat
persetujuan Direksi.
Trial pompa 6 a. Kontraktor pekerjaan instalasi ini harus melakukan semua testing
dan pengukuran-pengukuran yang dianggap perlu untuk
memeriksa/mengetahui apakah seluruh instalasi dapat berfungsi
dengan baik dengan memenuhi syarat. Kontraktor harus
melakukan uji coba pompa sesuai dengan debit rencana
pemompaan, pengukuran yang dilakukan adalah :
- Debit air hasil pemompaan
- Ampere
- Voltage
- Frequensi
b. Running test awal dilakukan dalam kurun waktu 2 x 24 jam dengan
semua biaya yang timbul menjadi tanggung jawab Kontraktor.
c. Semua tenaga, bahan dan perlengkapan yang diperlukan selama uji
coba yang dibutuhkan sampai Serah Terima Pekerjaan II,
merupakan tanggung jawab Kontraktor termasuk peralatan khusus
yang perlu untuk di testing dari seluruh sistem ini seperti
dianjurkan oleh pabrik, harus disediakan oleh Kontraktor.
d. Kerusakan yang terjadi pada masa trial menjadi tanggung jawab
Kontraktor.
e. Pendidikan calon operator instalasi meliputi :
- Kontraktor harus mendidik operator yang akan
mengoperasikan instalasi/system pompa ini sesuai dengan
panduan pada buku manual.
- Tenaga operator merupakan warga desa setempat yang
ditunjuk oleh Direksi Pekerjaan.
Perlengkapan 7 Perlengkapan di dalam rumah pompa selain tersebut di dalam gambar,
dalam Rumah mencakup instalasi listrik dan lampu penerangan sebanyak 1 titik.
Pompa Lampu penerangan menggunakan lampu TL dengan daya 1x60 watt
atau sesuai petunjuk Direksi. Instalasi listrik harus memenuhi standar
instalatir listrik.

Lain-lain 8 Kerusakan yang terjadi selama masa garansi menjadi tanggungan


Kontraktor dan apabila terjadi kerusakan harus segera diganti.
SPESIFIKASI TEKNIS PEKERJAAN LISTRIK
Umum 1 Pekerjaan listrik termasuk dalam pekerjaan ini adalah pekerjaan
pemasangan daya listrik baru melalui jaringan PLN.
2.1 Besaran pemasangan daya yang dilakukan sesuai tertera di dalam
Pemasangan 2
gambar. Pekerjaan pemasangan daya listrik ini termasuk penyiapan
Daya
panel control utama dimana panel ini dapat mengeluarkan listrik 3
phase untuk panel control pompa dan daya listrik 2 phase untuk
penerangan/penggunaan listrik di sekitar posisi panel control.
2.2 Penyedia barang dalam penawarannya harus melampirkan :
- Surat Dukungan dari Pabrik atau Agen Tunggal Pemegang Merk.
- Brosure/catalog
- Sertificate ISO, untuk menjamin kualitas dan mutu barang.
2.3 Instalasi panel listrik harus memenuhi standar instalatir listrik dan
mendapat persetujuan Direksi.Semua kabel yang dipergunakan untuk
instalasi listrik harus memenuhi peralatan PUIL/LMK. Semua kawat
dengan penampang 6 mm2 keatas haruslah terbuat secara di-spin
(starnded). Instalasi ini tidak boleh memakai kabel dengan penampang
lebih kecil 2.5 mm2.
Kecuali dipersyaratkan lain, konduktor yang dipakai adalah dari type
:
• Untuk instalasi penerangan adalah NYM (indoor) dan NYY
(outdoor).
• Untuk kabel distribusi NYY atau NYFGBY sesuai dalam
BOQ/gambar.
• Semua kabel harus berada didalam conduit PVC, cable tray/rack
atau cable trench dan harus diklem.
2.4 Kontraktor harus memberikan contoh bahan kepada Direksi untuk
dapat disetujui pemasangannya. Bahan ini akan disimpan pada tempat
yang telah disediakan dipakai sebagai alat pemeriksaan terhadap
pelaksanaan atas suatu material yang disetujui.
Semua penyambungan kabel harus dilindungi di dalam junction box
atau sebagainya.
Pencabangan.
Tidak diperkenankan adanya “Splice” atau sambungan-sambungan
baik dalam feeder maupun cabang-cabang, kecuali pada outlet atau
kotak-kotak penghubung yang bisa dicapai. Sambungan pada kabel
circuit cabang harus dibuat secara mekanis dan harus kuat secara
elektrik, dengan cara-cara “solderless connector” jenis kabel tekanan,
jenis compression atau soldered.
Dalam membuat splice connector harus dihubungkan dengan
konduktor-konduktor dengan baik sehingga semua konduktor
tersambung, tidak ada kabel-kabel telanjang yang kelihatan dan tidak
lepas oleh getaran. Semua sambungan kabel baik dalam
junction box, panel ataupun tempat lainnya harus menggunakan
connector yang dibuat dari tembaga yang diisolasi dengan porselin
atau bakelite ataupun PVC yang diameternya disesuaikan dengan
diameter kabel.
Bahan Isolasi.
Semua bahan atau splice, connection dan lain-lain seperti karet, PVC,
asbes, tape sintetis, resin, splivce case dan lain-lain harus dari type
yang disetujui untuk penggunaan, lokai voltage dan lain-lain tertentu
itu harus dipasang memakai cara yang disetujui menurut anjuran
perwakilan pemerintah /atau manufacture.
Penyambungan.
• Semua penyambungan kabel harus dilakukan dalam kotak-kotak
penyambung yang khusus untuk itu (misalnya junction box dan
lain-lain).
• Kabel-kabel harus disambung sesuai dengan warna-warna atau
nama-namanya masing-masing dan harus diadakan pengetesan
tahanan isolasi sebelum dan sesudah penyambungan dilakukan.
Hasil pengetesan harus ditulis dan disaksikan oleh Direksi
• Penyambungan kabel tembaga harus menggunakan
penyambungan-penyambungan tembaga yang dilapisi dengan
timah putih dan kuat. Penyambungan-penyambungan harus dari
ukuran yang sesuai.
• Penyambungan kabel yang berisolasi PVC harus diisolasikan
dengan pipa PVC/protolen yang khsus untuk listrik.
• Penyekat-penyekat khusus harus dipergunakan bila perlu untuk
menjaga nilai isolasi tertentu.
• Cara-cara pengecoran yang sudah ditentukan oleh pabrik harus
diikuti misalnya : temperatur-temperatur pengecoran.
• Bila kabel dipasang tegak lurus permukaan yang terbuka, maka
harus dilindungi dengan pipa baja/galvanis dengan tebal 3 mm
setinggi maks. 2.5 m.
Grounding.
1) Seluruh bagian-bagian besi dalam bangunan harus diketanahkan
secara baik, dengan cara menghubungkan kepada rel/cooper
plate/bare conductor pembumian yang telah tersedia di power
house, yaitu semua frame besi, tangki minyak, panel-panel
housing, generator, housing dari peralatan metal lainnya.
2) Hubungan bagian antara yang tetap dan yang bergerak (pintu-
pintu) dilakukan dengan pita tembaga fleksible yang harus
dilindungi dari gangguan mekanis.
3) Semua sambungan-sambungan pada sistem pentanahan harus
dilakukan dengan baut dari campuran tembaga.
4) Electroda pembumian terbuat dari batang tembaga diameter 1”
dan harus ditanam minimal sedalam 6 m, sehingga dapat dicapai
tahanan pembumian kurang atau sama dengan 1 .
5) Sistem pembumian peralatan-peralatan dari bahan metal (panel-
panel, housing peralatan, cable rack, pintu-pintu besi, tangki-
tangki dan lain-lain) harus dihubungkan pada elektroda
pembumian baik secara terpadu atau secara terpisah (individual).

Ketentuan-ketentuan yang harus diikuti antara lain sebagai berikut :


Penampang Penampang
Konduktor konduktor
Daya yang digunakan Pembumian
(mm2) (mm2)
< = 10 6
16 10
35 16
70 50
120 70
< = 150 95

Catatan :
• Kontraktor harus mengusahakan sistem pentanahan hingga
diproleh tahanan seperti disyaratkan.
• Pentanahan panel-panel dan pentanahan power house harus
dijauhkan dari pentanahan penangkal petir.
• Jarak yang diijinkan antara pentanahan penangkal petir
dengan pentanahan lainnya sekurang-kurangnya 15 m
tergantung dari struktur tanah dan tingkat kelembabannya
2.5 Sebelum dan sesudah dipasang kabel TR harus ditest dengan
pengujian-pengujian sebagai berikut :
Test Insulasi.
• Test kontinuitas.
• Test tahanan pentanahan (0,2).
Pengujian ini perlu dilakukan dengan disaksikan oleh pengawas
lapangan dan Direksi, dan disahkan oleh petugas/Instansi yang
berwenang.
2.6 Seluruh biaya yang timbul dalam pengajuan dan pelaksanaan
pemasangan daya listrik ini menjadi tanggung jawab Kontraktor.
A. Laporan dan Dokumentasi
Laporan dan Pencatatan rinci dari semua kegiatan kontruksi setiap sumur disimpan
Dokumentas selama pekerjaan berjalan dan Direksi harus mempunyai semua arsip
i dari semua data dan keterangan. Demikian pula halnya dengan
wewenang untuk menyaksikan pekerjaan pada setiap saat.
Kontraktor harus menyerahkan kepada Direksi laporan kemajuan
harian, yang melaporkan berbagai formasi batuan yang didapat,
pekerjaan yang dilakukan setiap hari, termasuk berbagai pekerjaan yang
diselesaikan, seperti kedalaman pemboran pada setiap akhir shift dan
data lainnya yang diminta Direksi.
Kontraktor harus menyerahkan Laporan Harian, Mingguan, Bulanan
serta Laporan Akhir kepada Proyek tentang berbagai masalah teknik dari
semua kegiatan pekerjaan pemboran dan disusun berdasarkan kontrak
paket pemboran.