Anda di halaman 1dari 11

PERENCANAAN AUDIT DAN PENERIMAAN KLIEN

RMK
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengauditan 2
Dosen Pengampu : Dr. Payamta, S.E., M.Si., Ak., CA, CPA, CPI

Disusun oleh:

1. Senopati Sakti P.D.B.C F3317047

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2019
A. PERENCANAAN AUDIT

SA Seksi 311 “PERENCANAAN DAN SUPERVISI”

Sumber: PSA No. 05

1. PENDAHULUAN

1) Standar pekerjaan lapangan pertama mengharuskan bahwa “Pekerjaan harus


direncanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten harus disupervisi dengan semestinya”.
Seksi ini berisi panduan bagi auditor yang melaksanakan audit berdasarkan standar auditing yang
ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia di dalam mempertimbangkan dan menerapkan prosedur
perencanaan dan supervisi, termasuk penyiapan program audit, pengumpulan informasi tentang
bisnis entitas, penyelesaian perbedaan pendapat di antara personel kantor akuntan. Perencanaan
dan supervisi berlangsung terus-menerus selama audit, dan prosedur yang berkaitan seringkali
tumpang-tindih (overlap).

2) Auditor sebagai penanggungjawab akhir atas audit dapat mendelegasikan


sebagian fungsi perencanaan dan supervisi auditnya kepada personel lain dalam kantor
akuntannya. Untuk keperluan uraian dalam seksi ini, (a) personel lain dalam kantor akuntan
selain auditor sebagai penanggungjawab akhir audit disebut dengan asisten dan (b) istilah auditor
digunakan untuk menyebut baik auditor itu sendiri maupun asistennya.

2. PERENCANAAN

3) Perencanaan audit meliputi pengembangan strategi menyeluruh pelaksanaan dan


lingkup audit yang diharapkan. Sifat, lingkup, dan saat perencanaan bervariasi dengan ukuran
dan kompleksitas entitas, pengalaman mengenai entitas, dan pengetahuan tentang bisnis entitas.
Dalam perencanaan audit, auditor harus mempertimbangkan, antara lain:
a. Masalah yang berkaitan dengan bisnis entitas dan industri yang menjadi tempat
usaha entitas tersebut (lihat paragraf 07).
b. Kebijakan dan prosedur akuntansi entitas tersebut.
c. Metode yang digunakan oleh entitas tersebut dalam mengolah informasi akuntansi
yang signifikan (lihat paragraf 09), termasuk penggunaan organisasi jasa dari luar
untuk mengolah informasi akuntansi pokok perusahaan.
d. Tingkat risiko pengendalian yang direncanakan.
e. Pertimbangan awal tentang tingkat materialitas untuk tujuan audit.
f. Pos laporan keuangan yang mungkin memerlukan penyesuaian (adjustment).
g. Kondisi yang mungkin memerlukan perluasan atau pengubahan pengujian audit,
seperti risiko kekeliruan atau kecurangan yang material atau adanya transaksi
antar pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa.
h. Sifat laporan auditor yang diharapkan akan diserahkan (sebagai contoh, laporan
auditor tentang laporan keuangan konsolidasian, laporan keuangan yang
diserahkan ke Bapepam, laporan khusus untuk menggambarkan kepatuhan klien
terhadap kontrak perjanjian).

4) Prosedur yang dapat dipertimbangkan oleh auditor dalam perencanaan dan supervisi
biasanya mencakup review terhadap catatan auditor yang berkaitan dengan entitas
dan pembahasan dengan personel lain dalam kantor akuntan dan personel entitas
tersebut. Contoh prosedur tersebut meliputi:
a. Me-review arsip korespondensi, kertas kerja, arsip permanen, laporan keuangan,
dan laporan auditor tahun lalu.
b. Membahas masalah-masalah yang berdampak terhadap audit dengan personel
kantor akuntan yang bertanggung jawab atas jasa nonaudit bagi entitas.
c. Meminta keterangan tentang perkembangan bisnis saat ini yang berdampak
terhadap entitas.
d. Membaca laporan keuangan interim tahun berjalan.
e. Membahas tipe, lingkup, dan waktu audit dengan manajemen, dewan komisaris
atau komite audit.
f. Mempertimbangkan dampak diterapkannya pernyataan standar akuntansi dan
standar auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia, terutama yang baru.
g. Mengkoordinasi bantuan dari personel entitas dalam penyiapan data. h.
Menentukan luasnya keterlibatan, jika ada, konsultan, spesialis, dan auditor intern.
h. Membuat jadwal pekerjaan audit.
i. Menentukan dan mengkoordinasi kebutuhan staf audit.
j. Melaksanakan diskusi dengan pihak pemberi tugas untuk memperoleh tambahan
informasi tentang tujuan audit yang akan dilaksanakan sehingga auditor dapat
mengantisipasi dan memberikan perhatian terhadap hal-hal yang berkaitan yang
dipandang perlu. Auditor dapat membuat memorandum yang menetapkan rencana
audit awal, terutama untuk entitas yang besar dan kompleks.

5) Dalam perencanaan auditnya, auditor harus mempertimbangkan sifat, lingkup,


dan saat pekerjaan yang harus dilaksanakan dan harus membuat suatu program audit secara
tertulis (atau satu set program audit tertulis) untuk setiap audit. Program audit harus
menggariskan dengan rinci prosedur audit yang menurut keyakinan auditor diperlukan untuk
mencapai tujuan audit. Bentuk program audit dan tingkat kerinciannya sangat bervariasi sesuai
dengan keadaan. Dalam mengembangkan program audit, auditor harus diarahkan oleh hasil
pertimbangan dan prosedur perencanaan auditnya. Selama berlangsungnya audit, perubahan
kondisi dapat menyebabkan diperlukannya perubahan prosedur audit yang telah direncanakan
tersebut.

6) Auditor harus memperoleh pengetahuan tentang bisnis entitas yang


memungkinkannya untuk merencanakan dan melaksanakan auditnya berdasarkan standar
auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia. Tingkat pengetahuannya harus
memungkinkan auditor untuk memahami peristiwa, transaksi, dan praktik yang, menurut
pertimbangannya, kemungkinan mempunyai dampak terhadap laporan keuangan. Tingkat
pengetahuan yang umumnya dimiliki oleh manajemen tentang pengelolaan bisnis entitas jauh
lebih banyak dibandingkan dengan pengetahuan mengenai hal yang sama yang diperoleh
auditor dari pelaksanaan auditnya. Pengetahuan tentang bisnis entitas membantu auditor dalam:
a. Mengidentifikasi bidang yang memerlukan pertimbangan khusus.
b. Menilai kondisi yang di dalamnya data akuntansi dihasilkan, diolah, di-review,
dan dikumpulkan dalam organisasi.
c. Menilai kewajaran estimasi, seperti penilaian atas sediaan, depresiasi, penyisihan
kerugian piutang, persentase penyelesaian kontrak jangka panjang.
d. Menilai kewajaran representasi manajemen.
e. Mempertimbangkan kesesuaian prinsip akuntansi yang diterapkan dan kecukupan
pengungkapannya.

7) Auditor harus memperoleh pengetahuan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan


sifat bisnis entitas, organisasinya, dan karakteristik operasinya. Hal tersebut mencakup, sebagai
contoh, tipe bisnis, tipe produk dan jasa, struktur modal, pihak yang mempunyai hubungan
istimewa, lokasi, dan metode produksi, distribusi, serta kompensasi. Auditor juga harus
mempertimbangkan hal-hal yang mempengaruhi industri tempat operasi entitas, seperti kondisi
ekonomi, peraturan pemerintah, serta perubahan teknologi, yang berpengaruh terhadap
auditnya. Hal lain yang harusdipertimbangkan oleh auditor adalah praktik akuntansi yang
umum berlaku dalam industri, kondisi persaingan, dan, jika tersedia, trend keuangan dan ratio
keuangan.

8) Pengetahuan mengenai bisnis entitas biasanya diperoleh auditor melalui


pengalamannya dengan entitas atau industrinya serta dari permintaan keterangan kepada
personel perusahaan. Kertas kerja audit dari tahun sebelumnya dapat berisi informasi yang
bermanfaat mengenai sifat bisnis, struktur organisasi, dan karakteristik operasi, serta transaksi
yang memerlukan pertimbangan khusus. Sumber lain yang dapat digunakan oleh auditor adalah
publikasi yang dikeluarkan oleh industri, laporan keuangan entitas lain dalam industri, buku
teks, majalah, dan perorangan yang memiliki pengetahuan mengenai industri.

9) Auditor harus mempertimbangkan metode yang digunakan oleh entitas untuk


mengolah informasi dalam perencanaan audit karena metode tersebut mempunyai pengaruh
terhadap desain pengendalian intern. Luasnya penggunaan komputer dalam pengolahan
sebagian besar data akuntansi dan kompleksnya pengolahannya mempengaruhi pula sifat, saat,
dan luasnya prosedur audit yang digunakan oleh auditor. Oleh karena itu, dalam menilai
dampak luasnya penggunaan komputer terhadap audit laporan keuangan, auditor harus
mempertimbangkan hal-hal berikut ini:
a. Luasnya penggunaan komputer dalam setiap aplikasi akuntansi.
b. Kompleksitas operasi komputer entitas, termasuk penggunaan jasa perusahaan
pengolahan data dengan komputer dari luar.
c. Struktur organisasi kegiatan pengolahan data dengan komputer.
d. Tersedianya data. Dokumen yang digunakan untuk memasukkan informasi ke dalam
komputer untuk diolah, arsip komputer tertentu, dan bukti audit lain yang diperlukan oleh
auditor kemungkinan hanya ada dalam periode yang pendek atau hanya dalam bentuk
yang dapat dibaca dengan komputer. Dalam beberapa sistem komputer, dokumen
masukan seringkali tidak ada sama sekali karena informasi secara langsung dimasukkan
ke dalam sistem. Kebijakan penyimpanan data yang dibuat oleh entitas mungkin
mengharuskan auditor untuk meminta dilakukannya penyimpanan informasi untuk
keperluan review atau untuk melaksanakan prosedur audit pada saat informasi tersebut
tersedia. Sebagai tambahan, informasi tertentu yang dihasilkan oleh komputer untuk
keperluan intern manajemen kemungkinan bermanfaat dalam pelaksanaan pengujian
substantif (terutama untuk prosedur analitik).
e. Penggunaan teknik audit berbantuan komputer (TABK) dapat meningkatkan efisiensi
pelaksanaan prosedur audit. Penggunaan teknik ini juga menyediakan kesempatan bagi
auditor untuk menerapkan prosedur audit tertentu terhadap keseluruhan populasi akun
atau transaksi. Sebagai tambahan, dalam menganalisis data tertentu atau menguji
prosedur pengendalian khusus tanpa bantuan komputer. Lihat panduan mengenai TABK
ini dalam SA Seksi 327 [PSAK No. 59] Teknik Audit Berbantuan Komputer.

10) Auditor harus mempertimbangkan apakah keahlian khusus diperlukan untuk


mempertimbangkan dampak pengolahan komputer terhadap auditnya, untuk memahami
pengendalian intern, kebijakan dan prosedur, atau untuk merancang dan melaksanakan prosedur
audit. Jika keahlian khusus diperlukan, auditor harus mencari asisten atau tenaga ahli yang
memiliki keahlian tersebut, yang mungkin berasal dari staf kantor akuntannya atau dari ahli luar.
Jika penggunaan jasa tenaga ahli tersebut direncanakan, auditor harus memiliki pengetahuan
memadai yang bersangkutan dengan komputer untuk mengkomunikasikan tujuan pekerjaan ahli
lain tersebut; untuk mengevaluasi apakah hasil prosedur yang telah ditentukan tersebut dapat
mencapai tujuan auditor; dan untuk mengevaluasi hasil prosedur audit yang diterapkan yang
berkaitan dengan sifat, saat, dan lingkup prosedur audit lain yang direncanakan. Tanggung jawab
auditor atas penggunaan ahli komputer tersebut sama dengan tanggung jawab auditor atas
penggunaan ahli komputer tersebut sama dengan tanggung jawabnya atas penggunaan asisten.
Lihat SA Seksi 355 [PSA No. 57] Auditing dalam Lingkungan Sistem Informasi Komputer dan
SA Seksi 314 [PSAK No. 60] Penentuan Risiko dan Pengendalian Intern – Pertimbangan dan
Karakteristik Sistem Informasi Komputer.

3. SUPERVISI

11) Supervisi mencakup pengarahan usaha asisten dalam mencapai tujuan audit dan
penentuan apakah tujuan tersebut tercapai. Unsur supervisi adalah memberikan instruksi kepada
asisten, tetap menjaga penyampaian informasi masalah-masalah penting yang dijumpai dalam
audit, me-review pekerjaan yang dilaksanakan, dan menyelesaikan perbedaan pendapat di antara
staf audit kantor akuntan. Luasnya supervisi memadai dalam suatu keadaan tergantung atas
banyak faktor, termasuk kompleksitas masalah dan kualifikasi orang yang melaksanakan audit.

12) Para asisten harus diberitahu tanggung jawab mereka dan tujuan prosedur yang
mereka laksanakan. Mereka harus diberitahu hal-hal yang kemungkinan berpengaruh terhadap
sifat, lingkup, dan saat prosedur yang harus dilaksanakan, seperti sifat bisnis entitas yang
bersangkutan dengan penugasan dan masalah-masalah akuntansi dan audit. Auditor yang
bertanggung jawab akhir untuk setiap audit harus mengarahkan asisten untuk mengemukakan
pertanyaan akuntansi dan auditing signifikan yang muncul dalam audit, sehingga auditor dapat
menetapkan seberapa signifikan masalah tersebut.

13) Pekerjaan yang dilaksanakan oleh asisten harus di-review untuk menentukan
apakah pekerjaan tersebut telah dilaksanakan secara memadai dan auditor harus menilainya
apakah hasilnya sejalan dengan kesimpulan yang disajikan dalam laporan auditor.
14) Auditor yang bertanggung jawab akhir mengenai auditnya dan asistennya harus
menyadari prosedur yang harus diikuti jika terdapat perbedaan pendapat mengenai masalah
akuntansi dan auditing di antara personel kantor akuntan publik yang terlibat dalam audit.
Prosedur tersebut harus memungkinkan asisten mendokumentasikan ketidaksetujuan di antara
mereka dan kesimpulan yang diambil jika, setelah konsultasi memadai, ia berkeyakinan bahwa
perlu baginya untuk tidak sependapat dengan penyelesaian masalah tersebut. Dalam hal ini, dasar
penyelesaian akhir masalah harus juga didokumentasikan.

4. TANGGAL BERLAKU EFEKTIF

15) Seksi ini berlaku efektif tanggal 1 Agustus 2001. Penerapan lebih awal dari
tanggal efektif berlakunya aturan dalam Seksi ini diizinkan. Masa transisi ditetapkan mulai dari 1
Agustus 2001 sampai dengan 31 Desember 2001. Dalam masa transisi tersebut berlaku Standar
Profesional Akuntan Publik per 1 Agustus 1994 dan Standar Profesional Akuntan Publik per 1
Januari 2001. Setelah tanggal 31 Desember 2001, hanya ketentuan dalam Seksi ini yang berlaku.
B. PENERIMAAN KLIEN

Dalam perencanaan audit penerimaan klien lama atau baru adalah suatuhal atau suatu
komponen awal dalam melakukan perencanaan audit. Hal ini bertujuan untuk :

 Pemeriksaan klien yang diajukan untuk menentukan apakah terdapat alasan untuk
menolak penugasan (penerimaan klien).
 Meyakinkan klien untuk mempekerjakan auditor (penerimaan oleh klien).

1. Tahapan-tahapan dalam proses penerimaan klien antara lain:

a. Evaluasi latar belakang klien

Auditor harus memperoleh pengetahuan terkait bisnis klien secara memadai untuk
memungkinkannya mengidentifikasi dan memahami sejumlah peristiwa/kejadian, transaksi dan
praktik yang mungkin memiliki pengaruh penting pada laporan keuangan atau pada laporan
audit. Alasan pemahaman ini adalah untuk mengevaluasi risiko-risiko penugasan terkait
penerimaan penugasan tertentu dan untuk membantu auditor dalam menentukan apakah seluruh
persyaratan etika dan profesional (termasuk independensi, kompetensi dsb.) terkait klien tersebut
dapat dipenuhi.

Investigasi klien baru akan dilakukan secara menyeluruh untuk menentukan apakah klien
tersebut dapat diterima dan memenuhi persyaratakan etika untuk auditor. Untuk klien yang sudah
ada sebelumnya tidak banyak aktivitas investigasi. Auditor akan mempertimbangkan konflik-
konflik yang pernah terjadi sebelumnya terkait cakupan audit, tipe opini dan imbalan jasa,
litigasi yang tertunda antara KAP dan klien serta integritas manajemen.

Untuk keberlanjutan hubungan penugasan, auditor akan memperbaharui dan mengevaluasi


kembali informasi yang diperoleh dari kertas kerja beberapa tahun sebelumnya. Auditor juga
harus melakukan sejumlah prosedur yang dirancang untuk mengidentifikasi perubahan-
perubahan penting yang akan terjadi sejak audit yang terakhir. Auditor juga dapat memilih tidak
melanjutkan pelaksanaan audit untuk klien tertentu karena pihaknya merasa mendapatkan risiko
yang cukup besar.

 Tiga sumber utama untuk memperoleh informasi tentang klien:


a) Pengalamannya dengan klien, metode yang dapat digunakan untuk memperoleh
informasi dengan cara reviu atas dokumentasi, berdiskusi dengan pengacara klien,
banker, manajer audit sebelumnya.
b) Informasi yang tersedia secara umum, metode ini dilakukan dengan pencarian
terhadap media dan basis data, situs website perusahaan dsb.
c) Informasi dari klien itu sendiri, metode dengan cara mereviu atas dokumentasi
klien, diskusi dengan manajemen dan staf. Diskusi ini dapat digunakan untuk
mengetahui sistem pengendalian internal klien, tata kelola dan risiko-risiko bisnis
klien.

b. Kemampuan memenuhi persyaratan etika dan kompetensi tertentu

Auditor akan memastikan bahwa para anggota tim audit dan kantor akuntan publik secara
keseluruhan memenuhi persyaratan etika. Kode etik akuntan profesional menurut International
Ethics Standards Board of Accountant (IESBA) menyatakan bahwa tanggung jawab auditor
untuk mengambil tindakan dengan memperhatikan kepentingan publik, bukan hanya untuk
memuaskan klien atau pemberik kerja.

Para anggota tim harus memiliki tingkat pelatihan dan kemampuan teknis yang diperlukan
dalam situasi-situasi tertentu. Selain itu, seharusnya terdapat pengarahan, supervisi, dan reviu
yang memadai atas pekerjaan di seluruh tingkatan dalam upaya untuk memberikan asurans yang
memadai bahwa pekerjaan yang dilakukan memenuhi standar-standar kualitas yang sesuai.
Terdapat preferensi untuk kontinuitas dalam kepegawaian dari tahun ke tahun.

Rekan-rekan audit di beberapa negara harus dirotasi setiap beberapa tahun tertentu.
Sebagaimana tercantum dalam European Union Guidelines, rekan-rekan audit harus dirotasi
setidaknya sekali setiap tujuh tahun. Sarbanes-Oxley Act di Amerika Serikat mewajibkan rekan-
rekan audit dirotasi setidaknya setiap lima tahun.

c. Penggunaan pekerjaan auditor lainnya

Pendidikan dan pengalaman auditor memungkinkannya untuk memiliki pengetahuan terkait


jumlah permasalahan bisnis secara umum, tapi pihaknya tidak diharapkan akan memiliki
keahlian dari individu-individu yang terlatih untuk profesinya, seperti aktuaris atau tenaga ahli
perekayasaan. Jika auditor memerlukan keahlian khusus, auditor harus mempertimbangkan
untuk mempekerjakan tenaga ahli yang dapat membantu mengumpulkan bukti-bukti yang
diperlukan.

ISA 620 mendefinisikan tenaga ahli sebagai individu atau organisasi yang memiliki
keahlian dalam suatu bidang selain akuntansi atau auditing, yang bekerja dalam bidang yang
digunakan oleh auditor untuk membantu auditor tersebut dalam memperoleh bukti audit yang
cukup dan layak. Keahlian dibidang selain akuntansi atau audit seperti penilaian atas instrumen
keuangan yang kompleks, tanah dan bangunan, mesin dan pabrik, perhiasan, karya seni, barang
antik, aset takberwujud, aset yang diperoleh dan liabilitas yang diambil alih dalam kombinasi
bisnis dan aset yang mungkin telah mengalami penurunan.

Jika pekerjaan tenaga ahli akan digunakan sebagai bukti audit, auditor harus menentukan
keterampilan dan kompetensi tenaga ahli tersebut dengan mempertimbangkan sejumlah
sertifikasi, pengalaman dan reputasi profesional. Objektivitas tenaga ahli juga harus dievaluasi.
d. Komunikasi dengan auditor sebelumnya

Apabila ada auditor yang saat ini sedang ditugaskan, kode Etik IESBA bagi para akuntan
profesional menyatakan bahwa auditor baru berkomunikasi secara langsung dengan auditor
sebelumnya tergantung pada situasinya. Sejauh mana akuntan yang ada saat ini dapat
mendiskusikan permasalahan klien dengan akuntan yang diajukan (proposed accountant) akan
bergantung pada diterimanya izin dari klien dan persyaratan hukum atau etika yang terkait
dengan pengungkapan ini. Tujuan komunikasi ini adalah untuk mengurangi atau menghilangkan
ancaman-ancaman dengan memperoleh informasi atas fakta-fakta atau situasi-situasi yang
dimaksud, yang mana akuntan yang diajukan perlu menyadari sebelum memutuskan apakah akan
menerima penugasan atau tidak menurut opini akuntan yang ada saat ini.

e. Penerimaan oleh klien – Proposal penugasan

Terdapat dua tipe dasar proposal penugasan audit, yakni:

1. Proposal untuk melanjutkan hubungan dengan klien yang telah ada.


Proposal untuk klien yang telah ada akan berbeda di antara kantor-kantor akuntan
publik. Pada umumnya proposal tersebut mendiskusikan:
 Reviu tentang bagaimana kantor akuntan publik dapat menambah nilai, baik
untuk perusahaan-perusahaan secara umum dan untuk pihak-pihak yang
bertanggung jawab secara langsung atas penugasan auditor, misalnya Komite
Audit.
 Rencana-rencana untuk pengembangan lebih lanjut atas nilai tambah termasuk
pembahasan tentang tren regulasi terkini, ruang lingkup audit, dan setiap
perubahan terbaru dalam perusahaan yang dapat memengaruhi audit.
 Deskripsi dari tim audit dan setiap perubahan dalam tim audit dari tahun
sebelumnya.
 Proposal imbalan jasa secara terinci.

2. Proposal klien baru


Proposal untuk klien baru membahas ekspektasi bisnis dan audit, kekuatan-
kekuatan kantor akuntan publik, tim audit, pendekatan audit, ketergantungan pada
auditor-auditor internal, kebutuhan transisi dan manajemen, pemantauan setelah jasa
audit dilakukan dan rincian biaya.
f. Surat penugasan audit

Surat penugasan (engagement letter) adalah perjanjian antara kantor akuntan publik dan
klien untuk melakukan audit dan jasa-jasa terkait. Surat penugasan auditor mendokumentasikan
dan mengonfirmasikan penerimaannya atas penunjukkan tersebut, tujuan dan ruang lingkup
audit, dan besarnya tanggung jawab auditor kepada klien, dan bentuk setiap laporan yang harus
dibuat.

Bentuk dan isi surat penugasan dapat bervariasi untuk setiap klien. Isi surat penugasan
mencakup:

 Tujuan audit atas informasi keuangan.


 Tanggung jawab auditor.
 Tanggung jawab manajemen.
 Kerangka pelaporan keuangan yang berlaku.
 Rujukan pada bentuk dan isi yang diharapkan atas setiap laporan yang diterbitkan oleh
auditor, serta pernyataan bahwa mungkin terdapat situasi-situasi yang mana laporan dapat
berbeda dari bentuk dan isi yang diharapkan.

Auditor juga dapat menyertakan hal-hal lain seperti elaborasi ruang lingkup audit, termasuk
rujukan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku, regulasi, ISA dan etika, serta
pernyataan-pernyataan lainnya dari badan profesional yang harus diikuti oleh auditor.
DAFTAR PUSTAKA

 https://iapi.or.id/Iapi/detail/362
 http://coreaccountingindonesia.blogspot.com/2019/03/penerimaan-klien-audit.html
 SPAP SA 300,311,325