Anda di halaman 1dari 23

2|Tata Cara Adzan dan Iqamah

Adzan dan Iqomah merupakan di antara amalan yang utama di


dalam Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
salam bersabda :

“Imam sebagai penjamin dan muadzin (orang yang adzan)


sebagai yang diberi amanah, maka Allah memberi petunjuk
kepada para imam dan memberi ampunan untuk para
muadzin” [1]

Berikut sedikit penjelasan yang berkaitan dengan tata cara


adzan dan iqomah.

A. Pengertian Adzan

Secara bahasa adzan berarti pemberitahuan atau


seruan. Sebagaimana Allah berfirman dalam surat At
Taubah Ayat 3 :

ِ ّ‫سو ِل ِه إِلَى الن‬


‫اس‬ ٌ َ‫َوأَذ‬
ّ َ‫ان ِمن‬
ُ ‫َللاِ َو َر‬

[1] Hadits shahih diriwayatkan oleh Abu Dawud (1203), At Tirmidzi


(207), dan Ahmad (II/283-419)
“dan ini adalah seruan dari Allah dan Rasul-Nya
kepada umat manusia”

Adapun makna adzan secara istilah adalah seruan


yang menandai masuknya waktu shalat lima waktu
dan dilafazhkan dengan lafazh-lafazh tertentu. [2]

Hukum Adzan

Ulama berselisih pendapat tentang hukum Adzan.


Sebagian ulama mengatakan bahwa hukum azan
adalah sunnah muakkad, namun pendapat yang lebih
kuat dalam masalah ini adalah pendapat yang
mengatakan hukum adzan adalah fardu
kifayah[3]. Akan tetapi perlu diingat, hukum ini

[2] Lihat Taisirul ‘Alam Syarah ‘Umdatul Ahkam,


hal 84, cetakan Maktabah Al Asadi, Karya Syaikh
Abdullah Al Bassam.
4|Tata Cara Adzan dan Iqamah

hanya berlaku bagi laki-laki. Wanita tidak diwajibkan


atau pun disunnahkan untuk melakukan adzan[4].

Syarat Adzan[5]

1. Telah Masuk Waktu Shalat

Syarat sah adzan adalah telah masuknya waktu


shalat, sehingga adzan yang dilakukan sebelum
waktu solat masuk maka tidak sah. Akan tetapi
terdapat pengecualian pada adzan subuh. Adzan
subuh diperbolehkan untuk dilaksanakan dua kali,
yaitu sebelum waktu subuh tiba dan ketika waktu
subuh tiba (terbitnya fajar shadiq). [6]

2. Berniat adzan

[1] Hadits shahih diriwayatkan oleh Abu Dawud (1203), At Tirmidzi


(207), dan Ahmad (II/283-419)
Hendaknya seseorang yang akan adzan berniat di
dalam hatinya (tidak dengan lafazh tertentu) bahwa ia
akan melakukan adzan ikhlas untuk Allah semata.

3. Dikumandangkan dengan bahasa arab

Menurut sebagian ulama, tidak sah adzan jika


menggunakan bahasa selain bahasa arab. Di antara
ulama yang berpendapat demikian adalah ulama dari
Madzhab Hanafiah, Hambali, dan Syafi’i.

4. Tidak ada lahn dalam pengucapan lafadz


adzan yang merubah makna

Maksudnya adalah hendaknya adzan terbebas dari


kesalahan-kesalahan pengucapan yang hal tersebut
bisa merubah makna adzan. Lafadz-lafadz adzan
harus diucapkan dengan jelas dan benar.

[2] Lihat Taisirul ‘Alam Syarah ‘Umdatul Ahkam,


hal 84, cetakan Maktabah Al Asadi, Karya Syaikh
Abdullah Al Bassam.
6|Tata Cara Adzan dan Iqamah

5. Lafadz-lafaznya diucapkan sesuai urutan

Hendaknya lafadz-lafadz adzan diucapkan sesuai


urutan sebagaimana dijelaskan dalam hadits-hadits
yang sahih. Adapun bagaimana urutannya akan
dibahas di bawah.

6. Lafadz-lafadznya diucapkan bersambung

Maksudnya adalah hendaknya antara lafazh adzan


yang satu dengan yang lain diucapkan secara
bersambung tanpa dipisah oleh sebuah perkataan atau
pun perbuatan di luar adzan. Akan tetapi
diperbolehkan berkata atau berbuat sesuatu yang
sifatnya ringan seperti bersin.

7. Adzan diperdengarkan kepada orang yang


tidak berada di tempat muadzin

[1] Hadits shahih diriwayatkan oleh Abu Dawud (1203), At Tirmidzi


(207), dan Ahmad (II/283-419)
Adzan yang dikumandangkan oleh muadzin haruslah
terdengar oleh orang yang tidak berada di tempat
sang muadzin melakukan adzan. Hal tersebut bisa
dilakukan dengan cara mengeraskan suara atau
dengan alat pengerasa suara.

Sifat Muadzin

1. Muslim

Disyaratkan bahwa seorang muadzin haruslah


seorang muslim. Tidak sah adzan dari seorang yang
kafir. [7]

2. Ikhlas hanya mengharap wajah Allah

Sepatutnya seorang muadzin melakukan adzan


dengan niat ikhlas mengaharap wajah Allah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda

[2] Lihat Taisirul ‘Alam Syarah ‘Umdatul Ahkam,


hal 84, cetakan Maktabah Al Asadi, Karya Syaikh
Abdullah Al Bassam.
8|Tata Cara Adzan dan Iqamah

: “Tetapkanlah seorang muadzin yang tidak


mengambil upah dari adzannya itu.”[8]

3. Adil dan amanah

Yaitu hendaklah muadzin adil dan amanah dalam


waktu-waktu shalat.

4. Memiliki suara yang bagus

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda


kepada sahabat Abdullah bin Zaid: “pergilah dan
ajarkanlah apa yang kamu lihat (dalam mimpi)
kepada Bilal, sebab ia memiliki suara yang lebih
bagus dari pada suaramu” [9]

5. Mengetahui kapan waktu solat masuk

[1] Hadits shahih diriwayatkan oleh Abu Dawud (1203), At Tirmidzi


(207), dan Ahmad (II/283-419)
Hendaknya seorang muadzin mengetahui kapan
waktu solat masuk sehingga ia bisa
mengumandangkan adzan tepat pada awal waktu dan
terhindar dari kesalahan. [10]

Sifat Adzan [11]

Terdapat tiga cara adzan, yaitu :

1. Adzan dengan 15 kalimat, yaitu dengan lafazh [12]:

4x 2× ُ‫اَهللُ ا َ ْكبَ ُرا َ ْش َهدُ ا َ ْن الَاِلَهَ اِالّ للا‬


ُ ‫ا َ ْش َهدُ ا َ ّن ُم َح ّمدًا ّر‬
2× ِ‫س ْو ُل للا‬
ّ ‫علَي ال‬
2× ِ‫صالَة‬ َ ‫ي‬
ّ ‫َح‬
2× ِ‫علَي ْالفَالَح‬
َ ‫ي‬
ّ ‫َح‬
2x ‫اَهللُ ا َ ْكبَ ُر‬
1x ُ‫الَ اِلَهَ اِالّ للا‬

[2] Lihat Taisirul ‘Alam Syarah ‘Umdatul Ahkam,


hal 84, cetakan Maktabah Al Asadi, Karya Syaikh
Abdullah Al Bassam.
10 | T a t a C a r a A d z a n d a n I q a m a h

Adzan seperti ini adalah cara yang dipilih oleh abu


hanifah dan imam ahmad.

2. Adzan dengan 19 kalimat [13], yaitu sama seperti


adzan cara pertama akan tetapi ditambah dengan
tarji’ (pengulangan) pada syahadatain. Tarji’ adalah
mengucapkan syahadataindengan suara pelan –tetapi
masih terdengar oleh orang-orang yang hadir-
kemudian mengulanginya kembali dengan suara
keras. Jadi lafazah “asyhadu alla ilaaha
illallaah”dan“asyhadu anna
muhammadarrasulullah”masing-masing diucapkan
empat kali. Adzan seperti ini adalah cara yang dipilih
oleh Imam Asy Syafi’i.
3. Adzan dengan 17 kalimat, yaitu sama dengan cara
adzan kedua akan tetapi takbir pertama hanya
diucapkan dua kali, bukan empat kali. Adzan seperti
[1] Hadits shahih diriwayatkan oleh Abu Dawud (1203), At Tirmidzi
(207), dan Ahmad (II/283-419)
ini adalah cara yang dipilih oleh Imam Malik dan
sebagian Ulama’ Madzhab Hanafiah. Akan tetapi
menurut penulis Shahiq Fiqh Sunnah, hadits yang
menjelaskan kaifiyat ini adalah hadits yang tidak
sahih. Sehingga adzan dengan cara ini tidak
disyariatkan.

Yang Dianjurkan bagi Muadzin

1. Adzan dalam keadaan suci

Hal ini berdasarkan dalil-dalil umum yang


menganjurkan agar manusia dalam keadaan suci
ketika berdizikir (mengingat) kepada Allah.

2. Adzan dalam keadaan berdiri

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa


salamdalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu

[2] Lihat Taisirul ‘Alam Syarah ‘Umdatul Ahkam,


hal 84, cetakan Maktabah Al Asadi, Karya Syaikh
Abdullah Al Bassam.
12 | T a t a C a r a A d z a n d a n I q a m a h

Umar : “berdiri wahai bilal! Serulah manusia untuk


melakukukan solat!”

3. Adzan menghadap kiblat

4. Memasukkan jari ke dalam telinga

Ini adalah perbuatan yang biasa dilakukan oleh


sahabat Bilal ketika adzan. [14]

5. Menyambung tiap dua-dua takbir

Maksudnya adalah menyambungkan kalimat Allahu


akbar-allahu akbar, tidak dijeda antara keduanya.
[15]

6. Menolehkan kepala ke kanan ketika


mengucapakan “hayya ‘alas shalah”dan

[1] Hadits shahih diriwayatkan oleh Abu Dawud (1203), At Tirmidzi


(207), dan Ahmad (II/283-419)
menolehkan kepala ke kiri ketika
mengucapakan “hayya ‘alal falah”. [16]

7. Menambahkan “ash shalatu khairum


minannaum” pada azan subuh. [17]

Pengertian Iqamah

Iqamah secara istilah maknanya adalah


pemberitahuan atau seruan bahwa sholat akan segera
didirikan dengan menyebut lafazh-lafazh khusus.
[18]

Hukum Iqamah

Hukum iqamah sama dengan hukum adzan, yaitu


fardu kifayah. Dan hukum ini juga tidak berlaku
untuk wanita. [19]
[2] Lihat Taisirul ‘Alam Syarah ‘Umdatul Ahkam,
hal 84, cetakan Maktabah Al Asadi, Karya Syaikh
Abdullah Al Bassam.
14 | T a t a C a r a A d z a n d a n I q a m a h

Sifat Iqamah

Ada dua cara iqamah [20]:

1. Dengan sebelas kalimat [21], yaitu :

2x ‫اَهللُ ا َ ْكبَ ُر‬


1x ُ‫ا َ ْش َهدُ ا َ ْن الَاِلَهَ اِالّ للا‬
ُ ‫ا َ ْش َهدُ ا َ ّن ُم َح ّمدًا ّر‬
1x ِ‫س ْو ُل للا‬
ّ ‫علَي ال‬
1x ِ‫صالَة‬ َ ‫ي‬
ّ ‫َح‬
1xِ‫علَي ْالفَالَح‬
َ ‫ي‬ ّ ‫َح‬
2xُ ‫صالَة‬
ّ ‫ت ال‬ِ ‫قَ ْد قَا َم‬
2x ‫اَهللُ ا َ ْكبَ ُر‬
1x ُ‫الَ اِلَهَ اِالّ للا‬

2. Dengan tujuh belas kalimat [22], yaitu :

4x‫اَهللُ ا َ ْكبَ ُر‬


2x ُ‫ا َ ْش َهدُ ا َ ْن الَاِلَهَ اِالّ للا‬
[1] Hadits shahih diriwayatkan oleh Abu Dawud (1203), At Tirmidzi
(207), dan Ahmad (II/283-419)
ُ ‫ا َ ْش َهدُ ا َ ّن ُم َح ّمدًا ّر‬
2x ِ‫س ْو ُل للا‬
ّ ‫علَي ال‬
2x ِ‫صالَة‬ َ ‫ي‬
ّ ‫َح‬
2x ِ‫علَي ْالفَالَح‬
َ ‫ي‬
ّ ‫َح‬
2x ُ ‫صالَة‬ ِ ‫قَ ْد قَا َم‬
ّ ‫ت ال‬
2x ‫اَهللُ ا َ ْكبَ ُر‬
1x ُ‫الَ اِلَهَ اِالّ للا‬

Apakah yang Melaksanakan Iqamah Harus


Orang yang Mengumandangkan Adzan?

Sebagian besar ulama’ mengatakan hukumnya adalah


hanya anjuran dan tidak wajib, sebagaimana
kebiasaan Sahabat Bilal, beliau yang adzan beliau
pula yang iqamah. Dan boleh hukumnya jika yang
adzan dan iqamah berbeda. [23]

Catatan Kaki
[2] Lihat Taisirul ‘Alam Syarah ‘Umdatul Ahkam,
hal 84, cetakan Maktabah Al Asadi, Karya Syaikh
Abdullah Al Bassam.
16 | T a t a C a r a A d z a n d a n I q a m a h

[1] Hadits shahih diriwayatkan oleh Abu Dawud


(1203), At Tirmidzi (207), dan Ahmad (II/283-419)

[2] Lihat Taisirul ‘Alam Syarah ‘Umdatul Ahkam,


hal 84, cetakan Maktabah Al Asadi, Karya Syaikh
Abdullah Al Bassam.

[3] Diantara ulama yang berpendapat bahwa hukum


adzan adalah fardu kifayah adalah sebagian Ulama’
Mazhab Malikiyah dan Syafi’iah, Imam Ahmad,
Atha’ bin Abi Robah, Mujahid, Al Auza’i, Ibnu
Hazm, dan Ibnu Taimiyah. Sedangkan ulama’ yang
berpendapat hukumnya adalah sunnah muakkad
adalah Imam Abu Hanifah, sebagian Ulama’
Madzhab Syafi’iah dan Malikiyah. LihatShahih Fiqh
Sunnah, cetakan Darut Taufiqqiyyah Litturotsi, Jilid

[1] Hadits shahih diriwayatkan oleh Abu Dawud (1203), At Tirmidzi


(207), dan Ahmad (II/283-419)
I,halaman 240,karya Syaikh Kamal bin As Sayid
Salim.

[4] Berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan


oleh Al Baihaqi dari Sahabat Ibnu Umar,
bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
salam bersabda “Tidak ada adzan dan iqomah bagi
wanita”

[5] Lihat Shahih Fiqh Sunnah, cetakan Darut


Taufiqqiyyah Litturotsi, Jilid I,halaman 243, karya
Syaikh Kamal bin As Sayid Salim.

[6] Ulama’ berselisih pendapat tentang hukum adzan


sebelum waktu subuh tiba. Pendapat yang benar
adalah hal tersebut dianjurkan. Ulama’ yang
berpendapat bahwa hal tersebut dianjurkan
diantaranya adalah Imam Malik, Syafi’i, Ahmad, Al

[2] Lihat Taisirul ‘Alam Syarah ‘Umdatul Ahkam,


hal 84, cetakan Maktabah Al Asadi, Karya Syaikh
Abdullah Al Bassam.
18 | T a t a C a r a A d z a n d a n I q a m a h

Auza’i, Ishaq, Abu Tsauri, Abu Yusuf, dan Ibnu


Hazm.

[7] Lihat Taudihul Ahkam Syarah Bulughul Maram,


Cetakan Darul Mayman, Jilid I, halaman 605, karya
Karya Syaikh Abdullah Al Bassam.

[8] Hadits Shahih diriwayatkan oleh Abu Daud


(531), At Tirmidzi (672), Ibnu Majah (714), dan An
Nasa-i (672)

[9] Hadits Hasan diriwayatkan oleh Abu Daud (499),


At Tirmidzi (189), Ibnu Majah (706), dan lain-lain.

[10] Lihat Shahih Fiqh Sunnah, cetakan Darut


Taufiqqiyyah Litturotsi, Jilid I, halaman 247, karya
Syaikh Kamal bin As Sayid Salim.

[1] Hadits shahih diriwayatkan oleh Abu Dawud (1203), At Tirmidzi


(207), dan Ahmad (II/283-419)
[11] Lihat Shahih Fiqh Sunnah, cetakan Darut
Taufiqqiyyah Litturotsi, Jilid I, halaman 247, karya
Syaikh Kamal bin As Sayid Salim.

[12]Hadits Hasan diriwayatkan oleh Abu Daud (499),


At Tirmidzi (189), Ibnu Majah (706), dan lain-lain.

[13] Hal ini berdasarkan sebuah hadits hasan dari


Sahabat Abi Mahdzuroh yang diriwayatkan oleh Abu
Dawud (500-503), At Tirmidzi (192), Ibnu Majah
(709), dan An Nasa’i (II/4).

[14] Hadits Shahih diriwayatkan oleh At Tirmidzi


(197) dan Ahmad (IV/308).

[15] Berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari


sahabat Umar bn Khattab oleh Imam Muslim (385)
dan Abu Dawud (523).

[2] Lihat Taisirul ‘Alam Syarah ‘Umdatul Ahkam,


hal 84, cetakan Maktabah Al Asadi, Karya Syaikh
Abdullah Al Bassam.
20 | T a t a C a r a A d z a n d a n I q a m a h

[16] Berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan


Imam Bukhari (187) dan Muslim (503) dari Sahabat
Abu Juhaifah.

[17] Berdasarkan hadits shahih yang diriwayatkan


oleh Ahmad (16043), Abu Dawud (499), At
Tirmidzi (189), dan Ibnu Khuzaimah (386) dari
Sahabat Anas bin Malik.

[18] Lihat Taudihul Ahkam Syarah Bulughul Maram,


Cetakan Darul Mayman, Jilid I, halaman 573, karya
Syaikh Abdullah Al Bassam.

[19] Ulama’ yang berpendapat bahwa adzan


hukumnya adalah fardu kifayah maka mereka juga
berpendapat iqomah hukumnya adalah fardu kifayah.
Begitu juga dengan ulama’ yang berpendapat bahwa
adzan itu sunnah muakkad, maka iqomah juga
[1] Hadits shahih diriwayatkan oleh Abu Dawud (1203), At Tirmidzi
(207), dan Ahmad (II/283-419)
sunnah muakkad. Lihat Taisirul ‘Alam Syarah
‘Umdatul Ahkam, hal 85, cetakan Maktabah Al
Asadi dan Taudihul Ahkam Syarah Bulughul Marom,
Cetakan Darul Mayman, Jilid I, halaman 573,
keduanya Karya Syaikh Abdullah Al Bassam.

[20] Lihat Shahih Fiqh Sunnah, cetakan Darut


Taufiqqiyyah Litturotsi, Jilid I, halaman 254, karya
Syaikh Kamal bin As Sayid Salim.

[21] Berdasarkan hadits hasan yang diriwayatkan


oleh Abu Daud (499), At Tirmidzi (189), Ibnu Majah
(706), dan lain-lain.

[22] Hal ini berdasarkan sebuah hadits hasan dari


Sahabat Abi Mahdzurah yang diriwayatkan oleh Abu
Dawud (500-503), At Tirmidzi (192), Ibnu Majah
(709), dan An Nasa’i (II/4)

[2] Lihat Taisirul ‘Alam Syarah ‘Umdatul Ahkam,


hal 84, cetakan Maktabah Al Asadi, Karya Syaikh
Abdullah Al Bassam.
22 | T a t a C a r a A d z a n d a n I q a m a h

[23] Lihat Shahih Fiqh Sunnah, cetakan Darut


Taufiqqiyyah Litturotsi, Jilid I, halaman 255, karya
Syaikh Kamal bin As Sayid Salim.

Catatan editor

1. Syaikh Shalih Al Fauzan hafizhahullah menjelaskan


bahwa kita disunnahkan melatunkan adzan dengan
suara yang baik dan hukum melagukan adzan itu
makruh. (Demikian perkataan beliau dari durus Al
Muntaqa Al Akhbar ketika menjelaskan masalah
Adzan). Karena melagukan adzan sering terjadi lahn
(kesalahan dalam pengucapan). Wallahu a’lam.
2. Sedangkan dalil yang menyebutkan, “Siapa yang
adzan, maka hendaklah dialah yang iqamah”, hadits
ini adalah hadits yang dha’if. Hadits ini
[1] Hadits shahih diriwayatkan oleh Abu Dawud (1203), At Tirmidzi
(207), dan Ahmad (II/283-419)
dikatakan dha’if oleh Syaikh Al Albani dalam Irwaul
Ghalil no. 237.

Penulis: Muhammad Rezki Hr


Editor: M. A. Tuasikal
Artikel www.muslim.or.id

[2] Lihat Taisirul ‘Alam Syarah ‘Umdatul Ahkam,


hal 84, cetakan Maktabah Al Asadi, Karya Syaikh
Abdullah Al Bassam.