Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN KASUS

DHF Grade II

Disusun oleh:
dr. Chrystianti Dina H.T

Dokter Pendamping :
dr. Felicia Halim, SpA
dr. Wydia Potabuga

RSUD KOTA KOTAMOBAGU

KOTA KOTAMOBAGU

2019

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan
laporan kasus (lapkas) dengan tema “DHF Grade II” dalam rangka melengkapi
persyaratan program internsip periode Februari 2019 - Februari 2020 di RSUD
Kota Kotamobagu.

Dalam kesempatan ini penulis hendak menyampaikan rasa terimakasih


kepada dokter pembimbing yang telah memotivasi, membimbing, dan
mengarahkan penulis selama menjalani program internsip dan dalam menyusun
tulisan ini.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa tulisan ini masih jauh dari


sempurna. Untuk itulah, saran dan kritik yang membangun sangat penulis
harapkan. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan kita.

Kotamobagu, 7 Agustus
2019

Penulis

2
DAFTAR ISI
LAPORAN KASUS ................................................................................................ 1

KATA PENGANTAR ............................................................................................ 1

DAFTAR ISI ........................................................................................................... 3

BAB I ..................................................................... Error! Bookmark not defined.

LAPORAN KASUS ............................................... Error! Bookmark not defined.

A. IDENTITAS PASIEN ............................. Error! Bookmark not defined.

B. ANAMNESIS .......................................... Error! Bookmark not defined.

C. PEMERIKSAAN FISIK .......................... Error! Bookmark not defined.

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG ............ Error! Bookmark not defined.

E. DIAGNOSIS KERJA .............................. Error! Bookmark not defined.

F. PENATALAKSANAAN ........................ Error! Bookmark not defined.

G. PROGNOSIS ........................................... Error! Bookmark not defined.

BAB II .................................................................... Error! Bookmark not defined.

TINJAUAN PUSTAKA ........................................ Error! Bookmark not defined.

A. PENDAHULUAN ................................... Error! Bookmark not defined.

B. EPIDEMIOLOGI .................................... Error! Bookmark not defined.

C. ETIOLOGI .............................................. Error! Bookmark not defined.

D. PATOGENESIS ...................................... Error! Bookmark not defined.

E. MANIFESTASI KLINIS ........................ Error! Bookmark not defined.

F. DIAGNOSIS ........................................... Error! Bookmark not defined.

G. TATALAKSANA ................................... Error! Bookmark not defined.

H. KOMPLIKASI ........................................ Error! Bookmark not defined.

I. PROGNOSIS ........................................... Error! Bookmark not defined.

BAB III .................................................................. Error! Bookmark not defined.

3
PEMBAHASAN .................................................... Error! Bookmark not defined.

BAB IV .................................................................. Error! Bookmark not defined.

KESIMPULAN ...................................................... Error! Bookmark not defined.

DAFTAR PUSTAKA ............................................ Error! Bookmark not defined.

4
BAB I
STATUS PASIEN

A. IDENTITAS PASIEN
 Nama : An. Fadil Paputungan
 Jenis Kelamin : Laki-laki
 Usia : 10 tahun 11 bulan
 Agama : Islam
 Alamat : Poyowa Kecil
 Tanggal Masuk RS : 16 Juni 2019
 Jam MRS : 11.35 Wita
 Dokter yang merawat : dr. Felicia Halim, Sp.A

B. ANAMNESIS
Alloanamnesis tanggal 22 Oktober 2014, Pukul 11.00 WIB di bangsal Pelangi
RSIJD Kota Kotamobagu, Sulawesi Utara.
 Keluhan utama
Demam sejak 5 hari sebelum masuk rumah sakit
 Keluhan tambahan
Batuk, nafsu makan menurun, mimisan
 Riwayat Penyakit Sekarang
Demam sejak 5 hari sebelum masuk rumah sakit.demam dirasakan
tinggi mendadak dan terus-menerus, demam hanya turun saat diberikan
obat penurun panas saja tapi beberapa jam kemudian anak kembali
demam.
3 hari sebelum masuk rumah sakit os sudah ke klinik. Os diberikan
paracetamol namun keluhan tidak membaik. Os batuk, namun tidak pilek,
batuk tidak berdahak. Sesak nafas disangkal.

5
Pada hari ini, demam mulai turun,tidak setinggi biasanya, namun
os merasa keluar bintik - bintik merah dibagian sekitar dada dan perut. Os
mengatakan perutnya sakit dan pusing.
Sulit BAB sejak 5 hari yang lalu sebelum masuk RS, BAK dalam
batas normal. Os tidak mau makan dan minum, karena merasakan
perutnya sakit dan mual.Os juga muntah tiap diberi makan. Dan Os
mengaku kehilangan nafsu makan.

 Riwayat Penyakit Dahulu


Os belum pernah mengalami hal ini sebelumnya. OS sebelumnya pernah
mengalami muntah-ber, alergi.

 Riwayat Pengobatan
(-)

 Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak terdapat anggota keluarga yang mengalami keluhan yang sama.

 Riwayat Kehamilan dan Persalinan


Ibu rutin melakukan ANC di bidan setiap bulan selama masa kehamilan,
tidak mengkonsumsi obat-obatan selama hamil, tidak sakit.
Anak lahir cukup bulan, kehamilan tunggal, spontan di bidan tanpa
penyulit kehamilan. Langsung menangis setelah lahir dengan BB 3800
gram dan PB 48 cm

 Pola Makan Anak


0 - 7bulan : ASI eksklusif
7 – 12bulan : ASI dan susu soya dan bubur tim
10 tahun : Nasi, sayur, ikan atau ayam
Kesan : Anak mendapat ASI eksklusif, makanan sesuai usia anak

6
 Riwayat Alergi
Riwayat alergi makanan yang mengandung vetsin (chiki, makanan
mengandung ajinomoto dll)
 Riwayat Imunisasi
o BCG 1x
o DPT 3x
o Hepatitis B 3x
o Polio 4x
o Campak 1x
Kesan : Imunisasi dasar lengkap.

 Riwayat Tumbuh Kembang (Denver Chart)


Anak sudah bersekolah di sekolah dasar (SD) kelas 4
Kesan : Perkembangan Anak sesuai usia

 Riwayat Psikososial
OS tinggal bersama kedua orang tua nya di rumah petak, di dalam satu
rumah terdapat 3 orang.Sehari-hari OS sekolah, disekolah jarang jajan.
Makan lebih sering dirumah.

C. PEMERIKSAAN FISIK
 Keadaran Umum : Tampak Sakit sedang
 Kesadaran : Composmentis

 Tanda-Tanda Vital (Poliklinik 09.00)


Nadi : 100 kali/menit, teratur, kuat angkat
Suhu : 38,5 °C
Tekanan darah :-

 Tanda-Tanda Vital (Bangsal Pelangi 11.00)


Nadi : 100kali/menit, teratur, kuat angkat

7
Napas : 22 kali/menit, reguler
Suhu : 38,5 °C
Tekanan darah :-
 Antropometri
Berat Badan : 22 kg
Tinggi Badan : 126 cm
Lingkar Kepala : 53 cm (Normocephal)
 Status Gizi
BB/U : 21/25 x 100 % = 86 % ( Gizi baik )
TB/U : 126/128 x 100 % = 98 % ( normal )
BB/TB : 21,5/26 x 100 % = 82 % ( Gizi baik )
Kesan : Gizi baik

D. STATUS GENERALIS

 Kepala
Kepala Normocephal
Ubun-ubun Kecil Menutup Sempurna
Petechie (+)
Mata
Konjungtiva anemis - -
Sclera icterus - -
Edema palpebra - -
Mata cekung + +
Mata merah dan berair - -
Hidung
Pernapasan cuping hidung -
Deviasi septum -
Sekret (-/-)

8
Perdarahan (+/-)
Telinga
Normotia + +
Sekret - -
Mulut
Mukosa bibir Kering
Sianosis -
Stomatitis -
Tonsil T1/T1
Faring Hiperemis (+)
Bercak perdarahan pada mukosa faring (+)
dan mukosa buccal

 Leher
Pembesaran KGB - -
Pembesaran Kelenjar Thyroid - -

 Thorax
Inspeksi Gerak dada simetris
Perkusi Sonor/Sonor
Palpasi Vokal fremitus simetris, nyeri tekan (-/-)
Auskultasi Bunyi paru vesikular (+/+), ronkhi (-/-), wheezing (-/-)
Bunyi jantung I dan II murni, regular, murmur (-), gallop
(-)
 Axilla : Pembesaran KGB (-/-)
 Abdomen
Inspeksi Distensi (-), Scar (-)
Auskultasi BU (+) normal
Perkusi Tymphani pada seluruh kuadran abdomen

9
Palpasi Nyeri tekan (-), supel. Hepar teraba 3 cm dari arcus
costae dan 3 cm dari prosesus xipoideus
Turgor Kulit Baik, Kembali dalam waktu < 2 detik

 Inguinal : Pembesaran KGB inguinal (-/-)

 Ekstremitas
Superior Kanan Kiri
Akral Hangat Hangat
Edema - -
Sianosis - -
CRT < 2 detik < 2 detik
Petechie (+) (+)
Inferior Kanan Kiri
Akral Hangat Hangat
Edema - -
Sianosis - -
CRT < 2 detik < 2 detik
Petechie (-) (-)
 Anus dan Rectum : Hemorrhoid (-). Tanda infeksi lain (-)
 Genitalia :tidak ada kelainan
 Refleks :Patologis Fisiologis
Babinski (-) Patella (+)
Oppenheim (-) Biseps (+)
Burdzinski I (-) Achiles (+)
Burdzinski II (-)

10
E. Laboratorium
Pemeriksaan tanggal 16 - 06 -2019 Pukul 13:01 di IGD

Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Rujukan

Hematologi Rutin

Haemoglobin 12,5 g/dL 11,5 – 13,5

Jml Leukosit 2,3 ribu/μL 4,5 – 13.50

Hematokrit 35,9 % 35 – 40

Jml Trombosit 144 ribu/μL 150 – 300

Pemeriksaan Imunoserologi Widal Test tanggal 16-06-2019


Salmonella typi O 1/320
Salmonella paratypi AO 1/320
Salmonella paratypi BO 1/320
Salmonella paratypi CO 1/80
Salmonella typi H 1/80
Salmonella paratypi AH 1/80
Salmonella paratypi BH 1/80
Salmonella paratypi CH 1/80

Pemeriksaan tanggal 18 – 06 – 2019 Pukul 08:42

Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Rujukan

H Hematologi Rutin

Haemoglobin 12,3 g/dL 11,5 – 13,5

11
Jml Leukosit 4,3 ribu/μL 4,5 – 13.50

Hematokrit 34,9 % 35 – 40

Jml Trombosit 55 ribu/μL 150 – 300

Pemeriksaan tanggal 19-06-2019 Pukul 14:38

Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Rujukan

H Hematologi Rutin

Haemoglobin 12,9 g/dL 11,5 – 13,5

Jml Leukosit 6,1 ribu/μL 4,5 – 13.50

Hematokrit 37,5 % 35 – 40

Jml Trombosit 83 ribu/μL 150 – 300

Pemeriksaan Imunoserologi tanggal 19-06-2019


Jenis Pemeriksaan Hasil
Pemeriksaan Anti Dengue IgG: Positif / IgM: Positif

F. RESUME
An. FP (laki-laki, 10 tahun 11 bulan, BB 22 kg) datang ke RSUD
Kota Kotamobagu dengan keluhan :
Demam sejak 5 hari sebelum masuk rumah sakit. Demam
dirasakan tinggi mendadak dan terus-menerus, demam hanya turun saat

12
diberikan obat penurun panas saja tapi beberapa jam kemudian anak
kembali demam.
3 hari sebelum masuk rumah sakit os sudah ke klinik. Os diberikan
paracetamol namun keluhan tidak membaik. Os batuk, namun tidak pilek,
batuk tidak berdahak.Sesak nafas disangkal.
Pada hari ini, demam mulai turun,tidak setinggi biasanya, namun
os merasa keluar bintik - bintik merah dibagian sekitar dada dan perut. Os
mengatakan perutnya sakit dan pusing.
Sulit BAB sejak 5 hari yang lalu sebelum masuk RS, BAK dalam
batas normal. Os tidak mau makan dan minum, karena merasakan
perutnya sakit dan mual.Os juga muntah tiap diberi makan. Dan Os
mengaku kehilangan nafsu makan.
Imunisasi dasar lengkap, perkembangan sesuai dengan usia, gizi baik.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan :
KU: tampak sakit sedang, Kesadaran: compos mentis
Nadi : 100 x/ mnt, teratur kuat
Napas : 22 kali/menit, reguler
Suhu : 38,5, °C
Tekanan darah : -
Faring hiperemis dan petechie (+)
Ekstremitas,: Petechie (+)
Laboratorium:
Hb : 12,9 g/dL
Ht : 37,5%
Trombosit : 83 ribu/μL
Leukosit : 6,1 ribu/μL
Pemeriksaan Anti Dengue: IgG: Positif / IgM: Positif

13
G. ASSESMENT
 Febris H5
 Petechie
 Abdominal pain
 hepatomegali
 Intake sulit
 Trombositopenia

H. DIAGNOSIS
 Diagnosis Klinis : DBD grade II
 Status Imunisasi : Imunisasi dasar sesuai usia
 Satatus Tumbuh Kembang : Tumbuh Kembang sesuai dengan usia
 Status Gizi : Gizi baik

I. TATA LAKSANA
 IVFD RL 22 tpm.
 Injeksi Ceftriaxone 1gr/12j/iv
 Injeksi Ranitidin 25mg/12j/iv
 Paracetamol 500mg 3 x 1/2tab PO
 Ambroxol syr 3 x cth 1
 Psidii syr 3 x cth 1
 Ekstra inj. Vit K 5mg/iv
 Elkana syr 2 x cth 1
 Cek tanda vital per 6 jam

14
FOLLOW UP

17 Juni 2019

S O A P
- Demam naik - S : 37,1 - DBD grade II Cek HHTL
turun - N : 100 Terapi lanjut
- mimisan x/menit
- RR : 22

24 Oktober 2014
S O A P
- Demam (-) - S : 36,8 DBD grade II Cek HHTL
- Nyeri perut - N : 90 Terapi lanjut
berkurang - RR : 22
- Sudah mau - TD : 100/60
makan minum

25 Oktober 2014
S O A P
- Demam (-), - S : 36,7 DBD grade II - Rencana pulang
nyeri perut (-), - N : 84 - Psidii 3 x 1 cth
Batuk (-) - RR : 20 - Ramivel syr 2 x 1
- TD : 100/70 cth
- BAK kuning - Starmuno syr 1 x 1
jernih cdo
- Inj omz 1 x 20mg

15
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI
Infeksi virus Dengue adalah infeksi yang disebarkan oleh nyamuk
Aedes Aegypti dan Aedes albopictus oleh empat serotype virus Dengue yaitu
DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4. Infeksi oleh satu macam serotipe
memberikan perlindungan kekebalan seumur hidup, sehingga seorang dapat
empat kali terkena infeksi virus Dengue selama hidupnya (CDC, 2014).
Keempat serotype ditemukan bersirkulasi sepanjang tahun di berbagai area di
Indonesia. Serotipe den-3 merupakan serotype yang dominan dan
berhubungan dengan kasus berat.

B. EPIDEMIOLOGI
Virus Dengue tersebar pada daerah tropis dengan risiko yang bervariasi
lokal tergantung curah hujan suhu dan urbanisasi penduduk (WHO, 2017).
Menurut CDC (2014), Dengue endemis pada daerah yang berada di garis
khatulistiwa, yaitu sekitar 100 negara di Asia, Pasifik, Amerika dan
Karabian. Dan di wilayah Indonesia menurut Soegitanto (2005), angka
kesakitan Demam Berdarah Dengue (DBD) cenderung meningkat, mulai 0,05
insiden per 100.000 penduduk ditahun 1968 menjadi 3519 insiden per
100.000 penduduk ditahun 1998

16
Di Indonesia, DBD pertama kali dicurigau di Surabaya pada tahun
1968, tetapi konfirmasi virologis baru diperoleh pada tahun 1970. Kemudian
kasus baru dilaporkan di Jakarta tahun 1969, Bandung 1972 dan Yogyakarta
1972. Perlahan infeksi virus Dengue ini menyebabkan epidemic dibeberapa
provinsi hinggapada tahun 1993 virus ini telah menyebar diseluruh wilayah
Indonesia (Soemardi, 2012). Daerah tersebut menjadi daerah epidemic
karena, lingkungan daerah tersebut mendukung perkembang biakan vektor
nyamuk Aedes yang telah membaa virus Dengue dan terdapat host yang
memiliki reseptor dari virus Dengue (CDC, 2014).

C. ETIOLOGI

Demam dengue dan demam berdarah dengue disebabkan oleh virus


dengue yang ditularkan melalui gigitan vektor nyamuk Stegomiya aegipty
(dahulu disebut Aedes aegipty) dan Stegomiya albopictus (dahulu Aedes
albopictus), yang termasuk dalam group B arthropod borne virus (arbovirus)
dan sekarang dikenal sebagai genus Flavivirus, famili Flaviviridae.
Flavivirus merupakan virus dengan diameter 30 nm terdiri dari asam
ribonukleat rantai tunggal dengan berat molekul 4x106 (Sudoyo, 2006;
Soedarmo, 2012).

Selain virus dengue, virus lain yang termasuk dalam genus ini adalah
Japanese encephalitis virus (JEV), yellow fever virus (YFV), West nile virus
(WNV), dan tickborne encephalitis virus (TBEV). Masing-masing virus
tersebut mempunyai kemiripan dalam struktur antigeniknya, sehingga
memungkinkan terjadi reaksi silang. Genom virus dengue terdiri dari 3
protein struktural (C=capsid, prM=pre-membrane, dan E=envelope) dan 7
protein non struktural (NS1, NS2A, NS2B, NS3, NS4A, NS4B, dan NS5).
Protein NS1 merupakan satu-satunya protein non struktural yang dapat
disekresikan oleh sel pejamu, sehingga dapat ditemukan dalam darah pejamu
sebagai antigen NS1 (Hadinegoro S, 2014).

17
Terdapat 4 serotipe virus yaitu DENV-1, DENV-2, DENV-3 dan
DENV-4 yang semuanya dapat menyebabkan demam dengue atau demam
berdarah dengue. Keempat serotype ditemukan di Indonesia dengan DEN-3
merupakan serotype terbanyak. Infeksi dengan salah satu serotipe akan
menimbulkan antibodi seumur hidup terhadap serotipe yang bersangkutan
tetapi tidak ada perlindungnan terhadap serotipe yang lain. Seseorang yang
tinggal di daerah endemis dengue dapat terinfeksi dengan 3 atau bahkan 4
serotipe selama hidupnya. Keempat jenis serotipe virus dengue dapat
ditemukan di berbagai daerah di Indonesia (Sudoyo, 2006; Soedarmo, 2012).

18
D. PATOGENESIS

Mekanisme sebenarnya tentang patofisiologi, hemodinamika, dan


biokimiawi DBD belum diketahui secara pasti karena kesukaran mendapatkan
model binatang percobaan yang dapat menimbulkan gejala klinis DBD seperti
pada manusia. Hingga kini sebagian besar sarjana masih menganut the
secondary heterologous infection hypothesis yang menyatakan bahwa DBD
dapat terjadi apabila seseorang setelah terinfeksi virus dengue pertama kali
mendapatkan infeksi kedua dengan virus dengue serotipe lain dalam jarak
waktu 6 bulan sampai 5 tahun.

Secondary heterologous dengue infection

Replikasi virus Anamnestic antibody respons

Kompleks virus-antibodi

Aktifasi komplemen
Komplemen menurun
Anafilatoksin (C3a, C5a)
Histamin dalam urin
Permeabilitas kapiler meningkat
Ht meningkat
30% kasus Perembesan plasma Natrium turun
syok
Cairan dalam
Hipovolemia rongga serosa
Anoksia Syok Asidosis

Meninggal

E. MANIFESTASI KLINIK

Demam berdarah dengue ditandai oleh 4 manifestasi yaitu demam


tinggi, perdarahan, terutama perdarahan kulit, hepatomegali, dan kegagalan

19
peredaran darah. Fenomena patofisiologi utama yang menentukan derajat
penyakit dan membedakan DBD dari DD ialah peningkatan permeabilitas
dinding pembuluh darah, menurunnya volume plasma, trombositopenia, dan
diathesis hemoragik. Perbedaan gejala antara DBD dan DD tertera pada tabel
berikut :

DD GEJALA KLINIS DBD

++ Nyeri Kepala +

+++ Muntah ++

+ Mual +

++ Nyeri otot +

++ Ruam kulit +

++ Diare +

+ Batuk +

+ Pilek +

++ Limfadenopati +

0 Obstipasi +

+ Uji turniquet + ++

++++ Petekie +++

0 Perdarahan sal cerna +

++ Hepatomegali +++

20
+ Nyeri perut +++

++ Trombositopenia ++++

0 Syok +++

Keterangan : (+): 25%, (++):50%, (+++):75%, (++++):100%

Demam Berdarah Dengue


Gejala ditandai dengan empat tanda klinis, yaitu demam tinggi, perdarahan
jelas terutama pada kulit, hepatomegaly dan kegagalan peredaran darah
(syok). Bentuk perdarahan dapat tejadi diseluruh organ tubuh. Pada kulit
dapat berupa memar, ptechie hingga purpura, terkadang eritema pada telapak
kaki dan tangan, perdarahan pada tempat pengambilan darah vena dan uji
tourniquet positif. Bila pada mukosa mulut atau hidung dapat terjadi epistaksis
dan perdarahan gusi. Bila pada mukosa gaster dapat terjadi melena.
Sedang syok umumnya muncul setelah demam berlangsung beberapa hari
kemudian demam mulai menurun dan keadaan pasien tiba-tiba memburuk
biasanya pada demam hari ke 3-7. Klinis pasien akan menunjukan tanda
kegagalan peredaran darah, akral teraba lembab, dingin dan pucat, nadi
menjadi cepat dan lembut, mungkin juga disertai lesu, gelisah dan jika
dibiarkan akan masuk dalam fase syok. Nyeri perut sering ditemukan pula
pada fase presyok yang dapat menjadi petunjuk mungkin terjadi perdarahan
gastrointestinal.
Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan trombositopenia hingga
<100.000/ul dan hemokonsentrasi dengan peningkatan hematokrit >20%
dibanding hematokrit sebelum sakit yang menandakan kebocoran plasma.
Apabila keadaan syok tidak teratasi dengan baik, dapat menimbukan
komplikasi asidosis metabolik, hipoksia perdarahan gastrointestinal hebat
hingga ensefalopati dengan prognosis buruk (Soedarmo, 2012).

21
F. KRITERIA DIAGNOSIS
 Kontak dengan penderita DBD atau DSS
 Kriteria WHO
- Gejala klinis
a. demam tinggi mendadak 2 – 7 hari
b. manifestasi perdarahan
- Hepatomegali
- Tanpa atau dengan gejala renjatan
 Laboratorium
- Trombositopenia (<100.000/ul)
- Hemokonsentrasi (Ht ≥20%)

Diagnosis klinis ditegakkan bila didapatkan >2 gejala klinis dan satu dari
riteria laboratorium (atau hanya peningkatan hematorit) cukup untuk
menegakkan diagnosis DBD.

Pemeriksaan Penunjang

• Darah perifer
• NS1
• Uji serologi
• Elektrolit
• Tubex TF  untuk membedakan dengan demam tifoid
• Foto thorax

G. PEMERIKSAAN SEROLOGIS
Setelah satu minggu tubuh terinfeksi virus dengue, terjadi viremia
yang diikuti oleh pembentukan IgM-antidengue. Pada kira-kira hari ke lima
infeksi terbentuklah antibodi yang bersifat menetralisasi virus (neutralizing
antibody). Setelah antibody NT, akan timbul antibodi yang mempunyai sifat

22
menghambat hemaglutinasi sel darah merah angsa (haemaglutination
inhibiting antibody= HI). Antibodi yang terakhir, yaitu antibodi yang
mengikat complement (complement fixing antibody= CF), timbul pada sekitar
hari kedua puluh.
Pada dasarnya diagnosis konfirmasi infeksi virus dengue ditegakkan
atas hasil pemeriksaan serologic atau hasil isolasi virus.Dasar pemeriksaan
serologis adalah membandingkan titer antibody pada masa akut dengan
konvalesen.Teknik pemeriksaan serologi yang dianjurkan WHO ialah
pemeriksaan HI dan CF.

H. PENATALAKSANAAN
Demam Dengue
Pada dasarnya pengobatan DBD bersifat suportif, yaitu dengan
mengatasi demam, atasi nyeri, ngatasi kehilangan cairan plasma sebagai
akibat peningkatan permeabilitas kapiler dan perdarahanserta observasi ketat
tanda-tanda vital. Pasien DD dapat berobat rawat jalan, pasien DBD dirawat
diruang perawatan biasa, sedangkan DBD dengan syok dan komplikasi
memerlukan perawatan intensif.
Demam dapat diatasi dengan pemberian Paracetamol, tidak dianjurkan
untuk diberi aspirin atau ibuprofen karena dapat menyebabkan gastritis dan
perdarahan GIT. Analgetik atau sedatif mungkin dapat diberikan untuk
mengatasi nyeri yang terlalu mengganggu. Untuk pergantian cairan dan
elektrolit dilakukan per oral dengan jus buah, susu atau minuman manis
lainnya. Pasien DD umumnya saat suhu turun umumnya merupakan tanda
penyembuhan. Meskipun demikian semua pasien harus diobservasi terhadap
komplikasi yang dapat terjadi selama 2 hari setelah suhu turun karena sulit
membedakan pasien DD dengan DBD pada fase demam pertama. Sehingga
disarankan pasien untuk kontrol setiap hari. Komplikasi perdarahan tanpa
syok dapat terjadi pada pasien DD, edukasi orang tua apabila menemukan
mimisan, perdarahan gusi, nyeri perut hebat, buang air besar hitam yang
merupakan tanda kegawatan agar segera dibawa ke RS.

23
Demam Berdarah Dengue
Perawatan fase demam sama dengan tatalaksana DD, bersifat
simtomatik dan suportif yaitu pemberian cairan untuk mencegah dehidrasi.
Apabila muntah sangat dominan dan nafsu makan dan minum menurun,
diperlukan pemberian cairan melalui intravena. Parasetamol

24
direkomendasikan bila suhu melebihi 38,5 C. jenis minuman yang
direkomendasikan adalah minuman yang manis seperti jus buah, teh manis,
sirup, susu serta larutan oralit dengan dosis 50 ml/kgBB dalam 4-6 jam
pertama. Cairan rumatan yang diberikan sebanyak 80-100 ml/kgBB dalam 24
jam berikutnya. Pantau tanda-tanda vital, diuresis dan penurunan
hematokrit/jam atau lakukan pemeriksaan laboratorium minimal satu kali
sehari.

25
DBD dengan syok adalah DBD derajat III dan IV dengan gejala gelisah,
nafas cepat, nadi teraba kecil, lembut atau bahkan tidak teraba, tekanan nadi
menyempit (jarak antara sistol dan diartol kurang dari 20 mmHg) dan tidak
ada produksi urin. Yang harus dilakukan adalah beri infus kristaloid 20
ml/kgBB secepatnya dalam 30 menit, oksigen nasal 2 liter/menit.

26
Indikasi untuk rawat di rumah sakit

o Takikardia
o Peningkatan Hematokrit

27
o Akral pucat atau dingin
o Oliguria
o Hipotensi
o Tekanan nadi melemah (<20 mmHg)
o Penurunan kesadaran
o Capillary refill time > 2 detik atau memanjang
Kriteria memulangkan Pasien:

• Tidak demam selama 24 jam tanpa antipiretik


• Nafsu makan membaik
• Klinis perbaikan hematokrit stabil
• Trombosit > 50.000/ul dan cenderung meningkat
• Tidak dijumpai distres pernapasan
• 3 hari setelah syok teratasi

I. PENCEGAHAN

Pencegahan penyakit DBD sangat tergantung pada pengendalian


vektornya, yaitu nyamuk Aedes aegypti. Pengendalian nyamuk tersebut dapat
dilakukan dengan menggunakan beberapa metode yang tepat, yaitu :

1. Lingkungan

Metode lingkungan untuk mengendalikan nyamuk tersebut antara


lain dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), pengelolaan sampah
padat, modifikasi tempat perkembangbiakan nyamuk hasil samping
kegiatan manusia, dan perbaikan desain rumah. Sebagai contoh:

- Menguras bak mandi/penampungan air sekurang-kurangnya sekali


seminggu.
- Mengganti/menguras vas bunga dan tempat minum burung seminggu
sekali.

28
- Menutup dengan rapat tempat penampungan air.
- Mengubur kaleng-kaleng bekas, aki bekas dan ban bekas di sekitar
rumah dan lain sebagainya.

2. Biologis

Pengendalian biologis antara lain dengan menggunakan ikan


pemakan jentik (ikan adu/ikan cupang), dan bakteri (Bt.H-14).

3. Kimiawi

Cara pengendalian ini antara lain dengan:

- Pengasapan/fogging (dengan menggunakan malathion dan fenthion),


berguna untuk mengurangi kemungkinan penularan sampai batas waktu
tertentu.
- Memberikan bubuk abate (temephos) pada tempat-tempat
penampungan air seperti, gentong air, vas bunga, kolam, dan lain-lain.

Cara yang paling efektif dalam mencegah penyakit DBD adalah


dengan mengkombinasikan cara-cara di atas, yang disebut dengan “3M
Plus”, yaitu menutup, menguras, menimbun. Selain itu juga melakukan
beberapa plus seperti memelihara ikan pemakan jentik, menabur larvasida,
menggunakan kelambu pada waktu tidur, memasang kasa, menyemprot
dengan insektisida, menggunakan repellent, memasang obat nyamuk,
memeriksa jentik berkala, dll sesuai dengan kondisi setempat.

J. Komplikasi
 Perdarahan organ interna
 DIC
 Ensefalopati Dengue

29
o Pada umumnya ensefalopati terjadi sebagai komplikasi syok yang
berkepanjangan dengan perdarahan, tetapi dapat juga terjadi pada
DBD yang tidak disertai syok.
o Gangguan metabolik seperti hipoksemia, hiponatremia, atau
perdarahan, dapat menjadi penyebab terjadinya ensefalopati.
o Melihat ensefalopati DBD bersifat sementara, maka kemungkinan
dapat juga disebabkan oleh trombosis pembuluh darah otak
sementara sebagai akibat dari koagulasi intravaskular diseminata
(KID).

 Kelainan Ginjal
o Gagal ginjal akut pada umumnya terjadi pada fase terminal,
sebagai akibat dari syok yang tidak teratasi dengan baik.
 Edema Paru
o Edema paru adalah komplikasi yang mungkin terjadi sebagai
akibat berlebihan pemberian cairan.
o Pemberian cairan pada hari ketiga sampai kelima sesuai panduan
yang diberikan, biasanya tidak akan menyebabkan edema paru oleh
karena perembesan plasma masih terjadi.
o Akan tetapi apabila pada saat terjadi reabsorbsi plasma dari ruang
ekstraseluler, apabila cairan masih diberikan (kesalahan terjadi bila
hanya melihat penurunan kadar hemoglobin dan hematokrit tanpa
memperhatikan hari sakit) pasien akan mengalami distress
pernafasan, disertai sembab pada kelopak mata, dan tampak adanya
gambaran edema paru pada foto dada.

K. Prognosis
Buruk bila terjadi DSS dengan syok berulang/berkepanjangan atau
terjadi DIC.

30
DAFTAR PUSTAKA

CDC. (2014). Epidemiology| Denguei | CDC. [online] Available at:


https://www.cdc.gov/dengue/epidemiology/ [Accessed 11 May 2017].

Garna, Herry. Pedoman Diagnosis dan Terapi. Edisi ke-3. Bandung: FK UNPAD.
2005.

Soegeng, S. (2005). Patogenesa dan Perubahan Patofisiologi Infeksi Virus


Dengue. 1st ed. Surabaya: Airlangga University Press.

Somarmo S.Poorwo, S. (2012). Buku Ajar Infeksi & Tropis Pediatri. 3rd ed.
Jakarta: Badan Penerbit IDAI.

WHO (2017). Dengue haemorrhagic fever: diagnosis, treatment, prevention and


control. 2nd edition.. Geneva: World Health Organization.

31