Anda di halaman 1dari 15

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.

net/publication/325284001

Dampak Sosial Ekonomi Perkebunan Kelapa Sawit Terhadap Kemajuan Wilayah


di Provinsi Riau

Article · May 2018

CITATIONS READS

0 4,212

1 author:

Nanang Pranata
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
1 PUBLICATION   0 CITATIONS   

SEE PROFILE

All content following this page was uploaded by Nanang Pranata on 22 May 2018.

The user has requested enhancement of the downloaded file.


Dampak sosial ekonomi perkebunan kelapa sawit terhadap
Kemajuan wilayah di provinsi riau
Nanang Yuliya Pranata
Government Affairs and Administration
Jusuf Kalla School of Government
Nanang.yuliya.2015@fisipol.umy.ac.id /
Nanang_pranata@yahoo.co,id

PENDAHULUAN
Indonesia adalah salah satu negara yang beriklim tropis, yang artinya sangat cocok untuk
membudidayakan perkebunan maupun pertanian. Kelapa sawit adalah salah satu tanaman yang
tidak asing lagi di Indonesia, masuknya kelapa sawit ke Indonesia yaitu pada tahun 1848 yang
dibawa oleh Kolonial Belanda sebanyak empat batang bibit kelapa sawit dari Amsterdam dan
Maurutius, penanaman kelapa sawit di Indonesia pertama kalinya ditanam di kebun raya bogor.
Sejak itulah perkebunan kelapa sawit yang di Indonesia mulai berkembang secara pesat, pada
tahun 1939 indonesia menjadi produsen minyak kelapa sawit dunia dengan total ekspor sebesar
48%. (Prayitno, Dewa, & Sunarminto, 2008)

Kelapa sawit menjadi sektor perkebunan utama di Indonesia, karena kelapa sawit
merupakan tumbuhan industri penting yang dapat meghasilkan minyak masak, minyak industry,
maupun menjadi campuran pada bahan bakar (Biodiesel). Tidak hanya sebatas itu, kelapa sawit
juga dapat di ekstrak untuk diambil minyak sawit yang masih mentah (Crude Palm Oil, CPO). Jika
dilihat dari sisi ekonomisnya, minyak kelapa sawit cukup menguntungkan karena harga dari yang
berada dipasar dunia cenderung mengalamai peningkatan dari tahun ke tahun. Selain dimanfaatkan
sebagai kebutuhan pasar di dalam negerai, hasil minyak kelapa sawit di Indonesia juga di ekspor
ke negara-negara importir utama minyak kelapa sawit duna.

Peta persebaran kelapa sawit di Indonesia terbagi dibeberapa wilayah, yang sangat
mendominan adalah bagian Sumatra dan Kalimantan. Namun jika dilihat berdasarkan luas sektor
perkebunan, Sumatra adalah penghasil terbesar produksi minyak kelapa sawit di Indonesia.
Terbagi menjadi tiga provinsi terbesar penghasil minyak kelapa sawit di Sumatra adalah Provinsi
Riau, Sumatra Utara, dan Sumatra Selatan. Tiga provinsi ini adalah penyumbang angka yang
paling tinggi di Indonesia dari sekian banyaknya daerah yang memiliki sektor perkebunan kelapa
sawit, baik dilihat dari segi luar areal persebaran maupun dari sisi produksi hasil kelapa sawitnya.
Adanya persebaran kelapa sawit di Indonesia, menjadi salah satu produksi andalan perkebunan di
Indonesia. Beberapa andalan ekspor lainnya di Indonesia adalah kakao, karet, dan tebu manjadi
komoditi andalan ekspor dari Indonesia.

Dua provinsi terbesar sektor perkebunan kelapa sawit di bagian sumatra Indonesia seperti
yang sudah dijelaskan diatas memiliki perkebunan kelapa sawit terluas di Indonesia, salah satunya
yaitu Provinsi Riau. Pada tahun 2014 Provinsi Riau memiliki lahan perkebunan dengan luas areal
2,30 juta Ha, disusul oleh Provinsi Sumatra Utara dengan luas 1,39 juta Ha (Masheri, 2015).
Berikut tabel rincian penyebaran perkebunan kelapa sawit di berbagai provinsi yang ada di
Sumatra (Bambang, 2017) :

Tabel 1.1 Sebaran Luas Kelapa Sawit di Provinsi bagian Sumatra


Provinsi Luas (Ha)
Riau 2.296.849
Sumatra Utara 1.392.532
Sumatra Selatan 1.111.050
Jambi 688.810
Aceh 413.873
Sumatra Barat 381.754
Bengkulu 304.339
Lampung 165.251
Jumlah 6.754.458
Sumber: Direktorat Jendral Perkebunan dan Pertanian. data olahan.

Luasnya daerah perkebunan kelapa sawit yang semakin meningkat dari tahun ke tahun
menandakan sektor perkebunan memang menjadi komoditas andalan di bagian Sumatra, baik dari
segi ekonomi maupun kemajuan daerah. Beberapa tahun terakhir dari rentang tahun 2009-2013
jumlah areal perkebunan kelapa sawit yang ada di Indonesia khususnya perwilayah mengalami
kenaikan sebesar 5,5% setiap tahun. Meningkatnya luas areal perkebunan kelapa sawit secara
otomatis juga akan meningkatkan hasil produksinya. Provinsi Riau adalah salah satu daerah yang
mengalami peningkatan besar terhadap pembukaan luas lahan perkebunan kelapa sawit.

Riau merupakan pemilik lahan perkebunan kelapa sawit terluas di Indonesia, kontribusi
perkebunannya terhadap Produk Domestrik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Riau dari tahun
1993, 2003, sampai dengan 2009 masing-masing sebesar 5,73%, 16,71% dan 16,71%. Kelapa
sawit menjadi sektor unggulan daerah Provinsi Riau. Pada tahun 2008 luas perkebunan kelapa
sawit di Provinsi Riau seluas 1,54 juta hektar atau 21,89% dari total keseluruhan perkebunan
kelapa sawit yang ada di Indonesia. Hasil produksi dari kelapa sawit Provinsi Riau juga
memberikan kontribusi terbesar dalam produksi kelapa sawit di Indonesia, tahun 2008 Provinsi
Riau menyumbang kontribusi sebesar 4,47 juta ton atau 24,4% (dalam Chalid, 2011).

Terdapat beberapa alasan Pemerintah Daerah Provinsi Riau mengutamakan pengembangan


kelapa sawit sebagai komoditas utama (Syahza, 2004), antara lain :

a) Segi fisik daerah Riau memungkinkan untuk pengembangan perkebunan kelapa sawit.
b) Kondisi daerah yang relatif datar memudahkan pengelolaan dan meminimalisir biaya
produksi.
c) Kondisi tanah yang mendukung untuk ditanami kelapa sawit menghasilkan produksi
yang lebih tinggi dibandingkan daerah lain.
d) Letak daerah Riau yang strategis dengan pasar internasional yaitu Singapura sehingga
mempunyai keuntungan dalam pemasaran.
e) Kelapa sawit memberikan pendapatan yang lebih tinggi kepada petani dibandingkan
jenis tanaman perkebunan lainnya.

Salah satu kegiatan ekonomi yang berperan dalam meningkatka pendapatan dan
kesejahteraan masyarakat adalah perkebunan yang berbasis agribisnis. Selain menjadi fungsi
pelestarian lingkungan hidup dan sebagai instrument pemerataan pembangunan rakyat. Potensi
adanya pemanfaatan perkebunan yang dijadikan andalan ekspor dimasa mendatang sangatlah
besar. Persyaratannya hanyalah perkebunan dan penyempurnaan iklim usaha serta struktur pasar
komoditas perkebunan sektor hulu sampai hilir. Posisi Provinsi Riau sangatlah strategis untuk
membudidayakan tanaman kelapa sawit, adanya perkebunan yang sudah luas diharapkan mampu
mengubah kehidupan masyarakat Riau dan sekitarya lebih baik lagi. Tidak dapat dipungkuri lagi
bahwa perkebunan kelapa sawit telah menjadi sektor yang sangat penting peranannya dalam
pembangunan, karena sektor ini adalah penyumbang devisa yang cukup besar di Indonesia.

Prospek kelapa sawit yang dari waktu kewaktu akan terus bertumbuh yang diiringi dengan
tingkat produksi dan luas areal yang kian bertambah di tiap tahunnya. Namun hal terebut belum
tentu menjadi jaminan terhadap peningkatan kesejahteraan dan kemajuan daerah. Oleh karena itu
penulis ingin mengetahui tentang bagaimana peran dari sektor perkebunan kelapa sawit dalam
memajukan wilayah di Provinsi Riau karena melihat Provinsi Riau memiliki perkebunan kelapa
sawit terluas di Indonesia.

PEMBAHASAN

A. Perkembangan Perkebunan Kelapa Sawit

Kelapa sawit merupakan komoditi utama di sektor perkebunan yang mulai


dikembangkan pertama kali di Provinsi Riau yaitu pada tahun 1975-1976 oleh pihak
Perkebunan Besar Swasta PT. Plantagen-AG yang sekarang sudah diambil alih oleh PT.
Tunggal Perkasa Plantations Air Molek dengan luas yang kurang lebih sekitar 1000 Ha
(Syahza, 2004). Pembangunan secara besar-besaran di Riau dilakukan sejak awal Pelita III
dengan mencanangkan program PIR (Perumahan Inti Rakyat). Adanya dukungan dari survei
yang dilakukan oleh Marihat Research Station memberikan masukan bahwa Provinsi Riau
dilihat dari jenis tanah dan faktor agroklimat sangat potensial dalam pengembangan kelapa
sawit.

Perkembangan perkebunan kelapa sawit di Provinsi Riau memberikan peran penting


dalam kesejahteraan masyarakatnya dan kemajuan daerah, dilihat dari profibilitas kelapa sawit
yang tinggi. Adanya peningkatan luas lahan dari tahun ke tahun yang artinya mulai banyak
pihak yang berinvestasi pada perkebunan kelapa sawit, baik dari perkebunan swasta ataupun
perkebunan rakyat yang keduanya sama-sama memiliki peran penting disektor pertanian
Provinsi Riau. Dapat dilihat dari kontribusi pertaniannya terhadap Produk Domestik Regional
Bruto (PDRB) yang cukup besar, di tahun 1990 sebesar 25,47%, tahun 2000 sebesar 43,48%,
dan tahun 2009 sebesar 33,86%. Sedangkan kontribusi pertanian terhadap lapangan kerja juga
masih cukup besar yaitu, pada tahun 1990 mencapai angka 58,13% dan pada tahun 2010
mencapai angka 43,89%. Pada tabel 1.3 berikut dapat dlihat perkembangan luas perkebunan
kelapa sawit Provinsi Riau dari tahun 1984-2009 (dalam Chalid, 2011) .

Tabel 1.2 : Perkembangan luas serta produksi perkebunan kelapa sawit


Provinsi Riau tahun 1984-2009
Tahun Luas Area (Ha) Pertumbuhan (%) Produksi (ton)
1984 44512 - 13441
1985 64297 44,45 39666
1986 112027 74,23 95916
1987 136819 22,13 109266
1988 165442 20,92 130405
1989 194975 17,85 263938
1990 230187 18,06 326631
1991 274088 19,07 351540
1992 312429 13,99 367652
1993 382313 22,37 518447
1994 403048 5,42 653264
1995 525478 30,38 763145
1996 556065 5,82 994424
1997 670148 20,52 1294316
1998 796256 18,82 1559924
1999 956046 20,07 1814849
2000 966789 1,12 1792481
2001 1114776 15,31 2645354
2002 1307877 17,32 3684784
2003 1481399 13,27 3832228
2004 1340036 9,54 3386801
2005 1424814 6,33 3406394
2006 1530150 7,39 4659264
2007 1612382 5,37 5119290
2008 1673551 3,79 5764201
2009 1911113 14,20 5937539
Sumber: Dinas Perkebunan Provinsi Riau, Data olahan.

Pada tabel 1.3 bisa diketahui luas areal serta produksi kelapa sawit tiap tahunnya selalu
mengalami peingkatan, peningkatan pada luas areal perkebunan setiap tahunnya periode 1984
– 2009 berkisar antara 1,12% - 74, 23%. pertumbuhan tertinggi terjadi pada tahun 1986,
sedangkan yang terendah pada tahun 2000. Rata-rata laju pertumbuhan luas perkebunan dari
tahun 1984 – 2009 sebesar 16,23% setiap tahun. Peningkatan produksi kelapa sawit dari
periode 1984 – 2009 tiap tahun berkisar antara 0,58% - 195,11%. Pertumbuhan yang tinggi
terjadi pada tahun 1985 (195,11%),1986 (141,81%) dan tahun 1999 dengan jumlah 102,40%.
Sedangkan pertumbuhan terendah ada pada tahun 2005 yaitu 0,58%. Rata-rata laju
pertumbuhan produksi dari periode 1984 – 2009 adalah 27,59% pertahun. Pada tahun 2009
jumlah produksi naik menjadi 5937539 ton dan pertumbuhan produksi dari tahun 2005 – 2009
berkisar antara 0.58% - 36,78%, rata-rata laju pertumbuhannya sebesar 14,90% pertahun.

Provinsi Riau memiliki empat kabupaten dengan penghasil produksi terbesar kelapa
sawit, tentunya juga memiliki luas areal perkebunan yang cukup luas dibandingkan dengan
beberapa Kabupaten lainnya. berikut tabel persebaran perkebunan kelapa sawit di empat
Kabupaten beserta PT pengelola hasil sawit tersebut (Masykur, 2013) :

Tabel 1.3: Persebaran Kelapa Sawit di Beberapa Kabupaten Provinsi Riau


Nama Kabupaten Pengelola Luas lahan Inti
(Ha)
Rokan Hulu (Rohul) - PT. Ekadura Indonesia (EDI) 10.000
- PT. Sawit Asahan Indah (SAI) 6.500
Siak PT. Kimia Tirta Utama (KTU) 5.600
Pelalawan PT. Sari Lembah Subur 7.700
Indragiri Hulu PT. Tunggal Perkasa Plantations 11.000
Sumber: Bahan diolah (Dinas Perkebunan Riau, 2011)
B. Struktur Perkebunan Kelapa Sawit Provinsi Riau

Untuk melihat sejauh mana peran perkebuan kelapa sawit di Provinsi Riau memberikan
sumbangsih terhadap kemajuan wilayah, penulis membuat alur berfikir dari beberapa sisi,
seperti gambir di bawah berikut :

Perkebunan Kelapa Sawit

Pembangunan Sosial Ekonomi

Infrastruktur Penyerapan Tenaga


Kerja

Pendapatan Masyarakat

1. Sosial Ekonomi

Keadaan sosial ekonomi setiap individu tentunya berbeda-beda dan bertingkat, ada
ekonominya tinggi, sedang, dan rendah. Sosial ekonomi menurut Soerjono Seokanto
(dalam Laing, 2016) adalah posisi seseorang di dalam masyarakat berkaitan dengan orang
lain dalam arti lingkungan pergaulan, prestasi, dan hak-hak serta kewajiban dalam
hubungannya dengan sumber daya. Sedangkan menurut Carly dan Bustelo (Syahza, 2013)
sosial ekonomi terdiri dari perubahan pendapatan, kesempatan berusaha dan pola tenaga
kerja. Kondisi sosial juga dapat dilihat dari segi faktor budaya, Pendidikan, umur dan jenis
kelamin.

Provinsi Riau merupakan Provinsi terbesar dengan hasil pertanian kelapa sawit,
adanya produktivitas lahan perkebunan yang tidak sama disebabkan oleh umur tanaman.
Tingkat produktivitas kelapa sawit akan meningkat tajam dari umur 3 – 7 tahun (periode
tanaman muda) akan mencapai tingkat produksi maksimal mulai pada umur 15 tahun
(periode tanaman remaja), dan mulai akan turun secara gradual jika sudah memasuki
tanaman tua. Adanya perbedaan tersebut memberikan gambaran bahwa ada kesenjangan
ekonomi dari hasil pertanian kelapa sawit di Provinsi Riau karena berbeda dari budaya
pengelolaannya. Pemilikan lahan yang tidak hanya milik rakyat tetapi juga ada dari Swasta
dan Negara tersebut menimbulkan konflik perebutan lahan. Adanya konflik lahan akan
membunuh masyarakat secara perlahan atas hak milik mereka untuk mencari nafkah
kehidupan.

Potensi sektor perkebunan khususnya kelapa sawit menjadi andalan yang sangat
besar di Provinsi Riau, khususnya pada kondisi social ekonomi. Berdasarkan data dari
Badan Pusat Statistik, rata-rata pertumbuhan ekonomi melalui Produk Domestik Regional
Bruto (PDRB) sejak tahun 2005-2009 berada di atas 8%, lebih tinggi dari pertumbuhan
ekonomi nasional. Bahkan pada tahun 2009 tepat pada pasca krisis keuangan global,
perekonomian Provinsi Riau tanpa ada campur dari unsur Migas mampu mencatat tingkat
yang cukup tinggi yaitu sebesar 4,90% (Klassen, 2006) .

Tabel 1.4: Rata-rata Pertumbuhan Ekonomi Riau Tahun 2005-2010

Sumber: BPS Provinsi Riau, data diolah

Pertumbuhan perekonomian Riau utamanya berasal dari sektor pertanian dan


industri pengolahan. Dapat dilihat pada grafik 1.4 rata-rata sumbangan pertanian mencapai
angka 21,9%, sedangkan pada sektor non tradables bantuan terbesar berasal dari sektor
perdagangan dengan angka mencapai 19,5%. Hal ini tentunya memberikan dampak yang
cukup besar dalam hal perekonomian Provinsi Riau.
Tabel 1.5: Pertumbuhan Ekonomi Riau Menurut Pengeluaran (%)

Sumber: BPS Provinsi Riau, data diolah

Jika dilihat dari kondisi pengelolaan kelapa sawit di Sumatra Utara, maka Provinsi
Riau mengalami ketinggalan mengingat besarnya potensi sumber daya disana. Peran
industry tersebut juga vital dalam menghasilkan devisa pendapatan dan menyediakan
bahan baku bagi industry pangan. Adanya kondisi pasar yang cukup potensial maka peran
CPO dan produk lain akan terus berkembang terutama sejala dengan adanya energi
alternative biodiesel yang akan dicanangkan oleh pemerintah.

Besarnya dampak perekonomian Riau yang di ukur dari distribusi output dan
pendapat dari kelapa sawit maka terdapat beberapa impikasi kebijakan, antara lain sebagai
berikut :

1) Pemerintah perlu menekan pembangunan industry hilir kelapa sawit sesuai


yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat.
2) Pemerintah harus mengurangi penghambat iklim investasi dengan memberikan
jaminan hukum kepada investor.
3) Perlu adanya kesamaan kebijakan antara pemerintah daerah dan pelaku usaha
dalam meningkatkan percepatan realisasi pembangunan kelapa sawit di
Provinsi Riau.
Tidak hanya itu, dampak lain yang juga diberikan oleh perkebunan kelapa sawit
juga terdapat dibeberapa sektor, seperti keuangan, perdagangan, restoran, hotel, industry
kimia, industry migas, transportasi dan pada sektor lainnya (Purnomo, 2016).

Tabel 1.6 Dampak Perkebunan Kelapa Sawit

Sumber: (Group, 2014)

Luasnya perkebunan kelapa sawit di Provinsi Riau tentunya membuka peluang


terhadap lapangan pekerjaan, lowongan pekerjaan perkebunan kelapa sawit di Provinsi
Riau di bagi menjadi dua yaitu karyawan yang bekerja di bagian pengolahan hasil produksi
dan karyawan yang bekerja di bagian pengelolaan perkebunan. Lowongan pekerjaan
tersebut berasal dari perkebunan rakyat dan perkebunan swasta maupun perkebunan milik
negara. Adanya Perda Provinsi Riau yang mengatur tentang penempatan tenaga kerja lokal
di perusahaan-perusahaan sawit di Riau belum secara maksimal dilaksanakan secara
maksimal. Ketentuan dari pemerintah Provinsi Riau untuk tenaga kerja lokal sebesar 70%
sedangkan untuk tenaga kerja asing hanya 30%.

Struktur ekonomi juga digunakan untuk menunjukkan hasil pendapatan karena


sektor ekonomi menjadi sumber pendapatan dan sumber mata pencarian sebagian besar
penduduk di Riau khususnya terhadap hasil perkebunan kelapa sawit. Sumber pendapatan
memberikan tambahan penghasilan kepada masyarakat, di Provinsi Riau petani-petani
kelapa sawit biasanya tidak langsung menjual hasil perkebunan mereka ke pabrik
melainkan ke pengepul-pengepul. Adanya potongan dari pengepul mengurangi pendapatan
dari para petani karena adanya perbedaan harga sawit antara pengepul dan pabrik.

2. Pembangunan
Dalam mendukung Penguatan ekonomi rakyat, industrialisasi pertanian merupakan
syarat keharusan (Rudor, 2012). Selain itu, pengembangan potensi unggulan daerah bisa
dilakukan melalui pengembangan industri karena ada tiga alasan mendasar (Prawoto,
2010), yaitu: (1) industri merupakan satu-satunya sektor yang menghasilkan nilai tambah
yang besar sehingga menjadi penyumbang terhadap Produk Domestik Regional Bruto
(PDRB). (2) industri sebagai penarik dalam perkembangan dan pertumbuhan output di
sektor-sektor ekonomi lainnya. (3) industri adalah sektor penting bagi pengembangan
teknologi serta penciptaan inovasi baru yang mampu memberikan multiplier effect.

Sektor pertanian merupakan salah satu penopang dalam percepatan pembangunan,


dilihat dari sumbangsih sektor pertanian kelapa sawit pada RAPBD Provinsi Riau.
Pendapatan sektor pajak dari perkebunan kelapa sawit milik swasta ataupun negara akan
membantu percepatan pembangunan terutama pembangunan fasilitas-fasilitas umum yan
itu dirasa perlu, tidak hanya untuk masyarakat tetapi juga untuk perusahaan-perusahaan
yang ada di Provinsi Riau.

Pembangunan tidak hanya mengharapkan dari pemilik-pemilik perkebunan swasta


kelapam sawit, tetapi juga mengharapkan dari petani-petani lokal sebagai pendukung dan
penyuplai tambahan pada hasil produksi untuk diolah oleh PT yang ada di beberapa daerah
di provinsi Riau. Pada tahun 2004 jumlah petani kelapa sawit di Provisi Riau 256391 KK
dan pada tahun 2009 naik menjadi 377183 KK, rata-rata laju pertumbuhan jumlah petani
kelapa sawit dari tahun 2004-2009 sebesar 8,03% pertahunnya.

PENUTUP

Kesimpulan

sektor pertanian kelapa sawit yang berada di Provinsi Riau seharusnya bisa memberikan
kesejahteraan terhadap masyarakat sekitar, tapi hal ini tidak dirasa diseluruh daerah yang ada di
Provinsi Riau. Adanya perda yang mengatur tentang pelibatan masyarakat lokal sebagai tenaga
kerja pada perusahaan-perusahan sawit belum terealisasi sebesar 70% oleh perusahaan-perusahaan
tersebut. Dilanjutkan dengan adanya permainan harga jaual kelapa sawit pada perusahaan-
perusahaan secara perlahan akan membunuh hasil produksi kelapa sawit petani lokal.

Hal tersebut tentunya akan meghambat terhadap pertumbuhan kemajuan wilayah , tidak
adanya transparansi dari pemerintah dalam pembangunan meggunakan hasil dari produksi sawit
akan mengubah pola pikir masyarakat bahwa perkebunan kelapa sawit tersebut tidak ada
memberikan sumbangsih terhadap pembangunan daerah. Sektor pertanian tentu saja menjadi
pendukung dalam pembangunan wilayah dari adanya sumbangsih pada pendapatan daerah,
penyerapan tenaga kerja akan sangat membantu pemerintah menstabilkan perekonomian sehingga
bisa terwujudnya percepatan pembangunan wilayah.

Saran

Pertanian merupakan sektor besar yang dimilik oleh Provinsi Riau. sebagai penghasil
produksi kelapa sawit terbesar di Indonesia seharusnya Provinsi Riau bisa memanfaatkan
kesempatan itu untuk mensejahterahkan masyarakatnya. Adanya regulasi daerah yang kuat dalam
mengatur perkebunan kelapa sawit sangat dibutuhkan, adanya batasan pengolahan lahan
perkebunan dari pihak swasta harus benar-benar diperhatikan pemerintah Provinsi Riau. Besarnya
peluang dalam pengolahan perkebunan kelapa sawit akan memberikan perubahan terhadap
kemajuan wilayah dan tentunya akan membawa perubahan bagi masyarakat yang ada disekitarnya.
Daftar Pustaka

Bambang. (2017). Statistik Perkebunan Indonesia 2015 -2017 Kelapa Sawit. Sawit, 81.

Chalid, N. (2011). Perkembangan Perkebunan Kelapa Sawit di Provinsi Riau. Jurnal Ekonomi,
19(September), 78–97. Retrieved from
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=31487&val=2268&title=Perkembanga
n Perkebunan Kelapa Sawit Di Provinsi Riau

Klassen, B. T. (2006). Boks 1.

Laing. (2016). Dampak Keberadaan Perkebunan Kelapa Sawit terhadap Kondisi Sosial Ekonomi
Masyarakat di Desa Badak Mekar Kecamatan Muara Badak kabupaten Kutai Kertanegara.
FISIP Universitas Mulawarman, 4(2), 633–646.

Masheri. (2015). Pengaruh Kebijakan Perkebunan terhadap Penanaman Modal ( PMDN DAN
PMA ) (studi kasus perkebunan kelapa sawit di Provinsi Riau). Jom FISIP, 2(1), 1–15.

Masykur. (2013). Pengembangan Industri Kelapa Sawit Sebagai Penghasil Energi Bahan
Alternatif dan Mengurangi Pemanasan Global. Jurnal Reformasi, 3, 96–107.

Prawoto, N. (2010). Pengembangan potensi unggulan sektor pertanian, 11(April).

Prayitno, S., Dewa, D. I., & Sunarminto, B. H. (2008). Produktivitas Kelapa Sawit (Elaeis
guineensis Jacq.) yang dipupuk dengan Tandan Kosong dan Limbah Cair Pabrik Kelapa
Sawit. Ilmu Pertanian, 15(1), 37–48. https://doi.org/10.1593/neo.07916

Purnomo, E. P., Nurmandi, A., Sulaksono, T., Hidayati, M., & Ramdani, R. (2017). Ekologi
Pemerintahan Tata Kelola dan Kelembaman Birokrasi dalam Menangani Kebakaran Hutan,
Pengelolaan Sawit serta Pernan Elit Lokal.

Rudor, C. (2012). Ekonomi Daerah Provinsi Sumatera Barat ( Pendekatan Analisis Input-Output
).

Syahza, A. (2004). Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pedesaan Melalui Pengembangan


Industri Hilir Berbasis Kelapa Sawit di Daerah Riau, 6(3), 1–13.

Syahza, A. (2013). Percepatan Ekonomi Pedesaan melalui Pembangunan Perkebunan Kelapa


Sawit. Jurnal Ekonomi Pembangunan, 12(2), 297–310.
https://doi.org/10.23917/jep.v12i2.200

View publication stats