Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH MIKROBIOLOGI DAN PARASITOLOGI

TREMATHODA

Disusun Oleh:

1. Rizka
2. Sofin Imaratul Aini (P27240018086)
3. Fitriana Nur F (P27240018065)
4. Gilang P

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN SURAKARTA

TAHUN AJARAN 2018/2019


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Trematoda disebut sebagai cacing hisap karena cacing ini memiliki alat pengisap. Alat
pengisap terdapat pada mulut di bagian anterior Alat hisap (Sucker) ini untuk menempel
pada tubuh inangnya maka disebut pula cacing hisap. Pasa saat menempel cacing ini
mengisap makanan berupa jaringan atau cairan tubuh inangnya. Ciri khas cacing ini adalah
terdapat dua batil isap yaitu batil isap mulut dan batil isap perut ada juga spesies yang
memiliki batil isap genital. Trematoda memiliki saluran pencernaan berbentuk huruf Y
terbalik dan pada umumnya tidak memiliki alat pernapasan khusus karena hidup secara
anaerob. Saluran ekskresi terdapat simetris bilateral dan berakhir di bagian posterior.
Susunan saraf dimulai dengan ganglion di bagian dorsal esofagus, kemudian terdapat saraf
yang memanjang di bagian dorsal, ventral dan lateral badan. Dengan demikian maka
Trematoda merupakan hewan parasit karena merugikan dengan hidup di tubuh organisme
hidup dan mendapatkan makanan di tubuh inangnya. Trematoda dewasa pada umumnya
hidup di dalam hati, usus,paru-paru, ginjal, dan pembuluh darah vertebrata .Ternak , Ikan ,
Manusia Trematoda berlindung di dalam tubuh inangnya dengan melapisi permukaan
tubuhnya dengan kutikulaPermukaan tubuhnya tidak memiliki silia. Contoh Trematoda
adalah cacing hati (Fasciola hepatica).

1.2 Rumusan Masalah

1. apa pengertian dari tremathoda?


2. Bagimana siklus hidup tremathoda?
3. Bagaimana cara penularan peyakit tremathoda?

1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui pengertian tremathoda


2. Untuk mengetahui siklus hidup tremathoda
3. Untuk mengetahui cara penularan penyakit tremathoda
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
Trematoda berasal dari bahasa yunani Trematodaes yang berarti punya
lobang, bentuk tubuh pipih dorso ventral sperti daun.Umumnya semua organ tubuh tak
punya rongga tubuh dan mempunyai Sucker atau kait untuk menempel pada parasit ini di
luar atau di organ dalam induk semang. Saluran pencernaaan mempunyai mulut, pharink,
usus bercabang cabang. tapi tak punya anus. Sistem eksretori bercabang- cabang,
mempunyai flame cell yaitu kantong eksretori yang punya lubang lubang di posterior.
Hermaprodit, kecuali famili Schistosomatidae. Siklus hidup ada secara langsung
(Monogenea) dan tak langsung (Digenea).
Trematoda atau cacing daun yang berparasit pada hewan dapat dibagi menjadi tiga
sub klas yaitu Monogenea, Aspidogastrea, dan Digenea. Pada hewan jumlah jenis dan
macam cacing daun ini jauh lebih besar dari pada yang terdapat pada manusia, karena pada
hewan sub-klas ini dapat dijumpai. Ciri khas cacing ini adalah terdapat dua batil isap yaitu
batil isap mulut dan batil isap perut ada juga spesies yang memiliki batil isap genital.
Trematoda memiliki saluran pencernaan berbentuk huruf Y terbalik dan pada umumnya
tidak memiliki alat pernapasan khusus karena hidup secara anaerob.
Trematoda disebut sebagai cacing hisap karena cacing ini memiliki alat pengisap.
Alat penghisap terdapat pada mulut di bagian anterior. Alat hisap (Sucker) ini untuk
menempel pada tubuh inangnya yang disebut cacing hisap.
Pada saat menempel cacing ini mengisap makanan berupa jaringan atau
cairan tubuh inangnya. Dengan demikian maka Trematoda merupakan hewan parasit karena
merugikan dengan hidup di tubuh organisme hidup dan mendapatkan makanan di tubuh
inangnya. Trematoda dewasa pada umumnya hidup di dalam hati,usus,paru-paru, ginjal, dan
pembuluh darah vertebrata, ternak, ikan, manusia Trematoda. Trematoda berlindung di
dalam inangnya dengan melapisi permukaan tubuhnya dengan kutikula permukaaan
tubuhnya tidak memiliki sila.
2.2 Siklus Hidup Tremathoda

Ada spesies F. hepatica, cacing dewasa bertelur di dalam saluran empedu dan
kantong empedu hewan ruminansia dan manusia. Kemudian telur keluar ke alam bebas
bersama feses domba. Bila mencapai tempat basah, telur ini akan menetas menjadi larva
bersilia yang disebut mirasidium. Mirasidium akan mati bila tidak masuk ke dalam tubuh
siput air tawar (Lymnea auricularis-rubigranosa). Di dalam tubuh siput ini, mirasidium
tumbuh menjadi sporokista (menetap dalam tubuh siput selama + 2 minggu). Sporokista
akan menjadi larva berikutnya yang disebut Redia. Hal ini berlangsung secara
partenogenesis. Redia akan menuju jaringan tubuh siput dan berkembang menjadi larva
berikutnya yang disebut serkaria yang mempunyai ekor. Dengan ekornya serkaria dapat
menembus jaringan tubuh siput dan keluar berenang dalam air.

Di luar tubuh siput, larva dapat menempel pada rumput untuk beberapa lama.
Serkaria melepaskan ekornya dan menjadi metaserkaria. Metaserkaria membungkus diri
berupa kista yang dapat bertahan lama menempel pada rumput atau tumbuhan air sekitarnya.
Perhatikan tahap perkembangan larva Fasciola hepatica. Apabila rumput tersebut termakan
oleh hewan ruminansia dan manusia, maka kista dapat menembus dinding ususnya,
kemudian masuk ke dalam hati, saluran empedu dan dewasa disana untuk beberapa bulan.
Cacing dewasa bertelur kembali dan siklus ini terulang lagi.

Penjelasan Singkat

Telur –> larva mirasidium masuk ke dalam tubuh siput Lymnea –> sporokista –>
berkembang menjadi larva (II): redia –> larva (III): serkaria yang berekor, kemudian keluar
dari tubuh keong –> kista yang menempel pada tumbuhan air (terutama selada air –
> Nasturqium officinale) kemudian termakan hewan ternak (dapat tertular ke orang, apabila
memakan selada air) –> masuk ke tubuh dan menjadi cacing dewasa menyebabkan
Fascioliasis.

Daur hidup Cacing hati terdiri dari

1. Fase seksual : di inang utama (saat cacing hati dewasa)


2. Fase aseksual : di inang perantara ( tubuh siput) dengan

 Cacing hati mempunyai karakter yang aneh masih larva mampu membuat keturunan
dengan cara fragmentasi saat masih larva atau sering dikenal dengan istilah Paedogenesis
 Larvanya berubah 5 kali , 3 kali perubahan dan terjadi Paedogenesis di tubuh
siput Lymnea yaitu berupa larva Sporosis - Redia dan Cercaria

Cyclusnya : T-M-S-R - C- MC ( Tumisir Calon MC )

1. Telur - Mirasidium - Sporosis - Redia - Cercaria - MetaCercaria


2. Metacercaria berekor berenang ke tanaman sekitar air - dimakan Inang utama (ternak) -
masuk jadi Cacing Dewasa .Kena pada manusia karena manusia memakan hati ternak
yang terdapat cacing hatinya dewasa yang belum mati ( karena hati dikonsumsi masih
belum matang)

CYCLUS HIDUP - ( Fasciola hepatica )

1. Di tubuh inang utama ternak , ikan , manusia Cacing dewasa hidup di hati bertelur di usus
- ikut faeces
2. buang air besar sembarangan di lingkungan
3. telur bersama faeces terbuang ke air
4. telur menetas jadi larva dengan cilia (rambut getar ) diseluruh permukaan tubuhnya
membentuk larva Mirasidium yang kemudian berenang mencari siput Lymnea
Mirasidium akan mati bila tidak masuk ke dalam tubuh siput air tawar (Lymnea
truncatula)
5. Mirasidium setelah berada di siput berubah menjadi Sporosis (menetap dalam tubuh siput
selama 2 minggu).
6. Larva larva itu punya kemampuan reproduksi secara asexual dengan cara Paedogenesis
didalam tubuh siput sehinga terbentuk banyak larva ,
7. larva sporosis melakukan paedogenesis menjadi beberapa redia
8. larva Redia melakukan paedogenesis menjadi Serkaria
9. Larva serkaria kemudian berekor menjadi metacercaria dan segera keluar dari siput
berenang mencari tanaman yang ada di pinggir perairan misalnya rumput . Metaserkaria
membungkus diri berupa kista yang dapat bertahan lama menempel pada rumput atau
tumbuhan air sekitarnya

Apabila rumput tersebut termakan oleh domba, maka kista dapat menembus dinding
ususnya, kemudian masuk ke dalam hati, saluran empedu dan dewasa di sana untuk
beberapa bulan. Cacing dewasa bertelur kembali dan siklus ini terulang lagi.
Daur hidup Chlonorchis sinensis

1. Daur hidup Chlonorchis sinensis sama seperti Fasciola hepatica,


2. TuMiSiR Calon MC ( Telur - Mirasidium - Sporosis - Redia - Cercaria - MetaCercaria )
hanya saja metaserkaria pada cacing ini masuk ke dalam daging ikan air tawar yang
berperan sebagai inang sementara
3. Struktur tubuh Chlonorchis sinensis sama seperti tubuh pada Fasciola hepatica hanya
berbeda pada cabang usus lateral yang tidak beranting.

Daur hidup Schistosoma japonicum.

1. Cacing darah ini bertelur pada pembuluh balik (vena) manusia


2. kemudian menuju ke poros usus (rektum) dan ke kantong air seni (vesica urinaria),
3. lalu telur keluar bersamatinja dan urine.
4. Telur akan berkembang menjadi mirasidium dan masuk ke dalam tubuh siput.
5. Kemudian dalam tubuh siput akan berkembang menjadi larva sporosis - redia dan
serkaria
6. serkaria menjadi metacercaria yang ekornya bercabang.
7. meta serkaria dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui makanan dan minuman atau
menembus kulit dan dapat menimbulkan penyakit Schistomiasis (banyak terdapat di
Afrika dan Asia). Penyakit ini menyebabkan kerusakan dan kelainan fungsi pada hati,
jantung, limpa, kantong urine dan ginjal.

1.3 Cara Penularan Penyakit Tremathoda

1. Gejala dan Diagnosis


1. Gejala
Migrasi cacing Fasciola hepatica ke saluran empedu menimbulkan kerusakan pada
parenkim hati. Saluran empedu mengalami peradangan, penebalan dan sumbatan
sehingga menimbulkan Sirosis Periportal.
2. Diagnosis
Diagnosis ditegakkan dengan menemukan telur dalam tinja, cairan duodenum atau cairan
empedu. Reaksi serologi sangat membantu dalam menegakkan diagnosis
3. Pengobatan
Pengobatan yang dapat diberikan antara lain:
1. Heksakloretan
2. Heksaklorofan
3. Rafoxamide
4. Niklofolan
5. Bromsalan yang disuntikkan di bawah kulit

Epidemiologi dan Pencegahan

1. Epidemiologi
Banyak kasus di daerah yang masyarakatnya mempunyai
kebiasaan mengkonsumsi ikan mentah atau ikan yang diolah kurang matang.
Sering ditemukan di Cina, Jepang, Korea dan Vietnam.

2. Pencegahan

Tidak memakan ikan mentah. Apabila mengkonsumsi harus sudah


dimasak secara sempurna dan memakai cuka khusus yang dapat mematikan parasit,
sehingga bisa dihindari terinfeksi oleh

metaserkaria dalam ikan. Pengobatan sempurna pada penderita dengan prazikuantel.

Clonorchis sinensis

1. A. Taxonomi

Kingdom : Animalia

Phylum : Platyhelminthes

Kelas : Trematoda

Ordo : Opisthorchiida

Family : Opisthorchiidae

Genus : Clonorchis

Spesies : Clonorchis sinensis

Clonorchis sinensis ini tinggal di hati manusia, dan ditemukan terutama di umum saluran
empedu dan kantong empedu , makan pada empedu . Hewan ini yang diyakini menjadi lazim
parasit cacing yang paling ketiga di dunia adalah endemik untuk Jepang, Cina, Taiwan, dan Asia
Tenggara, saat ini menginfeksi suatu manusia diperkirakan 30.000.000. Clonorchis sinesnsis
adalah parasit opisthorchid trematoda yang menginfeksi kucing dan manusia di negara-negara
tropis dan subtropis di Asia.

1. B. Morfologi

Clonorchis sinensis dewasa memiliki bagian-bagian tubuh utama: pengisap oral, faring, usus
buntu, pengisap ventral, vitellaria, rahim, ovarium, kelenjar mehlis, testis, kandung kemih
exretory. Telur dari Clonorchis sinensis yang berisi mirasidium yang berkembang ke dalam
bentuk dewasa, mengapung di air tawar sampai dimakan oleh siput.

1. Telur :
1. Bentuk seperti botol ukuran 25–30 µm
2. Warna kuning kecoklatan
3. Kulit halus tetapi sangat tebal
4. Pada bagian ujung yg meluas terdapat tonjolan
5. Berisi embrio yg bersilia (mirasidium)
6. Operculum mudah terlihat
7. Infektif untuk siput air

1. Cacing Dewasa :
1. Ukuran 12 – 20 mm x 3 – 5 mm
2. Ventral sucker < oral sucker
3. Usus (sekum) panjang dan mencapai bagian posterior tubuh
4. Testis terletak diposterior tubuh & keduanya mempunyai lobus
5. Ovarium kecil terletak ditengah (anterior dari testis)
1. C. Hospes

a) Hospes definitif : manusia, kucing dan anjing

b) Hospes perantara 1 : siput / keong air

c) Hospes perantara 2 : ikan sungai

1. D. Siklus Hidup

Siput merupakan pejamu perantara yang pertama. Sekitar 40 spesies ikan sungai berperan
sebagai pejamu sekunder. Manusia, anjing, kucing dan banyak spesies mamalia pemakan ikan
yang lain merupakan pejamu akhir. Cara penularan dan manusia terinfeksi karena memakan ikan
air tawar. Contohnya daging ikan yang mentah atau dimasak tidak matang yang di dalamnya
terdapat larva berbentuk kista (metaserkaria). Pada saat dicerna larva cacing akan terbebas dari
dalam kista dan bermigrasi melalui Duktus Koledokus ke dalam pecabangan empedu.

Telur dalam empedu diekskresikan melalui tinja. Pada tempat yang sesuai, telur yang fertil (telah
dibuahi) akan menetas menjadi larva bersilia yang disebut mirasidium. Jika telur ini termakan
oleh siput (lymnea) sebagai pejamu pertama yang rentan, maka akan menetas dalam usus siput.
Larva atau mirasidium ini dalam 2 minggu akan berubah bentuk menjadi sporosista.

Sporosista yang tidak bersilia, kemudian tumbuh dan akhirnya pecah menghasilkan larva kedua
disebut redia. Redia masuk kejaringan siput. Didalam tubuh siput redia akan tumbuh dan
berkembang menghasilkan larva ketiga disebut serkaria. Jadi jika diringkas perkembangan larva
dalam keong air adalah sebagai berikut:

Mirasidium — sporokista — redia — serkaria

Serkaria ini kemudian bermigrasi atau meningglkan tubuh siput dan masuk ke dalam air. Jika
mengenai pejamu kedua (ikan), serkaria akan menembus tubuh ikan dan biasanya masuk ke
dalam daging ikan atau biasa juga di bawah sisik (kulit). Saat itu membentuk metaserkaria (kista).
Kemudian melepaskan ekornya. Ikan yang mengandung metaserkaria akan termakan oleh
manusia, jika ikan tersebut tidak dimasak dengan matang. Metaserkaria dalam bentuk kista akan
masuk ke dalam sistem pencernaan, kemudian berpindah kehati melalui saluran empedu dan
tumbuh menjadi cacing dewasa, dan mengulang kembali siklus hidupnya.

1. E. Patologi dan Gejala klinis

Perubahan patologi terutama terjadi pada sel epitel saluran empedu. Pengaruhnya terutama
bergantung pada jumlah cacing dan lamanya menginfeksi, untungnya jumlah cacing yang
menginfeksi biasanya sedikit. Pada daerah endemik jumlah cacing yang pernah ditemukan
sekitar 20-200 ekor cacing. Infeksi kronis pada saluran empedu menyebabkan terjadinya
penebalan epitel empedu sehingga dapat menyumbat saluran empedu. Pembentukan kantong-
kantong pada saluran empedu dalam hati dan jaringan parenkim hati dapat merusak sel
sekitarnya. Adanya infiltrasi telur cacing yang kemudian dikelilingi jaringan ikat menyebabkan
penurunan fungsi hati.

Gejala asites sering ditemukan pada kasus yang berat, tetapi apakah ada hubungannya antara
infeksi C. sinensis dengan asites ini masih belum dapat dipastikan. Gejala joundice (penyakit
kuning) dapat terjadi, tetapi persentasinya masih rendah, hal ini mungkin disebabkan oleh
obstruksi saluran empedu oleh telur cacing. Kejadian kanker hati sering dilaporkan di Jepang, hal
ini perlu penelitian lebih jauh apakah ada hubungannya dengan penyakit Clonorchiasis.

Cacing ini menyebabkan iritasi pada saluran empedu dan penebalan dinding saluran dan
perubahan jaringan hati yang berupa radang sel hati. Gejala dibagi 3 stadium:

– stadium ringan tidak ada gejala

– stadium progresif ditandai dengan menurunnya nafsu makan,


diare, edema, dan pembesaran hati.
– stadium lanjut didapatkan sindrom hipertensi portal terdiri
dari pembesaran hati, edema, dan kadang-kadang menimbulkan keganasan dalam hati, dapat
menyebabkan kematian.

1. F. Diagnosis

Diagnosa didasarkan pada isolasi feses telur C. sinensis bersama dengan adanya tanda-
tanda pankreatitis atau primary. Beberapa kucing mungkin menunjukkan penyakit kuning dalam
kasus-kasus lanjutan dengan parasit beban berat. Sejumlah cacing hati lain yang mempengaruhi
kucing, seperti Viverrini opisthorchis dan Felineus opisthorchis, dapat dibedakan dengan
pemeriksaan mikroskopik atau yang lebih baru tes PCR. Konfirmasi biasanya dibuat
pada laparotomi eksplorasi dan visualisasi cacing dalam pohon bilier atau kandung empedu dari
kucing yang terkena dampak.

1. G. Pengobatan

Pengobatan untuk parasit ini adalah sama dengan trematoda lainnya, terutama melalui
penggunaan praziquantel sebagai obat pilihan pertama. Obat diberikan pada 5 mg / kg stat, atau
mingguan. Obat yang digunakan untuk mengobati infestasi
mencakup triclabendazole, praziquantel, bithionol, albendazole dan mebendazol.
BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA

http://nandahandayanie.blogspot.com/2014/05/makalah-trematoda.html

https://biologigonz.blogspot.com/2010/03/cacing-hati-fasciola-hepatica.html

https://triyaniuc.wordpress.com/2013/06/02/trematoda-hati-dan-trematoda-darah/