Anda di halaman 1dari 2

Proyek Kereta Api Kalimantan Bukan Sekedar Impian

Seiring dengan pertumbuhan zaman, pemerataan pembangunan perlu digalakan. Sama hal
nya dengan sarana transportasi, yang merupakan awal berkembangnya infrastruktur suatu daerah.
Pembangunan sarana transportasi yang memadai dapat menjadi awal dalam berkembangnya suatu
wilayah. Kereta api adalah sarana transportasi yang perlu dikembangkan pada tiap wilayah di
Indonesia, khususnya Kalimantan.
Kereta api merupakan salah satu sarana transportasi alternatif darat bagi sebagian kalangan.
Dalam dunia angkutan umum, kereta api merupakan salah satu solusi umum untuk mengatasi
kepadatan kendaraan. Saat ini, kereta api hanya dapat ditemui di Pulau Jawa dan Sumatra.
Pembangunan yang kurang merata disertai persebaran penduduknya yang sekarang masih banyak
berpusat di Pulau Jawa dan Sumatra menjadi alasan di luar pulau jawa dan Sumatra belum
tersentuh transportasi tersebut. Selain itu, medan serta kontur tanah menjadi alasan kedua
terbenturnya diadakannya transportasi ini.
4 tahun silam, tepatnya pada tahun 2015, Proyek Kereta Api Kalimantan mulai diresmikan.
Proyek ini sendiri sudah direncanakan sejak bulan Mei 2013. Proyek Kereta Api Kalimantan
adalah salah satu proyek kereta api single track sejauh 203 km. Dengan infrastruktur meliputi
stasiun, jetty batubara, pelabuhan dan PLTU dengan kapasitas 15 MW. Rute dari proyek ini
meliputi Kabupaten Kutai Barat, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kabupaten Paser dan
Kabupaten Balikpapan. Nilai investasi dari proyek kereta api ini mencapai 53,4 – 70 triliun. Dana
proyek ini merupakan dana swasta dengan investor dari dalam dan luar negeri. Dengan lebih dari
60% saham proyek ini didapat dari investor Rusia.
Namun sayang, hingga februari 2019 kemarin, proyek ini hanya tinggal impian. PT. Kereta
Api Borneo yang merupakan anak perusahaan JSC Russian Railways meminta jaminan atas
investasi yang siap dikucurkan untuk proyek ini senilai US$ 3,7 miliar atau sekitar 48 triliun .
Hingga kini, tidak ada angina segar dari Rusia, sehingga pemerintah perlu bertindak tegas dengan
membatalkan perjanjian tentang proyek Kereta Api Kalimantan pada pertengahan Februari 2019
kemarin.
PT. SMI (Sarana Multi Infrastruktur) selaku lembaga pembiayaan pembangunan
infrastruktur Indonesia dibawah koordinasi Kementrian Keungan Republik Indonesia, mampu
mencarikan investor asing yang bersedia mengucurkan dana untuk proyek tersebut. Mengingat,
proyek tersebut merupakan proyek dengan keuntungan jangka panjang serta dengan nilai
keuntungan yang tidak sedikit. Dengan catatan, bila berjalan sesuai perencanaan yang matang.
Efisiensi waktu yang tinggi untuk transportasi mineral tambang memungkinkan infrastruktur ini
akan ramai peminat untuk kedepannya, ditambah dengan barang non-afiliasi seperti sawit dan
kayu, serta tidak menutup kemungkinan menjadi transportasi umum untuk rakyat Kalimantan.
Serta akan membuka banyak lapangan pekerjaan yang berdampak langsung pada pertumbuhan
ekonomi masyarakat sekitar dan untuk menekan ketimpangan. Disamping itu, pengurangan jejak
karbon yang terjadi akan cukup besar, sehingga dapat mengurangi penggunaan bakar fosil serta
pencemaran yang terjadi akibat adanya pembakaran.
Saya berharap dengan ditulisnya artikel ini, pemerintah akan berusaha lebih untuk
mewujudkan adanya salah satu transportasi masal ini. Mengingat, banyaknya keuntungan serta
lapangan pekerjaan yang akan terbuka jika proyek ini terealisasi.
Sumber : Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas