Anda di halaman 1dari 35

RINGKASAN

KONSELING KESEHATAN

RANCANGAN KONSELING PADA KELOMPOK

LAPORAN KONSELING KESEHATAN

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Konseling Kesehatan

Pada Jurusan Promosi Kesehatan Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung

KELOMPOK 4
YUSTIKA MULIANI S P17336116403 ADE HISNI MILLAH P17336116432
LUSY MELIAWATI P17336116405 ADINDA SEKAR P P17336116434
RETNO DWI N P17336116410 NINGRAT ARDHILLAH P17336116437
DEWI ARUM P17336116417 RANIYAWATI P17336116439
GIFFARI ANANDA R P17336116429

PROGRAM STUDI DIPLOMA IV

JURUSAN PROMOSI KESEHATAN


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN

BANDUNG

2019
A. Pengertian Konseling Kelompok

Konseling kelompok merupakan suatu proses pemberian bantuan

kepada individu yang dilakukan melalui suasana kelompok. Konseling

kelompok merupakan suatu hal yang esensial, karena sifatnya yang

preventif dan edukasional.

Tujuan konseling kelompok adalah berkembangnya kemampuan

untuk bersosialisasi, khususnya kemampuan berkomunikasi. Melalui

konseling kelompok hal-hal yang dapat menghambat atau mengganggu

sosialisasi dan komunikasi dapat diungkap dan didinamikakan melalui

berbagai teknik, sehingga kemampuan sosialisasi dan berkomunikasi

berkembang secara optimal. Oleh karena itu, konseling kelompok penting

bagi konseli terutama individu yang memperoleh kesulitan membutuhkan

suasana kelompok untuk memecahkan kesulitannya. Kadang konseli

kesulitan mengemukakan masalahnya secara individu atau membutuhkan

orang lain. Kadang seorang konseli tidak berani bertatap muka dengan

seorang konselor. Diperlukan juga pengamatan secara sosial perilaku

konseli di dalam lingkungan kelompok.

Kemampuan yang perlu dimiliki dan diterapkan oleh seorang

konselor adalah kemampuan memberi layanan konseling dalam kegiatan

kelompok. Berdasarkan hal itu, seorang konselor harus mampu

mengetahui tahapan-tahapan dalam konseling kelompok agar proses

konseling kelompok dapat berjalan dengan optimal. Pelaksanaan

konseling kelompok tentunya memiliki berbagai tahapan yang sistematis.


B. Tujuan Konseling Kelompok

Menurut Mungin Eddy Wibowo, (2005). Tujuan yang ingin dicapai

dalam konseling kelompok, yaitu pengembangan pribadi, pembahasan dan

pemecahan masalah pribadi yang dialami oleh masing-masing anggota

kelompok, agar terhindar dari masalah dan masalah terselesaikan dengan

cepat melalui bantuan anggota kelompok yang lain.

Menurut Prayitno (2004), tujuan umum konseling kelompok adalah

mengembangkan kepribadian siswa untuk mengembangkan kemampuan

sosial, komunikasi, kepercayaan diri, kepribadian, dan mampu

memecahkan masalah yang berlandaskan ilmu dan agama. Sedangkan

tujuan khusus konseling kelompok, yaitu:

1. Membahas topik yang mengandung masalah aktual, hangat, dan

menarik perhatian anggota kelompok.

2. Terkembangnya perasaan, pikiran, persepsi, wawasan, dan sikap terarah

kepada tingkah laku dalam bersosialisasi/komunikasi.

3. Terpecahkannya masalah individu yang bersangkutan dan diperolehnya

imbasan pemecahan masalah bagi individu peserta konseling kelompok

yang lain.

4. Individu dapat mengatasi masalahnya dengan cepat dan tidak

menimbulkan emosi.
C. Unsur Konseling Kelompok

Dalam kegiatan konseling kelompok, terdapat beberapa unsur

sehingga kegiatan tersebut disebut konseling kelompok. Adapun unsur-

unsur yang ada dalam konseling kelompok yaitu:

1. Anggota kelompok, adalah individu normal yang mempunyai masalah

dalam rentangan penyesuaian yang masih dapat diatasi oleh peimpin

kelompok maupun anggota kelompok yang lainnya.

2. Pemimpin kelompok, adalah seseorang ahli yang memimpin jalannya

kegiatan konseling kelompok. Konseling kelompok dipimpin oleh

seorang konselor atau psikolog yang profesional dengan latihan khusus

bekerja dengan kelompok.

3. Permasalahan yang dihadapi antar anggota konseling kelomppok adalah

sama.

4. Metode yang dilaksanakan dalam konseling kelompok berpusat pada

proses kelompok dan perasaan kelompok.

5. Interaksi antar anggota kelompok sangat penting dan tidak bisa dinomor

duakan.

6. Kegiatan konseling kelompok dilaksanakan berdasar pada alam

kesadaran masing-masing anggota kelompok dan juga pemimpin

kelompok.

7. Menekankan pada perasaan dan kebutuhan anggota.

8. Adanya dinamika kelompok antar anggota kelompok dalam kegiatan

konseling kelompok.
9. Ada unsur bantuan yang dilakukan oleh pemimpin kelompok.

D. Tipe Pendekatan Konseling Kelompok


1. Konseling/terapi dalam kelompok, Bentuk ini adalah pendekatan

individual yang dilakukan di dalam kelompok. Selama proses

konseling/terapi, anggota lain hanya menjadi pengamat.

2. Konseling/terapi dengan kelompok, Biasanya ditemui dalam kelompok

temu ataupun kelompok-T. Aktivitas di dalam kelompok ditentukan

oleh anggota. Konselor hanya bertindak sebagai expert participant.

3. Konseling/terapi mengenai kelompok, Bentuk ini lebih menekankan

pada interaksi antar anggota. Fokus pada di-sini-dan-saat ini.Bentuk

kelompok ini lebih menekankan pada saling membantu, memberikan

dukungan dan menunjukkan model perilaku yang sehat. Konselor

selaku pemimpin bertindak sebagai pengamat luar / outside observer,

dan sebagai peserta pakar.

E. Asas Konseling Kelompok

Dalam kegiatan konseling kelompok terdapat sejumlah aturan

ataupun asas-asas yang harus diperhatikan oleh para anggota, asas-asas

tersebut yaitu:

1. Asas kerahasiaan

Asas kerahasiaan ini memegang peranan penting dalam

konseling kelompok karena masalah yang dibahas dalam konseling

kelompok bersifat pribadi, maka setiap anggota kelompok diharapkan


bersedia menjaga semua (pembicaraan ataupun tindakan) yang ada

dalam kegiatan konseling kelompok dan tidak layak diketahui oleh

orang lain selain orang-orang yang mengikuti kegiatan konseling

kelompok .

2. Asas Kesukarelaan

Kehadiran, pendapat, usulan, ataupun tanggapan dari anggota

kelompok harus bersifat sukarela, tanpa paksaan.

3. Asas keterbukaan

Keterbukaan dari anggota kelompok sangat diperlukan sekali.

Karena jika keterbukaan ini tidak muncul maka akan terdapat keragu-

raguan atau kekhawatiran dari anggota.

4. Asas kegiatan

Hasil layanan konseling kelompok tidak akan berarti bila klien

yang dibimbing tidak melakukan kegiatan dalam mencapai tujuan–

tujuan bimbingan. Pemimpin kelompok hendaknya menimbulkan

suasana agar klien yang dibimbing mampu menyelenggarakan kegiatan

yang dimaksud dalam penyelesaian masalah

5. Asas kenormatifan

Dalam kegiatan konseling kelompok, setiap anggota harus dapat

menghargai pendapat orang lain, jika ada yang ingin mengeluarkan

pendapat maka anggota yang lain harus mempersilahkannya terlebih

dahulu atau dengan kata lain tidak ada yang berebut.

6. Asas kekinian
Masalah yang dibahas dalam kegiatan konseling kelompok

harus bersifat sekarang. Maksudnya, masalah yang dibahas adalah

masalah yang saat ini sedang dialami yang mendesak, yang

mengganggu keefektifan kehidupan sehari-hari, yang membutuhkan

penyelesaian segera, bukan masalah dua tahun yang lalu ataupun

masalah waktu kecil.

F. Tahapan-Tahapan dalam Konseling Kelompok

1. Tahap Awal (Beginning a Group)

Dalam konseling kelompok, pembentukan kelompok merupakan

tahap awal yang sangat berpengaruh dalam tahap konseling selanjutnya.

Karena tahap ini mempunyai pengaruh besar terhadap keberlangsungan

proses konseling, maka sebelum pembentukaan kelompok dilakukan,

menurut Kurnanto (2014) ada beberapa persiapan yang harus dilakukan

oleh seorang konselor sebagai berikut:

a. Fungsi dan Peranan Konselor Kelompok

1) Fungsi konselor kelompok

Ada beberapa yang harus dilakukan oleh konselor

kelompok pada tahap awal, yaitu (Corey dalam Kurnanto,

2014):

a) Mengajarkan cara-cara dan garis besar secara umum untuk

berpartisipasi aktif guna meningkatkan kesempatan

mereka dalam memperoleh hasil dari kelompok


b) Mengembangkan dasar hukum dan tatanan norma

c) Mengajarkan dasar-dasar proses kelompok

d) Menjelaskan pembagian tanggung jawab

e) Membantu anggota dalam mengembangkan kepercayaan

f) Berhubungan terbuka dengan kepedulian dan pertanyaan-

pertanyaan konseli

g) Membagi harapan-harapan dan keinginan-keinginan

kepada kelompok

h) Membantu konseli untuk berbagi tentang apa yang mereka

pikirkan dan rasakan mengenai apa yang terjadi dalam

kelompok

i) Berusaha untuk mengurangi ketergantungan konseli

terhadap konselor kelompok

j) Mengajarkan keterampilan-keterampilan dasar dalam

berhubungan dengan orang lain

2) Peranan konselor kelompok

Prayitno (dalam Kurnanto, 2014) mengemukakan bahwa

peranan konselor kelompok pada tahap awal konseling

kelompok adalah sebagai orang yang benar-benar dapat dan

bersedia melakukan hal-hal; (1) membantu para konseli

mencapai tujan mereka, (2) merangsang dan memantapkan

partisipasi anggota-anggota dalam suasana kelompok seperti

yang diharapkan, (3) menumbuhkan sikap kebersamaan dan


perasaan sekelompok, (4) menjelaskan asas-asas yang perlu

diikiuti konseli, (5) enumbuhkan rasa saling mengenal antara

sesama konseli, (6) menumbuhkan sikap saling percaya dan

saling menerima antar sesama konseli, (7) memulai

pembahasan tentang tingkah laku dan suasana perasaan

anggota-anggota dalam kelompok.

b. Keterampilan Konselor Pada Tahap Awal Konseling

Kelompok

Menurut Jacobs et al (dalam Kurnanto, 2014) ada beberapa

keterampilan yang harus dikuasai konselor untuk

menyelenggarakan konseling kelompok pada tahap awal dan

mungkin juga sebagian untuk tahap berikutnya. Keterampilannya

antara lain:

1) Memulai kegiatan kelompok

2) Membantu konseli mengenal anggota yang lain

3) Mengatur dinamika kelompok secara positif

4) Mengajak/mendorong konseli untu berbicara

5) Menjelaskan tujuan kelompok

6) Menjelaskan peran konselor kelompok

7) Menggambarkan keadaan kelompok yang dipimpin

8) Membantu konseli mengungkapkan harapannya

9) Mengarahkan pertanyaan-pertanyaan

10) Memfokuskan pada isi


c. Pertimbangan-Pertimbangan Persiapan

Sebelum sebuah kelompok mengawali pertemuan, terdapat

hal-hal tertentu yang harus diputuskan.

1) Setting fisik

Seting disini adalah setting ruangan yang akan digunakan

sebagai tempat proses konseling kelompok dilakukan.

2) Kelompok terbuka dan tertutup

Pada saat pendirinnya, pemimpin kelompok dapat menetapkan

apakah kelompok ini terbuka atau tertutup.

3) Durasi dan frekuensi pertemuan

Durasi pertemuan menggambarkan berapa lama proses

konseling kelompok dilakuan. Durasi ini berbeda antara

konselor satu dan konselor yang lain.

4) Kelompok marathon

Kelompok marathon ini bertemu selama 24 hingga 48 jam

tanpa henti. Partisipan harus mengikuti pertemuan ini selama

waktu yang telah ditentukan, makan dihidangkan ditempat

terapi, dan jika perlu tidur, partisipan hanya diberi waktu

istirahat sekedarnya.

5) Jumlah anggota kelompok

Dalam proses konseling kelompok, jumlah peserta juga

mempunyai pengaruh yang besar terhadap keberhasilan proses


konseling. Jumlah anggota kelompok dapat berkisar antara 5

hingga 10 orang.

d. Persiapan untuk Terapi Kelompok

Dalam sebuah layanan konseling kelompok, Jcob, at al.

(dalam Kurnanto, 2014) menyebutkan bahwa ada dua jenis

perencanaan pra kelompok dan perencanaan sesi. Perencanaan pra

kelompok yang dibuat oleh pemimpin kelompok menyangkut: (1)

seberapa besar kelompok yang akan dibentuk, (2) keanggotaannya

terbuka atau tertutup, (3) berapa lama sesi berlangsung, (4) dimana

pertemuan kelompok dilakukan, (5) untuk berapa banyak sesi

kelompok akan bertemu, (6) kapan kelompok akan bertemu, (7)

siapa yang harus menjadi anggota, dan (8) bagaimana para anggota

diputar.

Seorang pemimpin harus merencanakan tahap awal, tengah,

dan tahap akhir dari setiap sesi tertentu. Perencanaan harus

mencakup tidak hanya kegiatan dan topik, tetapi juga waktu yang

akan dikhususkan untuk masing-masing. Kesalahan umum tentang

perencanaan tidak berencana, perencanaan terlalu banyak, tidak

mempertimbangkan bagaimana waktu yang dihasilkan,

perencanaan latihan terlalu banyak, dan tidak fleksibel.


e. Penyiapan Konseli

Konseling kelompok adalah hubungan interaktif yang

melibatkan banyak konseli. Keterlibatan banyak konseli ini

mengandung konsekuensi akan banyak kepentingan yang harus

diperhatikan. Untuk itu, konselor mesti melakukan persiapan

terhadap konselinya. Wibowo (2005) menjelaskan bahwa pada

tahap awal konselor perlu mempersiapkan terbentuknya kelompok.

Pada tahap ini dilakukan upaya untuk menumbuhkan minat bagi

terbentuknya kelompok yang meliputi pemberian penjelasan

tentang adanya layanan konseling kelompok bagi para siswa,

penjelasan pengertian, tujuan dan kegunaan konseling kelompok,

ajakan untuk memasuki dan mengikuti kegiatan, serta

kemungkinan adanya kesempatan dan kemudahan bagi

penyelenggaraan konseling kelompok. Tahap permulaan ini paralel

dengan langkah pembentukan (forming) dari Tuckman.

Menurut Gladding (dalam Rusmana, 2009) tidak menutup

kemungkinan meskipun telah memenuhi persiapan seperti yang

diteorikan, dalam pelaksanaannya akan menjumpai beberapa

masalah dalam konseling kelompok. Masalah yang mungkin akan

dijumpai adalah adanya stereotype individual anggota kelompok

yang beragam, silence members, focuser on other, manipulators,

tidak memiliki informasi yang memadai tentang sifat kelompok,


atau pasif dan tidak memikirkan apa yang mereka inginkan atau

mengharapkan dari kelompok.

2. Tahap Transisi (Transition Stage)

Tahap transisi merupakan masa setelah proses pembentukan dan

sebelum tahap kerja. Tahap ini merupakan proses dua bagian, yang

ditandai dengan ekspresi sejumlah emosi dan interaksi anggota. Masa

transisi ditandai dengan adanya tahapan storming dan norming. Pada

tahap transisi akan terjadi masa badai/ periode pancaroba/ kacau yaitu

masa terjadinya konflik dalam kelompok, yang mana adanya

kekhawatiran anggota kelompok dalam memasuki proses konseling.

Kekhawatiran ini biasanya berkaitan dengan rasa takut akan kehilangan

kontrol, salah pengertian, terlihat bodoh, atau ditolak. Beberapa anggota

menghindari resiko dengan bersikap diam. Sementara anggota lain yang

ingin mendapat posisi dalam kelompok bersifat lebih terbuka dan

mempengaruhi anggota kelompok yang lain. Oleh karena itu, tahap ini

bertujuan membebaskan anggota dari perasaan atau sikap enggan, ragu,

malu atau saling tidak percaya untuk memasuki tahap berikutnya, makin

mantapnya suasana kelompok dan kebersamaan, makin mantapnya minat

untuk ikut serta dalam kegiatan kelompok (Kurnanto, 2014).

Menurut Prayitno (dalam Kurnanto, 2014) kegiatan yang dilakukan

dalam tahap ini adalah menjelaskan kegiatan yang akan ditempuh pada

tahap berikutnya, menawarkan atau mengamati apakah para anggota


sudah siap menjalani kegiatan pada tahap berikutnya, membahas suasana

yang terjadi, dan meningkatkan keikutsertaan anggota.

Pada masa transisi juga terjadi tahap pembentukan norma

(norming) sebagai aturan-aturan dan standar yang digunakan dalam

menjalankan konseling kelompok. Dengan adanya norma, anggota

kelompok dapat belajar mengatur, mengevaluasi, dan mengkoordinasikan

tindakan-tindakan mereka. Dalam prakteknya kelompok biasanya

menerima dua jenis norma, yakni norma preskriptif yang

menggambarkan tentang perilaku yang harus dilakukan, dan norma

proskriptif yang menggambarkan perilaku yang harus di hindari. Bila

proses norming ini berjalan dengan baik, maka kelompok akan siap

melangkah ke tahap selanjutnya, yaitu tahap kerja (Rusmana, 2009).

3. Tahap Kerja (Performing Stage)

Tahap kerja sering disebut juga sebagai tahap kegiatan (Gladding,

1995), tahap performing (Tuckman dan Jensen, 1977), tahap tindakan

(George dan Dustin, 1988), tahap realisasi (Gibson dan Mitchell, 2011),

dan tahap pertengahan yang merupakan inti kegiatan konseling

kelompok, sehingga memerlukan alokasi waktu yang terbesar dalam

keseluruhan kegiatan konseling kelompok (dalam Wibowo, 2005). Tahap

ini merupakan tahap kehidupan yang sebenarnya dari konseling

kelompok, yaitu para anggota memusatkan perhatian terhadap tujuan

yang akan dicapai, mempelajari materi-materi baru, mendiskusikan


berbagai topik, menyelesaikan tugas, dan mempraktekkan perilaku-

perilaku baru.

Pada tahap ini perasaan empati, keharuan, perhatian penuh, dan

kedekatan emosional kelompok berangsur-angsur tumbuh. Hal ini

sebagai akibat interaksi antar anggota kelompok dan pemahaman

masing-masing anggota kelompok yang lebih baik. Perhatian utama

dalam tahap kerja adalah produktivitas kerja yang dapat dicapai melalui;

(1) saling memuji keunggulan masing-masing anggota kelompok, (2)

role playing, (3) home work, dan beberapa strategi seperti modeling,

brainstorming, written projections, dan lain-lain (Rusmana, 2009).

Tahap kegiatan bertujuan membahas suatu masalah atau topik yang

relevan dengan kehidupan anggota secara mendalam dan tuntas. Dalam

tahap ini pemimpin kelompok mengumumkan suatu masalah atau topik

tanya jawab antara anggota dan pemimpin kelompok tentang hal-hal

belum jelas yang menyangkut masalah atau topik tersebut secara tuntas

dan mendalam. Adapun peranan pemimpin kelompok adalah sebagai

pengatur lalulintas yang sabar dan terbuka, aktif tetapi tidak banyak

bicara. Corey (dalam Kurnanto, 2014) mengemukakan tahap ini ditandai

adanya eksplorasi masalah-masalah yang nampak dengan tindakan yang

efektif untuk menghasilkan perubahan-perubahan yang dikehendaki.

Menurut Prayitno (dalam Kurnanto, 2014) kegiatan yang harus dilakukan

pada tahap ini, adalah:

1) Masing-masing anggota secara bebas mengemukakan masalah.


2) Menetapkan masalah yang akan di bahas terlebih dahulu.

3) Anggota membahas masing-masing masalah secara mendalam dan

tuntas.

4) Kegiatan selingan.

a. Keterampilan dan teknik kepemimpinan pada tahap kegiatan

Natawijaya (dalam Kurnanto, 2014) menjelaskan beberapa

keterampilan yang harus dimiliki konselor pada tahap kegiatan ini

dengan uraian sebagai berikut:

1) Merangsang pikiran anggota

Seorang konselor perlu mempersiapkan untuk merangsang pikiran

anggota dalam diskusi karena ia tidak selalu dapat

menggantungkan diri pada anggota untuk saling berbagi ide.

Untuk melakukan hal ini, konselor dapat menggunakan latihan

dan aktivitas yang bervariasi. Dia juga bisa menggunakan

beberapa pertanyaan yang umum atau komentar yang mendorong

dan memudahkan terjadinya berbagi rasa dan diskusi. Contoh

pertanyaan yang dapat memunculkan pikiran para anggota: Coba

ungkapkan satu atau dua hal apa yang menarik bagi anda dalam

pembicaraan kelompok ini? Apakah orang lain juga merasakan

begitu? Apakah ada orang lain yang ingin mengomentari hal

tersebut?
2) Menggunakan intonasi suara untuk meminta angota berpikir

Kualitas suara konselor dan langkah pembicaraannya dapat

mempengaruhi nada pembicaraan kelompok tersebut. Suara nada

yang termodulasi dan lebih lembut disertai dengan langkah pelan

dan tidak tergesa-gesa cenderung menolong anggota

memfokuskan pikiran mereka lebih dalam. Pertanyaan yang

diajukan dengan sikap seperti itu dapat membuat para anggota

lebih berpikir, dan tidak hanya menjawab secara umum dan

dangkal. Dalam hal ini, semakin mempribadi pikiran yang mereka

berikan, maka semakin banyak energy yang mereka keluarkan

ketika mereka berbagi rasa.

3) Memperkenalkan topik

Untuk menjaga minat para anggota agar tetap tinggi, konselor

harus secara berkesinambungan mendengarkan pandangan atau

tema yang dibicarakan oleh para konseli disaat mereka

mendiskusikan bermacam-macam subjek. Bila konselor melihat

energi mereka mulai berkurang, ia perlu memperkenalkan topik

baru untuk diskusi. Konselor dapat melakukan hal ini dengan

beralih dari apa yang telah dibicarakan dengan memfokuskan

kepada topik yang muncul secara emergent pada saat diskusi.

4) Mengubah bentuk pertemuan

Pada beberapa kelompok , bentuk pada setiap sesi bisa tetap sama

karena para anggotanya tampak menyukainya dan memperoleh


manfaat darinya. Misalnya, suatu kelompok mungkin selalu

dimulai dengan perkenalan anggota baru, berpindah pada

pengulangan pertanyaan-pertanyaan, dan diikuti dengan film dan

diskusi. Pada kelompok lain, konselor mungkin perlu mengubah

bentuk pertemuan jika ia melihat para anggota kelompok telah

bosan dengan agenda yang sama.

5) Menggunakan laporan kemajuan

Pada kelompok terapi, kelompok pertumbuhan, dan kelompok

dukungan seringkali para anggota berbagi rasa tentang aspek

hidup meraka yang biasanya terus dilanjutkan pada sesi-sesi

berikutnya. Salah satu cara terbaik untuk melakukan hal ini

adalah memulai tiap sesi dengan laporan kemajuan dari beberapa

anggota. Hal ini tidak hanya membantu anggota yang berbagi

kemajuan, tetapi berbagi rasa seperti ini juga membantu

kekohesifan dalam kelompok.

6) Menemui anggota secara individual

Pada kelompok tertentu, konselor mungkin perlu bertemu dengan

setiap konseli secara individual untuk mendiskusikan perasaan

mereka terhadap kelompok. Pertemuan tersebut dapat

memeberikan suatu kesempatan kepada konseli untuk berbagi

pendapat dan bereaksi terhadap kelompok dan konselor karena

konseli mengetahui bahwa perhatian konselor cukup tercurah

kepadanya.
7) Mengubah gaya kepemimpinan jika diperlukan

Kadang pada tahap pertengahan, konselor merasakan adanya

kebutuhan untuk mengubah gaya kepemimpinannya. Pengubahan

gaya kepemimpinan tersebut sering dilakukan dengan cara lebih

sedikit mengarahkan dan mendorong anggota untuk lebih banyak

bertanggung jawab. Namun dalam situasi yang lain, mungkin saja

lebih menuntut konselor untuk mengambil peranan yang lebih

aktif, khususnya jika kelompok telah berkembang menjadi

kelompok terapi.

8) Menginformasikan sebelumnya kepada anggota bila kelompok

berakhir

Karena kadang-kadang para anggota mempunyai perasaan

tertentu terhadap berakhirnya kelompok, sangat perlu bagi

konselor untuk memberitahukan kepada konseli tentang kapan

dan dalam kondisi apa kelompok itu berakhir.

9) Mengubah bentuk kelompok jika diperlukan

Mungkin ada beberapa kesempatan tertentu dalam tahap

pertengahan yang pada saat itu konselor melihat adanya

kebutuhan untuk mengubah kelompok. Perubahan tersebut bisa

dengan cara menambah anggota baru, pertemuan yang semakin

jarang, atau memperpanjang pertemuan. Sebelum memutuskan

salah satu perubahan ini, konselor biasanya terlebih dahulu

memperkenalkan ide diskusi.


10) Merancang topik tahap pertengahan

Akan sangat menolong bila mengambil sejumlah topik umum

untuk kelompok dan membuat rancangan kunci permasalahan

yang memungkinkan untuk dibicarakan. Seringkali konselor tidak

tahu cara mengembangkan topik yang penting menjadi berarti

bagi anggota kelompok, sehingga topik menjadi sia-sia.

4. Tahap Terminasi (Termination Stage)

Kegiatan suatu kelompok tidak mungkin berlangsung terus

menerus tanpa berhenti. Setelah kegiatan kelompok memuncak pada

tahap kerja, kegiatan kelompok ini kemudian menurun, dan selanjutnya

kelompok akan mengakhiri kegiatan. Penghentian terjadi pada dua

tingkatan dalam kelompok, yaitu pada akhir masing-masing sesi, dan

pada akhir dari keseluruhan sesi kelompok. Menurut Corey (dalam

Wibowo, 2005), tahap terminasi atau pengakhiran sama pentingnya

seperti tahap permulaan pada sebuah kelompok. Selama pembentukan

awal pada sebuah kelompok, anggota datang untuk saling mengenali satu

sama lain dengan baik. Selama masa penghentian, para anggota

kelompok memahami diri mereka sendiri pada tingkat yang lebih

mendalam. Penghentian memberi kesempatan pada anggota kelompok

untuk memperjelas arti dari pengalaman mereka, untuk mengkonsolidasi

hasil yang mereka buat, dan untuk membuat keputusan mengenai tingkah
laku mereka yang ingin dilakukan di luar kelompok dan dilakukan dalam

kehidupan sehari-hari.

Ketika kelompok memasuki tahap pengakhiran, kegiatan kelompok

hendaknya dipusatkan pada pembahasan dan penjelajahan tentang apakah

para anggota kelompok akan mampu menerapkan hal-hal yang telah

mereka pelajari dalam suasana kelompok, pada kehidupan nyata mereka

sehari-hari. Peranan konselor disini ialah memberikan penguatan

(reinforcement) terhadap hasil-hasil yang telah dicapai oleh anggota

kelompok dan oleh kelompok, khususnya terhadap keikutsertaan secara

aktif para anggota kelompok dan hasil-hasil yang telah dicapai oleh

masing-masing anggota kelompok.

Pengakhiran konseling kelompok hendaknya membuat kesan yang

positif bagi anggota kelompok, jadi jangan sampai anggota kelompok

mempunyai ganjalan-ganjalan. Untuk itu perlu diberikan kesempatan

bagi masing-masing anggota untuk mengemukakan ganjalan-ganjalan

yang sesungguhnya mereka rasakan selama kelompok berlangsung.

Dengan demikian para anggota kelompok akan meninggalkan kelompok

dengan perasaan lega dan puas. Dengan kata lain, bahwa pada akhir

kegiatan kelompok hendaknya para anggota merasa telah memetik suatu

hasil yang cukup berharga dari kegiatan kelompok yang diikutinya itu.

a. Jenis-Jenis Penutupan dalam Konseling Kelompok

Jacob at al (dalam Kurnanto, 2014) menjelaskan bahwa ada

dua jenis penutupan yaitu sebagai berikut:


1) Closing phase (menutup sesi konseling), adalah periode sesi

ketika pemimpin menutup seluruh kegiatan sesi. Tahap

penutupan diskusi atau tugas kelompok mungkin hanya akan

meringkas ide utama atau keputusan yang dibuat. Tahap

penutupan mempunyai tujuan berikut:

(1) Meringkas dan menyoroti tujuan utama,

(2) Memperkuat komitmen yang dibuat oleh masing-masing

anggota,

(3) Memeriksa unfinished business dari sesi.

2) Closing stage, mungkin sesi terakhir bagi kelompok atau

beberapa sesi terakhir, tergantung pada jenis kelompok dan total

jumlah sesi yang terlibat. Tugas pemimpin selama tahap

penutupan adalah fokus terhadap manfaat.

Jumlah waktu yang di perbolehkan untuk menyelesaikan tahap

penutupan kelompok tergantung pada jenis kelompok, tujuannya, jumlah

sesi, dan kebutuhan para anggota. Tujuan dari tahap penutupan adalah

untuk menarik ide-ide bersama yang signifikan, perubahan pribadi dan

keputusan yang dialami oleh anggota selama kelompok. Berikut adalah

beberapa tugas dari tahap penutupan sebagai berikut:

1) Meninjau dan meringkas pengalaman kelompok.

2) Menilai pertumbuhan dan perubahan anggota.

3) Finishing bisnis.
4) Menerapkan perubahan ke kehidupan sehari-hari (keputusan

pelaksanaan).

5) Memberikan umpan balik.

6) Penanganan selamat tinggal.

7) Perencanaan dan keberlangsungan resolusi masalah.

Sebagaimana tahapan konseling kelompok lainnya, pada tahap

penutupan ini diperlukan keterampilan-keterampilan bagi konselor.

Natawijaya (dalam Kurnanto, 2014) menjelaskan beberapa keterampilan

yang mesti dimiliki oleh konselor pada tahap penutupan konseling

kelompok sebagai berikut:

1) Harapan, teknik ini berguna untuk membentuk perasaan-perasaan

positif dan saling membantu bagi sesama anggota kelompok.

2) Mengatasi kritikan dalam pertemuan, konselor kelompok

hendaknya sudah mempersiapkan dirinya terhadap kritik yang

dilontarkan saat pertemuan akan berakhir. Untuk hal ini penting

sekali diingat bahwa konselor tidak melakukan pertahanan diri.

Banyak terjadi konselor yang tidak mau di kritik.

3) Menghargai anggota baru, konselor bisa sedikit memvariasikan

cara penutupan di saat terdapat anggota baru dalam sesi itu. Pada

kesempatan seperti itu, konselor bisa memberikan fokus tersendiri

pada anggota baru jika ia merasa cukup senang untuk diberi

perhatian khusus.
4) Menghargai anggota yang keluar, kadang-kadang terjadi adanya

anggota kelompok yang meninggalkan kelompoknya meskipun

aktivitas kelompok sedang berlangsung. Ketika hal itu terjadi

konselor hendaknya memberi tambahan waktu pada saat akhir sesi

di lakukan untuk membicarakan anggota yang menghilang tersebut.

Banyak persoalan-persoalan yang mungkin dapat teratasi saat ini,

misalnya konselor mencoba mengubah programnya, memberikan

umpan balik, dan kemudian bisa saja menutup dengan ucapan

“Selamat berpisah, dan minggu depan kita berjumpa lagi” atau

sejenisnya.

Menurut Prayitno (dalam Kurnanto, 2014) mengungkapkan peran

pemimpin kelompok pada tahap ini yaitu; tetap mengusahakan suasana

hangat, bebas, dan terbuka, memberikan pernyataan dan megucapkan

terima kasih atas keikutsertaan anggota, memberikan semangat untuk

kegiatan lebih lanjut, dan penuh rasa persahabtan serta empati.

5. Mengevaluasi Kelompok

Evaluasi merupakan bagian dari keseluruhan proses konseling itu

sendiri, bukan suatu kegiatan yang terlepas, yang dilakukan pada tahap

akhir. Dengan begitu, evaluasi masuk menjadi satu dalam bagan arus

proses konseling yang dimulai dari penetapan tujuan sampai pengakhiran

konseling kelompok. Di dalam pelaksanaan konseling kelompok,

konselor mempunyai tanggung jawab untuk mengevaluasi kesuksesan


perilaku kerja dan mengadakan tindak lanjut. Tahap ini dimaksudkan

untuk mengetahui sejauh manakah konseling kelompok yang telah

dilaksanakan mencapai hasil, dan tindakan apa yang selanjutnya akan

dilakukan oleh konselor (Winkel dan Hastuti, 2008).

Evaluasi yang dilakukan oleh konselor secara umum meliputi

evaluasi proses dan evaluasi hasil. Evaluasi proses konseling kelompok

mengidentifikasikan variabel proses yang memberi konstribusi atau

mendorong pencapaian tujuan. Evaluasi proses dimaksudkan untuk

mengetahui sejauh mana keefektifan layanan konseling kelompok dilihat

dari prosesnya. Aspek yang di nilai dalam evaluasi proses yaitu antara

lain: (1) kesesuaian antara program dengan pelaksanaan, (2)

keterlaksanaan program, (3) hambatan yang dijumpai, (4) faktor

penunjang, dan (5) keterlibatan siswa dalam kegiatan. Sedangkan

evaluasi hasil konseling kelompok dimaksudkan untuk memperoleh

informasi keefektifan konseling kelompok dlihat dari segi hasilnya.

Aspek yang dinilai dalam evaluasi hasil konseling kelompok yaitu

perolehan siswa dalam hal: (1) pemahaman baru, (2) perasaan, (3)

rencana kegiatan yang akan dilakukan pasca pelayanan, (4) dampak

layanan terhadap perubahan perilaku ditinjau dari pencapaian tujuan

layanan, tugas perkembangan, dan hasil belajar, (5) permasalahan

terpecahkan dan aspek-aspek tertentu pada diri siswa dapat berkembang

secara baik, titik-titik lemah yang dapat mengganggu perkembangan


dapat dihilangkan, dan permasalahan dapat dipecahkan dengan cepat dan

lancar (Winkel dan Hastuti, 2008).

Evaluasi dapat memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan

secara terus menurus pada konselor dan juga bagi anggota kelompok.

Oleh karena itu, konselor memiliki tanggung jawab untuk menilai dan

mengevaluasi efektifitas diri atau kelompoknya secara

berkesinambungan (Kurnanto, 2014).

a. Evaluasi Diri Sendiri

Evaluasi diri dilakukan untuk memberikan umpan balik tentang

sikap, perilaku, dan pendekatan fasilitatif umum yang diterapkan

kepada kelompok. Kritik diri juga bisa dilakukan melalui

pemanfaatan teknologi, seperti kaset atau rekaman video. Evaluasi

diri tersebut dapat dilakukan oleh konselor melalui prosedur yang

membantu dengan bersandarkan pada pertanyaan seperti bagaimana

kelompok yang saya alami? Bagaimana perasaan yang saya alami

dalam sesi ini? Apa reaksi saya kepada anggota kelompok? Apa

yang saya komunikasikan dengan masing-masing anggota? dan

sebagainya.

b. Evaluasi Pemimpin Kelompok

Evaluasi pemimpin kelompok dikembangkan oleh William F. Hill

(dalam Kurnanto, 2014) dengan produk berupa Hill’s Interaction


Matrix (HIM). HIM dapat berfungsi sebagai alat yang sangat

berharga bagi pemimpin kelompok. Ini adalah salah satu alat ukur

yang paling berguna bagi konselor yang digunakan dalam

mengkonseptualisasikan proses dan dinamika kelompok dengan

memeriksa interaksi verbal antara anggota. ini juga merupakan salah

satu cara untuk membantu menentukan secara obyektif sejauh mana

kemajuan kelompok terhadap tujuan bersama. Prinsip-prinsip

kategorisasi HIM:

1) Gaya Konten

HIM dikonseptualisasikan dalam interaksi verbal kelompok

dalam dua dimensi utama. Pertama adalah content style yaitu

konten mengategorikan apa yang dibahas kelompok. Bagian

kedua harus dilakukan dengan gaya kerja anggota dan terkait

dengan proses komunikasi atau bagaimana anggota

berhubungan satu sama lain dengan kelompok. Beberapa yang

termasuk dalam kategori konten adalah tema yaitu sebagian

besar dari isi diskusi kelompok, kelompok yang melibatkan

pemeriksaan aturan dan prosedur, formasi, dan tujuan

kelompok, personal yang berfokus pada orang atau seseorang

yang sedang dibahas baik itu kepribadiannya, sifat, perilaku,

atau masalah yang dialami, dan hubungan yaitu berhubungan

dengan dimensi antara apa yang sedang terjadi dan masa depan

anggota kelompok.
2) Gaya Kerja

Gaya kerja atau kategori proses berfokus pada cara dimana

anggota mendiskusikan beberapa kemungkinan konten dengan

menginisiasi atau menanggapi konten kelompok. Lima kategori

proses gaya kerja dari HIM, yaitu responsive dengan

menunjukan keengganan pada bagian dari anggota kelompok

untuk berpartisipasi secara lisan, konvensional yaitu percakapan

tentang topik umum, fakta, atau informasi, asertif yaitu berupa

permusuhan atau pernyataan yang argumentatif tetapi juga dapat

berupa perilaku pasif, spekulatif yaitu interaksi yang ditandai

oleh keinginan bekerjasama untuk memecahkan masalah, dan

konfrontatif yaitu memperjelas perkataan untuk mengevaluasi

dan memecahkan masalah.

3) Evaluasi Anggota Kelompok dan Fasilitator/Konselor

Proses evaluasi ini dapat dilakukan saat proses dialog dalam

kelompok dengan cara membuat kalimat terbuka untuk umpan

balik evaluasi anggota. Konselor sebagai fasilitator dapat

memberi kesimpulan atau memberikan bentuk respon yang akan

disampaikan kembali (Breg, Landreth dan Fall, dalam Kurnanto,

2014).

4) Evaluasi Diri Sendiri Anggota

Anggota kelompok mengungkapkan bagaimana mereka

berubah, apa pengalaman yang berarti bagi mereka, atau


perubahan yang mereka amati pada anggota lainnya. Selama

proses mendapat pengalaman, anggota dapat mendefinisikan

kembali harapan mereka sendiri atau mungkin menetapkan

tujuan baru.

6. Sesi Tindak Lanjut

Kegiatan akhir dari kelompok adalah postgroup yang berupa follow

up (tindak lanjut). Follow up dapat dilaksanakan secara kelompok

maupun secara individu. Pada kegiatan tindak lanjut ini para anggota

kelompok dapat membicarakan tentang upaya-upaya yang telah di

tempuh. Mereka dapat melaporkan tentang kesulitan-kesulitan yang

mereka temui, berbagai kesukacitaan dan keberhasilan dalam kelompok.

Anggota kelompok menyampaikan pengalaman-pengalaman mereka dan

hasilnya selama mengikuti kegiatan konseling kelompok dalam

kehidupan sehari-hari. Sesi tindak lanjut ini menjadi bagian penting

karena memberikan kesempatan anggota kelompok untuk menangani

terselesaikannya isu dan menerima dukungan atau dorongan dari

kelompok. Konselor dapat mengadakan evaluasi dengan memberikan

pertanyaan atau wawancara dengan batas tertentu dan dilihat apakah

anggota sudah menguasai topik yang dibicarakan atau belum. Hal

tersebut dapat memberikan gambaran akan keberhasilan kegiatan

kelompok (Kurnanto, 2014: 186).


Breg, Landreth dan Fall (dalam Kurnanto, 2014) mengatakan

bahwa penjadwalan sesi tindak lanjut 2 sampai 3 bulan setelah

berakhirnya kelompok dapat memberikan dorongan bagi anggota untuk

terus memberitahukan pertumbuhan perubahan. Cara yang paling efektif

adalah dengan mengumumkannya sebelum pembuaran kelompok

(Rusmana, 2009). Sesi tindak lanjut itu penting untuk memberikan

kesempatan anggota untuk menangani terselesaikannya isu dan menerima

dukungan dan dorongan dari kelompok. Kritik utama jangka pendek dari

kelompok intensif adalah kegagalan konselor untuk menyediakan

semacam sesi tindak lanjut. Konselor harus:

a. Merencanakan sesi tindak lanjut,

b. Mengembangkan sumber rujukan profesional kepada siapa mereka

dapat merujuk saat anggota kelompok melanjutkan kegiatan

profesional dengan fasilitator lain,

c. Menginformasikan kepada anggota kelompok sumber bantuan

lainnya.

Sesi tindak lanjut dapat memberika kesempatan yang sangat baik

untuk anggota kelompok dalam hal mengidentifikasi tujuan-tujuan baru

untuk diri mereka sendiri, mengeksplorasi sumber untuk pertumbuhan

lanjutan terhadap tujuan-tujuan baru, serta untuk bekerja pada setiap

masalah yang belum terselesaikan. Setelah menjadi “diri sendiri” selama

beberapa minggu, anggota tampaknya membutuhkan dukungan

emosional dan penegasan lebih dari yang mereka butuhkan berupa


jawaban atau saran. Evaluasi dan sesi tindak lanjut merupakan langkah

penting dalam proses konseling kelompok dan tidak boleh dipandang

sebagai pelengkap yang akan ditambahkan ke pengalaman kelompok.

Sebuah prosedur evaluasi yang sistematis dan efektif dapat meningkatkan

upaya fasilitatif dari fasilitator. Sesi tindak lanjut membatu angota untuk

mempertahankan fokus pada diri sendiri dan untuk memperbaharui

komitmen untuk berubah (Kurnanto, 2014).

G. Kelebihan Konseling Kelompok


1. Anggota belajar berlatih perilakunya yang baru

2. Kelompok dapat dipakai untuk belajar mengekspresikan perasaan,

perhatian dan pengalaman

3. Anggota belajar ketrampilan sosial, belajar berhubungan pribadi lebih

mendalam

4. Kesempatan dan menerima di dalam kelompok

5. Efisiensi dan ekonomis bagi konselor, karea dalam satu waktu tertentu

dapat memberikan konseling bagi lebih dari seorang siswa.

6. Kebanyakan masalah berkaitan dengan hubungan antar pribadi dalam

lingkungan sosial. Konseling kelompok memberikan lingkungan sosial

yang dapat dipakai sebagai sarana memecahkan masalah ini.

7. Kebersamaan dalam kelompok lebih memberika kesempatan untuk

mempraktekkan prilaku baru daripada keberduaan pada konseling

individual. Dalam kelompok, klien-klien mendapatkan dukungan dan


umpan balik yang jujur mengenai perilaku yang dicobanya dari teman-

teman sebayanya bukan dari konselor.

8. Konseling kelompok memungkinkan klien-klien memaparkan

masalahnya kepada siswa-siswa lain, dan menjajaki penyelesaiannya

dengan bantuan perasaan, perhatiaan dan pengalaman siswa-siswa lain.

9. Dalam memecahkan masalah pribadi maupun atara pribadi dalam

konsleing kelompok, klien tidak hanya meningkatkan kemampuan

memecahkan masalah bersama, tetapi juga belajar keterampilan sosial

dalam pemecahan ini.

10. Dalam konseling kelompok klien-klien tidak hanya memecahkan

masalah masing-masing tetapi juga masalah orang lain. Memberikan

tanggapan terhadap masalah orang lain, dapat mengalihkan pusat

perhatian dari masalahnya sendiri.

11. Di dalam kelompok, anggota akan saling menolong, menerima,

berempati dengan tulus. Keadaan ini, membutuhkan suasana yang

positif antara anggota, sehingga mereka akan merasa diterima,

dimengerti, dan menambah rasa positif dalam diri mereka. Semua itu

dapat terwujud apabila dinamika kelompok tumbuh dengan baik, karena

dinamika kelompok mencerminkan suasana kehidupan nyata yang

terjadi dan di jumpai dan merupakan kekuatan yang mendorong

kehidupan kelompok.
H. Kelemahan Konseling Kelompok

1. Tidak semua orang cocok dalam kelompok.

2. Perhatian konselor lebih menyebar.

3. Sulit dibina kepercayaan.

4. Klien mengharapkan terlalu banyak dari kelompok.

5. Kelompok bukan dijadikan sarana berlatih melakukan perubahan,

tetapi sebagai tujuan.


DAFTAR PUSTAKA

Dewi, Chandra & Fitniwillis. 2017. Teknik Khusus dalam Konseling. Program
Studi Bimbingan Konseling Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka. Diakses pada 26 Agustus
2019 pukul 20.00 WIB.

Gibson, Robert L dan Mitchell, Marianne H. 2011. Bimbingan Dan Konseling.


Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Kurnanto, Edi. 2014. Konseling Kelompok. Bandung: Alfabeta.

Nst, Wahyu Efendi. Makalah Taknik Konseling.


https://www.academia.edu/7205101/Makalah_Teknik_Konseling. Di akses
pada 26 Agustus 2019 pukul 20.15 WIB.

Rusmana, Nandang. 2009. Bimbingan dan Konseling Kelompok Di Sekolah


(Metode, Teknik, dan Aplikasi). Bandung: Rizqi Press.

Tohirin. 2007. Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah (Berbasis


Integrasi). Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Vitalis, DS. 2008. Layanan Konseling Kelompok. Madiun: IKIP PGRI Madiun.
Wibowo, Eddy Mungin. 2005. Konseling Kelompok Perkembangan. Semarang:
Unnes Press.

Winkel dan Hastuti, Sri. 2008. Bimbingan dan Konseling Kelompok. Jakarta:
Rineka Cipta.