Anda di halaman 1dari 3

Humaira Ihsani 11010116130280

Krisna Juliant

Faldy Triestha Pamungkas 11010116130385

ANALISIS KASUS BERDASARKAN PASAL 2 DAN 3 UU TIPIKOR

Kasus Pasal 2 UU Tipikor

Kasus dugaan korupsi ini muncul setelah adanya kejanggalan dalam pembelian lahan Pasar
Jambu seluas 7.302 meter persegi milik pihak ketga pengusaha Kawidjaja Henricus Ang
(Angkahong) oleh Pemkot Bogor pada akhir 2014. Dari luasan lahan tersebut, sebanyak 26
dokumen kepemilikan mulai dari SHM, AJB dan eks garapan telah terjadi transaksi jual beli
tanah eks garapan seluas 1.450 meter persegi dengan harga yang disepakat untuk total luas
lahan pembebasan senilai Rp43,1 miliar

Analisis

Sebelumnya dalam dipa anggaran tdak ada anggaran pengadaan, namun setelah penertban
tadi, tba-tba ada anggaran pembelian lahan pada APBD Perubahan 2014 Kota Bogor. Walikota,
wakil walikota, dan Sekda Kota Bogor, Yudha Priatna (Kadis Koperasi dan UMKM Kota Bogor
selaku Ketua Tim Pengadaan Tanah Skala Kecil Pasar Umum), Toto Ulung (selaku Kabag Hukum),
serta Angkahong sepakat menetapkan bahwa harga tanah (luas tanah 7.302 m2 dan Bangunan
1.264 m2d) yang akan dibebaskan sebesar Rp 43,1 miliar. Kegiatan dalam Peningkatan PKL eks
Jalan MA Salmun mengalokasi anggaran sebesar Rp 49,2 miliar tanpa ada usulan terlebih dahulu
dari Kantor Dinas Koperasi dan UMKM Kota Bogor selaku instansi yang memerlukan tanah
sebagaimana Pengajuan Usulan Anggaran Perubahan Tahun 2014. Penganggaran kegiatan
pengadaan lahan untuk relokasi PKL dilakukan tanpa studi kelayakan. Selain itu ada
ketdaksesuaian besaran anggaran. Oleh karena itu, Hidayat Yudha Priatna, SH. terbukt secara
sah dan meyakinkan bersalah melakukan “tndak pidana korupsi” sebagaimana diatur dan
diancam pidana dalam pasal 2 ayat (1). jo. Pasal 18 UU No.31 Tahun 1999 tentang
pemberantasan tndak pidana korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU No : 20 Tahun
2001 jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP dalam Dakwaan Primair. Dan Penuntut Umum menjatuhkan
pidana terhadap Hidayat Yudha Priatna, SH. dengan pidana penjara selama 6 (enam) tahun
penjara dikurangi masa penahanan dan denda sebesar Rp. 200 juta subsidair 6 (enam) bulan
kurungan karena melakukan korupsi bersama-sama Wali Kota Bogor Bima Arya dan Sekda Ade
Sarip Hidayat. Selain Hidayat, dua terdakwa lainnya pada kasus yang sama yakni mantan Camat
Tanah Sereal, Irwan Gumelar dan mantan Ketua Tim Apraisal, Roni Nasrun Adnan. Pada akhirnya
mereka semua divonis 4 tahun penjara plus denda Rp 200 juta subsider 4 bulan kurungan oleh
majelis hakim.

Kasus Pasal 3 UU Tipikor

Untuk melancarkan pembahasan anggaran e-KTP, Irman (Terdakwa I) dan Sugiharto (Terdakwa
II) mengucurkan uang kepada 54 anggota Komisi II DPR (merangkap pimpinan) dan juga Ketua
DPR saat itu Marzuki Ali. Kedua terdakwa telah menyalahgunakan wewenangnya selaku anggota
DPR dalam hal pengadaan e-KTP, sepert halnya Terdakwa I yang tdak melaksanakan tugas dan
kewenangannya secara baik dan benar menurut hukum, yaitu tdak mengendalikan pelaksanaan
proses pengadaan barang/jasa penerapan KTP berbasis NIK secara nasional (KTP Elektronik)
yang dilakukan Terdakwa II, sehingga bertentangan dengan tujuan kewenangannya, yang
berakibat adanya kerugian keuangan negara. Kerjasama yang dilakukan kedua Terdakwa telah
mengarahkan kepada produk-produk tertentu sehingga tdak terjadi kompetensi yang sehat
dalam proses pengadaan dan pelaksanaannya, baik dari segi mutu dan harga serta telah terjadi
pemberian dan penerimaan uang mulai dari proses penganggaran sampai dengan lelang, dan
pelaksanaan proyek KTP Elektronik bertujuan agar pihak-pihak tertentu dapat menjadi
pemenang lelang dengan cara menggunakan kewenangannya secara tdak benar, yang
bertentangan dengan peraturan hukum perundangan-undagan.

Analisis

Berdasarkan pemaparan di atas, maka Pasal 3 UU No. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun
2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi patut dikenakan kepada para terdakwa tersebut. Sudah barang tentu
terdapat unsur-unsur yang harus dipenuhi terlebih dahulu, sepert halnya ketentuan “setap
orang” yakni perseorangan atau termasuk korporasi pengertan orang perseorangan dalam ilmu
hukum adalah setap individu sebagai pendukung hak dan kewajiban yang cakap dan mampu
bertanggungjawab sehingga dapat dimintai pertanggung jawaban pidana padanya dan tdak
termasuk dalam pengertan Pasal 44 KUHP, di mana subyek hukum tersebut diajukan ke
persidangan karena suatu tndak pidana yang didakwakan kepadanya. persidangan Terdakwa
adalah seorang laki-laki yang sehat jasmani dan rohani, dapat menjawab pertanyaan yang
diajukan kepadanya dengan baik, oleh karena itu para Terdakwa bukanlah orang sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 44 ayat (1) KUHP, sehingga kami berpendapat bahwa Terdakwa tersebut
adalah orang yang mampu bertanggungjawab atas semua perbuatannya.
Setelah itu ketentuan yang harus dipenuhi yakni “secara melawan hukum” dalam ketentuan
Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi,
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan
atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi,
memuat unsur “menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya
karena jabatan atau kedudukan”, yang merupakan “bestanddeel delict” atau int delik yang
menentukan dapat tdaknya suatu perbuatan untuk dipidana. penyalahgunaan wewenang
merupakan salah satu bentuk dari “onrechtmatige daad”, penyalahgunaan wewenang
merupakan species dari genus-nya “onrechtmatige daad”, dengan demikian perbuatan
“penyalahgunaan wewenang” merupakan salah satu bentuk khusus dari perbuatan yang
dilakukan “secara melawan hukum”. Kedua terdakwa telah jelas-jelas menyalahgunakan
kewenangannya dalam pengadaan e-KTP hingga terdapat mark up anggaran serta pengarahan
untuk menggunakan tender tertentu tanpa mempertmbangkan tender lain agar mendapatkan
harga yang rasional.