Anda di halaman 1dari 29

PENDEKATAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA

REALISTIK DAN KONTEKSTUAL SEBAGAI SOLUSI


MENGATASI KESULITAN SISWA SEKOLAH MENENGAH
PERTAMA DALAM MEMAHAMI MATERI PERBANDINGAN

Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Tugas


Mata Kuliah Kapita Selekta Pendidikan Dasar

MAKALAH

DISUSUN OLEH :

Ayu Novitasari 172151140


Amelia Restiani 172151006
Cecep Ali Nurjaman 172151137

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SILIWANGI
TASIKMALAYA
2018
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.


Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT., karena dengan
limpahan rahmat dan hidayah-Nya, makalah ini dapat diselesaikan sesuai batas
waktu yang ditetapkan. Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas
Mata Kuliah Kapita Selekta Pendidikan Dasar dengan judul “Pendekatan
Pembelajaran Matematika Realistik sebagai Solusi Kesulitan Siswa Sekolah
Menengah Pertama dalam Memahami Materi Perbandingan”. Kami mengucapkan
terimakasih kepada :
1. Bapak Redi Hermanto, M.Pd. selaku dosen pembimbing Mata Kuliah
Kapita Selekta Pendidikan Dasar, dan
2. Teman-teman dan semua pihak yang telah membantu.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan proposal ini banyak terdapat
kekeliruan dan kekurangan, karena itu dengan kerendahan hati kamimemohon
maaf dan menerima kritik serta saran demi perbaikan proposal ini. Akhir kata
semoga proposal ini dapat bermanfaat bagi kaum khalayak.
Wassalamualaikum Wr. Wb.

Tasikmalaya, 19 Maret 2018

Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Ilustrasi Perbandingan pada Umur Sebuah Keluarga
Gambar 2. Grafik Perbandingan Senilai
Gambar 3. Ilustrasi Buah Apel
Gambar 4. Ilustrasi Pembagian Kelompok Buah Apel
Gambar 5. Ilustrasi Perkalian Buah Apel dan Harga Buah Apel
Gambar 6. Grafik Perbandingan Berbalik Nilai
Gambar 7. Ilustrasi 20 Buah Permen
Gambar 8. Ilustrasi Pembagian Satu Per Satu Permen
Gambar 9. Ilustrasi Sisa Permen
Gambar 10. Ilustrasi Pembagian Sisa Permen
Gambar 11. Skema Gunung Es pada Pendekatan Matematika Realistik

BAB 1 PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Pembatasan Masalah
C. Perumusan Masalah
D. Tujuan Penelitian
E. Manfaat Penelitian
BAB 2 PEMBAHASAN
A. Pembelajaran Matematika
B. Pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik dan Kontekstual
C. Tinjauan Materi Perbandingan pada Jenjang Sekolah Menengah
Pertama
D. Diagnosis Kesulitan yang Dihadapi Siswa Sekolah Menengah Pertama
dalam Memahami Materi Peerbandingan
E. Penerapan Pembelajaran Realistik dan Kontekstual pada Materi
Perbandingan
BAB 3 SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Istilah mathematics (inggris), mathematic (German), wiskunde
(Belanda), berasal dari bahasa Yunani dari akar kata mathema yang berarti
pengetahuan atau ilmu, atau dari kata lain yang serupa yaitu mathanein yang
berarti belajar atau berpikir. Jadi, secara etimologis perkataan matematika berarti
“ilmu pengetahuan yang diperoleh dengan bernalar, yang lebih menekankan pada
aktifitas penalaran ratio”. Matematika terbentuk sebagai hasil pemikiran manusia
yang berhubungan dengan ide, proses, dan penalaran.Matematika adalah pola
pikir atau bahasa yang menggunakan istilah yang didefinisikan dengan jelas,
cermat dan akurat (Jonshon dan Rising, 1972).
Matematika merupakan salah satu pelajaran yang dianggap sulit bagi
sebagian besar siswa di Indonesia. Kebanyakan siswa bersugesti bahwa
matematika adalah pelajaran yang cenderung rumit dan tidak menyenangkan,
dimana mereka selalu bertemu dengan angka dan segala rumus di dalamnya.
Berdasarkan hasil penelitian TIMSS (Thrends International Mathematics Science
Study) tahun 2011, penguasaan matematika siswa kelas 8 SMP di Indonesia
menempati peringkat ke 38 dari 45 negara, dimana Indonesia hanya mampu
mengumpulkan 386 poin dari skor rata-rata 500. Hal ini dikarenakan kurangnya
kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal bertipe penalaran dan pemecahan
masalah. Salah satu penyebabnya adalah metode yang diperkenalkan saat ini
cenderung kurang kontekstual.
Salah satu materi matematika yang dianggap sukar dimengerti oleh siswa
tingkat menengah pertama adalah materi perbandingan. Materi perbandingan yang
abstrak dan kurang realistik menjadi penyebab siswa sulit dalam memahaminya.
Kesulitan yang dialami siswa memungkinkan terjadinya kesalahan dalam
menjawab soal-soal tes (Soedjadi, 1996:27). Karena kesulitan tersebut
menyebabkan siswa menjadi pasif dan kurang tertarik dengan materi tersebut
yang berakibat pada pemahaman materi perbandingan yang sangat rendah dan
hasil pencapaian siswa yang sangat rendah pula.
Berbagai kesulitan-kesulitan itu dapat diatasi dengan menggunakan
pendekatan pembelajaran matematika yang sesuai dengan tingkat dan daya
kognisi siswa sekolah menengah pertama. Metode pembelajaran yang sesuai dapat
membuat siswa menjadi tertarik dan memperhatikan guru ketika memberikan
penjelasan kepada siswa sehingga siswa pun mengerti dengan materi
perbandingan, serta dapat menumbuhkan motivasi belajar siswa. Salah satu
pendekatan pembelajaran matematika yang layak untuk dikembangkan adalah
pendekatan pembelajaran matematika realistik dan kontekstual, dimana siswa
dihadapkan dengan benda-benda nyata yang dihubungkan dengan pemanfaatan
dalam kehidupan kesehariannya.
Pendekatan kontekstual sangat diperlukan dalam pembelajaran yang
didasarkan pada kenyataan bahwa sebagian besar siswa tidak mampu
menghubungkan antara apa yang dipelajari dengan bagaimana pemanfaatan dalam
kehidupan (Muslich, M., 2007:40). Melalui makalah ini, pendekatan pembelajaran
relistik dan kontekstual diharapkan mempermudah siswa dalam memahami materi
perbandingan.

B. Pembatasan Masalah
Peneliti membatasi masalah tentang analisis kesulitan siswa dalam
memahami materi perbandingan dan guru belum pernah menerapkan pendekatan
pembelajaran realistik dan kontekstual.

C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah dan pembatasan masalah diatas, maka
rumusan masalah yang dikaji dalam makalah ini dirumuskan sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan pembelajaran matematika?
2. Apa yang dimaksud dengan pendekatan pembelajaran matematika realistik
dan konstektual?
3. Apa saja kesulitan yang dihadapi siswa dalam memahami materi
perbandingan?
4. Bagaimana penerapan pendekatan pembelajaran matematika realistik dan
kontekstual pada pembelajaran materi perbandingan?
5. Apakah penerapan pendekatan pembejaran matemaatika realistik dan
kontekstual dapat meningkatkan pemahaman siswa pada konsep materi
perbandingan?

D. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian yang dicapai adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui pengertian pembelajaran matematika.
2. Mengetahui pengertian pendekatan pembelajaran matematika realistik dan
kontekstual.
3. Mengetahui kesuliatan yang dihadapi siswa dalam memahami materi
perbandingan.
4. Memaparkan penerapan pendekatan pembelajaran matematika realistik dan
kontekstual pada pembelajaran materi perbandingan.
5. Mengetahui apakah penerapan pendekatan pembejaran matemaatika
realistik dan kontekstual dapat meningkatkan pemahaman siswa pada
konsep materi perbandingan.

E. Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian yang akan dicapai, maka penelitian ini
diharapkan memberikan manfaat untuk pendidikan baik secara langsung maupun
tidak langsung. Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagi Peneliti
Dapat dijadikan evaluasi dan rekomendasi dalam menerapkan media
pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran matematika realistik dan
kontekstual untuk materi selanjutnya.
2. Bagi Siswa
Meningkatnya pemahaman siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP)
terhadap konsep perbandingan dan meningkatnya hasil belajar siswa.
3. Bagi Guru
Dapat dijadikan pengembangan dan perbaikan metode pembelajaran yang
diterapkan dalam mengajarkan materi perbandingan dan materi lainnya.
4. Bagi Sekolah
Dapat membantu dalam rangka perbaikan dan peningkatan mutu
pembelajaran di sekolah dan meningkatnya kondisi sekolah yang lebih inovatif
dan berkualitas.
BAB 2
PEMBAHASAN

A. Pembelajaran Matematika
Belajar adalah suatu proses, aktivitas dan bukan suatu hasil atau tujuan,
bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas daripada itu, yakni mengalami
(Hamalik, O., 2005:36). Belajar merupakan suatu proses menerima pengetahuan
dan pengalaman dalam bentuk perubahan tingkah laku dan kemampuan bereaksi
yang relatif permanen karena terjadinya interaksi antara individu dengan
lingkungannya (Sugihartono, 2007:74). Dapat disimpulkan bahwa belajar
merupakan sebuah proses yang dialami seseorang meliputi aktivitas psikis atau
aktivitas mental untuk memperoleh pengetahuan, pengalaman dan kemampuan.
Pembelajaran merupakan suatu proses atau kegiatan yang sistematis dan
sistemik yang bersifat interaktif dan komunikatif antara pendidik dengan siswa,
sumber belajar, dan lingkungan untuk menciptakan suatu kondisi yang
memungkinkan terjadinya tindakan siswa (Arifin, 2010:10). Pembelajaran
merupakan suatu proses penciptaan lingkungan, dimana lingkungan itu
memungkinkan untuk terjadinya proses belajar (Daryanto, 2013:51). Dapat
disimpulkan bahwa pembelajaran adalah suatu kegiatan yang menimbulkan
interaksi antara pendidik dan siswa untuk menciptakan sebuah lingkungan belajar.
Matematika merupakan ilmu tentang struktur, urutan, serta memiliki
hubungan yang meliputi berbagai macam dasar pengukuran, perhitungan, serta
penggambaran suatu bentuk objek (Nasution, 1980). Matematika itu bukanlah
pengetahuan yang dapat menjadi sempurna untuk dirinya sendiri, tetapi
matematika terutama untuk membantu orang memahami dan mengatasi masalah
matematika sosial, ekonomi dan alam. Ini tumbuh dan berkembang karena proses
berpikir, oleh karena itu, logika adalah dasar untuk pembentukan matematika
(Kline, 1973).
Dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika adalah proses
penciptaan sebuah lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar yang
berkaitan dengan struktur, urutan, berbagai macam dasar pengukuran,
perhitungan, serta penggambaran suatu bentuk objek.
Pembelajaran matematika memiliki karakteristik yang membedakannya
dengan pembelajaran mata pelajaran yang lain (Tim MGMP, 2013:5).
Karakteristik tersebut adalah sebagai berikut.
1. Memiliki Objek Kajian yang Abstrak
Matematika memiliki objek kajian yang abstrak. Meskipun demikian, tidak
semua objek yang abstrak adalah matematika.
2. Bertumpu pada Kesepakatan
Simbol dan istilah dalam matematika merupakan kesepakatan atau
konvensi yang penting.
3. Berpola Pikir Deduktif
Matematika diterima sebagai pola pikir yang bersifat deduktif. Pola pikir
deduktif secara sederhana dapat dikatakan pemikiran yang berpangkal dari
hal yang bersifat umum diterapkan atau diarahkan kepada hal yang bersifat
khusus.
4. Konsisten dalam Sistemnya
Matematika mempunyai berbagai macam sistem yang dibentuk dari
beberapa aksioma dan memuat beberapa teorema. Ada sistem – sistem
yang berkaitan, ada pula sistem – sistem yang dapat dipandang lepas satu
dengan lainnya. Sebagai contoh, sistem aljabar dengan sistem geometri
dapat dipandang lepas satu dengan lainnya. Di dalam sistem aljabar
terdapat pula beberapa sistem lain yang lebih “kecil” dan berkaitan satu
dengan lainnya. Demikian pula di dalam sistem geometri.
5. Memiliki Simbol yang Kosong dari Arti
Karakteristik ini dapat dipandang termasuk ke dalam karakteristik butir
pertama. Dalam matematika banyak sekali terdapat simbol baik yang
berupa huruf Latin, huruf Yunani, maupun simbol-simbol khusus lainnya.
6. Memperhatikan Semesta Pembicaraan
Sehubungan dengan kosongnya arti dari simbol-simbol matematika, maka
bila kita menggunakannya kita seharusnya memperhatikan pula lingkup
pembicaraannya. Lingkup atau sering disebut semesta pembicaraan bisa
sempit bisa pula luas. Bila kita berbicara tentang bilangan-bilangan, maka
simbol-simbol tersebut menunjukkan bilangan-bilangan pula.

B. Pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik dan Kontekstual


Pendidikan matematika realistik merupakan pendekatan pembelajaran
yang menempatkan realitas atau kehidupan nyatadan lingkungan peserta didik
sebagai titik awal pembelajaran. Permasalahan yang nyata atau yang telah dialami
dan dikuasai dapat dibayangkan dengan baik oleh peserta didik, dan digunakan
sebagai sumber munculnya konsep atau pengertian matematika yang semakin
meningkat (Soedjadi, 2001).
Kajian utama dari Pendidikan Matematika Realistik adalah siswa diberi
kesempatan untuk menemukan kembali ide dan konsep matematika dengan
bimbingan guru. Usaha untuk membangun konsep tersebut adalah melalui
penjelajahan berbagai situasi dan permasalahan realistik, dalam pengertian bahwa
tidak hanya di dunia nyata, tetapi juga dengan masalah yang dapat mereka
bayangkan. (Gravemeijer, 1994:53)
Pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning) adalah
konsep belajar yang mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi
dalam dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat suatu hubungan antara
pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari
(Utama, G.Y., 2014).
Proses pembelajaran menjadi lebih bermakna ketika anak mengalami apa
yang dipelajarinya, bukan hanya mengetahui atau menghafalnya (Utama, G.Y.,
2014). Materi pelajaran menjadi lebih berarti dan menyenangkan ketika siswa
mempelajari materi yang disajikan melalui konteks kehidupan mereka, dan
menemukan makna di dalam proses pembelajarannya. Siswa belajar
menggunakan pengalaman dan pengetahuannya untuk memperoleh pengetahuan
baru. Dalam menyelesaikan masalah kontekstual, siswa dibimbing oleh guru
secara konstruktif sampai mereka mengerti konsep matematika yang
dipelajarinya.
Pembelajaran kontekstual merupakan sebuah proses belajar yang bertujuan
untuk membantu siswa dalam memaknai materi pelajaran dengan menarik
hubungan kepada lingkungan siswa (Johnson, 2002:24). Untuk mencapai tujuan
tersebut, pembelajaran kontekstual dibangun oleh delapan komponen sebagai
berikut (Johnson 2002:43) :
1. Making Meaningful Connections
Pembelajaran yang dibuat harus bermakna, artinya memiliki hubungan
dengan kehidupan dan lingkungan siswa atau memiliki hubungan dengan
materi sebelumnya yang telah dipelajari.
2. Doing Significant Work
Pembelajaran diarahkan untuk melakukan aktivitas yang memiliki tujuan.
Sehingga dengan beraktivitas tersebut, siswa mampu untuk memahami
materi pembelajaran yang sedang mereka pelajari.
3. Self Regulated Learning
Siswa diarahkan untuk aktif dengan learning by doing secara mandiri, baik
secara individu maupun berkelompok.
4. Collaborating
Pembelajaran memungkinkan siswa untuk belajar berkolaborasi dalam
suatu kelompok, maupun kolaborasi antar kelompok. Siswa belajar
berkomunikasi, menyampaikan ide kepada siswa yang lainnya.
5. Critical and Creative Thinking
Pembelajaran mengembangkan pemikiran kritis dan kreatif siswa dalam
menghadapi sebuah permasalahan. Siswa diharapkan mampu menganalisa,
melakukan sintesis, memecahkan masalah, mengambil keputusan,
menggunakan logika dan membuktikan.
6. Nurturing the Individual
Dalam pembelajaran, guru memotivasi dan memantau siswa saat
berdiskusi dengan siswa yang lain. Dengan begitu tujuan pembelajaran
diharapkan tetap dapat tercapai.
7. Reaching High Standards
Dengan pembelajaran kontekstual, diharapkan siswa tidak hanya memiliki
kemampuan di bidang akademik saja, tetapi bisa memiliki basic skill,
thinking skill, dan personal qualities. Basic skills meliputi membaca,
menulis, kemampuan numerik, mendengarkan dan berbicara. Thinking
skills meliputi berpikir kreatif, menyelesaikan masalah, menganalisis dan
melakukan sintesis. Personal qualities meliputi tanggung jawab, disiplin,
bekerja sama, dan saling menghormati satu sama lain.
8. Using Authentic Assesment
Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual menggunakan authentic
assessment, yang bisa berupa portofolio, penampilan, proyek, maupun
respon secara tertulis.

Sehingga pembelajaran matematika realistik dan kontekstual adalah


pendekatan pembelajaran yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut (Suryanto &
Sugiman, 2003):
1. Menggunakan masalah kontekstual, yaitu matematika tidak dapat
dipisahkan dari kehidupan dan teraplikasikan sebagai kegiatan sehari-hari
manusia, sehingga memecahkan masalah kehidupan yang dihadapi atau
dialami oleh siswa (masalah kotekstual yang realistik bagi siswa)
merupakan bagian yang sangat penting.
2. Menggunakan model, yaitu belajar matematika berarti bekerja dengan alat
matematis hasil matematisasi horizontal.
3. Menggunakan hasil dan konstruksi siswa sendiri, yaitu siswa diberi
kesempatan untuk menemukan konsep-konsep matematis, di bawah
bimbingan guru.
4. Pembelajaran terfokus pada siswa.
5. Terjadi interaksi, interaksi yang dimaksud adalah interaksi dua arah antara
guru dengan siswa, yaitu aktivitas belajar meliputi kegiatan memecahkan
masalah kontekstual yang realistik, mengorganisasikan pengalaman
matematis, dan mendiskusikan hasil-hasil pemecahan masalah terseb
Kelebihan pembelajaran Matematika menggunakan Pembelajaran
Matematika Realistik antara lain (Sutarsih, 2001) :
1. Pembelajaran cukup menyenangkan bagi siswa, siswa lebih aktif dan
kreatif dalam mengungkap ide dan pendapatnya, bertanggung jawab dalam
menjawab soal dengan memberi alasan-alasan.
2. Secara umum siswa dapat memahami materi dengan baik, sebab konsep-
konsep yang dipelajari dikontruk oleh siswa sendiri.
3. Guru lebih kreatif membuat alat peraga (media) yang mudah didapatkan.
4. Memberikan pengertian kepada siswa, bahwa penyelesaian soal tidak
harus tunggal dan tidak harus sama antara yang satu dengan yang lain.
5. Memberi pengertian yang jelas kepada siswa bahwa dalam mempelajari
Matematika, proses pembelajaran merupakan sesuatu yang penting, dan
untuk mempelajari Matematika seseorang harus melalui proses untuk
menemukan sendiri konsep-konsep matematika dengan bantuan orang
lain.
6. Memberikan pengertian yang jelas kepada siswa tentang keterkaitan
Matematika dengan kehidupan sehari-hari dan manfaatnya bagi manusia.
7. Lebih menekankan pada kebermaknaan karena materi yang disajikan
dibuat sedemikian rupa sehingga pengetahuan siswa yang dibentuk
berdasarkan skematanya.

Kekurangan pembelajaran Matematika menggunakan Pembelajaran


Matematika Realistik antara lain (Sutarsih, 2001):
1. Membutuhkan waktu yang cukup banyak, sebab tidak semua siswa dapat
menyelesaikan masalah.
2. Sulit diterapkan pada suatu kelas yang besar (40 – 45 siswa), karena guru
kesulitan mengamati dan memberi bantuan kepada siswa yang menemui
kesulitan belajar.
3. Tidak semua siswa aktif.
4. Kurikulum yang tidak sejalan dengan realistik.
5. Sulit dalam pembuatan soal-soal yang kontekstual.
C. Tinjauan Materi Perbandingan pada Sekolah Menengah Pertama
Perbandingan adalah salah satu materi pelajaran matematika yang diajarkan
pada kelas VII SMP. Tujuan mempelajari materi perbandingan adalah sebagai
berikut (Manik, 2009) :
1. Menjelaskan hubungan perbandingan dengan pecahan.
2. Menyelesaikan soal yang berhubungan dengan perbandingan senilai dan
berbalik nilai.
3. Memberikan contoh masalah sehari-hari yang merupakan perbandingan
senilai dan berbalik nilai.
4. Menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan perbandingan.
Sebagai ilustrasi, perhatikan contoh berikut :

Gambar 1. Ilustrasi Perbandingan pada Umur Sebuah Keluarga

Usia Ayah 40 tahun dan usia ibu 35 tahun, sedangkan usia Ali 10 tahun serta usia
Ani 15 tahun. Perbandingan ketiganya adalah sebagai berikut:
1. Perbandingan usia Ayah dan Ibu = 40 tahun : 35 tahun = 40 : 35 = 8 : 7
2. Perbandingan usia Ali dan Ani = 10 tahun : 15 tahun = 10 : 15 = 2 : 3
3. Perbandingan usia Ayah dan Ali = 40 tahun : 10 tahun = 40 : 10 = 4 : 1
Bentuk Umum

Apabila hasil perbandingan antara A : B adalah p : q, maka dapat diuraikan


menjadi:
A:B=p:q
𝐴 𝑝
=
𝐵 𝑞
Menjadi
Axq=Bxp

Perbandingan dapat dibagi menjadi dua yaitu perbandingan senilai dan


perbandingan berbalik nilai.
1. Perbandingan Senilai
Perbandingan senilai adalah perbandingan yang berbanding lurus atau
berbanding langsung atau proporsi langsung (Nuharini dan Wahyuni : 2008).
Dikatakan perbandingan senilai apabila kedua sisi mempunyai nilai yang sama-
sama akan bertambah atau berkurang secara bersamaan.
B

(A,B)
bertambah

bertambah
Gambar 2. Grafik Perbandingan Senilai
Keterangan grafik:
Semakin besar A maka nilai B semakin besar pula, semakin kecil B maka nilai A
semakin kecil pula. A dan B bertambah dan berkurang sebanding.
Contoh soal perbandingan sebanding:
Harga 4 buah apel adalah Rp 12.000, berapakah harga 12 buah apel?
Penyelesaian:
Penyelesaian soal diatas berdasarkan pada prinsip PMRmenurut Gravemeijer
yaitu (a) guided reinvention/progressive mathematizing (b) didactical
phenemenology dan (c) self-developed models. Gravemeijer menguraikan
perbedaan model of dan model for dalam empat tingkatan aktivitas yaitu:
situasional, referensial, general, dan formal yang biasa disebut teori gunung es
atau ice berg. Berdasarkan soal uraian tingkatan aktivitas adalah sebagai berikut:
a. Siswa dikondisikan ke situasi soal, yaitu ada beberapa buah apel (benda
kongkret). Siswa mengelompokkan buah apel ke dalam beberapa kelompok,
setiap kelompok terdiri dari4 buah apel yang memiliki harga Rp 12.000,
kemudian siswa diminta untuk mengetahui harga 12 buah apel, maka siswa
akan mengambil 4 buah apel dan ternyata masih berjumlah 8 kemudian siswa
akan mengambil 4 buah apel lagi sehingga jumlahnya genap menjadi 12 buah
(situasional).
b. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, masing-masing kelompok
memperagakan situasi soal dengan menggunakan plastisin (model/alat peraga
dari buah apel), dan diperagakan sama dengan memperagakan penjumlahan
menggunakan benda nyata (referensial).
c. Siswa membentuk plastisin menjadi 12 (sesuai jumlah yang ditanyakan) bentuk
bulatan dan anggap bulatan tersebut adalah menunjukkan buah apel.

Gambar 3. Ilustrasi Buah Apel


Gambar bulatan tersebut kemudian dikelompokkan kedalam beberapa
kelompok yang setiap kelompok yang sama banyak yaitu terdiri dari 4 buah
apel setiap kelompok.

Rp. 12.000 Rp. 12.000 Rp. 12.000

Gambar 4. Ilustrasi Pembagian Kelompok Buah Apel


Rp. 12.000 Rp. 12.000 Rp. 12.000

x2 x2
Gambar 5. Ilustrasi Perkalian Buah Apel dan Harga Buah Apel
Penyelesaian langsung berupa simbol angka adalah sebagai berikut:
Rp 12.000 x 2 = Rp 24.000
Rp 24.000 x 2 = Rp 48.000
Maka, hasil akhirnya adalah harga dari 12 apel yaitu Rp 48.000. Dapat kita
lihat perbandingannya yaitu semakin sedikit buah apel maka semakin sedikit
pula harga yang harus kita bayar, dan sebaliknya semakin banyak buah apel
maka harga yang harus kita bayar semakin mahal. Pernyataan ini sesuai dengan
syarat perbandingan senilai.
Jika, menggunakan penyelesaian menggunakan persamaan umum
perbandingan adalah sebagai berikut:
4 apel  Rp. 12.000
12 apel  x
4 12.000
=
12 𝑥
⇔ 4𝑥 = 12 𝑥 𝑅𝑝 12.000
⇔ 4𝑥 = 𝑅𝑝 144.000
𝑅𝑝 144.000
⇔𝑥=
4
⇔ 𝑥 = 𝑅𝑝48.000

2. Perbandingan Berbalik Nilai


Perbandingan berbalik nilai adalah perbandingan yang berbanding terbalik atau
proporsi berbalik nilai (Nuharini dan Wahyuni : 2008). Dikatakan
perbandingan terbalik apabila satu sisi nilai bertambah, maka nilai yang lain
berkurang.
B

berkurang
(A, B)

A
bertambah
Gambar 6. Grafik Perbandingan Berbalik Nilai

Keterangan grafik:
Semakin besar A maka nilai B semakin kecil, semakin besar B maka nilai A
semakin kecil, A dan B berbanding terbalik.
Contoh soal perbandingan berbalik nilai:Andri mempunyai 20 permen yang
ingin ia bagikan kepada 5 orang temannya dan masing-masing mendapatkan 4
permen, jika dibagikan kepada 10 orang temannya maka masing-masing akan
mendapatkan berapa permen?
Penyelesaian:
Penyelesaian soal diatas berdasarkan pada prinsip PMR menurut Gravemeijer
yaitu (a) guided reinvention/progressive mathematizing (b) didactical
phenemenology dan (c) self-developed models. Gravemeijer menguraikan
perbedaan model of dan model for dalam empat tingkatan aktivitas yaitu:
situasional, referensial, general, dan formal yang biasa disebut teori gunung es
atau ice berg. Berdasarkan soal uraian tingkatan aktivitas adalah sebagai
berikut:
a. Siswa dikondisikan ke situasi soal, yaitu ada 20 buah permen (benda
kongkret). Siswa akan membagikan 20 buah permen tersebut dengan cara
membagikan satu per satu permen kepada 5 orang anak, setelah kelima
anak mendapatkan bagian sama banyak dan permen itu masih bersisa maka
bagikan sisa permen tersebut dengan cara yang sama sampai permen itu
habis sehingga tiap anak masing-masing akan mendapatkan 4 buah permen,
kemudian siswa diminta untuk mengetahui berapa bagian jika permen
tersebut dibagikan kepada 10 anak, maka siswa akan membagikan permen
tersebut dengan cara yang sama (situasional).
b. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, masing-masing kelompok
memperagakan situasi soal dengan menggunakan plastisin (model/alat
peraga dari permen), dan diperagakan sama dengan memperagakan
pembagian menggunakan benda nyata (referensial).
c. Siswa membentuk plastisin menjadi 20 (sesuai jumlah yang ditanyakan)
bentuk persegi panjang dan anggap persegi panjang tersebut adalah
menunjukkan permen.

Gambar 7. Ilustrasi 20 Buah Permen


Gambar persegi panjang tersebut kemudian dibagikan kepada 10 orang anak
secara satu per satu sampai mendapatkan bagian yang sama banyak

Gambar 8. Ilustrasi Pembagian Satu Per Satu Permen


Gambar 9. Ilustrasi Sisa Permen

Gambar 10. Ilustrasi Pembagian Sisa Permen

Penyelesaian langsung berupa simbol angka adalah sebagai berikut:


20 𝑝𝑒𝑟𝑚𝑒𝑛
=2
10 𝑎𝑛𝑎𝑘
Maka, hasil akhirnya adalah jika terdapat 10 anak maka masing-masing akan
mendapatkan 2 buah permen. Dapat kita lihat perbandingannya yaitu semakin
sedikit anak maka semakin banyak permen yang akan mereka terima, dan
sebaliknya semakin banyak anak maka semakin sedikit pula permen yang akan
mereka terima. Pernyataan ini sesuai dengan syarat perbandingan berbailik
nilai.
Jika, menggunakan penyelesaian menggunakan persamaan umum
perbandingan adalah sebagai berikut:
5 anak  4 permen
10 anak  x permen
5 𝑥
⇔ =
10 4

⇔ 10𝑥 = 20
⇔𝑥=2
D. Diagnosis Kesulitan yang Dihadapi Siswa Sekolah Menengah Pertama
dalam Memahami Materi Perbandingan
Pembelajaran matematika pada jenjang Sekolah Menengah Pertama
mempunyai peranan yang sangat penting, karena jenjang ini merupakan pondasi
yang menentukan bagi jenjang berikutnya. Sehingga seorang siswa untuk dapat
melanjutkan ke jenjang berikutnya harus menguasai terlebih dahulu jenjang
dasarnya. Namun, pada kenyataannya sebagian besar siswa masih merasa
kesulitan dalam mempelajari matematika. Salah satu materi matematika yang
dianggap sulit oleh siswa Sekolah Menengah Pertama adalah Perbandingan.
Tidak seluruh siswa dapat menyelesaikan permasalahan perbandingan dengan
benar, yang dapat diartikan ada siswa yang mengalami kesulitan dalam
menyelesaikan masalah tersebut (Hardi, Hudiono & Mirza : 2013). Adapun
kesulitan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Siswa cenderung sulit membedakan mana soal yang harus dikerjakan
menggunakan persamaan perbandingan senilai dan mana soal yang
menggunakan persamaan perbandingan berbalik nilai. Hal ini
berhubungan dengan konsep pemahaman siswa.
2. Kesulitan dalam mencari nilai satuan.
3. Siswa kesulitan dalam mengoperasikan angka.
4. Siswa kesulitan dalam menyederhanakan hasil yang telah
diperolehnya.
E. Penerapan Pembelajaran Realistik dan Kontekstual pada Materi
Perbandingan
Ada tiga kunci prinsip embelajaran matematika realistik yaitu Guided re-
invention, Ditactical Phenomenology dan Self-developed Mode l(Gravemeijer,
1994).
1. Guided re-invention atau Menemukan Kembali Secara Seimbang
Memberikan kesempatan bagi siswa untuk melakukan matematisasi
dengan masalah kontekstual yang realistik bagi siswa dengan bantuan dari
guru. Siswa didorong atau ditantang untuk aktif bekerja bahkan
diharapkan dapat mengkonstruksi atau membangun sendiri pengetahuan
yang akan diperolehnya. Pembelajaran tidak dimulai dari sifat-sifat atau
definisi atau teorema dan selanjutnya diikuticontoh-contoh, tetapi dimulai
dengan masalah kontekstual atau real/nyata yang selanjutnya melalui
aktivitas siswa diharapkan dapat ditemukan sifat, definisi, teorema,
ataupun aturan oleh siswa sendiri.
2. Ditactical Phenomenology atau Fenomena Ditaktik
Topik-topik matematika disajikan atas dasar aplikasi dan kontribusinya
bagi perkembangan matematika.Pembelajaran matematika yang cenderung
berorientasi kepada memberi informasi atau memberitahu siswa dan
memakai matematika yang sudah siap pakai untuk memecahkan masalah,
diubah dengan menjadikan masalah sebagai sarana utama untuk
mengawali pembelajaran, sehingga memungkinkan siswa dengan caranya
sendiri mencoba memecahkannya.
Dalam memecahkan masalah tersebut, siswa diharapkan dapat melangkah
ke arah matematisasi horizontal dan matematisasi vertikal. Pencapaian
matematisasi horizontal ini, sangat mungkin dilakukan melalui langkah-
langkah informal sebelum sampai kepada matematika yang lebih formal.
Dalam hal ini, siswa diharapkan dalam memecahkan masalah dapat
melangkah ke arah pemikiran matematika sehingga akan mereka temukan
atau mereka bangun sendiri sifat-sifat atau definisi atau teorema
matematika tertentu (matematisasi horizontal), kemudian ditingkatkan
matematisasinya (matematika vertikal). Kaitannya dengan matematisasi
horizontal dan matematisasi vertikal ini, De Lange menyebutkan
matematisasi horizontal antara lain meliputi proses atau langkah-langkah
informal yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan suatu masalah (soal),
membuat model, membuat skema, menemukan hubungan, dan lain-lain.
Sedangkan matematisasi vertikal, antara lain meliputi proses menyatakan
suatu hubungan dengan suatu formula (rumus), membuktikan keteraturan,
membuat berbagai model, merumuskan konsep baru, melakukan
generalisasi, dan sebagainya. Proses matematisasi horizontal-vertikal
inilah yang diharapkan dapat memberi kemungkinan siswa lebih mudah
memahami matematika yang berobyek abstrak. Dengan masalah
kontekstual yang diberikan pada awal pembelajaran seperti tersebut diatas,
dimungkinkan banyak/beraneka ragam cara yang digunakan atau
ditemukan siswa dalam menyelesaikan masalah. Dengan demikian siswa
mulai dibiasakan untuk bebas berpikir dan berani berpendapat, karena cara
yang digunakan siswa satu dengan yang lain berbeda atau bahkan berbeda
dengan pemikiran guru tetapi cara itu benar dan hasilnya juga benar. Ini
suatu fenomena didaktif. Dengan memperhatikan fenomena didaktif yang
ada di dalam kelas, maka akan terbentuk proses pembelajaran matematika
yang tidak lagi berorientasi pada guru, tetapi diubah atau beralih kepada
pembelajaran matematika yang berorientasi pada siswa atau bahkan
berorientasi pada masalah (Marpaung, 2001:4).
3. Self-developed Model atau Model Dibangun Sendiri oleh Siswa
Pada waktu siswa mengerjakan masalah kontekstual, siswa
mengembangkan suatu model. Model ini diharapkan dibangun sendiri oleh
siswa, baik dalam proses matematisasi horizontal ataupun vertikal.
Kebebasan yang diberikan kepada siswa untuk menyelesaikan masalah
secara mandiri atau kelompok, dengan sendirinya akan memungkinkan
munculnya berbagai model pemecahan masalah buatan siswa. Dalam
pembelajaran matematika realistik diharapkan terjadi urutan situasi nyata –
model dari situasi itu – model ke arah formal – pengetahuan formal. Inilah
yang disebut “bottom up” dan menerapkan prinsip RME yang disebut
“Self-developed Models” (Soedjadi, 2001)
Pelaksanaan pembelajaran dengan pendekatan matematika realistik sesuai
dengan skema pembelajaran matematika yang digambarkan sebagai
gunung es ini, pada lapisan dasar adalah konkret, kemudian di atasnya ada
model konkret, di atasnya lagi ada model formal dan paling atas adalah
matematika formal.

Gambar 11. Skema Gunung Es pada Pendekatan Matematika Realistik

Seperti yang kita tahu, gunung es terbentuk mula-mula dari dasar laut,
kemudian semakin keatas, keatas, dan sampailah pada pembentukan puncaknya
yang terlihat di atas permukaan laut. Seperti gunung-gunung pada umumnya,
bagian dasar gunung es, yang paling dasar tentunya memiliki daerah atau wilayah
yang lebih luas dibandingkan dengan bagian atasnya. Sedangkan matematika yang
diajarkan pada sebagian besar sekolah sekarang hanyalah matematika yang
tampak di atas permukaan air laut saja dalam gunung es tersebut, yaitu hanya
matematika formal saja. Padahal, masih banyak tahap yang ada di bawahnya yang
sangat mempengaruhi kekokohan pengetahuan yang dibangun.
Seperti halnya sebuah rumah, pondasi rumah adalah yang paling dasar,
tidak bisa kita langsung membangun atapnya tanpa ada pondasi dan dinding.
Begitu pula dengan matematika, untuk membangun pengetahuan matematika
siswa, maka pertama yang harus dibangun adalah dengan hal-hal yang konkret,
yang ada di dalam kehidupan siswa sehari-hari. Harus dipastikan bahwa tahap ini
terbangun dengan kokoh, dan dilanjutkan dengan tahap selanjutnya. Hal ini
diadopsi pula untuk pendekatan pendidikan matematika realistik Indonesia.
Pengetahuan matematika dibangun dari hal-hal yang konkret, kemudian baru ke
skema, kemudian model, baru terakhir ke matematika formal. Porsi pembelajaran
matematika dengan hal-hal konkret adalah yang paling besar dibanding dengan
yang lain. Bila diuraikan, maka tahapan pengkostruksian pengetahuan dalam
pembelajaran matematika adalah sebagai berikut (Sofiana, 2015):
1. Tahap Konkret
Pada tahap ini, siswa dihadapkan pada matematika konkret. Apakah
matematika konkret itu? Ternyata semua yang kita lihat, yang ada dalam
kehidupan sehari-hari siswa, itulah yang disebut matematika konkret.
Misalnya, pohon, karet, kursi, dan sebagainya yang dapat kita bawa ke
matematika konkret. Dalam tahapan ini, guru harus memastikan bahwa
pengetahuan yang dibangun siswa dalam tahap ini kokoh, baru
melanjutkan ke tahapan selanjutnya.
2. Tahap Model Konkret
Contoh-contoh konkret ketika sudah dituangkan dalam gambar, atau guru
menempelkan foto benda konkret, maka itu sudah menjadi model konkret,
karena telah terkena manipulasi atau campur tangan guru, bukan lagi
benda yang konkret, namun model konkret.
3. Tahap Model Formal
Dari model konkret, siswa dibawa ke tahap model formal. Misalkan saja
dalam pembagian, dengan gambar (model tertentu) siswa membangun
20
pengetahuan bahwa = 4. Namun pada tahap ini, siswa masih sehingga
5

disebut model formal.


4. Tahap Matematika Formal
Dalam tahap ini, siswa sudah dihadapkan dengan matematika formal,
dalam bentuk simbol-simbol seperti matematika yang umumnya diberikan
di sekolah-sekolah. Karena siswa membangun pengetahuan matematika
mereka dari matematika konkret, model konkret dan model formal, maka
siswa akan lebih mudah membangun pengetahuan matematika formal
mereka karena telah memiliki dasar yang kuat.
BAB 3
SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan
Berdasarkan pembahasan mengenai pendekatan pembelajaran matematika
realistik dan kontekstual, dapat diambil kesimpulan bahwa pendekatan ini perlu
untuk diterapkan dalam pembelajaran materi perbandingan pada jenjang Sekolah
Menengah Pertama. Hal ini dikarenakan jenjang Sekolah Menengah Pertama
menjadi pondasi bagi jenjang berikutnya. Sehingga dibutuhkan pembelajaran
yang bersifat kontekstual dan realistik, karena dengan pendekatan ini siswa
menjadi lebih bersemangat dan tertarik dengan matematika. Selain itu juga konsep
matematika mengenai perbandingan dapat tertanam dengan baik di benak siswa
dan meningkatkan pemahaman siswa mengenai perbandingan, karena mereka
dihadapkan dengan benda nyata yang mereka temui di kehidupan sehari-hari.
Inilah yang menjadi bekal, dasar, atau pondasi bagi siswa dalam memahami
materi matematika pada jenjang yang lebih tinggi. Dengan itu, siswa dapat
menerapkan pengetahuannya tentang matematika dalam kehidupan nyata.

B. Saran
Saran yang dapat kami berikan adalah hendaknya guru sebagai seorang
pendidik selalu berinovasi dalam menerapkan strategi dan pendekatan
pembelajaran matematika, dikarenakan materi matematika yang dianggap sulit
oleh sebagian besar siswa. Dengan inovasi-inovasi itu, semakin berkembanglah
metode-metode maupun pendekatan pembelajaran yang baik diterapkan pada
siswa. Sehingga konsep matematika dapat tertanam dengan baik dalam diri siswa.
DAFTAR PUSTAKA

Arifin. (2010). Evaluasi Pembelajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya.


Daryanto (2013). Media Pembelajaran. Yogyakarta: Gava media.
Gravemeijer, K. (1994). Developing Realistic Mathematics Education. Ultrech:
Freudenthal institute.
Hamalik, O., (2011). Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.
Hardi , J., Hudiono , B., & Mirza , A. (2013). Deskripsi Pemahaman Siswa pada
Permasalahan Perbandingan dan Strategi Solusi dalam Menyelesaikannya .
Jurnal. Pontianak: Universitas Tanjungpura.
Johnson, E.B. (2002). Contextual Teaching and Learning: What It Is and Why It’s
Here to Stay. California: Corwin Press, Inc.
Kline, Morris. (1973). Why Johny Can’t Add: The Failure of The New Math.
Newyork: Vintage Books.
Manik, D,. M. (2009. Penunjang Belajar matematika untuk kelas VII (BSE).
Jakarta: Pusat Perbukuan Depdiknas.
Marpaung, Y. (2001). Prospek RME Untuk Pembelajaran Matematika di
Indonesia. Makalah Seminar Nasional Realistic Mathematics Education di
Unesa tanggal 24 Februari 2001.
Muslich, M. (2009). Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual.
Jakarta: Bumi Aksara.
Nasution, A.H. (1980). Landasan Matematika. Jakarta: Bhratara Karya Aksara.
Nuharini, Dewi dan Tri Wahyuni. (2008). Matematika (Konsep dan Aplikasinya)
(BSE). Jakarta: Pusat Perbukuan Depdiknas.
Soedjadi, R. (2001). Pembelajaran Matematika Berjiwa RME. Makalah Seminar
Nasional tentang Pendidikan Matematika Realistik di USD Yogyakarta,
halaman 14-15.
Sofiana. (2015). Peningkatan Hasil Belajar Operasi Hitung Bilangan Pecahan
Melalui Pendekatan Matematika Realistik Pada Siswa Kelas V Sd Negeri 3
Grenggeng. Skripsi. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.
Sugihartono. (2007). Psikologi pendidikan. Yogyakarta: UNY Press.
Suryanto & Sugiman.(2003). Pendidikan Matematika Realistik. Yogyakarta:
PPPG Matematika.
Sutarsih, I. (2001). Pengalaman dalam Uji Coba Pembelajaran Matematika
secara Realistik. Seminar Nasional Pendidikan Matematika Realistik di
Universitas Sanata Dharma Yogyakarta tanggal 14 – 15 November 2001.
Tim MGMP (2013). Pedoman Guru Menuju Pembelajaran Tuntas Matematika.
Sukoharjo: CV Sindunata.
Anonim. (2016). Hasil TIMSS Terbaru 2011 plus Contoh Soal. [online]. Tersedia:
https://elearningmath27.wordpress.com/.../hasil-timss-terbaru-2011-plus-
contoh-soal/. [26 Mei 2018].
Anonim. (2016). Rangkuman Materi Perbandingan. [online]. Tersedia:
http://www.indostudy.com/rangkum/MATEBANDING/Perbandingan.html.
[27 Mei 2018].
Anonim. (2011). Perbandingan - SMP Kelas VII. [online]. Tersedia:
https://belajar0k3.wordpress.com/2011/04/04/perbandingan-smp-kelas-vii/.
[27 Mei 2018].
Hisam. (2016). 22 Pengertian Pembelajaran Menurut Para Ahli Terlengkap.
[online]. Tersedia: http://www.dosenpendidikan.com/22-pengertian-
pembelajaran-menurut-para-ahli-terlengkap/. [25 Mei 2018].
Syarif, A,. (2016). Pengertian Matematika dan Hakekat Matematika. [online].
Tersedia: https://syariffilsafat.wordpress.com/2016/10/08/pengertian-
matematika-dan-hakekat-matematika/. [29 Mei 2018].