Anda di halaman 1dari 3

MENJELANG BERAKHIRNYA RAMADLAN

Gegap gempita di jalanan akan terus terjadi hingga usai cuti bersama lebaran
berakhir, karena itulah kebiasaan dan tradisi masyarakat kita setiap lebarang pasti
selalu berbodong bonding mudik untuk pulang kapung dan bertemu dengan orang tua,
saudara dan keluraga lainnya serta para tetangga. Rasanya tidak sempurna jika
lebaran berada di tanah seberang dan tidak mampu pulang kampong. Bahkan mungkin
bagai mereka yang karena seuatu hal kemudian tidak bisa pulang mudik, mereka akan
menangis merindukan kampong halamannya.

Banyak diantara mereka yang kemudian melupakan esensi hari hari di akhir ramadlan
yang biasanya diperlukan oleh para orang salih masa lalu, karena mereka
menginginkan bertemu dengan lailatul qadar. Masyarakat bahkan akan bersedia
macet macet terkadang berjam jam hanya ingin mudik dan terkadang malahan
meninggalkan puasa dan shalat karena alasan macet tersebut. Sungguh sangat rugi
bagi mereka yang sebelumnya sudah tahu bahwa kejadiannya akan demikian tetapi
masih saja nekat untuk melakukannya.

Sementara itu masyarakat yang tidak mudik, alias masih berada di kampong
halamannya sejak lahir juga disibukkan dengan urusan persiapan lebaran, baik dengan
memikirkan baju baruu dan pakaian lainnya yang serba baru, bagaimana suguhan bagi
para tamu yang akan dating, hingga begaiman menghiasi rumah dengan Pernik Pernik
lampu dan lainnya. Sesungguhnya melakukan persiapan sepetri itu tidak ada masalah
dan baik baik saja, namun kelau kemudian sampai meninggalkan atau mengabaikan
kewajiban dan tradisi baik yang selama ini dilakukan, pastinyah lenjadi yidak baik.

Harapan kita semua urusan ramadlan dengan segala amalihanya akan tetap
dipertahankan dalam kondisi apapun, kaena ramadlan itu merupakan bulan yang
sungguh luar biasa memberikan rahmat dan kerunia kepada kita. Tentu akan saying
kalua kemduian kita dengan alalsan untuk mempersiapkan lebaran, lalu lupa pada
tarawih misalnya, lupa tadarrus atau melakukan amalan baik lainnya. Apalagi pada
akhir ramadlan itu dijanjikan oleh Tuhan aka nada satu malam yang nilainya melebihi
seribu bulan, tentu semua orang harus berkepentingan untuk emncarinya.

Bagi masyarakat dahulu bahkan akan merasakan kesedihan yang mendalam ketika
ramadlan tinggal beberapa hari lagi, karena mereka merasa akan ditinggalkan oleh
ramadlan. Kesdihan tersebut sama sekali tidak dibuat buat, karena mereka
mengetahui betapa pentingnya ramadlan bagi mereka. Kalaupun merekw berharap
akan mampu menemukan ramadlan tahun depan, tetapi sudah barang tentu ramadlan
yang sedang dijalaninya akan bermakna bagus dan meninggalkan bekas yang bagus
pula.

Sedangkan bagi kebanyakan masyarakat saat ini akan berakhirnya ramadlan malahan
sangat senang karena sudah hamper selesai kewajiban menjalankan ibadah puasa,
dank arena itu mereka kemudian bersiap siap untuk merayakannya dengan
meneriakkan takbir mengagungkan sama Allah semalaman, karena keberhasilan
mereka tersebut. Tradisi bertakbir tersebut juga merpakan perbuatan baik yang
tetap harus dipertahakan, karena itu sama dengan menghidupkan syiar Islam, namun
kalua kemudian terkait dengan perginya ramadlan, biasanya itu dianggap sebuah
keniscayaan karena zaman pasti berganti dan tidak perlu ditangisi.

Cukuplah berdoa saja kepada Allah swt agar diberikan usia panjang sehingga dapat
dipertemukan kembali dengan ramadlan tahun depan. Itu merupakan sikap realiastis
dan juga sekaligus tidak mengabaikan kebaikan yang ada di ramadlan, dan tentu itu
merupakan hal yang baik dan perlu didukung, walaupun kalua ada sebagaian diantara
umat yang menyesali kepergian ramadlan jugaa tidak perlu disalahkan, karena mereka
berpandangan bahwa ramadlan itu luar biasa yang kalua pergi maka dunia sepertinya
hampa dan tidak ada lagi kehebatan sebagaimana pada bulan ramadlan.

Kembali kepada persoalan mudik bagi sebagian masyarakat kita yang kebetulan
bertempat tinggal di luar kota, tradisi yang dilakukan tersebut juga sangat bagus
karena mereka berniat untuk bersilaturrahim kepada sanka keluarga, kepada family
dan para tetangga, serta kawan kawan yang masih ada di desa. Hanya saja mungkin
ada hal hal buruk yang perlu dipikirkan untuk ditinggalkan, semisal pemaksaan diri
untuk tetep mudik disebabkan gengsi dan terkadang justru akan memberatkan diri,
yakni dengan meminjam atau berhutang kepada kawan dan lainnya.

Kalau hanya sekdar meminjam saja mungkin masih dapat ditolerir, namun kalua sudah
berani melakukan aktifitas yang melanggar atuaran hokum seperti mencuri,
menggarong dan lainnya, tentu patut disesalkan. Kita tahu bermacam orang
melakukan sesutu hanya untuk dapat mudik dengan berbagai variasi. Sebagiannya
juga ada yang dengan niat riya umenujukkan keberhasilannya merantau di tanah
seberang, meskipun harus melakukan hal hal yang berat, karena yang terpenting ialah
bagaimana orang orang kampong dapat melihat bahwa dia telah berhasil di tempat
lain.

Bagi mereka yang berniat pamer tersebut juga ketika pulang harus memakai
kendaraan pribadi, jadilah mereka harus menyewa kendaraan sendiri dan juga harus
membawa oleh oleh yang cukup banyak untuk ditunjukkan kepada para tetangga
bahwa dia memang benar benar ebrhasil di rantau. Nah, yang demikian tentu tidak
dapat didukung, karena hanya akan merugikan dan merepotkan serta memberatkan
diri sendiri, padahal para tetangga juga tidak akan memberikan apresiasi yang
langsung kepadanya, melainkan hanya memandang dan mungkin juga hanya membatin
semata.

Beruntung saat ini infrastruktur jalan tol sudah dibangun di banyak tempat sehingga
hal etrsebut jelas akan mengurangi kemacetan yang biasanya terjadi, hanya saja
pajak jalak tol saat ini dirasakan begitu mahal sehingga mereka juga harus
mengeluarkan ongkos yang tidak sedikit. Namun kalua dipertimbangkan merkea
akhirnya tetap menerimanya karena hanya setahun sekali dan menambah kelancaran
perjalanan. Kita dapat menyaksikan betapa nyamannya mudik pada saat ini, apalagi
pemerintah juga menambah cuti bersmaa atau libur lebarang menjadi cukup panjang
sehingga semakin membuat nyaman para pemudik.

Sementara itu di sisi lain kita perlu menghimbau kepada masyarakat, khususnya
kepada para orang tua agar mewaspadai anak anaknya agar tidak bermain main dengan
petasan yang biasanya marak di lebaran, meskipun sudah dilarang karena
membahayakan, tetapi masyarakat sepertinya tidak menghiraukan, karena pada
zaman dahulu lebaran itu identic dengan petasan. Bahayanya petasan itu tidak saja
bagi mereka yang menyalakannya, melainkan juga kepada orang lain. Bahkan bagi anak
anak kecil dan balita akan dapat berbahaya, karena suaranya yang mengagetan
tersebut.

Untuk merayakan malam takbiran tersebut sesungguhnya sudha diberikan solusinya,


yakni dengan kembang api bagi mereka yang ingin merayakannya dengannya, tetapi
tidak dengan petasan. Namun jika boleh dihimbau sesungguhnya untuk meramaikan
malam takbi etrsebut cukuplah dengan mengumandangkan takbir tanpa harus diselingi
dengan petasan ataupun kembang api. Kita harus lebih cerdas dalam menyikapi segala
sesuatu, bukan karena apa apa, melainkan untuk keselamatan dan kenyamanan
bersama.

Kembali kepada pokok persoalan begaimana menghadapi akan segera berakhirnya


ramadlan, kiranya kita perlu cermat kegiatan apa saja yang dapat dikerjakan dan
menghasilkan manfaat bagi kita. Pertama kita harus ettap semangat untuk
menyelesaikan puasa kita dan tidak melupakan shalat tarwih dan kebajikan lainnya.
Bolehlah kita mempersiapkan lebaran dengan ebrbagai kebiasaan yang sudah
mentradisi, tetapi jangan sampai mengalahkan kewajiban dan hal penting lainnya.
Semoga kita dapat menyikapi dengan bijak di akhira ramadlan kali ini dan akhirnya
kita akan menjadi hamba Nya yang tetap taat dan baik dalam semua aspek. Semoga.