Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

“ARTRITIS REUMATOID”
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah 2
Dosen Pengampu :
Dr. Eko Winarto, M.Kep., Sp.KMB

Disusun Oleh Kelompok 8 :


1. A. RIZAL FADLY (170103001)
2. ADI JUNIARTO (170103004)
3. CICILIA ADITYA MELINDA (170103016)
4. DINI MELINDA EKA PRATIWI (170103023)
5. ELFI APRILIA (170103026)
6. FITRIANI NISSA RAHAYU (170103034)
7. INGGAR PERMATA PUTRI (170103039)
8. LISA NUR KAMALLIA (170103047)
9. NUR AFIFATUN AINY (170103064)
10. NUR BAETY SA’DIYAH (170103066)
11. RAKHEL MAHARANI PUTRI YUSYAH BIRAN (170103071)
12. REZA WARDANA SAFITRI (170103074)
13. SYUBBANA AFIF KUNTORO (170103089)
14. WAHYU DWI RAHMAWATI (170103096)

UNIVERSITAS HARAPAN BANGSA PURWOKERTO


FAKULTAS KESEHATAN
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN 4A
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat, ridho
dan hidayah dari – Nya lah sehingga pada hari ini kami dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul “ARTRITIS REUMATOID” ini dengan sebaik mungkin. Kami sadar dalam penulisan
makalah ini tidak terlepas dari dukungan dan bimbingan dari berbagai pihak, oleh karena itu
pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada berbagai
pihak. Kami sadar bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu
penulis akan menerima dengan tangan terbuka atas saran dan kritik yang bersifat membangun
untuk lebih sempurnanya makalah selanjutnya. Semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi kami
semua pada umumnya dan bagi pembaca pada khususnya.

Purwokerto , 23 April 2019

Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .......................................................................................................................2
BAB I................................................................................................................................................4
A. Latar Belakang ......................................................................................................................4
B. Rumusan Masalah .................................................................................................................4
C. Tujuan penulisan ...................................................................................................................5
BAB II ..............................................................................................................................................6
A. Definisi Artritis reumatoid.....................................................................................................6
B. Etiologi Artritis reumatoid ....................................................................................................7
C. Tanda gejala ..........................................................................................................................8
D. Patofisiologi ......................................................................................................................... 10
E. Pathway ............................................................................................................................... 12
F. Komplikasi .......................................................................................................................... 14
G. Diagnosis .......................................................................................................................... 14
H. Penanganan ..................................................................................................................... 15
I. Asuhan Keperawatan pada Atritis Reumatoid .................................................................... 16
BAB III ........................................................................................................................................... 21
A. Simpulan ............................................................................................................................. 21
B. Saran ................................................................................................................................... 21
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................................................... 22
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Rheumatoid arthritis (RA) merupakan suatu penyakit autoimun dimana
persendian mengalami peradangan sehingga terjadi pembengkakan, nyeri dan seringkali
akhirnya menyebabkan kerusakan bagian dalam sendi (ACR, 2012). Penyebab dari RA
terkait dengan keterlibatan persendian simetrik poliartikular, manifestasi sistemik dan
tidak dapat disembuhkan. RA diduga akibat dari disregulasi sistem imun tubuh sehingga
manifestasinya sistemik. Manifestasi sistemik yang timbul yaitu vaskulitis, inflamasi
pada mata, disfungsi saraf, penyakit kardiopulmoner, limphadenopati dan splenomegali.
Atritis remaroid menyerang wanita tiga kali lebih sering dari laki-laki.
Kasus atritis reumatoid ditemukan diseluruh dunia dan mengenai lebih dari 6,5
juta individu di Amerika. Kausu atritis reumatoid dapat terjadi pada segala. Periode
awitan puncak bagi wanita berkisarantara usia 30 dan 60 tahun. Penyakit ini biasanya
memerlukan penanganan seumur hidup da kadang-kadang juga membutuhkan
pembedahan. Pada sebagian besar pasien, perjalanan penyakit bersifat kambuhan dan
memungkinkan aktivitas normal diantara saat-saat serangan, kendati 10% pasien penyakit
ini mengalami disabilitas total akibat deformitas sendi, gejala sekstraartikuler yang
menyertai, seperti vaskulitis, atau keduanya.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah definisi tentang Artritis reumatoid ?
2. Bagaiamana gejala dari Artritis reumatoid ?
3. Apakah penyebab dari Artritis reumatoid ?
4. Bagaimana patofisiologi dari Artritis reumatoid ?
5. Bagaiaman penatalaksanaan dari Artritis reumatoid ?
6. Bagaimanan Asuhan keperawatan pada Atritis reumatoid ?
C. Tujuan penulisan
1. Mengetahui definisi tentang Artritis reumatoid
2. Mengetahui tanda dan gejala dari Artritis reumatoid
3. Mengetahui penyebab dari Artritis reumatoid
4. Mengetahui Patofisiologi dari Artritis reumatoid
5. Mengetahui penatalaksanaan dari Artritis reumatoid
6. Memahami Asuhan keperawatan pada Atritis reumatoid
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Artritis reumatoid
Atritis reumatoid merupakan penyakit inflamasi sistemik yang kronis dan terauma
menyerang persendian perifer serta otot-otot, tendon, ligemen, dan pembuluh darah yang
ada di sekitarnya. Remisi parsial dan eksasebasi yang tidak bisa diprediksi manandai
perjalanan penyakit yang potensial menimbulkan cacat ini. Atritis remaroid menyerang
wanita tiga kali lebih sering dari laki-laki.
Kasus atritis reumatoid ditemukan diseluruh dunia dan mengenai lebih dari 6,5
juta individu di Amerika. Kausu atritis reumatoid dapat terjadi pada segala. Periode
awitan puncak bagi wanita berkisarantara usia 30 dan 60 tahun. Penyakit ini biasanya
memerlukan penanganan seumur hidup da kadang-kadang juga membutuhkan
pembedahan. Pada sebagian besar pasien, perjalanan penyakit bersifat kambuhan dan
memungkinkan aktivitas normal diantara saat-saat serangan, kendati 10% pasien penyakit
ini mengalami disabilitas total akibat deformitas sendi, gejala sekstraartikuler yang
menyertai, seperti vaskulitis, atau keduanya.
Artritis reumatoid adalah suatu penyakit inflamasi sistemik kronik dengan
manifestasi utama poliartritis progresif dan melibatkan seluruh organ tubuh.
Artritis Reumatoid adalah gangguan autoimun kronik yang menyebabkan proses
inflamasi pada sendi.
Penyakit reumatik adalah penyakit inflamasi non- bakterial yang bersifat sistemik,
progesif, cenderung kronik dan mengenai sendi serta jaringan ikat sendi secara simetris.
Artritis Reumatoid adalah penyakit autoimun sistemik kronis yang tidak diketahui
penyebabnya dikarekteristikan dengan reaksi inflamasi dalam membrane sinovial yang
mengarah pada destruksi kartilago sendi dan deformitas lebih lanjut.
Artritis Reumatoid (AR) adalah kelainan inflamasi yang terutama mengenai
membran sinovial dari persendian dan umumnya ditandai dengan nyeri persendian, kaku
sendi, penurunan mobilitas, dan keletihan ( Diane C. Baughman. 2000 ).
Artritis Reumatoid adalah suatu penyakit peradangan kronik yang menyebabkan
degenerasi jaringan ikat, peradangan (inflamasi) terjadi secara terus-menerus terutama
pada organ sinovium dan menyebar ke struktur sendi di sekitarnya seperti tulang rawan,
kapsul fibrosa sendi, legamen dan tendon. Inflamasi ditandai dengan penimbunan sel
darah putih, pengaktifan komplemen, fagositosis ekstensif dan pembentukan jaringan
granular. Inflamasi kronik menyebabkan hipertropi dan penebalan membran pada
sinovium, terjadi hambatan aliran darah dan nekrosis sel dan inflamasi berlanjut.
Pembentukan panus terjadi oleh penebalan sinovium yang dilapisi jaringan granular.
Penyebaran panus ke sinovium menyebabkan peradangan dan pembentukan jaringan
parut memacu kerusakan sendi dan deformitas. Biasanya jaringan ikat yang pertama kali
mengalami kerusakan adalah jaringan ikat yang membentuk lapisan sendi, yaitu
membrane sinovium

B. Etiologi Artritis reumatoid


Penyebab utama penyakit reumatik masih belum diketahui secara pasti. Biasanya
merupakan kombinasi dari faktor genetik, lingkungan, hormonal dan faktor sistem
reproduksi. Namun faktor pencetus terbesar adalah faktor infeksi seperti bakteri,
mikoplasma dan virus (Lemone & Burke, 2001).
Ada beberapa teori yang dikemukakan sebagai penyebab artritis reumatoid, yaitu:
1. Infeksi Streptokkus hemolitikus dan Streptococcus non-hemolitikus.
2. Endokrin
3. Autoimun
4. Metabolik
5. Faktor genetik serta pemicu lingkungan
Pada saat ini artritis reumatoid diduga disebabkan oleh faktor autoimun dan
infeksi. Autoimun ini bereaksi terhadap kolagen tipe II; faktor infeksi mungkin
disebabkan oleh karena virus dan organisme mikroplasma atau grup difterioid yang
menghasilkan antigen tipe II kolagen dari tulang rawan sendi penderita. Faktor pencetus
mungkin adalah suatu bakteri, mikoplasma, virus yang menginfeksi sendi atau mirip
dengan sendi secara antigenis. Biasanya respon antibodi awal terhadap mikro-organisme
diperatarai oleh IgG. Walaupun respon ini berhasil mengancurkan mikro-organisme,
namun individu yang mengidap AR mulai membentuk antibodi lain biasanya IgM atau
IgG, terhadap antibodi IgG semula. Antibodi ynng ditujukan ke komponen tubuh sendiri
ini disebut faktor rematoid (FR). FR menetap di kapsul sendi, dan menimbulkan
peradangan kronik dan destruksi jaringan AR diperkirakan terjadi karena predisposisi
genetik terhadap penyakit autoimun. Ditinjau dari stadium penyakitnya, ada tiga stadium
pada RA yaitu (Nasution, 2011):
a. Stadium sinovitis.
Artritis yang terjadi pada RA disebabkan oleh sinovitis, yaitu inflamasi pada
membran sinovial yang membungkus sendi. Sendi yang terlibat umumnya simetris,
meski pada awal bisa jadi tidak simetris. Sinovitis ini menyebabkan erosi permukaan
sendi sehingga terjadi deformitas dan kehilangan fungsi (Nasution, 2011). Sendi
pergelangan tangan hampir selalu terlibat, termasuk sendi interfalang proksimal dan
metakarpofalangeal (Suarjana, 2009).
b. Stadium destruksi
Ditandai adanya kontraksi tendon saat terjadi kerusakan pada jaringan sinovial
(Nasution, 2011).
c. Stadium deformitas
Pada stadium ini terjadi perubahan secara progresif dan berulang kali, deformitas
dan gangguan fungsi yang terjadi secara menetap (Nasution, 2011).

C. Tanda gejala
Biasanya artritis reumatoid terjadi secara insidius dan pada dasarnya akan
menimbulkan tanda dan gejala yang tidak khas dan sebagian besar berhubungan dengan
reaksi inflamasi awal sebelum terjadi inflamasi sinovial. Tanda dan gejala tersebut
meliputi :

1. Keluhan cepat lelah


2. Rasa tidak enak badan
3. Anoreksia dan penurunan berat badan
4. Demam derajat rendah (subfebris) yang persisten
5. Limfadenopati
6. Gejala artikuler yang tidak jelas

Ketika penyakit tersebut berlanjut, tanda dan gejala meliputi :


1. Gejala sendi yang secara khas terbatas (lokal), bilateral, serta simetris, dan sering
ditemukan pada jari-jari tangan di daerah persendian interfalangeal proksimal,
metakarpofalangeal, serta metatarsofalangeal yang kemungkinan akan meluas hingga
mengenai pergelangan tangan, sendi lutut, sendi siku, dan pergelangan kaki akibat
inflamasi sinovial
2. Kekakuan pada sendi yang terkena setalah inaktivitas, khususnya ketika bangun tidur
pada pagi hari, akibat inflamasi dan destruksi sinovial yang progresif
3. Jari tangan yang berbentuk kumparan akibat edema yang nyata dan kongesti pada
persendian
4. Nyeri dan rasa kaku pada sendi yang pertama-tama hanya terjadi ketika sendi tersebut
di gerakkan tetapi akhirnya juga terjadi pada saat istirahat; gejala ini di sebabkan oleh
pelepasan prostglandin, edema dan inflamasi serta destruksi sinovial
5. Rasa hangat pada sendi akibat inflamasi
6. Penurunan fungsi sendi dan deformitas sendi ketika destruksi sinovia berlanjut
7. Deformitas fleksi atau hiperekstensi sendi metakarpofalangeal, subluksasio sendi
pergelangan tangan dan peregangan tendon yang menarik jari-jari tangan ke sisi ulna
(ulnar drift), ataupun deformitas berbentuk leher angsa yang khas atau deformitas
boutomniere yang khas akibat pembengkakakn sendi dan hilangnya rongga sendi
8. Sindrom carpal tunnel akibat tekanan sinovial pada nervus medianus yang
menyebabkan parestesia ajri-jari tangan

Gejala ekstra-artikuler meliputi :

1. Penampakan secara berangsur-angsur nodulus rematoid, yakni masa subkutan yang


berbentuk bulat atau oval dan tidak nyeri tekan (di temukan pada 20% pasien dengan
faktor rematoid positif) yang biasanya terdapat pada siku, tangan, atau tendo Achilles
akibat destruksi sinovial.
2. Vaskulitis yang mungkin akan menimbulkan lesi kulit, ulkus pada tungkai, dan
komplikasi sistemik yang multiple akibat infiltrasi kompleks imun dan kerusakan
serta nekrosis jaringan yang terjadi kemudian dalam pembuluh darah
3. Perikarditis, nodulus, fibrosis paru, atau inflamasi pada sklera dan jaringan mata yang
menutupinya sebagai akibat invasi kompleks imun dan kerusakan serta nekrosis
jaringan yang terjadi kemudian
4. Neuropati perifer di sertai patirasa dan kesemutan pada kaki atau kelemahan dan
gangguan sensibilitas pada jari-jari tangan; keadaan ini di sebabkan oleh infiltrasi
pada serabut saraf
5. Otot-otot yang menjadi kaku, lemah, atau nyeri; keadaan ini terjadi sekunder karena
keterbatasan mobilitas dan berkurangnya pemakaian

D. Patofisiologi
Inflamasi mula-mula mengenai sendi-sendi sinovial seperti edema, kongesti
vaskular, eksudat febrin dan infiltrasi selular. Peradangan yang berkelanjutan, sinovial
menjadi menebal, terutama pada sendi artikular kartilago dari sendi. Pada persendian ini
granulasi membentuk panus, atau penutup yang menutupi kartilago. Panus masuk ke
tulang sub chondria. Jaringan granulasi menguat karena radang menimbulkan gangguan
pada nutrisi kartilago artikuer. Kartilago menjadi nekrosis.
Tingkat erosi dari kartilago menentukan tingkat ketidakmampuan sendi. Bila
kerusakan kartilago sangat luas maka terjadi adhesi diantara permukaan sendi, karena
jaringan fibrosa atau tulang bersatu (ankilosis). Kerusakan kartilago dan tulang
menyebabkan tendon dan ligamen jadi lemah dan bisa menimbulkan subluksasi atau
dislokasi dari persendian. Invasi dari tulang sub chondrial bisa menyebkan osteoporosis
setempat.
Lamanya artritis reumatoid berbeda dari tiap orang. Ditandai dengan masa adanya
serangan dan tidak adanya serangan. Sementara ada orang yang sembuh dari serangan
pertama dan selanjutnya tidak terserang lagi. Yang lain. terutama yang mempunyai
faktor reumatoid (seropositif gangguan reumatoid) gangguan akan menjadi kronis yang
progresif.
Pada Artritis reumatoid, reaksi autoimun terutama terjadi pada jaringan sinovial.
Proses fagositosis menghasilkan enzim-enzim dalam sendi. Enzim-enzim tersebut akan
memecah kolagen sehingga terjadi edema, proliferasi membran sinovial, dan akhirnya
membentuk panus. Panus akan meghancurkan tulang rawan dan menimbulkan erosi
tulang, akibatnya menghilangkan permukaan sendi yang akan mengalami perubahan
generative dengan menghilangnya elastisitas otot dan kekuatan kontraksi otot.
E. Pathway

Faktor Pencetus: Bakteri,


mikroplasma, atau virus

Penyakit autoimun Menginfeksi sendi


secara antigenik

Predisposisi Genetik Individu yang mengidap AR


membentuk antibodi IgM Reaksi autoimun
dalam jaringan
sinovial
(antibodi IgG)
Pelepasan Faktor
Reumatoid (FR)

Respon IgG awal


menghancurkan
FR menempati dikapsula sendi mikroorganisme

Inflamasi Kronis Pada Tendon, Ligamen juga terjadi deruksi jaringan

Akumulasi Sel Fagositosis Pembentukan


Darah Putih ektensif Jaringan Parut

Pemecahan
Terbentuk Kolagen Kekakuan sendi
nodul- nodul
rematoid
ekstrasinoviu
Edema, poliferasi Rentang Gerak
membrane sinovial Berkurang
Kerusakan sendi
Progresif

Membrane Atrofi Otot


Deformitas Sendi sinovium menebal
& hipertropi

Ndx: Gangguan
Ndx: Kerusakan
Citra Tubuh
Mobilitas Fisik Panus
Kartilago Hambatan
dirusak Aliran Darah

Nekrosis Sel

Erosi Sendi dan Tulang Nyeri

Menghilangnya Ndx: Nyeri


permukaan sendi Kronis

Penurunan
elastisitas dan
kontraksi otot

Ndx: Kurang Ndx: Kurang


Perawatan diri Pengetahuan
Mengenai penyakit
F. Komplikasi

Komplikasi artritis rematoid meliputi :

1. Fibrosis dan ankilosis


2. Kontraktur jaringan lunak
3. Rasa nyeri
4. Deformitas sendi
5. Sindrom sjogren
6. Lalu destruksi vertebra servikalis ke2
7. Kompresi medula spinalis
8. Penyakit sendi temporomandibuler
9. Infeksi
10. Osteoporosis
11. Miositis (inflamasi otot-otot volunter)
12. Lesi kardiopulmoner
13. Lomfadenopati
14. Neuritis perifer

G. Diagnosis
Hasil pemeriksaan yang menunjukan atritis reumatid meliputi :
1. Foto rontgen yang memperlihatkan demineralisasi tulang dan pembengkakan
jaringan lunak (stadium awal), perubahan kartilago serta penyempitan rongga sendi
dan akhirnya, destruksi kartilago serta tulang, dan erosi, subluksasio serta
deformitas (stadium lanjut)
2. Titer faktor reumatoid positif pada 75% hingga 80% pasien (titer 1 : 160 / lebih
tinggi)
3. Analisis cairan sinovial yang memeprlihatkan peningkatan volume dan turbiditas
tetapi dengan penurunan viskositas dan kenaikan jumlah sel darah putih (yang
biasanya lebih dari 10.000/µl)
4. Elektroforesisi serum yang mungkin menunjukan kenaikan kadar globulin serum
5. Laju endap darah dan kadar C-reaktif protein yang memperlihatkan kenaikan pada
85% hingga 95% pasien (yang mungkin berguna untuk memantau respons penyakit
terhadap terapi karena kenaikan keduanya sering kali sejajajr dengan aktifitas
penyakit)
6. Hitung darah lengkap yang biasanya memperlihatkan anemia sedang, leukositosis
ringan, dan trombositosis ringan.

H. Penanganan

Penanganan artitis rematoid meliputi terapi farmakologi dan tindakan suportif


yang mencangkup:

1. Salisilat, khususnya aspirin (terapi utama), untuk mengurangi inflamasi dan


meredakan nyeri sendi
2. Obat-obat anti inflmasi non steroid, seperti fenoprofen (nalfon), ibuprofen (motrin),
dan indometasin (indocin) untuk meredakan inflamasi dan nyeri
3. Obat – obat anti malaria seperti hidroksiklorokuin sulfat (plaquenil), sulfasalazim
(azulfidin), garam emas dan penisilamin (cuprimine) untuk mengurangi inflamasi
akut dan kronis
4. Krtikosteroid seperti prednison dengan dosis rendah untuk memeberikan efek anti
inflamasi dan dengan dosis tinggi untuk memberikan efek imunosupresi pada sel T
5. Azathioprin (imuran), siklosporin (neoral), dan mettotreksat (folex) pada penyakit
yang dini untuk menimulkan imunosupresi dengan menekan proliferasi limfosit T dan
B yang menyebabkan ddestruksi sinovial
6. Sinovektomi (penyangkatan sinovial yang sudah rusak di sertai proliferasi dan
biasanya terdapat pada sendi pergelangan tangan, lutut, serta jari-jari tangan);
tindakan ini di harapkan dapat menghentikan atau memperlambat perjalanan penyakit
7. Osteotomi (pemotongan tulang atau eksisi baji tulang [excision of a wedge of bone])
untuk meratakan permukaan sendi dan meredistribusi tekanan
8. Pemindahan tendon untuk mencegah deformitas atau mengurangi kontraktur
9. Rekonstruksi sendi atau artroplasti total sendi yang meliputi artroplasi reseksional
kaput metatarsal dan ujung distal ulna, insersi prostesa silastic di antara sendi
metakrpofalangeal dan interfalangeal proksimal (penyakit yang berat)

Artrodesis (fusi sendi) untuk menghasilkan stabilitas dan meredakan rasa nyeri
(dengan mengorbankan mobiliats sendi)

I. Asuhan Keperawatan pada Atritis Reumatoid


Pengkajian Data

Data tergantung pada keparahan dan keterlibatan organ-organ lainnya, (mis., mata,
jantung, paru-paru, ginjal), tahapan (mis., eksaserbasi akut atau remisi) dan keberadaan
bersama bentuk-bentuk arthritis lainnya.
1. Aktivitas/Istirahat
Gejala : Nyeri sendi karena gerakan, nyeri tekan, memburuk dengan stress pada sendi;
kekakuan pada pagi hari, biasanya terjadi secara bilateral dan simetris.
Limitasi fungsional yang berpengaruh terhadap gaya hidup, waktu senggang,
pekerjaan. Keletihan.
Tanda : Malaise.
Keterbatasan rentang gerak; atrofi otot, kulit; kontraktur/kelainan pada sendi dan
otot.
2. Kardiovaskuler
Gejala : Fenomena Raynaud jari tangan/kaki (mis., pucat intermiten, sianosis, kemudian
kemerahan pada jari sebelum warna kembali normal).
3. Integritas Ego
Gejala : Faktor-faktor stress akut/kronis; mis., finansial, pekerjaan, ketidakmampuan,
faktor-faktor hubungan.
Keputusasaan dan ketidakberdayaan (situasi ketidakmampuan).
Ancaman pada konsep diri, citra tubuh, identitas pribadi, (mis., ketergantungan
pada diri orang lain).
4. Makanan/Cairan
Gejala : Ketidakmampuan untuk menghasilkan/mengkonsumsi makanan/ cairan adekuat;
mual.
Anoreksia.
Kesulitan untuk mengunyah (keterlibatan TMJ).
Tanda : Penurunan berat badan.
Kekeringan pada membran mukosa.
5. Higiene
Gejala : Berbagai kesulitan untuk melaksanakan aktivitas perawatan pribadi.
Ketergantungan pada diri orang lain.
6. Neurosensori
Gejala : Kebas/kesemutan pada tangan dan kaki., hilangnya sensasi pada jaringan.
Pembengkakan sendi simetris.
7. Nyeri/Kenyamanan
Gejala : Fase akut dari nyeri mungkin/mungkin tidak disertai oleh pembengkakan jaringan
lunak pada sendi.
Rasa nyeri kronis dan kekakuan (terutama pada pagi hari).
8. Keamanan
Gejala : Kulit mengkilat, tegang; nodul subkutaneus.
Lesi kulit, ulkus kaki.
Kesulitan dalam menangani tugas/pemeliharaan rumah tangga.
Demam ringan menetap.
Kekeringan pada mata dan membran mukosa.
9. Interaksi Sosial
Gejala : Kerusakan interaksi dengan keluarga/orang lain; perubahan peran; isolasi.
10. Penyuluhan/Pembelajaran
Gejala : Riwayat AR pada keluarga (pada awitan remaja).
Penggunaan makanan kesehatan, vitamin, “penyembuhan” arthritis tanpa
pengujian.
Riwayat perikarditis, lesi katup; fibrosis pulmonal, pleuritis.
DRG menunjukan rata-rata lama dirawat: 4,8 hari.
Pertimbangan Rencana Pemulangan:
Mungkin membutuhkan pada transportasi, aktivitas perawatan diri dan tugas/pemeliharaan
rumah tangga.
Diagnosa dan Rencana Asuhan Keperawatan
Diagnosa keperawatan : Nyeri [Akut]/Kronis
Dapat dihubungkan dengan : Agen pencedera: Distensi jaringan oleh akumulasi
cairan/proses inflamasi, dekstruksi sendi.
Intervensi Tindakan : Manageman Nyeri (1400)
Outcome : Kontrol Nyeri (1605).
Kriteria evaluasi : Menujukkan nyeri hilang/terkontrol.

Intervensi Rasional
Mandiri:
1. Selidiki keluhan nyeri, catat lokasi dan - Membantu dalam menentukan kebutuhan
intensitas (skala 0-10). Catat faktor-faktor manajemen nyeri dan keefektifan program.
yang mempercepat dan tanda-tanda rasa
sakit nonverbal. - Matras yang lembut atau empuk, bantal yang
2. Berikan matras/kasur keras, bantal kecil. besar akan mencegah pemeliharaan
Tinggikan linen tempat tidur sesuai kesejajaran tubuh yang tepat, menempatkan
kebutuhan. stres pada sendi yang sakit. Peninggian linen
tempat tidur menurunkan tekanan pada sendi
yang terinflamasi.
3. Biarkan pasien mengambil posisi yang - Pada penyakit berat/eksaserbasi, tirah baring
nyaman pada waktu tidur atau duduk di mungkin diperlukan (sampai perbaikan
kursi. Tingkatkan istirahat di tempat tidur objeltif dan subjektif didapat) untuk
sesuai indikasi. membatasi nyeri atau cedera sendi.
4. Tempatkan/pantau penggunaan bantal, - Mengistirahakan sendi-sendi yang sakit dan
karung pasir, gulungan trokhanter, bebat, mempertahankan posisi netral. Catatan:
brace. Penggunaan brace dapat menurunkan nyeri
dan mungkin dapat mengurangi kerusakan
pada sendi. Meskipun demikian,
ketidakaktifan lama dapat mengakibatkan
5. Dorong untuk sering mengubah posisi. hilangnya mobilitas/ fungsi sendi.
Bantu pasien untuk bergerak ditempat tidur, - Mencegah terjadinya kelelahan umum dan
sokong sendi yang sakit diatas dan kekakuan sendi. Menstabilkan sendi,
dibawah, hindari gerakan yang menyentak. mengurangi gerakan atau rasa sakit pada
6. Anjurkan pasien untuk mandi air hangat sendi.
atau mandi pancuran pada waktu bangun - Panas meningkatkan relaksasi otot dan
dan/atau pada waktu tidur. Sediakan waslap mobilitas, menurunkan rasa sakit dan
hangat untuk mengompres sendi-sendi yang melepaskan kekakuan di pagi hari.
sakit beberapa kali sehari. Pantau suhu air Sensitivitas pada panas dapat dihilangkan dan
kompres, air mandi, dan sebagainya. luka dermal dapat disembuhkan.
7. Berikan masase yang lembut.
8. Dorong penggunaan teknik manajemen - Meningkatkan relaksasi/mengurangi tegangan
stres, misalnya relaksasi progresif, sentuhan otot
terapeutik, biofeedback, visualisasi, - Meningkatkan relaksasi, memberikan rasa
pedoman imajinasi, hipnosis diri, dan kontrol dan mungkin meningkatkan
pengendalian napas. kemampuan koping.
9. Libatkan dalam aktivitas hiburan yang
sesuai untuk situasi individu
10. Beri obat sebelum aktivitas/latihan yang - Memfokuskan kembali perhatian,
direncanakan sesuai petunjuk. memberikan stimulasi, dan meningkatkan
Kolaborasi : rasa percaya diri dan perasaan sehat.
11. Berikan obat-obatan sesuai petunjuk: - Meningkatkan relaksasi, mengurangi
Asetilsalisilat (aspirin); tegangan otot/spasme, memudahkan untuk
ikut serta dalam terapi.

- ASA bekerja sebagai anti inflamasi dan efek


analgesik ringan dalam mengurangi kekakuan
NSAID lainnya, mis., ibuprofen (Motrin); dan meningkatkan mobilitas. ASA harus
naproksen (Naprosyn); sulindak (Clinorol); dipakai secara reguler untuk mendukung
piroksikam (Feldene); fenoprofen (Nalfon); kadar dalam darah terapeutik. Riset
mengindikasikan bahwa ASA memiliki
“indeks toksisitas” yang paling rendah dari
D-penisilamin (Cuprimine); NSAID lain yang diresepkan.
- Dapat digunakan bila pasien tidak
memberikan respon pada aspirin atau untuk
meningkatkan efek dari aspirin. Catatan:
Obat-obtan ini harus diberikan dengan urutan
yang meningkat menurut keparahan relatif
Antasida; dari efek-efek samping (“indeks toksisitas”).
- Dapat mengontrol efek-efek sistemik dari AR
Produk Kodein; jika terapi lainnya tidak berhasil. Tingkat
yang tinggi dari efek-efek samping (mis.,
trombositopenia, leukopenia, anemia aplastik)
membutuhkan pemantauan ketat. Catatan:
12. Bantu dengan terapi fisik, mis., sarung Obat-obtan harus diberikan diantara waktu
tangan parafin, bak mandi dengan kolam makan karena absorbsi obat-obatan menjadi
bergelombang. tidak seimbang karena makanan dan juga
produk antasida dan besi.
13. Berikan es atau kompres dingin jika - Diberikan dengan agen NSAID untuk
dibutuhkan. meminimalkan iritasi/ketidaknyamanan
lambung.
14. Pertahankan unit TENS jika digunakan. - Meskipun narkotik umumnya adalah
kontraindikasi karena sifat kronis dari
15. Siapkan intervensi operasi, misalnya kondisi, penggunaan jangka pendek mungkin
sinovektomi diperlukan selama periode eksaserbasi akut
untuk mengontrol nyeri parah.
- Memberikan dukungan panas untuk sendi
yang sakit. Catatan: Panas merupakan
kontraindikasi pada adanya sendi-sendi yang
panas dan bengkak.
- Rasa dingin dapat menghilangkan nyeri dan
bengkak selama periode akut.
- Rangsang elektrik tingkat rendah yang
konstan dapat menghambat transmisi sensasi
nyeri.
- Pengangkatan sinovium yang meradang dapat
mengurangi nyeri dan membatasi progresi
dari perubahan degeneratif.
BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
Artritis Reumatoid atau Rheumatoid arthritis (RA) adalah penyakit autoimun
sistemik. Penyakit ini merupakan peradangan sistemik yang paling umum ditandai
dengan keterlibatan sendi yang simetris. Penyakit RA ini merupakan kelainan autoimun
yang menyebabkan inflamasi sendi yang berlangsung kronik dan mengenai lebih dari
lima sendi.
B. Saran
Selain dengan menggunakan obat-obatan, untuk mengurangi nyeri juga bisa
dilakukan tanpa obat , misalnya dengan menggunakan kompres es. Kompres es bias
menurunkan ambang nyeri dan menggurangi fungsi enzim. Kemudian banyak jenis
sayuran yang dapat di konsumsi oleh penderita rematik, misalnya jus seledri, kubis dan
wortel yang dapat mengurangi gejala rematik. Beberapa jenis herbal juga dapat melawan
nyeri rematik, misalnya jahe, kunyit, biji seledri, daun lidah buaya atau minyak juniper
yang bisa menghilangkan bengkak pada sendi.
Menjaga berat badan ideal juga perlu. Kelebihan berat badan dapat membebani
sendi di bagian ekstermitas bawah. Selain itu bobot tubuh berlebih dapat memperbesar
resiko terkena penyakit rematik. Olahraga ringan seperti jalan kaki bermanfaat bagi
penderita rematik. Ini karena Jalan kaki dapat membakar kalori, memperkuat otot, dan
membangun tulang yang kuat tanpa menggangu persendian yang sakit.
DAFTAR PUSTAKA

Kowalak, Jennifer P. 2012. Buku Ajar Patofisiologi. Jakarta : EGC.


Price, Sylvia.A. 2006. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Ed.6 ; Cet.1 ; Jil.II.
Jakarta : EGC.
Lukman, Ningsih dkk. 2009. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan Sistem
Muskuloskeletal. Jilid 1. Jakarta : Salemba Medika.